BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Diare
Menurut WHO (2018), dikatakan diare bila keluarnya tinja yang lunak atau
cair dengan frekuensi tiga kali atau lebih sehari semalam dengan atau tanpa
darah atau lendir dalam tinja. Sedangkan menurut Depkes (2019), diare adalah
buang air besar lembek atau cair bahkan dapat berupa air saja yang
frekuensinya lebih dari tiga kali atau lebih dalam sehari. Jenis diare dibagi
menjadi tiga yaitu:
1. Disentri yaitu diare yang disertai darah dalam tinja.
2. Diare persisten yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara
terus menerus.
3. Diare dengan masalah lain yaitu diare yang disertai penyakit lain,
seperti: demam dan gangguan gizi.
Berdasarkan waktunya, diare dibagi menjadi dua yaitu dare akut dan diare
kronis. Diare yang berlangsung kurang dari 14 hari disebut diare akut,
sedangkan diare yang lebih dari 14 hari disebut diare kronis (Widjaja, 2018).
B. Epidemiologi Penyakit Diare
Diare akut merupakan masalah umum yang ditemukan di seluruh dunia. Di
Amerika Serikat keluhan diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan
pasien pada ruang praktik dokter, sementara di beberapa rumah sakit di
Indonesia data menunjukkan bahwa diare akut karena infeksi menempati
6
peringkat pertama sampai dengan keempat pasien dewasa yang datang berobat
ke rumah sakit (Hendarwanto, 2020).
Data World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa sekitar 2
milyar kasus diare terjadi di seluruh dunia setiap tahun. kasus diare mencapai
200 juta hingga 300 juta kasus per tahun. Di seluruh dunia, terjadi sekitar 2,5
juta kasus kematian karena diare per tahun meskipun tatalaksana sudah maju. .
(Widoyono, 2011:194).
Di Indonesia, pada tahun 70 sampai 80-an, prevalensi penyakit diare
sekitar 200-400 per 100 penduduk per tahun. Angka CFR diare menurun dari
tahun ke tahun. Dari 40-50% pada tahun 1975 menjadi 12% tahun 1990. Masih
seringnya terjadi wabah atau KLB diare menyebabkan pemberantasannya
menjadi suatu hal yang sangat penting. Angka kematian yang jauh lebih tinggi
dari pada kejadian kasus diare membuat perhatian para ahli kesehatan
masyarakat tercurah pada penanggulangan KLB diare secara cepat (Widoyono,
2011:194).
C. Etiologi Diare
1. Infeksi
Proses ini diawali dengan adanya mikroorganisme yang masuk ke
dalam saluran pencernaan yang berkembang dalam usus. Agent penyebab
diare karena infeksi dapat digolongkan menjadi tiga:
a) Bakteri: Salmonella, Escherichia coli, Shigella sp., Vibrio cholerae,
Bacilus cereus, Clostridium perfringens, Staphylococcus aureus,
Camphylo bacter, dan Aeromonas.
7
b) Virus: Rotavirus, Adenovirus, Norwalk dan Norwalk Like. Penyebab
utama diare pada balita adalah Rotavirus, sekitar 20-80%. Penularannya
melalui faecal-oral, menyebabkan diare cair akut dengan masa inkubasi
24-72 jam, dapat menyebabkan dehidrasi berat yang berujung pada
kematian.
c) Parasit: cacing perut seperti Ascaris, Trichuris, Stongloides, dan
Blastissistis humini.
D. Penyebab Penyakit Diare
Diare bukanlah penyakit yang datang dengan sendirinya. Biasanya ada
yang menjadi pemicu terjadinya diare. Secara umum, berikut ini beberapa
faktor penyebab diare yaitu faktor infeksi disebabkan oleh bakteri Escherichia
coli, Vibrio cholerae (kolera) dan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan.
Faktor makanan, makanan yang tercemar, basi, beracun dan kurang matang.
Faktor psikologis dapat menyebabkan diare karena rasa takut pada anak, cemas
dan tegang dapat mengakibatkan diare kronis pada anak (Widjaja, 2018).
Berdasarkan metaanalisis di seluruh dunia, setiap anak minimal mengalami
diare satu kali setiap tahun. Dari setiap lima pasien anak yang datang karena
diare, satu di antaranya akibat rotavirus. Kemudian, dari 60 anak yang dirawat
di rumah sakit akibat diare satu di antaranya juga karena rotav irus. Rotavirus
adalah salah satu virus yang menyebabkan diare terutama pada bayi,
penularannya melalui faces (tinja) yang mengering dan disebarkan melalui
udara (Widoyono, 2018)
Sebagian besar kasus diare di Indonesia pada bayi dan anak disebabkan
oleh infeksi rotavirus. Bakteri dan parasit juga dapat menyebabkan diare.
8
Organisme-organisme ini mengganggu proses penyerapan makanan di usus
halus. Dampaknya makanan tidak dicerna kemudian segera masuk ke usus
besar dan akan menarik air dari dinding usus. Di lain pihak, pada keadaan ini
proses transit di usus menjadi sangat singkat sehingga air tidak sempat diserap
oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada diare (Depkes
RI, 2019)
Usus besar tidak hanya mengeluarkan air secara berlebihan tapi juga
elektrolit. Kehilangan cairan dan elektrolit melalui diare ini kemudian dapat
menimbulkan dehidrasi. Dehidrasi inilah yang mengancam jiwa penderita
diare.
Diare juga bisa terjadi akibat kurang gizi, alergi, tidak tahan terhadap
laktosa, dan sebagainya. Bayi dan balita banyak yang memiliki intoleransi
terhadap laktosa dikarenakan tubuh tidak punya atau hanya sedikit memiliki
enzim laktose yang berfungsi mencerna laktosa yang terkandung dalam susu
sapi.
Bayi yang menyusu ASI (Air Susu Ibu). Bayi tersebut tidak akan
mengalami intoleransi laktosa karena di dalam ASI terkandung enzim laktose.
