BAB II
KAJIAN TEORI
A. Tinjauan Otonomi Daerah
1. Pengertian Otonomi Daerah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008 : 992), otonomi
adalah pola pemerintahan sendiri. Sedangkan otonomi daerah adalah hak,
wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004
sebagaimana telah diamandemen dengan Undang-undang Nomor 12
Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, memberikan definisi otonomi
daerah sebagai berikut : “Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan
kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan”.
Otonomi daerah adalah hak penduduk yang tinggal dalam suatu
daerah untuk mengatur, mengurus, mengendalikan dan mengembangkan
urusannya sendiri dengan menghormati peraturan perundangan yang
berlaku (Hanif Nurcholis, 2007 : 30).
15
16
Menurut Pasal 1 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 juga
mendefinisikan daerah otonom sebagai berikut : “Daerah otonom,
selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Contoh daerah otonom (local self-
government) adalah kabupaten dan kota. Sesuai dengan Undang-undang
No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kabupaten dan kota
berdasarkan asas desentralisasi. Dengan digunakannya asas desentralisasi
pada kabupaten dan kota, maka kedua daerah tersebut menjadi daerah
otonom penuh.
Dengan demikian otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan
kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Daerah harus
dapat memenuhi semua urusan daerah yang diberikan. Urusan daerah
tersebut diatur dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana
diamandemen dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang
Pemerintahan Daerah.
2. Prinsip-Prinsip Otonomi Daerah
Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-
luasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur
semua urusan pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah yang
17
ditetapkan dalam Undang-undang ini. Daerah memiliki kewenangan
membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan
peranserta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada
peningkatan kesejahteraan rakyat (HAW. Widjaja, 2007 : 133).
Untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah diperlukan
otonomi yang luas, nyata, dan bertanggung jawab di daerah secara
proporsional dan berkeadilan, jauh dari praktik-praktik korupsi, kolusi,
nepotisme serta adanya perimbangan antara keuangan pemerintah pusat
dan daerah. (HAW. Widjaja, 2007 : 7-8). Dengan demikian prinsip
otonomi daerah adalah sebagai berikut :
a. Prinsip Otonomi Luas
Yang dimaksud otonomi luas adalah kepala daerah diberikan
tugas, wewenang, hak, dan kewajiban untuk menangani urusan
pemerintahan yang tidak ditangani oleh pemerintah pusat sehingga isi
otonomi yang dimiliki oleh suatu daerah memiliki banyak ragam dan
jenisnya. Di samping itu, daerah diberikan keleluasaan untuk
menangani urusan pemerintahan yang diserahkan itu, dalam rangka
mewujudkan tujuan dibentuknya suatu daerah, dan tujuan pemberian
otonomi daerah itu sendiri terutama dalam memberikan pelayanan
kepada masyarakat, sesuai dengan potensi dan karakteristik masing-
masing daerah.
18
b. Prinsip Otonomi Nyata
Yang dimaksud prinsip otonomi nyata adalah suatu tugas,
wewenang dan kewajiban untuk menangani urusan pemerintahan yang
senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh dan berkembang
sesuai dengan potensi dan karakteristik daerah masing-masing.
c. Prinsip Otonomi Yang Bertanggung jawab
Yang dimaksud dengan prinsip otonomi yang bertanggung
jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-
benar sejalan dengan tujuan pemberian otonomi yang pada dasarnya
untuk memberdayakan daerah, termasuk meningkatkan kesejahteraan
rakyat (Rozali Abdullah, 2007 : 5).
Setiap pemerintah daerah harus menjalankan otonomi daerah
dengan prinsip otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab agar tujuan
otonomi daerah dapat terwujud yaitu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan memberdayakan masyarakat.
3. Tujuan Otonomi Daerah
Tujuan utama penyelenggaraan otonomi daerah menurut
Mardiasmo (2002 : 46) adalah untuk meningkatkan pelayanan publik dan
memajukan perekonomian daerah. Pada dasarnya terkandung tiga misi
utama pelaksanaan otonomi daerah yaitu : (1) meningkatkan kualitas dan
kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat, (2) menciptakan
efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah, dan (3)
19
memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk
berpartisipasi dalam proses pembangunan. Menurut Deddy Supriady
Bratakusumah & Dadang Solihin (2004 : 32), tujuan peletakan
kewenangan dalam penyelenggaraan otonomi daerah adalah peningkatan
kesejahteraan rakyat, pemerataan dan keadilan, demokratisasi dan
penghormatan terhadap budaya lokal dan memperhatikan potensi dan
keanekaragaman daerah.
Dengan demikian pada intinya tujuan otonomi daerah adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara meningkatkan
pelayanan publik kepada masyarakat dan memberdayakan masyarakat
untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.
4. Kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam
pelaksanaan otonomi daerah.
Menurut Undang-undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah, yang terakhir diubah dengan Undang-undang No 12 Tahun 2008
tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang No 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, dikenal dengan sebutan daerah otonom yang
selanjutnya disebut daerah. Menurut undang-undang tersebut yang
dimaksud daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai
batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa
sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem NKRI. Daerah
20
provinsi dipimpin oleh gubernur, sedangkan daerah kabupaten dipimpin
oleh bupati, sedangkan daerah kota dipimpin oleh walikota.
Selanjutnya, menurut ketentuan UU No. 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua atas UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah Pasal 10 ayat (1) menyatakan:
(1) Pemerintah daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintah yang oleh
undang-undang ini ditentukan menjadi urusan pemerintah.
(2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintah yang menjadi
kewenangan sebagaimana dimaksud ayat (1), pemerintah daerah
menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas
pembantuan.
(3) Urusan pemerintah yang menjadi urusan pemerintahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Politik luar negeri
b. Pertahanan
c. Keamanan
d. Yustisi
e. Moneter dan fiskal nasional, dan
f. Agama
Menurut Juniarso Ridwan & Achmad Sodik Sudrajat (2009 : 145-
146), menyatakan dengan melihat ruang lingkup kewenangan daerah di atas dapat
21
dipastikan urusan penerbitan perizinan termasuk dalam urusan otonomi daerah,
sebab wewenang penerbitan perizinan diatribusikan kepada badan dan pejabat
administrasi negara. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintah maka
administrasi negara mempunyai tugas untuk mewujudkan kesejahteraan umum
(bestuurszorg). Untuk menjalankan tugas pokoknya itu administrasi negara telah
diberikan alat kelengkapan pemerintah dengan wewenang istimewa, yakni suatu
kewenangan yang memungkinkan administrasi negara dapat melaksanakan tugas
pokoknya tersebut.
