0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan25 halaman

Strategi Pengendalian Tuberkulosis Resistan

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai tuberkulosis resistan obat (TB-RO). Terdapat definisi dan jenis-jenis resistansi terhadap obat antituberkulosis seperti mono-resistance, poly-resistance, multidrug-resistance (MDR), pre-XDR dan extensively drug resistance (XDR). Faktor penyebab resistansi obat dan strategi nasional pengendalian TB-RO juga dijelaskan.

Diunggah oleh

Bima Arisandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan25 halaman

Strategi Pengendalian Tuberkulosis Resistan

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai tuberkulosis resistan obat (TB-RO). Terdapat definisi dan jenis-jenis resistansi terhadap obat antituberkulosis seperti mono-resistance, poly-resistance, multidrug-resistance (MDR), pre-XDR dan extensively drug resistance (XDR). Faktor penyebab resistansi obat dan strategi nasional pengendalian TB-RO juga dijelaskan.

Diunggah oleh

Bima Arisandi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO)

1. Definisi

Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO) adalah Resistansi kuman

Mycobacterium tuberculosis (Mtb) disebabkan oleh mutasi spontan pada

kromosom. Proporsi kuman Mtb yang sudah mengalami mutasi (wild-type

resistant mutants) pada pasien yang tidak pernah mendapatkan OAT sangat

sedikit. Pengobatan TB menyebabkan hambatan selektif pada populasi

kuman Mtb sehingga kuman Mtb sensitif dibunuh, sementara populasi

mutan akan bereproduksi dan menyebabkan terjadinya resistansi terhadap

OAT (resistansi didapat).

Resistansi di antara pasien baru adalah resistansi terhadap OAT pada

pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan TB sebelumnya atau

sudah mendapatkan OAT kurang dari 1 bulan. Pasien ini terinfeksi dari

orang dengan kuman TB resistan. Sementara resistansi di antara pasien yang

pernah diobati adalah resistansi yang terjadi pada pasien yang pernah

mendapatkan pengobatan TB > 1 bulan, termasuk pasien gagal pengobatan,

pasien kambuh atau kembali

Setelah putus berobat. Pasien ini bisa mendapatkan kuman resistan

selama pengobatan, atau mengalami reinfeksi/ terinfeksi secara primer

dari

9
10

orang dengan kuman tuberkulosis resistan. (Petunjuk Teknis

Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat di Indonesia, 2020).

Menurut Nawas (2010), tuberkulosis resistensi obat anti tuberkulosis

(OAT) pada dasarnya adalah suatu fenomena buatan manusia, sebagai

akibat dari pengobatan pasien tuberkulosis yang tidak adekuat dan

penularan dari pasien TB-RO tersebut. Pengobatan yang tidak adekuat

biasanya akibat dari satu atau lebih kondisi berikut ini:

a. Regimen, dosis, dan cara pemakaian yang tidak benar

b. Ketidakteraturan dan ketidakpatuhan pasien untuk minum obat

c. Terputusnya ketersediaan OAT

d. Kualitas obat yang rendah

2. Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Tuberkulosis Resistan Obat

Berdasarkan Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan

Obat Di Indonesia (2020) faktor utama penyebab terjadinya

resistansi kuman terhadap OAT adalah akibat tata laksana pengobatan

pasien tuberkulosis yang tidak adekuat atau tidak sesuai standar. Resistansi

OAT dapat disebabkan oleh 3 faktor berikut :

a. Pemberi jasa/petugas kesehatan, yaitu karena:

1) Diagnosis tidak tepat,

2) Pengobatan tidak menggunakan paduan yang tepat,

3) Dosis, jenis, jumlah obat dan jangka waktu pengobatan tidak adekuat,

4) Penyuluhan kepada pasien yang tidak adekuat


11

b. Pasien, yaitu karena:

1) Tidak mematuhi anjuran dokter / petugas kesehatan

2) Tidak teratur menelan paduan OAT,

3) Menghentikan pengobatan secara sepihak sebelum waktunya.

