5
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kontruksi Bodi Kendaraan
Bagian mobil terdiri dalam kelompok besar, yaitu chassis dan body. Body
adalah bagian yang dibentuk sedemikian rupa, (pada umumnya) terbuat dari
bahan plat logam (steelplate) yang tebalnya antara 0,6 mm-0,9 mm sebagai
tempat penumpang ataupun barang, sedangkan chassis adalah bagian dari
kendaraan dan berfungsi sebagai penopang body.
Berdasarkan pada kontruksi menempelnya body pada rangka, maka
terdapat dua jenis kontruksi body kendaraan, yaitu konstruksi composite
(terpisah) dan kontruksi monocoq (menyatu). Rangka mobil adalah bagian
dari kendaraan bermotor yang mendukung mesin, kopling , transmisi, sistem
suspensi, sistem rem, bodi mobil, diferensial, dan komponen lainnya.
Rangka mobil mempunyai banyak variasi bentuk. Pada umumnya, rangka
disusun dari dua buah balok memanjang dan dihubungkan dengan balok
melintang. Bagian depan rangkaian dibuat sedikit mengecil ke dalam yang
berfungsi sebagai tempat pemasangan peralatan kemudi dan untuk dapat
memberikan keleluasaan pergerakan kemudi. Rangka pada umumnya dibuat
dengan baja. (Buntarto, 2015).
6
2.1.1 Rangka (Chassis) Mobil
1. Sejarah singkat Chassis
Chassis pertama kali dibuat oleh Charles dan F. Duryea dari Springfield,
Massachussets, Amerika pada tahun 1893. Mobil tersebut mirip sebuah andong
tanpa kuda. Lalu pada tahun 1894, Elwood G. Hayhes mengikutinya. Elwood
G. Hayhes merancang dan membuatnya di perusahaan Apperson Brothers.
Setelah itu, Henry ford membuat mobil pertama pada tahun 1897.
Bentuk mobil tertutup baru muncul pada tahun 1911. Bagian penutup atas
(atap) sangatlah sederhana karena fungsinya hanya sebagai pelindung
penumpang dari panas matahari dan hujan. Tutup bodi terbuat dari kanvas,
tetapi ada juga yang dibuat dari plat yang di press sehingga sangat kuat.
2. Definisi Chassis
Chassis adalah rangka yang berfungsi sebagai penopang berat (beban),
pengemudi, komponen dan sistem-sistem yang berada pada kendaraan. Chassis
dibuat dari kerangka besi (baja) yang berfungsi sebagai menopang bodi dan
mesin sebuah kendaraan. Syarat utama dari chassis adalah material tersebut
harus memiliki kekuatan untuk menopang beban dari kendaraan. Selain itu,
chassis juga berfungsi untuk menjaga agar mobil tetap stabil saat digunakan.
Chassis terbagi menjadi beberapa tipe yaitu :
7
a. Tipe Rangka Tulang Belakang (Backbone)
Tipe rangka tulang belakang (backbone) adalah jenis rangka yang
termasuk dengan rangka press. Rangka ini mesin seolah-olah tergantung
pada sebuah backbone yang besar. Seluruh beban disangga oleh bagian
utama ini. Rangka backbone ini adalah rangka pengganti dari struktur
rangka tangga. Keuntungan dari dari rangka seperti inilah memiliki bobot
yang lebih ringan dibanding dengan rangka pipa. Memiliki centergravity
yang baik dan dapat bermanuver dengan baik di lintasan sirkuit.
Kelemahan dari rangka jenis ini adalah karena hanya memiliki satu tulang
punggung. Maka jenis sasis ini tidak dapat mengangkat beban berat.
(Buntarto, 2015).
Gambar 2.1 Tipe backbone ([Link]).
b. Tipe Rangka Ladder Frame (Tangga)
Pertama kali rangka tangga ini dibuat dari kayu, hingga bahan dari
besi baja pada tahun 1930an. Kontruksi sasis tangga 2 baja paralel dibawah
bodi kendaraan. Mempunyai keunggulan dalam membawa beban lebih dan
8
space kabin lebih besar. Sering digunakan di kendaraan pengangkut beban
seperti truk, MPV dan SUV serta model Jeep. (Buntarto, 2015).
