BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Demam Berdarah Dengue (DBD)
1. Pengertian
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever
(DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Demam berdarah dengue
(DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan
manifestasi klinis demam 2- 7 hari, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang disertai
leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik
(Suhendro, Leonard & Melani, 2009)
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disbabkan
Virus Dengue. Pernyakit tersebut merupakan masalah keschatan masyarakat di
Indonesia karena prevalensinya yang tinggi dan penyebarannya semakin luas.
Demam Berdarah Dengue (DBD), disebut juga dengan istilah Dengue
Hemorraghic Fever (DHF), pertama kali di laporkan di Indonesia pada tahun
1968. Hingga kini DBD masih menjadi salah satu masalah kesehatan d Indonesia
karena prevalensinya yang tinggi dan penyebarannya yang semakin meluas.
Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD terjadi hampir setiap tahun di beberapa
Provinsi, bahkan pernah terjadi KLB besar tahun 1998 dan 2004 dimana jumlah
kasus mencapai 79.480 kasus dengan angka kematian 800 jiwa. (Kawiani, 2013)
DBD ditularkan olch nyamuk Aedes aegypti. Virus dengue dipindahkan dari
satu orang ke orang lain bersama air liur nyamuk pada waktu nyamuk menghisap
darah. Virus itu akan berada dalam sirkulasi darah selama 4-7 hari. Akibat infeksi
virus bermacam-macam tergantung imunitas seseorang yaitu demam ringan,
dengue fever, (demam dengue) dan dengue haeorhagic fever (DHF/DBD),
Penderita yang asimtomatik dan demam ringan merupakan sumber penularan
yang efektif, karena mereka dapat pergi kemana-mana dan menyebarkan virus
dengue. Satu-satunya cara pemberantasan DBD yang dapat dilakukan saat ini
adalah memberantas nyamuk penularnya untuk memutuskan rantai penularan
karena vaksin untuk mencegah DBD masih dalam taraf penelitian dan obat yang
efekif terhadap virus belum ditemukan.(Kawiani, 2013)
Tidak semua yang terinfeksi virus dengue akan menunjukkan manifestasi
DBD berat. Ada yang hanya bermanifestasi demam ringan yang akan sembuh
dengan sendirinya atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala sakit
(asimtomatik). Sebagian lagi akan menderita demam dengue saja yang tidak
menimbulkan kebocoran plasma dan mengakibatkan kematian.(Kemenkes, 2012)
2. Patogenesis
Terdapat tiga faktor yang berperan dalam timbulnya penyakit DBD yaitu
pejamu, vektor dan lingkungan.
a. Penjamu
Virus dengue dapat menginfeksi manusia dan beberapa spesies primata.
Manusia merupakan reservoir utama virus dengue di daerah perkotaan.
Beberapa variabel yang berkaitan dengan karakteristik pejamu adalah umur,
jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, imunitas, status gizi, ras dan perilaku
(Widodo, 2012)
9
b. Vektor
Vektor penyakit adalah serangga penyebar penyakit atau Arthropoda yang
dapat memindahkan atau menularkan agen infeksi dari sumber infeksi
kepada pejamu yang rentan. Virus dengue ditularkan kepada manusia.
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.. Penularan DBD terjadi melalui
gigitan nyamuk Aedes sp. betina yang sebelumnya telah membawa virus
dalam tubuhnya dari penderita baru. Nyamuk Aedes aegypti sering
menggigit manusia pada pagi dan siang hari (Komariah & Malaka, 2012)
c. Lingkungan
Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang berkaitan
dengan terjadinya infeksi dengue. Lingkungan pemukiman sangat besar
peranannya dalam penyebaran penyakit menular. Kondisi perumahan yang
tidak memenuhi syarat rumah sehat apabila dilihat dari kondisi kesehatan
lingkungan akan berdampak pada masyarakat itu sendiri. Dampaknya dilihat
dari terjadinya suatu penyakit yang berbasis lingkungan yang dapat menular
seperti DBD. (Ita Maria, Hasanuddin Ishak, 2013)
3. Gejala
Menurut (Kemenkes, 2012) tanda dan gejala penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD) antara lain sebagai berikut :
a. Demam
Penyakit DBD didahului dengan terjadinya demam tinggi mendadak secara
terus menerus yang berlangsung selama 2-7 hari. Panas akan turun pada hari ke-3
yang kemudian naik lagi, dan pada hari ke-6 atau ke-7 panas mendadak turun.
