BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO)
1. Definisi
Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO) adalah Resistansi kuman
Mycobacterium tuberculosis (Mtb) disebabkan oleh mutasi spontan pada
kromosom. Proporsi kuman Mtb yang sudah mengalami mutasi (wild-type
resistant mutants) pada pasien yang tidak pernah mendapatkan OAT sangat
sedikit. Pengobatan TB menyebabkan hambatan selektif pada populasi
kuman Mtb sehingga kuman Mtb sensitif dibunuh, sementara populasi
mutan akan bereproduksi dan menyebabkan terjadinya resistansi terhadap
OAT (resistansi didapat).
Resistansi di antara pasien baru adalah resistansi terhadap OAT pada
pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan TB sebelumnya atau
sudah mendapatkan OAT kurang dari 1 bulan. Pasien ini terinfeksi dari
orang dengan kuman TB resistan. Sementara resistansi di antara pasien yang
pernah diobati adalah resistansi yang terjadi pada pasien yang pernah
mendapatkan pengobatan TB > 1 bulan, termasuk pasien gagal pengobatan,
pasien kambuh atau kembali
Setelah putus berobat. Pasien ini bisa mendapatkan kuman resistan
selama pengobatan, atau mengalami reinfeksi/ terinfeksi secara primer
dari
9
10
orang dengan kuman tuberkulosis resistan. (Petunjuk Teknis
Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat di Indonesia, 2020).
Menurut Nawas (2010), tuberkulosis resistensi obat anti tuberkulosis
(OAT) pada dasarnya adalah suatu fenomena buatan manusia, sebagai
akibat dari pengobatan pasien tuberkulosis yang tidak adekuat dan
penularan dari pasien TB-RO tersebut. Pengobatan yang tidak adekuat
biasanya akibat dari satu atau lebih kondisi berikut ini:
a. Regimen, dosis, dan cara pemakaian yang tidak benar
b. Ketidakteraturan dan ketidakpatuhan pasien untuk minum obat
c. Terputusnya ketersediaan OAT
d. Kualitas obat yang rendah
2. Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Tuberkulosis Resistan Obat
Berdasarkan Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan
Obat Di Indonesia (2020) faktor utama penyebab terjadinya
resistansi kuman terhadap OAT adalah akibat tata laksana pengobatan
pasien tuberkulosis yang tidak adekuat atau tidak sesuai standar. Resistansi
OAT dapat disebabkan oleh 3 faktor berikut :
a. Pemberi jasa/petugas kesehatan, yaitu karena:
1) Diagnosis tidak tepat,
2) Pengobatan tidak menggunakan paduan yang tepat,
3) Dosis, jenis, jumlah obat dan jangka waktu pengobatan tidak adekuat,
4) Penyuluhan kepada pasien yang tidak adekuat
11
b. Pasien, yaitu karena:
1) Tidak mematuhi anjuran dokter / petugas kesehatan
2) Tidak teratur menelan paduan OAT,
3) Menghentikan pengobatan secara sepihak sebelum waktunya.
4) Memiliki gangguan penyerapan obat
c. Program Pengendalian Tuberkulosis, yaitu karena:
5) Persediaan OAT yang kurang
6) Rendahnya kualitas OAT yang disediakan
3. Strategi Nasional Pengendalian Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO).
Berdasarkan Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis
Resistan Obat Di Indonesia (2020) upaya penanggulangan TB-RO tertuang
pada dokumen Strategi Nasional (Stranas) 2021-2024 yang berisi
pengembangan program untuk kualitas layanan TB-RO yang terintegrasi
dan percepatan menuju akses universal. Hal ini berarti bahwa layanan TB-
RO harus dapat menjangkau semua pasien tanpa membedakan latar
belakang social ekonomi, karakteristik demografi, wilayah geograifs dan
kondisi klinis. Strategi nasional pengendalian TB-RO tersebut meliputi:
a. Mencegah munculnya resistansi melalui akses universal terhadap layanan yang
berkualitas tinggi untuk TB sensitif obat sesuai dengan rencana strategis
nasional TB.
b. Mencegah penyebaran TB-RO melalui akses universal terhadap layanan
diagnostik dan pengobatan TB-ROyang berkualitas tinggi.
c. Mencegah penularan TB-RO melalui penerapan PPI TB sesuai standar.