Kelebihan sasis tipe tangga adalah :
1. Mudah untuk di desain, dibangun, dan dimodifikasi.
2. Lebih cocok untuk kendaraan berat.
3. Mudah untuk di reparasi bila terjadi kecelakaan.
Kekurangan sasis tipe tangga adalah :
1. Lebih berat dibanding sasis model lain.
2. Torsi yang dimiliki rendah.
3. Mudah terguling.
4. Memiliki biaya produksi lebih tinggi.
Gambar 2.2 Tipe ladder frame ([Link]).
9
c. Tipe Rangka Integral
Tipe rangka integral adalah rangka langsung, dimana bodi mobil
dan sasis dilas di titik-titik tertentu menjadi satu bagian. Rangka jenis ini
digunakan pada mobil sedan dan mobil ringan. Tetapi tidak sedikit juga
mobil-mobil SUV (sport utility vehicle) yang juga menggunakan bodi
frame. (Buntarto, 2015).
Kelebihan sasis tipe integral adalah :
1. Lebih sedikit part yang digunakan dan bobot lebih ringan.
2. Memiliki centergravity yang lebih rendah.
3. Memiliki ruang roda yang besar, sehingga pemilihan ban lebih variatif
Kekurangan sasis tipe integral adalah :
1. Sulit menyatukan komponen-komponen, sehingga sulit untuk
diperbaiki.
2. Suara, getaran, dan kekerasan lebih terasa.
3. Tingkat ketahanan lebih rendah dibanding rangka tangga.
10
Gambar 2.3 Tipe integral ([Link]).
c. Tipe Rangka Monokok (Monoque)
Tipe rangka monoque adalah tipe sasis yang merupakan satu kesatuan
dengan bodi. Keunggulannya adalah handling dan bobot lebih ringan.
Kelemahannya adalah lebih lemah dibanding tipe lain. Tipe ini banyak
digunakan di sedan modern. Rangka tipe ini sudah tidak menggunakan
sasis batang lagi. Melainkan menggabungkan setiap komponen bodi mobil
sehingga dapat menopang mesin, kopling, transmisi, diferensial, dan lain-
lain.(Buntarto, 2015)
Kelebihan tipe monokok adalah :
1. Memiliki bobot lebih ringan.
2. Memiliki bantingan yang lebih lembut.
3. Ground clearance mobil lebih rendah.
11
Kelemahan tipe monokok adalah :
1. Bila terjadi tabrakan akan sulit diperbaiki.
2. Pabrikan mobil akan sulit melakukan perombakan karena harus
merubah bentuk rangka juga.
Gambar 2.4 Tipe monoque ([Link]).
d. Alumunium Space Frame
Chassis alumunium space frame pertama kali dikembangkan oleh
perusahaan mobil Audi bekerja sama dengan perusahaan alumunium
Alcoa. Chassis jenis ini dibuat untuk menggantikan chassis baja monokok.
Hal ini bertujuan untuk sebuah chassis mobil yang kuat namun ringan. Tipe
ini mampu mereduksi beban 40% lebih ringan dibandingkan dengan tipe
chassis monokok.
Kelebihan :
1. Lebih ringan dibandingkan sasis monokok.
12
2. Lebih kuat.
3. Anti karat (oksidasi).
Kekurangan :
1. Biaya operasional lebih mahal.
2. Lebih kaku (getas).
3. Kontruksi rumit.
Gambar 2.5 Tipe alumunium space frame ([Link]).
e. Tipe Tubular Space Frame
Tipe tubular space frame adalah chassis yang terdiri dari pipa yang
dirangkai menjadi satu dan hampir menyerupai dari kontruksi kendaraan
tersebut. Chassis ini biasanya banyak digunakan di dunia balap mobil.
Jenis chassis ini dapat dilakukan penambahan dari segi penguat. Pada
tubular space frame sangat penting untuk memastikan semua bidang diberi
penguat.
13
Kelebihan :
1. Lebih kokoh dan solid dalam berbagai arah dibanding sasis monokok
atau ladder frame di bobot yang sama.
Kekurangan :
1. Sangat rumit kontruksinya.
2. Biaya operasional mahal.
3. Akses masuk ke kabin sulit.
Gambar 2.6 Tipe tubular space frame ([Link]).
