Metode Pembelajaran Efektif dan Simulasi
Metode Pembelajaran Efektif dan Simulasi
KAJIAN TEORI
A. Metode Pembelajaran
1. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam pernyataan tokoh seperti Edgar Bruce
Wesley mendefinisikan metode dalam pembelajaran sebagai: “rentetan kegiatan
terarah bagi guru yang menyebabkan timbulnya proses belajar pada murid-murid,
atau ia adalah proses yang melaksanakannya yang sempurna menghasilkan proses
belajar, atau ia adalah jalan yang dengannya pengajaran itu menjadi berkesan.
Secara bahasa metode berasal dari dua perkataan “meta” dan “hodos.”
“meta” berarti ”melalui.” Dan ”hodos” berarti ”jalan atau cara”, bila ditambah
“logi” sehingga menjadi “metodologi” berarti “ilmu pengetahuan tentang jalan
atau cara yang harus dilalui” untuk mencapai tujuan, oleh karena kata “logi” yang
berasal dari kata yunani (Greek) “logos berarti akal” atau “ilmu”.
Dengan demikian metode mengajar merupakan suatu alat yang
digunakan untuk mentransfer ilmu dari guru ke siswa dan sebaliknya. Setiap
metode mengajar yang dipilih dan digunakan akan membawa pengaruh langsung
maupun tidak langsung terhadap pencapaian hasil yang diharapkan baik berupa
dampak langsung maupun tidak langsung.
10
c. Metode demonstrasi, yaitu cara penyajian pelajaran dengan memperagakan
atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu
yang sedang dipelajari yang disertai dengan penjelasan lisan.
d. Metode karyawisata, yaitu cara penyajian pelajaran dengan membawa siswa
mempelajari bahan-bahan belajar di luar kelas.
e. Metode penugasan, yaitu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru
memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.
f. Metode pemecahan masalah, yaitu cara penyajian bahan pelajaran dengan
menyajikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan
disintesis dalam usahamencari pemecahan masalah atau jawabannya oleh
siswa
g. Metode diskusi, yaitu cara penyajian pelajaran di mana siswa-siswa
dihadapkan kepada suatu masalah yang dapat berupa pernyataan atau
pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
h. Metode simulasi/permainan, yaitu cara penyajian pelajaran dengan
menggunakan situasi tiruan atau berpura-pura atau melalui sebuah permainan
dalam proses belajar untuk memperoleh suatu pemahaman tentang hakikat
suatu konsep,prinsip, atau keterampilan tertentu.
i. Metode eksperimen, yaitu cara penyajian pelajaran di manasiswa melakukan
percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang
dipelajari.
j. Metode penemuan (Discovery-Inquiry), yaitu cara penyajian pembelajaran
yang banyak melibatkan siswa dalam prosesmental dalam rangka
penemuannya.
k. Metode proyek atau unit, yaitu cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak
dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan
sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna.
11
untuk mengetahui apakah ada peningkatan dalam penguasaan konsep siswa pada
pelajaran biologi dengan materi sistem gerak manusia di MA Darul Arqom Garut.
Melalui metode ini penulis menyesuaikan dan menggabungkan pelajaran Biologi
dalam materi sistem gerak manusia dengan hal yang disukai siswa yaitu bermain.
Menurut (Maiga & dkk, 2009), Bermain merupakan hal penting dalam
lingkungan belajar karena bisa meningkatkan pengalaman belajar yang mudah
12
diingat, mempertinggi suasana hati siswa dalam melaksanakan pembelajaran
dengan efektif dan juga menarik perhatian siswa dan mengulang materi sebagai
hasil kejadian yang menyenangkan.
Dalam hal belajar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru
termasuk daya ingat siswa. Beberapa reset kebanyakan siswa hanya mengingat 5-
10% apa yang mereka baca. Kemudian hanya mengingat 20% apa yang mereka
dengar. Dan meningkat menjadi 30% apa yang mereka lihat secara visual dari apa
yang mereka dengarkan. Menjadi 50% jika mereka melihat seseorang
mempraktiknya secara langsung sembari menerangkan. Secara drastis bisa
mencapai 80% jika mereka melakukannya sendiri, walaupun hanya sekedar
simulasi. Permainan merupakan sesuatu yang menarik dan menyenangkan.