4) Memiliki gangguan penyerapan obat

c. Program Pengendalian Tuberkulosis, yaitu karena:

5) Persediaan OAT yang kurang

6) Rendahnya kualitas OAT yang disediakan

3. Strategi Nasional Pengendalian Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO).

Berdasarkan Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis

Resistan Obat Di Indonesia (2020) upaya penanggulangan TB-RO tertuang

pada dokumen Strategi Nasional (Stranas) 2021-2024 yang berisi

pengembangan program untuk kualitas layanan TB-RO yang terintegrasi

dan percepatan menuju akses universal. Hal ini berarti bahwa layanan TB-

RO harus dapat menjangkau semua pasien tanpa membedakan latar

belakang social ekonomi, karakteristik demografi, wilayah geograifs dan

kondisi klinis. Strategi nasional pengendalian TB-RO tersebut meliputi:

a. Mencegah munculnya resistansi melalui akses universal terhadap layanan yang

berkualitas tinggi untuk TB sensitif obat sesuai dengan rencana strategis

nasional TB.

b. Mencegah penyebaran TB-RO melalui akses universal terhadap layanan

diagnostik dan pengobatan TB-ROyang berkualitas tinggi.

c. Mencegah penularan TB-RO melalui penerapan PPI TB sesuai standar.


12

d. Penyediaan layanan berpusat pada pasien untuk semua pasien TB-RO

termasuk dukungan kepatuhan minum obat.

e. Meningkatkan manajemen dan kepemilikan layanan TB-RO di semua

tingkat baik di provinsi, kabupaten/ kota dan fasilitas pelayanan

Kesehatan.

f. Memperkuat komitmen politis di semua tingkatan untuk MTPTRO

melalui advokasi dan kemitraan dengan pemangku kebijakan serta

organisasi berbasis masyarakat.

g. Implementasi penggunaan obat baru dan paduan standar jangka pendek

untuk meningkatkan kualitas pengobatan pasien TB-RO di Indonesia.

4. Jejaring Layanan

Secara umum, rumah sakit dan balai kesehatan adalah fasyankes

yang memiliki potensi yang besar dalam penemuan pasien TB-RO (case

finding), namun memiliki keterbatasan dalam menjaga keteraturan dan

keberlangsungan pengobatan pasien (case holding) jika dibandingkan

dengan Puskesmas. Mengingat pengobatan TB-RO memerlukan waktu yang

relatif lama, untuk menjamin keberlangsungan pengobatan TB-RO

diperlukan kerjasama antara rumah sakit dan balkes pelaksana layananTB-

RO dengan puskesmas/fasyankes yang terdekat dengan tempat tinggal

pasien. Untuk itu perlu dikembangkan jejaring internal maupun eksternal.

a. Jejaring Internal

Jejaring internal adalah jejaring antar semua unit terkait di dalam


13

dalam fasyankes yang menangani kasus tuberkulosis termasuk TB-RO,

dari awal penemuan kasus, penegakan diagnosis, sampai pasien selesai

pengobatan. Pada dasarnya, jejaring internal pelayanan untuk pasien TB-

RO menggunakan sistem yang sama dengan pelayanan pasien TB sensitif

obat. Setiap fasyankes pelaksana layanan TB-RO harus mengembangkan

suatu alur pelayanan (clinical pathway) yang dituangkan dalam bentuk

Standar Prosedur Operasional (SPO) agar alur layanan pasien TB-RO

menjadi jelas dan sistematis.

Untuk menjamin keberhasilan jejaring internal, perlu didukung

oleh direksi atau manajemen RS dan tim TB di fasyankes. Tim TB

fasyankes mengkoordinasikan seluruh kegiatan penatalaksanaan semua

pasien TB termasuk pasien TB-RO. Fasyankes pelaksana layanan TB-

ROperlu membentuk tim ahli klinis dengan melibatkan para dokter ahli

serta dokter umum yang terlatih TB-RO untuk menjadi bagian dari

struktur tim TB di fasyankes yang akan melaksanakan kegiatan

tatalaksana pasien TB-RO Fasyankes TB-RO yang tidak memiliki dokter

ahli, tetap dapat memberikan layanan TB-ROyang dilakukan oleh dokter

umum yang terlatih.

b. Jejaring Eksternal.

Jejaring eksternal adalah jejaring yang dibangun dengan semua

fasyankes dan institusi lain yang terkait dalam pengendalian TB,

khususnya dalam tata laksana pasien TB-RO dan difasilitasi oleh dinas

kesehatan setempat. Tujuan jejaring eksternal ialah agar semua pasien


14

TB-RO mendapatkan akses pelayanan yang berkualitas dan menjamin

keberlangsungan pengobatan pasien sampai selesai.

Jejaring eksternal juga mencakup jejaring pemeriksaan

laboratorium dan penunjang yang dibutuhkan. Fasyankes pelaksana

layanan TB-RO yang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan penunjang

dapat melakukan rujukan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan

penunjang ke fasyankes lain sesuai aturan yang berlaku. (Petunjuk

Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat Di Indonesia, 2020).

