MAKALAH
PERAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN
MASYARAKAT TERHADAP DBD
Makalah ini disusun untuk memenuhi mata kuliah keperawatan komunitas II
Dosen Pengampu : Ns. Ardiansyah, M. Kep
Disusun oleh :
Bayu Kusuma 20100017
Dea Apriyanti 20100033
Delta Puspita 20100023
Destiyani 20100004
Dewi Maryanti 20100037
Dhea Restia Agesti 20100024
Dina Puspita Sari 20100010
Ektovia Abdina 20100003
Erma 20100006
Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Keperawatan
Institut Citra Internasional
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami bisa menyelesaikan Makalah kami tentang PERAN KEPERAWATAN
KOMUNITAS DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN MASYARAKAT TERHADAP
DBD
Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut memberikan
kontribusi dalam penyususan Makalah ini Tentunya, tidak akan bisa maksimal jika tidak mendapat
dukungan dari berbagai pihak.
Sebagai penyusun, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari penyusunan
maupun tata bahasa penyampaian dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami dengan rendah hati
menerima saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki Makalah ini
Kami berharap semoga makalah yang kami susun ini memberikan manfaat dan juga inspirasi untuk
pembaca.
Pangkalpinang, 30 Juni 2023
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan masyarakat adalah suatu kondisi di mana individu-individu dalam suatu
komunitas dapat hidup sehat secara fisik, mental, dan sosial. Keperawatan komunitas
memiliki peran krusial dalam mencapai kondisi kesehatan masyarakat yang optimal. Melalui
pendekatan yang holistik dan kolaboratif, perawat komunitas bekerja sama dengan komunitas
untuk mengidentifikasi masalah kesehatan, merencanakan dan melaksanakan intervensi yang
sesuai, serta mengevaluasi hasil yang dicapai.
1.2 Tujuan Masalah
Tujuan dari penyusunan makalah ini ingin mengetahui peran perawat komunitas dalam
meningkatkan kesehatan masyarakat terhadap DBD?
1.3 Rumusan Masalah
Untuk mengetahui peran perawat komunitas dalam meningkatkan kesehatan mmasyarakat
terhadap DBD.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Peran Perawat Komunitas
Peran keperawatan komunitas meliputi beberapa aspek, antara lain:
A. Pengkajian Kesehatan Komunitas
Perawat komunitas mengumpulkan data dan informasi tentang kesehatan masyarakat,
termasuk faktor-faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi kesehatan. Data
ini digunakan sebagai dasar untuk merencanakan intervensi yang tepat.
B. Promosi Kesehatan
Perawat komunitas berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya gaya hidup sehat, pencegahan penyakit, dan upaya promosi kesehatan lainnya.
Mereka mengadakan kampanye edukatif, mengatur program-program pencegahan, dan
memberikan informasi yang relevan kepada individu dan keluarga.
C. Intervensi dan Perawatan
Perawat komunitas memberikan perawatan langsung kepada individu dan keluarga dalam
komunitas. Mereka memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, melakukan
tindakan pengobatan, serta memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga.
D. Kolaborasi dengan Pihak Terkait
Perawat komunitas bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, seperti dokter, tenaga
medis, pekerja sosial, dan organisasi non-pemerintah, untuk meningkatkan aksesibilitas
dan kualitas pelayanan kesehatan di komunitas.
2..2. Macam - macam Peran Perawat Komunitas
Banyak peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan masyarakat diantaranya adalah:
[Link] penyedia pelayanan (Care provider)
Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah keperawatan yang ada, merencanakan
tindakan keperawatan, melaksanakan tindakan keperawatan dan mengevaluasi pelayanan yang telah
diberikan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
[Link] Pendidik dan konsultan (Nurse Educator and Counselor)
Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik di rumah,
puskesmas, dan di masyarakat secara terorganisir dalam rangka menanamkan perilaku sehat, sehingga
terjadi perubahan perilaku seperti yang diharapkan dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tatanan psikologis atau masalah
sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan
seseorang. Di dalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual.
