Jurnal Bidan Cerdas
e-ISSN: 2654-9352 dan p-ISSN: 2715-9965
Volume 4 Nomor 3, 2022, Halaman 163-168
DOI: 10.33860/jbc.v4i3.1164
Website: [Link]
Penerbit: Poltekkes Kemenkes Palu
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Tingkat Keparahan
Disminore
Indraswari Siscadarsih1,3 , Rizqi Amanullah2, Wafda Diena Latansyadiena3
1Prodi Pendidikan Profesi Bidan, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
2Prodi D-III Kesehatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
3Keluarga Alumni Kebidanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Email korespondensi: indraswari@[Link]
ARTICLE INFO ABSTRAK
Article History: Pendahuluan: Beberapa penelitian menunjukkan hasil bahwa wanita yang
memiliki IMT overweight dan obese memiliki kecenderungan disminore yang
Received: 2022-03-29 lebih parah dibanding wanita dengan IMT normal. Hasil studi pendahuluan
Accepted: 2022-09-27 yang telah dilakukan, diperoleh informasi bahwa mahasiswa yang tinggal di
Published: 2022-09-30 asrama Poltekkes Kemenkes Yogyakarta selama lebih dari enam bulan
memiliki prevalensi underweight sebesar 20,13% dan overweight sebesar
25,62%. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan IMT
Kata Kunci:
dengan tingkat keparahan disminore. Metode: Penelitian ini bersifat kuantitatif
IMT; disminore; menggunakan sumber data primer dengan desain cross sectional. Sampel
obesitas dalam penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Kebidanan. Pengambilan
sampel menggunakan metode non-probability sampling secara purposive
sampling sebanyak 311 orang. Analisis penelitian ini dilakukan menggunakan
multivariat. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara IMT dan disminore (p=0,006). Pada responden
disminore, OR mengalami disminore berat pada responden obesitas adalah
6,3 kali, dibandingkan responden dengan berat badan normal. Kesimpulan:
IMT pada remaja dengan obesitas mempengaruhi tingkat keparahan
disminore sehingga aktivitas fisik dan intake gizi perlu diperhatikan untuk
mengurangi berat badan.
Keywords: ABSTRACT
BMI; dysmenorrhea; Introduction: Several studies have shown that women who have overweight
obesity and obese tend to have more severe dysmenorrhea than women with a
normal BMI. The results of the preliminary study that have been carried out,
obtained information that students who lived in the Yogyakarta Ministry of
Health Poltekkes dormitory for more than six months have a prevalence of
underweight of 20.13% and overweight of 25.62%. Purpose: The purpose of
this study was to determine the relationship between BMI and the severity of
dysmenorrhea. Methods: This research is quantitative using primary data
sources with a cross-sectional design. The sample in this study were students
of the Department of Midwifery. Sampling using non-probability sampling
method by purposive sampling as many as 311 people. Result: The analysis
of this study was carried out using multivariate. The results of this study
indicate that there is a significant relationship between BMI and dysmenorrhea
(p=0.006). In respondents with dysmenorrhea, the OR for having severe
dysmenorrhea in obese respondents was 6.3 times, compared to respondents
with normal weight. Conclusion: BMI in adolescents with obesity affects the
severity of dysmenorrhea so physical activity and nutritional intake need to be
considered to reduce body weight.
© 2022 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative
Commons Attribution (CC BY SA) license ([Link]
152
PENDAHULUAN
Menurut data WHO, insiden kejadian dismenore pada wanita muda sebesar
16,8–81%. Penelitian oleh Singh et. al. (2008) menemukan bahwa dismenore
merupakan gangguan menstruasi dengan persentase sekitar 73,83%. Di Eropa
dismenore terjadi pada 45-97% wanita (Larasati dkk., 2016). Studi lain juga
mendapatkan prevalensi dismenorea cukup tinggi seperti di Mesir sebesar 94,4% (EL-
Hameed, et al., 2011), di India 64,4% (Vidya, et al., 2014), dan di Thailand 84,2%
(Tangchai, et al., 2004). Studi di Indonesia sendiri mendapatkan prevalensi
dismenorea sebesar 97,5% di Sragen (Dyah, dkk., 2009) di Sidoarjo sebesar 71%
(Novia, dkk., 2008) dan di Jakarta sebesar 68,9% (Rusli, dkk., 2019). Prevalensi
dismenore di Indonesia sebesar 64,25% yang terdiri dari 54,89% dismenore primer
dan 9,36% dismenore sekunder. Dismenore primer dialami oleh 60-75% remaja,
dengan tiga perempat dari jumlah remaja tersebut mengalami nyeri ringan sampai
berat dan seperempat lagi mengalami nyeri berat. Di Surabaya didapatkan sebesar
1,07-1,31% dari jumlah kunjungan ke bagian kebidanan adalah penderita dismenore.
