0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan47 halaman

Faktor Auditor Switching di Indonesia

Diunggah oleh

ratia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan47 halaman

Faktor Auditor Switching di Indonesia

Diunggah oleh

ratia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI PERUSAHAAN DI INDONESIA


MELAKUKAN AUDITOR SWITCHING

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Guna Memperoleh Gelar Sarjana
Program Studi Akuntansi Program Sarjana

Disusun oleh:
Nama Mahasiswa : Anton Prasetiyo
Nomor Induk Mahasiswa : 18310032

PROGRAM STUDI AKUNTANSI PROGRAM SARJANA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
Tahun 2023
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI PERUSAHAAN DI INDONESIA
MELAKUKAN AUDITOR SWITCHING

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Guna Memperoleh Gelar Sarjana
Program Studi Akuntansi Program Sarjana

Disusun Oleh:
Nama Mahasiswa : Anton Prasetiyo
Nomor Induk Mahasiswa : 18310032

PROGRAM STUDI AKUNTANSI PROGRAM SARJANA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
Tahun 2023

ii
HALAMAN PENGESAHAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUSAHAAN DI


INDONESIA MELAKUKAN AUDITOR SWITCHING

SKRIPSI

Untuk memenuhi salah satu syarat ujian guna memperoleh gelar Sarjana pada Program
Studi Akuntansi

Foto
Berwarna

2x3

Anton Prasetiyo
18310032

Telah diajukan tanggal : 07 Februari 2023

Menyetujui:
Pembimbing 1 Pembimbing 1I

(Khaula Luthfiati Rohmah, S.E. Akt., [Link]., CA) (Aditya Arisudhana.,S.E., Akt., [Link]., A-CPA)
NIK. 451710002 NIDN 0517039201

Mengetahui
Ketua Program Studi Akuntansi

(Andre Kussuma Adiputra, S.E., [Link])


NIK 460007002

iii
BERITA ACARA UJIAN PENDADARAN SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUSAHAAN DI


INDONESIA MELAKUKAN AUDITOR SWITCHING

Oleh :
Nama Mahasiswa
Nomor Pokok Mahasiswa (NIM)

SKRIPSI
Untuk memenuhi salah satu syarat ujian guna memperoleh gelar Sarjana pada Program
Studi Akuntansi

Telah diujikan dan disahkan oleh Dewan Penguji Skripsi pada tanggal yang tertera dibawah
ini

tanggal pengesahan skripsi

DEWAN PENGUJI SKRIPSI

Penguji : (Nama Dosen Penguji)


NIDN …….. (....................)

Pembimbing I : (Khaula Luthfiati Rohmah, S.E. Akt., [Link]., CA)


NIK. 451710002 (....................)

Pembimbing II : (Aditya Arisudhana.,S.E., Akt., [Link]., A-CPA.)


(....................)
NIDN .0517039201

Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi
Universitas Respati Yogyakarta

(Khaula Luthfiati Rohmah, S.E. Akt., [Link]., CA)


NIK. 451710002

iv
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Saya menyatakan bahwa skripsi yang saya susun sebagai syarat memperoleh gelar
sarjana Akuntansi merupakan hasil karya tulis saya sendiri. Adapun bagian-bagian
tertentu dalam penulisan skripsi ini yang saya kutip dari hasil karya orang lain
telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai norma, kaidah dan etika penulisan
ilmiah.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Universitas
Respati Yogyakarta.

Tempat dan tanggal pembuatan skripsi

Materai Rp. 10.000

Anton Prasetiyo
(NIM: 18310032 )

v
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...........................................................................................................vi
DAFTAR TABEL................................................................................................viii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................ix
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................x
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................1
1.1 Latar Belakang Penelitian........................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................4
1.3 Tujuan Penelitian.....................................................................................4
1.4 Kontribusi Penelitian...............................................................................5
1.4.1 Kontribusi Teori.............................................................................5
1.4.2 Kontribusi Praktik..........................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................6
2.1 Landasan Teori........................................................................................6
2.1.1 Peraturan Pemerintah Indonesia Tentang Pergantian wajib
Auditor.....................................................................................................6
2.1.2 Teori Mengenai Auditor switching................................................6
2.1.3 Audit Laporan Keuangan...............................................................7
2.1.4 Opini audit......................................................................................8
2.1.5 Pergantian Manajemen...................................................................8
2.1.6 Financial distres............................................................................8
2.1.7 Persentase Perubahan ROA...........................................................9
2.1.8 Ukuran KAP...................................................................................9
2.1.9 Ukuran Klien..................................................................................9
2.2 Penelitian Terdahulu..............................................................................10
2.3 Kerangka Berpiki...................................................................................11
2.4 Hipotesis................................................................................................12
2.4.1 Pengaruh Pergantian manajemen terhadap Auditor switching.....12
2.4.2 Pengaruh Opini Audit terhadap Auditor switching......................12
2.4.3 Pengaruh Financial distres terhadap Auditor switching..............13
2.4.4 Pengaruh Persentase Perubahan ROA terhadap Auditor switching
13
2.4.5 Pengaruh Ukuran KAP terhadap Auditor switching....................14
2.4.6 Pengaruh Ukuran klien terhadap Auditor switching....................14

vi
BAB III METODE PENELITIAN....................................................................15
3.1 Desain Penelitian...................................................................................15
3.2 Variabel dan Definisi Operasional........................................................15
3.3 Populasi dan Sampel..............................................................................16
3.4 Sumber dan Jenis Data..........................................................................17
3.5 Teknik Pengumpulan Data....................................................................17
3.6 Teknis Analisis Data..............................................................................17
3.6.1 Statistik Deskriptif.......................................................................18
3.6.2 Pengajuan Hipotesis.....................................................................19
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................21

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Penelitian Terdahulu.................................................................................10


Tabel 2 Variable Dan Definisi Operasional...........................................................15

viii
DAFTAR GAMBAR

ix
DAFTAR LAMPIRAN

10
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Penelitian

Pada perkembangan ekonomi dunia semakin besar telah menimbulkan

bertambahnya perusahaan yang sudah go publik yang mewajibkan untuk

mengeluarkan laporan keuangan yang dirancang berdasarkan Standar Akuntansi

Keuangan (SAK). Laporan keuangan merupakan pemberian informasi mengenai

keuangan perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab pihak manajemen

perusahaan kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan diantaranya pihak

internal dan external. Informasi dalam laporan keuangan akan jadi tolak ukur

untuk pengambilan keputusan terkait dengan perkembangan suatu perusahaan.

Dalam sebuah informasi apabila informasi tersebut di audit oleh pihak yang

berkewajiban yang memiliki sifat independen maka akan lebih baik. Untuk

menilai kewajaran dalam hasil laporan keuangan perusahaan ialah auditor kantor

akuntan publik yang memiliki sifat independen sehingga laporan keuangan akan

menjadi patokan dalam pemberitahuan laporan keuangan perusahaan (Prisna,

2020).

Kantor Akuntan Publik (KAP) mengindikasikan bahwa auditor yang

menyatakan pendapat audit atas laporan keuangan harus memiliki lisensi sebagai

akuntan publik. Untuk membedakan KAP dengan auditor internal, maka KAP

sering disebut sebagai auditor eksternal atau auditor independen (Werdhaningtyas

& Tarmidzi, 2017). Akuntan publik merupakan pihak independen yang dianggap

1
mampu menengahi benturan kepentingan antara prinsipal (pemegang saham)

dengan pihak agen, yaitu manajemen sebagai pengelola perusahaan. Sikap

independensi dimaksudkan agar auditor tidak mudah dipengaruhi (Standar

Profesinal Akuntan Publik/SPAP 2021), sehingga auditor akan melaporkan apa

yang ditemukannya selama proses pelaksanaan audit.

