0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan15 halaman

Uji Kalibrasi Spektrofotometer Nutrisi

Praktikum ini bertujuan menentukan panjang gelombang dengan serapan maksimum pada spektrofotometer menggunakan kalium permanganat sebagai bahan uji coba. Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur serapan cahaya oleh suatu sampel pada panjang gelombang tertentu, sedangkan kalium permanganat memiliki serapan yang diketahui pada panjang gelombang tertentu sehingga berguna untuk mengkalibrasi dan mengu

Diunggah oleh

Dimas Arifin Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan15 halaman

Uji Kalibrasi Spektrofotometer Nutrisi

Praktikum ini bertujuan menentukan panjang gelombang dengan serapan maksimum pada spektrofotometer menggunakan kalium permanganat sebagai bahan uji coba. Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur serapan cahaya oleh suatu sampel pada panjang gelombang tertentu, sedangkan kalium permanganat memiliki serapan yang diketahui pada panjang gelombang tertentu sehingga berguna untuk mengkalibrasi dan mengu

Diunggah oleh

Dimas Arifin Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Praktikum Ke: 6 Hari/Tanggal : Selasa, 19 September 2023

Biokimia Nutrisi Tempat : Lab. Biokimia dan Mikrobiologi


Praktikum Nutrisi (BMN)
Nama Dosen : Dr. Sri Suharti, [Link]., [Link]
Nama Asisten : 1. Ade Dimas Kurnia
(D2501231047)
2. Tri Wahyu Apriliana
(D2401201049)