Dilaporkan 30-60% remaja wanita yang mengalami dismenore, sebanyak 7-15% tidak
pergi ke sekolah atau bekerja (Ningsih, 2012).
Dysmenorrhea digambarkan sebagai sebuah rasa sakit di bagian perut dan
dirasakan pada saat sebelum maupun pada saat berlangsungnya menstruasi.
Prevalensi dysmenorrhea pada wanita usia produktif adalah sebesar 16% hingga 91%
(Chen, Draucker, & Carpenter, 2018). Riwayat anggota keluarga yang mengalami
kasus dysmenorrhea semakin meningkatkan prevalensi terjadinya dysmenorrhea.
Meskipun tidak dianggap sebagai sebuah gangguan yang dapat mengancam nyawa,
dysmenorrhea dapat mempengaruhi kualitas hidup dan hubungan sosial bagi wanita
yang sedang mengalaminya (Najafi et al., 2018). Dysmenorrhea dapat terjadi akibat
meningkatnya pengeluaran atau sekresi dari prostalglandin. Prostalglandin sendiri
dapat mengakibatkan vasokontriksi pembuluh darah dan kontraksi myometrium yang
dapat menyebabkan timbulnya rasa nyeri pada area rahim dan iskemia atau
kekurangan pasokan darah pada jaringan tertentu akibat adanya gangguan pada
pembuluh darah (Najafi et al., 2018).
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif
antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan dismenorea (Madhubala & Jyoti, 2012). Hal
yang sama juga ditunjukkan oleh studi dari Okoro et. al., (2013) di Nigeria
menunjukkan bahwa mahasiswi yang memiliki IMT yang rendah mendapat
dismenorea primer. Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan, diperoleh informasi
bahwa mahasiswa yang tinggal di asrama Poltekkes Kemenkes Yogyakarta selama
lebih dari enam bulan memiliki prevalensi underweight sebesar 20,13% dan
overweight sebesar 25,62%, serta prevalensi disminore mencapai 67,2%. Data ini
diambil dari laporan pemeriksaan kesehatan sebelum pelaksanaan ujian akhir
semester (UAS) pada bulan Juli 2019 yang diikuti oleh 293 mahasiswa di asrama
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta. Tujuan penelitian penelitian ini adalah mengetahui
hubungan antara IMT dengan tingkat keparahan disminore.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel dalam
penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Kebidanan sebanyak 311 orang yang dipilih
dengan cara purposive sampling dan dianalisis menggunakan regresi logistik.
Penelitian dilakukan antara bulan Mei-Juni 2021 di Kampus Poltekkes Kemenkes
Yogyakarta. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa D III, Sarjana Terapan,
163
dan Profesi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta dan bersedia menjadi sampel
penelitian dengan menandatangani informed consent. Penelitian ini memiliki kriteria
inklusi antara lain belum pernah menikah, sudah menstruasi minimal 1-2 tahun dan
mengalami disminore primer. Sedangkan kriteria eksklusinya adalah memiliki penyakit
kronis, penyakit sistemik dan penyakit ginekologi.
Data primer dalam penelitian ini adalah IMT berdasarkan pengukuran
antropometri berat badan dan tinggi badan, serta tingkat keparahan disminore yang
dialami mahasiswa berdasarkan penilaian menggunakan Verbal Multidimensional
Scoring System (VMSS). VMSS merupakan skala tingkat keparahan
disminore/tingkatan derajat nyeri yang dirasakan akibat disminore. VMSS digolongkan
menjadi grade 1 (mild/moderate) jika nyeri menstruasi ringan-jarang, kadang
mengganggu aktivitas dan kadang membutuhkan analgesik; grade 2 (mild/moderate)
jika nyeri menstruasi sedang, mengganggu aktivitas, terdapat beberapa gejala dan
membutuhkan analgesik; dan grade 3 (severe) jika nyeri berat saat menstruasi, sangat
mengganggu aktivitas, banyak gejala timbul seperti sakit kepala atau kelelahan atau
mual dan sangat membutuhkan analgesik. Indeks Massa Tubuh digolongkan menjadi
kategori kurus jika IMT <18,5, normal jika IMT 18,5-22,9, kelebihan berat badan jika
IMT 23,0-24,9 dan obesitas jika IMT >25. Penelitian ini layak etik dengan nomor: e-
KEPK/POLKESYO/0523/VI/2021 yang dikeluarkan oleh Komite Etik Penelitian
Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.
