0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan5 halaman

Pentingnya Berpikir Komputasional di Sekolah

Berpikir komputasi (computational thinking) adalah keterampilan berpikir untuk menyelesaikan masalah secara logis dan teratur dengan empat langkah yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Keterampilan ini penting untuk persiapan anak menghadapi tantangan abad 21.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan5 halaman

Pentingnya Berpikir Komputasional di Sekolah

Berpikir komputasi (computational thinking) adalah keterampilan berpikir untuk menyelesaikan masalah secara logis dan teratur dengan empat langkah yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Keterampilan ini penting untuk persiapan anak menghadapi tantangan abad 21.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM Computational Thinking (CT)

PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA SISWA


Prakarsa
Pelaksanaan pembelajaran dengan Computational Thinking (CT) metode
perubahan
berpikir komputasi
Daftar Tindakan yang perlu dilakukan menjawab
Tahapan Pertanyaan
pertanyaan
Buat Bagaimana upaya Melakukan proses pembelajaran dengan metode
Pertanyaan menumbuhkan Computational Thinking (CT) atau berpikir komputasi
(Define) kompetensi siswa dalam
berkolaborasi,
berkomunikasi, berpikir
kritis dan berpikir kreatif
Ambil Bagaimana kompetensi Saat ini siswa dalam berkolaborasi, berkomunikasi,
Pelajaran siswa dalam berpikir kritis dan berpikir kreatif secara umum masih
(discover) berkolaborasi, rendah dan perlu metode dalam menumbuhkan
berkomunikasi, berpikir kompetensi tersebut dan sesuai dengan visi sekolah
kritis dan berpikir kreatif yakni insan pembelajar
Gali Mimpi Harapan apa yang ingin  Siswa menjadi Insan Pembelajar dan memiliki
(Dream) dicapai dalam kompetensi abad 21 sehingga mampu dan Tangguh
menumbuhkan dalam menghadapi persaingan di abad 21
kompetensi siswa dalam  Guru mengembangkan kemampuannya dalam
berkolaborasi, melaksanakan pembelajaran yang kreatif, inovatif
berkomunikasi, berpikir yang berdampak pada siswa dalam menghadapi
kritis dan berpikir kreatif? zaman
 Kepala sekolah memberikan dorongan atas usaha
yang dilakukan guru dan siswa
Jabarkan Strategi apa yang akan  Koordinasi dan meminta arahan kepala sekolah
rencana dilakukan? untuk melaksanakan sosialisasi metode
(Design) pembelajaran Computational thinking
(CT)Meminta arahan dari kepala sekolah sebagai
penanggunj jawab, dan berkolaborasi dengan
kesiswan dan guru untuk mengarahkan siswa,
membentuk kepanitiaan siswa dan memberikan
kesempatan siswa untuk merancang kegiatan LDKS
sesuai dengan petunjuk/arahan guru.
Kegiatan ini melibatkan unsur masyarakat.
Bagaimana memonitor Monitoring dilakukan oleh siswa kepada siswa dan
dan mengevaluasi untuk siswa sendiri
kegiatan tersebut? Evaluasi melibatkan kepala sekolah, guru dan
masyarakat
Atur Siapa yang akan terlibat Kegiatan ini melibatkan kepala sekolah, kepanitian
Eksekusi dalam kegiatan tersebut? guru dan kepanitian siswa serta melakukan mekanisme
(deliver) koordinasi antar sebagai berikut:
Penanggung jawab: kepala sekolah
Penanggung jawab 2: Wakasek Kesiswan
Pengarah: guru
Ketua panitia: Ketua OSIS
Sekretaris: siswa
bendahara: siswa
Koordinator acara: ketua MPK
Koodinator peralatan: ketua eskul Pramuka
Koordinator konsumsi: siswa
Koordinator keamanan: Ketua eskul Silat
Siapa yang akan membuat Laporan dibuat oleh ketua panitia, berkoordinasi
laporan kegiatan tersebut dengan panitia lainnya melalui rapat panitia dan
dilaporkan kepada guru sebagai pengarah
Siapa yang akan Hasil laporan kegiatan dilaporkan ke kesiswaan dan
memberikan umpan balik kepala sekolah, dan selanjutnya evaluasi dapat
dari laporan tersebut dilakukan pada rapat koordinasi antara kepala sekolah
dan guru

Berpikir Komputasi (Computational


Thinking)
0

Computational Thinking:
Keterampilan Abad 21 yang Mutlak
Dibutuhkan.
[Link] – Berpikir Komputasi (Computational Thinking). Pendidik
baik formal maupun nonformal semestinya menyadari bahwa
mempunyai tugas berat untuk mempersiapkan generasi bangsa yang
tangguh dan siap menghadapi tantangan 10 hingga 20 tahun ke depan.

Dunia kependidikan di seluruh dunia bekerjasama untuk merumuskan


bentuk-bentuk keahlian yang sekiranya akan dibutuhkan pada abad 21.
Latar belakang inilah yang kemudian memunculkan bentuk-bentuk
kebutuhan anak pada abad 21.