SPEKTROFOMETER

DIMAS ARIFIN PUTRA


D2401221017
P1/K3

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2023
I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Spektrofotometer adalah suatu jenis alat yang digunakan untuk mengukur suatu
nilai absorbansi pada sampel dengan melewatkan cahaya panjang gelombang tertentu
pada suatu objek kaca (kuvet). Pada dasarnya alat ini memiliki suatu prinsip kerja hasil
dari gabungan spektrometer dan fotometer (Firgiansyah 2016). Spektrometer dan
fotometer merupakan jenis alat yang berbeda. Pada alat spektrometer memiliki suatu alat
pengurai seperti prisma yang berperan dalam suatu penyeleksi akan panjang gelombang
dari sinar putih. Sedangkan, Fotometer ialah suatu jenis alat yang memiliki suatu filter
dari berbagai warna terhadap spesifikasi trayek panjang gelombang tertentu.
Spektrofotometer secara umum dapat digunakan sebagai suatu alat pembaca atau
pengukur akan kepekaan warna dari suatu sampel, seperti kalium permanganat.
Spektrofotometri merupakan suatu instrumen alat yang dilengkapi dengan sumber
cahaya berupa gelombang elektromagnetik baik cahaya UV (Ultra Violet) atau pun
cahaya nampak (visible). Spektrofotometer memiliki fungsi yang sangat penting dalam
menentukan akan tingkat kepekatan warna dari suatu sampel. Alat spektrofotometer
digunakan untuk mengukur suatu konsentrasi dari beberapa molekul seperti DNA/RNA
(UV light 260 nm), Protein (UV 280 nm), kultur sel bakteri, ragi/yeast (Vislight 600 nm),
dan lain lain (Firgiansyah 2016). Sinar UV dan visible light memiliki suatu perbedaan
secara fungsi. Sinar UV digunakan untuk mengukur suatu larutan yang terbaca dengan
panjang gelombang kurang dari 400 nm. Sedangkan visible light digunakan untuk
mengukur suatu bahan atau larutan yang panjang gelombangnya berkisar antara 400-700
nm. Penyerapan sinar UV dan sinar tampak oleh molekul, melalui 3 proses yaitu
penyerapan oleh transisi elektron ikatan dan elektron anti ikatan, penyerapan oleh transisi
elektron d dan f dari molekul kompleks, dan penyerapan oleh perpindahan muatan
(Firgiansyah 2016).
Spektrofotometer dibagi menjadi dua jenis yaitu spektrofotometer single-beam
dan double-beam. Spektrofotometer visible single beam merupakan salah satu jenis dari
spektrofotometer yang menggunakan satu sumber cahaya dan satu serapan.
Spektrofotometer single beam akan menghasilkan satu nilai yang berupa absorban akibat
dari penggunaan jalur cahaya tunggal (Warono dan Syamsudin 2013). Intensitas panjang
gelombang terendah pada instrumen tunggal berkisar 190 hingga 210 nm, sedangkan
intensitas panjang gelombang tertinggi pada instrumen tunggal berkisar 800 hingga 1000
nm (Suhartati 2017). Berbeda dengan single-beam, pada spektrofotometer double-beam,
nilai blanko pada pengujian dapat langsung diukur bersamaan dengan larutan yang
diinginkan dalam satu kali proses yang sama sebab desain pada double-beam memiliki
dua jalur cahaya sehingga dapat meningkatkan akurasi terhadap pengukuran.
Percobaan uji coba terhadap kalium permanganat pada spektrofotometer
merupakan langkah penting dalam laboratorium kimia. Salah satu alasan kuat mengapa
percobaan ini perlu dilakukan adalah untuk memverifikasi dan mengkalibrasi alat
spektrofotometer. Kalium permanganat adalah zat kimia dengan absorban yang diketahui
dengan baik pada panjang gelombang tertentu dalam spektrum UV-Vis. Dengan
mengukur absorbansi kalium permanganat yang diketahui, kita dapat memastikan bahwa
alat pada spektrofotometer berfungsi dengan benar dan baik serta memberikan
pembacaan yang akurat. Selain itu, percobaan ini juga berguna untuk menguji sensitivitas
spektrofotometer terhadap perubahan konsentrasi zat, yang penting untuk memahami
batas deteksi dan presisi alat tersebut.
Percobaan uji coba spektrofotometer pada ternak sangat penting dalam konteks
manajemen peternakan modern. Pertimbangan kualitas nutrisi dalam pakan ternak,
pemantauan kesehatan ternak, serta pengukuran berbagai parameter kimia dalam
produksi ternak adalah aspek-aspek vital dalam upaya meningkatkan produktivitas dan
kesejahteraan ternak. Melalui penggunaan spektrofotometer, kita dapat melakukan
pengukuran yang akurat dan tepat waktu terhadap berbagai komponen kimia yang
mempengaruhi ternak, seperti nutrisi dalam pakan, kualitas susu, atau parameter
kesehatan dalam darah. Ini membantu peternak untuk membuat keputusan yang lebih
informasional dalam manajemen peternakan sehari-hari, seperti penyesuaian ransum,
pengawasan kesehatan, dan pemantauan mutu produk. Lebih dari itu, percobaan ini juga
menjadi alat yang penting dalam pengembangan inovasi dan penelitian terkait ternak,
memungkinkan pengembangan pakan yang lebih efisien dan nutrisi yang lebih seimbang
serta pemahaman lebih dalam tentang kesehatan ternak. Dengan demikian, uji coba
spektrofotometer pada ternak adalah langkah proaktif dalam meningkatkan kualitas hidup
ternak dan produktivitas peternakan secara keseluruhan.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan menentukan serta mengukur panjangan gelombang
dengan serapan maksimum pada spektrofotometer.
II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Spektrofotometer visible


