0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
158 tayangan70 halaman

Kapasitas Oli Axle LC300 dan Pelatihan

Bab 1 membahas mengenai sistem axle, termasuk klasifikasi, struktur, dan cara kerjanya. Siswa akan mempelajari axle depan dan belakang, poros propeler, gigi akhir, dan diferensial. Tujuannya agar siswa dapat menjelaskan komponen-komponen tersebut dan fungsinya.

Diunggah oleh

checker.rewulu1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
158 tayangan70 halaman

Kapasitas Oli Axle LC300 dan Pelatihan

Bab 1 membahas mengenai sistem axle, termasuk klasifikasi, struktur, dan cara kerjanya. Siswa akan mempelajari axle depan dan belakang, poros propeler, gigi akhir, dan diferensial. Tujuannya agar siswa dapat menjelaskan komponen-komponen tersebut dan fungsinya.

Diunggah oleh

checker.rewulu1
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

AXLE, WHEEL, & SUSPENSION

MECHANIC DEVELOPMENT
PT KARUNIA MANDIRI BERKARYA
AXLE, SUSPENSION
AND WHEEL
GAMBARAN UMUM PELATIHAN

Materi pembelajaran Axle, Suspension and Wheel terdiri atas 3 (tiga) bab. Bab 1
membahas mengenai axle system. Bab 2 membahas mengenai suspension dan bab 3
membahas wheel.
DAFTAR ISI

GAMBARAN UMUM PELATIHAN


DAFTAR ISI

PENJELASAN PELATIHAN
SASARAN PEMBELAJARAN
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
REFERENSI
GLOSARIUM
BAB I. AXLE SYSTEM
Pelajaran 1 : Axle 2
Pelajaran 2 : Propeler Shaft, Final Gear dan Differential Gear 13
Ringkasan 24
Soal Latihan 25
BAB II. SUSPENSION
Pelajaran 1 : Steel Spring 27
Pelajaran 2 : Air Spring 37
Pelajaran 3 : Trunnion Shaft Suspension System 44
Pelajaran 4 : Shock Absorber 47
Ringkasan 50
Soal Latihan 52
BAB II. WHEEL
Pelajaran 1 : Wheel 54
Pelajaran 2 : Tire 56
Ringkasan 64
Soal Latihan 65
AXLE, SUSPENSION
AND WHEEL

PENJELASAN PELATIHAN
Metode
 Di dalam kelas (40%)
a. Ceramah
b. Diskusi
 Workshop (60%)
a. Demonstrasi
b. Praktek
Durasi
3 hari kerja
Jumlah Siswa
Maksimal 16 orang
Kriteria Kelulusan
 Kehadiran minimal 90 % dari total hari pelatihan.
 Evaluasi akhir
a. Nilai minimal test teori: 75
b. Nilai minimal test praktek: 75
Pemberian Sertifikat
 Sertifikat akan diberikan kepada siswa yang memenuhi kriteria kelulusan.
 Surat keterangan akan diberikan kepada siswa yang memenuhi syarat
kehadiran minimal tetapi tidak memenuhi syarat minimal nilai kelulusan.
AXLE, SUSPENSION
AND WHEEL

SASARAN PELATIHAN

Setelah mengikuti pembelajaran ini secara tuntas, siswa dapat menjelaskan


mengenai klasifikasi, struktur dan cara kerja axle system, suspension dan wheel.
AXLE, SUSPENSION
AND WHEEL

 PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL


 Petunjuk Bagi Siswa


Untuk memperoleh hasil belajar secara maksimal dalam mempelajari materi modul ini,
langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:
 Bacalah dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada
pada masing-masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas,
siswa dapat bertanya pada instruktur yang mengampu kegiatan belajar
tersebut.
 Kerjakanlah setiap soal latihan yang terdapat pada modul ini untuk
mengetahui seberapa besar pemahaman yang telah dimiliki terhadap materi-
materi yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.
 Jika belum menguasai tingkat materi yang diharapkan, ulangi lagi pada
kegiatan belajar sebelumnya atau bertanyalah kepada instruktur yang
mengampu kegiatan pembelajaran yang bersangkutan.

 Petunjuk Bagi Instruktur


Dalam setiap kegiatan belajar instruktur berperan untuk:
 Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar.
 Membimbing siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam
tahap belajar.
 Membantu siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab
pertamnyaan siswa mengenai proses belajarnya.
 Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain
yang diperlukan untuk belajrar.

 Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.


AXLE, SUSPENSION
AND WHEEL

REFERENSI

 Multi, Scania
 Shop Manual, Nissan
 Shop Manual HD785-5
 Text Book Automotive Engineering Chasis
AXLE, SUSPENSION
AND WHEEL

GLOSARIUM

Air Spring: salah satu jenis sistem suspension dengan menggunakan gaya reaksi dari udara
pada sistem suspensionnya.

Bead: cincin yang terbuat dari kawat baja dengan kadar karbon yang tinggi. Bead
digunakan di carcass, berfungsi untuk menahan kedua ujung dari cord, menjamin
pemasangan yang kuat dari ban ke rim (pelek).
Breaker: Bagian ban yang ditempatkan diantara tread dan carcass dengan tujuan sebagai
peredam goncangan/tumbukan.
Camber Angle: garis tengah ban yang tidak vertical akan tetapi miring membentuk sudut
dengan arah keluar sebesar sekitar 1 ketika axle dilihat dari depan kendaraan.
Carcass: bagian dari ban yang terletak di dalamyang berfungsi menahan berat, goncangan,
tumbukan dan tekanan angin. Carcass dibuat dari lembaran-lembaran ply cords.
Karet yang membungkus/melapisi cord tidak hanya melindungi dari kerusakan luar,
tetapi mencegah pergeseran diantara cords.
Caster Angle: kingpin akan miring kebelakang dari garis vertical jika dilihat dari sisi
samping kendaraan.
Coil Spring: salah satu jenis steel spring yang terbuat dari baja yang dilingkar, yang akan
menggunakan elastisitas baja untuk torsion (puntiran).
Damping Forces: Gaya yang menimbulkan getaran yang tidak diperlukan pada shock
absorbers, dan efeknya disebut dengan a damping effect.
Differential: suatu komponen untuk meneruskan tenaga putar dari transmisi melalui
propeller shaft yang selanjutnya akan membuat penyaluran tenaga lebih halus dari
final gear keroda kiri dan kanan pada kondisi apapun.
Disc wheel: salah satu jenis wheel yang dibentuk dengan proses moulding. Disc wheel
sangat cocok untuk produksi massal dan lebih ekonomis, banyak dipakai pada
passenger cars, trucks, buses, dan yang lainnya.
Front Dead Axle: axle yang menyangga beban kendaraan atau unit bagian belakang.
Front Drive Axle: kendaraan yang hanya bergerak dengan roda depan dan sebagai roda
untuk kemudi

Front Wheel Alignment: Penyetelan roda depan kendaraan agar kendaraan dapat
berjalan stabil ketika di jalan lurus dan lembut sewaktu berbelok.
Hydropneumatic suspension: merupakan jenis suspensi yang menggunakan udara
sebagai medianya dan dibantu slinder hydropneumatic untuk mengurangi getaran.
Pada sistem ini silinder suspensi diisi dengan oli dan gas nitrogen.
Kingpin Anclination Angle (): sudut antara kingpin shaft dengan garis vertical
kepermukaan jalan.
Plies: lapisan-lapisan tali (layers of cord) yang biasanya terbuat dari nylon, rayon atau
polyester fiber yang diisi dengan karet sehingga menyusun badan ban atau carcass.
Ply Rating (PR): Suatu index dari kekuatan ban dengan kata lain spesifik beban
maksimum yang diijinkan dari ban.
Rear Wheel Drive Truck: Truk yang menggunakan roda belakang sebagai penggerak.
Shock Absorbers: komponen yang digunakan untuk meningkatkan kenyamanan
berkendaraan dengan menahan getaran kendaraan dengan lambat dan menjaga
kontaknya wheel dengan permukaan jalan dengan cara menahan besar dan
kecepatan getaran.
Stabilizer: torsion bar spring yang terbuat dari spring steel dipasang pada kendaraan yang
menggunakan air spring untuk memberikan kestabilan ketika kendaraan berbelok
atau berjalan pada kondisi jalan yang kurang bagus.
Tandem Axle: rear axle yang berjumlah lebih dari satu.
Tire: penahan berat unit yang bersinggungan langsung dengan permukaan tanah dan
merupakan komponen yang terletak pada pelek (rim) sebuah kendaraan.

Torsion Spring Bar: salah satu jenis steel spring yang strukturnya terbentuk dengan
stretching (puntiran) sebuah coil spring lurus. Satu ujung dari sebuah torsion bar
spring fixed ke frame, sedang ujung yang lain dihubungkan dengan mekanisme link.
Tread: Bagian ban yang merupakan kulit luar dari ban, melindungi carcass dari keausan
dan kerusakan.
Tread Pattern: merupakan bentuk kulit luar dari ban (bentuk pola dari tread).
Tube Tire Type: ban yang menggunakan tube (istilah untuk ban dalam) memungkinkan
untuk mudah berkurangnya angin akibat adanya tusukkan dari benda asing.
Tubeless Tire Type: ban yang tidak menggunakan ban dalam.
BAB I

AXLE SYSTEM

Tujuan Bab 1:
Setelah menyelesaikan pembelajaran pada Bab 1, siswa mampu menyebutkan dan
menjelaskan klasifikasi, struktur dan cara kerja axle, propeller shaft, final gear dan
differential.

Referensi :
[Link]
Multi Scania

Shop Manual Nissan


Text Book Automotive Engineering Chasis
Axle, Suspension and wheel

Pelajaran 1: Axle

Tujuan Pelajaran 1
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 1, siswa mampu menyebutkan klasifikasi axle,
menjelaskan struktur dan cara kerja front axle serta tujuan front wheel alignment, selain itu siswa
dapat menjelaskan struktur dan cara kerja rear axle.

Klasifikasi Axle
Axle merupakan poros (shaft) sebagai penyangga beban kendaraan dan padanya terpasang roda dan
berputar, secara fungsional axle dibagi menjadi dua yaitu front axle (axle bagian depan) dan rear axle
(axle bagian belakang). Bagan dibawah ini menunjukkan klasifikasi axle secara umum:

RIGID
SUSPENSION
INDEPENDEN

DEAD AXLE ELLIOT

REVERSE
ELLIOT
FRONT BENTUK
MERMAN

DRIVE LAMOINE

AXLE
FULL
DEAD AXLE FLOATING

HALF
SUPPORT
REAR FLOATING

¾ FLOATING
DRIVE

BANJO

HOUSING BUILD UP

SPLIT

Klasifikasi Axle

2
Axle, Suspension and wheel

Pada rear wheel drive truck, power yang dihasilkan dalam engine ditransmisikan ke rear tires,
urutannya adalah sebagai berikut:

Rear differential

Hydrostatic motor

Hydrostatic pump Gear box

Proppeler shaft

Front differential

Power Train
Front Axle
Front axle berfungsi untuk menyangga sebagian dari beban kendaraan pada roda depan (front
wheels) dan untuk steering kendaraan. Secara garis besar front axle dibagi menjadi front dead axle
dan front drive axle. Drive axle dapat disebut dengan live axle atau powered axle.

