0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
52 tayangan14 halaman

Metode Sianmethemoglobin pada Absorban

Praktikum ini bertujuan untuk membuktikan hukum Beer-Lambert dan menganalisis nilai absorbansi terhadap konsentrasi kalium permanganat. Spektrofotometer digunakan untuk mengukur absorbansi larutan kalium permanganat pada berbagai konsentrasi untuk memverifikasi hubungan antara absorbansi dan konsentrasi.

Diunggah oleh

Dimas Arifin Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
52 tayangan14 halaman

Metode Sianmethemoglobin pada Absorban

Praktikum ini bertujuan untuk membuktikan hukum Beer-Lambert dan menganalisis nilai absorbansi terhadap konsentrasi kalium permanganat. Spektrofotometer digunakan untuk mengukur absorbansi larutan kalium permanganat pada berbagai konsentrasi untuk memverifikasi hubungan antara absorbansi dan konsentrasi.

Diunggah oleh

Dimas Arifin Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Praktikum Ke: 7 Hari/Tanggal : Selasa, 26 September 2023

Biokimia Nutrisi Tempat : Lab. Biokimia dan Mikrobiologi


Praktikum Nutrisi (BMN)
Nama Dosen : Dr. Sri Suharti, [Link]., [Link]
Nama Asisten : 1. Ade Dimas Kurnia
(D2501231047)
2. Tri Wahyu Apriliana
(D2401201049)

