BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
Beberapa hal yang dipaparkan pada sub bab ini adalah (1) Organisasi,
meliputi: pengertian Organisasi, ciri-ciri organisasi, prinsip-prinsip organisasi,
Perubahan Organisasi, Konflik dalam Organisasi. (2) Stres Kerja, meliputi:
Pengertian Stres Kerja, Kategori Stres Kerja, Faktor-faktor penyebab Stres
Kerja, Gejala Stres Kerja, Indikator Stres Kerja. (3) Perilaku karyawan,
meliputi: Pengertian Perilaku Karyawan, Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Perilaku Karyawan. (4) Kinerja, meliputi: Pengertian Kinerja, Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Kinerja, Evektivitas Kinerja, Indikator Kinerja. (5)
Bisnis Ritel, meliputi: Pengertian Bisnis Ritel, Jenis-jenis Ritel
1. Organisasi
a. Pengertian Organisasi
Istilah organisasi berasal dari bahasa Inggris Organization.
Menurut Syamsi (2004), menyatakan bahwa organisasi dapat diartikaan
dua macam, yaitu:
(1) Dalam arti statis yaitu organisasi sebagai wadah kerjasama
sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan yang
diinginkan sedangkan,
(2) Dalam arti dinamis yaitu organisasi sebagai suatu sistem atau
kegiatan sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu.
10
1
Menurut Robbins (dalam Budihardjo, 2014:17), mengemukakan
bahwa organisasi sebagai kumpulan entitas sosial yang secara sadar
terkoordinasi dalam batasan-batasan yang relatif jelas serta bersama-sama
dalam batas waktu tertentu dan terus menerus untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Scott (dalam Budihardjo, 2014:18), organisasi dipandang sebagai
kumpulan manusia yang memiliki kepentingan bersama demi kelangsungan
hidup organisasi sebab itu mereka melibatkan diri pada kegiatan-kegiatan
bersama dalam organisasi dan membentuk suatu struktur informal. Sedangkan
menurut Hasibuan (2015:5), organisasi adalah suatu sistem perserikatan
formal dari dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk mencapai tujuan
tertentu. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa
organisasi merupakan kumpulan orang-orang yang mempunyai kepentingan
bersama untuk mencapai suatu sasaran dalam sistem dan bekerja sama untuk
mencapai tujuan tertentu dan dalam batas waktu yang telah ditentukan.
Menurut Nawawi (2014), artinya organisasi dapat dilihat dari segi yang
statis/teori klasik dan segi yang dinamis atau proses /pendekatan sistem. Teori
klasik memandang pengertian organisasi dari segi wadah atau wujud,
sedangkan teori sistem memandang organisasi sebagai suatu proses. Adapun
pengertian organisasi di bagi menjadi dua makna, yaitu:
1) Pengertian organisasi dalam makna yang statis
Menurut beberapa para ahli yaitu: 1) Arif (1995) menegaskan
bahwa organisasi adalah kerjasama orang-orang atau sekelompok orang
untuk mencapai tujun yang ingin dicapai. 2) Malinowski (Dalam Arif,
1
1995) menegaskn bahwa organisasi sebagai kelompok yang bersatu dalam
tugas-tugas atau tugas umum, terkait pada lingkungan tertentu,
menggunakan alat teknologi dan patuh pada peraturan. 3) siagian (2003)
menegaskan organisasi adalah tempat dimana kegiatan-kegiatan
administrasi dan manajemen dijalankan. Sebagai wadah, organisasi
bersifat relatif statis dan memiliki pola dasar struktur organisasi yang
relatif permanen.
2) Organisasi sebagai suatu proses
Menurut beberapa para ahli yaitu:
(1) Soejadi (1995) menegaskan bahwa organisasi dapat juga
dipandang suatu sistem dan bentuk hubungan antara wewenangdan
tanggung jawab antara atasan dan bawahan dalam rangka pencapaian
tujuan dengan cara yang sudah ditetapkan dan yang paling efisien.
(2) Siagian (2003) menegaskan organisasi sebagai proses interaksi
antara orang orang di dalam organisasi. Organisasi sebagai proses
menimbulkan dua jenis hubungan didalam organisasi yaitu hubungan
formal yang menimbulkan organisasi formal dan hubungan informal yang
menimbulkan oranisasi informal. Dengan demikian, makna oranisasi
diapandang dari segi proses dapat menimbulkan dinamika organisasi.
1
b. Ciri-ciri Organisasi
Setiap bentuk organisasi mempunyai Ciri-ciri organisasi tertentu
antara lain sebagai berikut:
1) Sebagai wadah untuk tempat bekerja sama.
Organisasi adalah merupakan suatu wadah atau tempat dimana orang-
orang dapat bersama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan tanpa
adanya organisasi menjadi saat bagi orang-orang untuk melaksanakan suatu
kerja sama, sebab setiap orang tidak mengetahui bagaimana kerja sama
tersebut akan [Link] tempat disini dalam arti yang konkrit,
tetapi dalam arti yang abstrak, sehingga dengan demikian tempat disini adalah
dalam arti fungsi yaitu menampug atau mewadai keinginan kerjasama
beberapa orang untuk mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa,
organisasi dapat berupa wadah sekumpulan orang-orang yang mempunyai
tujuan organisasi tertentu misanya organisasi buruh, organisasi wanita,
organisasi mahasiswa dan sebagainya.
2) Proses kerjasama sedikitnya antara dua orang.
Artinya, selain merupakan tempat kerja sama juga merupakan proses
kerja sama sedikitnya antara dua orang. Dalam praktek, jika kerja sama
tersebut dilakukan dengan banyak orang, maka organisasi itu disusun harus
lebih sempurna dengan kata lain proses kerja sama dilakukan dalam suatu
organisasi, mempunyai kemungkinan untuk dilaksanakan lebih baik hal ini
1
berarti tanpa suatu oraanisasi maka sifat sama tersebut hanya bersifat
sementara, di manahubungan antar kerja sama antara pihak-pihak kurang
dapat diatur dengan sebaik-baiknya.
