0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Analisis Tindakan ROM pada Fraktur Tibia

Pasien mengalami gangguan mobilitas akibat open fraktur tibia dan fibula. Tindakan yang diberikan adalah range of motion untuk meningkatkan kekuatan otot dan fleksibilitas sendi serta mencegah komplikasi. Hasilnya mobilitas ekstremitas bawah kiri meningkat tetapi belum untuk kanan karena terpasang oref.

Diunggah oleh

Rosa Sheilaaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan7 halaman

Analisis Tindakan ROM pada Fraktur Tibia

Pasien mengalami gangguan mobilitas akibat open fraktur tibia dan fibula. Tindakan yang diberikan adalah range of motion untuk meningkatkan kekuatan otot dan fleksibilitas sendi serta mencegah komplikasi. Hasilnya mobilitas ekstremitas bawah kiri meningkat tetapi belum untuk kanan karena terpasang oref.

Diunggah oleh

Rosa Sheilaaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS SINTESIS TINDAKAN

PADA An.I DENGAN OPEN FRAKTUR TIBIA FIBULA DEXTRA


DI RUANG FLAMBOYAN 10 RS dr MOEWARDI SURAKARTA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Profesi Keperawatan Medikal Bedah
Clinical Teacher : Rendi Editya D, [Link]., Ns, [Link]
Clinical Instructure : Friza Rahmi Artini, [Link].,Ns

Disusun oleh:
ROSA SHEILA DIANA OASIS
P27220023316

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA
2023
LAPORAN ANALISIS SINTESIS TINDAKAN KEPERAWATAN
Tindakan Pemberian Range of Motion (ROM) untuk Mengatasi Masalah Hambatan
Mobilitas Fisik pada Pasien open fraktur tibia fibula dextra

Hari : Selasa
Tanggal : 31 Oktober 2023
Jam : 10.00
A. Keluhan utama
Pasien mengatakan anggota gerak bawah kanan dan kiri lemah
B. Diagnosa medis
Post OP Open fraktur Tibia Fibula dextra
C. Diagnosa keperawatan
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
(D.0054)
D. Data yang mendukung diagnosa keperawatan
DS :
1. Pasien mengatakan kaki kanan tidak bias digerakkan dan kaki kiri
bias digerakkan tetapi sedikit
DO :
1. Pasien tampak sulit untuk menggerakkan ekstremitas bagian
bawah
2. Kekuatan otot pasien
Ekstremitas atas bawah : 1 kiri: 2
E. Dasar pemikiran
(berisi tentang gambaran umum penyakit)
Tibia dan fibula adalah dua tulang panjang yang terletak di kaki bagian
bawah. Tibia adalah tulang yang lebih besar di bagian dalam, dan fibula adalah
tulang yang lebih kecil di bagian luar. Tibia jauh lebih tebal dari fibula. Ini adalah
tulang penahan berat utama keduanya. Fibula mendukung tibia dan membantu
menstabilkan pergelangan kaki dan otot kaki bagian bawah. Fraktur Tibia dan
fibula ditandai sebagai berenergi rendah atau berenergi tinggi. Fraktur berenergi
rendah, tidak diletakkan (sejajar), kadang-kadang disebut fraktur balita, terjadi
akibat jatuh ringan dan cedera puntir. Fraktur berenergi tinggi, seperti yang
disebabkan oleh kecelakaan mobil serius atau jatuh besar, lebih sering terjadi pada
anak yang lebih besar. (John Hopkins Medicine, 2019) Terapi dibutuhkan segera
untuk mengurangi cedera cerebral lanjut, salah satu program rehabilitasi yang
dapat diberikan pada pasien stroke yaitu mobilisasi persendian dengan latihan
range of motion.
F. Prinsip tindakan keperawatan
(berisi tentang standar operasional prosedur yang dilakukan)
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
RANGE OF MOTION (ROM)
Pengertian Latihan gerak aktif-pasif atau range of motion
(ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat
kesempurnaan kemampuan menggerakkan
persendian secara normal dan lengkap
Tujuan 1. Untuk mengurangi kekakuan pada sendi dan
kelemahan pada otot yang dapat dilakukan
secara aktif maupun pasif tergantung dengan
keadaan pasien.
2. Meningkatkan atau mempertahankan
fleksibilitas dan kekuatan otot
Indikasi 1. Pasien yang mengalami hambatan mobilitas
fisik
2. Pasien yang mengalami keterbatasan rentang
gerak
Prosedur kegiatan Tahap prainteraksi
1. Memahami dan mamapu melakukan prosedur
range of motion
2. Memeriksa intervensi yang akan dilakukan
dengan perencanaan yang telah disusun
3. Mencuci tangan
Tahap orientasi
1. Memberikan salam dan memperkenalkan diri
2. Identifikasi nama klien
3. Menjelaskan tujuan tindakan
4. Menjelaskan prosedur
5. Menanyakan kesediaan
6. Melakukan kontrak waktu
Tahap kerja
Gerakan rom
1. Leher
Tekuk kepala kebawah dan keatas lalu menoleh
kesamping kanan dan kiri
2. Lengan/pundak
Angkat tangan keatas lalu kembaliu ke bawah,
setelah itu ke saming dan ke bawah lagi
3. Siku
Dengan menekuk lengan, gerakan lengan ke
atas dan kebawah.
4. Pergelangan tangan
Tekuk pergelangan tangan kedalam dan keluar
lalu samping kiri dan kanana
5. Jari Tangan
Tekuk keempat jari tangan ke arah dalam lalu
regangkan [Link] seluruh jari lalu
[Link] tiap jari satu persatu.
6. Lutut
Ankat kaki keatas lalu lutut ditekuk kemudian
diturunkan [Link] kaki ke samping kanan
dan kiri lalu putar kearah dalam dan luar.
7. Pergelangan kaki
Tekuk pergelangan kaki keatas lalu
[Link] jari kaki ke atas dan kebawah.
8. Jika mampu berdiri lakukan gerakan badan
membungkuk kemudian putar pinggang ke
samping kanan dan kiri.
Tidak dipaksakan dalam latihan, lakukan seringan
mungkin
Dokumentasi Catat hasil tindakan dengan mengecek respon

