Pengorganisasian dan Desain Organisasi
Pengorganisasian dan Desain Organisasi
1
2
KATA PENGANTAR
3
BAB 1
PEMABAHASAN
1.1 PENGORGANISASIAN
Desain organisasi adalah proses memilih struktur organisasi yang sesuai
dengan starategi dan lingkungan [Link] organisasi merupakan pola
menyeluruh bagaimana suatu organisasi [Link] organisasi
merupakan alat untuk mencapai starategi organisasi.
A. Pandangan klasik
Henry fayol frederick [Link] dan Max weber merupakan penyumbang ide
pandangan [Link] Weber ,sosiologi jermen yang terkenal dengan buku etika
protestan,menyebutkan istilah desain organisasi [Link] Weber
birokrasi merupaka desain organisasi yang logis ,rasional dan efesien.
Anggota organisasi diarahkan oleh panggilan tugas (sense of duty) dan satu
perangkat aturan yang jelas dan [Link] birokrasi mempunyai
karakteristik seperti berikut:
1. Pembagian kerja yang jelas (spesalisasi) dan setiap posisi diisi oleh orang
yang memang ahli dibidang tersebut.
2. Seperangkat aturan yang konsisten dan jelas untuk menjamin keseragaman
tugas.
3. Ada hirarki posisi yang menciptakan rantai komando dari manajemen
puncak sampai karyawan paling bawah.
4. Manajer menjalankan bisnis dengan cara impersonal,menjaga jarak secara
sosial antara dirinya dengan bawahannya.
5. Karir dalam organisasi didasarkan pada prestasi dan [Link]
tidak boleh diperlakukan secara tidak adil.
B. Pandangan Neo-Klasik
Pandangan neo-klasik berusaha menonjolkan sisi manusiawi
[Link] mereka organisasi mempunyai dua tujuan:ekonomi dan
kepuasan [Link] itu pandangan tersebut sering juga disebut sebagai
pandangan [Link] klasik masih diatributkan ke pandangan tersebut
karena meereka tidak menolak aliran klasik,dan sama seperti aliran klasik
sebelumnya,pandangan neo-klasik berusaha mencari cara terbaik untuk semua
situasi.
Beberapa tokoh aliran neo-klasik adalah McGregor,Chris Argyris dan Renis
Liket.
1. Rensis Liker
Likert kemudian mengembangkan model organisasi berdasarkan delapan
proseskunci:kepemipinan,motivasi,komunikasi,interaksi,pengambilan
4
keputusan,penetapan tujuan,pengendalian dan prestasi kerja(performance
goals).
2. Douglas McGregor
McGregor percaya bahwa struktur organisasi birokrasi menggunakan
asumsi negatif terhadap [Link] berpendapat bahwa
organisasi akan lebih baik apabila menerapkan asumsi yang positif:manusia
ingin berprestasi,tidak malas,ingin bertanggung jawab.
3. Chris Argyris
Argyris tidak menyukai model organisasi [Link] karena
aktivitas manajeril seperti perencanaan,pengendalian,terpusat pada
manjemen,karyawan akan menjadi pasif,tergantung pada atasan,dan
perasaan bertanggung jawab dan pengendalian diri akan berkurang.
4. Kritik terhadap neo-klasik
Pendekatan neo-klasik mempunyai keuntungan karena menekankan
pada sis [Link] pendekatan tersebut tidak terlepas dari
[Link] itu tantangan terhadap masalah tersebut tidak sederhana yang
dibayangkan aliran neo-klasik yang hanya memfokuskan pada motivasi
karyawan.
C. Pendekatan situsional
Pendekatan situsional percaya bahwa desain organisasi yang optimal
tergantung pada faktor-faktor situsional yang relevan
1. Pengaruh lingkungan
Peneliti dari amerika serikat,Paul [Link] dan jay [Link] melalui
buku mereka”Organization and Environment”,[Link] percaya bahwa
lingkungan tidak hanya memengaruhi organisasi secara kseluruhan,tetapi
juga bagian(departemen atau divisi)dalam [Link] mengguakan
dua konsep untuk mengukur pengaruh lingkungan:diferensiasi dan
[Link] berarti sejauh mana organisasi dipecah sampai keunit
[Link] merupakan derajat ketika subunit-subunit harus
berkoordinasi dan bekerja bersama.