10
b. Manifestasi perdarahan
Perdarahan pada penderita DBD dapat terjadi pada semua organ tubuh dan
umumnya terjadi pada 2-3 hari setelah demam. Bentuk perdarahan yang terjadi
dapat berupa :
1. ptechiae (bintik – bintik darah pada permukaan kulit)
2. purpura
3. ecchymosis (bintik – bintik darah di bawah kulit)
4. pendarahan konjungtiva
5. pendarahan dari hidung ( mimisan atau epitaksis )
6. perdarahan pada gusi
7. hematenesis (muntah darah)
8. meiena (buang air besar berdarah)
9. hematuna (buang air kecil berdarah)
c. Hepatomegaly atau pembesaran hati
Sifat pembesaran hati yang dialami oleh para penderita DBD, yaitu dialami
pada permulaan penularan penyakit dan terasa nyeri saat ditekan.
d. Shock atau Renjatan
Shock dapat terjadi pada saat penderita mengalami demam tinggi, yaitu antara
hari ke 3 sampai hari ke 7 setelah terjadinya demam. Shock terjadi karena adanya
perdarahan atau kebocoran plasma darah ke daerah ekstravaskuler melalui
pembuluh kapiler yang rusak. Tanda – tanda terjadinya shock, yaitu kulit tersa
dingin pada ujung hidung, jari dan kaki, perasaan gelisah, nadi cepat dan lemah,
tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang), tekanan darah menurun
(tekanan sistolik menjadi 80 mmHg atau kurang).
11
e. Komplikasi
Menurut (Sembel, 2009) penyakit DBD dapat mengakibatkan komplikasi
pada kesehatan, komplikasi tersbut dapat berupa kerusakan atau perubahan
struktur otak (enchepalopathy), kerusakan hati atau bahkan kematian.
f. Penyebab
Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan fipe DEN. I, DEN-2,
DEN -3 dan DEN- 4. Keempat type virus tersebut telah diftemukan di berbagai
daerah di Indonesia. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus
dengue dengan tipe 1 dan fipe. 3.
Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses
(arboviruses). Virus Dengue merupakan virus RNA untai tunggal, genus
flavivirus, terdiri dari 4 serotipe (yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4).
Struktur antigen ke-4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun
antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak dapat saling memberikan
perlindungan silang. Variasi genetik yang berbeda pada ke-4 serotipe ini tidak
hanya menyangkut antar serotipe, tetapi juga didalam serotipe itu sendiri
tergantung waktu dan daerah penyebarannya.
Struktur Virus Dengue adalah, genomnya mempunyai berat molekul 11 Kb
tersusun dari protein struktural dan non-struktural. Protein structural yang terdiri
dari protein envelope (E), protein pre-membran (prM) dan protein core (C)
merupakan 25% dari total protein, sedangkan protein non-struktural merupakan
bagian yang terbesar (75%) ferdiri dari NS-1 dan NS-5. Dalam merangsang
pembentukan antibodi diantara protein struktural, urutan imunogenitas fertinggi
12
adalah protein E, kemudian diikuti protein prM dan C. Sedangkan pada protein
non-struktural yang paling berperan adalah protein NS-1
g. Penularan
Penularan DBD teriadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes
albopictus dewasa betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya
dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti sering menggigit
manusia pada waktu pagi (setelah matahari terbit) dan siang hari (sampai sebelum
matahari terbenam). Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-
anak yang berusia dibawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan
lembab, serta daerah pinggiran kumuh.
h. Pengobatan
Penyakit ini sampai sekarang belum diketahui obatnya, banyak orang bilang
bahwa ekstrak jambu bangkok merupakan salah satu obat yang bisa diberikan
tetapi jambu bangkok sendiri saat ini masih dalam taraf penelitian , Pengobatan
penderita Demam Berdarah dilakukan untuk penggantian cairan tubuh dengan
cara penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter -2 lier dalam 24 jam (air teh dan
gula, sirup atau susu) atau bisa juga menggunakan Gastroenteritis oral solution /
kristal diare yaifu garam elektrolit (oralit), kalau perlu 1 sendok makan setiap 3-5
menit.
i. Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya,
yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan
dengan menggunakan beberapa lingkup yang tepat, yaitu dari sisi :
13
1) Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain
dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), meliputi:
a. Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali
seminggu.
b. Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.
c. Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
d. Mengubur kaleng-kaleng bekas, dan ban bekas di sekitar ru-mah dan lain-
lain.
2) Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik
(ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).
3) Kimiawi
Pengendalian nyamuk secara kimiawi dapat dilakukan dengan :
a. Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion),
berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu
tertentu.
b. Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air
seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan
mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan "3M Plus". Konsep 3M
yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan strategi "plus"
seperti memelihara ikan pemakan ientik, menabur larvasida, menggunakan
kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida,
14
menggunakan lotion anti nyamuk, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik
berkala sesuai dengan kondisi setempat.
B. Nyamuk Aedes aegypti
1. Pengertian
Aedes aegypti merupakan nyamuk yang dapat berperan sebagai vektor
penyakit DBD. Aedes aegypti lebih senang pada genangan air yang terdapat di
dalam suatu wadah atau container, bukan genangan air di tanah. Tempat
perkembangbiakan yang potensial adalah tempat penampungan air yang
digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti drum, bak mandi, bak WC,
tempayan, ember dan lain-lain. Tempat-tempat perkembangbiakan lainnya
terkadang ditemukan pada vas bunga, pot tanaman hias, ban bekas, kaleng bekas,
botol bekas, tempat minum burung dan lain-lain. Tempat perkembangbiakan yang
disukai adalah yang berwarna gelap, terbuka lebar dan terlindungi dari sinar
matahari langsung Nyamuk Aedes aegypti menggigit pada siang hari pada pukul
09.00-10.00 dan sore hari pada pukul 16.00-17.00. Nyamuk betina menghisap
darah manusia setiap dua hari. Protein dari darah manusia diperlukan untuk
pematangan telur yang dikandungnya. Setelah menghisap, nyamuk ini akan
mencari tempat hinggap (Marsaulina, 2012)
2. Morfologi Nyamuk Aedes aegypti
Morfologi nyamuk Aedes aegypti secara umum sebagaimana serangga
lainnya mempunyai tanda pengenal sebagai berikut :
15
a. Terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, dada, dan perut.
b. Pada kepala terdapat sepasang antena yang berbulu dan moncong yang
panjang (proboscis) untuk menusuk kulit hewan atau manusia dan
menghisap darahnya.
c. Pada dada ada 3 pasang kaki yang beruas serta sepasang sayap depan dan
sayap belakang yang mengecil yang berfungsi sebagai penyeimbang
(Aradilla, 2009)
3. Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti
Aedes aegypti memiliki siklus hidup yang kompleks dengan perubahan
signifikan fungsi, serta habitat. Nyamuk betina bertelur pada dinding basah,
kemudian telur menetas dan menjadi larva lalu berubah menjadi pupa dan terakhir
menjadi nyamuk dewasa baru
Tahapan daur nyamuk Aedes aegypti meliputi :
a. Telur
Telur nyamuk Aedes aegypti memiliki dinding bergaris-garis dan
membentuk bangunan seperti kasa. Telur berwarna hitam dan diletakkan satu
persatu pada dinding perindukan. Panjang telur 1 mm dengan bentuk bulat oval
atau memanjang. Telur dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu 2 0C sampai 42
o
C dalam keadaan kering. Telur ini akan menetas jika kelembaban terlalu rendah
dalam waktu 4 atau 5 hari. Ciri-ciri dari Telur Nyamuk Aedes aegypti adalah
berwarna hitam dengan ukuran ±0,08 mm, dan berbentuk seperti sarang tawon
(Mariaty, 2010)
16
b. Larva
Setelah menetas telur akan berkembang menjadi larva (jentik-jentik). Pada
stadium ini kelangsungan hidup larva dipengaruhi suhu, pH air perindukan,
ketersediaan makanan, cahaya, kepadatan larva, lingkungan hidup serta adanya
predator (Aradilla, 2009)Larva memiliki kepala yang cukup besar serta thorax dan
abdomen yang cukup jelas. Larva menggantungkan dirinya pada permukaan air
untuk mendapatkan oksigen dari udara. Larva menyaring mikroorganisme dan
partikel-partikel lainnya dalam air. (Palgunadi & Rahayu, 2011)
Adapun ciri-ciri larva Aedes aegypti adalah sebagai berikut :
1) Adanya corong udara (siphon) pada segmen terakhir
2) Pada segmen terakhir tidak ditemui adanya rambut-rambut berbentuk kipas
(Palmate hairs).
3) Sepasang rambut serta jumbai pada siphon.
4) Pada sisi torak terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva dan adanya
sepasang rambut di kepala.