Akibat hubungan pekerjaan yang lama antara KAP dan klien akan muncul

keraguan terhadap independensi yang bisa menimbulkan pengaruh dari hubungan

yang terjalin antara mereka yang dapat mempengaruhi independensi KAP.

Hubungan yang terjalin antara auditor dengan klien yang lama bisa saja membuat

dampak ketergantungan untuk menciptakan hubungan kepercayaan yang kuat

pada akhirnya akan berdampak pada pendapat dan opini mereka (Yahya & Aini,

2019)

Audit tenure sebagai masa perikatan audit dilakukan untuk mencegah

Akuntan berkomunikasi lebih banyak dengan klien yang dapat membahayakan

independensi Akuntan. Salah satu kemungkinan adalah wajibnya pertukaran KAP

berdasarkan alasan teoritis, untuk memaksimalkan independensi auditor baik

dalam penampilan maupun secara fakta maka diwajibkan untuk melakukan

pertukaran auditor dan KAP (Briliyanda, Devi, & Alisa, 2019). Dalam hal ini

Indonesia menjadi salah satu negara yang menerapkan system pergantian KAP

secara wajib. Negara-negara lain banyak sekali yang menerapkan pergantian KAP

secara wajib ini melalui badan regulator negara tersebut.

Pemerintah juga1sudah 1mengeluarkan 1keputusan 1untuk 1mengatur

kewajiban pergantian KAP yang melalui Keputusan Menteri Keuangan Republik

2
Indonesia Nomor 186/PMK.01/2021 tentang pemberian jasa audit umum atas

laporan keuangan dari suatu entitas dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik

(selanjutnya disebut KAP) paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut dan

oleh seorang Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut.

Adanya peraturan mengenai pergantian KAP secara wajib di Indonesia menjadi

suatu hal yang menarik1untuk diteliti. Dibalik itu semua yang mempengaruhi

perusahaan yang ada di Indonesia untuk melakukan auditor switching apabila jika

auditor switching terjadi diluar ketentuan peraturan yang telah diberlakukan dan apa

saja pengaruh dari adanya peraturan pergantian KAP secara wajib tersebut. Menurut

(Prisna, 2020) pada penelitiannya menjelaskan dimana dalam 2 tahun secara

berturut-turut perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia sudah

melakukan auditor switching.

Terdapat regulasi yang dapat mengatur batasan periode dalam proses jasa

audit dalam fenomena tersebut sangat sering memperlihatkan pada kondisi saat

ini, klien memiliki kecenderungan jika tidak mengikuti regulasi dan akan berfokus

untuk melakukan auditor switching sebelum batas yang sudah ditentukan

(voluntary). Maka dari itu, Perusahaan melakukan auditor switching secara

voluntary dapat mengetahui apa saja faktornya bisa terjadinya fenomena ini.

Perusahaan bisa saja memberikan pengaruh untuk melakukan voluntary

auditor switching jika opini audit dapat menyimpan informasi penting bagi pihak

yang berkepentingan dan pihak lainya (Adhiputra & Astika, 2018). Bisa saja

auditor dari Kantor Akuntan Publik 1(KAP) ini memberikan suatu pandangan yang

tidak sesuai atas permintaan perusahaan, maka perusahaan klien cenderung akan

3
1menerapkan 1auditor 1switching. Bisa kita lihat dari hasil penelitian yang

dilakukan oleh (Faradhila & Yahya, 2016) dan (Djamalileli & Rahmana, 2015)

dimana proses valontary auditor switching bisa dipengaruhi oleh opini audit.

Berbeda terbalik dengan hasil penelitian dari (Prabowo & Sthepanie, 2017)

dimana voluntary auditor switching tidak bisa dipengaruhi oleh opini audit dapat

dilihat dari penelitian tersebut.

Berikut kasus-kasus terjadi pergantian auditor di Indonesia yaitu PT Tiga

Pilar Sejahtera Food Tbk tahun 2017 melakukan pergantian auditor dari auditor

Amir Abadi Jusuf, Aryanto dan Mawar menjadi Ernst & Young (EY). Pelanggran

yang dilakukan KAP Tanubrata, Susanto, Fahmi, Bambang dan Rekan

menyebabkan PT Garuda tahun 2019 melakukan pergantian auditor ke KAP

PWC. Kasus lain pada PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) yang diaudit oleh KAP

Jamaludin, Ardi, Sukimto, dan rekan tahun 2014. Tahun 2015 PT INVS

memutuskan untuk melakukan pergantian auditor ke KAP Hendrawinata, Eddy

Siddharta, Tanzil dan Rekan agar kualitas penyampaian laporan keuangan dapat

meningkat sesuai dengan ketentuan dan standar yang berlaku.

Berdasarkan hal-hal tersebut dan kasus yang terjadi penelitian ini akan

menguji mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya pergantian

auditor dengan memodifikasi beberapa variabel penelitian yang telah dilakukan

oleh (Wijayani & Januarti, 2011). Hasil dari penelitian terdahulu pun berbeda-

beda sehingga menghasilkan ketidakkonsistenan penelitian antara peneliti satu

dengan peneliti lainnya.

4
Adanya ketidakkonsistenan dari penelitian-penelitian terdahulu terhadap

hasil empiris naka penting sekali penelitian terhadap auditor switching, dapat kita

lihat penelitian dari (Abdillah & Mardijuwono, 2019) telah berhasil dibuktikan

dimana auditor switching dapat dipengaruhi oleh pergantian manajemen,

Financial distres, dan opini audit. Tetapi ada sedikit berbeda dari hasil penelitian

yang dilakukan oleh (Nasheer, 2006) dimana auditor switching dipengaruhi

dengan adanya variabel ukuran klien, ukuran KAP, dan Financial distres.

Dalam hal ini mengacu terhadap penelitian dari (Wijayani & Januarti,

2011) dimana variabel opini audit di tambahkan dalam sikap independensi yang

bisa mempengaruhi auditor switching. Dapat kita lihat dari penelitian (Faradhila

& Yahya, 2016), (Purwanto & Azari, 2022) dan (Djamalileli & Rahmana, 2015)

dimana auditor switching sangat dipengaruhi secara signifikan dengan variabel

tersebut.

Penelitian terdahulu terdapat berbedaan dengan penelitian saat ini, dimana

variabel Fee audit tidak digunakan seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh

(Wijayani & Januarti, 2011). Terjadi perubahan kelas dalam penelitian proksi Fee

audit sehingga variabel Fee audit di bisa digunakan (Wijayani & Januarti, 2011)

dalam penelitian ini diperpanjang karena belum bisa menjelaskan dengan detail

pengaruhi Fee audit dengan auditor switching maka penelitian dari (Wijayani &

Januarti, 2011) yang dilakukan pada tiga tahun pada periode 2003-2009, menjadi

lima tahun di periode 2019 - 2021. Diharapkan akan berdampak pada hasil

penelitian dengan diperpanjangnya penelitian tersebut. Motivasi penelitian kali ini

bertujuan untuk menambah hasil penelitian dari (Wijayani & Januarti, 2011).

5
I.2 Rumusan Masalah

Penelitian kali ini ialah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode

asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau

lebih:

1. Apakah pergantian manajemen berpengaruh positif terhadap keputusan

perusahaan di Indonesia untuk melakukan auditor switching?

2. Apakah Financial distress berpengaruh positif terhadap keputusan perusahaan

di Indonesia untuk melakukan auditor switching?

3. Apakah persentase perubahan ROA berpengaruh negatif terhadap keputusan

perusahaan di Indonesia untuk melakukan auditor switching?

