PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
PENGETAHUAN DAN SIKAP TENAGA KEFARMASIAN DALAM
MENCEGAH OBAT RUSAK DAN KADALUARSA
DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M. YUNUS BENGKULU
Oleh:
NOVIRA AZZAHRA
NIM : P05150221029
PROGRAM STUDI FARMASI PROGRAM DIPLOMA TIGA
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BENGKULU
TAHUN 2023
HALAMAN JUDUL
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
PENGETAHUAN DAN SIKAP TENAGA KEFARMASIAN DALAM
MENCEGAH OBAT RUSAK DAN KADALUARSA
DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M. YUNUS BENGKULU
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Diploma Tiga
Program Studi Farmasi Poltekkes Kemenkes Bengkulu
Oleh:
NOVIRA AZZAHRA
NIM : P05150221029
PROGRAM STUDI FARMASI PROGRAM DIPLOMA TIGA
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BENGKULU
TAHUN 2023
i
HALAMAN PERSETUJUAN
Proposal Karya Tulis Ilmiah dengan Judul :
PENGETAHUAN DAN SIKAP TENAGA KEFARMASIAN DALAM
MENCEGAH OBAT RUSAK DAN KADALUARSA
DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M. YUNUS BENGKULU
Yang Dipersiapkan dan Dipresentasikan Oleh :
NOVIRA AZZAHRA
NIM : P05150221029
Proposal Karya Tulis Ilmiah Ini Telah Diperiksa Dan Disetujui
Untuk Dipresentasikan Dihadapan Tim Penguji
Poltekkes Kemenkes Bengkulu
Program Studi Farmasi Program Diploma Tiga
Tanggal :
Oleh :
Dosen Pembimbing Proposal Karya Tulis Ilmiah
Pembimbing I Pembimbing II
Nadia Pudiarifanti., [Link], Apt Wessi Windrasari, [Link]., Apt
NIP. 199001012019022001 NIP. 19800524200502200
ii
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : NOVIRA AZZAHRA
NIM : P05150221029
Judul Proposal Penelitian : PENGETAHUAN DAN SIKAP TENAGA
KEFARMASIAN DALAM MENCEGAH OBAT RUSAK DAN
KADALUARSA DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M.
YUNUSBENGKULU
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa proposal penelitian ini betul-betul
hasil karya saya dan bukan hasil penjiplakan dari hasil karya orang lain. Demikian
pernyataan ini dan apabila kelak hari terbukti dalam proposal penelitian ada unsur
penjiplakan, maka saya bersedia mempertanggung jawabkan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Bengkulu, Oktober 2023
Yang menyatakan
NOVIRA AZZAHRA
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala
rahmat dan karunia yang dicurahkan-Nya serta kemudahan yang diberikan-Nya
sehingga dapat menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini dengan judul
“Pengetahuan dan Sikap Tenaga Kefarmasian Dalam Mencegah Obat Rusak dan
Kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu”. Dalam
penyelesaian KTI ini penulis banyak mendapat bantuan baik materil maupun
moril dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Eliana, SKM., MHP selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
2. Bapak Sahidan, [Link]., [Link] selaku Ketua Jurusan Analis Kesehatan
Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
3. Ibu Resva Meinisasti, [Link]., Apt selaku Ketua Program Studi Diploma III
Farmasi Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
4. Ibu Apt. Nadia Pudiarifanti, [Link]. selaku Pembimbing I yang telah
membimbing dan memberi semangat.
5. Ibu Wessi Windrasari, [Link]., Apt selaku Pembimbing II yang telah
memberi semangat dan memberi bimbingan.
6. Serta seluruh dosen dan staf yang telah memberi semangat dan ilmu yang
tidak dapat di sebutkan satu persatu.
7. Kedua orangtua dan keluarga tercinta yang selalu memberikan semangat dan
dukungan penuh kepadaku serta terima kasih atas doanya untuk penulis.
8. Serta semua pihak yang selalu memberikan banyak masukan dan tetap
menyemangati penulis.
iv
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penyusun mengharapkan
adanya kritik dan saran yang bersifat membangun agar dapat membantu perbaikan
selanjutnya. Terima kasih.
Bengkulu, Oktober 2023
Penulis
v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.........................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN.........................................................................ii
PERNYATAAN...............................................................................................iii
KATA PENGANTAR.....................................................................................iv
DAFTAR ISI....................................................................................................vi
DAFTAR TABEL...........................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................viii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................1
A. Latar Belakang.............................................................................................1
B. Rumusan Masalah........................................................................................3
C. Tujuan Penelitian..........................................................................................3
D. Manfaat Penelitian........................................................................................4
E. Keaslian Penelitian.......................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................6
A. Pengetahuan (Knowledge)............................................................................6
B. Sikap (Attitude).............................................................................................9
C. Obat Rusak dan Kadaluarsa.......................................................................12
D. Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS).......................................................18
E. Tugas dan Tanggung Jawab Tenaga Kefarmasian.....................................18
BAB III METODE PENELITIAN...............................................................20
A. Jenis penelitian...........................................................................................20
B. Variabel Penelitian.....................................................................................20
C. Definisi Operasional...................................................................................20
D. Tempat dan Waktu Penelitian....................................................................21
E. Populasi dan Sampel..................................................................................21
F. Tahap Pelaksaan Penelitian........................................................................22
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................29
LAMPIRAN....................................................................................................31
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian.............................................................................5
Tabel 3.1 Definisi Operasional..........................................................................20
vii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Skema Kerja Penelitian..................................................................31
Lampiran 2 Kuesioner Penelitian Pengetahuan.................................................32
Lampiran 3 Surat Permohonan Izin Pra Penelitian di RSUD Dr. M. Yunus.....32
Lampiran 4 Kuesioner Penelitian Pengetahuan.................................................34
Lampiran 5 Kuesioner Penelitian Sikap............................................................36
Lampiran 6 Checklist Pencegahan SOP............................................................39
viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016. Tentang standar pelayanan di
rumah sakit, disebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan pasien, penyediaan obat
yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi
semua lapisan Masyarakat (Permenkes, 2016b).