5) Siphon dilengkapi pecten
c. Pupa
Kepompong nyamuk Aedes aegypti berbentuk seperti koma, gerakannya
lambat dan sering berada dipermukaan air. Setelah 1-2 hari kepompong akan
menjadi nyamuk dewasa baru. Siklus nyamuk Aedes aegypti dari telur hingga
nyamuk dewasa memerlukan waktu 7-10 hari. Pupa akan tumbuh baik pada suhu
optimal sekitar 28 0C - 32 0C. Pertumbuhan pupa nyamuk jantan memerlukan
waktu 2 hari, sedangkan nyamuk betina selama lebih dari 2 hari(Mariaty, 2010)
17
d. Nyamuk Dewasa
Pupa yang baru berevolusi sebagai nyamuk dewasa pada umumnya akan
beristirahat terlebih dahulu selama beberapa saat di atas permukaan air agar sayap
– sayap dan badan mereka kering dan menguat untuk dapat terbang. Perbandingan
kelahiran nyamuk jantan dan nyamuk betina, yaitu 1:1, dimana nyamuk betina
yang lahir terlebih dahulu. Umumnya hanya nyamuk betina yang menghisap darah
manusia, yaitu untuk memenuhi siklus peputaran hidup nyamuk (gonotropic
cycle). Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan (Achmadi, 2011)
4. Bionomik
a. Tempat perindukan Nyamuk
Tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Tempat Penampungan Air (TPA) untuk keperluan sehari – hari, seperti
drum, tempayan, bak mandi, bak WC dan ember.
2. Tempat Penampungan Air (TPA) bukan untuk keperluan sehari – hari,
seperti tempat minuman hewan, ban bekas, kaleng bekas, perangkap semut
dan vas bunga.
3. Tempat Penampungan Air (TPA) alamiah yang terdiri dari lubang pohon,
lubang batu, pelepah daun, pangkal pohon pisang, tempurung kelapa dan
kulit kerang.
b. Prilaku menghisap darah
Spesies nyamuk Aedes aegypti yang menghisap darah manusia adalah
spesies nyamuk Aedes aegypti betina. Kebiasaan nyamuk Aedes aegypti dalam
menghisap darah manusia, yaitu pada pagi dan sore hari (diurnal). Pada pagi hari
nyamuk Aedes aegypti biasanya aktif menghisap darah mulai pukul 09.00-10.00
18
WIB. Sedangkan pada sore hari Nyamuk Aedes aegypti aktif menghisap darah
mulai pukul 16.00-17.00 WIB. Posisi nyamuk Aedes aegypti ketika sedang
menghisap darah manusia, yaitu membentuk posisi sejajar dengan permukaan
kulit manusia. Sebagai vektor pengganggu Nyamuk Aedes aegypti memiliki sifat
hidup endofagik dan eksofagik, yaitu hidup di dalam maupun di luar rumah dan
berdasarkan kebiasaan menghisap darah termasuk spesies hematofagik
antropofilik, yaitu binatang menghisap darah manusia. (Kemenkes, 2012)
C. Peranan Jumantik
(Dinas Kesehatan Kota Denpasar . 2015) menyebutkan peranan jumantik
dalam penanggulangan demam berdarah adalah mengajak masyarakat di
sekitar tempat tinggal untuk menjadi pemantau jentik sendiri (self jumantik)
dan selalu melakukan gotong royong dalam menjaga kebersihan lingkungan
dan rumah, mengadakan pemeriksaan jentik berkala di lingkungan dan
melakukan pencatatan pada form pemantauan serta Kartu Rumah yang
tergantung di depan masing-masing rumah warga, memberikan pertolongan
pertama dan menasehati keluarga untuk membawa ke puskesmas atau rumah sakit
bila muncul gejala lanjut saat menemukan warga dengan gejala DBD, dan
jumantik ikut melaksankan penyelidikan bila menemukan warga yang positif
menderita DBD.
D. Juru Pemantau Jentik (Jumantik)
Kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) adalah kelompok kerja kegiatan
pemberantasan penyakit demam berdarah dengue di tingkat Desa. Tujuan
dibentuknya kader Jumantik adalah Menggerakkan peran serta masyarakat dalam
usaha pemberantasan penyakit DBD, terutama dalam pemberantasan jentik
19
nyamuk penularnya sehingga penularan penyakit demam berdarah dengue di
tingkat desa, dapat dicegah atau dibatasi. (Kemenkes, 2012) peran kader Jumantik
dalam penanggulangan DBD adalah
a. Sebagai anggota PJB di rumah-rumah atau tempat umum.
b. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang PSN
c. Mencatat dan melaporkan hasil PJB kepada kepada kepala dusun atau
Puskesmas secara rutin minimal setiap minggu atau bulan.
d. Mencatat dan melaporkan kejadian DBD kepada kepala dusun atau
Puskesmas.
e. Melakukan PSN secara sederhana seperti pemberian bubuk abate dan ikan
pemakan jentik.
