0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan29 halaman

Antijamur Terbaik untuk Granuloma Majocchi

Lesi regioner berupa makula eritema dan hiperpigmentasi bersisik yang terasa gatal pada lipat ketiak dan telah berlangsung selama 2 minggu. Pemeriksaan menemukan hifa jamur pada sampel kulit. Diagnosis kerja adalah tinea korporis.

Diunggah oleh

Bidan Nani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan29 halaman

Antijamur Terbaik untuk Granuloma Majocchi

Lesi regioner berupa makula eritema dan hiperpigmentasi bersisik yang terasa gatal pada lipat ketiak dan telah berlangsung selama 2 minggu. Pemeriksaan menemukan hifa jamur pada sampel kulit. Diagnosis kerja adalah tinea korporis.

Diunggah oleh

Bidan Nani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUTORIAL

TINEA KORPORIS

Pembimbing:
dr. Andini Dwikenia Anjani, Sp. DV

Disusun Oleh:
Risa Ayu Lestari 2019730151
Andry Dzaqi Ramadhan 2017730008
Muhammad Naufan Faqiih 2019730076

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BANJAR
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
PERIODE 23 OKTOBER – 26 NOVEMBER 2023
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW atas
berkah, rahmat serta hidayah yang telah diberikan kepada penulis. Dengan segala keterbatasan
dan upaya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas tutorial yang berjudul “Tinea Korporis”
sebagai bentuk untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Kepaniteraan
Klinis Departemen Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Kota Banjar.
Terima kasih penulis ucapkan kepada pembimbing dr. Andini Dwikenia Anjani, [Link]
untuk memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi kepada penulis. Semoga tutorial ini dapat
bermanfaat kepada penulis dan bagi pembaca pada umumnya.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penulisan tutorial ini. Hal
tersebut dikarenakan keterbatasan pengetahuan serta pengalaman yang penulis miliki. Semoga
segala keterbatasan dan kekurangan yang penulis miliki dapat disempurnakan dimasa yang akan
datang.

Banjar, 12 November 2023

Penulis
BAB I
KASUS
1.1 Identitas Pasien
Nama : Ny. R
Usia : 54th
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Pataruman
Pekerjaan : IRT
Tanggal pemeriksaan : 9 November 2023
1.2 Anamnesis
A. Keluhan Utama
Terdapat bercak dan bruntus kemerahan bersisik yang terasa gatal pada lipat ketiak kanan
dan kiri.
B. Anamnesis Khusus
Sejak 2 minggu yang lalu, pasien mengeluh terdapat bercak merah dan terasa
gatal pada ketiak yang semakin bertambah dan meluas bertambah lebar hingga menutupi
hampir seluruh ketiak. Bercak merah disertai rasa gatal dan perih yang semakin
bertambah saat berkeringat. Pasien belum pernah berobat sebelumnya.
Keluhan pertama kali timbul sejak 1 bulan yang lalu berupa bercak merah dan
terasa gatal pada ketiak. Lama kelamaan bercak tersebut meluas bertambah lebar hingga
menutupi hampir seluruh ketiak dan lipat paha dan bertambah gatal bila pasien
berkeringat. Pasien belum pernah berobat sebelumnya. Pasien tidak mengkonsumsi obat
obatan dari manapun, karena beranggapan akan sembuh dengan sendirinya.
Kegiatan pasien yaitu mengurus rumah pada pagi hari yang akan menyebabkan
pasien berkeringat dan merasakan gatal. Lingkungan rumah pasien cukup bersih, pasien
mengganti pakaian dalam dua kali sehari. Pemakaian pakaian ketat disangkal. Pasien
rutin mencuci dan mengganti seprai seminggu sekali. Riwayat tukar handuk dengan
istri/keluarga disangkal oleh pasien. Sumber air berasal dari sumur disangkal. Pasien
tidak mempunyai binatang peliharaan. Istri tidak mempunyai keluhan yang serupa
dengan pasien. Tidak ada riwayat kontak dengan penderita keluhan yang sama.
Pasien sudah pernah merasakan keluhan yang sama. Di keluarga pasien tidak ada
yang mempunyai keluhan serupa dengan pasien. Riwayat pemakaian handuk/pakaian
secara bersamaan disangkal. Riwayat keringat berlebih, meminum alkohol, mengonsumsi
obat – obatan atau jamu – jamuan dan stress disangkal oleh pasien. Riwayat diabetes
mellitus disangkal. Riwayat alergi terhadap makanan, debu, cuaca maupun obat – obatan
disangkal oleh pasien. Pasien mempunyai riwayat hipertensi. Pasien tidak mempunyai
keluhan pada area di sekitar kulit yang berambut.

