MAKALAH TUGAS UTS
“DIKSI”
MATA KULIAH
BAHASA INDONESIA
DOSEN PENGAMPU :
ANGGA WARDA PRASAKTI, [Link]
DISUSUN OLEH :
DILKY GUSTIAN ARNANDO
233003010039
PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN FAKULTAS
HUKUM DAN EKONOMI BISNIS
UNIVERSITAS ADIWANGSA JAMBI
2023
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang tiada
hentinya melimpahkan Rahmat serta Karunia-Nya sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa saya sampaikan
kepada junjungan yakni Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umat
manusia dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan ini.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi persyaratan tugas UTS Mata Kuliah
Bahasa Indonesia.
Terlepas dari semua itu, saya meyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar saya dapat mengevaluasi makalah yang berjudul “Diksi” ini. Akhir kata
saya ucapkan terimakasih.
Jambi, November 2023
DILKY GUSTIAN ARNANDO
233003010039
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
1.3 Tujuan Pembelajaran ................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Diksi .......................................................................................... 3
2.2 Fungsi Diksi................................................................................................. 3
2.3 Syarat Ketepatan Diksi ................................................................................. 5
2.4 Makna Denotatif dan Konotatif ................................................................... 5
2.5 Pembentukan Kata ........................................................................................ 6
2.6 Penggunaan Kata yang Hemat...................................................................... 7
2.7 Kata Konkret dan Abstrak ............................................................................ 8
2.8 Kata Umum dan Khusus ............................................................................... 8
2.9 Kata Baku dan Tidak Baku........................................................................... 9
2.10 Kriteria Pemilihan Kata ............................................................................ 10
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................. 12
3.2 Saran ........................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 14
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa Indonesia karya ilmiah merupakan bahasa yang digunakan untuk
menulis laporan hasil penelitian atau pengkajian. Sesuai dengan sifat karya ilmiah
yang objektif, bahasa karya ilmiah harus objektif. Objektivitas bahasa karya ilmiah
tersebut dapat diwujudkan melalui ejaan yang tepat, diksi yang cermat, bentukan
kata yang sempurna, kalimat yang berstruktur lengkap, dan paragraf yang lengkap
dan padu.
Bahasa terbentuk dari beberapa tataran gramatikal, yaitu dari tataran terendah
sampai tertinggi adalah kata, frase, klausa, kalimat. Ketika anda menulis dan
berbicara, kata adalah kunci pokok dalam membentuk tulisan dan ucapan. Maka
dari itu kata-kata dalam bahasa Indonesia harus dipahami dengan baik, supaya ide
dan pesan seseorang dapat dimengerti dengan baik. Kata-kata yang digunakan
dalam komunikasi harus dipahami dalam konteks alinea dan wacana. Tidak
dibenarkan menggunakan kata-kata sesuka hati, tetapi yang harus mengikuti
kaidah-kaidah yang benar.
Menulis merupakan kegiatan yang menghasilkan ide secara terus menerus
dalam bentuk tulisan yang teratur yang mengungkapkan gambaran, maksud,
gagasan, perasaan (ekspresif). Untuk itu penulis atau pengarang membutuhkan
keterampilan dalam hal struktur bahasa dan kosakata. Yang terpenting dalam
menulis adalah penguasaan kosakata yang merupakan bagian dari diksi. Ketetapan
diksi dalam membuat suatu tulisan atau karangan tidak dapat diabaikan demi
menghasilkan tulisan yang mudah dimengerti. Diksi dapat diartikan sebagai pilihan
kata pengarang dalam menggambarkan “cerita” pengarang. Walaupun dapat
diartikan begitu, diksi tidak hanya pilih-memilih kata saja atau mengungkapkan
gagasan pengarang, tetapi juga meliputi gaya bahasa, dan ungkapan-ungkapan.
