0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan17 halaman

Kepemimpinan Transformasional TNI 4.0

Dokumen ini membahas optimalisasi peran komandan satuan guna melaksanakan pembinaan teritorial (Binter) di era Revolusi Industri 4.0 dalam rangka mewujudkan kemanunggalan TNI dan rakyat. Dokumen ini menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan tradisional tidak lagi relevan dengan perkembangan teknologi, sehingga diperlukan kepemimpinan transformasional dan digital. Dokumen ini juga membahas perspektif, karakterist

Diunggah oleh

septi rahmawati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan17 halaman

Kepemimpinan Transformasional TNI 4.0

Dokumen ini membahas optimalisasi peran komandan satuan guna melaksanakan pembinaan teritorial (Binter) di era Revolusi Industri 4.0 dalam rangka mewujudkan kemanunggalan TNI dan rakyat. Dokumen ini menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan tradisional tidak lagi relevan dengan perkembangan teknologi, sehingga diperlukan kepemimpinan transformasional dan digital. Dokumen ini juga membahas perspektif, karakterist

Diunggah oleh

septi rahmawati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

OPTIMALISASI PERAN KOMANDAN SATUAN GUNA PENYELENGGARAAN BINTER

DENGAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN DIGITAL DALAM RANGKA


MEWUJUDKAN KEMANUNGGALAN TNI-RAKYAT DI ERA REVOLUSI 4.0
DAFTAR ISI

COVER

DAFTAR ISI

BAB I Pendahuluan …………………………………………………….. 1

BAB II Pembahasan

- Perspektif Kepemimpinan Militer Transformasional dan Digital …… 5

- Karakteristik Kepemimpinan Militer Transformasional dan Digital … 8

- Parameter Keberhasilan Kepemimpinan Militer Transformasional

dan Digital ……………………………………………………………………… 11

BAB III Penutup

- Kesimpulan ………………………………………………………. 11

- Saran ………………………………………………………. 12

ALUR PIKIR ………………………………………………………. i

DAFTAR PUSTAKA .………………………………………………………. ii


OPTIMALISASI PERAN KOMANDAN KODIM GUNA PENYELENGGARAAN BINTER
DENGAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN DIGITAL DALAM RANGKA
MEWUJUDKAN KEMANUNGGALAN TNI-RAKYAT DI ERA REVOLUSI 4.0

Pendahuluan

Kedekatan dan kemanunggalan Tentara Nasional Indonesia (TNI)dengan rakyat


menjadi modal utama dalam pembangunan inti kekuatan pertahanan negara yang bersifat
semesta. TNI sebagai tentara profesional adalah tentara yang terlatih, terdidik, dan
dilengkapi secara baik dan dijamin kesejahteraannya oleh negara serta melaksanakan
kebijakan politik negara (well trained and well equiped). Organisasi TNI Angkatan Darat
memiliki tanggung jawab dalam menyiapkan dan membina kekuatan tempur darat untuk
kepentingan nasional aspek darat. Melaksanakan tugas TNI matra darat di bidang
pertahanan, menjaga keamanan wilayah perbatasan darat dengan negara lain,
melaksanakan tugas TNI dalam membangun dan mengembangkan kekuatan matra darat
dan melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan di darat. 1 Menyimak amanat
Panglima Besar Jenderal Soedirman pada tahun 1946 dengan hal fundamental “Tentara”
dan “Masyarakat” seperti tidak bisa terpisahkan karena antara satu dengan lainnya saling
berkaitan layaknya jiwa dan raga. Jati Diri TNI selain sebagai tentara profesional tetapi
juga sebagai tentara pejuang, tentara nasional dan tentara rakyat. TNI dalam kiprah
pengabdiannya senantiasa mengutamakan kepentingan rakyat, sesuai slogan “Terbaik
Bagi Rakyat, Terbaik Bagi TNI” atau “Bersama Rakyat TNI Kuat, Bersama TNI Rakyat
Sejahtera” dengan terus berupaya mewujudkan Kemanunggalan TNI-Rakyat sebagai
senjata ampuh yang dahsyat dalam Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta). Melalui
Binter dapat diwujudkan Kemanunggalan TNI-Rakyat yang tidak bisa dilakukan secara
“instan” namun harus “konstan” dipersiapkan secara dini agar senantiasa terpelihara
semangat bela negara, kesiapan Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Alam dan Buatan
maupun komponen lainnya yang tercakup dalam bagian Sishanta. Adanya
kemanunggalan TNI-Rakyat akan bermuara pada ketahanan wilayah yang merupakan
suatu kondisi dinamik masyarakat dimana suatu wilayah dalam segala aspek
kehidupannya yang terpadu meliputi keuletan dan ketangguhan masyarakat dalam
menangkal segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik langsung maupun
1
Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 No. 177, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia No. 4439,
Penjelasan Pasal 8
2

