Dr. Benny badaru, M.
pd
MAKALAH THERMOTHERAPY
Disusun oleh:
Asril aspa
(210301551226)
Achmad Adriansyah
(210301552013
Muh. Agung anugrah
(210301552015)
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
TAHUN AJARAN 2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga
kamidapat menyelesaikan tugas ini. kami ucapkan terima kasih kepada Dr. Benny badaru,
[Link] serta tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian tugas ini.
kami berharap semoga tugas ini bisa bemanfaat dan bisa menambah pengetahuan
serta pengalaman untuk para pembaca. kami yakin masih banyak kekurangan dalam
penyusunan makalah ini karena terbatasnya pengetahuan dan pengalaman kami, untuk itu
kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
Makassar, 26 Maret 2023
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................................2
DAFTAR ISI.............................................................................................................................3
BAB I.........................................................................................................................................4
PENDAHULUAN.....................................................................................................................4
1.1. Latar Belakang..........................................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah.....................................................................................................4
1.3. Tujuan........................................................................................................................4
BAB II.......................................................................................................................................5
PEMBAHASAN.......................................................................................................................5
2.1. Pengertian dan Ruang Lingkup...............................................................................5
2.2. Efek Fisiologi Termoterapi.......................................................................................5
2.3. Indikasi Termoterapi................................................................................................6
2.4. Jenis Aplikasi Termoterapi......................................................................................7
2.5. Resiko Termoterapi...................................................................................................9
BAB III....................................................................................................................................11
PENUTUP...............................................................................................................................11
3.1. Kesimpulan..............................................................................................................11
3.2. Saran.........................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Olahraga dalam peradaban modern sekarang ini merupakan aktivitas fisik yang
memiliki banyak manfaat terhadap kehidupan manusia, antara lain untuk
kesehatan,pendidikan, rekreasi dan prestasi. Pengertian olahraga menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia yang di kembangkan oleh Setiawan (2012) adalah gerak badan untuk
menguatkan dan menyehatkan tubuhTetapi tidak sedikit orang yang melakukan aktivitas
olahraga mengalami cedera akibat kecelakaan. Cedera Olahraga dapat mengenai semua
bagian tubuh, terutama daerah yang memiliki fungsi gerak atau menjadi tumpuan selama
beraktivitas, yang ditandai dengan adanya gejala nyeri, bengkak, memar, lecet, teriris, dan
patah pada tulang.
Penyebab cedera dalam aktivitas berolahraga disebabkan oleh factor internal seperti
cara latihan yang kurang tepat, kurangnya peregangan terhadap otot tertentu sebagai
penggerak utama, kekuatan yang begitu rendah, pemanasan dan pendinginan yang tidak
tepat cenderung akan berakibat kepada keluhan rasa nyeri yang aka terasa 24- 48 jam
latihan. Sedangkan yang bersifat eksternal dapat disebabkan karena pemasangan alat yang
tidak tepat, kondisi alat yang tidak layak pakai, perlengkapan latihan yang tidak sesuai,
lingkungan latihan yang tidak aman untuk kegiatan maupun dari karakteristik cabang
olahraga itu sendiri (Sayuti Syahara, 2004: 64).
Cedera olahraga paling ringan berupa nyeri atau keluhan lelah dan lesu
berkepanjangan yang paling parah berupa hilangnya fungsi gerak karena cedera otot atau
patah tulang. Jika kondisi itu tidak ditangani dengan tepat, tentu dapat mengganggu
aktivitas kehidupan dan kesehatan secara umum. Dalam pelaksanaan rehabilitasi untuk
cedera olahraga telah tersedia suatu layanan berupa terapi yang dapat membantu
olahragawan saat mengalami cedera akibat melakukan aktivitas olahraga.
[Link] Masalah
1. Apa pengertian dan ruang lingkup termoterapi ?
2. Apa saja efek fisiologi termoterapi ?
3. Apa saja indikasi termoterapi ?
4. Apa saja jenis aplikasi termoterapi ?
5. Apa saja resiko termoterapi ?
[Link]
1. Untuk mengetahui dan memahami Pengertian dan ruang lingkup termoterapi
2. Untuk mengetahui dan memahami efek fisiologi termoterapi
3. Untuk mengetahui dan memahami indikasi termoterapi
4. Untuk mengetahui dan memahami jenis aplikasi termoterapi
5. Untuk mengetahui dan memahami resiko termoterapi
BAB II
PEMBAHASA
2.1. Pengertian dan Ruang Lingkup
Thermotherapy merupakan pemberian aplikasi panas pada tubuh untuk mengurangi
gejala nyeri akut maupun kronis. Terapi ini efektif untuk mengurangi nyeri yang
berhubungan dengan ketegangan otot walaupun dapat juga dipergunakan untuk
mengatasi berbagai jenis nyeri yang lain. Panas pada fisioterapi dipergunakan untuk
meningkatkan aliran darah kulit dengan jalan melebarkan pembuluh darah yang dapat
meningkatkan suplai oksigen dan nutrisi pada jaringan. Panas juga meningkatkan
elastisitas otot sehingga mengurangi kekakuan otot.
