0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan94 halaman

Panduan Klinis Gastroenteritis

Pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana lain yang perlu dilakukan adalah: - Pemeriksaan abdomen: cek apakah ada kembung atau nyeri tekan. - Pemeriksaan rektum: cek ada darah atau lendir pada BAB. - Pemeriksaan laboratorium: cek elektrolit (Na, K), gula darah, urea, kreatinin untuk mengetahui derajat dehidrasi dan gangguan elektrolit. Bila perlu cek pula hemoglobin

Diunggah oleh

intan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan94 halaman

Panduan Klinis Gastroenteritis

Pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana lain yang perlu dilakukan adalah: - Pemeriksaan abdomen: cek apakah ada kembung atau nyeri tekan. - Pemeriksaan rektum: cek ada darah atau lendir pada BAB. - Pemeriksaan laboratorium: cek elektrolit (Na, K), gula darah, urea, kreatinin untuk mengetahui derajat dehidrasi dan gangguan elektrolit. Bila perlu cek pula hemoglobin

Diunggah oleh

intan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PANDUAN PRAKTIS KLINIS BAGI DOKTER

KLINIK PRATAMA RAWAT JALAN


“UNEJ MEDICAL CENTER”
PUSAT LAYANAN KESEHATAN
UNIVERSITAS JEMBER

TAHUN 2023

1
DAFTAR ISI

PENGANTAR.....................................................................................................................................3
A. DIGESTIVE...........................................................................................................................3
1. Gastroenteritis (termasuk disentri, kolera dan giardiasis)..................................................4
2. Gastritis............................................................................................................................10
3. Demam Tifoid..................................................................................................................12
B. MATA..................................................................................................................................17
4. Konjungtivitis...................................................................................................................17
C. RESPIRASI..........................................................................................................................21
5. Faringitis..........................................................................................................................21
6. Rhinitis Akut.....................................................................................................................26
7. Rhinitis Alergik................................................................................................................30
8. Rhinitis Vasomotor..........................................................................................................35
9. Tonsilitis...........................................................................................................................38
10. Laringitis..........................................................................................................................44
11. Bronkitis Akut..................................................................................................................49
12. Influenza...........................................................................................................................53
13. Pneumonia Aspirasi.........................................................................................................56
14. Pneumonia dan Bronkopneumonia..................................................................................58
15. Pertusis.............................................................................................................................62
16. Asma Bronkial.................................................................................................................64
D. KULIT..................................................................................................................................69
17. Skabies.............................................................................................................................69
E. KARDIOVASKULAR.........................................................................................................72
18. Hipertensi Esensial...........................................................................................................72
F. METABOLIK ENDOKRIN DAN NUTRISI.......................................................................79
19. Diabetes Melitus...............................................................................................................79

2
PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas tersusunnya panduan
klinis dokter Klinik Unej Medical Center sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yang
memberikan pelayanan kepada Masyarakat.
Pedoman Layanan Klinis ini kami susun guna memberikan acuan bagi Dokter di Klinik Unej
Medical Center dalam memberikan pelayanan dengan menapis penyakit dalam tahap dini untuk dapat
melakukan penatalaksanaan secara cepat dan tepat sebagaimana mestinya layanan kesehatan tingkat
pertama.
Atas perhatian dan bantuan semua pihak yang turut membantu serta memberikan masukan-masukan
yang sangat berguna dalam penyusunan Panduan Praktik Klinis Dokter Klinik Unej Medical Center
kami ucapkan terima kasih.

Jember, November 2023

Tim Penyusun

3
DAFTAR PANDUAN PRAKTIK KLINIS BERDASARKAN
MASALAH DAN PENYAKIT

A. DIGESTIVE
1. Gastroenteritis (termasuk disentri, kolera dan giardiasis)

No. ICPC II: D73 Gastroenteritis presumed infection


No. ICD X: A09 Diarrhoea and gastroenteritis of presumed infection origin

Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan
Gastroenteritis (GE) adalah peradangan mukosa lambung dan usus halus yang ditandai
dengan diare, yaitu buang air besar lembek atau cair, dapat bercampur darah atau lender,
dengan frekuensi 3 kali atau lebih dalam waktu 24 jam, dan disertai dengan muntah, demam,
rasa tidak enak di perut dan menurunnya nafsu makan. Apabila diare > 30 hari disebut kronis.
Gastroenteritis lebih sering terjadi pada anak-anak karena daya tahan tubuh yang belum
optimal. Hal ini biasanya terjadi berhubungan dengan tingkat pendidikan dan pendapatan
yang rendah yang terkait dengan perilaku kesehatan yang kurang. Penyebab gastroenteritis
antara lain infeksi, malabsorbsi, keracunan atau alergi makanan dan psikologis penderita.
Infeksi yang menyebabkan GE akibat Entamoeba histolytica disebut disentri, bila disebabkan
oleh Giardia lamblia disebut giardiasis, sedangkan bila disebabkan oleh Vibrio cholera
disebut kolera.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang ke dokter karena buang air besar (BAB) lembek atau cair, dapat bercampur
darah atau lendir, dengan frekuensi 3 kali atau lebih dalam waktu 24 jam. Dapat disertai rasa
tidak nyaman di perut (nyeri atau kembung), mual dan muntah serta tenesmus.
Setiap kali diare, BAB dapat menghasilkan volume yang besar (asal dari usus kecil) atau
volume yang kecil (asal dari usus besar). Bila diare disertai demam maka diduga erat terjadi
infeksi.
1. Bila terjadinya diare didahului oleh makan atau minum dari sumber yang kurang
higienenya, GE dapat disebabkan oleh infeksi. Riwayat bepergian ke daerah dengan
wabah diare, riwayat intoleransi laktosa (terutama pada bayi), konsumsi makanan iritatif,
4
minum jamu, diet cola, atau makan obat-obatan seperti laksatif, magnesium
hidrochlorida, magnesium citrate, obat jantung quinidine, obat gout (colchicides),
diuretika (furosemid, tiazid), toksin (arsenik, organofosfat), insektisida, kafein, metil
xantine, agen endokrin (preparat pengantian tiroid), misoprostol,mesalamin,
antikolinesterase dan obat-obat diet perlu diketahui.
2. Selain itu, kondisi imunokompromais (HIV/AIDS) dan demam tifoid perlu diidentifikasi.

Faktor Risiko
 Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang.
 Riwayat intoleransi lactose, riwayat alergi obat.
 Infeksi HIV atau infeksi menular seksual.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan terpenting adalah menentukan tingkat/derajat dehidrasi akibat diare. Tanda-
tanda dehidrasi yang perlu diperhatikan adalah turgor kulit perut menurun, akral dingin,
penurunan tekanan darah, peningkatan denyut nadi, tangan keriput, mata cekung tidak,
penurunan kesadaran (syok hipovolemik), nyeri tekan abdomen, kualitas bising usus
hiperperistaltik. Pada anak kecil cekung ubun-ubun kepala. Pada tanda vital lain dapat
ditemukan suhu tubuh yang tinggi (hiperpireksi), nadi dan pernapasan cepat.

Tabel18. Pemeriksaan derajat dehidrasi

Gejala Derajat Dehidrasi


Minimal (< 3% Ringan sampai Berat (> 9% dari
dari berat badan) sedang (3-9% berat badan)
dari
berat badan)
Status mental Baik, sadar penuh Normal, lemas, atau Apatis, letargi, tidak
gelisah, iritabel sadar
Rasa haus Minum normal, Sangat haus, Tidak dapat minum
mungkin menolak sangat ingin
minum
minum
Denyut jantung Normal Normal sampai Takikardi, pada kasus
meningkat berat bradikardi
Kualitas denyut Normal Normal sampai Lemah atau tidak
menurun teraba
nadi
Pernapasan Normal Normal cepat Dalam
Mata Normal Sedikit cekung Sangat cekung
Air mata Ada Menurun Tidak ada
Mulut dan lidah Basah Kering Pecah-pecah

5
Turgor kulit Baik < 2 detik >2 detik
Isian kapiler Normal Memanjang Memanjang, minimal
Ekstremitas Hangat Dingin Dingin
Output urin Normal sampai Menurun Minimal
menurun

Metode Pierce
Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan = 5% x Berat badan (kg)
Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan = 8% x Berat badan (kg)
Dehidrasi berat, Kebutuhan cairan = 10% x Berat badan (kg)

Metode Daldiyono berdasarkan skor klinis

Tabel 19. Skor Penilaian Klinis Dehidrasi

Klinis Skor
Rasa hasus/ muntah 1
Tekanan Darah sistolik 60 -90 mmHg 1
Tekanan darah sistolik <60 mmHg 2
Frekuensi nadi > 120 x/menit 1
Kesadaran apati 1
Kesadaran somnolen, spoor atau koma 2
Frekuensi napas > 30x/ menit 1
Facies Cholerica 2
Vox Cholerica 2
Turgor kulit menurun 1
Washer woman‟s hand 1
Ekstremitas dingin 1
Sianosis 2
Umur 50 – 60 tahun -1
Umur > 60 tahun -2

Pemeriksaan status lokalis


 Pada anak-anak terlihat BAB dengan konsistensi cair pada bagian dalam dari celana atau
pampers.
 Colok dubur dianjurkan dilakukan pada semua kasus diare dengan feses berdarah,
terutama pada usia >50 tahun. Selain itu, perlu dilakukan identifikasi penyakit komorbid.

Pemeriksaan Penunjang
Pada kondisi pasien yang telah stabil (dipastikan hipovolemik telah teratasi), dapat dilakukan
pemeriksaan:
1. Darah rutin (lekosit) untuk memastikan adanya infeksi.
6
2. Feses lengkap (termasuk analisa mikrobiologi) untuk menentukan penyebab.

Penegakan Diagnosis (Assessment)


Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis (BAB cair lebih dari 3 kali sehari) dan
pemeriksaan fisik (ditemukan tanda-tanda hipovolemik dan pemeriksaan konsistensi BAB).

Diagnosis Banding
1. Demam tifoid
2. Kriptosporidia (pada penderita HIV)
3. Kolitis pseudomembran

Komplikasi: Syok hipovolemik

Penatalaksanaan komprehensif

(Plan)

Penatalaksanaan
Pada umumnya diare akut bersifat ringan dan sembuh cepat dengan sendirinya melalui
rehidrasi dan obat antidiare, sehingga jarang diperlukan evaluasi lebih lanjut.
Terapi dapat diberikan dengan:
 Memberikan cairan dan diet adekuat
a. Pasien tidak dipuasakan dan diberikan cairan yang adekuat untuk rehidrasi.
b. Hindari susu sapi karena terdapat defisiensi laktase transien.
c. Hindari juga minuman yang mengandung alkohol atau kafein, karena dapat
meningkatkan motilitas dan sekresi usus.
d. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya yang tidak mengandung gas, dan mudah
dicerna.
 Pasien diare yang belum dehidrasi dapat diberikan obat antidiare untuk mengurangi gejala
dan antimikroba untuk terapi definitif.
Pemberian terapi antimikroba empirik diindikasikan pada pasien yang diduga mengalami
infeksi bakteri invasif, traveller’s diarrhea, dan imunosupresi. Antimikroba: pada GE
akibat infeksi diberikan antibiotik atau antiparasit, atau anti jamur tergantung
penyebabnya.

Obat antidiare, antara lain:


- Turunan opioid: loperamide, difenoksilat atropine, tinktur opium.
Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada pasien dengan disentri yang disertai demam, dan
penggunaannya harus dihentikan apabila diare semakin berat walaupun diberikan terapi.

7
- Bismut subsalisilat, hati-hati pada pasien immunocompromised, seperti HIV, karena
dapat meningkatkan risiko terjadinya bismuth encephalopathy.
- Obat yang mengeraskan tinja: atapulgit 4x2 tablet/ hari atau smectite 3x 1 sachet
diberikan tiap BAB encer sampai diare stop.
- Obat anti sekretorik atau anti enkefalinase: Hidrasec 3x 1/ hari
Antimikroba, antara lain:
 Golongan kuinolon yaitu ciprofloxacin 2 x 500 mg/hari selama 5-7 hari, atau
 Trimetroprim/Sulfamethoxazole 160/800 2x 1 tablet/hari.
 Apabila diare diduga disebabkan oleh Giardia, metronidazole dapat digunakan dengan
dosis 3x500 mg/ hari selama 7 hari.
 Bila diketahui etiologi dari diare akut, terapi disesuaikan dengan etiologi.
Terapi probiotik dapat mempercepat penyembuhan diare akut.

Apabila terjadi dehidrasi, setelah ditentukan derajat dehidrasinya, pasien ditangani dengan
langkah sebagai berikut:
1. Menentukan jenis cairan yang akan digunakan
Pada diare akut awal yang ringan, tersedia cairan oralit yang hipotonik dengan komposisi
29 g glukosa, 3,5 g NaCl, 2.5 g Natrium bikarbonat dan 1.5 KCl setiap liter. Cairan ini
diberikan secara oral atau lewat selang nasogastrik. Cairan lain adalah cairan ringer laktat
dan NaCl 0,9% yang diberikan secara intravena.

2. Menentukan jumlah cairan yang akan diberikan


Prinsip dalam menentukan jumlah cairan inisial yang dibutuhkan adalah: BJ plasma
dengan rumus:
Defisit cairan : Bj plasma – 1,025 X Berat badan X 4 ml
0,001
Kebutuhan cairan = Skor X 10% X kgBB X 1
liter 15
3. Menentukan jadwal pemberian cairan:
a. Dua jam pertama (tahap rehidrasi inisial): jumlah total kebutuhan cairan menurut BJ
plasma atau skor Daldiyono diberikan langsung dalam 2 jam ini agar tercapai
rehidrasi optimal secepat mungkin.
b. Satu jam berikutnya/ jam ke-3 (tahap ke-2) pemberian diberikan berdasarkan
kehilangan selama 2 jam pemberian cairan rehidrasi inisial sebelumnya. Bila tidak ada
syok atau skor daldiyono kurang dari 3 dapat diganti cairan per oral.
c. Jam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan kehilangan cairan melalui
tinja dan insensible water loss.

Kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut pada diare akut apabila ditemukan:
1. Diare memburuk atau menetap setelah 7 hari, feses harus dianalisa lebh lanjut.
2. Pasien dengan tanda-tanda toksik (dehidrasi, disentri, demam ≥ 38.5⁰ C, nyeri abdomen
8
yang berat pada pasien usia di atas 50 tahun
3. Pasien usia lanjut
4. Muntah yang persisten
5. Perubahan status mental seperti lethargi, apatis, irritable.
6. Terjadinya outbreak pada komunitas
7. Pada pasien yang immunocompromised.

Konseling & Edukasi


Pada kondisi yang ringan, diberikan edukasi kepada keluarga untuk membantu asupan cairan.
Edukasi juga diberikan untuk mencegah terjadinya GE dan mencegah penularannya.

Kriteria Rujukan
1. Tanda dehidrasi berat
2. Terjadi penurunan kesadaran
3. Nyeri perut yang signifikan
4. Pasien tidak dapat minum oralit
5. Tidak ada infus set serta cairan infus di fasilitas pelayanan

Prognosis
Prognosis sangat tergantung pada kondisi pasien saat datang, ada/tidaknya komplikasi, dan
pengobatannya, sehingga umumnya prognosis adalah dubia ad bonam. Bila kondisi saat
datang dengan dehidrasi berat, prognosis dapat menjadi dubia ad malam.

Sarana Prasarana
1. Laboratorium untuk pemeriksaan darah rutin, feses dan WIDAL
2. Obat-obatan
3. Infus set

Referensi
1. Simadibrata, M. D. Diare akut. In: Sudoyo, A.W. Setiyohadi, B. Alwi, I. Simadibrata,
M.D. Setiati, S. Eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 5th Ed. Vol. I. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2009: p. 548-556.
2. Makmun, D. Simadibrata, M.D. Abdullah, M. Syam, A.F. Fauzi, A. Konsensus
Penatalaksanaan Diare Akut pada Dewasa di Indonesia. Jakarta: Perkumpulan
Gastroenterologi Indonesia. 2009.
3. Setiawan, B. Diare akut karena Infeksi. In: Sudoyo, A.W. Setiyohadi, B. Alwi, I.
Simadibrata, M. Setiati, [Link]. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 4thEd. Vol. III. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 2006: p. 1794-1798.
4. Sansonetti, P. Bergounioux, J. Shigellosis. In: Kasper. Braunwald. Fauci. et al.
Harrison’s Principles of Internal [Link] II. 17thEd. McGraw-Hill. 2009: p. 962-
964.

9
5. Reed, S.L. Amoebiasis dan Infection with Free Living Amoebas. In: Kasper. Braunwald.
Fauci. et al. Harrison’s Principles of Internal [Link] I. 17thEd. McGraw-Hill.
2009: p. 1275-1280.

2. Gastritis

No ICPC II: D07 Dyspepsia/indigestion


No ICD X: K29.7 Gastritis, unspecified

Tingkat Kemampuan: 4A Masalah

Kesehatan
Gastritis adalah proses inflamasi/peradangan pada lapisan mukosa dan submukosa lambung
sebagai mekanisme proteksi mukosa apabila terdapat akumulasi bakteri atau bahan iritan lain.
Proses inflamasi dapat bersifat akut, kronis, difus, atau lokal.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang ke dokter karena rasa nyeri dan panas seperti terbakar pada perut bagian atas.
Keluhan mereda atau memburuk bila diikuti dengan makan, mual, muntah dan kembung.

Faktor Risiko
1. Pola makan yang tidak baik: waktu makan terlambat, jenis makanan pedas, porsi makan
yang besar.
2. Sering minum kopi dan teh.
3. Infeksi bakteri atau parasit.
4. Pengunaan obat analgetik dan steroid.
5. Usia lanjut.
6. Alkoholisme.
7. Stress.
8. Penyakit lainnya, seperti: penyakit refluks empedu, penyakit autoimun, HIV/AIDS,
Chron disease.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik Patognomonis


 Nyeri tekan epigastrium dan bising usus meningkat.
 Bila terjadi proses inflamasi berat, dapat ditemukan pendarahan saluran cerna berupa
hematemesis dan melena.
10
 Biasanya pada pasien dengan gastritis kronis, konjungtiva tampak anemis.
Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan, kecuali pada gastritis kronis dengan melakukan pemeriksaan:
 Darah rutin.
 Untuk mengetahui infeksi Helicobacter pylori: pemeriksaan breathe test dan feses.
 Rontgen dengan barium enema.
 Endoskopi.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Untuk Diagnosis definitif dilakukan pemeriksaan penunjang.

Diagnosis Banding
1. Kolesistitis
2. Kolelitiasis
3. Chron disease
4. Kanker lambung
5. Gastroenteritis
6. Limfoma
7. Ulkus peptikum
8. Sarkoidosis
9. GERD

Komplikasi
1. Pendarahan saluran cerna bagian atas.
2. Ulkus peptikum.
3. Perforasi lambung.
4. Anemia.

Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
 Menginformasikan kepada pasien untuk menghindari pemicu terjadinya keluhan, antara
lain dengan makan tepat waktu, makan sering dengan porsi kecil dan hindari dari
makanan yang meningkatkan asam lambung atau perut kembung seperti kopi, the,
makanan pedas dan kol.

11
 Terapi diberikan per oral dengan obat, antara lain: H2 Bloker2 x/hari (Ranitidin 150
mg/kali, Famotidin 20 mg/kali, Simetidin 400-800 mg/kali), PPI 2x/hari (Omeprazole 20
mg/kali, Lansoprazole 30 mg/kali), serta Antasida dosis 3 x 500-1000 mg/hr.

Konseling & Edukasi


Menginformasikan pasien dan keluarga mengenai faktor risiko terjadinya gastritis.