B. Tinjauan tentang Pelayanan Publik.
1. Konsep Pelayanan Publik.
Agus Dwiyanto (2010 : 19-20), menyatakan terdapat banyak
kriteria untuk menentukan sebuah pelayanan (barang, jasa, dan
administratif) sebagai pelayanan publik atau bukan. Kriteria pertama yang
biasanya digunakan adalah sifat dari barang dan jasa itu sendiri. Barang
dan jasa yang termasuk dalam kategori barang publik atau barang yang
memiliki eksternalitas tinggi biasanya tidak dapat diselenggarakan oleh
korporasi atau diserahkan kepada pasar karena mereka tidak dapat
mengontrol siapa saja yang mengkonsumsi barang tersebut. Sementara
barang dan jasa tersebut sangat penting bagi kehidupan warga dan
masyarakat luas. Misalnya pendidikan dasar, pelayanan kesehatan
preventif dan dasar, pertahanan negara, pembersihan penceremaran udara,
dan pembangunan jalan umum. Semua pelayanan tersebut adalah
22
pelayanan yang sangat penting dan harus disediakan oleh negara, sehingga
pelayanan tersebut seharusnya menjadi bagian dari pelayanan publik.
Kriteria kedua yang dapat digunakan untuk mendefinisikan
pelayanan publik adalah tujuan dari penyediaan barang dan jasa.
Penyediaan barang dan jasa yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan
misi negara, walaupun barang dan jasa itu bersifat privat, dapat dikatakan
sebagai pelayanan publik. Tujuan dan misi negara biasanya diatur dalam
konstitusi atau peraturan perundangan lainnya. Pelayanan untuk memenuhi
hak dan kebutuhan dasar warga merupakan pelayanan publik, karena itu
negara harus menjamin akses warganya terhadap pelayanan tersebut.
Selain pelayanan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, pelayanan
untuk mencapai tujuan negara lainnnya yang termasuk dalam pelayanan
publik adalah layanan untuk mencapai tujuan strategis pemerintah.
Selanjutnya menurut Agus Dwiyanto (2010 : 21), semua pelayanan
yang memenuhi salah satu dari kedua kriteria itu, yaitu merupakan jenis
barang atau jasa yang memiliki eksternalitas tinggi dan sangat diperlukan
masyarakat serta penyediaannya untuk mencapai tujuan atau misi negara
baik dalam rangka memenuhi hak dan kebutuhan dasar warga, mencapai
tujuan strategis pemerintah, dan memenuhi komitmen dunia internasional,
seharusnya dikategorikan sebagai pelayanan publik.
Menurut Kotler (Lijan Poltak Sinambela, dkk, 2007 : 4), pelayanan
adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau
23
kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada
suatu produk secara fisik. Selanjutnya Sampara berpendapat, pelayanan
adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi
langsung antar seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan
menyediakan kepuasan pelanggan. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia dijelaskan pelayanan sebagai hal, cara, atau hasil pekerjaan
melayani. Sedangkan melayani adalah menyuguhi (orang) dengan makan
atau minum; menyediakan keperluan orang; mengiyakan, menerima;
menggunakan.
Sementara istilah publik berasal dari Bahasa Inggris public yang
berarti umum, masyarakat, negara. Kata publik sebenarnya sudah diterima
menjadi Bahasa Indonesia Baku menjadi Publik yang berarti umum, orang
banyak, ramai. Padanan kata yang tepat digunakan adalah praja yang
sebenarnya bermakna rakyat sehingga lahir istilah pamong praja yang
berarti pemerintah yang melayani kepentingan seluruh rakyat. Inu dan
kawan-kawan mendefinisikan publik adalah sejumlah manusia yang
memiliki kebersamaan berpikir, perasaan, harapan, sikap dan tindakan
yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang merasa memiliki.
Oleh karena itu pelayanan publik diartikan sebagai setiap kegiatan yang
dilakukan oleh pemerintah terhadap sejumlah manusia yang memiliki
setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau
kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada
suatu produk secara fisik.
24
Pelayanan publik diartikan, pemberian layanan (melayani)
keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada
organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah
ditetapkan. Sebagaimana dikutip Juniarso Ridwan & Achmad Sodik
Sudrajat (2009 : 19), menurut Kepmenpan No. 63/ KEP/ [Link]/ 7/ 2003,
pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh
penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan
penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-
undangan. Dengan demikian pelayanan publik adalah pemenuhan
keinginan dan kebutuhan masyarakat oleh penyelenggara Negara. Negara
didirikan oleh publik (masyarakat) tentu saja dengan tujuan agar dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sebagaimana dikutip I Nyoman Sumaryadi (2010: 70), Munir
menyatakan pelayanan publik adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material melalui
sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha memenuhi
kepentingan orang lain sesuai dengan haknya. Sedangkan Rasyid
menyatakan bahwa pelayanan berkenaan dengan usaha pemerintah yang
bertujuan untuk menciptakan kondisi yang menjamin bahwa warga
masyarakat dapat melaksanakan kehidupan mereka secara wajar, dan
ditujukan juga untuk membangun dan memelihara keadilan dalam
masyarakat.
25
Jadi, pelayanan publik adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh
penyelenggara negara/pemerintah untuk memberikan layanan terhadap
kebutuhan masyarakat sesuai haknya yang mempunyai kepentingan
dengan sesuai aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan untuk
tercapainya tujuan agar dapat meningkatkan kesejahteraan.
