MATA DAN TANGAN
Perkenalkan aku Laura yang menulis cerpen ini dan sahabatku Ica, yang aku jadikan karakter
dalam cerpen ini
Aisyah Nanda Putri atau biasa dipanggil Ica. Dia adalah salah satu teman terbaik ku sejak
kami SMP sampai sekarang.
Dulu, saat kita masih SMP kita masih bisa bertemu setiap hari, bercanda setiap hari. Namun
sekarang kita sudah SMA dan kita beda sekolah, kita sudah jarang bertemu, jarang tertawa
bersama, jarang mengerjakan tugas bersama. Walaupun kita masih bisa komunikasi di sosial
media, namun rasanya beda saja.
Ica bisa menjadi sahabatku karena aku selalu merasa aman dan nyaman jika ada di dekat dia,
aneh rasanya, namun begitu nyatanya....
Kami berdua lahir dari keluarga yang tidak sempurna atau biasa disebut broken home. Ica
adalah seorang yatim piatu, dan Laura adalah seorang anak yang lahir dari keluarga tidak
utuh, namun walaupun kami adalah seorang anak yang kekurangan kasih sayang dari orang
tua, kami saling melengkapi satu sama lain, walaupun rasanya beda.
Ica selalu mengajariku bagaimana cara kita harus melakukan semuanya dengan cara tidak
putus asa, dan harus berani menghadapi segala cobaan hidup. Laura selalu mengeluh kepada
Ica, padahal kalau dipikir pikir hidup Ica lebih berat.
Suatu hari tanggal 7 Maret 2023 Ica kehilangan dunianya, ia ditinggal seorang Ibu untuk
selamanya, Ica menangis dengan segala jerit, dan akupun begitu, aku merasakan apa yang
dirasakan Ica, karena aku sungguh dekat dengan Ibunya. Namun sekarang Damainya mulai
penuh pelan-pelan,walaupun berat rasanya menerima kenyataan bahwa orang yang kita
sayangi telah pergi untuk selamanya
Aku selalu berusaha menjadi rumah kedua untuk Ica, karena aku tau dan mengerti sangat Ica
hanya butuh kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, Ica juga selalu gagal dalam
percintaan, beda dengan Laura yang berani dalam percintaan.
Aku pernah bilang kepada Ica,
"Lo tau ngga ca, orang yang jatuh cinta beneran itu sebenarnya cuma takut sama satu hal aja"
Ica mengerutkan dahiku "Apa Lau?"
Aku tersenyum, lalu menjawab "Kehilangan"
Ica cuma bisa diam, aku melipat kedua tanganya diatas meja, tatapannya menuju padaku, lalu
aku bilang
" Pasti waktu lo kecil dulu, Gue yakin pasti lo pernah jatuh cinta sama seseorang, dan itu
normal. Tapi seiring lo bertambah besar, umur lo makin tua, lo mulai sadar kalau ada satu
lubang kecil dihati lo yang perlu di isi sama sesuatu. Lubang kecil bekas perlakuan buruk dari
orang-orang dimasa lalu lo"
" Dan waktu lo udah besar, lo makin peka dan bisa ngerasain semua hal yang ngisi lubang
kecil di hati lo itu" , Lalu aku menunjuk jari telunjuk ku ke arah Ica dan berkata "termasuk
cinta"
Ica berkata " kalau gue ga ngerasa takut kehilangan, is it okay? " , dengan menghela nafas
aku menjawab " Ya simpel sih, itu bukan cinta namanya" Jawab Laura, lalu melanjutkan
"because when you love a person, there's always a tiny part of you that's afraid that one day
you're gonna lose them. Nggak perduli sebarapa keras usaha lo, nggak perduli seberapa
bucinnya lo, lo bakal tetep takut, but that's okay."
Ica menghela nafasnya dan berusaha membayangkan sesuatu, tidak lama laura berkata lagi "
Tapi, mau lo sadar atau nggak, lo tetep nggak bisa menyingkirkan rasa takut itu"
"Kenapa"
sekali lagi aku menjawab dengan tersenyum " Karena perasaan itu yang ngeiizinin buat
ngerasain jatuh cinta itu kayak apa".
Lalu dari situ dia bisa belajar bahwa dia bisa menjadi sosok yang baik dalam percintaan.
Karena pada dasarnya semua orang butuh pasangan dan seorang teman yang bisa membuat
kita bahagia.
Hari-hari berlalu, walaupun kami jadi jarang ketemu karena beda sekolah namun kita masih
suka nongkrong bareng disuatu tempat yang bernama "suku kata coffe". Tempat itu
menyimpan banyak sekali memori, tentang kami berdua, dari cara kita berdua saling bercerita
tentang keluarga, percintaan, sampai pertemanan.