1.3 Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan
Kesadaran : Compos Mentis
Berat Badan : 69 kg
Tinggi Badan : 165 cm

Tanda Vital
Nadi : 80x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36,6°C

Status Generalis

Kepala Normocephal

Mata Konjungtiva anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/(-)

Hidung Deviasi septum (-), sekret (-)

Telinga Normotia, sekret (-)/(-), nyeri tekan (-)/(-)

Mulut Mukosa bibir lembab, stomatitis (-)


Leher Pembesaran KGB (-), lesi (-)

Thoraks Dbn, lesi (-)

Abdomen Dbn, lesi (+)

Ekstremitas Lihat status dermatologikus

Status Dermatologikus
Distribusi : Regioner
Lokasi Lesi & efloresensi :
Pada kedua lipat ketiak tampak lesi multiple, konfluens, bentuk tidak teratur, berukuran plakat
ukuran terkecil 1 x 4 cm dan ukuran terbesar 10 x 5 cm, lesi berbatas tegas dengan permukaan
mendatar, lesi kering berupa makula eritema berskuama, papul di tepi dengan daerah tengah
lebih tenang, central healing (+)
Pada kedua lipat ketiak

1.4 Pemeriksaan Penunjang


Dilakukan pemeriksaan kerokan kulit dengan KOH 10%, ditemukan hifa panjang, dan
bercabang
1.5 Resume
Pasien perempuan berusia 45 tahun, beralamat di Pataruman, Kota Banjar, beragama
islam dan bersuku sunda, datang ke poli Kulit dan Kelamin RSU Kota Banjar pada
tanggal 9 November 2023 dengan keluhan sejak 1 bulan yang lalu berupa makula eritema
dan makula hiperpigmentasi dengan skuama yang terasa gatal dan perih yang awalnya
timbul pada ketiak yang semakin bertambah dan meluas bertambah lebar hingga
menutupi hampir seluruh ketiak Riwayat pengobatan tidak ada. Sejak 2 minggu yang
lalu, lesi makula eritema dan makula hiperpigmentasi dengan skuama yang terasa gatal
dan perih pada ketiak. Pasien menyatakan keluhan semakin bertambah saat berkeringat.
Pasien belum mengobati keluhan karena menganggap akan sembuh sendiri. Anamnesis
keluhan kearah Eritrasma disangkal. Keluhan kearah Kandidiasis Intertriginosa
disangkal. Pada pemeriksaan tanda vital dan status generalisata dalam batas normal. Pada
status dermatologikus didapatkan hasil lesi regioner pada kedua lipat paha dan ketiak
tampak lesi multiple, konfluen, dengan bentuk tidak teratur, dengan ukuran terkecil 1 x 4
cm dan ukuran terbesar 10 x 5 cm pada ketiak, lesi berbatas tegas dengan permukaan
mendatar, lesi kering berupa makula eritema dan makula hiperpigmentasi dengan
skuama.
1.6 Usulan Pemeriksaan
● Kultur jamur
● Pemeriksaan Lampu wood
1.7 Diagnosis Banding
● Eritrasma
● Kandidiosis Intertriginosa
1.8 Diagnosis Kerja
● Tinea Korporis
1.9 Tatalaksana
A. Tatalaksana Umum
● Menjaga kelembapan dan kebersihan kulit
● Menghindari pemakaian handuk/pakaian secara bersamaan
● Mematuhi pengobatan yang diberikan
● Menggunakan pakaian yang tidak ketat dan menyerap keringat
● Pastikan kulit dalam keadaan kering sebelum menutup area yang rentan terinfeksi jamur
● Mengeringkan tubuh setelah mandi atau berkeringat

B. Tatalaksana Khusus
a) Topikal
1. Krim ketokonazol 2% dioleskan 2 kali/hari pada lipat paha dan ketiak
b) Sistemik
1. Cetirizin 10mg 1 kali/hari diminum ketika malam hari
2. Itrakonazol 100mg 2 kali/hari (14 hari)

1.10 Prognosis
● Quo ad vitam : ad bonam
● Quo ad functionam : ad bonam
● Quo ad sanactionam : ad bonam
BAB II
ANALISIS KASUS

[Link] Diagnosis Kasus


A. Analisis Anamnesis
Analisis Anamnesis

Temuan Anamnesis Tinjauan Pustaka

Keluhan Utama
Kelainan yang dilihat dalam klinik
Terdapat bercak dan bruntus merupakan lesi bulat atau lonjong,
kemerahan bersisik yang terasa berbatas tegas terdiri atas eritema,
gatal pada lipat ketiak kanan skuama, kadang-kadang dengan vesikel
dan kiri. dan papul di tepi. Daerah tengahnya
biasanya lebih tenang. Kadang-kadang
terlihat erosi dan krusta akibat garukan.
Lesi-lesi pada umumnya merupakan
bercak-bercak terpisah satu dengan yang
lain.

Kelainan kulit dapat pula terlihat


sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang
polisiklik, karena beberapa lesi kulit
yang menjadi satu. Bentuk dengan tanda
radang yang lebih nyata, lebih sering
dilihat pada anak-anak daripada orang
dewasa karena umumnya mereka
mendapat infeksi baru pertama kali.
Riwayat Penyakit Sekarang
Lingkaran-lingkaran skuama konsentris
● Sejak 2 minggu yang
bila menjadi besar dapat bertemu
lalu, pasien mengeluh
dengan lingkaran-lingkaran di
terdapat bercak merah
dan terasa gatal pada sebelahnya sehingga membentuk pinggir

ketiak yang semakin yang polisiklik.

bertambah dan meluas


Pada permulaan infeksi penderita dapat
bertambah lebar hingga
merasa sangat gatal , akan tetapi
menutupi hampir
kelainan yang menahun tidak
seluruh ketiak. Bercak
menimbulkan keluhan pada penderita.
merah disertai rasa
Pada kasus menahun, lesi kulit
gatal dan perih yang
kadang-kadang dapat menyerupai
semakin bertambah saat
iktiosis. Kulit kepala penderita dapat
berkeringat. Pasien
belum pernah berobat terserang , akan tetapi rambut biasanya

sebelumnya. tidak.

