Kebudayaan dan Peradaban: Definisi dan Hubungan
Kebudayaan dan Peradaban: Definisi dan Hubungan
A. Tujuan Pembelajaran
B. Pendahuluan
Peradaban
Istilah peradaban dalam bahasa Inggris disebut Civilization. Istilah peradaban sering
dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan.
Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya berwujud unsur-unsur budaya
yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur dan sebagainya, maka masyarakat pemilik
kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi.
Dalam bahasa Inggris dibedakan antara culture dan civilization. Culture berakar pada
pertanian, yang kemudian dimaknai sebagai bentuk ungkapan semangat mendalam suatu
masyarakat, mencirikan apa yang dirindukan oleh manusia, yang terefleksi pada seni, moral
dan religi. Civilization berakar pada civitas (kota), civility (kesopanan), yang kemudian
dimaknai sebagai manifestasi kemajuan mekanis (teknologis), mencirikan apa yang
digunakan oleh manusia, yang terefleksi pada politik, ekonomi dan teknologi. Dalam kata-
kata Will Durant, civilization is social order promoting cultural creation.
Makna kedua (surat Rum 30) mengacu pada konstruksi berbagai fasilitas yang
diasosiasikan dengan kehidupan sosial yang maju dan superior. ‘Umran ini dibedakan
menjadi ‘umran badawi (bedouin culture) dan ‘umran hadhari (civic culture). Kehidupan
badawi dicirikan oleh kesederhanaan, kebebasan, persamaan, keberanian spontan,
kegembiraan dan kohesifitas (‘ashabiah).
Sebuah polemik pernah terjadi antara Malik Bennabi dengan Sayyid Qutb. Sayyid
Qutb pernah berencana menerbitkan buku yang akan membahas tentang menuju masyarakat
Islam yang berperadaban. Tetapi kemudian ia mengubah menjadi menuju masyarakat Islam,
dengan menghilangkan atribut berperadaban.
Polemik ini mudah kita pahami dengan memahami perbedaan antara peradaban dan
budaya (atau hadharah dan tsaqafah). Yang dirujuk oleh Qutb adalah Islam sebagai nilai.
Sedangkan yang dirujuk oleh Bennabi adalah manifestasi Islam dalam sejarah dan
masyarakat.
Dari tinjauan perbedaan di atas (juga terhadap tinjauan terhadap teori-teori peradaban
pada posting sebelumnya) setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita cirikan dari perbedaan
peradaban dan kebudayaan.
1. Peradaban (hadharah, civilization) berakar pada ide tentang kota. Kemajuan material
(ilmu dan teknologi), aspek kehalusan, penataan sosial dan aspek kemajuan lain.
2. Kebudayaan (culture, tsaqafah) berakar pada ide mengenai nilai, tujuan, pemikiran
yang ditransmisikan melalui ilmu, seni dan agama suatu masyarakat.
5. Sebuah peradaban mengalami siklus dalam ruang dan waktu. Ia mengalami pasang
dan surut. Sedang kebudayaan lepas dari kontradiksi ruang dan waktu. Ia memiliki
ukuran tersendiri (ukuran benar salah, tepat tidak atau berguna tidak) di dunai
pemikiran.
BARANGKALI suatu truisme untuk mengatakan sekali lagi kesenian adalah bagian
kebudayaan. Namun demikian, beberapa implikasi kebenaran tersebut mungkin perlu
dibicarakan lagi sebagai kerangka umum untuk meninjau kedudukan kesenian dan
perkembangannya di Indonesia kini dan hubungannya dengan perkembangannya sosial.
