Kepemimpinan Transformasional TNI 4.0
Kepemimpinan Transformasional TNI 4.0
COVER
DAFTAR ISI
BAB II Pembahasan
- Kesimpulan ………………………………………………………. 11
- Saran ………………………………………………………. 12
Pendahuluan
tidak langsung untuk menjamin identitas, integritas kelangsungan hidup untuk mendapat
ketahanan wilayah. Perlu era Revolusi Industri 4.0 atau yang sering disebut dengan cyber
physical system merupakan revolusi yang menitikberatkan pada otomatisasi serta
kolaborasi antara teknologi siber, dengan ciri utama yang ada adalah penggabungan
antara informasi serta teknologi komunikasi ke dalam bidang industri. 2 Revolusi ini,
mengubah banyak hal di berbagai sektor. Dimana yang pada awalnya membutuhkan
banyak pekerja untuk menjalankan operasionalnya, sekarang digantikan dengan
penggunaan mesin teknologi. Yakni sebuah transformasi komprehensif dari segala aspek
produksi yang terjadi di dunia industri melalui penggabungan antara teknologi digital serta
internet dengan industri konvensional. Hal tersebut menyebabkan dinamika lingkungan
strategis baik global, regional maupun nasional, sehingga menuntut dan mendorong
negara-negara di dunia untuk meningkatkan teknologi pertahanannya. Disamping itu, juga
menyebabkan terjadinya revolutionary in military affairs (RMA) yang berimplikasi pada
perubahan strategi perang, taktik tempur dan kepemimpinan dalam dunia militer. 3
Perubahan teknologi yang drastis dan cepat yang muncul pada era Revolusi Industri 4.0
maka memaksa militer beradaptasi lebih cepat dan berevolusi melakukan perubahan
besar. Satuan Komando Kewilayahan di Tingkat Korem adalah Komando Distrik Militer
(Kodim) yang dipimpin oleh Komandan Kodim (Dandim), dalam melaksanakan pembinaan
teritorial (Binter) di era Revolusi Industri 4.0 perlu beradaptasi secara cepat. Namun
Revolusi 4.0 belum sepenuhnya diimbangi baik kemampuan sumber daya manusia
maupun fasilitas pendukungnya, terlebih di Kodim mayoritas personelnya berusia tua,
dimana sangat berpengaruh terhadap kecepatan dalam penerimaan hal baru. Saat ini
masih ditemukan Komandan Satuan menerapkan pola kepemimpinan hierarkis dan
otoriter, tidak peduli dengan perkembangan teknologi yang ada, padahal gaya
kepemimpinan yang dilakukan sudah tidak relevan dengan kompleksitas global,
perubahan yang cepat, saling ketergantungan dan tantangan multifase. Hal tersebut
dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang memiliki tekanan tinggi, sistem kerja secara
prosedural dan kaku, serta budaya “Asal Bapak Senang”. Sehingga cenderung
berdampak negatif pada satuan, antara lain menyebabkan penurunan kinerja prajurit,
terjadinya banyak pelanggaran baik pidana maupun disiplin, munculnya arogansi militer
yang akan bersinggungan dengan masyarakat, dan kegagalan dalam pelaksanaan tugas.
Ketumpulan dalam menerapkan tolok ukur kepemimpinan militer digital menunjukkan
pendekatan yang lambat dalam lintas hierarkis, kooperatif, dan berorientasi tim yang
2
Andrew, 2022, Pengertian Revolusi Industri 4.0 : Jenis, Dampak, dan Contoh Penerapannya, diakses dari
[Link] pada tanggal 21 Mei 2023
3
Aris Sarjito, “Model Kepemimpinan Militer Digital Di Era Revolusi 4.0.”, Jurnal Manajemen Pertahanan, Vol.
