MARKAS BESAR
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
BAHAN AJAR (HANJAR)
PELATIHAN PENGAMANAN DAN PENGAWASAN
KEGIATAN MASYARAKAT
BAGI BINTARA POLRI
FUNGSI TEKNIS INTELKAM
KEPUTUSAN KEPALA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
NOMOR : KEP/ 181 /II/2022 TANGGAL 22 FEBRUARI 2022
KEPALA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
SAMBUTAN
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua.
D
engan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya Bahan
Ajar (Hanjar) Pelatihan Pengamanan dan Pengawasan
Kegiatan Masyarakat bagi Bintara Polri Fungsi Teknis Intelkam
dapat diselesaikan dengan baik sesuai waktu yang telah
KOMJEN POL Prof. Dr. H. RYCKO AMELZA ditentukan.
DAHNIEL, [Link].
KALEMDIKLAT POLRI
Seiring globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, terjadi perubahan
kehidupan masyarakat dalam berbagai aspeknya. Kegiatan masyarakat semakin
beragam dengan berbagai aktifitas keramaian yang melibatkan banyak orang,
sehingga ada kalanya mengakibatkan situasi sosial yang tidak nyaman, bahkan
mengarah pada stabilitas keamanan dalam negeri. Oleh karena itu kegiatan
masyarakat dan keramaian umum perlu diatur dan diawasi, agar tidak terjadi hal
yang tidak diinginkan.
Dalam hal ini, Polri berwenang untuk memberikan izin dan mengawasi kegiatan
keramaian umum serta kegiatan masyarakat lainnya dan menerima pemberitahuan
tentang kegiatan politik. Selain itu Polri juga berwenang untuk melakukan
pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat. Adanya wewenang tersebut
merupakan bentuk pelayanan Polri untuk menjamin terbinanya ketentraman,
keamanan, ketertiban masyarakat, dan tegaknya hukum.
ii
Dalam …..
Dalam upaya mewujudkan pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat,
diperlukan SDM Polri dalam hal ini Bintara Polri Fungsi Teknis Intelkam yang
profesional melalui pelatihan peningkatan pengetahuan, keterampilan serta sikap
yang difokuskan pada penguasaan pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat.
Saya selaku Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri menyampaikan
apresiasi dan penghargaan serta ucapan terima kasih kepada tim rapat kordinasi
penyusunan Hanjar pelatihan ini, semoga bermanfaat bagi anggota Polri khususnya
yang bertugas di F.T Intelkam dengan harapan memiliki kompetensi dan selanjutnya
kepada pengguna/praktisi diharapkan dapat memberikan saran, masukan serta kritik
yang membangun untuk perbaikan Hanjar pelatihan ini.
Sekian dan terima kasih, semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Jakarta, 22 Februari 2022
KEPALA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Prof. Dr. H. RYCKO AMELZA DAHNIEL, [Link].
KOMISARIS JENDERAL POLISI
Paraf:
1. Konseptor/Ksbg Kurhanjarlat:.........
2. Kabag Kurhanjarlat :……..
3. Kaurtu Biro Kurikulum : …….
4. Karo Kurikulum :.........
5. Kataud Lemdiklat Polri : …….
6. Wakalemdiklat Polri :……..
iii
MARKAS BESAR
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
KEPUTUSAN KEPALA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Nomor: Kep/ 181 /II/2022
tentang
BAHAN AJAR
PELATIHAN PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT
BAGI BINTARA POLRI FUNGSI TEKNIS INTELKAM
KEPALA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Menimbang : bahwa dalam rangka penyelenggaraan pelatihan Pengamanan dan
Pengawasan Kegiatan Masyarakat bagi Bintara Polri guna dijadikan
dasar dan pedoman pelaksanaan fungsi teknis Intelkam maka
dipandang perlu menetapkan keputusan.
Mengingat : 1. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor
19 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pelatihan Kepolisian
Negara Republik Indonesia;
2. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
Nomor 14 Tahun 2015 tentang Sistem Pendidikan Kepolisian
Negara Republik Indonesia;
3. Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
Nomor: Kep/1947/XII/2021 tanggal 24 Desember 2021
tentang Program Pendidikan dan Pelatihan Polri Tahun
Anggaran 2022;
4. Surat Keputusan Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan
Polri No. Pol. : Skep/461/XII/2007 tanggal 13 Desember 2007
tentang Standar Komponen Kurikulum Pelatihan Polri;
5. Keputusan Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan
Polri Nomor: Kep/116/II/2022 tanggal 10 Februari 2022
tentang Kurikulum Pelatihan Pengamanan dan Pengawasan
Kegiatan Masyarakat.
Memperhatikan: hasil survei/penelitian program pelatihan Polri di kewilayahan pada
tahun 2021 saran serta masukan para pembina Fungsi Teknis
Operasional maupun Pembinaan dan para pelaksana pelatihan Polri.
MEMUTUSKAN.....
KEPUTUSAN KALEMDIKLAT POLRI
2 NOMOR : KEP/ 181 /II/2022
TANGGAL: 22 FEBRUARI 2022
MEMUTUSKAN
Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
POLRI TENTANG BAHAN AJAR PELATIHAN PENGAMANAN DAN
PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT BAGI BINTARA POLRI
FUNGSI TEKNIS INTELKAM
1. mengesahkan bahan ajar pelatihan Pengamanan dan
Pengawasan Kegiatan Masyarakat bagi Bintara Polri
sebagaimana tersebut dalam lampiran keputusan ini;
2. hal-hal lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan
bahan ajar pelatihan Pengamanan dan Pengawasan Kegiatan
Masyarakat bagi Bintara Polri yang belum diatur dalam bahan
ajar pelatihan fungsi ini akan diatur kemudian, dan sebelum
ada ketentuan baru maka ketentuan yang sudah ada selama
ini serta tidak bertentangan dengan keputusan ini dinyatakan
tetap berlaku;
3. keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di: Jakarta
pada tanggal: 22 Februari 2022
KEPALA LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Kepada Yth.:
Prof. Dr. H. RYCKO AMELZA DAHNIEL, [Link].
Para Ka SPN Polda KOMISARIS JENDERAL POLISI
Paraf :
Tembusan: 1. Konseptor/Ksbg Kurhanjarlat : ..........
1. Kapolri. 2. Kabag Kurhanjarlat : ..........
2. Wakapolri.
3. Irwasum Polri. 3. Kaurtu Rokurikulum : ..........
4. Kabaintelkam Polri.
5. Para Kapolda. 4. Karo Kurikulum :............
6. Kapusdikintelijen
5. Kataud Lemdiklat Polri : ..........
Lemdiklat Polri.
6. Wakalemdiklat Polri : ..........
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
IDENTITAS BUKU
PELATIHAN PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT
Penyusun :
Tim Pokja Lemdiklat Polri
Editor :
1. Kombes Pol Cornelis M. Simanjuntak, S.I.K.
2. AKBP Daru T. Wibawa, S.H., S.I.K., M.H.
3. Kompol Joko M. Sopiandi, [Link]., M.M.
4. Penata Hafni Ratna Indah, [Link].
5. Aipda Mega Siti Zulfah
6. Bripda Hidayah Puspita Wulandari
Hanjar Pelatihan Polri
Pengamanan dan Pengawasan Kegiatan Masyarakat
Diterbitkan oleh:
Bagian Kurikulum dan Hanjar Pelatihan
Biro Kurikulum
Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri
Tahun 2022
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang menggandakan sebagian atau seluruh isi Bahan Ajar (Hanjar) Pelatihan
Polri ini, tanpa izin tertulis dari Kalemdiklat Polri
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT vi
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
DAFTAR ISI
Cover ................................................................................................................. i
Sambutan Kalemdiklat Polri .............................................................................. ii
Keputusan Kalemdiklat Polri .............................................................................. iv
Identitas Buku .................................................................................................... vi
Daftar Isi ............................................................................................................ vii
MODUL 01 PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN 1
MASYARAKAT ..................................................................
Pengantar ........................................................................... 1
Standar kompetensi ............................................................ 1
Kompetensi dasar .............................................................. 1
Materi pelajaran ................................................................. 3
Metode pembelajaran ......................................................... 5
Alat/media bahan, dan sumber belajar ............................... 5
Kegiatan pembelajaran ...................................................... 6
Tagihan/tugas .................................................................... 8
Lembar kegiatan ................................................................ 8
Bahan bacaan .................................................................... 11
POKOK BAHASAN 1
KEGIATAN MASYARAKAT .............................................. 11
1. Pengertian terkait Kegiatan Masyarakat..................... 11
2. Bentuk Kegiatan Masyarakat ..................................... 12
POKOK BAHASAN 2
KEGIATAN MASYARAKAT YANG MEMERLUKAN 13
PERIJINAN ........................................................................
1. Bentuk Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang 13
Memerlukan Perijinan ................................................
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT vii
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
2. Pemohon Ijin Pertemuan dalam Kegiatan 13
Masyarakat yang Memerlukan Perijinan ....................
3. Kriteria Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang 13
Memerlukan Perijinan ................................................
4. Persyaratan Permohonan Perijinan Kegiatan 13
Masyarakat ................................................................
POKOK BAHASAN 3
KEGIATAN MASYARAKAT YANG MEMERLUKAN 15
SURAT TANDA TERIMA PEMBERITAHUAN (STTP) .......
1. Bentuk Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang 15
Memerlukan Pemberitahuan .....................................
2. Penyelenggara Pertemuan dalam Kegiatan 15
Masyarakat yang Memerlukan Pemberitahuan .........
3. Kriteria Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang 15
Memerlukan Pemberitahuan .....................................
4. Persyaratan Pemberitahuan Kegiatan Masyarakat ... 16
5. Kemerdekaan Penyampaian Pendapat di Muka 16
Umum yang Memerlukan Pemberitahuan .................
6. Pemberitahuan Kampanye Pemilu yang Memerlukan 30
Pemberitahuan ..........................................................
7. Tata Cara Penerbitan STTP ...................................... 35
POKOK BAHASAN 4
KEGIATAN MASYARAKAT YANG TIDAK 45
MEMERLUKAN PERIJINAN DAN PEMBERITAHUAN ....
1. Bentuk Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang 45
Tidak Memerlukan Perijinan dan Pemberitahuan ......
2. Kriteria Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang 45
Tidak Memerlukan Perijinan dan Pemberitahuan ......
3. Ketentuan khusus dalam Kegiatan Masyarakat yang 46
Tidak Memerlukan Perijinan dan Pemberitahuan ......
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT viii
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
POKOK BAHASAN 5
PERATURAN YANG BERKAITAN DENGAN KEGIATAN 47
MASYARAKAT ..................................................................
1. Tinjauan Yuridis Perijinan dan Pemberitahuan 47
Kegiatan Masyarakat..................................................
2. Kewenangan Polri dalam Pemberian Ijin dan 49
Penerbitan Surat Tanda Terima Pemberitahuan
(STTP) Kegiatan Masyarakat ....................................
POKOK BAHASAN 6
SASARAN PENGAMANAN DAN PENGAWASAN 50
KEGIATAN MASYARAKAT ..............................................
1. Sasaran Pengamanan Orang dalam Kegiatan 50
Masyarakat ................................................................
2. Sasaran Pengamanan Benda (Materiil, Instalasi, 50
Tempat/Lokasi) dalam Kegiatan Masyarakat ............
3. Sasaran Pengamanan Baket/Informasi dalam 51
Kegiatan Masyarakat..................................................
Rangkuman ....................................................................... 52
Soal Latihan ....................................................................... 55
MODUL 02 ADMINISTRASI DAN PRODUK INTELIJEN HASIL 56
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN
MASYARAKAT .................................................................. ............................
Pengantar .......................................................................... 56
Standar kompetensi ............................................................ 56
Kompetensi dasar .............................................................. 56
Materi pelajaran ................................................................. 57
Metoda pembelajaran ........................................................ 58
Alat/media bahan, dan sumber belajar .............................. 58
Kegiatan pembelajaran ...................................................... 59
Tagihan/tugas .................................................................... 62
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT ix
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Lembar kegiatan ................................................................ 62
Bahan bacaan .................................................................... 63
POKOK BAHASAN 1
KETENTUAN ADMINISTRASI BAGI KEGIATAN 63
MASYARAKAT ..................................................................
1. Ketentuan Administrasi bagi Pertemuan yang 63
Memerlukan Perijinan dan Pemberitahuan.................
2. Administrasi Pendukung Pelayanan Kegiatan
Masyarakat ................................................................ 66
POKOK BAHASAN 2
TATA CARA PEMBUATAN ADMINISTRASI DAN 67
PRODUK INTELIJEN HASIL PENGAMANAN DAN
PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT ...................
1. Pembuatan Administrasi Hasil Pengamanan dan 67
pengawasan kegiatan Mayarakat (Surat
Rekomendasi, Surat Izin, dan Surat Tanda Terima
Pemberitahuan (STTP)) .............................................
2. Produk Intelijen berupa Informasi Khusus Hasil
Pengamanan dan Pengawasan Kegiatan Masyarakat 73
Rangkuman ........................................................................ 75
Soal Latihan ....................................................................... 76
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT x
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN
MODUL
KEGIATAN MASYARAKAT
01
38 JP (1.710 menit)
Pengantar
Modul pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat
membahas materi tentang: kegiatan masyarakat, kegiatan
masyarakat yang memerlukan perijinan, kegiatan masyarakat yang
memerlukan Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP), kegiatan
masyarakat yang tidak memerlukan perijinan dan pemberitahuan,
peraturan yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat serta sasaran
pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat.
Tujuan diberikan materi ini agar peserta pelatihan memahami
pelaksanaan pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat.
Standar Kompetensi
Terampil dalam pelaksanaan pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat.
Kompetensi Dasar
1. Memahami kegiatan masyarakat
Indikator Hasil Belajar:
a. menjelaskan pengertian terkait kegiatan masyarakat;
b. menjelaskan bentuk kegiatan masyarakat.
2. Memahami kegiatan masyarakat yang memerlukan perijinan
Indikator Hasil Belajar:
a. menjelaskan bentuk pertemuan dalam kegiatan
masyarakat yang memerlukan perijinan;
b. menjelaskan pemohon ijin pertemuan dalam kegiatan
masyarakat yang memerlukan perijinan;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 1
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
c. menjelaskan kriteria pertemuan dalam kegiatan
masyarakat yang memerlukan perijinan;
d. menjelaskan persyaratan permohonan perijinan kegiatan
masyarakat.
3. Memahami kegiatan masyarakat yang memerlukan Surat
Tanda Terima Pemberitahuan (STTP);
Indikator Hasil Belajar:
a. menjelaskan bentuk pertemuan dalam kegiatan
masyarakat yang memerlukan pemberitahuan;
b. menjelaskan penyelenggara pertemuan dalam kegiatan
masyarakat yang memerlukan pemberitahuan;
c. menjelaskan kriteria pertemuan dalam kegiatan
masyarakat yang memerlukan pemberitahuan;
d. menjelaskan persyaratan pemberitahuan kegiatan
masyarakat;
e. menjelaskan kemerdekaan penyampaian pendapat di
muka umum yang memerlukan pemberitahuan;
f. menjelaskan pemberitahuan kampanye pemilu yang
memerlukan pemberitahuan;
g. menjelaskan tata cara penerbitan STTP.
4. Memahami kegiatan masyarakat yang tidak memerlukan
perijinan dan pemberitahuan
Indikator Hasil Belajar:
a. menjelaskan bentuk pertemuan dalam kegiatan
masyarakat yang tidak memerlukan perijinan dan
pemberitahuan;
b. menjelaskan kriteria pertemuan dalam kegiatan
masyarakat yang tidak memerlukan perijinan dan
pemberitahuan;
c. menjelaskan ketentuan khusus dalam kegiatan
masyarakat yang tidak memerlukan perijinan dan
pemberitahuan.
5. Memahami peraturan yang berkaitan dengan kegiatan
masyarakat.
Indikator Hasil Belajar:
a. menjelaskan tinjauan yuridis perijinan dan pemberitahuan
kegiatan masyarakat;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 2
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
b. menjelaskan kewenangan Polri dalam pemberian ijin dan
penerbitan Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP)
kegiatan masyarakat.
6. Memahami sasaran pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat.
Indikator Hasil Belajar:
a. menjelaskan sasaran pengamanan orang dalam kegiatan
masyarakat;
b. menjelaskan sasaran pengamanan benda (materiil,
instalasi, tempat/lokasi) dalam kegiatan masyarakat;
c. menjelaskan sasaran pengamanan baket/informasi
dalam kegiatan masyarakat.
7. Mampu melakukan pengamanan dan pengawasan kegiatan
keramainan masyarakat.