E. Pelaksanaan PSN
Salah satu tugas jumantik dalam upaya pencegahan DBD adalah
menggerakkan masyarakat dalam PSN DBD secara terus menerus dan
berkesinambungan. PSN DBD merupakan kegiatan memberantas telur, jentik, dan
kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat
perkembangbiakannya untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti,
sehingga penularan DBD bisa dicegah atau dikurangi. Kegiatan PSN bisa
dilakukan dengan cara 3M plus yaitu :
a. Menguras tempat-tempat penampungan air secara rutin, seperti bak mandi
dan kolam. Sebab bisa mengurangi perkembangbiakan dari nyamuk itu
sendiri atau memasukan beberapa ikan kecil kedalam kolam atau bak mandi,
lalu taburkan serbuk abate.
b. Menutup tempat-tempat penampungan air, jika setelah melakukan aktivitas
20
yang berhubungan dengan tempat air sebaiknya ditutup agar nyamuk tidak
bisa mengembang biakkan telurnya kedalam tempat penampungan air.
Nyamuk demam berdarah sangat menyukai air yang bening.
c. Memanfaatkan barang-barang yang bisa memungkinkan genangan air
menjadi barang yang bernilai guna.
d. Menaburkan bubuk abate (larvasidasi) pada tempat-tempat menampung air,
memelihara ikan dan mencegah gigitan nyamuk.
e. Menggunakan alat pelindung diri (APD) : kelambu, memakai pakaian
lengan panjang, celana panjang, menggunakan anti nyamuk bakar atau
semprot, lotion anti nyamuk, menjaga kebersihan dan kerapian.
f. Pencahayaan dan ventilasi yang baik serta memadai
g. Pengasapan atau fogging yang bermanfaat membunuh nyamuk Aedes
dewasa untuk mencegah penyebaran demam berdarah walaupun tidak
sepenuhnya dapat mengatasi, karena telurnya masih mampu berkembang
biak (Kemenkes, 2012)
1. Tugas dan tanggung jawab Juru Pemantau Jentik (Jumantik):
a. Membuat rencana/jadwal kunjungan rumah dan tempat-tempat umum yang
ada di wilayah kerjanya.
b. Memberikan penyuluhan (perorangan/kelompok) dan melaksanakan
pemantauan jentik di rumah-rumah/bangunan 30 rumah/hari/orang.
c. Berperan sebagai penggerak dan pengawas masyarakat dalam
Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD).
d. Membuat catatan/rekapitulasi hasil pemeriksaan jentik setiap hari kerja.
e. Melaporkan hasil pemeriksaan jentik ke [Link] setiap hari
21
kerja.
f. Memotivasi masyarakat dalam memperhatikan tempat-tempat potensial
perkembangbiakan nyamuk penular DBD, dan
g. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam PSN DBD.
h. Berperan sebagai Kader Kesehatan (Buku Pedoman Jumantik, 2015)
2. Bagaimana Peran Jumantik Dalam Penanggulangan Demam Berdarah.
1. Mengajak masyarakat di sekitar tempat tinggal untuk menjadi pemantau
jentik sendiri (self Jumantik) dan selalu bergotong royong menjaga
kebersihan lingkungan dan rumah khususnya melakukan Pemberantasan
Sarang Nyamuk (PSN DBD).
2. Mengadakan pemeriksaan jentik secara berkala di lingkungan dan mencatat
pada form pemantauan serta Kartu Rumah yang tergantung di depan rumah
masing-masing.
3. Bila menemukan warga dengan gejala DBD, memberikan pertolongan
pertama, kemudian menasehati yang bersangkutan/keluarga untuk membawa
ke puskesmas atau rumah sakit.
4. Apabila menemukan warga positif menderita DBD, Jumantik ikut
melaksanakan penyelidikan epidemiologi untuk menelusuri sumber
penularan dan penyebaran kasus DBD. ( Buku Pedoman Jumantik, 2015)
22