0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan2 halaman

Hukum Perikatan Islam: Prinsip dan Syarat

Dokumen tersebut membahas tentang hukum perikatan Islam dan perbandingannya dengan hukum perikatan Barat serta adat. Hukum perikatan Islam bersumber dari Al-Quran, hadis, dan ijtihad yang mengatur hubungan antara dua pihak atau lebih mengenai objek transaksi yang dihalalkan. Sedangkan hukum perikatan Barat tidak berkaitan dengan agama dan terdiri atas sistem hukum Roman dan Common Law. Hukum adat memberikan kebutuhan

Diunggah oleh

Ririn Alita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan2 halaman

Hukum Perikatan Islam: Prinsip dan Syarat

Dokumen tersebut membahas tentang hukum perikatan Islam dan perbandingannya dengan hukum perikatan Barat serta adat. Hukum perikatan Islam bersumber dari Al-Quran, hadis, dan ijtihad yang mengatur hubungan antara dua pihak atau lebih mengenai objek transaksi yang dihalalkan. Sedangkan hukum perikatan Barat tidak berkaitan dengan agama dan terdiri atas sistem hukum Roman dan Common Law. Hukum adat memberikan kebutuhan

Diunggah oleh

Ririn Alita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

🦋 🦋🦋🦋

1). Hukum perikatan adalah, suatu hubungan hukum dalam harta kekayaan antara dua orang
atau lebih di mana pihak yang satu berhak atas sesuatu dan pihak lain berkewajiban atas
sesuatu.
Hukum Perikatan Islam adalah hukum yang bersumber dari Al-Qur‟an, As-Sunnah (Al-
Hadist), dan Ar-Ra‟yu (Ijtihad) yang mengatur tentang hubungan antara dua orang atau lebih
mengenai suatu benda yang dihalalkan menjadi objek suatu transaksi.
Rukunya:
1. Ijab Kabul (Shigat Perikatan)
2. Mahal al-„Aqd (Objek Perikatan)
3. Al-„Aqidain (Pihak-pihak yang Melaksanakan Perikatan)
4. Maudhu‟ul „Aqd (Tujuan Perikatan dan Akibatnya)

Syaratnya:
1).tujuan perikatan tidak merupakan kewajiban,atas pihak-pihak yang bersangkutan tanpa
perikatan yang diadakan
2)tujuan harus berlangsung, hingga berakhirnya pelaksanaan perikatan
3).tujuan perikatan harus dibenarkan oleh syara‟, jika syarat ini tidak terpenuhi, maka perikatan
tidak sah, seperti perikatan riba dan sebagainya.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari, adalah transaksi jual beli atau sewa-menyewa.

2).kalau perikatan syariah, dibentuk dalam hukum islam dan hadis untuk mematuhi prinsip"
hukum islam dan ketentuan yang terkandung dalam alquran dan hadis
Sedangkan perikatan konvensional dibentuk berdasarkan prinsip atau hukum positif suatu
negara
Syarat" sah dalam hukum perikatan islam:
1).kepatuhan terhadap syariah
2).persetujuan ijab dan qabul

3). Kalau perikatan islam, hukum yang bersumber dari al-qur’an, As-sunnah (Hadits), dan Ar-
ra’yu (Ijtihad) yang mengatur tentang hubungan antara dua orang atau lebih mengenai suatu
benda yang dihalalkan menjadi objek suatu transaksi.
Kalau hukum perikatan barat, mempunyai dua sistem hukum besar di dunia, yaitu Roman Law
Sistem dan Common Law Sistem, dan hukum perikatan barat ini sama sekali tidak ada kaitannya
dengan agama.
Kalau Hukum adat bersifat ,mampu memberikan kebutuhan masyarakat yang bersifat
fungsional religious, sehingga hukum adat mempunyai fungsi sosial atau kaedilan sosial.

Relavansinya, Sistem hukum barat nilainya tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa
Indonesia, Sistem hukum adat nilai-nilainya pada masyarakat adat tertentu, dan sistem hukum
Islam nilainya diyakini dan diamalkan oleh ma- yoritas masyarakat Indonesia secara nasional.
4). Empat syarat sah perjanjian menurut Pasal 1320 KUH Perdata, antara lain:
1).kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
2).kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3).suatu pokok persoalan tertentu
4).suatu sebab yang tidak terlarang
Kalau perjanjian, suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana
dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal
Sedangkan, Perikatan suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan
mana pihak yang berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.

5).Berikut adalah bentuk-bentuk perikatan islam dalam dasar kegiatan usaha:


1).Pertukaran uang dengan uang
2. Kerjasama dalam kegiatan usaha
3. Pemberian kepercayaan dalam kegiatan usaha.

Anda mungkin juga menyukai