Indikator Hasil Belajar:
a. menyimulasikan pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat berupa pertandingan sepak bola;
b. menyimulasikan pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat berupa peringatan keagamaan.
Materi Pelajaran
1. Pokok bahasan:
kegiatan masyarakat.
Sub pokok bahasan:
a. pengertian terkait kegiatan masyarakat;
b. bentuk kegiatan masyarakat.
2. Pokok bahasan:
kegiatan masyarakat yang memerlukan perijinan.
Sub pokok bahasan:
a. bentuk pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
memerlukan perijinan;
b. pemohon ijin pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
memerlukan perijinan;
c. kriteria pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 3
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
memerlukan perijinan;
d. persyaratan permohonan perijinan kegiatan masyarakat.
3. Pokok bahasan:
kegiatan masyarakat yang memerlukan Surat Tanda Terima
Pemberitahuan (STTP).
Sub pokok bahasan:
a. bentuk pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
memerlukan pemberitahuan;
b. pertemuan penyelenggara pertemuan dalam kegiatan
masyarakat yang memerlukan pemberitahuan;
c. kriteria pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
memerlukan pemberitahuan
d. persyaratan pemberitahuan kegiatan masyarakat
e. kemerdekaan penyampaian pendapat di muka umum yang
memerlukan pemberitahuan;
f. pemberitahuan kampanye pemilu yang memerlukan
pemberitahuan;
g. tata cara penerbitan STTP.
4. Pokok bahasan:
kegiatan masyarakat yang tidak memerlukan perijinan dan
pemberitahuan.
Sub pokok bahasan:
a. bentuk pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang tidak
memerlukan perijinan dan pemberitahuan;
b. kriteria pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang tidak
memerlukan perijinan dan pemberitahuan;
c. ketentuan khusus dalam kegiatan masyarakat yang tidak
memerlukan perijinan dan pemberitahuan.
5. Pokok bahasan:
peraturan yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat.
Sub pokok bahasan:
a. tinjauan yuridis perijinan dan pemberitahuan kegiatan
masyarakat;
b. kewenangan Polri dalam pemberian ijin dan penerbitan
Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) kegiatan
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 4
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
masyarakat
6. Pokok bahasan:
Sasaran pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat.
Sub pokok bahasan:
a. sasaran pengamanan orang dalam kegiatan masyarakat;
b. sasaran pengamanan benda (materiil, instalasi,
tempat/lokasi) dalam kegiatan masyarakat;
c. sasaran pengamanan baket/informasi dalam kegiatan
masyarakat.
Metode Pembelajaran
1. Metode Ceramah
Metode ini digunakan untuk menjelaskan materi tentang
pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat.
2. Metode Tanya Jawab
Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang
telah disampaikan.
3. Metode Simulasi
Metode ini digunakan untuk menyimulasikan pengamanan dan
pengawasan kegiatan masyarakat berupa pertandingan sepak
bola dan peringatan keagamaan.
Alat/media, Bahan dan Sumber Belajar
1. Alat/media:
a. Flipchart;
b. Laptop;
c. LCD;
d. White board;
e. Laser point;
f. Camera;
g. Jaringan internet;
h. Sound system;
i. Wireless;
j. Slide.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 5
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
2. Bahan:
a. Kertas;
b. Alat tulis.
3. Sumber Belajar:
a. Undang-Undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian
Negara Republik Indonesia;
b. Undang-Undang No.9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan
Menyampaikan Pendapat di Muka Umum;
c. KUHP PASAL 510 tentang keramaian;
d. Peraturan Kapolri Nomor 6 Th 2012 Tentang Tata Cara
Pemberitahuan Dan Penerbitan STTP Kampanye Pemilu;
e. Peraturan Kapolri Nomor 7 Th 2012 Tentang Tata Cara
Penyelenggaraan Pelayanan, Pengamanan &
Penanganan Perkara Penyampaian Pendapat Di Muka
Umum;
f. Peraturan Kepala Badan Intelijen Keamanan Kepolisian
Negara Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2013 tentang
Pengamanan Intelijen Kepolisian Negara Republik
Indonesia;
g. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60
Tahun 2017 Tentang Tata Cara Perizinan Dan
Pengawasan Kegiatan Keramaian Umum, Kegiatan
Masyarakat Lainnya, Dan Pemberitahuan Kegiatan Politik;
h. Naskah/ Hanjar Kegiatan Masyarakat.
Kegiatan Pembelajaran
1. Tahap awal: 10 menit
a. Pelatih/instruktur memperkenalkan diri kepada para
peserta pelatihan;
b. Pelatih/instruktur melakukan pencairan;
c. Pelatih/instruktur menyampaikan kompetensi dasar dan
indikator hasil belajar.
2. Tahap inti: 1.690 menit
Tahap inti I: 270 menit (Penyampaian materi pengamanan
dan pengawasan kegiatan keramainan masyarakat)
a. Pelatih/Instruktur menyampaikan materi tentang:
1) kegiatan masyarakat;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 6
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
2) kegiatan masyarakat yang memerlukan perijinan;
3) kegiatan masyarakat yang memerlukan Surat Tanda
Terima Pemberitahuan (STTP);
4) kegiatan masyarakat yang tidak memerlukan perijinan
dan pemberitahuan;
5) peraturan yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat
6) sasaran pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat.
b. Pelatih/instruktur memberi kesempatan peserta pelatihan
untuk bertanya tentang materi yang disampaikan.
Tahap Inti II: 1.420 menit (simulasi pengamanan dan
pengawasan kegiatan keramainan masyarakat)
a. Pelatih/instruktur membagi peserta pelatihan menjadi 5
unit;
b. Pelatih/instruktur membagi masing-masing peserta
pelatihan setiap unit (6 orang):
1) 1 orang sebagai Kanit;
2) 1 orang sebagai administrator;
3) 4 orang melakukan penelitian data tentang adanya
surat permohonan kegiatan masyarakat yang
memerlukan rekomendasi dan surat izin serta
penerbitan Surat Tanda Terima Pemberitahuan
(STTP).
c. Setiap peserta pelatihan dalam kelompok mendiskusikan
materi skenario yang diberikan pelatih;
d. Pelatih/instruktur menjelaskan alur jalannya simulasi;
e. Masing-masing peserta mempelajari skenario;
f. Pelatih/instruktur menugaskan peserta pelatihan untuk
menyimulasikan pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat berupa pertandingan sepak bola dan
peringatan keagamaan;
g. Peserta pelatihan menyimulasikan pengamanan dan
pengawasan kegiatan masyarakat berupa pertandingan
sepak bola dan peringatan keagamaan;
h. Pelatih/instruktur memfasilitasi dan mengawasi jalannya
simulasi;
i. Pelatih/instruktur melakukan penilaian hasil pembelajaran.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 7
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
3. Tahap akhir: 10 menit
a. Pelatih/instruktur mengecek penguasaan materi dengan
cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta
pelatihan;
b. Pelatih/instruktur memberikan ulasan secara umum terkait
dengan proses pembelajaran dan merumuskan learning
point yang dikaitkan dengan pelaksanaan tugas;
c. Pelatih/instruktur melakukan evaluasi dan menutup
pembelajaran.
Tagihan / Tugas
Peserta pelatihan mengumpulkan dokumentasi kegiatan simulasi.
Lembar Kegiatan
SKENARIO SIMULASI
Rencana latihan skenario pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat adalah dalam rangka memberikan gambaran aplikasi
materi pelajaran yang telah diterima ke dalam bentuk kegiatan pada
simulasi sesuai skenario latihan.
Adapun tujuan adalah untuk memberikan pertimbangan kepada
Peserta Latihan guna memberikan gambaran aplikasi materi
pelajaran yang telah diterima ke dalam bentuk kegiatan pada simulasi
sesuai skenario latihan.
Simulasi kegiatan sesuai skenario latihan dengan rangkaian
pembuatan administrasi dan produk intelijen hasil Pelatihan dan
kegiatan ini dilaksanakan secara outdoor terhadap sasaran sesuai
skenario latihan.
Tujuan pelaksanaan simulasi agar peserta pelatihan memiliki
keterampilan dalam rangka perencanaan Pengamanan dan
Pengawasan sesuai skenario latihan dengan pola latihan
menggunakan pola operasi rutin/STO (Service Type Operation) dan
waktu pelaksanaan kegiatan dibatasi dengan rentang waktu tertentu,
pelaksana dalam ikatan Unit dengan administrasi dan produk yang
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 8
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
dihasilkan.
Berikut skenario latihan yang akan digunakan untuk pelaksanaan
simulasi:
1. Pelatih/instruktur merumuskan pembagian peran tugas atau unit
(6 orang) sebagai berikut:
a. 1 orang sebagai Kanit;
b. 1 orang sebagai administrator;
c. 4 orang melakukan penelitian data tentang adanya surat
permohonan kegiatan masyarakat yang memerlukan
rekomendasi dan surat izin serta penerbitan Surat Tanda
Terima Pemberitahuan (STTP).
2. Pelatih/instruktur menjelaskan alur jalannya simulasi;
3. Peserta pelatihan melaksanakan simulasi pengamanan dan
pengawasan kegiatan masyarakat sesuai skenario dari
pelatih/instruktur.
SKENARIO I
Berdasarkan surat permohonan dari PT. Liga Indonesia Baru.
Nomor: 830/LIB-KOM/X/2021, tanggal 04 Oktober 2021 perihal
permohonan izin kegiatan Kompetisi Sepakbola BRI Liga 1 Tahun
2021/2022, yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Oktober
2021, bertempat di Maguwoharjo International Stadium (MIS)
Sleman, dengan penanggungjawab kegiatan Ir. Akhmad Hadian
Lukita., MBA., QWP, selaku Direktur Utama PT. Liga Indonesia Baru.
Dalam perencanaan panitia tersebut akan melaksanakan Kompetisi
Sepak Bola Liga 1 (satu) sebanyak 9 (sembilan) pertandingan, dan
Kompetisi Sepak Bola Liga 2 (dua) akan dilaksanakan 8 (delapan)
pertandingan. Saat ini, Wilayah hukum Polda DIY di Kabupaten
Sleman sedang diberlakukan PPKM Level 3.
Bahwa, panitia penyelenggara akan bertanggung jawab atas
pelaksanaan kegiatan dimaksud dengan memenuhi ketentuan
protokol kesehatan yang berlaku, antara lain:
1. seluruh pemain, ofisial, kru media, dan staf pendukung wajib
menggunakan aplikasi peduli lindungi;
2. pelaksanaan kompetisi tidak diperbolehkan menerima penonton
langsung di stadion;
3. seluruh pemain, ofisial, kru media, dan staf pendukung yang
hadir dalam kompetisi wajib sudah memperoleh vaksinasi
minimal dosis kedua, hasil negatif PCR H-1 dan hasil negatif
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 9
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Antigen pada hari pertandingan;
4. pelaksanaan kompetisi liga 1 (satu) wajib mengikuti aturan
protokol kesehatan yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan
dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia.
Dari penjelasan kegiatan tersebut peserta pelatihan ditugaskan untuk
menyerahkan dokumentasi hasil pelaksanaan simulasi.
SKENARIO II
Nahdatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta akan mengadakan
peringatan hari Lahir Fatayat Ke-68 Pimpinan Wilayah Fatayat
Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelaksanaan acara di
gedung Graha Wana Bhaktiyasa, Umbulharjo, Yogyakarta, D.I.
Yogyakarta, pada hari Minggu 29 April 2018, pukul 07.00 s.d. 18.00
WIB, yang akan diikuti oleh 4000 orang peserta, dengan penanggung
jawab Linda Nurfitria Astuti, S.S., M. Hum. Pembicara dalam acara
tersebut adalah GKR Hemas dan Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A.,
selain itu ada juga pembacaan Ikrar Kebangsaan Perempuan se
DIY dan Pengajian Akbar “Penguatan Peran Perempuan untuk
Mewujudkan Islam yang Toleran, Moderat dan Berkeadilan”.
Dari penjelasan kegiatan tersebut peserta pelatihan ditugaskan untuk
menyerahkan dokumentasi hasil pelaksanaan simulasi.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 10
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Bahan Bacaan
POKOK BAHASAN 1
KEGIATAN MASYARAKAT
1. Pengertian terkait Kegiatan Masyarakat
a. Pertemuan adalah berkumpulnya sejumlah orang dengan
sengaja, terorganisasi dan dilaksanakan di tempat tertentu.
b. Pesta adalah kegiatan masyarakat untuk merayakan/
memperingati suatu peristiwa/kejadian tertentu yang disertai
makan dan minum (penjamuan).
c. Keramaian adalah kegiatan diperuntukkan bagi khalayak
ramai disertai hiburan.
d. Pawai adalah kegiatan dengan arak-arakan untuk menarik
perhatian/jadi tontonan khalayak ramai.
e. Pertemuan politik adalah kegiatan tidak bersifat keilmuan/tidak
diselenggarakan oleh lembaga keilmuan yang membahas hal
yang berkaitan dengan kehidupan kenegaraan dan
pemerintahan/kekuasaan negara dengan maksud
mempengaruhi jalannya kekuasaan negara atau
pemerintahan.
f. Pertemuan sosial adalah kegiatan untuk membahas masalah
sosial kemasyarakatan/melakukan kegiatan sosial yang
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan
kelangsungan hidup bermasyarakat.
g. Pertemuan budaya adalah kegiatan untuk membahas/
mempertunjukkan hasil cipta, rasa dan karsa.
h. Pertemuan ilmiah adalah kegiatan untuk membahas ilmu
pengetahuan dan teknologi atau aspek kehidupan masyarakat,
berbangsa dan bernegara atau suatu gejala berdasarkan
prinsip keilmuan/bersifat keilmuan.
i. Pertemuan keagamaan adalah kegiatan untuk meningkatkan
keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
j. Pertemuan kedinasan adalah kegiatan bersifat kedinasan
yang diselenggarakan oleh instansi pemerintahan/lembaga
negara.
k. Pertemuan pengurus adalah kegiatan yang dihadiri oleh para
pengurus parpol, ormas dan perkumpulan lainnya.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 11
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
l. Penyampaian pendapat di muka umum adalah penyampaian
pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas
dan bertangggung jawab di hadapan orang banyak, atau
orang lain termasuk juga di tempat yang dapat didatangi
dan/atau dilihat orang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
m. Kampanye Pemilu adalah kegiatan peserta Pemilu untuk
meyakinkan parapemilih dengan menawarkan visi, misi dan
program peserta Pemilu.
n. Pengamanan dan pengawasan kegiatan Masyarakat adalah
segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan secara
tertutup ditujukan untuk melindungi dan mengamankan
kegiatan masyarakat dari tindakan dan perbuatan yang dapat
mengganggu, mengancam dan merusak.
2. Bentuk Kegiatan Masyarakat
Beberapa bentuk kegiatan masyarakat berkaitan dengan
penyelenggaraan perijinan dan pemberitahuan terhadap kegiatan
masyarakat digolongkan sebagai berikut:
a. Pertemuan yang memerlukan ijin;
b. Pertemuan yang memerlukan pemberitahuan;
c. Pertemuan yang tidak memerlukan ijin dan pemberitahuan.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 12
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
POKOK BAHASAN 2
KEGIATAN MASYARAKAT YANG MEMERLUKAN
PERIJINAN
1. Bentuk Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang
Memerlukan Perijinan
a. Pesta berupa pekan raya, festival, bazar.
b. Keramaian berupa pasar malam, pameran, pekan raya,
festival, bazar, pertunjukan ketangkasan/atraksi.
c. Pawai berupa pawai alegoris, karnaval, pertunjukan
ketangkasan atau atraksi lain.
2. Pemohon Ijin Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang
Memerlukan Perijinan
a. Perorangan;
b. Organisasi Politik;
c. Organiasai bukan Politik;
d. Lembaga Keilmuan;
e. Badan Hukum.
3. Kriteria Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang
Memerlukan Perijinan
a. Pesta dimaksud diselenggarakan ditempat-tempat umum atau
tempat yang dapat dikunjungi oleh setiap orang dari berbagai
lapisan masyarakat.
b. Keramaian dimaksud diselenggarakan secara temporer
ditempat umum atau tempat yang dapat dikunjungi oleh setiap
orang dari berbagai masyarkat.
c. Pawai dimaksud diselenggarakan di jalan umum.