5. Kegiatan Penemuan Pasien

Penemuan pasien TB-RO adalah suatu rangkaian kegiatan yang

dimulai dengan penemuan terduga TB-ROmenggunakan alur penemuan

baku, dilanjutkan dengan proses penegakan diagnosis TB-RO dengan

pemeriksaan dahak, dan kemudian didukung dengan kegiatan edukasi

kepada pasien dan keluarga sehingga penularan penyakit TB dapat dicegah

di keluarga maupun masyarakat. Semua kegiatan yang dilakukan dalam

kegiatan penemuan pasien TB-RO harus dicatat dalam buku register terduga

TB (TBC.06) sesuai dengan fungsi fasyankes.

6. Jenis Resistansi terhadap Obat Antituberkulosis.

Resistansi kuman M. tuberculosis terhadap obat antituberkulosis

(OAT) adalah keadaan dimana kuman sudah kebal sehingga tidak dapat lagi

dibunuh oleh obat antituberkulosis. Terdapat beberapa jenis resistansi


15

terhadap OAT, yaitu:

a. Mono-resistance: resistansi terhadap salah satu OAT lini pertama,

misalnya resistansi terhadap isoniazid (H).

b. Poly-resistance: resistansi terhadap lebih dari satu OAT lini pertama

selain dari kombinasi obat isoniazid dan rifampisin (HR), misalnya

resistan isoniazid dan etambutol (HE), rifampisin etambutol (RE),

isoniazid etambutol dan streptomisin (HES), atau rifampisin, etambutol

dan streptomisin (RES)

c. Multidrug-resistance (MDR): resistansi terhadap isoniazid dan rifampisin

(HR), dengan atau tanpa OAT lini pertama yang lain, misalnya resistan

HR, HRE, HRES

d. Pre-(XDR): TB-MDR yang disertai resistansi terhadap salah salah satu

obat golongan fluorokuinolon atau salah satu dari OAT injeksi lini

kedua (kapreomisin, kanamisin dan amikasin)

e. Extensively Drug Resistance (XDR): TB MDR disertai resistansi

resistansi terhadap salah salah satu obat golongan fluorokuinolon dan

salah satu dari OAT injeksi lini kedua (kapreomisin, kanamisin dan

amikasin).

f. TB resistan rifampisin (TB RR): Resistan terhadap rifampisin (dalam

bentuk monoresistan, poliresistan, TB MDR, TB XDR) yang terdeteksi

menggunakan metode fenotipik ataupun genotipik, dengan atau tanpa

resistansi. (Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat

Di Indonesia, 2020).
16

7. Kriteria Terduga

Pada dasarnya, terduga TB-RO adalah semua orang yang

mempunyai gejala TB dengan satu atau lebih riwayat pengobatan atau

kriteria berikut:

a. Pasien TB gagal pengobatan dengan OAT kategori 2

b. Pasien TB pengobatan OAT kategori 2 yang tidak konversi

c. Pasien TB yang mempunyai riwayat pengobatan TB tidak standar atau

menggunakan kuinolon dan obat injeksi lini kedua selama minimal 1

bulan

d. Pasien TB gagal pengobatan dengan OAT kategori 1

e. Pasien TB pengobatan kategori 1 yang tidak konversi

f. Pasien TB kasus kambuh setelah pengobatan OAT kategori 1 ataupun

kategori 2

g. Pasien TB yang kembali setelah putus berobat

h. Terduga TB yang mempunyai riwayat kontak erat dengan pasien TB-RO.

i. Pasien ko-infeksi TB-HIV yang tidak responsif secara klinis maupun

bakteriologis terhadap pemberian OAT (bila penegakan diagnosis TB di

awal tidak menggunakan TCM).

Pasien yang sudah terdiagnosis TB-RO dan menjalani pengobatan

juga dapat kembali menjadi terduga TB-RO. Beberapa kriteria terduga TB-

RO yang telah mendapatkan pengobatan sebelumnya adalah sebagai berikut:

a. Pasien TB-RO yang gagal pengobatan

b. Pasien TB-RO kasus kambuh


17

c. Pasien TB-RO yang kembali setelah putus berobat.

Terduga TB-RO baik dari kelompok pasien yang belum pernah

mendapatkan pengobatan maupun yang telah diobati merupakan pasien

dengan resiko tinggi mengalami TB-RO dan harussegera dilanjutkan dengan

penegakan diagnosis menggunakan pemeriksaan TCM. (Petunjuk Teknis

Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat Di Indonesia, 2020).

8. Mekanisme Rujukan dalam Manajeman Tuberkulosis Resistan Obat

Rujukan dalam manajemen TB-RO dapat berupa rujukan

pemeriksaan laboratorium TB (untuk diagnosis dan pemantauan

pengobatan) dan rujukan pengobatan. Rujukan spesimen untuk pemeriksaan

laboratorium lebih direkomendasikan dibandingkan rujukan pasien, hal ini

bertujuan untuk mengurangi risiko penularan dan memastikan spesimen

dahak sampai di laboratorium. Apabila pasien terkonfirmasi resistan

terhadap rifampisin (TB RR), maka pasien dirujuk ke fasyankes pelaksana

layanan TB-RO untuk memulai pengobatan TB lini kedua. Proses

pengiriman dahak dari fasyankes ke laboratorium rujukan TB harus

memperhatikan tata cara pengumpulan dan pengemasan spesimen yang

benar sesuai buku Petunjuk Teknis Transportasi Spesimen TB (Kementerian

Kesehatan, 2019).

9. Strategi Pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat.

Strategi pengobatan pasien TB-RO adalah memastikan semua pasien


18

yang sudah terkonfirmasi sebagai TB RR/ MDR dapat mengakses

pengobatan secara cepat, sesuai standar dan bermutu. Paduan obat untuk

pasien TB-RO terdiri dari OAT lini pertama dan lini kedua. Paduan OAT

tersebut dapat disesuaikan bila terjadi perubahan hasil uji kepekaan M.

Tuberculosis. Keputusan penggantian tersebut ditetapkan oleh tim ahli klinis

TB-RO.

Semua pasien TB RO perlu menjalani pemeriksaan awal,

pemeriksaan selama pengobatan berlangsung sampai selesai pengobatan,

dan pemeriksaan setelah selesai masa pengobatan. Persiapan awal

pengobatan meliputi pemeriksaan penunjang yang bertujuan untuk

mengetahui kondisi awal berbagai fungsi organ (ginjal, hati, jantung),

pemeriksaan elekrolit, dan berbagai pemeriksaan laboratorium lain.

Pemeriksaan selama pasien dalam masa pengobatan TB-RO bertujuan untuk

memantau perkembangan pengobatan dan efek samping obat.

Pengobatan TB-RO harus bisa dimulai dalam waktu 7 hari setelah

diagnosis pasien ditegakkan. Pengobatan untuk pasien TB-RO diberikan

dengan rawat jalan (ambulatory) sejak awal dan diawasi setiap hari secara

langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Sesuai dengan rekomendasi

WHO tahun 2020, pengobatan TB-RO di Indonesia saat ini menggunakan

paduan tanpa obat injeksi, yang terbagi menjadi dua, yaitu paduan

pengobatan jangka pendek (9–11 bulan) dan jangka panjang (18–20 bulan).

(Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat Di Indonesia,

2020).
19

[Link] Obat dan Alur Pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat

Progam Penanggulangan TB Nasional telah melakukan pembaharuan

Pengelompokan obat TB-RO sesuai dengan rekomendasi WHO

tahun 2018. Penggolongan obat TB-RO ini didasarkan pada studi mendalam

yang dilakukan WHO terkait manfaat dan efek samping dari obat-obat

tersebut. Pengelompokan obat TB-RO yang saat ini digunakan di Indonesia

dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Pengelompokkan obat TB-RO


Grup A Levofloksasin / Lfx / Mfx Bdq
Moxifloksasin Lzd
Bedaquiline
Linezolid
Grup B Clofa Cfz Cs
zimin Td
e
Siklo
serin
atau
Terizidone
Grup C Etambutol E
Dela Dlm Z
mani Ipm-Cin
d Mpm
Pirazi Amk
namid S
Imipenem–silastatin Eto
Meropenem Pto
Amikasin atau PAS
Streptomisin
Etionamid atau
Protionamid
p-aminosalicylic acid
Sumber : (Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat Di
Indonesia, 2020).
Penentuan paduan pengobatan pasien Tuberkulosis resistan obat

didasarkan pada berbagai kriteria dan kondisi pasien. Alur pengobatan

berikut merupakan acuan dalam menentukan pilihan paduan pengobatan

pasien TB-RO berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Program TB


20

Nasional.

Gambar 1. Alur Pengobatan TB RO

Sumber : (Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan Obat Di


Indonesia, 2020).