Front Axle
 Front Dead Axle
 Tipe front dead axle
Front dead axle merupakan axle yang menyangga beban kendaraan atau unit bagian depan.
Berdasarkan jenis konstruksi dari suspensi yang digunakan front dead axle dibagi menjadi dua
tipe yaitu rigid axle suspensi dan independent axle suspensi. Rigid axle suspensi digunakan pada
truk dan bis untuk membawa beban besar, dimana ketika salah satu roda naik karena kondisi
permukaan jalan maka body atau frame dari unit akan miring tetapi hanya dapat untuk
kemiringan dengan sudut kecil. Keuntungan tipe ini mudah dalam perawatannya karena
strukturnya sederhana.

3
Axle, Suspension and wheel

Independent Axle Suspensi


Independent axle suspensi dipakai untuk mobil penumpang, beberapa off-road heavy-duty dump
truk serta truk kecil dan sedang. Tipe ini lebih memberikan kenyamanan pada operator atau
penumpangnya dan akan mengurangi efek dari jalan yang bergelombang karena ketika salah satu
roda naik akibat kondisi permukaan jalan maka unit tidak akan miring.

Perbandingan Rigid dan Independent Axle Suspension


Berdasarkan bentuknya front axle dibagi menjadi tipe elliot, tipe reverse elliot, tipe merman dan
tipe lemoine. Tipe reverse elliot paling luas digunakan, tipe elliot digunakan untuk beberapa
kendaraan, sedangkan untuk tipe merman dan lemoine hampir tidak pernah dipakai lagi.

Bentuk Front Axle berdasarkan Bentuk Ujungnya

4
Axle, Suspension and wheel

Contoh Hubungan Front Axle dan Knuckle


 Structure front dead axle

Struktur Front Dead Axle


Axle beam biasanya mempunyai penampang melintang bentuk I. Agar pusat gravitasi rendah
maka struktur axle beam bagian tengahnya lebih rendah sehingga komponen dari spring seat dan
bagian tengah unit lebih rendah dari bagian tengah roda. Axle beam yang terbuat dengan bentuk
bulat pipa juga digunakan untuk beberapa kendaraan.
Knuckle terpasang pada masing-masing ujung axle beam dengan kingpin, dan dapat berputar
pada kingpin. Steering arm terpasang tetap pada knuckle. Kedua ujung dari knuckle dihubungkan
dengan menggunakan tie-rod arm dan tie-rod. Hub dengan dua tapered roller bearing terpasang
pada komponen komponen spindle dari knuckle. Roda dan brake drum terpasang tetap pada
flange dari hub dengan hub bolt.

5
Axle, Suspension and wheel

(a) (b)
Struktur Front Dead Axle (a) Reverse Elliot Type (b) Elliot Type

Thrust bearing disisipkan antara bagian tengah axle beam dengan knuckle sehingga kendaraan
dapat dikemudikan dengan mudah ketika mendapat beban yang besar. Clearance dengan thrust
bearing dapat diadjust dengan shim. Komponen dari sistem brake terpasang pada flange dari
knuckle.

1. Axle Beam
2. Steering Knuckle
3. Ball Joint
4. Drag Link
5. Track Rod/Tie Rod
6. Drag Link Arm

Komponen Front Dead Axle

 Front Drive Axle


Kendaraan pada umumnya bergerak dengan menggunakan penggerak roda belakang. Selain itu, ada
juga kendaraan yang bergerak dengan seluruh rodanya seperti pada kendaraan yang dibuat untuk
daerah dengan jalan yang kurang bagus serta kendaraan yang hanya bergerak dengan roda depan
saja. Kedua tipe yang disebutkan diatas menggunakan front drive axle.
Front drive axle bukan hanya meneruskan tenaga dari power train, tetapi sebagai roda untuk kemudi.
Axle pada umumnya menggunakan kingpin, akan tetapi untuk front drive axle menggunakan
universal joint. Jenis-jenis universal joint diantaranya bendix type, zepper type dan birfield type.
Birfield type merupakan pengembangan dari zepper type yang biasanya digunakan untuk front rigid
axle suspension di truck.

6
Axle, Suspension and wheel

Struktur Front Drive Axle


 Front wheel alignment
Pada kendaraan roda depan harus dapat bergerak dengan lembut dan akurat ketika berbelok. Ketika
kendaraan berjalan lurus, roda depan harus selalu stabil dan cepat kembali ke posisi semula apabila
ada beban kejut akibat jalan yang tidak rata. Selain itu tire/ban pada roda depan tidak cepat aus. Hal
tersebut dapat dicapai dengan baik jika dilakukan front wheel alignment yang tepat.
Front wheel alignment/steering wheel alignment mempunyai beberapa faktor yang harus disetel
(adjust) dengan tepat, yaitu: Kingpin Inclination Angle (KIP), camber angle, toe in/toe out dan caster
angle.
 Kingpin inclination angle
Pivot shaft dari roda kemudi dinamakan kingpin. Pada struktur tipe rigid axle suspensi, roda akan
berputar mengitari kingpin. Umumnya kingpin tidak vertikal dengan permukaan jalan, tetapi ada
kemiringan yang terlihat pada gambar. Sudut antara kingpin shaft dengan garis vertical
kepermukaan jalan dinamakan kingpin inclination angle (). Kemiringan ini akan membantu
memberikan steering kestabilan dengan kecenderungan roda untuk kembali keposisi langsung
kedepan (posisi lurus) setelah diputar. Saat kemudi dibelokkan, roda akan berputar dengan
kingpin sebagai porosnya dan roda akan cenderung naik yang akan mengakibatkan ada gaya
reaksi untuk mengembalikan roda keposisi awal. Besarnya kingpin inclination antara 6-8.
Besarnya sudut ini berhubungan dengan besarnya camber angle ().

Kingpin inclination angle

7
Axle, Suspension and wheel

 Camber angle
Ketika axle dilihat dari depan kendaraan, akan terlihat garis tengah ban tidak vertical tetapi akan
miring membentuk sudut dengan arah keluar yang dinamakan camber angle dengan besar sekitar
1. Ban akan cenderung miring kedalam ketika unit mendapat beban atau muatan, maka adanya
camber ini akan menghilangkan efek tersebut. Selain itu, camber angle juga membantu unit
berbelok tiba-tiba dari kondisi berjalan lurus dengan lebih mudah.

LOAD

(a) (b)
(a) Sebelum mendapat beban (b) Setelah mendapat beban

 Toe-in
Ketika roda kemudi dilihat dari atas akan terlihat jarak yang beda antara A dan B, A akan lebih
pendek inilah yang dinamakan toe-in. Ketika unit belok maka membentuk suatu radius yang titik
pusatnya jika ditarik garis ke titik tengah masing-masing roda kemudi akan membentuk dua garis
yang berbeda oleh karena itu agar beban jalan ke masing-masing roda sama dan tidak terjadi slip

pada roda bagian dalam maka sudut untuk roda kemudi bagian luar harus lebih tajam sehingga
diperlukan toe-in.
a a

b b

Toe In dan Toe Out


 Caster angle
Pada umumnya kingpin jika dilihat dari sisi samping kendaraan akan miring kebelakang dari garis
vertical yang dinamakan caster. Hal ini akan membuat kemudi lebih mudah dan roda akan

cenderung untuk bergerak maju atau mundur kembali. Besarnya caster anglebiasanya 1-2.

Caster

8
Axle, Suspension and wheel

REAR AXLE
 Rear drive axle
Rear axle disebut juga back axle. Rear axle akan menyangga beban dan meneruskan tenaga
penggerak keroda belakang yang disebut juga driving axle. Bagiannya yaitu rear axle housing, axle
shaft dan bearing roda. Selain itu ada rear axle yang tidak meneruskan tenaga atau dead axle. Rear
axle tipe rigid digunakan pada kendaraan sedang dan heavy-duty.
Pada sebuah truk, rear axle dapat berjumlah satu buah dan mungkin juga dua atau tiga buah. Rear
axle yang berjumlah satu disebut single axle. Rear axle yang berjumlah lebih dari satu dinamakan
tandem axle.

Single Axle

Tandem Axle
Untuk tipe tandem axle dikenal dua istilah yaitu tag axle dan pusher axle. Ilustrasi kedua tipe ini
adalah sebagai berikut:

9
Axle, Suspension and wheel

Drive Axle Drive Axle

(a) (b)
Pusher Axle dan Tag Axle
Berdasar metode pembebanan (support) pada axle shaft, terdiri dari:
 Half Floating Type
Roda dipasang langsung pada axle shaft. Axle shaft ini didukung oleh axle housing melalui
bearing. Axle shaft dan axle housing menerima beban yang sama diteruskan ke roda.
Bagaimanapun axle shaft akan menerima moment bending yang dihasilkan oleh gaya vertical,
melintang dan memanjang pada roda serta momen torsi yang dihasilkan oleh tenaga kendali
(driving). Tipe ini banyak digunakan untuk kendaraan kecilsebab strukturnya sederhana dan
hanya untuk beban ringan.

Half floating type

 Full Floating Type


Masing-masing roda didukung oleh axle housing melalui dua tapered roller bearing . Momen
bending dihasilkan oleh gaya vertical, melintang dan memanjang dari roda semuanya diterima
axle housing sedangkan axle shaft meneruskan tenaga driving dan hanya menerima momen torsi
yang dihasilkanoleh tenaga driving tersebut. Tipe ini dipakai untuk kendaraan sedang dan heavy-
duty. Axle shaft dapat dilepas dan pasang dengan mudah daripada tipe lainnya.

Full floating type

10
Axle, Suspension and wheel

 ¾ Floating Type

¾ floating type
Struktur tipe ini antara tipe half floating dan full floating. Roda didukung oleh axle housing melalui
sebuah bearing. Axle shaft sangat mudah menyalurkan kekuatan driving. Karena itu hampir ¾
momen bending dari beban vertical dan melintang oleh roda akan diteruskan ke axle housing.
Axle shaft menerima momen torsi dan momen bending ¼ dari beban melintang. Tipe ini jarang
digunakan karena strukturnya komplek.
Bentuk rear drive axle bervariasi tergantung dari jenis kendaraan. Perbedaan yang paling mencolok
dari axle adalah axle housingnya. Axle housing berfungsi menutup dan melindungi axle shaft,
mendukung berat kendaraan dan beban. Final gear terpasang dekat dengan bagian tengah axle
housing. Berdasarkan bentuknya axle housing dapat diklasifikasikan menjadi:

 Banjo type
Tipe ini mudah dibuat sehingga saat ini banyak digunakan.
 Build-up type
Tipe ini mempunyai struktur yang paling komplek, dibanding yang lain.
 Split type
Axle housing terpisah antara bagian kiri dan kanan. Final gear terpasang ditengah dengan
menggunakan bolt untuk menghubungkannya. Pada tipe ini pemeriksaan dan pengadjustan
differential carrier (final gear) lebih sulit dari tipe lain.

