Laporan Praktikum Kimia Dasar
SIFAT-SIFAT UNSUR
REISHI SKOLASTIKA CINTESAFERLA
H031201049
KELOMPOK VI
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2023
LEMBAR PENGESAHAN
SIFAT-SIFAT UNSUR
Disusun dan diajukan oleh:
REISHI SKOLASTIKA CINTESAFERLA
H031201049
Diperiksa dan disetujui oleh:
Makassar, 19 Oktober 2023
Asisten, Praktikan,
WILDAN MUBARAQ, [Link]. REISHI S. CINTESAFERLA
NIM: H031201049
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada akhir abad ke-18, Lavoisier membuat daftar 23 unsur-unsur
yang diketahui pada saat itu. Pada tahun 1870, telah diketahui 65 unsur.
Pada tahun 1925 telah diketahui 88 unsur. Terakhir diketahui ada 118 unsur.
Pada pertengahan abad ke-19, banyak sekali informasi mengenai reaksi, sifat dan
massa atom unsur telah akumulasi. Beberapa peneliti mencatat pengulangan
secara berkala, pola, dan rencana perilaku disarankan mengatur unsur menurut
aturan dasar (Hidayanti, 2021).
Pada tahun 1871, ahli kimia Rusia Dmitri Mendeleev (1836-1907)
menerbitkan bagan organisasi yang paling sukses yaitu serangkaian unsur yang
terdaftar dengan meningkatkan massa atom dan diatur sesuai kesamaan sifat
kimianya dalam kolom yang sama. Tabel periodik unsur modern, berdasarkan
versi Mendeleev (tetapi disusun berdasarkan nomor atom, bukan massa) adalah
diagram klasifikasi hebat dalam sains dan alat yang sangat berguna penting bagi
ahli kimia dan mahasiswa kimia (Hidayanti, 2021).
Oleh karena itu, penting bagi para praktikan untuk mengetahui
dan memahami hal-hal/informasi mengenai suatu unsur. Informasi
mengenai suatu unsur berupa sifat, kereaktifan, dan kelarutan dari suatu
unsur kimia. Pengetahuan mengenai sifat-sifat unsur, keraktifannya, dan
kelarutan senyawanya akan menghindarkan diri praktikan dari potensi bahaya
yang dapat timbul.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan memahami sifat-
sifat unsur, kereaktifan suatu unsur, kelarutan garam sulfat, dan kelarutan garam
hidroksida dari beberapa unsur logam alkali (IA) dan juga beberapa unsur logam
alkali tanah (IIA).
1.2.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan kali ini adalah sebagai berikut:
1. mengetahui kereaktifan logam Li, Na, Mg, dan Ca terhadap akuades,
2. mengetahui kelarutan garam sulfat dari larutan MgCl 2, CaCl2, SrCl2, dan
BaCl2,
3. mengetahui kelarutan garam sulfat dari larutan MgCl 2, CaCl2, SrCl2, dan
BaCl2.
1.3 Prinsip Percobaan
Prinsip pada percobaan ini adalah mereaksikan logam alkali dan alkali
tanah dengan air dan kemudian dipanaskan. Jika logam tidak bereaksi saat
dicampur, maka akan dilakukan pemanasan. Kemudian menambahkan indikator
PP (phenolptalein) yang ditandai dengan perubahan warna dan mereaksikan alkali
dan alkali tanah dengan asam sulfat dan natrium hidroksida, kemudian mengamati
reaksi yang terjadi berupa endapan yang terbentu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Logam Alkali
Logam alkali memiliki energi resonansi yang rendah dan memiliki
kecenderungan kuat untuk menyumbangkan elektron valensi tunggal, cukup
reaktif sehingga jarang ditemukan secara luas di rumah-rumah. Logam alkali
dapat bereaksi dengan air membentuk logam alkali hidroksida yang melepaskan
gas hidrogen, dapat membentuk oksida, peroksida, dan bahkan superoksida, yang
semuanya menghilangkan kilau logam. Selain litium yang hanya dapat
membentuk oksida, logam alkali lainnya juga dapat membentuk peroksida dan
untuk K, Rb, dan Cs juga dapat membentuk superoksida logam alkali, yaitu
reaktivitas logam alkali dengan oksigen secara bertahap meningkat dari atas ke
bawah dalam satu golongan (Usman dkk., 2011).
