BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TINJAUAN TENTANG ISPA
1. Pengertian Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut, istilah
ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa inggris Acute Respiratory infections
(ARI). Penyakit Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih
dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran
bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus,rongga telinga tengah dan
pleura (WHO, 2003).
Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena
system pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian penyakit batuk,pilek
pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali pertahun. Yang berarti
seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6
kali setahun ( Depkes RI, 2001).
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang
dapat menyerang saluran pernapasan bagian atas dan bawah (Erlian, 2008).
Istilah ISPA mengandung tiga unsur, yaitu infeksi. Saluran pernapasan
akut seperti dalam penjelasan berikut :
a. Infeksi adalah masuknya bibit kuman atau mikroorganisme kedalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
7
b. Saluran pernapasan adalah organ yang dimulai dari hidung hingga alveoli
beserta organ adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Dengan demikian ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan
bagian atas, saluran pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-
paru), dan organ adneksa saluran pernapasan.
c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas
ini diambil untuk menunjukan proses akut meskipun untuk beberapa
penyakit yang dapat digolongkan daam ISPA proses ini dapat berlangsung
lebih dari 14 hari ( Ditjen PPM & PLP Depkes RI, 2000).
2. Etiologi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan riketsia.
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah Genus Steptokokus, stafilokkokus,
pnemokokus, hemofillus, bordetella, dan koneabakterium. Virus penyebab
ISPA antara lain adalah Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikomavirus,
Mikoplasma, Herpesvirus ( Erlien, 2008).
Kebanyakan Infeksi saluran Pernapasan Akut (ISPA) disebabkan oleh
virus sinsisial pernapasan (VSP), virus parainfluenza, adenovirus, rhinovirus,
dan koronavirus, koksaki virus A dan B dan mikoplasma (Nelsom, 2000).
Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga biasa disebabkan
karena faktor kelelahan daya tahan tubuh lemah, populasi udara, asap
kendaraan dan pembakaran hutan serta pergantian musim (Hatta, 2000).
8
3. Patofisiologi
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu :
a. Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan
reaksi apa-apa
b. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh
menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya
rendah.
c. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul
gejala demam dan batuk. Tahap lanjut penyaklit,dibagi menjadi empat
yaitu dapat sembuh sempurna,sembuh dengan atelektasis, menjadi kronis
dan meninggal akibat pneumonia.
4. Klasifikasi ISPA
Berdasarkan lokasi anatomik.
a. Infeksi saluran pernapasan akut bagian atas adalah infeksi yang
menyerang hidung sampai epiglotis. Misalnya : rinitis akut, faringitis
akut,laringitis,sinusitis dan tonsilitis.
b. Infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah adalah infeksi yang
menyerang saluran pernapasan bagian bawah ( mulai dari bagian bawah
epiglotis sampai alveoli), dan nama penyakitnya sesuai dengan organ yang
terkena. Misalnya : trakheatis, bronkitis akut, bronkhiolitis, pneumonia
dan lain – lain.
9
5. Tanda dan Gejala Klinis ISPA
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan
keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit
mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh
dalam keadaan kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang
lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu
diusahakan agar yang ringan tidak berubah menjadi lebih berat dan yang
sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam
kegagalan pernapasan (Rasmaliah, 2004).
Tanda dan gejala berdasarkan derajat keparahan penyakit dapat dibagi tiga
tingkat :
a. ISPA ringan .
Adapun tanda dan gejala ISPA ringan antara lain :
1. Batuk
2. Pilek (keluar ingus dari hidung)
3. Serak (bersuara parau pada waktu menangis atau berbicara)
4. Demam (panas)
b. ISPA sedang
Tanda dan gejala ISPA sedang antara lain :
1. Pernapasan yang lebih cepat (lebih dari 50x/menit)
2. Wheezing (napas menciut-ciut)
10
3. Panas 380C atau lebih
4. Sakit telinga atau keluar cairan
5. Bercak-bercak menyerupai campak
c. ISPA berat
Tanda dan gejala ISPA berat antara lain:
1. Chest indrawing (pernapasan dada kedalam)
2. Stridor (pernapasan ngorok)
3. Tidak mau makan
4. Sianosis (kulit kebiru-biruan)
5. Nafas cuping hidung
6. Kejang
7. Dehidrasi
8. Kesadaran menurun (Depkes RI, 2001).
6. Penyebaran penyakit
Pada ISPA, dikenal 3 cara penyebaran infeksi, yaitu :
a) Melalui areosol (partikel halus) yang lembut, terutama oleh karena
batuk-batuk.