Sebagai bagian kebudayaan, kesenian pun tak dapat mengelak dari sifat khas kebudayaan
sebagai ungkapan diri manusia. Salah satu sifat khas kebudayaan adalah simbolisme, atau
sifat simbolik tiap kebudayaan dan karena itu juga sifat simbolik tiap ekspresi kesenian. Sifat
simbolik kebudayaan lahir dari kenyataan hubungan antara dunia alam pikiran manusia serta
perwujudannya secara fisik, entah dalam tingkah laku sosial, atau dalam suatu hasil fisik
kebudayaan, tidaklah bersifat kausal, fungsional atau linier, di mana nilai budaya dianggap
menjadi sebab, sedangkan tingkah laku sosial dianggap sebagai akibat. Hubungan antara
dunia alam pikiran dan perwujudannya secara fisik selalu bersifat simbolik dan karenanya
juga bersifat ambivalen. Ambivalensi antara dunia alam pikiran dan perwujudannya secara
fisik terjadi sekurang-kurangnya pada dua tingkat. Pertama, suatu tingkah laku sosial
misalnya dapat mengungkapkan suatu nilai tetapi sekaligus juga dengan itu dapat
menyembunyikan suatu nilai lain. Kedua, suatu tingkah laku sosial tidak selalu secara "lurus
dan setia" mengungkapkan suatu nilai dalam alam pikiran seseorang, karena tingkah laku
yang sama pada gilirannya dapat menyimpang dari dan "mengkhianati" nilai dalam alam
pikiran dan kemudian mendorongnya berubah. Karena itu, suatu tingkah laku sosial dapat
menjadi realisasi fisik nilai tertentu, tetapi juga sebaliknya, suatu nilai dapat menjadi
terjemahan mental pola-pola tingkah laku sosial seseorang atau bahkan terjemahan mental
pengalaman seseorang dengan dunia materil. Simbolisme ini bukanlah teori besar tetapi hal
yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. Harmoni yang amat disanjung sebagai suatu
sifat umum kebudayaan Indonesia misalnya, di satu pihak dapat mengungkapkan adanya
kerukunan dan saling pengertian, tetapi di pihak lain dapat menjadi selubung yang
menyembunyikan konflik, pertikaian atau bahkan dendam. Demikian pula halnya sifat tidak-
berterus-terang. Di satu pihak terlihat sebagai ketakutan mengungkapkan kenyataan, tetapi
dapat pula menyatakan apresiasi pada perasaan orang lain untuk tidak melukainya. Ia
menyembunyikan kebenaran untuk menyatakan kebaikan. Simbolisme merupakan watak
umum kebudayaan mana pun, dengan perbedaan apa yang diungkapkan dan apa yang
disembunyikan masing-masing kebudayaan tidaklah sama.
KESENIAN dan hasil kesenian adalah suatu ekspresi kebudayaan yang mengungkapkan nilai
keindahan. Gerak, bunyi, kata serta garis dan warna adalah perwujudan fisik nilai-nilai
keindahan yang bergetar dalam diri sang seniman. Namun demikian, keindahan pada
dasarnya bukanlah suatu nilai yang berdiri sendiri, tetapi berinteraksi terus-menerus dengan
nilai kebudayaan dan nilai kehidupan lainnya. Bisa dikatakan keindahan adalah terjemahan
estetis pengalaman kejiwaan, pengalaman sosial atau pengalaman keagamaan seseorang atau
sekelompok orang. Seorang biasa akan mengucapkan doa dengan kalimat yang biasa atau
bahkan dengan menggunakan rumusan doa yang tersedia, tetapi penyair seperti Sutardji
Calzoum Bachri menyampaikannya dalam sajak mencekam. Demikian pun persoalan yang
timbul karena berbagai kontradiksi sosial-ekonomi ditanggapi tidak hanya oleh ahli politik
dan analis ekonomi tetapi juga oleh penyair, pelukis atau seniman lain. Hanya kalangan
terakhir ini tidak menyampaikannya dalam rumus ilmu ekonomi tetapi melalui idiom estetika
yang menjadi "bahasa" mereka. Sebuah contoh, yang saya ingat, adalah kumpulan sajak Agus
R Sarjono berjudul Kenduri Air Mata (Forum Sastra Bandung, 1994). Metafor puisi yang
dipakainya ternyata tidak hanya mempersonifikasikan alam tetapi juga gejala sosial atau
bahkan gejala ekonomi. Tidak lagi diceritakan percakapan burung dan bulan atau awan dan
matahari, tetapi percakapan penuh lambang antara buldozer dan pematang sawah yang harus
pergi sebelum fajar pagi.
UNTUK waktu yang sangat lama pemikiran ilmu sosial dan kalangan politik dikuasai oleh
gagasan esensialis tentang kebudayaan. Secara sederhana dalam gagasan itu diandalkan dan
dipercaya begitu saja, bahwa kebudayaan terdiri dari nilai-nilai dan norma-norma yang telah
selesai, mantap, baku dan berdiri sendiri.
Yang diabaikan dalam gagasan esensialis adalah peranan para pendukung kebudayaan dalam
memberi bentuk dan isi kepada kebudayaan mereka. Asumsi yang dianut adalah bahwa
tingkah laku sekelompok orang akan tergantung kepada nilai-nilai dan norma-norma
kebudayaan yang dianutnya. Jadi, untuk mengubah tingkah laku budaya perlulah
diubahterlebih dahulu seluruh perangkat nilai dan norma kebudayaan yang menjadi pedoman
bagi tingkah laku budaya.