12
d. Penyediaan layanan berpusat pada pasien untuk semua pasien TB-RO
termasuk dukungan kepatuhan minum obat.
e. Meningkatkan manajemen dan kepemilikan layanan TB-RO di semua
tingkat baik di provinsi, kabupaten/ kota dan fasilitas pelayanan
Kesehatan.
f. Memperkuat komitmen politis di semua tingkatan untuk MTPTRO
melalui advokasi dan kemitraan dengan pemangku kebijakan serta
organisasi berbasis masyarakat.
g. Implementasi penggunaan obat baru dan paduan standar jangka pendek
untuk meningkatkan kualitas pengobatan pasien TB-RO di Indonesia.
4. Jejaring Layanan
Secara umum, rumah sakit dan balai kesehatan adalah fasyankes
yang memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien TB-RO (case
finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan
keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan
dengan Puskesmas. Mengingat pengobatan TB-RO memerlukan waktu yang
relatif lama, untuk menjamin keberlangsungan pengobatan TB-RO
diperlukan kerjasama antara rumah sakit dan balkes pelaksana layananTB-
RO dengan puskesmas/fasyankes yang terdekat dengan tempat tinggal
pasien. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring internal maupun eksternal.
a. Jejaring Internal
Jejaring internal adalah jejaring antar semua unit terkait di dalam
13
dalam fasyankes yang menangani kasus tuberkulosis termasuk TB-RO,
dari awal penemuan kasus, penegakan diagnosis, sampai pasien selesai
pengobatan. Pada dasarnya, jejaring internal pelayanan untuk pasien TB-
RO menggunakan sistem yang sama dengan pelayanan pasien TB sensitif
obat. Setiap fasyankes pelaksana layanan TB-RO harus mengembangkan
suatu alur pelayanan (clinical pathway) yang dituangkan dalam bentuk
Standar Prosedur Operasional (SPO) agar alur layanan pasien TB-RO
menjadi jelas dan sistematis.
Untuk menjamin keberhasilan jejaring internal, perlu didukung
oleh direksi atau manajemen RS dan tim TB di fasyankes. Tim TB
fasyankes mengkoordinasikan seluruh kegiatan penatalaksanaan semua
pasien TB termasuk pasien TB-RO. Fasyankes pelaksana layanan TB-
ROperlu membentuk tim ahli klinis dengan melibatkan para dokter ahli
serta dokter umum yang terlatih TB-RO untuk menjadi bagian dari
struktur tim TB di fasyankes yang akan melaksanakan kegiatan
tatalaksana pasien TB-RO Fasyankes TB-RO yang tidak memiliki dokter
ahli, tetap dapat memberikan layanan TB-ROyang dilakukan oleh dokter
umum yang terlatih.
b. Jejaring Eksternal.
Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun dengan semua
fasyankes dan institusi lain yang terkait dalam pengendalian TB,
khususnya dalam tata laksana pasien TB-RO dan difasilitasi oleh dinas
kesehatan setempat. Tujuan jejaring eksternal ialah agar semua pasien
14
TB-RO mendapatkan akses pelayanan yang berkualitas dan menjamin
keberlangsungan pengobatan pasien sampai selesai.
Jejaring eksternal juga mencakup jejaring pemeriksaan
laboratorium dan penunjang yang dibutuhkan. Fasyankes pelaksana
layanan TB-RO yang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan penunjang
dapat melakukan rujukan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan
penunjang ke fasyankes lain sesuai aturan yang berlaku. (Petunjuk
Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat Di Indonesia, 2020).
5. Kegiatan Penemuan Pasien
Penemuan pasien TB-RO adalah suatu rangkaian kegiatan yang
dimulai dengan penemuan terduga TB-ROmenggunakan alur penemuan
baku, dilanjutkan dengan proses penegakan diagnosis TB-RO dengan
pemeriksaan dahak, dan kemudian didukung dengan kegiatan edukasi
kepada pasien dan keluarga sehingga penularan penyakit TB dapat dicegah
di keluarga maupun masyarakat. Semua kegiatan yang dilakukan dalam
kegiatan penemuan pasien TB-RO harus dicatat dalam buku register terduga
TB (TBC.06) sesuai dengan fungsi fasyankes.
6. Jenis Resistansi terhadap Obat Antituberkulosis.
Resistansi kuman M. tuberculosis terhadap obat antituberkulosis
(OAT) adalah keadaan dimana kuman sudah kebal sehingga tidak dapat lagi
dibunuh oleh obat antituberkulosis. Terdapat beberapa jenis resistansi
15
terhadap OAT, yaitu:
a. Mono-resistance: resistansi terhadap salah satu OAT lini pertama,
misalnya resistansi terhadap isoniazid (H).
b. Poly-resistance: resistansi terhadap lebih dari satu OAT lini pertama
selain dari kombinasi obat isoniazid dan rifampisin (HR), misalnya
resistan isoniazid dan etambutol (HE), rifampisin etambutol (RE),
isoniazid etambutol dan streptomisin (HES), atau rifampisin, etambutol
dan streptomisin (RES)
c. Multidrug-resistance (MDR): resistansi terhadap isoniazid dan rifampisin
(HR), dengan atau tanpa OAT lini pertama yang lain, misalnya resistan
HR, HRE, HRES
d. Pre-(XDR): TB-MDR yang disertai resistansi terhadap salah salah satu
obat golongan fluorokuinolon atau salah satu dari OAT injeksi lini
kedua (kapreomisin, kanamisin dan amikasin)
e. Extensively Drug Resistance (XDR): TB MDR disertai resistansi
resistansi terhadap salah salah satu obat golongan fluorokuinolon dan
salah satu dari OAT injeksi lini kedua (kapreomisin, kanamisin dan
amikasin).
f. TB resistan rifampisin (TB RR): Resistan terhadap rifampisin (dalam
bentuk monoresistan, poliresistan, TB MDR, TB XDR) yang terdeteksi
menggunakan metode fenotipik ataupun genotipik, dengan atau tanpa
resistansi. (Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat
Di Indonesia, 2020).
16
7. Kriteria Terduga
Pada dasarnya, terduga TB-RO adalah semua orang yang
mempunyai gejala TB dengan satu atau lebih riwayat pengobatan atau
kriteria berikut:
a. Pasien TB gagal pengobatan dengan OAT kategori 2
b. Pasien TB pengobatan OAT kategori 2 yang tidak konversi
c. Pasien TB yang mempunyai riwayat pengobatan TB tidak standar atau
menggunakan kuinolon dan obat injeksi lini kedua selama minimal 1
bulan
d. Pasien TB gagal pengobatan dengan OAT kategori 1
e. Pasien TB pengobatan kategori 1 yang tidak konversi
f. Pasien TB kasus kambuh setelah pengobatan OAT kategori 1 ataupun
kategori 2
g. Pasien TB yang kembali setelah putus berobat
h. Terduga TB yang mempunyai riwayat kontak erat dengan pasien TB-RO.
i. Pasien ko-infeksi TB-HIV yang tidak responsif secara klinis maupun
bakteriologis terhadap pemberian OAT (bila penegakan diagnosis TB di
awal tidak menggunakan TCM).
Pasien yang sudah terdiagnosis TB-RO dan menjalani pengobatan
juga dapat kembali menjadi terduga TB-RO. Beberapa kriteria terduga TB-
RO yang telah mendapatkan pengobatan sebelumnya adalah sebagai berikut:
a. Pasien TB-RO yang gagal pengobatan
b. Pasien TB-RO kasus kambuh
17
c. Pasien TB-RO yang kembali setelah putus berobat.
Terduga TB-RO baik dari kelompok pasien yang belum pernah
mendapatkan pengobatan maupun yang telah diobati merupakan pasien
dengan resiko tinggi mengalami TB-RO dan harussegera dilanjutkan dengan
penegakan diagnosis menggunakan pemeriksaan TCM. (Petunjuk Teknis
Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat Di Indonesia, 2020).
8. Mekanisme Rujukan dalam Manajeman Tuberkulosis Resistan Obat
Rujukan dalam manajemen TB-RO dapat berupa rujukan
pemeriksaan laboratorium TB (untuk diagnosis dan pemantauan
pengobatan) dan rujukan pengobatan. Rujukan spesimen untuk pemeriksaan
laboratorium lebih direkomendasikan dibandingkan rujukan pasien, hal ini
bertujuan untuk mengurangi risiko penularan dan memastikan spesimen
dahak sampai di laboratorium. Apabila pasien terkonfirmasi resistan
terhadap rifampisin (TB RR), maka pasien dirujuk ke fasyankes pelaksana
layanan TB-RO untuk memulai pengobatan TB lini kedua. Proses
pengiriman dahak dari fasyankes ke laboratorium rujukan TB harus
memperhatikan tata cara pengumpulan dan pengemasan spesimen yang
benar sesuai buku Petunjuk Teknis Transportasi Spesimen TB (Kementerian
Kesehatan, 2019).
