0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan9 halaman

Inovasi Disruptif dan Loyalitas Pelanggan

Dokumen tersebut membahas tentang inovasi disruptif dan contohnya yaitu Wikipedia. Dokumen tersebut juga memberikan pertanyaan tentang langkah apa yang harus diambil oleh direktur perusahaan agar pelanggan tetap menggunakan layanannya serta manfaat bagi pelanggan dan perusahaan dari adanya inovasi disruptif.

Diunggah oleh

delyvia azra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan9 halaman

Inovasi Disruptif dan Loyalitas Pelanggan

Dokumen tersebut membahas tentang inovasi disruptif dan contohnya yaitu Wikipedia. Dokumen tersebut juga memberikan pertanyaan tentang langkah apa yang harus diambil oleh direktur perusahaan agar pelanggan tetap menggunakan layanannya serta manfaat bagi pelanggan dan perusahaan dari adanya inovasi disruptif.

Diunggah oleh

delyvia azra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas Kelompok

Managing Innovation

D6120 – Dicky Hida Syahchari S.T., M.M., Ph.D.

2440118213 Aldino Andre Julyansyah

2440124071 Delyvia Azra Aurelisa

2440124090 John Kenwin Nara Putra, Kho

2440124544 Nabilla Destiana

2440118314 Rivaldy Christian

MANAGING INNOVATION – R2
Tugas Kelompok ke-4

Week 9/ Sesi 13

Inovasi yang mendisrupsi (disruptive innovation) adalah inovasi yang membantu menciptakan
pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan
teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan
dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada
pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama.

Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph
Bower pada artikel "Disruptive Technologies: Catching the Wave" di jurnal Harvard Business
Review (1995). Artikel tersebut sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan
pendanaan dan pembelian disuatu perusahaan berkaitan dengan pendapatan perusahaan dimasa
depan. Kemudian pada bukunya "The Innovator's Dilemma", Christensen memperkenalkan
model Disruptive Inovasi (The Disruptive Innovation Model). Dimana kemampuan pelanggan
untuk memanfaatkan sesuatu yang baru dalam satu lini. Dimana lini terendah adalah pelanggan
yang cepat puas dan yang tertinggi digambarkan sebagai pelanggan yang menuntut. Distribusi
pelanggan ini yang secara median nya bisa diambil sebagai garis putus-putus untuk menerapkan
teknologi baru.

Salah satu contoh dari Inovasi Disruptif (disruptive innovation) adalah Wikipedia. Wikipedia
merupakan salah satu contoh inovasi disruptif yang merusak pasar ensiklopedia tradisional
(cetak). Kalau dilihat, saat ini jarang sekali ditemukan ensiklopedia edisi cetak dijual ditoko
buku. Semuanya sudah beralih ke Wikipedia. Dari sisi harga ensiklopedia tradisional (cetak) bisa
jutaan, sekarang malah informasi bisa didapat secara cuma-cuma lewat Wikipedia. Makanya
disebut "disruptif" atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai "mengganggu".

Pertanyaan:

1. Apabila anda selaku direktur di sebuah perusahaan, apakah yang akan anda lakukan agar
pelanggan anda tetap menggunakan layanan anda? Berikan penjelasan dan contoh konkrit
perusahaannya! (Bobot 50%)

2. Manfaat apa yang akan diberikan bagi pelanggan setia anda? (Bobot 20%)

3. Dengan adanya metamorphosis ini manfaat ekonomi dan sosial apakah yang didapatkan
oleh konsumen dan perusahaan? (Bobot 30%)

MANAGING INNOVATION – R2
Jawaban

1. Adapun yang akan kami lakukan agar pelanggan tetap menggunakan layanan perusahaan
sebagai berikut:

a. Ciptakan Pengalaman Konsumen Baru

Dengan mengembangkan produk atau layanan yang menawarkan jenis


pengalaman konsumen yang berbeda, yang menjawab permasalahan dan
kebutuhan yang belum terpenuhi dari segmen yang kurang terlayani yang
teridentifikasi. Sebagai contoh pada Gojek sebagai penengah dalam skala kuliner,
Gojek menghadirkan layanan Gofood pada tahun 2015 untuk membantu bisnis
kuliner di Indonesia agar lebih dapat terjangkau dan dikenalkan ke konsumen.