Kriteria rujukan
 Bila 5 hari pengobatan belum ada perbaikan.
 Terjadi komplikasi.
 Terjadi alarm symptoms seperti perdarahan, berat badan menurun 10% dalam 6 bulan,
dan mual muntah berlebihan.

Prognosis
Prognosis sangat tergantung pada kondisi pasien saat datang, ada/tidaknya komplikasi, dan
pengobatannya. Umumnya prognosis gastritis adalah bonam, namun dapat terjadi berulang
bila pola hidup tidak berubah.

Sarana Prasarana
Laboratorium untuk pemeriksaan Gram.

Referensi
Sudoyo, A.W. Setiyohadi, B. Alwi, I. Simadibrata, M. Setiati, S. eds. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. 4 ed. Vol. III. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI. 2006.

3. Demam Tifoid

No ICPC II: D70 Gastrointestinal infection


No ICD X: A01.0 Typhoid fever

Tingkat Kemampuan: 4A Masalah

Kesehatan
Demam tifoid banyak ditemukan di masyarakat perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit ini
erat kaitannya dengan kualitas higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang baik. Di
Indonesia bersifat endemik dan merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dari telaah kasus
di rumah sakit besar di Indonesia, tersangka demam tifoid menunjukkan kecenderungan
12
meningkat dari tahun ke tahun dengan rata-rata kesakitan 500/100.000 penduduk dan angka
kematian antara 0.6–5% (KMK, 2006).

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang ke dokter karena demam. Demam turun naik terutamasore dan malam hari
(demam intermiten). Keluhan disertai dengan sakit kepala (pusing-pusing) yang sering
dirasakan di area frontal, nyeri otot, pegal-pegal, insomnia, anoreksia dan mual muntah.
Selain itu, keluhan dapat pula disertai gangguan gastrointestinal berupa konstipasi dan
meteorismus atau diare, nyeri abdomen dan BAB berdarah. Pada anak dapat terjadi kejang
demam.
Demam tinggi dapat terjadi terus menerus (demam kontinu) hingga minggu kedua.

Faktor Risiko

Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
 Suhu tinggi.
 Bau mulut karena demam lama.
 Bibir kering dan kadang pecah-pecah.
 Lidah kotor dan ditutup selaput putih (coated tongue), jarang ditemukan pada anak.
 Ujung dan tepi lidah kemerahan dan tremor.
 Nyeri tekan regio epigastrik (nyeri ulu hati).
 Hepatosplenomegali.
 Bradikardia relatif (peningkatan suhu tubuh yang tidak diikuti oleh peningkatan frekuensi
nadi).

Pemeriksaan fisik pada keadaan lanjut


 Penurunan kesadaran ringan sering terjadi berupa apatis dengan kesadaran seperti
berkabut. Bila klinis berat, pasien dapat menjadi somnolen dan koma atau dengan gejala-
gejala psikosis (organic brain syndrome).
 Pada penderita dengan toksik, gejala delirium lebih menonjol.

Pemeriksaan Penunjang
3. Darah perifer lengkap
Hitung lekosit total menunjukkan leukopeni (<5000 per mm3), limfositosis relatif,
monositosis, aneosinofilia dan trombositopenia ringan. Pada minggu ketiga dan keempat
13
dapat terjadi penurunan hemaglobin akibat perdarahan hebat dalam abdomen.
4. Pemeriksaan serologi Widal
Dengan titer O 1/320 diduga kuat diagnosisnya adalah demam tifoid. Reaksi widal negatif
tidak menyingkirkan diagnosis tifoid. Diagnosis demam tifoid dianggap pasti bila
didapatkan kenaikan titer 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5-7 hari.

Tes lain yang lebih sensitif dan spesifik terutama untuk mendeteksi infeksi akut tifus
khususnya Salmonella serogrup D dibandingkan uji Widal dan saat ini sering digunakan
karena sederhana dan cepat adalah tes TUBEX®. Tes ini menggunakan teknik
aglutinasidengan menggunakan uji hapusan (slide test) atau uji tabung (tube test).

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Suspek demam tifoid (Suspect case)

Dari anamnesis danpemeriksaan fisik didapatkan gejala demam, gangguan saluran cerna dan
petanda gangguan kesadaran. Diagnosis suspek tifoid hanya dibuat pada pelayanan kesehatan
dasar.

Demam tifoid klinis (Probable case)


Suspek demam tifoid didukung dengan gambaran laboratorium yang menunjukkan tifoid.

Diagnosis Banding
1. Demam berdarah dengue.
2. Malaria.
3. Leptospirosis.

Komplikasi
Biasanya terjadi pada minggu kedua dan ketiga demam. Komplikasi antara lain perdarahan,
perforasi, sepsis, ensefalopati, dan infeksi organ lain:
a. Tifoid toksik (Tifoid ensefalopati)
Penderita dengan sindrom demam tifoid dengan panas tinggi yang disertai dengan
kekacauan mental hebat, kesadaran menurun, mulai dari delirium sampai koma.
b. Syok septik
Penderita dengan demam tifoid, panas tinggi serta gejala-gejala toksemia yang berat.
Selain itu, terdapat gejala gangguan hemodinamik seperti tekanan darah turun, nadi halus
dan cepat, keringat dingin dan akral dingin.
c. Perdarahan dan perforasi intestinal (peritonitis)
Komplikasi perdarahan ditandai dengan hematoschezia. Dapat juga diketahui dengan

14
pemeriksaan feses (occult blood test). Komplikasi ini ditandai dengan gejala akut
abdomen dan peritonitis. Pada foto polos abdomen 3 posisi dan pemeriksaan klinis bedah
didapatkan gas bebas dalam rongga perut.
d. Hepatitis tifosa
Kelainan berupa ikterus, hepatomegali, dan kelainan tes fungsi hati.
e. Pankreatitis tifosa
Terdapat tanda pankreatitis akut dengan peningkatan enzim lipase dan amylase. Tanda ini
dapat dibantu dengan USG atau CT Scan.
f. Pneumonia
Didapatkan tanda pneumonia yang Diagnosisnya dibantu dengan foto polos toraks

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
 Terapi suportif dapat dilakukan dengan:
- Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan mobilisasi.
- Diet tinggi kalori dan tinggi protein.
- Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas.

- Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, kesadaran), kemudian
dicatat dengan baik di rekam medik pasien.
 Terapi simptomatik untuk menurunkan demam (antipiretik) dan mengurangi keluhan
gastrointestinal.
 Terapi definitif dengan pemberian antibiotik. Antibiotik lini pertama untuk demam tifoid
adalah kloramfenikol, ampisilin atau amoksisilin (aman untuk penderita yang sedang
hamil), atau trimetroprim-sulfametoxazole (kotrimoksazol).
 Bila pemberian salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif, dapat diganti
dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua yaitu Ceftriaxone, Cefotaxime
(diberikan untuk dewasa dan anak), Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak <18 tahun
karena dinilai mengganggu pertumbuhan tulang).

Tabel 17. Antibiotik dan dosis penggunannya

ANTIBIOTIKA DOSIS KETERANGAN


Kloramfenikol Dewasa: 4x500 mg selama 10 hari Merupakan obat yang sering digunakan dan telah
Anak 50-100 mg/kgBB/har, maks 2 gr lama dikenal efektif untuk tifoid
selama 10-14 hari dibagi 4 dosis Murah dan dapat diberikan peroral serta
sensitivitas masih tinggi
Pemberian PO/IV
Tidak diberikan bila lekosis <2000/mm3
Ceftriaxone Dewasa: 2-4gr/hari selama 3-5 hari Cepat menurunkan suhu, lama pemberian pendek
Anak: 80 mg/kgBB/hari dalam dosis dan dapat dosis tunggal serta cukup aman untuk
tunggal selama 5 hari anak.
Pemberian PO/IV

15
Ampicillin & Dewasa: (1.5-2) gr/hr selama 7-10 hari Aman untuk penderita hamil
Amoksisilin Anak: 50 –100 mg/kgbb/hari selama 7-10 Sering dikombinasi dengan kloramfenikol pada
hari pasien kritis
Tidak mahal
Pemberian PO/IV
Cotrimoxazole (TMP- Dewasa: 2x(160-800) selama 7-10 hari Tidak mahal
SMX) Anak: TMP 6-19 mg/kgbb/hari atau SMX Pemberian per oral
30-50 mg/kgbb/hari selama 10 hari
Quinolone Ciprofloxacin 2x500 mg selama 1 minggu Pefloxacin dan Fleroxacin lebih cepat menurunkan
Ofloxacin 2x(200-400) selama 1 minggu suhu
Efektif mencegah relaps dan
kanker Pemberian peroral
Pemberian pada anak tidak dianjurkan karena efek
samping pada pertumbuhan tulang
Cefixime Anak: 1.5-2 mg/kgbb/hari dibagi 2 dosis Aman untuk anak
selama 10 hari Efektif
Pemberian per oral
Thiamfenikol Dewasa: 4x500 mg/hari Dapat dipakai untuk anak dan dewasa
Anak: 50 mg/kgbb/hari selama 5-7 hari Dilaporkan cukup sensitif pada beberapa daerah
bebas panas

Indikasi demam tifoid dilakukan perawatan di rumah atau rawat jalan:


1. Pasien dengan gejala klinis yang ringan, tidak ada tanda-tanda komplikasi serta tidak ada
komorbid yang membahayakan.
2. Pasien dengan kesadaran baik dan dapat makan minum dengan baik.

3. Pasien dengan keluarganya cukup mengerti tentang cara-cara merawat serta cukup
paham tentang petanda bahaya yang akan timbul dari tifoid.
4. Rumah tangga pasien memiliki atau dapat melaksanakan sistem pembuangan ekskreta
(feses, urin, muntahan) yang mememenuhi syarat kesehatan.
5. Dokter bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan dan perawatan pasien.
6. Dokter dapat memprediksi pasien tidak akan menghadapi bahaya-bahaya yang serius.
7. Dokter dapat mengunjungi pasien setiap hari. Bila tidak bisa harus diwakili oleh seorang
perawat yang mampu merawat demam tifoid.
8. Dokter mempunyai hubungan komunikasi yang lancar dengan keluarga pasien.

Konseling & Edukasi


Edukasi pasien tentang tata cara:
 Pengobatan dan perawatan serta aspek lain dari demam tifoid yang harus diketahui pasien
dan keluarganya.
 Diet, pentahapan mobilisasi, dan konsumsi obat sebaiknya diperhatikan atau dilihat
langsung oleh dokter, dan keluarga pasien telah memahami serta mampu melaksanakan.
 Tanda-tanda kegawatan harus diberitahu kepada pasien dan keluarga supaya bisa segera
dibawa ke rumah sakit terdekat untuk perawatan

16
Pendekatan Community Oriented
Melakukan konseling atau edukasi pada masyarakat tentang aspek pencegahan dan
pengendalian demam tifoid, melalui:
1. Perbaikan sanitasi lingkungan
2. Peningkatan higiene makanan dan minuman
3. Peningkatan higiene perorangan
4. Pencegahan dengan imunisasi

Kriteria Rujukan
1. Telah mendapat terapi selama 5 hari namun belum tampak perbaikan.
2. Demam tifoid dengan tanda-tanda kedaruratan.
3. Demam tifoid dengan tanda-tanda komplikasi dan fasilitas tidak mencukupi.

Prognosis
Prognosis adalah bonam, namun ad sanationam dubia ad bonam, karena penyakit dapat
terjadi berulang.

Sarana Prasarana
Laboratorium untuk melakukan pemeriksaan darah rutin dan serologi Widal.

Referensi
1. Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 364/Menkes/SK/V/2006 tentang Pedoman
Pengendalian Demam Tifoid.
2. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, eds. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. 4 ed. Vol. III. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI;
2006.

B. MATA
4. Konjungtivitis

Konjungtivitis infeksi
No. ICPC II: F70 Conjunctivitis infectious
No. ICD X: H10.9 Conjunctivitis, unspecified

Konjungtivitis alergi
No. ICPC II: F71 Conjunctivitis allergic
No ICD X: H10.1 Acute atopic conjunctivitis

17
Tingkat Kemampuan: 4A Masalah

Kesehatan
Konjungtivitis adalah radang konjungtiva yang dapat disebabkan oleh mikroorganisme
(virus, bakteri), iritasi atau reaksi alergi. Konjungtivitis ditularkan melalui kontak langsung
dengan sumber infeksi. Penyakit ini dapat menyerang semua umur.

Hasil Anamnesis(Subjective)

Keluhan
Pasien datang dengan keluhan mata merah, rasa mengganjal, gatal dan berair, kadang disertai
sekret. Umumnya tanpa disertai penurunan tajam penglihatan.

Faktor Risiko
1. Daya tahan tubuh yang menurun
2. Adanya riwayat atopi
3. Penggunaan kontak lens dengan perawatan yang tidak baik
4. Higiene personal yang buruk

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik Oftalmologi


1. Tajam penglihatan normal
2. Injeksi konjungtiva
3. Dapat disertai edema kelopak, kemosis
4. Eksudasi; eksudat dapat serous, mukopurulen atau purulen tergantung penyebab.
5. Pada konjungtiva tarsal dapat ditemukan folikel, papil atau papil raksasa, flikten,
membran dan pseudomembran.

Pemeriksaan Penunjang (bila diperlukan)


1. Sediaan langsung swab konjungtiva dengan perwarnaan Gram atau Giemsa
2. Pemeriksaan sekret dengan perwarnaan metilen blue pada kasus konjungtivitis gonore

18
Penegakan Diagnostik(Assessment)
Diagnosis Klinis

Konjungtivitis berdasarkan etiologi.


Penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi.

Klasifikasi Konjungtivitis
1. Konjungtivitis bakterial
- Konjungtiva hiperemis, secret purulent atau mukopurulen dapat disertai membrane
atau pseudomembran di konjungtiva tarsal.
2. Konjungtivitis viral
- Konjungtiva hiperemis, secret umumnya mukoserous, dan pembesaran kelenjar
preaurikular
3. Konjungtivitis alergi
- Konjungtiva hiperemis, riwayat atopi atau alergi, dan keluhan gatal.

Komplikasi
Keratokonjuntivitis

Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
 Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata yang sakit
 Sekret mata dibersihkan.
 Pemberian obat mata topikal
1. Pada infeksi bakteri: Kloramfenikol tetes sebanyak 1 tetes 6 kali sehari atau salep
mata 3 kali sehari selama 3 hari.
2. Pada alergi diberikan flumetolon tetes mata dua kali sehari selama 2 minggu.
3. Pada konjungtivitis gonore diberikan kloramfenikol tetes mata 0,5-1%sebanyak 1
tetes tiap jam dan suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB tiap hari sampai tidak
ditemukan kuman GO pada sediaan apus selama 3 hari berturut-turut.
4. Konjungtivitis viral diberikan salep Acyclovir 3% lima kali sehari selama 10 hari.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan


Tidak diperlukan

Konseling & Edukasi


Memberi informasi pada keluarga dan pasien mengenai:
1. Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah membersihkan atau
mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih.

19
2. Jangan menggunakan handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya.
3. Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitar.

Kriteria rujukan

1. Pada bayi dengan konjungtivitis gonore jika terjadi komplikasi pada kornea dilakukan
rujukan ke spesialis mata.
2. Konjungtivitis alergi dan viral tidak ada perbaikan dalam 2 minggu rujuk ke spesialis
mata
3. Konjungtivitis bakteri tidak ada perbaikan dalam 1 minggu rujuk ke spesialis mata.

SaranaPrasarana
1. Lup
2. Laboratorium sederhanauntuk pemeriksaan Giemsa
3. Laboratorium sederhana untuk pemeriksaan Gram
4. Laboratorium sederhana untuk pemeriksaan dengan metilen blue

Prognosis
Penyakit ini jarang menimbulkan kondisi klinis yang berat sehingga pada umumnya
prognosisnya bonam.

Referensi
1. Gondhowiardjo, T.D. Simanjuntak, G. Panduan Manajemen Klinis Perdami, 1th Ed.
Jakarta: CV Ondo. 2006.
2. James, Brus. dkk. Lecture Notes Oftalmologi. Erlangga. Jakarta. 2005.
3. Riordan. Paul, E. Whitcher, John P. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Ed 17.
Jakarta: EGC. 2009.
4. Sidarta, I. Ilmu Penyakit Mata. Edisi III. Cetakan [Link]:Balai Penerbit FK UI. 2008.
5. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum. Ed 14. Cetakan [Link]:Widya Medika. 2000.

20
C. RESPIRASI

5. Faringitis

No. ICPC II: R74 Upper respiratory infection acute


No. ICD X: J02.9 Acute pharyngitis, unspecified

Tingkat Kemampuan: 4A Masalah

Kesehatan
Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang disebabkan oleh virus (40-60%),
bakteri (5-40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain.
Setiap tahunnya ± 40 juta orang mengunjungi pusat pelayanan kesehatan karena faringitis.
Anak-anak dan orang dewasa umumnya mengalami 3-5 kali infeksi virus pada saluran
pernafasan atas termasuk faringitis. Secara global di dunia ini viral faringitis merupakan
penyebab utama seseorang absen bekerja atau sekolah.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang dengan keluhan nyeri tenggorokan, sakit jika menelan dan batuk.
Gejala dan tanda yang ditimbulkan faringitis tergantung pada mikroorganisme yang
menginfeksi. Secara garis besar faringitis menunjukkan tanda dan gejala umum seperti lemas,
anorexia, demam, suara serak, kaku dan sakit pada otot leher. Gejala khas berdasarkan
jenisnya, yaitu:

1. Faringitis viral (umumnya oleh Rhinovirus): diawali dengan gejala rhinitis dan beberapa
hari kemudian timbul faringitis. Gejala lain demam disertai rinorea dan mual.
2. Faringitis bakterial: nyeri kepala hebat, muntah, kadang disertai demam dengan suhu
yang tinggi, jarang disertai batuk.
3. Faringitis fungal:terutama nyeri tenggorok dan nyeri menelan.
4. Faringitis kronik hiperplastik: mula-mula tenggorok kering, gatal dan akhirnya batuk
yang berdahak.
5. Faringitis kronik atrofi: umumnya tenggorokan kering dan tebal serta mulut berbau.
6. Faringitis tuberkulosis: nyeri hebat pada faring dan tidak berespon dengan pengobatan
bakterial non spesifik.
7. Bila dicurigai faringitis gonorea atau faringitis luetika, ditanyakan riwayat hubungan
seksual.

21
Faktor Risiko
1. Paparan udara yang dingin.
2. Menurunnya daya tahan tubuh.
3. Konsumsi makanan yang kurang gizi.
4. Iritasi kronik oleh rokok, minum alkohol, makanan, refluks asam lambung, inhalasi uap
yang merangsang mukosa faring.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
 Faringitis viral,pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis, eksudat (virus
influenza, coxsachievirus, cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat). Pada
coxsachievirus dapat menimbulkan lesi vesikular di orofaring dan lesi kulit berupa
maculopapular rash.
 Faringitis bakterial, pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring dan tonsil
hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul bercak
petechiaepada palatum dan faring. Kadang ditemukan kelenjar limfa leher anterior
membesar, kenyal dan nyeri pada penekanan.
 Faringitis fungal, pada pemeriksaan tampak plak putih diorofaring dan pangkal lidah,
sedangkan mukosa faring lainnya hiperemis.
 Faringitis kronik hiperplastik, pada pemeriksaan tampak kelenjar limfa di bawah mukosa
faring dan lateral lateral band hiperplasi. Pada pemeriksaan tampak mukosa dinding
posterior tidak rata dan bergranular (cobble stone).
 Faringitis kronik atrofi, pada pemeriksaan tampak mukosa faring ditutupi oleh lendir
yang kental dan bila diangkat tampak mukosa kering.
 Faringitis tuberkulosis, pada pemeriksaan tampak granuloma perkejuan pada mukosa
faring dan laring.
 Faringitis luetika tergantung stadium penyakit:
o Stadium primer
Pada lidah palatum mole, tonsil, dan dinding posterior faring berbentuk bercak
keputihan. Bila infeksi berlanjut timbul ulkus pada daerah faring seperti ulkus pada
genitalia yaitu tidak nyeri. Juga didapatkan pembesaran kelenjar mandibula
o Stadium sekunder
Stadium ini jarang ditemukan. Pada dinding faring terdapat eritema yang menjalar ke
arah laring.
o Stadium tersier
Terdapat guma. Predileksi pada tonsil dan palatum.

Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan darah lengkap.
- Terinfeksi jamur, menggunakan slide dengan pewarnaan KOH.

22
- Pemeriksaan mikroskop dengan pewarnaan gram.

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
bila diperlukan.

Klasifikasi faringitis
1. Faringitis Akut
a. Faringitis Viral
Dapat disebabkan oleh rinovirus, adenovirus, Epstein Barr Virus (EBV), virus
influenza, coxsachievirus, cytomegalovirus, dan lain-lain. Pada adenovirus juga
menimbulkan gejala konjungtivitis terutama pada anak.
b. Faringitis Bakterial
Infeksi grup A stereptokokus beta hemolitikus merupakan penyebab faringitis akut
pada orang dewasa (15%) dan pada anak (30%).
Faringitis akibat infeksi bakteri streptococcus group A dapat diperkirakan dengan
menggunakan Centor criteria, yaitu :
 Demam
 Anterior Cervical lymphadenopathy
 Eksudat tonsil
 Tidakadanyabatuk
Tiap kriteria ini bila dijumpai di beri skor 1. Bila skor 0-1 maka pasien tidak
mengalami faringitis akibat infeksi streptococcus group A, bila skor 1-3 maka pasien
memiliki kemungkian 40% terinfeksi streptococcus group A dan bila skor 4 pasien
memiliki kemungkinan 50% terinfeksi streptococcus group A.
c. Faringitis Fungal
Candida dapat tumbuh di mukosa rongga mulut dan faring.
d. Faringitis Gonorea
Hanya terdapat pada pasien yang melakukan kontak orogenital
2. Faringitis Kronik
a. Faringitis Kronik Hiperplastik
Pada faringitis kronik hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring.
b. Faringitis Kronik Atrofi
Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi. Pada rhinitis
atrofi, udara pernafasan tidak diatur suhu serta kelembapannya sehingga
menimbulkan rangsangan serta infeksi pada faring.
3. Faringitis Spesifik
a. Faringitis Tuberkulosis
Merupakan proses sekunder dari tuberculosis paru. Pada infeksi kuman tahan asam
jenis bovinum dapat timbul tuberkulosis faring primer. Cara infeksi eksogen yaitu
23
kontak dengan sputum yang mengandung kuman atau inhalasi kuman melalui udara.
Cara infeksi endogen yaitu penyebaran melalui darah pada tuberculosis miliaris
b. Faringitis Luetika
Treponema palidum dapat menimbulkan infeksi di daerah faring, seperti juga
penyakit lues di organ lain. Gambaran klinik tergantung stadium penyakitnya.

Diagnosis Banding: -

Komplikasi
1. Sinusitis
2. Otitis media
3. Epiglotitis
4. Abses peritonsilar
5. Abses retrofaringeal.
6. Septikemia
7. Meningitis
8. Glomerulonefritis
9. Demam rematik akut

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
1. Istirahat cukup
2. Minum air putih yang cukup
3. Berkumur dengan air yang hangat dan berkumur dengan obat kumur antiseptik untuk
menjaga kebersihan mulut. Pada faringitis fungal diberikan Nystatin 100.000-400.000 IU,
2 x/hari. Untuk faringitis kronik hiperplastik terapi lokal dengan melakukan kaustik
faring dengan memakai zat kimia larutan nitras argentin 25%.
4. Untuk infeksi virus, dapat diberikan anti virus metisoprinol (isoprenosine) dengan dosis
60-100mg/kgBB dibagi dalam 4-6 x/hari pada orang dewasa dan pada anak <5 tahun
diberikan 50mg/kgBB dibagi dalam 4-6 x/hari.
5. Untuk faringitis akibat bakteri terutama bila diduga penyebabnya streptococcus group A,
diberikan antibiotik Penicillin G Benzatin 50.000 U/kgBB/IM dosis tunggal bila pasien
tidak alergi penisilin, atau Amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3 x/hari selama 10 hari
dan pada dewasa 3x500mg selama 6-10 hari, atau Eritromisin 4x500mg/hari.
6. Pada faringitis gonorea, dapat diberikan sefalosporin generasi ke-3, seperti Ceftriakson 2
gr IV/IM single dose.
7. Pada faringitis kronik hiperplastik, penyakit hidung dan sinus paranasal harus diobati.
Pada faringitis kronik atrofi pengobatan ditujukan pada rhinitis atrofi. Sedangkan, pada
faringitis kronik hiperplastik dilakukan kaustik 1 x/hari selama 3-5 hari.
8. Jika diperlukan dapat diberikan obat batuk antitusif atau ekspektoran.
24
9. Selain antibiotik, kortikosteroid juga diberikan untuk menekan reaksi inflamasi sehingga
mempercepat perbaikan klinis. Steroid yang diberikan dapat berupa deksametason 3 x 0,5
mg pada dewasa selama 3 hari dan pada anak-anak 0,01 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3
x/hari selama 3 hari.

Konseling & Edukasi


Memberitahu pasien dan keluarga untuk:
a. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan olahraga teratur.
b. Berhentimerokok bagi anggota keluarga yang merokok.
c. Menghindari makanmakanan yang dapat mengiritasi tenggorok.
d. Selalu menjaga kebersihan mulut
e. Mencuci tangan secara teratur

Pemeriksaan penunjang lanjutan (bila diperlukan)


 Kultur resistensi dari swab tenggorok.
 GABHS rapid antigen detection test bila dicurigai faringitis akibat infeksi bakteri
streptococcus group A-

Kriteria Rujukan
1. Faringitis luetika.
2. Timbul komplikasi: epiglotitis,abses peritonsiler, abses retrofaringeal, septikemia,
meningitis, glomerulonefritis, demam rematik akut.

Sarana Prasarana
1. Lampu kepala
2. Spatula lidah
3. Lidi kapas
4. Pemeriksaan laboratorium sederhana
5. Larutan KOH
6. Pewarnaan gram
7. Obat-obatan: antibiotik, antiviral, obat batuk antitusif atau ekspektoran, obat kumur
antiseptik

Prognosis
Prognosis pada umumnya bonam, namun hal ini bergantung pada jenis dan komplikasinya.

Referensi
1. Adam, G.L. Boies, L.R. Higler. [Link] Ajar Penyakit THT. Ed. ke-6. Jakarta: EGC.
1997.
2. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery. Ed. Ke-8. McGraw-Hill.
25
2003.
3. Rusmarjono. Soepardi, [Link], Tonsilitis, dan Hipertrofi Adenoid dalam Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala&Leher. Ed. ke-6. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2007.

6. Rhinitis Akut

No. ICPC II: R74 Upper respiratory infection acute


No. ICD X: J00 Acute nasopharingitis (common cold)

Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan
Rhinitis akut adalah peradangan pada mukosa hidung yangberlangsung akut(<12 minggu).
Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, ataupun iritan. Radang sering ditemukan
karena manifestasi dari rhinitis simpleks (common cold), influenza, penyakit eksantem
(seperti morbili, variola, varicella, pertusis), penyakit spesifik, serta sekunder dari iritasi lokal
atau trauma.
Rhinitis akut merupakan penyebab morbiditas yang signifikan walaupun sering dianggap
sepele oleh para praktisi. Gejala-gejala rhinitis secara signifikan mempengaruhi kualitas
hidup pasien karena gejala-gejala sistemik yang menyertainya seperti fatigue dan sakit
kepala.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang dengan keluhan keluar ingus dari hidung (rinorea), hidung tersumbat disertai
rasa panas dan gatal pada hidung.
- Rhinitis simpleks: gejala berupa rasa panas di daerah belakang hidung pada awalnya, lalu
segera diikuti dengan hidung tersumbat, rinore, dan bersin yang berulang-ulang. Pasien
merasa dingin, dan terdapat demam ringan. Pada infeksi bakteri ingus menjadi
mukopurulen, biasanya diikuti juga dengan gejala sistemik seperti demam, malaise dan
sakit kepala.
- Rhinitis influenza: gejala sistemik umumnya lebih berat disertai sakit pada otot.
- Rhinitis eksantematous: gejala terjadi sebelum tanda karakteristik atau ruam muncul.
- Rhinitis iritan: gejala berupa ingus yang sangat banyak dan bersin.
- Rhinitis difteria: gejala berupa demam, toksemia, terdapat limfadenitis, dan mungkin ada
paralisis otot pernafasan.

26
Faktor Risiko
1. Penurunan daya tahan tubuh.
2. Paparandebu, asap atau gas yang bersifat iritatif.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
 Dapat ditemukan adanya demam.
 Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak kavum nasi sempit, terdapat sekret serous
atau mukopurulen dan mukosa udem dan hiperemis.
 Pada rhinitis difteri tampak ada ingus yang bercampur darah. Membran keabu-abuan
tampak menutup konka inferior dan kavum nasi bagian bawah, membrannya lengket dan
bila diangkat dapat terjadi perdarahan.

Pemeriksaan Penunjang: tidak diperlukan

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Klasifikasi berdasarkan etiologi:


1. Rhinitis Virus
a. Rhinitis simplek (pilek, Selesema, Comman Cold, Coryza)
Rhinitis simplek disebabkan oleh virus. Infeksi biasanya terjadi melalui droplet di
udara. Beberapa jenis virus yang berperan antara lain, adenovirus, picovirus, dan
subgrupnya seperti rhinovirus, coxsakievirus, dan ECHO. Masa inkubasinya 1-4 hari
dan berakhir dalam 2-3 minggu.
b. Rhinitis Influenza
Virus influenza A, Batau C berperan dalam penyakit ini. Tanda dan gejalanya mirip
dengan common cold. Komplikasi berhubungan dengan infeksi bakteri sering terjadi.
c. Rhinitis Eksantematous
Morbili, varisela, variola, dan pertusis, sering berhubungan dengan rhinitis, dimana
didahului dengan eksantema sekitar 2-3 hari. Infeksi sekunder dan komplikasi lebih
sering dijumpai dan lebih berat.
d. Rhinitis BakterInfeksi non spesifik
1. RhinitisBakteri Primer. Infeksi ini tampak pada anak dan biasanya akibat dari
infeksi pneumococcus, streptococcus atau staphylococcus. Membran putih keabu-
abuan yang lengket dapat terbentuk di rongga hidung, dan apabila diangkat dapat
menyebabkan pendarahan/epistaksis.

27
2. RhinitisBakteri Sekunder merupakan akibat dari infeksi bakteri pada rhinitis viral
akut.
e. Rhinitis Difteri
Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. Rhinitis difteri dapat
berbentuk akut atau kronik dan bersifat primer pada hidung atau sekunder pada
tenggorokan. Dugaan adanya rhinitis difteri harus dipikirkan pada penderita dengan
riwayat imunisasi yang tidak lengkap. Penyakit ini semakin jarang ditemukan karena
cakupan program imunisasi yang semakin meningkat.
2. Rhinitis Iritan
Tipe rhinitis akut ini disebabkan oleh paparan debu, asap atau gas yang bersifat iritatif
seperti ammonia, formalin, gas asam dan lain-lain. Selain itu, dapat juga disebabkan oleh
trauma yang mengenai mukosa hidung selama masa manipulasi intranasal, contohnya
pada pengangkatan corpus alienum. Pada rhinitis iritan terdapat reaksi yang terjadi segera
yang disebut dengan “immediate catarrhal reaction” bersamaan dengan bersin, rinore,
dan hidung tersumbat. Gejalanya dapat sembuh cepat dengan menghilangkan faktor
penyebab atau dapat menetap selama beberapa hari jika epitel hidung telah rusak.
Pemulihan akan bergantung pada kerusakan epitel dan infeksi yang terjadi.

Diagnosis Banding
1. Rhinitisalergi pada serangan akut
2. Rhinitis vasomotor pada serangan akut

Komplikasi
1. Otitis media akut.
2. Sinusitis paranasalis.
3. Infeksi traktus respiratorius bagian bawah seperti laring, tracheobronchitis, pneumonia.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
1. Istirahat yang cukup.
2. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat.
3. Rhinitis akut merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri secara spontan setelah kurang
lebih 1 - 2 minggu. Karena itu umumnya terapi yang diberikan lebih bersifat simptomatik,
seperti analgetik, antipiretik, dan nasal dekongestan disertai dengan istirahat yang cukup.
Terapi khusus tidak diperlukan kecuali bila terdapat komplikasi seperti infeksi sekunder
bakteri, maka antibiotik perlu diberikan.
- Antipiretik dapat diberikan parasetamol.
- Dekongestan oral dapat mengurangi sekret hidung yang banyak, membuat pasien
merasa lebih nyaman, seperti pseudoefedrin, fenilpropanolamin, atau fenilefrin.
- Antibiotik diberikan jika terdapat infeksi bakteri, seperti amoxicillin, eritromisin,
cefadroxil.
28
- Pada rhinitis difteri terapinya meliputi isolasi pasien, penisilin sistemik, dan antitoksin
difteri.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan


Tidak diperlukan

Rencana Tindak Lanjut


Jika terdapat kasus rhinitis difteri dilakukan pelaporan ke dinkes setempat.

Konseling & Edukasi


Memberitahu individu dan keluarga untuk:
1. Menjaga tubuh selalu dalam keadaan sehatdengan begitu dapat terbentuknya sistem
imunitas yang optimal yang dapat melindungi tubuh dari serangan zat-zat asing.
2. Lebih sering mencuci tangan, terutama sebelum menyentuh wajah.
3. Memperkecil kontak dengan orang-orang yang telah terinfeksi.
4. Menutup mulut ketika batuk dan bersin.
5. Mengikuti program imunisasi lengkap, seperti vaksinasi influenza, vaksinasi MMR untuk
mencegah terjadinya rhinitis eksantematous.

Kriteria Rujukan
Pasien dengan rhinitis difteri.

Sarana Prasarana
1. Lampu kepala
2. Spekulum hidung
3. Obat-obatan: antipiretik, analgetik, antibiotik, dekongestan

Prognosis
Prognosis umumnya bonam. Pada rhinitis difteri, prognosis dapat menjadi dubia.

Referensi
1. Adam, G.L. Boies, L.R. [Link] Ajar Penyakit THT. Ed. ke-6. Jakarta: EGC.
1997.
2. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery. Ed. Ke-8. McGraw-Hill.
2003.
3. Wardani, R.S. Mangunkusumo, [Link] Hidung dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala&Leher. Ed. ke-6. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2007.

29
30
7. Rhinitis Alergik

No. ICPC II: R97 Allergic rhinitis


No. ICD X: J30.0 Vasomotor rhinitis

Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan
Rhinitis alergiadalah penyakit inflamasi yang disebabkanoleh reaksialergi pada pasien atopi
yang sebelumnya sudah tersensitisasi oleh alergen yang sama serta dilepaskan suatu mediator
kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut. Menurut WHO ARIA
(Allergic Rhinitis and it’s Impact on Asthma), 2001, rhinitis alergi adalah kelainan pada
gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen
yang diperantai oleh Ig E.

Rhinitis ditemukan di semua ras manusia, pada anak-anak lebih sering terjadi terutama anak
laki-laki. Memasuki usia dewasa, prevalensi laki-laki dan perempuan sama. Insidensi
tertinggi terdapat pada anak-anak dan dewasa muda dengan rerata pada usia 8-11 tahun,
sekitar 80% kasus rhinitis alergi berkembang mulai dari usia 20 tahun. Insidensi rhinitis
alergi pada anak-anak 40% dan menurun sejalan dengan usia sehingga pada usia tuarhinitis
alergi jarang ditemukan.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang dengan keluhan keluarnya ingus encer dari hidung (rinorea), bersin, hidung
tersumbat dan rasa gatal pada hidung (trias alergi).
Bersin merupakan gejala khas, biasanya terjadi berulang, terutama pada pagi hari. Bersin
lebih dari lima kali sudah dianggap patologik dan perlu dicurigai adanya rhinitis alergi dan
ini menandakan reaksi alergi fase cepat. Gejala lain berupa mata gatal dan banyak air mata.

Faktor Risiko
1. Adanya riwayat atopi.
2. Lingkungan dengan kelembaban yang tinggi merupakan faktor risiko untuk untuk
tumbuhnya jamur, sehingga dapat timbul gejala alergis.
3. Terpaparnya debu tungau biasanya karpet serta sprai tempat tidur, suhu yang tinggi.

31
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
 Perhatikan adanya allergic salute, yaitu gerakan pasien menggosok hidung dengan
tangannya karena gatal.
 Wajah
o Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar mata dan berhubungan dengan
vasodilatasi atau obstruksi hidung.
o Nasal crease yaitu lipatan horizontal (horizontal crease) yang melalui setengah bagian
bawah hidung akibat kebiasaan menggosok hidung keatas dengan tangan.
o Mulut sering terbuka dengan lengkung langit-langit yang tinggi, sehingga akan
menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi-geligi (facies adenoid).
 Pada pemeriksaan faring: dinding posterior faring tampak granuler dan edema
(cobblestone appearance), serta dinding lateral faring menebal. Lidah tampak seperti
gambaran peta (geographic tongue).
 Pada pemeriksaan rinoskopi:
o Mukosa edema, basah, berwarna pucat atau kebiruan (livide), disertai adanya sekret
encer, tipis dan banyak. Jika kental dan purulen biasanya berhubungan dengan
sinusitis.
o Pada rhinitis alergi kronis atau penyakit granulomatous, dapat terlihat adanya deviasi
atau perforasi septum.
o Pada rongga hidung dapat ditemukan massa seperti polip dan tumor, atau dapat juga
ditemukan pembesaran konka inferior yang dapat berupa edema atau hipertropik.
Dengan dekongestan topikal, polip dan hipertrofi konkatidak akan menyusut,
sedangkan edema konka akan menyusut.
 Pada kulit kemungkinan terdapat dermatitis atopi.

Pemeriksaan Penunjang
Bila diperlukan dan dapat dilakukan di layanan primer.
- Hitung eosinofil dalam darah tepi dan sekret hidung.
- Pemeriksaan Ig E total serum
- Pemeriksaan feses untuk mendeteksi kecacingan

Penegakan Diagnostik (Assessment)


Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
bila diperlukan.

Rekomendasi dari WHO Initiative ARIA(Allergic Rhinitis and it’s Impact on Asthma), 2001,
rhinitis alergi dibagi berdasarkan sifatberlangsungnya menjadi:

 Intermiten, yaitu bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu.
32
 Persisten, yaitu bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan/atau lebih dari 4 minggu.

Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rhinitis alergi dibagi menjadi:
 Ringan, yaitu bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian,bersantai,
berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.
 Sedang atau berat, yaitu bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut di atas.