5 No. 2 Desember 2019, hlm. 21
3
Dari uraian latar belakang di atas, diketahui bahwa belum semua Komandan
Satuan memahami arti pentingnya perkembangan teknologi digital guna menunjang
keberhasilan tugas pokoknya sehingga menyebabkan belum optimalnya peran Dandim
dalam pelaksanaan Binter di era Revolusi 4.0, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut : Pertama, Bagaimanakah perspektif kepemimpinan transformasional
dan digital dalam pengoperasionalan organisasi guna menyelenggaraan Binter
dalam rangka mewujudkan kemanunggalan TNI & rakyat Di Era Revolusi 4.0?;
Kedua, Bagaimanakah karakteristik kepemimpinan transformasional dan digital
guna menyelenggaraan Binter dalam rangka mewujudkan kemanunggalan TNI &
rakyat Di Era Revolusi 4.0?; dan Ketiga, Bagaimanakah parameter keberhasilan
kepemimpinan transformasional dan digital guna menyelenggaraan Binter dalam
rangka mewujudkan kemanunggalan TNI & rakyat Di Era Revolusi 4.0?
Adapun nilai guna yang dapat diambil dari penulisan essai ini adalah dalam upaya
meningkatkan peran Komandan Satuan dalam penyelenggaraan binter di era Revolusi
Industri 4.0 dalam rangka terwujudnya keberhasilan tugas pokok dan kemanunggalan
TNI-Rakyat sehingga pada waktu yang akan datang dapat berjalan dengan optimal.
Maksud dari penyampaian penulisan ini adalah sebagai media penyaluran gagasan dan
pikiran serta memberikan gambaran tentang bagaimana mengoptimalkan peran Dandim
melalui gaya kepemimpinan yang sesuai di era Revolusi 4.0 guna penyelenggaraan binter
yang lebih baik. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis perspektif
kepemimpinan transformasional dan digital dalam pengoperasionalan organisasi guna
menyelenggaraan Binter Di Era Revolusi 4.0 dalam rangka mewujudkan kemanunggalan
TNI & rakyat, menemukan dan menganalisis karakteristik kepemimpinan transformasional
dan digital guna menyelenggaraan Binter Di Era Revolusi 4.0 dalam rangka mewujudkan
kemanunggalan TNI & rakyat, dan menganalisis parameter keberhasilan kepemimpinan
transformasional dan digital guna menyelenggaraan Binter Di Era Revolusi 4.0 dalam
rangka mewujudkan kemanunggalan TNI & rakyat. Ruang Lingkup penulisan naskah ini
terdiri dari Pendahuluan, Pembahasan, dan Penutup serta dibatasi dengan pembahasan
tentang upaya optimalisasi peran Komandan Satuan melalui Kepemimpinan militer
transformasional dan Digital dihadapkan dengan perkembangan globalisasi yang makin
pesat. Dalam penyusunan naskah ini penulis menggunakan metode empiris yang
berdasarkan pada pengalaman penulis selama penugasan di satuan komando
kewilayahan (Kodim) dan menggunakan pendekatan studi kepustakaan, dianalisis secara
deskriptif yaitu hasil penulisan ini akan diuraikan dalam bentuk kalimat yang disusun
secara sistematis, jelas, dan rinci sehingga dapat diinterpretasikan untuk memperoleh
suatu kesimpulan untuk menjawab pokok bahasan yang menjadi permasalahan penulisan
ini.
Pembahasan
5
4
Koftka, K, 1935, Principles of Gestalt Psychology. New York: Harcourt Brace Javanivich.
5
Buri, Paul von. Hessische Biografie. Landesgeschictliches Informationssystem. Retrieved 20 November 2015.
6
hubungan interaksi antara pengikut (follower) dan pimpinan dalam mencapai tujuan
bersama.6 Model kepemimpinan militer yang sesuai diterapkan pada Era Revolusi 4.0
yakni kepemimpinan transformasional dan [Link] kepemimpinan
transformasional pertama kali dikemukakan oleh James McGregor Burns (2004).
Kepemimpinan transformasional berasal dari kata “to transform” yang berarti
mentransformasikan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk yang berbeda. 7 Misalnya
mentransformasi visi menjadi realita, potensi menjadi aktual, laten menjadi manifes dan
sebagainya. Seorang pemimpin transformasional harus mampu mentransformasikan
secara optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna
sesuai dengan target yang telah ditentukan. Selanjutnya Kepemimpinan era Revolusi 4.0
bisa disebut sebagai pemimpin digital yang tidak akan mengambil keputusan atau menjadi
pembuat keputusan eksekutif tunggal atau pembuat ide. Gagasan, keputusan dan inovasi
akan dihasilkan melalui kolaborasi terbuka dan jaringan kolaboratif. Pemimpin militer
digital adalah pengetahuan seorang pemimpin militer dan calon pemimpin militer agar
bisa mengarahkan organisasi yang mereka pimpin untuk bertransformasi ke arah digital.
