Evaluasi Keadilan Sistem Kompensasi
Evaluasi Keadilan Sistem Kompensasi
MODUL PERKULIAHAN
MANAJEMEN
SUMBER DAYA
MANUSIA
Abstract Kompetensi
Kompensasi untuk penerapan Gaji Mahasiswa mampu memahami secara
dan Upah, jenis jenis kompensasi, garis besar pengertian Manajemen
Kompensasi
metode penghitungan gaji dan upah
Organisasi yang baik dan sempurna pada umumnya telah melakukan suatu pola
manajemen yang terstruktur dengan baik, dalam hal keuangan, operasional, maupun
kepegawaiannya. Berkenaan dengan hal itu maka pelaku suatu organisasi perlu memahami
makna suatu manajemen yang efisien dan efektif. Sebagai Inti persoalan yang paling
mendasar adalah bagaimana manajemen sumber daya manusia menjadi prioritas untuk
melaksanakan roda organisasi yang baik dan sempurna sebagai mana tujuan yang akan
dicapai secara bersama oleh seluruh tim organisasi tersebut.
Pada masa era globalisasi ini kebutuhan manusia semakin meningkat, hal ini
memberikan dampak yang sangat besar untuk manusia agar dapat memenuhi tingkat
kehidupan yang lebih baik. Untuk mencapai hal tersebut maka seseorang dituntut untuk
bekerja yang hasil akhirnya untuk mendapatkan imbalan sebagai bentuk penghargaan atas
jasa, pikiran dan prestasi kerja yang telah dilaksanakan.
Berdasarkan hal tersebut, maka dalam makalah ini akan diuraikan beberapa pengertian
tentang hak dan kewajiban yang harus diterima dan dilaksanakan oleh seorang pegawai
maupun organisasi/perusahaan untuk mendapatkan imbalan yang berbentuk gaji, upah dan
kompensasi.
Pengertian Kompensasi
Kompensasi mengandung arti yang lebih luas daripada upah atau gaji. Upah atau
gaji lebih menekankan pada balas jasa yang bersifat finansial, sedangkan kompensasi
mencakup balas jasa finansial maupun non-finansial. Kompensasi merupakan pemberian
balas jasa, baik secara langsung berupa uang (finansial) maupun tidak langsung berupa
penghargaan (non-finansial).
Definisi kompensasi menurut Drs. Malayu S.P. Hasibuan , yaitu: Kompensasi adalah
semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang
diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan.
Kompensasi dibagi menjadi dua, yaitu kompensasi langsung (direct compensation) yang
berupa gaji, upah, dan upah intensif dan kompensasi tidak langsung (indirect compensation
atau employee welfare atau kesejahteraan karyawan).
Imbalan Ektrinsik
- gaji
- upah
- honor
- bonus
- komisi
- insentif
- uang cuti
- uang makan
- asuransi
- uang pensiun
- rekreasi
Imbalan Intrinsik
Imbalan dalam bentuk intrinsik yang tidak berbentuk fisik dan hanya dapat dirasakan
berupa kelangsungan pekerjaan, jenjang karir yang jelas, kondisi lingkungan kerja,
pekerjaan yang menarik, dan lain-lain.
Karyawan menerima kompensasi berupa upah, gaji, atau bentuk lainnya adalah
untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari atau dengan kata lain, kebutuhan
ekonominya. Dengan adanya kepastian menerima upah ata gaji tersebut secara periodik,
berarti adanya jaminan ”economic security” bagi dirinya dan keluarga yang menjadi
tanggungannya.
Pemberian kompensasi yang makin baik akan mendorong karyawan bekerja secara
produktif.
Program kompensasi (balas jasa) harus ditetapkan atas asas adil dan layak serta
dengan memperhatikan undang-undang perburuhan yang berlaku. Prinsip adil dan layak
harus mendapat perhatian dengan sebaik-baiknya supaya balas jasa yang akan diberikan
merangsang gairah dan kepuasan kerja karyawan.
a. Asas Adil
Asas adil harus menjadi dasar penilaian, perlakuan dan pemberian hadiah atau
hukuman bagi setiap karyawan. Dengan asas adil akan tercipta suasana kerja sama yang
baik, disiplin, loyalitas dan stabilitas karyawan akan lebih baik.