9. Strategi Pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat.
Strategi pengobatan pasien TB-RO adalah memastikan semua pasien
18
yang sudah terkonfirmasi sebagai TB RR/ MDR dapat mengakses
pengobatan secara cepat, sesuai standar dan bermutu. Paduan obat untuk
pasien TB-RO terdiri dari OAT lini pertama dan lini kedua. Paduan OAT
tersebut dapat disesuaikan bila terjadi perubahan hasil uji kepekaan M.
Tuberculosis. Keputusan penggantian tersebut ditetapkan oleh tim ahli klinis
TB-RO.
Semua pasien TB RO perlu menjalani pemeriksaan awal,
pemeriksaan selama pengobatan berlangsung sampai selesai pengobatan,
dan pemeriksaan setelah selesai masa pengobatan. Persiapan awal
pengobatan meliputi pemeriksaan penunjang yang bertujuan untuk
mengetahui kondisi awal berbagai fungsi organ (ginjal, hati, jantung),
pemeriksaan elekrolit, dan berbagai pemeriksaan laboratorium lain.
Pemeriksaan selama pasien dalam masa pengobatan TB-RO bertujuan untuk
memantau perkembangan pengobatan dan efek samping obat.
Pengobatan TB-RO harus bisa dimulai dalam waktu 7 hari setelah
diagnosis pasien ditegakkan. Pengobatan untuk pasien TB-RO diberikan
dengan rawat jalan (ambulatory) sejak awal dan diawasi setiap hari secara
langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Sesuai dengan rekomendasi
WHO tahun 2020, pengobatan TB-RO di Indonesia saat ini menggunakan
paduan tanpa obat injeksi, yang terbagi menjadi dua, yaitu paduan
pengobatan jangka pendek (9–11 bulan) dan jangka panjang (18–20 bulan).
(Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat Di Indonesia,
2020).
19
[Link] Obat dan Alur Pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat
Progam Penanggulangan TB Nasional telah melakukan pembaharuan
Pengelompokan obat TB-RO sesuai dengan rekomendasi WHO
tahun 2018. Penggolongan obat TB-RO ini didasarkan pada studi mendalam
yang dilakukan WHO terkait manfaat dan efek samping dari obat-obat
tersebut. Pengelompokan obat TB-RO yang saat ini digunakan di Indonesia
dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Pengelompokkan obat TB-RO
Grup A Levofloksasin / Lfx / Mfx Bdq
Moxifloksasin Lzd
Bedaquiline
Linezolid
Grup B Clofa Cfz Cs
zimin Td
e
Siklo
serin
atau
Terizidone
Grup C Etambutol E
Dela Dlm Z
mani Ipm-Cin
d Mpm
Pirazi Amk
namid S
Imipenem–silastatin Eto
Meropenem Pto
Amikasin atau PAS
Streptomisin
Etionamid atau
Protionamid
p-aminosalicylic acid
Sumber : (Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat Di
Indonesia, 2020).
Penentuan paduan pengobatan pasien Tuberkulosis resistan obat
didasarkan pada berbagai kriteria dan kondisi pasien. Alur pengobatan
berikut merupakan acuan dalam menentukan pilihan paduan pengobatan
pasien TB-RO berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Program TB
20
Nasional.
Gambar 1. Alur Pengobatan TB RO
Sumber : (Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat Di
Indonesia, 2020).
Keterangan:
a. Hasil LPA ditunggu maksimal 7 hari. Bila >7 hari hasil LPA belum keluar,
pengobatan harus segera dimulai berdasarkan kriteria yang ada di kotak.
b. Resistansi INH dengan mutasi salah satu dari inhA atau katG (tetapi tidak
keduanya) dapat diberikan paduan pengobatan jangka pendek.