4. Persyaratan Permohonan Perijinan Kegiatan Masyarakat
a. Tertulis.
b. Memuat secara jelas tentang tujuan, sifat, tempat, waktu
pertemuan, penanggung jawab, pembicara dan perkiraan
jumlah peserta/undangan.
c. Ditandatangani oleh pucuk pimpinan organisasi/badan hukum
yang berhak sesuai dengan AD/ART Organisasi yang
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 13
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
bersangkutan.
d. Bila pemohon dari suatu organisasi ditandatangani oleh ketua
suatu kepanitian maka harus dilampiri dengan surat keputusan
Pembentukan yang ditandatangani pucuk pimpinan organisasi
yang dimaksud.
e. Surat permohonan ijin tersebut ditujukan kepada pejabat yang
berwenang memberikan ijin sesuai ketentuan
f. Surat permohonan ijin dilampiri dengan :
1) Jadwal acara;
2) Daftar susunan panitia penyelenggara;
3) Daftar susunan pengurus organisasi;
4) Nama-nama peserta / undangan;
5) Nama pembicara dan judul makalahnya (bagi
peserta/undangan WNA disertai dengan nomor, tanggal,
paspor dan visa serta kebangsaannya);
6) AD / ART organisasi / badan hukum;
7) Akte pendirian organisasi / badan hukum;
8) Proposal;
9) Curiculum vitae WNA bagi pembicara warga negara
asing;
10) Surat ijin dari pemilik/pengelola tempat kegiatan;
11) Rute yang dilalui bila kegiatan dalam bentuk pawai atau
karnaval.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 14
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
POKOK BAHASAN 3
KEGIATAN MASYARAKAT YANG MEMERLUKAN
SURAT TANDA TERIMA PEMBERITAHUAN (STTP)
1. Bentuk Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang
Memerlukan Pemberitahuan
a. Rapat;
b. Sidang;
c. Musyawarah;
d. Muktamar;
e. Kongres;
f. Saresehan;
g. Temu kader.
2. Penyelenggara Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang
Memerlukan Pemberitahuan
a. Partai Politik;
b. Organisasi kemasyarakatan;
c. Perkumpulan;
d. Perorangan;
e. Kelompok non Organisasi.
3. Kriteria Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang
Memerlukan Pemberitahuan
a. Pertemuan tersebut adalah pertemuan Politik.
b. Diselenggarakan diluar lingkungan kantor/gedung/ sekretariat
sendiri.
c. Diselenggarakan di tempat kediaman ybs dan akan dihadiri
oleh lebih dari 10 orang.
d. Diselenggarakan di luar lingkungan tempat kediaman.
e. Tidak bersifat keilmuan.
f. Membahas hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan
kenegaraan dan pemerintahan negara dengan maksud
pengaruhi jalannya kekuasaan negara dan atau pemerintah.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 15
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
4. Persyaratan Pemberitahuan Kegiatan Masyarakat
a. Tertulis.
b. Memuat secara jelas tentang tujuan, sifat, tempat, waktu
pertemuan, penanggung jawab, pembicara dan perkiraan
jumlah peserta/undangan.
c. Ditandatangani oleh pucuk pimpinan organisasi/badan hukum
yang berhak sesuai AD/ART organisasi yang bersangkutan.
d. Bila pemberitahuan ditandatangani oleh suatu kepanitiaan,
harus dilampiri dengan surat keputusan pembentukan yang
ditandatangani pucuk pimpinan organisasi dimaksud.
e. Surat pemberitahuan tersebut ditujukan kepada pejabat yang
berwenang menerima pemberitahuan sesuai ketentuan.
f. Surat pemberitahuan dilampiri dengan :
1) Jadwal acara;
2) Daftar susunan panitia penyelenggara;
3) Daftar susunan pengurus organisasi;
4) Nama-nama peserta / undangan;
5) AD / ART organisasi / badan hukum;
6) Akte pendirian organisasi / badan hukum;
7) Proposal;
8) Nama-nama pembicara dan judul makalahnya;
9) Surat ijin dari pemilik tempat kegaiatan.
5. Kemerdekaan Penyampaian Pendapat di Muka Umum yang
Memerlukan Pemberitahuan
a. Bentuk kegiatan penyampaian pendapat di muka umum
meliputi:
1) unjuk rasa atau demonstrasi;
2) pawai;
3) rapat umum;
4) mimbar bebas;
5) penyampaian ekspresi secara lisan, aksi diam,aksi
teatrikal, dan isyarat;
6) penyampaian pendapat dengan alat peraga, gambar,
pamflet, poster, brosur,selebaran, petisi, spanduk; dan
7) kegiatan lain yang intinya bertujuan menyampaikan
pendapat di muka umum.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 16
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
b. Prinsip yang harus ditaati dalam pelayanan terhadap kegiatan
penyampaian pendapat di muka umum
1) Persuasif, edukatif, responsif.
2) Tidak ada istilah perijinan.
3) Hanya pemberitahuan.
4) Penanggung jawab dapat sampaikan surat pemberitahuan
akan lakukan giat menyampaikan pendapat di muka
umum kepada kesatuan polri terdekat dimana giat akan
dilakukan.
5) Bersifat regulatif.
6) Tidak ada batasan jumlah peserta.
7) Titik berat pada penanggung jawab dan Polri.
8) Tindakan adm (bubarkan) serta tindakan hukum sesuai
dengan ketentuan hukum yang berlaku.
9) STTP harus diberikan bila penuhi ketentuan Pasal 11 UU
No 9 Tahun 1998.
c. Kewajiban warga negara
Warga negara yang menyampaikan pendapat di muka umum
berkewajiban untuk:
1) menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib
kehidupanbermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;
2) tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan
undang-undang dengan maksud semata-mata untuk
menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan
kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang
adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai
agama,keamanan dan ketertiban umum dalam
masyarakat demokratis;
3) menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain,
menghormati aturanaturan moral yang diakui umum,
menaati hukum dan ketentuan peratuan perundang-
undangan yang berlaku, menjaga danmenghormati
keamanan dan ketertiban umum, dan menjaga keutuhan
persatuan dan kesatuan bangsa; dan
4) berperan serta agar penyampaian pendapat di muka
umum dapat berlangsung secara aman, tertib dan damai.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 17
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
d. Kewajiban dan tanggung jawab Penyelenggara
Penyelenggara kegiatan penyampaian pendapat di muka
umum berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
1) memberitahukan secara tertulis kepada kepolisian
setempat sebelum pelaksanaan kegiatan penyampaian
pendapat di muka umum;
2) melakukan koordinasi dengan aparat dan lembaga terkait
demi kelancaran dan pengamanan dan pengawasan
kegiatan penyampaian pendapat di muka umum; dan
3) melaksanakan kegiatan penyampaian pendapat di muka
umum dengan cara yang tidak menggangu keamanan dan
ketertiban umum, keselamatan dan kelancaran arus lalu
lintas.
e. Tempat dan waktu penyampaian di muka umum
Penyampaian pendapat di muka umum dilaksanakan, pada
tempat dan waktu sebagai berikut:
1) di tempat terbuka antara pukul 06.00 sampai dengan
18.00, waktu setempat; dan
2) di tempat tertutup antara pukul 06.00 sampai dengan
22.00, waktu setempat.
f. Larangan waktu, tempat dan cara penyampaian pendapat di
muka umum
1) Penyampaian pendapat di muka umum dilarang dilakukan
pada waktu:
a) hari besar nasional;
b) hari besar lainnya yang ditentukan oleh Pemerintah;
dan
2) Penyampaian pendapat di muka umum dilarang dilakukan
di:
a) tempat ibadah, rumah sakit, pelabuhan udara atau
laut, stasiun kereta api, terminal angkutan darat;
b) objek-objek vital nasional dalam radius kurang dari
500 meter dari pagar luar;
c) instalasi militer dalam radius kurang dari 150 meter
dari pagar luar;
d) di lingkungan istana kepresidenan (Presiden dan
Wakil Presiden) dalam radius kurang dari 100 meter
dari pagar luar; dan
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 18
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
e) tempat yang rutenya melalui atau melintasi wilayah
Istana Kepresidenan dan tempat-tempat ibadah pada
saat ibadah sedang berlangsung.
3) Penyampaian pendapat di muka umum dilarang dilakukan
dengan cara:
a) tidak memberitahukan terlebih dahulu ke kepolisian
setempat;
b) melanggar peraturan lalu lintas;
c) menodai bendera kebangsaan Republik Indonesia
dan lambang Negara Republik Indonesia;
d) menyatakan permusuhan, kebencian atau
penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan
rakyat Indonesia;
e) mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan
yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau
penodaan terhadap suatu agama yang dianut di
Indonesia;
f) menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan
tulisan atau lukisan di muka umum yang
mengandung pernyataan permusuhan, kebencian
atau penghinaan di antara atau terhadap golongan-
golongan rakyat Indonesia;
g) lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan
perbuatan pidana atau kekerasan terhadap
penguasa umum atau tidak menuruti ketentuan
undang undang maupun perintah jabatan;
h) menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di
muka umum tulisan yang menghasut supaya
melakukan perbuatan pidana, menentang penguasa
umum dengan kekerasan;
i) lisan atau tulisan menawarkan untuk memberi
keterangan, kesempatan atau sarana guna
melakukan tindak pidana;
j) menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di
muka umum tulisan yang menawarkan untuk
memberi keterangan, kesempatan atau sarana guna
melakukan tindak pidana;
k) berusaha menggerakkan orang lain supaya
melakukan kejahatan;
l) memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau
pekarangan tertutup secara melawan hukum dengan
merusak/memanjat/menggunakan anak kunci
palsu/mengancam/menggunakan sarana yang dapat
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 19
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
menakutkan orang;
m) memaksa masuk ke dalam ruangan untuk dinas
umum secara melawan hukum dengan
merusak/memanjat/menggunakan anak kunci
palsu/mengancam serta menggunakan sarana yang
dapat menakutkan orang;
n) dengan terang-terangan dan dengan tenaga
bersama menggunakan kekerasan terhadap orang
atau barang;
o) sengaja mengganggu ketenangan dengan
mengeluarkan teriak-teriakan atau tanda bahaya
palsu;
p) dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
merintangi rapat umum yang diizinkan;
q) sengaja mengganggu rapat umum yang diizinkan
dengan jalan menimbulkan kekacauan atau suara
gaduh;
r) dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
merintangi pertemuan keagamaan yang bersifat
umum dan diizinkan atau upacara keagamaan yang
diizinkan atau upacara penguburan jenazah;
s) sengaja mengganggu pertemuan keagamaan yang
bersifat umum dan diizinkan atau upacara
keagamaan yang diizinkan atau upacara penguburan
jenazah dengan menimbulkan kekacauan atau suara
gaduh;
t) menertawakan petugas agama dalam menjalankan
tugas yang diizinkan dan menghina benda-benda
untuk keperluan ibadat di tempat atau pada waktu
ibadat dilakukan;
u) sengaja menimbulkan kebakaran, ledakan atau banjir
yang dapat menimbulkan bahaya umum bagi jiwa
dan atau barang;
v) mengangkut benda-benda atau perkakas-perkakas
yang dapat menimbulkan ledakan yang
membahayakan jiwa dan atau barang;
w) menyebabkan kebakaran, ledakan atau banjir yang
dapat menimbulkan bahaya bagi jiwa dan atau
barang;
x) sengaja menghancurkan, merusak atau membuat
tidak dapat dipakai bangunan listrik;
y) menyebabkan suatu bangunan listrik hancur, rusak
atau tidak dapat dipakai;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 20
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
z) sengaja menghancurkan, membuat tidak dapat
dipakai atau merusak bangunan untuk lalu lintas
umum atau merintangi jalan umum darat atau air
atau menggagalkan usaha untuk pengamanan
bangunan atau jalan;
aa) menyebabkan bangunan untuk lalu lintas umum
dihancurkan, tidak dapat dipakai atau merusak atau
menyebabkan jalan umum air atau darat dirintangi
atau usaha untuk pengamanan bangunan atau jalan
digagalkan;
bb) sengaja menimbulkan bahaya bagi lalu lintas umum
yang digerakkan oleh tenaga uap atau kekuatan
mesin lain di jalan kereta api atau trem;
cc) menimbulkan bahaya bagi lalu lintas umum yang
digerakkan oleh tenaga uap atau kekuatan mesin lain
di jalan kereta api atau trem;
dd) sengaja menghancurkan, merusak, mengambil atau
memindahkan tanda untuk keamanan pelayaran atau
menggagalkan bekerjanya atau memasang tanda
yang keliru;
ee) menyebabkan tanda untuk keamanan dihancurkan,
dirusak, diambil atau dipindahkan atau menyebabkan
dipasang tanda yang keliru;
ff) sengaja dan melawan hukum menenggelamkan atau
mendamparkan,
gg) menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau
merusak kapal;
hh) menyebabkan kapal tenggelam atau terdampar,
dihancurkan, tidak dapat dipakai atau dirusak;
ii) sengaja menghancurkan atau merusak gedung atau
bangunan;
jj) menyebabkan gedung atau bangunan dihancurkan
atau dirusak;
kk) lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau
badan umum yang ada di Indonesia;
ll) menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di
muka umum suatu tulisan atau lukisan yang memuat
penghinaan terhadap penguasa atau badan umum
yang ada di Indonesia;
mm) dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa pejabat untuk melakukan perbuatan
jabatan atau untuk tidak melakukan perbuatan
jabatan yang sah;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 21
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
nn) dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
melawan pejabat yang sedang menjalankan tugas
yang sah;
oo) sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan
yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat
atau menghalang-halangi atau menggalkan tindakan
guna menjalankan ketentuan undang-undang yang
dilakukan oleh pejabat tersebut;
pp) menimbulkan kegaduhan dalam sidang pengadilan
atau tempat dimana seorang pejabat sedang
menjalankan tugasnya yang sah di muka umum;
qq) melawan hukum merobek, membuat tidak dapat di
baca atau merusak maklumat yang diumumkan oleh
pemerintah;
rr) sengaja memutus, membuang atau merusak
penyegelan suatu benda oleh atau atas nama
penguasa umum yang berwenang;
ss) sengaja menghancurkan, merusak, membuat tak
dapat dipakai,
tt) menghilangkan barang-barang yang digunakan untuk
meyakinkan atau membuktikan sesuatu di muka
penguasa yang berwenang;
uu) membuat keriuhan atau kegaduhan sehingga
mengganggu ketenteraman malam atau membikin
gaduh di dekat bangunan untuk ibadah atau untuk
sidang pengadilan;
vv) tidak menaati perintah atau petunjuk yang diberikan
oleh polisi guna mencegah kecelakaan dan
kemacetan lalu lintas;
ww) membawa benda-benda yang dapat membahayakan
keselamatan umum.
g. Kewajiban dan tanggung jawab Pejabat Polri
Dalam pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum
oleh warga negara, pejabat Polri berkewajiban dan
bertanggung jawab untuk:
1) Memberikan pelayanan secara profesional;
2) Menjunjung tinggi HAM;
3) Menghargai asas legalitas;
4) Menghargai prinsip praduga tidak bersalah; dan
5) Menyelenggarakan pengamanan.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 22
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
h. Kewajiban Pemberitahuan penyampaian pendapat di muka
umum
Penyampaian pendapat di muka umum wajib diberitahukan
secara tertulis kepada Satuan Polri sesuai dengan tingkat
kewenangannya, sebagai berikut:
1) Mabes Polri, apabila massa peserta aksi berasal dari
beberapa wilayah provinsi dan aksi dilakukan di satu
wilayah provinsi atau lintas provinsi;
2) Polda, pemberitahuan penyampaian pendapat di muka
umum apabila massa peserta aksi berasal dari beberapa
wilayah Kota/Kabupaten dan aksi dilakukan dalam
lingkup satu wilayah provinsi setempat;
3) Polres, pemberitahuan penyampaian pendapat di muka
umum apabila massa peserta aksi berasal dari beberapa
kecamatan dan aksi dilakukan dalam lingkup wilayah
kabupaten/kota setempat; dan
4) Polsek, pemberitahuan penyampaian pendapat di muka
umum apabila massa peserta aksi berasal dari satu
wilayah kecamatan dan aksi dilakukan di lingkup wilayah
kecamatan setempat.
Pemberitahuan sebagaimana dimaksud memuat keterangan
mengenai:
1) maksud dan tujuan;
2) tempat, lokasi, dan rute;
3) waktu dan lama;
4) bentuk;
5) penanggung jawab;
6) nama dan alamat organisasi, kelompok atau perorangan;
7) alat peraga yang dipergunakan; dan/atau
8) jumlah peserta.
i. Petugas Polri, setelah menerima surat pemberitahuan
kegiatan penyampaian pendapat di muka umum, melakukan
kegiatan sebagai berikut:
1) meneliti kebenaran dan kelengkapan surat pemberitahuan
serta keterangan.
2) meneliti identitas penanggung jawab yang disertai dengan
dengan fotokopi KTP/SIM.
