kelompok 3
strategi Contextual Teaching and Learning ( CTL)
A. Pengertian
Menurut Nurhadi dalam Sugiyanto (2007), Contextual Teaching and Learning (CTL)
adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang
diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.
Menurut Jonhson dalam Sugiyanto (2007) CTL adalah sebuah proses pendidikan
yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi
akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik
dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.
Model Pembelajaran CTL menurut Sanjaya (2006) menyatakan bahwa belajar dalam
CTL bukan hanya sekadar duduk, mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses
berpengalaman secara langsung. Lebih jauh ia mengupas bahwa CTL adalah suatu strategi
pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk
menemukan materi yang dipelajarinya dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan
nyata, sehingga siswa didorong untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Sedangkan Blanchard (Trianto, 2007) mengemukakan bahwa pembelajaran kontekstual
adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman
sesungguhnya.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa CTL adalah
konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
B. Tujuan
Tujuan penbelajaran CTl adalah sebagi berikut:
1. Model pembelajaran ini bertujuan agar dalam belajar itu tidak hanya sekedar menghafal
tetapi perlu dengan adanya pemahaman
2. Model pembelajaran ini menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa.
3. Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk melatih siswa agar dapat berpikir kritis dan
terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu
yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain
4. Model pembelajaran CTL ini bertujun agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna
5. Model pembelajaran model CTL ini bertujuan untuk mengajak anak pada suatu aktivitas
yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari
C. Langkah-langkah Contextual Teaching and Learning (CTL)
1. Model CTL 1
a) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
sendiri, menemukan sendiri dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan
barunya
b) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik
c) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
d) Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok)
e) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
f) Lakukan refleksi di akhir pertemuaan
g) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
2. Model CTL 2
a) Modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi – tujuan,
pengarahan – petunjuk, rambu-rambu, contoh)
b) Questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan,
evaluasi, inkuiri, generalisasi)
c) Learning community (seluruh siswa berpartisipati dalam belajar kelompok dan
individual, otok berpikir dan tangan bekerja, mengerjakan berbagai kegiatan dan
percobaan)
d) Inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, generalisasi, menemukan)
e) Constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan,
analisis-sintesis)
f) Reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut)
g) Authentic assessment (penilaian selama proses dan seusai pembelajaran harus
dilakukan secara objektif dan dilakukan dengan berbagai cara untuk mendapatkan hasil
yang benar-benar mewakili kompetensi siswa)
3. Model CTL 3
Menurut bahwa secara garis besar penerapan pendekatan kontekstual dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut( Suparto, 2004: 6):
a) Mengembangkan metode beajar mandiri
b) Melaksanakan penemuan (inquiry)
c) Menumbuhkan rasa ingin tahu siswa
d) Menciptakan masyarakat belajar
e) Hadirkan "model" dalam pembelajaran
f) Lakukan refleksi di setiap akhir pertemuan
g) Lakukan penilaian yang sebenarnya
D. Komponen Contextual Teaching and Learning (CTL)
Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000:
65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
1. Melakukan hubungan yang bermakna (Making Meaningful Connections)
Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran
kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu
pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka
menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan
pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan
keterkaitan inilah inti dari CTL.
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (Doing Significant Works)
Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan
di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi
pelajaran dengan kehidupan siswa.
3. Belajar yang diatur sendiri (Self-Regulated Learning)
Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri,
melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan
cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi
kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri
4. Bekerjasama (collaborating) Siswa dapat bekerja sama.
Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja
secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling
mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif (Critical dan Creative Thinking)
Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap
tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar
secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik
keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir
kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman
pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (Nuturing The Individual)
Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-
kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas
pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam
pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan
kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan
kemampuannya.
7. Mencapai standar yang tinggi (Reaching High Standards)
Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai
keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan sia dibantu oleh
gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.
8. Menggunakan Penilaian yang otentik (Using Authentic Assessment)
Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan
akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan
antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk
menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah
mereka pelajari.
E. Kelebihan dan Kelemahan
1. Kelebihan
a) Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi
yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam PBM.
b) Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu
isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
c) Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari
d) Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
e) Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
f) Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
g) Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.
2. Kelemahan
a) Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
b) Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan
kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
c) Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang
memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang
kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang
kemampuannya
d) Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus
tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran
ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang
dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu
teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan