BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Konsep Berpikir Kritis
a. Pengertian Berpikir Kritis
Berpikir kritis adalah proses intelektual yang
dengan aktif dan terampil mengkonseptualisasi,
menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi
informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan dari
pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau
komunikasi, untuk memandu keyakinan dan tindakan
(Scriven & Paul 2003). Berpikir kritis adalah hasil yang
diinginkan untuk program pendidikan keperawatan yang
mempersiapkan perawat untuk bekerja di lingkungan
perawatan kesehatan (Mundy & Denham, 2008 dalam
Zori et al, 2013).
Berpikir kritis adalah proses asumsi yang
mendasari, menafsirkan dan mengevaluasi argumen,
membayangkan dan mengeksplorasi alternatif serta
mengembangkan kritik yang reflektif untuk tujuan
mencapai kesimpulan yang dapat dibenarkan.
20
21
Berpikirkritis bukanlah hal yang sama seperti kritik
namun menyerukan sikap bertanya yang berdasarkan
pengetahuan, bukti, analisis, dan keterampilan untuk
mengkombinasikannya (Sullivan, 2009)Ennis (2011)
mengatakan berpikir kritis adalah berpikir secara
beralasan dan reflektif dengan menekankan pada
pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai
atau dilakukan. Berpikir kritis adalah berpikir jernih, teliti,
penuh pengetahuan dan adil saat memeriksa alasan untuk
meyakini atau berbuat sesuatu (Faiz, 2012). Berpikir kritis
adalah aktivitas mental yang dilakukan untuk
mengevaluasi kebenaran sebuah pernyataan. Umumnya
evaluasi berakhir dengan putusan untuk menerima,
menyangkal, atau meragukan kebenaran pernyataan yang
dimaksud (Faiz, 2012).
Berpikir kritis adalah suatu proses dimana seseorang
atau individu dituntut untuk mengintervensikan dan
mengevaluasi informasi untuk membuat sebuah penilaian
atau keputusan berdasarkan kemampuan, menerapkan
ilmu pengetahuan dan pengalaman (Potter, 2006).
Jadi berpikir kritis merupakan kemampuan
menggunakan pengetahuan secara efektif, menganalisis,
22
mengevaluasi, dan mengekplorasi alternatif untuk
mendapatkan kebenaran dan ketepatan suatu pernyataan
serta tidak mudah menerima informasi tanpa memikirkan
terlebih dahulu apa yang sedang disampaikan.
b. Indikator Berpikir Kritis
Faiz (2012) menyatakan indikator kemampuan
berpikir kritis antara lain dapat dirumuskan dalam
aktivitas-aktivitas kritis berikut :
1) Mencari jawaban yang jelas dari setiap pertanyaan
2) Mencari alasan atau argumen
3) Berusaha mengetahui informasi dengan tepat
4) Memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan
menyebutkannya
5) Memperhatikan situasi dn kondisi secara keseluruhan
6) Berusaha tetap relevan dengan ide utama
7) Memahami tujuan yang asli dan mendasar
8) Mencari alternatif jawaban
9) Bersikap dan berpikir terbuka
10) Mengambil sikap ketika ada bukti yang cukup untuk
melakukan sesuatu
11) Mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila
memungkinkan
23
12) Berpikir dan bersikap secara sistematis dan teratur
dengan memperhatikan bagian-bagian dari
keseluruhan masalah.
c. Aktivitas dan Ciri-Ciri Berpikir kritis
Fisher (2009: 7) menyebutkan ciri-ciri kemampuan
berpikir kritis sebagai berikut:
1) Mengenal masalah
2) Menemukan cara-cara yang dapat dipakai untuk
menangani masalah-masalah.
3) Mengumpulkan dan menyusun informasi yang
diperlukan.
4) Mengenal asumsi-asumsi dan nilai-nilai yang tidak
dinyatakan.
5) Memahami dan menggunakan bahasa yang tepat,
jelas, dan khas
6) Menilai fakta dan mengevalusai pernyataan-
pernyataan
7) Mengenal adanya hubungan yang logis antara
masalah-masalah
8) Menarik kesimpulan-kesimpulan dan kesamaaan-
kesamaan yang diperlukan.
24
9) Menguji kesamaan-kesamaan dan kesimpulan-
kesimpulan yang seseorang ambil.
10) Menyusun kembali pola-pola keyakinan seseorang
berdasarkan pengalaman yang lebih luas.
11) Membuat penilaian yang tepat tentang hal-hal dan
kualitas-kualitas tertentu dalam kehidupan sehari-
hari.
Faiz (2012) mengatakan ciri-ciri yang berpikir kritis
dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap dan kebiasaan
adalah sebagai berikut :
1) Menggunakan fakta-fakta secara tepat dan jujur.
2) Mengorganisasi pikiran dan mengungkapkannya
dengan jelas, logis atau masuk akal.
3) Membedakan antara kesimpulan yang didasarkan
pada logika yang valid dengan logika yang tidak
valid.
4) Mengidentifikasi kecukupan data
5) Menyangkal suatu argumen yang tidak relevan dan
menyampaikan argumen yang relevan.
6) Mempertanyakan suatu pandangan dan
mempertanyakan implikasi dari suatu pandangan.
25
7) Menyadari bahwa fakta dan pemahaman seeorang
selalu terbatas
8) Mengenali kemungkinan keliru dari suatu pendapat
dan kemungkinan bias dalam pendapat.
d. Karakteristik Kemampuan Berpikir kritis
Faiz (2012) menjelaskan karakteristik berpikir kritis,
yaitu diantaranya :
1) Watak (Dispositions)
Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir
kritis mempunyai sikap hati-hati, sangat terbuka,
menghargai kejujuran, menghargai keragaman data
dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan
ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang
berbeda dan siap untuk berubah sikap ketika terdapat
sebuah pendapat yang dianggapnya lebih baik.
2) Kriteria (Criteria)
Dalam berpikir kritis seseorang harus mempunyai
sebuah kriteria, patokan atau standar. Apabila kita
akan menerapkan standarisasi maka haruslah
berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta,
berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias,
26
bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten
dan pertimbangan yang matang.
3) Argumen (Argument)
Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang
dilandasi oleh data-data. Keterampilan berpikir kritis
secara umum meliputi kegiatan pengenalan, penilaian
dan penyusunan argumen.
4) Pertimbangann atau pemikiran (Reasoning)
Seseorang yang mempunyai kemampuan berpikir
kritis mempunyai pertimbangan atau dasar
pertimbangan dalam menyimpulkan suatu hal.
Kegiatan ini meliputi proses menguji data-data dan
informasi yang tersedia
5) Sudut Pandang (Point Of View)
Sudut pandang adalah cara memandang atau
menafsirkan permasalahan yang akan menentukan
konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan
kritis akan memandang sebuah fenomena dari
berbagai sudut pandang yang berbeda.
6) Prosedur untuk menerapkan kriteria (Procedures For
Appliying Criteria)
27
Seseorang berpikir kritis mempunyai alur yang
kompleks dan prosedural dalam mengambil
keputusan. Alur prosedur tersebut meliputi
perumusan masalah, memilih keputusan yang akan
diambil dan mengidentifikasi perkiran-perkiraan
sesudah keputusan itu diambil.
e. Keterampilan Berpikir kritis
Faiz (2012) membagi berpikir kritis menuntut lima
jenis keterampilan yaitu :
1) Keterampilan Menganalisis
Ketrampilan menganalisis merupakan suatu
ketrampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam
komponen-komponen agar mengetahui
pengorganisasian struktur tersebut. Dalam
ketrampilan tersebut tujuan pokoknya adalah
memahami sebuah konsep yang global atau umum
dengan cara menguraikan atau merinci hal-hal yang
umum atau global ke dalam bagian-bagian yang lebih
kecil dan terperinci. Dalam menganalisis seorang
yang berpikir kritis mengidentifikasi langkah-langkah
logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga
sampai pada suatu kesimpulan.
28
Kata-kata operasional yang mengindikasikan
ketrampilan berpikir analitis diantaranya
menguraikan, mengidentifikasi, menggambarkan,
menghubungkan, memerinci dan lain sebagainya.
2) Keterampilan melakukan sintesis
Keterampilan sintesis merupakan keterampilan
yang berlawanan dengan keterampilan menganalisis.
Ketrampilan sintesis adalah keterampilan
menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah
bentuk atau susunan yang baru. Keterampilan sintesis
menuntut seorang yang berpikir kritis untuk
menyatupadukan semua informasi yang diperoleh
sehingga dapat menciptakan ide-ide yang baru
3) Keterampilan memahami dan memecahkan masalah
Keterampilan ini menuntut seseorang untuk
memahami sesuatu dengan kritis dan setelah aktivitas
pemahaman itu selesai, ia mampu menangkap
beberapa pikiran utama dan melahirkan ide-ide baru
hasil dari konseptualisasi pemahamannya. Untuk
selanjutnya, hasil dari konseptualisasi tersebut
diaplikasikan ke dalam permasalahan atau ruang
lingkup baru.
29
4) Keterampilan menyimpulkan
Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal
pikiran manusia berdasarkan pengertian atau
pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya untuk
mencapai pengertian atau pengetahuan (kebenaran)
baru yang lain. Keterampilan ini menuntut seseorang
untuk menguraikan dan memahami berbagai aspek
secara bertahap untuk sampai kepada suatu formula
baru, yaitu sebuah kesimpulan.