Apoteker bertanggung jawab terhadap pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan dan bahan medis habis pakai di rumah sakit yang dimulai dari
pemilihan, perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
pendistribusian, pemusnahan dan penarikan, pengendalian dan administrasi
yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan kefarmasian (Permenkes, 2014).
Obat rusak dan kadaluarsa merupakan salah satu masalah yang dapat
mencerminkan ketidaktepatan dan kurang baiknya manajemen pengelolaan
obat disebuah IFRS. Penyebab obat menjadi rusak dikarenakan proses
penyimpanan obat yang salah dan proses penerimaan obat yang salah
(Bondan & Dwi, 2019).
Obat yang sudah rusak dan melewati masa kadaluwarsa dapat
membahayakan tubuh dan mengakibatan efek toksik (racun) hal ini disebakan
karena telah berkurangnya stabilitas obat, kerja obat sudah tidak optimal dan
kecepatan reaksinya telah menurun (Satibi Ali Kusnadi, 2015). Dilansir oleh
Antara pada tahun 2022 dalam (Safanny Putri et al., 2022) ditemukan kasus
mengenai kelalaian petugas farmasi dalam pemberian obat paracetamol drops
yang telah kadalurasa kepada seorang balita di kota Tanggerang , Banten pada
2
saat mengikuti Bulan Imunidasi Anak Nasional (BIAN) di Posyandu Bunga
Kenanga, Kecamatan Karang Tengah yang menyebabkan kerugian terhadap
puskesmas.
Penyebab obat rusak dan kadaluarsa dikarenakan ketidakefisienan dan
ketidaklancaran pengelolaan obat (Mardiana D., 2017). Pada penelitian
Chalidyanto di Jawa Timur, diketahui bahwa metode penyimpanan obat
dalam pelaksanaanya masih tergolong kurang baik (61,54%) (Febreani &
Chalidyanto, 2016). Hal yang sama juga dibuktikan pada penelitian
Ardiningtyas di Yogyakarta, Penyebab obat rusak karena kesalahan pada
proses penerimaan (45,16%) dan kesalahan pada proses penyimpanan
(54,84%). Sedangkan penyebab obat kedaluarsa karena kesalahan tidak
menerapkan FEFO (48,39%), tidak laku (25,81%), kesalahan penyimpanan
(22,58%), dan kesalahan pada saat penerimaan (3,22%) (Ardiningtyas, 2019).
Berdasarkan hasil penelitian Restia tahun 2014 tentang menganalisis
sistem penyimpanan obat di Sub Bagian Logistik Rumah Sakit Gra Permata
Ibu Tahun 2014 menyatakan bahwa sistem penyimpanan obat belum sesuai
dengan standar dan indikator penyimpanan yang efektif. Hal ini diketahui dari
ditemukannya obat yang kadaluarsa dalam jumlah banyak, ditemukannya
kejadian obat out of stock, over stock, dan dead stock, kekurangan jumlah
SDM, serta ketidakcukupan gudang dan prasarana untuk memuat inventory
(Rini & Iljanto, 2014).
Berdasarkan hasil penelitian di Puskesmas Kabupaten Banyumas,
didapatkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan pengelolaan obat
tenaga kefarmasian dengan tingkat kemampuan pengelolaan obat tenaga
3
kefarmasian. Hubungan ini diketahui bersifat searah yang artinya jika tingkat
pengetahuan dalam mengelola makin tinggi maka kemampuanya dalam
mengelola juga akan semakin baik (Galistiani, 2016). Pentingnya
pengetahuan dan sikap yang dimiliki oleh tenaga kefarmasian dalam
pengelolaan obat mendorong saya untuk melakukan penelitian yang bertujuan
mengetahui pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat
rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini ialah Bagaimana pengetahuan dan
sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat rusak dan kadaluarsa di
Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan
dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat rusak dan kadaluarsa
di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
2. Tujuan Khusus
A. Untuk mengetahui pengetahuan dari tenaga kefarmasian dalam
mencegah obat rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu.
B. Untuk mengetahui sikap dari tenaga kefarmasian dalam mencegah
obat rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu.
4
C. Untuk mengetahui cara mencegah obat rusak dan kadaluarsa di
Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
D. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap tenaga
kefarmasian dalam mencegah obat rusak dan kadaluarsa di Instalasi
Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Manfaat bagi peneliti sebagai tambahan wawasan dan pengalaman terkait
pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat
rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
2. Bagi Peneliti Lain
Sebagai sumber data dan informasi bagi peneliti selanjutnya dalam
bidang kajian pelayanan kefarmasian yang berkaitan dalam mencegah
obat rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu.
3. Bagi Rumah Sakit
Sebagai acuan dan masukan dalam pelayanan kefarmasian khususnya
pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat rusak
dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Kota Bengkulu.
4. Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan tentang pencegahan obat rusak dan kadaluarsa
di rumah sakit.
5
E. Keaslian Penelitian
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
Lokasi dan
Jenis Variabel
No Judul Penelitian Nama Peneliti Waktu
Penelitian Penelitian
Penelitian
1. Analisis tingkat Nurul Ambianti, Di RSUD Tora Non Seluruh tenaga
pengetahuan dan Muhamad Belo Mei- eksperimen kefarmasian di
sikap tenaga Rinaldhi Tandah, Oktober 2020 tal secara RSUD Tora
kefarmasian dalam Khusnul Diana , cross Belo
mencegah obat Ratu Balqis sectional
rusak dan
kadaluarsa di
RSUD Tora Belo
2. Evaluasi Mideria Halawa, IFRS umum Noneksperi Laporan
pengeloaan obat Wempi Eka pindad bandung mental bulanan obat
rusak atau Rusmana tahun 2021 yang rusak atau
kadaluarsa bersifat kadaluarsa
terhadap sediaan deskriftif januari-maret
farmasi di salah 2021
satu runmah sakit
umum swasta kota
bandung
3. Gambaran Evi Gosyanti, Di rumah sakit Kualitatif observasi
pengelolaan obat Milda Rianty swasta kota dengan lapangan dan
rusak dan Lakoan bekasi tahun mengamati wawancara
kadaluarsa di 2023 langsung
instalasi farmasi
rumah sakit x
Bekasi.