2. Penyelenggaraan Pelayanan Publik
Ratminto& Atik Septi Winarsih (2005 : 8-10) mengemukakan
bahwa berdasarkan organisasi yang menyelenggarakannya, pelayanan
publik atau pelayanan umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Pelayanan publik atau pelayanan umum yang diselenggarakan
oleh organisasi publik
b. Pelayanan publik atau pelayanan umum yang diselenggarakan
oleh organisasi privat. Pelayanan publik atau pelayanan umum
yang diselenggarakan oleh organisasi privat dapat dibedakan
lagi menjadi:
i. pelayanan yang bersifat primer dan
ii. pelayanan yang bersifat sekunder
Perbedaan di antara ketiga jenis pelayanan publik atau
pelayanan umum tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh privat. Ini adalah
semua penyediaan barang atau jasa publik yang
diselenggarakan oleh swasta, seperti misalnya rumah sakit
26
swasta, Perguruan Tinggi Swasta, perusahaan pengangkutan
milik swasta.
b. Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah dan
bersifat primer. Ini adalah semua penyediaan barang/jasa
publik yang diselenggarakan oleh pemerintah yang di
dalamnya pemerintah merupakan satu-satunya penyelenggara
dan pengguna/klien mau tidak mau harus memanfaatkannya.
Misalnya adalah pelayanan di kantor imigrasi, pelayanan
penjara, dan pelayanan perizinan.
c. Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah dan
bersifat sekunder. Ini adalah segala bentuk penyediaan
barang/jasa yang diselenggarakan oleh pemerintah, tetapi yang
di dalamnya pengguna /klien tidak harus mempergunakannya
karena adanya beberapa penyelenggara pelayanan, misal
program asuransi tenaga kerja,program pendidikan dan
pelayanan yang diberikan oleh Badan Usaha Milik Negara.
3. Azas Pelayanan Publik.
Menurut Pasal 4 Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik penyelenggaraan pelayanan publik berasaskan:
a. Kepentingan umum, artinya pemberian pelayanan tidak
boleh mengutamakan kepentingan pribadi dan/atau
golongan;
b. Kepastian hukum, artinya jaminan terwujudnya hak dan
kewajiban dalam penyelenggaraan pelayanan;
27
c. Kesamaan hak, artinya pemberian pelayanan tidak
membedakan suku, ras, agama, golongan, gender, dan
status ekonomi;
d. Keseimbangan hak dan kewajiban, artinya pemenuhan hak
harus sebanding dengan kewajiban yang harus
dilaksanakan, baik oleh pemberi maupun penerima
pelayanan;
e. Keprofesionalan, artinya pelaksana pelayanan harus
memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidang tugas;
f. Partisipatif, artinya peningkatan peran serta masyarakat
dalam penyelenggaraan pelayanan dengan memperhatikan
aspirasi, kebutuhan, dan harapan masyarakat;
g. Persamaan perlakuan/tidak diskriminatif, artinya setiap
warga negara berhak memperoleh pelayanan yang adil.
h. Keterbukaan, artinya setiap penerima pelayanan dapat
dengan mudah mengakses dan memperoleh informasi
mengenai pelayanan yang diinginkan.
i. Akuntabilitas, artinya proses penyelenggaraan pelayanan
harus dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
j. Rentan, artinya pemberian kemudahan terhadap kelompok
rentan sehingga tercipta keadilan dalam pelayanan.
k. Ketepatan waktu, artinya penyelesaian setiap jenis
pelayanan dilakukan tepat waktu sesuai dengan standar
pelayanan.
l. Kecepatan, kemudahan dan keterjangkauan, artinya setiap
jenis pelayanan dilakukan secara cepat, mudah, dan
terjangkau.
4. Standar Pelayanan Publik.
Standar pelayanan, seperti Standar Pelayanan Minimal (SPM),
dapat menjadi instrumen bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Agus
Dwiyanto (2011 : 33), menyatakan melalui Standar Pelayanan Minimal
pemerintah dapat menjamin warga dimanapun mereka bertempat tinggal
untuk memperoleh jenis dan mutu pelayanan yang minimal sama seperti
dirumuskan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM). Kapasitas daerah
yang berbeda-beda tidak dapat menjadi alasan bagi daerah untuk
28
menyelenggarakan jenis dan mutu pelayanan di bawah ketentuan yang
berlaku dan diatur dalam SPM. Pemerintah melakukan pembinaan dan
pengawasan kepada daerah agar mereka dapat memenuhi target
pencapaian yang ditentukan dalam SPM. SPM karenanya dapat membantu
pemerintah untuk mewujudkan kesamaaan akses warga terhadap mutu dan
jenis pelayanan tertentu.
Selanjutnya Agus Dwiyanto (2011 : 36-38), menyatakan bahwa
standar pelayanan dapat mengatur aspek input, proses, dan output. Input
pelayanan penting untuk distandarisasi mengingat kuantitas dan kualitas
dari input pelayanan yang berbeda antar daerah menyebabkan sering
terjadinya ketimpangan akses terhadap pelayanan yang berkualitas.
Standar proses pelayanan juga penting untuk diatur. Namun
pengaturannya harus dilaksanakan secara hati-hati agar standar proses
pelayanan tidak mencegah atau membatasi kreativitas lokal dalam
menyelenggarakan layanan publik. Proses penyelenggaraan layanan harus
memenuhi tata pemerintahan yang baik. Standar proses perlu dirumuskan
untuk menjamin pelayanan publik di daerah memenuhi prinsip-prinsip
penyelenggaraan layanan yang transparan, non-partisan, efisien, dan
akuntabel. Standar transparansi, misalnya mengatur kewajiban
penyelenggara layanan untuk menyediakan informasi dan menjelaskan
kepada warga pengguna layanan mengenai persyaratan, prosedur, biaya,
dan waktu yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan. Termasuk yang
harus ada dalam standar transparansi adalah keharusan bagi penyelenggara
29
untuk memberitahukan hak-hak warga pengguna untuk mengadu dan
memprotes ketika mereka merasa diperlakukan secara tidak wajar oleh
penyelenggara layanan. Standar juga harus mengatur secara proporsional
hak dan kewajiban antara penyelenggara dan pengguna layanan. Pada
praktiknya penyelenggaraan layanan publik selama ini, hak-hak warga
pengguna dan kewajiban-kewajiban rezim pelayanan tidak pernah diatur
dalam prosedur pelayanan. Standar transparansi juga harus mengatur
pemberian informasi tentang biya dan waktu yang diperlukan bagi warga
pengguna untuk mendapatkan pelayanan publik.