b) Melalui areosol yang lebih berat, terjadi pada waktu batuk-batuk dan
bersin.
c) Melalui kontak langsung atau tidak langsung dari benda-benda yang
telah dicemari oleh jasad renik.
11
7. Pencegahan ISPA pada Balita
Kegiatan atau jenis-jenis yang dapat dilakukan dalam mencegah terjadinya
penyakit ISPA pada anak balita antara lain :
1. Perbaikan peningkatan gizi pada balita
a) Penyusunan atau pengaturan menu
b) Cara pengolahan makanan
c) Variasi menu
2. Perbaikan dan santasi lingkungan
3. Pemeliharaan Kesehatan perorangan
4. Tindakan preventif
a. Memberikan imunisasi pada golongan yang rentan terhadap
penyakit tertentu
b. Isolasi terhadap penderita ISPA
5. Perawatan dan pengobatan ISPA dirumah
a) Memberi makan
Pemberian makanan yang cukup dan bergizi untuk menghindari
penurunan berat badan yang akan rnengakibatkan malnutrisi.
Berikan makan sedikit-sedikit tapi sering dari biasanya, lebih-lebih
jika anak [Link] ASI pada bayi yang menyusui juga
tetap diberikan.
b) Pemberian cairan atau minuman
12
Anak dengan infeksi saluran pernafasan dapat kehilangan cairan
lebih banyak dari biasanya terutama bila demam, menambah
pemberian minum atau cairan untuk menghindari dehidrasi.
Dehidrasi akan melemahkan anak dan dapat memperberat
penyakitnya, pemberian cairan akan membantu mengencerkan
dahak.
c) Menjaga kelancaran pernafasan
Menjaga kelancaran pernafasan dengan cara mengajarkan anak
agar bila ia batuk lendirnya dikeluarkan.
d) Bersihkan hidung
Membersihkan hidung dengan memakai kain bersih yang lunak
untuk membersihkan lubang hidung,jika hidung tersumbat karena
ingus yang telah mengering, tetesilah dengan air garam untuk
membasahinya.
e) Mengatasi panas
Untuk anak usia 2bln - 5tahun demam diatasi dengan paracetamol
dan atau dengan kompres (bayi dibawah 2 bulan dengan demam
harus segera dirujuk). Pemberian kompres dengan cara : gunakan
kain bersih celupkan pada air (air hangat kuku) peras seperlunya,
kemudian letakkan diatas dahi anak, lipat paha, lipat ketiak, ulangi
bila kan sudah dingin.
f) Istirahat
13
Berikan istirahat yang cukup karena dengan istirahat gejala bisa
berkurang.
g) Mengamati tanda-tanda bahaya yang mungkin timbul seperti sesak
nafas, nafas cepat, anak tidak mampu minum, suhu tubuh tinggi,
bila terjadi segera bawa anak ke pelayanan kesehatan agar
komplikasi tidak terjadi.
B. Tinjauan Tentang Anak Balita
1. Pengertian Anak Balita
Yang dimaksud dengan Anak (1-4 tahun) disini adalah penduduk yang
berusia 1 sampai menjelang 5 tahun atau tepatnya 1 tahun samapai
dengan 4 tahun 11 bulan 29 hari. Sedangkan yang dimaksud dengan Balita
atau Bawah Lima Tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru
lahir, yang berusia 0 sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun, 11 bulan,
29 hari). Pada umumnya ditulis dengan notasi 0-4 tahun. (Anik
Maryunani, 2010)
Menurut Sutomo.B. dan Anggraeni. DY, (2010), Balita adalah istilah
umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun).
Saat usia batita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk
melakukan kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan.
14
Perkembangan berbicara dan berjalan sudah bertambah baik. Namun
kemampuan lain masih terbatas.
Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh
kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi
penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode
selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang
berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu sering
disebut golden age atau masa keemasan.
2. Pengelompokkan Balita
a. Umur 0 – 12 bulan
b. Umur 13 – 24 bulan
c. Umur 25 – 36 bulan
d. Umur 37 – 48 bulan
e. Umur 49 – 60 bulan
3. Perkembangan yang terjadi pada anak balita
a. Dari lahir sampai 3 bulan
1) Belajar mengangkat kepala
2) Belajar mengikuti objek dengan matanya
3) Melihat ke muka orang dengan tersenyum
4) Bereaksi terhadap suara/bunyi
5) Mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran,
dan kontak
15
6) Menahan barang yang dipegangnya
7) Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh.
b. Dari 3 sampai 6 bulan
1) Mengangkat kepala 90 derajat dan mengangkat dada dengan
bertopang tangan
2) Mulai belajar meraih benda yang ada dalam jangkauannya atau di
luar jangkauannya
3) Menaruh benda-benda di mulutnya
4) Berusaha memperluas lapang pandangnya
5) Tertawa dan menjerit karena gembira diajak bermain
6) Mulai berusaha mencari benda-benda yang hilang.
c. Dari 6 sampai 9 bulan
1) Dapat duduk tanpa dibantu
2) Dapat tengkurep dan berbalik sendiri
3) Dapat merangkak meraih benda atau mendekati seseorang
4) Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain
5) Memegang benda kecil dari ibu jari dan telunjuk
6) Bergembira dengan melempar benda-benda
7) Mengeluarkan kata-kata tanpa arti
8) Mengenal muka anggota-anggota keluarga dan takut kepada orang
lain/asing
16
9) Mulai berpartisipasi dalam permainan tepuk tangan dan sembunyi-
sembunyian.
d. Dari 9 sampai 12 bulan
1) Dapat berdiri sendiri tanpa dibantu
2) Dapat berjalan dengan dituntun
3) Menirukan suara
4) Mengulan bunyi yang didengarnya
5) Belajar menyatukan satu atau dua kata
6) Memperlihatkan minat yang besar dalam mengeksplorasi
sekitarnya, ingin menyentuh apa saja dan memasukkan benda-
benda ke mulutnya
7) Mengerti perintah sederhana atau larangan
8) Berpartisipasi dalam permainan.
e. Usia 12 sampai 18 bulan
1) Berjalan dengan mengeksplorasi rumah serta sekeliling rumah
2) Menyusun 2 atau 3 kotak
3) Dapat mengatakan 5 – 10 kata
4) Memperlihatkan rasa cemburu dan rasa bersaing.
f. Usia 18 sampai 24 bulan
1) Naik turun tangga
2) Menyusun 6 kotak
3) Menunjuk mata dan hidungnya
17
4) Menyusun 2 kata
5) Belajar makan sendiri
6) Menggambar garis di kertas atau di pasir
7) Mulai mengontrol BAB dan BAK
8) Menaruh minat kepada apa yang kerjakan oleh orang-orang yang
lebih besar
9) Memperlihatkan minat kepada anak lain dengan bermain dengan
mereka
g. Usia 2 sampai 3 tahun
1) Belajar melompat, memanjat, melompat dengan 1 kaki
2) Membuat jembatan dengan 3 kotak
3) Mampu menyusun kalimat
4) Mempergunakan kaka-kata saya, bertanyan, mengerti kata-kata
yang ditujukan kepadanya
5) Menggambar lingkaran
6) Bermain dengan anak yang lain dan menyadari adanya lingkungan
lain diluar keluarganya
h. Usia 3 sampai 4 tahun
1) Berjalan-jalan sendiri mengunjungi tetangga
2) Berjalan pada jari kaki
3) Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri
4) Menggambar garis silang
18
5) Menggambar orang hanya dengan kepala dan badan
6) Mengenal 2 atau 3 warna
7) Berbicara dengan baik
8) Menyebut namanya, jenis kelaminnya dan umurnya
9) Banyak bertanya
10) Bertanya bagaimana anak dilahirkan
11) Mengenal sisi atas, bawah, sisi muka dan sisi belakang
12) Mendengarkan cerita-cerita
13) Bermain dengan anak-anak yang lain
14) Menunjukkan rasa sayang kepada saudara-saudaranya
15) Dapat melaksanakan tugas sederhana
i. Usia 4 sampai 5 tahun
1) Melompat dan menari
2) Menggambar orang terdiri dari kepala, lengan dan badan
3) Menggambar segi empat dan segi tiga
4) Pandai bicara dan dapat menghitung jari-jarinya
5) Dapat menyebut hari-hari dalam seminggu
6) Mendengar dan mengulang hal-hal penting dan cerita
7) Minta kepada kata baru dan artinya
8) Memprotes bila dilarang dan diingininya
9) Mengenal 4 warna (Maryunani, 2010).