4. Pharmacists’ Charlotte L. Berbagai Deskriptif Data diperoleh
Activities to Bekker, Helga negara 2018 metode dari hasil
Reduce Medication Gardarsdottir, survei kuseioner
Waste: An Antoine C. G. seluruh
International Egberts, Marcel apoteker
Survey L. Bouvy and
Bart J. F. van den
Bemt
Pengetahuan dan Hananditia Apotek Malang Observasio Data diambil
ketepatan apoteker Rachma Raya tahun nanalitik dari hasil
5.
dalam pemusnahan Pramestutie, 2021 dengan kuesioner
obat sisa, obat Ratna Kurnia rancangan apoteker
rusak, dan obat Ilahi, Ayuk cross
kadaluarsa Lawuningtyas sectional
Hariadini,
Tamara Gusti
Ebtavanny, Maly
da Savira
6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan (Knowledge)
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan segala sesuatu yang berada di kepala kita.
Kita dapat mengetahui segala sesuatu berdasarkan pengalaman yang kita
miliki. Selain pengalaman, kita juga menjadi tahu karena kita diberitahu
oleh orang lain (Ariani et al., 2022).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu seseorang terhadap suatu
objek melalui panca indra yang dimilikinya, yakni indra penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Dengan adanya pengetahuan
seseorang akan mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan
menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi (Notoadmodjo,
2012).
2. Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan berdasarkan (Notoadmodjo, 2012)
diklasifikasikan menjadi 6 tingkatan pengetahuan, yaitu:
a. Tahu (know)
Tahu dapat diperhatikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya yang terdiri dari pengetahuan terhadap fakta,
konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori dan
kesimpulan.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan seseorang yang
sudah dapat menjelaskan dan menginterpretasikan dengan benar
8
suatu objek yang diketahui. Orang yang telah paham terhadap objek
atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang
dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi
sebenarnya.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menguraikan suatu materi
atau objek menjadi elemen elemen sederhana. Kemampuan analisis
ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat
menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan
sebagainya.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis adalah kemampuan seseorang dalam menyusun formulasi
baru dari formulasi – formulasi yang sudah dimilikinya.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan
penilaian terhadap suatu materi atau objek.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut (Budiman
& Riyanto, 2013) ada 6 faktor yang mempengaruhi pengetahuan
seseorang yaitu:
9
a. Pendidikan
Proses perubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok dan
merupakan usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan pelatihan.
b. Informasi atau Media Massa
Informasi merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan,
menyiapkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan,
menganalisis dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu
yang diperoleh dari pendidikan formal dan non formal.
c. Sosial Budaya dan Ekonomi
Kebiasaan dan tradisi ini dilakukan tanpa penalaran apakah yang
dilakukan baik atau buruk salah satunya ditentukan oleh status
ekonomi seseorang karena akan menentukan tersedianya suatu
fasilitas yang dibutuhkan. Seseorang yang mempunyai sosial budaya
yang baik maka pengetahuannya akan baik tapi jika sosial
budayanya kurang baik maka pengetahuannya akan kurang baik.
d. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik
itu lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan juga
berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan pada seseorang
karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan
direspon sebagai pengetahuan oleh seseorang.
10
e. Pengalaman
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman orang lain maupun diri
sendiri sehingga pengalaman yang sudah diperoleh dapat
meningkatkan pengetahuan seseorang. Pengalaman seseorang dapat
mempengaruhi pengetahuan, semakin banyak pengalaman seseorang
tentang suatu hal, maka akan semakin bertambah pula pengetahuan
seseorang akan hal tersebut.
f. Usia
Semakin bertambahnya usia maka akan semakin berkembang pula
daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang
diperoleh juga akan semakin membaik dan bertambah.
B. Sikap (Attitude)
1. Pengertian Sikap
Sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan yang diatur
melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah
terhadap respon individu pada semua obyek dan situasi yang
berkaitan dengannya (Hendrawan & Sirine, 2017).
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek Sikap secara nyata
menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus
tertentu yang dalam kehidupn sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat
emosional terhadap stimulus sosial. (Notoadmodjo, 2012).
11
2. Tingkatan Sikap
Beberapa komponen sikap dapat membantu dalam pembentukan
sikap. Di dalam pembentukan sikap terdapat beberapa tingkatan.
Beberapa tingkatan tersebut memiliki perbedaan satu sama lain, dan
dapat terjadi pada setiap orang. Menurut (Notoadmodjo, 2012) sikap
terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek).
b. Merespons (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mendiskusikan suatu masalah adalah
suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut
Azwar dalam (Budiman & Riyanto, 2013) adalah :
12
a. Pengalaman Pribadi
Sesuatu yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan
mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial.
Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap.
b. Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh
besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila kita hidup dalam
budaya yang mempunyai norma longgar bagi pergaulan
heteroseksual, sangat mungkin kita akan mempunyai sikap yang
mendukung terhadap masalah kebebasan pergaulan heteroseksual.
c. Orang Lain yang Dianggap Penting
Seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang kita harapkan
persetujuannya bagi setiap gerak dan tingkah dan pendapat kita,
seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang
berati khusus bagi kita, akan banyak mempengaruhi pembentukan
sikap kita terhadap sesuatu. Diantara orang yang biasanya dianggap
penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya
lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau
suami dan lain-lain.
d. Media Massa
Media massa sebagai sarana komunikasi. Berbagai bentuk media
massa mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan
kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal
13
memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap
hal tersebut.
e. Institusi atau Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem
mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya
meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.
f. Faktor Emosi Dalam Diri Individu
Bentuk sikap tidak semuanya ditentukan oleh situasi lingkungan dan
pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap
merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi
sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego.
C. Obat Rusak dan Kadaluarsa
1. Definisi Obat Rusak dan Kadaluarsa
Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk
manusia (Permenkes, 2016a).
