Sabda Rindu
Nama ku Lengkara Aubrey Anderson, anak terakhir dari dua bersaudara. Lengkara,
begitulah sapaan untukku setiap harinya. Ayahku pernah bercerita kepadaku, beliau mengatakan
bahwa nama yang saat ini aku pakai merupakan nama pemberian dari kakekku. Kekekku percaya
bahwa nama adalah doa. Kakekku selalu berharap, kelak ketika aku dewasa aku akan menjadi
seseorang yang sama seperti arti dari nama tersebut. Beliau juga mengatakan bahwa arti dari
nama Lengakar Aubrey Anderson ialah putri dari keluarga Anderson yang berparas cantik dan
diberikan kekuatan untuk menghadapi rintangan-rintangan dalam hidup.
Pagi hari yang begitu cerah dengan kicauan burung yang mengiasi suasana hatiku. Aku
tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari pertamaku berangkat ke
sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Saat ini aku duduk di bangku kelas 3 Sekolah
Menengah Pertama atau yang sering disebut dengan SMP. Seperti biasa aku selalu sarapan
sebelum berangkat ke sekolah. Makanan yang Ibu masak pun sudah tersaji di atas meja makan.
Aku selalu sarapan bersama kakakku dan juga Ibuku.
“Kringgg kringgg kringgg,,,,” telefon rumah berbunyi dengan merdunya.
Tanpa pikir panjang aku langsung berdiri dari tempat duduk ku dan meninggalkan
sarapan pagi ku. Dengan hati yang berbinar-ninar aku berlari menuju ruang tengah tempat
telefon rumah itu berada. Seperti yang aku harapkan, suara merdu dari telefon itu berubah
menjadi suara indah dari seorang lelaki.
“Assalamualaikum Dekraaaa”
Dari suara yang keluar pertama kali dari telefon rumah itu, aku sudah tahu betul siapa
yang sedang berbicara denganku.
“Waalaikumsalam Ayahh,” jawabku dengan riang.
“Dekra udah mau berangkat sekolah???” lanjut Ayah.
“Kok Dekra sih yahh?” jawabku.
“Kan dedek Karaa…” jawab ayah.
“Aaaa Aayahh….” Jawabku dengan tersipu malu.
Ayahku memang selalu seperti itu, beliau selalu tegas kepada siapapun, tapi tidak kalau
denganku, anak perempuan satu-satunya. Ayahku selalu bisa membuatku tersenyum dengan hal-
hal yang sederhana.
“Ayah pulang kapan?” lanjutku pada obrolan pagi ini.
“ Nanti dek,” jawab Ayah dengan lembut.
“Kok nanti sih yahh?”
“iya dek, nanti kalau tugas ayah di sini sudah sudah selesai, ayah pasti cepet-cepet
pulang”
“Iya yah,” jawabku dengan lesu.
“Udah dulu ya dek Kara, Ayah mau berangkat tugas dulu, adek juga jangan lupa sarapan
sebelum berangkat sekolah,” lanjut Ayah.
“iya yah, Ayah baik-baik di sana ya yah…”
“Iya dek, salam buat ibu dan kakak ya!”
“Siap yah, nanti adek sampaiin, daaa Ayah. Asalamualaikum,”
“Waalaikumsalam dek,”Jawab Ayah mengakhiri obrolan pagi ini.
Ayahku adalah seorang Perwira Angakatan Laut. Untuk bisa bertemu dengannya, rasanya
seperti harus menyebrang samudra dan membelah lautan terlebih dahulu. Jangankan untuk
bertemu, sekedar sarapan bersama saja rasanya sangat mustahil bagiku.
Entah apa yang ku rasa setelah mendengar suara Ayah dari telepon tadi. Rasanya ingin
mengatakan kepada semua orang bahwa aku sangat bahagia ketika mendengar suara Ayah, akan
tetapi ada rindu yang menari- nari di hati pada saat yang bersamaan. Kata orang, Ayah adalah
cinta pertama untuk anak perempuannya, akan tetapi itu tidak berlaku untuk diriku, ayah adalah
patah hati pertamaku.