Disamping itu, ASI terjamin kebersihannya karena langsung diminum tanpa
wadah seperti saat minum susu formula dengan botol dan dot.
Diare dapat merupakan efek sampingn banyak obat terutama antibiotik.
Selain itu, bahan-bahan pemanis buatan seperti sorbitol dan manitol yang ada
dalam permen karet serta produk-produk bebas gula lainnya dapat
menimbulkan diare. Hal ini bisa terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang
9
memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal
dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang (Green, 2019).
Orang tua berperan besar dalam menentukan penyebab anak diare. Bayi
dan balita yang masih menyusui dengan ASI eksklusif umumnya jarang diare
karena tidak terkontaminasi dari luar. Namun, susu formula dan makanan
pendamping ASI dapat terkontaminasi oleh bakteri dan virus.
10
E. Gejala Diare
Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi empat
kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai muntah, badan lesu atau
lemah, panas, tidak nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoran, rasa mual
dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi
virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah,
demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan, dapat pula mengalami sakit
perut dan kejang perut pada anak-anak dan orang dewasa, serta gejal-gejala lain
seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala.
Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung
darah atau demam tinggi (Green, 2019).
Diare bisa menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit (misalnya
natrium dan kalium), sehingga bayi menjadi rewel atau terjadi gangguan irama
jantung maupun perdarahan otak. Diare seringkali disertai oleh dehidrasi
(kekurangan cairan). Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering.
Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun menjadi
cekung (pada bayi yang berumur kurang dari 18 bulan) dan dehidrasi berat bisa
berakibat fatal, biasanya menyebabkan syok (Widjaja, 2018).
F. Penularan Diare
Penyakit diare sebagian besar (75%) disebabkan oleh kuman seperti virus
dan bakteri. Penularan penyakit diare melalui orofekal terjadi dengan
mekanisme berikut ini.
1. Melalui air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi
bila seorang menggunakan air minum yang sudah tercemar, Pencemaran
11
di rumah terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila
tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari
tempat penyimpanan.
2. Melalui tinja terinfeksi. Tinja mengandung virus atau bakteri dalam
jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian
binatang tersebut hinggap di makanan, maka makanan itu dapat
menularkan diare ke orang yang memakannya (Widoyono, 2011: 197).
Beberapa faktor risiko lain yang berhubungan dengan cara penularan
faktor risiko lain yang berhubungan antara lain.
a) Tidak tersedia air bersih yang memenuhi syarat
b) Air yang tercemar agen penyebab diare
c) Pembuangan limbah yang tidak memenuhi syarat kesehatan
d) Perilaku yang tidak sehat dan lingkungan yang kurang bersih
e) Pengolahan, penyedia, dan penyajian makanan yang tidak
memenuhi standar kesehatan.
G. Pengobatan Diare
Pengobatan diare berdasarkan dehidrasinya:
a. Tanpa Dehidrasi, Terapi A
Pada keadaaan ini, buang air besar 3-4 kali sehari atau disebut
mulai mencret. Pengobatan dapat dilakukan di rumah oleh ibu atau
anggota keluarga lainnya dengan memberikan makanan dan minuman
yang ada di rumah seperti air kelapa, larutan gula garam (LGG), air tajen,
air teh, maupun oralit. Istilah pengobatan ini adalah dengan menggunakan
terapi A. Ada 3 cara pemberian cairan yang dapat diberikan di rumah:
12
1) Memberikan lebih banyak cairan.
2) Memberikan makanan terus menerus.
3) Membawa ke petugas kesehatan bila tidak membaik dalam 3 hari.
b. Dehidrasi Ringan atau Sedang, Terapi B
Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya cairan
sampai 5% dari berat badan, sedangkan pada diare sedang terjadi
kehilangan 6-7% dari berat badan. Untuk mengobati diare pada derajat
dehidrasi ringan/sedang digunakan terapi B, yaitu pada jam pertama,
jumlah oralit yang digunakan bila berumur kurang dari 1 tahun sebanyak
300 ml, umur 1 – 4 tahun sebanyak 600 ml, dan umur lebih dari 5 tahun
sebanyak 1.200 ml.
c. Dehidrasi Berat, Terapi C
Diare dengan dehidrasi berat ditandai dengan mencret terus
menerus, biasanya lebih dari 10 kali disertai muntah, kehilangan cairan
lebih dari 10% berat badan. Diare diatasi dengan terapi C, yaitu
perawatan di puskesmas atau RS untuk diinfus RL (Ringer Laktat).
d. Teruskan Pemberian Makan
Pemberian makanan seperti semula diberikan sedini mungkin dan
disesuaikan dengan kebutuhan.
e. Antibiotik Bila Perlu
Sebagian penyebab diare adalah rotavirus yang tidak memerlukan
antobiotik dalam penatalaksanaan kasus diare, karena tidak bermanfaat
dan efek sampingnya merugikan penderita (Widoyono, 2011:198).
13
Menurut Kemenkes RI (2017) dalam Buletin Indonesia menambahkan
pengobatan diare dengan pemberian zinc. Zinc merupakan salah satu
mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat menghambat enzim INOS
(Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim ini meningkat selama
diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga berperan dalam
epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan fungsi
selama kejadian diare. Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu
mengurangi lama dan tingkat keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air
besar, mengurangi volume tinja, serta menurunkan kekambuhan kejadian diare
pada 3 bulan berikutnya. Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare
sudah berhenti, dengan cara melarutkan tablet dalam 1 sendok makan air
matang.
