0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
268 tayangan50 halaman

Pengetahuan Tenaga Kefarmasian Obat Kadaluarsa

Proposal ini membahas pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat rusak dan kadaluarsa di instalasi farmasi rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian serta meningkatkan pencegahan obat rusak dan kadaluarsa.

Diunggah oleh

Dian Fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
268 tayangan50 halaman

Pengetahuan Tenaga Kefarmasian Obat Kadaluarsa

Proposal ini membahas pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat rusak dan kadaluarsa di instalasi farmasi rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian serta meningkatkan pencegahan obat rusak dan kadaluarsa.

Diunggah oleh

Dian Fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

PENGETAHUAN DAN SIKAP TENAGA KEFARMASIAN DALAM


MENCEGAH OBAT RUSAK DAN KADALUARSA
DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M. YUNUS BENGKULU

Oleh:
NOVIRA AZZAHRA
NIM : P05150221029

PROGRAM STUDI FARMASI PROGRAM DIPLOMA TIGA


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BENGKULU
TAHUN 2023
HALAMAN JUDUL

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

PENGETAHUAN DAN SIKAP TENAGA KEFARMASIAN DALAM


MENCEGAH OBAT RUSAK DAN KADALUARSA
DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M. YUNUS BENGKULU

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Diploma Tiga
Program Studi Farmasi Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Oleh:
NOVIRA AZZAHRA
NIM : P05150221029

PROGRAM STUDI FARMASI PROGRAM DIPLOMA TIGA


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BENGKULU
TAHUN 2023

i
HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal Karya Tulis Ilmiah dengan Judul :

PENGETAHUAN DAN SIKAP TENAGA KEFARMASIAN DALAM


MENCEGAH OBAT RUSAK DAN KADALUARSA
DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M. YUNUS BENGKULU

Yang Dipersiapkan dan Dipresentasikan Oleh :


NOVIRA AZZAHRA
NIM : P05150221029

Proposal Karya Tulis Ilmiah Ini Telah Diperiksa Dan Disetujui


Untuk Dipresentasikan Dihadapan Tim Penguji
Poltekkes Kemenkes Bengkulu
Program Studi Farmasi Program Diploma Tiga
Tanggal :

Oleh :

Dosen Pembimbing Proposal Karya Tulis Ilmiah

Pembimbing I Pembimbing II

Nadia Pudiarifanti., [Link], Apt Wessi Windrasari, [Link]., Apt


NIP. 199001012019022001 NIP. 19800524200502200

ii
PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama : NOVIRA AZZAHRA
NIM : P05150221029
Judul Proposal Penelitian : PENGETAHUAN DAN SIKAP TENAGA
KEFARMASIAN DALAM MENCEGAH OBAT RUSAK DAN
KADALUARSA DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M.
YUNUSBENGKULU
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa proposal penelitian ini betul-betul

hasil karya saya dan bukan hasil penjiplakan dari hasil karya orang lain. Demikian

pernyataan ini dan apabila kelak hari terbukti dalam proposal penelitian ada unsur

penjiplakan, maka saya bersedia mempertanggung jawabkan sesuai dengan

ketentuan yang berlaku.

Bengkulu, Oktober 2023


Yang menyatakan

NOVIRA AZZAHRA

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala

rahmat dan karunia yang dicurahkan-Nya serta kemudahan yang diberikan-Nya

sehingga dapat menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini dengan judul

“Pengetahuan dan Sikap Tenaga Kefarmasian Dalam Mencegah Obat Rusak dan

Kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu”. Dalam

penyelesaian KTI ini penulis banyak mendapat bantuan baik materil maupun

moril dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Eliana, SKM., MHP selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

2. Bapak Sahidan, [Link]., [Link] selaku Ketua Jurusan Analis Kesehatan

Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

3. Ibu Resva Meinisasti, [Link]., Apt selaku Ketua Program Studi Diploma III

Farmasi Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

4. Ibu Apt. Nadia Pudiarifanti, [Link]. selaku Pembimbing I yang telah

membimbing dan memberi semangat.

5. Ibu Wessi Windrasari, [Link]., Apt selaku Pembimbing II yang telah

memberi semangat dan memberi bimbingan.

6. Serta seluruh dosen dan staf yang telah memberi semangat dan ilmu yang

tidak dapat di sebutkan satu persatu.

7. Kedua orangtua dan keluarga tercinta yang selalu memberikan semangat dan

dukungan penuh kepadaku serta terima kasih atas doanya untuk penulis.

8. Serta semua pihak yang selalu memberikan banyak masukan dan tetap

menyemangati penulis.

iv
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penyusun mengharapkan

adanya kritik dan saran yang bersifat membangun agar dapat membantu perbaikan

selanjutnya. Terima kasih.

Bengkulu, Oktober 2023

Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.........................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN.........................................................................ii
PERNYATAAN...............................................................................................iii
KATA PENGANTAR.....................................................................................iv
DAFTAR ISI....................................................................................................vi
DAFTAR TABEL...........................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................3
C. Tujuan Penelitian..........................................................................................3
D. Manfaat Penelitian........................................................................................4
E. Keaslian Penelitian.......................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................6
A. Pengetahuan (Knowledge)............................................................................6
B. Sikap (Attitude).............................................................................................9
C. Obat Rusak dan Kadaluarsa.......................................................................12
D. Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS).......................................................18
E. Tugas dan Tanggung Jawab Tenaga Kefarmasian.....................................18
BAB III METODE PENELITIAN...............................................................20
A. Jenis penelitian...........................................................................................20
B. Variabel Penelitian.....................................................................................20
C. Definisi Operasional...................................................................................20
D. Tempat dan Waktu Penelitian....................................................................21
E. Populasi dan Sampel..................................................................................21
F. Tahap Pelaksaan Penelitian........................................................................22
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................29
LAMPIRAN....................................................................................................31

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian.............................................................................5


Tabel 3.1 Definisi Operasional..........................................................................20

vii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skema Kerja Penelitian..................................................................31


Lampiran 2 Kuesioner Penelitian Pengetahuan.................................................32
Lampiran 3 Surat Permohonan Izin Pra Penelitian di RSUD Dr. M. Yunus.....32
Lampiran 4 Kuesioner Penelitian Pengetahuan.................................................34
Lampiran 5 Kuesioner Penelitian Sikap............................................................36
Lampiran 6 Checklist Pencegahan SOP............................................................39

viii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016. Tentang standar pelayanan di

rumah sakit, disebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit merupakan

bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan pasien, penyediaan obat

yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi

semua lapisan Masyarakat (Permenkes, 2016b).