tidak langsung untuk menjamin identitas, integritas kelangsungan hidup untuk mendapat
ketahanan wilayah. Perlu era Revolusi Industri 4.0 atau yang sering disebut dengan cyber
physical system merupakan revolusi yang menitikberatkan pada otomatisasi serta
kolaborasi antara teknologi siber, dengan ciri utama yang ada adalah penggabungan
antara informasi serta teknologi komunikasi ke dalam bidang industri. 2 Revolusi ini,
mengubah banyak hal di berbagai sektor. Dimana yang pada awalnya membutuhkan
banyak pekerja untuk menjalankan operasionalnya, sekarang digantikan dengan
penggunaan mesin teknologi. Yakni sebuah transformasi komprehensif dari segala aspek
produksi yang terjadi di dunia industri melalui penggabungan antara teknologi digital serta
internet dengan industri konvensional. Hal tersebut menyebabkan dinamika lingkungan
strategis baik global, regional maupun nasional, sehingga menuntut dan mendorong
negara-negara di dunia untuk meningkatkan teknologi pertahanannya. Disamping itu, juga
menyebabkan terjadinya revolutionary in military affairs (RMA) yang berimplikasi pada
perubahan strategi perang, taktik tempur dan kepemimpinan dalam dunia militer. 3
Perubahan teknologi yang drastis dan cepat yang muncul pada era Revolusi Industri 4.0
maka memaksa militer beradaptasi lebih cepat dan berevolusi melakukan perubahan
besar. Satuan Komando Kewilayahan di Tingkat Korem adalah Komando Distrik Militer
(Kodim) yang dipimpin oleh Komandan Kodim (Dandim), dalam melaksanakan pembinaan
teritorial (Binter) di era Revolusi Industri 4.0 perlu beradaptasi secara cepat. Namun
Revolusi 4.0 belum sepenuhnya diimbangi baik kemampuan sumber daya manusia
maupun fasilitas pendukungnya, terlebih di Kodim mayoritas personelnya berusia tua,
dimana sangat berpengaruh terhadap kecepatan dalam penerimaan hal baru. Saat ini
masih ditemukan Komandan Satuan menerapkan pola kepemimpinan hierarkis dan
otoriter, tidak peduli dengan perkembangan teknologi yang ada, padahal gaya
kepemimpinan yang dilakukan sudah tidak relevan dengan kompleksitas global,
perubahan yang cepat, saling ketergantungan dan tantangan multifase. Hal tersebut
dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang memiliki tekanan tinggi, sistem kerja secara
prosedural dan kaku, serta budaya “Asal Bapak Senang”. Sehingga cenderung
berdampak negatif pada satuan, antara lain menyebabkan penurunan kinerja prajurit,
terjadinya banyak pelanggaran baik pidana maupun disiplin, munculnya arogansi militer
yang akan bersinggungan dengan masyarakat, dan kegagalan dalam pelaksanaan tugas.
Ketumpulan dalam menerapkan tolok ukur kepemimpinan militer digital menunjukkan
pendekatan yang lambat dalam lintas hierarkis, kooperatif, dan berorientasi tim yang
2
Andrew, 2022, Pengertian Revolusi Industri 4.0 : Jenis, Dampak, dan Contoh Penerapannya, diakses dari
[Link] pada tanggal 21 Mei 2023
3
Aris Sarjito, “Model Kepemimpinan Militer Digital Di Era Revolusi 4.0.”, Jurnal Manajemen Pertahanan, Vol.
5 No. 2 Desember 2019, hlm. 21
3

sering mengintegrasikan inovasi. Perilaku kepemimpinan tersebut tidak sesuai dengan


perkembangan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) yang sangat cepat. Dengan
demikian, menimbulkan kerugian baik bagi satuan TNI AD maupun prajurit. Fenomena ini
perlu adanya peningkatan kualitas pengelolaan prajurit Satkowil (Kodim) yang optimal
guna meningkatkan kredibilitas satuan di bidang informasi, komunikasi, dan teknologi
(ICT) dengan tujuan mempermudah pelaksanaan tugas-tugas di masa depan. Tidak
hanya sumber daya manusia, bahkan seluruh cara kerja dan perangkat operasi satuan
juga harus bergerak dalam rangka menjawab tantangan globalisasi. Tidak melupakan
yang terpenting adalah faktor kepemimpinan Komandan Satuan sebagai kunci
keberhasilan transformasi tersebut. Perkembangan teknologi yang begitu cepat ini
merubah gaya kepemimpinan militer tradisional menjadi kepemimpinan militer
transformasional dan digital. Apabila belum menerapkan kepemimpinan militer
transformasional dan digital maka akan sulit memiliki kemampuan untuk menginspirasi
anggotanya untuk berinovasi dan mempertahankan ide-ide membangun terutama dalam
pengembangkan kemajuan satuan yang berbasis teknologi digital, big data, dan artificial
intelligence untuk menghadapi peluang dan tantangan era Revolusi 4.0. Dengan
demikian, peran Komandan Satuan dalam penyelenggaraan Binter di era Revolusi 4.0
belum optimal.

Dari uraian latar belakang di atas, diketahui bahwa belum semua Komandan
Satuan memahami arti pentingnya perkembangan teknologi digital guna menunjang
keberhasilan tugas pokoknya sehingga menyebabkan belum optimalnya peran Dandim
dalam pelaksanaan Binter di era Revolusi 4.0, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut : Pertama, Bagaimanakah perspektif kepemimpinan transformasional
dan digital dalam pengoperasionalan organisasi guna menyelenggaraan Binter
dalam rangka mewujudkan kemanunggalan TNI & rakyat Di Era Revolusi 4.0?;
Kedua, Bagaimanakah karakteristik kepemimpinan transformasional dan digital
guna menyelenggaraan Binter dalam rangka mewujudkan kemanunggalan TNI &
rakyat Di Era Revolusi 4.0?; dan Ketiga, Bagaimanakah parameter keberhasilan
kepemimpinan transformasional dan digital guna menyelenggaraan Binter dalam
rangka mewujudkan kemanunggalan TNI & rakyat Di Era Revolusi 4.0?