Sebuah transformasi yang dapat disebut sebagai inovasi dan bukan sekedar ‘paksaan
situasi’.8 Para pemimpin militer digital bersedia mengeksplorasi bagaimana teknologi
informasi (TI) dapat digunakan untuk membantu organisasi menjadi lebih responsif
terhadap kebutuhan tugas.
Kondisi nyata peran Komandan Satuan dalam pelaksanaan Binter di era Revolusi
4.0 dirasakan belum optimal hal ini disebabkan karena 1) Komandan satuan minim
pengetahuan IT dan teknologi digital, masih banyak Komandan Satuan yang enggan
membekali diri dengan pengetahuan teknologi (gagap teknologi), memiliki anggapan
bahwa belajar teknologi merupakan suatu hal yang rumit atau memang karena malas, hal
tersebut akan berdampak pada sulitnya menyesuaikan diri pada pesatnya perkembangan
teknologi sehingga justru menghambat tercapainya keberhasilan tugas pokok; 2)
Komandan Satuan masih menganggap bahwa teknologi digital kurang penting,
dimana para Komandan satuan dalam kepemimpinannya masih sangat menggantungkan
kepada anggotanya dalam menyelesaikan tugas dan tidak mendorong adanya publikasi
satuan ke masyarakat, dengan kata lain terima bersih/terima beres.
6
Bambang Agung Prasetyo, “Pengaruh Kekuatan kepemimpinan Transformasional dan Budaya Organisasi
terhadap Kinerja Prajurit Batalyon Perhubungan”, Jurnal Prodi Strategi dan Kampanye Militer, Volume 3
Nomor 2, Agustus 2017, hlm. 34
7
Shalahudin, “Karakteristik Kepemimpinan Transformasional” diakses dari
[Link]
pada tanggal 21 Mei 2023
8
Aris Sarjito, [Link], hlm. 56
7
Peran Komandan Satuan dalam pelaksanaan Binter di era Revolusi 4.0 dinilai
optimal apabila 1) Komandan Satuan memiliki pengetahuan IT dan teknologi digital yang
mumpuni, apabila Komandan Satuan menguasai teknologi digital dan semakin tinggi
pemahamannya maka berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Bukan hanya sekedar
memanfaatkan teknologi, seperti email dan software untuk menjalankan operasional
satuan. Lebih penting dari itu, mampu memanfaatkan data untuk menggerakkan satuan
ke arah yang lebih baik. Pemimpin memiliki pendekatan yang sangat berbeda dengan
pemimpin tradisional. Dalam mengambil keputusan, seorang digital leader tidak hanya
bertumpu pada masukan dari orang-orang yang dipercaya. Mereka juga menggunakan
data untuk menentukan keputusan terbaik untuk perusahaan. Disamping itu,juga harus
mampu meningkatkan pemahaman teknologi informasi kepada para anggota sehingga
dapat meningkatkan kualitas kinerja; 2) Komandan Satuan harus cepat beradaptasi dan
memiliki wawasan terbuka bahwa perkembangan teknologi itu penting, dimana Komandan
Satuan harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Namun mengikuti perkembangan
zaman bukan berarti hanya sekedar menjadi pengikut tetapi harus memiliki kemampuan
untuk memimpin bawahannya, membawa pengaruh positif dalam meningkatkan
kemampuan anggotanya. Kepemimpinan transformasional akan menciptakan Komandan
Satuan yang konsisten, kredibel, memiliki visi misi yang jelas/visioner, kreatif dan inovatif.