5) Keterampilan mengevaluasi atau menilai
Keterampilan ini menuntut pemikiran yang
matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan
menggunakan satu kriteria tertentu. Keterampilan
menilai menghendaki seorang pemikir memberikan
penilaian dengan menggunakan standar tertentu.
f. Komponen Kemampuan Berpikir Kritis
Para ahli yang tergabung di dalam APA (American
Philosophical Association) (1990) dalam Mutiarani
(2010), menyebutkan komponen berpikir kritis,
diantaranya :
1) Interprestasi, yaitu kemampuan di dalam
memberikan suatu pandangan atau pendapat
30
mengenai suatu hal, situasi, peristiwa atau kejadian,
suatu keputusan, sebuah kepercayaan, peraturan-
peraturan dan lain sebagainya.
2) Analisis, yaitu suatu kemampuan di dalam
mengidentifikasi keadaan yang masih ada
hubungannya dengan pertanyaan, pertanyaan dan
konsep.
3) Evaluasi, yaitu suatu kemampuan didalam menilai
kredibilitas atau tingkat kepercayaan terhadap
pernyataan dan pandangan seseorang mengenai
suatu hal, situasi serta peristiwa yang kemudian
dibuat sebuah kesimpulan.
4) Inference, yaitu kemampuan seseorang didalam
mengidentifikasi dan mengumpulkan hal-hal yang
berkaitan dan diperlukan untuk menarik kesimpulan
atau hipotesis berdasarkan informasi-informasi yang
sangat beralasan.
5) Explanation, yaitu kemampuan seseorang didalam
menjelaskan hasil dengan berbagai alasandan
pertimbangan. Kemampuan ini diterapkan untuk
membenarkan sesuatu hal berdasarkan bukti-bukti,
konsep, metodeologi serta penalaran atau logika.
31
6) Self-Regulation, yaitu suatu kesadaran seseorang
didalam memonitor atau menilai pengetahuannya,
proses berpikirnya dan hasil yang telah
dikembangkannya khususnya dalam hal-hal yang
berkaitan dengan menerapkan keterampilannya.
g. Faktor-faktor yang mendorong pengembangan berpikir
kritis dan faktor yang mengganggu perkembangan kritis
Brudvig (2013) mengatakan faktor-faktor yang
mendorong pengembangan berpikir kritis yaitu otonomi,
pengembangan kepercayaan melalui dorongan,
menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek dan
ketersediaan. Faktor-faktor yang mengganggu
perkembangan berpikir kritis yaitu merasa kalah,
pengendalian perawatan pasien oleh preceptor dan
inkonsistensi dalam pengalaman serta tipe kepribadian.
h. Pengembangan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran
Keperawatan
Di dalam praktiknya sering sekali perawat
menemukan permasalah di pelayanan kesehatan.
Berhubungan dengan penyakit-penyakit, pasien, keluarga
pasien maupun dengan sesama petugas medis. Keadaan
ini membuat perawat dituntut untuk mahir berpikir kritis
32
dalam menilai dan menelaah permasalahan tersebut.
Kemampuan bepikir kritis ini memungkinkan seseorang
termasuk perawat untuk secara efektif menangani masalah
sosial, ilmiah dan maslalah praktis (Shakirova, 2007
dalam snydeer, 2008)
Scriven & Paul (2003) menyatakan bahwa
kemampuan berpikir kritis merupakan suatu proses
berpikir aktif dan terampil dalam mengkonsep,
menerapkan, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi
informasi yang dikumpulkan dari atau dihasilkan dari
hasil observasi, pengalaman, refleksi, penalaran atau
kombinasi sebagai petunjuk yang memberi keyakinan
dalam bertindak. Facione (1993) dalam Karantzas (2013)
kemampuan berpikir kritis merupakan suatu kemampuan
berpikir intelektual yang dapat menghasilkan pemecahan
masalah dan pengambilan keputusan.
i. Model Berpikir kritis Dalam Keperawatan
Scriven (2003) dapat digunakan tiga model, yaitu:
feeling model, vision model, dan examine model. Feeling
model merupakan model yang menerapkan pada rasa,
kesan, dan data atau fakta yang ditemukan. Pemikir kritis
mencoba mengedepankan perasaan dalam melakukan
33
pengamatan, kepekaan dalam melakukan aktifitas
keperawatan dan perhatian. Misalnya terhadap aktifitas
dalam pemeriksaan tanda vital, perawat merasakan gejala,
petunjuk dan perhatian kepada pernyataan serta pikiran
klien.
Vision model merupakan model yang digunakan
untuk membangkitkan pola pikir, mengorganisasi dan
menerjemahkan perasaan untuk merumuskan hipotesis,
analisis, dugaan dan ide tentang permasalahan perawatan
kesehatan klien, beberapa kritis ini digunakan untuk
mencari prinsip-prinsip pengertian dan peran sebagai
pedoman yang tepat untuk merespon ekspresi (Scriven,
2003).
Examine model yaitu model digunakan untuk
merefleksi ide, pengertian dan visi. Perawat menguji ide
dengan bantuan kriteria yang relevan. Model ini
digunakan untuk mencari peran yang tepat untuk analisis,
mencari, meguji, melihat konfirmasi, kolaborasi,
menjelaskan dan menentukan sesuatu yang berkaitan
dengan ide (Scriven,2003).
34
j. Cara Pengukuran Kemampuan Berpikir Kritis
Para ahli yang tergabung dalam APA (American
Philosophical Association) (1990) dalam Mutiarani (2010),
secara umum terdapat cara pengukuran kemampuan
berpikir kritis, yaitu:
1) Observasi performance seseorang selama kegiatan.
Observasi dilakukan dengan mengacu pada
komponen kemampuan berpikir kritis yang akan
diukur kemudian menyimpulkan bagaimana tingkat
kemampuan berpikir kritis individu tersebut.
2) Mengukur outcome dari komponen-komponen
kemampuan berpikir kritis yang telah diberikan.
3) Mengajukan pertanyaan dan menerima penjelasan
seseorang mengenai prosedur dan keputusan yang
mereka ambil terkait dengan komponen kemampuan
berpikir kritis yang akan diukur.
4) Membandingkan outcome dari suatu komponen
kemampuan berpikir kritis dengan komponen
kemampuan berpikir kritis yang lain.
2. Konsep Leadership
a. Pengertian Kepemimpinan
Pemimpin adalah orang yang menggunakan
35
keterampilan interpersonal untuk mempengaruhi orang lain
untuk mencapai tujuan tertentu. Pemimpin memiliki pengaruh
dengan menggunakan repertoar fleksibel, perilaku pribadi dan
strategi. Pemimpin penting dalam membangun relasi,
menciptakan koneksi antara anggota organisasi untuk
mempromosikan penampilan dan hasil yang berkualitas
(Sullivan, 2008).
Sullivan (2008) menyebutkan kepemimpinan formal dan
informal. Kepemimpinan dikatakan formal ketika dipraktikkan
oleh perawat dengan otoritas yang sah oleh organisasi dan
dijelaskan dalam deskripsi pekerjaan (misalnya, perawat
manajer, supervisor, koordinator, manajer kasus).
Kepemimpinan formal juga tergantung pada keterampilan
individu, tetapi bisa diperkuat oleh otoritas organisasi dan
posisi. Pemimpin formal mengakui pentingnya kegiatan
kepemimpinan informal mereka sendiri dan kepemimpinan
informal lain yang mempengaruhi kerja dan tanggung jawab.
Kepemimpinan informal ketika dilakukan oleh anggota
staf yang tidak memiliki peran manajemen. Seorang perawat
yang memiliki ide bijaksana dan meyakinkan, mempengaruhi
efisiensi alur kerja dapat melatih keterampilan kepemimpinan.
Kepemimpinan informal terutama tergantung pada
36
pengetahuan seseorang, status (misalnya, praktek perawat,
koordinator peningkatan kualitas, spesialis pendidikan,
direktur medis) serta keterampilan pribadi dalam
mempengaruhi dan membimbing orang lain (Sullivan, 2008).
Thoha (2010: 9) mengatakan kepemimpinan adalah
kegiatan untuk memengaruhi perilaku orang lain, atau seni
memengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun
kelompok.
George R. Terry dalam (Thoha, 2010: 5) mengartikan
bahwa kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi
orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi.
Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam
menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut
untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki
kelompok dan budayanya.
b. Teori Kepemimpinan
1) Teori Sifat
Stogdill (1974) dalam Sullivan (2008) mengembangkan
profil dari pemimpin yang sukses dan sifat-sifat. Bass
(1990) dalam Sullivan (2008) menambahkan sifat, yang
diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu kecerdasan,
kepribadian dan kemampuan. Gilbert (1975) dalam
Sullivan (2008) pada pelatihan kepribadian mahasiswa
37
pascasarjana keperawatan, menemukan bahwa yang
berpotensi menjadi pemimpin akan menunjukkan sifat-
sifat seperti dominasi, keagresifan, ambisius, keinginan
tinggi untuk mencapai status, ketenangan, rasa percaya
diri, toleransi terhadap pandangan lain, kebutuhan yang
tinggi untuk mencapai, berpikir tertib, peka terhadap
orang lain, dan fleksibilitas. Walaupun ini upaya awal
untuk menentukan sifat kepemimpinan unik yang
dijadikan tolok ukur yang dipakai kebanyakan pemimpin
akan dihakimi.