Spektrofotometri merupakan suatu metode analisis yang didasarkan pada suatu
absorpsi radiasi elektromagnetik. Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk
mengukur suatu intensitas cahaya dalam ukuran absorban atau transmitan suatu sampel
terhadap panjang suatu gelombang (Manuhara 2017). Spektrofotometer visible
merupakan suatu metode yang sederhana serta mudah dilakukan dalam menentukan
intensitas suatu cahaya. Spektrofotometer visible merupakan suatu metode yang
digunakan untuk mengukur suatu intensitas cahaya pada berbagai panjang gelombang
dengan rentang spektrum cahaya yang terlihat oleh mata manusia. Cahaya yang dapat
dilihat oleh mata manusia adalah cahaya dengan panjang gelombang 400-800 nm dan
memiliki energi sebesar 299–149 kJ/mol (Tsalatsin dan Masturi 2014). Spektrofotometer
visible dalam perlakuannya terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan antara lain
yaitu pengukuran panjang gelombang maksimum, uji kesesuaian sistem, linearitas kurva
baku, batas deteksi LoD dan LoQ, serta penetapan kadar suatu sampel (Pangestika dan
Khasanah 2022).
2.2 Spektrofotometer visible single beam
Spektrofotometer visible single beam merupakan salah satu jenis dari
spektrofotometer yang menggunakan satu sumber cahaya dan satu serapan.
Spektrofotometer single beam menggunakan satu jalur cahaya tunggal yang digunakan
untuk mengukur suatu serapan dalam sampel. Spektrofotometer single beam akan
menghasilkan satu nilai yang berupa absorban akibat dari penggunaan jalur cahaya
tunggal (Warono dan Syamsudin 2013). Penggunaan dalam instrumen sinar tunggal
terdapat keuntungan yang nyata seperti keuntungan sederhana, biaya rendah, serta
pengurangan suatu biaya dari balok tunggal. Dalam pembacaan suatu serapan antara
larutan blanko dan larutan sampel digunakan suatu metode berupa metode bergilir atau
bergantian (Aryani 2016). Instrumen sinar tunggal berfungsi untuk mengukur suatu sinar
ultraviolet dan sinar tampak. Intensitas panjang gelombang terendah pada instrumen
tunggal berkisar 190 hingga 210 nm, sedangkan intensitas panjang gelombang tertinggi
pada instrumen tunggal berkisar 800 hingga 1000 nm (Suhartati 2017).
2.3 Panjang gelombang
Cahaya merupakan suatu sumber energi yang menjalankan suatu proses
fotosintesis, sehingga intensitas dan panjang suatu gelombang sangat berpengaruh dalam
pertumbuhan mikroalga (Elystia et al. 2019). Panjang gelombang merupakan suatu
definisi dari jarak antara dua titik berurutan pada sebuah gelombang dengan dua puncak
dan dua lembah. Panjang suatu gelombang berpengaruh terhadap suatu daya keluaran.
Semakin besar panjang gelombang maka semakin tinggi daya keluaran yang dihasilkan
(Sridewi et al. 2018). Panjang gelombang yang menunjukan suatu nilai serapan tinggi
merupakan panjang gelombang yang maksimum. Penetapan panjang gelombang serapan
maksimum dilakukan dengan mengambil salah satu konsentrasi larutan baku dan
mengukur serapannya dalam rentang panjang gelombang 400-800 nm (Pratama et al.
2019). Penetapan panjang gelombang maksimum bertujuan untuk mengetahui besarnya
panjang gelombang yang dibutuhkan untuk mencapai serapan maksimum.
2.4 Kalium permanganat
Kalium permanganat merupakan senyawa kimia anorganik yang memiliki warna
ungu tua hingga merah coklat. Warna yang terbentuk dalam suatu larutan disebabkan oleh
adanya ion-ion metal alam seperti besi (Fe) dan mangan (Mn) (Santoso dan Wahyu 2015).
Kalium permanganate merupakan suatu senyawa kimia anorganik yang memiliki rumus
kimia KMnO4 dan merupakan garam yang mengandung ion K+ dan MnO4. Kalium
permanganat merupakan suatu senyawa organik yang memiliki sifat sebagai oksidator
kuat. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat yang dapat mengoksidasi suatu
formaldehid yang terkandung dalam formalin (Khaira 2015). Senyawa ini memiliki
bilangan oksidasi +4 sehingga dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan maupun
industri. kalium permanganate dapat berfungsi sebagai obat obatan terutama untuk
membersihkan luka dan dermatitis. Larutan KMnO4 juga digunakan untuk menduga
adanya suatu formalin, sehingga formalin dapat melunturkan warna KMnO4 dari warna
ungu menjadi pudar (Febrianti dan Sari 2016).
2.5 Larutan Aquades
Larutan aquades merupakan suatu jenis larutan yang memiliki suatu karakteristik
bentuk yang transparan atau jernih. Hal tersebut terjadi karena larutan tidak mengandung
partikel padat atau partikel kasar yang dapat mengganggu akan transpirasi pada larutan.
Sifat transparan pada larutan bening mengakibatkan suatu sinar cahaya dapat dengan
mudah masuk melewati larutan. Larutan bening pada dasarnya apabila didinginkan dapat
berubah menjadi keruh atau biasa dikenal dengan sebutan presipitasi. Hal tersebut
disebabkan oleh adanya faktor perubahan suhu yang mengakibatkan suatu perubahan
terhadap solubilitas senyawa yang berakibat pada kekeruhan. Beberapa contoh dari
larutan bening adalah aquades, fenolftalein, alcohol dan sebagainya (Hinggis 2019).
2.6 Larutan Blanko
Larutan blanko adalah larutan yang digunakan sebagai referensi untuk
membandingkan intensitas cahaya yang diukur pada sampel yang dianalisis. Blanko ini
merupakan larutan yang mempunyai perlakuan yang sama dengan analat tetapi tidak
mengandung komponen analat (Fitriana dan Fitri 2020). Larutan analat adalah larutan
yang dianalisis. Larutan blanko biasanya terdiri dari pelarut yang sama seperti yang
digunakan dalam sampel, tetapi tidak mengandung zat yang akan dianalisis. Larutan
blanko sering digunakan sebagai referensi untuk mengukur intensitas cahaya yang
diteruskan atau diabsorbsi oleh sampel, sehingga memungkinkan pengukuran yang
akurat.
III MATERI DAN METODE