Adanya Komandan Satuan yang masih minim pengetahuan IT dan teknologi digital
maka akan berpengaruh pada : 1) Tidak mau keluar dari zona nyamannya, keadaan
selama ini yang dihadapi dirasa sudah cukup dan tidak perlu adanya perubahan, artinya
Komandan Satuan enggan menerima perubahan baru; 2) anggota menjadi kurang kreatif
dan inovatif, bahwa terbiasa dengan mental menerima sesuatu apa adanya dan hanya
melaksanakan sesuatu sesuai perintah; 3) baik satuan dan anggota yang dipimpin
menjadi kurang responsif dan adaptif terhadap perkembangan situasi dan kondisi yang
terjadi; 4) tidak akan menciptakan efektivitas dan efisien kinerja. Sedangkan masih
ditemukannya Komandan Satuan yang menganggap bahwa teknologi tidak penting,
mengakibatkan 1) Kemampuan komandan satuan stagnasi / tidak berkembang; 2) kinerja
anggota menjadi menurun karena menggunakan pola lama; 3) akan diremehkan atau
dipandang sebelah mata oleh komunitas yang melek digital.
9
Naskah Departemen tentang Kepemimpinan, 2012, Pemimpin TNI AD Berkarakter Sapta Marga yang
Bercirikan Kearifan Indonesia Guna Menjaga Keutuhan NKRI, Seskoad, hlm. 8
9
Adapun masih ditemukan karakteristik Komandan satuan saat ini adalah 1) Kurang
adaptif dengan perkembangan teknologi, masih menggunakan atau menerapkan metode
tradisional; 2) Kurang inovatif dan kreatif, bahwa para Komandan Satuan kurang bisa
menerima perubahan yang terjadi di era digital. Sehingga diharapkan menerapkan
kepemimpinan transformasional dan digital. Menurut Avolio dkk (Stone et al, 2004) bahwa
karakteristik kepemimpinan transformasional adalah sebagai berikut:10 1) Idealized
influence (or charismatic influence) mempunyai makna bahwa seorang pemimpin harus
kharisma yang mampu “menyihir” bawahan untuk bereaksi mengikuti pimpinan,
ditunjukkan melalui perilaku pemahaman terhadap visi dan misi organisasi, mempunyai
pendirian yang kukuh, komitmen dan konsisten terhadap setiap keputusan yang telah
diambil, dan menghargai bawahan. Sehingga menjadi role model yang dikagumi, dihargai,
dan diikuti oleh bawahannya, 2) Inspirational motivation berarti karakter seorang
pemimpin yang mampu menerapkan standar yang [Link] akan tetapi sekaligus mampu
mendorong bawahan untuk mencapai standar tersebut. Mampu membangkitkan
optimisme dan antusiasme yang tinggi dari para bawahan, senantiasa memberikan
inspirasi dan memotivasi bawahannya, 3) Intellectual stimulation karakter seorang
pemimpin yang mampu mendorong bawahannya untuk menyelesaikan permasalahan
dengan cermat dan rasional, mampu mendorong (menstimulasi) bawahan untuk selalu
kreatif dan inovatif, 4) Individualized consideration berarti karakter seorang pemimpin
yang mampu memahami perbedaan individual para bawahannya, mau dan mampu untuk
mendengar aspirasi, mendidik, dan melatih bawahan, mampu memahami dan
menghargai bawahan berdasarkan kebutuhan bawahan dan memperhatikan keinginan
berprestasi dan berkembang para bawahan. Sedangkan menurut Christina Boesenberg,
seorang konsultan kepemimpinan pada Global Leadership Consultants Oxford Leadership
menjelaskan bahwa terdapat tujuh karakteristik kepemimpinan militer digital, antara lain:
1) tanggung jawab, para pemimpin bertanggung jawab membimbing anggotanya saat
menyelesaikan tugas, pemimpin militer digital belajar bagaimana mendistribusikan tugas-
tugas sesuai dengan situasi dan kompetensi teamwork, di mana kemampuan pemimpin
dengan anggotanya secara terus menerus dihubungkan; 2) hasil, bahwa para pemimpin
militer digital mengendalikan proses, mengevaluasi tugas dan hasil bersama-sama
dengan anggota tim, dan menggunakan sumber daya sesuai dengan potensi dan
10
