BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Tentang Interaksi Edukatif Guru Dan Anak Didik
1. Pengertian Interaksi Edukatif
Interaksi edukatif adalah suatu proses hubungan yang bersifat
komunikatif antara guru dengan anak didik yang berlangsung dalam ikatan
tujuan pendidikan, dan bersifat edukatif, dilakukan dengan sengaja,
direncanakan serta memiliki tujuan tertentu. Sehubungan dengan pengertian
interaksi edukatif tersebut, dalam hal ini diperjelas oleh beberapa tokoh
pendidikan antara lain:
a. Menurut Shuyadi dan Abu Achmadi pengertian interaksi edukatif adalah
suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang
berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.1
b. Menurut Sardiman A.M. pengertian interaksi edukatif dalam pengajaran
adalah proses interaksi yang disengaja, sadar akan tujuan, yakni untuk
mengantarkan anak didik ketingkat kedewasaannya.2
Dengan demikan dalam interakasi edukatif harus ada dua unsur utama
yang harus hadir dalam situasi yang disengaja, yaitu guru dan anak
[Link] sebab itu diperlukan seorang guru yang mampu menciptakan
interakasi edukatif yang kondusif yang nantinya dapat membantu anak didik
untuk mencapai prestasi belajar.
1
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: PT. Renika
Jaya, 2005), 11.
2
Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2011),18.
22
23
2. Komponen-komponen Interaksi Edukatif
Adapun komponen-komponen interaksi edukatif antara lain sebagai
berikut:
a. Tujuan
Dalam melaksanakan interaksi edukatif pada dasarnya tidak bisa
dilakukan dengan gegabah dan diluar kesadaran kita, apalagi tidak
adanya rencana tujuan, karena kegiatan interkasi edukatif merupakan
suatu kegiatan yang secara sadar dilakukan oleh guru, atas dasar itulah
guru membuat rencana pengajaran dengan prosedur dan lngkah-lagkah
yang dijalankan dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Setiap kegiatan guru dalam memprogram kegiatan pembelajaran
yang tidak pernah absen dalam agenda merupakan pembuatan tujuan
pembelajaran, yang mana tujuan pembelajaran tersebut mempunyai arti
penting dalam proses kegiatan interaksi edukatif. Karena dengan tujuan
tersebut dapat memberikan arah yang lurus, jelas dan pasti, langkah apa
yang akan dilaksanakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran.
Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar
tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari anak didik dan dari
guru. Dari segi anak didik, belajar dialami sebagai suatu proses. Anak
didik mengalami proses mental dalam mengadapi bahan belajar. Dari
24
segi guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang
sesuatu hal.3
Adapun tujuan pembelajaran terhimpun sebuah norma yang akan
ditanamkan ke dalam diri setiap anak didik. Tercapai tidaknya tujuan
pembelajaran dapat diketahui dari penguasaan anak didik terhadap bahan
yang diberikan selama kegiatan interaksi edukatif berlangsung.
Dalam tujuan pendidikan atau pengajaran yang bersifat umum atau
khusus, umumnya berkisar pada tiga jenis, yaitu:
1) Tujuan kognitif, menekankan pada aspek intelektual (pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi).
2) Tujuan afektif, yaitu sikap, perasaan, emosi, dan karakteristik moral
yang diperlukan untuk kehidupan di masyarakat. Menurut Bloom
tujuan afektif ini terbagi menjadi lima tingkatan, yaitu: penerimaan
(receiving), sambutan (responding), menilai (valuing), organisasi,
dan karakterisasi.
3) Tujuan psikomotorik, ranah ini menekankan pada gerakan-gerakan
jasmaniah dan kontrol fisik.
b. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran yang dimaksud disini merupakan kegiatan
anak didik atau kegiatan belajar yang perlu dilakukan oleh peserta didik
3
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), 17-18.
25
dalam berinteraksi dengan objek atau sumber belajar untuk mencapai
penguasaan kompetensi dasar dan materi pembelajaran.4
Pelaksanaan proses pembelajaran merupakan inti kegiatan
pendidikan, yang mana segala sesuatu yang diprogramkan akan
dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran, semua komponen akan
berproses didalamnya, dari semua komponen tersebut yang paling inti
adalah manusiawi, dalam hal ini guru dan anak didik melaksanakan
kegiatan dengan tugas dan tanggung jawab dalam kebersamaan
berlandaskan pada interaksi edukatif untuk bersama sama mencapai
tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Setiap kegiatan pembelajaran untuk pengelolaan pembelajaran dan
pengelolaan kelas, guru memperhatikan perbedaan anak didik dalam
aspek biologis, psikologis dan intelektual, dengan memperhatikan ketiga
aspek tersebut nantinya akan membantu guru dalam menentukan dan
mengelompokkan anak didik dalam kelas.
Pada interaksi edukatif yang terjadi, juga dipengaruhi oleh cara guru
dalam memahami perbaedaan individual peserta didik, setiap interaksi
edukatif yang terjadi dalam kelas merupakan interaksi yang terjadi antara
guru dengan anak didik dan antara anak didik dengan anak didik yang
lainnya ketika proses pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini segala
daya upaya belajar yang dilakukan seoptimal mungkin oleh anak didik
sangat menentukan kualitas interaksi edukatif yang terjadi di dalam
4
Nazaruddin, Manajemen Pembelajaran (Jogjakarta: Sukses Offset, 2007), 135.
26
[Link] dari itu setiap kegiatan belajar mengajar bagaimanapun
bentuknya sangat ditentukan oleh baik tidaknya program pengajaran
yang telah direncanakan.
c. Bahan atau Materi Pengajaran
Beberapa pengertian tentang bahan ajar, yaitu sebagai berikut:
1. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan oleh guru
dalam melkasanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
2. Bahan ajar merupakan informasi, alat dan / atau teks yang diperlukan
oleh guru untuk perencanaan dan penelaahan implementasi
pembelajaran.
3. Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis,
baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga tercipta lingkungan atau
suasana yang memungkinkan anak didik untuk belajar.5
Setiap guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar terlebih
dahulu harus mempersiapkan materi apa yang akan disampaikan, begitu
juga bahan pengajaran, yang mana bahan pengajaran merupakan materi
yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran dan terjalin dalam
sebuah interaksi edukatif, apabila bahan pengajaran tidak ada maka
proses interaksi edukatif tidak akan berjalan dengan baik, oleh sebab itu
guru yang akan melaksanakan pengajaran sudah pasti mempelajari
danmempersiapkan materi pelajaran yang akan disampaikan pada anak
didik.
5
Hamdani,Strategi Belajar Mengajar (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011), 218.
27
d. Alat atau Media
Media dalam kegiatan proses belajar berfungsi sebagai instrument.
Artinya, media hanya berfungsi sebagai alat belajar, bukan berfungsi
sebagai tujuan. Jadi sebagai alat, media bisa digunakan untuk beragam
tujuan, tetapi tidak untuk semua tujuan karena setiap media memiliki
karakteristik masing-masing yang khas sehingga bisa jadi, suatu media
dengan media yang lain digunakan untuk setiap tujuan yang berbeda
pula.6
Alat atau media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat
dipergunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, disamping
sebagai pelengkap juga dapat membantu dan mempermudah dalam usaha
mencapai tujuan interaksi edukatif. Pada dasarnya media pembelajaran
digunakan guru untuk:
1) Memperjelas informasi/pesan pengajaran
2) Memberi tekanan pada baggian-bagian yang penting
3) Memberi variasi pengajaran
4) Memperjelas struktur pengajaran
5) Memotivasi proses belajar anak didik.7
e. Metode
Melihat dari tujuan pendidikan di atas, jelaslah bahwa pendidikan
harus benar-benar diperhatikan dengan memperhatikan komponen-
6
Muhammad Karim, Pendidikan Kritis Transformatif (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2009), 246.