3) Jelas tugas dan kedudukanya masing-masing.
Artinya, dengan adanya oranisasi maka tugas dan kedudukan masing-
masing orang atau pihak hubungan satu dengan yang lain akan dapat lebih
jelas, dengan demikian kesimpulan dobel pekerjaan dan sebagainya akan
dapat dihindarkan. Dengan kata lain tanpa orang yang baik mereka akan
bingung tentang tugas-tugasnya dan bagaimana hubungan antara yang satu
dengan yang lain.
4) Adanya tujuan tertentu.
Beberapa pentingnya kemampuan berorganisasi bagi seorang manajer,
suatu perencana yang kurang baik tetapi organisasinya baik akan cenderung
lebih baik hasilnya daripada perencanaan yang baik tetapi organisasi tidak
baik. Selain itu dengan cara mengorganisasi secara baik akan mendapat
keuntungan antara lain sebagai berikut:
1) Pelaksanaan tugas pekerjaan mempunyai kemungkinan dapat
dilaksanakan secara efektif dan efisien.
2) Karyawan cenderung bersungguh-sungguh untuk menciptakan kualitas
perusahaanya.
3) Karyawan akan menjaga kedisipinan dan sikap demi kemajuan
perusahaanya.
1
c. Prinsip-Prinsip Organisasi
Organisasi adalah alat bagi pimpinan untuk mencapai sebuah tujuan
yang sudah ditetapkan. Jadi, pimpinan yang bijak adalah pimpinan yang
mampu menciptakan dan memelihara adanya organisasi yang sehat, tepat, dan
sempurna (sound organization). Artinya, suatu organisasi yang baik dalam
proses pembentukannya maupun di dalam eksistensi maupun operasionalnya,
jadi organisasi yang baik organisasi yang mampu memenuhi prinsip-prinsip
organisasi.
Menurut Fayol (1949) menegaskan ada empat belas prinsip organisasi,
yaitu:
1) Pembagian kerja,
2) Wewenang,
3) Disiplin,
4) Kesatuan komando,
5) Kesatuan arah,
6) mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan individu,
7) Remunerasi,
8) Sentralisasi,
9) Rantai scalar,
10) Tata tertib/ atau ketertiban,
11) Keadilan dan kejujuran,
12) Stabilitas masa kerja para pegawai atau jenjang karir personel,
13) Inisiatif atau prakarsa,
14) Semangat kesatuan dan semangat korps.
Pelaksanaan organisasi harus berpedoman pada prinsip-prinsip
organisasi, yaitu prinsip perumusan tujuan, prinsip pembagian kerja, prinsip
pendelegasian kekuwasaan/wewenang, prinsip tingkat pengawasan, prinsip
rentan manajemen, prinsip kesatuan perintah, dan prinsip koordinasi.
Berikut penjelasan singkat mengenai prinsip-prinsip organisasi adalah:
1
1) Prinsip perumusan tujuan.
Artinya sebelum suatu organisasi/badan/lembaga, langkah pertama
yang harus dilakukan adalah membuat tujuan dibentuknya
organisasi/badan/lembaga tersebut. tujuan yang dibuat haruslah sangat
jelas karena tujuan tersebut yang akan menentukan hal-hal yang harus
diperbuat atau dilakukan oleh organisasi yang telah terbentuk tersebut.
2) Prinsip pembagian kerja.
Artinya dalam penataan laksana kegiatan organisasi kita harus
melakukan pembagian tugas/kerja/unit untuk menghindari kemungkinan
adanya pekerjaan yang tertumpuk dan terjadinya kelalaian dalam
pekerjaan pada sebuah unit kerja organisasi.
3) Prinsip pendelegasian kekuasaan/wewenang.
Artinya dalam menjalankan kegiatan, suatu unit harus diberi
kekuasaan serta wewenang untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan
baik dan benar agar dapat dimintai pertanggung jawabannya.
4) Prinsip tingkat pengawasan.
Artinya berjalanya suatu organisasi dalam mencapai tujuan yang
telah ditentukan, harus kita pastikan untuk selalu menjalankan dan
melaksanakan sistem pengawasan, karena jika sistem pengawasan tidak
ada maka tidak mungkin sebuah organisasi dapat mencapai tujuan secara
maksimal.
5) Prinsip rentang manajemen.
1
Dalam suatu organisasi perlu kita perhatikan suatu efektivitas dan
sebuah evesiensi seorang pemimpin yang dapat membawahi beberapa
orang yang dibawahinya secara efektif, efesien dan maksimal serta dapat
melaksanakan tugas pengawasan secara optimal.
6) Prinsip kesatuan perintah.
Dalam menjalankan organisasi, seseorang bawahan mempunyai
seorang bos atau atasan, dari bos tersebutlah kita menerima perintah dan
kepada bos tersebutlah kita memberikan laporan pertanggung jawaban
atas pelaksanakan pekerjaan kita.
7) Prinsip koordinasi.
Prinsip organisasi ada usaha untuk mengarahkan seluruh kegiatan
unit-unit organisasi secara keseluruhan. Adanya pembagian tugas kepada
unit-unit kerja tersebut terkadang tanpa kita sadari menimbulkan
kecenderungan untuk memisahkan diri dari tujuan organisasi secara
keseluruhan. Untuk itu, koordinasi diperlukan agar kita terhindar dari
sebuah konflik, dengan mengurangi duplikasi tugas, mengurangi
pengangguran dan memperkuat kerjasama.
Dengan demikian prinsip-prinsip organisasi yang meliputi
perumusan tujuan, pembagian kerja, pendelegasin kekuasaan atau
wewenang, serta koordinasi guna membantu agar organisasi dapat berjalan
dengan baik dalam mencapai tujuan.
1
d. Perubahan Organisasi
Menurut Robbins (2006:763), perubahan organisasi adalah perubahan
yang mengacu kepada hal yang berkaitan dengan aktivitas pelaksanaan tugas
dalam suatu organisasi dengan tujuan mengupayakan perbaikan kemampuan
organisasi dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan serta
perubahan perilku anggota organisasi. Organisasi hanya dapat bertahan jika
dapat melakukan perubahan.