4. Apakah ukuran KAP berpengaruh negatif terhadap keputusan perusahaan di

Indonesia untuk melakukan auditor switching?

5. Apakah ukuran klien berpengaruh negatif terhadap keputusan perusahaan di

Indonesia untuk melakukan auditor switching?

6. Apakah opini audit berpengaruh positif terhadap keputusan perusahaan di

Indonesia untuk melakukan auditor switching?

I.3 Tujuan Penelitian

Adanya tujuan dari penelitian ini ialah:

1. Memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh pergantian manajemen terhadap

keputusan perusahaan di Indonesia untuk melakukan auditor switching.

2. Memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh financial distress terhadap

keputusan perusahaan di Indonesia melakukan auditor switching.

6
3. Memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh persentase perubahan ROA

terhadap keputusan perusahaan di Indonesia melakukan auditor switching.

4. Memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh ukuran KAP terhadap

keputusan perusahaan di Indonesia melakukan auditor switching.

5. Memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh ukuran klien terhadap

keputusan perusahaan di Indonesia untuk melakukan auditor switching.

6. Memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh opini audit terhadap

keputusan perusahaan di Indonesia untuk melakukan auditor switching.

I.4 Kontribusi Penelitian

I.4.1 Kontribusi Teori

1. Bagi Akademisi

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan dan

wawasan terhadap pengembangan mengenai pengauditan khususnya mengenai

auditor switching.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini dapat dijadikan sumber referensi dan informasi untuk penelitian

selanjutnya mengenai pembahasan auditor switching.

I.4.2 Kontribusi Praktik

1. Bagi Profesi Akuntan Publik

Menjadi bahan informasi untuk profesi akuntan publik tentang praktik

perpindahan KAP yang dilakukan perusahaan.

2. Bagi Regulator

7
Menjadi salah satu sumber bagi pembuat regulasi yang berkaitan dengan

praktik perpindahan KAP oleh perusahaan go public yang sangat erat kaitannya

dengan UUPT dan UUPM.

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Landasan Teori

II.1.1 Peraturan Pemerintah Indonesia Tentang Pergantian wajib Auditor

Keraguan mengenai independensi auditor menjadi isu yang banyak

diperdebatkan di kalangan profesi akuntan. Di Indonesia, pergantian KAP dan

auditor bersifat mandatory (wajib) dengan ditetapkannya Keputusan Menteri

Keuangan Republik Indonesia Nomor 154/PMK.01/2017 tentang Pembinaan Dan

Pengawasan Akuntan Publik yang mengatur bahwa pemberian jasa audit umum

atas laporan keuangan dari suatu entitas dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan

Publik paling lama untuk 5 (lima) tahun buku berturut-turut oleh seorang Akuntan

Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut (Ayu & Kurniawan,

2022).

Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap akuntan publik,

peraturan tersebut kemudian berubah menjadi Peraturan Menteri Keuangan

Nomor 186/PMK.01/2021 tentang Pembinaan dan Pengawasan Profesi Akuntan

Publik yang mengatur bahwa pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan

dari suatu entitas yang dapat dilakukan oleh Kantor Akuntan (Ayu & Kurniawan,

2022).

II.1.2 Teori Agensi

Teori agensi merupakan cabang dari gametheory yang mempelajari skema

dari kontrak untuk memotivasi agen yang rasional untuk bertindak sesuai

9
keinginan dari principal. Hubungan agensi ada ketika salah satu pihak (principal)

menyewa pihak lain (agent) untuk melaksanakan jasa dan dalam hal tersebut,

principal mendelegasikan wewenang kepada agent untuk membuat keputusan.

Teori keagenan yang dikembangkan oleh Jensen dan Meckling

mengilustrasikan hubungan keagenan (agency1 relationship) terhadap hubungan

yang timbul karena adanya suatu kontrak (Bahri & Ahmad, 2020). Pergantian

auditor di lakukan oleh suatu perusahaan dimana jika muncul dua kemungkinan

yang pertama klien mengganti auditornya dan yang kedua kemungkinan auditor

keluar atau dikeluarkan dari pekerjaanya oleh klien, bisa terjadi pergantian auditor

bisa juga karena peraturan yang membatasi masa kontrak audit, contohnya

perusahaan di indonesia (Yanthi et al., 2020).

Auditor switching dilakukan oleh suatu perusahaan dengan pergantian

auditor atau kantor akuntan publik. (Purwanto & Azari, 2022) berpendapat

menganai adanya dua faktor yang bisa merubah perusahaan berganti KAP adalah

faktor klien (Client-related1 Factory) dan faktor auditor (Auditor-related1 Factory),

dimana: fee audit dan keunggulan audit.

II.1.3 Audit Laporan Keuangan

Audit laporan keuangan merupakan audit yang mencakup penghimpunan

dan pengevaluasian bukti laporan. Audit laporan keuangan ini dilakukan oleh

eksternal audit dan biasanya atas permintaan klien. Standar audit dibutuhkan

dalam melakukan audit laporan keuangan. Standar audit yang digunakan dalam

mengaudit laporan keuangan adalah Standar Professional Akuntan Publik. Standar

10
Profesional Akuntan Publik terkait dengan proses audit dinyatakan dalam SA 200

No 4 (IAPI, 2015) yang terdiri dari:

1. Standar Umum

Terdapat 3 jenis dalam standar umum ini:

a. Sebagai auditor saat melakukan audit harus memiliki keahlian dan

pelatihan khusus teknis audit yang berkompeten.

b. Sebagai auditor perlu memberikan pelaporan yang baik dengan

menggunakan standar profesional sebagai auditor.

c. Sebagai auditor dalam suatu perikatan harus bisa memperatakan mental

dari berbagai bentuk yang berkaitan dan perikatan itu sendiri.

2. Standar Pelaporan

Terdapat 4 standar pelaporan dalam audit:

a. Harus bisa memperlihatkan kekonsistenan dalam pelaporannya.

b. Wajib menggunakan prinsip akuntansi yang berlaku saat proses audit.

c. Laporan audit tidak bisa diberikan jika saat pelaporan terdapat pernyataan

mengenai laporan secara menyeluruh.

d. Laporan audit harus diungkapkan secara informatif, kecuali ada pernyataan

lain dalam laporan auditor.

3. Standar Perkerjaan Lapangan

Memilik 3 poin penting dalam standar ini:

a. Saat proses audit seorang auditor harus dilakukan dengan sebaik mungkin

dan jika memerlukan seorang asisten harus sesuai aturan.

11
b. Harus melalui inspeksi pengamatan, permintaan keterangan, dan

mendapatkan konfirmasi agar bisa berpendapat atas hasil audit ini semua

sebagai bukti bahwa auditor berkompeten.

c. Harus memiliki pengetahuan yang dalam atas pengendalian internal agar

hasil audit nanti berhasil dilaporkan dengan baik dan sesuai standarnya.

II.1.4 Opini audit

Opini audit didefinisikan sebagai pernyataan pendapat yang diberikan oleh

auditor dalam menilai kewajaran perjanjian laporan keuangan perusahaan yang di

auditnya.1 Dalam Standar Profesional Akuntan Publik (2020) dijelaskan bahwa

tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen adalah untuk

menyatakan pendapat tentang kewajaran mengenai semua hal yang material,

posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan

akuntansi yang berlaku umum di Indonesia (Utami & Kartika, 2019). Menurut

(Yahya & Aini, 2019) terdapat lima jenis saat dilakukan auditor dalam pokok

pelaporan:

1. Tidak adanya pendapat dalam laporan auditor.

2. Tidak kewajaran terhadap isi laporan saat berpendapat.

3. Laporan audit harus berpendapat wajar tanpa pengecualian.

4. Menggunakan Bahasa yang mudah dimengerti saat berpendapat wajar tanpa

pengecualian.