Pemikiran seperti itulah yang saya kira telah menjadi dasar kerisauan saudara Mohamad
Muzamil dalam artikelnya berjudul Perubahan Nilai atau Budaya Politik? (Kompas, 24 Maret
1998). Pertanyaan yang diajukannya kepada saya sedikit-banyaknya mencerminkan
pemikiran kaum esensialis: "Apakah sistem nilai politik yang berlaku saat ini menyimpang
dari sistem nilai yang telah diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia sehingga perlu
adanya perubahan menyeluruh terhadap sistem nilai? Ataukah yang terjadi saat ini adalah
penyimpangan budaya dari nilai-nilai dasar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia?"
Dalam pertanyaan yang simpatik ini diandaikan bahwa ada sistem nilai yang telah selesai dan
baku (yaitu "yang telah diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia"). Demikian pun kalau
ada penyimpangan dalam budaya politik maka itu hanyalah penyimpangan budaya dari nilai-
nilai dasar yang dimiliki bangsa Indonesia.
Dalam pemikiran tersebut dibedakan dan bahkan dipisahkan dengan jelas tingkah laku
pendukung suatu kebudayaan dari nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan yang diandaikan
baku, selesai, sempurna, dan tak tersentuh lagi oleh pengaruh tingkah laku budaya dalam
kehidupan nyata. Ada semacam kepercayaan yang bersifat platonis bahwa nilai dan norma-
norma budaya berada pada sebuah "dunia ide-ide" yang otonom, sedangkan tingkah laku
budaya hanya merupakan pantulan dan tiruan yang kurang sempurna dari dunia ide tersebut.
Kalau ada yang menyimpangdalam kebudayaan maka yang harus diubah adalah tingkah laku
budaya dan bukannya nilai dan norma-norma kebudayaan. Secara populer pemikiran ini
terlontar dalam ungkapan yang acap terdengar: jangan salahkan kebudayaan, tapi salahkanlah
orangnya!
***
KALAU manusia dibentuk oleh kebudayaannya, maka seseorang menjadi Jawa karena
kebudayaannya, demikian pun seseorang menjadi Minang karena kebudayaannya. Seorang
Jawa yang sejak kecilnya hidup di Jepang di tengah-tengah keluarga Jepang akan menjadi
Jepang secara budaya. Gagasan ini kemudian diperkuat oleh antropologi budaya yang
menyelidiki kebudayaan suatu kelompok budaya. Kalau seorang peneliti datang ke Mentawai
misalnya, maka yang menarik dia adalah bagaimana pola-pola kebudayaan orang Mentawai
saat itu, dan bagaimana orang-orang Mentawai hidup menurut nilai-nilai dan norma-norma
yang mereka anut. Peneliti tersebut telah menerima kebudayaan Mentawai sebagai barang-
jadi yang sudah ada, sudah terbentuk, dan hanya memperhatikan bagaimana pola-pola
kebudayaan tersebut bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Yang sering tidak dipersoalkan adalah bagaimana orang Mentawai membentuk kebudayaan
mereka. Bagaimana sejarah mereka mempengaruhi terbentuknya pola-pola kebudayaan
mereka, dan bagaimana pembangunan dan politik Indonesia saat ini mendesakkan beberapa
perubahan dalam kebudayaan mereka. Prof Reimar Schefold dari Universitas Leiden, yang
semenjak tahun 1970-an menyelidiki kebudayaan Mentawai, menemukan bahwa dewasa ini
ritual-ritual keagamaan dan tabu-tabu orang Sakuddei di Kepulauan Mentawai menjadi jauh
lebih rumit dari sebelumnya. Dengan ritual seperti itu orang luar menjadi sulit sekali masuk
karena ritual-ritual itu menjadi sulit dipahami, sulit ditembus, menjadi lebih hermetic.
Terjadi semacam involusi keagamaan dan involusi ritual. Menurut peneliti ini, pengrumitan
ritual itu dimaksudkan untuk melindungi orang Mentawai dan masyarakat Mentawai dari
penerobosan oleh program-program pembangunan yang kini dijalankan secara nasional, dan
yang dalam banyak kasus menyudutkan mereka pada posisi sulit. Perumitan ritual
dimaksudkan sebagai benteng untuk melindungi orang-orang Mentawai dari pengaruh-
pengaruh luar yang demikian gencar dan luas.
