ASUHAN KEPERAWATAN
PADA ANAK DENGAN TYPHUS ABDOMINALIS
I. DEFINISI
Typhus abdominalis (demam tifoid,enteric fever Ialah penyakit infeksi akut
yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih
dari 1 minggu,gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran.
( Ngastiyah ,2005)
Typhus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman
Salmonella typhi, bercirikan lesi definitif di plak Peyer, kelenjar mesenterika
dan limpa, disertai oleh gejala demam yang berkepanjangan, sakit kepala dan
nyeri abdomen. ([Link])
Typhus abdominalis (demam tifoid,anteric fever) ialah penyakit infeksi akut
yang biasanya mengenai saluaran cerna dengan gejala demam lebih dari 7
hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran
(Arif Mansjoer,dkk. 2000)
II. ETIOLOGI
Salmonella Thyposa yang merupakan basil gram negatif yang bergerak
dengan bulu getar dan tidak menghasilkan spora, hidup baik sekali pada suhu
tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu
700C dan [Link] sekurangnya empat macam antigen, yaitu
antigen O (somatik),H (flagela),Vi dan protein membran hialin.
IV. MANIFESTASI KLINIS
I. Demam yang berangsur angsur selama 3 minggu,bersifat febris
remiten dan suhu tidak tinggi lagi:
Minggu I :
Suhu berangsur angsur naik tiap hari biasanya turun pada pagi
hari dan menigkat pada malam hari
Minggu II : pasien terus berada dalam keadaan demam
Minggu III: suhu berangsur turun dan normal kembali pada
minggu ke empat
Masa Inkubasi
Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara
3-60hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa
inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis
Onset penyakit
Setelah masa inkubasi penderita mulai menunjukkan gejala klinis. Onset
penyakit berjalan secara perlahan tetapi bisa juga timbul secara tiba-tiba.
Demam makin lama makin tinggi tetapi dapat pula remiten atau menetap.
Pada awalnya suhu meningkat secara bertahap mnyerupai anak tangga
selama2-7 hari, lebih tinggi pada sore dan malam hari. Akan tetapi demam
bisa pula mendadak tinggi.
Setelah suhu menacapai 400C kemudian akan menetap selama minggu kedua,
mulai menurun secara tajam pada minggu ketiga dan encapai normal kembali
pada minggu keempat.
Pada saat awal demam penderita biasanya mengalami gejala yang mirip
sindroma flu (Flu like Syndrome) yaitu sakit kepala,malaise,nyeri
menelan,anoreksia,nyeri perut,nyeri otot dan nyeri sendi. Nyeri menelan
disebabkan karena iritasi mukosa mulut yang mngering,selama hari pertama
beberapa pasien mengalami batuk dan keadaannya mnyerupai bronkitis akut.
Penderita dapat menglami diare, tetapi lebih sering didapatkan
konstipasi,epustakisis yang biasa ditemukan sebelum era antibiotika sekarang
lebih jarang ditemukan pada anak anak dibandingkan orang dewasa.
Dilaporkan pula adanya kejang dan gejala meningeal,biasanya pada anak
berumur dibawah 5 tahun terutama dengan disertai riwayat kejang berulang.
Akhir Minggu pertama
Pada akhir minggu pertama demam sekitar 38,80C-400C, penderita mengeluh
sakit kepala hebat,tampak apatis,bingung dan lelah. Pada saat panas tinggi
mulut menjadi kering karena saliva berkurang,lidah tampak kotor dilapisi
selaput putih sampai kecoklatan,bisa disertai dengan tepi yang hiperemis dan
tremor. Pada akhir minggu pertama sering didapatkan rasa mual dan muntah.
Penderita kadang kadang masih mengalami batuk dan didapati gambaran
klinis bronkitis pada kasus demam tifoid yang berat. Tidak didapatkan myeri
perut yang jelas tetapi penderita merasa tidak enak diperut dan mungkin juga
masih disertai konstipasi. Kulit tampak kering dan panas yang mungkin juga
didapatkan bercak rose didaerah abdomen, dada atau punggung.
Minggu kedua
Pada sebagian besar penderita demam tinggi terus berlangsung mencapai
38,30C-39,40C, bersifat kontinua dengan perbedaan suhu sekitar 0,50C pada
pagi hari. Pada keadaan ini mungkin didapatkan bradikardi relatif. Keadaan
umum penderita makin menurun,apatis,bingung,kehilangan kontak dengan
orang yang disekitarnya,tidak bisa istirahat atau tidur. Lidah tertutup selaput
tebal dan penderita kehilangan nafsu makan serta minum. Pemeriksaan
abdomen sulit diinterpresatsikan,gambaran yang klasik menyerupai adonan
(doughy) dan mudah diraba usus yang berisi air dan udara. Didapatkan di
daerah nyeri yang merata di seluruh kuadran bawah, dan distensi abdomen
dengan daerah yang meterorismus atau timpani oleh karena
konstipasi,penumpukan tinja atau berkurangnya tonus lapisan otot intestin dan
lambung.
