0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan14 halaman

Pemanfaatan Maggot BSF dalam Kompos

Praktikum ini menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) untuk menguraikan sampah organik menjadi kompos. Larva BSF mampu mengkonversi berbagai jenis sampah organik. Siklus hidup BSF meliputi telur, larva, pupa, dan imago. Limbah sayuran pasar dan sisa pertanian digunakan sebagai media untuk diuraikan larva BSF menjadi kompos.

Diunggah oleh

Febry Mertu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan14 halaman

Pemanfaatan Maggot BSF dalam Kompos

Praktikum ini menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) untuk menguraikan sampah organik menjadi kompos. Larva BSF mampu mengkonversi berbagai jenis sampah organik. Siklus hidup BSF meliputi telur, larva, pupa, dan imago. Limbah sayuran pasar dan sisa pertanian digunakan sebagai media untuk diuraikan larva BSF menjadi kompos.

Diunggah oleh

Febry Mertu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Praktikum

Kompos dan Aplikasinya

PEMBUTAN KOMPOS MENGGUNAKAN BOIKONVERSI MAGGOT BSF

NAMA : ALVIN LISYANDI


NIM : G011201091
KELOMPOK : 2
KELAS : KOMPOS DAN APLIKASINYA
ASISTEN : 1. MUHAMMAD AGUNG WARDIMAN, S.P
2. ALAMSYAH
3. ARFA