Keterangan:

a. Hasil LPA ditunggu maksimal 7 hari. Bila >7 hari hasil LPA belum keluar,

pengobatan harus segera dimulai berdasarkan kriteria yang ada di kotak.

b. Resistansi INH dengan mutasi salah satu dari inhA atau katG (tetapi tidak

keduanya) dapat diberikan paduan pengobatan jangka pendek.


21

c. Yang termasuk kasus TB paru berat ialah:

− kerusakan parenkimal luas (lesi sangat lanjut dengan definisi luas lesi

melebihi lesi lanjut sedang, tetapi kavitas ukuran lebih dari 4 cm). Lesi

lanjut sedang didefinisikan sebagai luas sarang-sarang yang berupa

bercak tidak melebihi luas satu paru, bila ada kavitas ukurannya tidak

lebih 4 cm, bila ada konsolidasi tidak lebih dari 1 lobus; atau

− terdapat kavitas di kedua lapang paru.

d. Yang termasuk kasus TB ekstraparu berat ialah TB meningitis, TB tulang

(osteoartikular), TB spondilitis, TB milier, TB perikarditis, TB abdomen.

e. Pasien dapat dipertimbangkan untuk pindah dari paduan pengobatan

jangka panjang ke paduan jangka pendek bila bukan merupakan kasus

TB RO paru/ekstraparu berat dan pasien tidak hamil.

[Link] dan Sediaan Obat Tuberkulosis Resistan Obat

Dosis obat berdasarkan pengelompokan berat badan untuk paduan

pengobatan TB-RO jangka panjang pada pasien berusia ≥15 tahun dan

dewasa dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2. Dosis OAT berdasarkan berat badan untuk paduan pengobatan


TB RO jangka pendek
Kelompok berat badan (≥ 15 tahun)
Dosis
Nama Obat Obat Kemasan 30–35 36–45 46–55 kg 56–70 >70 kg
Harian kg kg kg

4 tablet pada 2 minggu pertama, 2 tablet


100 mg Senin/Rabu/Jumat selama 22 minggu berikutnya
Bedaquiline* -
tab

250 mg
Levofloksasin - 3 3 4 4 4
tab
22

500 mg
1,5 1,5 2 2 2
tab
Dosis 400 mg
1 1 1,5 1,5 1,5
standar tab
Moksifloksasin
Dosis 400 mg 1 atau 1,5 atau 2
1,5 1,5 2 2
tinggi tab

50 mg cap 2 2 2 2 2
Clofazimine -
100 mg
1 1 1 1 1
cap

15–25 400 mg
Ethambutol 2 2 3 3 3
mg/kg tab

400 mg
3 4 4 4 5
20–30 tab
Pirazinamide
mg/kg 500 mg
2 3 3 3 4
tab
15–20 250 mg
Ethionamid 2 2 3 3 4
mg/kg tab
10–15
mg/kg 300 mg
INH 1,5 1,5 2 2 2
(dosis tab
tinggi)

Tabel 3. Dosis OAT untuk panduan pengobatan TB-RO jangka


panjang (≥ 15 tahun).
Kelompok berat badan (≥ 15
Dosis tahun)
Grup Nama Obat Obat Kemasan
Harian 30 36– 46– 56– >70
–35 45 55 70 kg
kg kg kg kg

Levofloksasin - 250 mg tab 3 3 4 4 4

500 mg tab 1,5 1,5 2 2 2

Dosis 400 mg tab 1 1 1,5 1,5 1,5


Moksifloksasin standar
A
Dosis 400 mg tab 1 1,5 1,5 2 2
tinggi atau atau
1,5 2

Bedaquiline 100 mg tab 4 tablet pada 2 minggu


- pertama, 2 tablet Senin/Rabu/Jumat
selama 22 minggu berikutnya
23

Linezolid - 600 mg tab (<1 (<1 1 1 1


5 5
th) th)

50 mg cap 2 2 2 2 2
Clofazimine -
B 100 mg cap 1 1 1 1 1

Sikloserin 10–15 250 mg cap 2 2 3 3 3


mg/kg
Ethambutol 15–25 400 mg tab 2 2 3 3 3
mg/kg
Kelompok berat badan (≥ 15
Dosis tahun)
Nama Obat Obat Kemasan
Grup Harian 30 36– 46– 56– >70
–35 45 55 70 kg
kg kg kg kg

C Delamanid - 50 mg tab 2 x 2 tab per hari

400 mg tab 3 4 4 4 5
Pirazinamide 20–30
mg/kg

500 mg tab 2 3 3 3 4

500 mg/2 ml
Amikasin 15–20 (am- 2,5 3 ml4 4 3–4
mg/kg pul) ml m ml ml
l
Streptomisin 12–18 1 g ser- buk Dihitung sesuai dengan zat pelarut yang
mg/kg (vial) digunakan