Dengan pembelajaran yang dikemas dalam permainan maka siswa akan merasa
nyaman, tertarik dan menyenangkan sehingga daya ingat siswa terhadap materi
yang disampaikan juga cukup [Link] demikian bahwa metode
pembelajaran dengan permainan bisa meningkatkan penguasaan konsep dan
pengalaman belajar yang mudah diingat dan efektif, karena pembelajaran yang
dikemas dalam permainan membuat siswa merasa nyaman, tertarik,
menyenangkan dan juga siswa langsung mempraktekkan permainan tersebut
sendiri.
13
cara menanamkan nilai-nilai positif kepada remaja. Penanaman nilai tersebut
didasarkan pada nilai, norma serta adat istiadat yang dimiliki setiap daerah.
(Winataputra & Dkk, 2012) menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis
kearifan lokal merupakan suatu strategi penciptaan lingkungan belajar dan
perencanaan pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya sebagai bagian
dari proses pembelajaran. Pembelajaran berbasis kearifan lokal dilandaskan pada
pengakuan terhadap budaya sebagai bagian yang fundamental (mendasar dan
penting) bagi pendidikan, ekspresi dan komunikasi suatu gagasan, dan
perkembangan pengetahuan. Budaya merupakan media untuk memotivasi siswa
dalam mengaplikasikan pengetahuan, bekerja secara kooperatif, dan
mempersiapkan keterkaitan antar berbagai macam pelajaran.
Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan
budaya tertentu (budaya lokal) dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat
tertentu (masyarakat lokal). Dengan kata lain, kearifan lokal bersemayam pada
budaya lokal. Seperti telah dikemukakan oleh Bosch, yang penting ialah
mengembangkan kreativitas para pelaku budaya sendiri sehingga dapat
menumbuhkan “ Kearifan Lokal “ ketika menghadapi terjangan pengaruh
kebudayaan asing (Rosidi, 2009).
Kearifan lokal masyarakat (local wisdom) sudah ada semenjak zaman
pra-sejarah hingga saat ini. Adapun kearifan lokal yang lebih khusus mengenai
lingkungan yaitu kearifan lingkungan merupakan interaksi antara manusia dengan
lingkungannya yang bersumber dari nilai agama, adat istiadat atau bahkan budaya
setempat yang dibangun secara alamiah.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti dapat mengambil benang
merah bahwa kearifan lokal merupakan gagasan yang timbul dan berkembang
secara terus-menerus di dalam sebuah masyarakat berupa adat istiadat, tata
aturan/norma, budaya, bahasa, kepercayaan, dan kebiasaan sehari-hari.
Menurut (Ratna, 2011)Dalam masyarakat, kearifan-kearifan lokal dapat
ditemui dalam cerita rakyat, nyayian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan
kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari-hari. Kearifan lokal ini akan
mewujud menjadi budaya tradisi, kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai
yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu.
14
Selain berupa nilai dan kebiasaan bentuk kearifan lokal juga terdapat
pada permainan tradisional. Menurut (Sujarno & dkk, 2011) Permainan
merupakan unsur budaya yang tidak lepas dari kehidupan manusia khususnya
anak-anak. Permainan merupakan unsur budaya yang universal, dimana
masyarakat itu tinggal ada pasti permainan. Permainan tradisional merupakan
kekayaan khasanah budaya lokal, yang seharusnya dapat dimanfaatkan dalam
[Link] bahwa permainan tradisional yang telah lahir sejak
ribuan tahun yang lalu merupakan hasil dari proses kebudayaan manusia zaman
dahulu yang masih kental dengan nilai-nilai kearifan lokal.
15
Bermain secara umum sering dikaitkan dengan kegiatan anak-anak yang
dilakukan secara spontan yang terdapat lima pengertian bermain:
a. Sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak.
b. Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik.
c. Bersifat spontan dan sukarela, tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas
dipilih oleh anak serta melibatkan peran aktif keikutsertaan anak.
d. Memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan seuatu yang bukan
bermain, seperti kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa,
perkembangan sosial.