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2023
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sampah merupakan masalah yang dihadapi hampir diseluruh negara di dunia.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai masalah persampahan
dikarenakan jumlah penduduk di Indonesia menempati urutan ke-4 terbanyak di
dunia. Meningkatnya jumlah penduduk sampah yang dihasilkan pun akan terus
bertambah. Menurut Sistem Informasi Sampah Nasional (SIPSN) jumlah sampah
pada tahun 2020 yang terdiri dari 514 kabupaten/kota di indonesia mencapai
27.851.981 ton/tahun. Sampah merupakan masalah krusial yang dihadapi beberapa
kota di Indonesia. Pengolahan sampah di daerah perkotaan merupakan salah satu hal
yang paling mendesak dan merupakan permasalahan lingkungan yang serius.
Mayoritas sampah perkotaan adalah sampah padat baik organik maupun anorganik
yang dihasilkan oleh pemukiman dan non pemukiman seperti kantor, sekolah, hotel,
restoran dan industri (Zahroh et al., 2020).
Sampah organik merupakan jenis sampah yang tersusun oleh senyawa organik
dan bersifat degradable yaitu secara alami dapat mudah diurai oleh jasad hidup
khususnya mikroorganisme. Kota menghasilkan sampah organik sebanyak 48% sisa
makanan, 5% kayu ranting, 17% kertas karton. Kurangnya masyarakat dalam
memilah sampah menjadikan alam memiliki andil besar dalam pengolahan sampah
terutama pada sampah organik, namun tidak berimbang dibanding berjuta ton volume
sampah yang diproduksi oleh manusia (Zahroh et al., 2020).
Pengolahan sampah organik dengan menggunakan larva Black Soldier Fly
(BSF) merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan manusia. Pada prosesnya
larva BSF ini mampu digunakan untuk mengolah sampah organik. Black Soldier Fly
dalam bahasa latin Hermetia illucens merupakan spesies jenis lalat dari ordo Diptera,
family Stratiomyidae dengan genus Hermetia. BSF merupakan lalat asli dari benua
Amerika dan sudah tersebar hampir di seluruh dunia antara 45° Lintang Utara dan
40° Lintang Selatan. BSF juga ditemukan di Indonesia, tepatnya di daerah Maluku
dan Irian Jaya sebagai salah satu ekosistem alami BSF (Leanza, 2017).
Larva BSF merupakan suatu organisme yang berasal dari telur jenis imago BSF
dan dikenal sebagai orgamisme pembusuk karena dapat mengkonsumsi bahan
organik dari limbah. Biokonversi bahan-bahan organik oleh larva BSF metode daur
ulang yang sangat efektif dan memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi. Larva
BSF sangat menguntungkan, karena maggot mampu mengkonversi sampah-sampah
organik, baik hewan, tumbuhan, maupun kotoran manusia lebih baik dari serangga
yang lain. Larva BSF dapat mengkonversi apa saja, seperti sisa makanan, sampah,
makanan yang telah terfermentasi, sayuran, buah-buahan, daging, tulang lunak,
kotoran hewan bahkan makan bangkai hewan. Pemanfaatan larva dari lalat jenis BSF
sebagai organisme pengurai sampah organik merupakan suatu terobosan untuk
mengolah sampah organik. Adapun keuntungan dalam penggunaan teknologi BSF
adalah dapat membantu menurunkan jumlah sampah organik mencapai 80%, karena
sampah organik menjadi makanan bagi larva BSF. Pengolahan sampah organik
menggunakan metode larva BSF akan menurunkan biaya pengangkutan sampah,
menurunkan penggunaan lahan TPA, residu dari sisa proses pengolahan dengan BSF
seperti kompos, serta mengandung nutrisi dan unsur organik yang dapat membantu
dalam bidang pertanian (Arief, 2018).
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan praktikum ini untuk
mengetahui bagaimana pemanfaatan BSF untuk mengurai limbah organik dan dapat
dimanfaatkan dalam pembuatan kompos.
1.2 TUJUAN DAN KEGUNAAN
Tujuan dilakukanya praktikum pembuatan kompos menggunakan biokonversi
maggot BSF, yaitu untuk mengetahui pemanfaatan maggot BSF dan penguraian
sampah organik menggunakan maggot BSF sehingga dapat dijadikan kompos
organik.
Kegunaan dilakukannya praktikum pembuatan kompos menggunakan
biokonversi maggot BSF, agar dapat memanfaatkan sampah organik melalui
pembuatan kompos organik dengan pemanfaatan maggot BSF.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DESKRIPSI BSF (BLACK SOLDIER FLY)
Maggot BSF dengan nama ilmiah Hermetia illucens mempunyai klasifikasi
taksonomi menurut Wahyuni, (2020):
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Diptera
Family : Stratiomyidae
Subfamily : Hermetiinae
Genus : Hermetia
Spesies : Hermetia illucens
Ordo Diptera ialah ordo dengan urutan keempat yang konsumsinya paling
banyak oleh manusia. Ordo Diptera mempunyai 16 family. Diptera ialah kelompok
serangga yang mempunyai kapasitas reproduksi paling besar, daur hidup paling
singkat, kecepatan pertumbuhan yang tinggi, serta konsumsi pakannya bervariasi dari