5. Laporan audit berisi pendapat yang tidak wajar.

12
II.1.5 Pergantian Manajemen

Pergantian manajemen bisa saja menjadi penyebab auditor switching.

(Hartati & Manaf, 2017) menyatakan1 bahwa1 pergantian1 manajemen1

merupakan1 pergantian1 pengurus1 perusahaan1 yang1 terjadi1 karena1 keputusan1

rapat1 umum1 pemegang1 saham1 atau1 direksi1 mengundurkan1 diri.1 Terjadinya1

pergantian1 manajemen1 yang1 baru1 bisa1 saja1 berdampak1 pada1 perubahan1

kebijakan1 dalam1 bidang1 akuntansi,1 keuangan,1 dan1 pemilihan1 KAP. (Jhosepin,

2021) dimana auditor harus bisa mengikuti perkembangan suatu perusahaan

sehingga manajemen membutuhkan auditor yang berkompeten.

II.1.6 Financial distres

Suatu perusahaan akan mengalami suatu keadaan dimana perusahaan

sangat kesulitan keuangan dimana itu disebut Financial distres. Pada saat

perusahaan mengalami financial distres itu bisa memberikan tanda-tanda di

perusahaan yang biasanya paling terlihat di pelaporan keuangannya. Dalam

penelitian ini permasalahan tersebut di proksi kan dalam rasio DER (Debt to

Equity Ratio) mengacu pada penelitian (Utami & Kartika, 2019). Rasio DER

dihitung dengan membandingkan total hutang dengan total ekuitas. Total hutang

merupakan total kewajiban (baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka

panjang), sedangkan total ekuitas merupakan total modal sendiri (total modal

saham yang disetor dan laba yang ditahan) yang dimiliki perusahaan. Semakin

tinggi rasio DER menunjukkan komposisi total hutang semakin besar di banding

dengan total ekuitas, sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan

terhadap pihak luar (kreditur).

13
II.1.7 Persentase Perubahan ROA

ROA (Return on Assets) didefinisikan sebagai rentabilitas ekonomi yang

mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada masa lalu,

kemudian diproyeksikan ke masa depan untuk melihat kemampuan perusahaan

menghasilkan laba pada masa-masa mendatang. ROA diperoleh dari total aset

(kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya

untuk mendanai aset tersebut (Arisudhana, 2017). Sedangkan menurut pendapat

dari (Apriyana, 2017) Persentase perubahan ROA (Return on Assets) merupakan

salah satu indikator keuangan perusahaan untuk melihat prospek bisnis

perusahaan tersebut. Semakin tinggi nilai persentase perubahan ROA yang

dihasilkan berarti semakin efektif pengelolaan aset yang dimiliki perusahaan.

II.1.8 Ukuran KAP

Ukuran KAP dalam penelitian ini merupakan besar kecilnya KAP yang

dibedakan dalam dua kelompok, yaitu KAP yang berafiliasi dengan Big 4 dan

KAP yang tidak berafiliasi dengan Big 4. Ukuran KAP biasanya dikaitkan dengan

kualitas audit. (Prisna, 2020) menyatakan bahwa ukuran auditor berpengaruh

positif terhadap kualitas audit. Dengan demikian, diperkirakan bahwa

dibandingkan dengan KAP kecil, KAP besar mempunyai kemampuan yang lebih

baik dalam melakukan audit, sehingga mampu menghasilkan kualitas audit yang

lebih tinggi.

II.1.9 Ukuran Klien

Menurut (Apriyana, 2017) ukuran klien merupakan besarnya ukuran

sebuah perusahaan yang dapat dinyatakan dalam total aktiva, penjualan dan

14
kapitalisasi pasar. Semakin besar total aktiva, penjualan dan kapitalisasi pasar

maka semakin besar pula ukuran perusahaan itu. Semakin besar aktiva maka

semakin banyak modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka semakin

banyak perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar

pula perusahaan dikenal dalam masyarakat. Dari ketiga variabel ini, nilai aktiva

relatif lebih stabil dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar dan penjualan

dalam mengukur ukuran perusahaan. Oleh karena itu dalam penelitian ini ukuran

perusahaan klien diukur dari total aset.

II.2 Penelitian Terdahulu

Berikut ini adalah daftar penelitian yang dilakukan sebelumnya.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Judul dan Nama Sampel dan Variabel Hasil Penelitian


Peneliti Periode Penelitian
Penelitian
Analisis
Hubungan Klien-
Auditor : Faktor- Pergantian Dimana pergantian
54
faktor Yang Auditor, auditor dipengaruhi oleh
Perusahaan
Mempengaruhi Perubahan peningkatan pertumbuhan
Manufaktur
Pergantian Manajemen, klien, sedangkan
yang
Auditor (Studi Ukuran Klien, pergantian auditor tidak
1 terdaftar di
Empiris Pada Kompleksitas, dipengaruhi oleh
BEI
Perusahaan Pertumbuhan perubahan manajemen,
periode
Manufaktur Di Klien, Ukuran ukuran klien, ukuran-
2018 -
Indonesia Periode Perusahaan ukuran perusahaan
2020
2018- 2020) Auditor. auditor.
(Azari &
Purwanto, 2022)
2 Analisis faktor- 32 Perubahan KAP, Dimana masa kerja audit
faktor yang Perusahaan Pergantian dapat berdampak pada
mempengaruhi Manufaktur Auditor Sukarela, pergantian auditor
perusahaan yang Reputasi Auditor, sukarela. Sedangkan
melakukan terdaftar di Manajemen perubahan manajemen,
auditor switching BEI Perubahan, kesulitan keuangan dan
secara valutary periode Kesulitan opini akuntan tidak
(Novia Rentno 2009 - Keuangan, Opini mempengaruhi pergantian

15
Astrini dan Dul Akuntan, Masa auditor sukarela di dalam
2012
Muid, 2013) Kerja Audit auditor reputasi.
Dalam pengambilan
keputusan perusahaan
untuk melakukan auditor
912
Analisis faktor- switching tidak
Perusahaan
faktor Yang dipengaruhi oleh
Manufaktur
Mempengaruhi independensi, Financial distres,
yang
Perusahaan Di auditor switching, persentase perubahan
3 terdaftar di
Indonesia mandatory, ROA dan ukuran klien,
BEI
Melakukan voluntary. Sedangkan pergantian
periode
Auditor switching manajemen dan ukuran
2003 -
(Wijayani, 2013) KAP berpengaruh
2009
terhadap auditor
switching karena variabel
meningkat.
Dalam pergantian
manajemen, ukuran KAP,
pergantian dan persentase perubahan
Analisis faktor- perusahaan
manajemen, ROA berpengaruh
faktor Yang manufaktur
kepemilikan terhadap auditor
Mempengaruhi yang
publik, ukuran switching karena variabel
Perusahaan Di terdaftar di
4 KAP, Financial meningkat, Sedangkan
Indonesia Bursa Efek
distres, persentase Financial distres dan
Melakukan Indonesia
perubahan ROA variabel kepemilikan
Auditor switching (BEI) tahun
dan auditor tidak berpengaruh
(Maulida, 2015) 2010-2014.
switching. terhadap auditor
switching dalam suatu
perusahaan.
Sedangkan penelitian ini
Analisis faktor-
tidak adanya pengaruh
faktor Yang
80 terhadap auditor
Mempengaruhi
perusahaan switching dengan adanya
Auditor switching
manufaktur auditor switching, pergantian manajemen,
Pada Perusahaan
5 yang telah Financial distres, persentase perubahan
Yang Terdaftar Di
terdaftar di opini audit ROA, ukuran KAP, dan
Jakarta Islamic
JII periode perusahaan klien terhadap
Index Tahun
2011-2017 proses untuk melakukan
2013-2017
auditor switching dalam
(Hidayat, 2019)
suatu perusahaan.
Sumber : Data diolah tahun 2022

II.3 Kerangka Berpikir

Kerangka berfikir ini menggambarkan alur pemikiran peneliti mengenai

auditor switching adanya hubungan dengan pergantian manajemen, auditor

switching hubungan dengan Financial distres, auditor switching hubungan

16
dengan ukuran klien, auditor switching hubungan dengan ukuran KAP, auditor

switching hubungan dengan persentase perubahan ROA dalam suatu perusahaan.