21
c. Yang termasuk kasus TB paru berat ialah:
− kerusakan parenkimal luas (lesi sangat lanjut dengan definisi luas lesi
melebihi lesi lanjut sedang, tetapi kavitas ukuran lebih dari 4 cm). Lesi
lanjut sedang didefinisikan sebagai luas sarang-sarang yang berupa
bercak tidak melebihi luas satu paru, bila ada kavitas ukurannya tidak
lebih 4 cm, bila ada konsolidasi tidak lebih dari 1 lobus; atau
− terdapat kavitas di kedua lapang paru.
d. Yang termasuk kasus TB ekstraparu berat ialah TB meningitis, TB tulang
(osteoartikular), TB spondilitis, TB milier, TB perikarditis, TB abdomen.
e. Pasien dapat dipertimbangkan untuk pindah dari paduan pengobatan
jangka panjang ke paduan jangka pendek bila bukan merupakan kasus
TB RO paru/ekstraparu berat dan pasien tidak hamil.
[Link] dan Sediaan Obat Tuberkulosis Resistan Obat
Dosis obat berdasarkan pengelompokan berat badan untuk paduan
pengobatan TB-RO jangka panjang pada pasien berusia ≥15 tahun dan
dewasa dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Dosis OAT berdasarkan berat badan untuk paduan pengobatan
TB RO jangka pendek
Kelompok berat badan (≥ 15 tahun)
Dosis
Nama Obat Obat Kemasan 30–35 36–45 46–55 kg 56–70 >70 kg
Harian kg kg kg
4 tablet pada 2 minggu pertama, 2 tablet
100 mg Senin/Rabu/Jumat selama 22 minggu berikutnya
Bedaquiline* -
tab
250 mg
Levofloksasin - 3 3 4 4 4
tab
22
500 mg
1,5 1,5 2 2 2
tab
Dosis 400 mg
1 1 1,5 1,5 1,5
standar tab
Moksifloksasin
Dosis 400 mg 1 atau 1,5 atau 2
1,5 1,5 2 2
tinggi tab
50 mg cap 2 2 2 2 2
Clofazimine -
100 mg
1 1 1 1 1
cap
15–25 400 mg
Ethambutol 2 2 3 3 3
mg/kg tab
400 mg
3 4 4 4 5
20–30 tab
Pirazinamide
mg/kg 500 mg
2 3 3 3 4
tab
15–20 250 mg
Ethionamid 2 2 3 3 4
mg/kg tab
10–15
mg/kg 300 mg
INH 1,5 1,5 2 2 2
(dosis tab
tinggi)
Tabel 3. Dosis OAT untuk panduan pengobatan TB-RO jangka
panjang (≥ 15 tahun).
Kelompok berat badan (≥ 15
Dosis tahun)
Grup Nama Obat Obat Kemasan
Harian 30 36– 46– 56– >70
–35 45 55 70 kg
kg kg kg kg
Levofloksasin - 250 mg tab 3 3 4 4 4
500 mg tab 1,5 1,5 2 2 2
Dosis 400 mg tab 1 1 1,5 1,5 1,5
Moksifloksasin standar
A
Dosis 400 mg tab 1 1,5 1,5 2 2
tinggi atau atau
1,5 2
Bedaquiline 100 mg tab 4 tablet pada 2 minggu
- pertama, 2 tablet Senin/Rabu/Jumat
selama 22 minggu berikutnya
23
Linezolid - 600 mg tab (<1 (<1 1 1 1
5 5
th) th)
50 mg cap 2 2 2 2 2
Clofazimine -
B 100 mg cap 1 1 1 1 1
Sikloserin 10–15 250 mg cap 2 2 3 3 3
mg/kg
Ethambutol 15–25 400 mg tab 2 2 3 3 3
mg/kg
Kelompok berat badan (≥ 15
Dosis tahun)
Nama Obat Obat Kemasan
Grup Harian 30 36– 46– 56– >70
–35 45 55 70 kg
kg kg kg kg
C Delamanid - 50 mg tab 2 x 2 tab per hari
400 mg tab 3 4 4 4 5
Pirazinamide 20–30
mg/kg
500 mg tab 2 3 3 3 4
500 mg/2 ml
Amikasin 15–20 (am- 2,5 3 ml4 4 3–4
mg/kg pul) ml m ml ml
l
Streptomisin 12–18 1 g ser- buk Dihitung sesuai dengan zat pelarut yang
mg/kg (vial) digunakan
Ethion- amid 15–20 250 mg tab 2 2 3 3 4
mg/kg
8–12 PAS
g/hari Sodium salt 1-
PAS dalam 2– (4g) 1 bd 1 bd 1 bd 1 bd 1,5
3 dosis sachet bd
terbagi
4–6 mg/ 300 mg tab
kg dosis 2/3 1 1 1 1
Obat INH standar
lain
10–15 300 mg tab
mg/kg do- 1,5 1,5 2 2 2
sis tinggi
Sumber : (Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan
Obat Di Indonesia, 2020).