Bentuk-bentuk kebutuhan tersebut antara lain keterampilan berpikir


kritis, berkolaborasi, bekerja sama, dan berpikir kreatif.

Profesor Jeanette M. Wing (Cernegie Mellon University, 2006)


memperkenalkan istilah Computational Thinking (Berpikir Komputasi)
sebagai salah satu bentuk keterampilan yang dibutuhkan di abad 21.

Berpikir Komputasi
Dia merumuskan bahwa Berpikir Komputasi adalah kemampuan
seseorang memecahkan masalah dan merancang sistem dengan
mengambil konsep dasar seorang ahli teknologi informasi berpikir dalam
memecahkan masalah.

Secara umum kemampuan berpikir komputasi adalah sebuah


kemampuan berpikir untuk menyelesaikan suatu permasalahan secara
menyeluruh, logis, dan teratur. Berpikir komputasi adalah teknik
memecahkan masalah yang sangat luas wilayah penerapannya.

Bukan hanya untuk menyelesaikan masalah seputar ilmu komputer saja.


Melainkan juga untuk menyelesaikan berbagai masalah di dalam
kehidupan sehari-hari.

Kemampuan berpikir komputasi meliputi empat hal, yaitu: 1)


Dekomposisi, 2) Pengenalan pola, 3) Abstraksi, 4) Algoritma.

Kemampuan berpikir komputasi sama sekali bukanlah kemampuan untuk


membuat program berbasis komputer.

Kemampuan ini juga bukan bentuk keterampilan menggunakan


perangkat lunak berbasis komputer. Meskipun pada praktiknya keahlian
ini tetap akan memperkaya kemampuan berpikir komputasi.

Kemampuan dalam membuat baris-baris program perangkat lunak


komputer (coding) dapat mengasah keahlian berpikir komputasi
(Computational Thinking). Bahkan terdapat beberapa pakar pendidikan
dan juga pendiri perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia,
Microsoft, memperkenalkan kurikulum coding dasar bagi anak-anak.

Hal ini tidak lain bertujuan untuk memperkenalkan cara berpikir


komputasi (Computational Thinking) melalui modifikasi game dan
pembuatan game berbasis komputer.

Sebenarnya berpikir komputasi (Computational Thinking) dapat dilakukan


tanpa adanya akses pada komputer. Kemampuan dalam memecahkan
masalah ini dapat dikembangkan di berbagai bidang kehidupan, tidak
hanya di bidang studi yang berkaitan dengan teknologi informasi.

Misalnya, dalam bidang bahasa. Anak akan melihat pola-pola yang sama
dalam analisis puisi. Dalam bidang musik, anak dapat menggunakan
berpikir komputasi (Computational Thinking) untuk menggubah suatu lagu
dengan kunci dasar yang sama.
Dalam pelajaran sosial, anak akan dapat merekam data statistik
pengguna kendaraan bermotor dan pola pelanggaran yang terjadi di
jalan.

Cara menerapkan kemampuan berpikir komputasi (computational


thinking) adalah dengan memahami masalah, mengumpulkan semua
data, diikuti dengan pencarian solusi terhadap masalah.

Dalam berpikir komputasi (computational thinking) ada yang disebut tahap


Dekomposisi. Tahap dekomposisi adalah tahap dimana dilakukan
pemecahan masalah yang tadinya kompleks menjadi masalah-masalah
yang lebih kecil untuk diselesaikan.

Tahap selanjutnya setelah dekomposisi adalah tahap Pengenalan Pola.


Tahap ini menekankan pengenalan pola-pola kegiatan yang sama yang
dilakukan untuk mewujudkan pemecahan masalah yang berbeda.

Dalam kemampuan berpikir komputasi (computational thinking) juga


dikenal tahap berpikir dengan Algoritma. Tahapan ini dilakukan dengan
mengurutkan langkah-langkah dalam menyelesaikan suatu permasalahan
agar menjadi logis, berurutan, teratur, dan mudah dipahami oleh orang
lain.

Hal yang perlu diingat sekali lagi adalah berpikir komputasi


(computational thinking) tidak selalu berhubungan dengan komputer. Kita
dapat menggunakan teknik berpikir komputasi (computational thinking)
dalam upaya memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang sudah terbiasa dengan menerapkan kemampuan


berpikir komputasi dalam kehidupannya, maka ia akan menjadi lebih
mampu berpikir kritis. Imbasnya adalah tertingkatnya kemampuan
pemecahan masalah menjadi lebih baik, efektif, dan efisien.

Oleh sebab itu sangat perlu membekali anak dengan keterampilan hidup
yang lebih dari cukup dan berguna untuk masa depan mereka. Termasuk
di dalamnya adalah keterampilan berpikir komputasi.

Anak-anak tidak perlu dijejali dengan pengetahuan yang sekiranya tidak


relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Semakin baik kita mempersiapkan anak-anak dalam menghadapi


tantangan hidup di masa yang akan datang, maka akan semakin siap kita
melepas mereka untuk hidup mandiri.

Anda mungkin juga menyukai