Diagnosis Banding
1. Rhinitis vasomotor
2. Rhinitis akut

Komplikasi
1. Polip hidung
2. Sinusitis paranasal
3. Otitis media

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
1. Menghindari alergen spesifik
2. Pemeliharaan dan peningkatan kebugaran jasmani telah diketahui berkhasiat dalam
menurunkan gejala alergis
3. Terapi topikal dapat dengan dekongestan hidung topikal melalui semprot hidung. Obat
yang biasa digunakan adalah oxymetazolin atau xylometazolin, namun hanya bila hidung
sangat tersumbat dan dipakai beberapa hari (< 2 minggu) untuk menghindari rhinitis
medikamentosa.
4. Preparat kortikosteroid dipilih bila gejala sumbatan hidung akibat respons fase lambat
tidak dapat diatasi dengan obat lain. Obat yang sering dipakai adalah kortikosteroid
topikal: beklometason, budesonid, flunisolid, flutikason, mometason furoat dan
triamsinolon.
5. Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromida yang bermanfaat untuk
mengatasi rinorea karena aktivitas inhibisi reseptor kolinergik pada permukaan sel
efektor.
6. Terapi oral sistemik
 Antihistamin
a. Anti histamin generasi 1: difenhidramin, klorfeniramin, siproheptadin.
b. Anti histamin generasi 2: loratadin, cetirizine
 Preparat simpatomimetik golongan agonis alfa dapat dipakai sebagai dekongestan
hidung oral dengan atau tanpa kombinasi antihistamin. Dekongestan oral:
pseudoefedrin, fenilpropanolamin, fenilefrin.
7. Terapi lainnya dapat berupa operasi terutama bila terdapat kelainan anatomi, selain itu
dapat juga dengan imunoterapi
33
Gambar19. Algoritma penatalaksanaan Rinitis Alergi menurut WHO Initiative ARIA 2001
(dewasa)

Rencana Tindak Lanjut


Dilakukan sesuai dengan algoritma rhinitis alergi menurut WHO Initiative ARIA.

Konseling & Edukasi


Memberitahu individu dan keluarga untuk:
1. Menyingkirkan faktor penyebab yang dicurigai (alergen).
2. Menghindari suhu ekstrim panas maupun ekstrim dingin.
3. Selalu menjaga kesehatan dan kebugaran jasmani. Hal ini dapatmenurunkan gejala alergi.

34
Pemeriksaan penunjang lanjutan
Bila diperlukan, dilakukan:
1. Uji kulit atau Prick Test, digunakan untuk menentukan alergen penyebab rhinitis alergi
pada pasien.
2. Pemeriksaan radiologi dengan foto sinus paranasal.

Kriteria Rujukan
1. Bila perlu dilakukan Prick Test untuk mengetahui jenis alergen.
2. Bila perlu dilakukan tindakan operatif.

Sarana Prasarana
1. Lampu kepala
2. Spekulum hidung
3. Obat-obatan:
Topikal:
- Dekongestan hidung topikal: oxymetazolin, xylometazolin.
- Preparat kortikosteroid topikal: beklometason, budesonid, flunisolid, flutikason,
mometason furoat dan triamsinolon
- Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromida
Oral:
4. Antihistamin
a. Anti histamin generasi 1: difenhidramin, klorfeniramin, siproheptadin.
b. Anti histamin generasi 2: loratadin, cetirizine.
5. Preparat simpatomimetik golongan agonis alfa. Dekongestan oral : pseudoefedrin,
fenilpropanolamin, fenilefrin.

Prognosis
Prognosis umumnya bonam, namun quo ad sanationam dubia ad bonam bila alergen
penyebab dapat dihindari.

Referensi
1. Adam, GL. Boies LR. Higler,. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Ed. ke-6. Jakarta: EGC.
1997.
2. Bousquet, J. Cauwenberge, P. ARIA (Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma
Initiative).
3. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery. Ed. Ke-8. McGraw-Hill.
2003.
4. Irawati, N. Kasakeyan, E. Rusmono, [Link] Alergi dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-6. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2007

35
8. Rhinitis Vasomotor

Tingkat Kemampuan: 4A Masalah

Kesehatan
Rhinitis vasomotor adalah suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi,
alergi, eosinofilia, perubahan hormonal, dan pajanan obat (kontrasepsi oral, antihipertensi, B-
bloker, aspirin, klorpromazin, dan obat topikal hidung dekongestan). Rhinitis ini digolongkan
menjadi non-alergi bila adanya alergi/allergen spesifik tidak dapat diidentifikasi dengan
pemeriksaan alergi yang sesuai (anamnesis, tes cukit kulit, kadar antibodi Ig E spesifik
serum).

Rhinitis non alergi dan mixed rhinitis lebih sering dijumpai pada orang dewasa dibandingkan
anak-anak, lebih sering dijumpai pada wanita dan cenderung bersifat menetap.

Sinonim: rhinitis non alergi, vasomotor catarrh, vasomotor rinorhea,nasal vasomotor


instability, dan non-allergic perennial rhinitis.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang dengan keluhan hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan tergantung posisi
tidur pasien. Pada pagi hari saat bangun tidur, kondisi memburuk karena adanya perubahan
suhu yang ekstrem, udara yang lembab, dan karena adanya asap rokok.
Gejala lain rhinitis vasomotor dapat berupa:
 Rinore yang bersifat serous atau mukus, kadang-kadang jumlahnya agak banyak.
 Bersin-bersin lebih jarang dibandingkan rhinitis alergika.
 Gejala rhinitis vasomotor ini

Faktor Predisposisi
1. Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis antara lain: ergotamine,
chlorpromazine, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal.
2. Faktor fisik seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi,
serta bau yang menyengat (misalnya parfum) dan makanan yang pedas, panas, serta
dingin (misalnya es krim).
3. Faktor endokrin, seperti kehamilan, masa pubertas, pemakaian kontrasepsi oral, dan
hipotiroidisme.
4. Faktor psikis, seperti rasa cemas, tegang dan stress.

36
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan rinoskopi anterior:
- Tampak gambaran edema mukosa hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua
tetapi dapat pula pucat.
- Permukaan konka licin atau tidak rata.
- Pada rongga hidung terlihat adanya sekret mukoid, biasanya jumlahnya tidak banyak.
Akan tetapi pada golongan rinore tampak sekret serosa yang jumlahnya sedikit lebih
banyak dengan konka licin atau berbenjol-benjol.

Pemeriksaan Penunjang
Bila diperlukan dan dapat dilaksanakan di layanan primer, yaitu:
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rhinitis alergi.
 Kadar eosinofil
 Tes cukit kulit (skin prick test)
 Kadar IgE spesifik

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
bila diperlukan.

Berdasarkan gejala yang menonjol, kelainan ini dibedakan dalam 3 golongan, yaitu:
1. Golongan bersin (sneezer), gejala biasanya memberikan respon baik dengan terapi
antihistamin dan glukokortikoid topikal.
2. Golongan rinore (runners) dengan gejala rinore yang jumlahnya banyak.
3. Golongan tersumbat (blockers) dengan gejala kongesti hidung dan hambatan aliran udara
pernafasan yang dominan dengan rinore yang minimal.

Diagnosis Banding
1. Rhinitis alergika
2. Rhinitis medikamentosa
3. Rhinitis akut

Komplikasi
1. Rhinitis akut, jika terjadi infeksi sekunder
2. Sinusitis

37
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
1. Menghindari faktor pencetus.
2. Menghindariterlalu lama di tempat yang ber-AC
3. Menghindariminum-minumandingin
4. Tatalaksana dengan terapi kortikosteroid topikal dapat diberikan, misalnya budesonid, 1-2
x/hari dengan dosis 100-200 mcg/hari. Dosis dapat ditingkatkan sampai 400 mcg/hari.
Hasilnya akan terlihat setelah pemakaian paling sedikit selama 2 minggu. Saat ini
terdapat kortikosteroid topikal baru dalam aqua seperti flutikason propionate dengan
pemakaian cukup 1 x/hari dengan dosis 200 mcg selama 1-2 bulan.
5. Pada kasus dengan rinorea yang berat, dapat ditambahkan antikolinergik topikal
ipratropium bromide.
6. Kauterisasi konka yang hipertofi dapat menggunakan larutan AgNO 3 25% atau
trikloroasetat pekat.
7. Tatalaksana dengan terapi oral dapat menggunakan preparat simpatomimetik golongan
agonis alfa sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi antihistamin.
Dekongestan oral : pseudoefedrin, fenilpropanol-amin, fenilefrin.

Konseling & Edukasi


Memberitahu individu dan keluarga untuk:
1. Menghindari faktor pencetus.
2. Menghindari terlalu lama di tempat yang ber-AC dan mengurangi minuman dingin.
3. Berhenti merokok.
4. Menghindari faktor psikis seperti rasa cemas, tegang dan stress.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan


Pemeriksaan radiologi: Foto sinus paranasal

Kriteria Rujukan
Jika diperlukan tindakan operatif

Sarana Prasarana
1. Lampu kepala
2. Spekulum hidung
3. Tampon hidung

Prognosis
Prognosis umumnya tidak mengancam jiwa, namun fungsi dan berulangnya kejadian dapat
dubia ad bonam jika pasien menghindarifaktorpencetus.

38
Referensi
1. Adam, G.L. Boies, L.R. [Link] Ajar Penyakit THT. Ed. ke-6. Jakarta: EGC.
1997.
2. Irawati, N.,Poerbonegoro, NL., Kasakeyan, E. Rhinitis Vasomotor dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala&Leher. Ed. ke-6. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. 2007.
3. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery. Ed. Ke-8. McGraw-Hill.
2003.

9. Tonsilitis

No. ICPC II:R76 Tonsillitis acute


No. ICD X:Acute tonsillitis, unspecified

Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin Waldeyer.
Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut
yaitu: tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal
lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring/ Gerlach’s tonsil).
Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak berusia 3 sampai 10 tahun dan anak remaja
berusia 15 hingga 25 tahun.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada tenggorokan.
Gejala lainnya tergantung penyebab tonsilitis.
 Penderita tonsilitis akut awalnya mengeluh rasa kering di tenggorokan, kemudian berubah
menjadi rasa nyeri di tenggorokan dan nyeri saat menelan. Rasa nyeri semakin lama
semakin bertambah sehingga anak menjadi tidak mau makan. Nyeri hebat ini dapat
menyebar sebagai referred pain ke sendi-sendi dan telinga. Nyeri pada telinga (otalgia)
tersebut tersebar melalui nervus glossofaringeus (IX). Keluhan lainnya berupa demam
yang dapat sangat tinggi sampai menimbulkan kejang pada bayi dan anak-anak. Rasa
nyeri kepala, badan lesu dan nafsu makan berkurang sering menyertai pasien tonsilitis
akut. Suara pasien terdengar seperti orang yang mulutnya penuh terisi makanan panas.
39
Keadaan ini disebut plummy voice/ hot potato voice. Mulut berbau (foetor ex ore) dan
ludah menumpuk dalam kavum oris akibat nyeri telan yang hebat (ptialismus). Tonsilitis
viral lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorokan.
 Pada tonsilitis kronik, pasien mengeluh ada penghalang/mengganjal di tenggorokan,
tenggorokan terasa kering dan pernafasan berbau (halitosis).
 Pada Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa) gejala yang timbul adalah
demam tinggi (39˚C), nyeri di mulut, gigi dan kepala, sakit tenggorokan, badan lemah,
gusi mudah berdarah dan hipersalivasi.
Faktor Risiko
1. Faktor usia, terutama pada anak.
2. Penurunan daya tahan tubuh.
3. Rangsangan menahun (misalnya rokok, makanan tertentu).
4. Higiene rongga mulut yang kurang baik.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
 Tonsilitis akut: pada pemeriksaan ditemukan tonsil yang udem (ukuran membesar),
hiperemis dan terdapat detritus yang memenuhi permukaan tonsil baik berbentuk folikel,
lakuna, atau pseudomembran. Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut
tonsilitis folikularis, bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur alur
maka akan terjadi tonsilitis lakunaris. Bercak detritus ini dapat melebar sehingga
terbentuk membran semu (pseudomembran) yang menutupi ruang antara kedua tonsil
sehingga tampak menyempit. Palatum mole, arkus anterior dan arkus posterior juga
tampak udem dan hiperemis. Kelenjar submandibula yang terletak di belakang angulus
mandibula terlihat membesar dan ada nyeri tekan.
 Tonsilitis kronik: pada pemeriksaan fisik ditemukan tampak tonsil membesar dengan
permukaan yang tidak rata, kriptus melebar, dan kriptus berisi [Link] klinis pada
Tonsilitis Kronis yang sering muncul adalah kripta yang melebar, pembesaran kelenjar
limfe submandibula dan tonsil yang mengalami perlengketan. Tanda klinis tidak harus
ada seluruhnya, minimal ada kripta yang melebar dan pembesaran kelenjar limfe
submandibular.
 Tonsilitis difteri: pada pemeriksaan ditemukan tonsil membengkak ditutupi bercak putih
kotor yang makin lama makin meluas dan membentuk pseudomembran yang melekat erat
pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah.
 Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak antara
kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka
gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi:
o T0: tonsil masuk di dalam fossa atau sudah diangkat.
o T1: <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial
tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar anterior uvula.

40
o T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaringatau batas medial
tonsil melewati ¼ jarak pilar anterior-uvula sampai ½ jarak pilar anterior-uvula.
o T3: 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial
tonsil melewati ½ jarak pilar anterior-uvula sampai ¾ jarak pilar anterior-uvula.
o T4: > 75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring atau batas medial
tonsil melewati ¾ jarak pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih.

Gambar20. Gradasi pembesaran tonsil

Pemeriksaan Penunjang: bila diperlukan


1. Darah lengkap
2. Usap tonsil untuk pemeriksaan mikroskop dengan pewarnaan gram

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan untuk diagnosis
definitif dengan pemeriksaan penunjang.

Klasifikasi tonsilitis:
1. Tonsilitis Akut
a. Tonsilitis viral
Virus Epstein Barr adalah penyebab paling sering. Jika terjadi infeksivirus
coxschakie, maka pada pemeriksaan rongga mulut akan tampak luka-lukakecil pada
palatum dan tonsil yang sangat nyeri dirasakan pasien.
b. Tonsilitis bakterial
Peradangan akut tonsil yang dapat disebabkan oleh kuman grup A stereptococcus beta
hemoliticus yang dikenal sebagai strept throat, pneumococcus, streptococcus viridan
dan streptococcus [Link] merupakan penyebab tonsilitis
akut supuratif. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringantonsil akan menimbulkan
reaksi radang berupa keluarnya leukositpolimorfonuklear sehingga terbentuk detritus.
41
Masa inkubasi 2-4 hari.
2. Tonsilitis Membranosa
a. Tonsilitis difteri
Tonsilitis ini disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Tidak semua orang
yang terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung pada titer antitoksin
dalam darah. Titer antitoksin sebesar 0,03 sat/cc darah dapat dianggap cukup
memberikan dasar imunitas. Gejalanya terbagi menjadi 3 golongan besar, umum,
lokal dan gejala akibat eksotoksin. Gejala umum sama seperti gejala infeksi lain, yaitu
demam subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat dan
keluhan nyeri menelan. Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi
bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan membentuk pseudomembran
yang melekat erat pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Gejala
akibat endotoksin dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh, misalnya pada
jantung dapat terjadi miokarditis sampai dekompensasi kordis, pada saraf kranial
dapat menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot pernafasan, pesudomembran
yang meluas ke faringolaring dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas atas yang
merupakan keadaan gawat darurat serta pada ginjal dapat menimbulkan albuminuria.
b. Tonsilitis septik
Penyebab tonsilitis septik adalah Streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu
sapi sehingga menimbulkan epidemi. Oleh karena itu di Indonesia susu sapi dimasak
dulu dengan cara pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan.
c. Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa)
Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan
pada penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C.
d. Penyakit keganasan
Pembesaran tonsil dapat merupakan manifestasi dari suatu keganasan seperti limfoma
maligna atau karsinoma tonsil. Biasanya ditemukan pembesaran tonsil yang asimetris.
3. Tonsilitis Kronik
Tonsilitis kronik timbul karena rangsangan yang menahun dari rokok,beberapa jenis
makanan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahanfisik dan pengobatan
tonsilitis akut yang tidak adekuat.

Diagnosis Banding
1. Faringitis.
2. Tumor tonsil.

Komplikasi
1. Komplikasi lokal
o Abses peritonsil (Quinsy)
o Abses parafaringeal
o Otitis media akut
2. Komplikasi sistemik
42
o Glomerulonephritis
o Miokarditis
o Demam reumatik dan penyakit jantung reumatik

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
1. Istirahat cukup
2. Makan makanan lunak dan menghindari makan makanan yang mengiritasi
Menjaga kebersihan mulut
3. Pemberian obat topikal dapat berupa obat kumur antiseptik
4. Pemberian obat oral sistemik
- Pada tonsilitis viral istirahat, minum cukup, analgetika, antivirus diberikan bila gejala
berat. Antivirus metisoprinol (isoprenosine)diberikan pada infeksi virus dengan dosis
60-100mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari pada orang dewasa dan pada
anak <5tahun diberikan 50mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari.
- Tonsilitis akibat bakteri terutama bila diduga penyebabnya streptococcus group A,
diberikan antibiotik yaitu Penicillin G Benzatin 50.000 U/kgBB/IM dosis tunggal
atauAmoksisilin 50mg/kgBB dosis dibagi 3kali/hari selama 10 hari dan pada dewasa
3x500mgselama 6-10 hari atau eritromisin 4x500mg/hari. Selain antibiotik juga
diberikan kortikosteroidkarena steroid telah menunjukkan perbaikan klinis yang dapat
menekan reaksi inflamasi. Steroidyang dapat diberikan berupa deksametason 3x0,5
mg pada dewasa selama 3 hari dan pada anak-anak 0,01 mg/kgBB/hari dibagi 3 kali
pemberian selama 3 hari.
- Pada tonsilitis difteri, Anti Difteri Serum diberikan segera tanpa menunggu hasil
kultur, dengan dosis 20.000-100.000 unit tergantung umur dan jenis kelamin.
Antibiotik penisilin atau eritromisin 25-50 mg/kgBB/hari. Antipiretik untuk
simptomatis dan pasien harus diisolasi. Perawatan harus istirahat di tempat tidur
selama 2-3 minggu.
- Pada Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa) diberikan antibiotik
spektrum luas selama 1 minggu, dan pemberian vitamin C serta vitamin B kompleks.

Pengobatan tonsilitis kronik:


- Diberikan obat-obatan simptomatik dan obat kumur yang mengandung desinfektan.
- Indikasi tonsilektomi.

Indikasi Tonsilektomi
Menurut Health Technology Assessment, Kemenkes tahun 2004, indikasi tonsilektomi, yaitu:

43
Indikasi Absolut:
a. Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran nafas, disfagia berat,
gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmonar
b. Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase
c. Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
d. Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi

Indikasi Relatif:
a. Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat
b. Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis
c. Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptococcus yang tidak membaik dengan
pemberian antibiotik laktamase resisten.
Konseling & Edukasi
Memberitahu individu dan keluarga untuk:
a. Melakukan pengobatan yang adekuat karena risiko kekambuhan cukup tinggi.
b. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan olahraga teratur.
c. Berhenti merokok.
d. Selalu menjaga kebersihan mulut.
e. Mencuci tangan secara teratur.
f. Menghindari makanan dan minuman yang mengiritasi.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan


Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri.

Rencana Tindak Lanjut


Memberikan laporan ke dinkes setempat jika terdapat kasus tonsilitis difteri.

Kriteria Rujukan
Segera rujuk jika terjadi:
1. Komplikasi tonsilitis akut: abses peritonsiler, septikemia, meningitis, glomerulonephritis,
demam rematik akut.
2. Adanya indikasi tonsilektomi.
3. Pasien dengan tonsilitis difteri.

Sarana Prasarana
1. Lampu kepala
2. Spatula lidah
3. Lidi kapas
4. Pemeriksaan laboratorium sederhana
5. Larutan KOH
6. Pewarnaan gram
7. Termometer
44
8. Obat-obatan: antiviral, antibiotik, obat kumur antiseptic

Prognosis
Prognosis pada umumnya bonam jika pengobatan adekuat dan kebersihan mulut baik.

Referensi
1. Adam, GL. Boies LR. Higler. [Link] Ajar Penyakit THT. Ed. ke-6. Jakarta: EGC.
1997
2. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery. Ed. Ke-8. McGraw-Hill.
2003.
3. Rusmarjono. Soepardi, E.A. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi Adenoid dalam Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-6. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2007.