2. Pendekatan Tugas-Teknologi.
3. Pengaruh Ukuran.
4. Siklus Kehidupan Organisasi dan Kebutuhan Reorganisasi.
D. Tipe Organisasi
1. Berdasarkan Fungsi
Dalam bentuk ini,organisasi disusun kedalam bagian yang mempunyai
aktivitas-aktivitas yang sama atau berkaitan.
2. Organisasi Pasar atau Produk
Jika organisasi menjadi semakin besar,organisasi dapat disusun
berdasarkan produk atau pasar atau konsumennya.
5
3. Sturuktur Matriks
Sturuktur organisasi matriks berusaha menggabungkan sisi positif sturktur
fungsional dan struktur [Link] struktur organisasi matriks,karyawan
mempunyai dua atasan:fungsional dan divisional.
E. Koordinasi
Koordinasi merupakan proses menghubungkan atau mengintegrasikan
bagian-bagian dalam organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan
lebih [Link] suatu pekerjaan tergantung pada pekerjaan lain.,kebutuhan
akan semakin tinggi.
Ketergantungan dapat dibedakan menjadi tiga macam:
1. Pooled interdependence
Ketergantungan semacam ini tidak banyak membutuhkan interaksi.
2. Sequentil interdependence
Ketergantungan dalam bentuk ini di tandai dengan dipakai nya output
suatu bagian lainnya.
3. Reciprocal interdependence
Ketergantungan semacam ini mncul apabila bagian-bagian saling
memengaruhi satu sama lain.
Lawrance dan Lorcsch menggunakan istilah deferensiasi untuk
menjelaskan bagianorganisasi yang semakin terspesialisasi:
1. Bagian organisasi yang berbeda cenderung mengembangkan tujuan bagian
tersebut,metode serta kebiasaan yang berlaku untuk mencapai tujuan
tersebut.
2. Orientasi waktu antar bagian dapat dapat berbeda.
3. Gaya interaksi.
4. Tingkat formalitas bagian produksi barangkali mempunyai prosedur yang
jelas dan formal,sementara bagian personalia tidak begitu ketat tingkat
formalitasnya.
F. Desentralisasi dan sentralisasi
Desentralisasi merupakan prose pendelegasian wewenang dan tanggung
jawab secara sitematis ke tingkatkan yang lebih [Link] ada kesan
bahwa desentralisasi merupakan sesuatu yang [Link] sentralisasi
merupakan sesuatu yang buruk meskipun sebenarnya keduanya mempunyai
sisi positif dan negatif.
1. Lingkungan.
2. Ukuran.
3. Faktor lain.
6
1.2 WEWENANG DEPARTEMENTALISASI ,HUBUNGAN PELAPORAN,DAN
DESAIN KERJA
A. Wewenang
Ada dua pandangan yang menjelaskan wewnang formal (resmi) yang
dipunyai oleh manajer ;
1. Pandangan klasik
Menurut pandangan kalsik wewenang datang dari tingkat palig
atas,kemudian secara bertahap di turunkan ke tingkat yang lebih bawah.
2. Pandangan penerimaan
Menurut pandangan ini,sudut pandang wewenang adalah penerima
perintah,bukannya pemberi perintah.
3. Wewenang Lini Dan Staf
Wewenang lini
Wewenang lini di punyai oleh manajer lini yang mengambil keputusan
untuk mencapai tujuan organisasi secara langsung.
Wewenang staf
Wewenang staf dilakuan oleh orang atau kelompok orang yang
memberikan jasa atau nasehat kepada manajer lini.
Wewenang fungsional
Kadang-kadang organisasi mempunyai manajer atau departemen yang
mempunyai wewenang fungsional.