jenis materiorganik. Serangga menjadi sumber zat zinc paling baik dengan kisaran
nilai antara 61,6 sampai 340,5 mg/kg berat kering (Wahyuni, 2020)
Black Soldier Fly memiliki warna hitam dan pada bagian segmen basal
abdomennya memiliki warna transparan (wasp waist) sehingga agak mirip abdomen
lebah. Lalat memiliki panjang dengan kisaran antara 15 hingga 20 mm serta memiliki
waktu hidup 5 hingga 8 hari. Lalat dewasa tidak mempunyai mulut yang berfungsi
semestinya, sebab lalat dewasa beraktivitas hanya untuk kawin serta berkembangbiak
selama hidupnya. Ketika lalat dewasa berkembang dari pupa, keadaan sayapnya
masih melipat selanjutnya mulai mengembang dengan sempurna sampai bagian torak
tertutupi. Berdasar dari jenis kelamin, lalat betina biasanya mempunyai daya tahan
hidup yang lebih pendek dibanding dengan lalat jantan (Reza, 2022).
2.2 SIKLUS HIDUP BSF (BLACK SOLDIER FLY)
Lalat Black Soldier Fly memiliki siklus hidup dengan cara bermetamorfosa.
Siklus hidup BSF tidak sama dengan siklus hidup lalat hijau. BSF mempunyai fase
lalat yang lebih pendek dibandingkan fase maggotnya, fase hidup lalat hijau lebih
lama ketika menjadi lalat. Satu ekor lalat betina BSF normal dapat menghasilkan telur
dengan kisaran 185-1235 telur. Penelitian lain menunjukkan bahwasannya satu ekor
betina membutuhkan durasi 20-30 menit untuk bertelur dengan jumlah produksi telur
mencapai 546-1.505 butir dalam bentuk massa telur (Wahyuni, 2020).
Setelah menetas telur akan menjadi maggot instar satu dan berkembang sampai
ke instar enam dalam durasi 22 hingga 24 hari dengan rata-rata 18-21 hari. Dilihat
dari segi ukuran, maggot yang baru menetas dari telur memiliki ukuran sekitar 2 mm,
selanjutnya berkembang sampai 5 mm. Sesudah mengalami ganti kulit maggot
berkembang serta tumbuh lebih besar dan panjang tubuhnya hingga 20-25 mm,
selanjutnya memasuki tahapan prepupa. Setelah dari fase maggot akan menjadi fase
prepupa yaitu maggot yang sudah berumur 18-21 (Wahyuni, 2020).
Di fase prepupa maggot sudah tidak makan lagi dan berbah warna menjadi
hitam. Maggot juga akan keluar dari media yang basa dan mencari tempat yang
kering untuk proses menjadi pupa. Selama dari proses perpupa ke pupa hanya
mebutuhkan waktu selama 7 hari. Lamannya menjadi pupa yaitu selama 7 hari
sebelum menjadi lalat BSF. Fase lalat amat singkat, di fase lalat, BSF tidak makan
melainkan hanya minum. Lalat jantan akan mati sesudah kawin kemudian lalat betina
akan mati sesudah bertelur, telur yang dihasilkan lalat betina sangat banyak. Banyak
sedikitnya telur di pengaruhi oleh suhu, makanan dan waktu kawin (Reza, 2022).
2.3 MEDIA LIMBAH ORAGANIK
Limbah merupakan bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses
produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya.
Berdasarkan sifatnya limbah dibedakan menjadi 2, yaitu limbah organik dan limbah
anorganik. Limbah organik merupakan limbah yang dapat diuraikan secara sempurna
melalui proses biologi baik aerob maupun anaerob. Limbah organik yang dapat diurai
melalui proses biologi mudah membusuk, seperti sisa makanan, sayuran, potongan
kayu, daun-daun kering, dan sebagainya. Limbah organik dapat mengalami
pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan kecil dan berbau (Inawati, 2019).
Limbah kota pada umumnya didominasi oleh sampah organik ±70% sebagai
konsekuensi logis dari aktivitas serta pemenuhan kebutuhan penduduk kota.
Berdasarkan sumber dan bahan buangannya, sampah organik kota secara garis besar
dikontribusi oleh sampah pasar, rumah potong hewan dan restoran serta rumah
tangga. Bahan organik yang dapat digunakan sebagai kompos dapat berasal dari
limbah hasil pertanian dan non pertanian (limbah kota dan limbah industri). Limbah
hasil dari pertanian antara lain berupa sisa tanaman (jerami dan brangkasan), dan sisa
hasil pertanian linnya seperti limbh sayur (Arief, 2018).
Limbah sayuran pasar merupakan bahan yang dibuang dari usaha memperbaiki
penampilan barang dagangan berbentuk sayur mayur yang akan dipasarkan. Selama
ini limbah sayuran pasar menjadi sumber masalah bagi upaya mewujudkan
kebersihan dan kesehatan masyarakat. Selain mengotori lingkungan, limbah sayuran
pasar dengan sifatnya yang mudah membusuk, mengakibatkan pencemaran
lingkungan berupa bau yang tidak sedap. Pengomposan timbul dari kegiatan
mikroorganisme, sehingga diharapkan bahwaproses pengomposan akan lebih baik
dengan penambahan inokulan dari kultur mikroorganisme. Mikroorganisme
berkembang biak dengan sangat cepat, dan dalam beberapa harijumlahnya dapat
mencapai titik maksimum yang dimungkinkan oleh kondisi lingkungan dalam
tumpukan kompos. Kompos yang baik adalah kompos yang sudah mengalami