● Kegiatan pasien yaitu


mengurus rumah pada
pagi hari yang akan
menyebabkan pasien
berkeringat dan
merasakan gatal.
Lingkungan rumah
pasien cukup bersih,
pasien mengganti
pakaian dalam dua kali
sehari.
Status Dermatologikus
Lesi-lesi pada umumnya merupakan
Pada kedua lipat ketiak
bercak-bercak terpisah satu dengan yang
tampak lesi multiple,
lain. Kelainan kulit dapat pula terlihat
konfluens, bentuk tidak
sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang
teratur, berukuran plakat
ukuran terkecil 1 x 4 cm dan polisiklik, karena beberapa lesi kulit

ukuran terbesar 10 x 5 cm, yang menjadi satu.

lesi berbatas tegas dengan


Lingkaran-lingkaran skuama konsentris
permukaan mendatar, lesi
bila menjadi besar dapat bertemu
kering berupa makula eritema
dengan lingkaran-lingkaran di
berskuama, papul di tepi
sebelahnya sehingga membentuk pinggir
dengan daerah tengah lebih
yang polisiklik.
tenang, central healing (+)

Lesi berkembang secara sentrifugal dari


inti, meninggalkan bagian tengah yang
bersih dan sisa bersisik ringan; ini
muncul sebagai bentuk "cincin"
sehingga menimbulkan istilah
"ringworm".
C. Analisis Pemeriksaan Penunjang
Analisis Pemeriksaan Penunjang

Temuan Teori

Dilakukan pemeriksaan kerokan


• Pemeriksaan sediaan langsung
kulit dengan KOH 10%, ditemukan
hifa panjang, dan bercabang kerokan kulit menggunakan
mikroskop dan KOH 10%:
tampak hifa panjang dan
4,5,6
artrospora. Sediaan dari
batang rambut di área lesi pada
infeksi ektotriks, meskipun hifa
dapat ditemukan dalam batang
rambut, tetapi yang dapat
terlihat hanya artrokonidia
pada permukaan batang rambut
dan kutikula yang rusak.
D. Analisis Diagnosis
Dasar Diagnosis

Temuan Teori

Diagnosis Kerja

Tinea Corporis
Tinea corporis adalah infeksi jamur kulit
superfisial pada tubuh yang disebabkan oleh
dermatofita.

Kemampuan dermatofita untuk menempel pada


jaringan kulit yang mengalami keratinisasi
menjadi dasar terjadinya dermatofitosis (infeksi
jamur kulit superfisial). Dermatofita yang
menyebabkan tinea corporis termasuk dalam
genera Trichophyton, Epidermophyton, dan
Microsporum. Trichophyton rubrum merupakan
spesies yang paling umum menyebabkan infeksi
dermatofita dalam 70 tahun terakhir.

Pada pemeriksaan fisik, lesi tunggal atau multipel


biasanya berbentuk lingkaran atau bulat dengan
bercak dan plak. Lesi annular ini menunjukkan
tepian yang tajam dengan tepi bersisik
eritematosa yang menonjol dan mungkin berisi
vesikel. Tingkat peradangan bervariasi. Lesi
berkembang secara sentrifugal dari inti,
meninggalkan bagian tengah yang bersih dan sisa
bersisik ringan; ini muncul sebagai bentuk
"cincin" sehingga menimbulkan istilah
"ringworm".1
19
Pemeriksaan penunjang
1. KOH 10-20%
2. Lampu Wood
3. Kultur Media (Sabouraud)
4. Histopatologi
5. Dermoskopi
6. PCR

20
Diagnosis Banding

Eritrasma Eritrasma adalah infeksi kulit superfisial yang


disebabkan oleh Corynebacterium
minutissimum, bakteri gram positif katalase
positif tanpa spora. Infeksi bakteri umumnya
memberikan gambaran klinis berupa lesi pada
area intertriginosa, menyebabkan gatal, skuama,
dan eritema.
Pada pemeriksaan fisik, lesi dapat berupa plak
atau patch eritematosa atau berwarna
kecoklatan yang berbatas tegas dan berskuama
halus. Perluasan lesi terlihat pada pinggir yang
eritema dan serpiginosa. Terkadang juga
ditemukan likenifikasi dan hiperpigmentasi.
Predileksi eritrasma adalah pada area
interdigital kaki. Akan tetapi, Corynebacterium
minutissimum juga bisa menginfeksi daerah
intertriginosa lain, termasuk lipat paha dalam,
skrotum, aksilla, dan intergluteal. Eritrasma
sering ditemukan bersamaan dengan
kandidiasis.

Penegakkan diagnosis eritrasma dapat


dilakukan dengan lampu Wood. Pada
penyinaran, eritrasma akan menampakkan
pendaran warna coral red akibat zat
coproporphyrin III yang dihasilkan oleh
Corynebacterium minutissimum.

