0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan49 halaman

Interaksi Edukatif Guru dan Anak Didik

Dokumen tersebut membahas tentang landasan teori interaksi edukatif antara guru dan siswa, termasuk pengertian, komponen-komponen (tujuan, kegiatan pembelajaran, bahan ajar, alat/media), dan metode interaksi edukatif.

Diunggah oleh

Chozin Asror
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan49 halaman

Interaksi Edukatif Guru dan Anak Didik

Dokumen tersebut membahas tentang landasan teori interaksi edukatif antara guru dan siswa, termasuk pengertian, komponen-komponen (tujuan, kegiatan pembelajaran, bahan ajar, alat/media), dan metode interaksi edukatif.

Diunggah oleh

Chozin Asror
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Tentang Interaksi Edukatif Guru Dan Anak Didik

1. Pengertian Interaksi Edukatif

Interaksi edukatif adalah suatu proses hubungan yang bersifat

komunikatif antara guru dengan anak didik yang berlangsung dalam ikatan

tujuan pendidikan, dan bersifat edukatif, dilakukan dengan sengaja,

direncanakan serta memiliki tujuan tertentu. Sehubungan dengan pengertian

interaksi edukatif tersebut, dalam hal ini diperjelas oleh beberapa tokoh

pendidikan antara lain:

a. Menurut Shuyadi dan Abu Achmadi pengertian interaksi edukatif adalah

suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang

berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.1

b. Menurut Sardiman A.M. pengertian interaksi edukatif dalam pengajaran

adalah proses interaksi yang disengaja, sadar akan tujuan, yakni untuk

mengantarkan anak didik ketingkat kedewasaannya.2

Dengan demikan dalam interakasi edukatif harus ada dua unsur utama

yang harus hadir dalam situasi yang disengaja, yaitu guru dan anak

[Link] sebab itu diperlukan seorang guru yang mampu menciptakan

interakasi edukatif yang kondusif yang nantinya dapat membantu anak didik

untuk mencapai prestasi belajar.

1
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: PT. Renika
Jaya, 2005), 11.
2
Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2011),18.
22
23

2. Komponen-komponen Interaksi Edukatif

Adapun komponen-komponen interaksi edukatif antara lain sebagai

berikut:

a. Tujuan

Dalam melaksanakan interaksi edukatif pada dasarnya tidak bisa

dilakukan dengan gegabah dan diluar kesadaran kita, apalagi tidak

adanya rencana tujuan, karena kegiatan interkasi edukatif merupakan

suatu kegiatan yang secara sadar dilakukan oleh guru, atas dasar itulah

guru membuat rencana pengajaran dengan prosedur dan lngkah-lagkah

yang dijalankan dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Setiap kegiatan guru dalam memprogram kegiatan pembelajaran

yang tidak pernah absen dalam agenda merupakan pembuatan tujuan

pembelajaran, yang mana tujuan pembelajaran tersebut mempunyai arti

penting dalam proses kegiatan interaksi edukatif. Karena dengan tujuan

tersebut dapat memberikan arah yang lurus, jelas dan pasti, langkah apa

yang akan dilaksanakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran.

Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar

tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari anak didik dan dari

guru. Dari segi anak didik, belajar dialami sebagai suatu proses. Anak

didik mengalami proses mental dalam mengadapi bahan belajar. Dari


24

segi guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang

sesuatu hal.3

Adapun tujuan pembelajaran terhimpun sebuah norma yang akan

ditanamkan ke dalam diri setiap anak didik. Tercapai tidaknya tujuan

pembelajaran dapat diketahui dari penguasaan anak didik terhadap bahan

yang diberikan selama kegiatan interaksi edukatif berlangsung.

Dalam tujuan pendidikan atau pengajaran yang bersifat umum atau

khusus, umumnya berkisar pada tiga jenis, yaitu:

1) Tujuan kognitif, menekankan pada aspek intelektual (pengetahuan,

pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi).

2) Tujuan afektif, yaitu sikap, perasaan, emosi, dan karakteristik moral

yang diperlukan untuk kehidupan di masyarakat. Menurut Bloom

tujuan afektif ini terbagi menjadi lima tingkatan, yaitu: penerimaan

(receiving), sambutan (responding), menilai (valuing), organisasi,

dan karakterisasi.

3) Tujuan psikomotorik, ranah ini menekankan pada gerakan-gerakan

jasmaniah dan kontrol fisik.

b. Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran yang dimaksud disini merupakan kegiatan

anak didik atau kegiatan belajar yang perlu dilakukan oleh peserta didik

3
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), 17-18.
25

dalam berinteraksi dengan objek atau sumber belajar untuk mencapai

penguasaan kompetensi dasar dan materi pembelajaran.4

Pelaksanaan proses pembelajaran merupakan inti kegiatan

pendidikan, yang mana segala sesuatu yang diprogramkan akan

dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran, semua komponen akan

berproses didalamnya, dari semua komponen tersebut yang paling inti

adalah manusiawi, dalam hal ini guru dan anak didik melaksanakan

kegiatan dengan tugas dan tanggung jawab dalam kebersamaan

berlandaskan pada interaksi edukatif untuk bersama sama mencapai

tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Setiap kegiatan pembelajaran untuk pengelolaan pembelajaran dan

pengelolaan kelas, guru memperhatikan perbedaan anak didik dalam

aspek biologis, psikologis dan intelektual, dengan memperhatikan ketiga

aspek tersebut nantinya akan membantu guru dalam menentukan dan

mengelompokkan anak didik dalam kelas.

Pada interaksi edukatif yang terjadi, juga dipengaruhi oleh cara guru

dalam memahami perbaedaan individual peserta didik, setiap interaksi

edukatif yang terjadi dalam kelas merupakan interaksi yang terjadi antara

guru dengan anak didik dan antara anak didik dengan anak didik yang

lainnya ketika proses pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini segala

daya upaya belajar yang dilakukan seoptimal mungkin oleh anak didik

sangat menentukan kualitas interaksi edukatif yang terjadi di dalam

4
Nazaruddin, Manajemen Pembelajaran (Jogjakarta: Sukses Offset, 2007), 135.
26

[Link] dari itu setiap kegiatan belajar mengajar bagaimanapun

bentuknya sangat ditentukan oleh baik tidaknya program pengajaran

yang telah direncanakan.

c. Bahan atau Materi Pengajaran

Beberapa pengertian tentang bahan ajar, yaitu sebagai berikut:

1. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan oleh guru

dalam melkasanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.

2. Bahan ajar merupakan informasi, alat dan / atau teks yang diperlukan

oleh guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi

pembelajaran.

3. Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis,

baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga tercipta lingkungan atau

suasana yang memungkinkan anak didik untuk belajar.5

Setiap guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar terlebih

dahulu harus mempersiapkan materi apa yang akan disampaikan, begitu

juga bahan pengajaran, yang mana bahan pengajaran merupakan materi

yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran dan terjalin dalam

sebuah interaksi edukatif, apabila bahan pengajaran tidak ada maka

proses interaksi edukatif tidak akan berjalan dengan baik, oleh sebab itu

guru yang akan melaksanakan pengajaran sudah pasti mempelajari

danmempersiapkan materi pelajaran yang akan disampaikan pada anak

didik.

5
Hamdani,Strategi Belajar Mengajar (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011), 218.
27

d. Alat atau Media

Media dalam kegiatan proses belajar berfungsi sebagai instrument.