Apoteker bertanggung jawab terhadap pengelolaan sediaan farmasi, alat

kesehatan dan bahan medis habis pakai di rumah sakit yang dimulai dari

pemilihan, perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,

pendistribusian, pemusnahan dan penarikan, pengendalian dan administrasi

yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan kefarmasian (Permenkes, 2014).

Obat rusak dan kadaluarsa merupakan salah satu masalah yang dapat

mencerminkan ketidaktepatan dan kurang baiknya manajemen pengelolaan

obat disebuah IFRS. Penyebab obat menjadi rusak dikarenakan proses

penyimpanan obat yang salah dan proses penerimaan obat yang salah

(Bondan & Dwi, 2019).

Obat yang sudah rusak dan melewati masa kadaluwarsa dapat

membahayakan tubuh dan mengakibatan efek toksik (racun) hal ini disebakan

karena telah berkurangnya stabilitas obat, kerja obat sudah tidak optimal dan

kecepatan reaksinya telah menurun (Satibi Ali Kusnadi, 2015). Dilansir oleh

Antara pada tahun 2022 dalam (Safanny Putri et al., 2022) ditemukan kasus

mengenai kelalaian petugas farmasi dalam pemberian obat paracetamol drops

yang telah kadalurasa kepada seorang balita di kota Tanggerang , Banten pada
2

saat mengikuti Bulan Imunidasi Anak Nasional (BIAN) di Posyandu Bunga

Kenanga, Kecamatan Karang Tengah yang menyebabkan kerugian terhadap

puskesmas.

Penyebab obat rusak dan kadaluarsa dikarenakan ketidakefisienan dan

ketidaklancaran pengelolaan obat (Mardiana D., 2017). Pada penelitian

Chalidyanto di Jawa Timur, diketahui bahwa metode penyimpanan obat

dalam pelaksanaanya masih tergolong kurang baik (61,54%) (Febreani &

Chalidyanto, 2016). Hal yang sama juga dibuktikan pada penelitian

Ardiningtyas di Yogyakarta, Penyebab obat rusak karena kesalahan pada

proses penerimaan (45,16%) dan kesalahan pada proses penyimpanan

(54,84%). Sedangkan penyebab obat kedaluarsa karena kesalahan tidak

menerapkan FEFO (48,39%), tidak laku (25,81%), kesalahan penyimpanan

(22,58%), dan kesalahan pada saat penerimaan (3,22%) (Ardiningtyas, 2019).

Berdasarkan hasil penelitian Restia tahun 2014 tentang menganalisis

sistem penyimpanan obat di Sub Bagian Logistik Rumah Sakit Gra Permata

Ibu Tahun 2014 menyatakan bahwa sistem penyimpanan obat belum sesuai

dengan standar dan indikator penyimpanan yang efektif. Hal ini diketahui dari

ditemukannya obat yang kadaluarsa dalam jumlah banyak, ditemukannya

kejadian obat out of stock, over stock, dan dead stock, kekurangan jumlah

SDM, serta ketidakcukupan gudang dan prasarana untuk memuat inventory

(Rini & Iljanto, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Kabupaten Banyumas,

didapatkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan pengelolaan obat

tenaga kefarmasian dengan tingkat kemampuan pengelolaan obat tenaga


3

kefarmasian. Hubungan ini diketahui bersifat searah yang artinya jika tingkat

pengetahuan dalam mengelola makin tinggi maka kemampuanya dalam

mengelola juga akan semakin baik (Galistiani, 2016). Pentingnya

pengetahuan dan sikap yang dimiliki oleh tenaga kefarmasian dalam

pengelolaan obat mendorong saya untuk melakukan penelitian yang bertujuan

mengetahui pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat

rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini ialah Bagaimana pengetahuan dan

sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat rusak dan kadaluarsa di

Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan

dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat rusak dan kadaluarsa

di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

2. Tujuan Khusus

A. Untuk mengetahui pengetahuan dari tenaga kefarmasian dalam

mencegah obat rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr.

M. Yunus Bengkulu.

B. Untuk mengetahui sikap dari tenaga kefarmasian dalam mencegah

obat rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus

Bengkulu.
4

C. Untuk mengetahui cara mencegah obat rusak dan kadaluarsa di

Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

D. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap tenaga

kefarmasian dalam mencegah obat rusak dan kadaluarsa di Instalasi

Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Manfaat bagi peneliti sebagai tambahan wawasan dan pengalaman terkait

pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat

rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

2. Bagi Peneliti Lain

Sebagai sumber data dan informasi bagi peneliti selanjutnya dalam

bidang kajian pelayanan kefarmasian yang berkaitan dalam mencegah

obat rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus

Bengkulu.

3. Bagi Rumah Sakit

Sebagai acuan dan masukan dalam pelayanan kefarmasian khususnya

pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat rusak

dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Kota Bengkulu.

4. Bagi Masyarakat

Menambah pengetahuan tentang pencegahan obat rusak dan kadaluarsa

di rumah sakit.
5

E. Keaslian Penelitian
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Lokasi dan
Jenis Variabel
No Judul Penelitian Nama Peneliti Waktu
Penelitian Penelitian
Penelitian

1. Analisis tingkat Nurul Ambianti, Di RSUD Tora Non Seluruh tenaga


pengetahuan dan Muhamad Belo Mei- eksperimen kefarmasian di
sikap tenaga Rinaldhi Tandah, Oktober 2020 tal secara RSUD Tora
kefarmasian dalam Khusnul Diana , cross Belo
mencegah obat Ratu Balqis sectional
rusak dan
kadaluarsa di
RSUD Tora Belo

2. Evaluasi Mideria Halawa, IFRS umum Noneksperi Laporan


pengeloaan obat Wempi Eka pindad bandung mental bulanan obat
rusak atau Rusmana tahun 2021 yang rusak atau
kadaluarsa bersifat kadaluarsa
terhadap sediaan deskriftif januari-maret
farmasi di salah 2021
satu runmah sakit
umum swasta kota
bandung

3. Gambaran Evi Gosyanti, Di rumah sakit Kualitatif observasi


pengelolaan obat Milda Rianty swasta kota dengan lapangan dan
rusak dan Lakoan bekasi tahun mengamati wawancara
kadaluarsa di 2023 langsung
instalasi farmasi
rumah sakit x
Bekasi.