Kandidiasis Candida albicans memiliki predileksi berkoloni


intertrigininosa
pada lipatan kulit yang lembab dan lecet yaitu di
wilayah intertriginosa. Lokasi yang umum yaitu
pada area genitokrural, ketiak, pantat, antar jari,
dan dibawah payudara. Faktor predisposisi antara
lain kegemukan, menggunakan pakaian yang
ketat, dan diabetes mellitus.

Kandidosis kutis tampak sebagai kulit gatal yang


eritema dan terdapat maserasi pada area
intertriginosa dengan lesi satelit berupa
vesikopustul. Pustule ini pecah dan meniggalkan
dasar yang eritema dengan keloret yang
epidermisnya mudah terlepas.'
23
Varian dari kandidosis intertriginosa disebutkan
secara khusus, antara lain candidal diaper
dermatitis yang disebabkan oleh kolonisasi ragi
dari traktus gastrointestinal. Oklusi kronis oleh
diaper basah mempermudah terjadi infeksi. Lesi
muncul pertama kali di area perianal dan meluas
ke perineum dan lipat inguinal yang tampak
sangat eritema. Sering terdapat pada bayi yang
popoknya selalu basah dan jarang diganti yang
dapat menimbulkan dermatitis iritan, juga sering
diderita neonates sebagai gejala sisa dermatitis
oral dan perianal. Erosio interdigitalis
blastomycetica merujuk pada kandida interdigital
atau infeksi polimokroba dari tangan dan kaki
biasanya pada sela jari 3 dan 4. Candida miliaria
sering mengenai punggung pasien yang
berbaring lama. Lesi awal berupa vesikopustul
yang mengandung sel ragi.

Candida juga bisa berkolonisasi dan menginfeksi


kulit di sekitar luka yang ditutup dengan ketat.
Antibiotic topical spectrum luas juga memberi
kontribusi tehadap infeksi
luka oleh candida.
[Link] Penatalaksanaan
Tatalaksana Umum

● Menjaga kelembapan dan kebersihan kulit


● Menghindari pemakaian handuk/pakaian secara bersamaan
● Mematuhi pengobatan yang diberikan
● Menggunakan pakaian yang tidak ketat dan menyerap keringat
● Pastikan kulit dalam keadaan kering sebelum menutup area yang rentan terinfeksi jamur
● Mengeringkan tubuh setelah mandi atau berkeringat

Tatalaksana Khusus
a) Topikal
1. Krim ketokonazol 2% dioleskan 2 kali/hari pada lipat paha dan ketiak
b) Sistemik
1. Cetirizin 10mg 1 kali/hari diminum ketika malam hari
2. Itrakonazol 100mg 2 kali/hari (14 hari)

27
SISTEMIK

Itrakonazol 100mg 2 Terapi oral diperlukan pada infeksi yang lebih luas
kali/hari atau kasus yang pengobatan topikalnya gagal.
Terbinafine oral atau itraconazole biasanya
merupakan pengobatan lini pertama yang dipilih
dan diharapkan dapat mengatasi kondisi ini dalam
waktu sekitar 2 hingga 3 minggu.
28
Cetirizin 1x10mg Obat ini termasuk antihistamin 1 generasi kedua
(malam) yakni antihistamin non-sedatif kerja panjang
yang secara selektif menghambat reseptor
histamin H1 pada sel efektor. Kerja dari AH1
akan menurunkan produksi dari sitokon
pro-inflamasi, ekspresi molekul adhesi,
kemotaksis eosinofil dan sel lainnya.
Antihistamin dapat diberikan sebagai terapi
simtomatis untuk mengatasi rasa gatal yang
berat misalnya eritroderma atau eksantematosa.
(Djuanda, 2016; Husain et al., 2013b; Kang et
al., 2019)
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. TINEA CORPORIS

A. Definisi

Tinea corporis adalah infeksi jamur kulit superfisial pada tubuh yang disebabkan
oleh dermatofita. Tinea corporis dapat ditemukan di seluruh dunia. Hal ini secara khusus
ditentukan oleh lokasi lesi yang mungkin melibatkan batang tubuh, leher, lengan, dan
kaki. Nama alternatif digunakan untuk infeksi dermatofita yang mempengaruhi area
tubuh lainnya. Ini termasuk kulit kepala (tinea capitis), wajah (tinea faciei), tangan (tinea
manuum), selangkangan (tinea cruris), dan kaki (tinea pedis).1

B. Etiologi

Kemampuan dermatofita untuk menempel pada jaringan kulit yang mengalami


keratinisasi menjadi dasar terjadinya dermatofitosis (infeksi jamur kulit superfisial).
Dermatofita yang menyebabkan tinea corporis termasuk dalam genera Trichophyton,
Epidermophyton, dan Microsporum. Trichophyton rubrum merupakan spesies yang
paling umum menyebabkan infeksi dermatofita dalam 70 tahun terakhir. T. Rubrum
menyumbang 80 hingga 90% strain. Isolat umum lainnya termasuk Trichophyton
mentagrophytes dan Microsporum audouinii. Infeksi biasanya terjadi melalui kontak
langsung dengan kulit dari tanah, hewan, atau kulit manusia lainnya.1