Minggu ketiga
Memasuki minggu ketiga penderita memasuki tahapan Thypoid state, yang
ditandai dengan disorientasi,bingung,insomnia,lesu dan tidak bersemangat.
Penulis lain menggambarkan wajah tifoid yang khas yaitu wajah tanpa
ekspresi,suram,kelopak mata setengah terbuka,dilatasi pupil,slack jaw,mulut
dan bibir kering. Pernafasan tampak cepat dan dangkal dengna tanda stagnasi
dibasal paru. Abdomen tampak lebih distensi dari sebelumnya. Nodus peyer
mungkin mengalami nekrotik dan ulserasi, sehingga sewaktu waktu dapat
timbul perdarahan dan perforasi. Saat ini penderita mengalami berak lembek
dan berwarna coklat tua atau kehijauan dan berbau, hal ini dikenal dengan
pea-soup diarrhoea, tetapi mungkin penderita masih mengalami konstipasi.
Pada akhir minggu ketiga suhu mulai menurun secara lisis dan mencapai
normal pada minggu berikutnya.
V. KOMPLIKASI
Pada usus halus:
Perdarahan usus, perforasi usus, peritonitis
Di luar usus:
Terjadi karena lokalisasai peradangan (bakterimia) yaitu
meningitis,koleistitis,ensefalopati,dll. Terjadi karena infeksi sekunder yaitu
bronopneumonia
Perforasi usus
Perforasi menyebabkan tekanan darah turun,nadi bertambah cepat, dan timbul
nyeri hebat. Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan lekositosis dan
pergeseran ke kiri
Perdarahan usus
Perdarahan hebat dapat menyebabkan syok, tetapi bisa sembuh spontan tanpa
pembedahan.
Pulmonal
Pada sebagian besar kasus didapatkan batuk,biasanya bersifat ringan dan
disebabkan oleh bronkitis(15%).pnemoni(1-30%)bisa merupakan infeksi
sekunder dan dapat timbul pada awal sakit atau fase lanjut. Komplikasi lain
yang terjadi adalah abses paru,efusi dan empiema
Hematologis
Depresi sumsum tulang belakang yang toksik pada penderita dengan
manifestasi klinis yang berat menyebabkan terjadinya anemia,neutropenia,
granulositopenia dan trombositipenia. Hemolisis akut dijumpai pada pasien
yang menderita demam tifoid dan dipicu denagn pemakaian kloranfenikol.
Penulis lain melaporkanterjadinya erupsi kulit yang hemoragis, pendarahan
gusi, epistaksis,hematuria, pendarahan dari vulva bahkan otopsi pernah
menemukan perdarahan masif dari meningen,pleura,peritoneum,intestinal dan
paru
Neuropsikiatri
Manifestasi neuropsikiatri yang dilaporkan penderita bervariasi: sakit
kepala,meningismus sampai gangguan kesadaran (disorientasi sampai
delirium,stupor dan koma). delirium,stupor dan koma merupakan prognosis
yang buruk denagn angka kematian kasus lebih dari 40%. Delirium
merupakan kelainan yang paling sering dijumpai dan dapat berkembang
menjadi ensefalopati.
Manifestasi lain yang dapat dijumpai adalah kejang, typhoid meningitis,
ensefalomielitis,transverse myelitis dengan paraplegia,neuritis dan sindroma
Guilan Barre. Penulis lain melaporkan terjadinya toxic encephalophaty dan
trombosis serebral dilaporkan pula terjadinya shizofrenia terutama di benua
afrika.
Kardiovaskular
Myokarditis ditemukan 1-5% penderita demam tifoid. Manifestasi klinis
bervariasi mulai dari asimtomatik sampai nyeri dada, payah jantung, aritmia
atau syok kardiogenik. Gambaran lain yang tidak biasa ditemukan adalah
trombosis arteri dan vena dalam.
Hepatobilier
Komplikasi hepatobilier yang biasa ditemukan adalah hepatitis tifosa yang
asimtomatis ditandai dengan paningkatan SGOT dan SGPT. Kolesistitis akut
dan ikterus yang tidak atau disertai dengan peningkatan enzim didapatkan
pada 1-5%kasus.
Urogenital
Kelainan yang paling sering ditemukan adalah proteinuria yang bersifat
sementara. Proteinuria pada sebagian kasus disebabkan olah imun kompleks
yang mengakibatkan terjadinya glomerulonefritis. Manifestasi lain yang
mungkin terjadi adalah sindroma nefrotik,sistitis,pielonefritis dan gagal ginjal.
