Pledoi Pembelaan Kasus Pidana Bandung
Pledoi Pembelaan Kasus Pidana Bandung
“DEMI KEADILAN”
Bandung, 26 Juni 2023
Kepada Yth.,
Hakim Pemeriksa dan Pemutus Perkara
Nomor : 19/Pid.B/2023/[Link]
Terdakwa FERDI SABI BIN SUMBA
di-
Pengadilan Negeri Bandung
Jl. L. L. R.E. Martadinata No.74-80, Cihapit, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung
Dengan Hormat,
Yang bertanda tangan di bawah ini : Anom Gilang Pamungkas, S.H, LL.M. Merupakan Advokat pada
LAW FIRM PAMUNGKAS & ASSOCIATES berkantor di Jl. Sukajadi No. 241 Kecamatan Sukajadi, Kota
Bandung , Email: pamungkasanomgilang@[Link] Telp: +62 8221 9583 272, bertindak untuk dan atas
nama serta kepentingan klien kami berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 2 Februari 2023 atas nama:
Dengan ini perkenankan kami selaku Penasihat Hukum dalam perkara ini menjalankan hak kami untuk
menyampaikan pembelaan (Pledoi) atas Surat Tuntutan (Requisitoir) Sdr. Jaksa Penuntut Umum
Bahwa Terdakwa telah didakwa oleh Sdr. Jaksa Penuntut Umum dalam surat dakwaannya dengan dakwaan
tunggal melanggar Pasal 351 ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.
Majelis Hakim Yang Mulia,
Saudara Jaksa Penuntut Umum Yang Kami Hormati,
Bahwa surat tuntutan (Requisitoir) Sdr. Jaksa Penuntut Umum telah dibacakan pada persidangan di
Pengadilan Negeri Bandung yang terbuka untuk umum, dimana Terdakwa telah dinyatakan terbukti
melakukan perbuatan pidana sebagaimana yang diatur dan diancam Pasal 351 ayat (1) KUHP tentang
Penganiayaa, maka pada kesempatan ini izinkanlah kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa
menyampaikan Pledoi yang kami bagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut :
1. PENDAHULUAN
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
kekuatan fisik dan mental kepada kita semua, hingga pada akhirnya kami selaku Penasihat Hukum
dari Terdakwa dapat menyusun dan membacakan Pledoi ini.
Sebelum memasuki materi pokok pada Pledoi ini, ada baiknya kami sampaikan Firman Allah S.W.T.
dalam Kitab Sucinya Al-Qur’an, sebagai kitab suci yang kami yakini sebagai seorang muslim pada
khususnya, dan orang-orang yang seiman pada umumnya, yang kita ambil sebagai pedoman
dalam sebuah peradilan. Allah SWT. berfirman dalam Surat Annisa’ Ayat 135 :
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orangorang yang benar-benar penegak keadilan,
menjadi saksi karena Allah SWT. biarpun terhadap dirimu sendiri, atau Ibu Bapakmu dan Kaum
Kerabatmu, jika Ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah
kamu mengikuti Hawa Nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar
balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah SWT. adalah Maha
Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan” ( Q.S. Annisa’ 135).
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orangorang yang selalu menegakkan
(kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu
lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan” (Q.S al-Maidah: 8).
Selanjutnya, kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Majelis Hakim yang telah memberikan
kesempatan kepada kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa untuk menyampaikan Nota
Pembelaan (pledoi) atas tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebelumnya.
Dalam kasus ini, terdakwa kami berada dalam situasi yang memaksa untuk membela diri dan melindungi
keselamatan dirinya serta calon istrinya. Mereka menyaksikan dengan mengerikan bagaimana calon
istrinya dipukuli oleh dua orang pengamen. Kejadian traumatik tersebut mengakibatkan kecemasan
emosional yang tinggi, mendorong terdakwa untuk bertindak demi melindungi nyawa dan kehormatan
pasangannya.