2.1.2 Bodi Kendaraan
Pelindung penumpang ataupun barang yang ada didalam kendaraan dari
terpaan angin dan hujan dan panas matahari. Selain aspek keamanan dan
kenyamanan bagi pengemudi atau penumpang bodi kendaraan juga harus
mempertimbangkan unsur aerodinamika dan seni. (Buntarto, 2015).
14
Macam-macam bagian dari kontruksi luar kendaraan adalah :
a. Bumper
Bumper terbagi menjadi dua, yaitu bumper depan dan bumper
belakang. Fungsi dari bumper adalah sebagai pengaman pertama jika
terjadi tabrakan atau benturan.
b. Fender
Fender adalah komponen mobil yang menutupi roda-roda. Mobil
memiliki 4 buah fender pada masing-masing roda. Komponen ini
berfungsi melindungi konstruksi suspensi dan melindungi kotoran dan
lumpur
c. Kap Mesin
Merupakan bagian kendaraan yang menutupi komponen mesin, kap
mesin dipasang di bodi utama menggunakan engsel. Kontruksi kap mesin
terdiri dari lembaran plat yang didukung rangka penguat. Saat kap mesin
ditutup, maka otomatis terkunci. Untuk membuka kunci dilakukan oleh
pengemudi dengan menarik tuas yang ada di ruang kemudi.
d. Pintu
Terdapat berbagai macam tipe dan bentuk pintu kendaraan. Namun
pada dasarnya, pintu dibuat dari dua panel utama yaitu panel luar dan
15
panel dalam. Kontruksi pintu terbuat dari plat baja. Pintu kendaraan
memiliki kekuatan yan berasal dari panel dalam yang memiliki profil
tekukan dan lekukan sehingga tepinya disatukan dengan panel luar dan
menjadi satu kesatuan, maka kontruksi ini akan menjadi kuat.
e. Kaca
Kaca mobil merupakan komponen yang sangat penting bagi kendaraan,
yang terdiri dari kaca depan, kaca belakang dan kaca samping. Kaca pada
kendaraan harus memenuhi syarat sebagai berikut :
1. Kaca harus jernih.
2. Tidak membiaskan cahaya yang dating.
3. Tahan terhadap tekanan udara yang kuat.
4. Apabila terjadi kecelakaan tidak membahayakan penumpang
5. Tahan terhadap temperatur yang ekstrim.
f. Atap Kendaraan
Atap kendaraan merupakan bagian bodi yang memiliki kontruksi
paling sederhana dibandingkan yang lain. Atap dibuat dari bahan
lembaran plat besi yang dilakukan pengerasan pada bagian tertentu
dengan membuat alur agar kuat apabila menerima beban dari atas.
16
g. Deck Lid
Deck lid merupakan bodi kendaraan bagian belakang (bagasi).
Komponen ini terdiri dari dua panel utama, yaitu panel luar dan panel
dalam. Bagian luar memiliki bentuk sederhana, namun pada bagian dalam
terdiri dari rangka penguat.
h. Pilar
Pilar merupakan penopang bagian tengah dan samping dari atap.
Oleh karena itu, pilar haruslah kuat. Pilar juga berfungsi sebagai dudukan
engsel pintu depan dan engsel pintu belakang.
i. Grill
Grill terletak di bagian depan kendaraan berfungsi sebagai pengarah
udara untuk pendinginan mesin, serta sebagai penghias bodi kendaraan.
2.2 Tubular
2.2.1 Sejarah Tubular
Tubular merupakan tipe sasis yang pada pertengahan abad ke-20. Jenis
mobil yang menggunakan tubular adalah tipe sport car asal italia yang
pengggunaannya bertujuan mengurangi bobot kendaraan. Perkembangan lebih
lanjut tentang tubular adalah para desainer mobil balap yang menggunakan
17
sasis 3 dimensi dengan tubular yang membentuk kerangka (cage). Terdiri dari
lusinan pipa yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai kontruksi kendaraan
yang bertujuan untuk melindungi pembalap apabila tejadi insiden kecelakaan.
Di awal 1950-an, mobil balap Mercedes-Benz 300SLR adalah mobil balap
pertama yang menggunakan tubular.