2) Teori Perilaku
Penelitian tentang kepemimpinan di awal 1930-an
terfokus pada yang dilakukan oleh pemimpin. Dalam
pandangan teori perilaku, sifat-sifat pribadi hanya
terbentuk dari kepemimpinan; pemimpin sejati dilakukan
melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman hidup
(Sullivan, 2008).
c. Gaya kepemimpinan
Teori perilaku berbasis berasumsi bahwa pemimpin yang
efektif memperoleh pola perilaku yang dipelajari. Studi awal
dari kelompok remaja laki-laki mengidentifikasi tiga pola
kepemimpinan yaitu otokratis, demokratis, dan permisif (Lewin
38
& Lippit, 1938; Lewin, Lippit, & White, 1939 dalam Sullivan,
2008)
Sullivan (2008) menyatakan gaya kepemimpinan
otokratik berasumsi bahwa individu dimotivasi oleh kekuatan
eksternal, seperti kekuasaan, otoritas, dan kebutuhan untuk
mendapatkan persetujuan. Pemimpin membuat semua
keputusan dan menggunakan paksaan, hukuman, dan arahan
untuk mengubah perilaku pengikut dan hasil pencapaian.
Gaya kepemimpinan demokratis berasumsi bahwa
invidual termotivasi oleh dorongan dan pengaruh internal, ingin
ikut berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan ingin
mendapatkan tugas untuk dilakukan. Pemimpin melibatkan
partisipasi anggota lain dan kekuasaan mayoritas dalam
menetapkan tujuan dan bekerja mencapai prestasi (Sullivan,
2008).
Sullivan (2008) menyatakan gaya kepemimpinan
permisif juga mengasumsikan bahwa individu termotivasi oleh
dorongan dan pengaruh internal dan mereka perlu diberikan
kebebasan sendiri untuk membuat keputusan tentang bagaimana
untuk menyelesaikan pekerjaan. Pemimpin tidak memberikan
arah atau fasilitasi.
39
Jenkins dan Henderson (1984) dalam Sullivan (2008)
menambahkan gaya keempat, gaya kepemimpinan birokrasi.
Birokrat berasumsi bahwa karyawan dimotivasi oleh kekuatan
dari luar. Pemimpin ini percaya bila anggota tidak seorang diri
untuk membuat keputusan sehingga tergantung pada kebijakan
organisasi dan aturan untuk mengidentifikasi tujuan dan proses
kerja secara langsung.
Tabel 2.1 Perbandingan empat gaya kepemimpinan (Sullivan,
2008)
Gaya Motivasi Karyawan Karakteristik
Kepemimpinan Pemimpin
Otoriter Kekuatan eksternal, Kepentingan
(otokratis) misalnya, kekuasaan, berfokus pada
otoritas, persetujuan. tugas daripada
hubungan.
Menggunakan
perilaku direktif
Membuat
keputusan sendiri
Mengharapkan
penghormatan dan
ketaatan staf
Kekurangan
dukungan
kelompok yang
berpartisipasi.
Mendapat kekuatan
dengan paksaan.
Menunjukkan
kebergunaan
(kebutuhan) dalam
situasi krisis.
Demokrat Dorongan dan pengaruh Kepentingan
(Partisipatif) internal berfokus dengan
40
hubungan antar
anggota dan dan
kerja sama tim.
Komunikasi yang
terbuka dan
biasanya dua arah.
Menciptakan
semangat kerja
sama dan upaya
bersama yang
menghasilkan
kepuasan staf.
Permisif Dorongan dan pengaruh Cenderung
internal memiliki beberapa
kebijakan yang
ditetapkan bukan
dari pemimpin.
Umumnya tidak
digunakan dalam
organisasi yang
terstruktur
(misalnya lembaga
pelayanan
kesehatan)
Birokrasi Kekuatan eksternal Keamanan
tergantung pada
kebijakan dan
aturan yang telah
ditetapkan.
Kekuatan
diterapkan secara
pasti, aturan yang
relatif tidak
fleksibel.
Cenderung
berhubungan
secara impersonal
staf.
Menghindari
pengambilan
keputusan tanpa
standar atau norma.
41
d. Kepemimpinan Situasional
Pendekatan kepemimpinan situasional yang
dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard (1969) dalam
Northouse (2013) dengan didasarkan pada Reddin (1967) teori
gaya manajemen 3D. Pendekatan situasional telah diperbaiki
dan diperbarui beberapa kali sejak peluncuran pertamanya
Zigarmi & Nelson, 1993: Blancrd, Zigarmi, & Zigarmi, 1985;
Hersey & Blancard, 1977,1988).
Prinsip teori situasional adalah situasi yang berbeda
menuntut jenis kepemimpinan yang berbeda dan untuk
menjadi seorang pemimpin yang efektif, seseorang harus
menyesuaikan gaya dengan tuntutan dari situasi yang berbeda
(Northouse, 2013). Kepemimpinan situasional menekankan
bahwa kepemimpinan terdiri dari dimensi perintah dan
pemberian dukungan yang diterapkansecara tepat di situasi
tertentu (Northouse, 2013).
Hersey, Blanchard, dan Jhonson (2007) dalam Sullivan
(2008) memperluas model kontingensi oleh Fieldler yang
terdiri dari kesiapan dan kesediaan para anggota untuk
melakukan tugas yang diberikan. Dalam teori kepemimpinan
situasional, empat gaya kepemimpinan yang berbeda yang
diterapkan sesuai dengan kesiapan dan kemampuan anggota.
42
e. Macam-Macam Gaya Kepeminpinan Situasional
Northouse (2013) menyatakan gaya kepemimpinan
mengandung pola perilaku dari seseorang yang mencoba untuk
mempengaruhi orang lain. Hal ini mencakup perilaku perintah
(tugas) dan perilaku pemberi dukungan (hubungan). Perilaku
perintah membantu anggota kelompok mencapai tujuan dengan
memberi perintah, mencapai tujuan dan metode evaluasi,
menetapkan waktu, menetapkan peran dan menunjukkan cara
mencapai tujuan.
Perilaku perintah menjelaskan, seringkali dengan
komunikasi satu arah, apa yang perlu dilakukan, bagaimana hal
itu bisa dilaksanakan dan siapa yang bertanggung jawab
melakukan itu (Northouse, 2013). Perilaku pemberi dukungan
membantu anggota kelompok merasa nyaman tentang diri
mereka, rekan kerja serta situasi. Perilaku pendukung
melibatkan komunikasi dua arah dan merespons yang
menunjukkan dukungan sosial serta emosional kepada orang
lain (Northouse, 2013). Horsey dan Blanchard (1988) dalam
Northouse (2013) membagi gaya kepemimpinan menjadi empat
kategori yang berbeda dari perilaku perintah dan perilaku
pemberi dukungan.
43
Gaya pertama (S1) adalah gaya perintah tinggi-
pemberian dukungan rendah, yang juga disebut gaya
memerintah. Didalam pendekatan ini, pemimpin memfokuskan
komunikasi pada pencapaian tujuan, dan menghabiskan jumlah
waktu yang lebih sedikit dengan menggunakan perilaku
pemberian dukungan. Dengan menggunakan gaya ini,
pemimpin memberi instruksi tentang apa dan bagaimana tujuan
yang akan dicapai oleh pengikut., dan kemudian mengawasi
mereka dengan hati-hati (Horsey dan Blanchard, 1988 dalam
Northouse, 2013).
Gaya kedua (S2) disebut sebagai pendekatan pelatihan
dan gaya perintah tinggi dan pemberian dukungan tinggi. Di
dalam pendekatan ini, pemimpin memfokuskan komunikasi
pada pencapaian tujuan dan pemenuhan kebutuhan sosial-emosi
pengikut. Gaya pelatihan meminta pemimpin itu untuk
melibatkan dirinya dengan pengikut, dengan memberi dukungan
dan meminta masukan dari pengikut. Tetapi pelatihan adalah
perluasan dari S1 karena hal itu tetap menuntut pemimpin untuk
membuat keputusan akhir tentang apa dan bagaimana
pencapaian tujuan (Horsey dan Blanchard, 1988 dalam
Northouse, 2013).
44
Gaya 3 (S3) adalah pendekatan yang mendukung. S3
menuntut pemimpin untuk mengambil gaya pemberi dukungan
tinggi dan gaya perintah rendah. Di dalam pendekatan ini,
pemimpin tidak hanya berfokus pada tujuan, tetapi
menggunakan perilaku pemberi dukungan yang membuat
karyawan menunjukkan keterampilannya untuk melaksanakan
tugas yang ditetapkan. Gaya mendukung ini mencakup
mendengarkan, memuji, meminta masukan, dan memberi
umpan balik. Pemimpin menggunakan gaya ini dengan
memberi pengikut kontrol atas keputusan dari hari ke hari,
tetapi tetap bersedia untuk membantu pemecahan masalah.
Pemimpin S3 cepat untuk memberik pengakuan dan dukungan
sosial kepada pengikut (Horsey dan Blanchard, 1988 dalam
Northouse, 2013).
Gaya 4 (S4) disebut sebagai gaya perintah dan gaya
pemberi dukungan rendah, atau pendekatan mendelegasikan.
Dalam pendekatan ini, pemimpin menawarkan lebih sedikit
masukan tugas dan dukungan sosial, meningkatkan motivasi
dan keyakinan diri karyawan dalam kaitannya dengan tugas.
Pemimpin yang menggunakan pendekatan delegasi ini
mengurangi keterlibatan dirinya dalam perencanaan,
pengawasan hal-hal rinci dan klarifikasi tujuan. Setelah
45
kelompok sepakat dengan apa yang dilakukan, gaya ini
membiarkan pengikut untuk bertanggung jawab atas
penyelesaian pekerjaan dengan cara yang ,mereka anggap
sesuai. Seorang pemimpin yang menggunakan gaya S4
mengontrol pengikut dan menahan diri untuk tidak ikut campur
dengan memberi dukungan sosial yang tidak perlu (Horsey dan
Blanchard, 1988 dalam Northouse, 2013).