Artinya, media hanya berfungsi sebagai alat belajar, bukan berfungsi

sebagai tujuan. Jadi sebagai alat, media bisa digunakan untuk beragam

tujuan, tetapi tidak untuk semua tujuan karena setiap media memiliki

karakteristik masing-masing yang khas sehingga bisa jadi, suatu media

dengan media yang lain digunakan untuk setiap tujuan yang berbeda

pula.6

Alat atau media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat

dipergunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, disamping

sebagai pelengkap juga dapat membantu dan mempermudah dalam usaha

mencapai tujuan interaksi edukatif. Pada dasarnya media pembelajaran

digunakan guru untuk:

1) Memperjelas informasi/pesan pengajaran

2) Memberi tekanan pada baggian-bagian yang penting

3) Memberi variasi pengajaran

4) Memperjelas struktur pengajaran

5) Memotivasi proses belajar anak didik.7

e. Metode

Melihat dari tujuan pendidikan di atas, jelaslah bahwa pendidikan

harus benar-benar diperhatikan dengan memperhatikan komponen-

6
Muhammad Karim, Pendidikan Kritis Transformatif (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), 246.
7
Umi Mahmudah dan Abdul Wahab Rosyidi, Active Learning dalam Pembelajaran Bahasa
Arab(Malang: UIN-Malang Press, 2008), 99.
28

komponen pendidikan yang salah satunya adalah metode, karena metode

adalah alat untuk mencapai tujuan yang hendak [Link] apabila

dapat memilih metode yang tepat, tujuan akan dicapai secara optimal.8

Metode merupakan suatu cara yang digunakan untuk mencapai

tujuan yang telah ditetapkan, sehingga dalam setiap kegiatan belajar

mengajar metode sangat diperlukan oleh guru untuk kepentingan

pembelajaran, dalam menjalankan tugasnya guru jarang sekali

menggunakan satu metode tetapi kebanyakan guru menggunakan lebih

dari satu metode sebab setiap karakteristik metode mempunyai kelebihan

dak kekurangan, sehingga dengan demikian menuntut para guru untuk

memakai metode yang bervariasi.

Dalam penggunaan metode tersebut guru harus memperhatikan

setiap penggunaan metode, karena ada beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi dalam penggunaan metodemengajar, antara lain tujuan

dengan berbagai jenis dan fungsinya, materi atau bahan pelajaran yang

akan disampaikan, anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya,

situasi dengan berbagai keadaannya, pribadi guru dengan kemampuan

profesionalnya yang berbeda-beda dan fasilitas dengan berbagai

kuantitasnya.

8
Suetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar mengajar (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), 144.
29

f. Evaluasi

Ada tiga istilah yang saling berkaitan, yakni: evaluasi, pengukuran

(measurement), dan assessment. Ketiga pengertian tersebut digunakan

dalam rangka peniliaian.9

Evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan

tujuan supaya mendapatkan data yang dibutuhkan, sejauh mana

keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam

mengajar.

Dalam melaksanakan evaluasi guru menggunakan seperangkat

instrumen guna mencari data seperti tes lisan dan tes perbuatan. Baik

evaluasi proses yang diarahkan keberhasilan guru dalam mengajar

maupun evaluasi produk yang diarahkan pada keberhasilan anak didik,

kedua-duanya digunakan untuk mengumpulkan data sebanyak-

banyaknya yang berkaitan dengan kemampuan anak didik atau kualitas

yang dimiliki guru, yang berguna untuk sebab akibat dari suatu aktifitas

pengajaran dan hasil belajar anak didik yang dapat membantu dalam

mengembangkan kemampuan belajar.

Dengan demikian tujuan evaluasi adalah untuk menyimpulkan data-

data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai

tujuan yang diharapkan sehingga memungkinkan guru menilai aktifitas

9
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: PT. bumi Aksara, 2004), 145.
30

suatu pengalaman yang didapat dan menilai metode mengajar yang

dipergunakan.10

[Link] Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif

a. Kedudukan Guru

Guru merupakan elemen terpenting dalam sebuah sistem pendidikan.

Iamerupakan ujung tombak dalam kegiatan belajar mengajar.

Kepribadian guru seperti memberi perhatian, memberi semangat,

diyakini bisa memberi motivasi kepada anak didik, yang pada akhirnya

akan dapat meningkatkan prestasi belajar anak didik.11

Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang

memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalampandangan

masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-

tempat tertentu, tidak mesti di lembaga formal, tetapi bisa juga di masjid,

di moshalla, di rumah dan sebagainya. Guru menempati kedudukan

terhormat di masyarakat. Kewibawaanlah yang menyebabkan guru

dihormati. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak

didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.12

Guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di

luar dinas dalam bentuk pengabdian. Apabila kita kelompokkan terdapat

tiga jenis tugas guru, yakni:

10
Djamarah, Guru., 17-21
11
Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan mengajar (Sinar Baru al-Qosindo, 2002), 44.
12
Djamarah, Guru.,31.
31

1) Tugas Dalam Bidang Profesi

Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan

melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-

nilai [Link] berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu

pengetahuan dan [Link] melatih berarti

mengembangkan keterampilan- keterampilan pada anak didik.

2) Tugas Kemanusiaan

Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di madrasah harus dapat

menjadikan dirinya sebagai orang tua [Link] harus mampu menarik

simpati sehingga ia menjadi idola para anak didiknya. Pelajaran

apapun yang ia berikan, hendaknya menjadi motivasi bagi anak

didiknya dalam belajar. Bila penampilan guru tidak menarik, maka

kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih

pengajarannya itu kepada para anak didiknya. Para anak didikakan

enggan menghadapi guru yang tidak [Link] tidak dapat

diserap sehingga setiap lapisan masyarakat (homoludens, homopuber,

homosapiens).

3) Tugas Dalam Bidang Kemasyarakatan

Mayarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat

di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat

memperoleh ilmu pengetahuan. Tugas dan peran guru tidaklah

terbatas di dalam masyarakat, bahkan guru pada hakikatnya

merupakan komponen strategis yang memilih peran penting dalam


32

menentukan gerak maju kehidupan bangsa yang merupakan faktor

condisio sine quanon yang tidak mungkin digantikan oleh komponen

manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu.13

b. Kedudukan Anak Didik

Anak didik atau peserta didik adalah salah satu koponen manusiawi

yang menduduki posisi sentral dalam proses belajar- mangajar. Guru

tidak ada artinya apa-apa tanpa kehadiran anak didik sebagai subjek

pembinaan. Jadi anak didik adalah “kunci” yang menentukan untuk

terjadinya interaksi edukatif. Di dalam proses belajar-mengajar, anak

didik sebagai pihak yang ingin meraih cita- cita, memiliki tujuan dan

kemudian ingin mencapainya secara optimal.14

Sebagai makhluk manusia, anak didik memiliki karakteristik. Menurut

Sutari Imam Barnadib, Suwarno, dan Siti Mechati, anak didik memiliki

karakteristik tertentu, yakni:

1) Belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi

tanggung jawab pendidik (guru); atau

2) Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga

masih menjadi tanggung jawab pendidik;

3) Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara

terpadu yaitu kebutuhan biologis, rohani, sosial, inteligensi, emosi,

kemampuan berbicara, anggota tubuh untuk bekerja (kaki, tangan,

13
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006),5.
14
Sardiman, Interaksi.,111.
33

jari), latar belakang sosial, latar belakang biologis (warna kulit, bentuk

tubuh, dan lainnya), serta perbedaan individual.15

4. Peranan Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif

a. Peranan Guru

Peranan guru dalam hubungannya dengan murid bermacam- macam

menurut situasi interaksi sosial yang dihadapinya, yakni situasi formal

dalam proses belajar mengajar dalam kelas dan dalam situasi informal.16

Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau

siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi guru. Semua pranan yang

diharapkan dari guru antara lain sebagai berikut:

1) Korektor

Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang

baik dan mana nilai yang [Link] nilai yang berbeda ini harus

betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat.

2) Inspirator

Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik

bagi kemajuan belajar anak [Link] belajar adalah masalah

utama anak didik, guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana

belajar dengan baik.