Untuk itu menurut Agus Dwiyanto (2011 : 40-42), standar proses
juga harus mengatur tentang kesamaan perlakuan warga dalam
penyelenggaraan layanan publik. Standar output pelayanan tentu sangat
penting untuk diatur karena standar tersebut menjamin hak warga dan
penduduk Indonesia di manapun mereka berada untuk memperoleh
kualitas dan kuantitas pelayanan tertentu. Sejauh ini pemerintah telah
menetapkan 13 SPM untuk berbagai bidang pelayanan, yaitu: perumahan
rakyat, pemerintahan dalam negeri, sosial, kesehatan, pemberdayaan
perempuan dan anak, lingkungan hidup, keluarga berencana dan sejahtera,
ketenagakerjaan, pendidikan, pekerjaan umum, ketahanan pangan,
kesenian dan komunikasi informasi.
Setiap penyelenggara pelayanan publik harusnya memiliki
instrumen standar pelayanan untuk menyelenggarakan pelayanan publik
sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas
30
pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat
dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan
terukur sesuai dengan komponen standar pelayanan.
5. Pola Penyelenggaraan Pelayanan Publik.
Menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor 63 Tahun 2004 sebagaimana dikutip Ratminto & Asih Septi W
(2005 : 24-26), ada empat pola pelayanan, yaitu:
a. Fungsional.
Pola pelayanan publik diberikan oleh penyelenggara pelayanan,
sesuai dengan tugas, fungsi dan kewenangannya.
b. Terpusat.
Pola pelayanan publik diberikan secara tunggal oleh
penyelenggara pelayanan berdasarkan pelimpahan wewenang dari
penyelenggara pelayanan terkait lainnya yang bersangkutan.
c. Terpadu.
1.) Terpadu satu atap.
Pola pelayanan terpadu satu atap diselenggarakan
dalam satu tempat yang meliputi berbagai jenis pelayanan
yang tidak mempunyai keterkaitan proses dan dilayani
melalui beberapa pintu. Terhadap jenis pelayanan yang
sudah dekat dengan masyarakat tidak perlu disatuatapkan.
31
2.) Terpadu satu pintu.
Pola pelayanan terpadu satu pintu diselenggarakan
pada satu tempat yang meliputi berbagai jenis pelayanan
yang memiliki keterkaitan proses dan dilayani melalui satu
pintu.
d. Gugus depan.
Petugas pelayanan publik secara perorangan atau dalam bentuk
gugus tugas ditempatkan pada instansi pemberi pelayanan dan lokasi
pemberian pelayanan tertentu.
Selain pola pelayanan sebagai mana yang disebutkan di atas,
instansi yang melakukan pelayanan publik dapat mengembangkan
pola penyelenggaraan pelayanannya sendiri dalam rangka upaya
menemukan dan menciptakan inovasi peningkatan pelayanan publik.
Pengembangan pola penyelenggaraan pelayanan publik dimaksud
mengikuti prinsip-prinsip sebagaimana ditetapkan dalam pedoman ini.
6. Pelayanan Publik dalam bidang perizinan.
Menurut Juniarso Ridwan (2009 : 190), salah satu tugas
pemerintah yang sekaligus juga merupakan hak dari warga masyarakat
adalah terselenggaranya pelayanan publik. Perizinan merupakan suatu
bentuk manifestasi yang melintasi aspek-aspek tersebut. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa perizinan merupakan wujud pelayanan publik yang
sangat menonjol dalam tata pemerintahan. Dalam relasi antara pemerintah
dengan warga masyarakat seringkali perizinan menjadi sebuah indikator
32
untuk menilai apakah tata pemerintahan sudah mencapai kondisi “good
governance” atau belum. Maka untuk mencapai kondisi tersebut,
pemerintah berusaha menciptakan suatu sistem pelayananan yang optimal.
Salah satu dari tindakan pemerintah dalam penciptaan pelayanan yang
optimal tersebut adalah dengan dikeluarkannya suatu kebijakan Pelayanan
Terpadu Satu Pintu.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 24 Tahun 2006
tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu,
pelayanan perizinan dilakukan dengan sistem terpadu satu pintu (one stop
service) membuat waktu pembuatan izin menjadi lebih singkat. Pasalnya,
dengan pengurusan administrasi berbasis teknologi informasi, input data
cukup dilakukan sekali, dan administrasi bisa dilakukan secara simultan.
Dengan adanya kelembagaan pelayanan terpadu satu pintu, seluruh
perizinan dan nonperizinan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota
dapat terlayani dalam satu lembaga. Harapan yang ingin dicapai adalah
mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi dengan
memberikan perhatian yang lebih besar pada peran usaha kecil dan
menengah, dan bertujuan meningkatkan kualitas layanan publik.
Pelayanan atas permohonan perizinan dan nonperizinan dilakukan oleh
Perangkat Daerah Penyelenggara Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP),
yaitu perangkat pemerintah daerah yang memiliki tugas pokok dan fungsi
mengelola semua bentuk pelayanan perizinan dan nonperizinan di daerah
dengan sistem satu pintu.
33
Otonomi daerah sejatinya mendekatkan penyelenggaraan
pelayanan publik kepada masyarakat. Dalam bidang perizinan,
pendelegasian otoritas kewenangan sebenarnya juga telah diatur dalam
peraturan otonomi daerah. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 117
Tahun 1999 keterlibatan daerah dalam bidang penanaman modal,
khususnya pelayanan perizinan yaitu penerbitan Izin Lokasi, Izin
Mendirikan Bangunan (IMB), dan Izin Gangguan (HO). Dengan demikian
menurut Keputusan Presiden No.117 Tahun 1999, pemerintah daerah
diberi wewenang oleh pemerintah pusat untuk menangani dan menerbitkan
izin yang terkait penanaman modal.