Optimalisasi peran Dandim dalam melaksanakan Binter di era Revolusi 4.0


sangatlah penting, oleh sebab itu penerapan gaya kepemimpinan seorang komandan
yang relevan dengan perkembangan situasi dan kondisi perlu segera dilaksanakan,
dimana akan berhubungan dengan bagaimana prajurit menerima suatu gaya
kepemimpinan, senang atau tidak, suka atau tidak guna peningkatan kinerja dan
4

kedisiplinan, bukan malah menyebabkan moril prajurit rendah atau menghambat


pelaksanaan Binter. Berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu kiranya penulis membuat
suatu naskah tulisan yang berkaitan dengan upaya peningkatan peran Dandim dalam
Binter yang didukung dengan gaya/ model kepemimpinan yang tepat. Naskah ini ditulis
dengan judul “Optimalisasi Peran Komandan Kodim Guna Penyelenggaraan Binter di Era
Revolusi 4.0 dalam rangka Mewujudkan Kemanunggalan Tni-Rakyat dengan
Kepemimpinan Transformasional Dan Digital.”

Adapun nilai guna yang dapat diambil dari penulisan essai ini adalah dalam upaya
meningkatkan peran Komandan Satuan dalam penyelenggaraan binter di era Revolusi
Industri 4.0 dalam rangka terwujudnya keberhasilan tugas pokok dan kemanunggalan
TNI-Rakyat sehingga pada waktu yang akan datang dapat berjalan dengan optimal.
Maksud dari penyampaian penulisan ini adalah sebagai media penyaluran gagasan dan
pikiran serta memberikan gambaran tentang bagaimana mengoptimalkan peran Dandim
melalui gaya kepemimpinan yang sesuai di era Revolusi 4.0 guna penyelenggaraan binter
yang lebih baik. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis perspektif
kepemimpinan transformasional dan digital dalam pengoperasionalan organisasi guna
menyelenggaraan Binter Di Era Revolusi 4.0 dalam rangka mewujudkan kemanunggalan
TNI & rakyat, menemukan dan menganalisis karakteristik kepemimpinan transformasional
dan digital guna menyelenggaraan Binter Di Era Revolusi 4.0 dalam rangka mewujudkan
kemanunggalan TNI & rakyat, dan menganalisis parameter keberhasilan kepemimpinan
transformasional dan digital guna menyelenggaraan Binter Di Era Revolusi 4.0 dalam
rangka mewujudkan kemanunggalan TNI & rakyat. Ruang Lingkup penulisan naskah ini
terdiri dari Pendahuluan, Pembahasan, dan Penutup serta dibatasi dengan pembahasan
tentang upaya optimalisasi peran Komandan Satuan melalui Kepemimpinan militer
transformasional dan Digital dihadapkan dengan perkembangan globalisasi yang makin
pesat. Dalam penyusunan naskah ini penulis menggunakan metode empiris yang
berdasarkan pada pengalaman penulis selama penugasan di satuan komando
kewilayahan (Kodim) dan menggunakan pendekatan studi kepustakaan, dianalisis secara
deskriptif yaitu hasil penulisan ini akan diuraikan dalam bentuk kalimat yang disusun
secara sistematis, jelas, dan rinci sehingga dapat diinterpretasikan untuk memperoleh
suatu kesimpulan untuk menjawab pokok bahasan yang menjadi permasalahan penulisan
ini.

Pembahasan
5

Pada essai ini terdapat pembahasan dengan mengidentifikasi permasalahan


kemudian setelah mengidentifikasi permasalahan dan menemukannya selanjutnya
mempersempit permasalahan tersebut sampai ketingkat dapat diteliti oleh penulis.
Penyempitan permasalahan pada persoalan dilakukan dengan cara menggali lebih dalam
lagi tentang latar belakang mengapa peran Dandim belum optimal. Menurut teori Gestalt
yaitu “Mendekati persoalan berpikir dan pemecahan masalah dari pandangan bagaimana
individu menentukan dunianya. Berpikir dipandang sebagai mengorganisasikan persepsi,
yaitu proses di mana seseorang menangkap pola-pola keseluruhan dari stimuli, atau
makna dari bagian-bagian stimuli dalam pola keseluruhan dengan berbagai cara”. 4
Berpikir dengan demikian adalah sebuah proses perseptual-kognitif. Begitu juga pada
ajaran Kausalitas (Sebab-Akibat), pada teori Conditio Sine Qua Non, teori ini pertama kali
dicetuskan pada tahun 1873 oleh Von Buri, ahli hukum dari Jerman. Bahwa tiap-tiap
syarat yang menjadi penyebab suatu akibat yang tidak dapat dihilangkan (weggedacht)
dari rangkaian faktor-faktor yang menimbulkan akibat harus dianggap “causa” (akibat).5
Sesuai dengan teori sebab-akibat dan metode pemecahan persoalan, dengan kejadian
yang terjadi di atas harus dicarikan solusi dalam meningkatkan peran Dandim dalam
penyelenggaraan Binter yang menguraikan berupa pertama, Perspektif Kepemimpinan
Militer Transformasional dan Digital dalam Menyelenggaraan Binter; kedua, Karakteristik
kepemimpinan militer transformasional dan digital dalam Menyelenggaraan Binter; ketiga,
Parameter keberhasilan kepemimpinan transformasional dan digital dalam
Menyelenggaraan Binter.