HUBUNGAN SERAPAN DENGAN KADAR ZAT DALAM


LARUTAN

DIMAS ARIFIN PUTRA


D2401221017
P1/K3

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2023
I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Spektrofotometer merupakan suatu teknik yang memanfaatkan suatu interaksi
dari gelombang elektromagnetik dengan atom atau molekul untuk mendapatkan spektrum
yang digunakan sebagai informasi karakteristik pengambilan suatu sampel.
Spektrofotometer dapat digunakan sebagai analisis suatu senyawa secara kuantitatif
maupun kualitatif (Suharmanto dan Kurniawan 2013). Pengukuran kualitatif didasarkan
pada suatu puncak pada panjang gelombang (Noviarty dan Angraini 2013). Pengukuran
secara kuantitatif didasarkan pada suatu hukum lambert-beer bahwa nilai absorbansi
sebanding dengan jumlah molekul yang menyerap sinar pada panjang gelombang
tertentu. Spektrofotometer memiliki prinsip kerja berdasarkan hukum lambert-beer yaitu
seberkas sinar sebagian diteruskan dan sebagian lainnya diserap oleh larutan.
Spektrofotometer sinar tampak merupakan salah satu jenis spektrofotometer yang
menggunakan sumber sinar tampak atau sinar yang terlihat oleh mata manusia. Kisaran
panjang gelombang pada sinar tampak berada pada rentang 380–750 nm (Shah et al.
2015).
Spektrofotometer dibagi menjadi dua jenis yaitu spektrofotometer single-beam
dan double-beam. Spektrofotometer visible single beam merupakan salah satu jenis dari
spektrofotometer yang menggunakan satu sumber cahaya dan satu serapan.
Spektrofotometer single beam akan menghasilkan satu nilai yang berupa absorban akibat
dari penggunaan jalur cahaya tunggal (Warono dan Syamsudin 2013). Intensitas panjang
gelombang terendah pada instrumen tunggal berkisar 190 hingga 210 nm, sedangkan
intensitas panjang gelombang tertinggi pada instrumen tunggal berkisar 800 hingga 1000
nm (Suhartati 2017). Berbeda dengan single-beam, pada spektrofotometer double-beam,
nilai blanko pada pengujian dapat langsung diukur bersamaan dengan larutan yang
diinginkan dalam satu kali proses yang sama sebab desain pada double-beam memiliki
dua jalur cahaya sehingga dapat meningkatkan akurasi terhadap pengukuran.
Cara kerja dari spektrofotometer adalah memanfaatkan sifat reflektans atau sinar
pantulan dari larutan. Larutan terlebih dahulu dimasukkan ke dalam kuvet, kuvet
kemudian diletakkan pada spektrofotometer. Selanjutnya sumber sinar dinyalakan
menghasilkan sinar pantulan dari larutan. Sinar pantulan tersebut kemudian direkam oleh
web camera dan diproses lebih lanjut dengan sistem akuisisi data. Larutan kemudian
diukur hingga diperoleh spektrum warna dan garis. Setelah dilakukan kalibrasi panjang
gelombang, data intensitas dan panjang gelombang dapat diperoleh. Data hasil kalibrasi
dapat diolah dan dianalisis lebih lanjut (Pamungkas 2014).
Percobaan uji coba terhadap kalium permanganat pada spektrofotometer
merupakan langkah penting dalam laboratorium kimia. Salah satu alasan kuat mengapa
percobaan ini perlu dilakukan adalah untuk memverifikasi dan mengkalibrasi alat
spektrofotometer. Kalium permanganat adalah zat kimia dengan absorban yang diketahui
dengan baik pada panjang gelombang tertentu dalam spektrum UV-Vis. Dengan
mengukur absorbansi kalium permanganat yang diketahui, kita dapat memastikan bahwa
alat pada spektrofotometer berfungsi dengan benar dan baik serta memberikan
pembacaan yang akurat. Selain itu, percobaan ini juga berguna untuk menguji sensitivitas
spektrofotometer terhadap perubahan konsentrasi zat, yang penting untuk memahami
batas deteksi dan presisi alat tersebut.
Percobaan uji coba spektrofotometer pada ternak sangat penting dalam konteks
manajemen peternakan modern. Pertimbangan kualitas nutrisi dalam pakan ternak,
pemantauan kesehatan ternak, serta pengukuran berbagai parameter kimia dalam
produksi ternak adalah aspek-aspek vital dalam upaya meningkatkan produktivitas dan
kesejahteraan ternak. Melalui penggunaan spektrofotometer, kita dapat melakukan
pengukuran yang akurat dan tepat waktu terhadap berbagai komponen kimia yang
mempengaruhi ternak, seperti nutrisi dalam pakan, kualitas susu, atau parameter
kesehatan dalam darah. Ini membantu peternak untuk membuat keputusan yang lebih
informasional dalam manajemen peternakan sehari-hari, seperti penyesuaian ransum,
pengawasan kesehatan, dan pemantauan mutu produk. Lebih dari itu, percobaan ini juga
menjadi alat yang penting dalam pengembangan inovasi dan penelitian terkait ternak,
memungkinkan pengembangan pakan yang lebih efisien dan nutrisi yang lebih seimbang
serta pemahaman lebih dalam tentang kesehatan ternak. Dengan demikian, uji coba
spektrofotometer pada ternak adalah langkah proaktif dalam meningkatkan kualitas hidup
ternak dan produktivitas peternakan secara keseluruhan.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan membuktikan hukum Beer-Lambert dan menganalisa
nilai absorbansi terhadap konsentrasi kalium permanganat secara garis besar.

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Spektrofotomoter
Spektrofotometer adalah suatu jenis alat yang digunakan untuk mengukur suatu
nilai absorbansi pada sampel dengan melewatkan cahaya panjang gelombang tertentu
pada suatu objek kaca (kuvet). Pada dasarnya alat ini memiliki suatu prinsip kerja hasil
dari gabungan spektrometer dan fotometer (Firgiansyah 2016). Spektrofotometri
merupakan suatu instrumen alat yang dilengkapi dengan sumber cahaya berupa
gelombang elektromagnetik baik cahaya UV (Ultra Violet) atau pun cahaya nampak
(visible). Spektrofotometer memiliki fungsi yang sangat penting dalam menentukan akan
tingkat kepekatan warna dari suatu sampel. Alat spektrofotometer digunakan untuk
mengukur suatu konsentrasi dari beberapa molekul seperti DNA/RNA (UV light 260 nm),
Protein (UV 280 nm), kultur sel bakteri, ragi/yeast (Vis Light 600 nm), dan lain lain
(Firgiansyah 2016). Spektrofotometri merupakan suatu metode analisis yang berdasar
pada nilai absorpsi radiasi elektromagnetik. Spektrofotometer adalah suatu alat yang
digunakan untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi
panjang gelombang (Manuhara 2017).