3) Informator

Sebagai informatory, guru harus dapat memberikan informasi

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah


15
Djamarah, Guru.,52.
16
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2014), 92.
34

bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah

diprogramkan dalam [Link] informasi adalah racun

bagi anak didik.

4) Organisator

Sebagai organisator, guru di sisi lain diperlukan untuk memilki

kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib

sekolah/ madrasah, menyusun kalender akademik, dan sebagainya.

Semua diorganisasikan, sehingga dapat mencapai efektivitas dan

efesiensi dalam belajar pada diri anak didik.

5) Motivator

Seorang pendidik yang baik akan selalu memotivasi anak-anak

didiknya untuk terus belajar dan berkarya. Pada setiap kesempatan,

pendidik seperti itu akan mengajak setiap anak didiknya untuk

mengembangkan kreativitas dan keahliannya.17

6) Inisiator

Dalam peran ini guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide

kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi

edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang

pendidikan.

17
Asef Umar Fakhruddin, Menjadi Guru Favorite (Jogjakarta: Diva Press, 2010), 85.
35

7) Fasilitator

Guru hendak dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan

kemudahan kegiatan belajar anak didik.

8) Pembimbing

Peranan yang satu ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran

guru di sekolah/masalah untuk membimbing anak didik menjadi

manusia dewasa susila yang cakap. Tanpa bimbingan, anak didik

akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya.

9) Demonstrator

Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dipahami

oleh anak [Link] anak didik yang memiliki inteligensi yang

sedang. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik guru

harus berusaha dengan membantunya, dengan cara memperagakan

apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan

sejalan dengan pemahaman anak didik. Tujuan pengajaranpun dapat

tercapai dengan efektif dan efesien.

10) Pengelola Kelas

Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas

dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak

didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru.

Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi

edukatif.
36

11) Mediator

Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan

pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai

bentuk dan jenisnya, baik media non material maupun materiil.

12) Supervisor

Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu,

memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.

Teknik-teknik supervis harus guru kuasai dengan baik agar dapat

melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih

baik.

13) Evaluator

Sebgai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator

yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh

aspek ekstrinsik dan intrinsik.18

Reposisi peran guru di era tehnologi informasi dan komunikasi

dapat ditempuh antara lain :

a) Guru harus memahami paradigm baru pembelajaran.

Dalam pembelajaran, guru harus memperlakukan anak didik

sebagai subjek didik bukan lagi sebagai objek didik.

b) Guru harus terus menerus mengembangkan profesinya.

Untuk menjadi guru profesional, yakni ahli (expert), memiliki

tanggung jawab (responsibility), dan memiliki kesejawatan (human

18
Djamarah, Guru., 43.
37

relation), maka guru harus terus menerus mengembangkan profesinya

melalui dua segi, yakni eksternal dan internal.

c) Guru perlu mengkaji kembali filosofi pendidikan .

Dalam proses pendidikan harus dilandasi keikhlasan dan rasa

kasih saying (rahman dan rahim).

d) Guru harus memahami fungsi dan tujuan pendidikan.

Pendidikan berfungsi melakukan proses penyadaran terhadap

manusia untuk mampu mengenal, mengerti realitas, kehidupan yang

ada di sekelilingnya.

e) Guru dalam mendidik murid harus menjungjung tinggi hakikat hidup

antara lain :

(1) Pendidikan harus mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang

beriaman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

(2) Pendidikan harus mengakui bahwa manusia sebagai makhluk

susila.

(3) Pendidikan harus mengakui bahwa manusia sebagai makhluk

sosial.

(4) Pendidikan harus mengakui bahwa manusia sebagai makhluk

individu.

(5) Pendidikan harus mengakui bahwa manusia sebagai mkhluk

sosial etis.19

19
Yusuf Suhartono, Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman (Pamekasan: STAI Al-Khairat,
2008), 58.
38

[Link] anak didik

Menurut Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya (1997) Dalam proses

interaksi edukatif anak didik diharapkan melaksanakan peranannya, yaitu

diantaranya adalah:

1) Keberanian untuk mewujudkan minat, keinginan maupun dorongan

dari anak didik dalam suatu proses belajar mengajar. Anak tanpa rasa

takut menyampaikan pendapatnya.

2) Keinginan atau keberanian untuk mencari kesempatan untuk

berpartisipasi dalam proses belajar mengajar. Baik dalam tahap

persiapan, pelaksanaan maupun tindak lanjut.

3) Usahan atau kreatif dalam menyelesaikan kegiatan belajar mengajar

sehingga mencapai hasil yang maksimal.

4) Dorongan ingin tahu yang besar (curiousity) pada anak didik untuk

mengetahui dan mengerjakan sesuatu yang baru dalam proses belajar

belajar.

5) Perasaan bebas dan lapang dalam melakukan sesuatu tanpa tekanan

dari siapapun termasuk guru dalam proses belajar mengajar.20

Berkenaan dengan peranan di atas terdapat hubungan antara guru dan

anak murid mempunyai sifat yang relative stabil, hubungan tersebut

diantaranya:

a) Ciri khas dari hubungan ini ialah bahwa terdapat status yang tak sama

antara guru dan murid. Guru itu secara umum diakui mempunyai status
20
Abu Ahmadi & Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: Pustaka Setia,
1997),129.
39

lebih tinggi dank arena itu dapat menuntut murid untuk menunjukkan

kelakuan yang sesuai dengan sifat hubungan itu.

b) Dalam hubungan guru-murid biasanya hanya murid diharapkan

mengalami perubahan kelakuan sebagai hasil belajar. Setiap orang yang

mengajar akan mengalami perubahan dan menambah pengalamannya,

akan tetapi ia tidak diharuskan menunjukkan perubahan kelakuan,

sedangkan murid harus memperlihatkan dan membuktikan bahwa ia

telah mengalami perubahan kelakuan.

c) Aspek ketiga ini bertalian dengan aspek kedua, yakni bahwa perubahan

kelakuan yang diharapkan mengenai hal-hal tertentu yang lebih

spesifik, misalnya agar anak menguasai bahan pelajaran tertentu.

Mengenai hal-hal yang umum, yang kabur tidak mudah tercapai

kesamaan pendapat, misalnya apakah guru harus menunjuk cinta kasih

kepada murid, apakah ia harus bertindak sebagai orang tua atau sehabat.

Karena sifat tak sama dalam kedudukan guru-murid, maka sukar bagi

guru untuk mengadakan hubungan akrab, kasih saying atau sebagai

teman denagn murid.21

5. Interaksi Belajar Mengajar sebagai Interaksi Edukatif

Proses belajar mengajar merupakan serangkaian perbuatan guru dan

anak didik atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi

edukatif untuk mencapai tujuan tertentu, interaksi edukatif guru dengan anak

didik merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.

21
Nasution, Sosiologi.,79.
40

Interakasi edukatif mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar

hubungan guru dengan anak didik, tetapi berupa interaksi edukatif, dalam

hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan

membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan

nilai sikap pada anak didik.