2.2.2 Definisi Tubular
Tubular adalah suatu kontruksi yang terdiri dari pipa yang dipasang pada
body mobil dan didesain sedemikian rupa untuk melindungi driver pada saat
terjadi kecelakaan. Agar apabila terjadi kecelakaan yang fatal, driver tidak
akan terluka fatal karena terlindungi oleh tubular. Di samping itu, tubular juga
berfungsi sebagai penyeimbang pada body mobil pada saat bermanuver atau
pada saat kecepatan tinggi.
“A roll cage is a specially engineered and constructed frame built in (or
sometimes arround, in which case it is known as an exo cage) the passenger
compartment of a vehicle to protect its occupants from being injured in an
accident, particularly in the event of a roll-over.” (Wikipedia)
18
Tubular sendiri terbagi menjadi 2 macam yaitu, semi tubular dan full
tubular. Pada kompetisi balap mobil saat ini, tubular adalah suatu peraturan
wajib. Hampir semua kompetisi balap mewajibkan pemakaian tubular demi
faktor keamanan, misalnya : drift, speed offroad, nascar,offroad, dll. Seperti
yang telah ditegaskan oleh FIA (Federation Internationale d’ Automobile)
ataupun SCCA (Sport Club of America) yang menjadi acuan dalam ajang
balap mobil.
2.2.3 Desain Tubular Spesifikasi Speed Offroad
Untuk standar balap speed offroad kaki-kaki tubular minimum
dipasang 4 titik pada mobil. Dan dapat lebih dari 4 titik, misalnya 6 titik, 8
titik, 10 titik, dan 12 titik. Semakin banyak titik yang digunakan maka
semakin kuat tubular tersebut menahan gaya impact pada saat terjadi
kecelakaan. Namun, semakin banyak titik yang dipasang pada mobil maka
beban akan semakin bertambah.
a. Desain Tubular 4 Titik
19
Gambar 2.7 Desain tubular 4 titik ([Link]).
b. Desain 6 titik
Gambar 2.8 Desain tubular 6 titik ([Link]).
c. Desain 8 Titik
Gambar 2.9 Desain tubular 8 titik ([Link]).
20
d. Desain 10 titik
Gambar 2.10 Desain tubular 10 titik ([Link]).
e. Desain 12 Titik
Gambar 2.11 Desain tubular 12 titik ([Link]).
21
Safety golden rules (aturan utama tentang standar keamanan dalam
dunia balap). Ada banyak desain yang digunakan di ajang balap sesuai
peraturan pada balapan tersebut karena setiap ajang balapan berbeda pula
aturan yang diterapkan. Seperti yang dijelaskan di Wikipedia:
“There are many differnt roll cage designs depending on the
apllication, hence different racing organizations have differing
spesification and regulations. They also help to stiffent the chassis, which
is desirable in racing application.” (Wikipedia).
Untuk bahan pipanya, terdapat dua bahan yang sering dipakai dalam
pembuatan tubular yaitu seamless jerman dan chromoly. Bahan tersebut
mempunyai ketentuan yang berbeda untuk ketebalan berdasarkan berat
mobil. Untuk penempatan tubular dapat dibaut dengan body atau sasis
mobil. Namun bisa juga dengan cara di las langsung pada sasis mobil.
Pengelasan pada tubular pada chasis mobil banyak digunakan, selain
lebih simpel dibandingkan dengan model knock down dengan cara dibaut,
model ini diklaim lebih kuat. Pada pembuatan tubular sangat penting untuk
memperhatikan keseimbangan dan kekuatan. Hal–hal yang harus
diperhatikan adalah memastikan agar tubular tidak fleksibel dengan cara
menambahkan triangulasi sebagai fitur penting untuk menambah kekuatan,
karena dianggap lebih kuat untuk menyerap beban dari berbagai arah.
22
Gambar 2.12 Desain tubular dengan triangulasi ([Link]).
2.2.4 Struktur Tubular
Struktur paling sederhana untuk tubular adalah pilar dasar, yaitu pilar
A, B dan C. Pilar A merupakan pilar yang paling depan, sedangkan pilar B
berada di bagian tengah dan pilar C di bagian belakang. Kekuatan tubular
merupakan persekutuan dari ketiganya. Besar kecilnya sudut tekukan pada
pipa juga mempengaruhi kekuatan pada tubular tersebut.