7
Umi Mahmudah dan Abdul Wahab Rosyidi, Active Learning dalam Pembelajaran Bahasa
Arab(Malang: UIN-Malang Press, 2008), 99.
28
komponen pendidikan yang salah satunya adalah metode, karena metode
adalah alat untuk mencapai tujuan yang hendak [Link] apabila
dapat memilih metode yang tepat, tujuan akan dicapai secara optimal.8
Metode merupakan suatu cara yang digunakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, sehingga dalam setiap kegiatan belajar
mengajar metode sangat diperlukan oleh guru untuk kepentingan
pembelajaran, dalam menjalankan tugasnya guru jarang sekali
menggunakan satu metode tetapi kebanyakan guru menggunakan lebih
dari satu metode sebab setiap karakteristik metode mempunyai kelebihan
dak kekurangan, sehingga dengan demikian menuntut para guru untuk
memakai metode yang bervariasi.
Dalam penggunaan metode tersebut guru harus memperhatikan
setiap penggunaan metode, karena ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi dalam penggunaan metodemengajar, antara lain tujuan
dengan berbagai jenis dan fungsinya, materi atau bahan pelajaran yang
akan disampaikan, anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya,
situasi dengan berbagai keadaannya, pribadi guru dengan kemampuan
profesionalnya yang berbeda-beda dan fasilitas dengan berbagai
kuantitasnya.
8
Suetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar mengajar (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), 144.
29
f. Evaluasi
Ada tiga istilah yang saling berkaitan, yakni: evaluasi, pengukuran
(measurement), dan assessment. Ketiga pengertian tersebut digunakan
dalam rangka peniliaian.9
Evaluasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan
tujuan supaya mendapatkan data yang dibutuhkan, sejauh mana
keberhasilan anak didik dalam belajar dan keberhasilan guru dalam
mengajar.
Dalam melaksanakan evaluasi guru menggunakan seperangkat
instrumen guna mencari data seperti tes lisan dan tes perbuatan. Baik
evaluasi proses yang diarahkan keberhasilan guru dalam mengajar
maupun evaluasi produk yang diarahkan pada keberhasilan anak didik,
kedua-duanya digunakan untuk mengumpulkan data sebanyak-
banyaknya yang berkaitan dengan kemampuan anak didik atau kualitas
yang dimiliki guru, yang berguna untuk sebab akibat dari suatu aktifitas
pengajaran dan hasil belajar anak didik yang dapat membantu dalam
mengembangkan kemampuan belajar.
Dengan demikian tujuan evaluasi adalah untuk menyimpulkan data-
data yang membuktikan taraf kemajuan anak didik dalam mencapai
tujuan yang diharapkan sehingga memungkinkan guru menilai aktifitas
9
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: PT. bumi Aksara, 2004), 145.
30
suatu pengalaman yang didapat dan menilai metode mengajar yang
dipergunakan.10
[Link] Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif
a. Kedudukan Guru
Guru merupakan elemen terpenting dalam sebuah sistem pendidikan.
Iamerupakan ujung tombak dalam kegiatan belajar mengajar.
Kepribadian guru seperti memberi perhatian, memberi semangat,
diyakini bisa memberi motivasi kepada anak didik, yang pada akhirnya
akan dapat meningkatkan prestasi belajar anak didik.11
Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang
memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalampandangan
masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-
tempat tertentu, tidak mesti di lembaga formal, tetapi bisa juga di masjid,
di moshalla, di rumah dan sebagainya. Guru menempati kedudukan
terhormat di masyarakat. Kewibawaanlah yang menyebabkan guru
dihormati. Masyarakat yakin bahwa gurulah yang dapat mendidik anak
didik mereka agar menjadi orang yang berkepribadian mulia.12
Guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di
luar dinas dalam bentuk pengabdian. Apabila kita kelompokkan terdapat
tiga jenis tugas guru, yakni:
10
Djamarah, Guru., 17-21
11
Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan mengajar (Sinar Baru al-Qosindo, 2002), 44.
12
Djamarah, Guru.,31.
31
1) Tugas Dalam Bidang Profesi
Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan
melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-
nilai [Link] berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan dan [Link] melatih berarti
mengembangkan keterampilan- keterampilan pada anak didik.
2) Tugas Kemanusiaan
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan di madrasah harus dapat
menjadikan dirinya sebagai orang tua [Link] harus mampu menarik
simpati sehingga ia menjadi idola para anak didiknya. Pelajaran
apapun yang ia berikan, hendaknya menjadi motivasi bagi anak
didiknya dalam belajar. Bila penampilan guru tidak menarik, maka
kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih
pengajarannya itu kepada para anak didiknya. Para anak didikakan
enggan menghadapi guru yang tidak [Link] tidak dapat
diserap sehingga setiap lapisan masyarakat (homoludens, homopuber,
homosapiens).
3) Tugas Dalam Bidang Kemasyarakatan
Mayarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat
di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat
memperoleh ilmu pengetahuan. Tugas dan peran guru tidaklah
terbatas di dalam masyarakat, bahkan guru pada hakikatnya
merupakan komponen strategis yang memilih peran penting dalam
32
menentukan gerak maju kehidupan bangsa yang merupakan faktor
condisio sine quanon yang tidak mungkin digantikan oleh komponen
manapun dalam kehidupan bangsa sejak dulu.13
b. Kedudukan Anak Didik
Anak didik atau peserta didik adalah salah satu koponen manusiawi
yang menduduki posisi sentral dalam proses belajar- mangajar. Guru
tidak ada artinya apa-apa tanpa kehadiran anak didik sebagai subjek
pembinaan. Jadi anak didik adalah “kunci” yang menentukan untuk
terjadinya interaksi edukatif. Di dalam proses belajar-mengajar, anak
didik sebagai pihak yang ingin meraih cita- cita, memiliki tujuan dan
kemudian ingin mencapainya secara optimal.14
Sebagai makhluk manusia, anak didik memiliki karakteristik. Menurut
Sutari Imam Barnadib, Suwarno, dan Siti Mechati, anak didik memiliki
karakteristik tertentu, yakni:
1) Belum memiliki pribadi dewasa susila sehingga masih menjadi
tanggung jawab pendidik (guru); atau
2) Masih menyempurnakan aspek tertentu dari kedewasaannya, sehingga
masih menjadi tanggung jawab pendidik;
3) Memiliki sifat-sifat dasar manusia yang sedang berkembang secara
terpadu yaitu kebutuhan biologis, rohani, sosial, inteligensi, emosi,
kemampuan berbicara, anggota tubuh untuk bekerja (kaki, tangan,
13
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006),5.
14
Sardiman, Interaksi.,111.
33
jari), latar belakang sosial, latar belakang biologis (warna kulit, bentuk
tubuh, dan lainnya), serta perbedaan individual.15
4. Peranan Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif
a. Peranan Guru
Peranan guru dalam hubungannya dengan murid bermacam- macam
menurut situasi interaksi sosial yang dihadapinya, yakni situasi formal
dalam proses belajar mengajar dalam kelas dan dalam situasi informal.16
Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau
siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi guru. Semua pranan yang
diharapkan dari guru antara lain sebagai berikut:
1) Korektor
Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang
baik dan mana nilai yang [Link] nilai yang berbeda ini harus
betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat.
2) Inspirator
Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik
bagi kemajuan belajar anak [Link] belajar adalah masalah
utama anak didik, guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana
belajar dengan baik.
3) Informator
Sebagai informatory, guru harus dapat memberikan informasi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah
15
Djamarah, Guru.,52.
16
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2014), 92.
34
bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah
diprogramkan dalam [Link] informasi adalah racun
bagi anak didik.
4) Organisator
Sebagai organisator, guru di sisi lain diperlukan untuk memilki
kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib
sekolah/ madrasah, menyusun kalender akademik, dan sebagainya.