Proses pengajaran mempunyai 4 komponen yaitu : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hal
ini sejalan dengan proses keperawatan dalam fase pengkajian seorang perawat mengkaji kebutuhan
pembelajaran bagi pasien dan kesiapan untuk belajar. Selama perencanaan perawat membuat tujuan khusus
dan strategi pengajaran. Selama pelaksanaan perawat menerapkan strategi pengajaran dan selama evaluasi
perawat menilai hasil yang telah didapat (Mubarak, 2005).
c. Sebagai Panutan (Role Model)
Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan contoh yang baik dalam bidang kesehatan kepada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang bagaimana tata cara hidup sehat yang dapat ditiru
dan dicontoh oleh masyarakat.
[Link] pembela (Client Advocate)
Pembelaan dapat diberikan kepada individu, kelompok atau tingkat komunitas. Pada tingkat keluarga,
perawat dapat menjalankan fungsinya melalui pelayanan sosial yang ada dalam masyarakat. Seorang
pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan termasuk di dalamnya peningkatan apa yang
terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien (Mubarak, 2005).
Tugas perawat sebagai pembela klien adalah bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi hal lain
yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (Informed Concent) atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepadanya. Tugas yang lain adalah mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus
dilakukan karena klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas
kesehatan (Mubarak, 2005).
e. Sebagai Manajer kasus (Case Manager)
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai kegiatan pelayanan kesehatan
puskesmas dan masyarakat sesuai dengan beban tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.
[Link] kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara bekerjasama dengan tim kesehatan lain,
baik dengan dokter, ahli gizi, ahli radiologi, dan lain-lain dalam kaitanya membantu mempercepat proses
penyembuhan klien Tindakan kolaborasi atau kerjasama merupakan proses pengambilan keputusan dengan
orang lain pada tahap proses keperawatan. Tindakan ini berperan sangat penting untuk merencanakan
tindakan yang akan dilaksanakan (Mubarak, 2005).
[Link] perencana tindakan lanjut (Discharge Planner)
Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang telah menjalani perawatan di suatu instansi
kesehatan atau rumah sakit. Perencanaan ini dapat diberikan kepada klien yang sudah mengalami
perbaikan kondisi kesehatan.
[Link] pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder)
Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat yang menyangkut masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang timbul serta
berdampak terhadap status kesehatan melalui kunjungan rumah, pertemuan-pertemuan, observasi dan
pengumpulan data.
Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services)
Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan, merencanakan dan mengorganisasikan
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada klien. Pelayanan dari semua anggota tim kesehatan, karena
klien menerima pelayanan dari banyak profesional (Mubarak, 2005).
[Link] perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change Agent and Leader)
Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang berinisiatif merubah atau yang membantu
orang lain membuat perubahan pada dirinya atau pada sistem. Marriner torney mendeskripsikan pembawa
peubahan adalah yang mengidentifikasikan masalah, mengkaji motivasi dan kemampuan klien untuk
berubah, menunjukkan alternative, menggali kemungkinan hasil dari alternatif, mengkaji sumber daya,
menunjukkan peran membantu, membina dan mempertahankan hubungan membantu, membantu selama
fase dari proses perubahan dan membimibing klien melalui fase-fase ini (Mubarak, 2005).
Peningkatan dan perubahan adalah komponen essensial dari perawatan. Dengan menggunakan proses
keperawatan, perawat membantu klien untuk merencanakan, melaksanakan dan menjaga perubahan
seperti : pengetahuan, ketrampilan, perasaan dan perilaku yang dapat meningkatkan kesehatan (Mubarak,
2005).