4. Pharmacists’ Charlotte L. Berbagai Deskriptif Data diperoleh


Activities to Bekker, Helga negara 2018 metode dari hasil
Reduce Medication Gardarsdottir, survei kuseioner
Waste: An Antoine C. G. seluruh
International Egberts, Marcel apoteker
Survey L. Bouvy and
Bart J. F. van den
Bemt

Pengetahuan dan Hananditia Apotek Malang Observasio Data diambil


ketepatan apoteker Rachma Raya tahun nanalitik dari hasil
5.
dalam pemusnahan Pramestutie, 2021 dengan kuesioner
obat sisa, obat Ratna Kurnia rancangan apoteker
rusak, dan obat Ilahi, Ayuk cross
kadaluarsa Lawuningtyas sectional
Hariadini,
Tamara Gusti
Ebtavanny, Maly
da Savira
6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan (Knowledge)

1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan segala sesuatu yang berada di kepala kita.

Kita dapat mengetahui segala sesuatu berdasarkan pengalaman yang kita

miliki. Selain pengalaman, kita juga menjadi tahu karena kita diberitahu

oleh orang lain (Ariani et al., 2022).

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu seseorang terhadap suatu

objek melalui panca indra yang dimilikinya, yakni indra penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Dengan adanya pengetahuan

seseorang akan mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan

menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi (Notoadmodjo,

2012).

2. Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan berdasarkan (Notoadmodjo, 2012)

diklasifikasikan menjadi 6 tingkatan pengetahuan, yaitu:

a. Tahu (know)

Tahu dapat diperhatikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya yang terdiri dari pengetahuan terhadap fakta,

konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori dan

kesimpulan.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan seseorang yang

sudah dapat menjelaskan dan menginterpretasikan dengan benar


8

suatu objek yang diketahui. Orang yang telah paham terhadap objek

atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,

menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang

dipelajari.

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi

sebenarnya.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menguraikan suatu materi

atau objek menjadi elemen elemen sederhana. Kemampuan analisis

ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat

menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan

sebagainya.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis adalah kemampuan seseorang dalam menyusun formulasi

baru dari formulasi – formulasi yang sudah dimilikinya.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan

penilaian terhadap suatu materi atau objek.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut (Budiman

& Riyanto, 2013) ada 6 faktor yang mempengaruhi pengetahuan

seseorang yaitu:
9

a. Pendidikan

Proses perubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok dan

merupakan usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran

dan pelatihan.

b. Informasi atau Media Massa

Informasi merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan,

menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan,

menganalisis dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu

yang diperoleh dari pendidikan formal dan non formal.

c. Sosial Budaya dan Ekonomi

Kebiasaan dan tradisi ini dilakukan tanpa penalaran apakah yang

dilakukan baik atau buruk salah satunya ditentukan oleh status

ekonomi seseorang karena akan menentukan tersedianya suatu

fasilitas yang dibutuhkan. Seseorang yang mempunyai sosial budaya

yang baik maka pengetahuannya akan baik tapi jika sosial

budayanya kurang baik maka pengetahuannya akan kurang baik.

d. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik

itu lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan juga

berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan pada seseorang

karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan

direspon sebagai pengetahuan oleh seseorang.


10

e. Pengalaman

Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman orang lain maupun diri

sendiri sehingga pengalaman yang sudah diperoleh dapat

meningkatkan pengetahuan seseorang. Pengalaman seseorang dapat

mempengaruhi pengetahuan, semakin banyak pengalaman seseorang

tentang suatu hal, maka akan semakin bertambah pula pengetahuan

seseorang akan hal tersebut.

f. Usia

Semakin bertambahnya usia maka akan semakin berkembang pula

daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang

diperoleh juga akan semakin membaik dan bertambah.

B. Sikap (Attitude)

1. Pengertian Sikap

Sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan yang diatur

melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah

terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang

berkaitan dengannya (Hendrawan & Sirine, 2017).

Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari

seseorang terhadap suatu stimulus atau objek Sikap secara nyata

menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus

tertentu yang dalam kehidupn sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat

emosional terhadap stimulus sosial. (Notoadmodjo, 2012).


11

2. Tingkatan Sikap

Beberapa komponen sikap dapat membantu dalam pembentukan

sikap. Di dalam pembentukan sikap terdapat beberapa tingkatan.

Beberapa tingkatan tersebut memiliki perbedaan satu sama lain, dan

dapat terjadi pada setiap orang. Menurut (Notoadmodjo, 2012) sikap

terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:

a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan

stimulus yang diberikan (objek).

b. Merespons (responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

c. Menghargai (valuing)

Mengajak orang lain untuk mendiskusikan suatu masalah adalah

suatu indikasi sikap tingkat tiga.

d. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan

segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut

Azwar dalam (Budiman & Riyanto, 2013) adalah :


12

a. Pengalaman Pribadi

Sesuatu yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan

mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial.

Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap.

b. Kebudayaan

Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh

besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila kita hidup dalam

budaya yang mempunyai norma longgar bagi pergaulan

heteroseksual, sangat mungkin kita akan mempunyai sikap yang

mendukung terhadap masalah kebebasan pergaulan heteroseksual.

c. Orang Lain yang Dianggap Penting

Seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang kita harapkan

persetujuannya bagi setiap gerak dan tingkah dan pendapat kita,

seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang

berati khusus bagi kita, akan banyak mempengaruhi pembentukan

sikap kita terhadap sesuatu. Diantara orang yang biasanya dianggap

penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya

lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau

suami dan lain-lain.

d. Media Massa

Media massa sebagai sarana komunikasi. Berbagai bentuk media

massa mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan

kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal


13

memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap

hal tersebut.

e. Institusi atau Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem

mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya

meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.

f. Faktor Emosi Dalam Diri Individu

Bentuk sikap tidak semuanya ditentukan oleh situasi lingkungan dan

pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap

merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi

sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk

mekanisme pertahanan ego.

