Side effect
Kelompok 3 (17)
1. Marsha Nurul Azizah
2. Vazira Putri Ramdani
3. Riezkya Adzani Permadi
4. Fauzan Muhammad Affandie
5. Ahmed Shahib Shehan
6. Priananda Wahidan
7. Alexander Patrikc Tio
8. Fakhira Salsabila
9. Isdatul Qo’imah
10. Yulia Maria Sutarman Pinet
11. Meitha Fauzah
12. Keisya Biqis Alhena
Latar belakang
Sebagai makhluk sosial tentunya kita harus terjun aktif di lingkungan sosial dan
membangun interaksi sosial positif dengan lingkungan sekitar. Untuk hal itu, kita
juga memerlukan kesehatan mental yang baik.
Seseorang dengan kesehatan mental yang baik akan merasakan ketenraman
ketika bersosialisasi. Sebaliknya, orang dengan kesehatan mental yang buruk akan
sulit berinteraksi di dunia sosial.
Maka dari itu sebagai makhluk sosial, kita perlu mengetahui apa efek samping
jika mental kita tidak sehat.
Tujuan
1. Menambah pengetahuan tentang kesehatan mental
2. Memberikan informasi terkait pentingnya kesehatan mental
3. Mengetahui cara mencegah penyakit mental
Metode penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif
dengan menggambarkan masalah masa sekarang atau yang sedang berlangsung.
Dengan metode ini penulis akan memperhatikan lingkungan sekitar, meneliti dengan
tujuan mengambil kesimpulan perhal apa yang harus dilakukan.
Apa itu kesehatan mental?
Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam
keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati
kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.
Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan atau potensi
dirinya secara maksimal dalam menghadapi tantangan hidup, serta menjalin
hubungan positif dengan orang lain.
Sebaliknya, orang yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami
gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya
bisa mengarah pada perilaku buruk.
Penyakit mental dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari,
tidak hanya dapat merusak interaksi atau hubungan dengan orang lain, namun juga
dapat menurunkan prestasi di sekolah dan produktivitas kerja. oleh sebab itu, sudah
saatnya kita menjalankan pola hidup sehat
Ada sebuah riset yang dilakukan oleh tim Divisi Psikiatri Anak dan Remaja,
Fakultas Kesehatan di Universitas Indonesia, mencoba untuk memetakan keresahan
mental remaja di periode transisi 16-24 tahun dari seluruh Indonesia – terutama
mahasiswa tahun pertama – melalui survey online.
Sebanyak 95,4% menyatakan bahwa mereka pernah mengalami gejala
kecemasan (anxiety), dan 88% pernah mengalami gejala depresi dalam menghadapi
permasalahan selama di usia ini.
Selain itu, dari seluruh responden, sebanyak 96,4% menyatakan kurang
memahami cara mengatasi stres akibat masalah yang sering mereka alami.
Pada periode ini, misalnya, banyak remaja tiba-tiba harus menjelajahi
lingkungan yang baru, lingkaran pertemanan yang semakin luas, tuntutan pendidikan
atau karier yang semakin berat, hingga budaya yang bisa jadi sangat berbeda –
disertai dengan berbagai masalah dan konflik yang kerap muncul dari berbagai
perubahan ini.
Penyelesaian masalah yang paling sering mereka lakukan adalah bercerita pada
teman (98,7%), menghindari masalah tersebut (94,1%), mencari informasi tentang
cara mengatasi masalah dari internet (89,8%).
Namun, sebagian juga berakhir dengan menyakiti diri mereka sendiri (51,4%),
atau bahkan menjadi putus asa serta ingin mengakhiri hidup (57,8%).
Berbagai masalah yang dalam masa transisi ini berisiko tinggi menjadi lebih
buruk di kemudian hari apabila tidak ditangani dengan optimal.
Apa saja jenis gangguan kesehatan mental?
1. Stres
Stres adalah keadaan ketika seseorang mengalami tekanan yang sangat
berat, baik secara emosi maupun mental.
Seseorang yang stres biasanya akan tampak gelisah, cemas, dan mudah
tersinggung. Stres juga dapat mengganggu konsentrasi, mengurangi motivasi,
dan pada kasus tertentu, memicu depresi.
Stres bukan saja dapat memengaruhi psikologi penderitanya, tetapi juga
dapat berdampak kepada cara bersikap dan kesehatan fisik mereka.
Berikut ini adalah masalah kesehatan yang timbul akibat stres:
a. Gangguan tidur
b. Lelah
c. Sakit kepala
d. Sakit perut
e. Nyeri dada
f. Nyeri atau tegang pada otot
g. Penurunan gairah seksual
h. Obesitas
i. Hipertensi
j. Diabetes
k. Gangguan jantung
Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami stres, sebagian
di antaranya adalah masalah keuangan, hubungan sosial, atau tuntutan di dalam
pekerjaan. Untuk mengatasi stres, kunci utamanya adalah mengidentifikasi akar
permasalahan dan mencari solusinya.
