RESUME JURNAL PLTSA
Anggota Kelompok (gabungan Kelompon 6
dan 14):
Agil Lumintang (2310029)
Lazuardi Cita Abdurrahman Maiyo (2301096)
Mario Hasudungan Manurung (2311738)
Muflihun (2305099)
M. Lutfhi Arief (2310300)
Dosen Pengampu: Bapak ResaPramudita, [Link]., M.T.
M. Nabil Pramono (2300886)
Jl. Dr. Setiabudi No.229, Isola, Kec. Sukasari,
Kota Bandung, Jawa Barat 40154
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH: ANTARA
PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAN PERCEPATAN
PEMBANGUNAN ENERGI TERBARUKAN
Latar Belakang
Pemerintah berupaya mendorong pemanfaatan energi terbarukan, salah satunya
dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Upaya
mempercepat pembangunan PLTSa dilakukan melalui Peraturan Presiden Nomor
35 Tahun 2018. Namun, hingga 6 Mei 2021 hanya satu PLTSa telah beroperasi
secara komersial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perkembangan
pembangunan PLTSa, kendala-kendala dan permasalahan pengembangannya,
dan apakah PLTSa solusi pemenuhan kebutuhan listrik atau mengatasi masalah
lingkungan.
Diketahui 1 PLTSa sudah beroperasi secara komersial (di Surabaya), 2 PLTSa dalam
tahap konstruksi (di Surakarta dan DKI Jakarta), 2 PLTSa dalam tahap sudah ada
pengembang (di Palembang dan Tangerang), dan sisanya masih dalam tahap lelang,
Pre-Feasibility Study, Outline Business Case, atau Final Business Case. Lambatnya
pembangunan PLTSa terjadi karena tingginya tipping fee, anggaran pemerintah
daerah terbatas, over estimasi potensi listrik dari sampah, keterbatasan sumber daya
manusia yang kapabel, tingginya harga jual listrik PLTSa, tidak adanya insentif bagi
pengembang, dan tidak adanya jaminan bankable untuk investasi.
Selain itu, perlu ada perhitungan secara cermat potensi energi dari sampah, alokasi
APBD minimal 2–3% untuk pengelolaan sampah, dan menyiapkan sumber daya
manusia yang kapabel, menyediakan sarana prasarana pengumpulan dan
pengangkutan sampah yang memadai, dan mengedukasi masyarakat untuk memilah
sampah.
A. PENDAHULUAN
Studi literatur memfokuskan pada hasil-hasil penelitian tentang pengembangan teknologi WtE
yang diterbitkan oleh jurnal nasional maupun internasional dan peraturan perundang-undangan
terkait pengembangan PLTSa dan kebijakan energi terbarukan. Untuk menambah informasi,
penulis juga
Data di atas kemudian diolah dengan mengelompokkan data terlebih dahulu berdasarkan
permasalahan penelitian, kemudian dilakukan analisis secara deskriptif berdasarkan data yang
terkumpul sesuai pertanyaan penelitian yang diajukan.
DATA EMISI GAS RUMAH KACA DI INDONESIA
Tabel 1.
Emisi Gas Rumah Kaca di Indonesia dari sektor limbah, 2007 – 2017(ribu ton CO2e)
Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Emisi
83,933 85,023 89,326 87,669 91,853 95,530 100,515 102,834 106,061 112,351 120,191
GRK
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka permasalahannya adalah apakah pembangunan PLTSa
dapat memenuhi kebutuhan listrik masyarakat dan dapat mengurangi permasalahan lingkungan
akibat sampah?
DATA YANG DIKUMPULKAN
No 1. 2. 3. 4.
Perkembangan
Pemanfaatan Kendala
Perkembangan PLTSa di 12 kota
Data sampah untuk energi pengembangan
teknologi WtE sesuai Perpres
(WtE) PLTSa di 12 Kota
35/2018
Webinar, FGD,
Webinar, Wawancara, Wawancara, FGD,
Metode wawancara, studi Studi literatur, webinar
FGD webinar
literatur
B. Metode
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)
Pemanfaatan sampah untuk menjadi energi (Waste to Energy [WtE]) sudah banyak
dilakukan, Ada tiga proses konversi sampah menjadi energi: melalui thermochemical,
physicochemical, atau biocemical.