Salah satu perbedaan sifat oksida logam disebabkan oleh kekuatan ikatan
antara kation dan anion penyusunnya, karena semua oksida, peroksida,
dan superoksida merupakan ikatan ionik. Misalnya, stabilitas litium oksida
lebih besar dan bentuk superoksida sangat tidak stabil, sehingga litium peroksida
sulit ditemukan stabil dan ada di alam. Demikian pula logam alkali lainnya,
khususnya natrium, dapat membentuk oksida dan peroksida, bahkan K, Rb,
dan Cs, selain membentuk oksida dan peroksida, juga dapat membentuk
superoksida karena kestabilannya. Peroksida logam alkali juga dapat
bereaksi dengan gas CO membentuk karbonat dan melepaskan gas oksigen.
Logam alkali juga dapat bereaksi dengan asam membentuk garam
dan gas hidrogen (Usman dkk., 2011).
2.2 Logam Alkali Tanah
Logam alkali mewakili kelas bahan yang sangat menarik dalam hal
struktur kimianya karena terdiri dari struktur talium yang fleksibel bergantung
pada jumlah logam alkali yang terlibat, yang setara dengan konsentrasi
elektron valensi (Schwinghammer dkk., 2021). Logam alkali tanah pertama kali
dimurnikan pada abad ke-19. Golongan ini merupakan kumpulan logam reaktif
yang ditemukan sebagai senyawa pada mineral umum di kerak bumi. Sebagian
besar mineral ini, yang sebelumnya dikenal sebagai "bumi" adalah produk alkali
sehingga dari sinilah kelompok ini mendapatkan namanya (Jackson, 2017).
Logam alkali tanah adalah enam unsur kimia dalam golongan 2 dalam
tabel periodik yaitu berilium (Be), magnesium (Mg), kalsium (Ca), strontium (Sr),
barium (Ba) dan radium (Ra) yang memiliki sifat yang sangat mirip. Semuanya
merupakan logam standar dengan warna putih keperakan mengkilat dan sedikit
reaktif terhadap suhu dan tekanan (Badoni dan Purohit, 2015). Unsur ini berperan
dalam berbagai metabolisme enzim dalam tanaman. Kekurangan akan unsur
tersebut akan memunculkan tanda-tanda defisiensi dan pengurangan produksi
tanaman. Keberadaan unsur ini dalam tanah berasal dari mineral penyusun tanah.
Keberadaan unsur ini dalam tanah selain memenuhi kebutuhan tanaman juga
mempengaruhi keberadaan unsur lainnya terutama unsur hara mikro
(Rusmanta dkk., 2018).
Air alkali adalah air yang bersifat basa atau mempunyai pH lebih
besar dari 7. Air alkal terionisasi (AAT) adalah air dengan potensi redoks yang
tinggi. yaitu antioksidan yang baik karena nilai ORP (Pengurangan Oksidasi
Energi potensial) sangat negatif dan terdapat molekul air pada gugus positif lebih
kecil dari air biasa. Air alkali terionisasi dapat mencegah keasaman dalam tubuh
kita dan menjadikan tubuh kita lingkungan basa (Sukohar dan Catur, 2016).
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reaktivitas Unsur
Alkali adalah unsur logam yang sangat reaktif. Gugus alkali terdapat pada
golongan IA sistem periodik. Gugus alkali mempunyai 1 elektron valensi yaitu
konfigurasi 1s1, sehingga gugus alkali ini merupakan unsur blok s. Untuk
mencapai konfigurasi oktet, gugus alkali melepaskan elektron valensinya,
membentuk ion dengan muatan 1+. Hal ini menunjukkan bahwa gugus alkali
bersifat elektrofilik dan merupakan zat pereduksi (Sunarti, 2016).