Opini Audit

Financial distress

Ukuran KAP

Auditor
Persentase perubahan switching
ROA

Ukuran Klien

Pergantian Manajemen

Gambar 2.1 Diagram Jalur Penelitian

II.4 Hipotesis

II.4.1 Pengaruh Pergantian manajemen terhadap Auditor switching

(Prisna, 2020) menyatakan hubungan keagenan merupakan suatu kontrak

di mana satu atau lebih orang (principal) melibatkan orang lain (agent) untuk

melakukan beberapa layanan atas nama mereka dan kemudian mendelegasikan

sebagian kewenangan pengambilan keputusan kepada agen tersebut. Menurut

(Purwanto & Azari, 2022) teori agensi mempertimbangkan hubungan auditor-

klien dalam sebuah kontrak kerjasama yang disebut nexus of contract. Pergantian

17
manajemen disebabkan karena keputusan rapat umum pemegang saham atau

pihak manajemen berhenti karena kemauan sendiri sehingga pemegang saham

harus mengontrak atau mengganti manajemen baru yaitu direktur utama atau CEO

(Chief Executive Officer).

Berdasarkan pada penelitian yang telah di lakukan oleh (Jhosepin, 2021),

diketahui bahwa pergantian manajemen pada suatu perusahaan berpengaruh

terhadap aktivitas Auditor Switching Secara Voluntary. Oleh karena itu, untuk

hipotesis pertama dinyatakan sebagai berikut:

H1: Pergantian manajemen berpengaruh positif terhadap auditor

switching..

II.4.2 Pengaruh Opini Audit terhadap Auditor switching

Opini audit memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna

eksternal laporan keuangan dan bermanfaat untuk keputusan investasi. Menurut

(Yahya & Aini, 2019) manajer percaya bahwa opini-opini audit yang kurang baik

akan mempengaruhi harga saham dan kapasitas pembiayaan, sehingga opini

qualified kemungkinan akan mempengaruhi keputusan perusahaan untuk

mengakhiri kontrak dengan auditor. Oleh karena itu, klien berusaha sedapat

mungkin menghindari untuk mendapat opini qualified. Manajemen perusahaan

akan memberhentikan auditornya karena memberikan opini audit yang tidak

diharapkan perusahaan atas laporan keuangannya dan akan mencari auditor yang

lebih mudah diatur (Utami & Kartika, 2019) mendapatkan bukti empiris bahwa

perusahaan cenderung berpindah KAP setelah menerima qualified opinion atas

laporan keuangannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa klien yang mendapat opini

18
audit yang tidak diharapkan atas laporan keuangannya akan cenderung mengganti

KAP. Dari uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis:

H2: Opini audit berpengaruh positif terhadap auditor switching.

II.4.3 Pengaruh Financial distres terhadap Auditor switching

Posisi keuangan perusahaan klien mungkin mempunyai pengaruh penting

pada keputusan untuk mempertahankan atau mengganti KAP. Kondisi perusahaan

klien yang terancam bangkrut atau tidak lagi memiliki kemampuan untuk

membayar biaya audit akan cenderung melakukan auditor switching (Utami &

Kartika, 2019). Perusahaan yang terancam bangkrut lebih sering berpindah KAP

dari pada perusahaan yang tidak terancam bangkrut. Ketidakpastian dalam bisnis

pada perusahaan-perusahaan yang terancam bangkrut (mempunyai kesulitan

keuangan) menimbulkan kondisi yang mendorong perusahaan berpindah KAP

(Sinaga, 2021) Perusahaan yang bermasalah memiliki kecenderungan yang lebih

besar untuk beralih auditor daripada perusahaan yang sehat (Yahya & Aini, 2019).

Dengan demikian, perusahaan yang sedang mengalami financial distress akan

cenderung berganti KAP dibandingkan perusahaan yang sehat. Hipotesis

berikutnya dinyatakan sebagai berikut:

H3: Financial distress berpengaruh positif terhadap auditor switching.

II.4.4 Pengaruh Persentase Perubahan ROA terhadap Auditor switching

Persentase perubahan ROA (Return on Asset) merupakan salah satu proksi

dari reputasi klien/client reputation (Arisudhana, 2017).. Selain itu perubahan

ROA juga dapat digunakan sebagai indikator kondisi keuangan perusahaan untuk

melihat prospek bisnis dari perusahaan tersebut. Semakin tinggi nilai ROA berarti

19
semakin efektif pengelolaan aktiva yang dimiliki perusahaan dan semakin baik

pula prospek bisnisnya (Apriyana, 2017). Perusahaan yang memiliki nilai ROA

semakin rendah cenderung mengganti auditornya karena mengalami penurunan

kinerja sehingga prospek bisnisnya menurun. Dalam hal ini berarti kondisi

keuangan perusahaan menurun yang mengakibatkan manajemen cenderung

mencari auditor baru yang bisa menyembunyikan keadaan perusahaan. Hipotesis

berikutnya adalah:

H4: Persentase penurunan ROA berpengaruh negatif terhadap auditor

switching.

II.4.5 Pengaruh Ukuran KAP terhadap Auditor switching

Manajemen perusahaan akan mencari KAP yang berkualitas tinggi karena

investor dan pemakai laporan keuangan cenderung mengandalkan reputasi auditor

sebagai indikator kredibilitas laporan keuangan (Yahya & Aini, 2019). Adanya

faktor expertise itu akan menentukan perubahan auditor oleh perusahaan sehingga

perusahaan lebih memilih KAP besar. Menurut Hidayat (2019), perusahaan akan

lebih memilih KAP dengan kualitas yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas

laporan keuangan dan untuk meningkatkan reputasi perusahaan di mata pemakai

laporan keuangan. KAP yang besar biasanya memiliki reputasi tinggi dalam

lingkungan bisnis, sehingga mereka akan selalu berusaha mempertahankan

independensi. Berdasarkan argumen di atas dapat disimpulkan bahwa perusahaan

lebih memilih Sehingga hipotesis berikutnya adalah:

H5: Ukuran KAP berpengaruh negatif terhadap auditor switching.

20
II.4.6 Pengaruh Ukuran klien terhadap Auditor switching

(Hidayat, 2018) mengemukakan bahwa perusahaan besar mungkin

memerlukan biaya awal yang lebih besar untuk auditor baru. Kenaikan biaya (baik

fiskal langsung dan tidak langsung) dapat menyebabkan peningkatan hubungan

auditor-klien, sehingga meningkatkan penguasaan auditor. Klien juga dikenai

biaya awal saat terlibat auditor baru. Misalnya, personil klien banyak

menghabiskan waktu dengan auditor baru untuk memberikan informasi mengenai

bisnis klien. Hal itu menimbulkan biaya tidak langsung ketika membina hubungan

baru dengan auditor baru. Hal ini berarti, klien dengan biaya besar memiliki

kecenderungan lebih rendah untuk berganti auditor dibandingkan klien yang kecil.

