100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
140 tayangan15 halaman

Pencegahan Kesalahan Obat dalam Keperawatan

Beberapa faktor penyebab medication error antara lain: 1. Kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan terkait obat-obatan 2. Komunikasi yang buruk antar tenaga kesehatan 3. Beban kerja tenaga kesehatan yang berlebih 4. Gangguan saat proses pengobatan 5. Nama obat yang serupa atau kemasan obat yang mirip 6. Kurang teliti dalam mengidentifikasi pasien dan resep obat

Diunggah oleh

Lona trista
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
140 tayangan15 halaman

Pencegahan Kesalahan Obat dalam Keperawatan

Beberapa faktor penyebab medication error antara lain: 1. Kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan terkait obat-obatan 2. Komunikasi yang buruk antar tenaga kesehatan 3. Beban kerja tenaga kesehatan yang berlebih 4. Gangguan saat proses pengobatan 5. Nama obat yang serupa atau kemasan obat yang mirip 6. Kurang teliti dalam mengidentifikasi pasien dan resep obat

Diunggah oleh

Lona trista
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH PEMERIKSAAN YANG DIGUNAKAN UNTUK MENCEGAH

MEDICATION ERROR
FARMAKOLOGI KEPERAWATAN

DOSEN PENGAMPU :
ACHMAD SYA’ID, S. Kp., M. Kep

OLEH :
LONATRISTA SELINDA REETY KRYSANTHE 22102079 | 22B
ROFIATUL DELLA TRI LESTARI 22102099 | 22B

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS dr. SOEBANDI
2022/2023

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah tentang “Pemeriksaan
yang Digunakan Untuk Mencegah Medication Error” untuk mata kuliah
Farmakologi Keperawatan.
Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materi. Kami
berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca.
Kami sebagai penulis merasa bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam
makalah ini. Oleh karena itu, kami membutuhkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca agar makalah ini dapat kami sempurnakan.

Jember, 15 April 2023

Penulis

2
DAFTAR ISI

COVER ................................................................................................................... 1

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 2

DAFTAR ISI........................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 4

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 4

1.3 Tujuan .......................................................................................................... 4

1.4 Manfaat ........................................................................................................ 4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Medication Error ............................................................................ 6

2.2 Penggolongan Medication Error .................................................................. 6

2.3 Faktor-faktor Penyebab Medication Error ................................................... 7

2.4 Tahapan-tahapan Medication Error ............................................................. 9

2.5 Upaya Pencegahan Medication Error ........................................................ 11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan dan Saran ............................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 14

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Medication error merupakan suatu kejadian yang tidak hanya merugikan
pasien tetapi juga membahayakan keselamatan pasien. Medication error
adalah suatu kesalahan dalam pengobatan yang dapat dicegah. Di rumah sakit
medication error dapat terjadi di berbagai tahap baik dalam peresepan obat
oleh dokter, pembuatan obat oleh farmasi, atau bahkan pemberian obat oleh
perawat.
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya medication error adalah
miskomunikasi atau kesalahpahaman dalam menangkap informasi. Selain itu,
kurangnya pengetahuan, tidak teliti, beban kerja tenaga kesehatan yang
berlebih juga merupakan faktor penyebab medication error. Hal ini dapat
diminimalisir dengan adanya pengawasan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud medication error?
2. Apa saja golongan medication error?
3. Apa saja faktor penyebab medication error?
4. Bagaimana tahapan medication error?
5. Bagaimana upaya pencegahan medication error?
1.3 Tujuan
1. Untuk memahami definisi medication error.
2. Untuk memahami golongan medication error.
3. Untuk mengetahui dan memahami faktor penyebab medication error.
4. Untuk memahami tahapan medication error.
5. Untuk mencegah terjadinya medication error saat pemberian obat pada
pasien.
1.4 Manfaat
- Untuk mahasiswa diharapkan makalah ini dapat memenuhi penilaian tugas
yang diberikan dosen.
- Untuk masyarakat diharapkan dapat membantu untuk memahami dan
mencegah kesalahan dalam pemberian obat oleh tenaga kesehatan.