Semua diorganisasikan, sehingga dapat mencapai efektivitas dan
efesiensi dalam belajar pada diri anak didik.
5) Motivator
Seorang pendidik yang baik akan selalu memotivasi anak-anak
didiknya untuk terus belajar dan berkarya. Pada setiap kesempatan,
pendidik seperti itu akan mengajak setiap anak didiknya untuk
mengembangkan kreativitas dan keahliannya.17
6) Inisiator
Dalam peran ini guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide
kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi
edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
pendidikan.
17
Asef Umar Fakhruddin, Menjadi Guru Favorite (Jogjakarta: Diva Press, 2010), 85.
35
7) Fasilitator
Guru hendak dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan
kemudahan kegiatan belajar anak didik.
8) Pembimbing
Peranan yang satu ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran
guru di sekolah/masalah untuk membimbing anak didik menjadi
manusia dewasa susila yang cakap. Tanpa bimbingan, anak didik
akan mengalami kesulitan dalam menghadapi perkembangan dirinya.
9) Demonstrator
Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dipahami
oleh anak [Link] anak didik yang memiliki inteligensi yang
sedang. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik guru
harus berusaha dengan membantunya, dengan cara memperagakan
apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan
sejalan dengan pemahaman anak didik. Tujuan pengajaranpun dapat
tercapai dengan efektif dan efesien.
10) Pengelola Kelas
Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas
dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak
didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru.
Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi
edukatif.
36
11) Mediator
Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai
bentuk dan jenisnya, baik media non material maupun materiil.
12) Supervisor
Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu,
memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.
Teknik-teknik supervis harus guru kuasai dengan baik agar dapat
melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih
baik.
13) Evaluator
Sebgai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator
yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh
aspek ekstrinsik dan intrinsik.18
Reposisi peran guru di era tehnologi informasi dan komunikasi
dapat ditempuh antara lain :
a) Guru harus memahami paradigm baru pembelajaran.
Dalam pembelajaran, guru harus memperlakukan anak didik
sebagai subjek didik bukan lagi sebagai objek didik.
b) Guru harus terus menerus mengembangkan profesinya.
Untuk menjadi guru profesional, yakni ahli (expert), memiliki
tanggung jawab (responsibility), dan memiliki kesejawatan (human
18
Djamarah, Guru., 43.
37
relation), maka guru harus terus menerus mengembangkan profesinya
melalui dua segi, yakni eksternal dan internal.
c) Guru perlu mengkaji kembali filosofi pendidikan .
Dalam proses pendidikan harus dilandasi keikhlasan dan rasa
kasih saying (rahman dan rahim).
d) Guru harus memahami fungsi dan tujuan pendidikan.
Pendidikan berfungsi melakukan proses penyadaran terhadap
manusia untuk mampu mengenal, mengerti realitas, kehidupan yang
ada di sekelilingnya.
e) Guru dalam mendidik murid harus menjungjung tinggi hakikat hidup
antara lain :
(1) Pendidikan harus mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang
beriaman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Pendidikan harus mengakui bahwa manusia sebagai makhluk
susila.
(3) Pendidikan harus mengakui bahwa manusia sebagai makhluk
sosial.
(4) Pendidikan harus mengakui bahwa manusia sebagai makhluk
individu.
(5) Pendidikan harus mengakui bahwa manusia sebagai mkhluk
sosial etis.19
19
Yusuf Suhartono, Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman (Pamekasan: STAI Al-Khairat,
2008), 58.
38
[Link] anak didik
Menurut Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya (1997) Dalam proses
interaksi edukatif anak didik diharapkan melaksanakan peranannya, yaitu
diantaranya adalah:
1) Keberanian untuk mewujudkan minat, keinginan maupun dorongan
dari anak didik dalam suatu proses belajar mengajar. Anak tanpa rasa
takut menyampaikan pendapatnya.
2) Keinginan atau keberanian untuk mencari kesempatan untuk
berpartisipasi dalam proses belajar mengajar. Baik dalam tahap
persiapan, pelaksanaan maupun tindak lanjut.
3) Usahan atau kreatif dalam menyelesaikan kegiatan belajar mengajar
sehingga mencapai hasil yang maksimal.
4) Dorongan ingin tahu yang besar (curiousity) pada anak didik untuk
mengetahui dan mengerjakan sesuatu yang baru dalam proses belajar
belajar.
5) Perasaan bebas dan lapang dalam melakukan sesuatu tanpa tekanan
dari siapapun termasuk guru dalam proses belajar mengajar.20
Berkenaan dengan peranan di atas terdapat hubungan antara guru dan
anak murid mempunyai sifat yang relative stabil, hubungan tersebut
diantaranya:
a) Ciri khas dari hubungan ini ialah bahwa terdapat status yang tak sama
antara guru dan murid. Guru itu secara umum diakui mempunyai status
20
Abu Ahmadi & Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: Pustaka Setia,
1997),129.
39
lebih tinggi dank arena itu dapat menuntut murid untuk menunjukkan
kelakuan yang sesuai dengan sifat hubungan itu.
b) Dalam hubungan guru-murid biasanya hanya murid diharapkan
mengalami perubahan kelakuan sebagai hasil belajar. Setiap orang yang
mengajar akan mengalami perubahan dan menambah pengalamannya,
akan tetapi ia tidak diharuskan menunjukkan perubahan kelakuan,
sedangkan murid harus memperlihatkan dan membuktikan bahwa ia
telah mengalami perubahan kelakuan.
c) Aspek ketiga ini bertalian dengan aspek kedua, yakni bahwa perubahan
kelakuan yang diharapkan mengenai hal-hal tertentu yang lebih
spesifik, misalnya agar anak menguasai bahan pelajaran tertentu.
Mengenai hal-hal yang umum, yang kabur tidak mudah tercapai
kesamaan pendapat, misalnya apakah guru harus menunjuk cinta kasih
kepada murid, apakah ia harus bertindak sebagai orang tua atau sehabat.
Karena sifat tak sama dalam kedudukan guru-murid, maka sukar bagi
guru untuk mengadakan hubungan akrab, kasih saying atau sebagai
teman denagn murid.21
5. Interaksi Belajar Mengajar sebagai Interaksi Edukatif
Proses belajar mengajar merupakan serangkaian perbuatan guru dan
anak didik atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi
edukatif untuk mencapai tujuan tertentu, interaksi edukatif guru dengan anak
didik merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
21
Nasution, Sosiologi.,79.
40
Interakasi edukatif mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar
hubungan guru dengan anak didik, tetapi berupa interaksi edukatif, dalam
hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan
membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan
nilai sikap pada anak didik.
Dalam setiap interaksi edukatif senantiasa mengandung dua unsur
pokok, yaitu:
a. Unsur Normatif
Pendidikan dapat dirumuskan dari sudut normatif, karena pendidikan
menurut hakikatnya memang sebagai suatu peristiwa yang memiliki
norma. Artinya bahwa dalam peristiwa pendidikan, pendidik
(pengajar/guru) dan anak didik (anak didik) berpegang pada ukuran,
norma hidup, pandangan terhadap individu dan masyarakat, nilai-nilai
moral, kesusilaan yang kesemuanya merupakan sumber norma di dalam
pendidikan dan perbuatan anak didik semakin baik, dewasa dan
bersusila, aspek ini sangat dominan dalam merumuskantujuan secara
umum. Sebagai ilustrasi dari unsur normatif adalah pendidikan sebagai
usaha pembentukan manusia yang bertanggung jawab dan demokratis.
b. Unsur Proses Teknis
Dalam sebuah pendidikan akan dirumuskan mengenai proses teknis,
yaitu dilihat dari peristiwanya. Peristiwa dalam hal ini merupakan suatu
kegiatan praktis yang berlangsung pada masa dan terikat dalam satu
situasi dan terarah dalam suatu tujuan. Peristiwa tersebut merupakan satu
41
rangkaian komunikasi antara manusia dan rangkaian kegiatan yang saling
mempengaruhi, saturangkaian perubahan dan pertumbuhan-pertumbuhan
fungsi jasmaniah, pertumbuhan watak, pertumbuhan intelek dan
pertumbuhan sosial, semua ini tercakup dalamperistiwa pendidikan,
dengan demikian pendidikan itu merupakan kultural yang komplek yang
dapat digunakan sebagai perencanaan kehidupan manusia.