3) menerbitkan STTP dengan tembusan kepada satuan
kepolisian yang terkait, instansi yang terkait, dan
pemilik/lokasi tempat objek/sasaran penyampaian
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 23
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
pendapat di muka umum;
4) berkoordinasi dengan penanggung jawab penyampaian
pendapat di muka umum untuk perencanaan
pengamanan, pemberian arahan/petunjuk kepada
pelaksana demi kelancaran dan ketertiban penyampaian
pendapat;
5) berkoordinasi dengan pimpinan instansi/lembaga yang
akan menjadi tujuan penyampaian pendapat di muka
umum; dan
6) mempersiapkan pengamanan tempat, lokasi, dan rute.
7) Dalam hal terdapat rencana kegiatan penyampaian
pendapat di muka umum
8) yang bersamaan tempat, rute dan/atau waktu yang
diperkirakan akan menimbulkan gangguan keamanan dan
ketertiban masyarakat, petugas Polri
9) tetap mengeluarkan STTP dengan mencantumkan catatan
dan saran untuk tidak dilaksanakan kegiatan dimaksud
atau mengalihkan tempat, rute dan/atau waktu
berdasarkan musyawarah untuk mufakat;
10) Dalam hal terjadi perubahan rencana kegiatan mengenai
tempat, waktu dan rute,maka peserta wajib
memberitahukan kepada petugas Polri yang bertugas
pada bagian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13,
paling lambat 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam,
sebelum pelaksanaan guna penyesuaian rencana
pengamanan.
j. Penandatanganan Surat terima tanda pemberitahuan (STTP)
STTP sebagaimana dimaksud ditandatangani oleh:
1) Kepala Bidang Pelayanan Masyarakat (Kabidyanmas)
atas nama Kabaintelkam Polri, pada tingkat pusat;
2) Direktur Intelijen Keamanan (Dirintelkam) atau
Wadirintelkam, pada tingkat provinsi;
3) Kapolres atau Wakapolres, pada tingkat kabupaten/kota,
atau pada tingkat provinsi yang belum terdapat Polda; dan
4) Kapolsek atau Wakapolsek, pada tingkat kecamatan.
Kesatuan Polri yang mengeluarkan STTP wajib melakukan
pendokumentasian terhadap:
1) identitas pimpinan, pengurus, tokoh suatu
organisasi/kelompok dan jumlah peserta;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 24
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
2) akte pendirian, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga (AD/ART), bila ada; dan
3) kegiatan dan aspirasi yang akan disampaikan oleh
organisasi/kelompok/perorangan.
k. Penerimaan pemberitahuan dan penerbitan STTP
penyampaikan pendapat di muka umum, dilengkapi dengan
sebagai berikut:
1) formulir tanda terima berkas pemberitahuan;
2) buku agenda surat pemberitahuan;
3) buku agenda STTP;
4) buku ekspedisi STTP; dan
5) formulir STTP dan lampirannya.
l. Penyelenggara Pengamanan
1) Penyelenggaraan pengamanan dalam pelaksanaan
penyampaian pendapat di muka umum, bertujuan untuk:
a) memberikan perlindungan keamanan terhadap
peserta penyampaian pendapatdi muka umum;
b) Menjaga kebebasan penyampaian pendapat dari
intervensi pihak lain; dan
c) Menjaga keamanan dan ketertiban umum.
2) Pengamanan dalam rangka perlindungan keamanan
sebagaimana dimaksud, dilakukan melalui kegiatan
sebagai berikut:
a) melakukan survei lokasi kegiatan;
b) menyiapkan perencanaan kegiatan pengamanan
meliputi personel, peralatan dan metode/pola
operasi;
c) melakukan koordinasi dengan lingkungan sekitar dan
penanggung jawab kegiatan;
d) memberikan arahan kepada penyelenggara agar
menyiapkan
e) pengamanan di lingkungannya; dan
f) memberikan fasilitas pengamanan berupa peralatan
ataupun pengaturan demi kelancaran kegiatan
penyampaian pendapat di muka umum.
3) Pengamanan dalam rangka menjaga kebebasan
penyampaian pendapat dari intervensi pihak lain,
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 25
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut:
a) mencegah terjadinya gangguan terhadap
pelaksanaan kegiatan
b) menyampaian pendapat di muka umum oleh pihak
lain;
c) mencegah terjadinya bentrokan massa; dan
d) mencegah pihak lain melakukan kegiatan yang
mengganggu pelaksanaan kegiatan penyampaian
pendapat di muka umum.
e) melakukan pengaturan, penjagaan, pengawalan dan
patroli;
f) mencegah peserta melakukan tindakan yang
melanggar hukum;
g) melakukan penindakan terhadap kejadian yang
mengganggu kamtibmas secara proporsional;
h) melakukan koordinasi dengan unsur-unsur aparat
lainnya dalam rangka menjamin keamanan dan
ketertiban umum; dan
i) melakukan tindakan lain demi tertibnya kegiatan
penyampaian pendapat di muka umum.
4) Terhadap penyampaian pendapat di muka umum yang
dilakukan dengan cara melanggar peraturan perundang-
undangan, dapat dilakukan tindakan sebagai berikut:
a) melakukan upaya persuasif, agar kegiatan
dilaksanakan dengan tertib dan sesuai aturan hukum;
b) memberikan peringatan kepada massa peserta
penyampaian pendapat di muka umum untuk tetap
menjaga keamanan dan ketertiban;
c) memberikan peringatan kepada penanggung jawab
pelaksanaan
d) penyampaian pendapat di muka umum bahwa
tindakannya, dapat
e) dipidana sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
f) menghentikan dan membubarkan kegiatan
penyampaian pendapat di muka umum yang
melanggar ketentuan peraturan perundang-
undangan
g) membubarkan massa peserta penyampaian
pendapat di muka umum;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 26
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
h) Melakukan tindakan hukum terhadap pelaku
pelanggaran dan perbuatan anarkis;
i) melakukan penggeledahan dan penyitaan barang
bukti; dan
j) melakukan tindakan kepolisian lainnya yang dapat
dipertanggungjawabkan.
m. Penanganan Perkara
1) Terhadap penyampaian pendapat di muka umum yang
melanggar ketentuan perundang-undangan, wajib
dilakukan tindakan oleh pejabat Polri dengan menerapkan
tindakan yang profesional, proporsional, prosedural dan
dapat dipertanggung jawabkan.
2) Penindakan terhadap pelanggaran penyampaian pendapat
di muka umum dilakukan secara dini dengan menerapkan
urutan tindakan dari metode yang paling lunak sampai
yang paling tegas disesuaikan dengan perkembangan
situasi dan kondisi.
3) Kegiatan penyampaian pendapat di muka umum
dinyatakan sebagai bentuk pelanggaran apabila:
a) dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu;
b) dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan dalam
surat pemberitahuan;
c) mengganggu keamanan keselematan ketertiban
kelancaran lalu lintas;
d) mengganggu ketertiban umum sesuai ketentuan
peraturan perundangundangan;
e) berlangsung anarkis, yang disertai dengan tindak
pidana atau kejahatan terhadap ketertiban umum,
kejahatan yang membahayakan keamanan
umumbagi orang atau barang, dan kejahatan
terhadap penguasa umum; dan
f) menimbulkan kerusuhan massa.
4) Terhadap penyampaian pendapat di muka umum yang
dilakukan tanpa pemberitahuan atau tidak sesuai dengan
pemberitahuan, dilakukan tindakan sebagai berikut:
a) memberi peringatan kepada penyelenggara untuk
mematuhi sesuai STTP yang dikeluarkan;
b) menghentikan pelaku yang melakukan tindakan
menyimpang;
c) menghentikan kegiatan seluruhnya;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 27
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
d) membubarkan massa; dan
e) melakukan tindakan rehabilitasi dan konsolidasi
situasi.
5) Terhadap penyampaian pendapat di muka umum yang
mengganggu keamanan keselamatan ketertiban
kelancaran lalu lintas, dilakukan tindakan sebagai berikut:
a) memberi peringatan kepada pelanggar lalu lintas
(pengemudi dan/atau penumpang) dan
menghentikan kendaraan yang melanggar;
b) menindak dan memberlakukan pelanggaran tilang
seketika untuk pelanggaran lalu lintas serius, dan
apabila tidak memungkinkan dapat dilakukan di
kemudian hari; dan
c) memberikan peringatan untuk membuka jalur lalu
lintas terhadap pelaku penyampaian pendapat di
muka umum yang duduk-duduk, tidur-tiduran
memblokir jalan dengan badan ataupun barang
lainnya, dan apabila tidak mematuhi dapat dilakukan
upaya pemindahan dengan cara yang persuasif dan
edukatif, dan bila masih tidak menaati dapat
dilakukan pemindahan paksa dengan cara yang
manusiawi.
6) Terhadap penyampaian pendapat di muka umum yang
berlangsung anarkis dilakukan tindakan sebagai berikut:
a) menghentikan tindakan anarkis melalui himbauan,
persuasif dan edukatif;
b) menerapkan upaya paksa sebagai jalan terakhir
setelah upaya persuasif gagal dilakukan;
c) menerapkan penindakan hukum secara profesional,
proporsional dan nesesitas yang disesuaikan
dengan situasi dan kondisi;
d) dalam hal penindakan hukum tidak dapat dilakukan
seketika, maka dilakukan upaya mengumpulkan
bukti-bukti dan kegiatan dalam rangka mendukung
upaya penindakan di kemudian hari; dan
e) melakukan tindakan rehabilitasi dan konsolidasi
situasi.
7) Terhadap penyampaian pendapat di muka umum yang
menimbulkan kerusuhan massa, tindakan dilakukan
dengan ikatan kesatuan yang ketat di bawah kendali
pejabat yang berwenang dengan menerapkan pola:
a) sistem back up satuan secara hierarkis; dan
b) sistem back up rayonisasi (satuan Polri terdekat).
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 28
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
8) Dalam hal penindakan hukum tidak dapat dilakukan
seketika, dengan pertimbangan kemungkinan akan terjadi
kerusuhan yang lebih luas, atau dapat memicu kerusuhan
massa, maka tindakan penegakan hukum tetap
dilaksanakan setelah situasi kondisi memungkinkan
dilakukan penindakan;
a) Terhadap peserta yang taat hukum harus tetap
diberikan perlindungan hukum.
b) Terhadap pelaku pelanggar hukum harus dilakukan
tindakan tegas danproporsional.
c) Terhadap pelaku yang anarkis dilakukan tindakan
tegas dan diupayakan menangkap pelaku dan
berupaya menghentikan tindakan anarkis dimaksud
d) Pelaku pelanggaran yang telah tertangkap harus
diperlakukan secara manusiawi, tidak dilakukan
tindakan kekerasan dan pelecehan seksual.
e) Upaya penangkapan pelaku pelanggaran dapat
dilakukan seketika pada saat peristiwa terjadi, namun
bila tidak memungkinkan dengan pertimbangan akan
menimbulkan dampak yang lebih luas, maka
penangkapan dapat dilakukan di kemudian hari.
f) Proses penanganan terhadap pelaku pelanggaran
dilaksanakan sesuai ketentuan perundang-
undangan.
9) Dalam melakukan tindakan upaya paksa harus dihindari
terjadinya hal-hal yangkontra produktif, antara lain:
a) tindakan aparat yang spontanitas dan emosional,
mengejar pelaku, membalas melempar pelaku,
menangkap dengan tindakan kekerasan, dan
menghujat;
b) keluar dari ikatan satuan atau formasi dan melakukan
pengejaran massa secara perorangan;
c) tidak patuh dan taat kepada perintah
penanggungjawab pengamanan di lapangan sesuai
tingkatannya;
d) tindakan aparat yang melampaui kewenangannya;
e) tindakan aparat yang melakukan kekerasan,
penganiayaan, pelecehan, melanggar HAM; dan
f) melakukan perbuatan lain yang melanggar ketentuan
peraturan perundang-undangan.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 29
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
10) Penyidikan perkara penyampaian pendapat di muka
umum dapat dilakukan dengan prosedur:
a) penindakan tilang;
b) tindak pidana ringan;
c) penyidikan perkara cepat; dan
d) penyidikan perkara biasa.
11) Biaya administrasi, operasional dan logistik yang
diperlukan dalam penyelenggaraan pelayanan,
pengamanan dan penanganan perkara penyampaian
pendapat di muka umum dibebankan pada DIPA Polri.
6. Pemberitahuan Kampanye Pemilu yang Memerlukan
Pemberitahuan
a. Prosedur Pembuatan Pemberitahuan Kampanye
1) Surat Pemberitahuan Kampanye Pemilu Kepala Daerah
dari calon yang diusulkan Parpol atau gabungan Parpol,
dibuat oleh pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah atau Tim Kampanye yang telah dibentuk
oleh pasangan calon bersama-sama partai politik,
gabungan partai politik, atau ketua panitia penyelenggara
kampanye.
2) Surat Pemberitahuan Kampanye Pemilu Kepala Daerah
dari calon perseorangan pada tingkat Provinsi dan
Kabupaten/Kota dibuat oleh pasangan calon atau Tim
Kampanye yang telah dibentuk oleh pasangan calon
bersama-sama tim kampanye.
b. Surat Pemberitahuan Kampanye Pemilu Legislatif dan
kampanye presiden dibuat oleh:
1) Dewan Pimpinan Partai Politik Tingkat Pusat atau Tim
Kampanye Tingkat Pusat, apabila kampanye dilakukan
oleh pengurus partai tingkat pusat;
2) Dewan Pimpinan Partai Politik Tingkat Provinsi atau Tim
Kampanye Tingkat Provinsi, apabila kampanye dilakukan
oleh pengurus partai tingkat Provinsi;
3) Dewan Pimpinan Partai Politik Tingkat Kabupaten/Kota
atau Tim Kampanye Tingkat Kabupaten/Kota, apabila
kampanye dilakukan oleh pengurus Partai Politik tingkat
Kabupaten/Kota; dan
4) Calon anggota DPD atau Tim Kampanye yang ditunjuk
oleh calon anggota DPD yang bersangkutan, apabila
kampanye dilakukan oleh perseorangan anggota DPD
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 30
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
sesuai daerah pemilihannya.
5) Surat Pemberitahuan Kampanye Pemilu Presiden dibuat
oleh pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden atau
Tim Kampanye yang telah dibentuk oleh pasangan calon
bersama-sama partai politik atau gabungan partai politik
atau ketua panitia penyelenggara kampanye.
c. Surat Pemberitahuan Kampanye memuat materi mengenai:
1) nama calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah,
Partai Politik peserta Pemilu, calon anggota
DPR/DPD/DPRD, atau calon Presiden dan Wakil
Presiden;
2) nama penanggung jawab/Ketua Tim Kampanye
penyelenggara kampanye;
3) bentuk kampanye;
4) waktu dan tanggal kampanye;
5) lokasi/tempat kampanye;
6) pemandu acara;
7) identitas juru kampanye;
8) perkiraan jumlah peserta kampanye yang akan hadir;
9) perkiraan jumlah dan jenis kendaraan angkutan peserta
kampanye;
10) titik kumpul massa, rute keberangkatan dari titik kumpul ke
lokasi kampanye, dan rute kembali; dan
11) alat peraga yang digunakan.
d. Surat Pemberitahuan Kampanye dilampiri dengan:
1) jadwal kampanye dari KPU setempat;
2) Surat Keputusan atau surat penunjukan tentang Tim
Kampanye yang ditetapkan oleh pasangan calon Presiden
dan Wakil Presiden atau Dewan Pimpinan Partai Politik
peserta Pemilu atau calon Anggota DPR, DPD dan DPRD;
3) perincian penggunaan kendaraan angkutan, jumlah massa
peserta kampanye, dan rute yang akan dilalui;
4) susunan acara kampanye;
5) surat izin pemilik/penghuni bila menggunakan
ruang/bangunan milik perorangan/badan hukum; dan
6) surat izin dari pemerintah daerah apabila menggunakan
fasilitas umum.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 31
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
e. Surat Pemberitahuan Kampanye, ditandatangani oleh:
1) pasangan calon perseorangan Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah atau Ketua Tim Kampanye;
2) Ketua Umum bersama Sekjen Dewan Pimpinan Pusat
Partai Politik untuk dewan pimpinan partai tingkat pusat;
3) Ketua bersama Sekretaris Dewan Pimpinan
Daerah/Wilayah Partai Politik Tingkat Provinsi untuk
dewan pimpinan partai politik tingkat provinsi;
4) Ketua bersama Sekretaris Dewan Pimpinan
Daerah/Cabang Partai Politik Tingkat Kabupaten/Kota
untuk dewan pimpinan partai politik tingkat
Kabupaten/Kota;
5) calon anggota DPD sesuai daerah pemilihannya; dan
6) Ketua bersama Sekretaris Tim Penyelenggara Kampanye
yang dibentuk dan ditetapkan berdasarkan Surat
Keputusan atau surat penunjukan yang ditandatangani
oleh:
a) Ketua Umum bersama Sekjen Dewan Pimpinan
Pusat Partai Politik untuk Dewan Pimpinan Partai
Politik Tingkat Pusat;
b) Ketua bersama Sekretaris Dewan Pimpinan
Daerah/Wilayah Partai Politik Tingkat Provinsi untuk
Dewan Pimpinan Partai Politik Tingkat Provinsi; dan
c) Ketua bersama Sekretaris Dewan Pimpinan
Daerah/Cabang Partai Politik Tingkat
Kabupaten/Kota untuk Dewan Pimpinan Partai Politik
Tingkat Kabupaten/Kota.