3.1 Materi
3.1.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu spektrofotometer,
kuvet dan tisu.
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu aquades, larutan
blanko, dan kalium permanganat.

3.2 Metodologi
3.2.1 Prosedur
Langkah awal dalam praktikum adalah dinyalakannya spektrofotometer
dan tunggu selama lima belas menit atau hingga indikator tertentu muncul. Selanjutnya,
siapkan dua tabung kuvet, satu diisi dengan aquades sebagai larutan blanko, dan kuvet
yang lainnya diisi dengan larutan kalium permanganat dengan volume yang sama. Pastika
kuvet dalam keadaan bersih sebelum dimasukkan kedalam spektrofotometer.
Selanjutnya, letakkan bagian bening dari kuvet sejajar dengan arah datangnya cahaya
yang memudahkan penggunaan alat. Setelah itu, atur panjang gelombang
spektrofotometer sesuai dengan pengaturan sebelumnya, yaitu dalam rentang 555-575
nm. Ketika panjang gelombang telah diatur, nilai absorbsi dan transmitansi akan
ditampilkan. Prosedur pengukuran untuk larutan kalium permanganat dilakukan dengan
cara yang sama seperti pada larutan blanko aquades.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan data berupa Panjang gelombang yang
digunakan untuk mencari nilai absorban dari larutan kalium permanganat (KMnO4)
terhadap alat spektrofotometer. Berikut adalah data nilai absorban pada kalium
permanganat.
Tabel 1 Nilai absorbansi
Panjang gelombang (nm) Absorban (A)
500 0,1657
505 0,18
510 0,1862
515 0,1938
520 0,2216
525 0,2315
530 0,1955
535 0,1856
540 0,1893
545 0,2023
550 0,1859
555 0,135
560 0,111
565 0,099
570 0,088
575 0,064
580 0,096
585 0,073
590 0,058
595 0,058
600 0,062