Pada keadaan ini sering dihubungkan dengan infeksi Schistosoma
haematobium.
Komplikasi Lain
Manifestasi lain yang jarang ditemukan adalah parotitis,otitis
media,uveitis,artritis,pankreatiitis,abses (hati,limpa dan jaringan lunak),orkitis
dan alopesia.
VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah tepi:
Terdapat gambaran leukopenia,limfositosis relatif dan aneosinofilia
pada permulaan sakit
Darah untuk kultur (biakan empedu)
Biakan empedu basil salmonella thyposa dalam darah pasien pada
minggu pertama sakit. Selanjutnya lebih sering ditemukan dalam urine
dan feses, dan mungkin akan tetap positif untuk waktu yang lama.
Pemeriksaan Widal
Dasar pemikiran ialah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum pasien
tifoid di campur dengan suspensi antigen Salmonella thyposa.
Pemeriksaan yang positif jika terjadi reaksi aglutinasi Untuk membuat
diagnosis yang diperlukan ialah titer zat anti terhadap antigen O. Titer
yang bernilai 1/200 atau ;ebih dan atau menunjukkan kenaikan yang
progresif di gunakan untuk mebuat diagnosis.
Pemeriksaan widal tidak selalu positif walaupun pasien sungguh
sungguh menderita tifus abdominalis (disebut negatif semu)
VII. PENATALAKSANAAN
Pasien yang di rawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus
dianggap dan diperlakukan langsung sebagai pasien tifus abdominalisdan
diberikan pengobatan sebagai berikut:
Isolasi pasien,desinfeksi pakaian dan ekskreta
Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi mengingat sakit
yang lama,lemah,anoreksia dan lain lain
Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal
kembali (istirahat total), kemudian boleh duduk. jika tidak panas lagi
boleh berdiri kemudian berjalan di ruangan
Diet.
Makanan harus mengandung cukup cairan,kalori dan tinggi protein.
Bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak
merangsanga dan tidak menimbulkan gas. Susu 2 gelas sehari. Bila
kesadaran pasien menurun berikan makanan cair, melalui sonde
lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan nak baik dapat juga
diberikan makanan lunak
Obat pilihan ialah kloramfenikol, kecuali jika pasien tidak cocok dapat
diberikan obat lainnya seperti kotrimoksazol. Pemberian
kloramfenikol dengan dosis tinggi, yaitu 100mg/KgBB/hari
(maksimum 2 gram per hari) diberikan 4 kali sehari per oral atau
intravena. Pemberian kloramfenikol dalam dosis tinggi tersebut
mempersingkat waktu perawatan dan mencegah relaps. Efek
negatifnya adalah mungkin pembentukan zat anti kurang karena
karena basil terlalu cepat dimusnahkan.
Bila terdepat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakitnya. Bila
terjadi dehidrasi dan asidosis diberikan cairan secara intravena dan
sebagainya
VIII. PENCEGAHAN
Pencegahan harus dilakukan dari 2 hal:
Lingkungan Hidup
1. Sediakan air minum yang memenuhi syarat. Misalnya, diambil dari
tempat yang higienis, seperti sumur dan produk minuman yang terjamin.
Jangan gunakan air yang sudah tercemar. Jangan lupa, masak air terlebih
dulu hingga mendidih (100 derajat C).
2. Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Juga jangan
pernah membuangnya secara sembarangan sehingga mengundang lalat
karena lalat akan membawa bakteri Salmonella typhi. Terutama ke
makanan.
3. Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.
Diri Sendiri
1. Lakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga. Vaksinasi dapat
mencegah kuman masuk dan berkembang biak. Saat ini pencegahan
terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi
bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid).
Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.
2. Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier). Pengawasan
diperlukan agar dia tidak lengah terhadap kuman yang dibawanya. Sebab
jika dia lengah, sewaktu-waktu penyakitnya akan kambuh.
IX. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan :
1. Gangguan Suhu tubuh berhubungan dengan gangguan pada pusat
termogulasi di hipothalamus oleh pirogen endogen
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan
tubuh) berhubungan dengan anoreksia
3. Kekurangan volume cairan /elektrolit berhubungan dengan
peningkatan suhu tubuh dan intake yang berkurang
4. Gangguan pemenuhan ADL berhubungan dengan kondisi tubuh yang
lemah
5. Gangguan pola eliminasi berhubungan denagn invasi salmonella pada
mukosa intestinal
6. Gangguan pemenuhan istirahat tidur berhubungan dengan
peningkatansuhu tubuh
7. Ketakutan pada anak berhubungan dengan tindakan medis atau
perawatan di rumah sakit
8. Kurang pengetahuan orang tua terhadap penyakit berhubungan dengan
Informasi yang tidak adekuat
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan Kriteria Intervensi Rasional
Dx Keperawatan Standart
.
