FIMOSIS
No. Dokumen : /441/SOP/TU-PKM/GP/2022
No. Revisi :
SOP Tgl. Terbit :
Halaman : 1/2
Di sahkan
Kepala UPT Puskesmas
UPT PUSKESMAS Lampeong
LAMPEONG
YUSRI
NIP 19730801 199303 1 007
1. 1. Pengertian Fimosis adalah kondisi dimana preputium tidak dapat diretraksi
melewati glans penis. Fimosis dapat bersifat fisiologis ataupun
patalogis. Umumnya fimosis fisiologis terdapat pada bayi dan anak-
anak. Pada anak usia 3 tahun 90% preputium telah dapat diretraksi
tetapi pada sebagian anak preputium tetap lengket pada glans penis
sehingga ujung preputium mengalami penyempitan dan mengganggu
proses berkemih. Fimosis patologis terjadi akibat peradangan atau
cedera pada preputium yang menimbulkan perut kaku sehingga
menghalangi retraksi.
2. 2. Tujuan Semua pasien Fimosis yang dating ke Puskesmas Lampeong
mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan prosedur
3. 3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Lampeong Nomor:
/441/SK/TU-PKM/2022 .......
4. 4. Referensi 1. KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
HK.02.02/MENKES/514/2015 TENTANG PANDUAN PRAKTIK KLINIS
BAGI DOKTER DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TINGKAT
PERTAMA
2. Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Saluran Kemih dan Alat Kelamin Lelaki.
Buku Ajar Imu [Link].2. Jakarta: EGC,2004.
3. Hayashi Y, Kojima Y, Mizuno K, danKohri K. Prepuce: Phimosis,
Paraphimosis, and Circumcision. The Scientific World Journal. 2011. 11,
289–301.
4. Drake T, Rustom J, Davies M. Phimosis in Childhood. BMJ
2013;346:f3678.
5. TekgülS, Riedmiller H, Dogan H.S, Hoebeke P, Kocvara R, Nijman R,
Radmayr Chr, dan Stein R. Phimosis. Guideline of Paediatric Urology.
European Association of Urology. 2013. hlm 9-10
5. 5. Prosedur Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan
Keluhan umumnya berupa gangguan aliran urin seperti:
1. Nyeri saat buang air kecil
2. Mengejan saat buang air kecil
3. Pancaran urin mengecil
4. Benjolan lunak di ujung penis akibat penumpukan smegma.
Faktor Risiko
1. Hygiene yang buruk
2. Episode berulang balanitis atau balanoposthitis menyebabkan skar pada
preputium yang menyebabkan terjadinya fimosis patalogis
3. Fimosis dapat terjadi pada 1% pria yang tidak menjalani sirkumsisi
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik
1. Preputium tidak dapat diretraksi keproksimal hingga ke koronaglandis
2. Pancaran urin mengecil
3. Menggelembungnya ujung preputium saat berkemih
4. Eritema dan udem pada preputium dan glans penis
5. Pada fimosis fisiologis, preputium tidak memiliki skar dan tampak sehat
6. Pada fimosis patalogis pada sekeliling preputium terdapat lingkaran
fibrotik
7. Timbunan smegma pada sakus preputium
Penegakan Diagnosis (Assessment)
Diagnosis Klinis
Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisik
Diagnosis Banding
Parafimosis, Balanitis, Angioedema
Komplikasi
Dapat terjadi infeksi berulang karena penumpukan smegma.
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Penatalaksanaan
1. Pemberian salep kortikosteroid (0,05% betametason) 2 kali perhariselama
2-8 minggu pada daerah preputium.
2. Sirkumsisi
Rencana Tindak Lanjut
Apabila fimosis bersifat fisiologis seiring dengan perkembangan maka
kondisi akan membaik dengan sendirinya
Konseling dan Edukasi
Pemberian penjelasan terhadap orang tua atau pasien agar tidak melakukan
penarikan preputium secara berlebihan ketika membersihkan penis karena
dapat menimbulkan parut.
Kriteria Rujukan
Bila terdapat komplikasi dan penyulit untuk tindak ansirkumsisi maka dirujuk
kelayanan sekunder.
Peralatan
Set bedah minor
Prognosis
Prognosis bonam bila penanganan sesuai
4. 6. Rekaman
Historis No Yang Isi Tanggal mulai
Perubahan diubah Perubahan Diberlakukan