Grafik Absorbansi
0,25
0,2
Absorbansi

0,15
0,1
0,05
0
480 500 520 540 560 580 600 620
Panjang gelombang

Absorban

Gambar 1 Grafik absorbansi

4.2 Pembahasan
Spektrofotometer adalah sebuah alat yang terdiri dari spektrofotometer yang
menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu untuk mengukur
intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsikan. Absorbansi merupakan suatu
kemampuan suatu bahan atau sampel dalam menyerap cahaya pada panjang gelombang
tertentu. Pada dasarnya absorbansi adalah suatu perbandingan antara intensitas sinar yang
diserap dengan intensitas sinar datang. Absorbansi suatu sampel akan meningkat seiring
dengan peningkatan konsentrasi zat yang terkandung di dalamnya. Semakin tinggi
konsentrasi zat dalam sampel, semakin banyak molekul yang akan menyerap cahaya pada
panjang gelombang tertentu, yang mengakibatkan nilai absorbansi menjadi lebih tinggi.
Dengan kata lain, nilai absorbansi akan secara proporsional meningkat seiring dengan
peningkatan konsentrasi zat dalam sampel (Neldawati 2013). Hubungan antara
konsentrasi dengan jumlah cahaya yang diserap dinyatakan dalam hukum Beer-Lambert.
Hukum Beer-Lambert merupakan suatu analisis secara kuantitatif dalam menentukan
kadar flavonoid yang melibatkan suatu pengukuran terhadap absorbansi (Satria et al.
2022). Hukum beer-lambert digunakan sebagai perhitungan dalam menentukan besarnya
nilai suatu radiasi intersepsi. Hukum beer lambert menjelaskan suatu hubungan empiris
terhadap cahaya yang meradiasi sebuah permukaan homogen yang menyerap dan
meneruskan radiasi dari cahaya tersebut (Wijayadi 2017). Hukum beer lambert juga
ternyata dapat digunakan sebagai acuan penduga dalam menilai suatu biomassa dan
cadangan karbon.
Spektrofotometri merupakan suatu metode analisis yang didasarkan pada suatu
absorpsi radiasi elektromagnetik. Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk
mengukur suatu intensitas cahaya dalam ukuran absorban atau transmitan suatu sampel
terhadap panjang suatu gelombang (Manuhara 2017). Prinsip kerja pada alat ukur ini
adalah berlandaskan pada hukum Beer-lambert, yaitu hubungan linier antara konsentrasi
suatu zat yang menyerap cahaya dengan nilai suatu absorbansi (Nadhira et al. 2017).
Hukum ini berlaku ketika cahaya yang ditembakan tidak berpengaruh terhadap reaksi
kimia ataupun proses fisis pada zat yang dilewati. Prinsip dasar spektrofotometri adalah
bahwa ketika cahaya, baik berupa cahaya monokromatik maupun campuran, mengenai
suatu medium yang homogen, sebagian cahaya akan dipantulkan, sebagian akan diserap
oleh medium tersebut, dan sisanya akan diteruskan. Nilai dari cahaya yang diteruskan ini
diukur dalam bentuk nilai absorbansi, dan nilai absorbansi ini berkaitan erat dengan
konsentrasi sampel yang sedang dianalisis (Misbahri et al. 2014). Hukum Beer-Lambert
memiliki rumus seperti berikut: A= a.b.C. Besarnya sinar (A) berbanding lurus dengan
konsentrasi zat penyerap (C) dan jarak yang ditempuh sinar (a) dalam larutan (tebal
larutan, b).
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap uji coba spektrofotometer pada kalium
permanganat menghasilkan suatu nilai absorban yang sangat bervariasi. Dalam uji coba
kali ini menggunakan parameter panjang gelombang dengan rentan 500 hingga 600
dengan penambahan 5 nm setiap perulangan. Hasil yang diterima dapat dilihat pada tabel
1 terlihat bahwasannya nilai pada absorban suatu larutan tidak sampai menyentuh angka
satu. Hal ini berkaitan dengan pengaruh linier pada konsentrasi larutan dan berbanding
terbalik dengan transmitan. Semakin besar konsentrasi yang digunakan maka semakin
besar nilai absorban yang dihasilkan, akan tetapi untuk nilai transmitan akan bernilai
kecil. Pernyataan tersebut selaras dengan hukum lambert-beer yaitu bahwa konsentrasi
suatu larutan akan berbanding lurus dengan nilai suatu absorbansi, dengan ketentuan
apabila semakin tinggi nilai absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi zat
yang terkandung didalamnya (Listiawati et al. 2022). Sehingga sesuai pernyataan diatas
dapat diketahui bahwa alasan mengapa nilai dari absorban larutan pada praktikum tidak
menyentuh angka satu karena larutan KMnO4 memiliki nilai konsentrasi akan kepekatan
yang rendah sehingga nilai absorban kurang dari satu. Semakin pekat konsentrasi suatu
larutan maka nilai absorban akan semakin tinggi hingga menyentuh angka satu.