Dalam proses interaksi edukatif yang terdiri dari komponen-
komponen pendukung yang telah disebutkan diatas sangatlah dibutuhkan
dalam proses interaksi edukatif dan tidak dapat dipisahkan, proses teknis
ini juga tidak dapat dilepaskan dari segi normatif, sebab dari normatif
inilah yang mendasari proses belajar mengajar, sedangkan proses teknis
secara spesifik sebagai gambaranberlangsungnya proses belajar
mengajar.22
Sebagai interaksi yang bernilai normatif maka interaksi edukatif
mempunyai ciri-ciri khusus yang membedakan dengan bentuk interaksi
lain, antara lain sebagai berikut:
1) Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membantu
anak dalam suatu perkembangan tertentu. Inilah yang dimaksud
interaksi belajar mengajar itu sadar tujuan, dengan menempatkan anak
didik sebagai pusat perhatian. Anak didik mempunyai tujuan, unsur
lainnya sebagai pengantar dan pendukung.
22
Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2011),14-15.
42
2) Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncana, didesain
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3) Interaksi belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi
yang khusus.
4) Ditandai dengan adanya aktivitas anak didik, aktivitas anak didik
merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi edukatif,
tidak ada gunanya guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar kalau
anak didik hanya pasif.
5) Dalam interaksi belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing.
Dalam peranannya sebagai pembimbing ini guru harus berusaha
menghidupkan dan memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi
yang kondusif.
6) Di dalam interaksi belajar mengajar membutuhkan disiplin. Disiplin
dalam interaksi belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola
tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang
sudah ditaati oleh semua pihak dengan secara sadar, baik pihak guru
maupun pihak anak didik.
7) Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam
sistem berkelas (kelompok anak didik), batas waktu menjadi salah
satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu
tertentu, kapan tujuan itu harus sudah tercapai. Disamping beberapa
ciri seperti telah diuraikan diatas unsur penilaian adalah unsur yang
sangat penting. Dalam kaitannya dengan tujuan yang telah ditetapkan
43
maka untuk mengetahui apakah tujuan itu sudah tercapai lewat
interakasi belajar mengajar atau belum, perlu diketahui dengan
kegiatan penilaian.23
Kemudian dalam melaksanakan komponen tersebut diatas perlu
dipertimbangan prinsip- prinsip belajar-mengajar. Menurut para pakar
psikologi belajar, seperti B.F. Skinner dan kawan-kawannya, hasil
pembuktian mereka membuktikan bahwa prinsip-prinsip belajar-
mengajarpada umumnya dapat dibedakan menjadi 10 prinsip, yakni:
a) Persiapan belajar (pre learning preparation)
b) Motivasi (motivation)
c) Perbedaan individu (individual defference)
d) Kondisi pengajaran (instructional condition)
e) Partisipasi aktif (active participation)
f) Cara pencapaian yang berhasil (successful achievement)
g) Hasil yang sudah diperoleh (knowledge of results)
h) Latihan (practice)
i) Kadar bahan yang diberikan (rate of presenting materiil)
j) Sikap pengajar (instructur’s attitude).24
6. Mengembangkan Pendekatan Dalam Kegiatan Pembelajaran
Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan anak didik
untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Disamping itu guru
harus berpacu dalam pembelajaran dengan memberikan kemudahan belajar
23
Sardiman, Interaksi, ..18
24
Harjanto, Perencanaan Pengajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), 255.
44
bagi seluruh peserta didik. Untuk kemudahan tersebut perlu adanya
langkah-langkah untuk menunjang kegiatan pembelajaran yang kondusif.
Guru sebagai tenaga professional di bidang pendidikan harus-
mempunyai cara untuk melakukan suatu pembelajaran yang efektik, cara
tersebut diantaranya adalah pengembangan pendekatan pembelajaran, hal
ini harus dipahami oleh guru sebagai tenaga pendidik dalam interaksi
edukatif, yaitu antara lain:
a. Pendekatan Kompetensi
Pendekatan pembelajaran ini dapat dilakukan dengan langkahlangkah
umum sebagai berikut:
1) Tahapan perencanaan, dalam tahap perencanaan pertama-tama perlu
ditetapkan kompetensi-kompetensi yang akan diwujudkan dalam
kegiatan pembelajaran.
2) Pelaksanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran merupakan
langkah merealisasikan konsep pembelajaran dalam perbuatan.
3) Evaluasi dan penyempurnaan, evaluasi dan penyempurnaan perlu
dilakukan sebagai suatu proses yang kontinu untuk memperbaiki
pembelajaram dan membimbing pertumbuhan peserta didik.
Dalam perencanaan program pembelajaran, penyusunan kurikulum,
penentuan metode pembelajaran, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar,
dan pembuatan system evaluasi seharusnya disesuaikan dengan
kesadaran bahwa ilmu-ilmu keislaman berkait erat dengan pembentukan
kepribadian muslim. Keberhasilan pembelajaran ilmu-ilmu keislaman
45
bagi seorang muslim terlihat dalam kenyataan bahwa semakin banyak
seseorang menguasai ilmu keislaman, semakin dekat ia kepada citra ideal
pribadi muslim.25
b. Pendekatan keterampilan proses
Sedangkan menurut Depdikbud (1986), pendekatan keterampilan
proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan
keerampilan-keterampailan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber
dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada
dalam diri anak didik.26
Pembelajaran berdasarkan pendekatan keterampilan proses perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Keaktifan peserta didik didorong oleh kemauan untuk belajar karena
adanya tujuan yang ingin dicapai (asas motivasi).
2) Keaktifan peserta akan berkembang jika dilandasi dengan
pendayagunaan potensi yang dimilikinya.
3) Suasana kelas dapat mendorong atau mengurangi aktifitas peserta
didik. Suasana kelas harus dikelola agar dapat merangsang aktivitas
dan kreatifitas peserta didik.
4) Dalam kegiatan pembelajaran, tugas guru adalah memberikan
kemudahan belajar melalui bimbingan dan motivasi untuk mencapai
tujuan pembelajaran.
25
[Link], Menyatukan Kembali Ilmu-ilmu Agama Dan Umum (Yogyakarta:Suka Press,
2003), 125.
26
Depdikbud, Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Direkorat Jenderal Pembinaan
Kelembagaan Agama Islam, 2001), 25.
46
Sedangkan indikator-indikator pendekatan keterampilan proses antara
lain adalah:
a) Kemampuan bertanya
Untuk bisa berhasil seorang siswa yang mandiri dalam konteks
pendekatan keterampilan proses haruslah bisa mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Ketakjuban adalah cikal bakal
[Link]-pertanyaan yang tajam dapat menyempurnakan
keyakinan dan menjelaskan berbagai [Link] bisa mengerti,
siswa harus mencari [Link] mencari sebuah makna, siswa harus
punya kesempatan untuk membentuk dan mengajukan pertanyaan.27
b) Kemampuan melakukan pengamatan
Menurut Dimyati dan Mudjiono, melalui kegiatan mengamati,
ktia belajar tentang duni sekitar kita yang fantastis. Manusia
mengamati objek-objek dan fenomena alam dengan panca indra:
penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan perasa/pencecep.