1
2.1 Rumusan Maasalah
1. Pengertian Diksi ?
2. Fungsi Diksi ?
3. Syarat Ketepatan Diksi ?
4. Makna Denotatif dan Konotatif?
5. Pembentukan Kata?
6. Penggunaan Kata yang Hemat ?
7. Kata Konkret dan Abstrak ?
8. Kata Umum dan Khusus ?
9. Kata Baku dan Tidak Baku ?
10. Kriteria Pemilihan Kata ?
3.1 Tujuan dan Manfaat
Setelah mempelajari Bab ini, anda diharapkan dapat memahami :
1. Memahami Pengertian Diksi
2. Memahami Fungsi Diksi
3. Memahami Syarat Ketepatan Diksi
4. Memahami Makna Denotatif dan Konotatif
5. Memahami Pembentukan Kata
6. Memahami Penggunaan Kata yang Hemat
7. Memahami Kata Konkret dan Abstrak
8. Memahami Kata Umum dan Khusus
9. Memahami Kata Baku dan Tidak Baku
10. Memahami Kriteria Pemilihan Kata
2
BAB II
PEMBAHASAN
1.2 Pengertian Diksi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diksi adalah pilihan
kata yang tepat serta selaras dalam penggunaannya. Diksi digunakan oleh
penulis untuk mengungkapkan suatu gagasan sehingga mendapatkan efek
tertentu, sesuai yang diharapkan oleh penulis.
Diksi dapat di artikan sebagai hasil dari upaca memilih kata yang tepat
dan cocok, yang digunakan dalam situasi tertentu, dalam suatu tuturan. Dalam
memilih kata yang tepat dan sesuai yang bermaksud adalah dalam kata-kata
yang digunakan dapat di dengar oleh pendengar serta tidak menimbulkan arti
yang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Artinya kata itu sampai maknanya
kepada pendengar atau pembaca sama dengan apa yang kita mau sebagai
pembicara atau penulis. Dalam memilih kata pembicara atau penulis harus
melihat situasi atau kondisi yang cocok, artinya dalam memilih kata dalam
situasi kita sebagai pembicara atau penulis harus memahami situasi dan kondisi
nya sehingga tidak terjadi kesalah pahaman dalam pembicaraan .
2.2 Fungsi Diksi
Fungsi umum pada diksi ada 3 yaitu :
1. Membangun kalimat efektif dan utuh.
2. Memberikan kemudahan penulis dalam menyampaikan pesan/informasi
kepada pembicaranya.
3. Menghindari miskomunikasi antara penulis dan pembaca atau pembicara
dan pendengar.
Kemudian ada beberapa fungsi lain dari diksi dalam penulisan karya sastra:
1. Membantu pembaca dalam memahami pesan dari suatu karya sastra
3
Pemilihan diksi yang tepat dan baik dalam sebuah penulisan karya
sastra dapat membuat pembaca lebih mudah memahami pesan yang ingin
disampaikan oleh penulis melalui tulisannya.
Pesan merupakan setiap pemberitahuan, komunikasi maupun kata yang
disampaikan baik lisan atau tertulis yang dikirimkan dari satu orang ke
orang lainnya. Pesan ini menjadi inti dari proses komunikasi yang terjalin.
2. Komunikasi yang efektif
Pemilihan diksi dalam penulisan karya sastra dapat membantu membuat
komunikasi menjadi lebih efektif. Pemahaman yang baik mengenai
penggunaan maupun pemilihan diksi sangat penting agar tercipta suatu
komunikasi yang efisien serta efektif.
Dalam praktiknya, diksi dapat menimbulkan suatu gagasan yang tepat
sekaligus kesalahpahaman bagi pembaca maupun pendengarnya. Lalu hal
ini dapat menimbulkan dampak bagi masyarakat.
3. Sebagai bentuk ekspresi
Sesuai dengan pengertiannya diksi berfungsi sebagai bentuk ekspresi
yang hadir dalam gagasan penulis yang dapat dituangkan dalam tulisan
maupun lisan.
Penggunaan diksi yang selaras dan tepat dapat membantu membangun
imajinasi dari para pembaca dan pendengar ketika membaca atau
mendengarkan sebuah karya sastra.
Ekspresi merupakan istilah yang merujuk pada sesuatu untuk
memperlihatkan perasaan seseorang. Mengekspresikan perasaan, tidak
hanya dapat ditunjukan melalui mimik wajah saja tetapi juga melalui kata-
kata dalam tulisan maupun ketika seseorang berbicara melalui pemilihan
diksi yang tepat.
4. Hiburan
Pemilihan diksi yang tepat dapat berfungsi sebagai hiburan bagi
pembaca. Hal ini berkaitan dengan setiap pesan serta ekspresi yang
dituangkan dalam sebuah karya sastra.