1. Peningkatan Setelah K/U baik 1. M 1. Infeksi pada
suhu tubuh dilakukan TTV: onitor tanda umumnya
(hipertermi) perawtan S : 36.5- tanda infeksi menyebabkan
b/d gangguan Suhu 37.5ºC 2. mo peningkatan
pada pusat tubuh N : 80- nitot tanda vital suhu tubuh
termogulasi di akan 120x/mnt tiap 2 jam 2. deteksi
hipothalamus kembali RR:16- 3. ko peningkatan
oleh pirogen normal, 24x/mnt mpres dingin suhu tubuh
endogen keamanan TD:100/80 pada daerah yang ekstreem
dan - 110/90 yang tinggi 3. memfasilitasi
kenyaman mmHg aliran darahnya kehilangan
an pasien Paka 4. ber panas lewat
dipertahan ian dan ikan suhu konveksi dan
kan. tempat lingkungan konduksi
tidur yang nyaman 4. kehilangan
pasien bagi pasien. panas tubuh
kering Kenakan melalui
Tida pakaian tipis konveksi dan
k ada pada pasien konduksi
reye 5. mo 5. febril dan
syndrom nitor ensefalopati
Kulit komplikasi bisa terjadi bila
dingin neurologis suhu tubuh
dan bebas akibat demam meningkat
dari 6. atu 6. menggantika
keringat r cairan IV cairan yang
yg sesuai order hilang lewat
berlebih. atau anjurkan keringat
intake cairan 7. aspirin
yang adekuat beresiko terjadi
7. kol perdarahan GI
aborasi yang menetap
pemberian
2. Kekurangan Setelah antipiretik , 1. Tanda dan
volume cairan dilakukan Klie jangan gejala ini
(kurang dari perawatan n pergunakan merupakan
kebutuhan) kebutuhan mengatak aspirin tanda dehidrasi
b/d cairan an dan dapat
peningkatan klien tubuhnya menyebabkan
suhu tubuh dapat terasa syok
dan intake terpenuhi segar, 1. Kaji adanya hipovolemik
peroral tidak dehidrasi (rasa bila tidak
kurang lemah haus, rasa diatasi dengan
dan tidak kering pada segera
haus mukosa bibir, 2. Peningkatan
K/U turgor kulit suhu dapt
baik kurang, menghilangkan
Turg penurunan cairan melalui
or kulit output urien) evaporasi.
baik 2. Kaji temperatur Perubahan BB
Muk dan BB merupakan
osa bibir 3. Beri hidrasi volume cairan
lembab yang adekuat 3. Oral hidrasi
Mata saat kehilangan merupakan
tidak cairan yang langkah untuk
cowong berlebihan mengatasi dan
Intak 4. Berikan mempertahanka
e cairan makanan n kebutuham
adekwat tambahan yang cairan
(1500- banyak 4. Makanan
2000 cc mengandung tambahan
per hari) cairan seperti tersebut dapat
Seru buah-buahan membantu
m dan kuah sayur mencukupi
elektrolit seperti selama kebutuhan
dan BJ tidak ada cairan
urien kontra indikasi
3. Gangguan Setelah normal(0. 1. mengganti
Pola eliminasi dilakukan 0101) kan cairan
b/d invasi perawatan yang hilang
salmonella Pasien agar seimbang
pada mukosa akan 2. menguran
intestinal kembali Fese gi kram perut
normal s lunak (hindari
pola dan 1. ukur output antisapsmodik)
eliminasin keluar 2. kompres 3. mendeteks
ya dengan hangat pada i adanya
mudah abdomen kuman patogen
BAB 3. kumpulkan 4. mencegah
tidak tinja untuk iritasi dan
lebih dari pemeriksaan kerusakan kulit
3kali kultur
sehari 4. cuci dan
Tida bersihkan kulit
k nyer di daerah anal
abdomen yang terbuka
Tugas Keperawatan Anak
TYPHUS ABDOMINALIS
Dosen pembimbing: Nurul Aini, [Link]
Oleh :
Chandra Gerry (05010013)
Rosanna Agustine (05010019)
Buyung Diah P (05010025)
PROGRAM DIPLOMA III KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2007
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes,Marilynn E., Rencana Asuhan Keperawatan , Jakarta :EGC
Mansjoer,arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran .Jakarta: Media
Aesculapius
Ngastiyah,2005, Perawatan Anak Sakit ,Jakarta :EGC
Soegijanto, Soegeng, 2002. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa &
Penatalaksanaan. Jakarta: Salemba Medika
Rampengan dan Laurentz,1995. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak .Jakarta
:EGC
[Link]
page=html&hkategori=ePDT&direktri=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110-
[Link]