b. Harga Lebih Rendah

Menemukan cara untuk menurunkan harga layanan tanpa mengurangi kualitas. Di


Indonesia yang mayoritas sensitif terhadap harga, hal ini dapat menjadi cara yang
ampuh untuk menarik dan mempertahankan pelanggan. Sebagai contoh, awal
mulai Gojek meluncurkan aplikasinya pada tahun 2015, layanan harga Gojek
relatif lebih rendah dibandingkan dengan ojek pangkalan.

c. Memberikan Nilai Secara Gratis atau dengan Biaya Lebih Rendah

Mempertimbangkan untuk menawarkan beberapa layanan secara gratis atau


dengan biaya yang jauh lebih rendah. Adapun hal ini bertindak sebagai strategi
akuisisi pelanggan dan mendorong loyalitas di antara pengguna. Sebagai contoh,
pada Tokopedia sebagai salah satu e-commerce terbesar di Indonesia
menghadirkan penawaran layanan berbasis langganan bernama PLUS, adapun
penawaran layanan PLUS, yaitu berupa bebas ongkir tanpa minimal harga
belanja, kuota bebas ongkir tanpa batas, hingga diskon ongkir berdasarkan kota
tujuan dan tonase produk yang dibeli oleh konsumen.

MANAGING INNOVATION – R2
d. Melibatkan Pelanggan

Dengan melibatkan pelanggan dalam bisnis, perusahaan dapat menganalisa apa


kritik dan saran yang diberikan oleh pelanggan. Dengan mengumpulkan umpan
balik, mendengarkan kebutuhan pelanggan, dan libatkan pelanggan dalam
pengembangan layanan. Hal ini dapat menciptakan rasa kepemilikan dan loyalitas
pelanggan. Sebagai contoh, pada layanan Gofood milik Gojek, Gofood
mengirimkan notifikasi berisikan “how was the food?” adapun dari notifikasi
tersebut, pelanggan dapat mendeskripsikan bagaimana porsi, value for money,
packaging, kehigienitas makanan atau minuman yang di-order. Adapun umpan
balik tersebut akan terintegrasi dari Gojek ke perusaahan atau UMKM di bidang
kuliner, sehingga perusahaan atau UMKM di bidang kuliner tersebut dapat
mengerti apa yang dirasakan dan diminta oleh pelanggan.

2. Kemampuan untuk mengukir ceruk pasar yang unik

“Kemampuan untuk menciptakan ceruk pasar yang unik” mengacu pada peluang untuk
menciptakan produk atau layanan yang memenuhi kebutuhan spesifik yang saat ini tidak
dipenuhi oleh bisnis yang ada. Dalam pasar yang disruptif, pemain tradisional mungkin
lambat bereaksi terhadap perubahan tren dan preferensi konsumen, sehingga memberikan
ruang bagi pendatang baru untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan kesenjangan di
pasar. Dengan mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi atau kendala yang
dihadapi, sebuah bisnis baru dapat membedakan dirinya dan membangun pijakan yang
kuat di pasar.

Hal ini dapat menghasilkan basis pelanggan setia, peningkatan pengenalan merek, dan
potensi kesuksesan jangka panjang. Kemampuan untuk menciptakan ceruk unik di pasar
yang disruptif memungkinkan wirausahawan menjadi inovatif dan kreatif, menawarkan
sesuatu yang baru dan menarik kepada konsumen. Hal ini dapat menjadi keuntungan
besar bagi mereka yang bersedia mengambil risiko dan menerima perubahan.

Perusahaan yang menerapkan inovasi disruptif mempunyai peluang untuk mengubah cara
individu berinteraksi dengan teknologi, namun memberikan solusi inovatif tidak serta
merta berarti pelanggan setia. Memberikan pengalaman pelanggan yang tak tertandingi
sangat penting untuk retensi, dan menambahkan program loyalitas ke strategi dapat
membantu menciptakan pengalaman berperingkat tinggi secara konsisten.