[Link] dan pemberi pelayanan komunitas (Community Care Provider And Researcher)
Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan kepada masyarakat yang meliputi
pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi masalah kesehatan dan pemecahan masalah yang
diberikan. Tindakan pencarian atau pengidentifikasian masalah kesehatan yang lain juga merupakan
bagian dari peran perawat komunitas.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 ANALISA DATA
Analisa data hasil survey dikelurahan nogotirto menunjukkan bahwa selama tahun 2018, angka
kejadian DBD menduduki peringkat nomor 1 dikecamatan cikini, dan dipertengahan bulan
februari 2016 ini sebanyak 12 orang dirawat dan 1 diantaranya meninggal dunia. Penderita DBD
ini sebagian besar (56%) berusia 4-12 tahun. Hasil observasi oleh juru pemantau jentik(jumantik)
masih ada rumah tangga dengan jentik positif dan data puskesmas bulan januari 2017 ABJ
mencapai 70%. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, buruh pekerja bangunan dan
karyawan industry roti yang bekerja sepanjang hari mulai jam 07.00-17.00, sehingga gerakan
PSN dan 3M selama ini yang dicanangkan puskesmas citra delima tidak bisa berjalan dengan
baik. Pemantauan jumantik mandiri keluarga (JMK) juga tidak berjalan dengan baik, terbukti
semua lembar JMK yang ditempel didinding setiap rumah selalu kosong. Setiap kegiatan kerja
bakti di tingkat RT hanya dihadiri 5-7 orang saja. Hasil windshield survey menunjukkan
lingkungan kotor, banyak pohon yang rimbun, kandang ternak menempel dirumah dan sebagian
unggas berada didalam rumah. Menurut kader kesehatan, selain DBD juga muncul leptospirosis
yang mengenai seorang warga di nogotirto. Setelah disurvey, 79% masyarakat belum tahu
tentang leptospirosis, cara penularan dan cara pencegahannya. Vektor tikus yang banyak
ditemukan disekitar rumah, di got dan dijalanan sepanjang kampong. Selama ini masyarakat
membiarakan saja, karena menganggap keadaan ini adalah hal yang biasa, kebiasaan cuci tangan
sebelum makan kurang lebih hanya 29% dilakukan oleh masyarakat, hal ini menunjukkan masih
jarang dilakukan karena menganggap makan memakai sendok sudah aman. Sebagain besar ibu-
ibu (61%) menyimpan alat dapur seperti piring, gelas, sendok, dan alat lain di rak yang terbuka
dan tidak mencucinya sebelum digunakan.
3.2 PRIORITAS MASALAH
1. Tingginya angka kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) : pada tahun 2018, DBD
menduduki peringkat nomor 1 di Kecamatan Cikini. Pada pertengahan bulan Februari
2016, terdapat 12 orang dirawat dan 1 orang meninggal dunia akibat DBD. Penderita
DBD ini sebagian besar (56%) berusia 4-12 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa DBD
merupakan masalah serius dan harus ditangani dengan baik.
2. Masih adanya jentik nyamuk aedes aegypti : meskipun dilakukan observasi oleh juru
pemantau jentik (JUMANTIK), masih ditemukan rumah tangga dengan jentik positif.
Data dari puskesmas pada bulan Januari 2017 menunjukkan Angka Bebas Jentik (ABJ)
sebesar 70%. Hal ini menunjukkan perlunya tindakan lebih lanjut untuk mengendalikan
populasi nyamuk Aedes Aegypti.
3. Pekerjaan masyarakat yang berpotensi meningkatkan risiko penularan : sebagian besar
masyarakat bekerja sebagai petani, buruh pekerja bangunan, dan karyawan industry roti.
Jam kerja yang panjang, mulai dari jam 07.00 hingga 17.00, membuat pelaksanaan
Gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan 3M (Menguras, Menutup,
Mengubur) sulit dilakukan dengan baik. Hal ini dapat menyebabkan lingkungan yang
tidak higienis dan meningkatkan risiko penularan penyakit.