4
- Untuk perawat maupun dokter diharapkan dapat menjadi acuan dalam
memberikan obat, meresepkan obat, dan menghitung dosis obat tanpa
terjadi medication error pada pasien.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Medication Error


Medication error adalah setiap kejadian yang sebenarnya dapat dicegah
yang dapat menyebabkan atau membawa kepada penggunaan obat yang tidak
layak atau membahayakan pasien, ketika obat berada diluar kontrol.
Medication error merupakan suatu kesalahan pengobatan sebagai kegagalan
dalam proses pengobatan yang memiliki potensi membahayakan bagi pasien
dalam proses perawatan (BAYANG, 2013). Berdasarkan keputusan Menteri
kesehatan NO.1027/MENKES/SK/IX/2004 medication error adalah kejadian
yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam penanganan
tenaga kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. Kesalahan pengobatan biasa
terjadi di rumah sakit dan kesalahan dapat terjadi pada setiap tahap baik dari
peresepan (dokter), melalui dispensing (apoteker atau staf dispensing), untuk
administrasi (staf keperawatan atau pasien sendiri).

2.2 Pengolongan Medication Error


Berdasarkan tahap kejadianya, medication error dibagi menjadi beberapa
bagian (Susanti, 2013), antara lain:

1. Prescribing error (kesalahan dalam peresepan)


Kesalahan pemilihan obat (berdasarkan indikasi, kontra indikasi,
alergi yang tidak diketahui, terapi obat yang sedang berlangsung, dan
faktor lainya) dosis, bentuk sediaan obat, kuantitas, rute, konsentrasi,
kecepatan pemberian, atau instruksi untuk penggunaan obat, penulisan
resep yang tidak jelas, dan lain-lain yang menyebabkan terjadinya
kesalahan pemberian obat kepada pasien.
2. Omission error (kesalahan karena kurang stok obat)
Kegagalan memberikan dosis obat kepada pasien sampai pada
jadwal berikutnya.
3. Wrong time error (salah waktu pemberian)
Memberikan obat diluar waktu, dari interval waktu yang telah
ditentukan.

6
4. Unauthorized drug error (kesalahan pemberiaan obat diluar kuasa)
Memberikan obat yang tidak diinstruksikan oleh dokter.
5. Wrong patient (salah pasien)
Memberikan obat kepada pasien yang salah.
6. Improper dose error (kesalahan karena dosis yang tidak tepat)
Memberikan dosis obat kepada pasien lebih besar atau lebih kecil
dari pada dosis yang diinstruksikan oleh dokter, atau memberikan dosis
duplikasi.
7. Wrong dosage from error (kesalahan dari dosis yang salah)
Memberikan obat dengan bentuk sediaan yang tidak sesuai.
8. Wrong drug preparation error (kesalahan dari persiapan obat)
Mempersiapkan obat dengan bentuk sediaan yang tidak sesuai.
9. Wrong administration thecnequi error (kesalahan dari teknik adminstrasi
yang salah)
Prosedur atau teknik yang tidak layak atau tidak benar saat
memberikan obat.
10. Deteriorated drug error (kesalahan pemberian obat yang aktifitasnya
menurun)
Memberikan obat yang telah kadaluarsa atau yang telah mengalami
penurunan.
11. Monitoring error (kesalahan dalam pemantauan)
Kegagalan untuk memantau kelayakan dan deteksi problem dari
regimen yang diresepkan, atau kegagalan untuk menggunakan data klinis
atau laboratorium untuk asesmen respon pasien terhadap terapi obat yang
diresepkan.
12. Compliance error (kesalahan kepatuhan penggunaan obat oleh pasien)
Sikap pasien yang tidak layak berkaitan dengan ketaatan
penggunaan obat yang diresepkan.

2.3 Faktor-faktor Penyebab Medication Error

Penelitian di Amerika yang memperhitungkan kematian akibat


kesalahan obat, kebanyakan terjadi pada saat fase prescribing atau peresepan

7
yang diakibatkan dari kurang dalamnya pengetahuan, komunikasi yang buruk,
dan kurangnya mempertimbangkan informasi penting pasien (Gunardi, 2015).
Pada tingkat dispensing, kesalahan mungkin timbul karena nama obat-obatan
yang serupa, dan penampilan bahan kemasan, Pemberian obat tidak teratur,
karena beban kerja lebih dan gangguan. Dispensing dosis obat tinggi, dan
bentuk sediaan yang tidak benar, dapat menyebabkan kondisi yang
mengancam jiwa. Selain pada saat prescribing atau dispensing, kesalahan juga
dapat terjadi pada saat administration. Kekurangan kinerja, kurangnya
komunikasi perawat dengan profesional kesehatan lainnya, tekanan pekerjaan
yang berlebihan dan sering adanya gangguan adalah faktor yang paling
dominan terkait dengan kesalahan administrasi.