Dimasukkannya elektron terluar dalam ikatan bersama dengan
energi ionisasi sekunder yang sangat tinggi dari logam alkali menjelaskan
tingginya reaktivitas kimia unsur dan fakta bahwa jumlah oksigen dalam senyawa
tidak pernah melebihi 1. Logam-logam ini memiliki kilau yang tinggi ketika baru
dipotong, tetapi cepat ternoda di udara karena bereaksi dengan O 2 dan
kelembapan. Reaksi dengan halogen sangat kuat, bahkan ada beberapa kasus
meledak. Semua logam alkali bereaksi dengan hidrogen dan donor proton seperti
alkohol, gas amonia dan bahkan alkuna. Logam alkali juga bertindak sebagai zat
pereduksi terhadap banyak oksida dan halida, sehingga dapat digunakan untuk
membuat banyak unsur logam atau paduannya (Greenwood dan Earnshaw, 1984).
Ukuran litium yang kecil sering kali memberikan sifat khusus pada
senyawanya, dan oleh karena itu unsur ini kadang-kadang disebut "luar biasa".
Misalnya, Li bercampur dengan Na hanya di atas 380 o C dan tidak bercampur
dengan lelehan K. Rb, dan Cs, sedangkan semua pasangan logam alkali lainnya
dapat larut dalam semua perbandingan (Greenwood dan Earnshaw, 1984).
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.2 Bahan Percobaan
Bahan-bahan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah logam Li, Mg,
Ca, dan Na, larutan H 2SO4 dan larutan NaOH 0,5 M, CaCl 2, BaCl2, SrCl2,
dan MgCl2 0,5 M, indikator PP , akuades, tisu, dan sabun.
3.2 Alat Percobaan
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah rak tabung,
tabung reaksi, pipet tetes, cawan petri, kertas saring, labu semprot, gegep kayu,
sikat tabung, kawat kasa, kaki tiga, dan bunsen.
3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Kereaktifan Unsur
Disiapkan 2 tabung reaksi lalu isi setiap tabung dengan akuades sebanyak
2 mL. Tabung reaksi (1) diisi dengan logam Mg dan tabung (2) diisi
dengan logam Ca. Diamati perubahan yang terjadi, jika tidak terjadi perubahan,
panaskan tabung hingga terjadi reaksi. Terjadinya reaksi ditandai dengan
adanya gelembung-gelembung gas. Kemudian diteteskan indikator PP ke setiap
tabung reaksi dan diamati perubahan warna yang terjadi. Disiapkan 2 kertas saring
dan cawan petri lalu isi setiap cawan petri dengan akuades kemudian diratakan.
Selanjutnya diletakkan kertas saring di atas cawan petri. Kemudian ditambahkan
logam Na pada cawan petri (1) dan logam Li pada cawan petri (2).
Ditunggu beberapa saat dan diamati perubahan yang terjadi. Ditambahkan
indikator PP dan diamati perubahan warna yang terjadi.
3.3.2 Kelarutan Garam Sulfat
Disiapkan 4 tabung reaksi. Tabung (1) diisi dengan larutan Mgcl 2,
tabung (2) diisi dengan larutan CaCl2, tabung (3) diisi dengan larutan SrCl2,
dan tabung (4) diisi dengan larutan BaCl2. Ditambahkan larutan H2SO4 0,5 M
pada masing-masing tabung reaksi dan diamati perubahan yang terjadi.