C. Obat Rusak dan Kadaluarsa

1. Definisi Obat Rusak dan Kadaluarsa

Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang

digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau

keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,

penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk

manusia (Permenkes, 2016a).

Obat rusak atau kadaluarsa adalah kondisi obat bila konsentrasinya

sudah berkurang antara 25-30% dari konsentrasi awalnya serta bentuk

fisik yang mengalami perubahan, obat yang bentuk atau kondisinya tidak

dapat digunakan lagi. Obat kadaluarsa ditandai dengan bulan dan tahun

pada kemasan sudah melebihi batas akhir obat yang dapat menimbulkan
14

penyakit pada manusia serta dapat menyebabkan kematian karena kadar

fungsi yang telah berubah (Kareri, 2018).

2. Tanda -Tanda Obat Kadaluarsa dan Rusak

Terdapat beberapa tanda obat rusak dan kadaluarsa yang tidak boleh

dikonsumsi, antara lain telah melewati tanggal kadaluarsa yang

tercantum dan obat mengalami perubahan mutu. Tanda-tanda perubahan

mutu obat adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2007):

1. Tablet.

1) Terjadinya perubahan warna, bau atau rasa

2) Kerusakan berupa noda, berbintik-bintik, lubang, sumbing,

pecah, retak dan atau terdapat benda asing, jadi bubuk dan

lembab

3) Kaleng atau botol rusak, sehingga dapat mempengaruhi mutu

obat

2. Kapsul.

1) Perubahan warna isi kapsul

2) Kapsul terbuka, kosong, rusak atau melekat satu dengan

lainnya

3. Tablet salut.

1) Pecah-pecah, terjadi perubahan warna

2) Basah dan lengket satu dengan yang lainnya

3) Kaleng atau botol rusak sehingga menimbulkan kelainan fisik

4. Cairan.

1) Menjadi keruh atau timbul endapan


15

2) Konsistensi berubah

3) Warna atau rasa berubah

4) Botol-botol plastik rusak atau bocor

5. Salep.

1) Warna berubah

2) Konsistensi berubah

3) Pot atau tube rusak atau bocor

4) Bau berubah

6. Injeksi

1) Kebocoran wadah (vial, ampul)

2) Terdapat partikel asing pada serbuk injeksi

3) Larutan yang seharusnya jernih tampak keruh atau ada

endapan

4) Warna larutan berubah

3. Kondisi Yang Mempercepat Kadaluarsa Obat

Ada beberapa hal yang dapat mempercepat masa obat rusak dan

kadaluarsa, seperti cara penyimpanan yang tidak tepat. Faktor – faktor

yang mempercepat masa obat rusak dan kadaluarsa sebagai berikut

(Kemenkes RI, 2010) :

a. Kelembaban

Udara lembab dapat mempengaruhi obat-obatan sehingga

mempercepat kerusakan. Untuk menghindari udara lembab tersebut

maka perlu dilakukan upaya-upaya berikut :

1) Ventilasi harus baik, jendela dibuka.


16

2) Simpan obat ditempat yang kering.

3) Wadah harus selalu tertutup rapat, jangan dibiarkan terbuka.

4) Bila memungkinkan pasang kipas angin atau AC. Karena makin

panas udara di dalam ruangan maka udara semakin lembab.

5) Biarkan pengering (silica gel) tetap dalam wadah tablet dan

kapsul.

6) Kalau ada atap yang bocor harus segera diperbaiki.

b. Sinar Matahari

Sebagian besar cairan, larutan dan injeksi cepat rusak karena

pengaruh sinar matahari. Sebagai contoh, Injeksi Klorpromazin yang

terkena sinar matahari akan berubah warna menjadi kuning terang

sebelum tanggal kadaluwarsa. Cara mencegah kerusakan karena

sinar matahari antara lain:

1) Jendela-jendela diberi gorden.

2) Kaca jendela dicat putih.

c. Temperatur/Panas

Obat seperti salep, krim dan supositoria sangat sensitif terhadap

pengaruh panas, dapat meleleh. Oleh karena itu hindarkan obat dari

udara panas. Sebagai contoh, Salep Oksitetrasiklin akan lumer bila

suhu penyimpanan tinggi dan akan mempengaruhi kualitas salep

tersebut. Ruangan obat harus sejuk, beberapa jenis obat harus

disimpan di dalam lemari pendingin pada suhu 4 – 8 o C, seperti:

1) Vaksin

2) Sera dan produk darah


17

3) Antitoksin

4) Insulin

5) Injeksi antibiotika yang sudah dipakai (sisa)

6) Injeksi oksitosin

7) Injeksi Metil Ergometrin

Untuk DPT, DT, TT, vaksin atau kontrasepsi jangan dibekukan

karena akan menjadi rusak. Cara mencegah kerusakan karena panas

antara lain:

1) Bangunan harus memiliki ventilasi/sirkulasi udara yang

memadai.

2) Hindari atap gedung dari bahan metal.

3) Jika memungkinkan dipasang Exhaust Fan atau AC.

d. Kerusakan Fisik

Untuk menghindari kerusakan fisik dapat dilakukan antara lain:

1) Penumpukan dus obat harus sesuai dengan petunjuk pada

karton, jika tidak tertulis pada karton maka maksimal ketinggian

tumpukan delapan dus, karena obat yang ada di dalam dus

bagian tengah ke bawah dapat pecah dan rusak, selain itu akan

menyulitkan pengambilan obat.

2) Hindari kontak dengan benda - benda yang tajam

e. Kontaminasi

Wadah obat harus selalu tertutup rapat. Apabila wadah terbuka, maka

obat mudah tercemar oleh bakteri atau jamur.

f. Pengotoran
18

Ruangan yang kotor dapat mengundang tikus dan serangga lain yang

kemudian merusak obat. Etiket dapat menjadi kotor dan sulit terbaca.