H. Pencegahan Penularan Diare
Diare umumnya ditularkan melalui empat F, yaitu food, feces, fly dan
finger. Oleh karena itu upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan
memutus rantai penularan tersebut. Beberapa upaya yang dapat dilakukan
adalah menyiapkan makanan dengan bersih, menyediakan air minum yang
bersih, menjaga kebersihan individu, mencuci tangan sebelum makan,
pemberian ASI eksklusif, buang air besar pada tempatnya, membuang sampah
pada tempatnya, mencegah lalat agar tidak menghinggapi makanan, membuat
lingkungan hidup yang sehat (Andrianto, 2018)
Diare pada anak dapat menyebabkan kematian dan gizi kurang. Kematian
dapat dicegah dengan mencegah dan mengatasi dehidrasi dengan pemberian
oralit. Gizi yang kurang dapat dicegah dengan pemberian makanan yang cukup
14
selama berlangsungnya diare. Pencegahan dan pengobatan diare pada anak
harus dimulai dari rumah dan obat-obatan dapat diberikan bila diare tetap
berlangsung. Anal harus segera dibawa ke rumah sakit bila dijumpai tanda-
tanda dehidrasi pada anak
Menurut Andrianto (2019) beberapa penanganan sederhana yang harus
diketahui oleh masyarakat tentang pencegahan diare adalah sebagai berikut:
Pemberian air susu, Perbaikan cara menyapih, Penggunaan banyak air bersih,
Cuci tangan, Penggunaan jamban, Pembuangan tinja anak kecil pada tempat
yang tepat, Imunisasi terhadap morbili.
I. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Diare
Diare berhubungan oleh beberapa faktor, antara lain : Keadaan lingkungan,
perilaku masyarakat, pelayanan masyarakat, gizi, kependudukan, pendidikan,
dan keadaan sosial ekonomi. (Widoyono, 2019:193)
1. Faktor Keadaan Lingkungan
Widoyono (2019:4) membagi lingkungan menjadi lingkungan fisik
dan non fisik. Lingkungan fisik meliputi keadaan geografis, kelembaban
udara, temperatur, dan lingkungan tempat tinggal. Hal ini yang menjadi
perhatian pada lingkungan tempat tinggal adalah sanitasinya. Sanitasi
Lingkungan perumahan beraitan dengan penularan penyakit, khususnya
diare. Sementara itu, lingkungan non fisik meliputi sosial, budaya,
kebiasaan ekonomi dan politik. Sosial masyarakat nantinya akan
mempengaruhi tingkat pengetahuan, sikap, dan praktek masyarakat dalam
bidang kesehatan. Secara umum, ada empat aspek sanitasi perumahan
yang berisiko dalam penularan diare, yaitu sarana air bersih, jamban,
15
sarana pembuangan sampah dan saluran pembuangan air limbah. Berikut
akan dibahas lebih lanjut menegenai keempat aspek tersebut.
a. Sarana Air Bersih
Air adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia akan
lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan
makanan. Dalam tubuh manusia itu sebagian besar terdiri dari air. Tubuh
orang dewasa sekitar 55 – 60% berat badan terdiri dari air, untuk anak –
anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan
air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci,
dan sebagainya. Menurut perhitungan WHO di Negara – negara maju
setiap orang memerlukan air antara 60 – 120 liter per hari. Sedangkan di
negara – negara berkembang, termasuk Indonesia setiap orang
memerlukan air antara 30 – 60 liter per hari (Saputri & Astuti, 2019).
Sarana penyediaan air bersih yang dikonsumsi harus berasal dari
sumber yang bersih dan aman. Batasan air yang bersih dan aman adalah:
1) Bebas dari kontaminasi kuman dan bibir penyakit.
2) Bebas dari substansi kimia berbahaya dan beracun.
3) Tidak berasa dan tidak berbau.
4) Dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan
rumah tangga
5) Memenuhi standar minimal yang ditentukan WHO atau
Departemen Kesehatan RI(Kemenkes RI. 2017).
16
Sarana penyediaan air bersih dinyatakan tercemar bila mengandung
bibit penyakit, parasit, bahan- bahan kimia yang berbahaya, dan sampah
atau limbah industri (Kemenkes RI. 2017).
Sumber air yang berada di permukaan bumi ini berdasarkan letak
sumbernya dibagi menjadi:
1) Air Angkasa (Hujan)
Air hujan merupakan air yang paling bersih dan murni pada saat
proses presipitasi, namum cenderung mengalami pencemaran ketika
berada di atmosfer.
Pencemaran yang berlangsung di atmosfer disebabkan oleh
partikel-partikel debu dan gas yang terdapat dalam udara. Sehingga
air hujan yang turun ke bumi sudah tidak murni dikarenakan terjadi
reaksiantara air hujan dengan partikel debu dan gas yang
mengakibatkan keasamanpada air hujan yang membentuk hujan asam.
2) Air Permukaan
Air permukaan disebut juga badan air meliputi sungai, danau,
telaga waduk, dan sebagainya. Jenis air ini sudah terkontaminasi oleh
berbagai macam kotoran, maka sebelum dijadikan sumber air harus
diolah terlebih dahulu.
3) Air Tanah
Air tanah berasal dari air hujan yang jatuh kepermukaan bumi
kemudian mengalami perkolasi atau penyerapan ke dalam tanah dan
mengalami filtrasi secara alamiah. Proses tersebut membuat air tanah
17
menjadi lebih baik dibanding air permukaan. Kelebihan air tanah
antara lain tidak perlu lagi mengalami prose penjernihan.
Ketersediannya mencukupi sepanjang tahun. Namun air tanah
juga memiliki kelemahan karena mengandung konsentrasi zat mineral
yang tinggi sehingga dapat menyebabkan kesadahan air selain itu
perlu pompa untuk mengalirkan air ke atas permukaan (Kemenkes RI.
2017).
Penyakit yang berhubungan dengan air dibagi menjadi beberapa
kelompok berdasarkan cara penularannya antara lain:
1) Waterborne mechanism
Kuman patogen dalam air menyebabkan penyakit, ditularkan
kepada manusia melalui mulut atau sistem pencernaan. Seperti
penyakit kolera, diare, tifoid, hepatitis viral, disentri basiler dan
poliomielitis.
2) Waterwashed mechanism
Penular annya berkaitan dengan kebersihan umum dan
perseorangan. Cara penularannya melalui alat pencernaan yang
menimbulkan diare, melalui kulit dan mata menyebabkan skabies dan
trakhoma. Penularan melalui binatang seperti penyakit lestopirosis.