Dalam setiap interaksi edukatif senantiasa mengandung dua unsur

pokok, yaitu:

a. Unsur Normatif

Pendidikan dapat dirumuskan dari sudut normatif, karena pendidikan

menurut hakikatnya memang sebagai suatu peristiwa yang memiliki

norma. Artinya bahwa dalam peristiwa pendidikan, pendidik

(pengajar/guru) dan anak didik (anak didik) berpegang pada ukuran,

norma hidup, pandangan terhadap individu dan masyarakat, nilai-nilai

moral, kesusilaan yang kesemuanya merupakan sumber norma di dalam

pendidikan dan perbuatan anak didik semakin baik, dewasa dan

bersusila, aspek ini sangat dominan dalam merumuskantujuan secara

umum. Sebagai ilustrasi dari unsur normatif adalah pendidikan sebagai

usaha pembentukan manusia yang bertanggung jawab dan demokratis.

b. Unsur Proses Teknis

Dalam sebuah pendidikan akan dirumuskan mengenai proses teknis,

yaitu dilihat dari peristiwanya. Peristiwa dalam hal ini merupakan suatu

kegiatan praktis yang berlangsung pada masa dan terikat dalam satu

situasi dan terarah dalam suatu tujuan. Peristiwa tersebut merupakan satu
41

rangkaian komunikasi antara manusia dan rangkaian kegiatan yang saling

mempengaruhi, saturangkaian perubahan dan pertumbuhan-pertumbuhan

fungsi jasmaniah, pertumbuhan watak, pertumbuhan intelek dan

pertumbuhan sosial, semua ini tercakup dalamperistiwa pendidikan,

dengan demikian pendidikan itu merupakan kultural yang komplek yang

dapat digunakan sebagai perencanaan kehidupan manusia.

Dalam proses interaksi edukatif yang terdiri dari komponen-

komponen pendukung yang telah disebutkan diatas sangatlah dibutuhkan

dalam proses interaksi edukatif dan tidak dapat dipisahkan, proses teknis

ini juga tidak dapat dilepaskan dari segi normatif, sebab dari normatif

inilah yang mendasari proses belajar mengajar, sedangkan proses teknis

secara spesifik sebagai gambaranberlangsungnya proses belajar

mengajar.22

Sebagai interaksi yang bernilai normatif maka interaksi edukatif

mempunyai ciri-ciri khusus yang membedakan dengan bentuk interaksi

lain, antara lain sebagai berikut:

1) Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membantu

anak dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud

interaksi belajar mengajar itu sadar tujuan, dengan menempatkan anak

didik sebagai pusat perhatian. Anak didik mempunyai tujuan, unsur

lainnya sebagai pengantar dan pendukung.

22
Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2011),14-15.
42

2) Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncana, didesain

untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

3) Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi

yang khusus.

4) Ditandai dengan adanya aktivitas anak didik, aktivitas anak didik

merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi edukatif,

tidak ada gunanya guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar kalau

anak didik hanya pasif.

5) Dalam interaksi belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing.

Dalam peranannya sebagai pembimbing ini guru harus berusaha

menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi

yang kondusif.

6) Di dalam interaksi belajar mengajar membutuhkan disiplin. Disiplin

dalam interaksi belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola

tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang

sudah ditaati oleh semua pihak dengan secara sadar, baik pihak guru

maupun pihak anak didik.

7) Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam

sistem berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah

satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu

tertentu, kapan tujuan itu harus sudah tercapai. Disamping beberapa

ciri seperti telah diuraikan diatas unsur penilaian adalah unsur yang

sangat penting. Dalam kaitannya dengan tujuan yang telah ditetapkan


43

maka untuk mengetahui apakah tujuan itu sudah tercapai lewat

interakasi belajar mengajar atau belum, perlu diketahui dengan

kegiatan penilaian.23

Kemudian dalam melaksanakan komponen tersebut diatas perlu

dipertimbangan prinsip- prinsip belajar-mengajar. Menurut para pakar

psikologi belajar, seperti B.F. Skinner dan kawan-kawannya, hasil

pembuktian mereka membuktikan bahwa prinsip-prinsip belajar-

mengajarpada umumnya dapat dibedakan menjadi 10 prinsip, yakni:

a) Persiapan belajar (pre learning preparation)

b) Motivasi (motivation)

c) Perbedaan individu (individual defference)

d) Kondisi pengajaran (instructional condition)

e) Partisipasi aktif (active participation)

f) Cara pencapaian yang berhasil (successful achievement)

g) Hasil yang sudah diperoleh (knowledge of results)

h) Latihan (practice)

i) Kadar bahan yang diberikan (rate of presenting materiil)

j) Sikap pengajar (instructur’s attitude).24

6. Mengembangkan Pendekatan Dalam Kegiatan Pembelajaran

Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan anak didik

untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Disamping itu guru

harus berpacu dalam pembelajaran dengan memberikan kemudahan belajar


23
Sardiman, Interaksi, ..18
24
Harjanto, Perencanaan Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 255.
44

bagi seluruh peserta didik. Untuk kemudahan tersebut perlu adanya

langkah-langkah untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang kondusif.

Guru sebagai tenaga professional di bidang pendidikan harus-

mempunyai cara untuk melakukan suatu pembelajaran yang efektik, cara

tersebut diantaranya adalah pengembangan pendekatan pembelajaran, hal

ini harus dipahami oleh guru sebagai tenaga pendidik dalam interaksi

edukatif, yaitu antara lain:

a. Pendekatan Kompetensi

Pendekatan pembelajaran ini dapat dilakukan dengan langkahlangkah

umum sebagai berikut:

1) Tahapan perencanaan, dalam tahap perencanaan pertama-tama perlu

ditetapkan kompetensi-kompetensi yang akan diwujudkan dalam

kegiatan pembelajaran.

2) Pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran merupakan

langkah merealisasikan konsep pembelajaran dalam perbuatan.

3) Evaluasi dan penyempurnaan, evaluasi dan penyempurnaan perlu

dilakukan sebagai suatu proses yang kontinu untuk memperbaiki

pembelajaram dan membimbing pertumbuhan peserta didik.

Dalam perencanaan program pembelajaran, penyusunan kurikulum,

penentuan metode pembelajaran, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar,

dan pembuatan system evaluasi seharusnya disesuaikan dengan

kesadaran bahwa ilmu-ilmu keislaman berkait erat dengan pembentukan

kepribadian muslim. Keberhasilan pembelajaran ilmu-ilmu keislaman


45

bagi seorang muslim terlihat dalam kenyataan bahwa semakin banyak

seseorang menguasai ilmu keislaman, semakin dekat ia kepada citra ideal

pribadi muslim.25

b. Pendekatan keterampilan proses

Sedangkan menurut Depdikbud (1986), pendekatan keterampilan

proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan

keerampilan-keterampailan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber

dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada

dalam diri anak didik.26

Pembelajaran berdasarkan pendekatan keterampilan proses perlu

memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Keaktifan peserta didik didorong oleh kemauan untuk belajar karena

adanya tujuan yang ingin dicapai (asas motivasi).

2) Keaktifan peserta akan berkembang jika dilandasi dengan

pendayagunaan potensi yang dimilikinya.

3) Suasana kelas dapat mendorong atau mengurangi aktifitas peserta

didik. Suasana kelas harus dikelola agar dapat merangsang aktivitas

dan kreatifitas peserta didik.

4) Dalam kegiatan pembelajaran, tugas guru adalah memberikan

kemudahan belajar melalui bimbingan dan motivasi untuk mencapai

tujuan pembelajaran.

25
[Link], Menyatukan Kembali Ilmu-ilmu Agama Dan Umum (Yogyakarta:Suka Press,
2003), 125.
26
Depdikbud, Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Direkorat Jenderal Pembinaan
Kelembagaan Agama Islam, 2001), 25.
46

Sedangkan indikator-indikator pendekatan keterampilan proses antara

lain adalah:

a) Kemampuan bertanya

Untuk bisa berhasil seorang siswa yang mandiri dalam konteks

pendekatan keterampilan proses haruslah bisa mengajukan

pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Ketakjuban adalah cikal bakal

[Link]-pertanyaan yang tajam dapat menyempurnakan

keyakinan dan menjelaskan berbagai [Link] bisa mengerti,

siswa harus mencari [Link] mencari sebuah makna, siswa harus

punya kesempatan untuk membentuk dan mengajukan pertanyaan.27

b) Kemampuan melakukan pengamatan

Menurut Dimyati dan Mudjiono, melalui kegiatan mengamati,

ktia belajar tentang duni sekitar kita yang fantastis. Manusia

mengamati objek-objek dan fenomena alam dengan panca indra:

penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan perasa/pencecep.