Setiap perubahan lingkungan yang terjadi harus dicermati karena
keefektifan suatu organisasi tergantung pada sejauh mana organisasi dapat
menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Sedangkan menurut Sobirin
(2005:2) ada dua faktor yang mendorong terjadinya perubahan organisasi,
yaitu perubahan ekstern seperti perubahan teknologi, serta faktor intern
organisasi yang mencakup dua hal, yaitu 1) perangkat keras organisasi atau
yang biasa disebut dengan perubahan struktural, yang meliputi perubahan
strategi, struktur organisasi dan system, serta 2) perubahan perangkat lunak
organisasi atau yang biasa disebut dengan perubahan kultural yang meliputi
perilaku manusia dalam organisasi, kebijakan sumber daya manusia dan
budaya organisasi.
Menurut Winardi (2005:2) perubahan organisasi adalah tindakan
beralihnya organisasi yang berlaku kini menuju ke kondisi masa yang akan
datang menurut yang diinginkan guna meningkatkan efektivitasnya. Hal
tersebut sependapat dengan Anne Maria (1998:209), perubahan orgamisasi
1
adalah suatu tindakan menyusun kembali komponen-komponen organisasi
untuk meningkatkan efesiensi dan aktivitas organisasi. Setiap perubahan tidak
bisa hanya memilih salah satu aspek structural atau kultural saja sebagai
variabel yang harus diubah, tetapi kedua aspek tersebut harus dikelola secara
bersama-sama agar hasilnya optimal.
Dari beberapa pengertian menurut di atas dapat disimpulkan bahwa
perubahan organisasi adalah suatu perubahan yang mengacu kepada hal yang
berkaitan dengan aktivitas pelaksanaan tugas dalam suatu organisasi dengan
tujuan mengupayakan perbaikan kemampuan organisasi terhadap komponen-
komponen organisasi seperti struktur, strategi, sistem dan perilaku manusia
yang bertujuan untuk meningkatkan dari perusahaan tersebut.
e. Konflik dalam Organisasi
Ada beberapa pendapat beberapa ahli tentang konflik yaitu :
1) Thomson (1960)
konflik adalah perilaku anggota organisasi yang dicurahkan untuk berposisi
terhadap anggota yang lain.
2) Thomas (1976)
konflik adalah proses yang dimulai jika satu pihat merasa bahwa pihak
lainnya telah menghalangi sesuatu yang ada kaitanya dengan dirinya.
3) Deuth (1976)
konflik adalah jika ada kegiatan yang tidak cocok dengan kepentingannya.
2
Adapun pengertian lain tentang konflik dari Robbins (1993)
menegaskan bahwa definisi konflik adalah sebagai suatu proses yang dimulai
tatkala suatu pihak merasa ada pihak lain yang memberikan pengaruh yang
negatif kepadanya atau tatkala suatu pihak lain merasa kepentingannya itu
memberikan pengaruh negatif kepada pihak lainnya.
Selanjutnya, Robbins menggolongkan konflik menurut intensitasnya,
yang dapat dirinci sebagai berikut:
1) Memiliki sedikit ketidaksetujuan atau kesalahpahaman
2) Mempertanyakan banyak hal-hal yang berbeda
3) Mengajukan serangan-serangan verbal
4) Mengajukan beberapa ancaman atau ultimatum
5) Melakukan serangan fisik secara agresif
6) Melakukan upaya merusak atau pengahancuran kepada pihak lain
7) Perselisihan yang berkaitan dengan: (a) Tujuan (b) Status (c) Nilai
dan (d) Persepsi atau kepribadian
Apabila konflik yang telah diungkapkan dicermati maka konflik dapat
dipastikan akan selalu hadir dalam kehidupan kita dan bahkan tidak dapat
dihindari, baik konflik yang terjadi dilingkungan keluarga, masyarakat,
organisasi, aparatur Negara, termasuk konflik indomaret cabang Keputih 1
Surabaya.
Menurut Robbins (1996) konflik organisasi sebagai sebuah proses di
mana sebuah upaya sengaja dilakukan oleh seseorang untuk mengahalangi
usaha yang dilakukan oleh orang lain dalam berbagai bentuk hambatan yang
2
menjaikan orang lain tersebut merasa frustasi dalam usahanya mencapai
tujuan yang diinginkan/merealisasi minatnya. Sedangkan menurut Osbron
(1998) menegaskan konflik dalam organisasi merupakan situasi di mana dua
orang atau lebih yang saling tidak setuju terhadap suatu permasalahan yang
menyangkut kepentingan organisasi dan timbulnya permusuhan suatau
anggota dengan anggota lainnya.
Konflik organisasi tidak akan muncul secara tiba-tiba dan langsung
menjadi rumit dan besar. Konflik itu sendiri berkembang dan makin
menyebar secara bertahap melalui pembicaraan terang-terangan, sembunyi-
sembunyi melalui media massa dan nirmassa. Belum lagi faktor pemicu
dalam wujud sikap dan perilaku tidak puas, tidak sejutu, atau harapan-harapan
yang tidak [Link] konflik organisasi dapat juga terjadi dan diawali
dari masalah alokasi sumber daya yang langka (jabatan) dan bisa juga karena
faktor tujuan, kekuasaan, status, nialai, persepsi, kepentingan, hak dan
kewajiban.
Menurut definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sumber konflik
dalam organisasi karena: 1) komunikasi yang jelek; 2) Kelangkaan sumber
daya terutama jabatan dan fiansial; 3) Struktur tugas maupun struktur
organisasi; 4) Faktor personal; 5) Perbedaan kepentingan dan nilai serta 6)
Faktor lingkungan.
2
2. Stres Kerja
a. Pengertian Stres Kerja
Stres merupakan hal yang melekat pada kehidupan atau diri manusia.