Selanjutnya menurut Keputusan Presiden No.29 Tahun 2004
tentang Penyelenggaraan Pelayanan Satu Atap, pelayanan persetujuan,
perizinan dan fasilitas penanaman modal dalam rangka Penanaman Modal
Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) kembali
dilaksanakan terpusat pada Badan Koordinasi Penanaman Modal melalui
Sistem Pelayanan Satu Atap. Dengan demikian pemerintah daerah tidak
memiliki lagi kewenangan dalam menangani pelayanan perizinan dan
fasilitas penanaman modal (PMA maupun PMDN). Kewenangan ini
kembali dilakukan oleh pemerintah pusat melalui Badan Koordinasi
Penanaman Modal dengan sistem pelayanan satu atap.
Tim Peneliti Masyarakat Transparansi Indonesia (2010 : 36),
mengemukakan kemudian muncul Peraturan Menteri Dalam Negeri No.24
Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
34
boleh dikatakan sebagai peremajaan peraturan sebelumnya (Keputusan
Presiden No.29 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Satu Atap).
Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan
investasi, khususnya dalam memberikan peran yang lebih besar kepada usaha
mikro, kecil, dan menengah, maka diperlukan penyederhanaan
penyelenggaraan pelayanan terpadu sesuai Instruksi Presiden No.3 Tahun
2006 tentang Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi. Tujuan
penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu ini adalah meningkatkan
kualitas layanan publik serta memberikan akses yang lebih luas kepada
masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik.
C. Tinjauan tentang perizinan.
1. Konsep Perizinan.
Menurut Eny Kusdarini (2011 : 119), pemerintah menggunakan
izin sebagai sarana yuridis untuk mengemudikan tingkah laku para warga.
Izin adalah suatu persetujuan dari penguasa berdasarkan undang-undang
atau peraturan pemerintah untuk dalam keadaan tertentu menyimpang dari
ketentuan-ketentuan larangan perundang-undangan. Dengan memberikan
izin, pemerintah memperkenankan orang yang memohonnya untuk
melakukan tindakan-tindakan tertentu yang sebenarnya dilarang, ini
menyangkut perkenan bagi suatu tindakan yang demi kepentingan umum
mengharuskan pengawasan khusus. Hal ini adalah paparan luas dari
pengertian izin. Di dalamnya dapat diadakan perbedaan berdasarkan
35
berbagai figur hukum, semuanya menimbulkan akibat yang kurang lebih
sama yakni bahwa dalam bentuk tertentu diberi perkenan untuk melakukan
sesuatu yang mestinya dilarang.
Ridwan HR (2011 : 198), mengutip Kamus Hukum menyatakan
bahwa izin dijelaskan sebagai perkenan/izin dari perintah berdasarkan
undang-undang atau peraturan pemerintah yang diisyaratkan untuk
perbuatan yang pada umumnya memerlukan pengawasan khusus, tetapi
yang pada umumnya tidaklah dianggap sebagai hal-hal yang sama sekali
tidak dikehendaki. Selanjutntya menurut Ateng Syarifudin bahwa izin
bertujuan dan berarti menghilangkan halangan, hal yang dilarang menjadi
boleh, atau sebagai peniadaan ketentuan larangan umum dalam peristiwa
konkret. Sedangkan menurut Sjachran Basah izin adalah perbuatan hukum
administrasi negara bersegi satu yang mengaplikasikan peraturan dalam
hal konkreto berdasarkan persyaratan dan prosedur sebagaimana
ditetapkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan.
Menurut Eny Kusdarini (2011:121) izin dalam arti sempit adalah
bahwa suatu tindakan pada umumnya dilarang, terkecuali diperkenankan
dengan tujuan agar dalam ketentuan-ketentuan yang disangkutkan dengan
perkenan dapat diteliti diberikan batas-batas tertentu bagi tiap kasus.
Dispensasi yaitu suatu keputusan/ketetapan yang meniadakan berlakunya
peraturan perundang-undangan untuk suatu persoalan istimewa. Tujuan
dari penerbitan dispensasi agar seseorang dapat melakukan perbuatan
36
hukum dengan menyimpang dari syarat-syarat yang telah ditentukan
undang-undang
Selanjutnya sebagaimana dikutip Eny Kusdarini, 2011:122), Utrecht
menyatakan konsensi adalah suatu keputusan yang isinya merupakan izin
bagi pihak swasta untuk menyelenggarakan hal-hal penting bagi umum.
Dalam hal ini kadang-kadang pembuat peraturan beranggapan bahwa
suatu perbuatan yang penting bagi umum, sebaik-baiknya dapat diadakan
oleh suatu subjek hukum partikelir (swasta), tetapi dengan turut campur
dari pihak pemerintah. Suatu keputusan administrasi negara yang
memperkenankan yang bersangkutan mengadakan perbuatan tersebut
memuat suatu konsensi.
Berdasarkan pemaparan pendapat para pakar tersebut, dapat
disimpulkan bahwa izin adalah perbuatan pemerintah bersegi satu
berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk diterapkan pada
peristiwa konkret menurut prosedur dan persyaratan tertentu. Perizinan
penanaman modal dapat diartikan perbuatan perbuatan pemerintah bersegi
satu berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk diterapkan pada
peristiwa konkret menurut prosedur dan persyaratan tertentu mengenai
kegiatan menanam modal baik penanam modal dalam negeri maupun
penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik
Indonesia.
37
2. Unsur-unsur Perizinan.
Adapun unsur-unsur yang ada dalam perizinan adalah sebagai berikut:
a. Instrumen yuridis.
Tugas dan kewenangan pemerintah untuk menjaga ketertiban dan
keamanan merupakan tugas klasik yang sampai kini masih dipertahankan.
Dalam rangka melaksanakan tugas ini kepada pemerintah diberikan
wewnang dalam bidang pengaturan, yang dari fungsi pengaturan ini
muncul beberapa instrumen yuridis untuk menghadapi peristiwa individual
dan konkret yaitu dalam bentuk keputusan. Salah satu wujud dari
keputusan ini adalah izin. Dengan demikian menurut Ridwan HR (2011 :
202), izin merupakan instrumen yuridis dalam bentuk keputusan yang
bersifat konstitutif dan yang digunakan oleh pemerintah untuk menghadapi
atau menetapkan peristiwa konkret. Sebagai keputusan, izin itu dibuat
dengan ketentuan dan persyaratan yang berlaku bagi keputusan pada
umumnya, sebagaimana telah disebutkan di atas.
b. Peraturan perundang-undangan
Ridwan HR (2011 : 203) mengemukakan pembuatan dan
penerbitan keputusan izin merupakan tindakan hukum pemerintahan.