Informasi yang kita peroleh, dapat menuntut keigintahuan,

mempertanyakan, memikirkan, melakukan interpretasi tentang

lingkungan kita, dan meneliti lebih lanjut. Selain itu, kemampuan

mengamati merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan

memperoleh ilmu pengetahuan serta merupakan hal terpenting untuk

mengembangkan keterampilan-keterampilan proses yang lain.

Mengamati merupakan tanggapan kita terhadap berbagai objek dan


27
Elaine BJohnson, Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar
Mengasyikkan dan Bermakna(Bandung: Mizan Learning Center,2007), 159.
47

peristiwa alam dengan mengunakan panca indra. Dengan kata lain,

melalui observasi kita mengumpulkan data tentang tanggapan-

tanggapan kita.28

c) Kemampuan mengindentifikasi/mengklasifikasi hasil pengamatan

Agar kita memahami sejumlah besar objek, peristiwa, dan segala

yang ada dalam kehidupan di sekitar kita, lebih mudah apabila

menentukan berbagai jenis [Link] menentukan golongan

dengan mengamati persamaan, perbedaan, dan hubungan serta

mengelompokkan objek berdasarkan kesesuaian dengan berbagai

[Link]-syarat dasar dari berbagai sistem pengelompokan adalah

bahwa hal itu berguna sepenuhnya. Mengidentifikasi/mengklasifikasi

merupakan keterampilan proses untuk memilah berbagai objek

peristwa berdasarkan sifat-sifat khususnya, sehingga didapatkan

golongan/kelompok sejenis dari objek peristwa yang dimaksud. 29

Contoh kegiatan yang menampakkan keterampilan mengklasifikasi

adalah mengklasifikasikan makhluk hidup selain manusia menjadi dua

kelompok: binatang dan tumbuhan, mengklasifikasikan binatang

menjadi binatang beranak dan bertelur, mengklasifikasikan cat

berdasarkan warna, dan kegiatan lain yang sejenis.

d) Kemampuan menafsirkan hasil identifikasi dan klasifikasi

28
Dimyati dan Mudjiono, Belajar., 141-142.
29
Conny Semiawan, Dkk.,Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana Siswa Dalam
Belajar?(Jakarta: Gramedia, 1986), 13.
48

Suatu tafsiran merupakan suatu interpretasi dari apa yang

kemudian hari mungkin dapat diamati. Untuk dapat membuat tafsiran

yang dapat dipercaya tentang objek dan peristiwa, maka dapat

dilakukan dengan meperhitungkan penentuan secara tepat perilaku

terhadap lingkungan kita. Menafsirkan dapat diartikan sebagai

mengantisipasi atau membuat tafsiran tentang segala hal yang akan

terjadi pada waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada pola atau

kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan

prinsip.

e) Kemampuan menggunakan alat dan bahan untuk memperoleh

penalaman secara langsung.

Memperoleh pengalaman secara langsung alat dan bahan

merupakan media dalam [Link] sangat bermanfaat

dalam memperoleh pengalaman secara langsung. Dalam pendekatan

keterampilan proses, alat dan bahan menjadi sangat krusial karena

keduanya adalah bagian penting dalam meningkatkan keterampilan

siswa dalam suatu mata pelajaran guna mendapatkan pengalaman

secara langsung.

f) Kemampuan merencanakan suatu kegiatan penelitian

Seperti kita ketahui, ilmu pengetahuan dan teknologi terlahir dari

sejumlah penelitian yang [Link]-hasil penelitian boleh

jadi mengkonstruksikan suatu ilmu pengetahuan, atau merekonstruksi

ilmu [Link] suatu penelitian dapat dilaksanakan secara


49

baik dan menghasilkan sesuatu yang berguna dan bermakna, maka

diperlukan adanya rancangan [Link] penelitian ini

diharapkan selalu dibuat pada setiap kegiatan [Link]

pentingnya rancangan penelitian terhadap perolehan penelitian itu

sendiri, maka keterampilan merancang penelitian perlu diberikan sejak

dini.30

g) Kemampuan menggunakan dan menerapkan konsep yang telah

dikuasai dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui proses penerapan konsep yang telah dikuasai, perserta

didik akan merasakan pentingnya belajar, dan mereka akan

memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang telah

dipelajarinya. Dengan kata lain hal itu akan mendorong peserta didik

memahami hakikat, makna, dan manfaat belajar, sehingga

memungkinkan mereka rajin, dan termotivasi untuk senentaisa belajar,

bahkan kecanduan belajar.

h) Kemampuan menyajikan suatu hasil pengamatan dan atau hasil

penelitian

Yang dimaksud dengan kemampuan menyajikan suatu hasil

pengamatan dan atau hasil penelitian adalah mengekspresikan diri

dalam suatu kegiatan untuk menghasilkan suatu karya.

c. Pendekatan lingkungan

30
Dimyati dan Mudjiono, Belajar., 149.
50

Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat dilakukan

dengan dua cara:

1) Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentigan

pembelajaran. Hal ini bisa dikakukan dengan metode karyawisata,

metode pemberian tugas dan lain-lain.

2) Membawa sumber –sumber dari lingkungan ke sekolah (kelas) untuk

kepentingan pembelajaran. Sumber trsebut bisa berupa sumber asli,

seperti nara sumber, atau sumber tiruan, seperti model, dan gambar.

Guru sebagai pemandu pembelajaran dapat memilih lingkungan dan

menentukan cara-cara yang tepat untuk mendayagunakannya dalam

kegiatan pembelajaran. Pemilihan tema dan lingkungan yang akan

didayagunakan hendaknya didiskusikan dengan peserta didik, sehingga

hasil keputusn bersama penentuan lingkungan tersebut dapat diterima

dan dinikmati oleh peserta didik dengan nuansa edukatif.31

B. Tinjauan Tentang Keberhasilan Proses Pembelajaran

[Link] Keberhasilan Proses Pembelajaran

Untuk menyatakan bahwa suatu proses pembelajaran dapat dikatakan

berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan

filsafatnya. Namun, untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman

pada kurikulum yang berlaku pada saat ini yang telah disempurnakan, antara

lain bahwa “ suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran

31
E. Mulyasa,Menjadi Guru Profesional (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), 99.
51

dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat

tercapai”.32

Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-

pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran

Gagne, hasil belajar berupa:

a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam

bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.

b. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep

dan lambing.

c. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan

aktivitas kognitifnya sendiri.

d. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak

jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme

gerak jasmani.

e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan

penilaian terhadap objek tersebut.33

Menurut Nana Sudjana didefinisikan bahwa hasil belajar adalah

kemampuan-kemampuan yang dimiliki anak didik setelah ia menerima

pengalaman belajarnya.34

32
Syaiful Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar-Mengajar (Jakarta: PT. Rineka Cipta,
2005), 105.
33
Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2010), 5-6.
34
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT. .Remaja Rosdakarya,
2002), 22.
52

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar [Link]

yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya besar

sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang telah [Link]

faktor dari dalam diri siswa adalah, fisik maupun mental, seperti kesehatan,

rasa aman, kemampuan, minat dan [Link]-aspek tersebut amat

besar pengaruhnyaterhadap prestasi seseorang.

Faktor-faktor intern meliputi dua unsur, yaitu unsur fisiologis dan

unsur psikologis.

1. Unsur fisiologis

Unsur fisiologis adalah meliputi keadaan jasmani yang pada

umumnya melatarbelakangi aktivitas belajar. Keadaan jasmani yang segar

akan lain dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Keadaan jasmani

yang tidak lelah akan akan lai dengan keadaaan jasmani yang lain.