“Dek, ayo berangkat,” ucap kakakku.
Ya, dia adalah kakak laki-laki pertama dan satu-satunya yang aku miliki di keluargaku
ini. Namanya Bryan Anderson. Dia telah menyelesaikan pendidikan SMA nya tapat pada tahun
lalu. Saat ini ia sedang fokus mengejar cita-citanya sebagai seorang anggota TNI sama seperti
ayah kami. Sebenarnya aku tidak setuju dengan keputusan kakak tentang hal ini. Tapi apa boleh
buat, itu sudah menjadi keputusannya. Setiap pagi Kak Bryan selalu mengantarkan aku ke
sekolah.
“Ayo kak,” jawabku sembari mengambil tas yang ada di sampingku.
“Adekk, sarapannya enggak dihabisin dulu?” tanya ibu dari kejauhan.
“Enggak bukk,,, adek udah bawa bekal. Adek berangkat sekolah dulu ya buk…”
jawabku.
“Assalamualaikummm,” ucap kak Bryan.
“Waalaikumsalamm,” jawab Ibu.
Aku langsung bergegas menaiki mobil yang akan dikendarai kakak. Aku duduk di kursi
depan tepat di samping kakakku. Di dalam mobil aku tak lupa membuka buku catatanku untuk
sedikit mempersiapkan pelajaran ku nanti. Sesampainya di depan gerbang sekolah, aku langsung
berpamitan dengan kakak dan bergegas menuju gerbang sekolah.
“Pagi pakk…” sapa ku untuk pak satpam yang ada di depan gerbang sekolah.
“Pagi juga Ra…” jawabnya dengan ramah.
Belum usai kaki ku melangkah sampai ke depan pintu kelas, tiba-tiba ada yang
memanggilku dari kejauhan. Suaranya tak asing lagi bagiku. Aku pun membalikkan badanku dan
mencari-cari sumber suara yang memanggilku tadi.
“karaaa,” teriak seorang gadis yang sedang berlari menuju lorong sekolah.
“ada apa Laaa?” jawabku dengan sedikit ceuk.
“Ada yang nyariin tuh!!!” ucap viola.
“Siapa?” tanyaku.
tuh orang nya ada dibelakan lo
“Pagi Lengkaraaa…” ucap seorang laki laki yang berada tepat di belakanggku.
Laki-laki itu bernama Raden Nagara Adhyaksa Candrasengkala, biasa dipanggil Aksa.
Dia siswa kelas 3 SM[P juga, akan tetapi dia tidak satu kelas denganku. Saat ini dia sedang
menjabat sebagai ketua Club basket di sekolah kami. Aku sudah mengenalmya sejak dua tahun
yang lalu. Dia dikenal sebagai laki laki yang super tampan, super pintar, dan homoris. Bisa
dibilang kami adalah teman dekat. Dia adalah satu-satunya laki-laki yang
“Ehhh…pagi juga. Ada apa Sa?” tanyaku basa-basi.
“Eh bentar-bentar, gue pergi ke kelas dulu ya ra! Gue disini cuma jadi nyamuk,” Ucap
Viola berusaha menyela obrolan kami berdua.
“Tungguin gue dulu laaa..” sahutku.
“Tenang aja Ra, nanti Aksa yang mau nganterin lo sampai kelas. Iya kan ka?”
“iya ra, kan masih ada aku,
Udah dulu ya raa daaa
Viola pun pergi meninggalkan kami berdua di lorong sekolah. Hati ku berdebar menanti
kalimat yang akan terucap dari bibir laki laki di sampingku ini.
Kara, tadi pagi bunda nanya-in kamu, kata buda bunda kangen, dek Iqbal juga kangen
kamu katanaya” ucap aksa yang sontak membuat ku berfikir keras. “maaf in kara ya ka,
belakangan ini kara sibuk, kara harus belajar buat kompetisi olimpiade bulan depat” jawabku
dengan penyuesalan. Iya ka, aku ngerti kok, eeemmmm…..pulang sekolah nanti kamu bisa ikuy
aku nggak, buat ketemu bunda, sebentar aja…” pinta aksa dengan serius. “bisa ka……
blablablaaaaaaaaaaaaaaaa
Ketika pembelajaran hari ini telah usai, aku ……………………….sesampainya dirumah
aksa,tanpabasabasi aksa langsung mengajakkku untuk langsung menemui ibu
“assalamualaikum bunda,”
Waalaikim salam, ehh,,,, karaa?