2.2 Nilai Absorbansi


Absorbansi merupakan suatu perbandingan intensitas sinar yang diserap dengan
intensitas sinar yang datang. Nilai absorbansi dipengaruhi oleh kadar suatu zat yang
terkandung. Menurut Neldawati et al. (2013) bahwa semakin banyak kadar zat yang
terkandung dalam suatu sampel maka semakin banyak molekul yang akan menyerap
cahaya pada panjang gelombang tertentu sehingga nilai absorbansi semakin besar atau
dengan kata lain nilai absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang
terkandung didalam suatu sampel. konsentrasi suatu larutan akan berbanding lurus
dengan nilai suatu absorbansi, dengan ketentuan apabila semakin tinggi nilai absorbansi
akan berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang terkandung didalamnya (Listiawati et
al. 2022). Nilai absorbansi dapat terjadi suatu penurunan yang diakibatkan oleh enzim
(Neliyanti dan Idiawati 2014). Enzim menyebabkan terjadinya dekolorisasi zat warna,
sehingga warna yang diekstrak akan memudar.

2.3 Nilai Transmitan


Nilai transmitan adalah besarnya sinar radiasi yang melewati zat dan ditangkap
oleh detektor. Transmitan merupakan kebalikan dari absorban sedangkan nilai absorban
adalah besarnya sinar radiasi yang terserap oleh zat yang diukur (Nilawati et al. 2014).
Transmitansi adalah perbandingan intensitas cahaya yang ditransmisikan ketika melewati
sampel (It), dengan intensitas cahaya mula-mula sebelum melewati sampel (Io).
(Neldawati et al. 2013). pengukuran nilai transmitan bertujuan untuk memastikan
kejernihan dari sediaan menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis (Azzahro et al.
2022). Transmitansi dapat digunakan sebagai parameter dalam mengidentifikasi sejauh
mana cahaya yang tidak terserap oleh sampel. Semakin tinggi transmitansinya maka
semakin banyak cahaya yang melewati sampel. Semakin rendah transmitansinya maka
semakin banyak cahaya yang terserap atau dibelokkan oleh sampel.

2.4 Kalium Permanganat


Kalium permanganat merupakan senyawa kimia anorganik yang memiliki warna
ungu tua hingga merah coklat. Warna yang terbentuk dalam suatu larutan disebabkan oleh
adanya ion-ion metal alam seperti besi (Fe) dan mangan (Mn) (Santoso dan Wahyu 2015).
Kalium permanganate merupakan suatu senyawa kimia anorganik yang memiliki rumus
kimia KMnO4 dan merupakan garam yang mengandung ion K+ dan MnO4. Kalium
permanganat merupakan suatu senyawa organik yang memiliki sifat sebagai oksidator
kuat. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat yang dapat mengoksidasi suatu
formaldehid yang terkandung dalam formalin (Khaira 2015). Senyawa ini memiliki
bilangan oksidasi +4 sehingga dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan maupun
industri. kalium permanganate dapat berfungsi sebagai obat obatan terutama untuk
membersihkan luka dan dermatitis. Larutan KMnO4 juga digunakan untuk menduga
adanya suatu formalin, sehingga formalin dapat melunturkan warna KMnO4 dari warna
ungu menjadi pudar (Febrianti dan Sari 2016).

2.5 Panjang Gelombang Maksimum KMnO4


Panjang gelombang merupakan suatu definisi dari jarak antara dua titik berurutan
pada sebuah gelombang dengan dua puncak dan dua lembah. Panjang suatu gelombang
berpengaruh terhadap suatu daya keluaran. Semakin besar panjang gelombang maka
semakin tinggi daya keluaran yang dihasilkan (Sridewi et al. 2018). Panjang gelombang
yang menunjukan suatu nilai serapan tinggi merupakan panjang gelombang yang
maksimum. Penetapan panjang gelombang serapan maksimum dilakukan dengan
mengambil salah satu konsentrasi larutan baku dan mengukur serapannya dalam rentang
panjang gelombang 400-800 nm (Pratama et al. 2019). Penetapan panjang gelombang
maksimum bertujuan untuk mengetahui besarnya panjang gelombang yang dibutuhkan
untuk mencapai serapan maksimum. Menurut analisis yang dilakukan oleh Putri (2017)
pada penentuan konsentrasi permanganat dengan alat spektrofotometer UV-Vis
dihasilkan suatu nilai panjang maksimum sebesar 600 nm dari proses pengenceran
dengan aquades.