4. Delegasi wewenang
Wewenang dapat diartikan sebagai kekuasaan yang dilegitimasi
(diresmikan) oleh [Link] wewenang dapat diartikan sebagai
penugasan wewenang dan tanggung jawab formal otganisasi kepadaorang
lain,dalam hal ini karyawan.
Keuntungan dan halangan delegasi wewenang.
Delegasi wewenang yang efektif.
B. Hubungan Pelaporan
Organisasi disusun berdasarkan hubungan pelaporan,bawahan melapor ke
[Link] yang ada suatu organisasi tentunya sangat kompleks.
1. Rentang kendali (span of controll)
Rentang kendali atau rentang manajemen dapat didefinisikan sebagai
jumlah bawahan yang melapor keatasan [Link] Tall Dan
Organisasi Flat
2. Keterbatasan Organisasi Formal
Organisasi formal juga tidak menangkap dinamika hubungan informal
antar karyawan atau [Link] terjadi suatu kesulitan,karyawan
barangkali tidak langsung melapor keatasannya,tetapi akan bertanya pada
karyawan lainnya.
7
Pengelompokkan kerja merupakan basis [Link] waktu organisasi
masih kecil,semua tugasbarangkali dapat ditangani oleh satu orang,yaitu pendiri
[Link] waktu organisasi berkembang,pendiri organisasi sudah tidak
mampu lagi mengerjakan dan mengawasi semua kegiatan dalam organisasi.
1. Pengelompokkan berdasarkan [Link] yang sama atau serupa
dikelompokkan kedalam satu bagian tertentu.
2. Pengelompokkan berdasarkan [Link] ini juga merupakan
pengelompokan yang [Link] di kelompokkan disekitar produk
atau sekelompok produk tertentu.
3. Pengelompokkan berdasarkan [Link] metode ini,kegiatan
dikelompokkan berdasarkan pelanggan atau pembeli produk organisasi.
4. Pengelompokkan berdasarkan [Link] metode ini kegiatan di
kelompokkan berdasarkan wilayah atau lokasi.
5. Pengelompokkan berdasarkan kriteria [Link] kriteria yang
dibicarakan di atas,organisasi dapat menggunakan basis lainnya.
6. Pertimbangan lainnya.
D. Desain Kerja
Desain kerja dapat diartikan sebagai penetapan tanggung jawab kerja
individu.
1. Pendekatan desain kerja.
2. Pemekerja kerja (job enlargement).
3. Pemerkayaan kerja (job enrichment).
4. Pengaturan jadwal kerja.
5. Desain kerja dan keputusan kerja.
8
Struktur hollow mengikuti tren [Link] adalah tren yang
berkembang saat ini,di mulai pemindahan pabrik-pabrik amerika serikat ke
wilayah asia yang lebih [Link] terbukti bisa meninggkatkan nilai
perusahaan karena perusahaan bisa mengerjakan sebagian proses biaya
yang lebih murah,dan bisa memfokuskan pada kegiatan utamanya seperti
desain dan pemasaran.
3. Struktur Modulr (Network organization)
Struktur modular mengelompokkan sumber daya manusia dalam
organisasi strategic business unit (SBU) yang kecil,yang memfokuskan pada
elemen proses organisasi yang spesifik.
4. Virtual Organization.
5. Organisasi Tanpa Batas (Boundaryless Organizatin).
6. Organisasi Matriks
Organisasi ini menggabungkan struktur departemen dengan struktur
penugasan.
C. Tantangan Ke Depan
1. Fleksibilitas.
2. Kemampuan Kolaborasi.
3. Struktur Organisasi Global.
9
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 PENYUSUNAN STAF
10
banyak tenaga kerja yang baru yang meninggalkan organisasi setekah jerja
hanya satu atau dua tahun.