Obat rusak atau kadaluarsa adalah kondisi obat bila konsentrasinya
sudah berkurang antara 25-30% dari konsentrasi awalnya serta bentuk
fisik yang mengalami perubahan, obat yang bentuk atau kondisinya tidak
dapat digunakan lagi. Obat kadaluarsa ditandai dengan bulan dan tahun
pada kemasan sudah melebihi batas akhir obat yang dapat menimbulkan
14
penyakit pada manusia serta dapat menyebabkan kematian karena kadar
fungsi yang telah berubah (Kareri, 2018).
2. Tanda -Tanda Obat Kadaluarsa dan Rusak
Terdapat beberapa tanda obat rusak dan kadaluarsa yang tidak boleh
dikonsumsi, antara lain telah melewati tanggal kadaluarsa yang
tercantum dan obat mengalami perubahan mutu. Tanda-tanda perubahan
mutu obat adalah sebagai berikut (Depkes RI, 2007):
1. Tablet.
1) Terjadinya perubahan warna, bau atau rasa
2) Kerusakan berupa noda, berbintik-bintik, lubang, sumbing,
pecah, retak dan atau terdapat benda asing, jadi bubuk dan
lembab
3) Kaleng atau botol rusak, sehingga dapat mempengaruhi mutu
obat
2. Kapsul.
1) Perubahan warna isi kapsul
2) Kapsul terbuka, kosong, rusak atau melekat satu dengan
lainnya
3. Tablet salut.
1) Pecah-pecah, terjadi perubahan warna
2) Basah dan lengket satu dengan yang lainnya
3) Kaleng atau botol rusak sehingga menimbulkan kelainan fisik
4. Cairan.
1) Menjadi keruh atau timbul endapan
15
2) Konsistensi berubah
3) Warna atau rasa berubah
4) Botol-botol plastik rusak atau bocor
5. Salep.
1) Warna berubah
2) Konsistensi berubah
3) Pot atau tube rusak atau bocor
4) Bau berubah
6. Injeksi
1) Kebocoran wadah (vial, ampul)
2) Terdapat partikel asing pada serbuk injeksi
3) Larutan yang seharusnya jernih tampak keruh atau ada
endapan
4) Warna larutan berubah
3. Kondisi Yang Mempercepat Kadaluarsa Obat
Ada beberapa hal yang dapat mempercepat masa obat rusak dan
kadaluarsa, seperti cara penyimpanan yang tidak tepat. Faktor – faktor
yang mempercepat masa obat rusak dan kadaluarsa sebagai berikut
(Kemenkes RI, 2010) :
a. Kelembaban
Udara lembab dapat mempengaruhi obat-obatan sehingga
mempercepat kerusakan. Untuk menghindari udara lembab tersebut
maka perlu dilakukan upaya-upaya berikut :
1) Ventilasi harus baik, jendela dibuka.
16
2) Simpan obat ditempat yang kering.
3) Wadah harus selalu tertutup rapat, jangan dibiarkan terbuka.
4) Bila memungkinkan pasang kipas angin atau AC. Karena makin
panas udara di dalam ruangan maka udara semakin lembab.
5) Biarkan pengering (silica gel) tetap dalam wadah tablet dan
kapsul.
6) Kalau ada atap yang bocor harus segera diperbaiki.
b. Sinar Matahari
Sebagian besar cairan, larutan dan injeksi cepat rusak karena
pengaruh sinar matahari. Sebagai contoh, Injeksi Klorpromazin yang
terkena sinar matahari akan berubah warna menjadi kuning terang
sebelum tanggal kadaluwarsa. Cara mencegah kerusakan karena
sinar matahari antara lain:
1) Jendela-jendela diberi gorden.
2) Kaca jendela dicat putih.
c. Temperatur/Panas
Obat seperti salep, krim dan supositoria sangat sensitif terhadap
pengaruh panas, dapat meleleh. Oleh karena itu hindarkan obat dari
udara panas. Sebagai contoh, Salep Oksitetrasiklin akan lumer bila
suhu penyimpanan tinggi dan akan mempengaruhi kualitas salep
tersebut. Ruangan obat harus sejuk, beberapa jenis obat harus
disimpan di dalam lemari pendingin pada suhu 4 – 8 o C, seperti:
1) Vaksin
2) Sera dan produk darah
17
3) Antitoksin
4) Insulin
5) Injeksi antibiotika yang sudah dipakai (sisa)
6) Injeksi oksitosin
7) Injeksi Metil Ergometrin
Untuk DPT, DT, TT, vaksin atau kontrasepsi jangan dibekukan
karena akan menjadi rusak. Cara mencegah kerusakan karena panas
antara lain:
1) Bangunan harus memiliki ventilasi/sirkulasi udara yang
memadai.
2) Hindari atap gedung dari bahan metal.
3) Jika memungkinkan dipasang Exhaust Fan atau AC.
d. Kerusakan Fisik
Untuk menghindari kerusakan fisik dapat dilakukan antara lain:
1) Penumpukan dus obat harus sesuai dengan petunjuk pada
karton, jika tidak tertulis pada karton maka maksimal ketinggian
tumpukan delapan dus, karena obat yang ada di dalam dus
bagian tengah ke bawah dapat pecah dan rusak, selain itu akan
menyulitkan pengambilan obat.
2) Hindari kontak dengan benda - benda yang tajam
e. Kontaminasi
Wadah obat harus selalu tertutup rapat. Apabila wadah terbuka, maka
obat mudah tercemar oleh bakteri atau jamur.
f. Pengotoran
18
Ruangan yang kotor dapat mengundang tikus dan serangga lain yang
kemudian merusak obat. Etiket dapat menjadi kotor dan sulit terbaca.
Oleh karena itu bersihkan ruangan setiap hari, lantai disapu dan
dipel, dinding dan rak dibersihkan.