Dalam beberapa kasus individu, spesies etiologi yang paling umum bergantung
pada metode penularannya. Tinea corporis sekunder akibat Trichophyton tonsurans ( T.
tonsurans ) biasanya terjadi akibat kontak langsung dengan pasien penderita tinea capitis.
Pada tinea capitis, T. tonsurans adalah agen penyebab paling umum di Amerika Serikat
dan Inggris. T. tonsurans juga merupakan temuan umum pada kasus tinea corporis
gladiatorum. Tinea corporis gladiatorum dapat muncul pada atlet dengan kontak kulit
langsung yang luas (biasanya pegulat). Penderita tinea corporis yang kontak dekat dengan
kucing atau anjing umumnya terinfeksi Microsporum canis.1
C. Epidemiologi

Tinea corporis sangat umum terjadi di seluruh dunia. Dermatofit adalah agen
infeksi jamur superfisial yang paling umum. Panas yang berlebihan, kelembapan relatif
yang tinggi, dan pakaian yang ketat memiliki korelasi dengan penyakit yang lebih parah
dan sering terjadi. Populasi tertentu juga lebih rentan terhadap tinea corporis; misalnya
anak-anak. Tinea capitis dan tinea corporis adalah infeksi dermatofita yang paling umum
terjadi pada anak-anak prapubertas. Anak-anak juga lebih mungkin tertular infeksi
zoofilik. Infeksi zoofilik ditularkan melalui kontak dengan hewan seperti kucing dan
anjing. Populasi rentan lainnya adalah pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Pasien immunocompromised juga memiliki peningkatan prevalensi terjadinya granuloma
Majocchi, sejenis folikulitis tinea corporis yang menyerang lapisan dermal dalam berbeda
dengan tinea corporis tradisional yang lebih dangkal.1

D. Gejala Klinis

Pasien biasanya datang dengan ruam merah yang gatal. Ini biasanya muncul pada
kulit leher, batang tubuh, dan/atau ekstremitas yang terbuka. Pada pemeriksaan fisik, lesi
tunggal atau multipel biasanya berbentuk lingkaran atau bulat dengan bercak dan plak.
Lesi annular ini menunjukkan tepian yang tajam dengan tepi bersisik eritematosa yang
menonjol dan mungkin berisi vesikel. Tingkat peradangan bervariasi. Lesi berkembang
secara sentrifugal dari inti, meninggalkan bagian tengah yang bersih dan sisa bersisik
ringan; ini muncul sebagai bentuk "cincin" sehingga menimbulkan istilah "ringworm".1

Tinea korporis (tinea sirsinata, tinea glabrosa, Scherende Flechte, kurap, herpes
sircine trichophytique). Tinea korporis merupakan dermatofitosis pada kulit tubuh tidak
berambut (glabrous skin). Kelainan yang dilihat dalam klinik merupakan lesi bulat atau
lonjong, berbatas tegas terdiri atas eritema, skuama, kadang-kadang dengan vesikel dan
papul di tepi. Daerah tengahnya biasanya lebih tenang. Kadang-kadang terlihat erosi dan
krusta akibat garukan. Lesi-lesi pada umumnya merupakan bercak-bercak terpisah satu
dengan yang lain. Kelainan kulit dapat pula terlihat sebagai lesi-lesi dengan pinggir yang
polisiklik, karena beberapa lesi kulit yang menjadi satu. Bentuk dengan tanda radang
yang lebih nyata, lebih sering dilihat pada anak-anak daripada orang dewasa karena
umumnya mereka mendapat infeksi baru pertama kali. Pada tinea korporis yang
menahun, tanda radang akut biasanya tidak terlihat lagi. Kelainan ini dapat terjadi pada
tiap bagian tubuh dan bersama-sama dengan kelainan pada sela paha. Dalam hal ini
disebut tinea corporis et cruris atau sebaliknya tinea cruris et corporis. Bentuk menahun
yang disebabkan oleh Trichophyton rubrum biasanya dilihat bersama-sama dengan tinea
unguium.2

Bentuk khas tinea korporis yang disebabkan oleh Trichophyton concentricum


disebut tinea imbrikata. Penyakit ini terdapat di berbagai daerah tertentu di Indonesia ,
misalnya Kalimantan, Sulawesi, Papua, Kepulauan Aru dan Kei, dan Sulawesi Tengah.
Tinea imbrikata mulai dengan bentuk papul berwarna coklat, yang perlahan-lahan
menjadi besar. Stratum komeum bagian tengah ini terlepas dari dasarnya dan melebar.
Proses ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk
lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris. Bila dengan jari tangan kita meraba dari
bagian tengah ke arah luar, akan terasa jelas skuama yang menghadap ke dalam.
Lingkaran-lingkaran skuama konsentris bila menjadi besar dapat bertemu dengan
lingkaran-lingkaran di sebelahnya sehingga membentuk pinggir yang polisiklik. Pada
permulaan infeksi penderita dapat merasa sangat gatal , akan tetapi kelainan yang
menahun tidak menimbulkan keluhan pada penderita. Pada kasus menahun, lesi kulit
kadang-kadang dapat menyerupai iktiosis. Kulit kepala penderita dapat terserang , akan
tetapi rambut biasanya tidak.2