D. Seleksi
Seleksi ditujuankan untuk memilih tenaga kerja yang [Link]
seleksi merupakan proses dua arah:organisasi menawarkan posisi kerja dengan
imbalannya,sedangkan calon tenaga kerja mengevaluasi organisasi dan daya
tarik posisi serta imbalan yang [Link] kenyataannya proses seleksi
belum ditentukan oleh kekuatan tawar menawar antar organisasi dengan calon
tenaga [Link] contoh apabila satu posisi kerja dilamar oleh beberapa
calon,organisasi mempunyai posisi tawar menawar yang lebih kuat.
Lamaran kerja.
Wawancara awal.
Tes.
Evaluasi latar belakang.
Wawancara mendalam.
Tes kesehatan dan fisik.
Penawaran kerja.
E. Sosialisasi
Karyawan baru di perkenalkan mengenai organisai,kebijakan,prosedur atau
peraturan yang berlaku,sejarah,misi organisasi,tenaga kerja dan informasi lain
yang [Link] sosialisasi karyawan baru diharapkan dapat berintegritas
secara lancar dengan organisasinya.
G. Evaluasi prestasi
1. Pelaksanaan evaluasi
Evaluasi prestasi merupakan evaluasi formal terhadap prestasi anggota
[Link] tersebut dapat dilakukan secara informal,misal:manajer
menegur kesalahan kecil yang dilakukan karyawan,atau manajer memuji
apabila karyawan berhasil melaksanakan tugasnya dengan [Link]
informal seperti ini mempunyai keuntungan karena karyawan dapat
memperoleh feedback umpan baliksecara cepat,langsung setelah karyawan
melakukan kesalahan atau berhasil menjalankan tugasnya.
2. Masalah dalam evaluasi prestasi
Evaluasi yang dilakukan dengan adil diharapkan dapat meningkatkan
produktivitas [Link] yang tidak berprestasi baik memperoleh
11
umpan balik dan di harapkan akan meningkatkan [Link]
kadang-kadang caraevaluasi tidak memperbaiki situasi.
A. Karakteristik Perubahan
Perubahan dalam organisasi dapat didefinisikan sebagai perubahan yang
cukup subtansial terhadap suatu bagian atau keseluruhan [Link]
dapat dilakukan terhadap jadwal kerja,departementalisasi,rentang
manajemen,desain organisai,mesin baru,dan lainnya.
1. Eksternal
Lingkungan organisasi selalu berubah perubahan tersebut mencakup
perubahan yang mengancam kelangsungan hidup suatu organisasi dan
perubahan yang menyediakan kesempatan bagi organisasi.
2. Internal
Semakin besar organisasi,organisasi mempunyai kecenderungan menjadi
semakin birokratis,semakin lamban dalam beraksi (tidak responsif).
12
C. Proses perubahan
Change (implementasi) setelah karyawan siap terhadap
perubahan,perubahan kemudian [Link] dapat melibatkan agen
perubahan yang membantu proses perubahan melalui identifikasi dan
internalisasi.
Refreezing ini bertujuan membuat nilai,sikap,dan perilaku yang baru 9yang
diinginkan )menjadi norma yang [Link] ini dapat dilakukan dengan
memberi dukungan atau memaksa perilaku yang baru tersebut.
2.3 KELOMPOK
A. Model Kelompok
C. Perkembangan kelompok
Pada tahap pertama (saling menerima) anggota kelompok pada mulanya
merasa asing terhadap [Link] masih belajar menyesuaikan diri satu
sama [Link] belum tahu perilaku mana yang dapat diterima,juga belum
yakin apakah dapat bergabung (cocok) dengan kelompok mereka belum
percaya terhadap anggota lain maupun kelompok.
D. Tipe kelompok
1. Kelompok formal.
2. Membuat kelompok formal lebih efektif.
3. Kelompok informal.
13
E. Karakteristik kelompok
1. Struktur peranan.
2. Norma kelompok.
3. Kohesifitas.
14
BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 MOTIVASI
Motivasi merupakan sesuatu yang mendorong seseorang bertindak atau
berperilaku tertentu. Motivasi membuat seseorang memulai, melaksanakan, dan
mempertahankan kegiatan tertentu.