16
a. Untuk perkembangan fisik
Akan membuat tubuh anak menjadi sehat. Otot-otot tubuh akan
tumbuh dan menjadi kuat. Selain itu anggota tubuh mendapat
kesempatan untuk digerakan. Anak juga dapat menyalurkan tenaga
(Energi) yang berlebihan sehingga ia tidak merasa gelisah.
b. Untuk perkembangan aspek motorik kasar dan motorik halus
Aspek motorik kasar juga dapat dikembangkan melalui kegiatan
bermain. Contohnya bisa diamati pada anak yang berlari berkejar-
kejaran untuk menangkap temannya. Pada awalnya iabelum terampil
untuk berlari, tapi dengan bermain kejar-kejaran,maka anak berminat
untuk melakukannya dan menjadi lebih [Link] motorik halus,
misalnya pada usia 1 tahun, anak senang memainkan pensil untuk
membuat coret-coretan. Secara tidak langsung ia belajar melakukan
gerakan-gerakan motorik halus yang diperlukan dalam menulis.
c. Untuk perkembangan aspek sosial
Dengan bermain ia belajar berkomunikasi dengan sesama teman baik
dalam hal mengemukakan isi pikiran dan perasaannya maupun
memahami apa yang diucapkan oleh teman tersebut,sehingga
hubungan dapat terbina dan dapat saling bertukar
informasi(pengetahuan). Perlu juga diingat peran bermain sebagai
media bagianak untuk mempelajari budaya setempat, peran-peran
sosial danperan jenis kelamin yang berlangsung di masyarakat. Anak
akan mewarisi permainan yang khas sesuai dengan budaya masyaraka
tempat ia hidup.
d. Untuk perkembangan aspek emosi atau kepribadian
Dari kegiatan bermain yang dilakukan bersama sekelompok teman,
anak akan mempunyai penilaian terhadap dirinya tentang kelebihan-
kelebihan yang ia miliki sehingga dapat membantu pembentukan
konsep diri yang positif, mempunyai rasa percaya diridan harga diri
karena ia merasa mempunyai kompetensi [Link] belajar
bagaimana harus bersikap dan bertingkah laku agar dapat bekerja
sama dengan teman-teman, bersikap jujur, kesatria,murah
17
e. Untuk mengembangkan keterampilan olahraga dan menari
Bila seorang anak tubuhnya sehat, kuat, cekatan melakukan gerakan-
gerakan baik berlari, meniti, bergelantungan, melompat,menendang,
melempar serta menangkap bola, maka ia lebih siap menekuni bidang
olah raga tertentu pada usia yang lebih [Link] pula halnya
dengan kegiatan menari. Untuk menari,diperlukan gerakan-gerakan
tubuh yang cekatan, lentur, tidak canggung-canggung, yakin pada apa
yang dilakukan sehingga ia bisa menari tanpa merasa takut-takut atau
was-was.
b. Kelompok yang menang akan melempar bola kasti lebih dahulu kearah
tumpukan pecahan genting sementara kelompok yang kalah bertugas jaga.
18
c. Jika tumpukan menara tersebut berhasil dihancurkan, maka kelompok
menang tadi harus segera lari untuk menghindari bola yang ditangkap dan
dilemparkan oleh penjaga ke arah mereka.
d. Penjaga dari kelompok kalah harus terus menghalangi kelompok menang
yang diharuskan menyusun kembali menara pecahan genting yang hancur,
sambil menghindari lemparan bola dari kelompok yang berjaga.
e. Jika kelompok menang berhasil menyusun menara sebelum semua
anggotanya terkena lemperan bola, maka mereka menjadi pemenang dan
berhak melempar bola lagi ke arah menara pecahan genting.
f. Apabila semua kelompok menang terkena lemparan bola atau gagal
menghancurkan menara maka kelompok kalah ganti melempar bola ke
arah menara genting. Begitulah cara bermain boi-boian dan seterusnya.
19
Melalui permainan boi-boian ini diharapkan dapat mencapai penguasaan
konsep materi sistem gerak manusia yang mana siswa dapat menganalogikan
hubungan yang terdapat dari setiap gerakan dengan konsep materi sistem gerak
manusia pada saat bermain yaitu komponen alat gerak seperti tulang, otot, dan
sendi yang berperan dari awal hingga akhir permainan beserta gerakannya.
Metode pembelajaran ini juga diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan penguasaan konsep siswa dan dapat menjadi solusi agar guru mampu
menciptakan kebermaknaan dalam pembelajaran dan menerapkan pembelajaran
berbasis budaya.
20
b. Membutuhkan ruang atau tempat yang khusus sesuai dengan tipe
permainan yang dilakukan.
c. Sering terjadi saling berebut alat atau media bermain antara anak yang
satu dengan yang lainnya apabila alat atau medianya tidak mencukupi
C. Penguasaan konsep
Informasi non verbal dipelajari dengan cara penginderaan terhadap
objek-objek dan peristiwa-peristiwa secara langsung. Informasi fakta dan
pengetahuan verbal dipelajari dengan cara mendengarkan dan membaca.