Bentuk lain tinea korporis yang disertai kelainan pada rambut adalah tinea favosa
atau favus. Penyakit ini biasanya dimulai di kepala sebagai titik kecil di bawah kulit yang
berwarna merah kuning dan berkembang menjadi krusta berbentuk cawan (skutula)
dengan berbagai ukuran. Krusta tersebut biasanya ditembus oleh satu atau dua rambut
dan bila krusta diangkat terlihat dasar yang cekung merah dan mem​​basah. Rambut
kemudian tidak berkilat lagi dan akhirnya terlepas. Bila tidak diobati, penyakit ini meluas
ke seluruh kepala dan meninggalkan parut dan botak. Berlainan dengan tinea korporis,
yang disebabkan oleh jamur lain, favus tidak menyembuh pada usia akil balik. Biasanya
dapat tercium bau tikus (mousy odor) pada para penderita favus. Kadang-kadang
penyakit ini dapat menyerupai dermatitis seboroika. Tinea favosa pada kulit dapat dilihat
sebagai kelainan kulit papulovesikel dan papuloskuamosa , disertai kelainan kulit
berbentuk cawan yang khas , yang kemudian menjadi jaringan parut. Favus pada kuku
tidak dapat dibedakan dengan tinea unguium pada umumnya, yang disebabkan oleh
spesies dermatofita yang lain. Tiga spesies dermatofita dapat menyebabkan favus, yaitu
Trichophyton schoenleinii, Trichophyton violaceum, dan Microsporum gypseum. Berat
ringan bentuk klinis yang tampak, tidak bergantung pada spesies jamur penyebab, akan
tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat kebersihan, umur, dan ketahanan penderita
sendiri.2

E. Patofisiologi

Tidak semua orang memiliki kerentanan yang sama terhadap infeksi jamur, dan
terdapat kecenderungan keluarga dan genetik yang mungkin dimediasi oleh kelainan
spesifik pada imunitas bawaan dan adaptif. Pasien dengan defensin beta 4 yang rendah
mungkin menunjukkan kecenderungan terhadap semua dermatofita. Beberapa faktor
predisposisi lainnya termasuk penyakit yang mendasari seperti diabetes melitus, limfoma,
status imunokompromais, sindrom Cushing, keringat berlebih, atau usia tua. Pandangan
yang dianut saat ini adalah bahwa respon imun yang dimediasi sel bertanggung jawab
untuk mengendalikan dermatofitosis.1

Gambar 3.1 Patogenesis dan Temuan Klinis Pada Tinea Corporis 3


F. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan mikologik untuk membantu menegakkan diagnosis terdiri atas


pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pemeriksaan lain, misalnya
pemeriksaan histopatologik, percobaan binatang, dan imunologik tidak diperlukan. Bahan
untuk pemeriksaan mikologik diambil dan dikumpulkan kemudian dibuat sediaan
basahnya. sediaan basah dibuat dengan meletakkan bahan di atas gelas alas, kemudian
ditambah 1-2 tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH untuk sediaan rambut adalah
10% dan untuk kulit dan kuku 20%. Setelah sediaan dicampur dengan larutan KOH,
ditunggu 15-20 menit hal ini diperlukan untuk melarutkan jaringan. Pada sediaan kulit
dan kuku yang terlihat adalah hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan
bercabang, maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit lama dan/atau sudah
diobati. Pada sediaan rambut yang dilihat adalah spora kecil (mikrospora) atau besar
(makrospora). Spora dapat tersusun di luar rambut (ektotriks) atau di dalam rambut
(endotriks). Kadang-kadang dapat terlihat juga hifa pada sediaan rambut.2

Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk menyokong pemeriksaan


langsung sediaan basah dan untuk menentukan spesies jamur. Pemeriksaan ini dilakukan
dengan menanamkan bahan klinis pada media buatan. Yang dianggap paling baik pada
waktu ini adalah medium agar dekstrosa Sabouraud. Pada agar Sabouraud dapat
ditambahkan antibiotik saja (kloramfenikol) atau ditambah pula klorheksimid. Kedua zat
tersebut diperlukan untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur
kontaminan.2

1. Pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit menggunakan mikroskop dan KOH


20%: tampak hifa panjang dan artrospora.4,5,6 Sediaan dari batang rambut di área
lesi pada infeksi ektotriks, meskipun hifa dapat ditemukan dalam batang rambut,
tetapi yang dapat terlihat hanya artrokonidia pada permukaan batang rambut dan
kutikula yang rusak.4,5
2. Lampu Wood akan berfluoresensi kuning-hijau pada batang rambut yang
terinfeksi Microsporum canis, M. Audouinii, M. distortum, dan M. ferrugineum.
Pada infeksi favus dengan penyebab T. Schoenleinii akan berfluoresensi biru-
keabuan.4,5
3. Pemeriksaan kultur dengan media: 4,5,7
● Media Sabouraud (4% pepton, 1% glukosa, agar, air)
● Media Saboraud Modifikasi (ditambahkan dengan kloramfenikol,
sikloheksimid, gentamisin)
4. Pemeriksaan histopatologi dengan pewarnaan PAS dan methenamine perak.
Grocott untuk mendeteksi elemen jamur dalam bagian jaringan.4,5,7 Tampak hifa di
sekitar dan di dalam batang rambut. Pada lesi kerion, jamur penyebab dapat tidak
tampak karena respon pejamu yang kuat menghancurkan organisme tersebut. 4,5
5. Dermoskopi/trikoskopi dengan mengevaluasi skuama perifolikular dan 3
gambaran rambut distrofi (comma hair, black dot, short-broken hair). Pada infeksi
T. tonsurans tampak multiple comma-shaped hairs sedangkan infeksi M. canis
tampak distrofi skalp dan elbow-shaped hairs, dan berbagai tingkat ketinggian
rambut yang patah.4
6. Jika hasil kultur tidak dapat dinilai dapat dipertimbangkan pemeriksaan
Polimerase Chain Reaction (PCR).4