23
Gambar 2.13 Struktur tubular 6 titik ([Link]).
Kontruksi tubular paling ideal adalah tegak lurus terhadap
tumpuannya. Namun kondisi ini tidak selalu berhasil untuk diaplikasikan.
Ketersediaan ruang dan desain dapat menjadi hambatan. Apabila terdapat
permasalahan kekuatan dengan desain yang diinginkan dapat juga
memberikan reinforcement. Proses penyambungan antara pilar-pilar yang
membentuk kontruksi tubular adalah dengan proses pengelasan.
Tubular terdiri dari susunan rangka pipa yang dibentuk dengan cara
disambung ataupun ditekuk. Sudut tekukan pipa pada tubular yaitu antara
0°-90° sesuai dengan kebutuhan. Sudut tekukan pipa diatas 70° wajib
untuk diberi reinforcement, hal itu dikarenakan semakin besar sudut
tekukan pada pipa maka kekuatan dari pipa tersebut akan berkurang.
24
Reinforcement digunakan untuk menambah kekuatan pipa yang telah
ditekuk agar apabila terkena beban, pipa tersebut tidak mudah patah.
2.3 Pengelasan
Pengelasan adalah penyambungan logam atau logam paduan yang
dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Adapun definisi pengelasan
menurut beberapa referensi yaitu :
a. Las adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan
yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dari definisi tersebut
dapat disimpulkan bahwa las adalah sambungan setempat dari beberapa
batang logam dengan menggunakan energi panas. (Deutche Industri
Normen).
b. Mengelas adalah menyambung dua logam atau logam paduan dengan cara
memberikan panas baik diatas atau dibawah titik cair logam tersebut baik
dengan atau tanpa tekanan serta di tambah atau tanpa logam pengisi.
([Link], 1991).
c. Pengelasan adalah suatu aktifitas menyambung dua bagian benda atau
lebih dengan cara memanaskan atau menekan atau gabungan dari
keduanya sedemikian rupa sehingga menyatu seperti benda utuh.
Penyambungan bisa dengan atau tanpa bahan tambahan (filler metal) yang
sama atau berbeda titik cair maupun strukturnya. (Alip, 1989).
25
Gambar 2.14 Klasifikasi cara pengelasan (Wiryosumarto, 2000).
2.3.3 Jenis-Jenis Pengelasan
Pengelasan cair dengan busur dan gas adalah beberapa jenis dari
sekian banyak jenis dan klasifikasi cara pengelasan yang banyak digunakan
saat ini. Adapun dari kedua jenis tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
26
1. Las Busur Listrik
Las busur listrik adalah cara pengelasan dengan menggunakan busur
nyala listrik sebagai sumber panas pencair logam. Klasifikasi las busur
listrik yang digunakan hingga saat ini dalam proses pengelasan adalah las
elektroda terbungkus.
Prinsip pengelasan las busur listrik adalah arus listrik yang cukup
padat dan tegangan rendah bila dialirkan pada dua buah logam yang
konduktif akan menghasilkan loncatan elektroda yang dapat menimbulkan
panas yang sangat tinggi mencapai suhu 5000° C sehingga dapat mudah
mencair kedua logam tersebut.
Proses pemindahan logam cair seperti dijelaskan diatas sangat
mempengaruhi sifat maupun las dari logam, dapat dikatakan bahwa
butiran logam cair yang halus mempunyai sifat mampu las yang baik.
Sedangkan proses pemindahan cairan sangat dipengaruhi oleh besar
kecilnya arus dan komposisi dari bahan fluks yang digunakan. Selama
proses pengelasan, fluks yang digunakan untuk membungkus elektroda
sebagai zat pelindung sewaktu proses pengelasan juga ikut mencair.
Tetapi karena berat jenisnya lebih ringan dari bahan logam yang dicairkan,
maka cairan fluks tersebut mengapung diatas cairan logam dan
membentuk terak sebagai penghalang oksidasi. Dalam beberapa fluks
27
bahan tidak terbakar, tetapi berubah menjadi gas pelindung dari logam cair
terhadap oksidasi (Wiryosumarto, 2000).