Thermotherapy sering dipergunakan pada fase kronis cedera, sedangkan cryotherapy
(coldtherapy) digunakan pada fase akut cedera untuk mengurangi reaksi peradangan
sebelum thermotherapy dilakukan untuk meningkatkan aliran darah pada daerah tersebut.
Atas dasar ini thermotherapy baru dilakukan setelah beberapa hari paska cedera.
Thermotherapy sering dikombinasikan dengan air (hydrotherapy). Selain didapat dengan
pemanasan air, terdapat pula beberapa alat-alat listrik yang dapat dipergunakan untuk
menghasilkan panas. Terapi panas tidak diperkenankan pada beberapa kondisi seperti
orang dengan gangguan syaraf tepi (misalnya akibat dari neuropati) karena dapat
meningkatkan resiko terjadinya kerusakan kulit.
2.2. Efek Fisiologi Termoterapi
Bentuk thermotherapy yang dapat dilakukan adalah panas kering, panas lembab
(gabungan dengan hydrotherapy), panas yang ditujukan pada lapisan luar tubuh
(superfisial heat) dan panas yang ditujukan pada lapisan dalam tubuh (deep heat). Kerja
thermotherapy pada dasarnya adalah meningkatkan aktivitas molekuler (sel) dengan
metode pengaliran energi melalaui konduksi(pengaliran lewat medium padat), konveksi
(pengaliran lewat medium cair atau gas), konversi (penguibahan bentuk energi) dan
radiasi (pemancaran energi). Pemancaran respon tubuh tergantung pada jenis panas,
intensitas panas, lama pemperian panas, dan respon jaringan terhadap panas. Pada
dasarnya setelah panas terabsorbsi pada jaringan tubuh, panas akan disebarkan ke daerah
sekitar. Supaya tujuan terapetik dapat tercapai jumlah energi panas yang diberikan harus
disesuaikan untuk menghindari resiko kerusakan jaringan.
Efek terapetik thermotherapy antara lain meliputi: meningkatkan elastisitas jaringan
kolagen, mengurangi kekakuan sensdi, mengurangi nyeri, mengurangi ketegangan otot,
mengurangi edema/pembengkakan pada fase kronis dan meningkatkan aliran darah.
Panas dapat meningkatkan elastisitas jaringan kolagen dengan jalan meningkatkan aliran
viskositas matrik dan serat kolagen. Peningkatan elastisitas jaringan dapat ditingkatkan
dengan kombinasi latihan penguluran. Sebagai contoh: fibrosis otot dapat diperbaiki
dengan kombinasi terapi panas dan latihan penguluran. Panas dapat mengurangi nyeri
lewat mekanisme gate control dimana sensasi panas yang diteruskan lewat serabut C
mengaburkan persepsi nyeri yang diteruskan oleh serabut A∆ atau melalui peningkatan
sekresi endorphin. Kekakuan otot yang disebabkan oleh ischemia dapat diperbaiki
dengan jalan meningkatkan aliran darah pada area radang. Panas pada fase kronis bekerja
melalui beberapa mekanisme yakni : meningkatnya suhu, meningkatnya metabolisme,
berkurangnya level pH, meningkatnya permeabilitas kapiler, pelepasan histamin dan
bradikinin yang mengakibatkan vasodilatasi.
Tabel 1. Efek Fisiologis Tubuh pada Terapi Panas
Variabel Efek
Spasme otot Menurun
Persepsi Nyeri Menurun
Aliran Darah Meningkat
Kecepatan Metabolisme Meningkat
Elastisitas kolagen Meningkat
Kekakuan sendi Menurun
Permeabilitas kapiler Meningkat
Pembengkakan Meningkat
2.3. Indikasi Termoterapi
Thermotherapy dapat dipergunakan untuk mengatasi berbagai keadaan seperti:
a. Kekakuan Otot.
b. Arthritis (Radang Persendian). Jenis arthritis yang dapat mengalami perbaikan
dengan mempergunakan thermotherapy meliputi : Osteoarthritis,Rheumatoid
arthritis, Juvenile arthritis, Juvenile rheumatoid arthritis. Ankylosing spondylitis,
Gout, Psoriatic arthritis dan Reiter’s syndrome
c. Hernia discus intervertebra Pada keadaan ini isi dari diskus intervertebralis keluar
dari tempatbya karena tekanan kronis maupun akut dan menjepit syaraf spinalis.