pelapukan yang cukup dengan dicirikan warna sudah berbeda dengan warna bahan
pembentuknya, berbau seperti tanah, dan mempunyai suhu ruang (Arief, 2018).
2.4 PENGURAIAN SAMPAH ORAGNIK MENGGUNAKAN MAGGOT BSF
Maggot lazim dikenal sebagai dekomposer sebab kebiasaannya memakan
bahan-bahan organik. Maggot mengunyah makanan dengan mulut yang bentuknya
seperti pengait (hook). Maggot bisa tumbuh pada bahan organik yang telah busuk.
Maggot dewasa tidak makan, namun hanya memerlukan air karena nutrien hanya
dibutuhkan untuk bereproduksi pada fase maggot. Hermetia illucens dalam daur
hidupnya tidak menempel pada makanan yang secara langsung dimakan manusia.
Pada umur dewasa makanannya yang utama ialah sari bunga, sari buah, dan berbagai
bahan organic, sementara pada umur muda makanannya bersumber dari simpanan
makanan yang berada di tubuhnya (Leanza, 2017).
Pengolahan sampah buah san sayur yang paling umum adalah pembuatan
kompos. Kompos dinilai tidak efektif karena memerlukan waktu lama dala
pembuatannya dan menghasilkan aroma yang tidak sedap. Larva lalat black soldier
fly merupakan salah satu agen biokonversi yang mampu menguraikan sampah
organik dengan cepat. Larva BSF mampu aktif menguraikan makanan dalam waktu
21-24 hari sesuai dengan suhu lingkungan. Suhu lingkungan yang rendah akan
memperlama proses penguraian lingkungan. Larva BSF mampu menguraikan sampah
rumah tangga sebanyak 8122,1 gram, sampah melon sebanyak 1859,7 gram, sampah
sawi putih sebanyak 1320,3 gram (Zahroh et al., 2020).
Kemampuan BSF dalam memakan sampah organik membuatnya banyak
digunakan sebagai salah satu agen bio dekomposter. Media tumbuh maggot sangat
mempengaruhi pertumbuhan maggot, begitu halnya pemberian ransum yang tidak
cocok akan membuat pertumbuahan maggot akan terhambat. Pemberian media eceng
gondok terfermentasi menyebabkan pertumbuhan maggot lebih lambat di bandingkan
menggunakan media limbah buah. Media maggot yang dari ampas tahu lebih cepat
pertumbuhannya dibandingkan menggunakan media yang menggunakan limbah
buah. Hal ini desebabkan karena ampas tahu memiliki kandungan nutrisi yang lebih
tinggi dibandingkan limbah buah. Jadi semakin bagus kandungan nutrisi media pakan
maggot akan mempercepat laju pertumbuhan maggot BSF (Leanza, 2017).
2.5 PEMANFAAT MAGGOT BSF
Disamping dapat mengurangi sampah padat perkotaan, menghasilkan produk
yaitu larva BSF yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, dengan sumber
protein yang tinggi. Penggunaan Maggot BSF ini sangat direkomendasikan, karena
mempunya keuntungan, yaitu lebih ekonomis, ramah lingkugan, kandungan protein
tinggi, membuka peluang usaha untuk meningkakat pendapatan petani. Memberikan
informasi kepada masyarakat umum dan UKMK untuk pemanfaatan sampah organik
sebagai pakan larva BSF (maggot) untuk mendapatkan pakan ikan dan hewan ternak.
Pemanfaatan larva Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sebagai biokonversi sampah
organik perkotaan, memberikan potensi keuntungan (Bella, 2021).
Selain pengurangan sampah padat perkotaan, produk dalam bentuk larva BSF,
yang disebut prapupa, menawarkan nilai tambah yang berharga sebagai pakan ternak.
Sehingga dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat menengah kecil di
negara berkembang. Penggunaan insekta sebagai sumber protein telah banyak
didiskusikan oleh para peneliti di dunia. Protein yang bersumber dari insekta lebih
ekonomis, bersifat ramah lingkungan dan mempunyai peran yang penting secara
alamiah. Protein berperan penting dalam suatu formula pakan ternak karena berfungsi
dalam pembentukan jaringan tubuh dan terlibat aktif dalam metabolisme seperti
enzim, hormon, antibodi dan lain sebagainya (Bella, 2021).
Dari lima fase hidup lalat BSF (Hermetia illucens), fase prepupa sering
digunakan sebagai pakan ternak. Maggot BSF dibekali nutrisi yang amat baik.
Kandungan asam amino dan proteinnya adalah sumber nutrisi dan zat yang
dibutuhkan oleh setiap hewan ternak untuk tumbuh sehat dan kuat. Nutrisi tersebut
sangat baik untuk pakan ayam, ikan, dan juga peliharaan rumah lainnya seperti
burung, iguana, tokek, dan sebagainya. Larva BSF berpotensi besar sebagai sumber
protein ternak yang murah dan mudah dalam budidayanya serta membantu
mengurangi pencemaran lingkungan dan penumpukan sampah organik (Reza, 2022).
BAB III
METODOLOGI
3.1 TEMPAT DAN WAKTU
Praktikum Pembutan Kompos Menggunakan Biokonversi Maggot BSF ini
dilaksanakan di Kampung Rimba, Universitas Hasanuddin, Makassar. pada Sabtu, 25
Maret 2023, pukul 08.00 - 11.00 WITA.
3.2 ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan dalam praktikum pembuatan kompos menggunakan