G. Diagnosis Banding

Penyakit yang termasuk dalam diagnosis banding mungkin menyerupai


penampakan tinea corporis. Ini juga biasanya muncul dengan lesi annular. Kasus-kasus
yang refrakter terhadap pengobatan antijamur atau memiliki hasil pemeriksaan
mikroskopis kalium hidroksida negatif harus memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
Selain itu, dokter harus menyingkirkan kondisi lain yang lebih serius jika terdapat
penyakit parah seperti keterlibatan kulit yang luas. Penyakit umum lainnya yang mungkin
muncul serupa termasuk eksim nummular, eritema annulare centrifugum, tinea
versicolor, kandidiasis kulit, lupus eritematosus kulit subakut, pitiriasis rosea, dermatitis
kontak, dermatitis atopik, dermatitis seboroik, psoriasis.1
Dermatitis numularis, psoriasis, eritema anular sentrifugum, lupus eritematosus
kutaneus subakut, pityriasis rosea, dermatitis atopik.4 Tidaklah begitu sukar untuk
menentukan diagnosis tinea korporis pada umumnya, namun ada beberapa penyakit kulit
yang dapat mericuhkan diagnosis itu , misalnya dermatitis seboroik, psoriasis, dan
pityriasis rosea. Kelainan kulit pada dermatitis seboroika selain dapat menyerupai tinea
korporis, biasanya dapat terlihat pada tempat- tempat predileksi, misalnya di kulit kepala
(scalp), lipatan-lipatan kulit, misalnya belakang telinga, daerah nasolabial, dan
sebagainya.2

Psoriasis dapat dikenal dari kelainan kulit pada tempat predileksi, yaitu daerah
ekstensor, misalnya lutut, siku, dan punggung. Kulit kepala berambut juga sering terkena
pada penyakit ini. Adanya lekukan-lekukan pada kuku dapat pula menolong untuk
menentukan diagnosis. Pityriasis rosea, yang distribusi kelainan kulitnya simetris dan
terbatas pada tubuh dan bagian proksimal anggota badan, sukar dibedakan dengan tinea
korporis tanpa herald patch yang dapat membedakan penyakit ini dengan tinea korporis.
Pemeriksaan laboratorium yang dapat memastikan diagnosisnya. Tinea korporis
kadang-kadang sukar dibedakan dengan dermatitis seboroika pada sela paha Lesi-lesi di
tempat-tempat predileksi sangat menolong menentukan diagnosis.2

H. Tatalaksana

Tersedia bermacam pengobatan topikal maupun sistemik untuk berbagai tipe


dermatofitosis. Sejalan dengan penetrasi dermatofita ke dalam folikel rambut, maka
lnfeksi yang mengenai daerah berambut memerlukan pengobatan oral. Obat per oral yang
efektif untuk dermatofitosis yaitu ketokonazol yang bersifat fungistatik. Obat tersebut
dapat diberikan sebanyak 200 mg/ hari selama 10 hari-2 minggu pada pagi hari setelah
makan. Ketokonazol merupakan kontraindikasi untuk penderita kelainan hepar. Sebagai
pengganti ketokonazol yang mempunyai sifat hepatotoksik terutama bila diberikan lebih
dari sepuluh hari, dapat diberikan suatu obat triazol yaitu itrakonazol yang merupakan
pemilihan yang baik. Pemberian obat tersebut untuk penyakit kul it dan selaput lendir
oleh penyakitjamur biasanya cukup 2 x 100-200 mg sehari dalam kapsul selama 3 hari.
Pada pasien juga dapat diberikan antijamur topikal baik yang konservatif seperti asam
salisilat 2-4%, asam benzoat 6-12%, sulfur 4- 6%, vioform 3%, asam undesilenat 2-5%,
maupun obat-obatan baru seperti tolnaftat 2%; tolsiklat, haloprogin, derivat-derivat
imidazol, siklopiroksolamin, dan naftifine masing-masing 1%.2

Pengobatan infeksi dermatofita biasanya melibatkan penggunaan sediaan topikal


atau oral. Tinea corporis yang terlokalisasi biasanya merespons terapi topikal yang
biasanya diterapkan sekali atau dua kali sehari, biasanya selama dua hingga tiga minggu.
Namun, titik akhir terapi adalah resolusi klinis dari gejalanya. Secara umum, nistatin
topikal tidak efektif untuk tinea corporis. Regimen topikal yang disarankan mencakup
salah satu dari berikut ini:1

● Klotrimazol: krim/salep/larutan 1% dioleskan dua kali sehari


● Ketoconazole: krim/sampo/gel/busa 2% dioleskan sekali sehari
● Miconazole: krim/salep/larutan/lotion/bubuk 2% dioleskan dua kali sehari
● Naftifine: krim 1%, dioleskan sekali sehari atau gel 1% atau 2% dua kali sehari
● Terbinafine: larutan krim/gel/semprotan 1% sekali atau dua kali sehari

