Antijamur Terbaik untuk Granuloma Majocchi
Antijamur Terbaik untuk Granuloma Majocchi
TINEA KORPORIS
Pembimbing:
dr. Andini Dwikenia Anjani, Sp. DV
Disusun Oleh:
Risa Ayu Lestari 2019730151
Andry Dzaqi Ramadhan 2017730008
Muhammad Naufan Faqiih 2019730076
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW atas
berkah, rahmat serta hidayah yang telah diberikan kepada penulis. Dengan segala keterbatasan
dan upaya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas tutorial yang berjudul “Tinea Korporis”
sebagai bentuk untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Kepaniteraan
Klinis Departemen Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Kota Banjar.
Terima kasih penulis ucapkan kepada pembimbing dr. Andini Dwikenia Anjani, [Link]
untuk memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi kepada penulis. Semoga tutorial ini dapat
bermanfaat kepada penulis dan bagi pembaca pada umumnya.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan tutorial ini. Hal
tersebut dikarenakan keterbatasan pengetahuan serta pengalaman yang penulis miliki. Semoga
segala keterbatasan dan kekurangan yang penulis miliki dapat disempurnakan dimasa yang akan
datang.
Penulis
BAB I
KASUS
1.1 Identitas Pasien
Nama : Ny. R
Usia : 54th
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Pataruman
Pekerjaan : IRT
Tanggal pemeriksaan : 9 November 2023
1.2 Anamnesis
A. Keluhan Utama
Terdapat bercak dan bruntus kemerahan bersisik yang terasa gatal pada lipat ketiak kanan
dan kiri.
B. Anamnesis Khusus
Sejak 2 minggu yang lalu, pasien mengeluh terdapat bercak merah dan terasa
gatal pada ketiak yang semakin bertambah dan meluas bertambah lebar hingga menutupi
hampir seluruh ketiak. Bercak merah disertai rasa gatal dan perih yang semakin
bertambah saat berkeringat. Pasien belum pernah berobat sebelumnya.
Keluhan pertama kali timbul sejak 1 bulan yang lalu berupa bercak merah dan
terasa gatal pada ketiak. Lama kelamaan bercak tersebut meluas bertambah lebar hingga
menutupi hampir seluruh ketiak dan lipat paha dan bertambah gatal bila pasien
berkeringat. Pasien belum pernah berobat sebelumnya. Pasien tidak mengkonsumsi obat
obatan dari manapun, karena beranggapan akan sembuh dengan sendirinya.
Kegiatan pasien yaitu mengurus rumah pada pagi hari yang akan menyebabkan
pasien berkeringat dan merasakan gatal. Lingkungan rumah pasien cukup bersih, pasien
mengganti pakaian dalam dua kali sehari. Pemakaian pakaian ketat disangkal. Pasien
rutin mencuci dan mengganti seprai seminggu sekali. Riwayat tukar handuk dengan
istri/keluarga disangkal oleh pasien. Sumber air berasal dari sumur disangkal. Pasien
tidak mempunyai binatang peliharaan. Istri tidak mempunyai keluhan yang serupa
dengan pasien. Tidak ada riwayat kontak dengan penderita keluhan yang sama.
Pasien sudah pernah merasakan keluhan yang sama. Di keluarga pasien tidak ada
yang mempunyai keluhan serupa dengan pasien. Riwayat pemakaian handuk/pakaian
secara bersamaan disangkal. Riwayat keringat berlebih, meminum alkohol, mengonsumsi
obat – obatan atau jamu – jamuan dan stress disangkal oleh pasien. Riwayat diabetes
mellitus disangkal. Riwayat alergi terhadap makanan, debu, cuaca maupun obat – obatan
disangkal oleh pasien. Pasien mempunyai riwayat hipertensi. Pasien tidak mempunyai
keluhan pada area di sekitar kulit yang berambut.