Tindakan terdakwa harus dipahami sebagai respons alami terhadap ancaman yang mereka hadapi. Dalam
kondisi stres dan ketakutan yang melanda, orang seringkali bereaksi dengan cara yang tak terduga. Efek
psikologis yang dialami terdakwa, termasuk kecemasan yang berat, tidak dapat diabaikan. Penting bagi
kita untuk melihat melampaui tindakan fisik dan mempertimbangkan latar belakang emosional yang
melatarbelakangi tindakan tersebut.
Selain itu, perlu dicatat bahwa dua pengamen yang terlibat dalam kejadian ini sebelumnya telah
mengancam staf dari Cafe LaCamera Resto. Hal ini menunjukkan kecenderungan mereka untuk
menggunakan kekerasan sebagai alat intimidasi. Tindakan mereka tidak hanya merugikan terdakwa secara
langsung, tetapi juga menciptakan ketidakamanan dan ketakutan bagi orang-orang di sekitar mereka.
Ancaman sebelumnya ini memperlihatkan adanya ancaman nyata terhadap keselamatan terdakwa dan
orang yang mereka cintai. Oleh karena itu, reaksi terdakwa harus dipandang sebagai upaya perlindungan
diri yang sah. Penting bagi kita untuk memahami konteks perlindungan diri yang merupakan hak setiap
individu. Dalam kasus ini, fokus kita haruslah memahami efek traumatis yang dialami terdakwa dan
mengakui bahwa tindakan mereka dipicu oleh keadaan yang memaksa.
Penuntut Umum menyebutkan bahwa terdakwa FERDI SABI BIN SUMBA, melakukan penusukan dengan
menggunakan pisau restoran Lacamera Resto pada sekitar Pukul 20.00 WIB di Cafe Lacamera Resto.
Terdakwa bermaksud untuk beristirahat setelah menyantap makanan dimana ketika terdakwa sedang
duduk bersama calon istrinya yaitu saksi MANDA BIN UCHIHA, kemudian 2 orang pengamen ISA RAIHAN
bin TANOTO dan FIRMAN SUDIRMAN BIN TANOTO memaksa Terdakwa dan Calon Istrinya untuk kemudian
menyerahkan uang sebesar Rp. 10.000, Saksi Pelapor kemudian tidak terima bahwa terdakwa memberikan
Rp. 2.000 saja dan dengan itu melemparkan uang tersebut ke wajah calon istri terdakwa dan selanjutnya
melakukan pemukulan dengan menggunakan gitar kepada wajah dari calon istri terdakwa. Para saksi
pelapor dan pelapor kemudian melanjutkan pemukulan tersebut dengan memegang tangan terdakwa
dibelakang terdakwa, dan berniat untuk memukuli terdakwa. Terdakwa, dengan putus asa meraih suatu
benda yang dapat ia gunakan untuk membela diri dari pengeroyokan tersebut, yaitu sebuah pisau makan
yang tergeletak di meja dekat terdakwa. Terdakwa kemudian membela dirinya beserta dengan
keselamatan calon istrinya, dengan menggunakan pisau tersebut.
Di tahap penuntutan, Penuntut Umum menuntut Terdakwa terbukti atas Dakwaan Tunggal dan menuntut
terdakwa dijatuhi hukuman
Setelah membaca Surat Tuntutan JPU dengan teliti dan seksama serta berdasarkan pada fakta-fakta yang
terungkap di persidangan, kami menyatakan tidak sependapat dengan tuntutan JPU tersebut karena isi
tuntutannya banyak yang tidak didasarkan pada fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi-saksi, saksi ahli, saksi verbalisan, pemeriksaan Terdakwa dan bukti-
bukti yang diajukan dalam perkara in casu, kami selaku Penasihat Hukum dari Terdakwa berkewajiban
mengemukakan apa yang benar dan apa yang salah, apa yang masuk akal dan apa yang tidak masuk akal.
Karena dengan demikianlah kebenaran baru dapat terungkap dalam persidangan yang terhormat ini.
