Program Manajemen Risiko Klinik 2023
Program Manajemen Risiko Klinik 2023
tentang
PENANGGUNGJAWAB KLINIK
Menimbang : 1. Bahwa perlu adanya Program Kerja Manajemen Risiko bagi pasien di
Klinik
2. Bahwa perlu adanya Program Kerja Manajemen Risiko di Klinik
3. Bahwa untuk Program Kerja Manajemen Risiko tersebut perlu diatur
dalam Keputusan.
MEMUTUSKAN
2
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
Menetapkan,
Kesatu : PROGRAM KERJA MANAJEMEN RISIKO KLINIK
Kedua : Program Kerja Manajemen Risiko pada Diktum Kesatu sebagaimana terlampir
dalam Lampiran Keputusan ini.
Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal …………….
Keempat : Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan atau ketidaksesuaian dalam
Keputusan ini, maka akan diperbaiki sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Bandung
Pada tanggal : ……………….
Penanggungjawab Klinik
………………………………….
Tembusan Kepada Yth. :
1…………..
2.
3
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
Klinik
Nomor : …………………..
BAB I
PENDAHULUAN
Manajemen risiko merupakan disiplin ilmu yang luas. Seluruh bidang pekerjaan di dunia ini
pasti menerapkannya sebagao sesuatu yang sangat penting. Makin besar risiko suatu pekerjaan,
makin besar pula perhatian yang diberikan kepada aspek manajemen risiko ini. Klinik sebagai
sebuah institusi dengan aktifitas yang penuh dengan berbagai risiko keselamatan, juga sudah
selayaknya menerapkan hal ini.
Pemahaman manajemen risiko sangat bergantung kepada dari sudut pandang mana seseorang
melihatnya. Dalam bidang kesehatan dan keselamatan lebih diartikan sebagai pengendalian risiko
salah satu pihak (pasien atau masyarakat) oleh pihak yang lain (pemberi layanan). Sementara di
dalam suatu komunitas pemberi layanan kesehatan itu sendiri, yaitu pengelola Klinik dan para
tenaga kesehatannya, harus diartikan sebagai suatu upaya kerjasama berbagai pihak untuk
mengendalikan risiko bersama.
The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations (JCAHO) memberikan
pengertian manajemen risiko sebagai aktivitas klinik dan administratif yang dilakukan oleh Klinik
untuk melakukan identifikasi, evaluasi dan pengurangan risiko terjadinya cedera atau kerugian pada
pasien, personil, pengunjung dan Klinik itu sendiri. Kegiatan tersebut meliputi identifikasi risiko
hukum (legal risk), memprioritaskan risiko yang teridentifikasi, menentukan respons Klinik
terhadap risiko, mengelola suatu kasus risiko dengan tujuan meminimalkan kerugian (risk control),
membangun upaya pencegahan risiko yang efektif dan mengelola pembiayaan risiko yang adekuat
(risk financing).
4
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
Manajemen risiko yang komprehensif meliputi seluruh aktivitas klinik , baik operasional
maupun yang bersifat klinis, oleh karena risiko dapat muncul dari kedua bidang tersebut. Setiap
upaya medik umumnya mengandung risiko, sebagian di antaranya berisiko ringan atau hampir tidak
berarti secara klinis. Namun tidak sedikit pula yang memberikan konsekuensi medik yang cukup
berat.
BAB II
LATAR BELAKANG
5
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
6
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
BAB III
TUJUAN
A. Tujuan Umum
7
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
BAB IV
KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN
8
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
B. Menentukan konteks
Konteks dimana proses manajemen risiko dijalankan, tertuang dalam kerangka acuan/
panduan manajemen risiko. Kebijakan manajemen risiko selain memuat definisi, ruang
lingkup, tujuan, proses, ketetapan dampak dan probabilitas, terdapat juga kriteria risiko.
Manajemen risiko memberikan kontribusi kepada good corporate governance, dengan
memperkecil kerugian (jika risiko berdampak negatif) dan memperbesar peluang (jika risiko
berdampak positif).