2.6 Hukum Beer-Lambert


Hukum Lambert-Beer yaitu sinar yang digunakan akan dianggap sebagai sinar
dengan sinar panjang gelombang tunggal. Hukum beer-lambert digunakan sebagai
perhitungan dalam menentukan besarnya nilai suatu radiasi intersepsi. Hukum beer
lambert menjelaskan suatu hubungan empiris terhadap cahaya yang meradiasi sebuah
permukaan homogen yang menyerap dan meneruskan radiasi dari cahaya tersebut
(Wijayadi 2017). Hukum beer lambert juga ternyata dapat digunakan sebagai acuan
penduga dalam menilai suatu biomassa dan cadangan karbon. Konsentrasi yang
digunakan adalah konsentrasi larutan yang rendah karena kalau tinggi akan
mempengaruhi linearitas pada nilai absorban (Wulandari dan Yulkifli 2018). Hukum
Lambert-Beer dapat dinyatakan dalam persamaan: A = a. l.c. (A) adalah penyerapan, a
adalah absorptivitas molar (tetapan jenis zat) dengan satuan (L/mol cm), l adalah panjang
lintasan dengan satuan (cm) dan c adalah konsentrasi dengan (mol/L). Nilai absorban dan
absorptivitas akan bergantung pada panjang gelombang. Jika Intensitas cahaya (I) setelah
melewati sampel dan besarnya intensitas cahaya yang terdeteksi (Io) ketika konsentrasi
bahan yang menyerap bernilai nol, maka fraksi cahaya yang ditransmisikan (T) yaitu: T
= I/Io. Hukum Beer-Lambert dinyatakan sebagai hubungan antara cahaya yang masuk
dengan cahaya yang ditransmisikan, ketebalan lapisan metal (t), serta koefisien
penyerapan/absorbansi (a) yang dinyatakan oleh I = loe-at.

III MATERI DAN METODE

3.1 Materi
3.1.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu spektrofotometer,
kuvet, pipet 1 ml, dan tabung reaksi

3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan yaitu kalium permanganat dengan konsentrasi 0
ppm, 0,2 ppm, 0,4 ppm, 0,6 ppm, 0,8 ppm, dan 1 ppm.

3.2 Metode
Buatlah larutan kalium permanganat dengan berbagai konsentrasi yaitu 0,2 ppm,
0,4 ppm, 0,6 ppm, 0,8 ppm, dan 1 ppm. Untuk membuat larutan KMno4 dengan berbagai
konsentrasi, maka dapat menggunakan metode pengenceran menggunakan aquades, yang
diatur oleh persamaan berikut:
M1 . V1 = M2 . V2
Dari larutan KMnO4 dengan konsentrasi awal 1 ppm, ingin membuat larutan dengan
konsentrasi 0,2 ppm, 0,4 ppm, 0,6 ppm, dan 0,8 ppm. Misalnya ingin membuat 10 ml
larutan KMnO4 dengan konsentrasi 0,2 ppm maka:
10 ml . 0,02 ppm = 1 ppm . V2
V2 = 2 ml.
Ini berarti perlu mengencerkan 2 ml larutan KMnO4 1 ppm dengan menambahkan 8 ml
aquades. Langkah ini juga berlaku untuk konsentrasi yang lainnya.
Menganalisis larutan KMnO4 menggunakan spektrofotometer. Pertama buatlah
kurva baku dengan memasukkan larutan pelarut (aquades) ke dalam spektrofotometer
menggunakan kuvet, dan atur panjang gelombang pada nilai maksimum yang sesuai, pada
praktikum kali ini pada 525 nm. Kemudian untuk menentukan konsentrasi sampel,
memasukkan kuvet berisi larutan KMnO4 dengan berbagai konsentrasi, mulai dari yang
terendah hingga yang tertinggi, pada panjang gelombang yang sama. Selanjutnya baca
nilai absorbansi dari masing-masing kuvet pada spektrofotometri.
IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berikut data hubungan serapan dengan kadar zat 0 ppm 0,2 ppm, 0,4 ppm, 0,6
ppm, 0,8 ppm, dan 1 ppm dalam larutan KMnO4 disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 1 Hubungan serapan dengan kadar zat dalam larutan KMnO4