4. Pencegahan Obat Rusak dan Kadaluarsa
Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) untuk
mencegah terjadinya obat rusak dan kadaluarsa adalah sebagai berikut
(BPOM RI, 2012) :
a. Tahap penerimaan
Tahap ini harus dilakukan pemeriksaan terhadap kebenaran nama,
jenis, nomor batch, tanggal kadaluwarsa, jumlah dan kemasan harus
sesuai dengan surat pengantar atau pengiriman barang atau faktur
penjualan barang. Obat atau bahan obat tidak boleh diterima jika
kadaluwarsa atau mendekati tanggal kadaluwarsa sehingga
kemungkinan besar obat atau bahan obat telah kadaluwarsa sebelum
digunakan oleh konsumen. Nomor batch dan tanggal kadaluwarsa
obat atau bahan obat harus dicatat pada saat penerimaan untuk
mempermudah penelusuran.
b. Tahap penyimpanan
Tahap ini obat atau bahan obat yang kadaluwarsa harus segera
ditarik, dipisahkan secara fisik dan diblokir secara elektronik.
Penarikan secara fisik untuk obat dan atau bahan obat kadaluwarsa
harus dilakukan secara berkala. Maka dari itu harus diambil langkah-
19
langkah untuk memastikan rotasi stock sesuai dengan tanggal
kadaluwarsa dan mengikuti kaidah First Expired First Out (FEFO).
D. Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Instalasi Farmasi adalah unit pelaksana fungsional yang
menyelenggarakan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah sakit
(Permenkes, 2016b).
Instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) merupakan suatu unit dibawah
pimpinan seorang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan perundang
undangan yang berlaku dan kompeten secara profesional yang bertanggung
jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian. (Amalia & Siregar,
2004)
E. Tugas dan Tanggung Jawab Tenaga Kefarmasian
Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan
kefarmasian di apotek yang terdiri dari Apoteker dan Tenaga Teknis
Kefarmasian (Permenkes, 2017).
1. Apoteker
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan
telah mengucapkan sumpah jabatan (Permenkes, 2016a). Apoteker
bertanggung jawab terhadap pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang
menjamin seluruh rangkaian kegiatan perbekalan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan ketentuan yang
berlaku serta memastikan kualitas, manfaat, dan keamanannya.
20
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai merupakan suatu siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan,
perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
pendistribusian, pemusnahan dan penarikan, pengendalian, dan
administrasi yang diperlukan bagi kegiatan Pelayanan Kefarmasian
(Permenkes, 2014).
2. Tenaga Kefarmasian
Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker
dalam menjalani pekerjaan kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana
Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah
Farmasi/Asisten Apoteker. Pelaksanaan pekerjaan kefarmasian meliputi
pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan sediaan farmasi, produk sediaan
farmasi, distribusi atau penyaluran sediaan farmasi, dan pelayanan
sediaan farmasi (Permenkes, 2009)
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey deskriptif
dengan pengambilan data kuantitatif dan metode verifikatif, yaitu hasil
penelitian yang kemudian diolah dan dianalisis untuk diambil kesimpulannya,
artinya penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang menekankan
analisisnya pada data-data numeric (angka), dengan menggunakan metode
penelitian ini akan diketahui hubungan yang signifikan antara pengetahuan
dengan sikap dalam mencegah obat dalam mencegah obat rusak dan
kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
B. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini menggunakan variabel yang bersifat tunggal yaitu
Pengetahuan dan Kepatuhan Tenaga Kefarmasian Dalam Mencegah Obat
Rusak dan Kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
C. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Keaslian Penelitian
No Variabel Definisi Cara Hasil Skala
Operasional Pengukura Ukur
n
1. Pengetahuan Suatu hasil Kuesioner 1. Baik Ordinal
pengetahuan dengan skala 75%-
tenaga Guttman 100%
kefarmasian 2. Cukup
terkait obat 56%-
rusak dan 74%
kadaluarsa. [Link]
≤55%
22
Lanjutan Tabel 3.1 Keaslian Penelitian
2. Sikap Suatu respon Kuesioner 1. Baik Ordinal
dari tenaga dengan skala 75%-
kefarmasian likert 100%
terkait obat 2. Cukup
rusak dan 56%-
kadaluarsa. 74%
[Link]
≤55%
D. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari – maret 2024.
E. Populasi dan Sampel
1. Populasi penelitian ini adalah seluruh tenaga kefarmasian apoteker dan
tenaga teknis kefarmasian yang bekerja di Instalasi Farmasi RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu yang berjumlah 54 orang.
2. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh tenaga kefarmasian yang
bekerja di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu berjumlah
54 orang dan untuk pengambilan sampel dilakukan dengan cara total
sampling.
23
F. Tahap Pelaksanaan Penelitian
1. Tahap Pra Analitik
a. Pengurusan perizinan
Pengurusan pra perizinan penelitian ini dilakukan secara mandiri
oleh mahasiswa, pertama mahasiswa harus mendaftar secara online
di website resmi Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Setelah selesai
menginput data mengenai penelitian yang akan dilakukan,
selanjutnya mahasiswa dapat mengambil surat pra penelitian ke
bagian Administrasi Akademik (ADAK) Poltekkes Kemenkes
Bengkulu setelah surat pra penelitian sudah dicetak dan digunakan
sebagaimana mestinya.
b. Tahap Perizinan
Proses perizinan dimulai dengan membuat surat izin penelitian dari
Poltekkes Kemenkes Bengkulu dan pembuatan atau pengajuan
Ethical clearance (kode etik) penelitian, kemudian memasukkan
permohonan izin penelitian kepada kepada Dinas Penanaman Modal
Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) selanjutnya
perizinan ke Direktur Poltekkes Kemenkes Bengkulu.
c. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari hasil
kuesioner yang telah diisi oleh tenaga kefarmasian di Instalasi
Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu.
24
2. Tahap Analitik
a. Pengumpulan Data
Pengumpulan data untuk pengetahuan dan sikap dimulai dengan
memberikan kuesioner secara langsung kepada responden. Setelah
responden menyetujui, responden mengisi kuesioner dan
memperoleh suatu pengetahuan dan sikap secara objektif mengenai
pengetahuan dan sikap tenaga kefarmasian dalam mencegah obat
rusak dan kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu. Setelah itu semua jawaban dikumpulkan oleh peneliti dan
mengucapkan terimakasih kepada responden atas kesediaanya
menjadi responden.