Perspektif Kepemimpinan Militer Transformasional dan Digital dalam


Menyelenggaraan Binter

Pemimpin dalam sebuah organisasi memiliki peranan penting dalam mengarahkan


dan mempengaruhi para bawahannya. Tanpa adanya orang yang mengatur dan
mengarahkan suatu organisasi niscaya organisasi tersebut dapat mencapai tujuannya
sesuai dengan visi dan misinya. Oleh sebab itu, diperlukan figur seorang pemimpin untuk
dapat mengelola dan mengatur organisasi untuk mencapai tujuan-tujuannya.
Kepemimpinan adalah suatu kekuatan yang menggerakkan perjuangan atau kegiatan
seseorang menuju sukses serta yakin bahwa dalam diri setiap orang terdapat potensi
kepemimpinan, tetapi sayang banyak yang tidak menyadari. Kepemimpinan adalah suatu
proses dalam mempengaruhi orang lain agar mau atau tidak melakukan sesuatu yang
diinginkan. Ada juga yang mengatakan bahwa kepemimpinan (leadership) adalah

4
Koftka, K, 1935, Principles of Gestalt Psychology. New York: Harcourt Brace Javanivich.
5
Buri, Paul von. Hessische Biografie. Landesgeschictliches Informationssystem. Retrieved 20 November 2015.
6

hubungan interaksi antara pengikut (follower) dan pimpinan dalam mencapai tujuan
bersama.6 Model kepemimpinan militer yang sesuai diterapkan pada Era Revolusi 4.0
yakni kepemimpinan transformasional dan [Link] kepemimpinan
transformasional pertama kali dikemukakan oleh James McGregor Burns (2004).
Kepemimpinan transformasional berasal dari kata “to transform” yang berarti
mentransformasikan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk yang berbeda. 7 Misalnya
mentransformasi visi menjadi realita, potensi menjadi aktual, laten menjadi manifes dan
sebagainya. Seorang pemimpin transformasional harus mampu mentransformasikan
secara optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna
sesuai dengan target yang telah ditentukan. Selanjutnya Kepemimpinan era Revolusi 4.0
bisa disebut sebagai pemimpin digital yang tidak akan mengambil keputusan atau menjadi
pembuat keputusan eksekutif tunggal atau pembuat ide. Gagasan, keputusan dan inovasi
akan dihasilkan melalui kolaborasi terbuka dan jaringan kolaboratif. Pemimpin militer
digital adalah pengetahuan seorang pemimpin militer dan calon pemimpin militer agar
bisa mengarahkan organisasi yang mereka pimpin untuk bertransformasi ke arah digital.
Sebuah transformasi yang dapat disebut sebagai inovasi dan bukan sekedar ‘paksaan
situasi’.8 Para pemimpin militer digital bersedia mengeksplorasi bagaimana teknologi
informasi (TI) dapat digunakan untuk membantu organisasi menjadi lebih responsif
terhadap kebutuhan tugas.

Kondisi nyata peran Komandan Satuan dalam pelaksanaan Binter di era Revolusi
4.0 dirasakan belum optimal hal ini disebabkan karena 1) Komandan satuan minim
pengetahuan IT dan teknologi digital, masih banyak Komandan Satuan yang enggan
membekali diri dengan pengetahuan teknologi (gagap teknologi), memiliki anggapan
bahwa belajar teknologi merupakan suatu hal yang rumit atau memang karena malas, hal
tersebut akan berdampak pada sulitnya menyesuaikan diri pada pesatnya perkembangan
teknologi sehingga justru menghambat tercapainya keberhasilan tugas pokok; 2)
Komandan Satuan masih menganggap bahwa teknologi digital kurang penting,
dimana para Komandan satuan dalam kepemimpinannya masih sangat menggantungkan
kepada anggotanya dalam menyelesaikan tugas dan tidak mendorong adanya publikasi
satuan ke masyarakat, dengan kata lain terima bersih/terima beres.

6
Bambang Agung Prasetyo, “Pengaruh Kekuatan kepemimpinan Transformasional dan Budaya Organisasi
terhadap Kinerja Prajurit Batalyon Perhubungan”, Jurnal Prodi Strategi dan Kampanye Militer, Volume 3
Nomor 2, Agustus 2017, hlm. 34
7
Shalahudin, “Karakteristik Kepemimpinan Transformasional” diakses dari
[Link]
pada tanggal 21 Mei 2023
8
Aris Sarjito, [Link], hlm. 56
7