Untuk hipotesis terakhir dinyatakan sebagai berikut:

H6: Ukuran klien berpengaruh negatif terhadap auditor switching.

21
BAB III

METODE PENELITIAN

III.1 Desain Penelitian

Dalam penelitian ini yang nantinya akan digunakan untuk menguji sebuah

teori, menunjukan hubungan antar variabel, memberikan deskripsi statistik, dan

menyimpulkannya hasil akhir dalam dukungan data empiris di dalam lapangan

yang dimana penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif (Sugiyono, 2017)

III.2 Variabel dan Definisi Operasional

Tabel 3.2 Variable Dan Definisi Operasional

Nama
No Definisi Variabel Alat Ukur
Variabel
Auditor switching ialah variabel dummy
pergantian auditor yang di 1 = perusahaan yang melakukan
Auditor
1 lakukan atau di minta oleh auditor switching,
switching
perusahaan klien (Purwanto 0 = perusahaan yang tidak
& Azari, 2022). melakukan auditor switching
variabel dummy
Pergantian susunan
1 = perusahaan yang melakukan
manajemen ialah pergantian
Pergantian pergantian manajemen,
2 direksi di perusahaan
manajemen 0 = perusahaan yang tidak
(Sinaga, Mega, Felline, &
melakukan pergantian
Wijaya, 2021)
manajemen
Financial distres kondisi
dimana perusahaan yang Debt to Equity Ratio
Financial Total Utang
3 sedang mengalami kesulitan
distres, DER=
keuangan (Utami & Kartika, Total Ekuitas
2019)
Semakin tinggi nilai ROA
Persentase-
menunjukkan efektifitas 𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝑜𝑛 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 (ROA) =
se
4 perusahaan memanfaatkan Laba Bersih Setelah Pajak
perubahan
asetnya, begitu pula Total Aset
ROA
sebaliknya (Apriyana, 2017)
Ukuran KAP merupakan variabel dummy
pembedaan jumlah klien dan 1 = perusahaan yang
Ukuran
5 jumlah anggota yang dimiliki menggunakan jasa KAP big 4,
KAP
oleh KAP (Yahya & Aini, 0 = perusahaan yang tidak
2019) menggunakan jasa KAP big 4

22
Ukuran klien merupakan
Ukuran besarnya ukuran sebuah
6 UK =ln (Total Aset)
klien perusahaan itu sendiri (Yahya
& Aini, 2019)
Opini audit adalah suat variabel dummy
pendapat yang diberikan oleh 1 = perusahaan yang
auditor dalam menilai mendapatkan opini qualified
7 Opini audit kewajaran perjanjian laporan atau wajar dengan pengecualian,
keuangan perusahaan yang 0 = perusahaan yang
sudah diauditnya (Apriyana, mendapatkan opini unqualified
2017) atau wajar tanpa pengecualian
Sumber: Dari data yang diolah tahun 2022

III.3 Populasi dan Sampel

Dalam penelitian ini menggunakan populasi dan sampel yang dimana

populasi menggunakan perusahaan-perusahan manufaktur yang ada di Indonesia

dan terdaftar dalam bursa efek Indonesia dari tahun 2019-2021 yaitu sebanyak

174 perusahaan. Kriteria perusahaan yang dapat dijadikan populasi pada

penelitian ini yaitu:

1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode

2019-2021

2. Perusahaan manufaktur yang mengeluarkan annual report secara berturutturut

3. Perusahaan manufaktur yang melakukan auditor switching minimal satu kali

selama periode 2019-2021

4. Perusahaan manufaktur dengan data yang lengkap untuk pengukuran variabel-

variabel yang terkait selama periode 2019-2021

Berdasarkan kriteria tersebut terdapat 49 perusahaan yang dapat dijadikan

sebagai populasi penelitian

23
Sampel dalam penelitian adalah sebagian dari populasi penelitian

(Sugiyono, 2017). Sampel pada penelitian ini menggunakan rumus Slovin

(Amirullah, 2015):

N
n= 2
1+ Ne

Keterangan :

n : Jumlah1Sampel

N : Total1Populasi

E : Tingkat1Kesalahan1dalam1Pengambilan1Sampel

Berdasarkan rumus di atas, maka jumlah sampel pada penelitian ini dapat di

hitung sebagai berikut:

49
n= 2
1+ 49 ( 0 ,10 )

49
n= ❑
1+ 49 ( 0 , 01 )

49
n= ❑
1+0 , 49

49
n= ❑
1 , 49

n=32 ,88

Berdasarkan perhitungan di atas, di peroleh jumlah sampel penelitian yaitu

32,88 yang kemudian dibulatkan menjadi 33 perusahaan. Dikarenakan tahun

pengamatan pada penelitian ini adalah 3 tahun, maka 33 x 3 = 99 pengaamatan.

24
III.4 Sumber dan Jenis Data

Dalam penelitian ini menggunakan jenis data sekunder tentang laporan

keuangan perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek

Indonesia (BEI). Data time series digunakan dalam penelitian ini yang dimana

mengumpulkan sebuah data dari periode 3 tahun terakhir yang dimulai dari tahun

2019 - 2021 sebagai bahan data yang akan digunakan dan menggunakan data

cross section yang dimana menggunakan data dari beberapa objek pada tahun

tertentu yang sesuai kriteria penelitian ini.

III.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dengan menggunakan teknik dokumentasi. Data yang digunakan dalam penelitian

ini dikumpulkan dengan mendokumentasikan dari laporan keuangan pada

perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 3 tahun

berturut-turut dari tahun 2019 - 2021.

III.6 Teknis Analisis Data

Dalam penelitian ini akan menganalisis data dengan menggunakan 2 teknik

analisis data yang dimana menggunakan uji statistik dan kemudian

mendeskripsikan data yang akan dilaksanakan dengan cara pengukuran statistik

deskriptif kedua teknik ini yang akan digunakan dalam penelitian kuantitatif.

Software yang akan digunakan dalam penelitian kuantitatif ini yaitu menggunakan

software SPSS 21 dengan menganalisis data sebagai berikut:

25
III.6.1 Statistik Deskriptif

Dalam statistik deskriptif yang akan digunakan nantinya akan dapat dilihat

dari standar deviasi, nilai rata-rata (mean), kemencengan distribusi varian,

maksimum, minimum, sum, range, dan kurtosis yang nanti akan memberikan

gambaran atau deskripsi suatu data (Alifatmaya, 2017). Dengan ini nantinya akan

digunakan sebagai uji asumsi klasik dengan melihat gambaran seluruh sampel

yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan kriteria dan memenuhi syarat-syarat

(Sugiyono, 2017).

III.6.2 Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari suatu model

regresi. Sebelum melakukan analisis regresi dilakukan uji asumsi klasik terlebih

dahulu. Uji asumsi klasik bermaksud supaya hasil analisis regresi memenuhi

kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) yaitu adanya hubungan

sempurna, linier dan pasti, diantara beberapa atau semua variabel yang

menjelaskan dari model regresi.

Dalam uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui kelayakan dari suatu

model regresi. Dalam penelitian ini, uji asumsi klasik yang digunakan antara lain:

1. Uji Normalitas

Uji distribusi normal adalah uji untuk mengukur apakah data kita memi-

liki distribusi normal sehingga dapat dipakai dalam statistik parametrika. Salah

satu metode yang bisa digunakan untuk mendeteksi masalah normalitas yaitu:

uji Kolmogorov-Smirnov yang digunakan untuk mengetahui apakah sampel

berasal dari populasi berdistribusi normal. Pedoman pengambilan keputusan uji

26
statistik Kolmogorov-smirnov (K-S) adalah :

a. Distribusi adalah tidak normal.

b. Jika nilai Sig atau signifikansi > 0,05 H0 diterima maka distribusi adalah

normal.