4. Kurangnya efektivitas program Jumantik Mandiri Keluarga (JMK) : lembaran JMK yang
ditempel didinding setiap rumah selalu kosong, menunjukkan rendahnya partisipasi
masyarakat dalam program ini. Hal ini dapat mengurangi efektivitas pengendalian
nyamuk Aedes Aegypti di tingkat rumah tangga.
5. Kondisi lingkungan yang berpotensi menyebabkan penyakit : hasil windshield survey
menunjukkan bahwa lingkungan di kelurahan Nogotirto kotor, terdapat banyak pohon
yang rimbun, kandang ternak menempel dirumah. Hal-hal ini dapat menjadi tempat
berkembang biaknya nyamuk dan memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.
6. Leptospirosis : selain DBD, munculnya kasus leptospirosis juga perlu diperhatikan.
Terdapat satu warga yang terkena leptospirosis. Namun, sebanyak 79% masyarakat
belum mengetahui tentang leptospirosis , cara penularannya, dan cara pencegahannya.
Edukasi tentang penyakit ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
7. Kebersihan personal yang perlu ditingkatkan : kebiasaan cuci tangan sebelum makan
hanya dilakukan oleh 29% masyarakat, sedangkan Sebagian besar ibu-ibu (61%)
menyimpan alat dapur seperti piring, gelas, sendok dan alat lainnya di rak yang terbuka
dan tidak mencucinya sebelum digunakan. Hal ini dapat meningkatkan risiko penularan
penyakit melalui kontaminasi makanan.
Dari analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa perlu dilakukan Tindakan yang
komprehensif dalam penanggulangan masalah Kesehatan dikelurahan Nogotirto.
Beberapa Tindakan yang dapat dilakukan antara lain :
a. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam Gerakan PSN dan 3M dengan melibatkan
pemangku kepentingan seperti kelompok tani, pekerja bangunan, dan industry roti. Dapat
dilakukan sosialisasi, pelatihan dan pengawasan aktif yang memastikan impelementasi
yang efektif.
b. Penguatan program jumantik mandiri keluarga dalam memberikan edukasi kepada
masyarakat mengenai pentingnya pencegahan penyakit melalui pengendalian vektor
nyamuk Aedes Aegypti.
c. Pembersihan lingkungan secara teratur, termasuk pohon rimbun, kendang ternak yang
menempel di rumah, dan menjaga kebersihan dalam rumah agar tidak menjadi tempat
berkembang biaknya nyamuk.
d. Peningkatan pemahaman masyarakat mengenai leptospirosis melalui penyuluhan dan
kampanye Kesehatan.
e. Edukasi pentingnya kebersihan personal, termasuk mencuci tangan sebelum makan dan
menjaga kebersihan peralatan dapur.
f. Pengendalian vektor tikus dengan memperbaiki sanitasi lingkungan, mengurangi habitat
tikus, dan melakukan pemberantasan tikus secara efektif.
Seluruh Tindakan ini harus melibatkan Kerjasama antara pemerintah setempat,
puskesmas, kader Kesehatan, dan masyarakat sebagai upaya Bersama dalam benjaga
Kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit.