Konsentrasi KMnO4 (ppm) Absorbansi (A)
0 0,000
0,2 0,033
0,4 0,081
0,6 0,135
0,8 0,168
1 0,197

Berikut grafik hubungan nilai absorbansi (A) dengan konsentrasi kalium


permanganat (KMnO4) dengan kadar (0 ppm, 0,2 ppm, 0,4 ppm, 0,6 ppm, 0,8 ppm dan 1
ppm).

Grafik 1 Kurva hubungan nilai absorbansi (A) dengan konsentrasi kalium


permanganat

Grafik 2 Kurva kalibrasi hubungan nilai absorbansi (A) dengan konsentrasi kalium
permanganat terhadap persamaan regresi linier
4.2 Pembahasan
Spektrofotometer merupakan suatu alat ukur yang digunakan untuk mendeteksi
akan konsentrasi suatu zat berdasarkan absorbansi cahaya pada panjang gelombang
tertentu. Spektrofotometer, cahaya dengan rentang gelombang tertentu akan ditambahkan
pada kuvet yang berisi akan sampel. Nilai absorbansi dari cahaya yang diserap akan
dikonversi menjadi konsentrasi larutan pada kuvet tersebut. Prinsip spektrofotometer
yaitu berlandaskan pada hukum beer-lambert (Nadhira et al. 2017). Hukum beer-lambert
adalah hubungan linier antara absorbansi dengan konsentrasi suatu zat yang menyerap
akan cahaya. Hukum ini berlaku apabila cahaya yang ditembakan tidak memicu suatu
reaksi kimia ataupun proses fisis pada zat yang dilewati. Spektrofotometri UV-Vis
merupakan suatu teknik analisis spektroskopi yang memakai suatu sumber REM (radiasi
elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan
memakai instrumen spektrofotometer (Putri 2017). Spektrofotometri UV-Vis melibatkan
suatu energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang akan dianalisis, sehingga
spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisa kuantitatif dibandingkan
untuk analisa kualitatif. Pada dasarnya alat ini memiliki suatu prinsip kerja hasil dari
gabungan spektrometer dan fotometer (Firgiansyah 2016). Spektrofotometer
menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer
adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi (Putri 2017).
Spektrofotometer digunakan untuk mengukur akan energi relatif jika energi tersebut
ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang.
Kelebihan dari penggunaan spektrofotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih
dapat lebih mudah untuk dideteksi dengan alat pengurai seperti prisma, grating atau celah
optis. Keuntungan utama metode spektrofotometri adalah bahwa metode ini memberikan
cara sederhana untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat kecil. Selain itu, hasil yang
diperoleh cukup akurat, dimana angka yang terbaca langsung dicatat oleh detector dan
tercetak dalam bentuk angka digital ataupun grafik yang sudah diregresikan.
Hukum Beer-lambert merupakan suatu cahaya yang diserap serta diukur sebagai
absorbansi (A) sedangkan cahaya yang dihamburkan diukur sebagai transmitansi (T).
Menurut Neldawati (2013) bahwa hukum lambert- beer atau hukum beer berbunyi
“Jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang diserap atau
ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat
dan tebal larutan”. Berdasarkan hukum lambert-beer rumus yang digunakan untuk
menghitung suatu banyaknya cahaya yang di transmitan, T = I/Io dan sedangkan
absorbansi dapat dinyatakan dengan rumus A= - log T = -log, dimana Io merupakan
intensitas cahaya datang dan It atau I1 adalah intensitas cahaya setelah melewati sampel.
Menurut Yanlinastuti dan fatimah (2016) hukum Beer-Lambert menyatakan bahwa
ketika cahaya monokromatis melewati suatu medium yang transparan, intensitas cahaya
yang diteruskan akan berbanding lurus dengan ketebalan dan kepekaan dari media larutan
yang digunakan, seperti yang dijelaskan dalam persamaan berikut: A = log l/lo atau A =
a.b.c, dimana A = koefisien serapan molar b = tebal media cuplikan yang dilewati sinar c
= konsentrasi unsur dalam larutan cuplikan lo = intensitas sinar mula-mula l = intensitas