Sebagai tindakan hukum, harus ada wewenang yang diberikan oleh
peraturan perundang-undangan atau harus berdasarkan pada asas
legalitas. Tanpa dasar wewenang, tindakan hukum itu menjadi tidak sah.
38
Oleh karena itu, dalam hal membuat dan menerbitkan izin haruslah
didasarkan pada wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-
undangan yang berlaku, karena tanpa adanya dasar wewenang tersebut
keputusan izin tersebut menjadi tidak sah. Pada umumnya pemerintah
memperoleh wewenang untuk mengeluarkan izin itu ditentukan secara
tegas dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dari
perizinan tersebut.
c. Organ pemerintah.
Organ pemerintah adalah organ yang menjalankan urusan
pemerintahan baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah. Menurut
N.M. Spelt & J.B.J.M. ten Berge yang disunting Philipus M. Hadjon
(1993 : 154), keputusan yang memberikan izin harus diambil oleh organ
yang berwenang, dan hampir selalu yang terkait adalah organ-organ
pemerintahan atau administrasi. Dalam hal ini organ-organ pada tingkat
penguasa nasional (seorang menteri) atau tingkat penguasa-penguasa
daerah. Sebagaimana dikutip Ridwan HR (2011 : 205), Bagir Manan
menyatakan oleh karena itu, biasanya dalam perizinan dilakukan
deregulasi, yang mengandung arti peniadaan berbagai peraturan
perundang-undangan yang dipandang berlebihan. Karena peraturan
perundang-undangan yang berlebihan itu ada campur tangan pemerintah
atau negara, maka deregulasi itu pada dasarnya bermakna mengurangi
campur tangan pemerintah atau negara dalam ksegiatan kemasyarakatan
39
tertentu terutama di bidang ekonomi, sehingga deregulasi itu pada
ujungnya bermakna debirokratisasi. Meskipun deregulasi dan
debirokratisasi ini dimungkinkan dalam bidang perizinan dan hampir
selalu dipraktikkan dalam kegiatan pemerintahan, namun dalam suatu
negara hukum tentu saja harus ada batas-batas atau rambu-rambu yang
ditentukan oleh hukum.
d. Peristiwa konkret
Menurut Ridwan HR (2011 : 206), izin merupakan instrumen
yuridis yang berbentuk keputusan, yang digunakan oleh pemerintah
dalam menghadapi peristiwa konkret dan individual. Peristiwa konkret
artinya peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu, orang tertentu, tempat
tertentu, fakta dan hukum tertentu. Karena peristiwa konkret ini
beragam, sejalan dengan keberagaman perkembangan masyarakat, maka
izin pun memiliki jenis keberagaman.
e. Prosedur dan persyaratan.
Mengenai prosedur dan persyaratan izin Ridwan HR (2011 : 207)
mengemukakan pada umumnya permohonan izin harus menempuh
prosedur tertentu yang ditentukan oleh pemerintah, selaku pemberi izin.
Di samping harus menempuh prosedur tertentu, pemohon izin juga harus
memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu yang ditentukan secara
sepihak oleh pemerintah atau pemberi izin. Prosedur dan persyaratan
40
perizinan itu berbeda-beda tergantung jenis izin, tujuan izin, dan instansi
pemberi izin. Menurut Soehino dikutip Ridwan HR, syarat-syarat dalam
izin itu bersifat konstitutif dan kondisional. Bersifat konstitutif, karena
ditentukan suatu perbuatan atau tingkah laku tertentu yang harus (terlebih
dahulu) dipenuhi, artinya dalam hal pemberian izin itu ditentukan suatu
perbuatan konkret, dan bila tidak dipenuhi dapat dikenahi sanksi. Bersifat
kondisional, karena penilaian tersebut baru ada dan dapat dilihat serta
dapat dinilai setelah perbuatan atau tingkah laku yang disyaratkan itu
terjadi.
3. Fungsi dan Tujuan Perizinan.
Adrian Sutedi (2010 : 200) mengemukakan secara umum, tujuan
dan fungsi perizinan adalah untuk pengendalian daripada aktivitas pemerintah
dalam hal-hal tertentu di mana ketentuan-ketentuannya berisi pedoman-pedoman
yang harus dilaksanakan oleh baik yang berkepentingan ataupun oleh pejabat
yang berwenang. Selain itu, tujuan dari perizinan dapat dilihat dari dua sisi yaitu:
1.) Dari sisi pemerintah.
a.) Untuk melaksanakan peraturan.
Apakah ketentuan-ketentuan yang termuat dalam peraturan tersebut
sesuai dengan kenyataan dalam praktiknya atau tidak dan sekaligus
untuk mengatur ketertiban.
41
b.) Sebagai sumber pendapatan daerah.
Dengan adanya permintaan permohonan izin, maka secara langsung
pendapatan pemerintah akan bertambah karena setiap izin yang
dikeluarkan pemohon harus membayar retribusi terlebih dahulu.
Semakin banyak pula pendapatan di bidang retribusi tujuan akhirnya,
yaitu untuk membiayai pembangunan.
2.) Dari sisi masyarakat.
Dari sisi masyarakat tujuan pemberian izin itu adalah untuk adanya kepastian
hukum, untuk adanya kepastian hak, dan untuk memudahkan mendapatkan
fasilitas
N.M. Spelt & J.B.J.M. ten Berge yang disunting Philipus M. Hadjon (1993
: 154) mengemukakan dengan mengikat tindakan-tindakan pada suatu sistem
perizinan, pembuat undang-undang dapat mengejar berbagai tujuan. Motif-motif
untuk menggunakan sistem izin dapat berupa:
a. Keinginan mengarahkan (mengendalikan - “sturen”) aktivitas-
aktivitas tertentu (misalnya izin bangunan).
b. Mencegah bahaya bagi lingkungan (izin-izin lingkungan).
c. Keinginan melindungi objek-objek tertentu (izin terbang, izin
membongkar pada monumen-monumen).
d. Hendak membagi benda yang sedikit (izin penghuni di daerah padat
penduduk).
e. Pengarahan, dengan menyeleksi otang-orang dan aktivitas-aktivitas
(izin berdasarkan “Drank- en Horecawet”, di mana pengurus harus
memenuhi syarat-syarat tertentu)
42
Menurut N.M. Spelt & J.B.J.M. ten Berge yang disunting Philipus M.