3) Water-based mechanism
Penyakit yang ditularkan dengan mekanisme ini memiliki
penyebab yang menjalani sebagian siklus hidupnya dalam tubuh
vektor atau sebagi intermediate host yang hidup di air. Contohnya
skistosomiasis.
18
4) Water-related insect vector mechanism
Penyakit ini ditularkan melalui gigitan serangga yang
berkembang biak dalam air. Contoh penyakitnya seperti filariasis,
dengue, malaria dan yellow fever (Fadhil,M.H. 2018).
Sumur merupakan sumber utama persediaan air bersih bagi
penduduk pedesaan maupun perkotaan di Indonesia. Secara teknis
sumur dibagi menjadi dua jenis yaitu sumur dangkal, jenis - jenis
sumur yang mudah terkontaminasi air kotor dan sumur dalam yang
sangat dianjurkan karena telah mengalami purifikasi alami sehingga
kecil kemungkinan untuk terkontaminasi.
Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sumur
gali adalah sebagai berikut:
1) Sumur harus berjarak minimal 15 meter dan terletak lebih tinggi
dari sumber pencemaran seperti kakus, kandang ternak, dan tempat
sampah. Sumber lain menyebutkan bahwa di Indonesia umumnya
berlaku jarak jamban antara 8-15 meter. Sedangkan Departeman
Kesehatan dan Departemen Pekerjaan Umum menetapkan jarak
minimum sumur gali dengan jamban/septic tank adalah 10 meter
perbedaan pendapat ini dikarenakan perbedaan iklim serta jenis dan
topografi tanah.
2) Lantai harus kedap air minimal harus 1 meter dari dinding sumur,
mudah dibersihkan, kemiringan 100 ke arah drainase agar tidak
menimbulkan genangan.
19
3) Bibir sumur/dinding parapet dibuat setinggi 70-75cm dari
permukaan tanah, bahan kuat dan kedap air.
4) Diding sumur paling tidak sedalam 6 meter dari permukaan tanah,
minimal 3 meter dan kedap air.
5) Drainase dibuat menyambung dengan parit agar tidak terjadi
genangan air disekitar sumur.
6) Jika pengambilan air dengan pompa tangan dan listrik sumur harus
tertutup. Jika pengambilan dengan timba maka harus disediakan
timba khusus untuk mencegah pencemaran, timba harus digantung
dan tidak boleh diletakkan di lantai.
7) Sumur umum harus dijaga kebersihannya karena kontaminasi dapat
terjadi setiap saat.
8) Kualitas air perlu dijaga melalui pemeriksaan fisik, kimia, maupun
bakteriologis. (Kemenkes RI 2017).
9) Penyakit diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan.
Apabila faktor lingkungan (terutama air) tidak memenuhi syarat
kesehatan karena tercemar bakteri apalagi didukung dengan
perilaku manusia yang tidak sehat seperti pembuangan tinja tidak
hygienis, kebersihan perorangan, lingkungan yang jelek, serta
penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya,
maka dapat menimbulkan kejadian diare.
20
b. Sarana Pembuangan Tinja Jamban
Penyakit diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan.
Apabila faktor lingkungan (terutama air) tidak memenuhi syarat
kesehatan karena tercemar bakteri apalagi didukung dengan perilaku
manusia yang tidak sehat seperti pembuangan tinja tidak hygienis,
kebersihan perorangan, lingkungan yang jelek, serta penyiapan dan
penyimpanan makanan yang tidak semestinya, maka dapat
menimbulkan kejadian diare.(Zamrudin Hi Abdul Rahim, dkk 2017).
Sarana pembuangan tinja jamban sehat merupakan jamban yang
tidak mencemari sumber air minum dan letak lubang penampung
berjarak 10-15 meter dari sumber air minum, tidak berbau dan tinja tidak
dapat dijamah oleh serangga maupun tikus, memiliki jarak yang cukup
luas dan landai/miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari
tanah disekitarnya, mudah dibersihan dan aman penggunaannya,
dilengkapi dinding dan atap pelindung serta dinding kedap air dan
berwarna, memiliki penerangan dan ventilasi yang cukup baik, memiliki
lantai yang kedap air, serta tersedianya air dan alat pembersih. Sehingga
manfaat dan fungsi dari jamban sehat adalah untuk melindungi
kesehatan masyarakat dari penyakit, melindungi dari gangguan estetika
dan bau, melindungi dari tempat berkembangnya serangga sebagai
vektor penyakit, dan melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih
dan lingkungan (Kemenkes RI, 2017).
21
Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jamban
adalah sebagai berikut:
1) Tidak mengakibatkan pencemaran pada sumber-sumber air minum,
dan permukaan tanah yang ada disekitar jamban;
2) Menghindarkan berkembangbiaknya/tersebarnya cacing tambang pada
permukaan tanah;
3) Tidak memungkinkan berkembang biaknya lalat dan serangga lain;
4) Menghindarkan atau mencegah timbulnya bau dan pemandangan yang
tidak menyedapkan;
5) Mengusahakan kontruksi yang sederhana, kuat dan murah;
6) Mengusahakan sistem yang dapat digunakan dan diterima masyarakat
setempat.
Dalam penentuan letak kakus ada dua hal yang perlu diperhatikan
yaitu jarak terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung
pada :
1) Keadaan daerah datar atau lereng;
2) Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam;
3) Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat
atau kapur.
Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya
peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara
sumber air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata
10 meter.
Dalam penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan :
22
1) Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah
bawah dari letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa di
atasnya, maka jarak tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus
agak ke kanan atau kekiri dari letak sumur.
2) Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang
sering digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya
lantai jamban (diatas lobang) dibuat lebih tinggi dari permukaan air
yang tertinggi pada waktu banjir.
3) Mudah dan tidaknya memperoleh air.