Ditampilkan pula grafik normal P-plot of regression standardized

residual untuk memperoleh hasil uji normalitas (Ghozali, 2018).

2. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi berkaitan dengan pengaruh observer atau data dalam

satu variable yang saling berhubungan satu sama lain (Gani dan Amalia, 2015:

124). Besarnya nilai sebuah data dapat saja dipengaruhi atau berhubungan den-

gan data lainnya. Regresi secara klasik mensyaratkan bahwa variable tidak

boleh tergejala autokorelasi. Jika terjadi autokorelasi, maka model regresi men-

jadi buruk karena akan menghasilkan parameter yang tidak logis dan diluar

akal sehat.

Autokorelasi umumnya terjadi pada data time series, karena data time

series terikat dari waktu-waktu, beda halnya dengan data cross section yang

tidak terikat oleh waktu. Mendeteksi autokorelasi dengan menggunakan nilai

Durbin Watson. Kriteria dalam pengujian Durbin Watson yaitu (Ghozali,

2018):

a. Jika 0 < d < dL, berarti ada autokorelasi positif

b. Jika 4 – dL < d < 4, berarti ada auto korelasi negative

c. Jika 2 < d < 4 – dU atau dU < d < 2, berarti tidak ada autokorelasi positif

atau negatif

27
d. Jika dL ≤ d ≤ dU atau 4 – dU ≤ d ≤ 4 – dL, pengujian tidak meyakinkan.

Untuk itu dapat digunakan uji lain atau menambah data

e. Jika nilai du < d < 4-du maka tidak terjadi autokorelasi

Run test juga merupakan bagian dari statistik non-parametik dapat pula

digunakan untuk menguji apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi.

Jika antar residual tidak terdapat hubungan korelasi maka dikatakan bahwa

residual adalah acak atau random. Run test digunakan untuk melihat apakah

data residual terjadi secara random atau tidak (sistematis). Run test dilakukan

dengan membuat hipotesis dasar, yaitu:

H0 : residual (res_1) random (acak)

HA : residual (res_1) tidak random

Dengan hipotesis dasar di atas, maka dasar pengambilan keputusan uji

statistik dengan Run test adalah :

a. Jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) kurang dari 0,05, maka H0 ditolak dan Ha

diterima. Hal ini berarti data residual terjadi secara tidak random (sistema-

tis).

b. Jika nilai Asymp. Sig. (2-tailed) lebih dari 0,05, maka H0 diterima dan HA

ditolak. Hal ini berarti data residual terjadi secara random (acak).

3. Uji Heteroskedastisitas

Model regresi yang baik yaitu homoskesdatisitas atau tidak terjadi het-

eroskedastisitas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas salah

satunya dapat di lakukan dengan menggunakan uji Gletjer untuk menguji

apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu

28
pengamatan ke pengamatan yang lain. Sehingga, untuk menganalisis pengam-

bilan keputusan ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat di lakukan dengan

cara berikut ini :

a. Jika nilai signifikansi (sig) lebih besar dari 0,05, maka kesimpulannya

adalah tidak terjadi gejala heteroskedastisitas

b. Sebaliknya, jika nilai signifikansi (sig) lebih kecil dari 0,05, maka

kesimpulannya adalah terjadi gejala heteroskedastisitas

Apabila tidak terjadi heteroskedastitas jika scatterplot menunjukan sebagai

berikut:

1. Gambar titik ke arah atas dengan menyebar, bawah dan sekitar nilai 0.

2. Gambar titik akan menyebar dan tidak berkumpul di atas dan bawah.

3. Gambar titik tidak membentuk pola bergelombang, melebar, menyempit

lalu melebar lagi.

4. Gambar penyebaran titik tidak membentuk sebuah pola.

4. Uji Multikolinieritas

Model regresi yang baik seharusnya bebas multikolinieritas atau tidak

terjadi korelasi diantara negatif independen (Ghozali, 2018). Untuk mengetahui

ada tidaknya multikolinearitas di dalam sebuah model dapat diidentifikasi dari

ciri-ciri sebagai berikut:

a. Nilai R-Square signifikan, Uji F signifikan, tetapi standard error dan tingkat

signifikan masing-masing negatif rendah.

b. Perubahan kecil pada data, akan menyebabkan perubahan yang signifikan

29
pada negatif yang diamati.

c. Nilai koefisien negatif tidak sesuai dengan hipotesis, misalnya negatif yang

seharusnya memiliki pengaruh positif (nilai koefisien positif), ditunjukkan

dengan nilai negatif.

III.6.3 Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi berganda adalah teknik statistik melalui koefisien parameter

untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel de-

penden. Pengujian hipotesis baik secara parsial maupun secara bersama- sama, di-

lakukan setelah model regresi yang digunakan bebas dari pelanggaran asumsi

klasik. Persamaan regresi tersebut adalah sebagai berikut :

AS = a + βı PM + β₂ DER + β3 ROA + β4 KAP + β5 UK + β6 OA + ₑ₁

Keterangan:

AS = Auditor Switching

βı-β₂ = koefiseien regresi dari setiap variable independen

ₑ₁ = standard error ;

PM = Pergantian Manajemen

DER = Debt to Equity Ratio

ROA = Return On Assets ;

KAP = Ukuran KAP

UK = Ukuran Klien

OA = Opini Audit

30
Nilai koefisien regresi melainkan menyatakan arah hubungan atau lebih

tegasnya menyatakan pengaruh variabel bebas X terhadap variabel terikat Y.

1. Jika b = A (b bertanda positif) menyatakan bahwa variabel bebas X

berpengaruh positif terhadap nilai variabel terikat Y. Bila nilai variabel bebas

X bertambah 1 unit, maka nilai variabel Y akan bertambah sebesar A unit,

begitu pula sebaliknya.

2. Jika nilai b = – A (b bertanda negatif) yang menyatakan bahwa variabel bebas

X berpengaruh negatif terhadap nilai variabel terikat Y. Bila nilai variabel X

bertambah 1 unit, maka nilai variabel Y akan berkurang sebesar A unit, begitu

pula sebaliknya.

III.6.4 Uji Goodness of Fit

1. Uji Statistik F

Menurut (Ghozali, 2018) uji goodness of fit (uji kelayakan model)

dilakukan untuk mengukur ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir

nilai aktual secara statistik. Model goodness of fit dapat diukur dari nilai

statistik F yang menunjukkan apakah semua variabel independen yang

dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap

variabel dependen. Kriteria pengujian:

a. Pvalue < 0,05 menunjukkan bahwa uji model ini layak untuk digunakan

pada penelitian.

b. Pvalue > 0,05 menunjukkan bahwa uji model ini tidak layak untuk digu-

nakan pada penelitian.

31
2. Pengujian Hipotesis

a. Uji Statistik t

Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat secara parsial atau individual. Jika nilai Sig. uji t < 0,05

maka variabel bebas memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat

secara parsial (Ghozali, 2018).

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel

independen secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel

dependen. Derajat signifikansi yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai

signifikan lebih kecil dari derajat kepercayaan maka kita menerima hipotesis

alternative, yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara

parsial mempengaruhi variabel dependen.

Pengujian ini dilakukan uji dua arah dengan hipotesis :

H0 : β = 0

Artinya tidak ada pengaruh dari variabel independen terhadap variabel

dependen.

Ha : β1 < 0 atau β1 > 0

Artinya ada pengaruh dari variabel independen terhadap variabel

dependen

1) H0 diterima dan Ha ditolak apabila thitung < ttabel, artinya variabel

independen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel

dependen.