Terlihat di sini bahwa bukan hanya kebudayaan yang membentuk sifatorang dan
masyarakatnya, tetapi sebaliknya pendukung suatu kebudayaan secara aktif memberi bentuk
dan isi kepada kebudayaan mereka. Kebudayaan tidak cukup hanya dipandang sebagai nilai
dan norma tetapi dapat dan harus juga dipandang sebagai wacana, yaitu sebagai hasil
bentukan dan hasil konstruksi sosial dari sekelompok orang dalam mencari orientasi kepada
lingkungan hidupnya. Konsepsi bahwa manusia dibentuk oleh kebudayaan kini diimbangi
secara meyakinkan oleh konsepsi lain bahwa kebudayaan juga dibentuk oleh para
pendukungnya.
Dengan demikian sulit sekali mengatakan bahwa ada nilai-nilai, norma, atau pola kebudayaan
yang boleh dianggap selesai, baku dan tak berubah lagi karena "telah diyakini kebenarannya"
oleh semua orang. Kebudayaan, pada dasarnya, bukanlah soal kebenaran, tetapi soal praktek
dan kebiasaan. Kalau kekerasan terus-menerus dipraktekkan,maka lambat laun dia akan
dibudayakan (sekalipun hal ini tak pernah dapat dibenarkan!).
***
DALAM sebuah negara modern proses konstruksi sosial kebudayaan itu berlangsung juga
(dan terutama) dalam apa yang dinamakan budaya politik. Tingkah laku elite politik, bisa
sesuai dengan nilai-nilai umum yang dianggap luhur, tetapi bisa juga menyimpang
daripadanya. Dalam kedua keadaan itu, apakah dia sejalan atau menyimpang, tingkah laku itu
tetap mempunyai kekuatan yang besar dalam membentuk kebudayaan. Jadi kalau korupsi,
kekerasan atau nepotisme hidup subur dalam politik, dia membentuk budaya politik itu, yang
kalau meluas, dapat juga mengubah kebudayaan. Tanpa ada perlawanan dan kritik terhadap
praktek-praktek tersebut, maka korupsi, kekerasan dan nepotisme dalam suatu budaya politik
akan diterima sebagai bahagian kebudayaan dan bukan sekadar penyelewengan daripadanya.
Jadi apakah nilai-nilai dalam politik Indonesia sesuai atau menyimpang dari apa yang oleh
sdr Mohamad Muzamil dinamakan nilai-nilai luhur, kedua proses itu tetap mempunyai
pengaruh yang konstitutif terhadap kebudayaan Indonesia. Anggapan bahwa ada nilai-nilai
yang tak tersentuh, dan ada tingkah laku budaya yang menyimpang, yang tidakkena-mengena
dengan nilai-nilai luhur tersebut, adalah suatu jalan pikiran esensialis yang melihat
kebudayaan sebagai dunia platonis yang berada di luar sejarah.
PERTANYAAN yang sangat menarik adalah mengapa gerangan pemikiran esensialis tentang
kebudayaan ini demikian dominan? Secara ilmiah, hal ini jelas merupakan pengaruh
positivisme yang memandang kebudayaan sebagai given, barang-jadi yang bisa diteliti secara
empiris gejala-gejala dan pola-polanya. Positivisme hanya sanggup menangkap kehadiran
sebuah kebudayaan dengan pola-polanya sebagaimana sudah terbentuk. Namun, dia gagal
menangkap proses pembentukan kebudayaan itu.
Dalam proses pembentukan tersebut (yaitu dalam konstruksi sosial kebudayaan) akan terlihat
kekuatan-kekuatan, kepentingan-kepentingan dan berbagai ide yang membentuk suatu
kebudayaan dalam suatu konteks sejarah yang konkret. Setiap kebudayaan ada riwayat
hidupnya, dan konstruksi sosial adalah semacam biografi tentang kebudayaan bersangkutan.
Dari segi itu dapat dipahami mengapa penjajah Belanda dulu selalu mempropagandakan
bahwa pribumi adalah orang-orang malas. Dengan mengatakan bahwa pribumi pada dasarnya
malas, maka seluruh tanggung jawab terhadap kemiskinan dan kemelaratan di daerah koloni
dibebankan kepada pribumi yang tidak mau bekerja keras, sementara seluruh usaha kolonial
dalam mengeruk kekayaan Indonesia untuk dibawa ke luar tidak lagi disinggung-singgung.
Di sini kebudayaan orang-orang pribumi dibangun dalam satu wacana dengan citra yang
membela dan menyelamatkan kepentingan kolonial dan kekuasaan kolonial.