3. Tahap Pasca Analitik
a. Pengolahan Data
Data Pengetahuan dan sikap yang dikumpulkan diolah dan di
editing dengan cara hasil kuesioner yang diperoleh atau perlu
disunting (edit) terlebih dahulu. Kalau ternyata masih ada data atau
informasi yang tidak lengkap, maka kuesioner tersebut dikembalikan
kepada responden untuk dilengkapi kembali. Pengetahuan dapat di
ukur dengan menggunakan checklist skala Guttman. Nilai tertinggi
tiap satu pertanyaan adalah satu, jumlah pertanyaan ada 12 (dua
belas) maka nilai tertinggi dari seluruh pertanyaan adalah 12.
Pertanyaan dengan dua pilihan yaitu “benar” dan “salah”. Adapun
ketentuan pemberian skor yaitu “benar” diberi skor 1 dan “salah”
25
diberi skor 0 (Soegiyono, 2011). Berdasarkan total skor yang
diperoleh selanjutnya pengetahuan dikategorikan atas baik, cukup,
dan kurang dengan definisi sebagai berikut (Budiman & Agus,
2013):
1) Tingkat pengetahuan dikatakan baik jika responden mampu
menjawab pertanyaan pada kuesioner dengan benar sebesar
≥ 75% - 100% dari keseluruhan kuesioner.
2) Tingkat pengetahuan dikatakan cukup jika responden
mampu menjawab pertanyaan pada kuesioner dengan benar
sebesar 56% - 74% dari keseluruhan kuesioner.
3) Tingkat pengetahuan dikatakan kurang jika responden
kurang jika responden mampu menjawab pertanyaan pada
kuesioner dengan benar sebesar <55% dari keseluruhan
kuesioner.
Sikap dapat diukur dengan berdasarkan Skala Likert . Skala
Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat atau persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Nilai
tertinggi tiap satu pertanyaan adalah empat, jumlah pertanyaan
adalah 17 maka nilai tertinggi untuk semua pertanyaan adalah 68.
Pertanyaan tersebut dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu
pertanyaan positif dan pertanyaan negatif. Bobot setiap pertanyaan
adalah sebagai berikut (Soegiyono, 2011) :
1) Pertanyaan yang merupakan sikap positif diberi bobot sebagai
berikut:
26
Sangat Setuju (SS) bobot 4
Setuju (S) bobot 3
Tidak Setuiu (TS) bobot 2
Sangat Tidak Setuju (STS) bobot 1
2) Pertanyaan yang merupakan sikap negatif diberi bobot sebagai
berikut:
Sangat Setuju (SS) bobot 1
Setuju (S) bobot 2
Tidak Setuju (TS) bobot 3
Sangat Tidak Setuju (STS) bobot 4
Pengukuran pengetahuan dan sikap untuk analisis data pada
penelitian ini menggunakan analisis univariate (Analisis deskriptif)
yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian. Bentuk analisis univariate
tergantung dari jenis datanya. Pada umumnya dalam analisis in
hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap
variabel dengan menggunakan rumus (Notoatmodjo, 2018):
X
P= x 100 %
N
Keterangan:
P : Presentase nilai
X : Jumlah jawaban benar
N : Jumlah soal
Sedangkan metode yang digunakan dalam analisis data
pencegahan dan pengolahan obat rusak adalah metode analisis
27
kuantitatif–kualitatif dengan pendekatan deksriptif. Pada tahap ini
data akan dianalisis dan didiskripsikan dalam bentuk kata–kata
untuk memperjelas hasil yang diperoleh. Data tersebut meliputi
data penyimpanan obat high alert medication. Data yang telah
didapatkan akan dianalisis secara kuantitatif oleh peneliti. Untuk
membuat penyajian data maka data disajikan dalam bentuk tabel.
Perhitungan kuantitatif yang digunakan sebagai berikut
(Sibagariang et al., 2010)
x
P= x 100 = hasil %
y
Keterangan: Tingkat kepatuhan petugas dalam obat high alert
P = Tingkat kepatuhan petugas dalam pencegahan obat rusak dan
kadaluarsa
X = Jumlah kriteria yang sesuai dengan SOP pencegahan dan
pengolahan obat rusak dan kadaluarsa
Y = Jumlah yang tidak sesuai dengan SOP pencegahan dan
pengolahan obat rusak dan kadaluarsa
Maka dapat digunakan untuk mengungkapkan kriteria perilaku
patuh yaitu yaitu (AS Siswanto 2021) :
1. Patuh jika nilai > 50%
2. Tidak patuh ≤ 50%
b. Analisis data
Data yang diperoleh dicatat, dikelompokkan dengan menggunakan
SPSS, lalu disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Analisis
28
data dilakukan untuk melihat hubungan antara Pengetahuan dan
Kepatuhan. Analisis data bersifat deskriptif.
4. Etika penelitian
Etika penelitian berguna sebagai pelindung terhadap tempat dan peneliti
itu sendiri. Penelitian ini akan dilaksanakan setelah peneliti memperoleh
rekomendasi dari pembimbing dan mendapat izin dari Komisis Etik
Penelitian Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Selanjutnya
peneliti melakukan penelitian dengan memberikan Informed Consent
(lembar persetujuan menjadi sampel). Sebelum lembar persetujuan
diberikan kepada sampel, terlebih dahulu peneliti memberikan penjelasan
tentang maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang mungkin terjadi
selama dan sesudah pengumpulan data. Calon sampel yang bersedia
untuk diteliti diberi lembar persetujuan dan harus ditandatangani,
sedangkan calon sampel yang tidak bersedia atau menolak diteliti,
peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-haknya
29
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, Lia & Siregar, C. J. . (2004). Book Farmasi Rumah Sakit Teori &
Terapan. (Penerbit Buku Kedokteran:).