Sebagian besar kasus hernia ini dicetuskan oleh kekakuan otot, oleh karenanya
keadaan ini dapat diperbaiki dengan thermotherapy.
d. Nyeri bahu Nyeri bahu yang sering terjadi adalah rotator cuff. Rotator cuff
disusun oleh otot dan tendon yang menhubungkan humerus dengan scapula.
Tendon pada rotator cuff biasanya kuat akan tetapi dapat mengalami radang dan
sobek pada penggunaan yang berlebihan. Cedera rotator cuff dan gejala bahu beku
dapat diperbaiki dengan thermotherapy.
e. Tendinitis (radang tendo)
f. Bursitis (radang bursa)
g. Sprain ( robekan ligamen sendi)
h. Strain ( robekan otot)
i. Nyeri pada mata yang diakibatkan oleh peradangan kelopak mata (blepharitis).
j. Gangguan sendi temporo mandibular.
k. Dada yang disebabkan oleh nyeri pada tulang rususk (costochondritis).
l. Nyeri perut dan pelvis.
m. Fibromyalgia dengan gejala nyeri otot, kekakuan, kelelahan dan gangguan tidur.
n. Gangguan nyeri kronis seperti pada lupus dan nyeri myofascial.
2.4. Jenis Aplikasi Termoterapi
Terdapat beberapa jenis thermotherapy. Beberapa diantaranya adalah :
a. Krim panas
Krim panas dapat meredakan nyeri otot ringan. Walaupun demikian krim tidak
dapat menembus otot sehingga kurang efektif dalam mengatasi nyeri otot.
b. Bantal pemanas (Heat Pad)
Bantal yang dipergunakan berupa kain yang berisi silika gel yang dapat
dipanaskan. Biasanya, bantal panas dipergunakan untuk mengurangi nyeri otot
pada leher, tulang belakang dan kaki. Bantal pemanas juga dipergunakan untuk
menangani kekakuan/spasme otot, inflamasi pada tendo dan bursa. Beberapa
variasi dari teknik ini meliputi terapi dengan mempergunakan botol panas atau
kompres elektris hangat.
c. Kantung Panas (Heat Pack)
Kantung panas yang terdapat di pasaran sering disebut sebagai kantung
hydrocollator dan berisi silika gel yang dapat direndam pada air panas. Kantung
panas tersebut kemudian dilapisi dengan kantung pengaman kemudian
diaplikasikan selama 15 sampai 20 menit. Kantong ini diindikasikan untuk
mendapatkan relaksasi tubuh secara umum dan mengurangi siklus nyeri-spasme-
iskemi-hipoksia. Kelemahan dari teknik ini adalah teknik ini tidak dapat
menjangkau otot karena hambatan dari lapisan lemak subcutaneus yang bertindak
sebagai isolator dan reaksi vasodilatasi yang kemudian mentransfer panas ke
bagian tubuh yang [Link] yang perlu diperhatikan pada pengunaan heat pack
adalah atlet sebaiknya tidak berbaring diatas pack untuk menghindari pecahnya
pack dan luka bakar.
d. Tanki whirlpool
Terapi dengan tanki whirpool merupakan jenis kombinasi hydrotherapy,
thermotherapy dan massage. Whirpool pada dasarnya merupakan tanki yang
dilengkapi dengan motor turbin yang dapat mengatur gerakan air dalam tanki.
Kecepatan dan arah gerakan air diatur dengan banyak sedikitnya udara yang
dihembuskan ke dalam air. Turbin dapat diatur letaknya pada tanki untuk
memberikan penguatan efek pada area tubuh tertentu. Efek fisiologis yang
ditimbulkan terapi whirpool antara lain meningkatkan suhu tubuh, meningkatkan
(pelebaran pembuluh darah) dan membantu untuk melemaskan jaringan kolagen.
Terapi ini diindikasikan untuk mengurangi pembengkakan pada radang kronis,
spasme otot dan mengurangi nyeri.
Cara pemakaian tanki whirpool adalah sebagai berikut :
1. Suhu diatur sesuai dengan tabel diatas sesuai dengan fase cedera. Cedera akut
memerlukan suhu dingin sedangkan cedera kronis memerlukan suhu panas.
