0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan10 halaman

Pembelajaran Sejarah dan Metode Efektif

Dokumen tersebut membahas tentang pembelajaran sejarah dan media explosion box. Pembelajaran sejarah bertujuan untuk membentuk karakter nasionalisme siswa dan mempelajari pelajaran berharga dari masa lalu. Media explosion box adalah media grafis interaktif berbentuk kotak yang dapat membuka informasi secara menarik ketika dibuka.

Diunggah oleh

Ayu Himmah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan10 halaman

Pembelajaran Sejarah dan Metode Efektif

Dokumen tersebut membahas tentang pembelajaran sejarah dan media explosion box. Pembelajaran sejarah bertujuan untuk membentuk karakter nasionalisme siswa dan mempelajari pelajaran berharga dari masa lalu. Media explosion box adalah media grafis interaktif berbentuk kotak yang dapat membuka informasi secara menarik ketika dibuka.

Diunggah oleh

Ayu Himmah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pembelajaran

Adapun pembelajaran berasal dari “belajar” yang mendapat awalan (pem-)


dan akhiran (-an). Pembelajaran dalam bahasa Yunani disebut dengan
“instructure” yang artinya penyampaian pikiran. Pembelajaran pada hakikatnya
adalah proses interaksi antara guru dan peserta didik, dan lingkungan yang ada di
sekitarnya yang dalam proses tersebut terdapat upaya untuk meningkatkan
kualitas diri peserta didik menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pembelajaran
merupakan perpaduan antara mengajar dalam konteks guru dan belajar dalam
konteks peserta didik. Sehingga bisa menciptakan sebuah kelas untuk memberikan
materi yang di sampaikan guru kepada peserta didik, agar siswa bisa memahami
konsep belajar tersebut. (Priansa,Juni 2019:88).

Pembelajaran secara harfiah berarti proses belajar, pembelajaran dapat


dimaknai sebagai proses penambahan pengetahuan dan wawasan melalui
rangkaian aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan
mengakibatkan perubahan dalam dirinya, sehingga terjadi perubahan yang
sifatnya positif, dan pada tahap akhir akan dapat keterampilan, kecakapan dan
pengetahuan baru (Saefudin, Asis 2016:8). Dengan demikian pembelajaran
merupakan proses interaksi antara peserta didik dan seorang pengajar yang
meghasilkan suatu wawasan baru terhadap peserta didik.

Dalam hal istilah pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau


perancangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya
dalam belajar, siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu
sumber belajar, namun juga mungkin berinteraksi dengan keseluruhan sumber
belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Oleh
sebab itu, pembelajaran memusatkan perhatian pada “bagaimana cara untuk
membelajarkan siswa, dan bukan untuk “apa yang di pelajari siswa”. Adapun
perhatian terhadap apa yang di pelajari siswa merupakan bidang kajian dari
kurikulum, yakni mengenai apa isi pembelajaran yang harus dipelajari siswa agar
tercapai tujuan tersebut. Dengan demikian, proses belajar mengajar di kelas perlu
menggunakan sumber belajar yang mumpuni dan dirancang sesuai kondisi siswa,
dalam rancangan tersebut harus disusun dan harus memerlukan berbagai macam
teori agar bisa memenuhi harapan dan tujuan yang dinginkan.(Hamzah Uno
2016:2)

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur


manusiawi (siswa dan guru), material (buku,papan tulis, kapur dan alat belajar),
fasilitas (ruang kelas, audio visual), dan proses yang saling mempengaruhi
mencapai tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik, 2002:56). Dengan adanya unsur-
unsur di atas proses belajar mengajar bisa lebih efektif jika siswa ikut berperan
bukan hanya fokus pada hasil yang di capai melainkan juga bagaimana proses
pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik.
Pembelajaran efektif adalah proses belajar mengajar yang bukan hanya terfokus
kepada hasil yang di capai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran
efektif mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan,
kesempatan, dan mutu serta dapat memberikan perubahan prilaku dan
mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Sehingga pembelajaran ini di
katakan efektif apabila siswa juga ikut berperan dalam proses pembelajaran, tetapi
peran guru juga sangat di butuhkan pada saat proses pembelajaran efektif
berlangsung, untuk meningkatkan cara belajar yang efektif perlu adanya
bimbingan dari guru (Slameto, 1995: 75-76).