HASIL PENELITIAN
Pada penelitian ini, untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan disminore
digunakan uji regresi logistic. Pada saat pengujian, status IMT diklasifikasikan menjadi
empat kategori yaitu berat badan kurang, berat badan normal, berat badan berlebih
dan obesitas. Sedangkan tingkat disminore diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu
mild/moderate dan severe.
Tabel 1. Analisis Bivariat antara Karakteristik Responden dengan Disminore
Disminorrhea
p-value
Variabel Mild/Moderate Severe
Usia Menarche
> 8 tahun 269 (86,5%) 31 (10%) 0,329
< 8 tahun 9 (2,9%) 2 (0,6%)
Siklus menstruasi
24-32 hari 203 (65,3%) 28 (9%) 0,100
< atau > 24-32 hari 75 (24,1%) 5 (1,6%)
Keteraturan siklus menstruasi
Teraktur 170 (54,7%) 20 (6,4%) 0,547
Tidak teratur 108 (34,8%) 13 (4,1%)
Riwayat disminore dalam
keluarga (37,3%) 17 (5,5%)
116 0,187
Tidak ada (52%) 16 (5,2%)
162
Ada
Freakuensi sarapan tiap minggu
Kurang dari 3 kali 71 (22,9%) 9 (2,9%) 0,487
3-7 kali 207 (66,5%) 24 (7,7%)
Durasi mentruasi
4-7 hari 182 (58,6%) 18 (5,8%) 0,148
< atau > 4-7 hari 96 (30,8%) 15 (4,8%)
164
Tabel 2. Analisis Bivariat antara IMT dengan Disminore
Disminorrhea
Variabel Mild/Moderate Severe p-value
Berat Badan Normal 131 (94,2%) 8 (5,8%)
Berat Badan Kurang 88 (87,1%) 13 (12,9%)
0,006
Kelebihan Berat Badan 36 (92,3%) 3 (7,7%)
Obesitas 23 (71,8%) 9 (28,2%)
Tabel 2. menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dan
disminore (p=0,006). Selanjutnya dilakukan analisis bivariat untuk masing-masing
karakteristik responden dengan tingkat keparahan disminore.
Pada pemodelan awal, varibael yang dapat menjadi kandidat dalam analisis
multivariat adalah semua variabel hasil analisis bivariat tabel 1 dengan p value <0,25
dan memiliki kemaknaan secara substansi. Variabel tersebut adalah IMT, siklus
menstruasi, riwayat disminore dan durasi menstruasi. Analisis multivariat dilakukan
secara bertahap dengan melihat hasil p-value dan OR, sehingga dihasilkan analisis
akhir multivariat antara Disminore dengan IMT dengan hasil sebagai berikut.
Tabel 3. Analisis Multivariat antara IMT dengan Tingkat Keparahan Disminore
Status Gizi B S.E. p-value OR
Normal 0,005
Kurus 0,860 0,470 0,067 2,4
Kelebihan Berat Badan 0,208 0,701 0,767 1,2
Obesitas 1,834 ,536 0,001 6,3
Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui hasil akhir analisis multivariat antara IMT
(obesitas) dengan tingkat keparahan disminore adalah berhubungan signifikan
(p=0,001). Kemungkinan wanita mendapatkan disminore berat pada IMT kurus adalah
2,4 kali disbanding wanita dengan IMT normal, pada wanita dengan IMT kelebihan
berat badan sebesar 1,2 kali dan pada wanita dengan obesitas berpeluang mendapat
disminore berat sebanyak 6,3 kali lebih besar disbanding wanita dengan IMT normal.