Ambianti, N., Tandah, M. R., Diana, K., & Balqis, R. (2022). Analisis Tingkat
Pengetahuan Dan Sikap Tenaga Kefarmasian Dalam Mencegah Obat Rusak
Dan Kadarluarsa Di Rsud Tora Belo. Acta Pharmaciae Indonesia : Acta
Pharm Indo, 9(2), 105.
Ariani, A., Destyana, A., & Pragholapati, A. (2022). Gambaran Pengetahuan Ibu
Hamil Tentang Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi. Jurnal Indonesia Sosial Sains, 3(1), 145–151.
Aryani, A. F., Kusuma, A. M., & Galistiani, G. F. (2016). Hubungan Tingkat
Pengetahuan Pengelola Obat Terhadap Pengelolaan Obat Di Puskesmas.
Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi (Journal of Management and
Pharmacy Practice), 6(4), 303.
AS Siswanto. (2021). KepatuhanPenyimpanan dan Pelayanan Obat High Alert di
Instalasi Farmasi Puskesmas Benjeng Gresik. AS Siswanto, Sugiyono 2006,
2013–2015.
Bondan, A., & Dwi, S. (2019). Gambaran Penyebab dan Kerugian Karena Obat
Rusak dan Kadaluwarsa di Apotek Wilayah Kota Yogyakarta. Skripsi,
January. [Link]
BPOM RI, 2012. (2012). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia Nomor HK.[Link].12.7542 Tahun 2012 Tentang Pedoman
Teknis Cara Distribusi Obat Yang Baik. Farmakovigilans, 53, 1689–1699.
Budiman, & Agus, R. (2013). Pengetahuan dan Sikap Dalam Penelitian
Kesehatan. In Salemba Medika (Vol. 5, Issue ISSN).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2007). Pedoman Pengelolaan Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan di Daerah Kepulauan. Depkes RI, 59.
Febreani, S. H., & Chalidyanto, D. (2016). Pengelolaan Sediaan Obat Pada
Logistik Farmasi Rumah Sakit Umum Tipe B di Jawa Timur. Jurnal
Administrasi Kesehatan Indonesia, 4(2), 136.
Hendrawan, J. S., & Sirine, H. (2017). Pengaruh Sikap Mandiri, Motivasi,
Pengetahuan Kewirausahaan Terhadap Minat Berwirausaha. Journal of
Innovation and Entrepreneurship, 02(03), 291–314.
Kareri, D. R. (2018). Pelaporan Obat Rusak dan Kadaluarsa di Seksi Kefarmasian
Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur. Jurnal, 1–48.
Kemenkes RI. (2010). Materi Pelatihan Manajemen Kefarmasian di Puskesmas.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Indonesia, 23.
KemenkesRepublik Indonesia No 9. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 Tentang Apotek. Permenkes
Tahun 2017, 22(7), 874–882.
30
Mardiana D. (2017). Penanganan Obat di Puskesmas Gerung. Pharmaceutical &
Traditional Medicine, 1(1), 6–17.
Notoadmodjo, S. (2012). Book Promosi Kesehatan & Prilaku Kesehatan. In
Jakarta: EGC.
Notoatmodjo, S. (2018). Metodolgi Penelitian Kesehatan. In Rineka Cipta (Vol. 1,
p. 243).
Permenkes. (2009). Permenkes No 51 Tahun 2009. 5(3), 1–8.
Permenkes. (2014). Permenkes No 58 tahun 2014. Implementation Science, 39(1),
1–15.
Permenkes. (2016a). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34
Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
58 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit.
Revista CENIC. Ciencias Biológicas, 152(3), 28.
Permenkes. (2016b). Permenkes no 72 tahun 2016. Jurnal Penelitian Pendidikan
Guru Sekolah Dasar, 6(August), 128.
Rini, R. A., & Iljanto, S. (2014). Studi kasus analisis sistem peyimpanan obat di
sub bagian logistik rumah sakit Graha Permata Ibu tahun 2014. Logistik
Rumah Sakit, 44, 20.
Safanny Putri, Huwaydi Azzam Yusuf, Khansa Adristi, Adjrina Dawina Putri, &
Novita Dwi Istanti. (2022). Pemberian Obat Kedaluwarsa Kepada Pasien
Ditinjau Dari Kebijakan Kesehatan Di Indonesia. Jurnal Sains dan
Kesehatan, 6(2), 01–12.
Satibi Ali Kusnadi. (2015). Manajemen Obat di Rumah Sakit. Manejemen
Adminsitrasi Rumah Sakit, 8(5).
Sibagariang, R., Afifuddin, S., & Rahman, A. (2010). Analisis Produktivitas
Tanaman Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg.) di Distrik Tapanuli Selatan
PT. Perkebunan Nusantara. Jurnal Agribisnis Sumatera Utara, 3(2), 1–8.
Soegiyono. (2011). Book Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
31
N
32
Lampiran 1. Skema Kerja Penelitian
Mengurus surat pengantar penelitian
Mengajukan surat pengantar penelitian RSUD
Dr. M. Yunus Bengkulu
Mendapat izin melaksanakan penelitian di
Instalasi Farmasi RSUD Dr. [Link]
Bengkulu
Mencari informasi data berupa SOP rumah
sakit dan jumlah keseluruhan tenaga
kefarmasian di Instalasi Farmasi RSUD Dr.
[Link] Bengkulu
Melakukan pengolahan data
Melakukan analisa data dan pembahasan
33
Lampiran 2. Surat Izin Pra Penelitian
34
Lampiran 3. Surat Permohonan Izin Pra Penelitian di RSUD Dr. M. Yunus
35
Lampiran 4. Kuesioner Penelitian Pengetahuan
KUESIONER
PENGETAHUAN TENAGA KEFARMASIAN DALAM MENCEGAH OBAT
RUSAK DAN KADALUARSA DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M.
YUNUS BENGKULU (Ambianti et al., 2022)
Identitas Responden :
Tanggal pengisian :
Jenis kelamin :
Umur :
Petunjuk pengisian :
1. Isilah data identitas yang telah disediakan.
2. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti dan jangan sampai ada pertanyaan
yang terlewatkan.