Siapa saja dapat mengalami stres, akan tetapi stres mempunyai kadar yang
berbeda-beda dalam kadar berat ringannya, dalam jangka pendek yang tidak
sama, dan pernah atau akan mengalaminya. Menurut Bambang Tarupolo
(2002:4) stres adalah seseorang bereaksi secara psikologi, fisiologi, maupun
perilaku bila seseorang mengalami ketidakseimbangan antara tuntutan yang
dihadapi dengan kemampuannya untuk memenuhi tuntutan tersebu dalam
jangka waktu tertentu. Stres adalah suatu reaksi fisik dan psikis terhadap
setiap tuntutan yang menyebabkan ketegangna dan mengganggu kehidupan
sehari-hari. Menurut World Health Organization (2003), stres adalah respon
tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan). Stres
kerja adalah suatu kondisi ketegangan yang bisa menciptakan adanya
ketidakseimbangan fisik dan pakis yang mempengaruhi emosi, proses
berpikir, dan kondisi seorang karyawan. Stres yang terlalu besar dapat
mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan Rivai dan
Sagala (2011:1008)
Fakta yang terjadi di PT. Indomarco Prismatama cabang keputih 1
Surabaya, dimana karyawan mengalami beberapa masalah yang
mempengaruhi stres misalnya ketika ada target dari perusahaan namun
karyawan tidak dapat melaksanakannya dengan baik sehingga membuat
2
karyawan tersebut merasa stres, adanya daya saing dari perusahaan ritel
lainnya sehingga target bulanannya tidak dapat mencapai hasil yang
diinginkan sehingga membuat karyawan merasa stres karena kesulitan
mencari sales.
Penelitin sebelumnya yang telah dilakukan oleh Wibowo (2012)
mengungkapkan bahwa ada hubungan negatif kaut antara perasaan stres
dengan kepuasan kerja karyawan dalam pencapaian kinerja itu sendiri.
More (2000) mengatakan, transformasi adalah proses yang dapat
meningkatkan personal (kapasitas untuk berkembang). Sebagai contoh
terdapat karyawan yang gagal dan menimbulkan stres pada dirinya, jika
kegagalan tersebut diterima dan membiarkan egitu saja, maka biasanya ini
akan membuat karyawan menjadi merasa tertekan. Sebaliknya jika peristiwa
kegagalan atau hal buruk lainnya dan dijadikan karyawan sebagai pelajaran
untuk memperbaiki maka hasilnya akan menjadi possitif meskipun itu tidak
langsung terasa dan terjadi. Terdapat karyawan yang sanggup melakukan
perubahan atau transformasi atas kegagalan dan hal yang buruk yang
dialaminya menjadi output yang menggembirakan.
Fathoni (2006:176) mengatakan bahwa terdapat enam faktor penyebab
stres karyawan dalam suatu organisasi, antara lain beban kerja yang sult dan
berlebihan, tekanan dan sikap pimpinan yang kurang adil dan tidak wajar,
waktu kerja yang terbatas dan peralatan yang kurang, konflik antar pribadi
dengan pimpinan atau kelompok kerja, balas jasa yang terlalu rendah dan
adanya masalah-masalah keluarga.
2
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terjadinya stress
kerja yang dialami karyawan tidak selalu berdampak negatif bagi emosional
karyawan tersebut. stres kerja juga bisa berdampak positif bagi yang
bersangkutan, stres kerja berdampak positif apabila: yang pertama stres yang
dialami oleh karyawan yang bersangkutan tidak terlalu berat kadarnya artinya
stres yang dialami tidak berlebihan. Yang kedua adanya sikap membangun
dalam diri karyawan tersebut dimana karyawan tersebut melihat tekanan yang
dialaminya sebagai tantangan untuk mendorong karyawan untuk
menyelesaikannya. Ketiga adanya perubahan yang ditempuh oleh seseorang
tersebut, perubahan yang dimaksud adalah menyikapi energi negatif menjadi
energi positif yang nyata
b. Kategori Stres Kerja
Menurut Phillip L (dalam Jacinta, 2002:2), seseorang dapat
dikategorikan mengalami stres kerja apabila:
1. Urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau
perusahaan tempat individu bekerja. Namun penyebabnya tidak hanya di
dalam perusahaan, karena masalah rumah tangga yang terbawa ke
pekerjaan dan masalah pekerjaan yang terbawa ke rumah dapat juga
menjadi penyebab stres kerja.
2. Mengakibatkan dampak negatif bagi perusahaan dan juga individu.
3. Oleh karenanya diperlukan kerjasama antara kedua belah pihak untuk
menyelesaikan persoalan stres tersebut.
2
Menurut Robbins (2003) seseorang yang mengalami stres pada
pekerjaan akan menampilkan gejala-gejala yang meliputi 3 aspek, yaitu:
1. Physiological memiliki indikator yaitu: terdapat perubahan pada
metabolisme tubuh, meningkatnya kecepatan detak jantung dan
napas, meningkatnya tekanan darah, timbulnya sakit kepala dan
menyebabkan serangan jantung.
2. Psychological memiliki indikator yaitu: terdapat ketidakpuasan
hubungan kerja, tegang, gelisah, cemas, mudah marah, kebosanan
dan sering menunda pekerjaan.
Behavior memiliki indikator yaitu: terdapat perubahan pada
produktivitas, ketidakhadiran dalam jadwal kerja, perubahan pada selera
makan, meningkatnya konsumsi rokok dan alkohol, berbicara dengan intonasi
cepat, mudah gelisah dan susah tidur
c. Faktor-faktor Penyebab Stres Kerja
Menurut Robbins (2006:794) penyebab stres itu ada 3 faktor yaitu:
1) Faktor lingkungan
a) Perubahan situasi bisnis yang menciptakan ketidakpastian ekonomi. Bila
perekonomian itu menjadi menurun, orang menjadi semakin
mencemaskan kesejahteraan mereka.
b) Ketidakpastian politik. Situasi politik yang tidak menentu seperti yang
terjadi di Indonesia, banyak sekali demonstrasi dari berbagai kalangan
yang tidak puas dengan keadaan mereka. Kejadian semacam ini dapat
2
membuat orang merasa tidak nyaman. Seperti penutupan jalan karena ada
yang berdemo atau mogoknya angkutan umum dan membuat para
karyawan terlambat masuk kerja.
c) Kemajuan teknologi. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, maka hotel
pun menambah peralatan baru atau membuat sistem baru. Yang membuat
karyawan harus mempelajari dari awal dan menyesuaikan diri dengan itu.
d) Terorisme adalah sumber stres yang disebabkan lingkungan yang semakin
meningkat dalam abad ke 21, seperti dalam peristiwa penabrakan gedung
WTC oleh para teroris, menyebabkan orang-orang Amerika merasa
terancam keamanannya dan merasa stres.