Ethion- amid 15–20 250 mg tab 2 2 3 3 4


mg/kg

8–12 PAS
g/hari Sodium salt 1-
PAS dalam 2– (4g) 1 bd 1 bd 1 bd 1 bd 1,5
3 dosis sachet bd
terbagi

4–6 mg/ 300 mg tab


kg dosis 2/3 1 1 1 1
Obat INH standar
lain
10–15 300 mg tab
mg/kg do- 1,5 1,5 2 2 2
sis tinggi

Sumber : (Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan


Obat Di Indonesia, 2020).
24

[Link] Hasil Akhir Pengobatan Tubekulosis Resistan Obat.

Hasil akhir pengobatan pasien TB resistan obat dibedakan

berdasarkan paduan pengobatan yang diberikan. Pada dasarnya, hasil akhir

pengobatan TB-RO pada kedua paduan memiliki definisi yang sama untuk

hasil akhir “pengobatan lengkap”, “putus berobat”, “meninggal” dan “tidak

dievaluasi”, namun memiliki definisi yang sedikit berbeda untuk “gagal”

dan “sembuh”. Belum ada pembaharuan untuk definisi hasil akhir

pengobatan TB-RO (masih sama dengan paduan pengobatan TB-RO dengan

obat injeksi). Definisi hasil akhir pengobatan yang saat ini dipakai

berdasarkan pada pedoman WHO tahun 2016.

a. Hasil Akhir Pengobatan TB-RO untuk Panduan Jangka Pendek

Definisi hasil akhir pengobatan TB-RO untuk paduan jangka

pendek dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 4. Definisi hasil akhir pengobatan TB-RO pada paduan jangka


pendek

Hasil akhir
No. pengobatan Definisi

Pasien tidak menelan obat atau berhenti berobat selama 2


1. Putus berobat bulan berturut-turut atau lebih.
2. Meninggal Pasien meninggal oleh sebab apapun dalam masa pengobatan.
25

Pasien dinyatakan gagal jika paduan pengobatan yang


diberikan perlu dihentikan dan diubah secara permanen
dengan alasan salah satu atau lebih sebagai berikut:
▪ Tidak ada respon perbaikan klinis dan/atau bakteriologis
3. Gagal ▪ Adanya efek samping obat
▪ Adanya bukti tambahan resistansi obat yang ada dalam
paduan yang saat ini diberikanb erdasarkan hasil uji
kepekaan obat

Pasien dikatakan sembuh bila memenuhi ketiga hal berikut:


▪ Pasien menyelesaikan pengobatan sesuai durasi pengobatan
yang ditetapkan dan memenuhi kriteria untuk dinyatakan
sembuh berikut:
4. Sembuh − Pemeriksaan biakan 3 kali berturut-turut dengan jarak
minimal 30 hari hasilnya
negatif pada tahap lanjutan
− Pemeriksaan BTA pada akhir pengobatan hasilnya
negatif
▪ Pasien menyelesaikan pengobatan sesuai durasi pengobatan
5. Pengobatan yang ditetapkan
lengkap ▪ Tidak ada bukti untuk dinyatakan sembuh atau gagal

▪ Pasien pindah berobat tapi hasil akhir pengobatan tidak


diketahui atau tidak dilaporkan kembali
6. Tidak dievaluasi ▪ Pasien tidak ada hasil pengobatan sampai periode pelaporan
*) Untuk pengobatan jangka pendek, terjadi resistansi tambahan
terhadap OAT lini kedua utama dikategorikan sebagai “Gagal
karena perubahan diagnosis”.

b. Hasil Akhir Pengobatan TB-RO untuk Paduan Jangka Panjang

Definisi hasil akhir pengobatan TB-RO untuk paduan jangka

pendek dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5. Definisi hasil akhir pengobatan TB-RO pada paduan jangka


panjang
No. Hasil akhir Definisi
pengobatan

1. Putus berobat Pasien tidak menelan obat atau berhenti berobat


selama 2 bulan berturut-turut atau lebih.
2. Meninggal Pasien meninggal oleh sebab apapun dalam masa
pengobatan.
26