Adapun jenis-jenis jamban yaitu:
1) Jamban cemplung
Jamban cemplung adalah jamban yang penampungannya berupa
lubang yang berfungsi menyimpan kotoran/tinja ke dalam tanah dan
mengendapkan kotoran ke dasar lubang, untuk jamban cemplung ini
harus ada penutup agar tidak berbau.
2) Jamban leher angsa
Jamban leher angsa adalah jamban berbentuk leher angsa yang
penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi
sebagai wadah proses penguraian/dekomposisi kotoran manusia yang
dilengkapi dengan resapan Syarat-syarat jamban sehat : tidak
mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan
lubang penampungan minimal 10 meter), tidak berbau, kotoran tidak
dapat di jamah oleh serangga dan tikus, tidak mencemari tanah dan
sekitarnya, mudah di bersihkan dan aman di gunakan, di lengkapi
23
dinding dan atap pelindung, penerangan dan ventilasi yang cukup,
lantai kedap air dan luas ruangan memadai, tersedia air, sabun, dan
alat pembersih.
Cara memilih jamban yang sehat : Lantai jamban hendaknya selalu
bersih dan tidak ada genangan air, bersihkan jamban secara teratur
sehingga ruangan jamban dalam keadaan bersih, di dalam jamban tidak
ada kotoran yang terlihat, tidak ada serangga, (kecoa,lalat) dan tikus yang
berkeliaran, tersedia alat pembersih (sabun, sikat dan air bersih), bila ada
kerusakan segera perbaiki.
c. Sarana Pembuangan Sampah
Sampah adalah sesuatu bahan atau benda pada yang yang tidak
dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi
dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan
masyarakat Amerika membuat batasan, sampah (waste) adalah sesuatu
yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang
dibuang yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi dengan
sendirinya. Dari batasan ini jelas bahwa sampah adalah hasil suatu
kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna. Sehingga
bukan semua benda padat yang tidak digunakan dan dibuang disebut
sampah, misalnya: benda-benda alam, benda-benda yang keluar dari
bumi akibat gunung meletus, banjir, pohon di hutan yang tumbang akibat
angin ribut, dan sebagainya (Notoatmojdo, 2018:160).
24
Secara umum sampah yang sering ditemukan di rumah tangga adalah
sampah organik dan anorganik. Sampah organik berupa sampah yang
biasanya mudah terurai meliputi sisa makanan, daun, sayur, dan buah.
Sedangkan sampah anorganik berupa sampah yang tidak mudah terurai
seperti plastik dan logam (Notoatmodjo, 2011: 190).
Sampah harus dikelola dengan baik sehingga dapat menekan dampak
negatifnya. Sampah berdampah negatif terhadap kesehatan karena
berpotensi sebagai tempat berkembang biaknya vektor, terjadinya
kecelakaan, dan gangguan psikomatis. Dampak bagi lingkungan adalah
menganggu estetika, menimbulkan bau, pencemaran udara karena
pembakaran, gangguan aliran air hingga banjir. Sampah yang tidak
terkelola dengan baik juga berpengaruh terhadap sosial ekonomi dan
budaya masyarakat seperti menurunnya minat orang lain untuk
berkunjung ke daerah tersebut, perselisihan antara penduduk,
meningkatnya angka kesakitan sehingga berpengaruh pada produktivitas
masyarakat (Notoatmodjo, 2011: 193).
Cara-cara pengelolaan sampah antara lain sebagai berikut:
1) Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah
Pengumpulan sampah dimulai di tempat sumber dimana sampah
tersebut dihasilkan. Dari lokasi sumbernya sampah tersebut diangkut
dengan alat angkut sampah. Sebelum sampai ke tempat pembuangan
kadang-kadang perlu adanya suatu tempat penampungan sementara
(Kemenkes RI, 2018).Dari sini sampah dipindahkan dari alat angkut
yang lebih besar dan lebih efisien, misalnya dari gerobak ke truk atau
25
dari gerobak ke truk pemadat. Adapun Syarat tempat sampah yang di
anjurkan:
a) Terbuat dari bahan yang kedap air, kuat, dan tidak mudah bocor
b) Mempunyai tutup yang mudah di buka, dikosongkan isinya, mudah
dibersihkan.
c) Ukurannya di atur agar dapat di angkut oleh 1 orang
d) Tidak terjangkau vektor disekitar tempat sampah (lalt,tikus, dan
lain-lain. (Kemenkes RI, 2018).
Sedangkan syarat kesehatan pada tempat pengumpulan sampah
sementara yaitu:
a) Terdapat dua pintu: untuk masuk dan untuk keluar
b) Lamanya sampah di bak maksimal tiga hari
c) Tidak terletak pada daerah rawan banjir
d) Volume tempat penampungan sampah sementara mampu
menampung sampah untuk tiga hari
e) Ada lubang ventilasi tertutup kasa untuk mencegah masuknya lalat
f) Harus ada kran air untuk membersihkan
g) Tidak menjadi perindukan vector
h) Mudah di jangkau oleh masyarakat dan kendaraan pengangkut
2) Pemusnahan dan pengolahan sampah
a) Di taman (Landfill), yaitu pemusnahan sampah dengan membuat
lubang ditanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun
dengan tanah
26
b) Dibakar (Incineration), yaitu memusnahkan sampah dengan jalan
membakar di dalam tungku pembakaran (incenerator)
c) Dijadikan pupuk (Composting), yaitu pengolahan sampah menjadi
pupuk (kompos), khususnya untuk sampah organik daun-daunan,
sisa makanan, dan sampah lain yang dapat membusuk. (Kemenkes
RI, 2018).
d. Sarana Pembuangan Air Limbah
Saluran Pembuangan Limbah Cair ( SPAL ) adalah perlengkapan
pengelolaan air limbah bisa berupa pipa atau pun selainnya yang
dipergunakan untuk membantu air buangan dari sumbernya sanpai ke
tempat pengelolaan atau ke tempat pembuangan. Air limbah merupakan
sisa dari suatu usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair. Air limbah
dapat berasal dari kegiatan industri dan rumah tangga (domestik) Air
Limbah domestik adalah hasil buangan dari perumahan, bangunan
perdagangan, perkantoran dan sarana sejenisnya. (Notoatmodjo, 2011:
195).