2) Faktor individu
Faktor ini mencakup kehidupan pribadi karyawan terutama faktor-
faktor persoalan keluarga, masalah ekonomi pribadi dan karakteristik
kepribadian bawaan.
a) Faktor persoalan keluarga.
Survei nasional secara konsisten menunjukkan bahwa orang menganggap
bahwa hubungan pribadi dan keluarga sebagai sesuatu yang sangat
berharga. Kesulitan pernikahan, pecahnya hubungan dan kesulitan disiplin
anak-anak merupakan contoh masalah hubungan yang menciptakan stres
bagi karyawan dan terbawa ke tempat kerja.
b) Masalah Ekonomi.
Diciptakan oleh individu yang tidak dapat mengelola sumber daya
keuangan mereka merupakan satu contoh kesulitan pribadi yang dapat
2
menciptakan stres bagi karyawan dan mengalihkan perhatian mereka
dalam [Link] kepribadian bawaan. Faktor individu yang
penting mempengaruhi stres adalah kodrat kecenderungan dasar
seseorang. Artinya gejala stres yang diungkapkan pada pekerjaan itu
sebenarnya berasal dari dalam kepribadian orang itu.
3) Faktor organisasi
Banyak sekali faktor di dalam organisasi yang dapat menimbulkan stres.
Tekanan untuk menghindari kekeliruan atau menyelesaikan tugas dalam
kurun waktu terbatas, beban kerja berlebihan, bos yang menuntut dan tidak
peka, serta rekan kerja yang tidak menyenangkan. Dari beberapa contoh
diatas, penulis mengkategorikannya menjadi beberapa faktor dimana
contoh-contoh itu terkandung di dalamnya. adalah:
(a) Tuntutan tugas merupakan faktor yang terkait dengan tuntutan atau
tekanan untuk menunaikan tugasnya secara baik dan benar.
(b) Tuntutan peran berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada
seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam
organisasi itu. Konflik peran menciptakan harapan-harapan yang
barangkali sulit dirujukkan atau dipuaskan. Kelebihan peran terjadi bila
karyawan diharapkan untuk melakukan lebih daripada yang
dimungkinkan oleh waktu. Ambiguitas peran tercipta bila harapan peran
tidak dipahami dengan jelas dan karyawan tidak pasti mengenai apa
yang harus dikerjakan.
(c) Tuntutan antar pribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan
2
lain. Kurangnya dukungan sosial dari rekan-rekan dan hubungan antar
pribadi yang buruk dapat menimbulkan stres yang cukup besar,
khususnya di antara para karyawan yang memiliki kebutuhan sosial
yang tinggi.
(d) Struktur Organisasi menentukan tingkat diferensiasi dalam organisasi,
tingkat aturan dan peraturan dan dimana keputusan itu diambil. Aturan
yang berlebihan dan kurangnya berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan yang berdampak pada karyawan merupakan potensi sumber
stress.
Banyak sekali yang menyebabkan timbulnya stres kerja, mulai dari
masalah pribadi, masalah kelompok, tuntutan pekerjaan, waktu kerja yang
berlebihan, hingga semua hal yang berhubungan kemampuan kerja
seseorang. Menurut Mangkunegara (2013:157), penyebab stres kerja, antara
lain beban kerja terlalu berat, waktu kerja yang mendesak, kuaitas
pengawasan yang rendah, iklim kerja yang tidak sehat, otoritas kerja yang
tidak memadai yang berhubungan dengan tanggung jawab, konflik kerja,
perbedaan nilai antara karyawan dengan pimpinan yang frustasi dalam kerja.
Ada dua kategori penyebab stres, yaitu on-the –job dan off-the-job
sejumlah kondisi kerja yang menyebabkan stres bagi para karyawan,
diantaranya sebagai berikut:
1. Beban kerja yang berlebihan
2. Tekanan atau desakan waktu
3. Kualitas supervise yang jelek
2
4. Iklim politis yang tidak aman
5. Umpan balik tentang pelaksanaan kerja yang tidak memadai
6. Kemenduaan peranan
7. Frustasi
8. Konflik antar pribadi dan kelompok
9. Perbedaan antar nilai-nilai perusahaan dan karyawan
10. Berbagai bentuk perusahaan
Sedangkan faktor off-the-job antara lain:
1. Kekuatiran finansial
2. Masalah-masalah phisik
3. Masalah-masalah perkawinan
4. Perubahan-perubahan yang teerjadi di tempat tinggal
5. Masalah-masalah pribadi lainnya (Handoko 2012:201).
Faktor-faktor di atas sering kali terjadi kepada setiaap orang, maka
apabia faktor ini mulai menghampiri seorang karyawan, maka karyawan
tersebut harus mampu mengelola faktor-faktor tersebut agar tidak
mempengaruhi dirinya dalam menjalankan aktifitas kerjanya
d. Gejala Stres Kerja
Menurut Igor S (1997:249) menyatakan bahwa ada beberapa gejala-
gejala dari stress kerja yaitu:
1. Produktivitas dan efisiensi yang berkurang.
3
2. Kehilangan motivasi, ingatan, perhatian, tenggang rasa dan
pengendalian.
3. Kurang tidur, kehilangan nafsu makan dan menurunnya nafsu seks.
4. Tidak menyukai tempat bekerja dan orang- orang yang bekerja bersama
anda.