24
[Link] Hasil Akhir Pengobatan Tubekulosis Resistan Obat.
Hasil akhir pengobatan pasien TB resistan obat dibedakan
berdasarkan paduan pengobatan yang diberikan. Pada dasarnya, hasil akhir
pengobatan TB-RO pada kedua paduan memiliki definisi yang sama untuk
hasil akhir “pengobatan lengkap”, “putus berobat”, “meninggal” dan “tidak
dievaluasi”, namun memiliki definisi yang sedikit berbeda untuk “gagal”
dan “sembuh”. Belum ada pembaharuan untuk definisi hasil akhir
pengobatan TB-RO (masih sama dengan paduan pengobatan TB-RO dengan
obat injeksi). Definisi hasil akhir pengobatan yang saat ini dipakai
berdasarkan pada pedoman WHO tahun 2016.
a. Hasil Akhir Pengobatan TB-RO untuk Panduan Jangka Pendek
Definisi hasil akhir pengobatan TB-RO untuk paduan jangka
pendek dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 4. Definisi hasil akhir pengobatan TB-RO pada paduan jangka
pendek
Hasil akhir
No. pengobatan Definisi
Pasien tidak menelan obat atau berhenti berobat selama 2
1. Putus berobat bulan berturut-turut atau lebih.
2. Meninggal Pasien meninggal oleh sebab apapun dalam masa pengobatan.
25
Pasien dinyatakan gagal jika paduan pengobatan yang
diberikan perlu dihentikan dan diubah secara permanen
dengan alasan salah satu atau lebih sebagai berikut:
▪ Tidak ada respon perbaikan klinis dan/atau bakteriologis
3. Gagal ▪ Adanya efek samping obat
▪ Adanya bukti tambahan resistansi obat yang ada dalam
paduan yang saat ini diberikanb erdasarkan hasil uji
kepekaan obat
Pasien dikatakan sembuh bila memenuhi ketiga hal berikut:
▪ Pasien menyelesaikan pengobatan sesuai durasi pengobatan
yang ditetapkan dan memenuhi kriteria untuk dinyatakan
sembuh berikut:
4. Sembuh − Pemeriksaan biakan 3 kali berturut-turut dengan jarak
minimal 30 hari hasilnya
negatif pada tahap lanjutan
− Pemeriksaan BTA pada akhir pengobatan hasilnya
negatif
▪ Pasien menyelesaikan pengobatan sesuai durasi pengobatan
5. Pengobatan yang ditetapkan
lengkap ▪ Tidak ada bukti untuk dinyatakan sembuh atau gagal
▪ Pasien pindah berobat tapi hasil akhir pengobatan tidak
diketahui atau tidak dilaporkan kembali
6. Tidak dievaluasi ▪ Pasien tidak ada hasil pengobatan sampai periode pelaporan
*) Untuk pengobatan jangka pendek, terjadi resistansi tambahan
terhadap OAT lini kedua utama dikategorikan sebagai “Gagal
karena perubahan diagnosis”.
b. Hasil Akhir Pengobatan TB-RO untuk Paduan Jangka Panjang
Definisi hasil akhir pengobatan TB-RO untuk paduan jangka
pendek dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5. Definisi hasil akhir pengobatan TB-RO pada paduan jangka
panjang
No. Hasil akhir Definisi
pengobatan
1. Putus berobat Pasien tidak menelan obat atau berhenti berobat
selama 2 bulan berturut-turut atau lebih.
2. Meninggal Pasien meninggal oleh sebab apapun dalam masa
pengobatan.
26
Pasien dinyatakan gagal jika paduan pengobatan yang
diberikan perlu dihentikan dan diubah secara
permanen dengan alasan salah satu atau lebih sebagai
berikut:
3. Gagal ▪ Tidak ada respon perbaikan klinis dan/atau
bakteriologis
▪ Adanya efek samping obat
▪ Adanya bukti tambahan resistansi obat yang ada
dalam paduan yang saat ini diberikan berdasarkan
hasil uji kepekaan obat
Pasien dikatakan sembuh bila memenuhi ketiga hal
berikut:
Pasien menyelesaikan pengobatan sesuai durasi
4. Sembuh pengobatan yang ditetapkan dan memenuhi kriteria
untuk dinyatakan sembuh:
▪ Pemeriksaan biakan 3 kali berturut-turut dengan
jarak minimal 30 hari hasilnya negatif pada tahap
lanjutan.