PEMBAHASAN
Hasil regresi logistik antara IMT dan disminore dengan p-value sebesar 0,006
yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dan
disminore. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Chauhan (2012) yang melaporkan
bahwa hubungan IMT dan disminore sangat signifikan (p-value < 0,001). Penelitian ini
mengungkap bahwa satu dari sepuluh responden mengalami obesitas dan 28%
diantaranya mengalami disminore berat. OR berkembangnya disminore berat pada
pasien dengan obesitas adalah 6,3 kali (tabel 3), dibandingkan responden dengan
berat badan normal. Sebuah studi longintudinal di Australia menunjukkan risiko
disminore yang lebih tinggi yaitu 33% pada wanita yang obesitas dan kurus (Ju H, et
al., 2015). Penelitian tersebut dilakukan pada wanita Australia berusia 22-27 tahun
yang dipantau selama 13 tahun. Dari laporannya didapatkan bahwa setiap satu dari
10 responden mengalami obesitas dan prevalensinya meningkat lebih dari dua kali
lipat menjadi lebih dari 23% selama kurun waktu 13 tahun, yang mana konsisten
dengan tren keseluruhan di Australia. Beberapa temuan sebelumnya mengenai
hubungan antara disminore dan kelebihan berat badan atau obesitas, dimungkinkan
karena perbedaan populasi, paparan, ukuran hasil dan kekuatan penelitian. Kelebihan
165
berat badan terbukti menjadi faktor risiko disminore, menggandakan kemungkinan
mengalami nyeri parah atau nyeri yang berlangsung lebih dari dua hari dalam
penelitian lain dari 165 wanita di perguruan tinggi. Namun, hubungan antara dismenore
dan obesitas menghilang jika wanita obesitas kehilangan berat badan, rata-rata 3,8
kg/tahun, dan pindah ke kisaran IMT yang lebih sehat (Nohara et al., 2011).
Penelitian yang dilakukan oleh Hirata et al (2002) menemukan bahwa frekuensi
disminore lebih banyak ditemukan pada kelompok berat badan kurang. Penelitian yang
dilakukan oleh Tangchai et al (2004) melaporkan berat badan kurang berhubungan
signifikan dengan disminore. Menariknya, penelitian yang dilakukan oleh Tang Y., et
al (2020) melaporkan bahwa wanita dengan berat badan kurang (IMT rendah) yang
mengalami peningkatan berat badan 1,7 kg/tahun masih memiliki risiko 30% lebih
tinggi untuk mengalami disminore. Kekurangan berat badan memberikan dampak
yang lebih kuat dan bertahan lama pada fungsi ovarium pada kelompok wanita ini.
Analisis telah disesuaikan untuk endometriosis, penggunaan OCP, paritas dan riwayat
pelecehan (termasuk seksual, emosional dan fisik) (Ju H., et al., 2015). Penelitian
menunjukkan bahwa wanita yang sangat kurus mungkin menderita nyeri haid berulang
kali selama masa reproduksi mereka.
Ada interaksi yang kompleks antara lemak tubuh dan hormon steroid, sehingga
endokrin mengontrol menstruasi. Sejumlah lemak tubuh tampaknya penting untuk
mempertahankan siklus ovulasi normal. Kelebihan dan kekurangan lemak
berhubungan dengan kesehatan reproduksi (Nohara et al., 2011). Ada beberapa
mekanisme yang diketahui mengenai pengaruh jaringan adiposa pada ovulasi dan
siklus menstruasi yaitu: 1) jaringan adiposa mengubah androgen menjadi estrogen
melalui aromatisasi; 2) berat badan mempengaruhi arah metabolisme estrogen.
Wanita gamuk akan memproduksi estrogen yang lebih kuat disbanding wanita kurus;
3) wanita gemuk memiliki kapasitas estrogen yang berkurang untuk mengikat globulin
pengikat hormon seks (SHBG) yang menonaktifkan estrogen dan menghasilkan
peningkatan persentase estradiol serum bebas.