Tanda Vital
Nadi : 80x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,6°C
Status Generalis
Kepala Normocephal
Status Dermatologikus
Distribusi : Regioner
Lokasi Lesi & efloresensi :
Pada kedua lipat ketiak tampak lesi multiple, konfluens, bentuk tidak teratur, berukuran plakat
ukuran terkecil 1 x 4 cm dan ukuran terbesar 10 x 5 cm, lesi berbatas tegas dengan permukaan
mendatar, lesi kering berupa makula eritema berskuama, papul di tepi dengan daerah tengah
lebih tenang, central healing (+)
Pada kedua lipat ketiak
B. Tatalaksana Khusus
a) Topikal
1. Krim ketokonazol 2% dioleskan 2 kali/hari pada lipat paha dan ketiak
b) Sistemik
1. Cetirizin 10mg 1 kali/hari diminum ketika malam hari
2. Itrakonazol 100mg 2 kali/hari (14 hari)
1.10 Prognosis
● Quo ad vitam : ad bonam
● Quo ad functionam : ad bonam
● Quo ad sanactionam : ad bonam
BAB II
ANALISIS KASUS
Keluhan Utama
Kelainan yang dilihat dalam klinik
Terdapat bercak dan bruntus merupakan lesi bulat atau lonjong,
kemerahan bersisik yang terasa berbatas tegas terdiri atas eritema,
gatal pada lipat ketiak kanan skuama, kadang-kadang dengan vesikel
dan kiri. dan papul di tepi. Daerah tengahnya
biasanya lebih tenang. Kadang-kadang
terlihat erosi dan krusta akibat garukan.
Lesi-lesi pada umumnya merupakan
bercak-bercak terpisah satu dengan yang
lain.
sebelumnya. tidak.
Temuan Teori
Temuan Teori
Diagnosis Kerja
Tinea Corporis
Tinea corporis adalah infeksi jamur kulit
superfisial pada tubuh yang disebabkan oleh
dermatofita.
20
Diagnosis Banding
Tatalaksana Khusus
a) Topikal
1. Krim ketokonazol 2% dioleskan 2 kali/hari pada lipat paha dan ketiak
b) Sistemik
1. Cetirizin 10mg 1 kali/hari diminum ketika malam hari
2. Itrakonazol 100mg 2 kali/hari (14 hari)
27
SISTEMIK
Itrakonazol 100mg 2 Terapi oral diperlukan pada infeksi yang lebih luas
kali/hari atau kasus yang pengobatan topikalnya gagal.
Terbinafine oral atau itraconazole biasanya
merupakan pengobatan lini pertama yang dipilih
dan diharapkan dapat mengatasi kondisi ini dalam
waktu sekitar 2 hingga 3 minggu.
28
Cetirizin 1x10mg Obat ini termasuk antihistamin 1 generasi kedua
(malam) yakni antihistamin non-sedatif kerja panjang
yang secara selektif menghambat reseptor
histamin H1 pada sel efektor. Kerja dari AH1
akan menurunkan produksi dari sitokon
pro-inflamasi, ekspresi molekul adhesi,
kemotaksis eosinofil dan sel lainnya.
Antihistamin dapat diberikan sebagai terapi
simtomatis untuk mengatasi rasa gatal yang
berat misalnya eritroderma atau eksantematosa.
(Djuanda, 2016; Husain et al., 2013b; Kang et
al., 2019)
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Tinea corporis adalah infeksi jamur kulit superfisial pada tubuh yang disebabkan
oleh dermatofita. Tinea corporis dapat ditemukan di seluruh dunia. Hal ini secara khusus
ditentukan oleh lokasi lesi yang mungkin melibatkan batang tubuh, leher, lengan, dan
kaki. Nama alternatif digunakan untuk infeksi dermatofita yang mempengaruhi area
tubuh lainnya. Ini termasuk kulit kepala (tinea capitis), wajah (tinea faciei), tangan (tinea
manuum), selangkangan (tinea cruris), dan kaki (tinea pedis).1
B. Etiologi
Dalam beberapa kasus individu, spesies etiologi yang paling umum bergantung
pada metode penularannya. Tinea corporis sekunder akibat Trichophyton tonsurans ( T.
tonsurans ) biasanya terjadi akibat kontak langsung dengan pasien penderita tinea capitis.