3.3.3 Kelarutan Garam Hidroksida
Disiapkan 4 tabung reaksi. Tabung reaksi (1) diisi dengan larutan MgCl 2,
tabung (2) diisi dengan larutan CaCl2, tabung (3) diisi dengan larutan SrCl2,
tabung (4) diisi dengan larutan BaCl2. Ditambahkan larutan NaOH 0,5 M
pada masing-masing tabung reaksi dan diamati perubahan yang terjadi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pengamatan Reaktifitas Unsur
Unsu Ditambah aquades Dipanaskan Ditambah
r phenolptalin (PP)
Li Percikan dan asap - Ungu
Na Percikap, asap, api dan
- Ungu pekat
ledakan kecil
Mg Terbentuk sedikit
- Ungu
gelembung
Ca Terbentuk sedikit Terbentuk banyak
Ungu pekat
gelembung gelembung
Tabel 2. Pengamatan Kelarutan Garam Sulfat
Larutan Ditambahkan H2SO4 0,5 M Keterangan
MgCl2 0,5 M Tidak berwarna -
CaCl2 0,5 M Endapan putih +
SrCl2 0,5 M Endapan putih +++
BaCl2 0,5 M Endapan putih ++
Keterangan:
- = tidak terbentuk endapan
+ = terbentuk sedikit endapan
++ = terbentuk endapan
+++ = terbentuk banyak endapan
Tabel 3. Pengamatan Kelarutan Garam Hidroksida
Larutan Ditambahkan NaOH 0,5 M Keterangan
MgCl2 0,5 M Endapan putih ++++
CaCl2 0,5 M Endapan putih +++
SrCl2 0,5 M Endapan putih ++
BaCl2 0,5 M Endapan putih +
Keterangan:
+ = terbentuk sedikit endapan
++ = terbentuk endapan
+++ = terbentuk banyak endapan
++++ = terbentuk banyak sekali endapan
4.2 Reaksi
4.2.1 Kereaktifan Unsur
2Li + 2H2O 2LiOH + 2H2
2Na + 2H2O 2NaOH + 2H2
Mg + 2H2O Mg(OH)2 + 2H2
Ca + 2H2O Ca(OH)2 + 2H2
4.2.2 Kelarutan Garam Sulfat
MgCl2 + H2SO4 MgSO4 + 2HCl
CaCl2 + H2SO4 CaSO4 + 2HCl
SrCl2 + H2SO4 SrSO4 + 2HCl
BaCl2 + H2SO4 BaSO4 + 2HCl
4.3.3 Kelarutan Garam Hidroksida
MgCl2 + 2NaOH Mg(OH)2 + 2NaCl
CaCl2 + 2NaOH Ca(OH)2 + 2NaCl
SrCl2 + 2NaOH Sr(OH)2 + 2NaCl
BaCl2 + 2NaOH Ba(OH)2 + 2NaCl
4.3 Pembahasan
Percobaan sifat-sifat unsur dilakukan 3 macam prosedur. Prosedur pertama
bertujuan untuk mengetahui kereaktifan logam pada logam alkali dan alkali tanah
dengan menggunakan logam Li, Na, Mg, dan Ca. Pada hasil prosedur ini
didapatkan bahwa urutan unsur yang memiliki kereaktifan paling rendah ke tinggi
yaitu Mg, Ca, Li, dan Na. Berdasarkan literatur, kereaktifan unsur dapat
dilihat dari energi ionisasinya. Makin rendah energi ionisasi suatu unsur
maka makin mudah melepaskan elektron terluarnya sehingga kecenderungan
untuk membentuk senyawa ion semakin besar, dimana dalam satu golongan,
dari nomor atom yang paling kecil ke nomor atom yang paling besar itu
semakin reaktif dan dalam satu periode, dari elektron valensi yang paling besar
sampai yang paling kecil itulah yang semakin reaktif. Hasil dari prosedur ini
sesuai dengan teori. Secara teori, urutan kerekatifan unsur dari yang paling rendah
ke tinggi yaitu Mg< Ca< Li< Na. Fungsi indikator PP pada percobaan ini
adalah untuk mengetahui apakah reaksi logam dengan air menghasilkan suatu
larutan basa atau tidak. Setelah ditambahkan larutan indikator PP, larutan dalam
cawan petri dan tabung reaksi berubah menjadi ungu. Hal ini membuktikan
bahwa logam Mg, Ca, Li, dan Na ketika bereaksi dengan air menghasilkan
larutan yang bersifat basa.