MANAGING INNOVATION – R2
Pasar manajemen loyalitas pelanggan di seluruh dunia bernilai 5,5 miliar dolar AS dan
diperkirakan akan mencapai lebih dari 24 miliar pada tahun 2029. Hal ini menunjukkan
betapa berharganya program loyalitas pelanggan, dan mengapa lebih dari 90% bisnis
memiliki beberapa jenis program loyalitas.

Mengubah pelanggan menjadi duta merek seumur hidup harus menjadi prioritas.
Mempertahankan pelanggan menghasilkan ROI yang lebih tinggi dibandingkan akuisisi.
Dengan meningkatkan retensi sebesar 5%, Anda dapat mengharapkan peningkatan
pendapatan sebesar 25%. Program loyalitas dapat membantu mendorong retensi dan
penjualan dengan meningkatkan frekuensi pembelanjaan pelanggan dengan perusahaan,
dan jumlah pembelanjaan mereka. Namun, agar berhasil, program loyalitas pelanggan
harus dijalankan dengan benar. Memiliki satu saja tidak cukup untuk mendapatkan
hasilnya. Pelanggan saat ini memiliki ekspektasi yang tinggi dan banyak program
loyalitas yang gagal memenuhi atau melampaui ekspektasi tersebut.

Apa yang diperlukan untuk membuat program yang menguntungkan bisnis dan
pelanggan? Berikut adalah 3 kunci yang harus menjadi fokus merek disruptif saat
membangun program loyalitas:

a. Berikan imbalan yang diinginkan pelanggan

Alasan terbesar pelanggan melaporkan keluar dari program loyalitas adalah


kurangnya nilai. Menyimpan uang sangat penting bagi pelanggan. Daripada
menawarkan hadiah dan hal-hal lain yang sulit diperoleh atau digunakan, hadiahi
mereka dengan diskon, gratisan, dan penawaran khusus khusus anggota. Hal ini
akan mendorong mereka untuk membelanjakan lebih banyak dan kembali lebih
sering.

b. Jadikan omnichannel

Pelanggan saat ini mengharapkan fleksibilitas, terutama dengan program loyalitas.


Itu sebabnya menawarkan dukungan omnichannel sangat penting untuk
meningkatkan aksesibilitas dan memberikan pengalaman yang lebih baik.
Memberikan opsi seperti obrolan langsung, layanan mandiri, dan dukungan dalam
aplikasi serta penukaran hadiah adalah cara terbaik untuk beradaptasi dengan
preferensi mereka.

c. Memberikan dukungan luar biasa

Hadiahi pelanggan dengan tingkat layanan yang lebih tinggi melalui dukungan
anggota loyalitas yang berdedikasi. Misalnya, memiliki opsi suara layanan

MANAGING INNOVATION – R2
mandiri yang memudahkan orang mengetahui imbalan mereka dan mengakses
layanan yang dipercepat jika diperlukan.

Untuk mempertahankan pertumbuhan, perlu fokus pada membina hubungan jangka


panjang. Program loyalitas yang memberikan penghargaan kepada pelanggan di setiap
langkah perjalanan mereka adalah cara terbaik untuk membangun koneksi. Hyper-
personalisasi, dukungan omnichannel, dan penghargaan khusus audiens, semuanya
mendorong nilai dan memperkuat ikatan. Otomatisasi dan teknologi AI generatif dapat
membantu menciptakan ekosistem loyalitas yang dibangun berdasarkan elemen-elemen
ini, sehingga menghasilkan pengalaman yang bermanfaat secara konsisten.

3. Adapun manfaat ekonomi dan sosial yang didapatkan oleh pelanggan dan perusahaan
sebagai berikut:

a. Manfaat untuk pelanggan

i. Penghematan Biaya

Pelanggan dapat menikmati penghematan biaya karena layanan Tokopedia


seringkali dapat menawarkan produk dengan harga lebih rendah
dibandingkan dengan toko ritel tradisional.

ii. Kenyamanan

Belanja melalui e-commerce Tokopedia memberi pelanggan kemudahan


berbelanja dari kenyamanan lebih, sehingga menghilangkan kebutuhan
untuk bepergian ke toko fisik.

iii. Keanekaragaman yang Lebih Luas

Tokopedia biasanya menawarkan produk, merek, dan pilihan yang lebih


beragam, memberikan konsumen akses ke pilihan barang yang lebih
beragam.