4
Hiburan merupakan segala sesuatu yang berbentuk kata, tempat, benda
atau bahkan perilaku yang dapat menjadi penghibur bagi pendengar,
penonton maupun pembacanya. Pada umumnya, hiburan dapat berupa
permainan, musik, opera, drama, video, film atau bahkan karya sastra.
3.2 Syarat Ketepatan Diksi
1. Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi
Contohnya : Amplop putih itu milik Pak Dilky Gustian Arnando (Denotasi)
Aroh adalah bunga desa di kampungnya (Konotasi)
2. Membedakan kata-kata yang hamper bersinonim dengan cermat
Contohnya :
Siapa pengubah peraturan yang memberatkan pengusaha ?
Pembebasan bea masuk untuk jenis barang tertentu adalah perubah
peraturan yang selama ini memberatkan pengusaha.
3. Membedakan kata-kata yang mirip ejaannya.
Contohnya : intensif – insentif
Karton - kartun
4. Membedakan kata-kata yang berakhiran asing/bersufiks asing.
Contoh : biologi – biologis
5. Membedakan kata depan secara idiomatik, seperti :
Kata ingat (harusnya ingat akan bukan ingat terhadap)
6. Membedakan kata umum dan kata khusus, seperti :
binatang (umum) dan ayam (khusus)
7. Mengetahui perubahan makna yang terjadi pada kata-kata tertentu yang
telah dikenal, seperti : hipotesea – hipotesis
8. Perhatikan kelangsungan pilihan kata
4.2 Makna Denotatif dan Konotatif
Makna denotasi merupakan suatu kata sesuai dengan konsep asalnya,
yaitu apa adanya tanpa mengalami perubahan ataupun penambahan makna,
sering pula disebut makna konseptual, makna lugas, serta makna objektif.
Makna denotatif juga bias di artikan secara eksplisit makna dalam alam wajar.
5
Yang dimaksud dengan makna wajar ini ialah makna yang sesuai dengan apa
adanya. Denotatif ialah suatu pengertian yang dikandung oleh sebuah kata
secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut juga makna konseptual.
Makna denotatif ialah makna yang umum.
Makna denotasi adalah makna kata yang tidak mendapat tambahan rasa
sedikitpun atau biasa disebut makna yang sebenarnya. Sebaliknya, makna
konotasi memiliki nilai rasa baik positif maupun negatif. (Chaer, 2009: 65)
Contoh makna denotasi :
a. Akar pohon ini dapat dibuat obat
b. Dahan pohon manga itu dipenuhi benalu
c. Ayah mengadiahi adik boneka yang lucu
Makna konotasi merupakan makna yang mengalami perubahan sari makna
asalnya dan sering pula di sebut sebagai makna kiasan. Makna konotatif ialah
makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap
pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual.
Makna konotatif sifatnya lebih profesional daripada makna denotatif dengan
kata lain, makna konotatif ialah makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi
dan siatuasi tertentu.
Contoh makna konotasi :
1. Varilah akar permasalahan itu
2. Ia hanya menjadi benalu dalam keluarga itu.
3. Sumatera Timur adalah salah satu boneka pemerintah colonial pada masa
lalu.
Dari pengertian dan contoh diatas jelas bahwa makna denotasi sesuai
dengan makna aslinya. Sedangkan makna konotasi sudah mengalami peluasan
makna atau makna kiasan.
5.2 Pembentukan Kata
Ada dua cara pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar bahasa
Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia berbentuk kosakata baru dengan dasar
6
kata yang sudah ada, sedangkan dari luar berbentuk makna kata baru melalui
unsur serapan.
Pembentukan dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kata baru.
Misalnya:
tata daya serba
tata buku daya tahan serba tahu
tata cara daya tarik serba kuat
hari tutup lepas
hari jadi tutup tahun lepas tangan hari besar
tutup usia lepas landas
Pembentukan dari luar bahasa Indonesia terbentuk kata-kata melalui pungutan
kata. Misalnya.
bank wisata
kredit santai
Contoh beberapa kata serapan:
configuration konfigurasi
airport bandara
established mapan
editing penyuntingan
image citra
take off lepas landas
gap kesenjangan
customer pelanggan
domain ranah
6.2 Penggunaan Kata yang Hemat
Salah satu ciri pemakaian bahasa yang efektif adalah pemakaian bahasa
yang hemat kata, tetapi padat isi. Namun dalam komunikasi sehari-hari sering
dijumpai pemakaian kata yang tidak hemat (boros).