Kesalahan pengobatan tidak dapat dihindari, tetapi kesalahan tersebut


dapat diminimalkan secara signifikan dengan adanya pengawas, manajemen
rumah sakit, pabrik farmasi, resep, apoteker atau staf pemberian obat dan
perawat bekerja sama untuk mengidentifikasi kesalahan pengobatan dan
mengadopsi strategi untuk menguranginya (VERONICA MERARI
OCTAVIANI, 2020).

Menurut kepmenkes 2004 faktor-faktor lain yang berkontribusi pada


medication error antara lain :

1. Komunikasi (mis-komunikasi, kegagalan dalam berkomunikasi)


Kegagalan dalam berkomunikasi merupakan sumber utama
terjadinya kesalahan. Institusi pelayanan kesehatan harus menghilangkan
hambatan komunikasi antar petugas kesehatan dan membuat SOP
bagaimana resep/permintaan obat dan informasi obat lainnya
dikomunikasikan. Komunikasi baik antar apoteker maupun dengan
petugas kesehatan lainnya perlu dilakukan dengan jelas untuk menghindari
penafsiran ganda atau ketidak lengkapan informasi dengan berbicara
perlahan dan jelas. Perlu dibuat daftar singkatan dan penulisan dosis yang
berisiko menimbulkan kesalahan untuk diwaspadai.
2. Kondisi lingkungan

8
Untuk menghindari kesalahan yang berkaitan dengan kondisi
lingkungan, area dispensing harus didesain dengan tepat dan sesuai dengan
alur kerja, untuk menurunkan kelelahan dengan pencahayaan yang cukup
dan temperatur yang nyaman. Selain itu, area kerja harus bersih dan teratur
untuk mencegah terjadinya kesalahan. Obat untuk setiap pasien perlu
disiapkan dalam nampan terpisah.
3. Gangguan/ interupsi pada saat bekerja
Gangguan/ interupsi harus seminimum mungkin dengan
mengurangi interupsi baik langsung maupun melalui telepon.
4. Beban kerja
Rasio antara beban kerja dan SDM yang cukup penting untuk
mengurangi stres dan beban kerja berlebihan sehingga dapat menurunkan
kesalahan.
5. Edukasi staf
Meskipun edukasi staf merupakan cara yang tidak cukup kuat
dalam menurunkan insiden atau kesalahan, tetapi mereka dapat
memainkan peran penting ketika dilibatkan dalam sistem menurunkan
insiden maupun kesalahan.

2.4 Tahapan-tahapan pada Medication Error


1. Kesalahan Peresepan (prescribing error)
Hal-hal yang sering terjadi prescribing error adalah penulisan
resep yang sulit dibaca dibagian nama obat, satuan numerik obat yang
digunakan, bentuk sediaan yang dimaksud, tidak ada dosis sediaan, tidak
ada umur pasien, tidak ada nama dokter, tidak ada SIP dokter, dan tidak
adanya tanggal pemberian (Khairurrijal and Putriana, 2018). Tidak adanya
bentuk sediaan ini sangat merugikan pasien. Pemilihan bentuk sediaan ini
disesuaikan dengan kondisi yang sedang dialami oleh pasien. Dosis
merupakan bagian yang sangat penting dalam resep. Tidak ada dosis
sediaan berpeluang menimbulkan kesalahan oleh transcriber, hal ini
karena beberapa obat memiliki dosis sediaan yang beragam.

9
Pentingnya pencantuman berat badan dalam penulisan resep
diperlukan dalam perhitungan dosis, khususnya dosis anak. Pencantuman
nama dan paraf dokter dalam resep juga merupakan hal yang penting
untuk dicantumkan, jika terjadi kesalahan dalam hal peresepan maka
petugas kefarmasian dapat langsung menghubungi dokter yang
bersangkutan untuk melakukan verfikasi terkait dengan terapi obat yang
diberikan kepada pasien, sedangkan pencantuman SIP dalam resep
diperlukan untuk menjamin keamanan pasien, bahwa dokter tersebut
mempunyai hak dan dilindungi undang-undang dalam memberikan terapi
pengobatan kepada pasien.
Faktor penyebab ME fase prescribing meliputi beban kerja yaitu
rasio antara beban kerja dan SDM tidak seimbang, edukasi yaitu penulisan
resep tidak memenuhi syarat kelengkapan resep, gangguan bekerja yaitu
terganggu dengan dering telepon, kondisi lingkungan yaitu pencahayaan
yang kurang mendukung saat bekerja, dan komunikasi yaitu permintaan
obat secara lisan. Hal ini seharusnya bisa dihindari.
2. Kesalahan Penerjemahan Resep (transcribing erorr)
Berdasarkan studi dokumentasi dari hasil laporan incident pada
tahap prescribing dimana setelah resep di terima oleh unit farmasi rawat
inap maka proses error yang terjadi adalah pada saat staf farmasi
melakukan pembacaan resep dari prescriber (proses transcribing). Tipe-
tipe trascribing errors (Maolina, 2021) antara lain:
a. Kelalaian, misalnya ketika obat diresepkan namun tidak diberikan.
b. Kesalahan interval, misalnya ketika dosis yang diperintahkan tidak
pada waktu yang tepat.
c. Obat alternatif, misalnya pengobatan diganti oleh apoteker tanpa
sepengetahuan dokter.
d. Kesalahan dosis, misalnya pada resep 0.125 mg menjadi 0.25 mg pada
salinan.
e. Kesalahan rute, misalnya pada resep Ofloxacin tablet menjadi
Ofloxacin I.V.