Manajemen risiko tidak hanya menjadi kewenangan dari Penanggungjawab , namun
menjadi tanggung jawab seluruh unit. Dengan demikian diharapkan semua individu merasa
bertanggung jawab atas resiko yang timbul di dalam pelaksanannya, sehingga resiko tidak
hanya menjadi tanggung jawab panitia keselamatan pasien Klinik saja. Hal ini tampak sebagai
upaya menanamkan budaya sadar risiko pada setiap individu di klinik , yang merupakan hal
terpenting dalam penerapan manajemen risiko.
Penerapan manajemen risiko sangat diperlukan untuk meminimalkan risiko, mencegah
kejadian tidak diharapkan dan tentunya keselamatan pasien, staf dan lingkungan klinik . Tujuan
manajemen risiko terdapat dalam kerangka acuan/ panduan manajemen risiko yang berisi
definis, ruang lingkup dan tujuan dari manajemen risiko terdapat juga ketetapan menilai skor
dampak dan probabilitas, serta kriteria risiko untuk menjalankan manajemen risiko. Panduan
mengenai manajemen risiko dibuat oleh Sub Manajemen Risiko, Panduan Praktik Klinik (PPK)
dan Standar Prosedur Operasional (SPO) Klinik harus dibuat untuk meminimalkan resiko
Penanggungjawab Klinik memiliki tanggung jawab tertinggi terhadap pelaksanaan
9
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
C. Identifikasi risiko
Pemahaman dasar mengenai risiko sangat penting agar seseorang dapat melakukan
identifikasi maupun nilai risiko. Penerapan proses manajemen risiko perlu melibatkan dan
disosialisikan kepada seluruh staf Klinik tidak terkecuali dokter untuk melakukan identifikasi
dan analisis.
Identifikasi risiko dilakukan melalui proses pelaporan terhadap suatu risiko maupun
kejadian dilakukan oleh semua staf yang melakukan, melihat maupun mendengar suatu risiko
atau kejadian. Proses pelaporan tersebut disosialisasikan kepada semua staf baru, pemantauan
indikator mutu, indikator keselamatan pasien, audit medik, survei kepuasan pelanggan, FMEA
dan insiden report.
Dalam seluruh kegiatan identfikasi risiko selalu ditekannkan 3 (tiga) hal yaitu no blame,
no name and no shame, sehingga bukan orangnya yang ditekannkan dalam suatu kejadian
namun lebih pada sistemnya. Adalah penting menanamkan budaya tidak menyalahkan atau
mempermalukan oleh karena setiap manusia memang dapat saja melakukan suatu kesalahan
setiap hari. Namun terlebih daripada itu, adalah penting untuk melihat apakah kesalahan
tersebut merupakan kelalaian yang timbul oleh karena kompleksitas sistem yang kurang
mendukung. Selain itu dengan mempermalukan dan menyalahkan pelaporan akan sulit
diperoleh karena adanya kekhawatiran dan ketakutan untuk melaporkan sehingga langkah awal
dari manajemen risiko tidak dapat dijalankan. Untuk itu, berbagai pendekatan menggunakan
kombinasi metode harus digunakan untuk meningkatkan proses identifikasi terdapat risiko dan
hazards.
10
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
dalam risk register dalam lembar pelaporan insiden, terdapat tabel kriteria untuk konsekuensi
kejadian serta probabilitas kejadian. Penilaian risiko merupakan proses menganalisa tingkat
risiko, pertimbangan tingkat bahaya dan mengevaluasi apakah sumber bahaya dapat
dikendalikan atau tidak dengan memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi. Indikator
yang bisa dijadikan dasar penilaian di area kritis antara lain :
1. Adanya penilaian risiko untuk setiap bahaya yang ada
2. Terdapat risk matrix
Untuk mengidentifikasi potensi kerugian gunakan tabel matriks kualitatif. Menentukan
nilai probabilitas kerugian menggunakan 3 kategori : Critical, Very Serious, dan Less Serious.