Metode Kompensasi
a. Metode Tunggal
Metode tunggal yaitu suatu metode yang dalam penetapan gaji pokok hanya
didasarkan atas ijazah terakhir dan pendidikan formal yang dimiliki karyawan. Jadi, tingkat
golongan dan gaji pokok seseorang hanya ditetapkan atas ijazah terakhir yang dijadikan
standarnya.
b. Metode Jamak
Metode jamak yaitu suatu metode yang dalam gaji pokok didasarkan atas beberapa
pertimbangan seperti ijazah, sifat pekerjaan, pendidikan informal, bahkan hubungan
keluarga ikut menentukan besarnya gaji pokok seseorang. Jadi standar gaji pokok yang
Sistem Kompensasi
a. Sistem waktu
c. Sistem borongan
Kebijaksanaan Kompensasi
Kompensasi Insentif
Pengertian Insentif
Ada beberapa pengertian insentif yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya
yang dikemukakan oleh Harsono bahwa “insentif adalah setiap sistem kompensasi
dimana jumlah yang diberikan tergantung dari hasil yang dicapai yang berarti
menawarkan suatu insentif kepada pekerja untuk mencapai hasil yang lebih baik”.
Sementara itu menurut Heidjrachman dan Husnan mengatakan bahwa “pengupahan
insentif dimaksudkan untuk memberikan upah atau gaji yang berbeda”. Jadi dua orang
karyawan yang mempunyai jabatan yang sama bisa menerima upah yang berbeda
dikarenakan prestasi kerja yang berbeda.
Tujuan Insentif
Tujuan utama dari pemberian insentif kepada karyawan pada dasarnya adalah
untuk memotivasi mereka agar bekerja lebih baik dan dapat menunjukkan prestasi yang
baik. Cara seperti ini adalah cara yang sangat efektif untuk meningkatkan hasil produksi
perusahaan. Menurut pendapat Heidjrachman dan Husnan (1992 : 151) mengatakan
bahwa pelaksanaan “sistem upah insentif ini dimaksudkan perusahaan terutama untuk
meningkatkan produktivitas kerja karyawan dan mempertahankan karyawan yang
berprestasi untuk tetap berada dalam perusahaan”. Berdasarkan pendapat tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pemberian insentif, yaitu:
a. Bagi perusahaan
b. Bagi karyawan
Memberi pendapatan lebih di atas gaji pokok kepada karyawan yang memenuhi
standar kinerja perorangan.
b. Insentif Kelompok
c. Pembagian Keuntungan
Para manager atau eksekutif yang memenuhi atau melebihi target, disebut
bonus. Manager atau eksekutif yang memenuhi target tahunan (misalnya dalam
memenuhi target penjualan) maka manager tersebut mendapat bonus.
Pay for Knowledge Plans adalah rencana insentif untuk mendorong karyawan
mempelajari ketrampilan baru atau menjadi trampil pada pekerjaan lain.
Bila kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar semakin baik maka
tingkat kompensasi akan semakin besar. Tetapi sebaliknya jika kemampuan dan kesediaan
perusahaan untuk membayar kurang maka tingkat kompensasi relatif kecil.
Apabila serikat buruhnya kuat dan berpengaruh maka tingkat kompensasi semakin
besar. Sebaliknya jika serikat buruh tidak kuat dan kurang berpengaruh maka tingkat
kompensasi relatif kecil.
Jika produktivitas kerja karyawan baik dan banyak maka kompensasi akan semakin
besar. Sebaliknya kalau produktivitas kerjanya buruk serta sedikit maka kompensasinya
kecil.
Bila biaya hidup di daerah itu tinggi maka tingkat kompensasi atau upah semakin
besar. Tetapi sebaliknya jika tingkat biaya hidup di daerah itu rendah maka tingkat
kompensasi atau upah relatif kecil, seperti tingkat upah di Jakarta lebih besar daripada di
Bandung.
7. Posisi Jabatan
Karyawan yang mendapat jabatan yang lebih tinggi maka akan menerima gaji atau
kompensasi yang lebih besar. Sebaliknya yang menjabat jabatan yang lebih rendah akan
memperoleh gaji atau kompensasi yang kecil. Hal ini wajar karena seseorang yang
mendapat kewenangan dan tanggung jawab yang besar harus mendapatkan gaji atau
kompensasi yang lebih besar.
Jika pendidikan lebih tinggi dan pengalaman kerja yang lebih lama gaji atau balas
jasanya akan semakin besar, karena kecakapan serta keterampilannya lebih baik.
Sebaliknya karyawan yang berpendidikan rendah dan pengalaman kerja yang kurang maka
tingkat gaji atau kompensasinya lebih kecil.