Informasi yang kita peroleh, dapat menuntut keigintahuan,
mempertanyakan, memikirkan, melakukan interpretasi tentang
lingkungan kita, dan meneliti lebih lanjut. Selain itu, kemampuan
mengamati merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan
memperoleh ilmu pengetahuan serta merupakan hal terpenting untuk
mengembangkan keterampilan-keterampilan proses yang lain.
Mengamati merupakan tanggapan kita terhadap berbagai objek dan
27
Elaine BJohnson, Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar
Mengasyikkan dan Bermakna(Bandung: Mizan Learning Center,2007), 159.
47
peristiwa alam dengan mengunakan panca indra. Dengan kata lain,
melalui observasi kita mengumpulkan data tentang tanggapan-
tanggapan kita.28
c) Kemampuan mengindentifikasi/mengklasifikasi hasil pengamatan
Agar kita memahami sejumlah besar objek, peristiwa, dan segala
yang ada dalam kehidupan di sekitar kita, lebih mudah apabila
menentukan berbagai jenis [Link] menentukan golongan
dengan mengamati persamaan, perbedaan, dan hubungan serta
mengelompokkan objek berdasarkan kesesuaian dengan berbagai
[Link]-syarat dasar dari berbagai sistem pengelompokan adalah
bahwa hal itu berguna sepenuhnya. Mengidentifikasi/mengklasifikasi
merupakan keterampilan proses untuk memilah berbagai objek
peristwa berdasarkan sifat-sifat khususnya, sehingga didapatkan
golongan/kelompok sejenis dari objek peristwa yang dimaksud. 29
Contoh kegiatan yang menampakkan keterampilan mengklasifikasi
adalah mengklasifikasikan makhluk hidup selain manusia menjadi dua
kelompok: binatang dan tumbuhan, mengklasifikasikan binatang
menjadi binatang beranak dan bertelur, mengklasifikasikan cat
berdasarkan warna, dan kegiatan lain yang sejenis.
d) Kemampuan menafsirkan hasil identifikasi dan klasifikasi
28
Dimyati dan Mudjiono, Belajar., 141-142.
29
Conny Semiawan, Dkk.,Pendekatan Keterampilan Proses: Bagaimana Siswa Dalam
Belajar?(Jakarta: Gramedia, 1986), 13.
48
Suatu tafsiran merupakan suatu interpretasi dari apa yang
kemudian hari mungkin dapat diamati. Untuk dapat membuat tafsiran
yang dapat dipercaya tentang objek dan peristiwa, maka dapat
dilakukan dengan meperhitungkan penentuan secara tepat perilaku
terhadap lingkungan kita. Menafsirkan dapat diartikan sebagai
mengantisipasi atau membuat tafsiran tentang segala hal yang akan
terjadi pada waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada pola atau
kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan
prinsip.
e) Kemampuan menggunakan alat dan bahan untuk memperoleh
penalaman secara langsung.
Memperoleh pengalaman secara langsung alat dan bahan
merupakan media dalam [Link] sangat bermanfaat
dalam memperoleh pengalaman secara langsung. Dalam pendekatan
keterampilan proses, alat dan bahan menjadi sangat krusial karena
keduanya adalah bagian penting dalam meningkatkan keterampilan
siswa dalam suatu mata pelajaran guna mendapatkan pengalaman
secara langsung.
f) Kemampuan merencanakan suatu kegiatan penelitian
Seperti kita ketahui, ilmu pengetahuan dan teknologi terlahir dari
sejumlah penelitian yang [Link]-hasil penelitian boleh
jadi mengkonstruksikan suatu ilmu pengetahuan, atau merekonstruksi
ilmu [Link] suatu penelitian dapat dilaksanakan secara
49
baik dan menghasilkan sesuatu yang berguna dan bermakna, maka
diperlukan adanya rancangan [Link] penelitian ini
diharapkan selalu dibuat pada setiap kegiatan [Link]
pentingnya rancangan penelitian terhadap perolehan penelitian itu
sendiri, maka keterampilan merancang penelitian perlu diberikan sejak
dini.30
g) Kemampuan menggunakan dan menerapkan konsep yang telah
dikuasai dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui proses penerapan konsep yang telah dikuasai, perserta
didik akan merasakan pentingnya belajar, dan mereka akan
memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang telah
dipelajarinya. Dengan kata lain hal itu akan mendorong peserta didik
memahami hakikat, makna, dan manfaat belajar, sehingga
memungkinkan mereka rajin, dan termotivasi untuk senentaisa belajar,
bahkan kecanduan belajar.
h) Kemampuan menyajikan suatu hasil pengamatan dan atau hasil
penelitian
Yang dimaksud dengan kemampuan menyajikan suatu hasil
pengamatan dan atau hasil penelitian adalah mengekspresikan diri
dalam suatu kegiatan untuk menghasilkan suatu karya.
c. Pendekatan lingkungan
30
Dimyati dan Mudjiono, Belajar., 149.
50
Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat dilakukan
dengan dua cara:
1) Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentigan
pembelajaran. Hal ini bisa dikakukan dengan metode karyawisata,
metode pemberian tugas dan lain-lain.
2) Membawa sumber –sumber dari lingkungan ke sekolah (kelas) untuk
kepentingan pembelajaran. Sumber trsebut bisa berupa sumber asli,
seperti nara sumber, atau sumber tiruan, seperti model, dan gambar.
Guru sebagai pemandu pembelajaran dapat memilih lingkungan dan
menentukan cara-cara yang tepat untuk mendayagunakannya dalam
kegiatan pembelajaran. Pemilihan tema dan lingkungan yang akan
didayagunakan hendaknya didiskusikan dengan peserta didik, sehingga
hasil keputusn bersama penentuan lingkungan tersebut dapat diterima
dan dinikmati oleh peserta didik dengan nuansa edukatif.31
B. Tinjauan Tentang Keberhasilan Proses Pembelajaran
[Link] Keberhasilan Proses Pembelajaran
Untuk menyatakan bahwa suatu proses pembelajaran dapat dikatakan
berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan
filsafatnya. Namun, untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman
pada kurikulum yang berlaku pada saat ini yang telah disempurnakan, antara
lain bahwa “ suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran
31
E. Mulyasa,Menjadi Guru Profesional (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), 99.
51
dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat
tercapai”.32
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-
pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran
Gagne, hasil belajar berupa:
a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam
bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
b. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep
dan lambing.
c. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan
aktivitas kognitifnya sendiri.
d. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme
gerak jasmani.
e. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan
penilaian terhadap objek tersebut.33
Menurut Nana Sudjana didefinisikan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki anak didik setelah ia menerima
pengalaman belajarnya.34
32
Syaiful Djamarah dan Azwan Zain, Strategi Belajar-Mengajar (Jakarta: PT. Rineka Cipta,
2005), 105.
33
Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2010), 5-6.
34
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT. .Remaja Rosdakarya,
2002), 22.
52
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar [Link]
yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya besar
sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang telah [Link]
faktor dari dalam diri siswa adalah, fisik maupun mental, seperti kesehatan,
rasa aman, kemampuan, minat dan [Link]-aspek tersebut amat
besar pengaruhnyaterhadap prestasi seseorang.
Faktor-faktor intern meliputi dua unsur, yaitu unsur fisiologis dan
unsur psikologis.
1. Unsur fisiologis
Unsur fisiologis adalah meliputi keadaan jasmani yang pada
umumnya melatarbelakangi aktivitas belajar. Keadaan jasmani yang segar
akan lain dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Keadaan jasmani
yang tidak lelah akan akan lai dengan keadaaan jasmani yang lain.
2. Unsur Psikologis
Unsur yang mencakup keadaan rohani/jiwa yang [Link]
umumnyadapat dikatakan sebagai pendorong aktivitas belajar atau suatu
yang merupakan argumentasi melakukan perbuatan belajar.