biokonversi maggot BSF adalah gallon, pisau, dan spidol.
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum pembuatann kompos
menggunakan biokonversi maggot BSF yaitu telur/larva maggot, limbah organik
(sayur-sayuran, buah-buahan, dan roti), dan dedak.
3.3 PROSEDUR PRAKTIKUM
Prosedur pada praktikum ini terdiri atas beberapa langkah, yaitu:
1. Menyediakan alat dan bahan.
2. Memotong gallon air mineral untuk dijadikan sebagai wadah.
3. Memberikan roti dan limbah buah dan sayur ke dalam wadah.
4. Memasukkan telur maggot ke dalam wadah yang telah terisi media organik.
5. Melakukan pemeliharaaan dengan memberikan makanan secara berkala (limbah
organik dan dedak).
6. Melakukan pengamatan.
3.4 PARAMETER PENGAMATAN
Parameter pengamatan pada praktikum ini terbagi atas dua yaitu Maggot BSF
dan Kompos:
3.3.1 Pengamatan Maggot BSF
1. Panjang Maggot
2. Berat Maggot
3. Kecepatan Penguraian
3.3.2 Pengamatan Kompos
1. Warna
2. Tekstur
3. Aroma
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
Tabel 1. Pengamatan Kompos
Pengamatan Warna Tekstur Aroma
1 Coklat Lembek Dedak
2 Coklat Tua Kasar Dedak
Sumber: Data primer (2023)
Tabel 2. Pengamatan Maggot BSF
Kecepatan
Pengamatan Panjang maggot Berat maggot
Penguraian.
1 - 5gr -
2 - - 368 menit
3 1,7 600gr 72 menit
4.2 PEMBAHASAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil dari pengamatan
pembuatan kompos berupa perubahan warna dari coklat menjadi coklat tua. Warna
coklat pada kompos berasal dari bahan yang digunakan berupa jerami. Perubahan
sifat fisik kompos yaitu warna kompos dari coklat menjadi coklat kehitaman terjadi
akibat adanya proses penguraian yang dilakukan oleh mikroba. Sedangkan tekstur
kompos yang awalnya lembek berubah menjadi kasar terjadi karena pada saat bahan
pembuatan kompos mengalami pelapukan warna dan bau berubah serta kadar air
rendah sehingga membuat tekstur kompos menjadi keras. Aroma dedak pada kompos
yang tidak menyengat juga menjadi tanda pembuatan kompos dikatakan berhasil. Hal
ini terjadi karena kompos tidak basah yang dapat mengeluarkan aroma yang tidak
sedap. Hal ini sesuai dengan pendapat Eva (2021), bahwa sampah daun yang sudah
dicampurkan dengan EM4 kemudian di aduk hingga merata dan ditutup rapat. Proses
pemasakan pupuk kompos akan berhenti setelah mencapai kematangan yang
sempurna yaitu dilakukan selama 15 hari. Selama proses dekomposisi, pupuk kompos
mengalami perubahan terhadap bentuk fisiknya meliputi warna, bau, dan tekstur.
Perubahan tersebut terjadi disebabkan oleh pengaruh dari bahan yang dicampur
kedalam kompos serta aktivitas mikroorganisme yang terkandung didalam bahan
organik. Setelah 15 hari, pupuk kompos sudah mengalami pemasakan yaitu dapat
diketahui dari sifat fisik kompos. Kompos daun kering yang dihasilkan memiliki
karakteristik berwarna coklat kehitaman, teksturnya remah dan agak kasar, tidak
berbau, berbentuk butiran gembur. Selain itu, ukuran pemotongan daun kurang kecil
sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk proses penguraian.
Pada praktikum Maggot BSF didapatkan hasil rata-rata panjang maggot 1,7 cm
dan berat akhir keseluruhan maggot yang berat awalnya 5gr menjadi 600gr. Faktor
yang mempengaruh maggot bias tumbuh lebih panjang karena faktor media tumbuh.
Pemberian media tumbuh berbeda akan menyebabkan perbedaan ukuran. Sedangkan
berat maggot di tidak pengaruhi oleh media tumbuh. Sedangkan kecepatan
penguraian yang awalnya 368 menit menjadi 72 menit disebabkan oleh maggot yang
sudah tumbuh dewasa dan proses penguraiannnya lebih cepat. Hal ini sesuai dengan
pendapat Rizki (2019), bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
panjang maggot adalah keadaan media tumbuhnya. Pertumbuhan organisme sangat
dipengaruhi oleh keadaan lingkungan atau tempat hidup dan jumlah bahan makan
yang tersedia. Banyak sedikitnya makanan yang didapatkan dapat mempengaruhi
kecepatan pertumbuhan baik bobot maupun panjang.
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa ciri-ciri
kompos dikatakan berhasil jika berwarna coklat kehitaman, teksturnya keras dan
tidak mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Kompos memiliki banyak manfaat bagi
tanaman. Sedangkan pada praktikum pengembangbiakan maggot BSF, diperoleh
maggot dengan panjang dan bobot yang baik karena media yang digunakan. Maggot
yang dikembangbiakan dapat digunakan dalam proses pembuatan kompos. Proses
biokonversi oleh maggot ini dapat mendegradasi sampah lebih cepat, tidak berbau,
dan menghasilkan kompos organik.
5.2 SARAN
Praktikum yang dilakukan sudah bejalan dengan baik dan di tingkatkan untuk
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Arief, S. Y. 2018. Penggunaan Larva (Maggot) Black Soldier Fly