Axle Housing
Axle shaft akan meneruskan tenaga melalui final gear dan differential gear ke roda. Hub terpasang
pada kedua sisi axle housing melalui dua bearing pada masing-masing sisi. Brake drum dan disc roda
terpasang pada hub. Tapered roller bearing digunakan pada rear axle karena adanya beban
melintang dari roda.

11
Axle, Suspension and wheel

 Rear Dead Axle


Dead axle tidak meneruskan tenaga, tetapi hanya mendukung beban pada roda sehingga tidak ada
final gear atau axle shaft. Yang terdapat pada axle tipe ini hanya shaft dimana ujungnya terdapat
bearing. Komponen hub disini pada dasarnya sama seperti drive axle.

Rear Dead axle

12
Axle, Suspension and wheel

Pelajaran 2: Propeler Shaft, Final Gear dan Differential Gear

Tujuan Pelajaran 1
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 1, siswa mampu menyebutkan struktur propeller
shaft, selain itu siswa dapat menyebutkan dan menjelaskan klasifikasi, struktur dan cara kerja final
gear dan differential.

Propeller Shaft
Kendaraan dengan posisi engine di depan memiliki propeller shaft untuk menyalurkan tenaga dari
transmisi ke rear axle. Transmisi terletak di belakang engine menempel pada chasis, sedangkan rear
axle dipasang pada posisi lebih bawah di bagian belakang.
Pada saat kendaraan sedang berjalan maka antara transmisi dan rear axle bergerak keatas dan
kebawah. Pergerakan tersebut memaksa propeller shaft untuk bergerak keatas dan kebawah, hal ini
menyebabkan posisi dan jarak antara transmisi dan rear axle berubah.

Pergerakan Propeller Shaft


Tenaga yang diteruskan dari transmisi ke rear axle harus dilakukan dengan lembut, maka dari itu
propeller shaft dilengkapi dengan universal joint dan splined sleeve yoke yang meredam getaran dan
perubahan jarak dari transmisi ke rear axle.

Tube
Universal Joint Splined Yoke

Struktur Propeller Shaft

13
Axle, Suspension and wheel

Proppeler shaft terdiri dari universal joint, propeller shaft tube dan sliding joint (sleeve, yoke, sloding
yoke dan splined yoke).

 Propeller Shaft Tube


Propeller shaft tube dapat terbuat dari pipa baja solid yang dibuat hollow (poros berlubang) atau pipa
yang di las, dapat juga shaft solid yang digunakan sebagai propeller shaft tube. Shaft hollow lebih
banyak digunakan dibandingkan shaft yang solid. Kekuatan, panjang, diameter dan ketebalan
propeller shaft tube dirancang dengan teliti karena komponen ini akan menyalurkan torque yang
besar pada kecepatan satu dan gerakan mundur serta menerima beban yang ekstrim sewaktu unit
sedang beroperasi.

Flange Yoke
Tube
Splined

Propeller Shaft Tube


 Universal Joint
Universal joint yang banyak digunakan biasanya tipe hooks joint (cross joint), joint ini banyak
digunakan untuk truck, bus dan alat-alat berat. Struktur dari universal joint adalah sebagai berikut:

5. Trunnion Block
6. Bearing Carrier
7. Bearing
8. Protection Plate
9. Grease Nipple
17. Bolt
19. End Yoke

Universal Joint
 Sliding Joint
Sliding joint terdiri dari satu pasang hollow shaft dan round bar shaft yang menyalurkan tenaga
karena perubahan jarak. Gambar sliding joint adalah sebagai berikut:

14
Axle, Suspension and wheel

Splined Sleeve

Seal

Splined Journal Driver

Sliding Joint

Final Gear
Dibawah ini bagan klasifikasi dari final gear:

Worm Gear

Straight Bevel Gear


Gear Type
Spiral Bevel Gear

Hypoid Gear

One Stage Reduction Type

Speed Reduction Two Stage Reduction Type


Final Gear Method
Two Speed Type

Planetary Gear Type

Single Axle Independent


Driving Type
Driving Method
Double Axle Tandem Type
Interlocked Driving
Type In Line Tandem
Type

Klasifikasi Final Gear


Setelah kecepatan dikurangi dan torque ditambah oleh transmisi setelah melewati propeller shaft
tenaga akan digunakan untuk memutar roda, saat awal unit bergerak tidak diperlukan kecepatan

15
Axle, Suspension and wheel

tetapi torque yang besar. Oleh karena itu, untuk menambah torque dari output transmisi dibuat gear
reduksi yang dinamakan final gear. Selain itu, final gear berfungsi untuk merubah arah tenaga dari
propeller shaft ke roda kanan dan kiri, oleh karena itu umumnya digunakan kombinasi bevel gear.

 Gear Type
Di bawah ini dijelaskan beberapa tipe gear (bevel gear) pada final gear :
 Worm Gear
Karakteristik tipe ini smooth dan saat meshing tidak bersuara karena poros drive gear dan driven
gear tidak lurus, level lantai dapat lebih rendah dan ratio reduksinya lebih besar lebih mudah
dicapai. Tetapi tipe ini hanya digunakan untuk sedikit jenis kendaraan tipe heavy-duty dan
cenderung untuk panas karena efisiensi transmisi rendah.
 Spiral Bevel Gear
Karakteristiknya terus-menerus, smooth, saat meshing tidak bersuara, kapasitas torque besar dan
efisiensi transmisi tinggi karena itu tipe ini sekarang banyak digunakan untuk efisiensi bahan
bakar kendaraan. Konstruksi antara poros pinion dan ring gear pada tipe ini satu garis lurus.

 Hypoid Gear
Hypoid gear mempunyai tipe spiral bevel gear,keduanya mempunyai bentuk gear yang hampir
sama tetapi antara poros drive gear dan driven gear pada tipe hypoid tidak lurus (garis tengah
pinion lebih rendah dari garis tengah ring gear). Sehingga level lantai dapat lebih rendah. Selain
itu tipe ini lebih tahahan lama dan tidak menimbulkan kebisingan.
Selain tipe tersebut pada kendaraan heavy-duty ada yang menggunakan tipe planetary gear. Final
gear dapat pula diklasifikasikan berdasarkan speed reduction method dan driving method seperti
pada diagram sebelumnya.

 Speed Reduction Method


 One stage reduction type
Pada tipe ini tenaga dari propeller shaft direduksi satu kali oleh final gear. One stage reduction
gear terdiri dari dua jenis yaitu yang menggunakan spiral bevel gear type dan hypoid bevel gear
type. Di bawah ini gambar one stage reduction type:

16
Axle, Suspension and wheel

Bevel Gear
 Two stage reduction type
Spiral bevel gear atau hypoid gear membutuhkan main gear dengan ukuran yang sangat besar
apabila dibutuhkan untuk mereduksi kecepatan dengan rato yang tinggi, tetapi final gear yang
besar akan mengurangi jarak antara rear axle dengan permukaan jalan.
Hal ini dapat diatasi dengan mengurangi kecepatan menggunakan spiral bevel gear pada tahap
pertama untuk mereduksi drive pinion dan mereduksi driven gear pada tahap kedua. Ukuran dari
drive gear dapat diperkecil karena kecepatan direduksi dengan dua tahapan. Struktur two stage
reduction type dan planetary type two stage reduction type final gear diperlihatkan oleh gambar
dibawah ini:

17
Axle, Suspension and wheel

Struktur Two Stage Reduction Type

Planetary Type
 Two speed type
Two speed type memiliki high gear dan low gear pada final gearnya. Engenge dikontrol dengan
menggunakan solenoid valve dan udara. Final gear ini dapat melipatgandakan kecepatan sesuai
dengan perubahan stage pada transmisi. Tipe ini jarang digunakan karena harus disesuaikan
dengan transmisi yang memenuhi tipe final gear ini.

18
Axle, Suspension and wheel

 Driving Method
 Tandem type
Pada tipe ini termasuk kedalam kelompok two stage reduction type dan digunakan pada
kendaraan yang memiliki dua buah rear drive axle. Pada prinsipnya tipe ini hampir sama dengan
two stage reduction type seperti yang telah dijelaskan diatas.

Struktur of Tandem Type


 In Line Tandem Type
Tipe ini digunakan untuk kendaraan yang mempunyai rear front axle dengan rear two drive axle
dan pada umumnya rear-rear axle menggunakan one stage reduction type final gear. In line
tandem type diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu yang menggunakan third differential unit
(inter axle differential) dan yang tidak menggunakan third differential. In line tandem type with
third differential unit merupakan spesifikasi standar untuk digunakan.
Penerusan tenaga pada In line tandem type with third differential adalah sebagai berikut:

Penerusan Tenaga

19
Axle, Suspension and wheel

Struktur of In Line Tandem Type


Differential
Differential adalah suatu komponen untuk meneruskan tenaga putar dari transmisi melalui propeller
shaft yang selanjutnya akan membuat penyaluran tenaga lebih halus dari final gear keroda kiri dan
kanan pada kondisi apapun. Saat kendaraan berjalan belok atau pada jalan yang buruk akan terjadi
jarak tempuh yang beda antara roda kanan dan kiri. Jika kedua roda berputar pada kecepatan sama,
roda dengan jarak tempuh lebih pendek akan slip.

a < b

Penggunaan Differential
Tujuan dari differential ini akan secara otomatis membuat kecepatan roda berbeda antara kiri dan
kanan sehingga perputaran menjadi halus. Komponen utama differential diantaranya adalah spider
shaft, pinion gear dan side gear. Struktur differential adalah sebagai berikut:

1. Bevel Gear (Crown Wheel)


2. Pinion Gear
3. Axle Differential
4. Bearing

Struktur Differential

20
Axle, Suspension and wheel

 Conventional differential gear


Conventional differential gear merupakan tipe differential yang paling luas digunakan, prinsip
kerjanya sama seperti prinsip differential yang telah dijelaskan diatas.

 Torque proportional differential gear


Torque proportional differential gear merupakan tipe spin yang mempunyai jumlah gigi pinion
ganjil. Sebab perbedaan tahanan dari permukaan jalan akan mengubah posisi hubungan antara
pinion gear dan side gear yang akan menyebabkan perubahan traksi pada masing-masing roda.

 Planetary gear differential type, yaitu tipe differential yang menggunakan planetary gear type
pada final gearnya.
 Non Spin Differential
Pada tipe non spin ini akan terjadi suatu kondisi dimana tenaga tidak diteruskan kesalah satu roda
yang mempunyai hambatan sehingga diharapkan akan bergerak lebih bebas karena dia akan dapat
berputar lebih cepat.

Non Spin Differential


 Saat unit berjalan lurus
Driven clutch mempunyai permukaan yang bergigi, dimana gigi tersebut berhubungan dengan
spider yang kedua permukaannya bergigi dan didalamnya terdapat center cam yang bergigi
pula pada kedua sisinya. Putaran dari bevel gear yang diteruskan kespider dan selanjutnya
kedriven clutch sebelah kiri dan kanan dengan kecepatan sama. Pada kondisi yang demikian
gigi pada driven clutch berhubungan dengan gigi pada center cam (tanpa backlash) begitu juga
gigi pada driven clutch berhubungan dengan gigi pada spider. Saat cage berputar karena
penerusan tenaga dari transmisi maka spider akan berputar yang diteruskan ke driven clutch
yang selanjutnya diteruskan pula memutar drive shaft yang menuju roda sebelah kanan dan
kiri.