Dalam hal ini motivasi belajar merupakan faktor psikis yang
berperang dalam menumbuhkan gairah dan semangat belajar. Seorang siswa
akan berhasil bila pada dirinya ada keinginan atau dorongan yang kuat untuk
belajar.
Sedangkan faktor ekstern (dari luar) adalah “ faltor dari luar anak,
seperti kebersihan rumah, udara, ruang belajar, alat-alat pelajaran, dan
53
lingkungan sosial maupun lingkungan alamnya.
Adapun faktor ekstern terdiri dari faktor dan non sosial. Faktor sosial
antara lain faktor keluarga/rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat-
alat yang digunakan dalam belajar, lingkungan, dan kesempatan yang
tersedia dan motivasi sosial. Sedangkan yang termasuk non sosial misalnya
adalah keadaan udara, cuaca, waktu (pagi, siang, malam) temapt (letaknya),
gedungnya alat-alat yang digunakan dalam belajar seperti alat tulis menulis,
buku-buku, alat-alat peraga dan sebagainya.35
Seperti yang kemukakan oleh Clrak dalam Sudjana (1987) bahwa
hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa 30%
dipengaruhi oleh lingkungan. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki
siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian,
sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan,sosial ekonomi, faktor fisik dan
psikis.
Faktor yang berasal dari luar diri siswa seperti kualitas
[Link] Carol yang dimaksud dengan kualitas pengajaran
adalah tinggi tidaknya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam
pengajaran.36
Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan
informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar anak didik.
Berdasarkan PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan, penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
35
Sudjana, Penilaian., 24.
36
Sudjana, Penilaian., 40.
54
menengah terdiri atas:
a. Penilaian hasil belajar oleh pendidik
b. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan
c. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah
Setiap satuan pendidikan, selain melakukan perencanaan dan proses
pembelajaran, juga melakukan penilaian hasil pembelajaran sebagai upaya
terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.37
2. Tingkat Keberhasilan Proses Pembelajaran
Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar.
Masalah yang dihadapi adalah sampai tingkat mana prestasi atau hasil
belajar yang telah dicapai. Sehubungan dengan hal inilah keberhasilan
proses mengajar itu dibagi atas beberapa tingkatan atau taraf.
Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Istimewa/maksimal :apabila seluruh bahan pelajaranyangdiajarkan itu
dapat dikuasaioleh anak didik.
b. Baik sekali/optimal :apabila sebagian besar (76 % s.d.99 %)bahan-
pelajaran yangdiajarkan dapatdikuasai oleh anak
didik.
c. Kurang : apabila bahan pelajaran yangdiajarkankurang -
dari 60 % dikuasaioleh anak didik.38
3. Jenis Alat Pengukur Keberhasilan Proses Pembelajaran
37
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 301.
38
Djamarah, Strategi.,107.
55
Untuk dapat mengetahui berhasil tidaknya suatu pekerjaan atau suatu
pengajaran yang dilakukan, dengan kata lain apakah anak didik telah berhasil
dalam belajar atau belum, diperlukan alat ukur yang sesuai dengan kegunaan
tersebut. Alat ukur tersebut dibuat secara teliti dan direncanakan sebelum
kegiatan belajar dilakukan.39
Pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah
yaitu ranah kognitif, psikomotor, dan afektif. Secara eksplisit ketiga ranah ini
tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Setiap mata ajar selalu mengandung
ketiga ranah tersebut, namun penekanannya selalu [Link] ajar praktek
lebih menekankan pada ranah psikomotor, sedangkan mata ajar pemahaman
konsep lebih menekankan pada ranah [Link] kedua ranah tersebut
mengandung ranah afektif.
a. Aspek Kognitif
Menurut taksonomi Bloom dalam Mimin Haryati (2007), kemampuan
kognitif adalah kemampuan berpikir secara hirarkis yang terdiri dari
pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Pada tingkat pengetahuan, peserta didik menjawab pertanyaan
berdasarkan hafalan [Link] tingkat pemahaman peserta didik dituntut
untuk menyatakan masalah dengan kata-katanya sendiri, memberi contoh
suatu konsep atau [Link] tingkat aplikasi, peserta didik dituntut
untuk menerapkan prinsip dan konsep dalam situasi yang [Link]
tingkat analisis, peserta didik diminta untuk menguraikan informasi
39
Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 139.
56
kepada beberapa bagian, menemukan asumsi, membedakan fakta dan
pendapat, serta menemukan hubungan sebab [Link] tingkat sintesis,
peerta didik dituntut untuk menghasilkan suatu cerita, komposisi,
hipotesis atau teorinya sendiri, dan mensintesiskan [Link]
tingkat evaluasi, peserta didik mengevaluasi informasi seperti bukti,
sejarah, editorial, teori-teori yang termasuk di dalamnya judgement
terhadap hasil analisis untuk membuat kebijakan.
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berpikir yang
mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu
mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang
menuntut anak didik untuk menghubungkan dan menggabungkan
beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk
memecahkan masalah tersebut.
Menurut Mimin Haryati (2007) aspek kognitif terdiri dari enam
tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Keenam tingkat
tersebut yaitu:
1. Tingkat pengetahuan (knowledge), pada tahap ini menuntut anak didik
untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah
diterima sebelumnya, misalnya fakta, rumus, terminology strategi
problem solving.
2. Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori
pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan
pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri.
57
Pada tahap ini peserta didik diharapkan menerjemahkan atau
menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri.
3. Tingkat penerapan (application), penerapan merupakan kemampuan
untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari
ke dalam situasi yang baru, serta memecahkan berbagai masalah yang
timbul dalam kehidupan sehari-hari.
4. Tingkat analisis (analysis), analisis merupakan kemampuan
mengidentifikasi, memisahkan, dan membedakan komponen-
komponen atau element suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi,
hipotesa atau kesimpulan, dan memeriksa setiap komponen tersebut
untuk melihat ada atau tidaknya [Link] tingkat ini peserta
didik diharapkan menunjukkan hubungan di antara berbagai gagasan
dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar, prinsip
atau prosedur yang telah dipelajari.
5. Tingkat sintesis (synthesis), sintesis merupakan kemampuan seseorang
dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai element dan unsure
pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih
menyeluruh.
6. Tingkat evaluasi (evaluation), evaluasi merupakan level tertinggi yang
mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian dan
58
keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau benda
dengan menggunakan kriteria tertentu.40
Apabila melihat kenyataan yang ada, dalam system pendidikan
yang diselenggarakan pada umumnya baru menerapkan beberapa aspek
kognitif tingkat rendah, seperti pengetahuan, pemahaman, dan sedikit
[Link] tingkat analisis, sintesis, dan evaluasi jarang sekali
diterakan. Apabila semua tingkat kognitif diterapkan secara merata dan
terus menerus maka hasil pendidikan akan lebih baik.
b. Aspek Afektif
Life skill merupakan bagian dari kompetensi lulusan sebagai hasil
proses pembelajaran. Ranah aektif sangat menentukan keberhasilan
seorang pesrta didik unuk mencapai ketuntasan dalam proses
pembelajaran.
Seorang peserta didik yang tidak memiliki minat atau karakter
terhadap mata ajar tertentu. Maka akan kesulitan untuk mencapai
ketuntasan belajar secara maksimal. Sedangkan peserta didik yang
memiliki minat atau karakter terhadap mata ajar, maka hal ini akan
sangat membantu untuk mencapai ketuntasan pembelajaran secara
maksimal.
Berdasarkan hal di atas, maka seorang guru selain membantu
semua peserta didik belajar, guru juga harus mampu membangkitkan
minat atau karakter peserta didik untuk [Link] merupakan tanggung
40
Mimin Haryati, Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007),
22-23.