Dalam politik praktis, esensialisme kebudayaan ini pun banyak manfaatnya. Di sini diajukan
dua strategi pemanfaatannya. Pertama, dengan menganggap bahwa ada nilai-nilai dan norma
yang sudah selesai dan sempurna sebagai barang-jadi, segolongan orang yang kebetulan
berkuasa merasa dapat menguasai dan bahkan memonopoli nilai dan norma tersebut, seperti
memonopoli penjualan minyak atau kertas [Link] ini merasa dapat menentukan
praktek mana yang sesuai dengan apa yang dinamakan nilai luhur dan mana pula yang
bertentangan, tanpa ada kemungkinan diskusi atau diskursus mengenai tindakan tersebut.
Kedua, kalau kemudian terjadi banyak penyimpangan maka hal tersebut selalu dapat
dinetralisir dengan merujuk terus-menerus kepada apa yang dianggap penyelewengan yang
sedang terjadi di depan mata. Esensialisme, sampai tingkat tertentu, membebaskan orang dari
beban menanggung hipokrisi, karena kepercayaan yang diciptakannya sendiri, bahwa
tindakan dan tingkah laku budaya adalah satu hal, sedangkan nilai budaya adalah hal lainnya.
Begitulah, seseorang mengambil dan memanfaatkan uang negara untuk pentingan dirinya,
sambil tetap dengan anggun berbicara tentang nilai-nilai kejujuran dan pengabdian tanpa
pamrih untuk nusa dan bangsa.
Yang dilupakan di sana ialah bahwa tindakan dan tingkah laku budaya selalu mempengaruhi
kebudayaan, dan bahwa nilai-nilai luhur dalam kebudayaan hanya mungkin ada kalau kita
membuatnya luhur. Sebaliknya, nilai-nilai itu akan babak-belur atau hancur-lebur kalau
tingkah laku itu bagaikan "jauh panggang dari api".
Latihan soal/Tugas
Daftar Pustaka :
Burton, Graeme. 2008. Media dan Budaya Populer. Penyadur: Alfathri Adlin. Yogyakarta:
Jalasutra.
Labib, Muh. 2002. Potret Sinetron Indonesia: Antara Ralita Virtual dan Realitas Sosial.
Jakarta: MU:3.
Susanto, AB. 2001. Potret-Potret Gaya Hidup Metropolis. Jakarta: Toko Buku Kompas
Media Nusantara.
Rahardi, Kunjana. 2000. Renik-Renik Perabdban. Yogyakarta: Duta Wacana Univercity
Press.
Storey, Jonh. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop: Memetakan Lanskap Konseptual Cultural
Studies.
Penyunting: Dede Nurdin. Yogyakarta: Qalam.
Barker, Chris. 2004. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Penerjemah: Nurhadi. Yogyakarta:
Kreasi Wacana.
Surbakti, EB. 2002. Awas tayangan Televisi: Tayangan Misteri dan Kekerasan Mengancam
Anak Anda. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Riswandi. 2009. Dasar-Dasar Penyiaran. Jakarta: Graha Ilmu.
Mulyana, Dedi, Idi Subandi Ibrahim. 1997. Bercinta dengan Televisi. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Arifin, Eva. 2010. Broadcasting: To Be [Link]: Graha Ilmu.
Marlin, Randal. 2002. Propaganda and The Ethics [Link]: Broadview Press.
Ellul, Jacques. 1973. Propaganda : The Formation of Mens Attitudes. Vintage Books.
Naya Sujana. I Nyoman dan Lasmono Askandar (ed). 2005. Jatidiri Bangsa Indonesia.
Surabaya: DHD 45 Jawa Timur.
Panuju, Redi. 2011. Studi Politik Oposisi dan Demokrasi. Yogyakarta : Interprebook.
Djoko Damono, Sapardi. 2009. Kebudayaan (Populer) disekitar Kita. Jakarta : Kompleks
Dosen UI. Dale, Edgarv,. 1991, How to film appreciated Motion Pictures,New York, Arno
Press Fourt edition. Monaco, James., 1981, How to Read a Film, New York,Oxford
University Press, revised edition Sumarno, Marselli., 1996, Apresiasi Film,Jakarta, Grasindo
Effendy, Heru., 2002, Mari Membuat Film,Jakarta, Konfiden
Atmaja, Tony., Makalah Video and special effect for broadcasting in digital era, Jakarta 2002
Baksin, Askurifal., 2003, Membuat Film Idie itu gampang,Bandung, Kartasis
Wheeler, Fleming., 1980, Art Since Mid Century, TheVendeme Press, New York, Rosenberf