2. Tanki dipenuhi dengan air kemudian atlet dapat berbaring di dalam tanki
dengan posisi area yang akan diterapi berada di dekat turbin pemutar. Pada
fase akut, turbin diletakkan tidak terlalu dekat untuk menghindari timbulnya
luka. Jarak ideal antara area yang diterapi dengan turbin adalah 20 sampai 25
cm.
3. Durasi terapi pada cedera akut dimulai dari 5 menit kemudian ditingkatkan
sampai dengan maksimal 20 menit. Pada cedera kronis, durasi terapi yang
ideal adalah 20 menit.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada terapi dengan tanki whirpool adalah :
1. Pada beberapa orang, terapi ini menimbulkan pusing yang disebabkan oleh
perubahan hemodinamika aliran darah yang disebabkan oleh vasodilatasi
perifer.
2. Untuk mencegah penyebaran infeksi tanki whirpool harus dikosongkan setelah
penggunaan, dibersihkan denagan disinfektan, dibilas dan dikeringkan.
3. Aliran listrik pada whirpool harus menggunakan ground yang baik untuk
menghindari adanya konsleting listrik.
e. Parafin Bath
Teknik parafin bath merupakan teknik yang sering dipergunakan untuk terapi
bagian ujung ujung tubuh. Parafin merupakan semacam lilin cair yang tidak
berwarna yang terbuat dari hidrokarbon yang dipergunaan sebagai pelumas.
Parafin biasanya dicampur dengan minyak mineral pada bak khusus dimana
bagian tubuh yang mengalami keluhan dicelupkan di dalamnya. Bak parafin dapat
dikontrol untuk menjaga suhu parafin pada 52 sampai 54 C. Campuran parafin
dan minyak mineral adalah 25 kg parafin banding 1 L minyak mineral. Minyak
mineral ini berguna untuk menurunkan titik didih dari parafin. Terapi ini efektif
untuk mengatasi gejala arthritis terutama pada area area seperti tanagn,
pergelangan atnagn, siku, lutut dan kaki. Terapi ini dapat dilaksanakan dengan dua
cara. Cara pertama adalah dengan merendam bagian yang cedera selama 20
sampai 30 menit tanpa digerakkan kemudian bagian tersebut diangkat dan parafin
dibiarkan mengeras. Parafin yang mengeras tersebut kemudian dikerok dan
dibersihkan. Cara yang kedua adalah dengan mencelupkan bagian yang cedera ke
dalam parafin cair dan kemudian segera mengangkatnya sampai sedikit mengeras
kemudian dicelupkan kembali sebanyak 6 -12 kali sampai ketebalan lapisan lilin
mencapai 0.5 – 1 cm. Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan terapi ini
adalah antara lain area yang akan diterapi harus dalam keadaan bersih dan kering
dan terapi ini tidak boleh dilakukan pada area dengan luka terbuka.
f. Contrast Bath
Contrast bath merupakan hydrotherapy yang mengkombinasikan suhu panas dan
dingin. Biasanya digunakan untuk apliaksi pada ekstremitas. Pada pelaksanaannya
terapi ini memerlukan dua kontainer untuk penampungan air hangat (41-43 C) dan
penampungan air dingin (10 -18 C). Terapi ini diindikasikan pada fase peralihan
antara tahap akut dan kronis dimana diperlukan peningkatan suhu secara minimal
untuk meningkatkan aliran darah tapi mencegah terjadinya pembengkakan. Rasio
terapi dengan suhu panas dan dingin adalah 3 : 1 sampai 4 : 1 selama 20 menit.
Hal yang perlu diperhatikan pada pelaksanaan dengan teknik ini adalah bahwa
suhu air diupayakan konstan.
g. Terapi Ultrasound
Terapi ultrasound yang mempergunakan gelombang suara energi tinggi yang
dapat dirubah menjadi panas pada jaringan tubuh bagian dalam. Antara alat
ultrasounddan kulit diolesi jel, minyak atau air yang berfungsi sebagai penghantar
gelombang suara. Energi dihasilkan oleh kristal kuarsa yang dapat kemudian
menembus jel, menghasilkan panas pada jaringan lunak dan bahkan tulang di
bagian dalam, meningkatkan aliran darah dan metabolisme jaringan serta
meningkatkan ambang batas nyeri. Pada frekuensi 1 megahertz sampai 3
megahertz, gelombang ultra dapat menembus struktur yang lebih dalam seperti
kapsul persendian, tendon dan ligamen sehingga dapat meningkatkan jangkauan
gerak sendi. Gelombang suara ultra juga memiliki efek anti inflamasi yang kuat
serta efektif untuk mengurangi keteganagan otot yang sering mengakibatkan nyeri
punggung dan sering terjadi pada peradangan saraf (neuritis).