2. Busur Logam Gas (Gas Metal Arc Welding)
Proses pengelasan dimana sumber panas berasal dari busur listrik
antara elektroda yang sekaligus berfungsi sebagai logam yang terumpan
(filler) dan logam yang dilas. Las ini disebut juga metal inert gas welding
(MIG) karena menggunakan gas mulia seperti argon dan helium sebagai
pelindung busur dan logam cair. (Wiryosumarto, 2000).
3. Las Busur Rendam (Submerged Arc Welding/SAW)
Proses pengelasan dimana panas dihasilkan dari busur listrik antara
ujung elektroda dengan logam yang dilas. Elektroda terdiri dari kawat
logam sebagai penghantar arus listrik ke busur dan sekaligus sebagai
bahan pengisi (filler). Kawat ini dibungkus dengan bahan fluks. Biasanya
dipakai arus listrik yang tinggi (10-500 A) dan potensial yang rendah (10-
50 V). Selama pengelasan, fluks mencair dan membentuk terak (slag)
yang berfungsi sebagai lapisan pelindung logam las terhadap udara
sekitarnya. Fluks juga menghasilkan gas yang bisa melindungi butiran-
butiran logam cair yang berasal dari ujung elektroda yang mencair dan
jatuh ke tempat sambungan. (Wiryosumarto, 2000).
28
4. Las Busur Elektroda Terbungkus (Shielded Metal Arc Welding/SMAW)
Proses pengelasan dimana panas dihasilkan dari busur listrik antara
ujung elektroda dengan logam yang dilas. Elektroda terdiri dari kawat
logam sebagai penghantar arus listrik ke busur dan sekaligus sebagai
bahan pengisi (filler). Kawat ini dibungkus dengan bahan fluks. Biasanya
dipakai arus listrik yang tinggi (10-500 A) dan potensial yang rendah (10-
50 V). Selama pengelasan, fluks mencair dan membentuk terak (slag)
yang berfungsi sebagai lapisan pelindung logam las terhadap udara
sekitarnya. Fluks juga menghasilkan gas yang bisa melindungi butiran-
butiran logam cair yang berasal dari ujung elektroda yang mencair dan
jatuh ke tempat sambungan. (Wiryosumarto, 2000).
5. Las Oksi Asetilen (Oxy Acetilene Welding)
Las oksi asetilen adalah salah satu jenis pengelasan gas yang
dilakukan dengan membakar bahan bakar gas dengan O2 sehingga
menimbulkan nyala api dengan suhu yang dapat mencairkan logam induk
dan logam pengisi. Bahan bakar yang biasa digunakan adalah gas asetilen,
propan, atau hidrogen. Dari ketiga bahan bakar ini yang paling banyak
digunakan adalah gas asetilen, maka dari itu pengelasan ini biasa disebut
dengan las oksi asetilen. (Wiryosumarto, 2000).
29
6. Las Busur Tungsten Gas Mulia (Gas Tungsten Arc Welding/GTAW)
Proses pengelasan di mana sumber panas berasal dari loncatan busur
listrik antara elektroda terbuat dari wolfram/tungsten dan logam yang
dilas. Pada pengelasan ini logam induk (logam asal yang akan disambung
dengan metode pengelasan biasanya disebut dengan istilah logam induk)
tidak ikut terumpan (non-consumable electrode). Untuk melindungi
elektroda dan daerah las digunakan gas mulia (argon atau helium). Sumber
arus yang digunakan bisa AC (arus bolak-balik) maupun DC (arus searah).
(Wiryosumarto, 2000).
7. Las Listrik Terak (Electroslag Welding)
Proses pengelasan di mana energi panas untuk melelehkan logam
dasar (base metal) dan logam pengisi (filler) berasal dari terak yang
berfungsi sebagai tahanan listrik ketika terak tersebut dialiri arus listrik.
Pada awal pengelasan, fluks dipanasi oleh busur listrik yang mengenai
dasar sambungannya. Kemudian logam las terbentuk pada arah vertikal
sebagai hasil dari campuran antara bagian sisi dari logam induk dengan
logam pengisi (filler) cair. Proses pencampuran ini berlangsung sepanjang
alur sambungan las yang dibatasi oleh pelat yang didinginkan dengan air.