Terapi oral diperlukan pada infeksi yang lebih luas atau kasus yang pengobatan
topikalnya gagal. Terbinafine oral atau itraconazole biasanya merupakan pengobatan lini
pertama yang dipilih dan diharapkan dapat mengatasi kondisi ini dalam waktu sekitar 2
hingga 3 minggu. Regimen oral yang disarankan mencakup salah satu dari yang berikut
(untuk orang dewasa):1

● Terbinafine: 250 mg per oral sekali sehari selama dua minggu


● Itrakonazol: 100 mg sekali sehari selama 2 minggu atau 200 mg sekali sehari
selama satu minggu; berikan kapsul dengan makanan
● Flukonazol: 150 hingga 200 mg sekali seminggu atau 50 hingga 100 mg/hari
selama 2 hingga 4 minggu
● Griseofulvin: 500 hingga 1000 mg sekali sehari selama 2 hingga 4 minggu
I. Pencegahan dan Edukasi Pasien

Edukasi yang terpenting adalah mencegah tinea corporis. Pasien mungkin


dianjurkan untuk mengenakan pakaian yang ringan dan longgar. Menjaga kulit tetap
bersih dan kering juga akan membantu mencegah perkembangan tinea corporis. Selain
itu, pada awal pengobatan antijamur topikal, kepatuhan perlu didorong; namun, hasilnya
biasanya tidak langsung terlihat. Pasien mungkin perlu diingatkan bahwa bahkan dengan
pengobatan yang tepat, mungkin diperlukan waktu berminggu-minggu untuk mulai
melihat penyelesaian gejalanya.1

● Menjaga Kebersihan Diri, mandi teratur 2 kali sehari


● Menggunakan pakaian yang tidak ketat dan menyerap keringat
● Pastikan kulit dalam keadaan kering sebelum menutup area yang rentan terinfeksi
jamur
● Hindari Penggunaan Handuk atau pakaian,sabun mandi yang bergantian dengan
orang lain
● Mencukur Rambut Pubis Secara Teratur
● Skrining Keluarga
● Tatalaksana Linen Yang Terinfeksi:pakaian, sprei, handuk dan linen lainnya dicuci
secara terpisah
● Mematuhi pengobatan yang diberikan untuk mencegah resistensi obat 4

J. Prognosis dan Komplikasi

Prognosis biasanya baik dengan pengobatan yang tepat dan kepatuhan pasien.1
Komplikasi jarang terjadi pada infeksi dermatofita. Salah satu komplikasinya adalah
granuloma Majocchi, yang merupakan suatu kondisi langka di mana dermatofita
menyerang melalui folikel dan berkembang lebih jauh ke dalam dermis atau jaringan
subkutan. Trauma kulit ringan seperti bercukur dapat menyebabkan pasien terkena
granuloma Majocchi. Lesi melibatkan folikel rambut dan tampak sebagai nodul atau
papula eritematosa. Bahkan bisa berkembang menjadi abses. Antijamur oral seperti
terbinafine 250 mg sekali sehari selama 2 hingga 4 minggu merupakan terapi yang
direkomendasikan pada kasus granuloma Majocchi.1

Hepatitis terbukti merupakan komplikasi penggunaan ketokonazol, sehingga


pemeriksaan hati dasar diperlukan sebelum memulai antijamur oral, terutama kelompok
azol. Terbinafine dikaitkan dengan reaksi mirip lupus, sehingga harus diberikan dengan
hati-hati pada pasien dengan lupus eritematosus sistemik. Selain itu, dermatitis kontak
alergi terhadap obat topikal mungkin terjadi tetapi jarang terjadi, yang berarti efek iritasi
dapat terjadi.1

DAFTAR PUSTAKA

1. Yee G, Al Aboud AM. Tinea Corporis. [Updated 2023 Aug 8]. In: StatPearls [Internet].
Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from:
[Link]
2. Widaty S, Budimulja U. Dermatofitosis. In: Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta:
FK UI; 2016. p. 109–16.
3. Kara Hawker. Tinea capitis, tinea corporis, and tinea pedis: Pathogenesis and Clinical
Findings. Published February 17, 2020 on [Link]
4. Sri S, Agnes dkk. 2021. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Spesialis Dermatologi Dan
Venerologi Indonesia. Jakarta: PERDOSKI
5. Craddock LN, Schieke SM. Superficial fungal infection. Dalam: Sewon K, Amagai M,
Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ et al, editors. Fitzpatrick’s
dermatology. 9th edition. New York. McGraw Hill Education; 2019, p.2925-51.
6. Elewski BE, et al. Fungal Diseases. Dalam: Bolognia JL, Schaffer JV, and Cerroni L.
Bolognia Dermatology. 4th ed. Elsevier: 2018. p.1329-1346.
7. Hay RJ, Ashbee HR. Fungal infections. Dalam: Griffiths CEM, Barker J, Bleiker T,
Chalmers R, Creamer D, editors. Rook’s textbook of dermatology. 9th edition. West
Sussex: John Wiley & Sons, Ltd; 2016.

Anda mungkin juga menyukai