10. Laringitis

No. ICPC II:R77 Laryngitis/tracheitis acute


No. ICD X: J04.0 Acute laryngitis

Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan
Laringitis adalah peradangan pada laring yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau
[Link] juga merupakan akibat dari penggunaan suara yang berlebihan, pajanan
terhadap polutan eksogen, atau infeksi pada pita suara. Refluks gastroesofageal, bronkitis,
dan pneumonia juga dapat menyebabkan laringitis.

Laringitis pada anak sering diderita oleh anak usia 3 bulan hingga 3 tahun, dan biasanya
disertai inflamasi pada trakea dan bronkus dan disebut sebagai penyakit croup. Penyakit ini
seringkali disebabkan oleh virus, yaitu virus parainfluenza, adenovirus, virus influenza A dan
B, RSV, dan virus campak. Selain itu, M. pneumonia juga dapat menyebabkan croup.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang dengan keluhan suara serak atau hilang suara (afonia).
Gejala lainnya (croup), antara lain:
 Gejala lokal seperti suara parau, seperti suarayang kasar atau suara yang susah keluar atau
suara dengan nada lebih rendahdari suara yang biasa/normal bahkan sampai tidak
45
bersuara sama sekali(afoni). Hal ini terjadi karena gangguan getaran sertaketegangan
dalam pendekatan kedua pita suara kiri dan kanan.
 Sesak nafas dan stridor.
 Nyeri tenggorokan seperti nyeri ketika menelan atau berbicara.
 Gejala radang umum seperti demam, malaise.
 Batuk kering yang lama kelamaan disertai dengan dahak kental.
 Gejala common cold seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulitmenelan,
sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk dan demamdengan temperatur
yang tidak mengalami peningkatan dari 38o C.
 Obstruksi jalan nafas apabila ada udem laring diikuti udem subglotis yang terjadi dalam
beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak berupa anakmenjadi gelisah, nafas
berbunyi,air hunger, sesak semakin bertambah berat.
 Laringitis kronik ditandai dengan afonia yang persisten. Pada pagi hari, biasanya
tenggorokan terasa sakit namun membaik pada suhu yang lebih hangat. Nyeri
tenggorokan dan batuk memburuk kembali menjelang siang. Batuk ini dapat juga dipicu
oleh udara dingin atau minuman dingin.

Faktor Risiko
1. Penggunaan suara yang berlebihan.
2. Pajanan terhadap zat iritatif seperti asap rokok dan minum-minuman alkohol.
3. Adanya refluks gastroesofageal, bronkitis, dan pneumonia.
4. Rhinitis alergi.
5. Perubahan suhu yang tiba-tiba.
6. Malnutrisi.
7. Keadaan menurunnya sistem imun atau daya tahan tubuh.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan dengan laringoskopi indirek khusus untuk pasien dewasa untuk melihat daerah
laring dan sekitarnya.
 Pada pemeriksaan fisik akan tampak mukosa laring yang hiperemis,membengkak
terutama dibagian atas dan bawah pita suara.
 Biasanya terdapat tanda radang akut di hidung atau sinus paranasal
 Obstruksi jalan nafas apabila ada udem laring diikuti udem subglotis yang terjadi dalam
beberapa jam dan biasanya sering terjadi pada anak berupa anak menjadi gelisah,
stridor,air hunger, sesak semakin bertambah berat dengan retraksi suprasternal dan
epigastrium yang dapatmenyebabkan keadaan darurat medik yang dapat mengancam jiwa
anak.
 Pada laringitis kronik, dapat ditemukan nodul, ulkus dan penebalan mukosa pita suara.

46
Pemeriksaan Penunjang: bila diperlukan
- Foto rontgensoft tissue leher AP lateral: bisa tampak pembengkakan jaringan
subglotis(Steeple sign). Tanda ini ditemukan pada 50% kasus.
- Foto thorax AP.
- Pemeriksaan laboratorium darah lengkap.

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
jika diperlukan.

Klasifikasi:
1. Laringitis Akut
Laringitis akut adalah radang akut laring, dapat disebabkan oleh virus danbakteri.
Keluhan berlangsung <3 minggu dan pada umumnya disebabkanoleh infeksi virus
influenza (tipe A dan B), parainfluenza (tipe 1,2,3), rhinovirusdan adenovirus. Penyebab
lain adalah Haemofilus influenzae, Branhamellacatarrhalis, Streptococcus pyogenes,
Staphylococcus aureus dan Streptococcuspneumoniae.
2. Laringitis Kronik
Laringitis kronik dapat terjadi setelah laringitis akut yang berulang, dan juga dapat
diakibatkan oleh sinusitis kronis, deviasi septum berat, polip hidung, bronchitis
kronik,merokok, pajanan terhadap iritan yang bersifat konstan, dan konsumsi alkohol
berlebih. Tanda dari laringitis kronik ini yaitu nyeri tenggorokan yang tidak signifikan,
suara serak, dan terdapat edema pada laring. Mungkin juga disebabkan penyalahgunaan
suara (vocal abuse) seperti berteriak-teriak atau biasa bicara keras.
3. Laringitis Kronik Spesifik
a. Laringitis tuberkulosa
Penyakit ini disebabkan tuberkulosis paru. Setelah diobati, biasanya tuberkulosis paru
sembuh namun laringitis tuberkulosisnya menetap (membutuhkan pengobatan yang
lebih lama), karena struktur mukosa laring sangat lekat pada kartilago serta
vaskularisasi tidak sebaik paru.
Terdapat 4 stadium:
1. Stadium Infiltrasi
Mukosa laring membengkak, hiperemis (bagian posterior), dan pucat. Terbentuk
tuberkel di daerah submukosa, tampak sebagai bintik-bintik kebiruan. Tuberkel
membesar, menyatu sehingga mukosa di atasnya meregang. Bila pecah akan
timbul ulkus.
2. Stadium ulserasi
47
Ulkus membesar, dangkal, dasarnya ditutupi perkejuan dan terasa nyeri oleh
pasien
3. Stadium perikondritis
Ulkus makin dalam mengenai kartilago laring, paling sering terkena kartilago
aritenoid, dan epiglottis. Terbentuk nanah yang berbau sampai terbentuk
sekuester. Pada stadium ini keadaan pasien buruk dan dapat meninggal. Bila
bertahan maka berlanjut ke stadium akhir yaitu stadium fibrotuberkulosis
4. Stadium fibrotuberkulosis
Terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara, dan subglotik.
b. Laringitis luetika
Radang menahun ini jarang ditemukan. Pada penyakit laringitistergolong lues stadium
tersier yaitu stadium pembentukan guma yang dapat terjadi pada laring.

Diagnosis Banding
1. Benda asing pada laring
2. Faringitis
3. Bronkiolitis
4. Bronkitis
5. Pneumonia
6. Tumor pada laring

Komplikasi
1. Pneumonia
2. Bronkhitis

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
a. Istirahat yang cukup, terutama pada laringitis akibat virus. Istirahat ini juga meliputi
pengistirahatan pita suara.
b. Menghindari iritan yang memicu nyeri tenggorokan atau batuk.
c. Menghindari udara kering.
d. Minum cairan yang banyak.
e. Berhenti merokok dan konsumsi alkohol.
f. Bila diperlukan rehabilitasi suara (voice therapy).
g. Pengobatan simptomatik dapat diberikan dengan parasetamol atau ibuprofen sebagai
antipiretik jika pasien demam. Bila ada gejala nyeri tenggorokan dapat diberikan
analgetik dan bila hidung tersumbat dapat diberikan dekongestan nasal seperti
fenilpropanolamin (PPA), efedrin, pseudoefedrin.
h. Pemberian antibiotik dilakukan bila peradangan dari paru dan bila penyebab berupa
streptokokus grup A dapat ditemukan melalui kultur. Pada kasus ini, antibiotik yang
dapat digunakan yaitu penicillin
48
- Proton Pump Inhibitor pada laringitis dengan penyebab GERD (Laringofaringeal
refluks).
- Kortikosteroid dapat diberikan jika laringitis berat.
- Bila terdapat sumbatan laring dilakukan pemasangan pipa endotrakea, atau
trakeostomi.
- Laringitis tuberkulosa, sesuai dengan penyakit TBC diberikan obat antituberkulosa.
- Laringitis Luetika diberikan obat sesuai penyakit leutika, penisilin dengan dosis
tinggi.

Rencana Tindak Lanjut


Menindaklanjuti perbaikan pada laring dengan pemeriksaan laringoskopi indirek

Konseling & Edukasi


Memberitahu pasien dan keluarga untuk:
a. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan olahraga teratur.
b. Menghentikan merokok.
c. Mengistirahatkan pasien berbicara dan bersuara atau tidak bersuara berlebihan.
d. Menghindari makanan yang mengiritasi seperti makanan pedas dan minum es.
Pemeriksaan penunjang lanjutan
a. Kultur eksudat pada kasus laringitis yang lebih berat.
b. Biopsi, yang biasanya dilakukan pada pasien laringitiskronik dengan riwayat merokok
atau ketergantungan alkohol atau pada daerah yang dicurigai menyerupai tumor.

Kriteria Rujukan
Indikasi masuk rumah sakit apabila:
1. Usia penderita dibawah 3 tahun.
2. Terdapat tanda sumbatan jalan nafas.
3. Tampak toksik, sianosis, dehidrasi atau exhausted.
4. Curiga adanya tumor laring.
5. Perawatan dirumah kurang memadai.

SaranaPrasarana
1. Lampu kepala
2. Kaca laring
3. Obat-obatan: analgetik, antipiretik, dekongestan nasal, antibiotik

Prognosis
Prognosis pada umumnya dubia ad bonam.

Referensi
1. Adam, GL. Boies LR. Higler. [Link] Ajar Penyakit THT. Ed. ke-6. Jakarta: EGC.
1997.
49
2. Hermani,B. Abdurrachman, H. Cahyono, A. Kelainan Laring dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-6. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. 2007.
3. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery. Ed. Ke-8. McGraw-Hill.
2003.

11. Bronkitis Akut

No. ICPC II: R78 Acute bronckitis /bronchiolitis


No. ICD X: J20.9 Acute bronchitis, unspecified

Tingkat Kemampuan: 4A Masalah

Kesehatan
Bronkitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-paru). Radang dapat
berupa hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis berulang-ulang minimal selama 3
bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui
tidak terdapat penyebab lain. Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan
sembuh sempurna, namun pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya
penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat
[Link] 3 faktor utama yang mempengaruhi timbulnya bronchitis yaitu rokok, infeksi
daripolusi. Selain itu terdapat pula hubungan dengan faktor keturunan dan status sosial.

Bronkhitis akutadalah peradangan pada bronkus yang disebabkan oleh infeksi saluran napas
yang ditandai dengan batuk (berdahak maupun tidak berdahak) dan berlangsung hingga 3
minggu.

Bronkitis akut dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: infeksi virus, yang paling umum
influenza A dan B, parainfluenza, RSV, adenovirus, rhinovirus dan coronavirus; infeksi
bakteri, seperti yang disebabkan oleh Mycoplasma spesies, Chlamydia pneumoniae,
Streptococcus pneumoniae, Moraxella catarrhalis, dan Haemophilus influenzae; rokok dan
asap rokok; paparan terhadap iritasi, seperti polusi, bahan kimia, dan asap tembakau, juga
dapat menyebabkan iritasi bronkial akut; bahan-bahan yang mengeluarkan polusi; penyakit
gastrofaringeal refluk-suatu kondisi dimana asam lambung naik kembali ke saluran makan
(kerongkongan); pekerja yang terekspos dengan debu atau asap. Bronkitis akut dapat
dijumpai pada semua umur, namun paling sering didiagnosis pada anak-anak muda dari 5
tahun, sedangkan bronkitis kronis lebih umum pada orang tua dari 50 tahun.

50
Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Batuk (berdahak maupun tidak berdahak) selama 2-3 [Link] dapat berwarna jernih,
putih, kekuning-kuningan atau kehijauan. Keluhan disertai demam (biasanya ringan), rasa
berat dan tidak nyaman di dada.
Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis. Pada awalnya batuk tidak berdahak,
tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Selanjutnya
dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning atau hijau.
Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam
tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu.
Sesak nafas dan rasa berat bernapas terjadi jika saluran udara tersumbat, sering ditemukan
bunyi nafas mengi atau “ngik”, terutama setelah batuk. Bila iritasi saluran terjadi, maka dapat
terjadi batuk [Link] bisa menjadi pneumonia.
Riwayat penyakit biasanya ditandai batuk-batuk setiap hari disertai pengeluaran dahak,
sekurang-kurangnya 3 bulan berturut-turut dalam 1 tahun, dan paling sedikit selama 2 tahun.

Faktor Risiko:-

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)


Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan paru dapat ditemukan:
Pasien tampak kurus dengan barrel shape chest (diameter anteroposterior dada meningkat).
Fremitus taktil dada tidak ada atau berkurang.
Perkusi dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih rendah, tukak
jantung berkurang.
Suara nafas berkurang dengan ekpirasi panjang, terdapat ronki basah kasar yang tidak tetap
(dapat hilang atau pindah setelah batuk), wheezing dengan berbagai gradasi (perpanjangan
ekspirasi hingga ngik-ngik) dan krepitasi.

Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan sputum dengan pengecatan Gram akan banyak didapat leukosit PMN dan
mungkin pula bakteri.
 Foto thoraks pada bronkitis kronis memperlihatkan tubular shadow berupa bayangan
garis-garis yang paralel keluar dari hilus menuju apex paru dan corakan paru yang
bertambah.
 Tes fungsi paru dapat memperlihatkan obstruksi jalan napas yang reversibel dengan
menggunakan bronkodilator.

Penegakan Diagnostik (Assessment)

51
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang.

Diagnosis Banding
1. Epiglotitis, yaitu suatu infeksi pada epiglotis, yang bisa menyebabkan penyumbatan
saluran pernafasan.
2. Bronkiolitis, yaitu suatu peradangan pada bronkiolus (saluran udara yang merupakan
percabangan dari saluran udara utama), yang biasanya disebabkan oleh infeksi virus.
3. Influenza, yaitu penyakit menular yang menyerang saluran napas, dan sering menjadi
wabah yang diperoleh dari menghirup virus influenza.
4. Sinusitis, yaitu radang sinus paranasal yaitu rongga-rongga yang terletak disampig kanan
- kiri dan diatas hidung.
5. PPOK, yaitu penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran
napas yang bersifat progresif nonreversibel parsial.
6. Faringitis, yaitu suatu peradangan pada tenggorokan (faring) yang disebabkan oleh virus
atau bakteri.
7. Asma, yaitu suatu penyakit kronik (menahun) yang menyerang saluran pernafasan
(bronchiale) pada paru dimana terdapat peradangan (inflamasi) dinding rongga
bronchiale sehingga mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang akhirnya seseorang
mengalami sesak nafas.
8. Bronkiektasis, yaitu suatu perusakan dan pelebaran (dilatasi) abnormal dari saluran
pernafasan yang besar.

Komplikasi
- Bronkopneumoni.
- Pneumonia.
- Pleuritis.
- Penyakit-penyakit lain yang diperberat seperti:jantung.
- Penyakit jantung rematik.
- Hipertensi.
- Bronkiektasis

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
1. Memperbaiki kemampuan penderita mengatasi gejala-gejala tidak hanya pada fase akut,
tapi juga pada fase kronik, serta dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari sesuai dengan
pola kehidupannya.
2. Mengurangi laju perkembangan penyakit apabila dapat dideteksi lebih awal.
3. Oksigenasi pasien harus memadai.
4. Istirahat yang cukup.
52
5. Pemberian obat antitusif (penekan batuk): DMP (dekstromethorfan) 15 mg, diminum 2-3
kali sehari. Kodein (obat Doveri)dapat diberikan 10 mg, diminum 3 x/hari, bekerja
dengan menekan batuk pada pusat batuk di otak. Antitusif tidak dianjurkan pada
kehamilan, ibu menyusui dan anak usia 6 tahun ke bawah. Pada penderita bronkitis akut
yang disertai sesak napas, pemberian antitusif perlu umpan balik dari penderita. Jika
penderita merasa tambah sesak, maka antitusif dihentikan.
6. Pemberian ekspektoran (obat batuk pengencer dahak) yang lazim digunakan diantaranya:
GG (Glyceryl Guaiacolate), bromheksin, ambroksol, dan lain-lain.
7. Antipiretik (pereda panas): parasetamol (asetaminofen), dan sejenisnya, digunakan jika
penderita demam.
8. Bronkodilator (melonggarkan napas), diantaranya: salbutamol, terbutalin sulfat, teofilin,
aminofilin, dan lain-lain. Obat-obat ini digunakan pada penderita yang disertai sesak
napas atau rasa berat bernapas, sehingga obat ini tidak hanya untuk obat asma, tetapi
dapat juga untukbronkitis. Efek samping obat bronkodilator perlu diketahui pasien, yakni:
berdebar, lemas, gemetar dan keringat dingin.
9. Antibiotika hanya digunakan jika dijumpai tanda-tanda infeksi oleh kuman berdasarkan
pemeriksaan dokter. Antibiotik yang dapat diberikan antara lain: ampisilin, eritromisin,
atau spiramisin, 3 x 500 mg/hari.
10. Terapi lanjutan: jika terapi antiinflamasi sudah dimulai, lanjutkan terapi hingga gejala
menghilang paling sedikit 1 minggu. Bronkodilator juga dapat diberikan jika diperlukan.

Rencana Tindak Lanjut


Pasien kontrol kembali setelah obat habis, dengan tujuan untuk:
1. Mengevaluasi modifikasi gaya hidup.
2. Mengevaluasi terapi yang diberikan, ada atau tidak efek samping dari terapi.

Konseling & Edukasi


Memberikan saran agar keluarga dapat:
a. Mendukung perbaikan kemampuan penderita dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari
sesuai dengan pola kehidupannya.
b. Memotivasi pasien untuk menghindari merokok, menghindari iritan lainnya yang dapat
terhirup, mengontrol suhu dan kelembaban lingkungan, nutrisi yang baik, dan cairan yang
adekuat.
c. Mengidentifikasigejala efek samping obat, seperti bronkodilator dapat menimbulkan
berdebar, lemas, gemetar dan keringat dingin.

Kriteria Rujukan
Pada pasien dengan keadaan umum buruk, perlu dirujuk ke rumah sakit yang memadai untuk
monitor secara intensif dan konsultasi ke spesialis terkait.

Sarana Prasarana
1. Oksigen
53
2. Obat-obatan: Antipiretik, Antibiotik, Antitusif, Ekspektoran, Bronkodilator,
Antiinflamasi.

Prognosis
Prognosis umumnya dubia ad bonam, namun akan menjadi bonam bila pasien cepat
berkonsultasi ke dokter, melakukan tindakan konservatif yang disarankan dan meminum obat
yang diberikan dokter.
Prognosis jangka panjang maupun jangka pendek bergantung pada umur dan gejala klinik
waktu berobat.

Referensi
1. Carolin. Elizabeth, [Link] Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC. 2002.
2. Danusantoso. [Link] Saku Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: EGC.1998.
3. Harrison: Prinsip Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Edisi [Link] ketiga. Jakarta.2003.
4. Nastiti, N. [Link], B. Bronkitis Akut dalam Buku Ajar Respirologi Anak.
Edisi Pertama, cetakan kedua. 2010. Hal: 337.
5. Snell. Richard S. Anatomi Klinik Edisi 6. Jakarta: EGC. 2006.
6. Soeparman. Waspadji, [Link] Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta: Penerbit FKUI. 1998.