3.3 RENCANA KEPERAWATAN
Rencana keperawatan hasil survey dikelurahan Nogotirto menunjukkan bahwa selama tahun
2018, angka kejadian DBD menduduki peringkat nomor 1 dikecamatan cikini, dan dipertengahan
bulan februari 2016 ini sebanyak 12 orang dirawat dan 1 diantaranya meninggal dunia. Penderita
DBD ini Sebagian besar (56%) berusia 4-12 tahun. Hasil observasi oleh juru pemantau jentik
(JUMANTIK) masih ada rumah tangga dengan jentik posisif dan data puskesmas bulan januari
2017 ABJ mencapai 70%. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, buruh pekerja
bangunan dan karyawan industry roti yang bekerja sepanjang hari mulai jam 07.00-17.00,
sehingga Gerakan PSN dan 3M selama ini yang dicanangkan puskesmas citra delima tidak bisa
berjalan dengan baik. Pemantauan jumantik mandiri keluarga (JMK) juga tidak berjalan dengan
baik, terbukti semua lembar JMK yang ditempel didinding setiap rumah selalu kosong. Setiap
kegiatan kerja bakti di tingkat RT hanya dihadiri 5-7 orang saja hasil windshield survey
menunjukkan lingkungan kotor, banyak pohon yang rimbun, kendang ternak menempel dirumah
dan Sebagian unggas berada didalam rumah. Menurut kader Kesehatan, selain dbd juga muncul
leptospirosis yang mengenai seorang warga di nogotirto. Setelah disurvey, 79% masyarakat
belum tahu tentang leprospirosis, cara penularan dan cara pencegahannya. Vektor tikus banyak
ditemukan disekitar rumah, digot dan dijalanan sepanjang kampung. Selama ini masyarakat
membiarkan saja, karena menganggap keadaan ini adalah hal yang biasa, kebiasaan mencuci
tangan sebelum makan kurang lebih hanya 29% dilakukan oleh masyarakat, hal ini
menunjukkan masih jarang dilakukan karena menganggap memakai sendok sudah aman.
Sebagian besar ibu-ibu (61%) menyimpan alat dapur seperti piring, gelas sendok dan alat lain di
rak yang terbuka dan tidak mencucinya sebelum digunakan.
Sebagai perawat, berikut adalah rencana keperawatan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil
survey di kelurahan Nogotirto :
1. Edukasi tentang DBD dan Leptospirosis : memberikan edukasi kepada masyarakat
tentang penyebab, gejala, cara penularan, dan cara pencegahan DBD dan Leptospirosis.
Informasi ini dapat disampaikan melalui pertemuan komunitas, ceramah Kesehatan, dan
media sosial.
2. Pengendalian vektor nyamuk dan tikus : mengadakan kegiatan pengendalian vektor
nyamuk dan tikus dirumah-rumah dan lingkungan sekitar. Melibatkan tim jumantik
dalam pemeriksaan rumah-rumah dan penghapusan jentik nyamuk serta pengendalian
populasi tikus.
3. Gerakan PSN 9(Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan 3M (Menguras, Menutup,
Mengubur): menggalakkan Gerakan PSN dan 3M dengan melibatkan masyarakat.
Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menguras, menutup,
dan mengubur tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
4. Peningkatan kebersihan pribadi : edukasi mengenai pentingnya mencuci sebelum makan
dan setelah menggunakan toilet. Menjelaskan betapa pentingnya menjaga kebersihan
pribadi untuk mencegah penyebaran penyakit.
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi lingkungan : mendorong masyarakat untuk mengelola
limbah dengan baik dan meningkatkan sanitasi lingkungan. Mengajarkan cara yang tepat
dalam membuang sampah, mengelola limbah rumah tangga, dan membersihkan
lingkungan sekitar.
6. Pengadaan tempat penyimpanan alat dapur yang higienis : memberikan edukasi kepada
ibu-ibu tentang pentingnya menyimpan alat dapur seperti piring, gelas, sendok dan alat
lainnya ditempat yang tertutup dan mencucinya sebelum digunakan.
7. Sosialisasi tentang leptospirosis : mengadakan kegiatan sosialisasi yang intensif mengena
leptospirosis, menjelaskan cara penularan, gejala, pencegahan, dan pengobatan
leptospirosis kepada masyarakat.
8. Monitoring dan evaluasi : melakukan pemantauan terhadap implementasi kegiatan-
kegiatan diatas serta melakukan evaluasi secara berkala untuk melihat efektivitasnya. Jika
ditemukan kendala atau perubahan situasi, dapat dilakukan penyesuaian rencana
keperawatan.
Melalui rencana keperawatan yang komprehensif dan melibatkan partisipasi aktif
masyarakat, diharapkan dapat mengurangi angkat kejadian DBD dan Leptospirosis serta
meningkatkan Kesehatan dan kebersihan di Kelurahan Nogotirto.