Namun semua ada masanya, aku sudah jarang sekali bermain dengan Ica, padahal aku sangat
rindu. Ia sekarang menjadi lebih sibuk dengan dunia barunya.
Aku sempat sangat cemburu saat tau dia sangat dekat sekali dengan teman baru disekolahnya,
itu wajar banget. Tapi ntah kenapa aku merasa taku tergantikan. Karena Ica semakin hari
semakin susah untuk diajak bermain, Tetapi kita tidak boleh egois.
Dulu saat kita SMP kalua pulang sekolah selalu bermain dirumah aku, sampai suatu saat kita
mandi hujan Bersama di balkon rumahku sambil bercerita tentang semua kesedihan sampai
membuat kami menangis Bersama.
Disitu Ica berkata kepadaku “kita gaboleh kalah sama keadaan, masa masih umur segini udah
nyerah sih, kalah dong sama nenek-nenek”. Aku hanya bisa tertawa kecil-kecilan dan
menjawab dengan tersenyum “ hehehe iya ca “
Dia juga sempat bercerita kalua dia sedang tertarik dengan seseorang, rasa ingin tahu ku
semakin membara, aku bertanya-tanya kepadanya “ siapa orangnya? “. Namun dia selalu
menutupinya, padahal aku hanya ingin tau.
Sampai suatu saat aku tau, dan aku membantunya dekat dengan lelaki tersebut. Namun Ica
gengsi nya sangat tinggi, jadi agak susah untuk membantunya.
Ya, lelaki tersebut adalah teman sekolah waktu SMP, aku agak tidak setuju awalnya karena
lelaki itu sangat nakal, aku tidak mau teman ku dekat dengan orang seperti dia, namun apa
day aitu kan pilihan Ica, aku hanya bisa membantu support supaya dia bisa mendapatkannya;
3bulan berlalu pun Ica masih mennyukai orang yang sama, namun Ica sangat takut untuk
memulai nya, aku pun bingung harus bagaimana.
Dalam 3bulan itu Ica hanya benar-benar mengaguminya dari jauh, aku muak sebenarnya
melihat dia hanya terus mengaguminya dan tidak ada kemajuan. Sebearnya laki-laki itu tau
kalua Ica suka kepadanya, namun ia tidak peka, tetapi malah semakin sok cool.
Ya begitulah seperti yang pernah aku bilang, Ica selalu gagal tentang percintaan karena
memang mungkin dia belum terbiasa.
Suatu saat, saat aku bermain dirumah ica ada seorang laki-laki bermain ke rumah Ica. Nama
laki-laki tersebut adalah Afril. Dia lebih tua daripada kami. Saat awal melihatnya aku takut
dengan dia, karena mukanya kelihatan sangat judes.
Namun semakin hari aku semakin sering bermain dirumah Ica, aku semakin akrab dengan
Afril. Yang bikin aku kaget ternyata setelah kita akrab ia seperti waria, sangat lucu, super
aktif dan sangat humble.
Dari situ kami menjadi teman dekat, aku, Afril, dan Ica juga mempunyai banyak memori, aku
merasa sejak ada Afril pertemanan kami menjadi lebih berwarna dan ceria, karena kami bisa
mendapatkan teman pelawak seperti Afril.
Namun, semua ada masanya, Afril harus melanjutkan pendidikannya di Padang. Aku dan Ica
sangat sedih, karena Afril terlalu cepat untuk pergi ke Padang. Namun apa daya, kami berdua
tidak bisa menahannya, karena itu demi masa depan Afril.
Aku dan Ica saat mengantar Afril ke bandara, kami semua berpelukan sambil menangis. Lalu
Afril berkata “ Jangan lupain gue ya, tungguin gue balik ke Jakarta. “, aku sangat sedih
mendengarnya, karena harus menerima kenyataan bahwa aku harus jauh dari seseorang yang
mempunnyai peran dihidup ku.
Pulang kerumah dengan rasa sedih karena harus ditinggal orang yang biasanya membuat aku
tertawa terbahak-bahak.
Namun walaupun kami ditinggalnya ke Padang, kami biasanya setiap malam video call
Bersama, seru rasanya. Namun rasanya beda saat dia jauh, kami hanya bisa melihatnya dari
kamera, kami tidak bisa jailin dia lagi, saat video call pun ica berkata “Afril kapan ke
Jakarta?, gue sama Laura kangen banget”, Afril menjawab “ Galama kok, tunggu libur
semester, kayanya bulan Januari”. Kami berdua pun sangat senang mendengarnya, dan sangat
tidak sabar menunnggu kepulangannya.