7) Surat pemberitahuan Kampanye Pemilu Presiden,
ditandatangani oleh pasangan calon Presiden dan wakil
Presiden baik secara bersama-sama maupun sendiri-
sendiri; dan Ketua bersama Sekretaris Tim Kampanye
Tingkat Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota yang
dibentuk dan ditetapkan berdasarkan surat keputusan atau
surat penunjukan yang ditandatangani oleh pasangan
calon Presiden dan Wakil Presiden.
8) Dalam hal kampanye dilaksanakan dalam bentuk debat
publik atau debat terbuka yang diselenggarakan oleh
masyarakat atau lembaga-lembaga lain yang bersifat
independen, Surat Pemberitahuan Kampanye
ditandatangani oleh Ketua Panitia Penyelenggara yang
telah dikoordinasikan terlebih dahulu dengan KPU, KPU
Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 32
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
f. Prosedur penyampaian surat pemberitahuan kampanye
1) Surat Pemberitahuan Kampanye ditujukan kepada:
a) Kapolri u.p. Kabaintelkam Polri, untuk kegiatan
kampanye yang akan diselenggarakan oleh
pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden atau
Dewan Pimpinan Pusat Partai Politik peserta Pemilu
atau Tim Kampanye tingkat Pusat;
b) Kapolda u.p. Direktur Intelkam (Dirintelkam) Polda,
untuk kegiatan kampanye yang akan
diselenggarakan oleh calon Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah Propinsi, Dewan Pimpinan
Daerah/Wilayah Partai Politik Tingkat Provinsi atau
Tim Kampanye tingkat Provinsi serta kegiatan
kampanye yang akan diselenggarakan oleh calon
anggota DPD sesuai daerah pemilihannya;
c) Kapolres untuk kegiatan kampanye yang akan
diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan
Daerah/Cabang Partai Politik Tingkat
Kabupaten/Kota atau Tim Kampanye tingkat
Kabupaten/kota; dan
d) Kapolres yang berkedudukan di ibukota provinsi, bagi
provinsi yang belum ada Polda, yang bertanggung
jawab untuk menerima Surat Pemberitahuan dan
menerbitkan STTP Kampanye.
e) Surat Pemberitahuan Kampanye tingkat pusat
sebagaimana diterima oleh Bidang Pelayanan
Masyarakat Badan Intelijen Keamanan (Bidyanmas
Baintelkam) Polri, melalui Subbidang Kegiatan
Masyarakat (Subbidgiatmas).
f) Surat Pemberitahuan Kampanye tingkat provinsi
diterima oleh Direktorat Intelkam (Ditintelkam) Polda
melalui Seksi Pelayanan Masyarakat (Siyanmas).
g) Surat Pemberitahuan Kampanye tingkat kabupaten
diterima oleh Bagian/Satuan Intelkam Polres.
h) Surat Pemberitahuan Kampanye diterima oleh paling
lambat 7 (tujuh) hari sebelum penyelenggaraan
kegiatan kampanye.
2) Surat Pemberitahuan Kampanye yang ditujukan kepada
Kapolri u.p. Kabaintelkam, ditembuskan kepada:
a) Ketua KPU;
b) Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu);
c) Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik Kementerian
Dalam Negeri;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 33
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
d) Gubernur; dan
e) Kapolda.
3) Surat Pemberitahuan Kampanye yang ditujukan Kapolda
u.p. Dirintelkam Polda ditembuskan kepada:
a) Ketua KPU Provinsi;
b) Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum
(Panwaslu) Provinsi;
c) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan
Politik/Perlindungan Masyarakat pemerintah daerah;
d) Bupati/Walikota; dan
e) Kapolres.
4) Surat Pemberitahuan Kampanye yang ditujukan kepada
Kapolres ditembuskan kepada:
a) Ketua KPU Kabupaten/Kota;
b) Ketua Panitia Panwaslu Kabupaten/Kota;
c) Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan
Politik/Perlindungan Masyarakat pemerintah daerah;
d) Camat; dan
e) Kapolsek.
5) Surat Pemberitahuan Kampanye disampaikan oleh :
a) Kampanye Pemilu Legislatif disampaikan secara
langsung oleh pengurus Partai Politik peserta Pemilu
atau calon anggota DPD penyelenggara/pelaksana
kampanye atau Ketua/Wakil Ketua/Sekretaris Tim
Kampanye yang sah.
b) Kampanye Pemilu Kepala Daerah disampaikan
secara langsung oleh calon Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah atau Ketua/Wakil/Sekretaris
Tim Kampanye yang sah.
c) Kampanye Pemilu Presiden disampaikan secara
langsung oleh calon Presiden dan wakil Presiden
atau Ketua/Wakil/Sekretaris Tim Kampanye yang
sah.
d) Surat Pemberitahuan Kampanye disampaikan secara
langsung oleh KPU, KPU Provinsi dan KPU
Kabupaten/Kota untuk kampanye bersama.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 34
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
g. Prosedur penerimaan suarat pemberitahuan kampanye
1) Setelah menerima Surat Pemberitahuan Kampanye,
Pejabat Polri pada bagian penerimaan melakukan
pemeriksaan kelengkapan persyaratan terhadap surat
pemberitahuan kampanye.
2) Surat Pemberitahuan Kampanye yang dinyatakan belum
memenuhi persyaratan, dikembalikan kepada pemohon
untuk dilengkap, paling lambat 3 (tiga) hari sejak
diterimanya Surat Pemberitahuan Kampanye.
3) Surat Pemberitahuan Kampanye yang dinyatakan
memenuhi persyaratan, dilakukan pencatatan dalam
agenda surat pemberitahuan yang memuat materi
keterangan sebagai berikut:
a) nomor urut;
b) waktu penerimaan (hari/tanggal/jam);
c) nomor/tanggal surat;
d) penyelenggara kampanye;
e) penanggung jawab/Tim Kampanye;
f) bentuk kampanye;
g) waktu kampanye;
h) tempat kampanye dan kapasitas ruang/gedung;
i) perkiraan jumlah peserta kampanye;
j) identitas juru kampanye; dan
k) keterangan lain yang diperlukan.
4) Setelah dilakukan pencatatan, Pejabat Polri memberikan
surat bukti penerimaan berkas pemberitahuan kepada:
a) calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah;
b) calon anggota DPD, Pengurus Partai Politik atau
Ketua/Wakil Ketua/Sekretaris Tim Kampanye; dan
c) KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota.
7. Tata Cara Penerbitan STTP
a. Tahapan diterbitkan STTP Kampanye
1) STTP Kampanye diterbitkan melalui tahapan sebagai
berikut:
a) penelitian Surat Pemberitahuan Kampanye;
b) koordinasi;
c) penandatanganan; dan
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 35
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
d) penerbitan dan penyerahan STTP Kampanye.
2) Penelitian terhadap Surat Pemberitahuan Kampanye
meliputi:
a) keabsahan penyelenggara kampanye Partai Politik
peserta Pemilu, calon anggota DPR, DPD, DPRD,
pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, dan
calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah;
b) bentuk-bentuk kampanye Pemilu;
c) jadwal dan waktu kampanye;
d) tempat kampanye;
e) identitas juru kampanye;
f) perkiraan jumlah peserta kampanye;
g) penggunaan kendaraan angkutan peserta kampanye;
dan
h) tempat/lokasi dan rute kampanye.
3) Penelitian terhadap bentuk-bentuk kampanye Pemilu
meliputi:
a) kampanye yang memerlukan pemberitahuan kepada
pejabat Polri;
b) kampanye yang tidak memerlukan pemberitahuan
kepada pejabat Polri;
c) kampanye dalam bentuk debat publik atau debat
terbuka yang hanya dilaksanakan pada kampanye
pemilu calon Presiden dan Wakil Presiden, dan calon
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah; dan
d) kampanye dalam bentuk Rapat Umum yang hanya
dilaksanakan pada kampanye pemilu calon Presiden
dan calon Wakil Presiden, calon anggota legislatif,
dan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
e) Bentuk kampanye yang memerlukan pemberitahuan
kepada pejabat Polri, meliputi:
(1) pertemuan terbatas;
(2) pertemuan tatap muka;
(3) penyebaran bahan kampanye kepada umum;
(4) pemasangan alat peraga di tempat umum;
(5) rapat umum;
(6) debat publik atau debat terbuka; dan
(7) kegiatan lain yang tidak melanggar larangan
kampanye dan ketentuan peraturan perundang-
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 36
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
undangan.
f) Bentuk kampanye Pemilu yang tidak memerlukan
pemberitahuan kepada pejabat Polri meliputi:
(1) penyebaran informasi melalui media cetak dan
media elektronik; dan
(2) penyiaran informasi melalui radio dan/atau
televisi.
4) Penelitian terhadap jadwal kampanye Pemilu
sebagaimana, meliputi:
a) jadwal kampanye partai politik dilaksanakan
berdasarkan peraturan KPU dan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
b) jadwal kampanye Pemilu calon Presiden dan calon
Wakil Presiden dilaksanakan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan; dan
c) jadwal kampanye Pemilu calon Kepala Daerah dan
calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
5) Penelitian terhadap tempat kampanye Pemilu meliputi:
a) kampanye berbentuk rapat umum dilaksanakan di
ruangan terbuka yang dihadiri oleh massa dengan
memperhatikan kapasitas lokasi kampanye;
b) kampanye berbentuk pertemuan terbatas
dilaksanakan dalam ruangan tertutup dengan jumlah
peserta paling banyak:
(1) 250 (dua ratus lima puluh) orang untuk tingkat
Kabupaten/Kota;
(2) 500 (lima ratus) orang untuk tingkat Provinsi;
dan
(3) 1.000 (seribu) orang untuk tingkat nasional;
c) pelarangan penggunaan fasilitas pemerintah dan
sarana ibadah; dan
d) penggunaan tempat kampanye yang dilengkapi surat
persetujuan dari pemilik/penghuni tempat kampanye.
e) Waktu kampanye dalam bentuk rapat umum dimulai
pukul 09.00 dan paling lambat berakhir pukul 16.00
waktu setempat.
f) Penelitian terhadap juru kampanye Pemilu dilakukan
terhadap legalitas sebagai juru kampanye Partai
Politik peserta Pemilu, calon anggota DPR, DPD,
DPRD, pasangan calon Presiden dan Wakil
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 37
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Presiden, sesuai peraturan perundang-undangan.
6) Dalam kegiatan kampanye, juru kampanye dilarang
mengikutsertakan:
a) Ketua, Wakil Ketua, Ketua Muda, Hakim Agung pada
Mahkamah Agung, Hakim pada semua badan
peradilan di bawah Mahkamah Agung, dan Hakim
Konstitusi pada Mahkamah Konstitusi;
b) Ketua, Wakil Ketua dan anggota Badan Pemeriksa
Keuangan;
c) Gubernur, Deputi Gubernur Senior dan Deputi
Gubernur Bank Indonesia;
d) Pejabat BUMN/BUMD;
e) Pegawai Negeri Sipil;
f) Anggota TNI dan Polri;
g) Kepala Desa atau sebutan lain;
h) Perangkat desa atau sebutan lain;
i) Anggota Badan Permusyawaratan Desa; dan
j) warga negara Indonesia yang tidak memiliki hak
memilih.
k) Larangan sebagaimana, tidak berlaku apabila yang
bersangkutan sebagai calon anggota DPR, DPD,
DPRD, pasangan calon Presiden dan Wakil
Presiden, calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah.
7) Bagi pejabat negara sesuai peraturan perundang-
undangan, yang akan melaksanakan kampanye, harus
memenuhi ketentuan sebegai berikut:
a) tidak menggunakan fasilitas yang terkait dengan
jabatannya, kecuali fasilitas pengamanan bagi
pejabat negara sebagaimana diatur dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan;
b) menjalani cuti di luar tanggungan negara; dan
c) pengaturan lama cuti dan jadwal cuti dengan
memperhatikan keberlangsungan tugas
penyelenggara negara.
8) Penelitian terhadap peserta kampanye Pemilu meliputi:
a) larangan massa Kampanye memasuki wilayah
daerah pemilihan lain;
b) kegiatan kampanye tidak menimbulkan gangguan
ketertiban dan keamanan umum.
c) penyesuaian jumlah peserta dengan kapasitas dan
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 38
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
daya tampung dari tempat/ruangan yang digunakan
untuk menyelenggarakan kampanye; dan
d) larangan melibatkan anak-anak di bawah umur 7
(tujuh) tahun.
9) Penelitian terhadap kendaraan angkutan yang akan
digunakan peserta kampanye Pemilu meliputi:
a) kendaraan angkutan telah ditentukan terlebih dahulu
oleh penanggung jawab/tim kampanye pada titik
kumpul massa peserta kampanye;
b) menggunakan kendaraan bermotor yang disesuaikan
jenis dan peruntukannya;
c) pengguna kendaraan wajib mematuhi waktu dan
rute dari titik kumpul sampai kembalinya menuju
tempat kampanye yang telah ditentukan oleh
penanggung jawab/Tim Kampanye; dan
d) penggunaan kendaraan menuju ke dan kembali dari
tempat diselenggarakannya rapat umum dan
pertemuan terbatas diatur secara tertib dengan
mengutamakan keselamatan peserta kampanye,
terpeliharanya keamanan dan ketertiban umum serta
kepentingan umum.
10) Penelitian terhadap tempat/lokasi dan rute yang akan
digunakan oleh peserta kampanye Pemilu, , sebagai
berikut:
a) untuk lokasi kampanye, meliputi:
(1) bentuk lokasi;
(2) kapasitas;
(3) kondisi tempat;
(4) kondisi lingkungan; dan
(5) lokasi alternatif;
b) untuk rute kampanye, meliputi:
(1) wilayah yang dilalui;
(2) kondisi lingkungan;
(3) kondisi jalan;
(4) rambu-rambu jalan; dan
(5) rute alternatif.
11) Koordinasi Penerbitan STTP Kampanye
a) Sebelum Pejabat Polri menerbitkan STTP, terlebih
dahulu dilakukan koordinasi sesuai dengan tingkat
kewenangan dengan membentuk Tim Koordinasi.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 39
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
b) Koordinasi pada tingkat Mabes Polri, dilaksanakan
bersama dengan:
(1) Komisi Pemilihan Umum (KPU);
(2) Dewan Pimpinan Partai Politik atau Tim
Kampanye tingkat pusat;
(3) Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu);
(4) Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan
Politik, Kementerian Dalam Negeri; dan
(5) Satuan organisasi Polri, meliputi:
(a) Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam)
Polri;
(b) Staf Operasi (Sops) Polri; dan
(c) Direktorat Intelijen Keamanan
(Ditintelkam) Polda setempat.
12) Koordinasi pada tingkat Polda, dilaksanakan bersama
dengan:
a) KPU Provinsi;
b) DPD/DPW Partai Politik atau Tim Kampanye tingkat
Provinsi;
c) Panwaslu Provinsi;
d) Badan Kesbang dan Linmas Provinsi;
e) satuan organisasi Polri, meliputi:
(1) Biro Operasi (Roops) Polda;
(2) Direktorat Opsnal Polda (Direktorat Reserse,
Direktorat Lalu Lintas, Direktorat Sabhara,
Direktorat Pembinaan Masyarakat, dan
Direktorat Pengamanan Objek Vital); dan
(3) Bagian/Satuan Intelkam Polres.
13) Koordinasi pada tingkat Polres, dilaksanakan bersama
dengan:
a) KPU Kabupaten/Kota;
b) DPC Partai Politik atau Tim Kampanye tingkat
Kabupaten/Kota;
c) Panwaslu Kabupaten/Kota;
d) Badan Kesbanglinmas Kabupaten/Kota.
e) Satuan organisasi Polri, meliputi:
(1) Bagian Operasional Polres;
(2) Satuan Fungsi Operasional Polres; dan
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 40
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
(3) Polsek.
14) Koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28
dilakukan terhadap:
a) penyusunan rencana kampanye;
b) tempat dan rute kampanye;
c) bentuk kampanye;
d) materi kampanye;
e) waktu dan jadwal kampanye;
f) alat peraga kampanye;
g) transportasi yang akan digunakan; dan
h) pelaksanaan rencana kampanye.
b. Penandatanganan STTP Kampanye
1) Pejabat yang menandatangani STTP Kampanye di tingkat
pusat adalah Kepala Badan Intelijen Kemanan Polri atau
Wakil Kepala Badan Intelijen Keamanan Polri, atas nama
Kapolri.
2) Pejabat yang menandatangani STTP Kampanye di tingkat
provinsi adalah Direktur Intelkam Polda atau Wakil
Direktur Intelkam Polda, atas nama Kapolda.
3) Pejabat yang menandatangani STTP Kampanye di tingkat
kabupaten/kota adalah Kapolres atau Wakapolres.
4) Bagi provinsi yang belum ada Polda, STTP Kampanye
ditandatangani oleh Kapolres atau Wakapolres yang
berkedudukan di ibukota provinsi.
c. Penerbitan dan Penyerahan STTP Kampanye
1) STTP Kampanye diterbitkan paling lambat 3 (tiga) hari
sebelum kampanye dilaksanakan.
2) STTP Kampanye diterbitkan sesuai dengan format yang
telah ditentukan, dan berisi keterangan mengenai:
a) penyelenggara kampanye;
b) nama penanggung jawab kampanye/Ketua Tim
Kampanye;
c) bentuk kampanye;
d) waktu kampanye;
e) tempat kampanye;
f) identitas juru kampanye;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 41
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
g) perkiraan jumlah peserta kampanye; dan
h) ketentuan-ketentuan lain yang harus dipatuhi.
3) Penerbitan STTP Kampanye dicatat dalam buku agenda
STTP kampanye yang memuat:
a) nomor urut;
b) tanggal diterbitkan;
c) nomor dan tanggal surat pemberitahuan;
d) nama pasangan calon Presiden dan wakil Presiden;
e) nama partai politik, calon anggota
DPD/penyelenggara kampanye;
f) bentuk kampanye;
g) waktu kampanye (hari/tanggal/pukul);
h) tempat kampanye; dan
i) [Link] Kampanye yang telah diterbitkan,
diserahkan langsung kepada calon Kepala Daerah
dan Wakil Kepala Daerah, Partai Politik peserta
Pemilu, calon anggota DPR, DPD, DPRD, calon
Presiden dan Wakil Presiden atau Tim Kampanye
dengan tembusan kepada instansi terkait.
4) Penyerahan STTP Kampanye kepada calon dilengkapi
dengan:
a) formulir tanda terima berkas pemberitahuan kegiatan
kampanye;
b) buku agenda surat pemberitahuan kampanye;
c) buku agenda STTP kampanye;
d) buku ekspedisi STTP kampanye; dan
e) formulir STTP dan lampirannya.
f) Biaya yang dikeluarkan dalam penerbitan STTP
dibebankan pada DIPA Polri.
d. Penghentian Kegiatan Kampanye
1) Dalam pelaksanaan kampanye apabila terjadi
penyimpangan STTP dan/atau gangguan keamanan,
Pejabat Polri dapat mengambil tindakan yang dianggap
perlu sesuai dengan peraturan perundang-undangan,
dengan tahapan tindakan sebagai berikut:
a) memberikan peringatan tertulis;
b) melakukan penghentian kampanye di tempat
terjadinya pelanggaran yang dapat menimbulkan
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 42
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
gangguan keamanan dan ketertiban; dan
c) meminta pertanggungjawaban penyelenggara
kampanye atas penyimpangan tersebut.
2) Apabila terjadi gangguan keamanan yang berpotensi
meluas ke daerah pemilihan lain, kampanye dapat
dihentikan dan Polri mengambil langkah-langkah sesuai
standar prosedur.
3) Apabila situasi keamanan di wilayah tempat/lokasi
kampanye tidak memungkinkan diselenggarakan
kampanye, pejabat Polri setempat dapat mengusulkan
kepada KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota
untuk membatalkan, menunda atau memindahkan tempat
pelaksanaan kampanye dengan tembusan kepada peserta
Pemilu.
4) Dalam hal KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota
memutuskan pembatalan penundaan atau pemindahan
tempat kampanye sesuai dengan usulan pejabat Polri
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka KPU, KPU
Provinsi, KPU Kabupaten/Kota memberitahukan kepada
Partai Politik peserta Pemilu, calon anggota DPR, DPD,
DPRD, pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden dan
pejabat Polri setempat.
5) Pemberitahuan penghentian kegiatan kampanye oleh
petugas Polri, disampaikan kepada KPU, KPU Provinsi
atau KPU Kabupaten/Kota dengan disertai alasannya.
e. Pelaporan Penerbitan STTP Kampanye
1) Penerbitan STTP kampanye dilaporkan secara berjenjang
kepada kesatuan atas dalam bentuk laporan harian.
2) Laporan harian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilengkapi dengan:
a) daftar STTP kampanye yang diterbitkan sesuai
dengan surat pemberitahuan dari calon Kepala
Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Dewan Pimpinan
Partai Politik, calon Presiden dan Wakil Presiden
atau Tim Kampanye Peserta Pemilihan Umum;
b) daftar Rencana Kegiatan Kampanye Pemilu calon
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, calon
Presiden dan Wakil Presiden, Anggota DPR, DPD
dan DPRD;
c) daftar pelaksanaan kampanye yang telah diberikan
STTP kampanye;
d) daftar pelaksanaan kampanye tanpa pemberitahuan;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 43
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
e) daftar kasus/peristiwa menonjol yang terjadi dalam
pelaksanaan kampanye; dan
f) Surat Tanda Penerimaan berkas kampanye Pemilu.
3) Pelaporan sebagaimana dilaksanakan secara berjenjang
mulai dari Kapolres kepada Kapolda u.p. Dirintelkam, dan
Dir Intelkam Polda kepada Kapolri u.p. Kabaintelkam
Polri.
4) Pelaporan dilaksanakan paling lambat pukul 21.00 WIB
setiap harinya, yang dikirim melalui surat, faksimile
dan/atau e-mail.
f. Pendistribusi tembusan STTP
1) Tingkat polsek
a) Kapolres up kabag ops
b) Kasat intelkam
c) Pimpinan / sdr …….
2) Tingkat polres
a) kapolda / kapolwil up karo ops/kabag ops.
b) Dir / kasubbag intelkam
c) Kapolsek (objek)
d) Pimpinan / sdr ……
3) Tingkat Polda
a) De ops
b) Kabaintelkam
c) Kapolwil (objek)
d) Kapolres (objek)
e) Pimpinan / sdr ……
4) Tingkat mabes polri
a) De ops
b) Kapolda (objek)
c) Kapolwil (objek)
d) Pimpinan / sdr ……
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 44
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
POKOK BAHASAN 4
KEGIATAN MASYARAKAT YANG TIDAK MEMERLUKAN
PERIJINAN DAN PEMBERITAHUAN
1. Bentuk Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang Tidak
Memerlukan Perijinan dan Pemberitahuan
a. Pesta berupa pesta ulang tahun, pertunangan, perkawinan,
khitanan, syukuran, arisan.
b. Peringatan hari besar nasional, seperti upacara kenduri,
pentas seni, panjat pinang
c. Pertemuan Politik berupa rapat,saresahan,musyawarah,
diskusi.
d. Pertemuan pengurus berupa rapat, sarasehan, musyawarah,
diskusi.
e. Pertemuan sosial berupa gotong royong, kerja bakti, pesta
adat, arisan, olahraga, musyawarah lingkungan, sarasehan.
f. Pertemuan budaya berupa pagelaran musik, tarian, drama,
baca puisi, opera, pantomim, kesenian daerah.
g. Pertemuan keagamaan berupa pengajian, kebaktian,
sembahyang bersama, majelis taklim, tablig.
h. Pertemuan keilmuan berupa kegiatan belajar mengajar,
ceramah, seminar, simposium, lokakarya, diskusi panel,
kongres keilmuan.
i. Pertemuan kedinasan yang diselenggarakan oleh Instansi
Pemerintah dan Lembaga Negara seperti rapat, sidang, loka
karya, kunjungan kerja.
2. Kriteria Pertemuan dalam Kegiatan Masyarakat yang Tidak
Memerlukan Perijinan dan Pemberitahuan
a. Pesta dimaksud yang diselenggarakan dirumah, gedung atau
tempat-tempat lain yang tertutup untuk umum dan bersifat
pribadi/keluarga.
b. Peringatan hari besar Nasional dimaksud diselenggarakan
dalam rangka memperingati hari besar Nasional.
c. Pertemuan Politik dimaksud yang diselenggarakan :
1) Oleh MPR, Presiden, DPRD, DPR, DPD, BPK, MA baik
didalam maupun diluar gedung.
2) Oleh Partai Politik serta organisasi kemasyarakatan atau
perkumpulan lainnya yang diselenggarakan didalam
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 45
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
lingkungan kantor/gedung/sekretariat sendiri.
3) Oleh perorangan atau kelompok non organisasi didalam
lingkungan tempat kediaman yang bersangkutan dan akan
dihadiri oleh kurang dari 10 sepuluh orang.
d. Pertemuan pengurus dimaksud yang diselenggarakan oleh
partai politik serta organisasi lainnya didalam lingkungan
kantor/gedung/sekretariat sendiri.
e. Pertemuan sosial dimaksud diselenggarakan didalam maupun
diluar gedung membahas masalah-masalah sosial
kemasyarakatan atau melakukan kegiatan sosial yang
bertujuan meningkatkan kesejahteraan sosial dan
kelangsungan kerukunan kehidupan bermasyarakat.
f. Pertemuan budaya dimaksud yang diselenggarakan baik
dalam gedung,lingkungan gedung yang bersangkutan,maupun
tempat-tempat yang tertutup untuk umum bertujuan
membahas atau mempertunjukan hasil cipta,rasa dan karsa.
g. Pertemuan keagamaan dimaksud yang diselenggarakan
dilingkungan rumah-rumah ibadah yang bertujuan untuk
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan .
h. Pertemuan keilmuan dimaksud yang diselenggarakan oleh
lembaga kependidikan atau lembaga non pendidikan baik
didlam maupun diluar lingkungan sekolah,kampus, pendidikan
dan pelatihan, gedung lembaga, membahas ilmu pengetahuan
dan teknologi.
i. Pertemuan kedinasan dimaksud yang diselenggarakan oleh
instansi-instansi pemerintah dan lembaga negara yang bersifat
kedinasan.
3. Ketentuan khusus dalam Kegiatan Masyarakat yang Tidak
Memerlukan Perijinan dan Pemberitahuan
Untuk pertemuan sosial, budaya, agama yang diselenggarakan
ditempat terbuka yang dapat mengganggu ketertiban umum atau
lalu lintas umum, maka penyelenggara harus memberitahukan
kegiatan tersebut kepada Polri.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 46
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
POKOK BAHASAN 5
PERATURAN YANG BERKAITAN DENGAN KEGIATAN
MASYARAKAT
1. Tinjauan Yuridis Perijinan dan Pemberitahuan Kegiatan
Masyarakat
a. Sesuai petunjuk lapangan Kapolri [Link].: Juklap/02/XII/1995
tanggal 29 Desember 1995 tentang perijinan dan
pemberitahuan kegiatan masyarakat pertemuan/kegiatan
masyarakat dibagi tiga yaitu:
1) Kegiatan/pertemuan yang perlu ijin;
2) Kegiatan/pertemuan yang perlu pemberitahuan;
3) Kegiatan/pertemuan yang tidak perlu ijin dan
pemberitahuan.
b. Urutan–Urutan Tindakan Pejabat Polri dalam Melakukan
Pelayanan Kegiatan Masyarakat
Pejabat yang berwenang memberikan izin adalah Pejabat
Kepolisian RI yang wilayah kerjanya meliputi tempat
penyelenggaraan pertemuan yang harus mendapatkan izin
atau pertemuan yang memerlukan pemberitahuan adalah
sebagai berikut:
1) Surat permohonan ijin dan surat Pemberitahuan
a) Kapolri Up Badan Intelijen keamanan Untuk :
(1) Pertemuan yang dilaksanakan oleh perorangan/
organisasi/badan hukum tingkat Nasional dan
Internasional.
(2) Pertemuan yang sebagian/seluruhnya
pesertanya berasal dari beberapa provinsi diluar
satu wilayah Polda
(3) Pertemuan yang dilakukan oleh organisasi
Badan Hukum Asing/Warga negara asing.
b) Kapolda Up Dir Intelkam untuk :
(1) Pertemuan yang dilaksanakan oleh perorangan/
organisasi/badan hukum ditingkat Polda
(2) Pertemuan yang sebagian/seluruhnya
pesertanya berasal dari beberapa Poles/ta diluar
satu wilayah dalam satu wilayah Polda.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 47
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
c) Kapolresta/Kapolres Up Kasat Intelkam untuk :
(1) Pertemuan yang dilaksanakan ditingkat Polres/ta.
(2) Pertemuan yang sebagian/seluruhnya
pesertanya berasal dari beberapa Polsek/ta
didalam satu wilayah Polres/ta.
d) Kapolsek/ta Untuk :
(1) Pertemuan yang dilaksanakan ditingkat Polsek/ta
(2) Pertemuan yang sebagian/seluruhnya
pesertanya berasal dari beberapa daerah
keluarahan didalam satu wilayah Polsek/ta.
2) Tata cara pengajuan permohonan ijin dan pemberitahuan
a) Diajukan secara langsung oleh
penyelenggara,pemohon atau wakilnya yang syah.
b) Memenuhi persyaratan permohonan
c) Diterima Petugas Polri selambat-lambatnya 7 (tujuh)
hari sebelum penyelenggaraan dimulai.
d) Bila diajaukan oleh wakil yang sayah dari pemohon :
(1) Membawa surat kuasa dari pemohon
(2) Mengetahui dan memahami serta dapat
menjelasakan tantang segala sesuatu yang
berhubungan dengan pertemuan dimaksud.
c. Untuk penyampaian pendapat di muka umum diatur sesuai
undang-undang nomor 9 tahun 1998 tentang
kemerdekadalam menyampaikan pendapat di muka umum
dan Peraturan Kapolri nomor 7 tahun 2012 tatacara
penyelenggaraan pelayanan, pengamanan dan penanganan
perkara penyampaikan pendapat di muka umum.
d. Sedangkan untuk kegiatan kampanye diatur dalam Undang-
undang Nomor 22 tahun 2007 tentang penyelenggaraan
pemilihan umum dan Peraturan Kapolri Nomor 6 tahun 2012
tentang tata cara pemberitahuan dan penerbitan surat tanda
terima pemberitahuan kampanye pemilu.
e. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun
2017 Tentang Tata Cara Perizinan Dan Pengawasan Kegiatan
Keramaian Umum, Kegiatan Masyarakat Lainnya, Dan
Pemberitahuan Kegiatan Politik
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 48
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
2. Kewenangan Polri dalam Pemberian Ijin dan Penerbitan Surat
Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) Kegiatan Masyarakat
a. Polsek untuk kegiatan yang tempat, lokasi dan rute
kegiatannya berada dalam wilayah satu polsek.
b. Polres untuk kegiatan yang tempat, lokasi dan rute
kegiatannya meliputi 2 kecamatan atau lebih di dalam satu
kabupaten/kota.
c. Polda untuk kegiatan yang tempat, lokasi dan rute kegiatannya
meliputi 2 kabupaten/kota atau lebih di dalam 1 provinsi.
d. Mabes Polri untuk kegiatan yang tempat, lokasi dan rute
kegiatannya meliputi 2 provinsi atau lebih.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 49
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
POKOK BAHASAN 6
SASARAN PENGAMANAN DAN PENGAWASAN
KEGIATAN MASYARAKAT
1. Sasaran Pengamanan Orang dalam Kegiatan Masyarakat
Sasaran pengamanan orang:
a. Penanggung jawab;
b. EO (event organizer);
c. Artis;
d. Masyarakat pengunjung lainnya.
e. kerawanan:
1) teror;
2) penculikan/penyanderaan;
3) pembunuhan;
4) aniaya;
5) penganiayaan;
6) intimidasi, hasutan dan penghinaan;
7) unjuk rasa dan penghadangan;
8) pemerasan.