Oleh karena itu bersihkan ruangan setiap hari, lantai disapu dan

dipel, dinding dan rak dibersihkan.

4. Pencegahan Obat Rusak dan Kadaluarsa

Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) untuk

mencegah terjadinya obat rusak dan kadaluarsa adalah sebagai berikut

(BPOM RI, 2012) :

a. Tahap penerimaan

Tahap ini harus dilakukan pemeriksaan terhadap kebenaran nama,

jenis, nomor batch, tanggal kadaluwarsa, jumlah dan kemasan harus

sesuai dengan surat pengantar atau pengiriman barang atau faktur

penjualan barang. Obat atau bahan obat tidak boleh diterima jika

kadaluwarsa atau mendekati tanggal kadaluwarsa sehingga

kemungkinan besar obat atau bahan obat telah kadaluwarsa sebelum

digunakan oleh konsumen. Nomor batch dan tanggal kadaluwarsa

obat atau bahan obat harus dicatat pada saat penerimaan untuk

mempermudah penelusuran.

b. Tahap penyimpanan

Tahap ini obat atau bahan obat yang kadaluwarsa harus segera

ditarik, dipisahkan secara fisik dan diblokir secara elektronik.

Penarikan secara fisik untuk obat dan atau bahan obat kadaluwarsa

harus dilakukan secara berkala. Maka dari itu harus diambil langkah-
19

langkah untuk memastikan rotasi stock sesuai dengan tanggal

kadaluwarsa dan mengikuti kaidah First Expired First Out (FEFO).

D. Instalasi Farmasi Rumah Sakit

Instalasi Farmasi adalah unit pelaksana fungsional yang

menyelenggarakan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah sakit

(Permenkes, 2016b).

Instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) merupakan suatu unit dibawah

pimpinan seorang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan perundang

undangan yang berlaku dan kompeten secara profesional yang bertanggung

jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian. (Amalia & Siregar,

2004)

E. Tugas dan Tanggung Jawab Tenaga Kefarmasian

Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan

kefarmasian di apotek yang terdiri dari Apoteker dan Tenaga Teknis

Kefarmasian (Permenkes, 2017).

1. Apoteker

Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan

telah mengucapkan sumpah jabatan (Permenkes, 2016a). Apoteker

bertanggung jawab terhadap pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat

Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang

menjamin seluruh rangkaian kegiatan perbekalan Sediaan Farmasi, Alat

Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan ketentuan yang

berlaku serta memastikan kualitas, manfaat, dan keamanannya.


20

Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis

Pakai merupakan suatu siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan,

perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,

pendistribusian, pemusnahan dan penarikan, pengendalian, dan

administrasi yang diperlukan bagi kegiatan Pelayanan Kefarmasian

(Permenkes, 2014).

2. Tenaga Kefarmasian

Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker

dalam menjalani pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana

Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah

Farmasi/Asisten Apoteker. Pelaksanaan pekerjaan kefarmasian meliputi

pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan sediaan farmasi, produk sediaan

farmasi, distribusi atau penyaluran sediaan farmasi, dan pelayanan

sediaan farmasi (Permenkes, 2009)


BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey deskriptif

dengan pengambilan data kuantitatif dan metode verifikatif, yaitu hasil

penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya,

artinya penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang menekankan

analisisnya pada data-data numeric (angka), dengan menggunakan metode

penelitian ini akan diketahui hubungan yang signifikan antara pengetahuan

dengan sikap dalam mencegah obat dalam mencegah obat rusak dan

kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

B. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini menggunakan variabel yang bersifat tunggal yaitu

Pengetahuan dan Kepatuhan Tenaga Kefarmasian Dalam Mencegah Obat

Rusak dan Kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.

C. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Keaslian Penelitian
No Variabel Definisi Cara Hasil Skala
Operasional Pengukura Ukur
n
1. Pengetahuan Suatu hasil Kuesioner 1. Baik Ordinal
pengetahuan dengan skala 75%-
tenaga Guttman 100%
kefarmasian 2. Cukup
terkait obat 56%-
rusak dan 74%
kadaluarsa. [Link]
≤55%
22

Lanjutan Tabel 3.1 Keaslian Penelitian


2. Sikap Suatu respon Kuesioner 1. Baik Ordinal
dari tenaga dengan skala 75%-
kefarmasian likert 100%
terkait obat 2. Cukup
rusak dan 56%-
kadaluarsa. 74%
[Link]
≤55%

D. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus

Bengkulu.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari – maret 2024.

E. Populasi dan Sampel

1. Populasi penelitian ini adalah seluruh tenaga kefarmasian apoteker dan

tenaga teknis kefarmasian yang bekerja di Instalasi Farmasi RSUD Dr.

M. Yunus Bengkulu yang berjumlah 54 orang.

2. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh tenaga kefarmasian yang

bekerja di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu berjumlah

54 orang dan untuk pengambilan sampel dilakukan dengan cara total

sampling.
23

F. Tahap Pelaksanaan Penelitian

1. Tahap Pra Analitik

a. Pengurusan perizinan

Pengurusan pra perizinan penelitian ini dilakukan secara mandiri

oleh mahasiswa, pertama mahasiswa harus mendaftar secara online

di website resmi Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Setelah selesai

menginput data mengenai penelitian yang akan dilakukan,

selanjutnya mahasiswa dapat mengambil surat pra penelitian ke

bagian Administrasi Akademik (ADAK) Poltekkes Kemenkes

Bengkulu setelah surat pra penelitian sudah dicetak dan digunakan

sebagaimana mestinya.

b. Tahap Perizinan

Proses perizinan dimulai dengan membuat surat izin penelitian dari

Poltekkes Kemenkes Bengkulu dan pembuatan atau pengajuan

Ethical clearance (kode etik) penelitian, kemudian memasukkan

permohonan izin penelitian kepada kepada Dinas Penanaman Modal

Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) selanjutnya

perizinan ke Direktur Poltekkes Kemenkes Bengkulu.

c. Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari hasil

kuesioner yang telah diisi oleh tenaga kefarmasian di Instalasi

Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.