sinar yang diteruskan. Di sisi lain, menurut Mayerhöfer et al. (2014) hukum Beer
menyatakan bahwa serapan cahaya akan berbanding lurus dengan konsentrasi dan
ketebalan suatu zat atau medium yang tidak bergantung pada intensitas cahaya yang
masuk.
Berdasarkan hasil percobaan pada penentuan konsentrasi kalium permanganat
(KMnO4) menggunakan alat spektrofotometer dengan berbagai tingkat konsentrasi
larutan didapatkan suatu data nilai absorban yang bervariatif. pada tabel pertama terlihat
bahwa setiap penambahan akan konsentrasi larutan, nilai absorban yang dihasilkan akan
semakin tinggi. Mula mula nilai absorbansi sebesar 0 A pada konsentrasi 0 ppm,
kemudian naik menjadi 0,033 A pada konsentrasi 0,2 ppm, kemudian naik menjadi 0,081
A pada konsentrasi 0,4 ppm, kemudian naik menjadi 0,135 A pada konsentrasi 0,6 ppm,
kemudian naik menjadi 0,168 A pada konsentrasi 0,8 ppm, dan terakhir naik menjadi
0,197 A pada konsentrasi 1 ppm. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kartikasari et al.
(2019) bahwa semakin banyak kadar dalam sampel maka absorbansi yang dihasilkan
akan semakin tinggi. Hal tersebut disebabkan karena nilai absorbansi merupakan suatu
perbandingan dari intensitas sinar serapan yang bergantung pada kadar zat didalamnya.
Hal ini pun ditunjukkan pada grafik yang terbentuk (Gambar 1), di mana semakin ke
kanan, semakin naik grafik tersebut, yang membuktikan bahwa semakin besar konsentrasi
larutan maka semakin besar juga nilai absorbansinya.
Berdasarkan hasil pengamatan pada (gambar 2) bahwasanya ukur serapan pada
panjang gelombang maksimum didapatkan suatu kurva kalibrasi persamaan regresi linier.
Persamaan regresi linier yang diperoleh yaitu y = 0,2063x - 0,0008 dengan nilai koefisien
korelasi r2 = 0,9904. Nilai r2 yang mendekati 1 menunjukkan kurva kalibrasi linier yang
saling berhubungan antara konsentrasi larutan kuersetin dengan nilai serapan (Kartikasari
et al. 2019). sehingga dapat dikatakan bahwa absorbansi merupakan suatu fungsi yang
besarnya berbanding lurus dengan konsentrasi dan mengikuti persamaan regresi linear.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Minarno (2015) bahwasannya absorbansi merupakan
sebuah fungsi yang nilainya berbanding lurus dengan konsentrasi dan mengikuti
persamaan regresi linear y = Ax + B, dengan y menyatakan absorbansi dan x menyatakan
konsentrasi.
Absorbansi merupakan suatu perbandingan intensitas sinar yang diserap dengan
intensitas sinar yang datang. Nilai absorbansi dipengaruhi oleh kadar suatu zat yang
terkandung. Terdapat dua faktor yang mempengaruhi adanya perubahan nilai absorbsi
atau serapan, antara lain konsentrasi zat dan panjang lintasan. Menurut Neldawati et al.
(2013) bahwa semakin banyak kadar zat yang terkandung dalam suatu sampel maka
semakin banyak molekul yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu
sehingga nilai absorbansi semakin besar atau dengan kata lain nilai absorbansi akan
berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang terkandung didalam suatu sampel.
Penentuan panjang gelombang dilakukan untuk mengetahui perubahan absorbansi pada
setiap satuan konsentrasi sehingga akan diperoleh suatu kepekaan analisis yang
maksimum sehingga memberikan absorbansi maksimum saat melakukan pengukuran
(Rahayu et al. 2016). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Neliyanti dan Idiawati (2014)
bahwasannya enzim merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi akan penurunan
nilai absorbansi karena Enzim menyebabkan terjadinya dekolorisasi zat warna, sehingga
warna yang diekstrak akan memudar. Hal ini karena proporsi cahaya yang diserap
dipengaruhi oleh jumlah molekul yang berinteraksi dengannya. Larutan yang lebih pekat
mempunyai jumlah molekul lebih banyak yang berinteraksi dengan cahaya yang masuk
sehingga meningkatkan serapannya (Hou dan Cronin 2013).