3.4 IMPLEMENTASI
Implementasi keperawatan hasil survey dikelurahan Nogotirto menunjukkan bahwa selama tahun
2018, angka kejadian DBD menduduki peringkat nomor 1 dikecamatan cikini, dan dipertengahan
bulan februari 2016 ini sebanyak 12 orang dirawat dan 1 diantaranya meninggal dunia. Penderita
DBD ini Sebagian besar (56%) berusia 4-12 tahun. Hasil observasi oleh juru pemantau jentik
(JUMANTIK) masih ada rumah tangga dengan jentik posisif dan data puskesmas bulan januari
2017 ABJ mencapai 70%. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, buruh pekerja
bangunan dan karyawan industry roti yang bekerja sepanjang hari mulai jam 07.00-17.00,
sehingga Gerakan PSN dan 3M selama ini yang dicanangkan puskesmas citra delima tidak bisa
berjalan dengan baik. Pemantauan jumantik mandiri keluarga (JMK) juga tidak berjalan dengan
baik, terbukti semua lembar JMK yang ditempel didinding setiap rumah selalu kosong. Setiap
kegiatan kerja bakti di tingkat RT hanya dihadiri 5-7 orang saja hasil windshield survey
menunjukkan lingkungan kotor, banyak pohon yang rimbun, kendang ternak menempel dirumah
dan Sebagian unggas berada didalam rumah. Menurut kader Kesehatan, selain dbd juga muncul
leptospirosis yang mengenai seorang warga di nogotirto. Setelah disurvey, 79% masyarakat
belum tahu tentang leprospirosis, cara penularan dan cara pencegahannya. Vektor tikus banyak
ditemukan disekitar rumah, digot dan dijalanan sepanjang kampung. Selama ini masyarakat
membiarkan saja, karena menganggap keadaan ini adalah hal yang biasa, kebiasaan mencuci
tangan sebelum makan kurang lebih hanya 29% dilakukan oleh masyarakat, hal ini
menunjukkan masih jarang dilakukan karena menganggap memakai sendok sudah aman.
Sebagian besar ibu-ibu (61%) menyimpan alat dapur seperti piring, gelas sendok dan alat lain di
rak yang terbuka dan tidak mencucinya sebelum digunakan.
Implementasi hasil survey dikelurahan Nogotirto dapat dilakukan dengan Langkah-langkah
sebagai berikut :
1. Edukasi dan kampanye :
a. Melakukan kampanye penyuluhan mengenai DBD dan Leptospirosis kepada
masyarakat secara aktif dan terarah.
b. Menggunakan berbagai media komunikasi, seperti ceramah, brosus, poster dan media
sosial untuk menyebarkan informasi tentang gejala, penularan, dan pencegahan DBD
dan Leptospirosis
c. Melibatkan kader Kesehatan dan relawan dalam menyampaikan edukasi kepada
masyarakat.
2. Pengendalian vektor nyamuk dan tikus :
a. Meningkatkan kegiatan jumantik dengan memperkuat pemantauan dan
pemberantasan jentik nyamuk di rumah-rumah.
b. Menggalakkan pembersihan lingkungan dan genangan air dan tempat-tempat yang
berpotensi menjadi sarang nyamuk.
c. Mengadakan kegiatan pengendalian populasi tikus, seperti pemasangan perangkap
tikus dan pemusnahan sarang tikus.
3. Gerakan PSN dan 3M:
a. Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam Gerakan PSN (Pemberantasan sarang
nyamuku ) dan menerapkan prinsip 3M (Menguras, menutup, dan mengubur) sebagai
Langkah pencegahan DBD.
b. Melibatkan kelompok masyarakat, seperti karang taruna, RT/RW, dan komunitas,
dalam melaksanakan kegiatan PSN dan 3M secara rutin.