B. Teori Motivasi
Teori isi motivasi pada dasarnya ingin melihat "apa" dari motivasi tersebut.
Teori ini ingin melihat faktor-faktor dalam seseorang yang menyebabkan ia
berperilaku tertentu dan kebutuhan apa yang ingin dipenuhi seseorang?
Mengapa seseorang terdorong untuk berperilaku tertentu? Kebutuhan tersebut
ingin dipenuhi dan hal ini menyebabkan seseorang berperilaku tertentu.
15
C. Teori Proses
Teori proses dalam motivasi berusaha menjelaskan bagaimana dan tujuan
apa yang membuat seseorang berperilaku tertentu. Apabila teori isi berusaha
mencari jawab mengenai "apa" motivasi, teori proses berusaha menjawab
"bagaimana" suatu motivasi. Menurut teori ini, motivasi timbul karena adanya
kebutuhan (needs) kemudian ada harapan (expectancy) terhadap kemungkinan
memperoleh balasan (reward) yang dapat digunakan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Valence atau kekuatan keinginan seseorang terhadap
reward (balasan) juga akan menentukan seberapa besar motivasi seseorang.
3.2 KOMUNIKASI
16
penyampai informasi dan suara-suara yang tidak jelas merupakan gangguan
komunikasi.
17
F. Komunikasi Dalam Organisasi
Komunikasi dalam organisasi dapat mengambil bentuk tertulis atau lisan
(sudah dibicarakan pada halaman sebelumnya) dan juga dapat dilakukan secara
vertikal maupun horizontal. Bagian berikut ini membicarakan komunikasi vertikal
dan horizontal. dengan ti organisasi atau pro manajer.
1. Komuniksi keatas,ke Bawah, dan Gabungan.
2. Komunikasi Horizontal.
18
melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencegah kerusakan
lingkungan.
B. Penyebab Konflik
Konflik dalam organisasi dapat disebabkan oleh struktur atau desain
organisasi, penyebab lainnya berkaitan dengan individu atau kelompok.
1. Ketergantungan
Ketergantungan di samping meningkatkan koordinasi juga merupakan
potensi macam konflik. Kegiatan belajar sebelumnya membicarakan tiga
ketergantungan: pooled, sequential, dan reciprocal. Ketiganya mempunyai
potensi meningkatkan konflik.
2. Perbedaan Tujuan
Departemen atau kelompok dalam organisasi mempunyai tujuan yang
berbeda, yang tidak selalu konsisten satu sama lain. Sebagai contoh,
departemen pemasaran mempunyai tujuan menjual barang dengan variasi
yang banyak, sementara departemen produksi lebih menyukai standarisasi
untuk menurunkan biaya produksi. Konflik tujuan semacam ini juga bisa
disebabkan oleh perbedaan sistem evaluasi dan kompensasi. Perbedaan
sistem evaluasi kinerja dalam organisasi bisa menyebabkan konflik antar
anggota organisasi.
3. .Persaingan Sumber Daya
Biasanya sumber daya terbatas dan karena itu pihak-pihak yang
berkepentingan akan bersaing untuk memperoleh sumber daya tersebut.
4. Dinamika Interpersonal
Interaksi personal dapat mengakibatkan timbulnya konflik. Jika dua orang
mempunyai motivasi yang berbeda, tidak menyukai satu sama lain karena
beberapa alasan maka akan terjadi konflik.
5. Wewenang yang Overlap
Jika terjadi wewenang yang overlap maka kemungkinan munculnya
konflik akan semakin besar. Dalam kondisi ini, dua atau lebih pihak akan
merasa mempunyai hak untuk mengelola sesuatu sehingga memunculkan
pertentangan antar pihak- pihak tersebut.