2. Unsur Psikologis

Unsur yang mencakup keadaan rohani/jiwa yang [Link]

umumnyadapat dikatakan sebagai pendorong aktivitas belajar atau suatu

yang merupakan argumentasi melakukan perbuatan belajar.

Dalam hal ini motivasi belajar merupakan faktor psikis yang

berperang dalam menumbuhkan gairah dan semangat belajar. Seorang siswa

akan berhasil bila pada dirinya ada keinginan atau dorongan yang kuat untuk

belajar.

Sedangkan faktor ekstern (dari luar) adalah “ faltor dari luar anak,

seperti kebersihan rumah, udara, ruang belajar, alat-alat pelajaran, dan


53

lingkungan sosial maupun lingkungan alamnya.

Adapun faktor ekstern terdiri dari faktor dan non sosial. Faktor sosial

antara lain faktor keluarga/rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-

alat yang digunakan dalam belajar, lingkungan, dan kesempatan yang

tersedia dan motivasi sosial. Sedangkan yang termasuk non sosial misalnya

adalah keadaan udara, cuaca, waktu (pagi, siang, malam) temapt (letaknya),

gedungnya alat-alat yang digunakan dalam belajar seperti alat tulis menulis,

buku-buku, alat-alat peraga dan sebagainya.35

Seperti yang kemukakan oleh Clrak dalam Sudjana (1987) bahwa

hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa 30%

dipengaruhi oleh lingkungan. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki

siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian,

sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan,sosial ekonomi, faktor fisik dan

psikis.

Faktor yang berasal dari luar diri siswa seperti kualitas

[Link] Carol yang dimaksud dengan kualitas pengajaran

adalah tinggi tidaknya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam

pengajaran.36

Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan

informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar anak didik.

Berdasarkan PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional

Pendidikan, penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan


35
Sudjana, Penilaian., 24.
36
Sudjana, Penilaian., 40.
54

menengah terdiri atas:

a. Penilaian hasil belajar oleh pendidik

b. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan

c. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah

Setiap satuan pendidikan, selain melakukan perencanaan dan proses

pembelajaran, juga melakukan penilaian hasil pembelajaran sebagai upaya

terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.37

2. Tingkat Keberhasilan Proses Pembelajaran

Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar.

Masalah yang dihadapi adalah sampai tingkat mana prestasi atau hasil

belajar yang telah dicapai. Sehubungan dengan hal inilah keberhasilan

proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf.

Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Istimewa/maksimal :apabila seluruh bahan pelajaranyangdiajarkan itu

dapat dikuasaioleh anak didik.

b. Baik sekali/optimal :apabila sebagian besar (76 % s.d.99 %)bahan-

pelajaran yangdiajarkan dapatdikuasai oleh anak

didik.

c. Kurang : apabila bahan pelajaran yangdiajarkankurang -

dari 60 % dikuasaioleh anak didik.38

3. Jenis Alat Pengukur Keberhasilan Proses Pembelajaran

37
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 301.
38
Djamarah, Strategi.,107.
55

Untuk dapat mengetahui berhasil tidaknya suatu pekerjaan atau suatu

pengajaran yang dilakukan, dengan kata lain apakah anak didik telah berhasil

dalam belajar atau belum, diperlukan alat ukur yang sesuai dengan kegunaan

tersebut. Alat ukur tersebut dibuat secara teliti dan direncanakan sebelum

kegiatan belajar dilakukan.39

Pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah

yaitu ranah kognitif, psikomotor, dan afektif. Secara eksplisit ketiga ranah ini

tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Setiap mata ajar selalu mengandung

ketiga ranah tersebut, namun penekanannya selalu [Link] ajar praktek

lebih menekankan pada ranah psikomotor, sedangkan mata ajar pemahaman

konsep lebih menekankan pada ranah [Link] kedua ranah tersebut

mengandung ranah afektif.

a. Aspek Kognitif

Menurut taksonomi Bloom dalam Mimin Haryati (2007), kemampuan

kognitif adalah kemampuan berpikir secara hirarkis yang terdiri dari

pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

Pada tingkat pengetahuan, peserta didik menjawab pertanyaan

berdasarkan hafalan [Link] tingkat pemahaman peserta didik dituntut

untuk menyatakan masalah dengan kata-katanya sendiri, memberi contoh

suatu konsep atau [Link] tingkat aplikasi, peserta didik dituntut

untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam situasi yang [Link]

tingkat analisis, peserta didik diminta untuk menguraikan informasi

39
Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 139.
56

kepada beberapa bagian, menemukan asumsi, membedakan fakta dan

pendapat, serta menemukan hubungan sebab [Link] tingkat sintesis,

peerta didik dituntut untuk menghasilkan suatu cerita, komposisi,

hipotesis atau teorinya sendiri, dan mensintesiskan [Link]

tingkat evaluasi, peserta didik mengevaluasi informasi seperti bukti,

sejarah, editorial, teori-teori yang termasuk di dalamnya judgement

terhadap hasil analisis untuk membuat kebijakan.

Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berpikir yang

mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu

mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang

menuntut anak didik untuk menghubungkan dan menggabungkan

beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk

memecahkan masalah tersebut.

Menurut Mimin Haryati (2007) aspek kognitif terdiri dari enam

tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkat

tersebut yaitu:

1. Tingkat pengetahuan (knowledge), pada tahap ini menuntut anak didik

untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah

diterima sebelumnya, misalnya fakta, rumus, terminology strategi

problem solving.

2. Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori

pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan

pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri.


57

Pada tahap ini peserta didik diharapkan menerjemahkan atau

menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri.

3. Tingkat penerapan (application), penerapan merupakan kemampuan

untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari

ke dalam situasi yang baru, serta memecahkan berbagai masalah yang

timbul dalam kehidupan sehari-hari.

4. Tingkat analisis (analysis), analisis merupakan kemampuan

mengidentifikasi, memisahkan, dan membedakan komponen-

komponen atau element suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi,

hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut

untuk melihat ada atau tidaknya [Link] tingkat ini peserta

didik diharapkan menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan

dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip

atau prosedur yang telah dipelajari.

5. Tingkat sintesis (synthesis), sintesis merupakan kemampuan seseorang

dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai element dan unsure

pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih

menyeluruh.

6. Tingkat evaluasi (evaluation), evaluasi merupakan level tertinggi yang

mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian dan


58

keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda

dengan menggunakan kriteria tertentu.40

Apabila melihat kenyataan yang ada, dalam system pendidikan

yang diselenggarakan pada umumnya baru menerapkan beberapa aspek

kognitif tingkat rendah, seperti pengetahuan, pemahaman, dan sedikit

[Link] tingkat analisis, sintesis, dan evaluasi jarang sekali

diterakan. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan

terus menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik.

b. Aspek Afektif

Life skill merupakan bagian dari kompetensi lulusan sebagai hasil

proses pembelajaran. Ranah aektif sangat menentukan keberhasilan

seorang pesrta didik unuk mencapai ketuntasan dalam proses

pembelajaran.

Seorang peserta didik yang tidak memiliki minat atau karakter

terhadap mata ajar tertentu. Maka akan kesulitan untuk mencapai

ketuntasan belajar secara maksimal. Sedangkan peserta didik yang

memiliki minat atau karakter terhadap mata ajar, maka hal ini akan

sangat membantu untuk mencapai ketuntasan pembelajaran secara

maksimal.

Berdasarkan hal di atas, maka seorang guru selain membantu

semua peserta didik belajar, guru juga harus mampu membangkitkan

minat atau karakter peserta didik untuk [Link] merupakan tanggung


40
Mimin Haryati, Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007),
22-23.
59

jawab seorang guru selaku pengajar dan [Link] itu juga ikatan

emosional juga sering diperlukan untuk membangun karakter

kebersamaan, rasa sosialis yang tinggi, persatuan, nasionalisme dan lain

[Link] dengan hal ini, maka guru dalam merancang

program pembelajaran harus memperhatikan ranah afektif.