10
f. Kesalahan informasi detail pasien, meliputi nama, umur, gender,
registrasi yang tidak ditulis atau salah ditulis pada lembar salinan.
3. Kesalahan Menyiapkan dan Meracik Obat (dispensing erorr)
Jenis kasus dispensing error yang terjadi pada layanan farmasi
adalah salah obat, salah kekuatan obat, dan salah kuantitas. Salah obat
adalah jenis error paling umum dari dispensing error pada pelayanan
farmasi, sementara error lain adalah kekeliruan kekuatan obat (wrong
medicine), dosis (wrong drug strength), dan jumlah obat (wrong quantity)
(Sujatno, Pinzon and Meliala, 2016). Ada juga rumah sakit dengan
kejadian kekeliruan dosis angkanya jauh lebih banyak dari pada kekeliruan
obat. Penyebab tersebut bisa karena staf tidak mempunyai pengetahuan
atau ketrampilan yang benar tentang berbagai ukuran dan ketrampilan
kemampuan mengkonversi ke unit pengukuran lain. Hal ini sangat penting
untuk mencegah kekeliruan dosis.
4. Kesalahan Penyerahan Obat Kepada Pasien (administration error)
Kesalahan administrasi pengobatan (MAE) didefinisikan sebagai
perbedaan antara apa yang diterima oleh pasien atau yang seharusnya
diterima pasien dengan apa yang di maksudkan oleh penulis resep
(Fatimah, Nuur Rochmah and Pertiwi, 2021). MAE adalah salah satu area
resiko praktik keperawatan dan terjadi ketika ada perbedaan antara obat
yang diterima oleh pasien dan terapiobat yang ditunjukan oleh penulis
resep.
Jenis administration erorr yang terjadi pada saat pelayanan farmasi
adalah kesalahan waktu pemberian obat, kesalahan teknik pemberian obat,
dan obat tertukar pada pasien yang namanya sama (right drug for wrong
patient). Salah satu contoh administration erorr, misalnya obat diberikan
informasi diminum sesudah makan yang seharusnya sebelum makan atau
yang seharusnya siang atau malam diberikan pagi hari.
2.5 Upaya Pencegahan Medication Error

Berbagai metode pendekatan organisasi sebagai upaya menurunkan


medication error yang jika dipaparkan menurut urutan dampak efektifitas
terbesar menurut depkes RI (2008) adalah :

11
1. Mendorong fungsi dan pembatasan (forcing function& constraints)
Suatu upaya mendesain sistem yang mendorong seseorang
melakukan hal yang baik, contoh : sediaan potasium klorida siap pakai
dalam konsentrasi 10% Nacl 0.9%, karena sediaan di pasar dalam
konsentrasi 20% (>10%) yang mengakibatkan fatal (henti jantung dan
nekrosis pada tempat injeksi)
2. Otomasi dan komputer (Computerized Prescribing Order Entry)
Membuat statis/ robotisasi pekerjaan berulang yang sudah pasti
dengan dukungan teknologi, contoh : komputerisasi proses penulisan resep
oleh dokter diikuti dengan tanda “ atau tanda peringatan jika di luar
standar (ada penanda otomatis ketika digoxin ditulis 0.5g)
3. Standar dan protokol, standarisasi prosedur
Menetapkan standar berdasarkan bukti ilmiah dan standarisasi
prosedur (menetapkan standar pelaporan insiden dengan prosedur baku).
Kontribusi apoteker dalam Panitia Farmasi dan Terapi serta pemenuhan
sertifikasi/ akreditasi pelayanan memegang peranan penting.
4. Sistem daftar tilik dan cek ulang
Alat kontrol berupa daftar tilik dan penetapan cek ulang setiap
langkah kritis dalam pelayanan. Untuk mendukung efektifitas sistem ini
diperlukan pemetaan analisis titik
5. Peraturan dan Kebijakan
Untuk mendukung keamanan proses manajemen obat pasien.
contoh : semua resep rawat inap harus melalui supervisi apoteker.
6. Pendidikan dan Informasi
Penyediaan informasi setiap saat tentang obat, pengobatan dan
pelatihan bagi tenaga kesehatan tentang prosedur untuk meningkatkan
kompetensi dan mendukung kesulitan pengambilan keputusan saat
memerlukan informasi.
7. Lebih hati-hati dan waspada
Membangun lingkungan kondusif untuk mencegah kesalahan,
contoh : baca sekali lagi nama pasien sebelum menyerahkan.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan dan Saran