Bass, B.M. & Avolio, B.J, “The Implication of Transactional and Transformational Leadership”
Journal of European Insdustrial Training, 2004, hal 47
10
kompetensi (lintas fungsional dan lintas hierarki), hasil praktis dihasilkan dengan
mengintegrasikan umpan balik yang konstan antara pemangku kepentingan internal dan
eksternal; 3) distribusi informasi bahwa kepemimpinan distribusi adalah praktik yang
menyebarkan informasi kepemimpinan ke sejumlah orang yang bekerja secara kooperatif
dan saling tergantung untuk mencapai tujuan kelompok mereka. Tidak seperti model
kepemimpinan heroik yang mengandalkan kemampuan satu orang, kepemimpinan yang
terdistribusi mendorong semua anggota untuk menyumbangkan pengetahuan dan
keahlian mereka; 4) tujuan dan penilaian Penilaian kinerja anggota secara umum
memberikan berbagai manfaat bagi kedua pihak yaitu organisasi maupun anggota.; 5)
kesalahan dan konflik bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna, selalu ada ruang untuk
belajar dan tumbuh, dan untuk membantu anggota melakukan hal yang baik bersama-
sama; 6) perubahan, dan inovasi bahwa Seorang pemimpin militer digital tahu bahwa
inovasi didasarkan pada fokus tim pada tujuan bersama untuk memanfaatkan sebaik
mungkin kemampuan masing-masing individu. Inovasi bisa dipelajari, ini dibantu dengan
mengubah struktur lama melalui penggunaan tim multidisiplin, lingkungan kerja yang
fleksibel, dan proses kreatif.11
11
Aris Sarjito, [Link], hlm.57
11
mewujudkan keberhasilan tugas yang semakin tinggi tuntutan ke depan dan menciptakan
citra positif satuan TNI AD di mata masyarakat .
Pada era Revolusi 4.0 telah menyediakan kesempatan bagi TNI untuk membenahi
dan menata diri serta menambah bobot intelektual bagi prajuritnya. Terutama bahwa
reformasi ini harus memberikan kontribusi dalam mengembangkan civil society dan
demokratisasi, tanpa harus merubah jati diri TNI. Gaya Kepemimpinan Militer
Transformasional dan Digital adalah gaya kepemimpinan modern yang cocok dengan
perkembangan zaman saat ini. Parameter keberhasilan dengan menerapkan model
kepemimpinan tersebut antara lain : 1) Bisa memotivasi anggota, pemimpin akan menjadi
role model atau teladan bagi para anggota. Hal ini tentu akan membuat anggota merasa
termotivasi dan berkembang sesuai dengan panutannya. Sehingga bisa meningkatkan
produktivitas anggota dan memajukan satuan; 2) Tercapai situasi kondusif, gaya
kepemimpinan yang menyukai keakraban dan deep connection. Sehingga antara anggota
dengan atasan saling menghargai. Hal ini tentunya akan membuat komunikasi terjalin
dengan baik dan dapat bekerja secara efektif dan efisien; 3) Banyaknya inovasi
bermunculan, pemimpin orang yang tidak kaku dan selalu ingin melakukan inovasi.
Pemimpin tersebut tidak takut untuk mengutarakan pendapatnya yang dirasa bisa
membantu untuk memajukan dan mengembangkan satuan; 4) Terbangunnya karakter
humanis dan tidak arogan, pemimpin yang sopan akan menjadi panutan dan tauladan
bagi anggota sehingga meningkatkan loyalitas; 5) Maksimal dalam pemanfaatan teknologi
dalam mendukung keberhasilan satuan; 6) Permasalahan dapat terpecahkan dengan
solusi yang tuntas, seorang pemimpin yang berwawasan luas dan dibekali kemampuan IT
akan mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi anggota; 7)
Menurunnya tingkat pelanggaran prajurit di Satuan, karena adanya evaluasi dan kontrol
yang dilakukan seorang Pimpinan kepada bawahan secara rutin dan kontinyu. Dengan
demikian, deteksi maupun cegah dini adanya penyimpangan dan pelanggaran prajurit
dapat dilakukan dengan baik. Terlebih dengan didukung pemanfaatan teknologi modern,
informasi akan diperoleh dengan cepat.