Iya bunda, ini kara,” jawabku dengan sopan
Kakak karaaaaaaa,” seorang lelaki kecil berlari menuju kearahku dan lengsung memberikan
pelukan hangat untuk ku.
Kara, ayo masuk dulu, lita ngonrol-ngobrol di dalam ru,ah sambil minun teh anget. Pinta bunda
sambil mengarahkanku ke sebuah kursi si ruang tamu
Iya bunda. Jawabku
Taj kurang dari lima jam aku berbincang-bincang dengan bunda. Kami sama-sama
melepas rindu setelah beberapa minggu tidak bertemu. Bunda juga sempat memperlihatkan foto-
fotomasa kecil aksa. Pipinya sanagt cabi dia kecil.
Tak terasa matahari telah kembali ke tempat persembunyiannya. Aku pun berepamitan kepada
bunda dan meminta Aksa untuk mengantarkan aku pulang. Hari iniadalah hari yang begitu indah.
Aku tidak akan pernah melupakan hari ini. Hari ini aku merasa akulah satu-satunya perempuan yang
sanngat beruntung karena bisa mengenal Aksa dengan baik.
Keesokan hari, saat bagaskara mulai menyapa kembali, aku mendapat kabar yang mengejutkan
dari kakak. Hari ini kak Bryan akan dilantik menjadi seorang bintara TNI Angakatn Darat. aku
sedikit kwcwwa dengan kakak, karena dia tidakmemberitahuku lebil awal. Dengan sedikit rasa
kecewa, hari ini aku lebih memilih untuk mengantar kakak dari pada pergi kesekolah. Setibanya di
sebuah lapangan tempat pelantikak kak bryan, aku melihat gerombolan pasukan mariner berbaris
tegap dan rapi.
Setelah prosesi pelantikan usai, kakak langsung memberikan salam perpisahan untukku
dan ibu. Dengan perasaan yang campur aduk, aku berusaha mempertahan kan genggaman tangan
kakak yang sudah hamper lepas dari tanganku. Aku berusaha keras agar akutidak menangis hari ini.
Akan tetaoi usahaku gagal, segumpal cairan suci lolos dari kelopak mataku.
“Kakak sering-sering telfon adek ya!” pintaku kepada kakak.
“Pasti dek. Dek kara jagain ibu ya, kakak pergi dulu. Assalamualaikum,”
“Waalaikaumsalam saying, baik-baik disana ya!” jawab ibu sambil mengusap-usap ubun
ubun Kakak. Kakak pun memcium tangan ibu dsan bergegas pergi menaiki trik militer yangsedari tadi
sudah menunggu untuk dinaiki. Begitu pun dengan aku da ibu, kami bergegas pulang kerumah
sebelum hari muali malam.
Hari pun berganti pagi. Pagi ini nampak berbeda dari dari pagi pagi sebelumnya.
Bagaskara terlihat tak bersemangat hari ini, pun begitu dengan mega-mega yang ada dilangit. Mega
mendung terlihat jelas pagi ini. Akan tetapi hal ini tidak mengurangi semangat ku untuk berangat
kesekolah, karena hari ini aku akan berjumpa dengan laki-laki itu. Ya, dia Aksa. Sedari kemarin aku
tidak mendapat kabar darinya. senyumnya yang begitu candu membuatku rindu bila belum melihatnya.
Selepas sarapan pagi, aku lamhsung berangkat sekolah. Hari ini aku berangkat ke sekolah
dengan diantar oleh ibu. Sesampainya di depan gerbang, seperti biasa aku selalu menyapa pak satpam
yang berjaga didepat gerbang sekolah. Pandanganku tak hent-hentinya mencari keberadaan laki-laki
yang sering dipanggil aksa itu.