Ada beberapa karakteristik air limbah:
1) Karakteristik fisik
Terdiri dari 99% air, dan 0,1% suspensi padat yang memiliki variasi
volume antara 100-500 mg/l. Limbah dengan suspensi padat kurang
dari 100mg/l dikategorikan lemah dan jika lebih dari 500 mg/l disebut
kuat.
27
2) Karakteristik kimia
Air limbah biasanya bercampur dengan zat kimia organik yang berasal
dari air bersih dan organik limbah tersebut. Air limbah bersifat basa
saat keluar dari sumbernya. Dan akan bersifat asam setelah membusuk
karena mengalami dekomposisi sehingga timbullah bau.
Halaman Rumah yang becek karena buruknya Saluran Pembuangan
Air Limbah (SPAL) memudahkan penularan penyakit diare pada balita
terutama yang ditularkan oleh cacing dan parasit. Limbah padat seperti
sampah juga merupakan media yang baik untuk berkembangbiaknya
vektor penyakit (Ramadhan Tosepu, dkk : 2017).
Sesuai dengan sumbernya, maka air limbah mempunyai kompos
yang sangat bervariasi dari setiap tempat dan setiap saat. akan tetapi
secara garis besar, zat-zat yang terdapat di dalam air limbah antara lain
dari air dan bahan padat (0,1%). Bahan pada ini terdiri dari bahan organik
(protein 65%, karbohidrat 25%, lemak 10%), dan bahan anorganik
(butiran, garam, metal).
Volume Limbah cair dari perumhan bervariasi mulai dari 200 liter
sampai 400 Liter Per hari. Air limbah rumah tangga terdiri dari 3 macam
yaitu tinja, air seni dan grey water. Grey water merupakan air cucian
dapur, mesin cuci, dan kamar mandi. Campuran tinja dan urin disebut
dengan extreta. Extreta tersebut mengandung mikroba dan pathogen yang
dapat berpotensi menyebarkan penyakit melalui kontaminasi air. Air
limbah domestik harus dilakukan pengolahan agar tidak mencemari
lingkungan sekitarnya (Ramadhan Tosepu, dkk : 2017).
28
Menurut (Kemenkes RI, 2018) Kemenkes No.3 Tahun 2018 tentang
STBM, prinsip pengamanan limbah cair rumah tangga adalah:
a) Air limbah kamar mandi dan dapur tidak boleh tercampur dengan
air dari jamban
b) Tidak boleh menjadi tempat perindukan vektor
c) Tidak boleh menimbulkan bau
d) tidak boleh ada genangan yang menyebabkan lantai licin dan
rawan kecelakaan
e) terhubung dengan saluran limbah umum/got atau sumur resapan.
Fungsi Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Saluran Pembuanagan Air Limbah (SPAL) merupakan sarana
berupa tanah galian atau pipa dari semen atau pralon yang berfungsi
untuk membuang air cucian, air bekas mandi, air kotor/ bekas lainnya.
Pemeliharaan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Penanganan limbah cair salah satunya adalah melakukan
pemeliharaan SPAL atau saluran drainase. Fungsi dari SPAL ini ialah
limbah cair dapat mengalir dan dapat mengurangi tersebarnya limbah ke
wilayah dalam dan di sekitar rumah potong unggas. Isolasi limbah dalam
SPAL ini dapat menurnkan frekuensi dampak negatif dari limbah bahkan
dapat meniadakannya.
Akan tetapi masih ada beberapa masalah yang dapat timbul dengan
pembuatan SPAL jika tidak dikelola dengan baik. Limbah padat masuk
kedalam SPAL harus diangkat atau dikeluarkan sehingga aliran air tidak
29
terhambat sehingga dapat meluap dan menimbulkan bau (Parakkasi,A
dan Hardini, 2017).
Pengelolaan air limbah dapat dilakukan dengan membuat saluran air
kotor dan bak peresapan dengan memperhatikan ketentuan sebagai
berikut:
a) Tidak mencemari sumber air minum yang ada di daerah sekitarnya
baik air dipermukaan tanah maupun air di bawah permukaan tanah.
b) Tidak mengotori permukaan tanah.
c) Menghindari tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah.
d) Mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lain.
e) Tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
f) Konstruksi agar dibuat secara sederhana dengan bahan yang mudah
didapat dan murah.
g) Jarak minimal antara sumber air dengan bak resapan 10 m.
2. Faktor Perilaku Masyarakat
a. Kebiasaan Mencuci Tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang
penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci
tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah
membuang tinja anak, sebelum menyuapi makan anak dan sesudah
makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare. Praktek adalah cara
seseorang dalam melaksanakan kegiatan atau menjalankan pekerjaan,
perbuatan secara nyata sesuai dengan teori atau pengalaman yang di
dapat, praktek ini sangat terkait dengan bagaimana cara pencegahan
30
(diare) dan merawat penderita di rumah serta mengaplikasikan dari
pengalaman yang didapat dari pendidikan atau dari media massa.
Diare merupakan salah satu penyakit yang penularannya berkaitan
dengan penerapan perilaku hidup sehat. Sebagian besar kuman infeksius
penyebab diare ditularkan melalui jalur oral. Kuman-kuman tersebut
ditularkan dengan perantara air atau bahan yang tercemar tinja yang
mengandung mikroorganisme patogen dengan melalui air minum. Pada
penularan seperti ini, tangan memegang peranan penting, karena lewat
tangan yang tidak bersih makanan atau minuman tercemar kuman
penyakit masuk ke tubuh manusia.