19
C. Tinjauan tentang Keluarga
1. Pengertian keluarga
Banyak ahli menguraikan pengertian keluarga sesuai dengan
perkembangan masyarakat. Berikut akan dikemukakan beberapa
pengertian keluarga.
a. Burgess (1963)
Burgess memberikan pandangan tentang defenisi keluarga yang
berorientasi kepada tradisi, yaitu :
1) Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan
perkawinan, darah dan ikatan adopsi.
2) Anggota sebuah keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu
rumah tangga atau jika mereka hidup secara terpisah mereka tetap
menganggap rumah tangga tersebut sebagai rumah mereka.
3) Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain
dalam peran-peran sosial keluarga seperti halnya peran sebagai suami
istri, peran sebagai ayah dan ibu, peran sebagai anak laki-laki dan anak
perempuan.
4) Keluarga bersama-sama menggunakan kultur yang sama yaitu: kultur
yang diambil dari masyarakat dengan beberapa cirri unik tersendiri.
b. Whall (1986)
Keluarga sebagai kelompok yang terdiri atas dua atau lebih
individu yang dicirikan oleh istilah khusus, yang mungkin saja
20
memeliki atau tidak memiliki hubungan darah atau hokum yang
mencirikan orang tersebut kedalam satu keluarga.
c. Dep. Kes RI (1988)
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di
suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
d. Friedman (1998)
Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang terikat dalam
perkawinan, ada hubungan darah, atau adopsi dan tinggal dalam satu
rumah.
e. Stuart (ICN,2001)
Lima hal penting yang ada pada defenisi keluarga:
1) Keluarga adalah suatu system atau unit.
2) Komitmen dan keterikatan antar anggota keluarga yang meliputi
kewajiban di masa yang akan dating.
3) Fungsi keluarga dalam pemberian perawatan meliputi
perlindungan, pemberian nutrisi dan sosialisasi untuk seluruh
anggota keluarga.
4) Anggota-anggota keluarga mungkin memiliki hubungan dan
tinggal bersama atau mungkin juga tidak ada hubungan dan tinggal
terpisah.
21
5) Keluarga mungkin memiliki anak atau mungkin juga tidak.
(Santun Setiawati Agus Citra Dermawan, 2008)
2. Struktur Keluarga
Friedman (1998) membagi empat struktur keluarga menjadi struktur
komunikasi, struktur nilai dan norma, struktur kekuatan, dan struktur
peran.
Berikut ini akan dijelaskan satu per satu.
a. Struktur komunikasi
Struktur komunikasi menunjukan bagaimana pola anggota
keluarga dalan berkomunikasi satu dengan yang lainnya.
b. Struktur nilai dan norma keluarga
Nilai keluarga adalah system ide, sikap, dan keyakinan yang
mengikat anggota keluarga dan diajalnkan keluarga dalam budaya
tertentu, sedangkan norna adalah pola perilaku yang diterima pada
lingkungan sosial tertentu, sesuai nilai yang diyakini.
c. Struktur peran keluarga
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada
seseorang sesuai dengan posisi sosial yang telah diberikan bak
secara formal maupun informal, sedangkan posisi adalah
keberadaan seseorang dalam system sosial. Peran juga diartikan
sebagai kemampuan individu untuk mengontrol atau memengaruhi
atau merubah prilaku orang lain.