MANAGING INNOVATION – R2
iv. Aksesibilitas

Tokopedia memudahkan masyarakat di daerah pedesaan atau terpencil


untuk mengakses produk dan layanan yang mungkin tidak tersedia di
pasar lokal.

v. Penghematan Waktu

Dengan memesan layanan Gojek, pelanggan dapat menghemat waktu


dengna tidak mengunjungi pangkalan ojek konvensional.

b. Manfaat untuk perusahaan

i. Ekspansi Pasar

Gojek dan Tokopedia dapat menjangkau basis pelanggan yang lebih luas
dan beragam, termasuk pelanggan di daerah terpencil, sehingga
memperluas jangkauan pasarnya.

ii. Efisiensi Biaya

Beroperasi secara online memerlukan biaya operasional yang lebih


rendah, sehingga menghasilkan margin keuntungan yang lebih tinggi.

iii. Wawasan Data

Gojek dan Tokopedia dapat mengumpulkan dan menganalisis data tentang


perilaku konsumen, preferensi, dan kebiasaan membeli, yang dapat
menginformasikan pengembangan produk dan strategi pemasaran.

iv. Efisiensi Pemasaran

Pemasaran dan periklanan digital lebih hemat biaya dan tepat sasaran,
memungkinkan perusahaan menjangkau audiens ideal mereka dengan
tepat.

MANAGING INNOVATION – R2
v. Umpan Balik

Dengan adanya umpan balik dari pelanggan, Gojek dan Tokopedia dapat
meningkatkan layanan yang sudah ditawarkan dan bahkan dapat
melakukan inovasi baru.

MANAGING INNOVATION – R2
Daftar Pustaka

Gojek. About Us. diakses dari [Link]

Tokopedia. PLUS. diakses dari [Link]

Gojek. (2023). How was the food? diakses dari [Link]

IntouchCX. (2023). How Disruptive Brands Can Create A Successful Loyalty Program. diakses
dari [Link]
successful-loyalty-program/

MANAGING INNOVATION – R2

Common questions

Didukung oleh AI

Cost-saving offerings play a critical role in customer acquisition strategies for companies like Gojek and Tokopedia. By providing services at lower costs, these companies attract price-sensitive customers, a strategy exemplified by Gojek's initial lower pricing for ride-hailing compared to traditional ojek services . Similarly, Tokopedia's PLUS subscription offers benefits like unlimited free shipping, enhancing customer value and increasing acquisition rates . These cost-effectiveness strategies not only draw new customers but also promote retention by embedding value in affordability. As a result, companies can establish a solid customer base and enhance brand loyalty by consistently delivering financial benefits to consumers.

Companies can employ several strategies to retain customers in markets affected by disruptive innovations. First, they can create new consumer experiences by developing products or services that address unmet needs of underserved segments. For instance, Gojek's introduction of Gofood created a new experience for culinary businesses and customers alike. Second, lowering service prices without compromising quality can appeal to price-sensitive customers. Gojek initially offered lower prices compared to traditional ojek services. Third, offering free or low-cost services can act as a customer acquisition and retention strategy. Tokopedia's PLUS subscription service provides attractive offers such as free shipping, which enhances customer loyalty . Fourth, engaging customers by seeking their feedback and involving them in service development can build loyalty . These strategies help companies create a loyal customer base even in a disruptive environment.

Metamorphosed business models offer various economic and social advantages. For consumers, they provide cost savings and convenience. For example, Tokopedia enables online shopping from home, eliminating the need to visit physical stores . Consumers also benefit from a broader product range and improved accessibility, particularly for those in remote areas. For companies, such models allow market expansion and cost efficiency. Gojek and Tokopedia can reach wider audiences, including rural customers, expanding their market reach . Additionally, they benefit from lower operational costs and enhanced data collection for informed product development. Efficient digital marketing also enables precise targeting of audiences . These transformations lead to mutual benefits for consumers through improved services and choices, and for companies through increased market presence and profitability.