(Nizami et al., 2017: 1105; Ali et al., 2020: 2). Teknologi yang menggunakan proses
konversi thermochemical antara lain: Torrefaction (torefaksi)¸ Plasma
treatment,Gasification (gasifikasi), Pyrolysis (pemanasan), dan Liquefaction
(pelarutan) yang akan menghasilkan bahan bakar dalam bentuk padat atau cair.
Teknologi yang menggunakan proses konversi physicochemical adalah extraction
(ekstraksi), yang nantinya menghasilkan bahan bakar dalam bentuk cair. Sementara
itu, teknologi yang menggunakan proses biochemical, antara lain: fermentation
(fermentasi) dan Anaerobic Digestion (AD atau Biodigester) yang menghasilkan
bahan bakar dalam bentuk gas (Bagan 1). Bahan bakar inilah yang nantinya
digunakan untuk menghasilkan energi panas yang akan menggerakkan turbin
generator yang menghasilkan listrik Di luar itu, pemanfaatan sampah untuk energi
bisa juga dilakukan melalui pemanfaatan gas metana di TPA.
C. Hasil dan Pembahasan
Kebijakan Pengembangan PLTSa
Adapun yang melatarbelakangi kebi- jakan pengembangan PLTSa adalah: (1) persoalan
sampah telah menjadi masalah lingkungan karena menghasilkan gas metana (CH4) dan
karbondioksida (CO2); (1) adanya keterbatasan lahan dan daya tampung TPA di
beberapadaerah yang telah berkembang menjadi kota besar; (3) Pemerintah Indonesia
mempunyai komitmen untuk mengurangi emisi GRK sebesar 29% dari BAU (businessasusual)
pada tahun 2030; (4) Pemerintah sedang berupayauntuk mengurangi penggunaan energi
fosil pada pembangkit listrik dan meningkatkan ketersediaan pasokan listriknasional; (5)
sampah mempunyai potensienergi biomassa yang dapat dikonversi menjadi energi lain
seperti untuk energi listrik atau menjadi bahan bakar; (6) perlu ada upaya untuk
mengurangi volume sampah yang tidak terkelola dengan baik; (7) PLTSa dengan teknologi
termal dapat diimplementasikan di seluruh daerah dengan volume sampah yang besardan
yang mengalami darurat sampah; (8) melaluipembangunan PLTSa dapat meningkatkan
kebersihan dan kesehatan masyarakat (Heviati, 2021b).
Kendala dan Permasalahan Pembangunan PLTSa
Berdasarkan berbagai sumber tersebut terlihat bahwa pengembangan PLTSa di Indonesia tidak hanya sebatas teknologi apa yang
sebaiknya diterapkan, tetapi banyak hal yang menjadi kendala dan permasalahan. Menurut Elis Heviati (Direktorat Bioenergi, Dirjen
EBTKE, Kementerian ESDM) (2021b) banyak sekali kendala dan permasalah terkait Pembangunan PLTSA di Indonesia, beliau
memaparkan sebagai berikut:
Kendala dan Permasalahan
Elis Heviati (Direktorat Bioenergi, Dirjen EBTKE, Kementerian ESDM) (2021b)- Adanya ketidakseragaman pembelian
Biaya Layanan Pengolahan Sampah (BLPS) atau tipping fee pada tiap daerah. Di Kota Surabaya tipping fee hanya
Rp170.000,00/ton sampah, sedangkan di DKI Jakarta besarannya hampir
Rp600.000,00/ton sampah. Sementara itu, di Kota Surakarta
zero tipping fee.- Adanya persepsi yang kurang tepat dari pemerintah daerah bahwa penjualan listrik menggantikan k
ewajiban pemerintah daerah untuk mengelola sampah di daerahnya melalui penyediaan
BLPS.- Minimnya alokasi APBD untuk kebersihan dan pengelolaan sampah.- Kebersihan dan pengelolaan sampah masi
h belum menjadi program prioritas pemda.- Kurangnya kemampuan dan pendanaan pemda untuk menyusun dokumen
Pra-
FS yang baik. Selain itu, aparat pemda belum cukup familiar dalam melaksanakan pelelangan untuk mendapatkan Ba
dan Usaha Pengelola/ Pengembang PLTSa.- Karakteristik sampah di Indonesia yang tidak homogen/belum dilakukan
pemilahan serta memiliki kadar air yang tinggi sehingga membutuhkan proses dan biaya tambahan untuk pre-
treatmant.- Skala bisnis yang menguntungkan secara ekonomis membutuhkan modal awal yang cukup besar dengan bi
aya pengoperasian dan perawatan yang
tinggi.- Teknologi yang telah terbukti dan teruji sebagian besar masih bergantung dari luar negeri/impor.