Pemutusan rantai penularan penyakit seperti ini sangat
berhubungan dengan penyediaan fasilitas yang dapat menghalangi
pencemaran sumber perantara oleh tinja serta menghalangi masuknya
sumber perantara tersebut kedalam tubuh melalui mulut. Kebiasaan
mencuci tangan pakai sabun adalah perilaku amat penting bagi upaya
mencegah diare. Kebiasaan mencuci tangan diterapkan setelah buang air
besar, setelah menangani tinja anak, sebelum makan atau memberi
makan anak dan sebelum menyiapkan makanan. Kejadian diare
makanan terutama yang berhubungan langsung dengan makanan anak
seperti botol susu, cara menyimpan makanan serta tempat keluarga
membuang tinja anak (Howard & Bartram, 2021).
Kegiatan mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir
dilakukan 40-60 detik. Langkah-langkah teknik mencuci tangan yang
31
benar menurut anjuran WHO dalam Kemenkes (2018) yaitu sebagai
berikut :
1) Pertama, basuh tangan dengan air bersih yang mengalir, ratakan
sabun dengan kedua telapak tangan
2) Kedua, gosok punggung tangan dan sela–sela jari tangan kiri dan
tangan kanan, begitu pula sebaliknya
3) Ketiga, gosok kedua telapak dan sela-sela jari tangan
4) Keempat, jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci
5) Kelima, gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan
dan lakukan sebaliknya
6) Keenam, gosok dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di
telapak tangan kiri dan sebaliknya
7) Ketujuh, bila kedua tangan dengan air yang mengalir dan keringkan
Hasil penelitian yang dilakukan Zakianis (2020) menyatakan bahwa
prilaku ibu yang buruk beresiko menyebabkan diare pada bayi sebesar
1,57 kali jika dibandingkan dengan prilaku ibu yang baik. Demikian
juga hasil penelitian Thoyib (2021) yang menyatakan bahwa pada anak
yang kurang dari 2 tahun, dari ibu yang tidak mencuci tangan sebelum
memberi makan atau minum pada anaknya mernpunyai resiko terserang
diare 4,67 kali jika dibandingkan dengan anak dari kelompok ibu yang
mencuci tangan sebelum memberi makan pada anaknya. Penelitian
Alamsyah (2017) menyatakan bahwa ada hubungan mencuci tangan
sebelum memberi makan kepada anak dengan terjadinya diare pada
balita.
32
b. Pola Makan
Simanjutak (2017 berpendapat bahwa makanan dan minuman dapat
menjadi penyebab baik secara langsung maupun tidak langsung
terjadinya diare oleh [Link]. Maka dengandemikian kebiasaan
jajan anak yang tidak higienis diduga menjadi salah satu penyebab
terjadinya diare dikarenakan V. Cholerae.
c. Memasak Air
Menurut Hairani (2017) faktor-faktor perilaku yang berhubungan
dengan kejadian diare adalah faktor memasak air yang dijelaskan
sebagai berikut:
Air yang tidak dikelola dengan standar pengelolaan air minum
rumah tangga (PAM-RT) dapat menimbulkan penyakit. Air untuk
minum harus diolah terlebih dahulu dan wadah air harus bersih dan
tertutup. Diare yang terjadi karena air minum yang tidak bersih biasanya
berkaitan dengan agen mikrobiologis dan kimia yang masuk kesaluran
pencernaan. Penularan diare dapat terjadi melalui mekanisme fecal-oral,
termasuk melalui air minum yang tercemar atau terkontaminasi. Proses
memasak/merebus air hingga mendidih, yakni hingga 100oC efektif
membunuh kuman-kuman penyakit,termasuk kuman-kuman penyebab
diare yang kemungkinan besar terdapat pada air minum (Hairani,
2017:14) dalam Kurniawati (2018).
3. Faktor Pelayanan masyarakat
Pelayanan Deklarasi Alma Ata pada tahun 1978 menghasilkan
strategi utama dalampencapaian kesehatan bagi semua (Health for All)
33
adalah melalui pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care). Salah
satu komponen didalam pelayanan kesehatan dasar yaitu dengan
penyuluhan kesehatan untuk mewujudkan perilaku upaya perubahan
lingkungan yang lebih baik (Depkes RI, 2020). Diare merupakan salah
satu penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia, maka ada
beberapa program untuk menanggulangi terjadinya peningkatan kasus
diare yang didasari oleh aspek preventif, kuratif dan rehabilitatif. Aspek
preventif lebih diprioritaskan karena secara signifikan mampu
menurunkan angka kejadian diare. Bidang yang sangat berperan dalam
aspek preventif adalah bidang promosi kesehatan.
4. Faktor Gizi
Diantara kelompok umur yang rentan terhadap penyakit-penyakit
kekurangan gizi adalah kelompok bayi dan balita. Oleh sebab itu,
indikator yang paling baik untuk mengukur status gizi masyarakat
adalah melalui status gizi balita (Notoatmodjo, 2018). Pada penderita
kurang gizi serangan diare terjadi lebih sering terjadi. Semakin buruk
keadaan gizi anak, semakin sering dan berat diare yang diderita. Diduga
bahwa mukosa penderita malnutrisi sangat peka terhadap infeksi karena
daya tahan tubuh yang kurang. Status gizi ini sangat dipengaruhi oleh
kemiskinan, ketidaktahuan dan penyakit. Begitu pula rangkaian antara
pendapatan, biaya pemeliharaan kesehatan dan penyakit, keadaan sosio
ekonomi yang kurang, hygiene sanitasi yang jelek, kepadatan penduduk
rumah, pendidikan tentang pengertian penyakit, cara penanggulangan
penyakit serta pemeliharaan kesehatan. (Sinthamurniwaty,2018).
34
5. Faktor Kependudukan
Penduduk adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang
bertempat tinggal di Indonesia (UUD No 23 Tahun 2020 Pasal 1 ayat
2). Kependudukan adalah hal ihwal yang berkaitan dengan jumlah,
struktur, umur, jenis kelamin, agama, kelahiran, perkawinan, kehamilan,
kematian, persebaran, mobilitas dan kualitas serta ketahanannya yang
menyangkut politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Pengelolaan
kependudukan dan pembangunan keluarga adalah upaya terencana
untuk mengarahkan perkembangan kependudukan dan pembangunan
keluarga untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan
mengembangkan kualitas penduduk pada seluruh dimensi penduduk.