Carry Cooper dan Alison Straw (1995:7) membagi gejala stres kerja
menjaditiga yaitu
1. Gejala fisik
Gejala stres menyangkut fisik bisa mencakup: nafas memburu,
mulut dan kerongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot
tegang, pencernaan terganggu, mencret- mencret, sembelit, letih yang tak
beralasan, sakit kepala, salah urat, gelisah
2. Gejala- gejala dalam wujud perilaku
Banyak gejala stres yang menjelma dalam wujud perilaku,
mencakup: Perasaan, berupa: bingung, cemas, dan sedih, jengkel, salah
paham, tak berdaya, tak mampu berbuat apa-apa, gelisah, gagal, tak
menarik, kehilangan semangat. Kesulitan dalam berkonsentrasi, berfikir
jernih, membuat keputusan. Hilangnya kreatifitas, acuh, gairah dalam
penampilan, minat terhadap orang lain.
3. Gejala- gejala di tempat kerja
Sebagian besar waktu bagi pekerja berada di tempat kerja, dan
jika dalam keadaan stres, gejala- gejala dapat mempengaruhi kita di
3
tempat kerja, antara lain: kepuasan kerja rendah, atasan arogan, kinerja
yang menurun, semangat dan energi hilang, komunikasi tidak lancer,
pengambilan keputusan jelek, kreatifitas dan inovasi berkurang, bergulat
pada tugas- tugas yang tidak produktif
e. Indikator Stres Kerja
Indikator stres kerja menurut Mulyadi (2003:90) yaitu: kondisi
pekerjaan, stres karena peran, faktor interpersonal, perkembangan karir,
struktur organisasi.
1. Kondisi pekerjaan
Meliputi: beban kerja berlebihan, jadwal bekerja
2. Tuntutan peran
Meliputi: ketidak jelasan peran
3. Faktor interpersonal
Meliputi: kerjasama antar teman, hubungan dengan pimpinan
4. Perkembangan karir
Meliputi: promosi kejabatan yang lebih rendah dari
kemampuannya, promosi kejabatan yang lebih tinggi dari kemampuanya,
keamanan pekerjaan.
5. Struktur organisasi
Meliputi : struktur yang kaku dan tidak bersahabat, pengawasan
dan pelatihan tidak seimbang, ketidakterlibatan dalam membuat keputusan
3
3. Perilaku Karyawan
a. Pengertian Perilaku Karyawan
Kuspriatni (2010) menyatakan bahwa perilaku karyawan adalah
sebagai suatu fungsi antara individu dengan lingkungannya. Karyawan
membawa tatanan dalam organisasi berupa kemampuan, kepercayaan pribadi,
pengharapan, kebutuhan, dan pengalaman masa lainnya.
Martiana (2011) menjelaskan bahwa perilaku karyawan adalah
perilaku atau interaksi yang dilakukan oleh karyawan atau individu di
lingkungannya, perilaku setiap individu sangatlah berbeda dan hal ini
dipengaruhi oleh lingkungan dimana individu tersebut tinggal, perilaku yang
berbeda mengakibatkan berbedanya kebutuhan setiap individu, untuk itu
perlunya suatu organisasi agar kebutuhan yang berbeda tersebut dapat
terpenuhi dengan bekerja sama antar individu.
Dari penjelasan pengertian perilaku karyawan yang telah
dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa perilaku karyawan adalah suatu
perilaku atau sikap kerja sama yang dilakukan antara karyawan dengan
lingkungan kerja dalam suatu organisasi.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Karyawan
Kuspriatni (2010) menjelaskan 4 (empat) variabel yang mempengaruhi
perilaku karyawan terdapat pada tingkat individual antara lain sebagai berikut:
a. Karakteristik Biografis merupakan karakteristik pribadi yang terdiri dari
usia, jenis kelamin, status perkawinan dan masa kerja
3
b. Kemampuan setiap manusia mempunyai kemampuan berpikir masing-
masing. Seluruh kemampuan seorang individu pada hakekatnya tersusun
dari dua faktor, yaitu: kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.
c. Kepribadian adalah himpunan karakteristik dan kecenderungan yang stabil
serta menentukan sikap umum dan perbedaan perilaku seseorang.
d. Pembelajaran adalah setiap perubahan yang relatif permanen dari perilaku
yang terjadi sebagai hasil pengalaman.
Martiana (2011) menyatakan terdapat 6 (enam) variabel yang
mempengaruhi perilaku karyawan antara lain sebagai berikut:
1) Sikap,
2) Motivasi,
3) Kepribadian,
4) Persepsi,
5) Pembelajaran,
6) Kemampuan
Berdasarkan pengertian di atas, faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku karyawan adalah: kepribadian, kemampuan, pembelajaran, sikap,
motivasi dan persepsi. Semua variabel tersebut terdapat dalam diri karyawan,
agar mempunyai perilaku yang baik, karyawan dapat memperbaiki sikap dan
kepribadian, mengasah kemampuan yang dimilki serta mempunyai motivasi
yang tinggi untuk meningkatkan kinerjaanya.
3
4. Kinerja Karyawan
a. Pengertian Kinerja Karyawan
Menurut Tika (2010:121) kinerja sebagai hasil-hasil fungsi pekerjaan
atau kegiatan seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi yang
dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk mencapai tujuan organisasi dalam
periode waktu tertentu. Sedangkan menurut Handoko (dalam Tika 2010:121),
mendefinisikan kinerja sebagai proses dimana organisasi menggevaluasi atau
menilai prestasi kerja karyawan. Selanjutnya menurut Bernardin dan Russel
(dalam Triyono 2012:94), kinerja sebagai catatan hasil dan keuntungan yang
dihasilkan oleh fungsi pekerja tertentu selama periode waktu tertentu.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan hasil pekerjaan/kegiatan
karyawan suatu perusahaan sesuai dengan fungsi pekerjaanya dalam periode
tertentu.
b. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut simanjuntak (dalam Sutrisno 2013:102), faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja karyawan yaitu:
1. Pelatihan
Latihan kerja dimaksud utuk melengkapi karyawan dengan
ketrampilan dan cara-cara yang tepat untuk menggunakan peralatan kerja.