6. Lainnya
Ada banyak penyebab konflik yang lainnya. Sebagai contoh, perbedaan
status bisa memunculkan konflik. Misalnya dalam suatu organisasi ada
manajer yang masih muda usianya, tetapi mempunyai bawahan yang sudah
tua dan berpengalaman dalam perusahaan tersebut.
19
bekerja sama. Strategi tersebut meliputi strategi penanganan berfokus pada
individu dan strategi penangan berfokus pada organisasi.
1. Strategi Berfokus Pada Individu
2. Strategi Berfokus Pada organisasi.
20
BAB 4
PEMABAHASAN
4.1 KEPEMIMPINAN
Pemimpin atau kepemimpinan merupakan variabel yang erat kaitannya
dengan tugas manajer.
A. Mendefinisikan Kepemimpinan
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mengarahkan dan
memengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari orang-orang dalam kelompok.
Kepemimpinan berarti melibatkan orang lain, yaitu bawahan atau karyawan
yang akan dipimpin. Kepemimpinan juga melibatkan pembagian kekuasaan
(power).
1. Kekuasaan balasan (Reward Power).
2. Kekuasaan paksaan (Coercive Power).
3. Kekuasaan legitimasi (Legitimate Power).
4. Kekuasaan referensi (Referent Power).
5. Kekuasaan kepakaran (Expert Power).
B. Teori Bakat
Teori bakat berusaha mengidentifikasikan karakter pribadi dari seorang
pemimpin. Tidak hanya itu, teori ini juga ingin melihat karakteristik-karakteristik
apa yang membedakan pemimpin yang efektif dengan pemimpin yang tidak
efektif. Dengan kata lain, teori ini sesuai dengan pandangan bahwa pemimpin
tersebut dilahirkan, bukan dipelajari/diajarkan.
Sifat-sifat yang sering disebutkan dipunyai oleh pemimpin adalah cerdas,
lebih ekstrovert, lebih percaya diri, lebih bertanggung jawab, dan lebih jangkung
(untuk Amerika Serikat) dibandingkan dengan sifat para bukan pemimpin.
C. Teori Perilaku
Teori perilaku kepemimpinan lebih sesuai dengan pandangan bahwa
pemimpin dapat dipelajari, bukan pemimpin adalah bawaan sejak lahir seperti
pada teori sifat atau bakat kepemimpinan.
Fungsi pemimpin mencakup dua hal : (1) fungsi yang berkaitan dengan
tugas (task-related functions), dan (2) fungsi yang berkaitan dengan kehidupan
sosial (group maintenance atau sosial functions).
1. Teori Tannenbaum dan Warren H. Schmidt.
2. Studi Ohio State University.
3. Studi The University of Michigan.
4. Kisi-kisi Manajerial (Grid).
D. Teori Situasi
Pendekatan situasional (contigency) dalam teori kepemimpinan mencakup
beberapa faktor : (1) pekerjaan, (2) pengharapan dan perilaku teman sekerja, (3)
sifat atau karakteristik, (4) budaya dan kebijaksanaanorganisasi.
1. Model kepemimpinan Hersey dan Blanchard.
21
2. Model Fiedler.
3. Teori Jalur- Tujuan (Path-Goal Theory).
4. Model Vroom-Yetton dan Vroom-Jago.
22
Tingkat ambigu yang semakin tinggi.
Permasalahan yang semakin kompleks.
4. Karakteristik dari Kepemimpinan Strategik
Cakupan yang luas.
Dampak yang lebih lama.
Sering Kali Melibatkan Perubahan Organisasi yang Signifikan.
23
DAFTAR PUSTAKA
Argyris, C. (1964, Integrating the individuat and the organization. New York: Wig.
Banard, C. (1938). The functions of the executive. Cambridge, MA. Harvard Univerig
Press.
Burns, T.E., & Stalker, G.M. (1961). The management of innovation, Universiny of
Ilinois at Urbana-Champaign's Academy for entrepreneurial leadership
historical research reference
entrepreneurship,
dari
[Link] pada tanggal 18 Agustus 2020.