Perkembangan kependudukan adalah kondisi yang berhubungan dengan
perubahan keadaan kependudukan yang dapat berpengaruh dan
dipengaruhi oleh keberhasilan pembangunan berkelanjutan. Kualitas
penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan nonfisik yang
meliputi derajat kesehatan, pendidikan, pekerjaan, produktivitas, tingkat
sosial, ketahanan, kemandirian, kecerdasan, sebagai ukuran dasar untuk
mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai
manusia yang bertaqwa, berbudaya, berkepribadian, berkebangsaan dan
hidup layak.
Faktor kependudukan seperti kepadatan penduduk mempengaruhi
proses penularan atau pemindahan penyakit dari satu orang ke orang
lain. Kepadatan juga akan mempengaruhi produksi sampah atau limbah
35
yang akhirnya berdampak buruk pada manusia itu sendiri (Achmadi,
2018)
6. Faktor Pendidikan
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan
untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok atau
masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh
pelaku pendidikan, yang tersirat dalam pendidikan adalah: input adalah
sasaran pendidikan (individu, kelompok, dan masyarakat), pendidik
adalah (pelaku pendidikan), proses adalah (upaya yang direncanakan
untuk mempengaruhi orang lain), output adalah (melakukan apa yang
diharapkan atau perilaku) (Notoadmodjo, 2018:109). Pendidikan
kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan dalam bidang
kesehatan. Secara opearasional pendidikan kesehatan adalah semua
kegiatan untuk memberikan dan meningkatkan pengetahuan, sikap,
praktek baik individu, kelompok atau masyarakat dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (Notoadmodjo, 2018:111).
Kebanyakan anak yang mudah menderita diare berasal dari pendidikan
orang tuanya yang rendah (Suharyono, 2018). Seorang ibu yang
berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang lebih tentang
sanitasi lingkungan dan penatalaksanaan diare pada balita dibandingkan
dengan ibu yang pendidikannya lebih rendah (Kemenkes, 2019).
7. Faktor Keadaan Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap faktor-faktor
penyebab diare. Kebanyakan penderita diare berasal dari keluarga yang
36
besar dengan daya beli yang rendah, kondisi rumah yang buruk, tidak
punya penyediaan air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan,
pendidikan orang tuanya yang rendah dan sikap serta kebiasaan yang
tidak menguntungkan. Karena itu, edukasi dan perbaikan ekonomi
sangat berperanan dalam pencegahan dan penanggulangan diare.
(Marissa,2019)
Penyakit diare erat hubungannya dengan pendapatan keluarga.
Karena prevalensi diare cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan
pendapatan keluarga lebih rendah. Keadaan ekonomi yang rendah akan
mempengaruhi status gizi anggota keluarga. Hal ini terlhat dari
ketidakmampuan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi
keluarga sehingga mereka cenderung memiliki status gizi kurang
bahkan status gizi buruk yang memudahkan terjangkitnya penyakit
diare. Balita dari keluarga berekonomi rendah biasanya tinggal di
daerah yang tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga memudahkan
seseorang untuk terkena diare (Marisa,2019)
Pendapatan keluarga menentukan ketersediaan fasilitas kesehatan,
pendapatan keluarga yang baik akan berpengaruh dalam menjaga
kebersihan dan penanganan yang selanjutnya berperan dalam prioritas
penyediaan fasilitas kesehatan berdasarkan kemampuan pendapatan
pada suatu keluarga. Bagi mereka yang berekonomi rendah hanya dapat
memenuhi kebutuhan berupa fasilitas kesehatan apa adanya sesuai
kemampuan mereka. Dengan demikian ada hubungan erat antara
pendapatan keluarga terhadap kejadian diare (Depkes,2020).
37
G. Kerangka Teori
Berdasarkan refrensi yang digunakasn sebagai dasar teori
penelitian ini, maka peneliti membuat kerangka teori penelitian ini
Faktor Keadaan Lingkungan
(Sanitasi Dasar )
a. Sarana Penyedian Air Bersih
b. Sarana Pembuangan Tinja
Jamban
c. Sarana Pembuangan Sampah
Sementara
d. Sarana Pembuangan Limbah
Cair
Faktor Perilaku Masyarakat
Faktor Pelayanan Masyarakat Kejadian Diare
Faktor Gizi
Faktor Kependudukan
Faktor Pendidikan
Faktor Keadaan Sosial Ekonomi
sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian
Sumber: Widoyono (2019)
38
J. Kerangka Konsep
Berdasarkan kerangka teori di atas, maka dapat disusun kerangka
konsep dalam penelitian ini sebagai berikut:
Variabel Independen Variabel Dependen
Faktor Keadaan Lingkungan :
Sarana air bersih
Sarana Jamban
Kejadian Diare
Sarana Pembuangan Sampah
Sarana Pembuangan Air limbah
Gambar. 2.2 Kerangka Konsep
39
K. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Terdapat hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare pada
anak balita di Desa Babatan Wilayah Kerja UPTD Puskesmas
Rawat Inap Katibung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi
Lampung.
2. Terdapat hubungan sarana jamban dengan kejadian diare pada anak
balita di Desa Babatan Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Rawat
Inap Katibung Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung.
3. Terdapat hubungan sarana tempat pembuangan sampah dengan
kejadian diare pada anak balita di Desa Babatan Wilayah Kerja
UPTD Puskesmas Rawat Inap Katibung Kabupaten Lampung
Selatan Provinsi Lampung.
4. Terdapat hubungan saluran pembuangan air limbah dengan
kejadian diare pada anak balita di Desa Babatan Wilayah Kerja
UPTD Puskesmas Rawat Inap Katibung Kabupaten Lampung
Selatan Provinsi Lampung.
40