Untuk itu latihan kerja diperlukan untuk memberikan dasar-dasar
pengetahuan dalam mengerjakan sesuatu dengan benar dan tepat serta
dalam memperkecil kesalahan.
3
2. Mental dan kemampuan fisik karyawan
Keadaan mental dan fisik karyawan merupakan hal yang sangat
penting karena berhubungan dengan kinerja karyawan.
3. Hubungan antara atasan dan bawahan
Hubungan atasan dan bawahan akan mempengaruhi kegiatan yang
dilakuakan sehari-hari. Jika karyawan diperlakukan secara baik maka
karyawan tersebut akan berpartisipasi dengan baik pula dalam proses
produksi sehingga akan berpengaruh pada kinerja
c. Efektivitas Kinerja
Menurut Schein (dalam Tika 2010:129), keefektifan organisasi adalah
kemampuan untuk bertahan, menyesuaikan diri, memelihara diri dan tumbuh,
lepas dari fungsi tertentu yang dimilikinya.
Perlu diperhatikan beberapa hal mengenai caranya agar efektivitas
kerja pada karyawan dapat terlaksana dengan baik, karena karyawan
merupakan roda penggerak organisasi yang diharapkan mampu bekerja secara
efektif.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kerja adalah:
1) Kejelasan perencanaan kerja yaitu, seseorang karyawan mampu memahami
rencana kerja yang telah ditetapkan, sehinga apabila recana-rencana
tersebut dipahami dengan jelas oleh para karyawan, maka kerja akan
berjalan efektif.
3
2) Prosedur kerja yaitu, tahap-tahap yang harus dilakukan oleh karyawan
dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang telah ditetapkan
d. Indikator Kinerja
Mangkunegara (2009:75) menyatakan indikator yang digunakan untuk
mengukur kinerja karyawan ada empat, yaitu: kalitas kerja, kuantitas kerja,
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab kerja.
1. Kualitas kerja
Kualitas kerja adalah seberapa baik seorang karyawan mengerjakan
apa yang seharusnya dikerjakan.
2. Kuantitas kerja
Kuantitas kerja adalah seberapa lama seorang karyawan bekerja dalam
satu harinya. Kuantitas ini dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap karyawan
itu masing-masing.
3. Pelaksanaan tugas
Pelaksanaan tugas adalah seberapa jauh karyawan mampu melakukan
pekerjaannya dengan akurat atau tidak ada kesalahan.
4. Tanggung jawab kerja
Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan kewajiban
karyawan untuk melakukan kewajiban karyawan untuk melaksanakan
pekerjaan yang diberikan perusahaan
3
5. Bisnis Ritel
a. Pengertian Bisnis Ritel
Menurut Levy dan Weitz (2009), mendefinisikan ritel sebagai satu set
kegiatan usaha yang menambah nilai bagi produk dan jasa yang dijual untuk
atau keluarga. Kegiatan ini memiliki nilai tambah termasuk menyediakan
bermacam-macam barang, memgang persediaan, dan memberikan pelayanan
b. Jenis Bisnis Ritel
Berdasarkan dari utami (2006: 12-15) secara umum, ritel dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1. Supermarket tradisional
Melayani penjualan makanan, daging , serta produk-produk makanan
lainnya, serta melakukan pembatasan penjualan terhadap produk-produk
non makanan seperti produk kesehatan, kecantikan dan produk umum
lainnya.
2. Big-box Retaier
Merupakan bentuk supermarket yang mulai berkembang dengan
semakin memperluas ukuran dan mulai menjual produk luar negri yang
bervariasi. Terdapat beberapa jenis supermarket retailer big-box, yaitu:
Supercenter, Hypermarket, Warehouse.
3. Convenience Store
Memiliki variasi dan jenis produk yang terbatas dan sebagai pasar
swalayan mini yang menjual hanya lini terbatas dari berbagai kebutuhan
3
produk sehari-hari yang perputaranya relatif tinggi. Conveinence Store
ditujukan kepada konsumen yang membutuhkan dengan pembelian cepat
tanpa harus mengeluarkan upaya yang besar dalam mencari produk-produk
yang diinginkan. Produk-produk yang dijual biasanya ditetapkan harga yang
lebih tinggi dari pada supermarket.
4. General Merchandise retail
Jenis ritel ini meliputi gerai diskon, gerai khusus, gerai kategori,
department store, off-price, retailing dan value retailing.
a. Gerai diskon (diskon store) merupakan jenis ritel yang menjual sebagian
besar variasi produk, dengan menggunakan layanan terbatas, dan harga
yang murah. Gerai ini menjual produk dengan label atau merek gerai
sendiri (private label) atau merek-merek lain yang sudah terkenal luas.
b. Gerai khusus (special store) berkonsentrasi pada jumlah terbatas kategori
produk-produk komplementer dan memiliki layanan yang tinggi.
c. Gerai kategori (category store) merupakan gerai diskon dengan variasi
produk yang dijual sempit atau khusus tetapi memiliki jenis produk yang
lebih banyak. Ritel ini merupakan salah satu diskon yang paling besar.
Beberapa gerai kategori menggunakan pendekatan layanan sendiri tetapi
beberapa gerai menggunakan asisten untuk melayani konsumen.
d. Department store merupakan jenis ritel yang menjual variasi produk yang
luas dan berbagai jenis produk dengan menggunakan beberapa staff,
seperti layanan pelanggan (customer service), dan tenaga sales counter
3
e. Off-price store menyediakan berbagai jenis produk dengan merek
berganti-ganti dengan lebih ke arah dengan tingkat harga produk yang
mudah. Ritel off-price dapat menjual merek dan label produk dengan
harga yang lebih rendah dari umumnya.
f. Value reatiling merupakan gerai diskon yang menjual sejumlah besar jenis
produk dengan tingkat harga rendah dan biasanya berlokasi di daerah
padat penduduk.
B. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Astuti (2016), dengan judul tesis
“manajemen stress kerja pada pegawai di Mangrove Kaos Yogyakarta” penelitian
ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja karyawan.