V SIMPULAN

Hukum Beer-Lambert dapat dibuktikan dengan melihat nilai serapan dari


berbagai konsentrasi pada spektrofotometer yang telah diujikan. Nilai absorbansi dari
larutan kalium permanganat dengan konsentrasi 0 ppm, 0,2 ppm, 0,4 ppm, 0,6 ppm, 0,8
ppm, dan 1 ppm, adalah 0A; 0,033A; 0,081A; 0,135A; 0,168A; dan 0,197A. Semakin
tinggi konsentrasi maka semakin tinggi pula nilai absorbansinya.
VI DAFTAR PUSTAKA

Azzahro SSF, Priani SE, Darusman F. 2022. Formulasi sediaan nanoemulsi mengandung
minyak cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr. & Perry). Bandung
Conference Series: Pharmacy. 2(2):196-203.
Febrianti DR, Sari RM. 2016. Analisis kualitatif formalin pada ikan tongkol yang dijual
di pasar lama banjarmasin. Jurnal Pharmascience. 3(2):64-68.
Firgiansyah A. 2016. Perbandingan kadar glukosa darah menggunakan spektrofotometer
dan glukometer [skripsi]. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang.
Hou W, Cronin SB. 2013. A review of surface plasmon resonance-enhanced
photocatalysis. Adv Funct Mater. 23(13):1612–1619.
doi:10.1002/adfm.201202148
Kartikasari D, Justicia AK, Endang P. 2019. Penentuan kadar flavonoid total pada ekstrak
etanol daun andong merah dan daun andong hijau. Jurnal Insan Farmasi
Indonesia. 2(1):108-117.
Khaira K. 2015. Pemeriksaan formalin pada tahu yang beredar di pasar batusangkar
menggunakan kalium permanganat (KMnO4) dan kulit buah naga. Sainstek:
Jurnal Sains dan Teknologi. 7(1):69-76. doi: 10.31958/js.v7i1.127.
Listiaji P, Suparta GB. 2019. Low-cos imaging spectrophotometer system for absorbance
measurement. Journal of Physics: Conference Series. 1-6. doi:10.1088/1742-
6596/1567/4/042093.
Listiawati MDA, Nastiti K, Audina M. 2022. Pengaruh perbedaan jenis pelarut terhadap
kadar fenolik ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.). Journal of
Pharmaceutical Care and Science. 3(1):110-120.
Manuhara A. (2017). Penetapan kadar vitamin c pada daun bayam hijau (Amaranthus
Tricolor l) segar, rebus dan goreng secara spektrofotometri uv-vis. Journal of
Chemical Informationand Modeling. 53(9):1689–1699.
Mayerhöfer TG, Mutschke H, Popp J. 2016. Employing theories far beyond their limits—
the case of the (boguer-) beer–lambert law. ChemPhysChem. 17(13):1948–1955.
doi:10.1002/cphc.201600114.
Minarno EB. 2015. Skrining fitokimia dan kandungan total flavonoid pada buah Carica
pubescens Lenne & K. Koch di kawasan Bromo, Cangar, dan Dataran Tinggi
Dieng. El-Hayah Jurnal Biologi. 5(2):73—82. doi:10.18860/elha.v5i2.3022.
Nadhira V, Juliastuti E, Fauzy LI, Widodo RT. 2017. Alat ukur portabel kadar logam
mangan dan besi dalam air menggunakan prinsip spektrofotometer.
[Link] ([Link]). 9(2):71-80.
Neldawati, Ratnawulan, Gusnedi. 2013. Analisis nilai absorbansi dalam penentuan kadar
flavonoid untuk berbagai jenis daun tanaman obat. Pillar of Physics. 2(1):7
Neliyanti dan Idiawati N. 2014. Ekstraksi dan uji stabilitas zat warna alami dari buah
lakum (Cayratia Trifolia (L.) Domin). JKK. 3(2):30-37.