2. Sasaran Pengamanan Benda (Materiil, Instalasi,
Tempat/Lokasi) dalam Kegiatan Masyarakat
Sasaran pengamanan benda:
a. Gedung;
b. Parkir;
c. Genset.
d. kerawanan:
1) sabotase/pengrusakan;
2) bencana alam;
3) pembakaran;
4) pencemaran benda.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 50
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
3. Sasaran Pengamanan Baket/Informasi dalam Kegiatan
Masyarakat
Sasaran pengamanan baket
a. Dokumen;
b. baket rahasia;
c. gambar/foto, film dan CD;
d. catatan penting;
e. rekaman;
f. surat perintah dll.
g. kerawanan:
1) Kegiatan lawan:
a) Pencurian;
b) Penyadapan;
c) Perampasan;
d) Pengrusakan;
e) Pemotretan;
f) Pengamatan;
g) Penggambaran;
h) Kegiatan analisa kripto.
2) Pihak sendiri:
a) Kesengajaan;
b) Kelalaian/kecerobohan;
c) Kealpaan;
d) Sikap berlebihan;
e) Lancang mulut.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 51
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Rangkuman
1. Pengamanan dan pengawasan kegiatan Masyarakat adalah
segala usaha, pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan secara
tertutup ditujukan untuk melindungi dan mengamankan kegiatan
masyarakat dari tindakan dan perbuatan yang dapat mengganggu,
mengancam dan merusak
2. Bentuk kegiatan masyarakat dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Pertemuan yang memerlukan ijin;
b. Pertemuan yang memerlukan pemberitahuan;
c. Pertemuan yang tidak memerlukan ijin dan pemberitahuan
3. Bentuk pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang memerlukan
perijinan
a. Pesta berupa pekan raya, festival, bazar.
b. Keramaian berupa pasar malam, pameran, pekan raya,
festival, bazar, pertunjukan ketangkasan/atraksi.
c. Pawai berupa pawai alegoris, karnaval, pertunjukan
ketangkasan atau atraksi lain.
4. Pemohon ijin pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
memerlukan perijinan
a. Perorangan;
b. Organisasi Politik;
c. Organiasai bukan Politik;
d. Lembaga Keilmuan;
e. Badan Hukum.
5. Kriteria pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang memerlukan
perijinan
a. Pesta dimaksud diselenggarakan ditempat-tempat umum atau
tempat yang dapat dikunjungi oleh setiap orang dari berbagai
lapisan masyarakat.
b. Keramaian dimaksud diselenggarakan secara temporer
ditempat umum atau tempat yang dapat dikunjungi oleh setiap
orang dari berbagai masyarkat.
c. Pawai dimaksud diselenggarakan di jalan umum
6. Bentuk pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang memerlukan
pemberitahuan
a. Rapat;
b. Sidang;
c. Musyawarah;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 52
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
d. Muktamar;
e. Kongres;
f. Saresehan;
g. Temu kader
7. Penyelenggara pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
memerlukan pemberitahuan
a. Partai Politik;
b. Organisasi kemasyarakatan;
c. Perkumpulan;
d. Perorangan;
e. Kelompok non Organisasi
8. Kriteria pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang memerlukan
pemberitahuan
a. Pertemuan tersebut adalah pertemuan Politik.
b. Diselenggarakan diluar lingkungan kantor/gedung/ sekretariat
sendiri.
c. Diselenggarakan di tempat kediaman ybs dan akan dihadiri
oleh lebih dari 10 orang.
d. Diselenggarakan di luar lingkungan tempat kediaman.
e. Tidak bersifat keilmuan.
f. Membahas hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan
kenegaraan dan pemerintahan negara dengan maksud
pengaruhi jalannya kekuasaan negara dan atau pemerintah
9. STTP Kampanye diterbitkan melalui tahapan sebagai berikut:
a. penelitian Surat Pemberitahuan Kampanye;
b. koordinasi;
c. penandatanganan; dan
d. penerbitan dan penyerahan STTP Kampanye.
10. Kriteria pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang tidak
memerlukan perijinan dan pemberitahuan
a. Pesta dimaksud yang diselenggarakan dirumah, gedung atau
tempat-tempat lain yang tertutup untuk umum dan bersifat
pribadi/keluarga.
b. Peringatan hari besar Nasional dimaksud diselenggarakan
dalam rangka memperingati hari besar Nasional.
c. Pertemuan pengurus dimaksud yang diselenggarakan oleh
partai politik serta organisasi lainnya didalam lingkungan
kantor/gedung/sekretariat sendiri.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 53
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
d. Pertemuan sosial dimaksud diselenggarakan didalam maupun
diluar gedung membahas masalah-masalah sosial
kemasyarakatan atau melakukan kegiatan sosial yang
bertujuan meningkatkan kesejahteraan sosial dan
kelangsungan kerukunan kehidupan bermasyarakat.
11. Ketentuan khusus dalam kegiatan masyarakat yang tidak
memerlukan perijinan dan pemberitahuan
Untuk pertemuan sosial, budaya, agama yang diselenggarakan
ditempat terbuka yang dapat mengganggu ketertiban umum atau
lalu lintas umum, maka penyelenggara harus memberitahukan
kegiatan tersebut kepada Polri.
12. Kewenangan polri dalam pemberian ijin dan penerbitan surat
tanda terima pemberitahuan (STTP) kegiatan masyarakat
a. Polsek untuk kegiatan yang tempat, lokasi dan rute
kegiatannya berada dalam wilayah satu polsek.
b. Polres untuk kegiatan yang tempat, lokasi dan rute
kegiatannya meliputi 2 kecamatan atau lebih di dalam satu
kabupaten/kota.
c. Polda untuk kegiatan yang tempat, lokasi dan rute kegiatannya
meliputi 2 kabupaten/kota atau lebih di dalam 1 provinsi.
d. Mabes Polri untuk kegiatan yang tempat, lokasi dan rute
kegiatannya meliputi 2 provinsi atau lebih.
13. Sasaran pengamanan orang dalam kegiatan masyarakat, meliputi:
a. Penanggung jawab;
b. EO (event organizer);
c. Artis;
d. Masyarakat pengunjung lainnya.
14. Sasaran pengamanan benda (materiil, instalasi, tempat/lokasi)
dalam kegiatan masyarakat, meliputi:
a. Gedung;
b. Parkir;
c. Genset.
15. Sasaran pengamanan baket/informasi dalam kegiatan
masyarakat, meliputi:
a. Dokumen;
b. Baket rahasia;
c. Gambar/foto, film dan cd;
d. Catatan penting;
e. Rekaman.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 54
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Soal Latihan
1. Jelaskan pengertian terkait kegiatan masyarakat!
2. Jelaskan bentuk kegiatan masyarakat!
3. Jelaskan bentuk pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
memerlukan perijinan!
4. Jelaskan pemohon ijin pertemuan dalam kegiatan masyarakat
yang memerlukan perijinan!
5. Jelaskan menjelaskan persyaratan permohonan perijinan
kegiatan masyarakat!
6. Jelaskan bentuk pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
memerlukan pemberitahuan!
7. Jelaskan penyelenggara pertemuan dalam kegiatan masyarakat
yang memerlukan pemberitahuan!
8. Jelaskan kriteria pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
memerlukan pemberitahuan!
9. Jelaskan persyaratan pemberitahuan kegiatan masyarakat!
10. Jelaskan kemerdekaan penyampaian pendapat di muka umum
yang memerlukan pemberitahuan!
11. Jelaskan pemberitahuan kampanye pemilu yang memerlukan
pemberitahuan!
12. Jelaskan tata cara penerbitan STTP!
13. Jelaskan bentuk pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
tidak memerlukan perijinan dan pemberitahuan!
14. Jelaskan kriteria pertemuan dalam kegiatan masyarakat yang
tidak memerlukan perijinan dan pemberitahuan!
15. Jelaskan ketentuan khusus dalam kegiatan masyarakat yang
tidak memerlukan perijinan dan pemberitahuan!
16. Jelaskan tinjauan yuridis perijinan dan pemberitahuan kegiatan
masyarakat!
17. Jelaskan kewenangan Polri dalam pemberian ijin dan penerbitan
Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) kegiatan
masyarakat!
18. Jelaskan sasaran pengamanan orang dalam kegiatan
masyarakat!
19. Jelaskan sasaran pengamanan benda (materiil, instalasi,
tempat/lokasi) dalam kegiatan masyarakat!
20. Jelaskan sasaran pengamanan baket/informasi dalam kegiatan
masyarakat!
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 55
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
ADMINISTRASI DAN PRODUK
INTELIJEN HASIL PENGAMANAN DAN
MODUL
PENGAWASAN KEGIATAN
02 MASYARAKAT
20 JP (900 menit)
Pengantar
Modul administrasi dan produk intelijen hasil pengamanan dan
pengawasan kegiatan masyarakat membahas materi tentang:
ketentuan administrasi bagi kegiatan masyarakat dan tata cara
pembuatan administrasi dan produk intelijen hasil pengamanan dan
pengawasan kegiatan mayarakat.
Tujuan diberikan materi ini agar peserta pelatihan memahami
administrasi dan produk intelijen hasil pengamanan dan pengawasan
kegiatan masyarakat.
Standar Kompetensi
Terampil membuat administrasi dan produk intelijen hasil
pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat.
Kompetensi Dasar
1. Memahami ketentuan administrasi bagi kegiatan masyarakat
Indikator Hasil Belajar:
a. menjelaskan ketentuan administrasi bagi pertemuan
yang memerlukan perijinan dan pemberitahuan;
b. menjelaskan administrasi pendukung pelayanan kegiatan
masyarakat.
2. Memahami tata cara pembuatan administrasi dan produk
intelijen hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 56
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Indikator Hasil Belajar:
a. menjelaskan pembuatan administrasi hasil pengamanan
dan pengawasan kegiatan mayarakat (surat
rekomendasi, surat izin, dan surat tanda terima
pemberitahuan (STTP));
b. menjelaskan produk intelijen berupa informasi khusus
hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan mayarakat.
3. Mempraktikan pembuatan administrasi dan produk intelijen
hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan mayarakat.
Indikator Hasil Belajar:
a. membuat administrasi hasil pengamanan dan
pengawasan kegiatan mayarakat (form rekomendasi,
surat izin, dan STTP);
b. membuat produk intelijen berupa informasi khusus hasil
pengamanan dan pengawasan kegiatan mayarakat.
Materi Pelajaran
1. Pokok bahasan:
ketentuan administrasi bagi kegiatan masyarakat.
Sub pokok bahasan:
a. ketentuan administrasi bagi pertemuan yang memerlukan
perijinan dan pemberitahuan;
b. administrasi pendukung pelayanan kegiatan masyarakat.
2. Pokok bahasan:
tata cara pembuatan administrasi dan produk intelijen hasil
pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat.
Sub pokok bahasan:
a. pembuatan administrasi hasil pengamanan dan
pengawasan kegiatan mayarakat (surat rekomendasi,
surat izin, dan surat tanda terima pemberitahuan (STTP));
b. produk intelijen berupa informasi khusus hasil
pengamanan dan pengawasan kegiatan mayarakat.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 57
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Metode Pembelajaran
1. Metode Ceramah
Metode ini digunakan untuk menjelaskan materi tentang
administrasi dan produk intelijen hasil pengamanan dan
pengawasan kegiatan masyarakat.
2. Metode Tanya Jawab
Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang
telah disampaikan.
3. Metode Praktik
Metode ini digunakan untuk mempraktikkan pembuatan
administrasi dan produk intelijen hasil pengamanan dan
pengawasan kegiatan mayarakat.
Alat/media, Bahan dan Sumber Belajar
1. Alat/media:
a. Flipchart;
b. Laptop;
c. LCD;
d. White board;
e. Laser point;
f. Camera;
g. Jaringan internet;
h. Sound system;
i. Wireless;
j. Slide.
2. Bahan:
a. Kertas;
b. Alat tulis.
3. Sumber Belajar:
a. Peraturan Kapolri Nomor 6 Th 2012 Tentang Tata Cara
Pemberitahuan dan Penerbitan STTP Kampanye Pemilu;
b. Peraturan Kapolri Nomor 7 Th 2012 Tentang Tata Cara
Penyelenggaraan Pelayanan, Pengamanan &
Penanganan Perkara Penyampaian Pendapat di Muka
Umum;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 58
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60
Tahun 2017 Tentang Tata Cara Perizinan dan
Pengawasan Kegiatan Keramaian Umum, Kegiatan
Masyarakat Lainnya, dan Pemberitahuan Kegiatan Politik.
Kegiatan Pembelajaran
1. Tahap awal: 10 menit
a. Pelatih/instruktur memperkenalkan diri kepada para
peserta pelatihan;
b. Pelatih/instruktur melakukan pencairan;
c. Pelatih/instruktur menyampaikan kompetensi dasar dan
indikator hasil belajar.
2. Tahap inti: 880 menit
Tahap inti I: 160 menit (Penyampaian materi administrasi
dan produk intelijen hasil pengamanan dan pengawasan
kegiatan masyarakat)
a. Pelatih/Instruktur menyampaikan materi tentang:
1) ketentuan administrasi bagi kegiatan masyarakat;
2) tata cara pembuatan administrasi dan produk intelijen
hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat.
b. Pelatih/instruktur memberi kesempatan peserta pelatihan
untuk bertanya tentang materi yang disampaikan.
Tahap Inti II: 180 menit (Praktik pembuatan administrasi
berupa Surat Rekomendasi hasil pengamanan dan
pengawasan kegiatan mayarakat)
a. Pelatih/instruktur menjelaskan alur praktik sesuai dengan
unit pada saat praktik pembuatan Surat Rekomendasi
hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat;
b. Pelatih/instruktur menjelaskan alur praktik pembuatan
Surat Rekomendasi hasil pengamanan dan pengawasan
kegiatan masyarakat sesuai skenario simulasi
pengamanan dan pengawasan kegiatan keramainan
masyarakat pada modul 1;
c. Pelatih/instruktur menugaskan peserta pelatihan untuk
mempraktikkan pembuatan Surat Rekomendasi hasil
pengamanan dan pengawasan kegiatan mayarakat;
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 59
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
d. Peserta pelatihan mempraktikkan pembuatan Surat
Rekomendasi hasil pengamanan dan pengawasan
kegiatan mayarakat;
e. Pelatih/instruktur memfasilitasi dan mengawasi jalannya
praktik;
f. Pelatih/instruktur bersama peserta pelatihan membahas
hasil praktik;
g. Pelatih/instruktur menyimpulkan hasil praktik.
Tahap Inti III: 180 menit (Praktik pembuatan administrasi
berupa Surat Izin hasil pengamanan dan pengawasan
kegiatan mayarakat)
a. Pelatih/instruktur menjelaskan alur praktik sesuai dengan
unit pada saat praktik pembuatan Surat Izin hasil
pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat;
b. Pelatih/instruktur menjelaskan alur praktik pembuatan
Surat Izin hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat sesuai skenario simulasi pengamanan dan
pengawasan kegiatan keramainan masyarakat pada
modul 1;
c. Pelatih/instruktur menugaskan peserta pelatihan untuk
mempraktikkan pembuatan Surat Izin hasil pengamanan
dan pengawasan kegiatan mayarakat;
d. Peserta pelatihan mempraktikkan pembuatan Surat Izin
hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan mayarakat;
e. Pelatih/instruktur memfasilitasi dan mengawasi jalannya
praktik;
f. Pelatih/instruktur bersama peserta pelatihan membahas
hasil praktik;
g. Pelatih/instruktur menyimpulkan hasil praktik.
Tahap Inti IV: 180 menit (Praktik pembuatan administrasi
berupa STTP hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan
mayarakat)
a. Pelatih/instruktur menjelaskan alur praktik sesuai dengan
unit pada saat praktik pembuatan STTP hasil pengamanan
dan pengawasan kegiatan masyarakat;
b. Pelatih/instruktur menjelaskan alur praktik pembuatan
STTP hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat sesuai skenario simulasi pengamanan dan
pengawasan kegiatan keramainan masyarakat pada
modul 1;
c. Pelatih/instruktur menugaskan peserta pelatihan untuk
mempraktikkan pembuatan STTP hasil pengamanan dan
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 60
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
pengawasan kegiatan mayarakat;
d. Peserta pelatihan mempraktikkan pembuatan STTP hasil
pengamanan dan pengawasan kegiatan mayarakat;
e. Pelatih/instruktur memfasilitasi dan mengawasi jalannya
praktik;
f. Pelatih/instruktur bersama peserta pelatihan membahas
hasil praktik;
g. Pelatih/instruktur menyimpulkan hasil praktik.