Semuanya penting untuk memperoleh konsep-konsep. Selanjunya, konsep-konsep
itu penting untuk membentuk prinsip-prinsip. Kemudian prinsip-prinsip itu
penting di dalam pemecahan masalah dan di dalam kreativitas.
Konsep sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefiniskan
sebagai “gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang ada di luar
bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain”. Menurut
wikipedia, konsep adalah “pembawa arti”. Dimana suatu konsep tunggal bisa
dinyatakan dengan bahasa apapun”.Menurut (Tedjasaputra, 2001) konsep adalah
suatu abstraksi yang memiliki suatu kelas objek-objek, kejadian-kejadian,
kegiatan-kegiatan, hubungan-hubungan yang mempunyai atribut yang sama.
Setiap konsep tidak berdiri sendiri melainkan berhubungan satu sama lain, oleh
karena itu siswa dituntut tidak hanya menghafal konsep saja, tetapi hendaknya
memperhatikan hubungan antara satu konsep dengan konsep lainnya. Selanjutnya
21
Syaiful dalam (Tedjasaputra, 2001) menyatakan bahwa konsep diperoleh dari
fakta-fakta, peristiwa, pengalaman generalisasi dan berpikir abstrak, kegunaan
konsep untuk menjelaskan dan meramalkan. Konsep merupakan abstraksi dan
ciri-ciri dari sesuatu yang dapat mempermudah komunikasi untuk berpikir,
dengan demikian tanpa adanya konsep belajar akan sangat terhambat.
Kemampuan abstrak itu disebut pemikiran konseptual. Sebagian besar materi
pembelajaran yang dipelajari di sekolah terdiri dari [Link]
banyak konsep yang dimiliki seseorang, semakin banyak alternatif yang dapat
dipilih dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
22
sebelum perguruan tinggi, mereka belum mampu memperoleh konsep baru
melalui membaca dan mempelajari bahan-bahan [Link] (Slameto,
2013) berpendapat bahwa diperlukan petunjuk-petunjuk dan prinsip-prinsip bagi
guru untuk para siswa yang mulai mempelajari konsep dasar dalam suatu mata
pelajaran, yaitu:
23
merupakan salah satu unsur sistem penegak dan penggerak tulang-tulang manusia
yang dihubungkan satu dengan lain melalui persendian sehingga terbentuk sistem
lokomotor pasif (Syaifuddin, 2011). Sistem rangka atau gerak adalah bagian tubuh
yang terdiri dari tulang, sendi, dan tulang rawan (kartilago) sebagai tempat
menempelnya otot dan memungkinkan tubuh untuk mempertahankan sikap dan
posisi. Tulang merupakan alat gerak pasif karena hanya mengikuti kendali otot.
Muskuloskeletal terdiri dari kata muskulo yang berarti otot dan kata skeletal yang
berarti tulang. Muskulo atau muskular adalah jaringan otot-otot tubuh. Skeletal
tau osteo adalah tulang kerangka tubuh. Ilmu yang mempelajari tentang muskulo
atau jaringan otot-otot tubuh adalah osteologi (Devi, 2017)
1. Tulang
Tulang terbuat dari sel khusus dan serat protein. Dapat bergerak dan
tidak dapat mati, tulang terus menerus rusak dan memperbaiki dirinya sendiri.
Disepanjang garis tengah tulang panjang terdapat kanal medulari atau rongga
sumsum. Rongga ini berisi sumsum tulang merah, yang menghasilkan sel darah,
sumsum kuning, yang sebagian besar berupa jaringan lemak dan banyak
pembuluh darah. Lapisan tulang spons dikelilingi lapisan tulang padat yang
menyerupai cangkang keras, padat dan kuat. Kanal-kanal kecil menghubungkan
rongga sumsum dan periosteum membran yang menyelubungi permukaan tulang.
Jaringan tulang terbentuk dari sel khusus dan serat protein, terutama kolagen,
kristal mineral dan garam, karbohidrat, dan zat lain. Sel tulang termasuk di
dalamnya osteoblas, yang mengapur tulang di saat proses pembentukan; osteosit
yang menjaga struktur tulang agar tetap sehat; dan osteoklas yang menyerap
jaringan tulang yang berdegenerasi atau tidak dibutuhkan (Parker, 2007)
a. Fungsi Umum Tulang
1) Formasi kerangka: tulang membentuk kerangka tubuh untuk
menentukan ukuran tulang dan menyokong struktur tubuh yang lain.