Memaknai istilah pembelajaran sebagai aktivitas atau kegiatan yang


berfokus pada kondisi dan kepentingan pembelajar ( learner centered). Istilah
pembelajaran digunakan untuk menggantikan istilah “pengajaran” yang lebih
bersifat sebagai aktivitas yang berfokus pada guru (teacher centered). Oleh
karenanya, kegiatan pengajaran perlu dibedakan dari kegiatan pembelajaran.
Lebih lanjut, Miarso menyatakan bahwa pengajaran merupakan istilah yang di
artikan sebagai penyajian bahan ajaran yang dilakukan oleh seorang pengajar,
sementara untuk pembelajaran tidak harus dilakukan oleh pengajar melainkan bisa
dilakukan oleh para pengembang sumber belajar maupun perancang sumber
belajar. Misalnya seorang teknologiawan pembelajaran atau suatu tim yang terdiri
dari ahli media dan ahli materi tertentu yang sekiranya bisa menyampaikan
informasi terkait sistem belajar kepada siswa (Yusufhadi Miarso 2005, p.144).
Dengan begitu kata pembelajaran lebih cocok untuk digunakan dalam dunia
belajar, kata pembelajaran lebih mengandung makna yang lebih luas, yaitu
kegiatan yang di mulai dari mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan
dan mengevaluasi kegiatan yang dapat menciptakan terjadinya proses belajar.

2.2 Pembelajaran Sejarah

Pembelajaran sejarah merupakan bidang ilmu yang memiliki tujuan agar


setiap peserta didik dapat membangun kesadaran tentang pentingnya waktu dan
tempat yang merupakan sebuah proses dari sebuah masa lampau, masa kini dan
masa depan sehingga peserta didik sadar bahwa dirinya merupakan bagian dari
bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat
implementasikan dalam berbagai kehidupan baik nasional maupun internasional
(Widja, 1989 : 30). Sehingga mempelajari sejarah bukan hanya mempelajari saja,
namun dapat menumbuhkan rasa nasionalisme diri karena peserta didik merasa
bahwa dirinya juga sangat berperan dalam membangun perkembangan bangsa.

Pembelajaran sejarah ini mempunyai peranan dalam upaya pembentukan


karakter bangsa dan menanamkan budaya bagi peserta didik. Tujuan pembelajaran
menurut Kasmadi (1996:13) adalah untuk menanamkan semangat kebangsaan,
cinta tanah air, bangsa dan negara. Materi dalam pembelajaran sejarah ini mampu
untuk mengembangkan potensi peserta didik untuk lebih mengenal nilai-nilai
bangsa yang di perjuangkan pada masa lampau, di pertahankan, dan di sesuaikan
untuk masa yang kini dan dikembangkan lagi di masa yang akan datang, juga
dalam sejarah dipaparkan mengenai berbagai peristiwa dan kejadian yang nyata
yang telah terjadi di masa lampau, bukan hanya karangan fiktif belaka, namun
seperti kegigihan para pejuang melawan penjajah dan mempertahankan harga diri
bangsa.

Dikatakan pula oleh Wiriatmadja (dalam Atmadinata, 2005: 46) yang


menyatakan bahwa pembelajaran sejarah mempunyai peran yang sangat penting
untuk membentuk kepribadian siswa agar dapat memahami dan menjiwai
wawasan atau pengetahuan kebangsaan dan nasionalisme dalam memasuki dan
memenangkan masa depan (Globalisasi). Jadi peserta didik di ajarkan untuk tidak
lupa dengan jati diri bangsa dan mengingat para pejuang bangsa sehingga
pengetahuan mereka jadi bertambah.