12. Influenza

No. ICPC II: R80 Influenza


No. ICD X: J11 Influenza, virus not identified

Tingkat Kemampuan: 4A Masalah

Kesehatan
Influenza, sering dikenal dengan flu adalah penyakit menular disebabkan oleh virus RNA
yaitu virus influenza A, B dan lebih jarang C. Virus influenza terus mengalami perubahan,
sehingga dalam beberapa waktu akan mengakibatkan wabah (pandemik) yang parah. Virus
ini menyerang saluran napas atas dan paru-paru.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Keluhan yang sering muncul adalah demam, bersin, batuk, sakit tenggorokan, hidung meler,
nyeri sendi dan badan, sakit kepala, lemah badan.

Faktor Risiko

54
1. Daya tahan tubuh menurun.
2. Kepadatan hunian dan kepadatan penduduk yang tinggi.
3. Perubahan musim/cuaca.
4. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
5. Usia lanjut.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Tanda Patognomonis
1. Febris.
2. Rinore.
3. Mukosa hidung edema.

Pemeriksaan penunjang: tidak diperlukan

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Penegakan diagnosis influenza membutuhkan ketelitian, karena keluhannya hampir sama
dengan penyakit saluran pernapasan lainnya.
Influenza dapat didiagnosisberdasarkan4 kriteria berikut:
1. Terjadi tiba-tiba/akut.
2. Demam.
3. Gejala saluran pernapasan seperti batuk, tidak ada lokasi spesifik dari keluhan yang
timbul.
4. Terdapat penyakit serupa di lingkungan penderita.

Ketika terdapat kasus influenza di masyarakat, semua pasien dengan keluhan influenza harus
didiagnosis secara klinis. Pasien disarankan kembali untuk tindak lanjut jika keluhan yang
dialami bertambah buruk atau tidak ada perbaikan dalam waktu 72 jam.

Diagnosis Banding
1. Faringitis
2. Tonsilitis
3. Laringitis

Komplikasi
1. Infeksi sekunder oleh bakteri
2. Pneumonia

55
Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
 Tatalaksana influenza umumnya tanpa obat(self-limited disease). Hal yang perlu
ditingkatkan adalah daya tahan tubuh. Tindakan untuk meringankan gejala flu adalah
beristirahat 2-3 hari, mengurangi kegiatan fisik berlebihan, meningkatkan gizi makanan
dengan makanan berkalori dan protein tinggi, serta buah-buahan yang tinggi vitamin.
 Terapi simptomatik per oral
- Antipiretik. Pada dewasa yaitu parasetamol 3-4 x 500 mg/hari (10-15 mg/kgBB), atau
ibuprofen 3-4 x 200-400 mg/hari (5-10 mg/kgBB).
- Dekongestan, seperti pseudoefedrin (60 mg setiap 4-6 jam)
- Antihistamin, seperti klorfeniramin 4-6 mg sebanyak 3-4 kali/hari, atau difenhidramin,
25-50 mg setiap 4-6 jam, atau loratadin atau cetirizine 10 mg dosis tunggal (pada anak
loratadin 0,5 mg/kgBB dan cetirizine 0,3 mg/kgBB).
- Dapat pula diberikan antitusif atau ekspektoran bila disertai batuk.

Konseling & Edukasi


1. Edukasi
a. Edukasi terutama ditujukan untuk individu dan lingkungannya. Penyebaran penyakit
ini melalui udara sehingga lingkungan rumah harus memenuhi persyaratan rumah
sehat terutama ukuran jendela untuk pencahayaan dan ventilasi serta kepadatan
hunian. Untuk mencegah penyebaran terhadap orang-orang terdekat perlu diberikan
juga edukasi untuk memutuskan mata rantai penularan seperti etika batuk dan
pemakaian masker.
b. Selain edukasi untuk individu, edukasi terhadap keluarga dan orang-orang terdekat
juga penting seperti peningkatan higiene dan sanitasi lingkungan
2. Pencegahan
a. Imunisasi influenza, terutama bagi orang-orang risiko tinggi.
b. Harus diwaspadai pasien yang baru kembali dari daerah terjangkit epidemi influenza

Rujukan
Bila didapatkan tanda-tanda pneumonia (panas tidak turun 5 hari disertai batuk purulen dan
sesak napas)

Prognosis
Prognosis pada umumnya bonam

Sarana Prasarana
-

56
Referensi
1. Braunwald, E. Fauci, A.S. Kasper, D.L. Hauser, [Link] al. Harrisson’s: Principle of
Internal Medicine. 17thed. New York: McGraw-Hill Companies. 2009. p: 1006 - 1020.
2. WHO. Pedoman Interim WHO. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran
Pernapasan Atas yang Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan. 2007.

57
13. Pneumonia Aspirasi

No. ICPC II: R99 Respiratory disease other


No. ICD X: J69.0 Pneumonitis due to food and vomit

Tingkat Kemampuan: 3B Masalah

Kesehatan
Pneumonia aspirasi (Aspiration pneumonia) adalah pneumonia yang disebabkan oleh
terbawanya bahan yang ada diorofaring pada saat respirasi ke saluran napas bawah dan dapat
menimbulkan kerusakan parenkim paru.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien mendadak batuk dan sesak napas sesudah makan atau minum. Umumnya pasien
datang 1-2 minggu sesudah aspirasi, dengan keluhan demammengigil, nyeri pleuritik, batuk,
dan dahak purulen berbau.

Faktor Risiko: -

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
 Pasien tampak sesak napas, dapat terjadi sianosis, adanya napas cuping hidung dan
pengunaan otot bantu napas serta tampak retraksi iga.
 Pemeriksaan fisik tergantung pada luas lesi di paru.
 Pada pemeriksaan terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas.
 Fremitus raba meningkat disisi yang sakit.
 Pada perkusi ditemukan redup.
 Dapat ditemukan pernapasan bronkial, ronki basah halus.
 Dapat terdengar bising gesek pleura (pleural friction rub).

Pemeriksaan Penunjang
- Foto rontgen toraks.
- Pemeriksaan laboratorium darah lengkap.

58
Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan foto rontgen toraks.

Diagnosis Banding: -

Komplikasi
1. Gagal napas
2. Syok sepsis
3. Empiema
4. Abses

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
 Pemberian oksigenasi: dapat diberikan oksigen nasal atau masker, monitor dengan pulse
oxymetri.
 Pemberian cairan dan kalori yang cukup (bila cairan parenteral). Jumlah cairan sesuai
berat badan, peningkatan suhu dan derajat dehidrasi.
 Bila sesak tidak terlalu hebat dapat dimulai melalui enteral bertahap melalui selang
nasogatrik.
 Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal.
 Koreksi kelainan asam basa atau elektrolit yang terjadi.
 Pemilihan antibiotik berdasarkan umur, keadaan umum penderita dan dugaan
penyebabnya. Evaluasi pengobatan dilakukan 48-72 jam. Bila tidak ada perbaikan klinis
dilakukan penggantian antibiotik sampai anak dinyatakan sembuh, dengan lama
permberian tergantung dari kemajuan klinis penderita, hasil laboaratorium, foto thoraks
dan jenis kuman penyebabnya. Biasanya antibiotik yang diberikan yaitu beta-laktam,
ampisilin, atau amoksisilin, yang dikombinasi dengan kloramfenikol atau diberikan
sefalosporin generasi ketiga. Biasanya pemberian antibiotik lebih baik diberikan secara
intravena.

Kriteria Rujukan
Apabila terdapat indikasi untuk dirawat di RS. Pada pasien anak, yaitu:
1. Ada kesukaran napas.
2. Sianosis.
3. Umur kurang dari 6 bulan.
4. Ada penyulit misalnya: muntah, dehidrasi, empiema.
5. Diduga infeksi oleh Staphylococcus.

59
6. Imunokompromais.
7. Perawatan di rumah kurang baik.
8. Tidak respon dengan pemberian antibiotik oral.

SaranaPrasarana
1. Tabung oksigen beserta nasal kanul atau masker
2. Cairan parenteral
3. Obat antibiotik

Prognosis
Prognosis pada umumnya bonam.

Referensi
1. Rahajoe, N.N. Supriyanto, B, Setyanto, D.B. Pneumonia dalam Respirologi Anak. Ikatan
Dokter Anak Indonesia. Ed 1. Jakarta: Badan penerbit IDAI.2008.
2. Sudoyo, A. Setiyohadi, B. Alwi, I. dkk. Pneumonia Bentuk Khususdalam: Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid II. Edisi IV. Jakarta: FKUI. 2006.

14. Pneumonia dan Bronkopneumonia

No. ICPC II: R81 Pneumonia


No. ICD X: J18.9 Pneumonia, unspecified

Tingkat Kemampuan: 4A Masalah

Kesehatan
Pneumonia adalah suatu peradangan/ inflamasi parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, sertamenimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. Pneumonia disebabkan oleh
mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Pneumonia yang dimaksud di sini tidak
termasuk dengan pneumonia yang disebabkan oleh Mycobacteriumtuberculosis.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Gambaran klinik biasanya ditandai dengan:
1. batuk dengan dahak mukoid atau purulen kadang-kadang disertai darah
2. sesak napas
3. demam tinggi
60
4. nyeri dada

Faktor Risiko
1. Umur, lebih rentan pada usia >65 tahun.
2. Infeksi saluran napas atas yang tidak ditangani.
3. Merokok.
4. Penyakit penyerta: DM, PPOK, gangguan neurologis, gangguan kardiovaskuler.
5. Terpajan polutan/ bahan kimia berbahaya.
6. Tirah baring lama.
7. Imunodefisiensi, dapat disebabkan oleh penggunaan steroid jangka panjang, malnutrisi,
HIV.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan FisikPatognomonis
1. Pasien tampak sakit berat, kadang disertai sianosis
2. Suhu tubuh meningkat dan nadi cepat.
3. Respirasi meningkat tipe cepat dan dangkal.
4. Sianosis.
5. Nafas cuping hidung.
6. Retraksi interkostalis disertai tanda pada paru, yaitu:
 Inspeksi dapat terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas.
 Palpasi fremitus dapat meningkat,
 Perkusi redup,
 Auskultasi terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin
disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar pada stadium
resolusi.

Pemeriksaan Penunjang
1. Thorax foto PA terlihat perselubungan pada daerah yang terkena.
2. Laboratorium
 Leukositosis (10.000-15.000/mm3) dengan hitung jenis pergeseran ke kiri (neutrofil
batang tinggi). Leukosit <3.000/mm3, prognosisnya buruk.
 Analisa sputum adanya jumlah leukosit bermakna.
 Gram Sputum.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Untuk Diagnosis
defenitif dilakukan pemeriksaan penunjang.
61
Kriteria Diagnosis pneumonia dengan Trias Pneumonia, yaitu:
1. Batuk
2. Demam
3. Sesak

Klasifikasi
1. Berdasarkan klinis dan epideologis, pneumonia dibedakan menjadi:
a. Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
b. Pneumonia nasokomial (hospital-acqiured pneumonia / nosocomial pneumonia)
c. Pneumonia aspirasi
d. Pneumonia pada penderita Immunocompromised
2. Berdasarkan bakteri penyebab
a. Pneumonia bakterial / tipikal.
b. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia.
c. Pneumonia virus.
d. Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder.
3. Berdasarkan predileksi infeksi
a. Pneumonia lobaris.
b. Bronkopneumonia.
c. Pneumonia interstisial

Diagnosis Banding
1. Bronkitis Akut
2. Pleuritis eksudatif karena TB
3. Ca paru
4. Infark paru

Komplikasi
1. Efusi pleura.
2. Empiema.
3. Abses paru
4. Pneumotoraks
5. Gagal napas.
6. Sepsis.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
 Pengobatan suportif seperti istirahat di tempat tidur dan minum secukupnya untuk
mengatasi dehidrasi.
 Terapi definitif dapat dilakukan menggunakan antibiotik sebagai berikut:
62
b. Penisilin sensitif Streptococcus pneumonia (PSSP), yaitu:
- Golongan Penisilin: penisilin V, 4x250-500 mg/hari (anak 25-50 mg/kbBB dalam
4 dosis), amoksisilin 3x250-500 mg/hari (anak 20-40 mg/kgBB dalam 3 dosis),
atau sefalosporin golongan 1 (sefadroksil 500-1000mg dalam 2 dosis, pada anak
30 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis)
- TMP-SMZ
- Makrolid
c. Penisilin resisten Streptococcus pneumoniae (PRSP),yaitu:
- Betalaktam oral dosis tinggi (untuk rawat jalan), Sefotaksim, Seftriakson dosis
tinggi.
- Makrolid: azitromisin 1x500 mg selama 3 hari (anak 10 mg/kgBB/hari dosis
tunggal).
- Fluorokuinolon respirasi: siprofloksasin 2x500 mg/hari.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (bila diperlukan)


 Kultur sputum
 Kultur darah

Konseling & Edukasi


1. Edukasi
Edukasi diberikan kepada individu dan keluarga mengenai pencegahan rekurensi dan pola
hidup sehat, termasuk tidak merokok.
2. Pencegahan
Dilakukan dengan vaksinasi, terutama bagi golongan risiko tinggi, seperti orang usia
lanjut, atau penderita penyakit kronis. Vaksin yang dapat diberikan adalah
vaksinasiinfluenza (HiB) dan vaksin pneumokokal.

Kriteria Rujukan
 Kriteria CURB (Conciousness, kadar Ureum, Respiratory rate>30 x/m,Blood
pressure:Sistolik <90 mmHg dan diastolik <60 mmHg; masing masing bila ada kelainan
bernilai 1). Dirujuk bila total nilai 2.
 Untuk anak, kriteria rujukan memakai Manajemen Terpadu pada Balita Sakit (MTBS).

Sarana Prasarana
1. Laboratorium untuk pemeriksaan sputum, darah rutin.
2. Radiologi.

Prognosis
Prognosis umumnya bonam, namun tergantung dari faktor penderita, bakteri penyebab dan
penggunaan antibiotik yang tepat dan adekuat

63
Referensi
1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Komuniti. Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta. 2003.
2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Nosokomial. Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta. 2005.

15. Pertusis

No. ICPC II: R71 Whooping cough


No. ICD X: A37.8 Whooping cough, Bordetella bronchiseptica

Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan
Pertusis adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang sangat menular ditandai dengan
suatu sindrom yang berupa batuk yang bersifat spasmodik dan paroksismal disertai nada yang
meninggi karena penderita berupaya keras untuk menarik nafas sehingga pada akhir batuk
sering disertai bunyi yang khas (whoop).

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Perjalanan klinis pertusis yang dibagi menjadi 3 stadium yaitu:
1. Stadium Kataralis (stadium prodormal)
Lamanya 1-2 minggu. Gejalanya berupa : infeksi saluran pernafasan atas ringan, panas
ringan, malaise, batuk, lacrimasi, tidak nafsu makan dan kongesti nasalis.
2. Stadium Akut paroksismal (stadium spasmodik)
Lamanya 2-4 minggu atau lebih. Gejalanya berupa : batuk sering 5-10 kali, selama batuk
pada anak tidak dapat bernafas dan pada akhir serangan batuk pasien menarik nafas
dengan cepat dan dalam sehingga terdengar yang berbunyi melengking (whoop), dan
diakhiri dengan muntah.
3. Stadium konvalesen
Ditandai dengan berhentinya whoop dan muntah. Batuk biasanya menetap untuk beberapa
waktu dan akan menghilang sekitar 2-3 minggu.

Faktor Risiko
1. Siapa saja dapat terkena pertusis.
2. Orang yang tinggal di rumah yang sama dengan penderita pertusis.

64
3. Imunisasi amat mengurangi risiko terinfeksi, tetapi infeksi kembali dapat terjadi.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Tanda Patognomonis
1. Batuk berat yang berlangsung lama
2. Batuk disertai bunyi „whoop‟
3. Muntah
4. Sianosis

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan apus darah tepi, ditemukan leukosistosis dan limfositosis relatif
2. Kultur

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang.

Kriteria :
1. Terdeteksinya Bordatella pertusis dari spesimen nasofaring
2. Kultur swab nasofaring ditemukan Bordatella pertusis

Komplikasi
1. Pneumonia
2. Encephalitis
3. Malnutrisi

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
a. Pemberian makanan yang mudah ditelan, bila pemberian muntah sebaiknya berikan
cairan elektrolit secara parenteral.
b. Pemberian jalan nafas.
c. Oksigen
d. Pemberian farmakoterapi:
 Antibiotik: Eritromisin 30 – 50 mg/kgBB 4 x sehari
 Antitusif: Kodein 0,5 mg/tahun/kali dan
 Salbutamol dengan dosis 0,3-0,5 mg perkg BB/hari 3x sehari.

65
Konseling & Edukasi
a. Edukasi: Edukasi diberikan kepada individu dan keluarga mengenai pencegahan
rekurensi.
b. Pencegahan: Imunisasi dasar lengkap harus diberikan pada anak kurang dari 1 tahun.

Kriteria Rujukan: -

Sarana Prasarana
1. Tabung dan selang/sungkup oksigen
2. Cairan elektrolit parenteral
3. Obat-obatan: Eritromisin, Kodein dan Salbutamol

Prognosis
Prognosis umumnya bonam, namun dapat terjadi berulang (dubia ad bonam)
Sanationam: Dubia ad bonam.

Referensi
1. Adam, G.L. Boies L.R. Higler. [Link] Ajar Penyakit THT. Ed. ke-6. Jakarta: EGC.
1997.
2. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery. Ed. Ke-8. McGraw-Hill.
2003.

16. Asma Bronkial

No. ICPC II: R96 Asthma


No. ICD X: J45 Asthma
Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan
Asma bronkial adalah gangguan inflamasikronik saluran napas yang melibatkan banyak sel
inflamasi dan mediator. Inflamasikronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas
terhadap bermacam-macam stimulus dan penyempitan jalan napas yang menimbulkan gejala
episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama
pada malam dan atau dini hari. Derajat penyempitan bervariasi yang dapat membaik secara
spontan dengan pengobatan.

66
Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang karena:
1. Sesak napas yang episodik.
2. Batuk-batuk berdahak yang sering memburuk pada malamdan pagi hari menjelang subuh.
Batuk biasanya terjadi kronik.
3. Mengi.

Faktor Risiko
1. Faktor Pejamu
Ada riwayatatopipadapenderitaataukeluarganya,hipersensitifsaluran napas, jenis kelamin,
ras atau etnik.
2. Faktor Lingkungan
a. Bahan-bahan di dalam ruangan: tungau, debu rumah, binatang, kecoa.
b. Bahan-bahan di luar ruangan: tepung sari bunga, jamur.
c. Makanan-makanan tertentu: bahan pengawet, penyedap dan pewarna makanan.
d. Obat-obatan tertentu.
e. Iritan: parfum, bau-bauan merangsang.
f. Ekspresi emosi yang berlebihan.
g. Asap rokok.
h. Polusi udara dari luar dandalamruangan.
i. Infeksisalurannapas.
j. Exercise-inducedasthma (asma kambuh ketika melakukan aktivitas fisik tertentu).
k. Perubahan cuaca.

Hasil Pemeriksaan Fisikdan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Tanda Patognomonis
1. Sesak napas.
2. Mengi pada auskultasi.
3. Pada serangan berat digunakan otot bantu napas (retraksi supraklavikula, interkostal,
dan epigastrium).

Faktor Predisposisi
Riwayat bronchitis ataupneumoni yang berulang

Pemeriksaan Penunjang
1. ArusPuncakEkspirasi(APE) menggunakanPeak Flowmeter
2. Pemeriksaan darah (eosinofil dalam darah)

67
Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang, yaitu terdapatkenaikan≥15 % rasioAPE sebelumdansesudahpemberianinhalasi
salbutamol.

Klasifikasi

Catatan: bilaspirometritersediadigunakan penilaianVEP1

Diagnosis Banding
1. Obstruksi jalan napas.
2. Bronkitis kronik.
3. Bronkiektasis.
Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
 Pasien disarankan untuk mengidentifikasi serta mengendalikan faktor pencetusnya.
 Perlu dilakukan perencanaan dan pemberianpengobatanjangka panjang serta
menetapkanpengobatanpadaseranganakut sesuai tabel di bawah ini.