2.5. Resiko Termoterapi
Thermotherapy tidak boleh dilakukan pada cedera fase akut karena panas dapat
meningkatkan aliran darah dan dapat memperparah pembengkakan. Sebagai contoh
merendam lutut yang mengalami cedera akut dapat menimbulkan nyeri, memperparah
pembengkakan dan memperlama proses penyembuhan. Pada fase awal, disarankan
dilakukan terapi dengan modalitas dingin (cryotherapy) untuk mengurangi peradangan
sebelum kemudian dilakukan thermotherapy. Thermotherapy dilakukan apabilan tanda-
tanda peradangan sudah menurun. Terapi panas juga tidak boleh dilakukan pada jaringan
yang sedang dilakukan terapi radiasi atau yang mengalami kanker. Terapi ini juga tidak
boleh dilakukan pada orang dengan gangguan sensasi saraf seperti orang dengan diabetes
untuk menghindari terjadinya luka bakar. Selanjutnya terapi ini juga tidak diperkenankan
dilakukan pada wanita hamil karena dapat menimbulkan efek teratogenik (menimbulkan
kecacatan pada bayi).
Resiko lain thermotherapy meliputi :
1. Hot packs dapat meningkatkan suhu basal tubuh dan aliran darah sehingga
dapat meningkatkan resiko peradangan. Selain itu hot pack dapat
menimbulkan luka bakar.
2. Parafin dapat menimbulkan luka bakar. Terapi ini tidak boleh dilakukan pada
luka terbuka, infeksi kulit, neoplasm (pertumbuhan jaringan yang abnormal),
dan gangguan pembuluh darah.
3. Terapi ultrasound dapat menimbulkan kavitasi (rongga) pada jaringan atau
dapat pula terjadi pemanasan yang berlebihan pada periosteum (jaringan
fibrosa yang melindungi permukaan tulang). Terapi ini tidak boleh dilakukan
pada area sumsum tulang belakang. Terapi ini juga tidak boleh dilakukan pada
area perut
4. Diathermy juga meningkatkan resiko luka bakar. Gelombang mikro tidak
diperkenankan pada wanita hamil, penderita dengan pacemaker atau penderita
dengan implant elektrik.
5. Kream panas tidak boleh diberikan pada daerah dekat mata dan kulit yang
sensitif. Terapi ini tidak boleh dikombinasikan dengan terapi panas yang lain
untuk menghindari efek panas yang berlebihan karena bahan kimia yang ada
pada kream panas dapat meningkatkan aliran darah sehingga mengahmbat
respon termoregulasi sehingga dapat meningkatkan resiko luka bakar
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Thermotherapy adalah terapi dengan menggunakan panas untuk mengatasi gejala
nyeri khususnya yang berkaitan dengan ketegangan otot. Termotherapy banyak
digunakan untuk mengatasi arthritis, bursitis, tendinitis, nyeri punggung dan nyeri bahu .
Thermotherapy memperlebar pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah pada kulit .
Terapi panas dapat merileksasikan otot dan mengurangi kekakuan sendi. Penelitian juga
menunjukkan bahwa panas dapat memblok reseptor nyeri. Secara umum terapi panas
dapat dilakukan sendiri di rumah, akan tetapi beberapa jenis terapi panas memerlukan
pengawasan dan harus dilakukan di dalam klinik atau rumah sakit. Terdapat beberapa
metode untuk melakukan terapi panas meliputi Kompres hangat atau panas ,bantal
pemanas, kream panas,Parafin bath, contrast bath, dan terapi dengan ultrasound.
3.2. Saran
Kami sebagai penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran guna penyempurnaan dalam membuat makalah
dikemudian hari. Dengan membaca kita dapat menambah ilmu pengetahuan kita, jangan
pernah malas untuk membaca meski hanya satu kalimat yang berisi suatu ilmu
pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Arovah, N. I. (2010). Dasar-dasar fisioterapi pada cedera olahraga. Yogyakarta: FIK UNY.
Prasetyo, H. J. (2015). Kegunaan Terapi dan Rehabilitasi dalam Cedera Olahraga. Jurnal
Phederal Penjas, 11(2).
Sayuti Syahara (2004). Pencegahan Cedera dalam Pendidikan Jasmani dan
[Link] Nasional Pendidikan Jasmani dan Ilmu Keolahragaan, Volume [Link]
Pengembangan dan Keserasian Olahraga. Direktorat Jendral Olahraga. Departemen
Pendidikan Nasional