3. Jawablah pertanyaan dengan jujur, tanpa pengaruh orang lain.
4. Berilah tanda check list (√) untuk jawaban yang anda pilih didalam kolom
yang telah disediakan dan sesuai dengan jawaban.
36
Distribusi Item Kuesioner Tingkat Pengetahuan Tenaga
Kefarmasian tentang Obat Rusak dan Kadaluarsa di Instalasi Farmasi
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu (Ambianti et al., 2022)
No Pertanyaan Benar Salah
1. Obat dikatakan rusak apabila mengalami perubahan.
2. Obat kadaluarsa adalah obat yang masih dapat
dikonsumsi meskipun telah mengalami perubahan rasa.
3. Obat kadaluarsa ditentukan sejak obat masuk ke Gudang
IFRS.
4. Obat kadaluarsa adalah obat yang berada di IFRS dalam
jangka waktu yang lama.
5. Kemasan obat yang menggembung menandakan obat
telah lama disimpan.
6. Suhu 40°C adalah suhu optimal dalam penyimpanan obat
di IFRS.
7. Obat termolabil dapat disimpan dalam lemari
penyimpanan Bersama dengan obat lainnya.
8. Rusaknya suatu obat disebabkan karena paparan dari
Cahaya lampu.
9. Pembuatan formularium RS disesuaikan dengan resep
dokter.
10. 10 tahun sekali dilakukan pengadaan perbekalan farmasi.
11. Suppositoria disimpan bersampingan dengan sediaan
tablet.
12. Sediaan sirup disimpan dalam lemari pendingin.
37
Lampiran 5. Kuesioner Penelitian Sikap
KUESIONER
SIKAP TENAGA KEFARMASIAN DALAM MENCEGAH OBAT RUSAK
DAN KADALUARSA DI INSTALASI FARMASI RSUD Dr. M. YUNUS
BENGKULU (Ambianti et al., 2022)
Identitas Responden :
Tanggal pengisian :
Jenis kelamin :
Umur :
Petunjuk pengisian :
1. Isilah data identitas yang telah disediakan.
2. Bacalah setiap pertanyaan dengan teliti dan jangan sampai ada pertanyaan
yang terlewatkan.
3. Jawablah pertanyaan dengan jujur, tanpa pengaruh orang [Link]
dengan memberi tanda check list (√) pada salah satu kolom Sangat Setuju
(SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS) sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya.
38
Distribusi Item Kuesioner Sikap Tenaga Kefarmasian dalam mencegah Obat
Rusak dan Kadaluarsa di Instalasi Farmasi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
(Ambianti et al., 2022)
No Pertanyaan SS S TS STS
1. Saya memahami apa yang dimaksud dengan
standar prosedur operasional.
2. Pengecekan kondisi sediaan farmasi hanya
dilakukan oleh tenaga kefarmasian di bagian
gudang.
3. Saya yakin jika obat rusak yang diterima
dari PBF dapat diretur.
4. Saya yakin untuk menyimpan obat dalam
kemasan asli dan tertutup rapat.
5. Pengecekkan kondisi dan masa kadaluarsa
hanya dilakukan saat penerimaan barang
datang.
6. Saya menganggap sediaan obat cair dan semi
padat perlu disimpan secara terpisah.
7. Petugas gudang farmasi IFRS menyimpan
sediaan tablet dan kapsul dengan ruangan
45°C.
8. Saya merasa senang Ketika mengembalikan
obat ke PBF 3 bulan sebelum kadaluarsa.
9. Saya merasa senang jika memberi tanda khusus
untuk obat dengan waktu kadaluarsa singkat.
10. Saya merasa lebih nyaman jika menerapkan
system FIFO atau FEFO.
11. Sebagai tenaga kefarmasian, saya perlu
membantu dalam kegiatan pengadaan obat
yang sesuai.
12. Jika obat yang diresepkan tidak terdapat dalam
gudang, maka saya akan mengkonfirmasi
dengan dokter.
39
13. Saya menyarankan kepada dokter untuk
membuat resep sesuai formularium RS.
14. Sebagai tenaga kefarmasian, saya perlu
membantu dalam kegiatan pengadaan obat
yang sesuai.
15. Saya sering menyimpan obat berdasarkan jenis
sediaannya.
16. Saya menggunakan absorben untuk
menyimpan obat higroskopis.
17. Saya memperhatikan tanggal kadaluarsa obat
setiap melakukan penyimpanan.
Lampiran 6. Checklist Pencegahan SOP
CHECKLIS PENCEGAHAN SOP
40
NAMA SOP : Pencegahan dan Pengelolaan Obat Rusak dan Kadaluarsa
UNIT TERKAIT :
TANGGAL :
Keterangan :
1. Lembar cheklist ini digunakan untuk mengetahui cara pencegahan dan
pengelolaan obat rusak dan kadaluarsa berdasarkan SOP
2. Kotak jawaban akan di isi √ jika jawaban sesuai
3. Kolom jawaban “YA” jika sesuai prosedur
4. Kolom jawaban “TIDAK” bila tidak sesuai prosedur
CHECKLIST PENILAIAN KESESUAIAN SOP PENCEGAHAN DAN
PENGELOAAN OBAT RUSAK DAN KADALUARSA DI INSTALASI
FARMASI RSUD Dr. M. YUNUS KOTA BENGKULU
Pelaksanaan
NO Langkah – langkah prosedur
YA TIDAK
1. Sedian farmasi - alat kesehatan yang mendekati
tanggal kadaluarsa (1-3 bulan sebelumnya)
dipisahkan beserta fakturnya.
2. Menghubungi distributornya untuk mengambil
obat tersebut.
3. Salesman akan menukar obat-obat tersebut dengan
obat baru dengan ED yg lebih lama atau diganti
dengan uang.
4. Untuk obat-obat yang tidak bisa diretur maka obat-
obat ED dikumpulkan tersendiri dan pemusnahan
dilakukan tiap tahun dan juga obat-obat yang
rusak.
5. Melakukan pencatatan untuk dilakukan
pemusnahan.