Sejarah adalah pengalaman hidup manusia pada masa lalu dan akan
berlangsung terus sepanjang usia manusia. Mempelajari sejarah, antara lain
bertujuan agar pengalaman manusia, baik manusia lain atau dirinya sendiri pada
masa lalu, dapat menjadi pelajaran penting, pengingat, insipirasi dan sekaligus
motivasi dalam menjalani kehidupan di masa sekarang dan di masa mendatang
(Madjid, Dien dkk, 2014: 1). Mempelajari sejarah juga dapat mengetahui asal usul
di masa lampau yang bertujuan agar jika ada hal yang buruk yang pernah terjadi
di masa lampau supaya tidak terjadi di masa sekarang dan hal yang baik bisa
dijadikan sebagai contoh di masa sekarang dan masa depan.

Sejarah melukiskan riwayat hidup bangsa, melukiskan suka duka,


menggambarkan lembah penderitaan serta puncak kejayaan kita menuju
kehidupan kebangsaan yang bebas, adil, makmur dan bahagia (Ali, Moh 2005:8).
Sejarah juga menyelidiki perubahan perkembangan peristiwa di masa lampau,
perubahan kejadian harus benar-benar terjadi bukan rekaan semata, siapa
pelakunya, dimana, kapan dan apa dampak dari peristiwa tersebut, sejarah dapat
dikatakan menjadi salah satu faktor tentang keberadaan suatu bangsa, mulai dari
asal usul hingga beberapa kejadian atau peristiwa yang menjadikan suatu bangsa
berdiri.

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil materi tentang peristiwa-


peristiwa sekitar proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan juga mengambil materi
sejarah lokal kota Jember yang berkaitan dengan peristiwa proklamasi yaitu
pahlawan-pahlawan kota Jember dalam proses kemerdekaan Indonesia di kota
Jember.

2.3 Media Explosion Box

Media Explosion Box merupakan media grafis berjenis visual.


Sebagaimana namanya, Explosion Box merepresentasikan ledakan (explosion)
yang berisi materi-materi yang ingin disampaikan. Nasriya (2018:25)
mengungkapkan Explosion Box merupakan media yang berbentuk kotak, ketika
kotak tersebut dibuka, keempat sisi dari kotak tersebut akan membentuk jaring-
jaring kotak dan memunculkan tulisan atau gambar menurut tema. Jika kita
membuka box tersebut maka akan terlihat susunan bagian-bagian box yang mekar,
bersusun sehingga terlihat sangat indah dan menarik apalagi saat dihiasi
komponen berupa gambar, tulisan, hiasan, box kecil dan lain sebagainya RA
(2016:6).

Media Explosion Box merupakan sebuah kotak seperti kado yang terbuat
dari kertas yang jika dibuka berisi berbagai kejutan kreatif berbagai bentuk
ungkapan melalui kreatifitas. Explosion Box ini memiliki beberapa macam,
masing-masing orang memiliki cara sendiri dalam menyalurkan kreatifitas
mereka. Hal inilah yang membuat Media Explosion Box bisa di kreasikan menjadi
media pembelajaran. Media ini juga bisa di kreasikan dengan beberapa materi dan
juga bisa menambahkan game edukasi (Waladiyah, 2018).

Seperti yang dikatakan oleh Arsyad (2019:10) Media pembelajaran adalah


segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi
dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat
siswa dalam belajar. Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang
peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual juga dapat
memperlancar pemahaman (misalnya melalui elaborasi struktur dan organisasi)
dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat
memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar
menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan
siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya
proses informasi.

Media Explosion Box memang jarang di gunakan sebagai media


pembelajaran di sekolah, biasanya Explosion Box ini hanya di gunakan untuk
kado atau hadiah kepada seseorang, namun peniliti ingin membuat media
Exploding Box sebagai salah satu media belajar untuk para peserta didik, dengan
menggunakan media ini, selain para pengajar, peserta didik dapat membuat media
Explosion Box dan video tutorial tentang pembuatan Exploding Box sudah
banyak tersedia di youtube, jadi sangat memudahkan orang lain jika ingin
membuat media ini.