Table 38. Penatalaksanaan asma berdasarkan beratnya keluhan

68
Semua tahapan : ditambahkan agonis beta-2 kerja singkat untuk pelega bila dibutuhkan,
tidak melebihi 3-4 kali sehari
Berat Asma Medikasi pengontrol Alternatif / Pilihan lain Alternatif lain
harian
Asma Intermiten Tidak perlu ---- ----
Asma Persisten Glukokortikosteroid • Teofilin lepas lambat
Ringan inhalasi • Kromolin
(200-400 µg BB/hari • Leukotrienemodifiers ----
atau ekuivalennya)
Asma Persisten Kombinasi inhalasi • Glukokortikosteroid • Ditambah agonis
Sedang glukokortikosteroid inhalasi (400-800 beta-2 kerja lama
(400- 800 µg µg BB atau oral, atau
BB/hari atau ekuivalennya) • Ditambah teofilin
ekuivalennya) dan ditambah Teofilin lepas lambat
agonis beta-2 kerja lepas lambat, atau
lama • Glukokortikosteroid
inhalasi (400-800
µg BB/hari atau
ekuivalennya)
ditambah agonis
beta-2 kerja lama
oral, atau
• Glukokortikoste
roid inhalasi
dosis tinggi
(>800 µg BB
atau
ekuivalennya)
atau
• Glukokortikosteroid
inhalasi (400-800
µg BB atau
ekuivalennya)
ditambahleukotriene
modifiers
Asma Persisten Kombinasi inhalasi Prednisolon/
Berat glukokortikosteroid (> metilprednisolon oral
800 µg BB atau selang sehari 10 mg
ekuivalennya) dan ditambah agonis beta-2
agonis beta-2 kerja kerja lama oral,
lama. Diambah ≥ 1 di ditambah teofilin lepas
bawah ini : lambat
- teofilin lepas lambat
- leukotriene modifiers
- glukokortikosteroid
oral
Semua tahapan : Bila tercapai asma terkontrol, pertahankan terapi paling tidak 3 bulan,
kemudian turunkan
bertahap sampai mencapai terapi seminimal mungkin dengan kondisi asma tetap
terkontrol

Penatalaksanaan asma berdasarkan beratnya keluhan


69
Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (bila diperlukan)
a. Fototoraks
b. Ujisensitifitaskulit
c. Spirometri
d. UjiProvokasiBronkus

Komplikasi
1. Pneumotoraks.
2. Pneumomediastinum.
3. Gagalnapas.
4. Asmaresistenterhadap steroid.

Konseling & Edukasi


 Memberikan informasi kepada individu dan keluarga mengenai selukbelukpenyakit,
sifatpenyakit, perubahanpenyakit (apakahmembaikataumemburuk), jenis dan mekanisme
kerja obat-obatan dan mengetahui kapanharusmemintapertolongandokter.
 Kontrolsecarateratur antara lain untuk menilai dan monitor berat asma secara berkala
(asthma control test/ ACT)
 Polahidupsehat.
 Menjelaskan pentingnya melakukan pencegahan dengan:
- Menghindarisetiappencetus.
- Menggunakanbronkodilator/steroid inhalasisebelummelakukan exercise
untukmencegahexercise induced asthma.

Kriteria rujukan
1. Bila sering terjadi eksaserbasi.
2. Padaserangan asma akut sedangdanberat.
3. Asma dengan komplikasi.

Catatan
Persiapan dalam melakukan rujukan bagi pasienasma, yaitu:
1. Terdapat oksigen.
2. Pemberian steroid sistemik injeksi atau inhalasi disamping pemberian bronkodilator kerja
cepat inhalasi.
3. Pasien harus didampingi oleh dokter/tenaga kesehatan terlatih selama perjalanan menuju
ke pelayanan sekunder.

70
Sarana Prasarana
1. Tabung oksigen
2. Peak flow rate meter
3. Nebulizer

Prognosis
Prognosis pada umumnya bonam

Referensi
Braunwald, E. Fauci, A.S. Kasper, D.L. Hauser, [Link] al. Harrisson’s: Principle of Internal
Medicine. 17thed. New York: McGraw-Hill Companies. 2009.

D. KULIT

17. Skabies

No. ICPC II: S72Scabies/other acariasis


No. ICD X: B86 Scabies

Tingkat Kemampuan: 4A Masalah

Kesehatan
Skabies adalah penyakit yang disebabkan infestasi dan sensitisasi kulit oleh tungau Sarcoptes
scabiei dan produknya.
Penularan terjadi, karena:
- Kontak langsung kulit dengan kulit penderita skabies, seperti menjabat tangan, hubungan
seksual, tidur bersama
- Kontak tidak langsung (melalui benda), seperti penggunaan perlengkapan tidur bersama
dan saling meminjam pakaian, handuk dan alat-alat pribadi lainnya miliki alat-alat pribadi
sendiri sehingga harus berbagi dengan temannya.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Gejala klinis:
1. Pruritus nokturna, yaitu gatal yang hebat terutama pada malam hari atau saat penderita
berkeringat.

71
2. Lesi timbul di stratum korneum yang tipis, seperti di sela jari, pergelangan tangan dan
kaki, aksila, umbilikus, areola mammae dan di bawah payudara (pada wanita) serta
genital eksterna (pria).

Faktor Risiko:
- Masyarakat yang hidup dalam kelompok yang padat seperti tinggal di asrama atau
pesantren.
- Higiene yang buruk.
- Sosial ekonomi rendahseperti di panti asuhan, dll.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Lesi kulit berupa terowongan (kanalikuli) berwarna putih atau abu-abu dengan panjang rata-
rata 1 cm. Ujung terowongan terdapat papul, vesikel, dan bila terjadi infeksi sekunder, maka
akan terbentuk pustul, ekskoriasi, dsb. Pada anak-anak, lesi lebih sering berupa vesikel
disertai infeksi sekunder akibat garukan sehingga lesi menjadi bernanah.

Gambar27. Skabies

Sumber: [Link]

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan mikroskopis dari kerokan kulit untuk menemukan tungau.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Terdapat 4 tanda cardinal untuk diagnosis skabies, yaitu:


1. Pruritus nokturna
2. Menyerang manusia secara berkelompok
72
3. Adanya gambaran polimorfik pada daerah predileksi lesi di stratum korneum yang tipis
(sela jari, pergelangan volar tangan dan kaki, dsb)
4. Ditemukannya tungau dengan pemeriksaan mikroskopis.
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda tersebut.

Diagnosis Banding
Skabies adalah penyakit kulit yang disebut dengan the great imitator dari kelainan kulit
dengan keluhan gatal. Diagnosis bandingnya adalah:
1. Pioderma
2. Impetigo
3. Dermatitis
4. Pedikulosis korporis

Komplikasi
Infeksi kulit sekunder terutama oleh S. aureus sering terjadi, terutama pada anak. Komplikasi
skabies dapat menurunkan kualitas hidup dan prestasi belajar.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
 Melakukan perbaikan higiene diri dan lingkungan, dengan:
1. Tidak menggunakan peralatan pribadi secara bersama-sama dan alas tidur diganti bila
ternyata pernah digunakan oleh penderita skabies.
2. Menghindari kontak langsung dengan penderita skabies.
 Terapi tidak dapat dilakukan secara individual melainkan harus serentak dan menyeluruh
pada seluruh kelompok orang yang ada di sekitar penderita skabies. Terapi diberikan
dengan salah satu obat topikal (skabisid) di bawah ini:
1. Salep 2-4 dioleskan di seluruh tubuh, selama 3 hari berturut-turut, dipakai setiap habis
mandi.
2. Krim permetrin 5%di seluruh tubuh. Setelah 10 jam, krim permetrin dibersihkan
dengan sabun.
Terapi skabies ini tidak dianjurkan pada anak < 2 tahun.

Konseling & Edukasi


Dibutuhkan pemahaman bersama agar upaya eradikasi skabies bisa melibatkan semua pihak.
Bila infeksi menyebar di kalangan santri di sebuah pesantren, diperlukan keterbukaan dan
kerjasama dari pengelola pesantren. Bila sebuah barak militer tersebar infeksi, mulai dari
prajurit sampai komandan barak harus bahu membahu membersihkan semua benda yang
berpotensi menjadi tempat penyebaran penyakit.

Kriteria Rujukan
Pasien skabies dirujuk apabila keluhan masih dirasakan setelah 1 bulan pasca terapi
73
Sarana Prasarana
1. Lup
2. Laboratorium sederhana untuk pemeriksaan sediaan langsung

Prognosis
Prognosis umumnya bonam, namun tatalaksana harus dilakukan juga terhadap
lingkungannya.

Referensi
1. Djuanda, A. Hamzah, M. Aisah, S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, 5th Ed.
Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2007.
2. James, W.D. Berger, T.G. Elston, D.M. Andrew’s Diseases of the Skin: Clinical
Dermatology. 10th Ed. Saunders Elsevier. Canada. 2000.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Pedoman Pelayanan Medik. 2011.

E. KARDIOVASKULAR

18. Hipertensi Esensial

No ICPC II: K86 Hypertension uncomplicated


No ICD X: I10 Essential (primary) hypertension

Tingkat Kemampuan: 4A Masalah

Kesehatan
Hipertensi adalah kondisi terjadinya peningkatan tekanan darahsistolik lebih dari ≥ 140
mmHg dan atau diastolik ≥ 90 mmHg.

Kondisi ini sering tanpa gejala. Peningkatan tekanan darah yang tidak terkontrol dapat
mengakibatkan komplikasi, seperti stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan
kerusakan ginjal.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Mulai dari tidak bergejala sampai dengan bergejala.
Keluhan hipertensi antara lain: sakit/nyeri kepala, gelisah, jantung berdebar-debar, pusing,
leher kaku, penglihatan kabur, dan rasa sakit di [Link] tidak spesifik antara lain tidak
nyaman kepala, mudah lelah dan impotensi.
74
Faktor Risiko
Faktor risiko dibedakan dalam 2 kelompok, yaitu kelompok yang dapat dimodifikasi dan
yang tidak dapat dimodifikasi.

Hal yang tidak dapat dimodifikasi adalah umur, jenis kelamin, riwayat hipertensi dan
penyakit kardiovaskular dalam keluarga.

Hal yang dapat dimodifikasi, yaitu:


 Riwayat pola makan (konsumsi garam berlebihan).
 Konsumsi alkohol berlebihan.
 Aktivitas fisik kurang.
 Kebiasaan merokok.
 Obesitas.
 Dislipidemia.
 Diabetus Melitus.
 Psikososial dan stres.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana(Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pasien tampak sehat, dapat terlihat sakit ringan-berat. Tekanan darah meningkat (sesuai
kriteria JNC VII). Nadi tidak normal. Pada pasien dengan hipertensi, wajib diperiksa status
neurologis, akral, dan pemeriksaan fisik jantungnya (JVP, batas jantung, dan rochi).

Pemeriksaan Penunjang
Urinalisis (proteinuri atau albuminuria), tes gula darah, tes kolesterol (profil lipid), ureum
kreatinin, funduskopi, EKG dan foto thoraks.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

75
Fa
Tabel23. Klasifikasi tekanan darah berdasarkan Joint National Committee VII (JNC VII)

Klasifikasi TD Sistolik TD Diastolik


Normal < 120 mmHg < 80 mm Hg
Pre-Hipertensi 120-139 mmHg 80-89 mmHg
Hipertensi stage -1 140-159 mmHg 80-99 mmHg
Hipertensi stage -2 ≥ 160 mmHg ≥ 100 mmHg

Diagnosis Banding
1. Proses akibat white coat hypertension.
2. Prosesakibat obat.
3. Nyeri akibat tekanan intraserebral.
4. Ensefalitis.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
 Peningkatan tekanan darah dapat dikontrol dengan perubahan gaya hidup.

Tabel24. Modifikasi gaya hidup

Rerata
Modifikasi Rekomendasi penurunan TDS
Penurunan Jaga berat badan ideal (BMI: 18,5 - 5 – 20 mmHg/ 10
berat badan 24,9 kg/m2) kg

Dietary Diet kaya buah, sayuran, produk 8 – 14 mmHg


Approaches to rendah lemak dengan jumlah lemak
Stop total dan lemak jenuh yang rendah
Hypertension
(DASH)
Pembatasan Kurangi hingga <100 mmol per hari 2 – 8 mmHg
intake natrium (2.0 g natrium atau 6 5 g natrium
klorida atau 1 sendok teh garam
perhari)

Aktivitas Aktivitas fisik aerobik yang teratur 4 – 9 mmHg


fisik aerobic (mis: jalan cepat) 30 menit sehari,
hampir setiap hari dalam seminggu

76
Pembatasan Laki-laki: dibatasi hingga < 2 kali per 2 – 4 mmHg
konsumsi alcohol hari.
Wanita dan orang yang lebih kurus:
Dibatasi hingga <1 kali per hari

77
Modifikasi gaya
hidup

Target tekanan darah tidak tercapai


<140/90 mmHg, ATAU <130/80 mmHg pada
pasien DM, penyakit ginjal kronik, memiliki > 3
faktor risiko, ada penyakit tertentu

Obat-obatan
inisial

Tanpa indikasi Dengan indikasi


khusus khusus

Stage I Stage II Obat-obatan untuk


indikasi khusus tersebut
Diuretik tiazid, Kombinasi 2 obat
dapat
dipertimbangkan Biasanya diuretik ditambah obat
ACEi, BB, CCB, dengan ACEi, BB,
atau kombinasi antihipertensi lain
atau CCB
(diuretik, ACEi, BB, CCB)
sesuai kebutuhan

Target tekanan darah


belum tercapai

Optimalkan dosis atau tambahkan obat


antihipertensi lain. Pertimbangkan
konsultasi dokter spesialis

Gambar14. Alogaritme tata laksana

 Pemberian obat anti hipertensi merupakan pengobatan jangka panjang. Kontrol


pengobatan dilakukan setiap 2 minggu atau 1 bulan untuk mengoptimalkan hasil
pengobatan.

1. Hipertensi tanpa compelling indication


 Hipertensi stage-1 dapat diberikan diuretik (HCT 12.5-50 mg/hari, furosemid 2x20-80
mg/hari), atau pemberian penghambat ACE (captopril 2x25-100 mg/hari atau
78
enalapril 1-2 x 2,5-40 mg/hari), penyekat reseptor beta (atenolol 25-100mg/hari dosis
tunggal), penghambat kalsium (diltiazem extended release 1x180-420 mg/hari,
amlodipin 1x2,5-10 mg/hari, atau nifedipin long acting 30-60 mg/hari) atau
kombinasi.
 Hipertensi stage-2.
Bila target terapi tidak tercapai setelah observasi selama 2 minggu, dapat diberikan
kombinasi 2 obat, biasanya golongan diuretik, tiazid dan penghambat ACE atau
antagonis reseptor AII (losartan 1-2 x 25-100 mg/hari) atau penyekat reseptor beta
atau penghambat kalsium.
 Pemilihan anti hipertensi didasarkan ada tidaknya kontraindikasi dari masing-masing
antihipertensi [Link] pilih obat hipertensi yang diminum sekali sehari atau
maksimum 2 kali sehari.

2. Hipertensi compelling indication (lihat tabel)


Bila target tidak tercapai maka dilakukan optimalisasi dosis atau ditambahkan obat lain
sampai target tekanan darah tercapai(kondisi untuk merujuk ke Spesialis).

Tabel25. Hipertensi compelling indication


Indikasi Obat yang direkomendasikan
khusus Diuretik Penyekat beta Penghambat ACE Antagonis Penghambat kanal Antagonis
(BB) (ACEi) reseptor AII kalsium (CCB) aldosteron
(ARB)
Gagal jantung √ √ √ √ √
Pasca infark √ √ √
miokard akut
Risiko tinggi √ √ √ √
penyakit
koroner
DM √ √ √ √ √
Penyakit √ √
ginjal kronik
Pencegahan √ √
stroke
berulang

3. Kondisi khusus lain


Obesitas dan sindrom metabolik
Lingkar pinggang laki-laki >90 cm/perempuan >80 cm. Tolerasi glukosa terganggu
dengan GDP ≥ 110 mg/dl, tekanan darah minimal 130/85 mmHg, trigliserida tinggi ≥150
mg/dl, kolesterol HDL rendah <40 mg/dl (laki-laki) dan <50 mg/dl (perempuan)
Modifikasi gaya hidup yang intensif dengan terapi utama ACE, pilihan lain reseptor AII,
penghambat calsium dan penghambat Ω.
Hipertrofi ventrikel kiri
Tatalaksana tekanan darah agresif termasuk penurunan berat badan, restriksi asupan
natrium dan terapi dengan semua kelas antihipertensi kecuali vasodilator langsung, yaitu
79
hidralazin dan minoksidil.

80
Penyakit Arteri Perifer
Semua kelas antihipertensi, tatalaksana faktor risiko dan pemberian aspirin.

Lanjut Usia
Diuretik (tiazid) mulai dosis rendah 12,5 mh/hari.
Obat hipertensi lain mempertimbangkan penyakit penyerta.

Kehamilan
Golongan metildopa, penyekat reseptor β, antagonis kalsium, vasodilator.
Penghambat ACE dan antagonis reseptor AII tidak boleh digunakan selama kehamilan.

Komplikasi
Hipertrofi ventrikel kiri, proteinurea dan gangguan fungsi ginjal,aterosklerosis pembuluh
darah, retinopati, stroke atau TIA, infark myocard, angina pectoris, serta gagal jantung

Kriteria rujukan
1. Hipertensi dengan komplikasi.
2. Resistensi hipertensi.
3. Krisis hipertensi (hipertensi emergensi dan urgensi).

Konseling &Edukasi
Edukasi individu dan keluarga tentang pola hidup sehat untuk mencegah dan mengontrol
hipertensi seperti:
 Gizi seimbang dan pembatasan gula, garam dan lemak (Dietary Approaches To Stop
Hypertension).
 Mempertahankan berat badan dan lingkar pinggang ideal.
 Gaya hidup aktif/olah raga teratur.
 Stop merokok.
 Membatasi konsumsi alkohol (bagi yang minum).

Edukasi tentang cara minum obat di rumah, perbedaan antara obat-obatan yang harus
diminum untuk jangkapanjang (misalnya untuk mengontrol tekanan darah) dan pemakaian
jangka pendek untuk menghilangkan gejala (misalnya untuk mengatasi mengi), cara kerja
tiap-tiap obat, dosis yang digunakan untuk tiap obat dan berapa kali minum sehari.
Penjelasan penting lainnya adalah tentang pentingnya menjaga kecukupan pasokan obat-
obatan dan minum obat teratur seperti yang disarankan meskipun tak ada gejala.

Individu dan keluarga perlu diinformasikan juga agar melakukan pengukuran kadar gula
darah, tekanan darah dan periksa urin secara teratur. Pemeriksaan komplikasi hipertensi
dilakukan setiap 6 bulan atau minimal 1 tahun sekali.
81
Prognosis
Prognosis umumnya bonam apabila terkontrol.

Sarana Prasarana
 Laboratorium untuk melakukan pemeriksaan urinalisis, glukometer dan profil lipid.
 EKG.
 Radiologi.
 Obat-obat antihipertensi.

Referensi
Dirjen Penyakit Tidak Menular. Buku Pedoman Pengendalian Hipertensi. Kemkes. 2013.