 Saat unit berjalan membelok (salah satu hambatanya lebih besar)

22
Axle, Suspension and wheel

Ketika unit berjalan membelok, maka putaran roda bagian luar atau yang hambatannya lebih
kecil akan berputar lebih cepat. Karena hambatan yang timbul antara permukaan jalan dan
roda beda maka center cam akan mendorong driven clutch kearah luar, akibatnya hubungan
antara spider dengan driven clucth sebelah luar menjadi bebas (disengaged), maka roda
sebelah luar bebas dan dapat berputar lebih cepat

23
Axle, Suspension and wheel

Ringkasan

Axle
Axle merupakan poros sebagai penyangga beban kendaraan, secara garis besarnya axle dibagi
menjadi dua yaitu front axle (axle bagian depan) dan rear axle (axle bagian belakang). Front axle
berfungsi untuk mendukung beban pada roda depan dan untuk steering kendaraan. Secara garis
besar front axle dibagi menjadi front dead axle dan front drive axle. Rear axle akan menyangga
beban dan meneruskan tenaga penggerak keroda belakang yang disebut juga driving axle.

Front dead axle merupakan axle yang menyangga beban kendaraan atau unit bagian belakang.
Berdasarkan jenis konstruksi dari suspensi yang digunakan front dead axle dibagi menjadi dua tipe
yaitu rigid axle suspensi dan independent axle suspensi. Front drive axle digunakan pada kendaraan
yang bergerak dengan seluruh rodanya seperti pada kendaraan yang dibuat untuk daerah dengan
jalan yang kurang bagus serta kendaraan yang hanya bergerak dengan roda depan saja.
Pada kendaraan roda depan harus dapat bergerak dengan lembut dan akurat ketika berbelok. Hal ini
dapat dicapai dengan melakukan front wheel alignment/steering wheel alignment. Front wheel
alignment mempunyai beberapa faktor yang harus disetel (adjust) dengan tepat, yaitu: Kingpin
Inclination Angle (KIP), camber angle, toe in/toe out dan caster angle.

Propeller Shaft, Final Gear dan Differential Gear


Propeller shaft berfungsi untuk menyalurkan tenaga dari transmisi ke rear axle. Penerusan tenaga
harus dilakukan dengan lembut, maka dari itu propeller shaft dilengkapi dengan universal joint dan
splined sleeve yoke yang meredam getaran dan perubahan jarak dari transmisi ke rear axle. Selain
universal joint dan sliding joint komponen utama propeller shaft dilengkapi dengan propeller shaft
tube.
Final gear berfungsi untuk menambah torque output transmisi. Selain itu, final gear berfungsi untuk
merubah arah tenaga dari propeller shaft ke roda kanan dan kiri, oleh karena itu umumnya
digunakan kombinasi bevel gear. Kompeonen utama pada final gear adalah gear set berupa pinion
gear dan bevel gear, tipe dari gear set ini diantaranya adalah worm gear, spiral bevel gear, hypoid
gear dan planetary gear type. Final gear dapat pula diklasifikasikan berdasarkan speed reduction
method dan driving method.
Differential adalah suatu komponen untuk meneruskan tenaga putar dari transmisi melalui propeller
shaft yang selanjutnya akan membuat penyaluran tenaga lebih halus dari final gear keroda kiri dan
kanan pada kondisi apapun. Penyaluran tenaga lebih halus karena differential membuat kecepatan
roda berbeda antara kiri dan kanan ketika berbelok atau saat kondisi jalan tidak rata. Komponen
utama differential diantaranya adalah spider shaft, pinion gear dan side gear. Differential secara garis
besar dibagi menjadi dua jenis yaitu spin differential gear dan non spin differential gear.

24
BAB II

SUSPENSION

Tujuan Bab 2:

Setelah menyelesaikan pembelajaran pada Bab 2, siswa mampu menyebutkan dan


menjelaskan fungsi, klasifikasi, struktur dan cara kerja steel spring, air suspension,
trunnion shaft dan shock absorbers.

Referensi :

Multi Scania
Shop Manual Nissan
Shop Manual HD785-5
Text Book Automotive Engineering Chasis
Axle, Suspensi and Wheel

Pelajaran 1: Steel Spring (Metallic Spring)

Tujuan Pelajaran 1

Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 1, siswa mampu menjelaskan struktur dan cara kerja
leaf spring, coil spring dan torsion bar spring.

Pendahuluan
Fungsi utama dari sistem suspensi adalah mendukung berat unit melawan permukaan jalan, selain
Itu juga melindungi transmisi dari getaran vertikal roda ke badan unit. Ada juga sistem suspensi yang
mempunyai perlengkapan untuk buffer. Ketika kendaraan melewati jalan yang rusak atau ada
gundukan pada kecepatan tinggi pengendara dan penumpang merasakan ada beban kejut dari
permukaan jalan. Suspensi akan melindungi komponen dari kerusakan, menjaga kenyamanan supir
dan penumpang serta muatan tidak ikut rusak.
Kebanyakan sistem suspensi yang menggunakan spring akan membentuk sistem penahan getaran
terhadap gaya luar yang tidak beraturan dari permukaan jalan. Tingkat penyerapan beban kejut dan
karakteristik getaran tergantung dari metode suspensi pada unit yang terdiri dari tipe spring,
mekanismenya, struktur dan susunan axle baik yang menggunakan shock absorber atau tidak.

Suspension System
Fungsi suspensi secara umum adalah sebagai berikut:
 Sebagai pendukung berat unit.
 Menyangga getaran vertikal roda yang disebabkan oleh permukaan jalan yang tidak rata,
melindungl kabin, pengemudi dan muatan unit.

 Meningkatkan kestabilan dalam mengemudi.


 Meneruskan beban yang ditimbulkan akibat gaya mengemudi dan gaya pengereman unit,
sebagaimana halnya yang terjadi pada saat unit belok.

27
Axle, Suspensi and Wheel

Leaf
Spring

Steel Coil
Spring Spring

Torsion
Suspension Rubber
Bar
Spring Spring

Basic Air
Component Spring

Hydraulic
SUSPENSION Damper Shock
SYSTEM Absorber

Type Rigid Axle Suspension System


Suspension
Sistem Independent Axle Suspension

Klasifikasi Sistem Suspension


Berbagal tipe spring digunakan pada sistem suspensi, namun suspensi dapat diklasifikasikan pada
tiga tipe utama, yaitu: Steel spring (laminated leaf spring, coil spring, torsion bar), Rubber spring dan
air spring. Secara lebih lengkapnya tipe suspensi jenis steel spring adalah sebagai berikut:

Leaf Spring

Sistem Suspension dengan Leaf Spring


Leaf spring sebagai bagian dari struktur sistem suspensi yang pemasangannya sangat mudah. Jumlah
leaf, lebar dan ketebalan menentukan besarnya beban yang diijinkan. Leaf sebagai lapisan-lapisan
dan digabung dengan center bolt dan U-bolt untuk menahan secara longitudinal dan penerusan
gerak. Axle dipasang dibawah leaf spring. Salah satu ujungnya (biasanya depan kendaraan) spring

28
Axle, Suspensi and Wheel

digabung pada frame dengan pin, ketika ujung yang lain dipasang dengan shackle atau dengan
metoda slidding. Spring menerima beban pada kedua center boltnya yang dinamakan semi-elliptic
spring.

Leaf spring yang umum diqunakan adalah tipe konvensional. Leaf spring dan helper spring dipakai
pada rear axle truck heavy-duty karena perbedaan beban saat kosong dan saat bermuatan tinggi.
Pada truck sedang, bus dan beberapa heavy-duty truck digunakan tipe progressive yang mempunyai
fungsi seperti pada leaf spring denqan helper spring.
Leaf spring menggunakan kelenturan material bajanya untuk melengkung, bentuk yang panjang
mempunyai kekonstanan spring kecil dan akan lebih terasa nyaman. Susunan leaf spring dapat
mendukung beban yang besar jika kekonstanan spring bisa bertambah dengan merubah bentuk,
jumlah serta lebar dan tebalnya leaf.
Leaf spring meneruskan gaya kemudi dan gaya pengereman kendaraan serta mepunyai kekuatan
untuk arah melintang. Keuntungan dari sistem suspensi bentuk leaf spring adalah strukturnya
sederhana dan kuat tetapi berat, tidak menyerap getaran kecil serta cenderung berisik karena ada
internal friksi yang besar.

Leaf Spring
Leaf spring mempunyai kontruksi yang berbeda-beda, perbedaan tersebut dapat dilihat dari bentuk
leaf end, spring eye dan komponen pendukung lainnya. Dibawah ini merupakan penjelasan dari
komponen dari leaf spring.
 Leaf
Masing-masing lapisan pada leaf spring dinamakan leaf. Leaf dibuat secara seimbang melengkung
dengan tidak ada celah diantaranya, sehingga menimbulkan friksi tinggi yang akan menyebabkan
spring efektif untuk mengurangi getaran tetapi tidak sesuai untuk getaran kecil. Graphite grease yang
terbuat dari karet atau sintetis resin dipakai sebagai sebuah peredam suara dengan cara dimasukkan

29
Axle, Suspensi and Wheel

diantara leaf untuk menghindari keretakan atau noise yang disebabkan oleh friksi antar leaf sehingga
efek pengurangan getaran akan ditingkatkan.

Leaf
 Penampang melintang leaf
Selain berbentuk datar, leaf ada juga yang mempunyai bentuk penampang melintang dengan grove
atau yang lainnya. Groove pada leaf bertujuan untuk mengurangi berat dari leaf spring.

Cross Sectional Shape of Leaf


 Bentuk leaf end
Pada bentuk C ujungnya meruncing, hal ini adalah ideal karena pembagian ketegangan akan lebih
baik dan mengurangi friksi, banyak digunakan untuk kendaraan penumpang dengan tujuan supaya
lebih nyaman. Bentuk leaf end yang paling banyak dipakai adalah bentuk B.

Bentuk Leaf End


 Spring eye
Spring eye mempunyai bentuk yang barvariasi. Spring eye terpasang fixed pada frame (spring
bracket) dengan spring pin. Bentuk A yang paling umum digunakan, tetapi untuk kondisi kerja berat
menggunakan bentuk B yang disebut juga military wapper karena awalnya digunakan pada
kendaraan militer Amerika.

30
Axle, Suspensi and Wheel

Pads bentuk B ini leaf nomer dua tidak hanya melindungi spring eye main leaf utama tetapi juga
menggantikan main leaf apabila patah. Bentuk dan ukuran spring eye sangat menentukan
kekuatannya, oleh karena itu perlu diperhatikan untuk mengantisipasi gaya dari luar.

Bentuk Spring Eye


Bentuk utama bushing pada spring eye bervariasi. Gambar dibawah ini menunjukkan beberapa
bentuk bushing pada leaf spring. Tipe A dan B adalah metallic bushing, yang mempunyal groove
untuk lubrikasi antara bushing dan pin. Tipe C dan D adalah rubber bushing yang akan membatasi
putaran spring eye pada main leaf karana adanya torsi dan juga akan memberl efek spring saat
memutar. Rubber juga akan menyerap noise.