Disruptive innovation creates new market opportunities by identifying and exploiting unmet consumer needs, thus allowing entrepreneurs to introduce pioneering solutions and capture novel customer bases. Entrepreneurs can carve out unique market niches, differentiate their offerings, and foster brand loyalty by addressing current market gaps . However, the potential risks include overestimating the consumer demand for a new technology or service and the probability of rapid imitation by competitors. Additionally, there is the operational challenge of maintaining innovation pace with customer expectations and technological advancements . Entrepreneurs face the delicate balance between innovating for a potentially lucrative segment and managing the risks inherent in launching a disruptive product or service.

Digital marketing and advertising significantly enhance efficiency and target reach for companies in disruptive markets by enabling precise audience segmentation and cost-effective strategies. Through digital platforms, companies like Gojek and Tokopedia can deploy targeted advertising that reaches specific consumer demographics most likely to engage and convert . This precision reduces wasteful expenditure on non-responsive segments, optimizing marketing budgets. Additionally, digital campaigns can be rapidly adjusted in response to market feedback, allowing companies to stay agile and responsive to consumer trends. This strategic advantage permits disruptive companies to maintain and expand their market presence effectively in competitive landscapes.

Successful customer loyalty programs in disruptive environments hinge on offering tangible value and leveraging omnichannel support. Programs that provide desirable rewards like discounts and exclusive offers encourage continued patronage . Omnichannel flexibility, which includes options like live chat and app support, enhances accessibility and satisfaction across different platforms. Providing exceptional support tailored for loyal customers, including self-service options and expedited services, can further strengthen customer ties . These components not only improve user satisfaction but also build durable relationships, enhancing retention. High personalization and integrated use of AI for automated services can increase engagement and fortify loyalty, crucial for maintaining competitive edges in disruptive markets .

Disruptive innovations challenge traditional markets by creating new market segments and altering consumer expectations. Traditional companies often struggle to compete with innovative entrants that offer products or services at lower costs or with greater convenience. For instance, Wikipedia disrupted the traditional encyclopedia market by providing free access to vast information libraries, making physical encyclopedias nearly obsolete . This shift changes customer behavior as consumers increasingly prefer more accessible and cost-effective solutions. Furthermore, legacy companies may either fail to innovate swiftly or lose market share to agile newcomers that cater to evolving consumer needs with tailored, tech-savvy solutions . Consequently, disruptive innovations force traditional companies to reassess their strategies to retain relevance and customer loyalty.

Companies can leverage customer feedback to refine service offerings and drive innovation by systematically collecting and analyzing customer comments and suggestions. By involving customers in the feedback loop, businesses can identify areas for improvement and innovation . For example, Gojek's Gofood includes feedback loops where customers can review their orders, providing insights into preferences regarding portion size, value for money, and packaging . This data informs service refinement and product development, allowing companies to align their innovations with actual customer desires. Moreover, feedback-driven engagement deepens customer involvement and loyalty, fostering a culture of innovation based on genuine consumer insights.

Transforming customers into lifelong brand ambassadors requires an intentional focus on building deep, personalized relationships and delivering consistent value through loyalty programs. Companies can utilize loyalty programs to reward and recognize customers' ongoing patronage, offering customized experiences and exclusive benefits that resonate with their specific desires and preferences . By fostering emotional connections through personalized engagement and consistent high-quality service, companies can encourage customers to become advocates who promote the brand to others. Loyalty programs that successfully integrate multi-channel access and personalized rewards solidify this process, as they offer a platform for continuous interaction and engagement, ensuring customers not only remain but actively champion the brand . This transformation hinges on consistently exceeding customer expectations and adapting to their evolving needs.

Offering digital services with lower operational costs has significant economic implications for companies like Gojek and Tokopedia. Operating online enables these firms to minimize overhead costs compared to traditional business models, thus increasing profit margins . Lower operational expenses translate to competitive pricing strategies, attracting more customers and expanding market reach, particularly into underserved regions . Furthermore, these savings can be reinvested into further technological advancements and customer service enhancements, fostering a cycle of innovation and growth. In essence, efficient digital operations fortify economic sustainability and enable companies to maintain a competitive edge in rapidly changing markets.

Anda mungkin juga menyukai