Proses review seperti ini, atdalah yang ideal meskipun tentu saja
mahal karena seperti dua proses perancangan yang terpisah.
Jadi tahap review penting, yaitu untuk menghindari keraguan atas
hasil rancangan. Hal ini telah menjadi strategi baku di dunia barat,
yaitu dengan adanya checker oleh engineer berlisensi, misalnya PE
(Profesional Engineer) bidang teknik sipil dan sebagainya. Praktek
semacam ini lazim dilakukan di Amerika, Jerman, atau Singapore
dan tidak terbatas pada proyek jembatan, tetapi juga yang lainnya.
Perencana perlu mengetahui proses pelaksanaan, khususnya yang
bersifat umum, tidak perlu yang terlalu spesifik, apalagi harus
memakai teknologi tertentu. Ini perlu untuk menghindari proyek
hanya dapat dikerjakan oleh kontraktor tertentu saja, sehingga
sulit dicari pembanding, ujung-ujungnya biayanya jadi mahal.
Pada proyek yang besar dan kompleks, apalagi jika kontrak kerjanya
design-and-built maka constructibility review perlu dibuat terpisah
(independen). Pada tahap ini sekaligus dibuat value engineering,
yaitu memikirkan alternatif rancangan yang berfungsi sarna, tapi
lebih murah. Ini perlu untuk memastikan, apakah rancangannya
bisa dibangun serta layak ditawarkan (buildability and bidability).
Alasannya, engineer perencana umumnya tidak memperhatikan
perkembangan dan pengetahuan terbaru tentang alat konstruksi
dibanding kontraktor. Jadi, jika rancangannya disesuaikan dengan
teknologi yang tersedia, maka tentunya dapat dihasilkan kualitas
rancangan optimum dan mengurangi masalah yang mungkin ada
saat konstruksi, seperti change orders, claims atau keterlambatan.
Waktunya yang tepat untuk constructability review adalah ketika
perancangannya hampir rampung. Aspek-aspek yang periu dikaji
adalah: kompatibilitas gambar kerja dan spesifikasi teknis, pen-
jadwalan dan tata-urutan pelaksanaan pekerjaan proyek, keadaan
lapangan di lokasi proyek, kompatibilitas bahan dan sebagainya.
Ada juga tahapan kerja yang bersifat opsional (tidak selalu ada) .
Proses fabrikasi misalnya, ini hanya diperlukan pada proyek yang
melibatkan konstruksi baja dan, atau beton pracetak. Fabrikasi di
sini merujuk bengkel kerja, tempat produksi yang terletak di luar
lokasi proyek. Bengkel kerja berfungsi seperti pabrik komponen,
yang jika dipaksakan dibua1t di lokasi proyek akan menjadi tidak
efisien dan kesulitan dalam menjaga kualitas produknya.
Catatan : jika jumlah produksi yang dibuat relatif besar, atau ada
masalah dengan proses transportasi, maka bisa dibuat bengkel
kerja khusus di dekat, atau bahkan di lokasi proyek itu sendiri.
Wirya nto Dewo broto - Ko mpllter Rekayasa Strll ktur de nga n SAP2000 5