Penghasil Listrik Atau Solusi Permasalahan Lingkunganl
PLTSa adalah salah satu pembang-kit listrik dari sumber energi terbarukan. Pemanfaatan sampah untuk
energi listrikdalam perkembangan pembangkit listrik energi terbarukan sudah lama dilaku-kan. energi
listrik sudah dilakukan sejak tahun 2014. Kapasitas terpasang PLTSa di tahun 2014 adalah 14,00 MW, di
mana kapasi- tas terpasang pembangkit listrik nasional di tahun yang sama secara keseluruhan pembangki
adalah 50,417 GW. Hingga tahun 2018, kapasitasterpasang PLTSa tidak mengalami peningkatan signifikan,
hanya 0,02% dari keseluruhan pembangkit listrik yang terbangun sebesar 64,92 GW (Ditjen GatrikKESDM,
2019: 7–8). Jika dibandingkan dengan pembang-kit listrik dari sumber energi terbarukan lainnya,sumbangan
listrik yang diberi- kan PLTSa tidaklah terlalu besar. Bahkan, penambahan kapasitasnya cenderung tidak
ada peningkatan,
PLTSa dengan teknologi termal telah terbuktidapat mengurangi timbulan sampahdan tidak
berdampakterhadap lingkungan. Bahkan,teknologi insinerasi mampu mereduksi sampah hingga 1.300 ton
per hari, jauh lebih tinggi jika dibanding teknologi termal lainnya. Beberapa negara yang telah
berhasilmengurangi sampahnya dengan memba- ngun PLTSa termal,antara lain: Eropa,
Amerika Utara, Singapura, dan Jepang. Pembangkit yang paling banyak digunakan adalah PLTSa termal
insinerasi. Oleh karena itu, PLTSa termal lebih tepat menjadi solusi instan bagi kota-kota besar dengan
produksi sampah di atas 1.000 ton per hari dan mengalamikesulitan dalam menyediakan lahan untuk TPA.
D. Penutup
PLTSa merupakan alternatif sumber energi terbarukan untuk memenuhi kebu- tuhan
listrik masyarakat. Sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan dan
berkelanjutan. Sampah dapat menjadi sumber energi terbarukan. Namun, PLTSa
sebagai pengenergi listrik tidak dapat disejajarkan dengan pembangkit listrik energi
terbarukan lainnya. PLTSa dengan teknologi termal lebih merupakan instalasi pengolah
sampah yang menghasilkan listrik sebagai bonusnya. PLTSa teknologi termal, terutama
yang menggunakan teknologi insinerasi, mampu mereduksi sampah dengan cepat dan
jumlah cukup besar. Pembangunan PLTSa termal dapat menjadi solusi instan bagi
daerah dengan produksi sampah yang banyak (di atas 1.000 ton per hari) dan memiliki
kendala dalam menyediakan lahan untuk TPA. Dalam rangka pengembangan PLTSa
dan mengatasi masalah persampahan kota-kota besar, maka ke depan perlu ada: (1)
dukungan regulasi mengenai harga jual listrik PLTSa, insentif bagi pengembang PLTSa,
dan jaminan bankable untuk investasi PLTSa; (2) menghitung secara cermat potensi
energi dari sampah; (3) mengalokasikan anggaran minimal 2–3% dari APBD untuk
pengelolaan sampah; (4) menyiapkan SDM yang mempunyai kemampuan untuk
mengoperasikan PLTSa; (5) mengedukasi masyarakat untuk melakukan pemilahan
sampah; dan (6) menyiapkan sarana prasarana pengumpulan dan pengangkutan
sampah yang memadai agar sampah siap menjadi bahan baku pembangkit listrik tanpa
perlu pretreatment dengan biaya tinggi.