59
jawab seorang guru selaku pengajar dan [Link] itu juga ikatan
emosional juga sering diperlukan untuk membangun karakter
kebersamaan, rasa sosialis yang tinggi, persatuan, nasionalisme dan lain
[Link] dengan hal ini, maka guru dalam merancang
program pembelajaran harus memperhatikan ranah afektif.
Menurut Krathwohl, ranah afektif terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
receiving, responding, valuing, organization, dan characterization.
1. Receiving
Pada tingkat receiving, peserta didik memiliki keinginan untuk
memperhatikan suatu fenomena khusus (stimulus). Misalnya keadaan
kelas, berbagai kegiatan sekolah (kegiatan ekstrakurikuler), buku, dan
lain [Link] sini seorang guru hanya bertugas mengarahkan
perhatian (fokus) peserta didik pada fenomena yang menjadi obyek
pembelajaran [Link] guru mengarahkan dan memotivasi
peserta didik untuk membaca buku, mengerjakan tugas, memberi
motivasi belajar dan lain sebagainya. Jika hal ini terus-menerus
dilakukan maka akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini adalah
kebiasaan yang positif yang sangat diharapkan dalam mendukung
ketuntasan belajar.
2. Responding
Responding atau tanggapan merupakan partisipasi aktif peserta
didik, yaitu sebagai bagian dari [Link] tingkat ini peserta
didik tidak hanya memperhatikan fenomena khusus, tetapi juga
60
beraksi terhadap fenomena yang [Link] belajar pada tingkat ini
yaitu menekankan diperolehnya respon, keinginan memberi respon
atau kepuasan dalam memberi [Link] tertinggi pada
kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada
pencarian hasil dan kesenangan pada aktifitas [Link] senang
bertanya, senang membaca buku, senang membantu sesama, senang
dengan kebersihan, dan lain sebagainya.
3. Valuing
Pada tingkat valuing atau menilai ini melibatkan penentuan nilai,
keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan
[Link] rentangnya mulai dari menerima suatu nilai,
misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada
tingkat [Link] atau penilaian berbasis pada internalisasi
dari seperangkat nilai yang [Link] belajar pada tingkat ini
berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai
dikenal secara jelas.
4. Organization
Organisasi merupakan kemampuan untuk membentuk suatu system
nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam [Link] tingkat
organisasi antara nilai yang satu dengan yang lain dikaitkan da konflik
antar nilai diselesaikan, serta mulai membangun system internal yang
konsisten. Hasil belajar pada tingkat ini yaitu berupa konseptualisasi
61
nilai atau organisasi system nilai, misalnya pengembangan filsafat
hidup.
5. Characterization
Karakterisasi merupakan kemampuan untuk menghayati nilai-nilai
kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi
(internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur
kehidupannya sendiri.
Pada tingkat ini peserta didik memiliki system nilai yang
mengendalikan perilaku sampai pada suatu waktu tertentu hingga
terbentuk pola [Link] belajar pada tingka ini adalah berkaitan
dengan pribadi, emosi, dan rasa sosialis.41
c. Aspek Psikomotorik
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan
(skill) dan kemampuan bertindak [Link] enam tingkatan
keterampilan, yaitu:
1. Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar).
2. Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar.
3. Kemampuan perceptual, termasuk di dalamnya membedakan visual,
membenarkan auditif, motoris, dan lain-lain.
4. Kemampuan di bidang fisik, misalnya keutamaan, keharmonisan, dan
ketepatan.
41
Haryati, Sistem.,39.
62
5. Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai
pada keterampilan yang kompleks.
6. Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-discursive
seperti gerakan ekspresif dan interpretative.42
Sedangkan menurut Dave hasil belajar psikomotor dapat dibedakan
menjadi lima peringkat yaitu imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan
naturalisasi.
a. Imitasi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan sederhana
dan sama persis dengan yang dilihat atau diperhatikan sebelumnya.
Contohnya menendang bola dengan gerakan yang sama persis dari
yang dilihat sebelumnya.
b. Manipulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana yang
belum pernah dilihatnya, tapi berdasarkan pada pedoman atau
petunjuk saja. Misalnya seorang anak didik dapat melempar lembing
hanya mengandalkan petunjuk dari guru.
c. Presisi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan yang akurat,
sehingga mampu menghasilkan produk kerja yang presisi. Misalnya
melakukan tendangan pinalti sesuai dengan yang ditargetkan (masuk
gawang lawan).
d. Artikulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan kompleks dan
ketepatan, sehingga produk kerjanya utuh. Misalnya melempar bola ke
teman sebagai umpan untuk ditendang kea rah gawang lawan.
42
Sudjana, Penilaian.,30.
63
e. Naturalisasi adalah kemampuan melakukan kegiatan secara refleks,
yaitu kegiatan yang melibatkan fisik saja, sehingga efektivitas tinggi.
Misalnya secara refleks seseorang memegang tangan seorang anak
kecil yang sedang bermain di jalan raya ketika sebuah mobil melaju
dengan kecepatan tinggi. Hal ini terjadi agar terhindar dari kecelakaan
tertabrak.43
C. Tinjauan Tentang Interaksi Edukatif Guru dan Anak Didik Terhadap
Keberhasilan Proses Pembelajaran.
Guru dan anak didik merupakan sosok yang berpengaruh dalam proses
belajar mengajar, karena dalam proses belajar mengajar tersebut terjalin
sebuah interaksi edukatif antara guru sebagai pengajar yang tugasnya sebagai
pembimbing dan membina anak didiknya, dan anak didik sebagai objek
sekaligus sebagai subjek yang menerima pengajaran, keduanya terjalin dalam
sebuah interaksi edukatif yang berlangsung dalam suatu ikatan untuk mencapai
tujuan pendidikan dan pengajaran.
Interaksi edukatif guru dengan anak didik merupakan suatu upaya untuk
mencapai kegiatan tujuan pendidikan dan pengajaran, karena apabila interaksi
edukatif guru dan anak didik tidak terjalin dengan baik dan harmonis dalam
proses pembelajaran maka tujuan pendidikan pun tidak akan terlaksana dengan
baik. Guru dan anak didik merupakan dua unsur yang terlibat langsung dengan
proses pembelajatran, untuk itu guru dituntut untuk menciptakan interaksi
edukatif dengan harmonis dan kondusif sebab lingkungan belajar itu terbentuk
43
Haryati, Sistem., 26.
64
dari beberapa komponen-komponen yang saling mempengaruhi. Komponen-
komponen tersebut diantaranya; tujuan pembelajaran, materi pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, metode yang digunakan, alat, sumber pembelajaran,
dan evaluasi.
Guru yang kedudukannya sebagai pengajar, pembimbing, motivator,
mediator, dan evaluator bagi siswanya, harus memahami bahwa tujuan akhir
dari interaksi edukatif guru dan anak didik diharapkan anak didik mengalami
perubahan tingkah laku yang mencakup tiga aspek, yaitu aspek sikap (affectif),
aspek pengetahuan (kognitif), dan aspek ketrampilan (psikomotorik). Oleh
karena itu dalam interaksi edukatif guru harus dapat melaksanakan beberapa
hal sebagai berikut:
1. Meningkatkan keaktifan proses pembelajaransebagai interaksi edukatif
Jika guru memiliki tingkat kemampuan mengajar yang tinggi, maka
kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan akan berlangsung dengan
kondusif. Kondisi yang demikian akan memungkinkan peningkatan proses
belajar mengajar di sekolah.
Dalam kegiatan belajar diperlukan adanya aktivitas sebab tanpa
aktivitas belajar tidak akan berlangsung dengan [Link] pengajaran
akan tercapai dengan baik jika pelajar atau anak didik berusaha secara aktif
untuk mencapainya. Keaktifan anak didik disini tidak hanya dituntut dari
segi fisik, tetapi juga dari segi [Link] hanya fisik anak didik yang
aktif, tetapi fikiran dan mintalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar
tujuan pembelajaran tidak tercapai.