2) Formasi sendi: tulang-tulang membentuk persendian yang bergerak
dan tidak bergerak tergantung dari kebutuhan fungsional.
3) Perlekatan otot: tulang-tulang menyediakan permukaan untuk tempat
melekatnya otot, tendon, dan ligamentum.
4) Hemopoiesis: sumsum tulang merupakan pembentukan sel-sel darah,
sumsum tulang merah.
24
5) Fungsi imunologi: Limfosit B diubah menjadi sel-sel plasma yang
membentuk anti body guna keperluan kekebalan kimiawi, sedangkan
makrofag berfungsi untuk fagositosik.
6) Penyimpanan kalsium: tulang mengandung 97% kalsium tubuh, baik
dalam bentuk anorganik maupun dalam bentuk garam-garam, terutama
kalsium fospat (Saifuddin, 2009)
b. Jenis Tulang
1. Berdasarkan jaringan penyusun dan sifat-sifat fisiknya, terdiri dari:
1) Tulang rawan (Kartilago)
Tulang rawan terbuat dari bahan yang padat bening dan putih kebiru-
biruan. Sangat kuat tetapi kurang dibandingkan dengan tulang keras dijumpai
terutama pada sendi dan di antara dua tulang. Tulang rawan tidak mengandung
pembuluh darah tetapi diselubungi membran perikondrium, tempat tulang rawan
mendapatkan darah (Irianto, 2004)
Tulang rawan terdiri dari 3 macam:
a. Tulang rawan hialin: kuat dan elastis terdapat pada ujung tulang pipa.
b. Tulang rawan fibrosa: memperdalam rongga dari cawan-cawan (tulang
panggul) dan rongga glenoid dari skapula
c. Tulang rawan elastik: terdapat dalam tulang daun telinga, epiglotis dan
faring.
d. Tulang sejati (osteon)
Tulang bersifat keras dan berfungsi menyusun berbagai sistem rangka.
Permukaan luar tulang dilapisi selubung fibrosa. Secara mikroskopis tulang terdiri
dari:
a. Sistem havers (saluran yang berisi serabut saraf, pembuluh darah,
aliran limfe)
b. Lamella (lempeng tulang yang tersusun konsentris)
c. Lacuna (ruang kecil yang terdapat diantara lempengan yang
mengandung sel tulang).
d. Kanalikuli (memancar diantara lacuna dan tempat difusi makanan
sampai ke osteon)
e. Berdasarkan matriknya, terdiri:
f. Tulang kompak, yaitu tulang dengan matrik yang padat dan rapat
25
g. Tulang spons, yaitu tulang dengan matriknya berongga (Devi, 2017)
Berdasarkan bentuk dan ukurannya tulang penyusun rangka tubuh
dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu tulang pipa (tulang
panjang), tulang pendek, tulang pipih, tulang tidak beraturan dan
sesamoid.
h. Tulang pipa (tulang panjang), berbentuk silindris panjang, memiliki
bagian epifisis, diafisis, metafisis, dan cakra epifisis. Tulang pipa
berfungsi untuk menahan berat tubuh dan membentuk pergerakan.
Contohnya tulang pangkal lengan (humerus), tulang hasta (ulna),
tulang pengumpil (radius), tulang paha (femur), tulang kering (tibia),
dan tulang betis (fibula).
i. Tulang pendek, berukuran pendek, berukuran pendek dan berbentuk
kubus, serta tersusun dari tulang spons dan lapisan tipis tulang
kompak. Biasanya ditemukan berkelompok untuk memberikan
kekuatan dan kekompakan pada area atau pada daerah yang
pergerakannya terbatas. Contohnya tulang pergelangan tangan (karpal)
dan tulang pergelangan kaki (tarsal).
j. Tulang pipih, berbentuk lempengan dari tulang kompak dan tulang
spons yang berisi sumsum. Tulang pipih berfungsi memperluas
permukaan untuk perlekatan otot dan memberikan perlindungan.
Contohnya tulang tengkorak, tulang rusuk, dan tulang dada.
k. Tulang tidak beraturan (irregular bones), tulang yang berbentuk tidak
beraturan, tersusun dari tulang spons dan lapisan tipis tulang kompak
contohnya tulang belakang.
l. Tulang sesamoid, tulang berukuran kecil bulat yang terdapat pada
formasi persendian. Tulang sesamoid bersambung dengan tulang
kartilago, ligamen, atau tulang lainnya. Contohnya adalah tulang
tempurung lutut (patela) (Irnaningtyas, 2014).