24

2. Tahap Analitik

a. Pengumpulan Data

Pengumpulan data untuk pengetahuan dan sikap dimulai dengan

memberikan kuesioner secara langsung kepada responden. Setelah

responden menyetujui, responden mengisi kuesioner dan

memperoleh suatu pengetahuan dan sikap secara objektif mengenai

pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat

rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus

Bengkulu. Setelah itu semua jawaban dikumpulkan oleh peneliti dan

mengucapkan terimakasih kepada responden atas kesediaanya

menjadi responden.

3. Tahap Pasca Analitik

a. Pengolahan Data

Data Pengetahuan dan sikap yang dikumpulkan diolah dan di

editing dengan cara hasil kuesioner yang diperoleh atau perlu

disunting (edit) terlebih dahulu. Kalau ternyata masih ada data atau

informasi yang tidak lengkap, maka kuesioner tersebut dikembalikan

kepada responden untuk dilengkapi kembali. Pengetahuan dapat di

ukur dengan menggunakan checklist skala Guttman. Nilai tertinggi

tiap satu pertanyaan adalah satu, jumlah pertanyaan ada 12 (dua

belas) maka nilai tertinggi dari seluruh pertanyaan adalah 12.

Pertanyaan dengan dua pilihan yaitu “benar” dan “salah”. Adapun

ketentuan pemberian skor yaitu “benar” diberi skor 1 dan “salah”


25

diberi skor 0 (Soegiyono, 2011). Berdasarkan total skor yang

diperoleh selanjutnya pengetahuan dikategorikan atas baik, cukup,

dan kurang dengan definisi sebagai berikut (Budiman & Agus,

2013):

1) Tingkat pengetahuan dikatakan baik jika responden mampu

menjawab pertanyaan pada kuesioner dengan benar sebesar

≥ 75% - 100% dari keseluruhan kuesioner.

2) Tingkat pengetahuan dikatakan cukup jika responden

mampu menjawab pertanyaan pada kuesioner dengan benar

sebesar 56% - 74% dari keseluruhan kuesioner.

3) Tingkat pengetahuan dikatakan kurang jika responden

kurang jika responden mampu menjawab pertanyaan pada

kuesioner dengan benar sebesar <55% dari keseluruhan

kuesioner.

Sikap dapat diukur dengan berdasarkan Skala Likert . Skala

Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat atau persepsi

seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Nilai

tertinggi tiap satu pertanyaan adalah empat, jumlah pertanyaan

adalah 17 maka nilai tertinggi untuk semua pertanyaan adalah 68.

Pertanyaan tersebut dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu

pertanyaan positif dan pertanyaan negatif. Bobot setiap pertanyaan

adalah sebagai berikut (Soegiyono, 2011) :

1) Pertanyaan yang merupakan sikap positif diberi bobot sebagai

berikut:
26

Sangat Setuju (SS) bobot 4

Setuju (S) bobot 3

Tidak Setuiu (TS) bobot 2

Sangat Tidak Setuju (STS) bobot 1

2) Pertanyaan yang merupakan sikap negatif diberi bobot sebagai

berikut:

Sangat Setuju (SS) bobot 1

Setuju (S) bobot 2

Tidak Setuju (TS) bobot 3

Sangat Tidak Setuju (STS) bobot 4

Pengukuran pengetahuan dan sikap untuk analisis data pada

penelitian ini menggunakan analisis univariate (Analisis deskriptif)

yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariate

tergantung dari jenis datanya. Pada umumnya dalam analisis in

hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap

variabel dengan menggunakan rumus (Notoatmodjo, 2018):

X
P= x 100 %
N

Keterangan:

P : Presentase nilai

X : Jumlah jawaban benar

N : Jumlah soal

Sedangkan metode yang digunakan dalam analisis data

pencegahan dan pengolahan obat rusak adalah metode analisis


27

kuantitatif–kualitatif dengan pendekatan deksriptif. Pada tahap ini

data akan dianalisis dan didiskripsikan dalam bentuk kata–kata

untuk memperjelas hasil yang diperoleh. Data tersebut meliputi

data penyimpanan obat high alert medication. Data yang telah

didapatkan akan dianalisis secara kuantitatif oleh peneliti. Untuk

membuat penyajian data maka data disajikan dalam bentuk tabel.

Perhitungan kuantitatif yang digunakan sebagai berikut

(Sibagariang et al., 2010)

x
P= x 100 = hasil %
y

Keterangan: Tingkat kepatuhan petugas dalam obat high alert

P = Tingkat kepatuhan petugas dalam pencegahan obat rusak dan

kadaluarsa

X = Jumlah kriteria yang sesuai dengan SOP pencegahan dan

pengolahan obat rusak dan kadaluarsa

Y = Jumlah yang tidak sesuai dengan SOP pencegahan dan

pengolahan obat rusak dan kadaluarsa

Maka dapat digunakan untuk mengungkapkan kriteria perilaku

patuh yaitu yaitu (AS Siswanto 2021) :

1. Patuh jika nilai > 50%

2. Tidak patuh ≤ 50%

b. Analisis data

Data yang diperoleh dicatat, dikelompokkan dengan menggunakan

SPSS, lalu disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Analisis


28

data dilakukan untuk melihat hubungan antara Pengetahuan dan

Kepatuhan. Analisis data bersifat deskriptif.