G. Analisis Tindakan
(berisi tentang dasar pemberian terapi dan manfaat pemberian tindakan)
Range of motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan
pergerakkan sendi secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot
dan tonus otot. Melakukan mobilisasi persendian dengan latihan ROM dapat
mencegah berbagai komplikasi seperti nyeri karena tekanan, kontraktur,
tromboplebitis, dekubitus sehingga mobilisasi dini penting dilakukan secara
rutin dan kontinyu. Memberikan latihan ROM secara dini dapat
meningkatkan kekuatan otot karena dapat menstimulasi motor unit sehingga
semakin banyak motor unit yang terlibat maka akan terjadi peningkatan
kekuatan otot, kerugian pasien hemiparese bila tidak segera ditangani maka
akan terjadi kecacatan yang permanen.
H. Bahaya dilakukan tindakan
(berisi tentang efek yang muncul apabila dosis tidak sesuai atau kesalahan
pemberian tindakan)
Jika tidak saling percaya dan pasien tidak kooperatif maka tindakan
pemberian range of motion (ROM) tidak akan efektif sehingga dapat
menyebabkan gangguan mobilitas tidak ada perubahan.

I. Tindakan keperawatan lain yang dilakukan


Dukungan Ambulasi (I.06171)
1. Observasi
a. Identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya
b. Identifikasi toleransi fisik melakukan ambulasi
c. Monitor frekuensi jantung dan tekanan darah sebelum memulai
ambualsi
d. Monitor kondisi umum selama melakukan ambulasi
2. Terapeutik
a. Fasilitasi aktivitas ambulasi dengan alat bantu
b. Fasilitasi melakukan mobilisasi fisik
c. Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan
ambulasi
3. Edukasi
a. Jelaskan tujuan dan prosedur ambulasi
b. Anjurkan melakukan ambulasi dini
c. Ajarkan ambulasi sederhana yang harus dilakukan

J. Hasil yang didapatkan setelah dilakukan tindakan


S :
1. Pasien mengatakan kaki bagian kiri sudah mulai bias digerakkan
tetapi tidak dengan kaki kanan karena masih terpasang oref post
OP.
O :
1. Pasien tampak sulit untuk menggerakkan ekstremitas bawah
2. Kekuatan otot pasien
Ekstremitas atas kanan: 1 dan kiri : 3
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Ajarkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan
2. Fasilitasi melakukan pergerakan
3. Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan
4. Ajarkan range of motion
K. Evaluasi diri (berisi tentang kesenjangan Langkah prosedur yang telah
dilakukan dengan SOPnya)
Prosedur dilakukan sesuai SOP

L. Daftar Pustaka/referensi
Anggriani.,dkk. (2018). Effect of Rom (Range of Motion) on The Strength of
Muscle Extremity in Non-Hemoragic Stroke Patients. Jurnal Riset Hesti
Medan vol 3 (2). Hal 64-72.
PPNI, T. P. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta:
Dewan Pengurus Pusat.
PPNI, T. P. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta:
Dewa Pengurus Pusat.

Nama Mahasiswa Nama Pembimbing Klinik


Rosa Sheila Diana Oasis Friza Rahmi Artini, [Link].,Ns
NIM NIP
P27220023316 199211032022212002
Tanda Tangan Tanda Tangan
Tanggal Tanggal

Anda mungkin juga menyukai