Hasil yang diterima pada grafik diatas terlihat bahwa nilai absorban tertinggi
terletak pada panjang gelombang 525 sedangkan nilai absorban terendah terletak pada
panjang gelombang 590 dan 595 nm. Perbedaan nilai absorban tersebut terjadi karena
adanya pengaruh dari berbagai faktor salah satunya yaitu panjang gelombang. Setiap
larutan memiliki panjang gelombang khusus yang berfungsi sebagai faktor pendorong
dalam menunjukan puncak penyerapan. Hasil pengamatan apabila dibandingkan dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Sumbari (2021) mengenai analisis spektroskopi dan
dinamika karbon organik terlarut pada lahan gambut perkebunan kelapa sawit
menunjukkan adanya suatu kelarasan teori, bahwasanya panjang gelombang 350 nm pada
suatu larutan akan menghasilkan nilai absorban lebih rendah dari pada panjang
gelombang 254 dan 270. Hal tersebut disebabkan karena adanya gelombang pendek yang
cenderung melepaskan suatu energi yang lebih besar dari pada gelombang yang lebih
panjang, sehingga larutan akan menyerap energi lebih banyak yang berakibat pada
tingginya nilai absorban pada sampel. Oleh karena itu konsentrasi larutan sangatlah
berpengaruh pada nilai absorban . Semakin tinggi konsentrasi maka semakin tinggi nilai
absorban.
Mineral merupakan suatu benda atau zat yang homogen secara anorganik dan
mempunyai komposisi kimia pada batas tertentu serta mempunyai atom yang tersusun
secara teratur. Secara umum mineral terdiri dari beberapa unsur penyusun organik yaitu
fosfor (P), kalsium (ca), magnesium (Mg), dan kalium (K). Bagi ternak mineral memiliki
peran yang sangat penting dalam kesejahteraan dan produktivitas ternak. Peran mineral
bagi ternak mencangkup aspek kesehatan, pertumbuhan, reproduksi serta produksi ternak.
Mineral merupakan suatu senyawa yang sangat esensial bagi ternak karena pada ternak
membutuhkan mineral untuk metabolisme dalam tubuh (Nopriani et al. 2016). Salah satu
sumber dari mineral terdapat dalam jenis hijauan pakan. Kandungan dalam komposisi
mineral dipengaruhi oleh kandungan mineral dalam air, tanah dan udara yang terdapat
pada sekitar tempat tumbuhnya tanaman (Nopriani et al. 2016). Salah satu pakan hijauan
yang menyediakan suatu mineral bagi ternak adalah Lamtoro. Lamtoro mineral blok
adalah suatu pakan suplemen tambahan dari hasil olah lamtoro yang bertujuan untuk
menyediakan pakan suplemen mineral dan nitrogen yang terjangkau bagi peternak
ruminansia. Untuk mencapai pertumbuhan dan produksi yang optimal,
ternak membutuhkan asupan nutrien yang lengkap dan seimbang. Defisiensi dan tidak
keseimbangan nutrient akan meneyebabkan gangguan metabolisme, pertumbuhan dan
produksi. Karbohidrat, protein dan mineral merupakan nutrien yang berperan penting
dalam menunjang pertumbuhan dan produksi ternak.
Pakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha peternakan
termasuk usaha peternakan ruminansia pedaging. Penggunaan spektrofotometer memiliki
keterkaitan yang signifikan dengan penyusunan formula pakan ternak. Metode
spektrofotometri adalah suatu cara yang sederhana,cepat, dan sangat akurat untuk
mengukur suatu kuantitas zat yang sangat kecil (Fajrina et al. 2016). Spektrofotometer
memiliki peran penting dalam melakukan analisis nutrisi dan kualitas pakan hewan.
Spektrofotometer digunakan untuk menganalisis kandungan nutrisi dalam pakan seperti
protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan asam amino (Ningsih et al. 2017).
Dengan mengukur absorbansi atau transmisi cahaya pada panjang gelombang tertentu,
penyusun pakan dapat menentukan konsentrasi zat-zat ini dalam sampel pakan. Ini
memungkinkan mereka untuk mengatur komposisi pakan agar sesuai dengan kebutuhan
spesifik hewan ternak, baik itu sapi, ayam, babi, atau hewan ternak lainnya. Dengan
demikian, spektrofotometer membantu dalam memastikan bahwa pakan yang diproduksi
memiliki kualitas yang optimal, sesuai dengan standar gizi, dan dapat mendukung
pertumbuhan, reproduksi, dan kesehatan ternak secara efisien. Selain itu,
spektrofotometer juga digunakan untuk menguji kualitas bahan baku yang digunakan
dalam produksi pakan, seperti kualitas gandum, jagung, dan bahan lainnya. Dengan
demikian, alat ini menjadi alat yang sangat penting dalam industri pakan ternak,
membantu penyusun pakan dalam memastikan bahwa pakan yang dihasilkan adalah yang
terbaik untuk hewan ternak dan memenuhi standar gizi yang diperlukan untuk menjaga
kesehatan dan kinerja optimal ternak tersebut.