65
Sedangkan penertian keaktifan belajar adalah kegiatan belajar yang
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh yang ditandai dengan adanya
perubahan atau keaktifan orang yang belajar dalam rangka merespon atau
mempelajari apa yang terdapat dalam lingkungannya atau yang diajarkan
kepadanya dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan
atau dengan kata lain adanya semangat yang tinggi dari pelajar atau anak
didik dalam rangka mencapai tujuannya.
Ada beberapa prinsip belajar yang dapat mennjang tumbuhnya belajar
siswa aktif diantaranya :
1.) Stimulus Belajar
2.) Perhatian dan Motivasi
3.) Respon yang dipelajari
4.) Penguatan
5.) Pemakaian dan pemindahan44
Prinsip-prinsipdi atas sangat penting sekali untuk diterapkan oleh
siswa dan juga sangat penting diketahui oleh pendidik sehingga bisa
mendorong belajar siswa seoptimal mungkin.
2. Meningkatkan kualitas pendidikan secara berkesinambungan
Dengan kemampuan mengajar yang dimiliki oleh para guru, maka
akan lebih memberikan kemudahan bagi anak didik dalam mencamkan dan
mengimplementasikan materi pelajaran yang telah di berikan oleh para
guru, sehingga hasil belajar anak didik benar-benar berada pada tingkat
44
Sriyono, Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA(Jakarta : Rineka Cipta, 1991), 15.
66
optimal. Dengan demikian guru selaku pengajar dan pendidik dapat
dikatakan sukses dalam meningkatkan kualitas pendidikan dengan kata lain
kualitas pendidikan dapat tercapai dengan baik.
3. Meningkatkan hasil proses pembelajaran
Dalam meningkatkan hasil belajar yang maksimal dan berguna bagi
anak didik, guru harus pandai memilih isi pengajaran serta bagaimana
proses belajar itu harus dikelola dan dilaksanakan di sekolah. Ada dua jenis
belajar yang perlu dibedakanyakni belajar konsep dan belajar proses.
Belajar konsep lebih menekankan hasil belajar kepada pemahaman fakta
dan prinsip, banyak bergantung pada apa yang diajarkan guru, yaitu bahan
atau keteramlan roses lebih menekankan pada masalah bagaiman bahan
pelajaran itu diajarkan dan dipelajari.
Bila persoalan belajar keterampilan proses itu diikutkan dengan cara
balajar aktif, maka tampak kesamaan konseptual, baik belajr konsep
maupun belajar keterampilan proses keduanya mempunyai ciri-ciri yaitu :
a. menekankan pentingnya makna belajar untuk mencapai hasil belar yang
memadai.
b. Menekankan pentingnya keterlibatan siswa dalam proses belajar
c. Menekankan hasil belajar adalah proses dua arah yang dapat dicapai oleh
anak didik.
d. Menekankan hasil belajar secara tuntas dan utuh.
Jadi orang melakukan pebuatan belajar ini merasa bahagia, lebih dapat
menyesuaikan diri lebih dapat mempergunakan alam sekitarnya, lebih
67
banyak pengetahuannya atau lebih dapat melakukan sesuatu yang
sebelumnya tidak dapat dilakukan. Pendek kata orang yang telah belajar
akan mengalami perubahan seluruh pribadi yang optimal. Perubahan itulah
yang dinamakan dengan hasil belajar.
Berikut ini dikemukakan unsur-unsur yang terdapat dalam aspek hasil
belajar yaitu perubahan yang berkaitan dengan aspek kognitif, yaitu :
Perubahan pengetahuan yang berkenaan dengan kemampuan individu untuk
mengenal dunia sekitarnya melalui kemampuan intelektual. Jadi seseorang
yang mengalami proses belajar bertambah banyak dan mendalam ilmu
pengetahuannya, bertambah banyak informasi yang diterima.45
Dan, perubahan yang berkaitan dengan aspek afektif, yaitu:Hasil
belajar ini berkaitan dengan sikap dan nilai. Sikap seseorang dapat
diramalkan perubahannya, bila seseorang telah menguasai bidang kognitif
tingkat [Link] afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah
laku sepertii atensi terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar,
menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan lain-lain.46
Sedangkan perubahan yang berkenaan dengan aspek psikomotorik,
yaitu: Perubahan yang berkenaan dengan kekuatan alat kegiatan
[Link] yang belajar maka keterampilannyaakan bertambah sesuai
dengan apa yang dipelajarinya. Hasil belajar ini nampak dalam bentuk
45
TIM Dosen FIP IKIP Malang, Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah (Surabaya: Usaha
Maju, 1981), 20.
46
Sudjana, Penilaian.,55.
68
keterampilan atau skil, kemampuan bertindak individu (seseorang).47
Perubahan atau hasil belajar di atas, sebenarnya tidak berdiri sendiri,
tetapi selalu berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya, bahkan ada
dalam [Link] yang berubah tingkah laku kognisinya
sebenarnya dalam kadar tertentu telah berubah pula sikap dan prilakunya.
4. Tercapainya tujuan pendidikan di Sekolah/Madrasah
Tujuan pendidikan di sekolah dikatakan tercapai, apabila output (anak
didik) yang dihasilkan dapat menampilkan perubahan tingkah laku
(kognitif,afektif, psikomotorik) yang positif. Tujuan pendidikan adalah
untuk membina manusia menjadi manusia yang sempurna seutuhnya.
Hal tersebut, sangat sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan
nasional yang telah tertuang dalam Undang-Undang RI No. 20. Th. 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II, Pasal 3, yang berbunyi :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.48
Pencapaian tujuan pendidikan diatas, dibebankan kepada lembaga-
lembaga pendidikan yang [Link]-tiap lembaga pendidikan mempunyai
tugas yang harus diselesaikan dalam bentuk rumusan [Link] itu
bahwa setiap lembaga pendidikan pasti mempunyai tujuan institusi
47
Sudjana, Penilaian.,54.
48
Departemen Pendidikan Nasional RI, Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional Cet. I (Jakarta : Departemen Pendidikan,2003), 8.
69
tersendiri sesuai dengan visi dan misi dari lembaga [Link]
perbedaan (tujuan institusi), itu tidak terlalu jauh karena semuanya sama-
sama mengacu pada tujuan pendidikan nasional.
Tujuan dalam pendidikan tersusun menurut tingkat-tingkat tertentu,
mulai dari tujuan-tujuan yang sangat luas dan umum sampai pada tujuan-
tujuan yang spesifik. Tujuan-tujuan yang dimaksud diantaranya :Tujuan
institusional, adalah tujuan yang harus dicapai oleh anak didik yang
mengikuti program pendidikan di suatu sekolah. Tujuan institusional terdiri
dari dua yaitu tujuan umum dan tujuan [Link] umum menunjuk
kepada pengembangan warga negara yang [Link] khusus meliputi
pengembangan aspek-aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai.
Dalam tujuan instruksional ini mencakup unsur-unsur pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang harus di miliki oleh anak didik setelah
menyelesaikan topik pelajaran. Tujuan instruksional dibagi dua yaitu ;
Tujuan instruksional umum adalah rumusan tujuan yang dapat
membantu perencanaan untuk memilih bahan pelajaran yang dapat dipakai
sebagai sasaran proses belajar. Sedangkan tujuan instruksional khusus yaitu
rumusan yang sudah benar-benar khusus. Dengan kata lain rumusan yang
dapat di ukur atau di nilai dan menyangkut tingkah laku anak didik yang
didasarkan pada kriteria tertentu. Jika segala aktivitas belajar mengajar
disusun berdasarkan tujuan yang akan dicapai, maka tujuan pendidikan di
sekolah akan dapat terwujud, baik di bidang pengetahuan, keterampilan
maupun sikap.
70