2.5 Minat Belajar

Minat belajar adalah suatu rasa lebih suka, rasa ketertarikan, menurut
Slameto dalam Nurhasanah dkk (2016:130). Selanjutnya pengertian minat belajar
adalah sikap ketaatan pada kegiatan belajar, baik menyangkut perencanaan jadwal
belajar maupun inisiatif melakukan usaha tersebut dengan sungguh-sungguh,
Olivia dalam Nurhasanah dkk (2016:130). Jadi dapat disimpulkan minat belajar
adalah suatu keadaan dimana seseorang memiliki daya tarik terhadap suatu hal
dan disertai keinginan untuk mempelajari hal tersebut.

Minat mempengaruhi hasil belajar tidak diragukan lagi. Kalau seseorang


tidak berminat dalam mempelajari sesuatu tidak dapat diharapkan berhasil dengan
baik dalam mempelajari sesuatu. Menurut Sardiman (2001:74) minat merupakan
suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri kebutuhannya
sendiri. Pengertian minat menurut bahasa (Etimologi), ialah usaha dan kemauan
untuk mempelajari (Learning) dan mencari sesuatu. Secara terminologi, minat
adalah keinginan, kesukaan dan kemauan terhadap sesuatu hal. Minat belajar juga
dapat dikatakan sebagai tenaga penggerak yang dipercaya ampuh dalam proses
belajar peserta didik. Oleh sebab itu minat juga memberi peluang yang lebih besar
bagi perkembangan belajar masing-masing peserta didik (Astuti, Puji 2015:71).

2.5.1 Indikator Minat Belajar

Menurut Slameto (2010:180) beberapa indikator minat belajar ada empat


yaitu :

a. Perasaan Senang
Apabila peserta didik memiliki perasaan senang terhadap mata pelajaran
tertentu maka tidak akan ada rasa paksaan untuk belajar. Contohnya
peserta didik dalam mengikuti pelajaran tidak ada rasa bosan, selalu
senang dalam mengikuti pelajaran dan hadir setiap pelajaran.
b. Keterlibatan Siswa
Ketertarikan seseorang akan obyek yang mengakibatkan orang tersebut
senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan dari
obyek tersebut. Contohnya aktif dalam diskusi, aktif bertanya dan aktif
menjawab pertanyaan dari guru.
c. Ketertarikan
Berhubungan dengan daya dorong siswa terhadap ketertarikan pada suatu
benda, orang, kegiatan atau bisa berupa pengalaman afektif yang
dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Contohnya antusias dalam mengikuti
proses pembelajaran dan tidak menunda tugas dari guru.
d. Perhatian Siswa
Minat dan perhatian merupakan dua hal yang dianggap sama dalam
penggunaan sehari-hari, perhatian siswa merupakan konsentrasi siswa
terhadap pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan yang lain.
Siswa memiliki minat pada obyek tertentu maka dengan sendirinya akan
memperhatikan obyek tersebut, contoh: mendengarkan penjelasan guru
dan mencatat materi dari guru.

2.6 Penlitian yang Relevan

Penelitian yang digunakan oleh Purwanti, Sintia 2019 yaitu


Pengembangan Media Explosion Magic Box Untuk Keterampilan Berbicara
Bahasa Perancis Siswa Kelas XI IPS, guru sedikit memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk berbicara bahasa Prancis, seharusnya guru dapat
mengelola dan mengemas proses pembelajaran, guru masih menggunakan media
yang kurang bervariasi, inovasi dan menarik perhatian siswa. Hal ini lah yang
membuat peneliti membuat salah satu media yang mendukung pembelajaran
bahasa Prancis yaitu Media Explosion Magic Box. Dari hasil aspek pembelajaran
memiliki 89,28 dari skor maksimal 100 dengan rata-rata kelayakan sebesar
89,28% , dan berdasarkan kategori kelayakan nilai tersebut sudah dapat dikatakan
sangat layak.