4. Etika penelitian

Etika penelitian berguna sebagai pelindung terhadap tempat dan peneliti

itu sendiri. Penelitian ini akan dilaksanakan setelah peneliti memperoleh

rekomendasi dari pembimbing dan mendapat izin dari Komisis Etik

Penelitian Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Selanjutnya

peneliti melakukan penelitian dengan memberikan Informed Consent

(lembar persetujuan menjadi sampel). Sebelum lembar persetujuan

diberikan kepada sampel, terlebih dahulu peneliti memberikan penjelasan

tentang maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang mungkin terjadi

selama dan sesudah pengumpulan data. Calon sampel yang bersedia

untuk diteliti diberi lembar persetujuan dan harus ditandatangani,

sedangkan calon sampel yang tidak bersedia atau menolak diteliti,

peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-haknya


29

DAFTAR PUSTAKA
Amalia, Lia & Siregar, C. J. . (2004). Book Farmasi Rumah Sakit Teori &
Terapan. (Penerbit Buku Kedokteran:).
Ambianti, N., Tandah, M. R., Diana, K., & Balqis, R. (2022). Analisis Tingkat
Pengetahuan Dan Sikap Tenaga Kefarmasian Dalam Mencegah Obat Rusak
Dan Kadarluarsa Di Rsud Tora Belo. Acta Pharmaciae Indonesia : Acta
Pharm Indo, 9(2), 105.
Ariani, A., Destyana, A., & Pragholapati, A. (2022). Gambaran Pengetahuan Ibu
Hamil Tentang Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi. Jurnal Indonesia Sosial Sains, 3(1), 145–151.
Aryani, A. F., Kusuma, A. M., & Galistiani, G. F. (2016). Hubungan Tingkat
Pengetahuan Pengelola Obat Terhadap Pengelolaan Obat Di Puskesmas.
Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi (Journal of Management and
Pharmacy Practice), 6(4), 303.
AS Siswanto. (2021). KepatuhanPenyimpanan dan Pelayanan Obat High Alert di
Instalasi Farmasi Puskesmas Benjeng Gresik. AS Siswanto, Sugiyono 2006,
2013–2015.
Bondan, A., & Dwi, S. (2019). Gambaran Penyebab dan Kerugian Karena Obat
Rusak dan Kadaluwarsa di Apotek Wilayah Kota Yogyakarta. Skripsi,
January. [Link]
BPOM RI, 2012. (2012). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor HK.[Link].12.7542 Tahun 2012 Tentang Pedoman
Teknis Cara Distribusi Obat Yang Baik. Farmakovigilans, 53, 1689–1699.
Budiman, & Agus, R. (2013). Pengetahuan dan Sikap Dalam Penelitian
Kesehatan. In Salemba Medika (Vol. 5, Issue ISSN).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2007). Pedoman Pengelolaan Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan di Daerah Kepulauan. Depkes RI, 59.
Febreani, S. H., & Chalidyanto, D. (2016). Pengelolaan Sediaan Obat Pada
Logistik Farmasi Rumah Sakit Umum Tipe B di Jawa Timur. Jurnal
Administrasi Kesehatan Indonesia, 4(2), 136.
Hendrawan, J. S., & Sirine, H. (2017). Pengaruh Sikap Mandiri, Motivasi,
Pengetahuan Kewirausahaan Terhadap Minat Berwirausaha. Journal of
Innovation and Entrepreneurship, 02(03), 291–314.
Kareri, D. R. (2018). Pelaporan Obat Rusak dan Kadaluarsa di Seksi Kefarmasian
Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur. Jurnal, 1–48.
Kemenkes RI. (2010). Materi Pelatihan Manajemen Kefarmasian di Puskesmas.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Indonesia, 23.
KemenkesRepublik Indonesia No 9. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 Tentang Apotek. Permenkes
Tahun 2017, 22(7), 874–882.
30

Mardiana D. (2017). Penanganan Obat di Puskesmas Gerung. Pharmaceutical &


Traditional Medicine, 1(1), 6–17.
Notoadmodjo, S. (2012). Book Promosi Kesehatan & Prilaku Kesehatan. In
Jakarta: EGC.
Notoatmodjo, S. (2018). Metodolgi Penelitian Kesehatan. In Rineka Cipta (Vol. 1,
p. 243).
Permenkes. (2009). Permenkes No 51 Tahun 2009. 5(3), 1–8.
Permenkes. (2014). Permenkes No 58 tahun 2014. Implementation Science, 39(1),
1–15.
Permenkes. (2016a). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34
Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
58 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit.
Revista CENIC. Ciencias Biológicas, 152(3), 28.
Permenkes. (2016b). Permenkes no 72 tahun 2016. Jurnal Penelitian Pendidikan
Guru Sekolah Dasar, 6(August), 128.
Rini, R. A., & Iljanto, S. (2014). Studi kasus analisis sistem peyimpanan obat di
sub bagian logistik rumah sakit Graha Permata Ibu tahun 2014. Logistik
Rumah Sakit, 44, 20.
Safanny Putri, Huwaydi Azzam Yusuf, Khansa Adristi, Adjrina Dawina Putri, &
Novita Dwi Istanti. (2022). Pemberian Obat Kedaluwarsa Kepada Pasien
Ditinjau Dari Kebijakan Kesehatan Di Indonesia. Jurnal Sains dan
Kesehatan, 6(2), 01–12.
Satibi Ali Kusnadi. (2015). Manajemen Obat di Rumah Sakit. Manejemen
Adminsitrasi Rumah Sakit, 8(5).
Sibagariang, R., Afifuddin, S., & Rahman, A. (2010). Analisis Produktivitas
Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg.) di Distrik Tapanuli Selatan
PT. Perkebunan Nusantara. Jurnal Agribisnis Sumatera Utara, 3(2), 1–8.
Soegiyono. (2011). Book Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
31

N
32

Lampiran 1. Skema Kerja Penelitian

Mengurus surat pengantar penelitian

Mengajukan surat pengantar penelitian RSUD


Dr. M. Yunus Bengkulu

Mendapat izin melaksanakan penelitian di


Instalasi Farmasi RSUD Dr. [Link]
Bengkulu

Mencari informasi data berupa SOP rumah


sakit dan jumlah keseluruhan tenaga
kefarmasian di Instalasi Farmasi RSUD Dr.
[Link] Bengkulu

Melakukan pengolahan data

Melakukan analisa data dan pembahasan


33

Lampiran 2. Surat Izin Pra Penelitian


34

Lampiran 3. Surat Permohonan Izin Pra Penelitian di RSUD Dr. M. Yunus


35

Lampiran 4. Kuesioner Penelitian Pengetahuan

KUESIONER
PENGETAHUAN TENAGA KEFARMASIAN DALAM MENCEGAH OBAT
RUSAK DAN KADALUARSA DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M.
YUNUS BENGKULU (Ambianti et al., 2022)

Identitas Responden :

Tanggal pengisian :

Jenis kelamin :

Umur :

Petunjuk pengisian :

1. Isilah data identitas yang telah disediakan.

2. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti dan jangan sampai ada pertanyaan

yang terlewatkan.