Menurut Krathwohl, ranah afektif terdiri dari lima tingkatan, yaitu:

receiving, responding, valuing, organization, dan characterization.

1. Receiving

Pada tingkat receiving, peserta didik memiliki keinginan untuk

memperhatikan suatu fenomena khusus (stimulus). Misalnya keadaan

kelas, berbagai kegiatan sekolah (kegiatan ekstrakurikuler), buku, dan

lain [Link] sini seorang guru hanya bertugas mengarahkan

perhatian (fokus) peserta didik pada fenomena yang menjadi obyek

pembelajaran [Link] guru mengarahkan dan memotivasi

peserta didik untuk membaca buku, mengerjakan tugas, memberi

motivasi belajar dan lain sebagainya. Jika hal ini terus-menerus

dilakukan maka akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini adalah

kebiasaan yang positif yang sangat diharapkan dalam mendukung

ketuntasan belajar.

2. Responding

Responding atau tanggapan merupakan partisipasi aktif peserta

didik, yaitu sebagai bagian dari [Link] tingkat ini peserta

didik tidak hanya memperhatikan fenomena khusus, tetapi juga


60

beraksi terhadap fenomena yang [Link] belajar pada tingkat ini

yaitu menekankan diperolehnya respon, keinginan memberi respon

atau kepuasan dalam memberi [Link] tertinggi pada

kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada

pencarian hasil dan kesenangan pada aktifitas [Link] senang

bertanya, senang membaca buku, senang membantu sesama, senang

dengan kebersihan, dan lain sebagainya.

3. Valuing

Pada tingkat valuing atau menilai ini melibatkan penentuan nilai,

keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan

[Link] rentangnya mulai dari menerima suatu nilai,

misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada

tingkat [Link] atau penilaian berbasis pada internalisasi

dari seperangkat nilai yang [Link] belajar pada tingkat ini

berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai

dikenal secara jelas.

4. Organization

Organisasi merupakan kemampuan untuk membentuk suatu system

nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam [Link] tingkat

organisasi antara nilai yang satu dengan yang lain dikaitkan da konflik

antar nilai diselesaikan, serta mulai membangun system internal yang

konsisten. Hasil belajar pada tingkat ini yaitu berupa konseptualisasi


61

nilai atau organisasi system nilai, misalnya pengembangan filsafat

hidup.

5. Characterization

Karakterisasi merupakan kemampuan untuk menghayati nilai-nilai

kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi

(internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur

kehidupannya sendiri.

Pada tingkat ini peserta didik memiliki system nilai yang

mengendalikan perilaku sampai pada suatu waktu tertentu hingga

terbentuk pola [Link] belajar pada tingka ini adalah berkaitan

dengan pribadi, emosi, dan rasa sosialis.41

c. Aspek Psikomotorik

Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan

(skill) dan kemampuan bertindak [Link] enam tingkatan

keterampilan, yaitu:

1. Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar).

2. Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar.

3. Kemampuan perceptual, termasuk di dalamnya membedakan visual,

membenarkan auditif, motoris, dan lain-lain.

4. Kemampuan di bidang fisik, misalnya keutamaan, keharmonisan, dan

ketepatan.

41
Haryati, Sistem.,39.
62

5. Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai

pada keterampilan yang kompleks.

6. Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-discursive

seperti gerakan ekspresif dan interpretative.42

Sedangkan menurut Dave hasil belajar psikomotor dapat dibedakan

menjadi lima peringkat yaitu imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan

naturalisasi.

a. Imitasi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana

dan sama persis dengan yang dilihat atau diperhatikan sebelumnya.

Contohnya menendang bola dengan gerakan yang sama persis dari

yang dilihat sebelumnya.

b. Manipulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana yang

belum pernah dilihatnya, tapi berdasarkan pada pedoman atau

petunjuk saja. Misalnya seorang anak didik dapat melempar lembing

hanya mengandalkan petunjuk dari guru.

c. Presisi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan yang akurat,

sehingga mampu menghasilkan produk kerja yang presisi. Misalnya

melakukan tendangan pinalti sesuai dengan yang ditargetkan (masuk

gawang lawan).

d. Artikulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan kompleks dan

ketepatan, sehingga produk kerjanya utuh. Misalnya melempar bola ke

teman sebagai umpan untuk ditendang kea rah gawang lawan.

42
Sudjana, Penilaian.,30.
63

e. Naturalisasi adalah kemampuan melakukan kegiatan secara refleks,

yaitu kegiatan yang melibatkan fisik saja, sehingga efektivitas tinggi.

Misalnya secara refleks seseorang memegang tangan seorang anak

kecil yang sedang bermain di jalan raya ketika sebuah mobil melaju

dengan kecepatan tinggi. Hal ini terjadi agar terhindar dari kecelakaan

tertabrak.43

C. Tinjauan Tentang Interaksi Edukatif Guru dan Anak Didik Terhadap

Keberhasilan Proses Pembelajaran.

Guru dan anak didik merupakan sosok yang berpengaruh dalam proses

belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar tersebut terjalin

sebuah interaksi edukatif antara guru sebagai pengajar yang tugasnya sebagai

pembimbing dan membina anak didiknya, dan anak didik sebagai objek

sekaligus sebagai subjek yang menerima pengajaran, keduanya terjalin dalam

sebuah interaksi edukatif yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk mencapai

tujuan pendidikan dan pengajaran.

Interaksi edukatif guru dengan anak didik merupakan suatu upaya untuk

mencapai kegiatan tujuan pendidikan dan pengajaran, karena apabila interaksi

edukatif guru dan anak didik tidak terjalin dengan baik dan harmonis dalam

proses pembelajaran maka tujuan pendidikan pun tidak akan terlaksana dengan

baik. Guru dan anak didik merupakan dua unsur yang terlibat langsung dengan

proses pembelajatran, untuk itu guru dituntut untuk menciptakan interaksi

edukatif dengan harmonis dan kondusif sebab lingkungan belajar itu terbentuk

43
Haryati, Sistem., 26.
64

dari beberapa komponen-komponen yang saling mempengaruhi. Komponen-

komponen tersebut diantaranya; tujuan pembelajaran, materi pembelajaran,

kegiatan pembelajaran, metode yang digunakan, alat, sumber pembelajaran,

dan evaluasi.

Guru yang kedudukannya sebagai pengajar, pembimbing, motivator,

mediator, dan evaluator bagi siswanya, harus memahami bahwa tujuan akhir

dari interaksi edukatif guru dan anak didik diharapkan anak didik mengalami

perubahan tingkah laku yang mencakup tiga aspek, yaitu aspek sikap (affectif),

aspek pengetahuan (kognitif), dan aspek ketrampilan (psikomotorik). Oleh

karena itu dalam interaksi edukatif guru harus dapat melaksanakan beberapa

hal sebagai berikut:

1. Meningkatkan keaktifan proses pembelajaransebagai interaksi edukatif

Jika guru memiliki tingkat kemampuan mengajar yang tinggi, maka

kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan akan berlangsung dengan

kondusif. Kondisi yang demikian akan memungkinkan peningkatan proses

belajar mengajar di sekolah.

Dalam kegiatan belajar diperlukan adanya aktivitas sebab tanpa

aktivitas belajar tidak akan berlangsung dengan [Link] pengajaran

akan tercapai dengan baik jika pelajar atau anak didik berusaha secara aktif

untuk mencapainya. Keaktifan anak didik disini tidak hanya dituntut dari

segi fisik, tetapi juga dari segi [Link] hanya fisik anak didik yang

aktif, tetapi fikiran dan mintalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar

tujuan pembelajaran tidak tercapai.