Penilitian yang selanjutnya adalah milik Dinda, Novena 2019 yaitu


Pengembangan Media Pembelajaran Explosion Box kelas VIII SMP Materi
Sistem Pencernaan Manusia, materi tentang sistem pencernaan manusia
mencakup banyak informasi serta istilah-istilah ilmiah, namun materi tersebut
masih di anggap sulit oleh siswa karena banyak hafalan, peniliti melakukan
penelitian di empat sekolahan yang terdiri dari SMP Negri 1 Depok, SMP Negri 4
Depok, SMP Pangudi Luhur Yogyakarta, dan SMP Joanes Bosco Yogyakarta.
Setelah melakukan analisis kebutuhan empat sekolah tersebut peniliti melihat
adanya beberapa kendala seperti media pembelajaran power point yang tidak bisa
digunakan di semua kelas karena kurangnya fasilitas sekolah berupa LCD dan
proyektor, oleh karena itu media Explosion Box menjadi pilihan sebagai media
pembelajaran siswa di kelas.

Penilitian berikutnya adalah milik Kurnia Sari, Eva 2019 yaitu


Pengembangan Pembelajaran Media Fisika Explotion Box Untuk Meningkatkan
Minat Belajar dan Penguasaan Materi Peserta didik SMA, berdasarkan hasil
observasi dengan guru mata pelajaran fisika kelas X SMA N 10 Yogyakarta tahun
ajaran 2017/2018, berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran, mata
pelajaran fisika merupakan salah satu pelajaran yang memiliki output nilai yang
cenderung rendah dan sering dijumpai dalam kegiatan pembelajaran peserta didik
cenderung mengalami kesulitan, penggunaan media pembelajaran pun masih
menjadi permasalahan di SMA N 10 Yogyakarta, peneliti ingin mengembangkan
media pembelajaran berbentuk box yang berisi materi fisika dan latian soal di
setiap layer atau sisinya. Terdapat penjelasan materi, contoh fenomena fisika
dalam bentuk gambar, latihan soal dan demonstrasi praktikum sederhana, dimana
semua indra peserta didik akan bekerja saat belajar menggunakan media explotion
box ini. Berdasarkan analisis minat belajar peserta didik pada uji coba terbatas,
diperoleh rata-rata nilai minat belajar sebelum menggunakan media pembelajaran
explotion box sebesar 3,30, dan minat belajar setelah menggunakanmedia
pembelajaran explotion box sebesar 3,93 dengan peningkatan sebesar 0,63dan
diperoleh nilai gain sebesar 0,37 dengan kategori sedang.

2.7 Kerangka Berfikir

Ketika awal proses pembelajaran sejarah di SMK Penerbangan Jember


memang kondisinya hanya tersedia media buku LKS ataupun buku paket,
dikarenakan memang keadaan sekolah yang kurang memadai, guru hanya
menggunakan model ceramah ketika mengajar yang membuat peserta didik
cenderung bosan dan sering mengabaikan pelajaran sejarah. Penggunaan media
pembelajaran perlu dikembangkan untuk menunjang aktifitas di ruang kelas agar
peserta didik lebih memperhatikan dan memahami ketika pembelajaran sejarah
berlangsung.

Dalam hal ini peneliti ingin membuat suatu media pembelajaran yaitu
Media Explosion Box, dan diharapkan penggunaan Media Explosion Box bisa
membantu untuk kelangsungan proses pembelajaran dan dapat meningkatkan
minat belajar siswa dalam pembelajaran sejarah.

Bagan 1. Kerangka Berpikir

Kondisi Awal Pembelajaran 1. Pembelajaran sejarah


Sejarah di SMK Penerbangan menggunakan model
Jember ceramah
2. Media pembelajaran
hanya menggunakan
buku paket dan LKS
3. Pembelajaran hanya
berpusat pada guru
Implementasi Media Explosion Pengembangan Media
Box Explosion Box

Hasil Implementasi Media Pengembangan Media Explosion


Exploding Box Box Pada Materi Peristiwa
Kemerdekaan Indonesia Untuk
(Hasil Minat Belajar
meningkatkan Minat Belajar
Meningkat)
Siswa Kelas X SMK
Penerbangan Jember

Sumber: Sugiono, 2016. Metode Penelitian dan Pengembangan (Research and


Development). (Bandung: Alfabeta CV)

Anda mungkin juga menyukai