Penanggulangan stres juga bisa dilakukan dengan mengaplikasikan nasihat-nasihat
yang disarankan dalam manajemen stres yang baik, seperti:
a. Belajar menerima suatu masalah yang sulit diatasi atau hal-hal yang tidak
dapat diubah.
b. berpikir positif dan memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam
hidup ada hikmahnya.
c. Meminta saran dari orang terpercaya untuk mengatasi masalah yang sedang
dialami.
d. Belajar mengendalikan diri dan selalu aktif dalam mencari solusi.
e. Melakukan aktivitas fisik, meditasi, atau teknik relaksasi guna meredakan
ketegangan emosi dan menjernihkan pikiran.
f. Melakukan hal-hal baru yang menantang dan lain dari biasanya guna
meningkatkan rasa percaya diri.
g. Menyisihkan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai.
h. Melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial untuk membantu orang lain.
Cara ini dapat membuat seseorang lebih tabah dalam menghadapi masalah,
terutama jika bisa membantu seseorang yang memiliki masalah lebih berat
dari yang dialaminya.
i. Menghindari cara-cara negatif untuk meredakan stres, misalnya merokok,
mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, atau menggunakan
narkoba.
j. Bekerja dengan mengedepankan kualitas bukan kuantitas, agar manajemen
waktu lebih baik dan hidup juga lebih seimbang.
2. Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan adalah kondisi psikologis ketika seseorang mengalami
rasa cemas berlebihan secara konstan dan sulit dikendalikan, sehingga
berdampak buruk terhadap kehidupan sehari-harinya.
Bagi sebagian orang normal, rasa cemas biasanya timbul pada suatu kejadian
tertentu saja, misalnya saat akan menghadapi ujian di sekolah atau wawancara
kerja. Namun pada penderita gangguan kecemasan, rasa cemas ini kerap timbul
pada tiap situasi. Itu sebabnya orang yang mengalami kondisi ini akan sulit
merasa rileks dari waktu ke waktu.
Selain gelisah atau rasa takut yang berlebihan, gejala psikologis lain yang
bisa muncul pada penderita gangguan kecemasan adalah berkurangnya rasa
percaya diri, menjadi mudah marah, stres, sulit berkonsentrasi, dan menjadi
penyendiri.
Sementara itu, gejala fisik yang mungkin menyertai masalah gangguan
kecemasan antara lain:
a. Sulit tidur
b. Badan gemetarMengeluarkan keringat secara berlebihan
c. Otot menjadi tegang
d. Jantung berdebar
e. Sesak napas
f. Lelah
g. Sakit perut atau kepala
h. Pusing
i. Mulut terasa kering
j. Kesemutan
Meski penyebab gangguan kecemasan belum diketahui secara pasti,
beberapa faktor diduga dapat memicu munculnya kondisi tersebut. Di
antaranya adalah trauma akibat intimidasi, pelecehan, dan kekerasan di
lingkungan luar ataupun keluarga.
Faktor risiko lainnya adalah stres berkepanjangan, gen yang diwariskan
dari orang tua, dan ketidakseimbangan hormon serotonin dan noradrenalin di
dalam otak yang berfungsi mengendalikan suasana hati. Gangguan kecemasan
juga dapat dipicu oleh penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan
terlarang.
Sebenarnya, gangguan kecemasan dapat diatasi tanpa bantuan dokter
melalui beberapa cara, seperti mengonsumsi makanan bergizi tinggi, cukup
tidur, mengurangi asupan kafein, minuman beralkohol, atau zat penenang
lainnya, tidak merokok, berola raga secara rutin, dan melakukan metode
relaksasi sederhana, seperti yoga atau meditasi.
Jika pengobatan mandiri tidak memberikan perubahan, disarankan untuk
berkonsultasi dengan dokter. Penanganan dari dokter biasanya meliputi
pemberian obat-obatan antiansietas serta terapi kognitif.
3. Depresi
Depresi merupakan gangguan suasana hati yang menyebabkan
penderitanya terus-menerus merasa sedih. Berbeda dengan kesedihan biasa
yang umumnya berlangsung selama beberapa hari, perasaan sedih pada
depresi bisa berlangsung hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Selain memengaruhi perasaan atau emosi, depresi juga dapat menyebabkan
masalah fisik, mengubah cara berpikir, serta mengubah cara berperilaku
penderitanya. Tidak jarang penderita depresi sulit menjalani aktivitas sehari-
hari secara normal. Bahkan pada kasus tertentu, mereka bisa menyakiti diri
sendiri dan mencoba bunuh diri.
Berikut ini adalah beberapa gejala psikologi seseorang yang mengalami
depresi:
a. Kehilangan ketertarikan atau motivasi untuk melakukan sesuatu.
b. Terus-menerus merasa sedih, bahkan terus-menerus menangis.
c. Merasa sangat bersalah dan khawatir berlebihan.
d. Tidak dapat menikmati hidup karena kehilangan rasa percaya diri.
e. Sulit membuat keputusan dan mudah tersinggung.
f. Tidak acuh terhadap orang lain.
g. Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
Kesimpulan
Oleh sebab itu, hal utama yang paling mungkin untuk mencegah penyakit
gangguan mental, ada baiknya kita harus bisa mengatur pola hidup yang sehat, mulai
dari makan, tidur dan aktivitas lainnya, seperti aktif di dunia sosial dan menjaga
kesehatan diri.
Referensi
Cover
[Link]
[Link]
kesehatan-mental-remaja-dan-anak-muda-indonesia-169658
[Link]
jenis-jenisnya
[Link]