skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada
proses fikir serta disharmoni antara proses fikir, afek/emosi, kemauan dan
psikomotor disertai distorsi kenyataaan, terutama karena waham dan halusinasi;
asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul inkoherensi, Pasien dengan gangguan ini
dianggap sebagai orang yang berbahaya serta mengancam bagi lingkungannya. Jika hal
ini terus berlanjut akan berdampak pada konsep diri negatif pasien dan akan
terjadinya penurunan terhadap self esteem nya (Direja, 2021).
Data WHO (2018) Di dunia Terdapat sekitar 21 juta terkena skizofrenia dan di
wilayah Asia mencapai 8 juta jiwa, serta di kawasan Asia tenggara sendiri mencapai
2 juta jiwa penderita, Di Indonesia Prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk
Indonesia adalah 1,7 per mil. sedangkan, Menurut hasil data di Provinsi Lampung
sebesar 6,0% (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2019).Serta Berdasarkan data
dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Daerah Provinsi Lampung, pada tahun 2021 dari 20.416
pasien RSJ yang ditangani, sebesar 77,3 persen merupakan kasus Skizofrenia.
Sementara di Ruang Nuri sendiri didapatkan hasil (64,28%) diantaranya mengalami
masalah keperawatan Harga Diri Rendahdari pasien dengan harga diri rendah dan
diperkirakan 40% menderita harga diri rendah (Kusumawati, 2021).
Skizofrenia dapat terjadi karena pengalaman traumatis di masa lalu dan juga faktor
genetik. Pengalaman traumatis yang dialami pasien dapat mengakibatkan masalah
kesehatan mental seperti stres dan depresi (Hendrawati et al., 2022).
Umumnya pasien dengan skizofrenia akan menunjukkan perilaku sosial dengan menarik
diri dari lingkungan dan pasif dalam kegiatan ataupun aktivitas sehari-hari (Sari,
2019). Hal tersebut dikarenakan pasien skizofrenia kehilangan identitas dirinya dan
mengalami kegagalan peran dan fungsi dalam berinteraksi dengan masyarakat (Romas &
Widiantoro, 2022). Kegagalan tersebut membuat pasien sulit untuk membangun dan
memelihara hubungan sosial (Hendrawati et al., 2022).
Salah satu masalah keperawatan jiwa yang familiar dan sering kali ditemukan pada
klien gangguan jiwa skizofrenia adalah isolasi sosial (Wahyu et al., 2021). Menurut
Yosep (2010 dalam Sari, 2019) isolasi sosial merupakan suatu kondisi dimana
individu terjadi penurunan interaksi atau bahkan tidak dapat berinteraksi dengan
orang lain disekitarnya dan klien tidak mampu berhubungan dengan orang lain. Kasus
pasien gangguan jiwa yang mengalami gejala isolasi sosial sendiri tergolong tinggi
yaitu 72% dari keseluruhan jumlah kasus skizofrenia (Maramis, 2012). Jadi dapat
disimpulkan bahwa gejala terbanyak dari pasien skizofrenia adalah isolasi sosial:
sebagai akibat kerusakan afektif kognitif klien (Arisandy, 2017).
Tanda gejala yang dapat dilihat pada pasien yang mengalami isolasi sosial menurut
Zakiah, Hamid & Susanti (2018) dalam Maudhunah et al. (2021) dapat berupa pasien
tampak murung, sulit tidur, gelisah, lemah, malas beraktivitas, kurang bersemangat,
menarik diri, menjauhi orang lain, jarang atau bahkan tidak sama sekali melakukan
komunikasi dengan orang lain, menghindari kontak mata, kehilangan menit
berkomunikasi, malas mengikuti kegiatan aktivitas sosial, berdiam diri di kamar,
menolak dan tidak mau menjalin hubungan dengan orang lain.
Gejala isolasi sosial tersebut diperlukan rehabilitative yang bertujuan untuk
mengembalikan fungsi fisik, membantu menyesuaikan diri, meningkatkan toleransi, dan
meningkatkan kemampuan pasien bersosialisasi (Sari, 2019). Mengingat Dampak yang
dapat ditimbulkan isolasi sosial jika tidak ditangani dapat menyebabkan individu
semakin tenggelam dalam perjalanan tingkah laku yang tidak sesuai dengan kenyataan,
sehingga berakibat lanjut menjadi risiko gangguan persepsi sensori : halusinasi,
mencederai diri sendiri, orang lain serta lingkungan dan penurunan aktivitas
sehingga dapat menyebabkan deficit perawatan diri (NANDA, 2015). Untuk meminimalkan
dampak dari isolasi sosial dibutuhkan pendekatan yang memberikan penatalaksanaan
untuk mengatasi gejala pasien dengan isolasi sosial.
Peran perawat dalam menangani masalah pasien dengan isolasi sosial antara lain,
menerapkan standar asuhan keperawatan (Apriliani & Herliawati, 2020). Penanganan
pasien yang mengalami isolasi sosial dapat menggunakan strategi keperawatan dengan
cara melakukan bina hubungan saling percaya. Menurut Yosep (2010 dalam Windiarto,
2013) juga berpendapat bahwa bina hubungan saling percaya harus dilakukan dengan
pendekatan yang konsisten, sehingga didapatkan hasil dengan pasien akan mengikuti
program apa pun yang sudah dijadwalkan.
Terdapat salah satu penanganan pada pasien skizofrenia selain dari penggunaan
farmakoterapi yaitu dengan terapi modalitas, terapi modalitas merupakan terapi
untuk meningkatkan klien dalam bersosialisasi (Liana et al., 2018). Berbagai macam
terapi modalitas diantaranya adalah latihan keterampilan sosial merupakan suatu
teknik modifikasi perilaku yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam
berinteraksi dengan orang lain agar dapat diterima dan dihargai secara sosial yang
bertujuan untuk mengurangi perilaku negatif pada seseorang menjadi perilaku yang
positif (Liana et al., 2018). Menurut Rahayu et al (2020) latihan keterampilan
sosial sangat berguna dalam meningkatkan fungsi sosial pada klien skizofrenia
kronis karena klien dapat belajar dan melaksanakan keterampilan dasar dalam
interaksi, ikatan aktifitas sosial, mengekpresikan perasaan kepada orang lain
dengan mulai berpatisipasi dalam aktifitas sosial seperti interaksi dengan teman
dan perawat.
Menurut Sukaesti (2018) mengatakan bahwa terapi individu yang salah satunya
mengidentifikasi penyebab dari isolasi sosial mampu meningkatkan kemampuan klien
sebanyak 58.4%. Selain itu, latihan berkenalan, latihan bercakap-cakap serta
melakukan evaluasi dari kemampuan pasien juga memiliki pengaruh terhadap
peningkatan kemampuan pasien dalam bersosialisasi dengan orang lain baik secara
individu ataupun kelompok sebanyak 53.6% (Sukaesti, 2018).