Analisa grading matriks resiko penilaian matriks resiko adalah suatu metode analisa
kualitatif untuk menentukan derajat resiko suatu insiden berdasarkan dampak dan
probabilitasnya.
1. Dampak (Consequences)
Penilaian dampak/ akibat suatu insiden adalah seberapa berat akibat yang dialami pasien
mulai dari tidak ada cedera sampai meninggal
2. Probabilitas/ Frekuensi/ Likelihood
Penilaian tingkat probabilitas/ frekuensi risiko adalah seberapa seringnya insiden tersebut
terjadi
Tabel 1
Penilian Dampak Klinis/ Konsekuensi/ Severity
Tingkat
Deskripsi Dampak
Risiko
1 Tidak signifikan Tidak ada cedera
2 Minor - Cedera ringan mis. Luka lecet
- Dapat diatasi dengan pertolongan pertama
3 Moderat - Cedera sedang mis. Luka robek
- Berkurangnya fungsi motorik/ sensorik/
psikologis atau intelektual (reversibel), tidak
berhubungan dengan penyakit
11
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
SKOR RISIKO
SKOR RISIKO : DAMPAK x PROBABILITAS
Cara menghitung skor risiko :
Untuk menentukan skor risiko digunakan matriks grading risiko (tabel 3) :
1. Tetapkan frekuensi pada kolom kiri
2. Tetapkan dampak pada baris ke arah kanan
3. Tetapkan warna bandsnya, berdasarkan pertemuan antara frekuensi dan dampak
BANDS RISIKO
Bands risiko adalah derajat risko yang digambarkan dalam empat warna yaitu : Biru, Hijau, Kuning
dan Merah. Warna “bands” akan menentukan investigasi yang akan dilakukan :
Bands BIRU dan HIJAU : Investigasi sederhana
12
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
Jarang terjadi
(>2 - <5thn/ kali) 2 Rendah Rendah Moderat Tinggi Ekstrim
Sangat jarang
terjadi Rendah Rendah Moderat Tinggi Ekstrim
(>5thn/ kali) 1
Tabel 4
Tindakan sesuai Tingkat dan bands Risiko
Level / Bands Tindakan
Extreme (sangat tinggi) Risiko ekstrim, dilakukan RCA paling lama 45 hari
membutuhkan tindakan segera, perhatian sampai ke
Penanggungjawab
High (tinggi) Risiko tinggi, dilakukan RCA paling lama 45 hari Kaji dengan
detail dan perlu tindakan segera serta membutuhkan perhatian
top manajemen
Moderate (sedang) Risiko sedang, dilakukan investigasi sederhana paling lama 2
minggu. Manajer/ Penanggungjawab Klinis sebaiknya menilai
13
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
E. Evaluasi risiko
Berdasarkan hasil analisa risiko, dilakukan evaluasi risiko yang dapat membantu untuk
memutuskan diterima atau tidaknya suatu risiko, menentukan prioritas risiko dan menjadi
masukan bagi penanganan risiko. Kriteria untuk mengambil keputusan dalam evaluasi risiko
haruslah konsisten dengan konteks eksternal, internal dan definisi manajemen risiko yang telah
ditetapkan oleh organisasi. Terdapat 4 dimensi risiko klinis di pelayanan kesehatan yang perlu
diperhatikan yaitu dimensi operasional, dimensi keuangan, dimensi politik dan dimensi legal.