22
Peran anggota keluarga dijalankan untuk menjaga
keseimbangan dalam keluarga, yang dijalankan melalui peran
formal maupun informal. Peran formal yang dijalankan keluarga
menentukan tercapainya keseimbangan dalam keluarga atau tidak.
d. Struktur kekuatan keluarga
Kekuatan keluarga menunjukkan kemampuan system keluarga
untuk mengubah perilaku anggota keluarga. Pengaruh tersebut
dipersepsikan sebagai kekuatan yang dimiliki dan ditujukan
dengan kemampuan dalam mengambil keputusan. Untuk dapat
mempunyai kemampuan tersebut, anggota keluarga meyakini
adanya otoritas sebagai satu kekuatan keluarga. Misalnya, otoritas
orang tua dalam mengambil keputusan untuk keluarga. Walaupun
demikian, antara kekuatan dengan otoritas tidak selalu selaras
karena otoritas member kesan sebagai suatu kesatuan yang
dominan dan tanpa kompromi. Kekuatan keluarga dapat dinilai
dari bagaimana keluarga tersebut berproses dalam mengambil
keputusan, memecahkan masalah, dan menyelesaikan konflik.
Untuk memiliki kekuatan tersebut, keluarga membutuhkan
sumber-sumber seperti informasi dan keterampilan berfikir
(Setiawati & Dermawan, 2008).
23
3. Bentuk-bentuk keluarga
Menurut Maclin, 1988 (dalam Achjar, 2010) bentuk-bentuk keluarga,
yaitu :
a. Keluarga Tradisional
1) Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan
anak-anak yang hidup dalam rumah tangga yang sama.
2) Keluarga dengan orang tua tunggal yaitu keluarga yang hanya
dengan satu orang yang mengepalai akibat dari perceraian, pisah,
atau ditinggalkan.
3) Pasangan inti hanya terdiri dari suami dan istri saja, tanpa anak
atau tidak ada anak yang tinggal bersama mereka.
4) Bujang dewasa yang tinggal sendiri
5) Pasangan usia pertengahan atau lansia, suami sebagai pencari
nafkah, istri tinggal di rumah dengan anak sudah kawin atau
bekerja.
6) Jaringan keluarga besar, terdiri dari dua keluarga inti atau lebih
atau anggota yang tidak menikah hidup berdekatan dalam daerah
geografis.
b. Keluarga non tradisional
1. Keluarga dengan orang tua yang mempunyai anak tetapi tidak
menikah (biasanya terdiri dari ibu dan anaknya).
24
2. Pasangan suami istri yang tidak menikah dan telah mempunyai
anak
3. Keluarga gay/ lesbian adalah pasangan yang berjenis kelamin
sama hidup bersama sebagai pasangan yang menikah
4. Keluarga kemuni adalah rumah tangga yang terdiri dari lebih satu
pasangan monogamy dengan anak-anak, secara bersama
menggunakan fasilitas, sumber dan mempunyai pengalaman yang
sama.
4. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur
keluarga atau sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarganya :
Fungsi keluarga menurut Friedman (1998) dalam Setiawati dan
Darmawan (2005), yaitu:
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan
pemeliharaan kepribadian anggota keluarga.
b. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi bercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi
pada anak, membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan
batasan perilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak, meneruskan nilai-
nilai budaya anak.
c. Fungsi perawatan kesehatan
25
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga
dalam melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga
serta menjamin pemenuhan kebutuhan perkembangan fisik, mental, dan
spiritual, dengan cara memelihara dan merawat anggota keluarga serta
mengenali kondisi sakit tiap anggota keluarga.
d. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang,
pangan, dan papan, dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber
daya keluarga.
e. Fungsi biologis
Fungsi biologis bukan hanya ditujukan untuk meneruskn keturunan
tetapi untuk memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan
generasi selanjutnya.
f. Fungsi psikologis
Fungsi psikologis terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih
saying dan rasa aman/ memberikan perhatian diantara anggota keluarga,
membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan memberikan
identitas keluarga.
g. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan
pengetahuan, keterampilan membentuk perilaku anak, mempersiapkan
26
anak untuk kehidupan dewasa mendidik anak sesuai dengan tingkatan
perkembangannya.