Pasien dinyatakan gagal jika paduan pengobatan yang


diberikan perlu dihentikan dan diubah secara
permanen dengan alasan salah satu atau lebih sebagai
berikut:
3. Gagal ▪ Tidak ada respon perbaikan klinis dan/atau
bakteriologis
▪ Adanya efek samping obat
▪ Adanya bukti tambahan resistansi obat yang ada
dalam paduan yang saat ini diberikan berdasarkan
hasil uji kepekaan obat
Pasien dikatakan sembuh bila memenuhi ketiga hal
berikut:
Pasien menyelesaikan pengobatan sesuai durasi
4. Sembuh pengobatan yang ditetapkan dan memenuhi kriteria
untuk dinyatakan sembuh:
▪ Pemeriksaan biakan 3 kali berturut-turut dengan
jarak minimal 30 hari hasilnya negatif pada tahap
lanjutan.
▪ Pasien menyelesaikan pengobatan sesuai durasi
5. Pengobatan lengkap pengobatan yang ditetapkan
▪ Tidak ada bukti untuk dinyatakan sembuh atau
gagal
▪ Pasien pindah berobat tapi hasil akhir pengobatan
tidak diketahui atau tidak dilaporkan Kembali
6. Tidak dievaluasi ▪ Pasien tidak ada hasil pengobatan sampai periode
pelaporan
Pasien tidak ada hasil pengobatan sampai periode
pelaporan

[Link] Laksana Efek Samping Pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat

Berdasarkan Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan

Obat Di Indonesia (2020) pemantauan terjadinya efek samping obat penting

dilakukan selama pengobatan TB-RO. Semua OAT yang digunakan untuk

pengobatan pasien TB RR/MDR mempunyai kemungkinan untuk timbul

efek samping ringan, sedang, maupun berat. Petugas kesehatan harus selalu

memantau munculnya efek samping dan memberikan tata laksana sesegera

mungkin. Penanganan efek samping yang baik dan adekuat adalah kunci

keberhasilan pengobatan.

Prinsip pemantauan efek samping selama pengobatan:


27

a. Deteksi dini efek samping selama pengobatan sangat penting karena

semakin cepat ditemukan dan ditangani, maka prognosis akan lebih baik.

Untuk itu, pemantauan efek samping pengobatan harus dilakukan setiap

hari.

b. Efek samping OAT berhubungan dengan dosis yang diberikan.

c. Gejala efek samping pengobatan harus diketahui petugas kesehatan yang

menangani pasien dan juga oleh pasien serta keluarganya.

d. Semua efek samping pengobatan yang dialami pasien harus tercatat

dalam Formulir MESO Harian pada buku TB.01 dan Sistem Informasi

Tuberkulosis.

[Link] Pengobatan Tuberkulosis Resistan Obat

Berdasarkan Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Resistan

Obat Di Indonesia (2020) dukungan terkait pengobatan pasien TB-RO yang

diperlukan ialah :

a. Pengawasan Menelan Obat

Pengawasan minum obat dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan

(nakes), kerabat / keluarga pasien, ataupun orang dari komunitas yang

menjadi pendamping pengobatan pasien (treatment supporter).

Pengawasan juga dapat dilakukan melalui video daring real-time, seperti

melalui aplikasi telepon video. Definisi dari patuh berobat ialah pasien

mengkonsumsi >90% obat-obatannya dengan pengawasan langsung oleh

pengawas menelan obat (PMO).


28

b. Tempat Minum Obat dan Desentralisasi Layanan

Lokasi minum obat untuk pasien TB-RO dapat di fasyankes

ataupun di lingkungan tempat tinggal pasien (community- or home- based

DOT). Berdasarkan panduan WHO 2020, pasien TB- RO minum obat di

lingkungan tempat tinggal dengan pengawasan nakes atau komunitas

terlatih lebih direkomendasikan daripada minum obat di fasyankes

ataupun minum obat tanpa pengawasan. Hasil studi menunjukkan bahwa

pasien TB-RO yang minum obat di lingkungan tempat tinggal dengan

pengawasan memiliki angka keberhasilan pengobatan dan konversi

sputum pada bulan ke-2 yang lebih tinggi.

c. Paket Dukungan Kepatuhan Berobat

Paket dukungan kepatuhan berobat untuk pasien TB-RO

merupakan kombinasi dari dukungan psikologis, bantuan materi/

ekonomi, sistem pelacak/pemantauan pengobatan pasien, serta konseling

dan edukasi kesehatan. WHO melaporkan bahwa pasien TB-RO yang

mendapatkan kombinasi paket dukungan kepatuhan berobat memiliki

angka keberhasilan pengobatan yang lebih tinggi, serta angka kematian

dan putus berobat yang lebih rendah.

d. Dukungan Masyarakat (Komunitas)

Pemberdayaan masyarakat dalam menyediakan dukungan

pengobatan pasien TB-RO adalah sangat penting. Pemberdayaan

masyarakat adalah suatu upaya atau proses untuk menumbuhkan

kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali,


29

mengatasi, memelihara, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan

mereka sendiri. Pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan TB

yaitu menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan dalam

memutus mata rantai penularan TB, salah satunya dengan menemukan

pasien TB di wilayahnya dan mendukung pengobatannya.