Peran Komandan Satuan dalam pelaksanaan Binter di era Revolusi 4.0 dinilai
optimal apabila 1) Komandan Satuan memiliki pengetahuan IT dan teknologi digital yang
mumpuni, apabila Komandan Satuan menguasai teknologi digital dan semakin tinggi
pemahamannya maka berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Bukan hanya sekedar
memanfaatkan teknologi, seperti email dan software untuk menjalankan operasional
satuan. Lebih penting dari itu, mampu memanfaatkan data untuk menggerakkan satuan
ke arah yang lebih baik. Pemimpin memiliki pendekatan yang sangat berbeda dengan
pemimpin tradisional. Dalam mengambil keputusan, seorang digital leader tidak hanya
bertumpu pada masukan dari orang-orang yang dipercaya. Mereka juga menggunakan
data untuk menentukan keputusan terbaik untuk perusahaan. Disamping itu,juga harus
mampu meningkatkan pemahaman teknologi informasi kepada para anggota sehingga
dapat meningkatkan kualitas kinerja; 2) Komandan Satuan harus cepat beradaptasi dan
memiliki wawasan terbuka bahwa perkembangan teknologi itu penting, dimana Komandan
Satuan harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Namun mengikuti perkembangan
zaman bukan berarti hanya sekedar menjadi pengikut tetapi harus memiliki kemampuan
untuk memimpin bawahannya, membawa pengaruh positif dalam meningkatkan
kemampuan anggotanya. Kepemimpinan transformasional akan menciptakan Komandan
Satuan yang konsisten, kredibel, memiliki visi misi yang jelas/visioner, kreatif dan inovatif.

Adanya Komandan Satuan yang masih minim pengetahuan IT dan teknologi digital
maka akan berpengaruh pada : 1) Tidak mau keluar dari zona nyamannya, keadaan
selama ini yang dihadapi dirasa sudah cukup dan tidak perlu adanya perubahan, artinya
Komandan Satuan enggan menerima perubahan baru; 2) anggota menjadi kurang kreatif
dan inovatif, bahwa terbiasa dengan mental menerima sesuatu apa adanya dan hanya
melaksanakan sesuatu sesuai perintah; 3) baik satuan dan anggota yang dipimpin
menjadi kurang responsif dan adaptif terhadap perkembangan situasi dan kondisi yang
terjadi; 4) tidak akan menciptakan efektivitas dan efisien kinerja. Sedangkan masih
ditemukannya Komandan Satuan yang menganggap bahwa teknologi tidak penting,
mengakibatkan 1) Kemampuan komandan satuan stagnasi / tidak berkembang; 2) kinerja
anggota menjadi menurun karena menggunakan pola lama; 3) akan diremehkan atau
dipandang sebelah mata oleh komunitas yang melek digital.

Optimalisasi peran Komandan Satuan dalam pelaksanaan Binter di era Digital


masih mengalami kendala yakni adanya Komandan Satuan yang yang masih
mempertahankan gaya tradisional dengan model kepemimpinan hierarki dan otoriter yang
dapat menyebabkan konflik, tidak mengahargai anggota, bukan pendengar yang baik,
mengendalikan pesanan, merencanakan sumber daya, dan mengevaluasi hasil
8

berorientasi pada aturan, zona kenyamanan mereka sendiri dengan mengenyampingkan


anggota, cenderung memberikan beban kerja kepada anggota secara berlebihan demi
tercapainya kepentingannya, update terhadap informasi lambat sehingga akan sulit dalam
mencegah dan menanggulangi kejadian yang menonjol di masyarakat. Selain itu
padatnya kegiatan kewilayahan yang dibebankan dan harus dilaksanakan sehingga
Komandan Satuan hanya memiliki sedikit waktu untuk belajar dan membekali diri dengan
pengetahuan dan keterampilan teknologi. Fenomena tersebut, perlu adanya upaya guna
meningkatkan peran Komandan Satuan antara lain perlunya menerapkan perilaku
kepemimpinan militer transformasional dan digital di era Revolusi Industri 4.0 terutama
untuk melaksanakan fungsi utama TNI AD yakni Binter merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh prajurit TNI AD dalam interaksinya dengan masyarakat. Kepemimpinan
transformasional ini sebenarnya telah selaras dengan model kepemimpinan militer yakni
kepemimpinan lapangan bahwa seorang pemimpin tidak hanya duduk di belakang meja
tetapi harus mampu bekerja bersama di lapangan dan mendorong bawahannya untuk
terus maju berkembang. Kepemimpinan lapangan tersebut diadopsi dari Jenderal Besar
Panglima Soedirman, yaitu (1) Pemimpin sebagai bapak, (2) Pemimpin sebagai pelatih,
(3) Pemimpin sebagai kawan, (4) Pemimpin sebagai guru, (5) Pemimpin sebagai
komandan. Kepemimpinan yang dikembangkan TNI AD berarti melihat kepemimpinan
sebagai satu kesatuan yang terintegrasi yang terdiri dari unsur manusianya, baik
pemimpin maupun yang dipimpin, perangkat lunak yang mengatur, teori, gaya, watak dan
berbagai pengetahuan pendukung yang menyertai serta lingkungan yang mempengaruhi.
Kekuatan pemimpin adalah kejujuran, ketauladanan dan ketegasan. Kemampuan
pemimpin adalah manajerial dan controling, perpaduan antara kekuatan dan kemampuan
pemimpin adalah pengendalian diri.9