Bila kondisi perekonomian nasional sedang maju maka tingkat upah atau
kompensasi akan semakin besar, karena akan mendekati kondisi (full employment).
Sebaliknya jika kondisi perekonomian kurang maju (depresi) maka tingkat upah rendah,
karena terdapat banyak penganggur (disqueshed unemployment).
Kalau jenis dan sifat pekerjaan itu mengerjakannya sulit atau sukar dan mempunyai risiko
(financial dan keselamatan) besar, maka tingkat upah atau balas jasanya semakin besar,
karena meminta kecakapan serta ketelitian untuk mengerjakannya. Tetapi jika jenis dan sifat
pekerjaan itu mengerjakannya mudah dan risikonya kecil, maka tingkat upah atau balas
jasanya relatif rendah.
Pengertian Gaji
Gaji adalah suatu bentuk balas jasa atau penghargaan yang diberikan secara teratur
kepada seorang pegawai atas jasa dan hasil kerjanya. Gaji sering disebut juga sebagai
upah. Dimana keduanya merupakan suatu bentuk kompensasi yaitu imbalan jasa yang
diberikan secara teratur atas prestasi kerja yang diberikan kepada seorang pegawai.
Perbedaan gaji dan upah hanya terletak pada kuatnya ikatan kerja dan jangka waktu
penerimaannya.
Seorang menerima gaji apabila ikatan kerjanya kuat, sedang seseorang menerima
upah apabila ikatan kerjanya kurang kuat. Dilihat dari jangka waktu penerimaannya, gaji
pada umumnya diberikan pada setiap akhir bulan , sedangkan upah diberikan pada setiap
hari atau minggu. Dalam hal ini pengertian gaji untuk seterusnya disebut dengan gaji pokok .
Besarnya gaji pokok yang diberikan kepada seseorang karyawan, biasanya sangat
tergantung dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki, kemampuan maupun
pengalaman kerjanya.
Peranan Gaji
Menurut Poermono peranan gaji dapat ditinjau dari dua pihak, yaitu :
Gaji merupakan unsur pokok dalam menghitung biaya produksi dan komponen
dalam menentukan harga pokok yang dapat menentukan kelangsungan hidup perusahaan.
Apabila suatu perusahaan memberikan gaji terlalu tinggi maka, akan mengakibatkan
perusahaan kesulitan mencari tenaga kerja.
Fungsi Penggajian
Menurut Komaruddin fungsi gaji bukan hanya membantu manajer personalia dalam
menentukan gaji yang adil dan layak saja, tetapi masih ada fungsi-fungsi yang lain yaitu :
Tujuan Penggajian
a. Ikatan kerjasama
Dengan pemberian gaji maka terjalin ikatan kerjasama formal antara majikan dengan
karyawan, karyawan harus mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, sedangkan
pengusaha wajib membayar gaji sesuai dengan perjanjian yang disepakati.
b. Kepuasan Kerja
Dengan balas jasa, karyawan akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik, status
sosial, dan egostiknya sehingga memperoleh kepuasan kerja dari jabatannya.
c. Pengadaan Efektif
Jika program gaji ditetapkan cukup besar, pengadaan karyawan yang qualified untuk
perusahaan akan lebih mudah.
d. Motivasi
Jika balas jasa yang diberikan cukup besar, manajer akan mudah memotivasi bawahannya.
e. Stabilitas Karyawan
f. Disiplin
Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan semakin baik.
Karyawan akan menyadari serta menaati peraturan-peraturan yang berlaku.
Dengan program kompensasi yang baik pengaruh serikat buruh dapat dihindarkan dan
karyawan serta akan berkonsentrasi pada pekerjaannya.
h. Pengaruh Pemerintah
Jika program gaji sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku (seperti batas gaji
minimum) maka intervensi pemerintah dapat dihindarkan.
Agar tidak terjadi konflik dengan karyawan, bagian personalian harus memuat
beberapa dasar dalam melaksanakan penggajian, yaitu:
Adil
Konsisten
Berkomitmen
Rasa Keadilan
Konsisten
Komitmen
Incentive / Bonus
Pengahargaan atau ganjaran yang diberikan untuk memotivasi para pekerja agar
produktivitas kerjanya tinggi, atau bagian dari keuntungan, terutama diberikan pada pekerja
yang bekerja secara baik maupun berprestasi.
Benefits
Allowance / tunjangan
Pertimbangan Penggajian
1. Salary Market
Penetapan gaji selalu disesuaikan dengan keadaaan pasar, dengan kata lain
berdasarkan prinsip permintaan dan penawaran.