Prosedur kedua bertujuan untuk mengetahui kelarutan garam sulfat pada
unsur alkali tanah. Pada prosedur ini didapatkan bahwa kelarutan garam sulfat
dari terkecil sampai terbesar yang dilihat dari endapan yang terbentuk
yaitu MgCl2, CaCl2, BaCl2, dan SrCl2. Berdasarkan literatur, kelarutan garam
sulfat unsur alkali tanah jika dilihat dari nilai Kspnya dalam satu golongan,
dari nomor atom yang paling kecil ke nomor atom yang paling besar itu
semakin sukar larut sehingga membentuk endapan. Hasil ini tidak sesuai
dengan teori. Secara teori, urutan kelarutan garam sulfat dari terkecil
sampai terbesar yaitu MgCl2< CaCl2< SrCl2< BaCl2. Ketidaksesuain terdapat pada
2 hasil yang terakhir yaitu SrCl2 dan BaCl2., Hal ini kemungkinan dapat
dipengaruhi oleh perbedaan jumlah larutan H 2SO4 0,5 M yang dipipet
dalam tabung reaksi.
Prosedur ketiga bertujuan untuk mengetahui kelarutan garam hidroksida
pada unsur alkali tanah. Pada hasil prosedur ini didapatkan bahwa kelarutam
garam hidroksida dari terkecil sampai terbesar yang dilihat dari endapan
yang terbentuk yaitu MgCl2, CaCl2, SrCl2, dan BaCl2. Berdasarkan literatur,
senyawa alkali tanah sukar larut dalam air. Jika kelarutan suatu zat semakin besar,
berarti semakin banyak zat tersebut yang larut dan kemungkinan terionisasi
juga semakin besar. Semakin banyak ion OH - yang dihasilkan, berarti sifat basa
semakin kuat. Sifat kelarutan garam hidroksida dari logam alkali tanah
berkebalikan dengan sifat kelarutan garam sulfatnya. Jika dilihat dari nilai
Kspnya dalam satu golongan, dari nomor atom yang paling kecil ke nomor atom
yang paling besar itu semakin mudah larut. Secara teori, urutan kelarutan garam
hidroksida dari terkecil sampai terbesar yaitu BaCl2< SrCl2< CaCl2< MgCl2.
Hasil dari prosedur ini sudah sesuai dengan teori.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini, yaitu:
1. urutan kereaktifan unsur dari kereaktifan rendah ke kereaktifan tinggi adalah
Mg< Ca< Li< Na.
2. urutan senyawa dengan kelarutan garam sulfat dari yang terkecil hingga
kelarutan yang terbesar adalah MgCl2< CaCl2< BaCl2< SrCl2.
3. urutan senyawa dengan kelarutan garam hidroksida dari yang terkecil hingga
kelarutan yang yang terbesar adalah BaCl2< SrCl2< CaCl2< MgCl2.
5.2 Saran
5.2.1 Saran untuk Laboratorium
Sebaiknya alat untuk percobaan ditambah agar saat kegiatan praktikum
dapat berjalan dengan lancar dan cepat, karena selama praktikum berjalan
praktikan harus bolak-balik mencuci alat karena kurangnya alat yang diberikan.
5.2.2 Saran untuk Asisten
Asisten sudah melakukan tugasnya dengan baik, terutama
mempertahankan sifat ramah kepada praktikan dan penjelasan yang diberikan
mengenai materi cukup mudah untuk dipahami.
DAFTAR PUSTAKA
Badoni, B., dan Purohit, K., 2015, Electronic Structure Problem of Alkaline Earth
Metals, International Journal of Scientific Research and Management
(IJSRM), 5(1): 6165-6172.
Greenwood, N.N. dan Earnshaw A., 1984, Chemistry of the Elements, University
of Leeds, U.K.
Hidayanti, F., 2021, Kimia Dasar: Konsep Materi, LP_UNAS, Jakarta Selatan.
Jackson, T., 2017, The Periodic Table Book a Visual Encyclopedia of the
Elements, A Penguin Random House Company, Great Britian.