Nilawati, Muryati, Marihati. 2014. Pengaruh pengadukan bertahap terhadap pertumbuhan
bakteri halofilik dengan nutrisi Artemia salina pada pembuatan garam. Biopropal
Industri. 5(1):29-35.
Noviarty, Angraini D. 2013. Analisis neodimium menggunakan metoda spektrofotometri
UV-Vis. Jurnal Batan. 7(11):9-17.
Pamungkas WS. 2014. Pengembangan spektrofotometer sinar tampak (kuantivis)
berbasis komponen elektronik umum dan uji kinerjanya [skripsi]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Pratama M, Razak R, Rosalina VS. 2019. Analisis kadar tanin total ekstrak etanol bunga
cengkeh (Syzygium Aromaticum l.) menggunakan metode spektrofotometri uv-
vis. Jurnal Fitofarmaka Indonesia. 6(2):368-373.
Putri LE. 2017. Penentuan konsentrasi senyawa berwarna KMnO4 dengan metoda
spektrofotometri UV Visible. Nat Sci J. 3 (1):391-398.
Rahayu W S. Utami PI. Fajar SI. 2016. Penetapan kadar tablet ranitidin menggunakan
metode spektrofotometri UV-Vis dengan pelarut metanol. Pharmacy. 6(3):104-
125.
Santoso B, Wahyu E. 2015. Penapisan zat warnaalam golongan anthocyanin dari tanaman
sekitar sebagai indikator asan basa. Jurnal fluida volume. 11(2):1-8.
Shah RS, Shah RR, Gayakar PP. 2015. UV-visible spectroscopy-a review. International
Journal of Institution Pharmacy and Life Sciences. 5(5):490- 505.
Sridewi NLPM, Suryanto H, Kusuma IGBW. 2018. Analisis pengaruh Panjang
gelombang Cahaya terhadap keluaran panel surya tipe polycrystalline. Jurnal
METTEK. 4(2):48-53.
Suharmanto E, Kurniawan F. 2013. Adaptif probe serat optik untuk spektrofotometer
genesys 10s UV-Vis generasi kedua. Jurnal Sains dan Seni. 2(1):1-3.
Suhartati T. 2017. Dasar-dasar spektrofotometri UV-Vis dan spektrofotometri massa
untuk penentuan struktur senyawa organik. Creative A, editor. Bandar Lampung:
Anugrah Utamam Raharja.
Warono D, Syamsudin. 2013. Unjuk kerja spektrofotometer untuk analisa zat ketoprofen.
Konversi. 2(2):57–65.
Wijayadi SA. 2017. Analisis cadangan karbon pada vegetasi mangrove di segara anakan
kabupaten cilacap menggunakan citra satelit spot 6 [skripsi]. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.
Wulandari DA, Yulkifli. 2018. Studi awal rancang bangun colorimeter sebagai
pendeteksi pada pewarna makanan menggunakan sensor Photodioda. Pillar of
Physics. 11(2):81-87.
Yanlinastuti dan Fatimah S. 2016. Pengaruh konsentrasi pelarut untuk menentukan kadar
zirkonium dalam paduan U-Zr dengan menggunakan metode spektrofotometri
UV-Vis. PIN Pengelolaan Instal Nukl. 1(17):22-33.
VII LAMPIRAN

Perhitungan:

Diketahui: M1 = 0,2 ppm


V1 = 10 mL
M2 = 1 ppm
Ditanya: V2
M1 × V1 = M2 × V2
V2 = M1 × V1/M2/
V2 = 0,2 ppm × 10 ml 1 ppm = 2 ml

Jadi, pada 2ml larutan KMnO4 membutuhkan 8ml aquades.

Lampiran 1

Proses pembuatan sampel.

Lampiran 2

Proses KMnO4 sebelum dan sesudah ditambahkan aquades.


Lampiran 3

Hasil Nilai absorbansi (A) dengan konsentrasi kalium permanganat (KMnO4) dengan
kadar (0 ppm, 0,2 ppm, 0,4 ppm, 0,6 ppm, 0,8 ppm dan 1 ppm).

Lampiran 4

Laporan sementara data praktikum dan hasil perhitungan pengenceran larutan.

Anda mungkin juga menyukai