Pada tinea capitis, T. tonsurans adalah agen penyebab paling umum di Amerika Serikat
dan Inggris. T. tonsurans juga merupakan temuan umum pada kasus tinea corporis
gladiatorum. Tinea corporis gladiatorum dapat muncul pada atlet dengan kontak kulit
langsung yang luas (biasanya pegulat). Penderita tinea corporis yang kontak dekat dengan
kucing atau anjing umumnya terinfeksi Microsporum canis.1
C. Epidemiologi
Tinea corporis sangat umum terjadi di seluruh dunia. Dermatofit adalah agen
infeksi jamur superfisial yang paling umum. Panas yang berlebihan, kelembapan relatif
yang tinggi, dan pakaian yang ketat memiliki korelasi dengan penyakit yang lebih parah
dan sering terjadi. Populasi tertentu juga lebih rentan terhadap tinea corporis; misalnya
anak-anak. Tinea capitis dan tinea corporis adalah infeksi dermatofita yang paling umum
terjadi pada anak-anak prapubertas. Anak-anak juga lebih mungkin tertular infeksi
zoofilik. Infeksi zoofilik ditularkan melalui kontak dengan hewan seperti kucing dan
anjing. Populasi rentan lainnya adalah pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Pasien immunocompromised juga memiliki peningkatan prevalensi terjadinya granuloma
Majocchi, sejenis folikulitis tinea corporis yang menyerang lapisan dermal dalam berbeda
dengan tinea corporis tradisional yang lebih dangkal.1
D. Gejala Klinis
Pasien biasanya datang dengan ruam merah yang gatal. Ini biasanya muncul pada
kulit leher, batang tubuh, dan/atau ekstremitas yang terbuka. Pada pemeriksaan fisik, lesi
tunggal atau multipel biasanya berbentuk lingkaran atau bulat dengan bercak dan plak.
Lesi annular ini menunjukkan tepian yang tajam dengan tepi bersisik eritematosa yang
menonjol dan mungkin berisi vesikel. Tingkat peradangan bervariasi. Lesi berkembang
secara sentrifugal dari inti, meninggalkan bagian tengah yang bersih dan sisa bersisik
ringan; ini muncul sebagai bentuk "cincin" sehingga menimbulkan istilah "ringworm".1
Tinea korporis (tinea sirsinata, tinea glabrosa, Scherende Flechte, kurap, herpes
sircine trichophytique). Tinea korporis merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh tidak
berambut (glabrous skin). Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau
lonjong, berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan
papul di tepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang. Kadang-kadang terlihat erosi dan
krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu
dengan yang lain. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang
polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Bentuk dengan tanda radang
yang lebih nyata, lebih sering dilihat pada anak-anak daripada orang dewasa karena
umumnya mereka mendapat infeksi baru pertama kali. Pada tinea korporis yang
menahun, tanda radang akut biasanya tidak terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada
tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan pada sela paha. Dalam hal ini
disebut tinea corporis et cruris atau sebaliknya tinea cruris et corporis. Bentuk menahun
yang disebabkan oleh Trichophyton rubrum biasanya dilihat bersama-sama dengan tinea
unguium.2
Bentuk lain tinea korporis yang disertai kelainan pada rambut adalah tinea favosa
atau favus. Penyakit ini biasanya dimulai di kepala sebagai titik kecil di bawah kulit yang
berwarna merah kuning dan berkembang menjadi krusta berbentuk cawan (skutula)
dengan berbagai ukuran. Krusta tersebut biasanya ditembus oleh satu atau dua rambut
dan bila krusta diangkat terlihat dasar yang cekung merah dan membasah. Rambut
kemudian tidak berkilat lagi dan akhirnya terlepas. Bila tidak diobati, penyakit ini meluas
ke seluruh kepala dan meninggalkan parut dan botak. Berlainan dengan tinea korporis,
yang disebabkan oleh jamur lain, favus tidak menyembuh pada usia akil balik. Biasanya
dapat tercium bau tikus (mousy odor) pada para penderita favus. Kadang-kadang
penyakit ini dapat menyerupai dermatitis seboroika. Tinea favosa pada kulit dapat dilihat
sebagai kelainan kulit papulovesikel dan papuloskuamosa , disertai kelainan kulit
berbentuk cawan yang khas , yang kemudian menjadi jaringan parut. Favus pada kuku