Contoh :
hemat boros
7
sejak atau dari sejak dari
agar atau supaya agar supaya
demi atau untuk demi untuk
tujuan pembangunan tujuan daripada pembangunan
daftar nama peserta daftar nama-nama peserta
menyetujui menyatakan persetujuan
7.2 Kata Konkret dan Abstrak
Kata yang acuannya semakin mudah dicerap pancaindra disebut kata
konkret, seperti meja, rumah, mobil, dan lain-lain. Jika suatu kata tidak mudah
dicerap panca indra maka kata itu disebut kata abstrak, seperti gagasan dan
saran. Kata abstrak digunakan untuk mengungkapkan gagasan rumit. Kata
abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang bersifat teknis dan
khusus. Akan tetapi jika dihambur-hamburkan dalam suatu karangan, karangan
itu dapat menjadi samar dan tidak cermat.
8.2 Kata Umum dan Khusus
Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang lingkupnya.
Makin luas ruang lingkup suatu kata, makin umum sifatnya. Sebaliknya, mana
kata menjadi sempit ruang lingkupnya makin khusus [Link], mana
kata menjadi sempit ruang lingkupnya makin khusus sifatnya.
Makin umum suatu kata makin besar kemungkinan terjadi salah paham
atau perbedaan tafsiran. Sebaliknya, makin khusus, makin sempit ruang
lingkupnya, makin sedikt terjadi salah paham. Dengan kata lain, semakin
khusus makna kata yang dipakai, pilihan kata semakin cepat. Perhatikan contoh
berikut:
a. Kata umum: melihat
Kata khusus: melotot, melirik, mengintip, menatap, memandang
b. Kata umum: berjalan
Kata khusus: tertatih-tatih, ngesot, terseok-seok, langkah tegap,
c. Kata umum: jatuh
8
Kata khusus: terpeleset, terjengkang, tergelincir, tersungkur, terjerembab,
terperosok, terjungkal.
9.2 Kata Baku dan Tidak Baku
Baku Tidak Baku
aerobik erobik
kongres konggres
jadwal jadual
karier karir
kompleks komplek
manajemen managemen
metode metoda
nakoda nahkoda
stasiun setasiun
khawatir kuatir
ekstrem ekstrim
syahdu sahdu
wasalam wassalam
ubah rubah
Februari Pebruari
Jumat jum’at
zaman jaman
kualitas kwalitas
atlet atlit
analisis analisa
apotek apotik
kuantitas kwantitas
persentase prosentase
legalisasi legalisir
9
10.2 Kriteria Pemilihan Kata
Agar dapat mengungkapkan gagasan, pendapat, pikiran, atau
pengalaman secara tepat dalam berbahasa –baik lisan maupun tulis— pemakai
bahasa hendaknya dapat memenuhi beberapa persyaratan atau kriteria di dalam
pemilihan kata. Kriteria yang dimaksud adalah ketepatan, kecermatan, dan
keserasian
1. Ketepatan
Ketepatan dalam pemilihan kata berkaitan dengan kemampuan memilih
kata yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat dan gagasan itu dapat
diterima secara tepat pula oleh pembaca atau pendengarnya. Dengan kata
lain, pilihan kata yang digunakan harus mampu mewakili gagasan secara
tepat dan dapat menimbulkan gagasan yang sama pada pikiran pembaca atau
pendengarnya.
Ketepatan pilihan kata semacam itu dapat dicapai jika pemakai bahasa
mampu memahami perbedaan penggunaan kata-kata yang bermakna
denotasi dan konotasi, sinonim, eufemisme, generik dan spesifik, serta
konkret dan abstrak.
2. Kecermatan
Kecermatan dalam pemilihan kata berkaitan dengan kemampuan
memilih kata yang benar-benar diperlukan untuk mengungkapkan gagasan
tertentu. Agar dapat memilih kata secara cermat, pemakai bahasa dituntut
untuk mampu memahami ekonomi bahasa dan menghindari penggunaan
kata-kata yang dapat menyebabkan kemubaziran.