Namun terasa sangat lama menunggu bulan Januari sampai akhirnya kami sudah jarang
komunikasi sekarang. Kami ngobrol Ketika ada bahan bicara saja, tidak intens.
Sedih ya karena makin lama kita harus menerima kalau kita akan kehilangan orang-orang
yang kita sayang, memang benar people come and go. Namun aku tidak mau kalau mereka
harus pergi. Aku tidak tahu gimana nasib ku jika tidak ada mereka. Yang aku minta hanya
aku tidak mau kehilangan orang-orang yang aku sayangi, berat rasanya. Aku sudah
merasakan banyak kehilangan, dan aku sangat tidak siap jika harus kehilangann seseorang
lagi. Aku harap pertemanan kami langgeng sampai kami tua nanti, Semoga.
Oiya kami bertiga mempunyai lagu favorite yang sama loh, yaitu “ see you again “.
Lagu itu mempunyai makna untuk kami yang mempunyai ikatan sahabat. Lirik yang sangat
menyentuh kami, lagu ini mempunyai makna yaitu tentang harapan agar bisa Kembali
bertemu denngan orang yang dicintai, Liriknya menyampaikan perasaan sedih, kehilangan
serta harapan untuk bertemu lagi di masa depan.
Kami suka menyanyikan lagu itu Bersama dimanapun, sampai saat mengantarkan Afril ke
bandara, kami hendak menyanyikan lagu itu sambil menahan tangis
Akupun sudah jarang berinteraksi dengan mereka berdua, aku sekarang hanya bermain
dengan kekasih ku yang Bernama Gilang. Ialah sekarang yang menemaniku saat Ica dan Afril
tidak bisa bertemu dengan ku.
Seorang laki-laki yang baik, yang tau cara menyikapi ku dengan baik, walaupun tidak
sempurna, namun aku mendapatkan kasidh sayang yang cukup dari nya.
Dari dia, aku tidak pernah merasakan kesepian lagi, aku selalu dibuat senang olehnya,
walaupun terkadang dia menyebalkan.
Aku sangat bersyukur Karena aku selalu didatangkan orang-orang baik, orang-orang yang
selalu membuat aku senang, walaupun semuanya hanya sementara, karena pada dasarnya
manusia punya masa dihidup kita.
Namun aku sangat berterimakasih kepada teman-teman yang sudah membuat hidupku
berwarna, semoga kebaikan kalian akan terbalaskan.
Aku bertemu dengan satu Wanita ini, yang menjadi tokoh utama di cerpen ku kali ini,
parasnya tidak terlalu rupawan, tetapi dia masih bisa tersenyum tulus bagaimana pun
keadannya.
Dia kuat, dan aku tahu pasti
Kami suka bertukar cerita atau mengeluhkan permasalahan kul;iah yang ada. Aku lebih
sering menjadi pendengar, dia lebi sering berbicara. Adfa satu momen dimana kami sedang
ngobrol berdua disebuah rumah makan. Kami sama-sama tidak mengira kalua waktu akan
berjalan begitu cepat. Ketika pulang, kami naik ke motor, dengan harapan masih bisa bertemu
pada sebuah kebetulan.
Sejenak, dia terdiam sebentar, lalu berbicara kepadaku “Kamu enggak capek apa,
ngedengerin aku cerita terus?” tanya dia tiba-tiba.
Aku berpikir sejenak, lalu menjawab “ Enggak tuh”, kataku, memegang stir motor dengan
kedua tangan “ Jadi pendengar buat kamu sama aja belajar memahamimu. Aku tahu kalua
kamu sulit buat terbuka sama orang lain, dan itu menjadi alasan kenapa aku bisa ada
disampingmu, sekarang.”
Satu detik berlaliu, kami diam dalam nyaman.
Sekali lagi aku bisa membuatnya tersenyum.
Aku harap kita bisa bertemu seperti dulu lagi, secara nggak sengaja, hanya kita bertiga. Aku,
Ica, dan Afril. Saat kita besok sudah dewasa dan bukan menjadi remaja lagi seperti sekarang.
Semoga kitab isa bertemu di tempat yang pengen banget untuk kita kunjungi, tetapi belum
kesampaian.
Semoga kita bisa bertemu lagi, dan ngejelasin semuanya yang belum sempat terjelaskan, yanf
mungkin disatu momen, sempet bikin kalian overthinking sampai ketiduran berulang kali.
Aku harap… kita bisa bertemu lagi, dengan kalian yang dating sambil memasang wajah
Bahagia, duduk disampingku dengan manis, terlepas kamu sudah punya orang baru atau
belum, cause I just want to see you happy, even if I’m not in the picture.
Even though your happiness doesn’t include me just like what we used to be.
Ada sesuatu yang memulai,
Ada sesuatu… yang telah selesai.