Hadjon (1993 : 5), izin digunakan oleh penguasa sebagai instrumen untuk
mempengaruhi (hubungan dengan) para warga agar mau mengikuti cara yang
dianjurkannya guna mencapai suatu tujuan konkrit. Intrumen izin digunakan oleh
penguasa pada sejumlah besar bidang kebijaksanaan. Ini terutama berlaku bagi
hukum lingkungan, hukum pengaturan ruang, dan hukum perairan. Namun juga
dalam hukum administrasi sosial, ekonomi, budaya, dan kesehatan, pemberian
izin merupakan gejala penting. Di dalam sektor kebijaksanaan penguasa dapat
berdiri secara berdampingan berbagai sistem izin dengan motif sejenis.
Pencantuman motif untuk sistem izin dalam undang-undang mempunyai
konsekuensi penting bagi organ penguasa yang berwenang. Dalam memutuskan
pemberian izin, organ itu tidak boleh menggunakan alasan yang tidak sesuai
dengan tujuan peraturan. Sebagai suatu instrumen, izin berfungsi selaku ujung
tombak instrumen hukum sebagai pengarah, perekayasa, dan perancang
masyarakat adil dan makmur itu dijelmakan. Sebagaimana dikutip Ridwan HR
(2011 : 208), Sjachran Basah mengemukakan bahwa izin itu dapat difungsikan
sebagai instrumen pengendali dan instrumen untuk mewujudkan masyarakat yang
adil dan makmur, sebagaimana diamanatkan dalam alinea keempat Pembukaan
UUD 1945, maka penataan dan pengaturan izin ini sudah semestinya harus
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
43
4. Bentuk dan Isi Izin.
Menurut Eny Kusdarini (2011: 129), keputusan dapat berbentuk
lisan dan tertulis. Keputusan dapat berbentuk lisan apabila tidak membawa
akibat yang kekal dan tidak terlalu penting di dalam hukum administrasi
negara serta oleh alat administrasi negara yang mengeluarkan keputusan
dikehendaki akibat yang timbul segera. Adapun perizinan penting adalah
penting bagi kegiatan penanaman modal sehingga menurut N.M. Spelt &
J.B.J.M. ten Berge yang disunting Philipus M. Hadjon (1993 : 11-15),
sesuai dengan sifatnya yang merupakan bagian dari keputusan, izin selalu
dibuat dalam bentuk tertulis. Sebagai keputusan tertulis, secara umum izin
memuat hal-hal sebagai berikut:
a. Organ yang berwenang mengeluarkan izin.
Dalam izin dinyatakan siapa yang memberikannya, biasanya dari
kepala surat dan penandatanganan izin akan nyata organ mana yang
memberikan izin. Keputusan yang memberikan izin harus diambil oleh
organ yang berwenang. Pada umumnya pembuat aturan akan menunjuk
sebagai organ yang berwenang dalam suatu sistem perizinan, organ yang
paling terkenal mengenai materi dan tugas bersangkutan. Hampir selalu
yang terkait adalah organ-organ pemerintahan.
44
b. Alamat yang diberi izin.
Izin ditujukan pada pihak yang berkepentingan. Biasanya izin lahir
setelah yang kepentingan mengajukan permohonan untuk itu. Karena itu,
keputusan yang memuat izin akan dialamatkan pula kepada pihak yang
memohon izin. Ini biasanya dialami orang atau badan hukum. Dalam hal-
hal tertentu, keputusan tentang izin ini juga penting bagi pihak yang
berkepentingan. Artinya pihak pemerintah selaku pemberi izin harus pula
mempertimbangkan kepentingan pihak ketiga yang mungkin memiliki
keterkaitan dengan penggunaan izin tersebut.
c. Diktum.
Keputusan yang memuat izin, demi alasan kepastian hukum, harus
memuat uraian sejelas mungkin untuk apa izin itu diberikan. Bagian
keputusan ini, di mana akibat–akibat hukum yang ditimbulkan oleh
keputusan, dinamakan diktum, yang merupakan inti dari keputusan.
Setidak- tidaknya diktum ini terdiri atas keputusan pasti, yang memuat
hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dituju oleh keputusan tersebut.
d. Ketentuan-ketentuan, Pembatasan-pembatasan, dan Syarat-syarat
izin.
Sebagaimana kebanyakan keputusan, di dalamnya mengandung
ketentuan-ketentuan, pembatasan-pembatasan, dan syarat-syarat,
demikian pula dengan keputusan yang berisi izin. Ketentuan-ketentuan
45
ialah kewajiban-kewajiban yang dapat dikaitkan pada keputusan yang
menguntungkan. Ketentuan-ketentuan pada izin banyak terdapat dalam
praktik Hukum Administrasi Negara. Dalam hal ketentuan-ketentuan
tidak dipatuhi, terdapat pelanggaran izin. Tentang sanksi pemerintah
harus memutuskannya tersendiri. Dalam pembuatan keputusan, termasuk
keputusan berisi izin, dimasukkan pembatasan-pembatasan. Pembatasan-
pembatasan dalam izin memberi kemungkinan untuk secara praktis
melingkari lebih lanjut tindakan yang dibolehkan. Pembatasan-
pembatasan dibentuk dengan menunjuk batas-batas dalam waktu, tempat
atau dengan cara lain. Di samping itu, dalam keputusan dimuat syarat-
syarat. Dengan menetapkan syarat-syarat, akibat-akibat hukum tertentu
digantungkan pada timbulnya suatu peristiwa di kemudian hari yang
belum pasti. Dalam keptusan yang berisi izin dapat dimuat syarat
penghapusan dan syarat penangguhan.