2. Job Value
Nilai dari pekerjaan atau jabatan, tiap pekerjaan pada dasarnya dapat diukur dan
dinilai. Pengukuran dilakukan dengan metode – metode tertentu, dalam batas-batas tertentu
bersifat relatif dan subyektif. Gaji yang diterima berdasarkan atas dasar besar kecilnya poin
yang diperoleh.
3. Performance
Penetapan gaji didasarkan seberapa jauh prestasi seseorang. Pada dasarnya bukan
karena pendidikan atau pengalaman, tetapi semata-mata karena prestasi yang diraihnya.
Prinsip semacam ini pada umumnya dipakai diperusahaan maju.
4. Kualifikasi
Struktur Penggajian
Pemberian gaji berdasarkan standar yang fixed kepada setiap pegawai sesuai
dengan prestasinya, tanpa memandang umur atau jasa karyawan yang bersangkutan.
Pemberian gaji berdasarkan standar umur pegawai. Dasar ini dipakai untuk pekerja-
pekerja tertentu
3. Incramental scales
Skala gaji pada tiap golongan dibagi dalam bentuk penambahan seimbang antara
skala yang satu dengan yang ada diatasnya.
4. Salary ranges
Pengertian Upah
Upah kerja merupakan bayaran yang diterima oleh pekerja atas jasa yang diberikan
dalam memproduksi barang atau jasa di perusahaan. Upah biasanya diberikan kepada
tenaga kerja tergantung produktivitas pekerja tersebut
dalam perusahaan. Pekerja dengan produktivitas yang tinggi akan mendapatkan upah yang
cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja dengan tingkat produktivitas yang
rendah.
Pemberian upah kepada tenaga kerja dalam suatu kegiatan produksi pada dasarnya
merupakan imbalan/balas jasa dari para produsen kepada tenaga kerja atas prestasinya
yang telah disumbangkan dalam kegiatan produksi. Upah tenaga kerja yang diberikan
tergantung pada:
d) Tekanan yang dapat diberikan oleh serikat buruh dan serikat pengusaha.
Upah merupakan faktor yang sangat penting bagi perusahaan, karena jumlah upah
atau balas jasa yang diberikan perusahaan kepada karyawannya akan
mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap jalannya perusahaan. Pemberian upah atau
balas jasa ini dimaksud untuk menjaga keberadaan karyawan di perusahaan, menjaga
semangat kerja karyawan dan tetap menjaga kelangsungan hidup perusahaan yang
akhirnya akan memberi manfaat kepada masyarakat.
Upah yang diberikan oleh para pengusaha secara teoritis dianggap sebagai harga
dari tenaga yang dikorbankan pekerja untuk kepentingan produksi. Sehubungan dengan hal
itu maka upah yang diterima pekerja dapat dibedakan dua macam yaitu:
1. Upah Nominal, yaitu sejumlah upah yang dinyatakan dalam bentuk uang yang diterima
secara rutin oleh para pekerja.
2. Upah Riil , adalah kemampuan upah nominal yang diterima oleh para pekerja jika
ditukarkan dengan barang dan jasa, yang diukur berdasarkan banyaknya barang dan jasa
yang bisa didapatkan dari pertukaran tersebut.
Sistem upah jangka waktu adalah sistem pemberian upah menurut jangka waktu
tertentu, misalnya harian, mingguan atau bulanan.
Sistem ini umumnya bertujuan untuk mengganti sistem upah jangka waktu jika
hasilnya tidak memuaskan.
Sistem upah permufakatan adalah suatu sistem pemberian upah dengan cara
memberikan sejumlah upah pada kelompok tertentu. Selanjutnya, Kelompok ini akan
membagi-bagikan kepada para anggotanya.
Dalam sistem ini, jumlah upah yang diberikan berkaitan dengan penjualan
hasil produksi di pasaran. Jika harga naik jumlah upahnya pun naik. Sebaliknya jika harga
turun, upah pun akan turun. Itulah sebabnya disebut skala upah berubah.
Sistem upah ini didasarkan atas indeks biaya kebutuhan hidup. Dengan sistem ini,
upah akan naik dan turun sesuai dengan naik turunnya biaya penghidupan meskipun
tidak memengaruhi nilai nyata dari upah.
Sistem upah ini dapat disamakan dengan pemberian bonus apabila peusahaan
mendapat keuntungan di akhir tahun.