Medication error merupakan suatu kesalahan pengobatan sebagai
kegagalan dalam proses pengobatan yang memiliki potensi membahayakan
bagi pasien dalam proses perawatan. Kesalahan pengobatan tidak dapat
dihindari, tetapi kesalahan tersebut dapat diminimalkan secara signifikan
dengan adanya pengawas, manajemen rumah sakit, pabrik farmasi, resep,
apoteker atau staf pemberian obat dan perawat bekerja sama untuk
mengidentifikasi kesalahan pengobatan dan mengadopsi strategi untuk
menguranginya.
Salah satu hal yang penting dan harus dimiliki oleh oleh seorang
tenaga kesehatan adalah profesionalisme. Tentunya, pemberian obat
merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang perawat
yang profesional dan harus menghindari medication error demi keselamatan
pasien.

13
DAFTAR PUSTAKA

BAYANG, A. T. (2013) „ANALISIS FAKTOR PENYEBAB MEDICATION


ERROR DI RSUD. ANWAR MAKKATUTU KABUPATEN
BANTAENG‟, Tesis, pp. 1–71.

Fatimah, S., Nuur Rochmah, N. and Pertiwi, Y. (2021) „Analisis Kejadian


Medication Error Resep Pasien Rawat Jalan Di Rumah Sakit X Cilacap‟,
Jurnal Ilmiah JOPHUS : Journal Of Pharmacy UMUS, 2(02), pp. 71–78.
doi: 10.46772/jophus.v2i02.434.

Gunardi, A. D. (2015) Penerapan Failure Mode and Effect Analysis (Fmea)


Untuk Mendeteksi Prescription Error Pada Resep Poli Jantung Di
Instalasi Rawat Jalan Rsup Fatmawati, Skripsi.

Khairurrijal, M. A. W. and Putriana, N. A. (2018) „Review : Medication Erorr


Pada Tahap Prescribing, Transcribing, Dispensing, dan Administration‟,
[Link] (Online), pp. 8–13. doi:
10.24198/farmasetika.v2i4.15020.

Maolina, I. (2021) „Gambaran Medication Error Fase Transcribing Pada Resep


Pasien Umum Di Instalasi Farmasi Program Studi Diploma Iii Gambaran
Medication Error Fase Transcribing‟, KARYA TULIS ILMIAH, pp. 1–26.

Sujatno, P., Pinzon, R. T. and Meliala, A. (2016) „Evaluasi dampak


penerapanEVALUASI DAMPAK PENERAPAN AUTOMATED
DISPENSING MACHINE TERHADAP DISPENSING ERROR DI
FARMASI RAWAT JALAN INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT
BETHESDA YOGYKARTA‟, JURNAL FARMASI SAINS DAN
KOMUNITAS, 13(1), pp. 7–14.

Susanti, I. (2013) „Identifikasi Medication Error pada fase Prescribing,


Transcribing, dan Dispensing di Depo Farmasi Rawat Inap Penyakit
Dalam Gedung Teratai, Instalasi Farmasi RSUP Fatmawati Periode 2013‟,
Skripsi, pp. 1–72.

VERONICA MERARI OCTAVIANI (2020) „PROFIL MEDICATION ERROR

14
PERESEPAN MANUAL DAN ELEKTRONIK DI INSTALASI
FARMASI RUMAH SAKIT SANTO BORROMEUS BANDUNG
TAHUN 2018-2019‟, KARYA TULIS ILMIAH, pp. 1–27. Available at:
[Link]
explained/.

15

Anda mungkin juga menyukai