Gambar 2.1 Model Kepemimpinan Situasional II (Northouse,
2013)
Model SL II gambar 2.1 menggambarkan bagaimana
perilaku kepemimpinan perintah dan pemberi dukungan
mengkombinasikan empat gaya kepemimpinan yang berbeda
itu. Seperti yang ditunjukkan oleh panah di bagian bawah dan
sisi kiri model tersebut, perilaku perintah tinggi di kuadran S1
dan S2 serta rendah di kuadran S3dan S4, sementara perilaku
46
pemberi dukungan tinggi di S2 dan S3 serta rendah di S1 dan
S4 (Northouse, 2013).
Pemimpin menggunakan gaya telling (S1) (tugas-tinggi,
hubungan rendah) dengan pengikut yang tidak mampu dan tidak
mau untuk melakukan tugas (M1). Pemimpin menggunakan
gaya selling (S2) (tugas S2-tinggi, hubungan tinggi) dengan
pengikut yang tidak mampu tetapi bersedia atau percaya diri
dalam melaksanakan tugas (M2). Pemimpin menggunakan gaya
partisipating (S3) (tugas rendah, hubungan tinggi) dengan
pengikut yang mampu tapi tidak bersedia atau kurang percaya
diri dalam melaksanakan tugas (M3). Akhirnya, para pemimpin
menggunakan gaya delegating (S4) (tugas rendah, hubungan
rendah) dengan pengikut yang mampu dan bersedia dan
memiliki kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas (M4)
(Sullivan, 2008)
f. Ciri-Ciri Gaya Kepemimpinan Situasional
Ciri- cirri gaya kepemimpinan menurut Hersey dan
Blanchard (1997) dalam Nursalam (2012) yaitu :
Tabel 2.2 Gaya Kepemimpinan Situasional (Nursalam,
2012)
No Gaya Kepemimpinan Ciri-Ciri
1 Interuksi Tinggi tugas dan rendah
hubungan
47
Komunikasi searah
Pengambilan keputusan
berada pada pimpinan dan
peran bawahan sangat
minimal.
Pemimpin banyak
memberikan pengarahan atau
intruksi yang spesifik serta
mengawasi dengan ketat.
2 Konsultasi Tinggi tugas dan tinggi
hubungan
Komunikasi dua arah
Peran pemimpin dalam
pemecahan masalah dan
pengambilan keputuasan
cukup besar, bawahan diberi
kesempatan untuk memberi
masukan dan menampung
keluhan.
3 Tinggi hubungan tapi rendah
Partisipasi tugas
Pemimpin dan bawahan
bersama-sama memberi
gagasan dalam pengambilan
keputusan
4 Rendah hubungan dan rendah
Delegasi tugas
Komunikasi dua arah, terjadi
diskusi dan pendelegasian
antara pemimpin dan
bawahan dalam pengambilan
keputusan pemecahan
masalah.
g. Tingkat kesiapan atau kematangan para pengikut.
Thoha (2010) menyebutkan kematangan dalam
kepemimpinan situasional dapat dirumuskan sebagai suatu
kemampuan dan kemauan dari orang-orang untuk bertanggung
48
jawab dalam mengarahkan perilakunya sendiri. Kemampuan
yang merupakan salah satu unsur dalam kematangan, berkaitan
dengan pengetahuan atau keterampilan yang dapat diperoleh
dari pendidikan, latihan dan atau pengalaman. Adapun unsur
yang lain dari kematangan bertalian dengan keyakinan diri dan
motivasi seseorang.
Ada empat tingkat kematangan menurut Hersey dan Blanchard
(dalam Thoha, 2010:71), yang dapat dilihat pada tabel 2.3
berikut ini :
Tabel 2.3 Empat Tingkat Kematangan Pengikut (Thoha,
2010)
Mau dan Mampu tetapi Tidak Tidak Mampu
mampu tidak mau atau mampu dan tidak mau
kurang yakin tetapi mau atau tidak yakin
M4 M3 M2 M1
Tabel 2.3 menggambarkan hubungan antara tingkat
kematangan para pengikut atau bawahan dengan gaya
kepemimpinan yang sesuai untuk diterapkan ketika para
pengikut bergerak dari kematangan yang sedang ke kematangan
yang telah berkembang (dari M1 sampai dengan M4).
Ada empat dasar perilaku pemimpin dalam pengambilan
keputusan pada berbagai situasi tersebut menurut Hersey dan
Blanchard (dalam Thoha, 2010:67), yaitu: intruksi, konsultasi,
49
partisipasi dan delegasi. Instruksi, yaitu gaya ini dicirikan
dengan komunikasi satu arah. Pemimpin memberikan batasan
peranan pengikutnya dan memberitahu mereka tentang apa,
bagaimana, bilamana dan di mana melaksanakan berbagai
tugas. Inisiatif pemecahan masalah dan pembuatan keputusan
semata-mata dilakukan oleh pemimpin. Pemecahan masalah dan
keputusan diumumkan, dan pelaksanaannya diawasi secara
ketat oleh pemimpin (Thoha, 2010).
Konsultasi yaitu pada gaya ini pemimpin masih banyak
memberikan pengarahan dan masih membuat hampir sama
dengan keputusan, tetapi hal ini diikuti dengan meningkatkan
banyaknya komunikasi dua arah dan perilaku mendukung,
dengan berusaha mendengar perasaan pengikut tentang
keputusan yang dibuat serta ide-ide dan saran-saran mereka.
Meskipun dukungan ditingkatkan, pengendalian atas
pengambilan keputusan tetap pada pemimpin (Thoha, 2010).
Partisipasi, dengan gaya ini pemimpin dan pengikut
saling tukar menukar ide dalam pemecahan masalah dan
pembuatan keputusan. Komunikasi dua arah ditingkatkan, dan
peranan pemimpin adalah aktif mendengar. Tanggung jawab
pemecahan masalah dan pembuatan keputusan sebagian besar
berada ada pihak pengikut. Hal ini sudah sewajarnya karena
50
pengikut mempunyai kemampuan melaksanakan tugas (Thoha,
2010).
Delegasi yaitu pada gaya ini bawahan yang memiliki
kontrol untuk memutuskan tentang bagaimana cara pelaksanaan
tugas. Pemimpin memberikan kesempatan yang luas bagi
bawahan untuk melaksanakan pertunjukan mereka sendiri
karena mereka memiliki kemampuan dan keyakinan untuk
memikul tanggung jawab dalam pengarahan perilaku mereka
sendiri (Thoha, 2010).
h. Kelebihan Kepemimpinan Situasional
Northouse (2013) menyebutkan pendekatan situasional
untuk kepemimpinan memiliki sejumlah kekuatan, terutama
bagi praktisi. Kekuatan pertama adalah hal itu mampu bertahan.
Yang kedua kepemimpinan situasional bersifat pragmatis,
mudah dipahami, dapat digunakan secara naluriah dan mudah
diterapkan dalam beragam latar. Sejumlah pendekatan
kepemimpinan lain memberi cara yang kompleks dan rumit
untuk menilai perilaku kepemimpinan.
Kepemimpinan situasional memberi pendekatan terbuka
yang mudah digunakan karena digambarkan ditingkat abstrak
yang mudah dipahami, ide di balik pendekatan itu mudah
didapatkan. Selain itu prinsip yang dinyatakan oleh
51
kepemimpinan situasional mudah diterapkan di beragam latar,
termasuk pekerjaan, sekolah dan keluarga (Northhouse, 2013).
Northouse (2013) menyatakan kepemimpinan
situasional adalah nilai yang bersifat pasti dan menekankan
fleksibilitas pemimpin (Graef, 1983; Yukl, 1989).
Kepemimpinan situasional menekankan bahwa pemimpin itu
mencari tahu tentang kebutuhan pengikut mereka dan kemudian
mengadaptasi gaya kepemimpinannya. Pemimpin tidak bisa
memimpin dengan menggunakan suatu gaya tunggal namun
bersedia untuk mengubah gaya mereka guna memenuhi tuntutan
situasi.
Kepemimpinan situasional mengingatkan untuk
memperlakukan setiap pengikut secara berbeda, berdasarkan
tugas yang sedang dikerjakan dan mencari peluang untuk
membantu pengikut belajar ketrampilan baru dan menjadi lebih
percaya diri dalam melakukan pekerjaan mereka (Fernandez &
Vecchio, 1997;Yukl, 1998) dalam Northouse (2013).
3. Konsep Preceptorship
a. Pengertian Preceptorship
Preceptorship adalah suatu hubungan antara mahasiswa
(preceptee) dan pembimbing (preceptor) yang memberikan
perhatian secara privasi pada seorang preceptee untuk
52
memberikan pembelajaran. Preceptor memberikan feedback
tentang penampilan atau kinerja, mengkualifikasi praktisi baru
yang berpengalaman independen untuk membuat keputusan,
menetapkan prioritas, manajemen waktu dan perawatan pasien
(O’toole,2003 dalam Phillips et al, 2013).
Preceptorship adalah program yang didirikan bagi
preceptor untuk membimbing mahasiswa secara efektif, sikap
positif selama preceptorship dan pembelajaran seumur hidup
serta membantu mahasiswa mengaplikasiakan teori ke praktik
sehingga institusi pendidikan mempersiapkan pendidik untuk
mampu memenuhi kebutuhan pembelajaran tersebut (Canadian
Association of Schools of Nursing, 2010 dalam Rodrigues &
Witt, 2013).