Karakteristik Kepemimpinan Militer Transformasional dan Digital dalam


Menyelenggarakan Binter

Perkembangan era Revolusi 4.0 menjadi tantangan tersendiri, sebagaimana hal


tersebut para pengambil kebijakan mau tidak mau harus mampu menyiapkan diri dalam
menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Tantangan yang dihadapi antara lain
masalah keamanan teknologi informasi, keandalan dan stabilitas peralatan, kurangnya
keterampilan yang memadai, keengganan untuk berubah oleh para pemangku
kepentingan. Oleh karena itu, kompleksitas ini harus dibarengi dengan adanya
kemampuan yang memadai bagi seluruh komponen masyarakat. Komandan sebagai

9
Naskah Departemen tentang Kepemimpinan, 2012, Pemimpin TNI AD Berkarakter Sapta Marga yang
Bercirikan Kearifan Indonesia Guna Menjaga Keutuhan NKRI, Seskoad, hlm. 8
9

agen perubahan memiliki tujuan, organisasi membutuhkan kualitas pemimpin dan


manajemen.

Adapun masih ditemukan karakteristik Komandan satuan saat ini adalah 1) Kurang
adaptif dengan perkembangan teknologi, masih menggunakan atau menerapkan metode
tradisional; 2) Kurang inovatif dan kreatif, bahwa para Komandan Satuan kurang bisa
menerima perubahan yang terjadi di era digital. Sehingga diharapkan menerapkan
kepemimpinan transformasional dan digital. Menurut Avolio dkk (Stone et al, 2004) bahwa
karakteristik kepemimpinan transformasional adalah sebagai berikut:10 1) Idealized
influence (or charismatic influence) mempunyai makna bahwa seorang pemimpin harus
kharisma yang mampu “menyihir” bawahan untuk bereaksi mengikuti pimpinan,
ditunjukkan melalui perilaku pemahaman terhadap visi dan misi organisasi, mempunyai
pendirian yang kukuh, komitmen dan konsisten terhadap setiap keputusan yang telah
diambil, dan menghargai bawahan. Sehingga menjadi role model yang dikagumi, dihargai,
dan diikuti oleh bawahannya, 2) Inspirational motivation berarti karakter seorang
pemimpin yang mampu menerapkan standar yang [Link] akan tetapi sekaligus mampu
mendorong bawahan untuk mencapai standar tersebut. Mampu membangkitkan
optimisme dan antusiasme yang tinggi dari para bawahan, senantiasa memberikan
inspirasi dan memotivasi bawahannya, 3) Intellectual stimulation karakter seorang
pemimpin yang mampu mendorong bawahannya untuk menyelesaikan permasalahan
dengan cermat dan rasional, mampu mendorong (menstimulasi) bawahan untuk selalu
kreatif dan inovatif, 4) Individualized consideration berarti karakter seorang pemimpin
yang mampu memahami perbedaan individual para bawahannya, mau dan mampu untuk
mendengar aspirasi, mendidik, dan melatih bawahan, mampu memahami dan
menghargai bawahan berdasarkan kebutuhan bawahan dan memperhatikan keinginan
berprestasi dan berkembang para bawahan. Sedangkan menurut Christina Boesenberg,
seorang konsultan kepemimpinan pada Global Leadership Consultants Oxford Leadership
menjelaskan bahwa terdapat tujuh karakteristik kepemimpinan militer digital, antara lain:
1) tanggung jawab, para pemimpin bertanggung jawab membimbing anggotanya saat
menyelesaikan tugas, pemimpin militer digital belajar bagaimana mendistribusikan tugas-
tugas sesuai dengan situasi dan kompetensi teamwork, di mana kemampuan pemimpin
dengan anggotanya secara terus menerus dihubungkan; 2) hasil, bahwa para pemimpin
militer digital mengendalikan proses, mengevaluasi tugas dan hasil bersama-sama
dengan anggota tim, dan menggunakan sumber daya sesuai dengan potensi dan

10
Bass, B.M. & Avolio, B.J, “The Implication of Transactional and Transformational Leadership”
Journal of European Insdustrial Training, 2004, hal 47
10

kompetensi (lintas fungsional dan lintas hierarki), hasil praktis dihasilkan dengan
mengintegrasikan umpan balik yang konstan antara pemangku kepentingan internal dan
eksternal; 3) distribusi informasi bahwa kepemimpinan distribusi adalah praktik yang
menyebarkan informasi kepemimpinan ke sejumlah orang yang bekerja secara kooperatif
dan saling tergantung untuk mencapai tujuan kelompok mereka. Tidak seperti model
kepemimpinan heroik yang mengandalkan kemampuan satu orang, kepemimpinan yang
terdistribusi mendorong semua anggota untuk menyumbangkan pengetahuan dan
keahlian mereka; 4) tujuan dan penilaian Penilaian kinerja anggota secara umum
memberikan berbagai manfaat bagi kedua pihak yaitu organisasi maupun anggota.; 5)
kesalahan dan konflik bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna, selalu ada ruang untuk
belajar dan tumbuh, dan untuk membantu anggota melakukan hal yang baik bersama-
sama; 6) perubahan, dan inovasi bahwa Seorang pemimpin militer digital tahu bahwa
inovasi didasarkan pada fokus tim pada tujuan bersama untuk memanfaatkan sebaik
mungkin kemampuan masing-masing individu. Inovasi bisa dipelajari, ini dibantu dengan
mengubah struktur lama melalui penggunaan tim multidisiplin, lingkungan kerja yang
fleksibel, dan proses kreatif.11