tidak dapat dibedakan dengan tinea unguium pada umumnya, yang disebabkan oleh
spesies dermatofita yang lain. Tiga spesies dermatofita dapat menyebabkan favus, yaitu
Trichophyton schoenleinii, Trichophyton violaceum, dan Microsporum gypseum. Berat
ringan bentuk klinis yang tampak, tidak bergantung pada spesies jamur penyebab, akan
tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat kebersihan, umur, dan ketahanan penderita
sendiri.2
E. Patofisiologi
Tidak semua orang memiliki kerentanan yang sama terhadap infeksi jamur, dan
terdapat kecenderungan keluarga dan genetik yang mungkin dimediasi oleh kelainan
spesifik pada imunitas bawaan dan adaptif. Pasien dengan defensin beta 4 yang rendah
mungkin menunjukkan kecenderungan terhadap semua dermatofita. Beberapa faktor
predisposisi lainnya termasuk penyakit yang mendasari seperti diabetes melitus, limfoma,
status imunokompromais, sindrom Cushing, keringat berlebih, atau usia tua. Pandangan
yang dianut saat ini adalah bahwa respon imun yang dimediasi sel bertanggung jawab
untuk mengendalikan dermatofitosis.1
G. Diagnosis Banding
Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit pada tempat predileksi, yaitu daerah
ekstensor, misalnya lutut, siku, dan punggung. Kulit kepala berambut juga sering terkena
pada penyakit ini. Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat pula menolong untuk
menentukan diagnosis. Pityriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan
terbatas pada tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea
korporis tanpa herald patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan tinea korporis.
Pemeriksaan laboratorium yang dapat memastikan diagnosisnya. Tinea korporis
kadang-kadang sukar dibedakan dengan dermatitis seboroika pada sela paha Lesi-lesi di
tempat-tempat predileksi sangat menolong menentukan diagnosis.2
H. Tatalaksana
Terapi oral diperlukan pada infeksi yang lebih luas atau kasus yang pengobatan
topikalnya gagal. Terbinafine oral atau itraconazole biasanya merupakan pengobatan lini
pertama yang dipilih dan diharapkan dapat mengatasi kondisi ini dalam waktu sekitar 2
hingga 3 minggu. Regimen oral yang disarankan mencakup salah satu dari yang berikut
(untuk orang dewasa):1
Prognosis biasanya baik dengan pengobatan yang tepat dan kepatuhan pasien.1
Komplikasi jarang terjadi pada infeksi dermatofita. Salah satu komplikasinya adalah
granuloma Majocchi, yang merupakan suatu kondisi langka di mana dermatofita
menyerang melalui folikel dan berkembang lebih jauh ke dalam dermis atau jaringan
subkutan. Trauma kulit ringan seperti bercukur dapat menyebabkan pasien terkena
granuloma Majocchi. Lesi melibatkan folikel rambut dan tampak sebagai nodul atau
papula eritematosa. Bahkan bisa berkembang menjadi abses. Antijamur oral seperti
terbinafine 250 mg sekali sehari selama 2 hingga 4 minggu merupakan terapi yang
direkomendasikan pada kasus granuloma Majocchi.1
DAFTAR PUSTAKA
1. Yee G, Al Aboud AM. Tinea Corporis. [Updated 2023 Aug 8]. In: StatPearls [Internet].
Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from:
[Link]
2. Widaty S, Budimulja U. Dermatofitosis. In: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta:
FK UI; 2016. p. 109–16.
3. Kara Hawker. Tinea capitis, tinea corporis, and tinea pedis: Pathogenesis and Clinical
Findings. Published February 17, 2020 on [Link]
4. Sri S, Agnes dkk. 2021. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Spesialis Dermatologi Dan
Venerologi Indonesia. Jakarta: PERDOSKI
5. Craddock LN, Schieke SM. Superficial fungal infection. Dalam: Sewon K, Amagai M,
Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ et al, editors. Fitzpatrick’s
dermatology. 9th edition. New York. McGraw Hill Education; 2019, p.2925-51.
6. Elewski BE, et al. Fungal Diseases. Dalam: Bolognia JL, Schaffer JV, and Cerroni L.
Bolognia Dermatology. 4th ed. Elsevier: 2018. p.1329-1346.
7. Hay RJ, Ashbee HR. Fungal infections. Dalam: Griffiths CEM, Barker J, Bleiker T,
Chalmers R, Creamer D, editors. Rook’s textbook of dermatology. 9th edition. West
Sussex: John Wiley & Sons, Ltd; 2016.