▪ Pasien menyelesaikan pengobatan sesuai durasi
5. Pengobatan lengkap pengobatan yang ditetapkan
▪ Tidak ada bukti untuk dinyatakan sembuh atau
gagal
▪ Pasien pindah berobat tapi hasil akhir pengobatan
tidak diketahui atau tidak dilaporkan Kembali
6. Tidak dievaluasi ▪ Pasien tidak ada hasil pengobatan sampai periode
pelaporan
Pasien tidak ada hasil pengobatan sampai periode
pelaporan
[Link] Laksana Efek Samping Pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat
Berdasarkan Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan
Obat Di Indonesia (2020) pemantauan terjadinya efek samping obat penting
dilakukan selama pengobatan TB-RO. Semua OAT yang digunakan untuk
pengobatan pasien TB RR/MDR mempunyai kemungkinan untuk timbul
efek samping ringan, sedang, maupun berat. Petugas kesehatan harus selalu
memantau munculnya efek samping dan memberikan tata laksana sesegera
mungkin. Penanganan efek samping yang baik dan adekuat adalah kunci
keberhasilan pengobatan.
Prinsip pemantauan efek samping selama pengobatan:
27
a. Deteksi dini efek samping selama pengobatan sangat penting karena
semakin cepat ditemukan dan ditangani, maka prognosis akan lebih baik.
Untuk itu, pemantauan efek samping pengobatan harus dilakukan setiap
hari.
b. Efek samping OAT berhubungan dengan dosis yang diberikan.
c. Gejala efek samping pengobatan harus diketahui petugas kesehatan yang
menangani pasien dan juga oleh pasien serta keluarganya.
d. Semua efek samping pengobatan yang dialami pasien harus tercatat
dalam Formulir MESO Harian pada buku TB.01 dan Sistem Informasi
Tuberkulosis.
[Link] Pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat
Berdasarkan Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan
Obat Di Indonesia (2020) dukungan terkait pengobatan pasien TB-RO yang
diperlukan ialah :
a. Pengawasan Menelan Obat
Pengawasan minum obat dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan
(nakes), kerabat / keluarga pasien, ataupun orang dari komunitas yang
menjadi pendamping pengobatan pasien (treatment supporter).
Pengawasan juga dapat dilakukan melalui video daring real-time, seperti
melalui aplikasi telepon video. Definisi dari patuh berobat ialah pasien
mengkonsumsi >90% obat-obatannya dengan pengawasan langsung oleh
pengawas menelan obat (PMO).
28
b. Tempat Minum Obat dan Desentralisasi Layanan
Lokasi minum obat untuk pasien TB-RO dapat di fasyankes
ataupun di lingkungan tempat tinggal pasien (community- or home- based
DOT). Berdasarkan panduan WHO 2020, pasien TB- RO minum obat di
lingkungan tempat tinggal dengan pengawasan nakes atau komunitas
terlatih lebih direkomendasikan daripada minum obat di fasyankes
ataupun minum obat tanpa pengawasan. Hasil studi menunjukkan bahwa
pasien TB-RO yang minum obat di lingkungan tempat tinggal dengan
pengawasan memiliki angka keberhasilan pengobatan dan konversi
sputum pada bulan ke-2 yang lebih tinggi.
c. Paket Dukungan Kepatuhan Berobat
Paket dukungan kepatuhan berobat untuk pasien TB-RO
merupakan kombinasi dari dukungan psikologis, bantuan materi/
ekonomi, sistem pelacak/pemantauan pengobatan pasien, serta konseling
dan edukasi kesehatan. WHO melaporkan bahwa pasien TB-RO yang
mendapatkan kombinasi paket dukungan kepatuhan berobat memiliki
angka keberhasilan pengobatan yang lebih tinggi, serta angka kematian
dan putus berobat yang lebih rendah.
d. Dukungan Masyarakat (Komunitas)
Pemberdayaan masyarakat dalam menyediakan dukungan
pengobatan pasien TB-RO adalah sangat penting. Pemberdayaan
masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk menumbuhkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali,
29
mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan
mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan TB
yaitu menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan dalam
memutus mata rantai penularan TB, salah satunya dengan menemukan
pasien TB di wilayahnya dan mendukung pengobatannya.