Adapun yang dimaksud dengan ekonomi bahasa adalah kehematan
dalam penggunaan unsur-unsur kebahasaan. Dengan demikian, kalau ada
kata atau ungkapan yang lebih singkat, kita tidak perlu menggunakan kata
atau ungkapan yang lebih panjang karena hal itu tidak ekonomis. Sebagai
contoh:
disebabkan oleh fakta → karena
mengajukan saran → menyarankan
10
melakukan kunjungan → berkunjung
mengeluarkan pemberitahuan → memberitahukan
meninggalkan kesan yang dalam → mengesankan
Sementara itu, pemakai bahasa juga dituntut untuk mampu memahami
penyebab terjadinya kemubaziran kata. Hal itu dimaksudkan agar ia dapat
memilih dan menentukan kata secara cermat sehingga tidak terjebak pada
penggunaan kata yang mubazir. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan kata
yang mubazir adalah kata-kata yang kehadirannya dalam konteks pemakaian
bahasa tidak diperlukan. Dengan memahami kata-kata yang mubazir,
pemakai bahasa dapat menghindari penggunaan kata yang tidak perlu dalam
konteks tertentu.
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu pula dipahami adanya beberapa
penyebab timbulnya kemubaziran suatu kata. Penyebab kemubaziran kata
itu antara lain adalah sebagai berikut.
a. Penggunaan kata yang bermakna jamak secara ganda
b. Penggunaan kata yang mempunyai kemiripan makna atau fungsi secara
ganda
c. Penggunaan kata yang bermakna ‘saling’ secara ganda
d. Penggunaan kata yang tidak sesuai dengan konteksnya
3. Keserasian
Keserasian dalam pemilihan kata berkaitan dengan kemampuan
menggunakan kata-kata yang sesuai dengan konteks pemakaiannya. Konteks
pemakaian yang dimaksud dalam hal ini erat kaitannya dengan faktor
kebahasaan dan faktor nonkebahasaan.
Faktor kebahasaan yang perlu diperhatikan antara lain penggunaan kata
yang sesuai dengan konteks kalimat, penggunaan bentuk gramatikal,
penggunaan idiom. Penggunaan ungkapan idiomatis, penggunaan majas, dan
penggunaan kata yang lazim. Sementara itu, faktor nonkebahasaan berkaitan
dengan situasi pembicaraan, mitra atau lawan bicara, sarana bicara,
kelayakan geografis, dan kelayakan temporal.
11
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diksi adalah pilihan kata
yang tepat serta selaras dalam penggunaannya. Diksi digunakan oleh penulis untuk
mengungkapkan suatu gagasan sehingga mendapatkan efek tertentu, sesuai yang
diharapkan oleh penulis.
Diksi dapat di artikan sebagai hasil dari upaca memilih kata yang tepat dan
cocok, yang digunakan dalam situasi tertentu, dalam suatu tuturan. Dalam memilih
kata yang tepat dan sesuai yang bermaksud adalah dalam kata-kata yang
digunakan dapat di dengar oleh pendengar serta tidak menimbulkan arti yang
berbeda dengan apa yang kita inginkan. Artinya kata itu sampai maknanya kepada
pendengar atau pembaca sama dengan apa yang kita mau sebagai pembicara atau
penulis.
Fungsi umum pada diksi ada 3 yaitu :
1. Membangun kalimat efektif dan utuh.
2. Memberikan kemudahan penulis dalam menyampaikan pesan/informasi
kepada pembicaranya.
3. Menghindari miskomunikasi antara penulis dan pembaca atau pembicara dan
pendengar.
Agar dapat mengungkapkan gagasan, pendapat, pikiran, atau pengalaman
secara tepat dalam berbahasa –baik lisan maupun tulis— pemakai bahasa
hendaknya dapat memenuhi beberapa persyaratan atau kriteria di dalam pemilihan
kata. Kriteria yang dimaksud adalah ketepatan, kecermatan, dan keserasian
12
3.2 Saran
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat menemukan beberapa saran yang
diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan lebih lanjut dalam upaya
peningkatan kualitas dalam penulisan ataupun susunan kata yang kurang spasifik.
13
DAFTAR PUSTAKA
Sumber referensi
[Link]
[Link]
DIKSI (PILIHAN KATA) - BAHASA INDONESIA - YouTube
[Link]
perbedaan-ciri-ciri-dan-contoh-
kalimatnya#:~:text=Dengan%20kata%20lain%2C%20denotasi%20merupakan,kata%
20yang%20memiliki%20makna%20kias.
[Link]
/3_7572_esa113_092018_pdf.pdf
14