5. Tinjauan Tentang Tugas Perawatan Kesehatan Keluarga
Tugas keluarga merupakan pengumpulan data yang berkaitan dengan
ketidakmampuan dalam menghadapi masalah kesehatan. Lima tugas
keluarga yang dimaksud adalah ;
a. Mengenal masalah kesehatan keluarga. Kesehatan merupakan
kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan
segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang
seluruh kekuatan sumber daya an dana keluarga habis.
Mengenal masalah juga merupakan salah satu proses dari
memperoleh pengetahuan, pengetahuan di pengaruhi oleh dua faktor
yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal salah satunya
adalah pendidikan, tingkat pendidikan seseorang akan memberikan
pengaruh terhadap pemahaman tentang sebuah pengalaman dan
rangsangan yan diberikan melalui belajar dan media lainnya.
Pengetahuan atau pendidikan tentang kesehatan akan berpengaruh
terhadap perilaku sebagai hasil jangka menengah (intermediet impact).
Pengetahuan yang diperoleh akan di interprestasikan berbeda paa
setiap orang.
Menurut Bloom dalam Notoatmodjo (2005), semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin mudah untuk
27
menerima dan menangkap informasi yang dibutuhkan sehingga
pengetahuannya akan semakin tinggi/baik. Meskipun demikian, jika
pendidikan seseorang rendah namun orang tersebut memiliki
pengalaman dan sering mendapatkan informasi-informasi maka ini
dapat meningkatkan pengetahuan dan berdampak pada perubahan
perilaku menjadi lebih baik.
b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini
merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan
yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan
siapa di antara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan
untuk menentukan tindakan keluarga.
c. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Sering kali
keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar, tetapi
keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui oleh keluarga
sendiri.
d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan
keluarga. Kemampuan keluarga menciptakan lingkungan yang
menukung kesehatan keluarga tidak hanya dipengaruhi oleh
pengetahuan keluarga mengenai lingkungan yang mendukung
kesehatan tapi juga jenis pekerjaan yang dijalani anggota keluarga.
Kesibukan diluar rumah dapat menjadi salah satu faktor penyebab
lingkungan disekitar rumah menjadi tidak sehat misalnya dapat
28
mempengaruhi frekuensi pembersihan rumah sehingga terjadi
penumpukan sampah dan meningkatkan resiko masalah kesehatan
terkait lingkungan. Keseimbangan antara pekerjaan dan rumah tangga
membatu keluarga dalam mengatasi dan menciptakan ligkungan yang
sehat bagi seluruh anggota keluarga.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi
keluarga. Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang
ada. Pemanfaatan fasilitas pelayana kesehatan tidak hanya dipengaruhi
oleh sumber daya tenaga kesehatan tetapi juga kemapuan masyarakat
untuk mencapainya. Berdasakan tata karakteristik diketahui bahwa
pekerjaan responden cukup bervariasi dan mayoritas pekerjaan
responden adalah swasta dan PNS . Pekerjaan ini menuntut kualitas
yang tinggi . Menurut Fautino (2003) semakin tinggi kualitas
pekerjaan seseorang maka pendapatan yang diperoleh pun akan
semakin tinggi begtupula sebaliknya. Sehingga hal ini mempermudah
masyarakat untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang ada.
Tidak semua masyarakat mampu memanfaatkan pelayanan
kesehatan yang ada. Salah satu faktor kurangnya pemanfaatan fasilitas
pelayanan kesehatan oleh masyarakat adalah sulitnya transportasi
untuk mencapai pelayanan kesehatan. Sebelumnya telah disebutkan
bahwa berdasarkan hasil survey langsung ke pemukiman penduduk di
kelurahan punggolaka yang merupakan salah satu wilayah kerja
29
Puskesmas Puuwatu. Dengan demikian, masyarakat khususnya
keluarga kurang terpapar berbagai sumber informasi kesehatan dari
tenaga kesehatan langsung. Hal ini sangat berdampak pada
kemampuan keluarga melaksanakan fungsi perawatan kesehatan pada
anggota keluarga dengan berbagai masalah kesehatan yang bersifat
holistic secara mandiri dirumah. (Friedman, 2010).
30