Kendala dalam membentuk karakter Kepemimpinan yang transformasional dan


digital yakni kurangnya memanagerial Komandan Satuan antara lain 1) Kurang
memahami tujuan dan sasaran yang akan dicapai; 2) Takut berbuat salah, banyak orang
yang takut salah. Salah adalah kegagalan yang harus dijauhi; 3) Takut dikritik, bahwa
takut dikritik, diejek, dicemooh, atau ditolak adalah hal hajar yang ada dalam setiap
manusia. Hal ini dipicu oleh keinginan untuk disukai dan disetujui oleh orang lain. Namun
berbahaya untuk pengembangan kemampuan berpikir kreatif; 4) Homeostasis, yakni
keinginan bawah sadar untuk tetap konsisten dengan apa yang telah dilakukan atau
katakan di masa lalu; 5) Tidak berpikir positif, menjadi orang yang pasif dan menunggu
instruksi membuat pikiran kita tidak terangsang untuk ide-ide dan informasi baru.
Membuat pikiran kita kehilangan vitalitas dan energinya, seperti otot yang tidak dilatih; 6)
Selalu merasionalkan keadaan, Dengan terus merasionalisasi keputusan yang diambil,
kita tidak dapat belajar untuk meningkatkan kinerja.

Hal-hal yang harus dilakukan dalam rangka membentuk Karakter kepemimpinan


militer transformasional yaitu menyadari akan pentingnya pengetahuan teknologi, mau
menerima dan membuka diri terutama pada perubahan. Sehingga kepemimpinan militer
transformasional di era Revolusi Industri 4.0 sangat dibutuhkan dalam rangka

11
Aris Sarjito, [Link], hlm.57
11

mewujudkan keberhasilan tugas yang semakin tinggi tuntutan ke depan dan menciptakan
citra positif satuan TNI AD di mata masyarakat .

Parameter Keberhasilan Kepemimpinan Militer Transformasional dan Digital Guna


Menyelenggaraan Binter

Pada era Revolusi 4.0 telah menyediakan kesempatan bagi TNI untuk membenahi
dan menata diri serta menambah bobot intelektual bagi prajuritnya. Terutama bahwa
reformasi ini harus memberikan kontribusi dalam mengembangkan civil society dan
demokratisasi, tanpa harus merubah jati diri TNI. Gaya Kepemimpinan Militer
Transformasional dan Digital adalah gaya kepemimpinan modern yang cocok dengan
perkembangan zaman saat ini. Parameter keberhasilan dengan menerapkan model
kepemimpinan tersebut antara lain : 1) Bisa memotivasi anggota, pemimpin akan menjadi
role model atau teladan bagi para anggota. Hal ini tentu akan membuat anggota merasa
termotivasi dan berkembang sesuai dengan panutannya. Sehingga bisa meningkatkan
produktivitas anggota dan memajukan satuan; 2) Tercapai situasi kondusif, gaya
kepemimpinan yang menyukai keakraban dan deep connection. Sehingga antara anggota
dengan atasan saling menghargai. Hal ini tentunya akan membuat komunikasi terjalin
dengan baik dan dapat bekerja secara efektif dan efisien; 3) Banyaknya inovasi
bermunculan, pemimpin orang yang tidak kaku dan selalu ingin melakukan inovasi.
Pemimpin tersebut tidak takut untuk mengutarakan pendapatnya yang dirasa bisa
membantu untuk memajukan dan mengembangkan satuan; 4) Terbangunnya karakter
humanis dan tidak arogan, pemimpin yang sopan akan menjadi panutan dan tauladan
bagi anggota sehingga meningkatkan loyalitas; 5) Maksimal dalam pemanfaatan teknologi
dalam mendukung keberhasilan satuan; 6) Permasalahan dapat terpecahkan dengan
solusi yang tuntas, seorang pemimpin yang berwawasan luas dan dibekali kemampuan IT
akan mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi anggota; 7)
Menurunnya tingkat pelanggaran prajurit di Satuan, karena adanya evaluasi dan kontrol
yang dilakukan seorang Pimpinan kepada bawahan secara rutin dan kontinyu. Dengan
demikian, deteksi maupun cegah dini adanya penyimpangan dan pelanggaran prajurit
dapat dilakukan dengan baik. Terlebih dengan didukung pemanfaatan teknologi modern,
informasi akan diperoleh dengan cepat.

Penutup

Dari tulisan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa : 1) Konsep kepemimpinan


yang sesuai untuk diterapkan di organisasi militer pada era Revolusi 4.0 adalah gaya
kepemimpinan militer transformasional dan digital karena perilaku kepemimpinan militer
12

transformasional dan digital di era Revolusi Industri 4.0 yang penuh inovasi ini sangat
diperlukan terutama untuk melaksanakan fungsi utama TNI AD yakni Binter merupakan
kegiatan yang dilakukan oleh prajurit TNI AD dalam interaksinya dengan masyarakat,
selaras juga dengan karakteristik model kepemimpinan Panglima besar Soedirman yaitu
pemimpin sebagai bapak, pelatih, guru, kawan dan komandan; 2) Karakter kepemimpinan
militer transformasional dalam yaitu dealized influence (pengaruh ideal), inspirational
motivation (motivasi inspirasi), intellectual stimulation (stimulasi intelektual), dan
individuallized cosideratition (konsiderasi individu), sedangkan karakteristik kepemimpinan
militer digital, antara lain: tanggungjawab, hasil, distribusi informasi, tujuan dan penilaian,
kesalahan dan konflik, perubahan, dan inovasi; 3) Parameter keberhasilan kepemimpinan
transformasional dalam penyelenggaraan binter yakni terciptanya kondisi satuan yang
ideal dalam rangka melaksanakan tugas pokok.