2. Persendian
Tempat dua tulang berhubungan disebut sendi atau artikulasi. Sendi
dapat dibedakan berdasarkan struktur dan jenis gerakan yang dihasilkannya.
Tubuh memiliki lebih dari 300 jenis sendi (Parker, 2007).
26
a. Struktur Persendian
Komponen penunjang persendian, yaitu ligamen, kapsul sendi, cairan
sinovial,tulang rawan hialin dan bursa.
Ligamen merupakan jaringan ikat fibrosa yang berfungsi mencegah pergerakan
sendi secara berlebihan membantu mengembalikan tulang pada posisi asalnya
setelah melakukan pergerakan.
1) Kapsul sendi, struktur tipis tapi kuat didalam sendi yang berperan untuk
menahan ligamen.
2) Cairan sinovial, merupakan cairan pelumas sehingga gesekan berjalan
lancar, halus dan tidak menimbulan rasa nyeri atau sakit.
3) Tulang rawan hialin terdapat di bagian ujung tulang. Tulang rawan hialin
berfungsi sebagai bantalan sendi agar tidak nyeri saat bergerak.
4) Bursa merupakan kantung tertutup yang dilapisi membran sinovial,terletak
di luar rongga sendi (Irnaningtyas, 2014).
b. Tipe Persendian
Terdapat tiga jenis hubungan antar tulang, yaitu:
1) Sinartrosis disebut juga dengan sendi mati, yaitu hubungan antara tulang
yang tidak dapat digerakan sama sekali. Artikulasi ini tidak memiliki celah
sendi dan dihubungkan dengan jaringan serabut. Dijumpai pada tulang-
tulang tengkorak.
2) Amfiartosis disebut juga dengan sendi kaku, yaitu hubungan antar dua
tulang yang dapat digerakan secara terbatas. Dijumpai pada hubungan ruas-
ruas tulang belakang, tulang rusuk dengan tulang belakang.
3) Diartosis disebut juga sendi hidup, yaitu hubungan antar dua tulang yang
dapat digerakan secara leluasa dan tidak terbatas. Diartosis dibedakan
menjadi:
a) Sendi engsel yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan
hanya satu arah saja.
b) Sendi putar yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan salah satu
tulang berputar terhadap tulang yang lain sebagai porosnya.
c) Sendi pelana yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan
kesegala arah atau gerakan bebas.
27
d) Sendi peluru yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan
ke segala arah.
e) Sendi luncur yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan
badan melengkung kedepan (membungkuk) dan kebelakang serta
gerakan memutur (menggeliat) (Devi, 2017).
3. Otot Manusia
Otot adalah daging tubuh. Otot menonjol dan bergelombang tepat
dibawah kulit, dan tersusun dalam lapisan bersilangan ke arah bawah sampai ke
tulang. Tugas otot adalah berkontraksi dan menarik tulang tempat otot melekat.
Tubuh pria dewasa biasanya mengandung sekitar 400 otot yang meliputi hampir
dua perlima berat tubuhnya. Jumlah yang sama terdapat pada tubuh wanita dengan
proporsi yang lebih kecil.
a. Fungsi Otot
1) Menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat dan
bergerak dalam bagian organ internal tubuh
2) Menopang rangka dan mempertahankan tubuh pada saat berada dalam
posisi berdiri atau saat duduk
3) Menghasilkan panas untuk mempertahankan suhu tubuh normal (Devi,
2017)
b. Jenis-Jenis Otot
Kita mengenal ada tiga macam otot, yaitu:
1) Otot polos
Sel otot polos bentuknya seperti gelendong, di bagian tengah terbesar dan
kedua ujungnya meruncing. Otot polos memiliki inti, letaknya ditengah dengan
miofibril yang homogen. Otot polos merupakan otot tak sadar, karena bekerja
diluar kesadaran kita, otot polos bergerak secara lambat, teratur dan tidak cepat
lelah.
2) Otot lurik
Sel-sel otot lurik berbentuk silindris atau seperti tabung dan berinti
banyak dan letaknya di pinggir. Kerja otot lurik bersifat sadar artinya bekerja
menurut kemauan perintah otak. Reaksi kerja otot lurik terhadap rangsang cepat,
tetapi mudah lelah.