Bushing untuk Spring Eye


Ketika leaf spring menerima driving force atau breaking force, spring akan bergetar dan
mengeluarkan suara karena terjadi bending searah sumbu horisontal dari garis tegak lurusnya.
Fenomena ini dinamakan Wind Up.

31
Axle, Suspensi and Wheel

Wind Up
 Clip
Dinamakan juga rebound clip. Clip digunakan untuk melindungi main leaf, menjaga pemindahan
shifting dari leaf dan menjaga gap antar leaf selama unit memantul. Umumnya sebuah clip blinds
terdiri dari tiga leaf dengan posisi paling dekat yang memungkinkan ke spring eye sesuai permintaan
untuk melindungi main leaf. Untuk menjaga penerusan shifting, sebuah clip dipasang pada leaf yang
pendek dimana ini tidak mempengaruhi pemasangan spring ke axle.

Bentuk Clip
 Shackle
Leaf spring umumnya dipasang pada chassis atau frame dengan pin yang dimasukkan pada spring
eye diujungnya. Sebuah shackle sering dipakai pada satu ujung yang lain (umumnya bagian
belakang) untuk menyerap perubahan bentuk yang terjadi akibat defleksi dari spring. Shackle
diklasifikasfkan dua tipe. Shackle yang diaplikasikan dengan gaya tekan dinamakan compression
shackle sedang gaya tarik dinamakan tension shackle.

32
Axle, Suspensi and Wheel

(a) (b)
(a) Compression Shackle dan (b)Tension Shackle
Baik compression shackle maupun tension shackle posisinya dapat berputar pada spinnya karena
perubahan beban. Karena itu sebuah shackle berusaha memakai tenaga reaktif yang menekan atau
menarik spring sesuai dengan sudutnya. Karena panjang shackle, sudut dan kelengkungan dari spring
mempunyai hubungan sebagai berikut, dimana faktor-faktor tersebut saling mempengaruhi.
Ketika spring melengkung, compression shackle berusaha memakai gaya reaktifnya untuk menekan
kembali agar leaf memanjang, karena itu konstanta spring agak meningkat. Bagaimanapun
perubahan pada konstanta spring tersebut tidak terlalu berpengaruh sebab sangat kecil dibandingkan
peningkatan pada konstanta spring yang disebabkan penambahan bentangan spring. Kebalikannva,
tension shackle berusaha memakai gaya reaktifnya membantu leaf memanjang, menjadikan spring
lebih fleksibel sehingga posisi unit lebih rendah. Tension shackle digunakan pada kendaraan
penumpang tetapi tidak pada kendaraan heavy duty.

Pergerakan pada Compression Shackle dan Tension Shackle

33
Axle, Suspensi and Wheel

 Sliding contact

Sliding Contact
Dalam beberapa kasus, salah satu atau kedua sisi dari leaf spring tidak tetap tetapi mendukung berat
unit pada hubungannya dengan contact seat. Ketika ada beban, bentuknya menjadi pendek dan
konstanta spring meningkat. Metode ini strukturnya sangat sederhana karena leaf tidak perlu spring
eye. Bagaimanapun hal itu cenderung untuk meneruskan suara berisik dan knocking antara spring
dan contact seat sebab leaf tidak fixed.

 Permukaan akhir dari spring


Karena leaf berulang-ulang terputar balik ketika unit bergerak sehingga cenderung untuk lelah dan
patah. Oleh sebab itu leaf perlu diberi lapisan akhir pada proses produksi melalui shot peening atau
stress peening untuk menjaga agar tidak patah. Shot peening dilakukan dengan cara menembakkan
dalam jumlah besar bola baja kecil ke permukaan leaf, sedangkan stress peening melanjutkan proses
shot peening kemudian leaf dibuat menjadi tegang dengan cara diberi beban pada arah yang sama
seperti saat menerima beban kerja.

Leaf Surface
 Nip
Masing-masing leaf yang membentuk leaf spring berbentuk bengkok. Jika lapisan itu tidak dipasang
antara leaf yang berdekatan akan terbentuk celah yang dinamakan nip.

34
Axle, Suspensi and Wheel

Nip
Ketika leaf terpasang dengan center bolt, beban yang dihasilkan oleh pengikat akan mengerjakan
pada masing-masing leaf. Leaf yang lebih pendek akan memberikan gaya ke leaf yang berikutnya
dengan arah berlawanan dengan beban kerja. Ketika spring terpasang pada unit maka berat unit
akan memberi beban, gaya yang bekerja ke main leaf lebih kecil dari berat sebenarnya karena berat
unit dan gaya dari nip bekerja bersama pada leaf yang pendek, hal ini disebut nip effect. Nip akan
mengurangi beban ke main leaf yang menghubungkan axle dengan chasis.

Nip Effect
Coil Spring
Coil spring terbuat darl baja yang dilingkar, yang akan menggunakan elastisitas baja untuk torsion
(puntiran). Karena coil spring hampir tidak menimbulkan friksi maka kenyamanannya akan lebih baik.
Energi dari beratnya dapat ditahan dalam jumlah besar sehingga kondisi spring akan lebih konstan
tanpa menempatl jarak yanq besar. Coil spring biasanya digunakan pada sistem suspensi
independent.

35
Axle, Suspensi and Wheel

Coil Spring
Torsion Spring Bar
Sebuah torsion bar spring mempunyai struktur yang terbentuk dengan stretching (puntiran) sebuah
coil spring lurus. Seperti coil spring, torsion bar spring menggunakan torsional elastisitasnya. Satu
ujung dari sebuah torsion bar spring fixed ke frame, sedang ujung yang lain dihububungkan dengan
mekanisme link. Pergerakan vertikal dari unit dlteruskan ke mekanisme link dan torsion bar spring
akan twist.

Struktur Torsion Bar

36
Axle, Suspensi and Wheel

Pelajaran 2: Air Spring

Tujuan Pelajaran 2

Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 2, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
struktur dan cara kerja air spring. Selain siswa mampu menjelaskan struktur stabilizer dan
hydropneumatic suspension.

Pendahuluan
Pada dasarnya ketika udara mendapat tekanan maka akan bereaksi atau berarti udara bersifat elastis.
Air spring menggunakan gaya reaksi dari udara yang ada. Dibandingkan dengan steel spring, air
spring lebih konstan seiring dengan kenaikan beban. Ketika beban ringan air spring akan berfungsi
sebagai soft spring dan pada saat bebannya besar akan berfungsi sebagai rigid spring, ini artinya tipe
air spring lebih maju dibandingkan dengan leaf spring.

Prinsip Air Spring


Air spring terdiri dari bebrapa komponen utama, yaitu Bellows, air beam atau auxiliary air chamber
dan levelling valve seperti ilustrasi gambar dibawah ini.

Struktur Air Spring

37
Axle, Suspensi and Wheel

Penggunaan air spring sudah pasti mempunyai beberapa kelebihan. Keuntungan air spring
dibandingkan dengan leaf spring diantaranya adalah:

 Air spring lebih fleksibel digunakan pada sistem suspension.


 Air spring menjaga body kendaraan tetap walaupun adanya perubahan beban.
 Air spring lebih tahan terhadap beban kejut.
 Ketika terkena getaran air spring membuat pengendara lebih nyaman.
 Air spring tidak berisik.
 Kendaraan dapat berjalan dengan kecepatan tinggi dengan stabil pada kondisi jalan yang
tidak rata.
Air spring mempunyai beberapa kerugian selain keuntungan yang disebutkan diatas. Permasalahan
pada air spring adalah sebagai berikut:
 Pada air spring dibutuhkan suatu meknisme link yang rumit, mekanisme tersebut akan
menambah berat unit.
 Pipa-pipa dan valve yang digunakan rumit.
 Usaha untuk pemeliharaan harus lebih ditingkatkan.

Stabilizer
Pada umumnya walaupun kendaraan yang menggunakan air spring lebih fleksibel, kecenderungan
untuk terguling tetap ada ketika kendaraan berbelok atau berjalan pada kondisi jalan yang kurang
bagus. Oleh karena itu, torsion bar spring tipe stabilizer dipasang pada kendaraan yang
menggunakan air spring untuk memberikan kestabilan. Stabilizer terbuat dari spring steel. Stabilizer
tidak akan bekerja ketika roda kanan dan kiri bergerak ke atas dan ke bawah secara bersamaan.
Ketika bergerak secara sendiri-sendiri stabilizer akan menerima torsi. Kemiringan kendaraan akan
dikurangi oleh stabilizer dengan mengurangi torsinya secara elastis.

Stabilizer (Anti Roll Bar)

38
Axle, Suspensi and Wheel

Hydropneumatic Suspension
2

5
Suspension System HD785-5

Hydropneumatic suspension merupakan jenis suspensi yang menggunakan udara sebagai medianya.
Silinder hydropneumatic digunakan pada silinder suspensi untuk mengurangi getaran. Pada sistem ini
silinder suspensi diisi dengan oli dan gas nitrogen. Prinsip kerjanya adalah dengan contracting atau
expanding gas nitrogen dan oli untuk meredam beban dari permukaan jalan. Pada unit dump truck
sillnder suspensi ini terbagi dua yaitu front suspensi dan rear suspensi.

 Front suspension cylinder


Bagian dalam silinder terbagi menjadi ruangan gas A yang diisi nitrogen dan ruang oli B. Antara
ruangan oli B dan C dihubungkan dengan tube (11) dan valve body (12). Ketika unit bergerak roda
akan mengikuti permukaan jalan dan gaya dari luar akan membuat suspensi naik atau turun. Saat ini
terjadi, volume nitrogen pada ruang A berubah elastis tergantung gaya input dan akan meredam
gaya tersebut. Gas nitrogen dibatasi aleh rod dan oil sehingga pressure cenderung untuk selalu
sesuai gaya dari luar dan bekerja sebagai air spring.

39
Axle, Suspensi and Wheel

Pada valve body (12) terdapat orifice plate (8) dan leaf spring (9a) dan (9b) yang akan menahan
aliran oil antara ruang B dan ruang C sehingga akan menqhasilkan damping force. Saat gas nitrogen
mendapat tekanan dari luar, oli dari ruang B mengalir melalui valve (12) dan tube (11) ke ruang C.
Oil mengalir melalui valve dari arah Z ke orifice plate (8) dimana volumenya akan dikurangi melalui
orifice pada empat tempat, ini adalah proses retracting (memendek). Sedangkan saat extending
(memanjang), ketika sudah tidak ada gaya dari luar tekanan dari nitrogen mendorong rod, oli akan
melewati tube (11) dan valve (12) untuk mengalir ke ruang B. Oli mengalir dari arah X melafui dua
orifice pada orifice plate (8). Dari proses tersebut akan dihasilkan damping force dimana proses
retracting cepat sedang proses extending (memendek) akan lebih lama.

40
Axle, Suspensi and Wheel

Front Suspension

41
Axle, Suspensi and Wheel

 Rear suspensi
Pada rear suspensi ketika ada beban dari luar rod akan tertekan masuk sehingga oil akan mengalir
dari ruang oli (6) melalui orifice (4) dan (5) ke rongga (2) dengan cepat. Setelah tidak ada beban dari
luar oil pada rongga (2) akan didesak keluar. 0li akan menodong check ball (3) menutup orifice (4)
sehingga oli hanya akan melewati orifice (5) menuju ruang (6). Karena itu proses extending akan
lama.