F. METABOLIK ENDOKRIN DAN NUTRISI

19. Diabetes Melitus

ICPC II : T89 Diabetes insulin dependent


T90 Diabetes non-insulin dependent
ICD X : E10 Insulin-dependent diabetes mellitus
E11 Non-insulin-dependent diabetes mellitus

Tingkat Kemampuan:
Diabetes Melitus tipe 1 = 4A
Diabetes Melitus tipe 2 = 4A
Diabetes melitus tipe lain (intoleransi glukosa akibat penyakit lain atau obat-obatan) = 3A

Masalah Kesehatan
Diabetes Melitus adalah gangguanmetabolik yang ditandai oleh hiperglikemia akibat defek
pada kerja insulin (resistensi insulin) dan sekresi insulin atau kedua-duanya.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
1. Polifagia
2. Poliuri
3. Polidipsi
4. Penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya

82
Keluhan tidak khas DM :
1. Lemah
2. Kesemutan (rasa baal di ujung-ujung ekstremitas)
3. Gatal
4. Mata kabur
5. Disfungsi ereksi pada pria
6. Pruritus vulvae pada wanita
7. Luka yang sulit sembuh

Faktor risiko DM tipe 2:


1. Berat badan lebih dan obese (IMT ≥ 25 kg/m2)
2. Riwayat penyakit DM di keluarga
3. Mengalami hipertensi (TD ≥ 140/90 mmHg atau sedang dalam terapi hipertensi)
4. Pernah didiagnosis penyakit jantung atau stroke (kardiovaskular)
5. Kolesterol HDL < 35 mg/dl dan/atau Trigliserida > 250mg /dL atau sedang dalam
pengobatan dislipidemia
6. Riwayat melahirkan bayi dengan BBL > 4000 gram atau pernah didiagnosis DM
Gestasional
7. Perempuan dengan riwayat PCOS (polycistic ovary syndrome)
8. Riwayat GDPT (Glukosa Darah Puasa tergangu) / TGT (Toleransi Glukosa Terganggu)
9. Aktifitas jasmani yang kurang

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan FisikPatognomonis
Penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya

Faktor Predisposisi
1. Usia > 45 tahun
2. Diet tinggi kalori dan lemak
3. Aktifitas fisik yang kurang
4. Hipertensi ( TD  140/90 mmHg )
5. Riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
6. Penderita penyakit jantung koroner, tuberkulosis, hipertiroidisme
7. Dislipidemia

Pemeriksaan Penunjang
1. Gula Darah Puasa
2. Gula Darah 2 jam Post Prandial

83
3. HbA1C

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Kriteria diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa:
1. Gejala klasik DM (poliuria, polidipsia, polifagi) + glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL
(11.1 mmol/L). Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu
hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir. ATAU
2. Gejala Klasik DM+ Kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl. Puasa diartikan pasien
tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam ATAU
3. Kadar glukosa plasma 2 jam pada tes toleransi glukosa terganggu(TTGO)> 200 mg/dL
(11.1 mmol/L) TTGO dilakukan dengan standard WHO, menggunakan beban glukosa
anhidrus 75 gram yang dilarutkan dalam air. ATAU
4. HbA1C
Penentuan diagnosis DM berdasarkan HbA1C ≥ 6.5 % belum dapat digunakan secara
nasional di Indonesia, mengingat standarisasi pemeriksaan yang masih belum baik.
Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka dapat
digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDPT tergantung dari hasil yang diperoleh

Kriteria gangguan toleransi glukosa:


1. GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa didapatkan antara 100–
125 mg/dl (5.6–6.9 mmol/l)
2. TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO kadar glukosa plasma140–199 mg/dl
pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram (7.8 -11.1 mmol/L)
3. HbA1C 5.7 -6.4%*

Penentuan diagnosis DM berdasarkan HbA1C ≥ 6.5 % belum dapat digunakan secara


nasional di Indonesia, mengingat standarisasi pemeriksaan yang masih belum baik.

Penyakit penyerta yang sering terjadi pada DM di Indonesia:


 Diare
 Infeksi/ ulkus kaki
 Gastroparesis
 Hiperlipidemia
 Hipertensi
 Hipoglikemia
 Impotensi
 Penyakit jantung iskemik

84
 Neuropati/ gagal ginjal
 Retinopati
 HIV
Langkah-langkah Diagnostik DM dan Gangguan toleransi glukosa

Keluhan Klinik Diabetes

Keluhan klasik DM (+) Keluhan klasik (-)

≥ 126 GDP <126 GDP ≥ 126 100 - 125 <100 GDP


? 126 ------- Atau
------- Atau ------- Atau ------- ------------ < 140 GDS
-------

Ulang GDP atau GDS

GDP ≥ 126 <126 TTGO


Atau ------- -------
GD 2 jam
GDS

≥ 200 140 -199 <140

DIABETES MELITUS TGT GDPT Normal

 Evaluasi status gizi  Nasihat Umum


 Evaluasi penyulit DM  Perencanaan makan
 Evaluasi perencanaan  Latihan Jasmani
makan sesuai  Berat idaman
kebutuhan  Belum perlu obat
penurun glukosa

GDP = Gula Darah Puasa


GDS = Gula Darah Sewaktu

GDPT = Gula Darah Puasa Terganggu


TGT = Toleransi Glukosa Terganggu

Gambar48. Algoritme diagnosis Diabetes Mellitus

Klasifikasi DM:
I. DM tipe 1
- DM pada usia muda, < 40 tahun
- Insulin dependent akibat destruksisel :
a. Immune-mediated
b. Idiopatik

II. DM tipe 2 (bervariasi mulai dari yang predominan resistensi insulin dengan defisiensi
insulin relatif – dominan defek sekresi insulin disertai resistensi insulin)

85
III. Tipe lain:
a. Defek genetik pada fungsi sel 
b. Defek genetik pada kerja insulin
c. Penyakit eksokrin pankreas
d. Endokrinopati
e. Akibat obat atau zat kimia tertentu misalnya vacor, pentamidine, nicotinic acid,
glukokortikoid, hormone tiroid, diazoxide, agonis adrenergik, thiazid, phenytoin,
interferon, protease inhibitors, clozapine
f. Infeksi
g. Bentuk tidak lazim dari immune mediated DM
h. Sindrom genetik lain, yang kadang berkaitan dengan DM

IV. DM gestasional
Diabetes Melitus Gestasional (DMG) adalah suatu gangguan toleransi karbohidrat (TGT,
GDPT, DM) yang terjadi atau diketahui pertama kali pada saat kehamilan sedang
berlangsung.

Skrining
Penilaian adanya risiko DMG perlu dilakukan sejak kunjungan pertama untuk pemeriksaan
kehamilannya.
Faktor risiko DMG meliputi :
1. Riwayat DMG sebelumnya atau TGT atau GDPT
2. Riwayat keluarga dengan diabetes
3. Obesitas berat (>120% berat badan ideal)
4. Riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan atau dengan berat badan lahir > 4000 gr
5. Abortus berulang
6. Riwayat PCOS (Polycistic Ovari Syndrome)
7. Riwayat pre-eklampsia
8. Glukosuria
9. Infeksi saluran kemih berulang atau kandidiasis
Pada wanita hamil yang memiliki risiko tinggi DMG perlu dilakukan tes DMG pada minggu
ke-24 – 28 kehamilan

Diagnosis
Bila didapatkan GDS ≥ 200 mg/dl atau GDP ≥ 126 mg/dl yang sesuai dengan batas diagnosis
untuk diabetes, maka perlu dilakukan pemeriksaan pada waktu lain untuk konfirmasi. Pasien
hamil dengan TGT dan GDPT dikelola sebagai DMG.

Diagnosis Banding
Diabetes insipidus pada ibu hamil
86
Komplikasi
A. Akut:
1. Ketoasidosis diabetik
2. Hiperosmolar non ketotik
3. Hipoglikemia
B. Kronik:
1. Makroangiopati:
2. Pembuluh darah jantung
3. Pembuluh darah perifer
4. Pembuluh darah otak
C. Mikroangiopati:
1. Pembuluh darah kapiler retina
2. Pembuluh darah kapiler renal
D. Neuropati
E. Gabungan:
1. Kardiomiopati
2. Rentan infeksi
3. Kaki diabetik
4. Disfungsi ereksi

Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Terapi untuk Diabetes Melitus dilakukan dengan modifikasi gaya hidup dan pengobatan
(algoritma pengelolaan DM tipe 2)

Penatalaksanaan DMG sebaiknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam,
spesialis obstetri ginekologis, ahli diet, dan spesialis anak.
Tujuan penatalaksanaan adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu, kesakitan dan
kematian perinatal. Ini hanya dapat dicapai apabila keadaan normoglikemia dapat
dipertahankan selama kehamilan sampai persalinan.

Sasaran normoglikemia DMG adalah kadar GDP ≤ 95 mg/dl dan 2 jam sesudah makan ≤ 120
mg/dl. Apabila sasaran glukosa darah tidak tercapai dengan pengaturan makan dan latihan
jasmani, langsung diberikan insulin.

Ibu hamil dengan DMG perlu dilakukan skrining DM pada 6-12 minggu pasca melahirkan
dan skrining DM lanjutan untuk melihat perkembangan ke arah DM atau pre-diabetes.

87
88
[Link] pengelolaan Diabetes Melitus tipe 2 tanpa komplikasi

Catatan: Pemilihan jenis obat hipoglikemik oral(OHO) dan insulin bersifat


individual tergantung kondisi pasien dan sebaiknya mengkombinasi obat dengan
cara kerja yang berbeda.

Cara Pemberian OHO, terdiri dari:


1. OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahapsesuai respons
kadar glukosa darah, dapat diberikansampai dosis optimal.

89
2. Sulfonilurea: 15 –30 menit sebelum makan.
3. Repaglinid, Nateglinid: sesaat sebelum makan.
4. Metformin : sebelum/pada saat/sesudah makan.
5. Penghambat glukosidase (Acarbose): bersama makan suapanpertama.
6. Tiazolidindion: tidak bergantung pada jadwal makan.
7. DPP-IV inhibitor dapat diberikan bersama makan dan atausebelum makan.

Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (bila diperlukan)


Urinalisis (proteinuri dan mikroalbuminuria), funduskopi, ureum, kreatinin, lipid
profil, EKG, foto thorak.

Rencana tindak lanjut:


Tindak lanjut adalah untuk pengendalian kasus DM berdasarkan parameter berikut:

Table 40. Kriteria pengendalian DM (berdasarkan konsensus DM)

Baik Sedang Buruk


Glukosa darah puasa (mg/dL) 80 -99 100-125 ≥ 126
Glukosa darah 2 jam (mg/dL) 80-144 145-179 ≥ 180

A1C (%) < 6,5 6,5 – 8 >8


Kolesterol total (mg/dL) < 200 200-239 ≥ 240
Kolesterol LDL (mg/dL) < 100 100 – 129 ≥ 130
Kolesterol HDL (mg/dL) Pria > 40
Trigliserida ((mg/dL) Wanita > 50
< 150 150-199 ≥ 200
3
IMT (kg/m ) 18, 5 -23 23-25 > 25
Tekanan darah (mmHg) ≤130/80 > 130-140 / >80-90 >140/90

Keterangan:

Angka-angka laboratorium di atas adalah hasil pemeriksaan plasma vena.

Perlu konversi nilai kadar glukosa darah dari darah kapiler darah utuh dan plasma vena

Konseling & Edukasi


Edukasi meliputi pemahaman tentang:
1. Penyakit DM.
2. Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM.
3. Penyulit DM.
4. Intervensi farmakologis.
5. Hipoglikemia.
6. Masalah khusus yang dihadapi.
7. Cara mengembangkan sistem pendukung dan mengajarkan keterampilan.
8. Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.
9. Pemberian obat jangka panjang dengan kontrol teratur setiap 2 minggu/1 bulan.

90
Perencanaan Makan
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi:
1. Karbohidrat 45 – 65 %
2. Protein 15 – 20 %
3. Lemak 20 – 25 %
Jumlah kandungan kolesterol disarankan < 300 mg/hari. Diusahakan lemak berasal
dari sumber asam lemak tidak jenuh (MUFA = Mono Unsaturated Fatty Acid), dan
membatasi PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) dan asam lemak jenuh. Jumlah
kandungan serat + 25 g/hr, diutamakan serat larut.

Jumlah kalori basal per hari:


1. Laki-laki: 30 kal/kg BB idaman
2. Wanita: 25 kal/kg BB idaman

Penyesuaian (terhadap kalori basal / hari):


1. Status gizi:
- BB gemuk - 20 %
- BB lebih - 10 %
- BB kurang + 20 %
2. Umur > 40 tahun : -5%
3. Stres metabolik (infeksi, operasi,dll): + (10 s/d 30 %)
4. Aktifitas:
- Ringan + 10 %
- Sedang + 20 %
- Berat + 30 %
5. Hamil:
- trimester I, II + 300 kal
- trimester III / laktasi + 500 kal

Rumus Broca:*
Berat badan idaman = ( TB – 100 ) – 10 %
*Pria < 160 cm dan wanita < 150 cm, tidak dikurangi 10 % lagi.
BB kurang :< 90 % BB idaman
BB normal : 90 – 110 % BB
idaman BB lebih : 110 – 120 %
BB idaman Gemuk :>120 % BB
idaman

Latihan Jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan teratur (3-4 kali seminggu selama kurang
lebih 30 menit). Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar, menggunakan
tangga, berkebun, harus tetap dilakukan.

91
Kriteria Rujukan
untuk penanganan tindak lanjut pada kondisi berikut:
1. DM dengan komplikasi
2. DM dengan kontrol gula buruk
3. DM dengan infeksi berat
4. DM dengan kehamilan
5. DM type 1

Pemantauan dan tindak lanjut


1. Edukasi dan manajemen nutrisi
 Berat badan: diukur setiap kali kunjungan
 Penilaian rutin: kandungan, kuantitas, dan pengaturan waktuasupan
makanan. Disesuaikan dengan kebutuhan.
 Target : penurunan berat badan menuju berat badan ideal dan kontrol gula
darah tercapai.
2. Latihan fisik
 Penilaian aktivitas fisik ; paling sedikit setiap tiga bulan sekali
 Rencana latihan: penggabungan dengan pilihan aktivitas sekarang ini dan
level aktivitas; ditingkatkan sampai batas toleransi. Dianjurkan 150 menit /
minggu (durasi 30-45 menit dengan interval 3-5 x / minggu) dengan aktivitas
fisik aerobik intensitas sedang (50-70% Maximum Heart Rate).
 Aktivitas fisik disesuaikan dengan komplikasi DM (risiko terjadi
hipoglikemia, neuropati perifer, kardiovaskular, retinopati, dan nefropati)
 Target : pasien melakukan aktivitas fisik secara teratur
3. Perawatan kaki
 Setiap kali pasien berkunjung dilakukan pemeriksaan visual kaki,
sensibilitas (neuropati sensorik) , dan vaskularisasi (Ankle Branchial Index/
ABI)
 Edukasi: inspeksi pribadi setiap hari dan perawatan pencegahan secara teratur
 Rujukan untuk perawatan khusus, bila
diperlukan
4. Monitoring kemajuan dan hambatan
penatalaksanaan
 Lembar catatan / rekaman; dikembangkan untuk meningkatkan penilaian
pasien dan komunikasi petugas kesehatan secara terus-menerus (monitor janji
pertemuan, pemeriksaan fisik, nilai laboratorium, hasil pengukuran pribadi
gula darah, masalah- masalah yang aktif, pengobatan, dan lain-lain)
 Strategi mengatasi hambatan : 1) kontak telepon kunjungan sementara ; 2)
mengingatkan / mengikuti / membuat jadwal ulang janji pertemuan; 3)
aktivitas sosial / edukasi grup; 4) kartu ucapan spesial / hari raya
 Menulis catatan mengenai interaksi pasien; didiskusikan dengan petugas
kesehatan klinik untuk menjamin kelanjutan dan kualitas perawatan

92
 Dukungan komunitas: Adanya dukungan keluarga / orang lain yang penting
untuk mengatur janji pertemuan dan kegiatan lain.
 Penugasan staf: diperlukan untuk mengoptimalkan interaksi dan perawatan,
serta mengurangi hambatan pasien
 Penilaian manajemen pribadi secara terus-menerus : menyediakan /
menunjukkan untuk edukasi DM, dan / atau pedoman latihan, dukungan
psikososial, atau sumber daya komunitas.
5. Pencegahan retinopati / pengobatan
 Pemeriksaan retina mata dan / atau pembuatan foto retina dilakukan segera
setelah diagnosis DM ditegakkan dan diulang paling sedikit 1 tahun sekali
dan lebih sering bila ada retinopati.
 Untuk menurunkan risiko / memperlambat progresivitas retinopati maka
perlu mengoptimalkan kontrol gula darah dan tekanan darah
 Bila terdapat retinopati, dirujuk ke dokter spesialis mata
6. Pencegahan kasus penyulit
 Tes untuk melihat ekskresi albumin urin dan kreatinin serum pada DM
dilakukan pada saat pertama kali diagnosis DM ditegakkan, serta diulang
pengukurannya secara rutin paling sedikit 1 tahun sekali.
 Untuk menurunkan risiko / memperlambat progresivitas nefropati maka perlu
mengoptimalkan kontrol gula darah dan tekanan darah
 Pasien DM tipe II dengan Hipertensi dan mikroalbuminuria, baik ACE-I /
ARB dapat memperlambat progresi ke makroalbuminuria
 Pasien DM tipe II dengan hipertensi, makroalbuminuria, dan insuffiensi renal
(kreatinin
> 1,5) berikanARB untuk memperlambat progresivitas nefropati.
 Pembatasan asupan protein menjadi 0.8-1 g/kgBB/hari pada DM dengan
stadium awal CKD
 Monitor kreatinin serum dan potasium untuk melihat ARF dan
hiperkalemia pada penggunaan ACE-I, ARB, atau thiazid
 Monitor ekskresi albumin urin untuk melihat respon terapi dan progresivitas penyakit
 Rujuk ke dokter spesialis bila kasus dengan penyulit
7. Manajemen hipertensi
 Pengukuran tekanan darah setiap kali kunjungan
 Bila TD sistolik ≥ 130 mmHg / diastolik ≥ 80 mmHg harus dikonfirmasi
ulang di hari berbeda, bila nilainya ≥ 130/80 didiagnosis hipertensi
 Target TD adalah < 130 / 80 mmHg
 TD sistolik 130-139 atau diastolik 80-89 mmHg : modifikasi gaya hidup
selama maksimal 3 bulan, bila target tidak tercapai, tambahkan OAH
 TD sistolik ≥ 140 / diastolik ≥ 90 ◊ terapi OAH + modifikasi gaya hidup
 OAH yang digunakan adalah ACE-I / ARB, bisa juga ditambahkan HCT dengan
GFR
≥ 50 ml/min per 1,73 m2 / loop diuretic dengan GFR < 50 ml/min per 1,73 m2

93
 Terapi obat multipel biasanya digunakan untuk mencapai target TD
 Monitor selalu fungsi ginjal dan kadar potassium darah
 Pada pasien hamil dengan DM, target TD 100-129 / 65-79 mmHg Obat yang
dipakai : metildopa, labetalol, diltiazem, clonidin, prazosine

Sarana Prasarana
1. Alat Pemeriksaan Gula Darah Sederhana
2. Alat Pengukur berat dan tinggi badan anak serta dewasa
3. Skala Antropometri

Prognosis
Prognosis umumnya adalah dubia. Karena penyakit ini adalah penyakit kronis, quo
ad vitam umumnya adalah dubia ad bonam, namun quo ad fungsionam dan
sanationamnya adalah dubia ad malam.

Referensi
1. Sudoyo, A.W. Setiyohadi, B. Alwi, I. Simadibrata, M. Setiati, [Link]. Buku ajar
ilmu penyakit dalam. Ed 4. Vol. III. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI; 2006.
2. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus Pengelolaan dan
Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. 2011.
3. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI dan Persadia. Penatalaksanaan
Diabetes Mellitus pada Layanan Primer, ed.2, 2012

94

Anda mungkin juga menyukai