5. Perizinan Sebagai Instrumen Dalam Hukum Administrasi Negara.
Sebagaimana dikutip Andrian Sutedi (2010 : 180), C.J.N Versteden
menyatakan berdasarkan jenis-jenis ketetapan, izin termasuk sebagai
ketetapan yang bersifat konstitutif, yakni ketetapan yang menimbulkan
hak baru yang sebelumnya tidak dimiliki oleh seseorang yang namanya
tercantum dalam ketetapan itu, atau beschikkingen welke iets toestaan wat
tevoren niet geoorloofd was (ketetapan yang memperkenankan sesuatu
yang belum diperbolehkan). Dengan demikian, izin merupakan instrumen
46
yuridis dalam bentuk ketetapan yang bersifat konstitutif dan digunakan
oleh pemerintah untuk menghadapi atau menetapkan peristiwa konkret.
Sedangkan sebagaimana dikutip Ridwan HR (2011 : 38) menurut
Philipus M. Hadjon, istilah Hukum Admnistrasi Negara dalam
kepustakaan Belanda disebut dengan istilah bestuursrecht,dengan unsur
utama bestuur. Istilah bestuur berkenaan dengan sturen dan sturing.
Bestuur dirumuskan sebagai lingkungan kekuasaan negara di luar
lingkungan kekuasaan legislatif dan kekuasaan yudisial. Dengan rumus itu
kekuasaan pemerintahan tidaklah sekedar melaksanakan undang-undang.
Kekuasaan pemerintahan merupakan kekuasaan yang aktif. Sifat aktif
tersebut dalam konsep Hukum Administrasi secara instrinsik merupakan
unsur utama dari sturen (besturen). Unsur-unsur tersebut (Ridwan HR,
2011: 38) adalah sebagai berikut.
“Sturen merupakan suatu kegiatan yang kontinu. Kekuasaan
pemerintahan dalam hal menerbitkan izin mendirikan bangunan misalnya
– tidaklah terhenti dengan diterbitkannya izin mendirikan bangunan.
Kekuasaan pemerintahan senantiasa mengawasi agar izin tersebut
digunakan dan ditaati. Dalam hal pelaksanaan mendirikan bangunan tidak
sesuai dengan izin yang diterbitkan, pemerintah akan menggunakan
kekuasaan penegakan hukum berupa penertiban yang mungkin berupa
pembongkaran bangunan yang tidak sesuai”.
“Sturen berkaitan dengan penggunaan kekuasaan. Konsep
kekuasaan adalah konsep hukum publik. Sebagai konsep hukum publik,
penggunaan kekuasaan harus dilandaskan pada asas-asas negara hukum,
asas demokrasi, dan asas instrumental. Berkaitan dengan negara hukum
adalah asas wet-en rechtmatigheid van bestuur. Dengan asas demokrasi
tidaklah sekedar adanya badan perwakilan rakyat. Di samping badan
perwakilan rakyat, asas keterbukaan pemerintah dan lembaga peran serta
masyarakat (inspraak) dalam pengambilan keputusan oleh pemerintah
adalah sangat penting artinya. Asas instrumental berkaitan dengan hakikat
Hukum Administrasi sebagai instrumen. Dalam kaitan ini asas efektivitas
47
dan efisiensi dalam pelaksanaan pemerintahan selayaknya mendapat
perhatian yang memadai (doeltreffenheid dan doelmatigheid).
“Sturen menunjukkan lapangan di luar legislatif dan yudisial.
Lapangan ini lebih luas dari sekedar lapangan eksekutif semata. Di
samping itu, sturen senantiasa diarahkan kepada suatu tujuan
(doelgerichte).
Perizinan merupakan salah satu instrumen Hukum Administrasi
Negara. Perizinan adalah salah satu keputusan pemerintah yang paling
banyak digunakan untuk mempengaruhi dan mengendalikan masyarakat.
Sebagai bagian dari keputusan pemerintah, maka perizinan pada
hakikatnya adalah tindakan hukum pemerintah yang sifatnya sifatnya
sepihak berdasarkan kewenangan publik yang memperbolehkan atau
memperkenankan hukum bagi seseorang/badan hukum untuk melakukan
suatu kegiatan.
Dengan kata lain, perizinan diperlukan pemerintah untuk
mengkonkretisasi kewenangan dengan beberapa tujuan dan motif tertentu
yang bersifat alternatif atau komulatif. Hal ini menunjukkan penetapan
perizinan sebagai salah satu insturmen hukum dari pemerintah yaitu untuk
mengendalikan kehidupan masyarakat agar tidak menyimpang dari
ketentuan hukum yang berlaku serta membatasi aktivitas masyarakat agar
tidak merugikan orang lain. Dengan demikian, perizinan lebih merupakan
instrumen pencegahan atau berkarakter sebagai preventif instrumental.
Sebagaimana dikutip Ridwan HR (2011 : 198), menurut Sjachran Basah
izin diartikan sebagai perbuatan hukum administrasi bersegi satu yang
48
mengaplikasikan peraturan secara konkret berdasarkan persyaratan dan
prosedur sebagaimana ditetapkan oleh ketentuan perundang-undangan
yang berlaku. Dengan karakter yuridisnya sebagai perbuatan hukum
publik bersegi satu, maka pemerintah (negara) melalui perizinan dapat
membebankan kewajiban-kewajiban tertentu kepada masyarakat.
Perizinan di bidang penanaman modal dapat diartikan sebagai perbuatan
hukum administrasi bersegi satu yang mengaplikasikan peraturan secara
konkret berdasarkan persyaratan dan prosedur sebagaimana ditetapkan
oleh ketentuan perundang-undangan yang berlaku di antaranya Undang-
undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Pemerintah dapat
membebankan kewajiban-kewajiban tertentu kepada masyarakat yang
mengurus perizinan penanaman modal.
Upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan investasi
daerah adalah dengan memperbaiki iklim penanaman modal baik
Penanaman Modal Dalam Negeri maupun Penanaman Modal Asing.
Penanaman modal mengandung arti segala bentuk kegiatan menanam
modal, baik oleh penanam modal dalam negeri (PMDN) maupun penanam
modal asing untuk melakukan usaha di daerah. Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN) adalah kegiatan menanam modal yang dilakukan oleh
penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri.
Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) adalah kegiatan penanaman
modal yang dilakukan oleh penanam modal baik perseorangan atau badan
usaha asing.