42
Axle, Suspensi and Wheel

Rear Suspension

43
Axle, Suspensi and Wheel

Pelajaran 3: Trunnion Shaft Suspension System

Tujuan Pelajaran 3

Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 3, siswa mampu menjelaskan nama, fungsi dan letak
struktur dan cara kerja dari trunnion shaft suspension system.

Struktur Trunnion Shaft


Sistem suspension tipe trunnion shaft diilustrasikan seperti gambar dibawah ini. Sistem suspensi ini
biasanya digunakan untuk truk dengan dua rear axle.

Trunnion Shaft
Trunnion shaft dipasang pada frame melalui trunnion bracket. Leaf spring dipasang pada trunnion
shaft yang dimounting menggunakan U-bolts. Leaf spring terletak diantara front-rear axle dan rear-
rear axle yang menyangga kendaraan.

Offset
Sistem suspension trunnion shaft digunakan pada kendaraan dengan single rear drive axle dan
kendaraan dengan tandem rear drive axle. Pada kendaraan yang menggunakan tandem rear drive
axle, titik tengah trunnion shaft terletak di tengah dua drive axle sehingga distribusi bebannya sama
(1:1) antara front rear axle dan rear rear axle.
Pada kendaraan single rear drive axle, titik tengah trunnion shaft di-offset kedepan untuk menaikkan
pembebanan pada driving axle (front rear axle) untuk mencegah slipnya roda penggerak. Perbedaan
posisi trunnion shaftnya adalah sebagai berikut:

44
Axle, Suspensi and Wheel

Single Rear drive axle Dual Rear drive axle


Offset

Parallel Beam Suspension System


Parallel beam suspension system merupakan steel beam, dinamakan equalizer beam atau bogie
beam. Beam ini dikombinasikan dengan torque rod. Pada sistem ini tidak menggunakan spring
sehingga kendaraan dapat lebih ringan dan biaya yang dikeluarkan lebih murah.

Parallel Beam

Hendrickson Suspension
Hendrickson suspension merupakan sebuah equalizer beam suspension yang dilengkapi dengan leaf
spring. Kombinasi ini membuat beban lebih ringan dan kenyamanan dalam berkendaraan. Kendaraan
dengan berat yang ringan dapat menggunakan suspensi jenis ini. Berat seluruh sistem suspension
dikurangi dengan menggunakan alumunium equalizer beam. Bersama dengan torque rod, equalizer
beam menahan axle untuk bergerak karena menerima beban dari arah longitudinal, transversal dan
vertikal.

45
Axle, Suspensi and Wheel

Hendrickson Suspension

46
Axle, Suspensi and Wheel

Pelajaran 4: Shock Absorbers

Tujuan Pelajaran 3

Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 3, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
fungsi, klasifikasi, struktur dan cara kerja shock absorbers.

Fungsi Shock Absorbers


Shock absorber dapat juga disebut dengan damper, suspension damper atau buffer. Fungsi secara
umum dari shock absorber adalah sebagai berikut:
 Meningkatkan kenyamanan berkendaraan dengan menahan getaran kendaraan dengan lambat.
Efek dari menahan getaran pada kendaraan diantaranya adalah:

 Meningkatkan kenyamanan berkendaraan.


 Menjaga muatan dari kerusakan.
 Umur body kendaraan dapat lebih lama.
 Menjaga kerusakan spring.
 Kecepatan kendaraan meningkat.
 Mengurangi kerusakan jalan.
 Menjaga kontaknya wheel dengan permukaan jalan dengan cara menahan besar dan kecepatan
getaran. Efek dari fungsi tersebut adalah:

 Performance dari steering dapat ditingkatkan.


 Meningkatkan kestabilan dalam perjalanan.
 Fuel consumption dapat dikurangi.
 Umur dari ban, suspension dan link steering dapat lebih lama.
Gaya yang menimbulkan getaran yang tidak diperlukan dinamakan damping forces, dan efeknya
disebut dengan a damping effect.

Damping Force of Shock Absorbers

47
Axle, Suspensi and Wheel

Klasifikasi Shock Absorbers


Media yang digunakan shock absorber untuk mengurangi getaran dibagi menjadi tiga, yaitu:
 Viscosity resistance of fluid.
 Resistance of conductors moving in magnetic fields.
 Friction of solid parts.
Pada tipe yang pertama bukan hanya dimanfaatkan untuk menstabilkan damping force, akan tetapi
untuk mengurangi berat kendaraan dan mengurangi damping force serta menyerap energi getarnya.
Karena alasan tersebut maka tipe ini banyak digunakan pada shock absorbers. Berdasarkan
strukturnya shock absorbers ini dibagi menjadi dua tipe, yaitu:

 Telescopic Shock Absorbers


Tipe ini paling banyak digunakan di automobiles karena dari struktur yang sederhana dan biaya yang
lebih kecil. Telescopic shock absorbers dibagi menjadi dua tipe yaitu single acting type dan double
acting type.

Telescopic Shock Absorbers

48
Axle, Suspensi and Wheel

 Lever Type Shock Absorbers


Lever type shock absorbers menggunakan mekanisme piston untuk meredam getarannya. Struktur
dari tipe ini adalah sebagai berikut:

Lever Type Shock Absorbers


Operating
Prinsip dasar dari shock absorber adalah seperti diilustrasikan gambar dibawah ini:

Prinsip Dasar Shock Absorbers


Ketika piston di dalam silinder bergerak keatas dan kebawah, akan terjadi perbedaan tekanan antara
tekanan diatas dan dibawah piston karena aliran oli yang terhambat oleh orifice dari piston.
Perbedaan tekanan tersebut bergantung pada ukuran orifice dan kecepatan piston.

49
Axle, Suspensi and Wheel

Ringkasan

Fungsi utama sistem suspensi adalah mendukung berat unit melawan permukaan jalan, selain Itu
juga melindungi transmisi dari getaran vertikal roda ke badan unit. Berbagal tipe spring digunakan
pada sistem suspensi, namun dapat diklasifikasikan pada tiga tipe utama, yaitu: Steel spring
(laminated leaf spring, coil spring, torsion bar), Rubber spring dan air spring.

Steel Spring
Steel spring dibagi menjadi tiga jenis, yaitu leaf spring, coil spring dan torsion bar. Leaf spring
sebagai bagian dari struktur sistem suspensi yang pemasangannya sangat mudah. Jumlah leaf, lebar
dan ketebalan menentukan besarnya beban yang diijinkan. Keuntungan dari sistem suspensi bentuk
leaf spring adalah strukturnya sederhana dan kuat tetapi berat, tidak menyerap getaran kecil serta
cenderung berisik karena ada internal friksi yang besar. Leaf spring mempunyai kontruksi yang
berbeda-beda, perbedaan tersebut dapat dilihat dari bentuk leaf end, spring eye dan komponen
pendukung lainnya.
Coil spring terbuat darl baja yang dilingkar, yang akan menggunakan elastisitas baja untuk torsion
(puntiran). Karena coil spring hampir tidak menimbulkan friksi maka kenyamanannya akan Iebih baik.
Coil spring biasanya digunakan pada sistem suspensi independent. Torsion bar spring mempunyai
struktur yang terbentuk dengan stretching (puntiran) sebuah coil spring lurus. Satu ujung dari sebuah
torsion bar spring fixed ke frame, sedang ujung yang lain dihububungkan dengan mekanisme link.
Pergerakan vertikal dari unit dlteruskan ke mekanisme link dan torsion bar spring akan twist.

Air Spring
Air spring lebih konstan seiring dengan kenaikan beban dibandingkan dengan steel spring. Ketika
beban ringan air spring akan berfungsi sebagai soft spring dan pada saat bebannya besar akan
berfungsi sebagai rigid spring, ini artinya tipe air spring lebih maju dibandingkan dengan leaf spring.
Air spring terdiri dari bebrapa komponen utama, yaitu Bellows, air beam atau auxiliary air chamber
dan levelling valve seperti ilustrasi gambar dibawah ini. Pada umumnya walaupun kendaraan yang
menggunakan air spring lebih fleksibel, kecenderungan untuk terguling tetap ada ketika kendaraan
berbelok atau berjalan pada kondisi jalan yang kurang bagus. Oleh karena itu, torsion bar spring tipe
stabilizer dipasang pada kendaraan yang menggunakan air spring untuk memberikan kestabilan.
Hydropneumatic suspension merupakan jenis suspensi yang menggunakan udara sebagai medianya.
Silinder hydropneumatic digunakan pada silinder suspensi untuk mengurangi getaran. Pada sistem ini
silinder suspensi diisi dengan oli dan gas nitrogen.

Trunnion Shaft
Sistem suspension tipe trunnion shaft biasanya digunakan untuk truk dengan dua rear axle. Trunnion
shaft dipasang pada frame melalui trunnion bracket. Pada kendaraan yang menggunakan tandem
rear drive axle, titik tengah trunnion shaft terletak di tengah dua drive axle sehingga distribusi

50
Axle, Suspensi and Wheel

bebannya sama (1:1) antara front rear axle dan rear rear axle. Pada kendaraan single rear drive axle,
titik tengah trunnion shaft di-offset kedepan untuk menaikkan pembebanan pada driving axle (front
rear axle) untuk mencegah slipnya roda penggerak.

Parallel beam suspension system merupakan steel beam, dinamakan equalizer beam atau bogie
beam. Pada sistem ini tidak menggunakan spring sehingga kendaraan dapat lebih ringan dan biaya
yang dikeluarkan lebih murah. Hendrickson suspension merupakan sebuah equalizer beam
suspension yang dilengkapi dengan leaf spring. Kombinasi ini membuat beban lebih ringan dan
kenyamanan dalam berkendaraan. Bersama dengan torque rod, equalizer beam menahan axle untuk
bergerak karena menerima beban dari arah longitudinal, transversal dan vertikal.

Shock Absorbers
Shock absorber dapat juga disebut dengan damper, suspension damper atau buffer. Fungsi secara
umum dari shock absorber adalah meningkatkan kenyamanan berkendaraan dengan menahan
getaran kendaraan dengan lambat dan menjaga kontaknya wheel dengan permukaan jalan dengan
cara menahan besar dan kecepatan getaran. Media yang digunakan shock absorber untuk
mengurangi getaran dibagi menjadi tiga, yaitu: Viscosity resistance of fluid, Resistance of conductors
moving in magnetic fields dan Friction of solid parts.
Berdasarkan strukturnya shock absorbers ini dibagi menjadi dua tipe, yaitu: Telescopic Shock
Absorbers dan Lever Type Shock Absorbers. Telescopic Shock Absorbers paling banyak digunakan di
automobiles karena dari struktur yang sederhana dan biaya yang lebih kecil. Telescopic shock
absorbers dibagi menjadi dua tipe yaitu single acting type dan double acting type.

51
BAB III

WHEEL

Tujuan Bab 3:

Setelah menyelesaikan pembelajaran pada Bab 3, siswa mampu menyebutkan dan


menjelaskan klasifikasi wheel struktur disc wheel dan kode pada rim. Selain itu, siswa
mampu menyebutkan dan menjelaskan klasifikasi, struktur dan arti kode tire.