V SIMPULAN

Panjang gelombang maksimum terjadi pada kondisi 525 nm dengan absorbansi


sebesar 0,2315 A. Peningkatan suatu konsentrasi zat dalam suatu sampel akan
meningkatkan suatu nilai absorbansi pada sampel. Semakin tinggi konsentrasi zat dalam
sampel, semakin banyak molekul yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang
tertentu, sehingga nilai absorbansi akan menjadi lebih tinggi. Prinsip kerja dari
spektrofotometer menggunakan hukum Lambert-Beer yaitu antara suatu konsentrasi
larutan dan absorbansi terhadap cahaya saling berhubungan dan berbanding lurus.
VI DAFTAR PUSTAKA

Ariyani D. 2016. Uji zat warna hijau pada daun tanaman bayam (Amaranthus Tricolor)
menggunakan spektrofotometer visible [tesis]. Semarang: Universitas
Diponegoro.
Elystia S, Muria SR, Pertiwi SIP. 2019. Pemanfaatan mikroalga Chlorella sp. untuk
produksi lipid dalam media limbah cair hotel dengan variasi rasio c:n dan
panjang gelombang cahaya. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. 11(1):25-
43.
Fajrina A, Jubahar J, Sabirin S. 2016. Penetapan kadar tanin pada teh celup yang beredar
dipasaran secara spektrofotometri uv-vis. Jurnal Farmasi Higea. 8(2):133-142.
Febrianti DR, Sari RM. 2016. Analisis kualitatif formalin pada ikan tongkol yang dijual
di pasar lama banjarmasin. Jurnal Pharmascience. 3(2):64-68.
Firgiansyah A. 2016. Perbandingan kadar glukosa darah menggunakan
spektrofotometer dan glukometer [skripsi]. Semarang: Universitas
Muhammadiyah Semarang.
Fitrianan YAN, Fitri AS. 2020. Analisis kadar vitamin c pada buah jeruk menggunakan
metode titrasi iodometri. SAINTEKS. 17(1):27-32.
Hinggis VB. 2019. Rancang bangun alat pembuatan aquades dan aquabides dengan
metode penguapan (tinjauan kinerja water distiller) [tesis]. Sumatera Selatan:
Politeknik Negeri Sriwijaya.
Khaira K. 2015. Pemeriksaan formalin pada tahu yang beredar di pasar batusangkar
menggunakan kalium permanganat (KMnO4) dan kulit buah naga. Sainstek:
Jurnal Sains dan Teknologi. 7(1):69-76. doi: 10.31958/js.v7i1.127.
Listiawati MDA, Nastiti K, Audina M. 2022. Pengaruh perbedaan jenis pelarut terhadap
kadar fenolik ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.). Journal of
Pharmaceutical Care and Science. 3(1):110-120.
Manuhara A. 2017. Penetapan kadar vitamin c pada daun bayam hijau (Amaranthus
Tricolor l) segar, rebus dan goreng secara spektrofotometri uv-vis. Journal of
Chemical Information and Modeling. 53(9):1689–1699.
Misbahri, Indrayana TM, Bebasari E. 2014. Korelasi nilai absorban Fe2+ terhadap usia
bercak darah yang dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer Uv-Vis.
Jurnal online mahasiswa (JOM). 1(2):1-17.
Nadhira V, Juliastuti E, Fauzy LI, Widodo RK. 2017. Alat ukur portabel kadar logam
mangan dan besi dalam air menggunakan prinsip spektrofotometer. Jurnal