3. Jawablah pertanyaan dengan jujur, tanpa pengaruh orang lain.

4. Berilah tanda check list (√) untuk jawaban yang anda pilih didalam kolom

yang telah disediakan dan sesuai dengan jawaban.


36

Distribusi Item Kuesioner Tingkat Pengetahuan Tenaga


Kefarmasian tentang Obat Rusak dan Kadaluarsa di Instalasi Farmasi
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu (Ambianti et al., 2022)
No Pertanyaan Benar Salah

1. Obat dikatakan rusak apabila mengalami perubahan.


2. Obat kadaluarsa adalah obat yang masih dapat
dikonsumsi meskipun telah mengalami perubahan rasa.
3. Obat kadaluarsa ditentukan sejak obat masuk ke Gudang
IFRS.
4. Obat kadaluarsa adalah obat yang berada di IFRS dalam
jangka waktu yang lama.
5. Kemasan obat yang menggembung menandakan obat
telah lama disimpan.
6. Suhu 40°C adalah suhu optimal dalam penyimpanan obat
di IFRS.
7. Obat termolabil dapat disimpan dalam lemari
penyimpanan Bersama dengan obat lainnya.
8. Rusaknya suatu obat disebabkan karena paparan dari
Cahaya lampu.
9. Pembuatan formularium RS disesuaikan dengan resep
dokter.
10. 10 tahun sekali dilakukan pengadaan perbekalan farmasi.
11. Suppositoria disimpan bersampingan dengan sediaan
tablet.
12. Sediaan sirup disimpan dalam lemari pendingin.
37

Lampiran 5. Kuesioner Penelitian Sikap

KUESIONER
SIKAP TENAGA KEFARMASIAN DALAM MENCEGAH OBAT RUSAK
DAN KADALUARSA DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M. YUNUS
BENGKULU (Ambianti et al., 2022)

Identitas Responden :

Tanggal pengisian :

Jenis kelamin :

Umur :

Petunjuk pengisian :

1. Isilah data identitas yang telah disediakan.

2. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti dan jangan sampai ada pertanyaan

yang terlewatkan.

3. Jawablah pertanyaan dengan jujur, tanpa pengaruh orang [Link]

dengan memberi tanda check list (√) pada salah satu kolom Sangat Setuju

(SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS) sesuai

dengan keadaan yang sebenarnya.


38

Distribusi Item Kuesioner Sikap Tenaga Kefarmasian dalam mencegah Obat


Rusak dan Kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
(Ambianti et al., 2022)
No Pertanyaan SS S TS STS

1. Saya memahami apa yang dimaksud dengan


standar prosedur operasional.
2. Pengecekan kondisi sediaan farmasi hanya
dilakukan oleh tenaga kefarmasian di bagian
gudang.
3. Saya yakin jika obat rusak yang diterima
dari PBF dapat diretur.
4. Saya yakin untuk menyimpan obat dalam
kemasan asli dan tertutup rapat.
5. Pengecekkan kondisi dan masa kadaluarsa
hanya dilakukan saat penerimaan barang
datang.
6. Saya menganggap sediaan obat cair dan semi
padat perlu disimpan secara terpisah.
7. Petugas gudang farmasi IFRS menyimpan
sediaan tablet dan kapsul dengan ruangan
45°C.
8. Saya merasa senang Ketika mengembalikan
obat ke PBF 3 bulan sebelum kadaluarsa.
9. Saya merasa senang jika memberi tanda khusus
untuk obat dengan waktu kadaluarsa singkat.
10. Saya merasa lebih nyaman jika menerapkan
system FIFO atau FEFO.
11. Sebagai tenaga kefarmasian, saya perlu
membantu dalam kegiatan pengadaan obat
yang sesuai.
12. Jika obat yang diresepkan tidak terdapat dalam
gudang, maka saya akan mengkonfirmasi
dengan dokter.
39

13. Saya menyarankan kepada dokter untuk


membuat resep sesuai formularium RS.
14. Sebagai tenaga kefarmasian, saya perlu
membantu dalam kegiatan pengadaan obat
yang sesuai.
15. Saya sering menyimpan obat berdasarkan jenis
sediaannya.
16. Saya menggunakan absorben untuk
menyimpan obat higroskopis.
17. Saya memperhatikan tanggal kadaluarsa obat
setiap melakukan penyimpanan.

Lampiran 6. Checklist Pencegahan SOP

CHECKLIS PENCEGAHAN SOP


40

NAMA SOP : Pencegahan dan Pengelolaan Obat Rusak dan Kadaluarsa


UNIT TERKAIT :
TANGGAL :
Keterangan :
1. Lembar cheklist ini digunakan untuk mengetahui cara pencegahan dan
pengelolaan obat rusak dan kadaluarsa berdasarkan SOP
2. Kotak jawaban akan di isi √ jika jawaban sesuai
3. Kolom jawaban “YA” jika sesuai prosedur
4. Kolom jawaban “TIDAK” bila tidak sesuai prosedur

CHECKLIST PENILAIAN KESESUAIAN SOP PENCEGAHAN DAN


PENGELOAAN OBAT RUSAK DAN KADALUARSA DI INSTALASI
FARMASI RSUD Dr. M. YUNUS KOTA BENGKULU

Pelaksanaan
NO Langkah – langkah prosedur
YA TIDAK
1. Sedian farmasi - alat kesehatan yang mendekati
tanggal kadaluarsa (1-3 bulan sebelumnya)
dipisahkan beserta fakturnya.
2. Menghubungi distributornya untuk mengambil
obat tersebut.
3. Salesman akan menukar obat-obat tersebut dengan
obat baru dengan ED yg lebih lama atau diganti
dengan uang.
4. Untuk obat-obat yang tidak bisa diretur maka obat-
obat ED dikumpulkan tersendiri dan pemusnahan
dilakukan tiap tahun dan juga obat-obat yang
rusak.
5. Melakukan pencatatan untuk dilakukan
pemusnahan.

Anda mungkin juga menyukai