Referensi :

Text Book Automotive Engineering Chasis


Axle, Suspension and Wheel

Pelajaran 1: Wheel

Tujuan Pelajaran 1

Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 1, siswa mampu menyebutkan klasifikasi wheel.
Selain itu, siswa dapat menjelaskan struktur disc wheel dan kode pada rim.

Pendahuluan
Wheel dan tire menahan beban kendaraan dan sebagai bantalan dari beban kendaraan tersebut.
wheel dan tire mengendalikan traksi yang diteruskan ke permukaan tanah. Ketika kendaraan
berjalan, wheel dan tire menahan kendaraan tetap terhadap permukaan tanah. Keseimbangan wheel
membantu menghindari terjadinya suara bising ketika kendaraan berjalan dengan kecepatan tinggi.

Klasifikasi Wheel
Wheel di bagi dalam beberapa tipe dibawah ini:
 Disc Wheel
Disc wheel dibentuk dengan proses moulding. Disc wheel sangat cocok untuk produksi massal
dan lebih ekonomis, banyak dipakai pada passenger cars, trucks, buses, dan yang lainnya.
 Spoke Wheel
Spoke wheel tersusun atas rim, center hub dan spokes. Dalam kehidupan sehari–hari spoke biasa
disebut dengan jeruji. Tipe spoke ini biasa digunakn pada motorcycles dan sports cars karena
memiliki berat yang ringan.
 Light Alloy Wheel
Tipe ini dibentuk dengan proses casting atau forging menggunakan bahan alumunium alloy atau
magnesium alloy. Memiliki karakteristik ringan, kuat, tahan lama, dan mudah dibentuk dengan
hasil yang akurat. Banyak digunakan pada passenger cars dan beberapa truck dan bus.
 Spider Wheel
Tipe ini sama halnya dengan tipe disc wheel, tetapi disc tidak langsung bertumpu pada wheel
melainkan menggunakan adaptor yang disebut spider yang terletak pada hub. Spider berfungsi
untuk dudukan disc. Disc duduk pada adaptor dengan cara di clamping. Dilakukan seperti ini agar
pemasangan dan melepasnya lebih mudah.

 Trilex Wheel
Trilex wheel sam dengan spider wheel, tetapi tipe ini dibagi menjadi tiga bagian yang berpusat
pada hubnya.

Disc Wheel
Disc wheel diklasifikasikan menjadi empat tipe, penggolongan ini berdasarkan JASO C603 (Japanese
Automobile Standard Organization). Tabel penggolongannya adalah sebagai berikut:

54
Axle, Suspension and Wheel

Disc Wheel Type (JASO C603)

Aplicable Rim
Disc Wheel Type
Rim Type Symbol (JIS)
Type For Light Passenger Two-piece Rim DT
Cars and Light Truck
Well Base Rim DC
Type For Passenger Cars
Wide Well Base Rim WDC

Type For Small Trucks and Shallow Base Rim SDC


Small Buses
15 Well Base Rim 15 DC
Type For Trucks and Buses
Wide Flat Base Rim IR

Disc wheel terdiri dari rim yang menahan ban dan disc yang menyatukan wheel pada hub dari
kendaraan. Disc terbuat dari plat baja tipis, disatukan dengan cara dirivet atau dilas. Rim terbuat dari
plat baja yang dirol.

Nama Komponen Disc Wheel


Kode Rim
Ukuran dari rim dapat dilihat dari kode rim. Kode ini berdasarkan standar dari JIS. Deskripsi kodenya
adalah sebagai berikut:

7.00 T x 20 162 ‐ 12 T

Disc Plate Thickness (mm)


Offset (mm)

Rim Diameter (inches)


Cross-sectional shape of flange
Rom Width (inches)

55
Axle, Suspension and Wheel

Pelajaran 2: Tire

Tujuan Pelajaran 2
Setelah mengikuti pembelajaran pada pelajaran 2, siswa mampu menyebutkan dan menjelaskan
klasifikasi, struktur dan arti kode tire.

Pendahuluan
Tire atau ban merupakan penahan berat unit yang bersinggungan langsung dengan permukaan tanah
dan merupakan komponen yang terletak pada pelek (rim) sebuah kendaraan. Fungsi dari ban adalah
sebagai berikut:
 Menahan berat suatu kendaraan dan muatan yang bersinggungan dengan permukaan
tanah/jalan.

 Mengendalikan jalannya kendaraan saat bergerak maju atau mundur.


 Meneruskan tenaga dari engine sehingga kendaraan dapat berjalan dan sebaliknya untuk
memberhentikan bila diperlukan.
 Bersama dengan sistem suspensi menentukan keamanan, kenyamanan dan kemudahan
pengendalian kendaraan.

Klasifikasi Tire

Kendaran Kontruksi

Automobiles

Mesin Agrikultur

Aplikasi
Kendaraan Industri

Kendaraan Roda

Pesawat Udara Bias Tire


TIRE
Plies Belted Bias Tire

Steel Tire Radial Tire

Snow Tire
Struktur Tube Tire
Pneumatic
Tubeless Tire
Spike Tire

Low Profile Tire

Klasifikasi Tire

56
Axle, Suspension and Wheel

Klasifikasi tire yang akan dibahas pada modul ini hanya pada pneumatic tire yaitu tube dan tubeless
tire. Selain itu akan dibahas juga tire berdasarkan plies, diantaranya bias tire, belted bias tire dan
radial tire.

 Pneumatic Tire
Pneumatic tire dibagi menjadi dua, pertama adalah tube tire yang menggunakan ban dalam dan valve
(pentil ban) melekat pada ban dalam. Kedua dinamakan tubeless tire, yaitu tire yang tidak
menggunakan ban dalam (tubeless) dengan rim (velg/pelek) khusus dan valve (pentil ban) berdiri
terpisah dengan ban. Pada gambar berikut ini, warna merah pada tube tire menggambarkan ban
dalam.

TUBELESS TIRE TUBE TIRE

TYRE INNER
TUBE

RIM

VALVE

Tubeless Tire dan Tube Tire


 Tubeless Tire Type
Tipe ban tubeless adalah ban yang tidak menggunakan ban dalam. Tidak adanya ban dalam
ini dikarenakan adanya lapisan liner yang melekat pada casing, sehingga memperkuat lapisan
luar jika terjadi tusukan akibat benda asing dari luar seperti pada gambar berikut ini:

TR
TREAD
TREAD
D
SHOULDER
SH
SHOULDER
ER

CASING

BELTS
BELTS
L
TS SISID
DEWAA
SIDEWALLL
LL
L

LIN EE
LILIN
NRR
R
BE
BEADAREA
BEADAREA OOOO
OOOO
OOOO RIMH
IRIM
MHUU
MM
P
H
OOOO
OOOO
OOOO

A UMP
BE
BEA DCO
DCORE
BEA
A CO
RE
RE

Tubeless Tire Type

57
Axle, Suspension and Wheel

 Tube Tire Type


Tipe ban yang menggunakan tube (istilah untuk ban dalam) memungkinkan untuk mudah
berkurangnya angin akibat adanya tusukkan dari benda asing. Hal ini dikarenakan tidak
adanya hubungan antara casing (ban luar) dengan tube (ban dalam) sehingga
memungkinkan adanya rongga tempat keluarnya angin.

TREAD
TR
TREAD
SHOULDER
SH
SHOULDER
D ER

CAASI
CSI
ING
SIN
NG SIDEW
SISID AA
DEWLL
L
A
BELTS
BELTS
L
TS LL
L

TUBE
TUBE
E
BEAD
OOOO OOOO

BE
BEA
AD OOOO
OOOO
OOOO
OOOO

A
DREA BE
BEA DCO
DCORE
BEA
A CO
ARE
AR RE
RE
EA
A
Tube Tire Type
 Plies
Plies adalah lapisan-lapisan tali (layers of cord) yang biasanya terbuat dari nylon, rayon atau
polyester fiber yang diisi dengan karet sehingga menyusun badan ban atau carcass. Masing-masing
dari layer ini disebut ply.

 Struktur bias
Ban dengan struktur bias adalah paling banyak dipakai. Dibuat dari banyak lembar cord yang
digunakan sebagai rangka (frame) dari ban. Cord ditenun dengan cara zig-zag membentuk
sudut 40o-65o terhadap keliling lingkaran ban.

 Struktur belted bias


Struktur belted bias belakangan ini telah mendapat banyak perhatian. Sebagai tambahan dari
struktur bias yang biasa, suatu belt seperti sabuk pengikat yang digunakan dalam struktur
radial dipasang pada keliling luar dari carcass. Dengan demikian menambah/menaikkan
kekerasan dari bagian ban yang berhubungan dengan jalan.

 Struktur radial
Konstruksi carcass cord membentuk sudut 90o terhadap keliling lingkaran ban. Jadi dilihat dari
samping konstruksi cord adalah dalam arah radial terhadap pusat atau crown dari ban.
Bagian dari ban yang berhubungan langsung dengan permukaan jalan diperkuat oleh
semacam sabuk pengikat yang dinamakan breaker atau belt. Ban jenis ini hanya mengalami
sedikit deformasi karena bentuknya yang sentrifugal, walaupun pada kecepatan tinggi. Ban
radial ini juga mempunyai rolling resistance yang kecil.

58
Axle, Suspension and Wheel

TREAD

CASING CROWN

SIDEWALL

BIAS RADIAL

BELTED BIAS

Bias, Radial dan Belted Bias Tire

Untuk aplikasi pada alat-alat berat pemilihan ban tergantung dari kebutuhan dan kemampuan daya
beli user/owner. Kecuali untuk jobsite yang mempunyai spesifikasi/keunikan medan tertentu, maka
penggunaan ban bias, radial dan belted bias dapat saling menggantikan.
Ban radial biasa dipakai di unit baru, saat ini hampir semua unit yang didelivery memakai ban radial
sebagai standard unit baru. Penggantian ban selanjutnya tergantung dari owner sendiri tergantung
dari aplikasi dan terutama kemampuan ekonomi owner dalam mengelola alat-alat beratnya.

Struktur Tire
Secara garis besar struktur tire tersusun dari empat bagian utama: carcass, tread, breaker dan bead.
Dibawah ini merupakan gambar bagian dari tire:

 Carcass
Carcass terletak di dalam ban, yang berfungsi menahan berat, goncangan, tumbukan dan
tekanan angin. Carcass dibuat dari lembaran-lembaran ply cords. Karet yang
membungkus/melapisi cord tidak hanya melindungi dari kerusakan luar, tetapi mencegah
pergeseran diantara cords.

 Tread
Tread merupakan kulit luar dari ban, melindungi carcass dari keausan dan kerusakan. Bagian
tread yang berhubungan langsung dengan permukaan jalan disebut Crown. Bagian samping dari
ban disebut Side Wall dan daerah pertemuannya dengan tread disebut Shoulder. Alur – alur yang
dibuat pada permukaan ban disebut Groove atau Non-Skid. Dalamnya alur tersebut dinamakan
Non Skid Depth, bagian dibawah groove dinamakan Skid Base. Karena side wall menerima gaya

59
Axle, Suspension and Wheel

tekan dan gaya tarik selama ban beroperasi, maka side wall dinamakan flexing area.. Shoulder
juga dinamakan Buttress dan merupakan bagian penyangga crown.