Hasil penelitian ini menunjukkan mengelola stres kerja sudah sesuai
dengan teori Munandar Sunyoto (2001) dengan dua pendekatan yaitu pendekatan
individu dan organisasi.
Halim (2006), dengan judul tesis pengaruh strees, Bullying terhadap
kinerja pegawai pelabuhan III Cabang Gresik. Tujuan ini untuk melihat pengaruh
stres dan bullying terhadap kinerja.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa stres positif (eustress ) dan
bullying pegawai pelabuhan III cabang gresik terdapat pada kategori balance
diindikasikan suatu area capaian yang tertinggi, kreativitas, dan efektivitas bahkan
ketika dibawah tekanan.
4
Hamid dkk (2014), dalam jurnal yang berjudul pengaruh iklim organisasi
terhadap eustress dan kepuasan kerja karyawan (studi pada karyawan perum jasa
tirta 1 Malang Jawa Timur). Hasil penelitian ini untuk mengetahui pengaruh iklim
organisasi terhadap eustress dan kepuasan kerja karyawan. Bila mana iklim
organisasi bermanfaaat bagi kebutuhan individu maka dapat dipastikan tingkat
perilaku ke arah yang lebih positif dan akhirnya kepuasan kerja karyawan dapat
tercapai.
Hasil penelitiannya menunjukkan iklim organisasi berpengaruh dan
signifikan terhadap eustress. Eustress berpengaruh tidak signifikan terhadap
kepuasan kerja karyawan. Iklim organisasi berpengaruh langsung dan pengaruh
tidak langsung terhadap kepuasan kerja karyawan melalui eustress. Dapat
disimpulkan bahwa semakin baik iklim positif yang diciptakan maka semakin
tinggi pula eustress dan kepuasan kerja.
Saina (2013), dalam jurnal yang berjudul “Konflik, Stres Kerja dan
Kepuasan Kerja Pengaruhnya terhadap Kinerja Pegawai pada Universitas Khairun
Ternante” Hasil penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konflik, stres kerja
dankepuasan kerja terhadap knerja karyawan, karena terlihat banyak karyawan
tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Analisis yang di gunakan
adalah analisis path dengan data yang diperoleh melalui kuisioner.
Hasil penelitiannya menunjukkan konflik, stres kerja dan kepuasan kerja
secara simultan berpenagruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Konflik dan
stres kerja berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan.
4
Hasil penelitiannya menunjukkan konflik, stres kerja dan kepuasan kerja
secara simultan berpenagruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Konflik dan
stres kerja berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan.
Eingrit (2012), dalam jurnal yang berjudul tentang “stres kerja dan
strategi coping karyawan frontliner (teller bank)” penelitian ini menggunakan
pendekatan diskriptif kualitatif Metode pengumpulan data adalah wawancara.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ketiga subjek memiliki gambaran
stres kerja yang hampir sama yaitu meliputi faktor penyebab stres kerja (stressor),
gejala stres kerja, dan dampak stres kerja.
C. Kerangka Konseptual
organisasi
Stres Kerja
Perubahan
1. Kondisi pekerjaan Perilaku
Organisasi
2. Tuntutan peran
3. Faktor interpersonal
Konflik 4. Pengembangan karir
5. Struktur organisasi Kinerja karyawan
1. Kualitas
2. Kuantitas
3. Palaksanaan tugas
4. Tanggung jawab
Mangkunegara (2009:75)
Keterangan
: Tidak diteliti
: Diteliti Gambar 2.1 Kerangka Konsep
Sumber : Olahan Peneliti
4
Penjelasan :
Kerangka berfikir di atas dapat dijelaskan bahwa organisasi merupakan
salah satu wadah dalam meningkatkan kinerja karyawan serta menciptakan
organisasi yang kuat dan tangguh dalam menerima perubahan organisasi.
Setiap organisasi selalu membutuhkan perubahan organisasi. Perubahan
sebagai reaksi terhadap perubahan dalam lingkungan organisasi tersebut.
Perubahan organisasi merupakan hal-hal yang mengacu pada aktivitas
pelaksanaan tugas di dalam organisasi, sehingga didalam tugas dan
pelaksanaannya tidak menutup kemungkinan bisa menimbulkan konflik
dalam sebuah organisasi seiring dengan berjalannya waktu.
Konflik dalam organisasi pada dasarnya konflik bermula pada saat satu
pihak tidak menyenangkan bagi pihak lain atau akan dilakukan sesuatu tidak
menyenangkan bagi orang lain. Hal ini dilakukan oleh pihak pertama. Konflik
mengakibatkan ketidak cocokan antar individu maupun kelompok, sehingga
dari konflik tersebut mengakibatkan stres dalam organisasi.
Dalam penelitian ini diukur dengan indikator stres kerja, kondisi
pekerjaan, tuntutan peran, faktor interpersonal, pengembangan karir dan
struktur organisasi. Stres dalam organisasi dapat berpengaruh terhadap
penampilan atau produktifitas seseorang. Stres kerja merupakan suatu bentuk
tanggapan seseorang, baik fisik maupun mental terhadap suatu perubahan
dilingkungannya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya
terancam, sehingga stres sangat mempengaruhi kinerja karyawan.
4
Kinerja merupakan hasil dari kegiatan individu maupun kelompok yang
dipengaruhi oleh berbagai faktor kondisi pekerjaan, tuntutan peran, faktor
interpersonal, pengembangan karir, struktur organisasi, sehingga faktor
tersebut sangat berpenggaruh terhadap kualitas, kuantitas , pelaksanaan tugas
kerja dan tanggung jawab terhadap pekerjaan
Dalam penelitian ini diukur dengan indikator kinerja karywawan, kualitas
kerja, kuantitas kerja, pelaksanaan tugas dan tanggung jawab kerja. Untuk
menciptakan kinerja atau produktivitas yang baik sebuah perusahaan harus
mampu mengendalikan stres kerja yang ada di perusahaan tersebut.
Menciptakan stres kerja yang baik dinilai mampu menghasilkan kinerja yang
baik di sebuah organisasi.