(Wiryosumarto, 2000).
30
8. Las Metal Inert Gas (MIG)
Dalam las logam gas mulia, kawat las pengisi yang juga berfungsi
sebagai elektroda diumpankan secara terus menerus. Busur listrik terjadi
antara kawat pengisi dan logam induk. Skema dari alat las ini ditunjukkan
dalam Gambar 1. Gas pelindung yang digunakan adalah gas argon, helium
atau campuran dari keduanya. Untuk memantapkan busur kadang-kadang
ditambahkan gas O2 (oksigen) antara 2 sampai 5%, atau CO
(karbondioksida), antara 5 sampai 20%. Proses pengelasan MIG ini dapat
secara semi otomatik atau otomatik. Semi otomatik dimaksudkan
pengelasan secara manual, sedangkan otomatik adalah pengelasan yang
seluruhnya dilaksanakan secara otomatik. Elektroda keluar melalui
tangkai bersama-sama dengan gas pelindung. (Wiryosumarto, 2000).
2.3.4 Posisi Pengelasan
Posisi atau sikap pengelasan yaitu pengaturan posisi atau letak gerakan
elektroda las. Posisi pengealasan yang digunakan biasanya tergantung dari
letak kampuh-kampuh atau celah-celah benda kerja yang akan dilas. Posisi-
posisi pengelasan terdiri dari posisi pengelasan di bawah tangan (down
handposition), posisi pengelasan mendatar (horizontal position), posisi
31
pengelasan tegak (vertical position), dan posisi pengelasan di atas kepala
(over head position). (Bintoro,2000).
1. Posisi Pengelasan di Bawah Tangan (Down Hand Position)
Posisi pengelasan ini merupakan posisi yang paling mudah dilakukan.
Posisi ini dilakukan untuk pengelasan pada permukaan datar atau
permukaan agak miring, yaitu letak elektroda berada di atas benda kerja.
2. Posisi Pengelasan Mendatar (Horizontal Position)
Mengelas dengan posisi mendatar merupakan pengelasan yang arahnya
mengikuti arah garis mendatar/horizontal. Pada posisi pengelasan ini
kemiringan dan arah ayunan elektroda harus diperhatikan, karena akann
sangat mempengaruhi hasil pengelasan. Posisi benda kerja biasanya
berdiri tegak atau agak miring sedikit dari arah elektroda las. Pengelasan
posisi mendatar sering digunakan untuk pengelasan benda-benda yang
berdiri tegak. Misalnya pengelasan badan kapal laut arah horizontal.
3. Posisi Pengelasan Tegak (Vertical Position)
Mengelas dengan posisi tegak merupakan pengelasan yang arahnya
mengikuti arah garis tegak/vertikal. Seperti pada horizontal position pada
vertical position, posisi benda kerja biasanya berdiri tegak atau agak
miring sedikit searah dengan gerak elektroda las yaitu naik atau turun.
Misalnya pengelasan badan kapal laut arah vertikal.
32
4. Posisi Pengelasan di Atas Kepala (Over Head Position)
Benda kerja terletak di atas kepala welder, sehingga pengelasan
dilakukan di atas kepala operator atau welder. Posisi ini lebih sulit
dibandingkan dengan posisi-posisi pengelasan yang lain. Posisi
pengelasan ini dilakukan untuk pengelasan pada permukaan datar atau
agak miring tetapi posisinya berada di atas kepala, yaitu letak elektroda
berada di bawah benda kerja. Misalnya pengelasan atap gudang bagian
dalam.
Posisi pengelasan di bawah tangan (down hand position)
memungkinkan penetrasi dan cairan logam tidak keluar dari kampuh las
serta kecepatan pengelasan yang lebih besar dibanding lainnya. Pada
horizontal position, cairan logam cenderung jatuh ke bawah, oleh karena
itu busur (arc) dibuat sependek mungkin. Demikian pula untuk vertical
dan over head position.
Penimbunan logam las pada pengelasan busur nyala terjadi akibat
medan electromagnetic bukan akibat gravitasi, pengelasan tidak harus
dilakukanpada down hand position ataupun horizontal position (Bintoro,
2000).