4. Peningkatan kebersihan lingkungan :
a. Mengorganisir kegiatan kerja bakti Bersama masyarakat untuk membersihkan
lingkunga dari sampah dan vegetasi yang rimbun.
b. Melakukan pemangkasan pohon-pohon yang rimbun dan pengaturan tata ruang
pemukiman agar tidak ada kendang ternak menempel pada rumah atau unggas yang
berada didalam rumah.
5. Edukasi tentang Leptospirosis :
a. Mengadakan kampanye penyuluhan khusus mengenai leptospirosis, termasuk cara
penularan, gejala dan pencegahnnya.
b. Menyediakan materi edukatif yang mudah dipahami dan menarik bagi masyarakat,
seperti leaflet, poster dan video pendek
c. Menggunakan pendekatan komunikasi yang melibatkan kader Kesehatan, tokoh
masyarakat dan relawan dalam menyampaikan informasi tentang leptospirosis.
6. Promogi hygiene dan cuci tangan :
a. Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya mencuci tangan sebelum
makan dan setelah menggunakan toilet.
b. Menjelaskan Teknik mencuci tangan yang benar dan menyediakan fasilitas pencuci
tangan yang mudah di akses ditempat-tempat umum.
7. Pengelolaan alat dapur :
a. Edukasi ibu-ibu tentang pentingnya menyimpan alat dapur seperti piring, gelas,
sendok dan alat lainnya di tempat yang tertutup dan mencucinya sebelum digunakan.
b. Memberikan contoh praktik pengelolaan alat dapur yang baik dan memberikan
informasi mengenai risiko penyakit yang dapat ditularkan melalui alat dapur yang
tidak bersih.
c. Pada setiap Langkah implementasi, penting melibatkan tokoh masyarakat, kader
Kesehatan, serta menjalin kerja sama dengan pihak puskesmas, pemerintah setempat,
dan masyarakat secara umum.
d. Selain itu, penting juga untuk terus memantau dan evaluasi pelaksanaan program agar
dapat mengevaluasi efektivitasnya serta melakukan penyesuaian jika diperlukan.
3.5 EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi keperawatan hasil survey dikelurahan Nogotirto menunjukkan bahwa selama tahun
2018, angka kejadian DBD menduduki peringkat nomor 1 dikecamatan cikini, dan dipertengahan
bulan februari 2016 ini sebanyak 12 orang dirawat dan 1 diantaranya meninggal dunia. Penderita
DBD ini Sebagian besar (56%) berusia 4-12 tahun. Hasil observasi oleh juru pemantau jentik
(JUMANTIK) masih ada rumah tangga dengan jentik posisif dan data puskesmas bulan januari
2017 ABJ mencapai 70%. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, buruh pekerja
bangunan dan karyawan industry roti yang bekerja sepanjang hari mulai jam 07.00-17.00,
sehingga Gerakan PSN dan 3M selama ini yang dicanangkan puskesmas citra delima tidak bisa
berjalan dengan baik. Pemantauan jumantik mandiri keluarga (JMK) juga tidak berjalan dengan
baik, terbukti semua lembar JMK yang ditempel didinding setiap rumah selalu kosong. Setiap
kegiatan kerja bakti di tingkat RT hanya dihadiri 5-7 orang saja hasil windshield survey
menunjukkan lingkungan kotor, banyak pohon yang rimbun, kendang ternak menempel dirumah
dan Sebagian unggas berada didalam rumah. Menurut kader Kesehatan, selain dbd juga muncul
leptospirosis yang mengenai seorang warga di nogotirto. Setelah disurvey, 79% masyarakat
belum tahu tentang leprospirosis, cara penularan dan cara pencegahannya. Vektor tikus banyak
ditemukan disekitar rumah, digot dan dijalanan sepanjang kampung. Selama ini masyarakat
membiarkan saja, karena menganggap keadaan ini adalah hal yang biasa, kebiasaan mencuci
tangan sebelum makan kurang lebih hanya 29% dilakukan oleh masyarakat, hal ini
menunjukkan masih jarang dilakukan karena menganggap memakai sendok sudah aman.