Nyeri catastrophising yang merupakan peran kontribusi sistem saraf pusat untuk
meningkatkan intensitas nyeri menstruasi, juga diduga sebagai penyebab potensial
untuk dismenore (Bettendorf B., et al., 2008). Berdasarkan teori ini, memungkinkan
adanya stres psikologis terkait dengan kekurangan berat badan atau obesitas yang
dapat menyebabkan perbedaan persepsi dan sensitivitas nyeri dibandingkan dengan
wanita berat badan normal, yang mengakibatkan pengalaman subjektif nyeri yang
berbeda. Selain itu, ada bukti bahwa hormon ovarium (terutama estrogen) berperan
dalam memodulasi berbagai kondisi nyeri kronis dengan cara mempengaruhi
konsentrasi reseptor estrogen di sumsum tulang belakang atau melalui interaksi
dengan berbagai neurotransmiter yang memodulasi persepsi nyeri. Umumnya, kadar
estrogen yang rendah akan memperburuk keparahan nyeri kronis, yang mungkin
sangat relevan dalam hubungan antara berat badan kurang dan dismenore (Asmaa
M., et al., 2014).
Kontrol endokrin dalam menstruasi merupakan interaksi gabungan yang
jumlahnya bervariasi pada wanita underweight, normal weight, overweight dan obese.
Beberapa teori mengatakan bahwa estrogen pada wanita underweight jumlahnya lebih
sedikit, serta adanya hubungan non linier antara IMT dan estrogen. Rasio estrogen
dan progesterone dalam tubuh juga berpengaruh pada disminore. Jaringan adiposa
juga akan melepaskan adipokin melalui hipotalamus – hipofisis – ovarium yang dapat
mengganggu fungsi ovarium dan mengakibatkan gangguan menstruasi (Jungheim ES,
et al., 2012). Selain itu, asupan jumlah kalori rendah dan gangguan masa lemak dapat
166
mengganggu sekresi pulsatil dari hipofisis gonadotropin yang akhirnya dapat
meningkatkan keparahan disminore (Mohapatra D, et al., 2016).
Indeks massa tubuh underweight menandakan kurangnya asupan nutrisi yang
juga dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan fungsi organ sehingga
menyebabkan terganggunya fungsi reproduksi. Asupan kalori yang rendah, berat
badan, dan massa lemak mengganggu sekresi pulsatil gonadotrofin hipofisis yang
menyebabkan peningkatan laju dismenore (Mohapatra, et al.; 2012. Teori lain
menyebutkan bahwa disminore pada IMT underweight dikaitkan dengan kejadian
anemia. Asupan makanan yang kurang termasuk zat gizi dapat menyebabkan
penurunan zat besi plasma dan penurunan absorbsi ke dalam sumsum tulang. Hal ini
menurunkan pembentukan hemoglobin dan mengakibatkan anemia yang menjadi
salah satu faktor penyebab berkurangnya daya tahan tubuh terhadap rasa nyeri ketika
menstruasi (disminorea) (Hidayati, Soviana, & Mardiyanti, 2016).
SIMPULAN DAN SARAN
Terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dan disminore (p value 0,006) dan
OR pada obesitas dengan disminore berat adalah 6,3 kali lebih tinggi daripada berat
badan normal. IMT pada remaja dengan obesitas mempengaruhi tingkat keparahan
disminore sehingga aktivitas fisik dan intake gizi perlu diperhatikan untuk mengurangi
berat badan.
DAFTAR PUSTAKA
Asmaa M. El-Bandrawy and Hassan O. Ghareeb. (2014). Effect Of Aerobic Combined with
Pelvic Rocking Exercises on Quality of Life in Primary Dysmenorrhea. Ghada E. El-
Refaye, Bull. Fac. Ph. Th. Cairo Univ. , 19(2), 86-220.
[Link]
th_pelvic_rocking_exercises_on_quality_of_life_in_primary_dysmenorrhea
Bettendorf B, Shay S, Tu F. (2008). Dysmenorrhea: contemporary perspectives. Obstetrical &
Gynecological Survey., 63(9), 597-603. [Link]
Chauhan M, Kala J. . (2012). Relation Between Dysmenorrhea And Body Mass Index In
Adolescents With Rural Versus Urban Variation. J Obstet Gynecol India. , 442-445.
[Link]
Chen, C. X., Draucker, C. B., & Carpenter, J. S. (2018). What women say about their
dysmenorrhea: A qualitative thematic analysis. BMC Women’s Health,, 1-8.
[Link]
Dyah, E. &. (2009). Hubungan Indeks Masa Tubuh < 20 dengan Kejadian Dismenore pada
Remaja Putri di SMA Negeri 3 Sragen. . Jurnal Kebidanan. 1(2). 1-16.