28
3) Otot jantung
Sel-sel otot jantung bentuk silindris, berinti banyak, serabutnya
bercabang dan bersambung satu sama lain, bersifat tidak sadar karena tidak
dipengaruhi oleh saraf. Otot jantung ditemukan hanya pada jantung.
c. Sifat Kerja Otot
Sifat kerja otot dibedakan menjadi:
1) Otot antagonis, yaitu hubungan antar otot yang cara kerja bertolak
belakang/tidak searah, menimbulkan gerakan berlawanan. Contohnya:
ekstensor (meluruskan) dengan fleksor (membengkokkan) misalnya otot
bisep dan otot trisep. Depressor (gerakan ke bawah) dengan elevator
(gerakan ke atas), misalnya gerak kepala menunduk dan menengadah)
2) Otot sinergis, yaitu hubungan antar otot yang cara kerjanya saling
mendukung atau bekerja sama, menimbulkan gerakan searah. Contohnya
pronator teres dan pronator kuadrus (Devi, 2017)
d. Mekanisme Kerja Otot
Sebagian besar otot rangka terdiri dari seberkas serat-serat panjang yang
paralel terhadap panjang otot. Satu serat otot mengandung seberkas miofibril yang
lebih kecil dan tersusun secara longitudinal. Miofibril sendiri terdiri dari filamen
tipis dan filamen tebal. Filamen tipis terdiri dari dua untai aktin dan dua untai
protein regulari yang melilit satu sama lain. Filamen tebal adalah susunan
molekul-molekul miosin yang terputus-putus (Campbell, 2010).
29
4. Rangka Tubuh
Kerangka menyusun sekitar seperlima berat tubuh orang sehat. Kerangka
dalam yang lentur ini menyangga seluruh tubuh dari jaringan dan akan jatuh jika
tidak disangga kerangka. Kerangka rata-rata memiliki 206 tulang. Kerangka juga
mampu menyesuaikan bentuk tulang menjadi lebih tebal dan kuat di daerah
dengan beban tambahan, seperti terlihat pada orang-orang dengan aktifitas
mengendarai kuda dan angkat berat. Kerangka dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
kerangka aksila dan apendikuler (Parker, 2007) Seperti pada Gambar 2.3
30
b. Rangka Aksial
Kerangka aksial terdiri atas tengkorak, tulang belakang (spinal), tulang
rusuk, dan tulang dada. Rangka aksial terdiri dari 80 tulang yang membentuk
aksis panjang tubuh dan melindungi organ-organ pada kepala, leher, dan dada.
1) Tengkorak (cranium), yaitu tulang yang tersusun dari22 tulang; 8 tulang
kranial dan 14 tulang fasial.
2) Tulang pendengaran (auditori) terdiri dari:
3) Tulang belakang (vertebra), berfungsi meyangga berat tubuh dan
memungkinkan manusia melakukan berbagai macam posisi dan gerakan,
misalnya berdiri, duduk, atau berlari.
4) Tulang iga/ rusuk (costae) yaitu tulang yang bersama dengan tulang dada
membentuk perisai pelindung bagi organ-organ penting yang terdapat di
dada, seperti paru-paru dan jantung, tulang rusuk berhubungan dengan
tulang belakang, berjumlah 12 ruas.
5) Tulang dada (sternum) terdiri atas tulang-tulang yang berbentuk pipih.
c. Rangka Apendikuler
Rangka apendikuler merupakan rangka yang tersusun dari tulang-
tulang bahu, tulang panggul, dan tulang anggota gerak atas dam bawah
terdiri atas 126 tulang. Secara umum rangka apendikuler dibagi kedalam
dua bagian, yaitu:
1) Ektremetas atas, terdiri dari tulang bahu dan tulang anggota gerak
atas.
2) Tulang bahu, terdiri atas dua bagian:
(a) Tulang belikat (skapula)
(b) Tulang selangka (klavikula)
3) Tulang anggota gerak atas, terdiri dari :
(a) Tulang lengan atas (humerus)
(b) Tulang hasta (ulna)
(c) Tulang pengumpil (radius)
(d) Tulang pergelangan tangan (karpal)
(e) Tulang telapak tangan (metakarpal)
(f) Tulang jari-jari (phalanges)
31
Gambar 2.2 Tulang Anggota Gerak atas
32
Gambar 2.3 Tulang Anggota Gerak Bawah
3) Osteoporosis
Orang yang menderita kelainan ini, keadaan tulangnya akan rapuh dan
keropos. Ini disebabkan karena berkurangnya kadar kalsium dalam
tulang. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, maka kadar
kalsium akan berkurang sedikit demi sedikit.
a) Rakhitis
33
Penyakit ini menyebabkan kondisi tulang seseorang yang lunak.