Sebagian besar ibu-ibu (61%) menyimpan alat dapur seperti piring, gelas sendok dan alat lain di
rak yang terbuka dan tidak mencucinya sebelum digunakan.
Evaluasi keperawatan hasil survey dikelurahan Nogotirto menunjukkan adanya beberapa
permasalahan yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Berikut adalah evaluasi terhadap
beberapa aspek yang diidentifikasi dalam survey ;
1. Kejadian DBD dan Leptospirosis :
Meskipun telah dilakukan kampanye penyuluhan, masih terjadi kasus DBD dan
munculnya Leptospirosis. Evaluasi perlu dilakukan terhadap efektivitas kampanye
penyuluhan yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat
mengenai penyakit ini.
Perlu ditingkatkan pemantauan jentik nyamuk dan Tindakan pemberantasan jentik
dirumah tetangga. Penggunaan metode jumantik mandiri keluarga (JMK) yang tidak
berjalan baik memerlukan evaluasi dan Langkah perbaikan untuk memastikan
efektivitasnya.
2. Gerakan PSN dan 3M :
Gerakan PSN dan penerapan 3M tidak berjalan dengan baik karena jadwal kerja
masyarakat yang padat. Evaluasi perlu dilakukan untuk menemukan cara yang lebih
efektif dalam melibatkan masyarakat, seperti menyesuaikan waktu kegiatan PSN dengan
jadwal kerja mereka
3. Kebersihan lingkungan :
Hasil windshield survey menunjukkan lingkungan kotor dengan banyak pohon yang
rimbun dan kendang ternak menempel pada rumah. Evaluasi diperlukan untuk
mengidentifikasi hambatan yang mungkin menghambat kegiatan kerja bakti dan
mengembangkan strategi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
membersihkan lingkungan.
4. Edukasi dan kesadaran masyarakat :
Tingkat pengetahuan masyarakat tentang leptospirosis masih rendah, serta kebiasaan
mencuci tangan dan pengelolaan alat dapur yang kurang memadai. Evaluasi perlu
dilakukan untuk mengevaluasi efektivita kampanye edukasi yang dilakukan dan
menemukan cara yang lebih efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai
pentingnya hidup sehat.
Dalam evaluasi, penting melibatkan semua pemangku kepentingan terkait, seperti pihak
puskesmas, pemerintah setempat, kader Kesehatan, dan masyarakat untuk mendiskusikan temuan
evaluasi dan merencanakan Langkah-langkah perbaikan yang tepat. Evaluasi harus dilakukan
secara berkala untuk memastikan program dan kegiatan yang dilakukan eektif dalam mengatasi
masalah Kesehatan yang dihadapi di keluarahan Nogotirto.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Keperawatan komunitas memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan kesehatan
masyarakat. Melalui pendekatan yang holistik dan kolaboratif, perawat komunitas dapat
membantu mengidentifikasi masalah kesehatan, merencanakan intervensi yang efektif, dan
memberikan perawatan yang komprehensif kepada individu dan keluarga di komunitas. Dalam
upaya mencapai kondisi kesehatan masyarakat yang optimal, peran keperawatan komunitas tidak
dapat diabaikan dan perlu diperkuat dalam sistem pelayanan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson ET, McFarlane J. Community as Partner: Theory and Practice in Nursing. 7th ed.
Lippincott Williams & Wilkins; 2018.
Clark MJ. Community Health Nursing: Advocacy for Population Health. 6th ed. Pearson; 2017.
Gullatte MM. Community Health Nursing: A Population-Centered Approach. 9th ed. Elsevier;
2019.
Quad Council of Public Health Nursing Organizations. Public Health Nursing: Scope and
Standards of Practice. 2nd ed. American Nurses Association; 2019.