Otomasi Kontrol dan Instrumentasi. 9(2):71-80.
Neldawati. 2013. Analisis nilai absorbansi dalam penentuan kadar flavonoid untuk
berbagai jenis daun tanaman obat. Pillar of Physics. 2(1): 76-83.
Ningsih, Utami H, Prakarsa, Putra TB, Margawati, Tri E. 2017. Koleksi DNA dan
konfirmasi maka ETH10 pengkode sifat pertumbuhan pada sapi pasundan. The
Journal of Tropical Biology. 1(1):18-25.
Nopriani U, Karti PDMH, Prihantoro L. 2016. Kandungan mineral duckweed (lemna
minor) sebagai sumber hijauan pakan alternatif ternak pada intensitas cahaya
yang berbeda. AGROPET. 13(1):68-74.
Pangestika E, Khasanah K. 2022. Analisis tartazine dalam minuman kemasan di pasar
warungasem kabupaten batang secara spektrofotometri visible. BENZENA
Pharmaceutical Scientific Journal. 1(1):56-63. doi:
10.31941/benzena.v1i01.2097.
Pratama M, Razak R, Rosalina VS. 2019. Analisis kadar tanin total ekstrak etanol bunga
cengkeh (Syzygium Aromaticum l.) menggunakan metode spektrofotometri uv-
vis. Jurnal Fitofarmaka Indonesia. 6(2):368-373.
Santoso B, Wahyu E. 2015. Penapisan zat warnaalam golongan anthocyanin dari
tanaman sekitar sebagai indikator asan basa. Jurnal fluida volume. 11(2):1-8.
Satria R, Hakim AR, Darsono PV. 2022. Penetapan kadar flavonoid total dari fraksi n-
heksana ekstrak daun gelinggang dengan metode spektrofotometri uv-vis.
Journal of Engineering, Technology, and Applied Science. 4(1):33-46.
Sridewi NLPM, Suryanto H, Kusuma IGBW. 2018. Analisis pengaruh Panjang
gelombang Cahaya terhadap keluaran panel surya tipe polycrystalline. Jurnal
METTEK. 4(2):48-53.
Suhartati T. 2017. Dasar-dasar spektrofotometri UV-Vis dan spektrofotometri massa
untuk penentuan struktur senyawa organik. Creative A, editor. Bandar
Lampung: Anugrah Utamam Raharja.
Sumbari AI. 2021. Analisis spektroskopi dan dinamika karbon organik terlarut pada
lahan gambut perkebunan kelapa sawit [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Tsalatsin MN, Masturi. 2014. Penentuan panjang gelombang sinar menggunakan
interferensi celah ganda sederhana. J Fis. 4(2):69–73.
doi:10.15294/jf.v4i2.3828.
Warono D, Syamsudin. 2013. Unjuk kerja spektrofotometer untuk analisa zat
ketoprofen. Konversi. 2(2):57–65.
Wijayadi SA. 2017. Analisis cadangan karbon pada vegetasi mangrove di segara anakan
kabupaten cilacap menggunakan citra satelit spot 6 [skripsi]. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.
VII LAMPIRAN

Lampiran 1

Larutan blanko sebagai larutan standar

Lampiran 2

Larutan absorbansi larutan KMnO4 (555)

Lampiran 3

Larutan absorbansi larutan KMnO4 (560)


Lampiran 4

Larutan absorbansi larutan KMnO4 (565)

Lampiran 5

Larutan absorbansi larutan KMnO4 (570)

Lampiran 6

Larutan absorbansi larutan KMnO4 (575)


Lampiran 7

Data percobaan laporan sementara

Anda mungkin juga menyukai