Sistem upah dimana besarnya upah didasarkan pada lama bekerja seseorang.
Satuan waktu dihitung per jam, per hari, per minggu atau per bulan. Misalnya pekerja
bangunan dibayar per hari / minggu.
3. Upah borongan
Menurut sistem ini pembayaran upah berdasarkan atas kesepakatan bersama antara
pemberi dan penerima pekerjaan. Misalnya upah untuk memperbaiki mobil yang rusak,
membangun rumah dll.
4. Sistem bonus
Sistem bonus adalah pembayaran tambahan diluar upah atau gaji yang ditujukan
untuk merangsang (memberi insentif) agar pekerja dapat menjalankan tugasnya lebih baik
dan penuh tanggungjawab, dengan harapan keuntungan lebih tinggi. Makin tinggi
keuntungan yang diperoleh makin besar bonus yang diberikan pada pekerja.
Dalam sistem ini pembayaran upah sebagian diberikan dalam bentuk saham
perusahaan, tetapi saham tersebut tidak diberikan kepada perorangan melainkan pada
organisasi pekerja di perusahaan tersebut. Dengan demikian hubungan kerja antara
perusahaan dengan pekerja dapat ditingkatkan menjadi hubungan antara perusahaan dan
mitra kerja.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dalam hal upah dan pembentukan harga
upah tenaga kerja, berikut akan dikemukakan beberapa teori yang menerangkan tentang
latar belakang terbentuknya harga upah tenaga kerja.
Menurut David Ricardo jenis upah alami terbagi menjadi dua, yaitu: upah menurut
kodrat dan upah menurut harga pasar. Upah menurut kodrat adalah upah yang cukup untuk
pemeliharaan hidup pekerja dengan keluarganya. Sedangkan, upah menurut harga pasar
adalah upah yang terjadi di pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Upah
harga pasar akan berubah di sekitar upah menurut kodrat.
Teori upah ini dikemukakan oleh Ferdinand Lassalle. Penerapan sistem upah kodrat
menimbulkan tekanan terhadap kaum buruh, karena kita ketahui posisi kaum buruh dalam
posisi yang sulit untuk menembus kebijakan upah yang telah ditetapkan oleh para produsen.
Berhubungan dengan kondisi tersebut maka teori ini dikenal dengan istilah “Teori Upah
Besi”. Untuk itulah Lassalle menganjurkan untuk menghadapi kebijakan para produsen
terhadap upah agar dibentuk serikat pekerja.
Teori upah ini dikemukakan oleh John Stuart Mill. Menurut teori ini tinggi upah
tergantung kepada permintaan dan penawaran tenaga kerja. Sedangkan penawaran tenaga
kerja tergantung pada jumlah dana upah yaitu jumlah modal yang disediakan perusahaan
untuk pembayaran upah. Peningkatan jumlah penduduk akan mendorong tingkat upah yang
cenderung turun, karena tidak sebanding antara jumlah tenaga kerja dengan penawaran
tenaga kerja.
Menurut kaum Utopis (kaum yang memiliki idealis masyarakat yang ideal) tindakan para
pengusaha yang memberikan upah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum,
merupakan suatu tindakan yang tidak “etis”. Oleh karena itu sebaiknya para pengusaha
selain dapat memberikan upah yang layak kepada pekerja dan keluarganya, juga harus
memberikan tunjangan keluarga. Pendapatan adalah nilai maksimal yang dapat dikonsumsi
oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir
periode seperti keadaan semula, pendapatan merupakanbalas jasa yang diberikan kepada
pekerja atau buruh yang punya majikan tapi tidak tetap.
Amstrong, M., dan Murlis, H. 1994. Pedoman Praktis Sistem Penggajian. Jakarta: PT.
Pustaka Binaman Pressindo.
[Link]
[Link]
SURYANA/FILE_19.pdf
[Link]
[Link]
Malayu, Hasibuan. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusi, Edisi Revisi. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
Mathis, Robert L ; Jackson, John H, ( 2004 ), Human Resources Management
Mondy, R.W., 2008, Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Kesepuluh (terjemahan),
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Mutiara S. Panggabean, ( 2002 ), manajemen Sumber Daya manusia
Nickson, Dennis. 2007. Human Resources Management for The Hspitality and Tourism
Industries. Elsevier. Burlington.
Ryllatt, Alastair, [Link], 1995. Creating Training Miracles. AIM. Australia.
Schuler, R.S. & Jackson, S.E., 2006, Human Resource Management, International