B. Kepatuhan
Kepatuhan merupakan perilaku positif yang dilakukan oleh penderita
dalam mencapai tujuan pengobatan dan juga terapi (Suparyanto, 2010).
Menurut Sarfino (1990) dalam Suparyanto (2010), kepatuhan adalah suatu
tingkatan seorang penderita dalam melaksanakan yang dianjurkan atau
disarankan oleh tenaga kesehatan. Kepatuhan didefinisikan oleh WHO sebagai
“sejauh mana perilaku minum obat, mengikuti diet, dan atau melaksanakan
perubahan gaya hidup seseorang, sesuai dengan rekomendasi yang disepakati
dari pelayanan kesehatan (Sakalle et al., 2014).
Menurut Sacket dalam Niven (2000) kepatuhan adalah sejauh mana
perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh professional
kesehatan Teori Perilaku Preced Proceed Lawrence Green (1980). Teori ini
berdasarkan tindakan seseorang yang mempengaruhi perilaku yang
berhubungan dengan kepatuhan minum obat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu:
1. Faktor predisposisi (predisposing factors),
Faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisikan terjadinya
perilaku seseorang, yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan,
keyakinan, nilai nilai, dan sebagainya.
30
2. Faktor pendukung atau pendorong (enabling factors),
Terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-
fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya Puskesmas, ketersedian
obat-obatan, laboratorium pemeriksaan sputum, dan sebagainya.
3. Faktor penguat (reinforce factors),
Yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas
yang lain, motivasi dari keluarga yang merupakan kelompok referensi
(kader) dari perilaku masyarakat.
C. Kerangka Teori
Pengobatan TB-RO Dapat diukur menggunakan indikator masukan
(input), proses (process), dan luaran (output). Oleh karena itu fokus penelitian
dapat disusun sebagai berikut :
Gambar. 2. Kerangka Teori
Input: Proses: Output:
1. Tenaga 1. Tingkat
Kesehatan Pengetahuan
2. Pasien TB RO 2. Sarana Faktor
3. Pengawas prasarana Kepatuhan
Menelan Obat 3. Dukungan pengobatan
4. Ketersediaan Keluarga pada pasien
Obat TB RO
1. Masukan (input) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kepatuhan
pengobatan TB-RO agar dapat berjalan dengan baik, meliputi : Tenaga
Kesehatan, PMO, Komitmen politis Ketersediaan Obat.
a. Pasien TB-RO adalah penderita yang mendapatkan pelayanan serta
31
menjalankan pengobatan TB-RO.
b. Pengawas Minum Obat adalah seseorang yang dapat menjadi pengawas
minum obat yang dapat mendampingi dan mengingatkan serta
memotivasi penderita TB-RO.
c. Tenaga Kesehatan adalah petugas yang memberikan informasi dan
penanganan kepada masyarakat tentang program penanggulangan TB-
RO, seperti tenaga kesehatan sebagai penanggung jawab program TB dan
laboratorium di puskesmas.
d. Ketersediaan Obat, Sarana Prasarana, termasuk didalamnya yaitu :
tersedianya obat anti tuberkulosis (OAT) TB-RO yang terjamin,
tersedianya peralatan pemeriksaan sputum dahak, kartu peserta dan
pemantauan pengobatan TB-RO, dan ruangan khusus untuk program
penanggulangan TB-RO yang mendukung terlaksananya penatalaksanaan
programpenanggulangan TB-RO
2. Proses (process) adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan, meliputi: tingkat pengetahuan,
sarana prasarana serta dukungan .
3. Keluaran (output) adalah hasil dari faktor kepatuhan pengobatan pada
pasien TB-RO di wilayah Kabupaten Sleman.
D. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan dari tujuan penelitian yang telah di buat, maka di susunlah
pertanyaan penelitian sebagai berikut :
32
1. Bagaimana pengetahuan pasien tentang pengobatan TB-RO?
2. Apa saja sarana prasarana yang mendukung pengobatan TB-RO?
3. Apa saja dukungan yang ada dalam faktor kepatuhan pasien TB-RO?
33