Penutup
transformasional dan digital di era Revolusi Industri 4.0 yang penuh inovasi ini sangat
diperlukan terutama untuk melaksanakan fungsi utama TNI AD yakni Binter merupakan
kegiatan yang dilakukan oleh prajurit TNI AD dalam interaksinya dengan masyarakat,
selaras juga dengan karakteristik model kepemimpinan Panglima besar Soedirman yaitu
pemimpin sebagai bapak, pelatih, guru, kawan dan komandan; 2) Karakter kepemimpinan
militer transformasional dalam yaitu dealized influence (pengaruh ideal), inspirational
motivation (motivasi inspirasi), intellectual stimulation (stimulasi intelektual), dan
individuallized cosideratition (konsiderasi individu), sedangkan karakteristik kepemimpinan
militer digital, antara lain: tanggungjawab, hasil, distribusi informasi, tujuan dan penilaian,
kesalahan dan konflik, perubahan, dan inovasi; 3) Parameter keberhasilan kepemimpinan
transformasional dalam penyelenggaraan binter yakni terciptanya kondisi satuan yang
ideal dalam rangka melaksanakan tugas pokok.
POLA PIKIR
Instrumental Input
- UU No 34 Th 2004 ttg TNI
- Doktrin-doktrin TNI
Bagaimanakah - Bujuk ttg Binter
perspektif - Hanjar ttg Binter
kepemimpinan
transformasional dan
digital ?
Kondisi Peran Bagaimanakah Kondisi Kondisi
Dandim saat karakteristik Pembinaan PembinaanTercapainya
ini kepemimpinan Teritorial TeritorialTugas Pokok
transformasional dan Saat Ini Meningkat
digital ?
Bagaimana parameter
keberhasilan
Environmental Input
kepemimpinan
transformasinal dan Kendala Kelemahan
digital? - Minimnya - Tidak mau keluar
pengetahuan IT/ dari zona nyaman
teknologi digital - Kurang adaptif
- Pengetahuan IT/ dan responsif
teknologi digital - Kurang inovasi
dianggap kurang dan kreatif
penting
ii
DAFTAR PUSTAKA
B.M., Bass, & Avolio, B.J, “The Implication of Transactional and Transformational
Leadership” Journal of European Insdustrial Training, 2004
Buri, Paul von. Hessische Biografie. Landesgeschictliches Informationssystem. Retrieved
20 November 2015.
Jervis, Robert. 1978. Cooperation Under the Security Dilemma. United Kingdom : Priston
University Press.
Koftka, K. (1935). Principles of Gestalt Psychology. New York: Harcourt Brace Javanivich.
Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia No. 34 Tahun 2004 tentang TNI,
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No. 177, Tambahan lembaran
Negara Republik Indonesia No. 4439, Penjelasan Pasal 8
Naskah Departemen tentang Kepemimpinan, 2012, Pemimpin TNI AD Berkarakter Sapta
Marga yang Bercirikan Kearifan Indonesia Guna Menjaga Keutuhan NKRI,
Seskoad
Prasetyo, Bambang Agung, “Pengaruh Kekuatan kepemimpinan Transformasional dan
Budaya Organisasi terhadap Kinerja Prajurit Batalyon Perhubungan”, Jurnal Prodi
Strategi dan Kampanye Militer, Volume 3 Nomor 2, Agustus 2017
Sarjito, Aris, “Model Kepemimpinan Militer Digital Di Era Revolusi 4.0.”, Jurnal Manajemen
Pertahanan, Vol. 5 No. 2 Desember 2019
Siswanto, Dwi Joko dan Ahmad Gani, 2020, Transformasional Military Leadership di Era
Revolusi Industri 4.0, Penerbit Lakeisha, Klaten
Suteja, 2020, “Paradigma Binter Sebagai Fungsi Utama TNI AD”, Artikel TNI AD
Internet :
Andrew, 2022, Pengertian Revolusi Industri 4.0 : Jenis, Dampak, dan Contoh
Penerapannya, diakses dari [Link]
4-0/ pada tanggal 21 Mei 2023
Shalahudin, “Karakteristik Kepemimpinan Transformasional” diakses dari
[Link]
[Link] pada tanggal 21 Mei 2023
2