Preceptorship merupakan pendidikan berorientasi modul
yang digunakan untuk proses belajar dan mengajar di
lingkungan klinis dengan staf klinik yang berfungsi sebagai role
model(Tan et al, 2011 dalam Harrison-White, 2013).
Preceptorship adalah model pembelajaran klinik yang
berhubungan dengan pendidikan yang memberi akses preceptee
ke seseorang yang ahli dan role model dalam batas waktu
tertentu (Moore, 2008 dalam Al-Hussami & Darawad, 2011).
53
Preceptorship adalah model pembelajaran untuk
mahasiswa keperawatan dengan praktiksi yang berpengalaman
untuk membantu mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran
tertentu dalam pengaturan klinik. Preceptorship terdiri dari
preceptor, preceptee dan fakultas. Anggota unit staf juga
memberikan kontribusi untuk keefektifan dari preceptorship
(Myrick F, 2005 dalam Asirifi et al, 2013).
b. Fase Preceptorship
1) Membangun Hubungan
Membangun kepercayaan merupakan salah satu dari
beberapa tahap yang krusial pada hubungan preceptor-
preceptee dan menjembatani pondasi dimana pengalaman
belajar akan berkembang. Mahasiswa seringkali mengalami
kekhawatiran pada situasi belajar yang baru dan bisa
mendapatkan keuntungan dari sistem yang tersedia dengan
kehadiran preceptor pada pertemuan yang sudah terjadwal
dengan baik. Kehadiran preceptor pada awal penempatan
mahasiswa sangat krusial dalam merencanakan pengalaman
yang akan didapat mahasiswa (California State University
Northridge, 2012 dalam Nursalam, 2015).
54
2) Fase Kerja
Implementasi dari rencana edukasi adalah fokus
utama dari fase kerja. Meninjau pengalaman mahasiswa,
diskusi tentang pasien, mengeskplorasi perasaan
berdasarkan pengalaman dan mengidentifikasi tujuan
belajar saat pertemuan preceptor-preceptee merupakan area
yang dapat didiskusikan (California State University
Northridge, 2012 dalam Nursalam, 2015).
Evaluasi merupakan proses berkelanjutan yang dapat
mengkaji bagaimana peserta didik mencapai tujuannya.
Setidaknya umpan balik secara verbal per hari sangat
membantu. Dengan melihat catatan harian mahasiswa dan
check list kompetensi, preceptor dapat melihat progress
mahasisswa. Evaluasi secara tertulis dilakukan pada
minggu terkahir praktik klinik dengan menggunakan format
evaluasi yang sudah tersedia (California State University
Northridge, 2012 dalam Nursalam 2015).
c. Definisi Preceptor
Preseptor adalah ners yang mendedikasikan dirinya
menjadi role model dan menjadi pembimbing mahasiswa
profesi ners pada lingkup klinis(McMAster Mohawk
Conestoga, 2012 dalam Nursalam 2015). Preceptor adalah
55
seseorang yang yang memberikan bimbingan ke preceptee
yang telah mendapatkan pelatihan preceptorship di rumah
sakit dan memiliki pengalaman klinik selain dari sertifikasi
kompetensi perawat (Henderson et al, 2006 dalam Kellyet al,
2013). Preceptor adalah fasilitator yang membantu mahasiswa
berubah menjadi professional mengingat bahwa layanan
kesehatan professional akan menerima lulusan profesional
pada tempat kerja (Myrick & Yonge, 2004 dalam Rodrigues &
Witt, 2013).
Preseptor dapat merupakan seorang dosen yang
ditempatkan di tatanan klinik atau perawat senior yang bekerja
di tatanan layanan dan ditetapkan sebagai preseptor. Preceptor
harus seorang ahli atau berpengalaman dalam memberikan
pelatihan dan pengalaman praktik kepada peserta didik;
biasanya seorang perawat praktisi yang bekerja dan
berpengalaman di suatu area keperawatan tertentu, yang
mampu mengajarkan, memberikan konseling, menginspirasi,
serta bersikap dan bertindak sebagai “model peran” untuk
mendukung pertumbuhan dan perkembangan individu pemula
dalam periode tertentu dengan tujuan tertentu
mensosialisasikan pemula kedalam peran baru sebagai
profesional” (AIPNI, 2015).
56
d. Kriteria Preceptor
Dalam buku AIPNI(2015) disebutkan kriteria preceptor
yaitu:
1) Preceptor atau mentor pada pendidikan ners ini
seharusnya berpendidikan lebih tinggi dari peserta didik
(PP no. 19/2005, pasal 36 ayat 1), minimal merupakan
seorang ners tercatat (STR) / memiliki lisensi (SIP/SIK)
yang berpengalaman klinik minimal 5 tahun.
2) Memiliki sertifikat kompetensisesuai keahlian di
bidangnya (PP no 19/2005 tentang standar nasional
pendidikan, pasal 31 ayat 3 dan pasal 36 ayat 1)
3) Telah berpengalaman minimal 2 tahun berturut-turut
ditempatnya bekerja dimana yang bersangkutan ditunjuk
sebagai preseptor / mentor sehingga dapat membimbing
peserta didik dengan baik.
4) Merupakan model peran ners yang baik dan layak
dicontoh karena sikap, perilaku, kemampuan
profesionalnya diatas rata-rata.
5) Telah mengikuti pelatihan pendidik klinik yang
memahami tentang kebutuhan.
6) Peserta didik akan dukungan, upaya pencapaian tujuan,
perencanaan kegiatan dan cara mengevaluasinya.
57
e. Kompetensi Preceptor
Seorang preceptor harus memiliki kompetensi yang sesuai
agar perannya sebagai seorang preceptor akan lebih diakui dan
akan mendukung profesionalitas kerja yang dilakukannya.
AIPNI (2015) merumuskan kemampuan preceptor meliputi
sebagai berikut :
1) Berkomunikasi secara baik dan benar
2) Model peran professional
3) Berkeinginan memberikan waktu yang cukup untuk peserta
didik.
4) Pendengar yang baik dan mampu menyelesaikan masalah
5) Tanggap terhadap kebutuhan dan ketidak-berpengalaman
peserta didik
6) Cukup mengenali dan terbiasa dengan teori dan praktik
terkini. Kompeten dan percaya diri dalam peran sebagai
preseptor
f. Tanggung jawab preceptor
Peran preceptor adalah sebagai role model di area
klinik, pendidik, advokat dan konsultan (McMAster Mohawk
Conestoga, 2012 dalam Nursalam, 2015).
Tanggung jawab preceptor:
1) Menentukan tujuan dengan mahasiswa.
58
2) Meninjau dan memperbaiki kontrak belajar preceptee.
3) Membantu preceptee dalam proses orientasi, menyusun
jadwal dan memberikan kesempatan untuk melengkapi
tujuan klinis dan memberikan kesempatan mahasiswa
untuk dapat terintegrasi dalam seting klinis.
4) Bertemu dengan mahasiswa tiap minggu untuk
mengklarifikasi pertanyaan, tujuan, ekspektasi dan
progesnya dan berpartisipasi dalam mengidentifikasi
kebutuhan belajar dan berkoordinasi untuk pencapaian
pengalaman klinik.
5) Melakukan perawatan pasien yang berdasarkan standar
evidence based nursing practice.
6) Memenuhi tugas keperawatan berdasarkan peraturan
rumah sakit dan unit terkait.
7) Mengawasi progres tiap mahasiswa dalam pertemuan
klinik dann memfasilitasi mahasiswa dalam memasuki
peran barunya dengan staf unit terkait.
8) Menjembatani mahasiswa dengan memberikan umpan
balik pada setiap progres mahasiswa, berdasarkan
obsevasi performa klinis, pengkajian terhadap pencapaian
kompetensi klinis dan dokumentasi perawatan pasien.
59
9) Melengkapi dokumentasi progres mahasiswa secara
tertulis.
10) Berpartisipasi dalam evaluasi berkelanjutan pada program
preceptorship.
Cerinus dan Ferguson (1994) dalam Nursalam (2012)
bahwa tanggung jawab dari seorang preceptor diantaranya
adalah sebagai berikut :
1) Preceptor bertanggung jawab terhadap pengkajian yang
dilakukan oleh preceptee.
2) Merencanakan model preceptorship untuk mendesain
sesuai kebutuhan preceptee.
3) Melakukan peran pengajaran dan sebagai role model
4) Melakukan evaluasi pada preceptee selama penerapan
model preceptorship.
Nursalam (2012) menyebutkan secara umum tanggung
jawab seorang preceptor dapat dibagi menjadi dua golongan
sebagai berikut.
1) Tanggung jawab dasar yaitu komitmen dalam peran sebagai
preceptor, memiliki keinginan untuk
mengajar/membimbing dan berbagi keahlian dengan mitra.
2) Tanggung jawab prosedural yaitu mengorientasikan dan
mensosialisasikan preceptee pada masing-masing unit,
60
menilai perkembangan dari tujuan yang akan dicapai
preceptee, merencanakan kolaborasi dan implementasi
program pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan
preceptee, melakukan tindakan sebagai role model,
mengevaluasi dan mengobservasi dan mengevaluasi
perkembangan preceptee, serta memfasilitasi
pengembangan dari apa yang harus dikuasai preceptee
melalui model preceptorship.
g. Tugas Pokok Preceptor
AIPNI (2015) menuliskan tugas pokok preceptor adalah
sebagai berikut :
1) Preseptor mengidentifikasi kebutuhan belajar klinik peserta
didik melalui silabus / Course Study Guide / modul praktik
dari institusi pendidikan.