 Breaker
Breaker ditempatkan diantara tread dan carcass dengan tujuan sebagai peredam
goncangan/tumbukan. Sebagai tambahan untuk mencegah pemisahan dan untuk mengurangi
perubahan tiba-tiba dari elastisitas, selembar karet disisipkan diantara carcass dan breaker
supaya berfungsi sebagai cushion (bantalan).
 Bead
Bead digunakan di carcass, berfungsi untuk menahan kedua ujung dari cord, menjamin
pemasangan yang kuat dari ban ke rim (pelek). Bead wire (kawat bead) adalah cincin yang
terbuat dari kawat baja dengan kadar karbon yang tinggi. Flipper menutup bead wire dan di
dalamnya terisi bead filler, karet keras yang berbentuk segitiga (apex rubber). Bead filler
membantu flipper agar bisa bercampur dengan baik di dalam ban. Bagian ujung yang
berhubungan dengan pelek dan lebih dekat dengan pusat ban dinamakan bead toe. Bagian yang
berhubungan dengan flens dari pelek dinamakan bead heel. Bagian luar dari daerah bead dilapisi
oleh semacam ply cord (yang sudah dilapisi karet), dinamakan chafer.

Struktur Tire

Tread yang merupakan kulit luar dari ban memiliki bentuk yang berbeda-beda dan dinamakan tread
pattern. Tread Pattern pada dasarnya digolongkan menjadi empat jenis, yaitu:

 Rib
 Lug
 Block
 Rib–lug

60
Axle, Suspension and Wheel

Lug Rib Block Rib-Lug

Tread Pattern
Tire Code
Dimensi Ban dan Pelek
Do = Diameter keseluruhan
B’ = Lebar keseluruhan
B = Lebar penampang
r = Radius Tread atau radius Crown
Dr = Diameter pelek
W = Lebar pelek
H = Tinggi penampang
( H = Do – Dr )

2
Dalam keadaan dibebani secara statis
R = Radius dari ban
H’ = Tinggi penampang
B’’ = Lebar keseluruhan

Dimensi Ban dan Pelek

TinggiPenampang
Aspect Ratio =
LebarPenampang
Ply Rating (PR) = Suatu index dari kekuatan ban dengan kata lain spesifik beban maksimum yang
diijinkan dari ban.

61
Axle, Suspension and Wheel

Spesifikasi Ban
Penulisan Ukuran Ban
Ban Mobil Penumpang

7.75 – 14 4PR

Ply Rating
Diameter Pelek (Inci)
Lebar Penampang (Inci)
G 70 – 15 B

Load Range
Diameter Pelek (Inci)
Aspect Ratio (Seri)
Batas Beban

205 S R 14

Diameter Pelek (Inci)


Kontruksi Radial
Batas Kecepatan
Lebar Penampang (mm)
F R 60 – 15 B

Load Range
Diameter Pelek (inci)
Aspek Ratio (seri)
Kontruksi Radial
Batas Beban
Ban Truck & Bus, Off The Road dan Industri
10.00 – 20 14PR

Ply Rating
Diameter Pelek (Inci)
Lebar Penampang

62
Axle, Suspension and Wheel

Ban Balap atau Racing Tire (RA)


5.00/9.00 – 13

Diameter Pelek (Inci)


Lebar Penampang (Inci)
Tinggi Penampang (Inci)
Ban Pejal atau Solid Tire (ST)

10 x 6 x 61/4

Diameter Dalam (Inci)


Lebar Dasar
Diameter Luar (Inci)

63
Axle, Suspension and Wheel

Ringkasan

Wheel
Wheel dan tire menahan beban kendaraan dan sebagai bantalan dari beban kendaraan tersebut.
Ketika kendaraan berjalan, wheel dan tire menahan kendaraan tetap terhadap permukaan tanah.
Keseimbangan wheel membantu menghindari terjadinya suara bising ketika kendaraan berjalan
dengan kecepatan tinggi. Wheel di bagi dalam beberapa yaitu disc wheel, spoke wheel, spoke wheel,
light alloy wheel, spider wheel dan trilex wheel.

Disc wheel terdiri dari rim yang menahan ban dan disc yang menyatukan wheel pada hub dari
kendaraan. Disc terbuat dari plat baja tipis, disatukan dengan cara dirivet atau dilas. Rim terbuat dari
plat baja yang dirol. Ukuran dari rim dapat dilihat dari kode rim. Kode ini berdasarkan standar dari
JIS.
Tire
Tire atau ban merupakan penahan berat unit yang bersinggungan langsung dengan permukaan tanah
dan merupakan komponen yang terletak pada pelek (rim) sebuah kendaraan. Klasifikasi tire secara
garis besar dibagi berdasarkan aplikasi dan strukturnya. Berdasarkan strukturnya dibagi lagi
berdasarkan plies, steel tire, snow tire, pneumatic tire, spike tire dan low profile tire.
Pneumatic tire dibagi menjadi dua, pertama adalah tube tire yang menggunakan ban dalam dan valve
(pentil ban) melekat pada ban dalam. Kedua dinamakan tubeless tire, yaitu tire yang tidak
menggunakan ban dalam (tubeless) dengan rim (velg/pelek) khusus dan valve (pentil ban) berdiri
terpisah dengan ban.
Plies adalah lapisan-lapisan tali (layers of cord) yang biasanya terbuat dari nylon, rayon atau
polyester fiber yang diisi dengan karet sehingga menyusun badan ban atau carcass. Masing-masing
dari layer ini disebut ply.

Secara garis besar struktur tire tersusun dari empat bagian utama: carcass, tread, breaker dan bead.
Carcass terletak di dalam ban, yang berfungsi menahan berat, goncangan, tumbukan dan tekanan
angin. Tread merupakan kulit luar dari ban, melindungi carcass dari keausan dan kerusakan. Breaker
ditempatkan diantara tread dan carcass dengan tujuan sebagai peredam goncangan/tumbukan. Bead
digunakan di carcass, berfungsi untuk menahan kedua ujung dari cord, menjamin pemasangan yang
kuat dari ban ke rim (pelek).
Tread yang merupakan kulit luar dari ban memiliki bentuk yang berbeda-beda dan dinamakan tread
pattern. Tread Pattern pada dasarnya digolongkan menjadi empat jenis, yaitu: rib, lug, block dan rib–
lug.

64

Common questions

Didukung oleh AI

Leaf spring memiliki struktur yang sederhana dan kuat, yang membuatnya ideal untuk beban berat. Namun, leaf spring tidak menyerap getaran kecil dengan baik dan cenderung berisik karena friksi internalnya. Sementara air spring lebih konstan saat beban bertambah, menawarkan kenyamanan yang lebih baik dengan kemampuan untuk bertindak sebagai soft spring saat ringan dan rigid spring saat beban berat. Namun, air spring dapat membuat kendaraan lebih mudah terguling tanpa stabilisasi tambahan seperti torsion bar spring .

Sistem suspensi berperan penting dalam meningkatkan kenyamanan berkendara dengan menyerap getaran dari permukaan jalan yang tidak rata, melindungi kabin dan muatan. Steel spring, seperti leaf spring dan coil spring, dapat menyerap getaran besar, tetapi coil spring lebih baik dalam memberikan kenyamanan karena tidak menimbulkan friksi yang signifikan. Leaf spring, meski lebih sederhana dan kuat, cenderung berisik dan kurang menyerap getaran kecil .

Ban bias menawarkan ketahanan dan biaya lebih rendah tetapi menghasilkan lebih banyak deformasi dan panas, mengurangi umur ban pada kecepatan tinggi. Ban radial memiliki rolling resistance yang lebih kecil, meningkatkan efisiensi bahan bakar dan umur panjang namun lebih mahal. Belted bias menawarkan kompromi antara kenyamanan ban bias dan efisiensi ban radial. Pemilihan tergantung pada keperluan dan batas anggaran pemilik .

Sistem suspensi trunnion shaft melibatkan pemasangan shaft pada frame melalui bracket trunnion. Biasanya digunakan pada truk dengan dua rear axle. Titik tengah trunnion shaft terletak di tengah antara dua drive axle, sehingga mendistribusikan beban secara merata. Pemanfaatan sistem ini membantu truk dalam menjaga kestabilan dan mengurangi kerusakan pada axle saat menanggung beban berat .

Ban kendaraan terdiri dari carcass, tread, breaker, dan bead. Carcass menahan berat dan bertugas menyerap goncangan. Tread melindungi carcass dari keausan dan kerusakan. Breaker ditempatkan di antara tread dan carcass untuk meredam goncangan. Bead menjamin pemasangan kuat ban ke rim. Tread memiliki berbagai pola yang mempengaruhi performa dan keamanan ban di berbagai kondisi jalan .

Leaf spring terdiri dari susunan lapisan logam yang saling terikat oleh center bolt dan U-bolt. Struktur ini memberikan kekuatan yang cukup untuk menopang beban berat, meski friksi antara lapisan memberikan efek redaman. Leaf spring juga menyalurkan gaya kemudi dan pengereman. Meski kuat, friksi internal yang tinggi menyebabkan ketidakmampuan leaf spring dalam menyerap getaran kecil dan menimbulkan kebisingan .

Prinsip dasar dari shock absorber adalah untuk meredam getaran melalui pergerakan piston di dalam silinder. Perbedaan tekanan terjadi antara atas dan bawah piston karena aliran oli yang terhambat oleh orifice piston. Ukuran orifice dan kecepatan pergerakan piston menentukan perbedaan tekanan ini, yang pada gilirannya menentukan kemampuan peredaman getaran oleh shock absorber .

Air spring adalah tipe pegas suspensi yang menggunakan udara bertekanan untuk mendukung beban dan meredam guncangan. Sistem ini memungkinkan kenyamanan yang lebih baik karena dapat berubah dari soft ke rigid spring sesuai dengan beban. Kendaraan dengan air spring lebih mendapat manfaat fleksibilitas tetapi memerlukan stabilizer seperti torsion bar untuk mencegah terguling saat berbelok atau di medan kasar .

Final gear terdiri dari beberapa komponen utama seperti pinion gear dan bevel gear. Fungsi utama final gear adalah untuk menambah torque output dari transmisi serta merubah arah tenaga dari propeller shaft ke roda kanan dan kiri. Kombinasi dari bevel gear umumnya digunakan untuk perubahan arah ini. Selain itu, final gear dapat diklasifikasikan berdasarkan metode pengurangan kecepatan dan metode penggeraknya .

Differential berfungsi untuk meneruskan tenaga putar dari transmisi melalui propeller shaft ke roda kiri dan kanan, membantu menyeimbangkan roda dalam kondisi jalan tidak rata atau saat berbelok. Hal ini membuat penyaluran tenaga lebih halus antara roda kiri dan kanan. Terdapat dua jenis differential utama berdasarkan mekanismenya yaitu spin differential gear yang memungkinkan roda berbeda kecepatan dan non-spin differential gear yang tidak berubah .

Anda mungkin juga menyukai