Chandler, A.D. (1962). Strategy and structure: Chapters in the history of the
American
Industrial Enterprise. Beard Books.
Douglas, M. (1960). The human side of enterprise. New York: McGraw-Hill.
Hackman, J. R., & Oldham, G.R. (1976). Motivation through the design of work: Test
of a theory, Organizational Behavior and Human Performance 16, pp. 250-279.
Hanafi, M.M. (2019). Manajemen. Yogyakarta: UPP-AMP YKPN.
Lawrence, P.R., & Jay, W.L. (1967). Organization and environment: Managing
differentiation and integration. Boston: Harvard University Press.
Likert, R. (1967). The human organization: its management and values. New York.
McGraw-Hill.
Pugh, D.S., David, J.H., Hinings, C.R., & MacDonald, K.M. (1963). A Conceptual
Scheme for Organizational Analysis, Administrative Science Quarterly 8, pp.
289-315.
Robbin, S.P., & Mary, C. (2012). Management, 11th edition. Boston: Prentice Hall.
Stoner, J.F., R. Edward, F., & Daniel, R.G. (1995). Management, 6th ed. New
Jersey:
Wandeler, C.A. (2010). How bad organizational structure contributed to Italy's cruise
ship disaster, TLNT blog, diakses dari [Link]
structure-contributed-to-italys-cruise-ship-disaster,diaksespada
Blake, R.R., & Jane, M. (1964). The managerial grid: The key to leadership
excellence,
Houston: Gulf Publishing Co.
Blake, R.R., & Jane, M. (19850. The managerial grid III: The key to leadership
excellence. Houston: Gulf Publishing Co.
Dessler, G. (2016). Human resource management. New York: Pearson.
Griffin, R.W. (2016). Management. 12th Edition. Andover: Cengage Learning.
Hanafi, M.M. (2019). Manajemen. Yogyakarta: UPP-AMP YKPN.
24
Lewin, K. (1951). Field theory in social science. New York: Harper and Row.
Stoner, J.F., [Link], F., & Daniel, R.G. (1995). Management 6th ed. New Jersey:
Prentice Hall.
Adair, J. (2010). Strategic leadership: How to think and plan strategically and provide
direction. London: Kogan Page.
Bass, B. M. (1995). Leadership: Good, better, best. Organizational Dynamics,
13 (3), рр. 26-40.
Blake, R., & Mouton, J. (1964). The managerial grid: The key to leadership
excellence.
Houston: Gulf Publishing Co.
Blake, R., & Mouton, J. (1985). The managerial grid III: The key to leadership
excellence. Houston: Gulf Publishing Co.
Evans, M. G. (1970). The effects of supervisory behavior on the path-goal
relationship.
Organizational Behavior and Human Performance, 5 (3). pp. 277-298.
Fiedler, F. E. (1967). A theory of leadership effectiveness. New York: McGraw-Hill.
French, J. R. P., & Bertram, R. (1959). The bases of social power. Dalam buku
Dorwin Cartwright. Studies in sosial power. Research Center for Group Dynamics.
Institute for Social Research, University of Michigan, Ann Arbor.
25
Hersey, P., & Kenneth, H. B. (1969). Life cycle theory of leadership. Training and
Development Journal, Vol 23, No. 5, pp. 26-31.
House, R. J., Mitchell, T. R. (1974). Path-goal theory of leadership. Journal of
Contemporary Business 3, pp. 1-97.
House, R. J., (1996). Path-goal theory of leadership: Lessons, legacy, and a
reformulated
theory. Leadership Quarterly, 7 (3), . 323-352.
Hughes, R. L., & Katherine, M. B. (2005). Becoming a strategik leader: Your role in
your organization's enduring success (I" edition). Jossey-Bass, San Fransisco.
Kets de Vries, Manfred, F. R., Miller, D. (1984). The neurotic organization:
Diagnosing and changing counterproductive styles of management. Jossey-Bass.
Likert, R. (1961). New patterns of management. New York: McGraw-Hill.
26
27