[Link]
El-Hameed, N., Mohamed, M., Ahmed, N. & Ahmed, E. (2011). Assessment of Dysmenorrhea
and Menstrual Hygiene Practices among Adolescent Girls in Some Nursing Schools at
EL-Minia Governorate, Egypt. . Journal of American Science. , 216-223.
[Link]
Hidayati, K. R., Soviana, E., & Mardiyanti, N. L. (2016). Hubungan Antara Asupan
Kalsium Dan Asupan Zat Besi Dengan Kejadian Dismenore Pada Siswi Di Smk
Batik 2 Surakarta. Jurnal Kesehatan. 1(2). 15–22.
[Link]
Hirata M, Kumabe K, Inove Y. . (2002). Study of relation between fre- quency of menstrual pain
and bodyweight in female adolescents (article in Japanese). . Nippon Koshu Eisei
Zasshi., 516-24. [Link]
Ju H, Jones M, Mishra GD. . (2015). A U-shaped relationship between body mass index and
dysmenorrhea: a longitudinal study. PLoS One. 10(7). e0134187.
[Link]
167
Jungheim ES, Travieso JL, Carson KR, Moley KH. . (2012). Obesity and reproductive function.
Obstet Gynecol Clin North Am. , 479-493. [Link]
Kaur, K. (2014). Obesity and Dysmenorrhea in young girls: Is there any link?. Human Biology
Review., 214-225.
[Link]
_young_girls_is_there_any_link
Larasati TA, Alatas F. (2016). Dismenore primer dan faktor risiko Dismenore primer pada
Remaja. Medical Journal of Lampung University. 5(3). 79-84.
[Link]
Madhubala C, Jyoti K. . (2012). Relation between dismenorrhea and body index in adolescents
with rural versus urban variation. . The Journal of Obstetrics and Gynecology of India.
, 442-5. [Link]
Mohapatra D, Mishra T, Behera M, Panda P. . (2016). A study of relationbetween body mass
index and dysmenorrhea and its impact on daily activitied of medical students. . Asian
J Pharm Clin Res., 9(9). 297-9.
[Link]
Najafi, N., Khalkhali, H., Moghaddam Tabrizi, F., & Zarrin, R. . (2018). Major dietary patterns
in relation to menstrual pain: A nested case control study. . BMC Women’s Health., 1-
7. [Link]
Ningsih, R. (2012). Efektifitas paket pereda terhadap intensitas nyeri pada remaja dengan
dismenore di SMAN Kecamatan Curup. [Universitas Indonesia]
[Link]
Nohara M, Momoeda M, Kubota T, Nakabayashi M. (2011). Menstrual cycle and menstrual
pain problems and related risk factors among Japanese female workers. Industrial
Health., 228-234. [Link]
Novia, I. &. (2008). Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kejadian Dismenore Primer. The
Indonesian Journal of Public Health. , 96-104.
[Link]
Okoro, R., Malgwi, H. & Okoro, G. (2013). Evaluation of Factors that Increase the Severity of
Dysmenorrhoea among University Female Student in Maiduguri, North Eastern
Nigeria. . The Internet Journal of Allied Health Science and Practice. 11(4), 1-10.
[Link]
Rusli, Y. A. (2019). Hubungan Tingkat Stres dan Intensitas Dismenore pada Mahasiswi di
Sebuah Fakultas Kedokteran di Jakarta. eJKL. 7(2). 122-128.
[Link]
dismenore-pada-mahasiswi-di-sebuah-fakulta
Singh A, K. D. (2008). Study of prevalence and severity of dysmenorrhea. Indian J Physiol
Pharmacol. 52(4) , 389-97. [Link]
Tang Y, Zhao M, Lin L, Gao Y, Chen G, Chen S, Chen Q. (2020). Is body mass index
associated with the incidence of endometriosis and the severity of dysmenorrhoea: a
case–control study in China?. BMJ. 10(9). e037095. [Link]
2020-037095
Tangchai, K., Titapant, V. & Boriboonhirunsarn, D. (2004). Dysmenorrhea in Thai
Adolescents:Prevalence,Impact and Knowledge of Treatment. J Med Assoc Thai.
87(suppl), 69-73. [Link]
Vidya, G. Syamala, B. Sri, K. . (2014). Comparative study to Evaluate the Relationship of
Dysmenorrhoea and Body Mass Index in Medical Students. . Int J Biol Med Res.
9(suppl 3). 297 [Link]
168