B. Kepatuhan

Kepatuhan merupakan perilaku positif yang dilakukan oleh penderita

dalam mencapai tujuan pengobatan dan juga terapi (Suparyanto, 2010).

Menurut Sarfino (1990) dalam Suparyanto (2010), kepatuhan adalah suatu

tingkatan seorang penderita dalam melaksanakan yang dianjurkan atau

disarankan oleh tenaga kesehatan. Kepatuhan didefinisikan oleh WHO sebagai

“sejauh mana perilaku minum obat, mengikuti diet, dan atau melaksanakan

perubahan gaya hidup seseorang, sesuai dengan rekomendasi yang disepakati

dari pelayanan kesehatan (Sakalle et al., 2014).

Menurut Sacket dalam Niven (2000) kepatuhan adalah sejauh mana

perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh professional

kesehatan Teori Perilaku Preced Proceed Lawrence Green (1980). Teori ini

berdasarkan tindakan seseorang yang mempengaruhi perilaku yang

berhubungan dengan kepatuhan minum obat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu:

1. Faktor predisposisi (predisposing factors),

Faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisikan terjadinya

perilaku seseorang, yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan,

keyakinan, nilai nilai, dan sebagainya.


30

2. Faktor pendukung atau pendorong (enabling factors),

Terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-

fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya Puskesmas, ketersedian

obat-obatan, laboratorium pemeriksaan sputum, dan sebagainya.

3. Faktor penguat (reinforce factors),

Yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan, atau petugas

yang lain, motivasi dari keluarga yang merupakan kelompok referensi

(kader) dari perilaku masyarakat.

C. Kerangka Teori

Pengobatan TB-RO Dapat diukur menggunakan indikator masukan

(input), proses (process), dan luaran (output). Oleh karena itu fokus penelitian

dapat disusun sebagai berikut :

Gambar. 2. Kerangka Teori

Input: Proses: Output:

1. Tenaga 1. Tingkat
Kesehatan Pengetahuan
2. Pasien TB RO 2. Sarana Faktor
3. Pengawas prasarana Kepatuhan
Menelan Obat 3. Dukungan pengobatan
4. Ketersediaan Keluarga pada pasien
Obat TB RO

1. Masukan (input) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan dalam kepatuhan

pengobatan TB-RO agar dapat berjalan dengan baik, meliputi : Tenaga

Kesehatan, PMO, Komitmen politis Ketersediaan Obat.

a. Pasien TB-RO adalah penderita yang mendapatkan pelayanan serta


31

menjalankan pengobatan TB-RO.

b. Pengawas Minum Obat adalah seseorang yang dapat menjadi pengawas

minum obat yang dapat mendampingi dan mengingatkan serta

memotivasi penderita TB-RO.

c. Tenaga Kesehatan adalah petugas yang memberikan informasi dan

penanganan kepada masyarakat tentang program penanggulangan TB-

RO, seperti tenaga kesehatan sebagai penanggung jawab program TB dan

laboratorium di puskesmas.

d. Ketersediaan Obat, Sarana Prasarana, termasuk didalamnya yaitu :

tersedianya obat anti tuberkulosis (OAT) TB-RO yang terjamin,

tersedianya peralatan pemeriksaan sputum dahak, kartu peserta dan

pemantauan pengobatan TB-RO, dan ruangan khusus untuk program

penanggulangan TB-RO yang mendukung terlaksananya penatalaksanaan

programpenanggulangan TB-RO

2. Proses (process) adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan, meliputi: tingkat pengetahuan,

sarana prasarana serta dukungan .

3. Keluaran (output) adalah hasil dari faktor kepatuhan pengobatan pada

pasien TB-RO di wilayah Kabupaten Sleman.

D. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan dari tujuan penelitian yang telah di buat, maka di susunlah

pertanyaan penelitian sebagai berikut :


32

1. Bagaimana pengetahuan pasien tentang pengobatan TB-RO?

2. Apa saja sarana prasarana yang mendukung pengobatan TB-RO?

3. Apa saja dukungan yang ada dalam faktor kepatuhan pasien TB-RO?
33

Anda mungkin juga menyukai