32
2) H0 ditolak dan Ha diterima apabila thitung < ttabel, artinya variabel

independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.

b. Uji Koefisien Determinasi ( R2 )

Koefisien determinasi (R2 ) digunakan mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen

(Ghozali, 2018). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu.

Nilai yang kecil menunjukkan kemampuan variabel-variabel independen

dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.

33
DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, M., & Mardijuwono, A. (2019). The Effect Of Company charateristic


and auditors charateristic to audit report lag. Asian Journal of Accounting
Researdch.
Adhiputra, M., & Astika, i. (2018). Pengaruh Penerapan Konservatisme
Akuntansi Dan Tingkat Kepemilikan Pada Konflik Bondholder-
Shareholder Di Bursa Efek Indonesia. E-Jurnal Ekonomi Dan Bisnis
Universitas Udayana 7.5 , 1225-1260.
Alifatmaya, I. L. (2019). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas,
Likuiditas, Dan Financial Leverage Terhadap Tindakan Perataan
Laba (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Gresik).
Apriyana, N. (2017). Pengaruh Profitabilitas, Solvabilitas, Ukuran Perusahaan,
dan Ukuran KAP Terhadap Audit Delay Pada Perusahaan Properti dan
Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015. J.
urnal Nominal, 6(2),, 108–124.
Arisudhana, D. (2017). Pengaruh Audit Delay, Ukuran Klien, Opini Audit Tahun
Sebelumnya, Reputasi Kantor Akuntan Publik, dan Return on Assets
(ROA) Terhadap Pergantian Auditor Sukarela. Jurnal Akuntansi Dan
Keuangan,.
Astuty, M., Julianto, W., & Subur. (2020). Pengaruh Pergantian Manajemen,
Ukuran KAP, Financial Distress, dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap
Auditor switching. Prosiding Konferensi Riset Nasional Ekonomi,
Manajemen, dan Akuntansi.
Ayu, M., & Kurniawan, B. (2022). Pengaruh Opini Auditor, Pergantian
Manajemen Dan Ukuran Perusahaan Klien Terhadap Auditor
switching. Kalbisiana Jurnal Sains, Bisnis Dan Teknologi, 8(4), 4716-
4731
Bahri, S., & Ahmad, R. (2020). Effects of Company Size, Profitability,
Solvability and Audit Opinion on Audit Delay. Journal of Auditing,
Finance, and Forensic Accounting, 8(1).
Basuki. (2021). Pengantar Metode Penelitian Kuantitatif. . Media Sains
Indonesia.

34
Briliyanda, Devi, & Alisa. (2019). The Effect of Audit Opinion, Change of
Management, Financial Distress and Size of A Public Accounting Firm on
Auditor switching. .Jurnal Akuntansi Trisakti, 6(1)., 6 (1).
Djamalileli, & Rahmana, S. D. (2015). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Perusahaan Berpindah Kantor Akuntan Publik (Studi Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Listing Di BEI Tahun 2010-2012). Jurnal Universitas
Riau 2 (1):1–18.
Dwitarina, R. (2019). Pengaruh Monday Effect, Weekend Effect Dan Week Four
Effect Terhadap Return Saham Lq45 Di Bursa Efek Indonesia (Studi
Empiris Pada Perusahaan Lq45 Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Periode Februari 2018 – Januari 2019). . Skripsi: Perpustakaan FEB
Unpad.
Faradhila, & Yahya, M. (2016). Pengaruh Opini Audit, Financial Distress, dan
Pertumbuhan Perusahaan Klien Terhadap Auditor switching (Studi Pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun
2010-2014. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi (JIMEKA) Vol.
1, No.1.
Feline, M. S., & Wijaya, O. (2021). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Auditor switching (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2011-2015). Diponegoro
Journal of Accounting. Vol. 6. No. 3, 1-12.
Ghozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Pogram IBM SPSS
Edisi Sembilan. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Handayani, D. (2020). Penyakit Virus Corona 2019. J. urnal Respirologi
Indonesia. Vol 40. No. 2.
Hartati, & Manaf. (2017). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perbankan
Melakukan Pergantian Kantor Akuntan Publik. . Jurnal Ekonomi
Manajemen Akuntansi,.
Hidayat, R. (2018). Pengaruh debt to equity ratio, debt to asset ratio dan
profitabilitas terhadap nilai perusahaan food and beverages yang terdaftar
di BEI. Jurnal Studi Akuntansi & Keuangan,.
Institut Akuntan Publik Indonesia. (2020). Kode Etik Profesi Akuntan Publik
Efektif Per 1 Juli 2020. Jakarta: IAPI.
Jhosepin. (2021). Pengaruh Audit Delay, Kesulitan Keuangan, dan Pergantian
Manajemen Terhadap Auditor switching Pada Perusahaan Industri Barang
Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2019.
Jurnal Ekonomi dan Bisnis.

35
Kusumaningrum, Y., & Zulaikha, Z. (2019). Analisis Pengaruh Ukuran
Perusahaan, Likuiditas Dan Leverage Terhadap Penerimaan Opini Audit
Going Concern. Diponegoro Journal of Accounting, 8(4).
Nasheer. (2006). Auditor-Client Relationship: The Case of Audit tenure and
Auditor switching in Malaysia”. Managerial Auditing Journal, Vol. 21,,
724-737.
Prabowo, & Sthepanie. (2017). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Auditor switching (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2011-2015. Diponegoro
Journal of Accounting. Vol. 6. No. 3, 1-12.
Prisna, A. (2020). Pengaruh Kepemilikan Institusional, Opini Audit, Ukuran Kap
Yang Dipakai, Dan Pertumbuhan Perusahaan Klien Terhadap Voluntary
Auditor switching (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2019). Skripsi thesis
Sekolah TInggi Ilmu Ekonomi Indonesia.
Purwanto, A., & Azari, N. A. (2022). Analisis Hubungan Klien-Auditor : Faktor-
Faktor Yang Mempengaruhi Pergantian Auditor (Studi Empiris pada
Perusahaan Manufaktur di Indonesia Periode 2018- 2020). iponegoro
Journal Of Accounting.
Sinaga, A. N., Mega, Felline, & Wijaya, O. R. (2021). PENGARUH
PROFITABILITAS (ROE), UKURAN PERUSAHAAN, FINANCIAL
DISTRESS, DAN OPINI AUDIT TERHADAP AUDITOR SWITCHING
PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI TAHUN 2017-2019.
Journalof Economic, Business and Accounting .
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sujarweni, V. W. (2018). Penelitian Akuntansi dengan SPSS. Yogyakarta:
Pustaka Baru Press.
Utami, & Kartika. (2019). Determinants of Financial Distress in Property and
Real Estate Companies. The Indonesian Accounting Review, 9(1).
Werdhaningtyas, A., & Tarmidzi, R. (2017). Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Auditor switching Pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa
Efek Indonesia Tahun 2010-2015. J. urnal Akuntansi & Keuangan, 8(1).
Wijayani, E. D., & Januarti, I. (2011). Analisis Faktor – faktor yang
mempengaruhi perusahaan di Indonesia melakukan Auditor switching.
SNA XIV 2011.
Yahya, M., & Aini. (2019). Pengaruh Management Change, Financial Distress,
Ukuran Perusahaan Klien, dan Opini Audit Terhadap Auditor switching.

36
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi (JIMEKA),.
Yanthi, PPK, Merawati, LK, & Munidewi, IAB (2020). Pengaruh Audit Tenure,
Ukuran Kap, Pergantian Auditor, dan Opini Audit terhadap Audit
Delay. Kumpulan Hasil Riset Mahasiswa Akuntansi (KHARISMA) , 2 (1).

37

Anda mungkin juga menyukai