2) Cukup berpengalaman dan kompeten untuk membantu
peserta didik menerapkan pengetahuan teoritis kedalam
praktik.
3) Memperlihatkan komitmen tinggi untuk membimbing
peserta didik selama proses belajar klinik berlangsung.
4) Membantu menyelesaikan masalah yang bersifat transisi
peran dari peserta didik menjadi ners kompeten yang
dihadapi oleh peserta didik.
61
5) Bersama peserta didik memformulasikan tujuan belajar
untuk menjembatani masalah transisional tersebut diatas.
6) Menyelesaikan masalah, membantu membuat keputusan
dan menumbuhkan akuntabilitas peserta didik selama
proses belajar
7) Memfasilitasi sosialisasi profesional peserta didik kedalam
peran profesi ners peserta didik.
8) Memberikan umpan balik secara terus menerus dan
periodik pada peserta didik terkait kemajuan atau
kelemahan peserta didik selama belajar di klinik.
9) Berperan sebagai narasumber dalam memberikan dukungan
personal dan profesional kepada peserta didik.
10) Membantu peserta didik dalam mengkaji, memvalidasi,
serta mencatat pencapaian kompetensi klinik peserta didik.
h. Peran dan Tanggung Jawab Preceptee
Nursalam (2015) menyebutkan peran preceptee
merupakan mahasiswa profesi ners dari institusi keperawatan
yang telah menyelesaikan program akademik sarjana
keperawatan. Tanggung jawab preceptee antara lain :
62
1) Menjaga sikap professional dan mengenakan seragam dinas
sesuai dengan institusi masing-masing, termasuk
mengenakan nametag.
2) Berpartisipasi dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar dan
merencanakan serta mengimplementasikannya pada
pengalaman belajar.
3) Berpartisipasi aktif dalam mencari pengalaman belajar dan
mempersiapkan diri dalam menyelesaikan tujuan belajar.
4) Menyelesaikan tugas dan semua jam praktik klinik dalam
waktu yang ditentukan.
5) Melayani pasien sebagai advocator dan menjaga
confidentiality.
6) Melengkapi evaluasi preceptor dan menyerahkannya
sebelum menyelesaikan praktik klinik.
i. Metode Pembelajaran
Beberapa metode pembelajaran yang dijabarkan di buku
AIPNI (2015) pembelajaran peserta didik diinisiasi dan fasilitasi
oleh preceptor di setiap stase, meliputi :
1) Pre dan post conference.
2) Tutorial individual yang diberikan preceptor
3) Diskusi kasus.
63
4) Seminar kecil tentang kasus atau IPTEK
kesehatan/keperawatan terkini.
5) Pendelegasian kewenangan bertahap
6) Problem Solving for Better Health (PSBH)
7) Belajar berinovasi dalam pengelolaan asuhan.
8) Laporan kasus dan overan dinas.
9) Pemilihan metoda disesuaikan dengan tujuan pencapaian
kompetensi dan lama waktu program preseptoring sudah
berlangsung.
j. Pelaksanaan Kegiatan Program Preceptorship
AIPNI (2015) menyebutkan pelaksanaan kegiatan program
preceptorship yaitu ada persiapan, pelaksanaan dan pelimbahan
kewenangan.
1) Persiapan sebelum melakukan program preceptor
Setiap peserta didik yang ditempatkan di rumah sakit
tertentu sebagai wahana praktik harus menjalani beberapa
hal yang merupakan kegiatan wajib yaitu:
a) Melakukan kegiatan orientasi rumah sakit dan ruang
rawat dan menerima buku pedoman preceptorship dan
program kegiatannya. Memberikan waktu pada peserta
64
didik untuk mendalami ruang rawat dan kliennya pada
saat orientasi.
b) Menjalani latihan yang diadakan oleh institusi
pendidikan bekerjasama dengan rumah sakit selama 2
hari. Pelatihan informal ini meliputi diseminasi
informasi terkait berbagai hal, seperti berikut:
kebijakan yang berlaku di rumah sakit dan ruang rawat
dimana peserta didik ditempatkan, sifat layanan yang
diberikan, jenis dan kriteria pasien yang dirawat,
aturan dan ketentuan apabila menghadapi situasi tidak
diharapkan seperti klien jatuh, salah memberikan obat,
kebakaran, kedudukan dan posisi preceptor dan peserta
didik.
c) Melakukan pertemuan formal dengan preceptor dan
manajer ruang rawat untuk mendiskusikan peran
preceptor dan harapan peserta didik; berbagi informasi
tentang tujuan dan luaran proses belajar peserta didik
berdasarkan pengalaman lalu, kualifikasi preseptor dan
kemampuan belajar peserta didik; menetapkan jumlah
jam tatap muka untuk berdiskusi antara preceptor dan
peserta didik; menetapkan kesepakatan periode dan
65
tanggal evaluasi / review peserta didik dan
menyepakati kontrak belajar.
2) Pelaksanaan kegiatan program preceptorship
Sebelum peserta didik memulai kegiatan praktiknya,
manajer ruangan memberikan kepada setiap preceptor
beberapa kasus klien dengan berbagai tingkat
ketergantungan dan tingkat kebutuhan dasar yang berbeda.
Lazimnya, setiap preseptor memiliki 4 sampai dengan 6
klien yang menjadi tanggung jawabnya yang akan
digunakan untuk 2 sampai 3 orang peserta didik.
Setiap preceptor memiliki 2 sampai dengan 3 orang
peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya. Preceptor
harus memahami karakteristik setiap peserta didik agar
ketika melimpahkan sebagian kewenangan yang
dimilikinya tidak menyama-ratakan tingkat kemampuan
menjalankan kompetensi dari masing-masing peserta didik,
walaupun ia harus memiliki asumsi bahwa setiap peserta
didik telah memiliki kompetensi yang diperlukan untuk
menjadi seorang ners dan telah lulus uji masuk klinik.
Preceptee mengikuti preceptor dalam mengkaji
klien, menghadiri pertemuan tim asuhan,
mendokumentasikan, mengoperasionalkan komputer,
66
mengantarkan klien keluar ruang rawat. Memperkenalkan
secara extensive pada komunitas klien yang berada di
ruangan dimana peserta didik ditempatkan. Secara teratur
menghadiri pertemuan dengan perawat ruangan ketika
diadakan diskusi kasus. Mendengarkan ners spesialis atau
konsultan ketika memberikan ceramah atau pencerahan
bagi perawat.
3) Pelimpahan kewenangan dilakukan bertahap
Pemberian tugas prosedural, untuk meyakini bahwa
peserta didik telah memiliki kemampuan melaksanakan
prosedur sesuai dengan tingkat kemahiran ketrampilan yang
diharapkan. Pelimpahan kewenangan prosedural dapat
diberikan selama minggu pertama dan maksimal sampai
minggu kedua.
Pemberian klien secara utuh untuk diberikan asuhan
oleh peserta didik dimulai dengan klien yang memiliki
tingkat ketergantungan yang paling rendah (misal: mandiri).
Pelimpahan kewenangan memberikan asuhan dengan
tingkat ketergantungan yang paling rendah ini dapat
diberikan selama minggu kedua atau maksimal minggu
ketiga. Kemudian secara bertahap diberikan klien dengan
tingkat ketergantungan lebih tinggi.
67
Setiap setelah melakukan tindakan prosedural atau
asuhan, peserta didik diminta untuk selalu melaporkan
secara lisan tentang cara melakukan, respon klien, dan hasil
tindakan untuk kemudian dievaluasi oleh preceptor.
Pelimpahan kewenangan melaporkan lisan ditumbuh
kembangkan dari awal sejak peserta didik menjalani
program internship. Kewenangan melaporkan lisan
kemudian secara bertahap dilanjutkan dengan melaporkan
tertulis dalam bentuk menulis laporan di kartu pasien /
kardex dan selalu ditanda tangani oleh preceptor
berdampingan dengan tanda tangan peserta didik.
Setiap peserta didik tidak selalu harus memiliki
klien dengan jenis ketergantungan yang sama. Preceptor
harus memahami dan meyakini kemampuan peserta didik
dalam menerima kewenangan. Apabila peserta didik dinilai
belum mampu menerima pendelegasian kewenangan pada
tingkat yang lebih sulit, maka peserta didik tidak
diperkenankan menerima pendelegasian berikutnya sampai
peserta didik dianggap sudah mampu untuk menerima
kewenangan pada tingkat berikutnya.
Peserta didik mengikuti jadwal dinas dari
preseptornya masing-masing sehingga setiap peserta didik
68
mengetahui kemana harus pergi jika mau bertanya,
melaporkan, meminta saran, dan mendiskusikan hal-hal
tentang kliennya. Peserta didik difasilitasi untuk melakukan
presentasi, diskusi kasus, seminar kecil diruangan masing-
masing sesuai dengan kompetensi dan kewenangan yang
harus diperolehnya melalui klien masing-masing.
k. Hal yang harus diperhatikan pada program preceptorship
Setiap preceptor memiliki catatan riwayat proses
pembelajaran peserta didik, format penilaian proses belajar, dan
critical incidence report book untuk mencatat setiap kejadian
yang dianggap luar biasa baik atau jelek, kesalahan yang dibuat
peserta didik atau kelemahan peserta didik yang mengakibatkan
kecelakaan pada diri sendiri, klien, atau orang lain.