Rusmanta, Y., Asmuruf, F.A., dan Aud, L., 2018, Pengaruh Perladangan
Tradisional Terhadap Ketersediaan Unsur - Unsur Hara (Na, K, Ca, dan
Mg) dalam Tanah di Kampung Wananuk Distrik Yalengga Kabupaten
Jayawijaya, AVOGADRO Jurnal Kimia, 2(1): 10-14
Schwinghammer, V.F., Tiefenthaler, S.M. dan Gartner S., 2021, The Role of
Different Alkali Metals in the A15TI27 Type Structure and the Synthesis and
X-ray Structure Analysis of a New Substutional Variant Cs 14.53TI28.4,
Materials, 14(1): 1-13.
Sukohar, A. dan Catur, M.M.S.P., 2016, Air Alkali Terionisasi Pencegahan
Termutakhir Timbulnya Kanker, Majority, 5(2): 74-80.
Sunarti, 2016, Variasi Konsentrasi Alkali dalam Produkai Asam Oksalat (H 2C2O4)
dari Limbah Kertas dengan Peleburan Alkali, Fakultas Sains dan
Teknologi, UIN Alauddin, Makassar.
Usman, H., Sjahrul, M., Soekamto, N.H., Wahab, A.W., Ahmad, A., Nafie N.L.,
Taba, P., Raya, I., Firdaus, Maming, Liong, S., Natsir, H., Dali, S.,
Zakir, M., Arifin, R., Karim, A., Arfah, R., Bahar, R., Salama, D.,
Arief, A., Kasim, A.H., Kasim, S., Fausiah, S., Umar, N.U.P., Basir, D.N.,
Hala, Y., Ramang, M.L., dan Abdullah, A., 2011, Kimia Dasar,
Unit Pelaksanaan Teknis, Mata Kuliah Umum, Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Lampiran 1. Bagan Kerja
1. Reaktifitas Unsur
Logam Mg
- Dimasukkan logam Mg ke dalam tabung reaksi yang
berisi akuades
- Diamati reaksi yang terjadi.
- Dipanaskan tabung reaksi, jika tidak terjadi reaksi
hingga terjadi reaksi (muncul gelembung udara).
- Diteteskan indikator PP.
- Diamati perubahan warnanya
Hasil
Catatan: Dilakukan hal yang sama dengan menggunakan logam Ca.
Logam Li
- Dimasukkan kertas saring ke dalam cawan petri yang
berisi akuades
- Diletakkan logam Li di atas kertas saring pada cawan
petri berisi akuades.
- Diamati reaksi yang terjadi
- Diteteskan indikator PP.
- Diamati perubahan warnanya
Hasil
Catatan: Dilakukan hal yang sama dengan menggunakan logam Na
2. Kelarutan Garam Sulfat
1 mL MgCl2 0,5 M
0MMKP[OMMm
Dimasukkan MgCl2 ke dalam tabung reaksi.
Ditambahkan H2SO4 0,5 M.
Diamati endapan yang terbentuk pada tabung..
Hasil
Catatan: Dilakukan hal yang sama dengan menggunakan CaCl2, SrCl2 dan BaCl2
3. Kelarutan Garam Sulfat
1 mL MgCl2 0,5 M
0MMKP[OMMm
Dimasukkan MgCl2 ke dalam tabung reaksi.
Ditambahkan NaOH 0,5 M.
Diamati endapan yang terbentuk pada tabung..
Hasil
Catatan: Dilakukan hal yang sama dengan menggunakan CaCl2, SrCl2 dan BaCl2
Lampiran 2. Foto Percobaan
A. Reaktivitas Unsur
Gambar 1. Gambar 2.
Reaksi Li dengan Akuades Setelah Penambahan Indikator PP
Gambar 3. Gambar 4.
Reaksi Na dengan Akuades Setelah Penambahan Indikator PP
B. Pengendapan Garam Sulfat
Gambar 5.
Reaksi MgCl2, CaCl2, BaCl2 dan SrCl2 Setelah Penambahan H2SO4
C. Pengendapan Garam Hidroksida
Gambar 6.
Reaksi MgCl2, CaCl2, SrCl2, dan BaCl2 Setelah Penambahan NaOH