Saran Penulis dalam rangka optimalisasi peran komandan kodim guna


penyelenggaraan binter di era revolusi 4.0 dalam rangka mewujudkan kemanunggalan
tni-rakyat dengan kepemimpinan transformasional dan digital maka 1) Diharapkan adanya
kesadaran menerima perubahan dan mau mengembangkan diri supaya dapat
menyesuaikan dengan perkembangan teknologi; 2) Sebaiknya model kepemimpinan pada
organisasi militer dikembangkan lebih lanjut dan lebih terbuka guna memberi masukan
dan kebijakan dalam penentuan keputusan; 3) Guna mencapai keberhasilan tugas pokok
pada era Revolusi 4.0 dapatnya dipenuhinya alat peralatan yang memadai untuk
menunjang kinerja dihadapkan semakin cepat kemajuan teknologi.
Demikianlah tulisan tentang Optimalisasi Peran Komandan Kodim Guna
Penyelenggaraan Binter dengan Kepemimpinan Transformasional dan Digital dalam
rangka Mewujudkan Kemanunggalan Tni-Rakyat di Era Revolusi 4.0 dibuat, dengan
harapan dapat memberikan gambaran dan masukan yang berguna bagi Pimpinan TNI AD
dalam menentukan kebijakan selanjutnya.
i

POLA PIKIR

OPTIMALISASI PERAN KOMANDAN KODIM GUNA PENYELENGGARAAN BINTER DENGAN KEPEMIMPINAN


TRANSFORMASIONAL DAN DIGITAL DALAM RANGKA MEWUJUDKAN KEMANUNGGALAN TNI-RAKYAT DI ERA REVOLUSI 4.0

Instrumental Input
- UU No 34 Th 2004 ttg TNI
- Doktrin-doktrin TNI
Bagaimanakah - Bujuk ttg Binter
perspektif - Hanjar ttg Binter
kepemimpinan
transformasional dan
digital ?
Kondisi Peran Bagaimanakah Kondisi Kondisi
Dandim saat karakteristik Pembinaan PembinaanTercapainya
ini kepemimpinan Teritorial TeritorialTugas Pokok
transformasional dan Saat Ini Meningkat
digital ?

Bagaimana parameter
keberhasilan
Environmental Input
kepemimpinan
transformasinal dan Kendala Kelemahan
digital? - Minimnya - Tidak mau keluar
pengetahuan IT/ dari zona nyaman
teknologi digital - Kurang adaptif
- Pengetahuan IT/ dan responsif
teknologi digital - Kurang inovasi
dianggap kurang dan kreatif
penting
ii

DAFTAR PUSTAKA

Buku, Jurnal, dan Peraturan :

B.M., Bass, & Avolio, B.J, “The Implication of Transactional and Transformational
Leadership” Journal of European Insdustrial Training, 2004
Buri, Paul von. Hessische Biografie. Landesgeschictliches Informationssystem. Retrieved
20 November 2015.
Jervis, Robert. 1978. Cooperation Under the Security Dilemma. United Kingdom : Priston
University Press.
Koftka, K. (1935). Principles of Gestalt Psychology. New York: Harcourt Brace Javanivich.
Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia No. 34 Tahun 2004 tentang TNI,
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No. 177, Tambahan lembaran
Negara Republik Indonesia No. 4439, Penjelasan Pasal 8
Naskah Departemen tentang Kepemimpinan, 2012, Pemimpin TNI AD Berkarakter Sapta
Marga yang Bercirikan Kearifan Indonesia Guna Menjaga Keutuhan NKRI,
Seskoad
Prasetyo, Bambang Agung, “Pengaruh Kekuatan kepemimpinan Transformasional dan
Budaya Organisasi terhadap Kinerja Prajurit Batalyon Perhubungan”, Jurnal Prodi
Strategi dan Kampanye Militer, Volume 3 Nomor 2, Agustus 2017
Sarjito, Aris, “Model Kepemimpinan Militer Digital Di Era Revolusi 4.0.”, Jurnal Manajemen
Pertahanan, Vol. 5 No. 2 Desember 2019
Siswanto, Dwi Joko dan Ahmad Gani, 2020, Transformasional Military Leadership di Era
Revolusi Industri 4.0, Penerbit Lakeisha, Klaten
Suteja, 2020, “Paradigma Binter Sebagai Fungsi Utama TNI AD”, Artikel TNI AD

Internet :
Andrew, 2022, Pengertian Revolusi Industri 4.0 : Jenis, Dampak, dan Contoh
Penerapannya, diakses dari [Link]
4-0/ pada tanggal 21 Mei 2023
Shalahudin, “Karakteristik Kepemimpinan Transformasional” diakses dari
[Link]
[Link] pada tanggal 21 Mei 2023
2

Anda mungkin juga menyukai