Tahap Inti V: 180 menit (Praktik pembuatan produk intelijen
berupa Informasi Khusus hasil pengamanan dan
pengawasan kegiatan mayarakat)
a. Pelatih/instruktur menjelaskan alur praktik sesuai dengan
unit pada saat praktik pembuatan Informasi Khusus hasil
pengamanan dan pengawasan kegiatan masyarakat;
b. Pelatih/instruktur menjelaskan alur praktik pembuatan
Informasi Khusus hasil pengamanan dan pengawasan
kegiatan masyarakat sesuai skenario simulasi
pengamanan dan pengawasan kegiatan keramainan
masyarakat pada modul 1;
c. Pelatih/instruktur menugaskan peserta pelatihan untuk
mempraktikkan pembuatan Informasi Khusus hasil
pengamanan dan pengawasan kegiatan mayarakat;
d. Peserta pelatihan mempraktikkan pembuatan Informasi
Khusus hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan
mayarakat;
e. Pelatih/instruktur memfasilitasi dan mengawasi jalannya
praktik;
f. Pelatih/instruktur bersama peserta pelatihan membahas
hasil praktik;
g. Pelatih/instruktur menyimpulkan hasil praktik.
3. Tahap akhir: 10 menit
a. Pelatih/instruktur mengecek penguasaan materi dengan
cara bertanya secara lisan dan acak kepada peserta
pelatihan;
b. Pelatih/instruktur memberikan ulasan secara umum terkait
dengan proses pembelajaran dan merumuskan learning
point yang dikaitkan dengan pelaksanaan tugas;
c. Pelatih/instruktur melakukan evaluasi dan menutup
pembelajaran.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 61
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Tagihan / Tugas
Peserta pelatihan mengumpulkan hasil praktik pembuatan
administrasi hasil pengamanan dan pengawasan kegiatan
masyarakat berupa Rekomendasi, Surat Izin, penerbitan Surat Tanda
Terima Pemberitahuan (STTP) dan produk intelijen berupa informasi
khusus sesuai skenario pada modul 1.
Lembar Kegiatan
Pembuatan administrasi hasil pengamanan dan pengawasan
kegiatan masyarakat berupa Rekomendasi, Surat Izin, penerbitan
Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) dan produk intelijen
berupa informasi khusus sesuai skenario pada modul 1.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 62
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Bahan Bacaan
POKOK BAHASAN 1
KETENTUAN ADMINISTRASI BAGI KEGIATAN
MASYARAKAT
1. Ketentuan Administrasi bagi Pertemuan yang Memerlukan
Perijinan dan Pemberitahuan
a. Administrasi bagi pertemuan yang memerlukan izin
1) Tingkat mabes polri
a) Terima surat permohonan ijin yang dialamatkan
kepada Kapolri up. Kabaintelkam
b) Terima surat permohonan ijin yang dikirimkan
melalui kesatuan setingkat lebih rendah disertai
rekomendasi
c) Meneliti berkas, apabila telah penuhi syarat, diberi
tanda bukti pengajuan surat permohonan ijin
d) Bila tidak penuhi persyaratan berikan petunjuk dan
kembalikan kepada pemohon tanpa diberikan tanda
bukti pengajuan surat permohonan ijin
e) Berkas permohonan ijin yang diterima melalui satwil
tetap dilaksanakan penelitian dan bila ada
kekurangan, diberitahukan kepada satwil yang
menerima surat permohonan ijin untuk disampaikan
kepada pemohon agar dilengkapi
f) Dlm proses permohonan ijin harus koordinasi dgn
instansi terkait
g) Surat ijin diberikan paling lambat 3 hari sebelum
pelaksanaan kegiatan, tembusan dikirim kepada
instansi terkait a.l. Departemen teknis up. Dirjen,
Mendagri up. Dirjen Kesbang Linmas, Kapolda
setempat up Dir Intelkam
2) Tingkat polda
a) Terima surat permohonan ijin yang dialamatkan
kepada Kapolda up. Dir Intelkam
b) Terima surat permohonan ijin yang dikirimkan
melalui kesatuan setingkat lebih rendah disertai
rekomendasi
c) Dapat terima surat permohonan ijin
yang
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 63
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
dialamatkan kepada Kapolri up. Kabaintelkam
d) Meneliti berkas, apabila telah penuhi syarat, diberi
tanda bukti pengajuan surat permohonan ijin
e) Bila tidak penuhi persyaratan beri petunjuk dan
kembalikan kepada pemohon tanpa beri tanda bukti
pengajuan surat permohonan ijin
f) Kirim berkas surat permohonan ijin yang
dialamatkan kepada Kapolri up. Kabaintelkam
g) Berkas permohonan ijin yang diterima melalui satwil
tetap dilaksanakan penelitian dan bila ada
kekurangan, diberitahukan kepada satwil yang
terima surat pemberitahuan untuk disampaikan
kepada pemohon agar dilengkapi
h) Dlm proses permohonan ijin harus berkoordinasi
dgn instansi terkait
i) Surat ijin diberikan paling lambat 3 hari sebelum
pelaksanaan kegiatan, tembusan surat ijin tersebut
dikirimkan kepada instansi terkait a.l. Gubernur
KDH setempat, Departemen teknis setempat,
Kapolwil / Kapolres setempat up Kasubbag / Kasat
Intelkam
3) Tingkat polres
a) Terima surat permohonan ijin yang dialamatkan
kepada Kapolres up. Kasat intelkam
b) Terima surat permohonan ijin yang dikirimkan
melalui kesatuan setingkat lebih rendah
c) Dapat terima surat permohonan ijin yang
dialamatkan kepada Kapolwil up. Kasubbag
Intelkam
d) Meneliti berkas, apabila telah penuhi syarat, diberi
tanda bukti pengajuan surat permohonan ijin
e) Bila tidak penuhi persyaratan beri petunjuk dan
kembalikan kepada pemohon tanpa beri tanda bukti
pengajuan surat permohonan ijin
f) Kirim berkas surat permohonan ijin yang
dialamatkan kepada satuan lebih atas
g) Dlm proses permohonan ijin harus berkoordinasi
dgn instansi terkait
h) Surat ijin diberikan paling lambat 3 hari sebelum
pelaksanaan kegiatan tembusan dikirim kepada
instansi terkait a.l. Bupati KDH setempat,
Departemen teknis setempat, Kapolsek setempat
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 64
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
4) Tingkat polsek
a) Hanya menerima surat permohonan ijin yang
dialamatkan kepada Kapolsek
b) Meneliti berkas apabila telah penuhi syarat, diberi
tanda bukti pengajuan surat permohonan ijin
c) Bila tidak penuhi persyaratan beri petunjuk dan
kembalikan kepada pemohon tanpa beri tanda bukti
pengajuan surat permohonan ijin
d) Dlm proses permohonan ijin harus berkoordinasi
dgn instansi terkait
e) Surat ijin diberikan paling lambat 3 hari sblm
pelaksanaan kegiatan tembusan dikirim kepada
instansi terkait a.l. Camat setempat,
Departemen teknis setempat, Kapolres up
Kabagops dan Kasat Intelkam.
b. Administrasi pertemuan yang memerlukan pemberitahuan:
1) surat permohonan ijin berisi:
1) proposal lengkap
2) materi
3) wkt/tempat
4) susunan panitia
5) jml peserta
6) jadwal acara
7) daftar pembicara
2) ijin tempat / lokasi (dari gedung/lokasi kegiatan)
3) rekom instansi terkait
4) rekom polda setempat
5) foto copy passport / visa (bila libatkan oa)
6) AD/ART (Parpol dan LSM)
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 65
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
2. Administrasi Pendukung Pelayanan Kegiatan Masyarakat
sarana pendukung pelayanan kegiatan masyarakat:
a. pengadaan buku agenda antara lain buku agenda surat
pemberitahuan penyampaian pendapat dimuka umum; buku
agenda STTP dan buku ekspedisi STTP.
b. pengadaan formulir seperti formulir surat pemberitahuan,
formulir lembar proses STTP, formulir STTP, formulir tentang
tempat, lokasi dan rute giat dan formulir tentang penggunaan
alat peraga sebagai lampiran STTP.
c. Dokumentasi.
d. Kesatuan polri yang mengeluarkan STTP diwajibkan
melaksanakan pendokumentasian tentang jati diri pimpinan,
pengurus dan tokoh suatu organisasi/kelompok kegiatan,
kegiatan itu sendiri dan aspirasi orang-orang atau kelompok
tsb
e. Dukungan logistik dalam rangka mendukung pelaksanaan
kegiatan ini menggunakan sarana dan prasarana yang
tersedia sedangkan dukungan anggaran menggunakan
anggaran rutin/khusus.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 66
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
POKOK BAHASAN 2
TATA CARA PEMBUATAN ADMINISTRASI DAN PRODUK
INTELIJEN HASIL PENGAMANAN DAN PENGAWASAN
KEGIATAN MAYARAKAT
1. Pembuatan Administrasi Hasil Pengamanan dan pengawasan
kegiatan Mayarakat (Surat Rekomendasi, Surat Izin, dan Surat
Tanda Terima Pemberitahuan (STTP))
a. Contoh format Surat Rekomendasi
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 67
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
b. Contoh format Surat Izin
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 68
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 69
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 70
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
c. Contoh format Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP)
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 71
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 72
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
2. Produk Intelijen berupa Informasi Khusus Hasil Pengamanan
dan Pengawasan Kegiatan Mayarakat
a. Informasi Khusus adalah tulisan atau keterangan yang berisi
masalah atau kasus yang perlu diketahui satuan atas,
samping atau bawah yang bersifat informatif dan juga dapat
dijadikan sebagai bahan keterangan dan diperkirakan akan
berkembang pada daerah lain, sehingga perlu diketahui dan
diwaspadai oleh satuan atas, samping maupun bawah.
b. Syarat-syarat Informasi Khusus adalah sebagai berikut:
1) Informasi berkaitan dengan satu atau beberapa kasus/
masalah (fakta aktual) yang biasanya berasal dari satuan
atas, satuan samping atau satuan bawah dan perlu untuk
diketahui oleh Satuan atas, samping dan bawah.
2) Materi informasi menunjukkan kerawanan-kerawanan
yang bakal timbul dan berpengaruh dengan memuat
fakta-fakta lain yang bersifat melengkapi atau
memperkuat masalah yang dikemukakan yaitu sumber
dari dokumentasi Intel atau Intelijen Dasar.
c. Tujuan dari Informasi Khusus adalah untuk memberikan
informasi yang bersifat khusus untuk segera diketahui oleh
satuan atas, samping dan bawah tentang masalah atau kasus
yang terjadi, sebagai bahan pengambilan langkah antisipatif
terutama bagi satuan yang menerima informasi.
1) Adapun kegunaan dari Informasi Khusus adalah:
2) Sebagai warning dan informatif peringatan bagi satuan
atas, samping atau bawah.
3) Sebagai bahan arahan bagi pelaksanaan tindakan lanjut.
d. Materi penyusunan produk Informasi Khusus terdiri dari:
1) Bab I, memuat perihal yang berisi hal-hal bersifat khusus
tentang permasalahan yang akan disampaikan;
2) Bab II, memuat fakta-fakta berisi tentang fakta-fakta yang
tersusun secara sistematis, singkat, jelas dari suatu
masalah atau kasus yang terjadi dan berkembang,
hindari sikap untuk memasukkan pandangan atau
pendapat sendiri dari fakta-fakta yang dilaporkan; dan
3) Bab III, memuat catatan berisi tentang:
a) Analisa;
b) Prediksi yang akan terjadi;
c) Langkah-langkah intelijen, fungsi Kepolisian dan
instansi terkait yang telah dilakukan; dan
d) Rekomendasi.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 73
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
e. Format Informasi Khusus adalah sebagai berikut :
RAHASIA
………Kop Kesatuan……
…………...........…… ……….
Nomor:
INFORMASI KHUSUS
Tanggal ……………..
BIDANG:
I. PERIHAL
------Memuat informasi-informasi yang bersifat khusus tentang suatu
permasalahan yang akan disampaikan.
II. FAKTA-FAKTA
------Memuat fakta-fakta yang tersusun secara sistematis, singkat, jelas
dari suatu masalah atau kasus yang terjadi dan berkembang.
------Hindari sikap untuk memasukkan pandangan atau pendapat
sendiri dari fakta-fakta yang dilaporkan.
III. CATATAN
1. Analisa.
2. Prediksi yang akan terjadi.
3. Langkah-langkah intelijen, fungsi Kepolisian dan intansi terkait
yang telah dilakukan.
4. Rekomendasi.
Jakarta, ……………….…..
Pelapor
AUTENTIKASI: .......
Distribusi:
RAHASIA
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 74
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
Rangkuman
1. Administrasi pertemuan yang memerlukan pemberitahuan:
a. surat permohonan ijin berisi:
1) proposal lengkap
2) materi
3) waktu/tempat
4) susunan panitia
5) jumlah peserta
6) jadwal acara
7) daftar pembicara
b. ijin tempat / lokasi (dari gedung/lokasi kegiatan)
c. rekom instansi terkait
d. rekom polda setempat
e. foto copy passport / visa (bila libatkan oa)
f. AD/ART (Parpol dan LSM)
2. Sarana pendukung pelayanan kegiatan masyarakat:
a. pengadaan buku agenda antara lain buku agenda surat
pemberitahuan penyampaian pendapat dimuka umum; buku
agenda STTP dan buku ekspedisi STTP.
b. pengadaan formulir seperti formulir surat pemberitahuan,
formulir lembar proses STTP, formulir STTP, formulir tentang
tempat, lokasi dan rute giat dan formulir tentang penggunaan
alat peraga sebagai lampiran STTP.
c. Dokumentasi.
d. Kesatuan polri yang mengeluarkan STTP diwajibkan
melaksanakan pendokumentasian tentang jati diri pimpinan,
pengurus dan tokoh suatu organisasi/kelompok kegiatan,
kegiatan itu sendiri dan aspirasi orang-orang atau kelompok
tsb
e. Dukungan logistik dalam rangka mendukung pelaksanaan
kegiatan ini menggunakan sarana dan prasarana yang
tersedia sedangkan dukungan anggaran menggunakan
anggaran rutin/khusus.
3. Syarat-syarat Informasi Khusus adalah sebagai berikut:
a. Informasi berkaitan dengan satu atau beberapa kasus/
masalah (fakta aktual) yang biasanya berasal dari satuan atas,
satuan samping atau satuan bawah dan perlu untuk diketahui
oleh Satuan atas, samping dan bawah.
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 75
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM
LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI
b. Materi informasi menunjukkan kerawanan-kerawanan yang
bakal timbul dan berpengaruh dengan memuat fakta-fakta lain
yang bersifat melengkapi atau memperkuat masalah yang
dikemukakan yaitu sumber dari dokumentasi Intel atau
Intelijen Dasar.
4. Tujuan dari Informasi Khusus adalah untuk memberikan informasi
yang bersifat khusus untuk segera diketahui oleh satuan atas,
samping dan bawah tentang masalah atau kasus yang terjadi,
sebagai bahan pengambilan langkah antisipatif terutama bagi
satuan yang menerima informasi.
a. Adapun kegunaan dari Informasi Khusus adalah:
b. Sebagai warning dan informatif peringatan bagi satuan atas,
samping atau bawah.
c. Sebagai bahan arahan bagi pelaksanaan tindakan lanjut.
5. Materi penyusunan produk Informasi Khusus terdiri dari:
a. Bab I, memuat perihal yang berisi hal-hal bersifat khusus
tentang permasalahan yang akan disampaikan;
b. Bab II, memuat fakta-fakta berisi tentang fakta-fakta yang
tersusun secara sistematis, singkat, jelas dari suatu masalah
atau kasus yang terjadi dan berkembang, hindari sikap untuk
memasukkan pandangan atau pendapat sendiri dari fakta-
fakta yang dilaporkan; dan
c. Bab III, memuat catatan berisi tentang:
1) Analisa;
2) Prediksi yang akan terjadi;
3) Langkah-langkah intelijen, fungsi Kepolisian dan instansi
terkait yang telah dilakukan; dan
4) Rekomendasi.
Soal Latihan
1. Jelaskan ketentuan administrasi bagi pertemuan yang
memerlukan perijinan dan pemberitahuan!
2. Jelaskan administrasi pendukung pelayanan kegiatan
masyarakat!
3. Jelaskan pembuatan administrasi hasil pengamanan dan
pengawasan kegiatan mayarakat (surat rekomendasi, surat izin,
dan surat tanda terima pemberitahuan (STTP))!
4. Jelaskan produk intelijen berupa informasi khusus hasil
pengamanan dan pengawasan kegiatan mayarakat!
PENGAMANAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN MASYARAKAT 76
HPP-LAT BINTARA FUNGSI TEKNIS INTELKAM