(BSF) dalam Pengolahan Limbah Organik. Bogor: Seamo Biotrop.

Bella, E. 2021. Pengolahan Sampah Organik Menggunakan Metode Larva Black


Soldier Fly (BSF). Medan: Prenadamedia group.

Eva, N. 2021. Pembuatan Pupuk Kompos Dari Daun Kering. Jurnal Bina Desa. 3(2):
109-117.

Inawati, S. 2019. Pemanfaatan Limbah Organik Menjadi Kompos. Jurnal Aplikasi


Ipteks. 5(2): 1-10

Leanza, M. 2017. Proses Pengolahan Sampah Organik dengan Black


Soldier Fly (BSF). Swiss: Eawag.

Reza, R. 2022. Lalat Tentara hitam Sebagai Pengurai Sampah Organik. Jurnal
Pengabdian Masyarakat. 2(7): 1-6.

Rizki, S. 2019. Tingkat Densitas Populasi Maggot Pada Media Tumbuh Yang
Berbeda. Jurnal Acta Aquatica. 4(1): 21-25.

Wahyuni. 2020. Maggot BSF Kualitas Fisik dan Kimianya. Lamongan: Litbang
Pemas Unisla

Zahroh, N. Eurika, N. Aulia, N. P. 2020. KomparasiBiokonservasi Sampah Buah dan


Sayur Menggunakan Larva Black Soldier Fly. Jurnal Repository. 2(1): 1-11

Anda mungkin juga menyukai