Selama preceptor melimpahkan sebagian kewenangan
tentang asuhan klien kepada peserta didik, maka tanggung
jawab dan tanggung gugat tentang klien tetap berada pada
preceptor. Namun, apabila peserta didik sudah memperoleh
kewenangan secara utuh dan menyeluruh terkait klien yang
telah didelegasikan, maka tanggung jawab dan tanggung gugat
secara internal ruangan telah dimiliki oleh peserta didik.
Pencapaian kompetensi berkomunikasi berbahasa
Inggris dilakukan dengan memfasilitasi peserta didik untuk
69
melakukan komunikasi berbahasa Inggris baik ketika presentasi,
diskusi kasus atau seminar kecil.
Preceptor melakukan penilaian kegiatan peserta didik
setiap pertengahan proses belajar dan di akhir proses belajar di
suatu ruang rawat. Sebelum berpindah ruang rawat / blok /
stase, maka dilakukan penilaian / umpan balik tentang peran
preceptor oleh peserta didik.
l. Evaluasi Kompetensi
AIPNI (2015) menyebutkan setiap kompetensi dievaluasi
melalui beberapa cara yaitu:
1) Log book
2) Laporan pada preceptor / mentor
3) Proses pelaporan pada dinas berikut
4) Format evaluasi resmi dari pendidikan (direct observational
procedure skills test; case test/ uji kasus)
5) Student Oral Case Analyses (SOCA)
6) Critical incidence report.
Dalam proses belajar, fokus penekanan penguasaan
kompetensi ini adalah melalui pendelegasian kewenangan.
Disamping itu, ada beberapa kompetensi tambahan yang harus
juga dipertimbangkan untuk dimiliki oleh peserta didik karena
yang bersangkutan akan menjadi praktisi. Kompetensi itu
70
adalah berkomunikasi, kemampuan mengembangkan diri dan
orang lain (klien), kemampuan mempertahankan lingkungan
bekerja yang sehat, aman dan keselamatan, meningkatkan
layanan, kemampuan melakukan secara berkualitas, ekualitas
dan perbedaan (AIPNI, 2015)
Evaluasi kompetensi untuk menetapkan kelulusan dari
Program Studi dilakukan dalam bentuk uji kompetensi sebelum
yudisium. Ketika peserta didik program profesi dinyatakan lulus
maka diberi sebutan Ners dan kemudian memiliki hak untuk
mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR). Namun, jika
ternyata peserta didik tidak lulus, maka seyogya yang
bersangkutan diberi kesempatan untuk mendapatkan remedial
dan diuji kembali setelah program remedial selesai (AIPNI,
2015)
4. Konsep Bermain Peran (Role Play)
a. Definisi
Bermain peran sebagai suatu model pembelajaran
bertujuan untuk membantu peserta didik menemukan makna
diri (jati diri) di dunia sosial dan memecahkan dilema dengan
bantuan kelompok. Artinya melalui bermain peran peserta didik
belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-
71
peran yang berbeda dan memikirkan perilaku darinya dan
perilaku orang lain (Nurdin & Adriantoni, 2016).
b. Manfaat proses bermain peran (Role Play)
Nurdin & Adriantoni (2016) menyatakan proses bermain
peran ini dapat memberikan contoh kehidupan perilaku manusia
yang berguna sebagai sarana bagi peserta didik untuk :
1) Menggali perasaannya
2) Memperoleh inspirasi dan pemahaman ang berpengaruh
terhadap sikap, nilai dan persepsinya
3) Mengembangkan keterampilan dan sikap dalam
memecahkan masalah
4) Mendalami mata pelajaran dengan berbagai macam cara.
c. Asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran
Mulyasa mengatakan Nurdin & Adriantoni dalam
(2016) terdapat empat asusmsi yang mendasari pembelajaran
bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai-nilai
sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model-model
mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut :
1) Secara implisit bermain peran mendukung suatu situasi
belajar berdasarkam pengalaman dengan menitikberatkan isi
pelajaran pada situasi “disini pada saat ini”. Model ini
percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan
72
untuk menciptakan analogi mengenai situasi kehidupan.
Terhadap analogi yang diwujudkan dalam bermain peran,
para peserta didik dapat menampilkan respons emosional
sambil belajar dari respons orang lain.
2) Bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk
mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa
bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk
mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari
psikodarma (jenis bermain peran yang lebih menekankan
pada penyembuhan).
3) Model bermain peran berasusmi bahwa emosi dan ide-ide
dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan
melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari
orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat
terhadap masalah yang sedang diperankan.
4) Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis
yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan sistem
keyakinan dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi
pemeran secara spontan. Dengan demikian para peserta didik
dapat menguji sikap dan nilainya yang sesuai dengan orang
lain, apakah sikap dan nilai yang dimilikinya perlu
73
dipertahankan atau diubah. Tanpa bantuan orang lain, peserta
didik sulit untuk menilai sikap dan nilai yang dimilikinya.
Nurdin & Adriantoni (2016) mengatakan tiga hal yang
menentukan kualitas dan keefektifan bermain peran sebagai
model pemebelajaran yaitu
1) Kualitas pemeranan
2) Analisis dalam diskusi
3) Pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan
dibandinfkan dengan situasi kehidupan nayata.
d. Tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedomandalam
pembelajaran:
1) Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik
2) Memilih partisipan
3) Menyusun tahap-tahap peran
4) Menyiapkan pengamat
5) Pemeranan
6) Diskusi dan evaluasi
7) Pemeranan ulang
8) Diskusi dan evaluasi tahap dua
9) Membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan
74
e. TujuanBermain Peran (Role Play)
Zuhaerini dalam Nurdin & Adriantoni (2016) model ini
digunakan apabila pelajaran dimaksudkan untuk :
1) Menerangkan suatu peristiwa yang didalamnya menyangkut
orang banyak dan berdasarkan pertimbangan didaktik lebih
baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena akan
lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak.
2) Melatih anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan
masalah-masalah sosial-psikologis.
3) Melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi
kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang ain beserta
masalahnya. Sementara itu, Davies (dalam Sadali)
mengemukaakan bahwa penggunaan role playing dapat
membantu mahasiswa dalam mencapai tujuan-tujuan afektif.
Inti dari permainan peran adalah keterlibatan peserta dan
pengamat dalam situasi masalah nyata dan keinginan untuk
resolusi dan pemahaman bahwa keterlibatan ini melahirkan
pemaknaan diri (jati diri). Proses bermain peran memberikan
contoh hidup dari perilaku manusia yang berfungsi sebagai
wahana bagi siswa untuk mengeksplorasi perasaan mereka
;mendapatkan informasi tentang sikap mereka, nilai-nilai dan
persepsi ; mengembangkan pemecahan masalah mereka
75
ketrampilan dan sikap serta engeksplorasi meteri pelajaran
dengan cara yang bervariasi.
Tujuan ini mencerminkan beberapa asumsi tentang proses
pembelajaran dalam bermain peran. Pertama, bermain peran
implisit menganjurkan situasi pembelajaran berbasis
pengalaman dimana “disini dan sekarang” menjadi isi dari
intruksi.
f. Alur Bermain Peran (Role Play)
Djumingin (2011: 174) dalam Nurdin & Adriantoni (2016)
menyatakan bahwa sintak dari model pembelajaran ini adalah :
1) Pengajar menyuruh menyiapkan skenario yang akan
ditampilkan
2) Pengajar menunjuk beberapa mahasiswa untuk mempelajari
skenario yang sudah dipersiapkan dalam beberapa hari
sebelum kegiatab beljara mengajar
3) Pengajar membentuk kelompok mahasiswa yang
anggotanya lima orang
4) Pengajar memberikan penjelasan tentang kompetensi yang
ingin dicapai
5) Pengajar memanggil para mahasiswa yang sudah ditunjuk
untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan
76
6) Setiap mahasiswa berada dikelompoknya sambil mengamati
skenario yang sedang diperagakan
7) Setelah selesai ditampilkan, setiap mahasiswa diberikan
lembar kerja untuk membahas penampilan kelompok
masing-masing
8) Setiap kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
9) Pengajar memberikan kesimpulan secara umum
10) Evaluasi
11) Penutup
g. Langkah-langkah strategi bermain peran (role play) menurut
Nurdin & Adriantoni (2016) yaitu sebagai berikut :
1) Menentukan tujuan pembelajaran
2) Memilih konteks dan peran, serta menulis skenario
3) Latihan pendahuluan
4) Kegiatan pembelajaran/pelaksanaan peragaan
5) Mendiskusikan kesimpulan
6) Penilaian
h. Kelebihan dan Kekurangan Metode Pembelajaran Role Play
Nurdin, Syafrudiin & Adriantoni (2016) mengatakan
kelebihan pada metode pembelajaran role play yaitu
1) Menarik perhatian mahasiswa karena masalah-masalah
sosial berguna bagi mereka
77
2) Bagi mahasiswa berperan seperti orang lain, ia dapat
merasakan perasaan orang lain, mengakui pendapat orang
lain, saling pengertian, tenggang rasa, toleransi
3) Melatih mahasiswa untuk mendesain penemuan
4) Berpikir dan bertindak kreatif
5) Memecahkan masalah yang dihadapi secara relaistis karena
mahasiswa dapat menghayatinya
6) Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan
7) Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan
8) Merangsang perkembangan kemjuan berpikir mahasiswa
untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat
9) Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan
kehidupan khususnya dunia kerja
10) Mahasiswa lebih bebas mengambil keputusan dan
berekspresi secara utuh
11) Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan
mahasiswa. Disamping merupakan pengalaman yang
menyenangkan yang sulit untuk dilupakan
12) Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas
menjadi dinamis dan penuh antusias
78
13) Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri
mahasiswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan
kestiakawanan sosial yang tinggi
Nurdin & Adriantoni (2016). menyatakan metode
pembelajaan role play memiliki kekurangan yaitu :
1) Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan
metode ini. Misalkan keterbatasan alat-alat laboratorium
menyulitkan mahasiswa untuk melihat dan mengamati serta
akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut
2) Pengajar memahami betul langkah-langkah pelaksanaannya,
jika tidak dapat mengacaukan pembelajaran
3) Memerlukan alokasi waktu yang lebih lama
4) Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa
malu untuk memerlukan suatu adegan tertentu.
Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain peran
mengaami kegagalan , bukan saja dapat ,memberi kesan
kurang baik, tetapi seklaigus berarti tujuan pengajaran tidak
tercapai.
5. Konsep Pembelajaran Conference
a. Definisi
Conference adalah pembelajaran untuk menilai
kemampuan menyajikan gagasan secara lisan dari hasil penting
79
praktik klinis. Berbagi informasi tentang pasien, topik
terkemuka lain yang di diskusikan tentang praktek klinis,
menuangkan ide-ide dalam format kelompok dan memberikan
ceramah dan presentasi merupakan keterampilan mahasiswa
yang perlu dikembangkan dalam program keperawatan
(Oermann and Gaberson, 2014).
b. Kegunaan Metode Konferensi
Kegunaan Metode Konferensi adalah sebagai berikut menurut
Nursalam & Efendi (2009):
1) Dirancang melalui diskusi kelompok
2) Meningkatkan pembelajaran penyelesaian masalah dalam
kelompok melalui analisis kritikal, pemilihan alternatif
pemecahan masalah dan pendekatan kreatif
3) Memberikan kesempatan mengemukakan pendapat dalam
menyelesaikan masalah.
4) Menerima umpan balik dari kelompok atau pengajar
5) Memberi kesempatan terjadinya peer review, diskusi
kepedulian, isu dan penyelesaian masalah oleh disiplin ilmu
lain.
6) Berinteraksi dan menggunakan orang lain sebagai
narasumber
7) Meningkatkan kemampuan memformulasikan ide
80
8) Adanya kemampuan peserta didik untuk berkontribusi
9) Meningkatkan rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan
kelompok
10) Kemampuan menggali perasaan, sikap dan nilai-nilai
yang mempengaruhi praktik
11) Mengembangkan keterampilan berargumentasi
12) Mengembangkan ketrampilan kepemimpinan
c. Jenis Konferensi
Nursalam & Efendi (2009) mengatakan jenis-jenis konferensi :
1) Konferensi prakilinik (preconference) dan konferensi
pascaklinik (post conference)
2) Umpan balik dari kelompok (peer review)
3) Isu (issue)
4) Multidisiplin
d. Prosedur Konferensi
Prosedur konferensi menurut Nursalam & Efendi (2009) yaitu
1) Konferensi Praklinik
Kegiatan berdiskusi kelompok tentang praktik klinik
yang akan dilakukan ke esokan hari. Tujuan, cara
pencapaian tujuan dan rencana tindakan (mulai dari fokus
pengkajian sampai kepada rencana evaluasi) serta tambahan
di diskusiakn bersama.
81
2) Konferensi Pascaklinik.
Kegiatan berdiskusi kelompok untuk membahas hal
yang telah dilakukan pada praktik klinik/lapangan, tingkat
pencapaian tujuan praktik klinik hari tersebut, kendala yang
dihadapi dan cara mengatasinya, serta kejadian lain yang
tidak direncanakan termasuk kejadian kegawatan klien
yang harus dihadapi peserta didik.
e. Urutan Kegiatan Konfrensi
Urutan kegiatan konferensi menurut Nursalam & Efendy (2009)
adalah sebagai berikut :
1) Hari Pertama Konferensi Praklinik
a) Pembimbing klinik (PK) menjelaskan karakteristik
ruang rawat, staf dan tim pelayanan kesehatan lain
dimana para peserta didik akan ditempatkan, tujuan
keberadaan peserta didik ditempat praktik, perilaku
peserta didik yang diharapkan sesuai dengan objektif
dan falsafah praktik keperawatan klinik, serta waktu dan
tempat dimana peserta didik dapat menemui
pembimbing klinik apabila menemui kesulitan, baik
teknik maupun interpersonal.
b) Pembimbing klinik mengkaji kembali persiapan peserta
didik untuk menghadapi dan memberi asuhan
82
keperawatan kepada klien mulai dari aspek perencanaan
(fokus pengkajian)sampai ke rencana evaluasi.
c) Mengingatkan peserta didik untuk membawa
perlengkapan dasar.
2) Konferensi Pascaklinik
a) Konferensi ini dapat dilakukan pada hari yang sama atau
ketika akan melakukan konferensi praklinik hari ketiga.
b) Pembimbing klinik berdiskusi dengan peserta didik
untuk membahas klien, tempat praktik dan pengalaman
belajar yang dicapai pada hari pertama.
c) Prinsip diskusi : memberi kesempatan peseta didik untuk
mengutarakan pendapat, mengekspresikan perasaan,
mengklarifikasi rasional tindakan yang telah dilakukan
peseta didik, dan memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk mengemukakan usulan perbaikan yang
dapat diterapkan pada hari selanjutnya.
d) Diskusi ini sebaiknya di tempat khusus yang terpisah
dari klien.
3) Hari kedua dan selanjutnya konferensi praklinik
a) Pembimbing klinik membahas perkembangan klien dan
rencana tindakan untuk hari kedua ini, termasuk cara
83
penulisan catatan perkembangan klien (progress note),
yaitu SOAP.
b) Menyiapkan kasus baru untuk mengantisipasi
kmeungkinan adanya kondisi satu klien yang akan
diasuh oleh beberapa peserta didik.
c) Memotivasi peserta didik untuk melakukan prosedur
keperawatan yang belum diperoleh pada hari pertama.
d) Beberapa pertanyaan yang perlu ditanyakan pada
konferensi praklinik adalah : apakah diagnosis
keperawatan hari pertama masih berlaku; apakah
diagnosis/masalah keperawatan yang ditemukan
berdasarkan pengkajian akurat apa rencana dan tindakan
keperawatan yang akan dilakukan pada hari ini.
4) Konferensi Pascaklinik
a) Dilakukan segera setelah praktik dilaksanakan
b) Tujuan :untuk menilai kemampuan peserta didik dalam
mengevaluasi perkembangan klien, menilai kemampuan
peserta didik dalam menyiapkan praktik pada hari
tersebut, menilai perkembangan kemampuan menulis
diagnosis keperawatan pada hari tersebut.
c) Konferensi ini berguna untuk memperoleh kejelasan
tentang asuhan yang telah diberikan, membagi
84
pengalaman tentang peserta didik, dan mengenali
kualitas keterlibatan peserta didik dalam praktik.
Tidak jarang pada hari kedua pembimbing klinik
menemukan masalah individu peserta didik yang perlu
penanganan lebih lanjut secara individual pula. Contoh,
peserta mengalami kecemasan hebat dan tidak mampu
menggunakan koping secara efektif. Guna mengatasi hal
ini sebaiknya pembimbing klinik berada dengan peserta
didik tersebut dan mengklarifikasi hal-hal yang menjadi
penyebab kecemasannnya.
85
B. Kerangka Teori
Kompetensi Preceptorship meliputi: Situasi dan kematangan
Mahasiswa Preseptor pengikut/anggota:
Hard Skill Preseptee
Soft Skill Metode Pembelajaran • Perilaku perintah
Evaluasi Kompetensi (tugas)
• Perilaku pemberi
Metode
Metode dukungan (hubungan)
Pembelajaran
Preseptorship (Northouse, 2013)
Klinik
Faktor – faktor
yang mendukung Kemampuan Leadership
perkembangan Berpikir Kritis (Situasional)
berpikir kritis:
• Otonomi
• Pengembangan Directing Coaching Facilitating Observing
kepercayaan
melalui Kemampuan berpikir kritis:
dorongan • Menganalisis
• Menjembatani • Melakukan sintesis
kesenjangan • Memahami dan memecahkan
antara teori dan masalah
praktek • Menyimpulkan
• Ketersediaan • Mengevaluasi
Faiz, 2012
Keterangan :
: Diteliti
: Tidak Diteliti
Gambar 2.2 Kerangka Teori Perbedaan Tingkat Kemampuan
Berpikir kritis dan Kemampuan Leadership pada mahasiswa dengan
metode Preceptorship
86
C. Kerangka Konsep
Tingkat Kemampuan
Berpikir kritis
Metode Preceptorship
Kemampuan
Leadership
Variabel Perancu : Variabel Perancu :
- Peran & dukungan - Motivasi mahasiswa
pembimbing - Lingkungan belajar
- Pengalaman (Setting Klinik)
pembimbing - Variasi kasus pasien
- Fasilitas dan Media
Pembelajaran
Gambar 2.3 Kerangka Konsep Perbedaan Tingkat Kemampuan
Berfikir Kritis dan Kemampuan Leadership pada
mahasiswa dengan Metode Preceptorship
D. Hipotesis
Hipotesis yang ditetapkan pada penelitian ini adalah
1. Metode preceptorship mampu meningkatkan kemampuan
berpikir kritis
2. Ada perbedaan kemampuan leadership pada mahasiswa
dengan metode preceptorship.