65

Sedangkan penertian keaktifan belajar adalah kegiatan belajar yang

dilaksanakan dengan sungguh-sungguh yang ditandai dengan adanya

perubahan atau keaktifan orang yang belajar dalam rangka merespon atau

mempelajari apa yang terdapat dalam lingkungannya atau yang diajarkan

kepadanya dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan

atau dengan kata lain adanya semangat yang tinggi dari pelajar atau anak

didik dalam rangka mencapai tujuannya.

Ada beberapa prinsip belajar yang dapat mennjang tumbuhnya belajar

siswa aktif diantaranya :

1.) Stimulus Belajar

2.) Perhatian dan Motivasi

3.) Respon yang dipelajari

4.) Penguatan

5.) Pemakaian dan pemindahan44

Prinsip-prinsipdi atas sangat penting sekali untuk diterapkan oleh

siswa dan juga sangat penting diketahui oleh pendidik sehingga bisa

mendorong belajar siswa seoptimal mungkin.

2. Meningkatkan kualitas pendidikan secara berkesinambungan

Dengan kemampuan mengajar yang dimiliki oleh para guru, maka

akan lebih memberikan kemudahan bagi anak didik dalam mencamkan dan

mengimplementasikan materi pelajaran yang telah di berikan oleh para

guru, sehingga hasil belajar anak didik benar-benar berada pada tingkat

44
Sriyono, Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA(Jakarta : Rineka Cipta, 1991), 15.
66

optimal. Dengan demikian guru selaku pengajar dan pendidik dapat

dikatakan sukses dalam meningkatkan kualitas pendidikan dengan kata lain

kualitas pendidikan dapat tercapai dengan baik.

3. Meningkatkan hasil proses pembelajaran

Dalam meningkatkan hasil belajar yang maksimal dan berguna bagi

anak didik, guru harus pandai memilih isi pengajaran serta bagaimana

proses belajar itu harus dikelola dan dilaksanakan di sekolah. Ada dua jenis

belajar yang perlu dibedakanyakni belajar konsep dan belajar proses.

Belajar konsep lebih menekankan hasil belajar kepada pemahaman fakta

dan prinsip, banyak bergantung pada apa yang diajarkan guru, yaitu bahan

atau keteramlan roses lebih menekankan pada masalah bagaiman bahan

pelajaran itu diajarkan dan dipelajari.

Bila persoalan belajar keterampilan proses itu diikutkan dengan cara

balajar aktif, maka tampak kesamaan konseptual, baik belajr konsep

maupun belajar keterampilan proses keduanya mempunyai ciri-ciri yaitu :

a. menekankan pentingnya makna belajar untuk mencapai hasil belar yang

memadai.

b. Menekankan pentingnya keterlibatan siswa dalam proses belajar

c. Menekankan hasil belajar adalah proses dua arah yang dapat dicapai oleh

anak didik.

d. Menekankan hasil belajar secara tuntas dan utuh.

Jadi orang melakukan pebuatan belajar ini merasa bahagia, lebih dapat

menyesuaikan diri lebih dapat mempergunakan alam sekitarnya, lebih


67

banyak pengetahuannya atau lebih dapat melakukan sesuatu yang

sebelumnya tidak dapat dilakukan. Pendek kata orang yang telah belajar

akan mengalami perubahan seluruh pribadi yang optimal. Perubahan itulah

yang dinamakan dengan hasil belajar.

Berikut ini dikemukakan unsur-unsur yang terdapat dalam aspek hasil

belajar yaitu perubahan yang berkaitan dengan aspek kognitif, yaitu :

Perubahan pengetahuan yang berkenaan dengan kemampuan individu untuk

mengenal dunia sekitarnya melalui kemampuan intelektual. Jadi seseorang

yang mengalami proses belajar bertambah banyak dan mendalam ilmu

pengetahuannya, bertambah banyak informasi yang diterima.45

Dan, perubahan yang berkaitan dengan aspek afektif, yaitu:Hasil

belajar ini berkaitan dengan sikap dan nilai. Sikap seseorang dapat

diramalkan perubahannya, bila seseorang telah menguasai bidang kognitif

tingkat [Link] afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah

laku sepertii atensi terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar,

menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan lain-lain.46

Sedangkan perubahan yang berkenaan dengan aspek psikomotorik,

yaitu: Perubahan yang berkenaan dengan kekuatan alat kegiatan

[Link] yang belajar maka keterampilannyaakan bertambah sesuai

dengan apa yang dipelajarinya. Hasil belajar ini nampak dalam bentuk

45
TIM Dosen FIP IKIP Malang, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah (Surabaya: Usaha
Maju, 1981), 20.
46
Sudjana, Penilaian.,55.
68

keterampilan atau skil, kemampuan bertindak individu (seseorang).47

Perubahan atau hasil belajar di atas, sebenarnya tidak berdiri sendiri,

tetapi selalu berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya, bahkan ada

dalam [Link] yang berubah tingkah laku kognisinya

sebenarnya dalam kadar tertentu telah berubah pula sikap dan prilakunya.

4. Tercapainya tujuan pendidikan di Sekolah/Madrasah

Tujuan pendidikan di sekolah dikatakan tercapai, apabila output (anak

didik) yang dihasilkan dapat menampilkan perubahan tingkah laku

(kognitif,afektif, psikomotorik) yang positif. Tujuan pendidikan adalah

untuk membina manusia menjadi manusia yang sempurna seutuhnya.

Hal tersebut, sangat sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan

nasional yang telah tertuang dalam Undang-Undang RI No. 20. Th. 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II, Pasal 3, yang berbunyi :

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan


membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.48

Pencapaian tujuan pendidikan diatas, dibebankan kepada lembaga-

lembaga pendidikan yang [Link]-tiap lembaga pendidikan mempunyai

tugas yang harus diselesaikan dalam bentuk rumusan [Link] itu

bahwa setiap lembaga pendidikan pasti mempunyai tujuan institusi

47
Sudjana, Penilaian.,54.
48
Departemen Pendidikan Nasional RI, Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional Cet. I (Jakarta : Departemen Pendidikan,2003), 8.
69

tersendiri sesuai dengan visi dan misi dari lembaga [Link]

perbedaan (tujuan institusi), itu tidak terlalu jauh karena semuanya sama-

sama mengacu pada tujuan pendidikan nasional.

Tujuan dalam pendidikan tersusun menurut tingkat-tingkat tertentu,

mulai dari tujuan-tujuan yang sangat luas dan umum sampai pada tujuan-

tujuan yang spesifik. Tujuan-tujuan yang dimaksud diantaranya :Tujuan

institusional, adalah tujuan yang harus dicapai oleh anak didik yang

mengikuti program pendidikan di suatu sekolah. Tujuan institusional terdiri

dari dua yaitu tujuan umum dan tujuan [Link] umum menunjuk

kepada pengembangan warga negara yang [Link] khusus meliputi

pengembangan aspek-aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai.

Dalam tujuan instruksional ini mencakup unsur-unsur pengetahuan,

keterampilan dan sikap yang harus di miliki oleh anak didik setelah

menyelesaikan topik pelajaran. Tujuan instruksional dibagi dua yaitu ;

Tujuan instruksional umum adalah rumusan tujuan yang dapat

membantu perencanaan untuk memilih bahan pelajaran yang dapat dipakai

sebagai sasaran proses belajar. Sedangkan tujuan instruksional khusus yaitu

rumusan yang sudah benar-benar khusus. Dengan kata lain rumusan yang

dapat di ukur atau di nilai dan menyangkut tingkah laku anak didik yang

didasarkan pada kriteria tertentu. Jika segala aktivitas belajar mengajar

disusun berdasarkan tujuan yang akan dicapai, maka tujuan pendidikan di

sekolah akan dapat terwujud, baik di bidang pengetahuan, keterampilan

maupun sikap.
70

Anda mungkin juga menyukai