Dalam memutuskan risiko dapat diterima atau tidak kriteria evaluasi yang dibuat harus
mempertimbangkan dari berbagai sisi, selain tingkat dampak maupun kemungkinan yang
timbul termasuk toleransi terhadap risiko
Evaluasi risiko dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan klinik . Tingkat
risiko atau kejadian yang telah ditentukan saat analisis menjadi acuan untuk menetapkan
prioritas risiko serta pelaporan yang perlu dilakukan terkait dengan risiko tersebut. Jika risiko
tergolong ekstrim, hal ini menjadi sangat prioritas sehingga perlu dilakukan tindakan RCA
secepatnya dan pelaporan perlu disampaikan kepada Penanggungjawab . Diterima atau
tidaknya suatu risiko, selain dilihat dari konsekuensi, probabilitas maupun tingkatannya, dilihat
juga beberapa dimensi yang menjadi dasar pertimbangan. Dengan memperhatikan keselamatan
pasien, image klinik , serta biaya yang dikeluarkan, Penanggungjawab Klinik menetapkan
risiko prioritas yang akan dianalisis secara proaktif.
F. Pengelolaan risiko
Dalam pengelolaan risiko, terdapat beberapa pilihan yang dapat diambil. Salah satunya
adalah melalui proses pencegahan dan pengurangan risiko. Keberhasilan pengelolaan risiko
tidak hanya sampai kegiatan pengurangan risiko. Meski kegiatan pengurangan risiko telah
dilakukan, tetap sosialisasi, monitoring serta audit perlu dilaksanakan agar tidak terjadi
14
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
peningkatan risiko maupun pengulangan kejadian. Jika terjadi suatu kegiatan sentinel, kejadian
tersebut harus dituntaskan dan tidak boleh terjadi. Kunci keberhasilan dari seluruh upaya
pengurangan risiko di Klinik adalah kepemimpinan.
15
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
16
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
BAB V
CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
17
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
18
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
19
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
BAB VI
SASARAN
No Kegiatan dan rincian Indikator Target
1. Komunikasi dan a. Rapat berkala PJ manajemen risiko (1 100%
konsultasi bulan sekali)
b. Sosialisasi manajemen risiko
2. Menetapkan konteks a. Menentukan konteks internal 100%
b. Menentukan konteks eksternal
3. Identifikasi risiko Melakukan identifikasi risiko sesuai 100%
kategori risiko (Operasional, keuangan,
reputasi, strategis dan kepatuhan)
4. Analisis risiko Melakukan proses analisis terhadap potensi 100%
risiko meliputi analisis : penyebab risiko,
likelihood serta impact risiko dan dapat
berupa analisis kualitatif sampai proses
FMEA
5. Evaluasi risiko Melakukan proses evaluasi hasil analisis 100%
risiko
6. Penanganan risiko Merumuskan atau memilih opsi/ teknik 100%
penanganan risiko
7. Monitoring dan review Memantau dan meninjau untuk 100%
memastikan dan meningkatkan kualitas
dan efektivitas desain proses, implementasi
dan hasil
20
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
BAB VII
JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN
No Kegiatan Tahun 2023
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Komunikasi dan
konsultasi
2. Menetapkan
konteks
3. Identifikasi risiko
4. Analisis risiko
5. Evaluasi risiko
6. Penanganan
risiko
7. Monitoring dan
review
21
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
BAB VIII
MONITORING EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN
B. Pelaporan Evaluasi
Laporan evaluasi jadwal kegiatan dibuat setiap 6 bulan sekali oleh Ketua Tim Mutu dibuat
dalam dengan cara evaluasi di dalam salah satu laporan antara tiap semester atau tiap akhir
tahun dan ditujukan kepada Penanggungjawab .
22
PERKUMPULAN “PERHIMPUNAN SANTO BORROMEUS”
KLINIK PRATAMA SURYA SUMIRAT
Jl. Surya Kencana no.2 Bandung 40132
Telp. (022) 2552200 email: kpsuryasumirat@[Link]
BAB IX
PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN
Pencatatan kegiatan di dalam program dilakukan dengan cara notulensi, daftar risiko dari tiap unit.
Laporan program dibuat dengan cara laporan setiap enam bulan sekali atau satu tahun sekali
diserahkan kepada Penanggungjawab Klinik. Evaluasi pelaksanaan program kerja secara
keseluruhan dilakukan terhadap kegiatan yang sudah terealisasi maupun belum terealisasi rincian
kegiatannya.
(………..……………….)
23