Hal ini disebabkan dalam tubuh seseorang kekurangan vitamin D.
b) Kram
Kram merupakan keadaan otot berada dalam keadaan kejang.
Keadaan ini disebabkan karena terlalu lamanya aktifitas otot
secara terus menerus.
c) Hipertropi
Suatu keadaan otot yang lebih besar dan lebih kuat hal ini
disebabkan karena otot sering dilatih dan berolahraga.
d) Atrofi
Keadaan otot yang lebih kecil dan lemah kontaksinya. Kelainan
ini disebabkan karena infeksi virus polio.
e) Artritis
Peradangan pada sendi, yang disertai bengkak, kaku, keterbatasan
bergerak dan rasa sakit. (Devi, 2017)
34
mengembangkan model pengajaran
biologi termasuk ke dalam kategori
cukup dengan skor rata-rata kelompok
tersebut berjumlah 76,44. sebanyak
79,63% kelompok siswa mampu
mengembangkan model pembelajaran
berbasis pada kreativitas (orisinal)
termasuk dalam kedua kategori, 80%
kelompok siswa mampu
mengembangkan pembelajaran model
dan bisa diaplikasikan dalam
pembelajaran termasuk dalam kategori
cukup, 72,59% kelompok siswa mampu
mengembangkan model pembelajaran
dengan sintaks yang sama yang
termasuk dalam kategori baik, 64,69%
kelompok siswa mampu
mengembangkan model pembelajaran
yang sistematis dengan sintaks yang
sesuai termasuk dalam kategori miskin,
81,73% siswa kelompok mampu
mengembangkan model pembelajaran
dengan mengintegrasikan nilai-nilai
kearifan lokal (ethnopedagogy)
termasuk dalam kategori baik dan
78,33% kelompok siswa mampu
mengembangkan model pembelajaran
dengan kreativitas itu termasuk dalam
kategori cukup. berdasarkan analisis
data dapat disimpulkan bahwa siswa
kemampuan untuk mengembangkan
model
pembelajaran dengan memadukan nilai
kearifan lokal bahasa sunda termasuk
dalam kategori cukup perlu ditingkatkan
dan dikembangkan di masa depan.
Berdasarkan penelitian tersebut,
pembelajaran menggunakan metode
ethnopedagogi dapat menjadi solusi
dalam mengatasi permasalahan kegiatan
belajar mengajar.
35
F. Kerangka Pemikiran
Sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologidan komunikasi,
penyebaran informasi tentang biologi dalam berbagai media masa sangat luar
biasa, hal ini menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap
perkembangan biologi dewasa ini. Dari berbagai penelitian banyak temuan-
temuan baru yang mewarnai kehidupan ini yang berdampak positif, baik bagi
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, maupun sosiokultur. Hasil-hasil
penelitian ini akan dapat dipahami dengan baik apabila pembaca sebelumnya telah
memiliki pengetahuan dasar biologi. Keadaan ini menuntut para pelaksana
pendidikan, khususnya pendidikan biologi di tingkat sekolah untuk terus
menyesuaikan materi ajar dengan perkembangan biologi dewasa ini. Lebih jauh
lagi kurikulum sekolah perlu disusun fleksibel, sehingga secara terus menerus
dapat disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
36
Tabel 2.2 Persentase (%) siswa berdasarkan katagori sekolah yang
menganggap sulit terhadap materi ajar biologi
37
dan terhindar dari miskonsepsi. Pemberian konsep yang tepat dapat memberikan
bekal pengalaman yang bermakna, dapat diingat lebih lama oleh siswa, dan dapat
digunakan sebagai landasan untuk memecahkan masalah yang ditemukan siswa
(Howe, 1990) (Dahar, 1996). Untuk itu mem-fasilitasi hal tersebut, perlu
dikembangkan metode pembelajaran yang dapat membantu peserta didik dalam
memahami konsep-konsep dasar esensial sebagai landasan dalam
mengembangkan pengetahuan, perilaku dan sikap peserta didik.
1. Asumsi
Pembelajaran berbasis permainan budaya lokal boi-boian dapat
meningkatkan penguasaan konsep siswa
2. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran dan asumsi yang telah dikemukakan
diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ho: “Pembelajaran berbasis permainan budaya lokal boi-boian pada materi sistem
gerak manusia tidak dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa”.
Ha: “Pembelajaran berbasis permainan budaya lokal boi-boian pada materi sistem
gerak manusia dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa”.
39