Dalam menegakkan hukum, tujuan kita bersama baik Majelis Hakim Yang Mulia, Penuntut Umum serta
kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa adalah sama, yaitu sama-sama mencari kebenaran yang sejati
dalam perkara in casu (materiil waarheid), bukan hanya sekedar mencari alat bukti yang dapat
menghukum Terdakwa belaka. Hal inilah sesungguhnya yang diminta oleh hukum dan didambakan oleh
Terdakwa, keluarga Terdakwa maupun oleh masyarakat luas. Kebenaran sejati itu hanya dapat ditemui dan
ditegakkan dalam suatu proses peradilan yang jujur dan adil. Jika tidak demikian, bukan kebenaran sejati
yang akan kita peroleh, melainkan potongan-potongan dari kebenaran dan jika dari potongan-potongan
kebenaran itu ditarik suatu kesimpulan apalagi dijadikan dasar untuk memutus perkara ini, maka hasilnya
akan lebih kejam dari seluruh kebohongan yang ada.
Setelah mendengar dan mempelajari surat tuntutan (Requisitoir) dari Jaksa Penuntut Umum, maka kami
selaku Penasihat Hukum Terdakwa menyampaikan pembelaan sebagai berikut :
- Bahwa Terdakwa telah melakukan penusukan terhadap Korban sebanyak 1x di bagian perut
dan mengakibatkan luka sayatan di daerah abdomen Korban
- Bahwa Terdakwa melakukan penusukan tersebut dengan alasan untuk membela kekasihnya,
MANDA UCHIHA.
- Bahwa Terdakwa menggunakan pisau yang ada di meja cafe Lacamera
- Bahwa Terdakwa melukai juga teman korban FIRMAN SUDIRMAN di bagian sekitar tangannya
- Bahwa Korban melukai kekasih dari Terdakwa dikarenakan Terdakwa dan kekasihnya tidak
menghormati Korban
- Bahwa kejadian tersebut terjadi di cafe Lacamera pada malam hari sekitar pukul 20.00
- Bahwa Korban merupakan pengamen yang biasa mengamen di daerah jalanan sekitar
Lacamera Resto
- Bahwa Terdakwa tidak menemui korban setelah kejadian penusukan di Lacamera hingga saat
ini.
1.2. Saksi FIRMAN SUDIRMAN bin MANDALIKA, umur 19 tahun, alamat Jl. Cilentah 27, Lengkong,
Kota Bandung telah diperiksa dan memberikan keterangan di bawah sumpah, dalam
persidangan dihadapan Majelis Hakim, yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
(Saksi merupakan Saksi Fakta , yang melihat, mendengar dan
merasakan/mengalami sendiri ada/terjadinya tindak pidana yang didakwakan)
2.2. Saksi Iwan Gunawan, umur 34 tahun, alamat Jl. Ancol 12, Dago, Kota Bandung telah
diperiksa dan memberikan keterangan di bawah sumpah, dalam persidangan dihadapan
Majelis Hakim, yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
(Saksi merupakan Saksi Fakta , yang melihat, mendengar dan
merasakan/mengalami sendiri ada/terjadinya tindak pidana yang didakwakan)
- Bahwa Saksi merupakan Satpam Lacamera Resto
- Bahwa Saksi memperingati Korban dan Rekannya agar tidak mengamen di Lacamera Resto
- Bahwa Korban kemudian mengancam Satpam bahwa Ia dan Rekannya hendak
menghancurkan barang-barang di depan restoran apabila tidak diperbolehkan
- Bahwa Korban kemudian diperingati juga oleh Waiter dari Lacamera agar tidak mengamen
- Bahwa kemudian Saksi melihat keributan terjadi di daerah smoking area
- Bahwa kemudian Saksi melihat Korban dan Rekannya jatuh
- Bahwa kemudian Saksi melihat warna merah yang tampak seperti luka di daerah perut
Korban
- Bahwa kemudian Saksi membawa Korban dan Rekannya ke Rumah Sakit Muhammadiyah.
- Bahwa kemudian Saksi tidak mengetahui kelanjutan dari nasib Korban.
2.3. Saksi Santi Susilawati Rahardjo, umur 24 tahun, alamat Jl. Anugrah 112, Dago, Kota
Bandung telah diperiksa dan memberikan keterangan di bawah sumpah, dalam persidangan
dihadapan Majelis Hakim, yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
(Saksi merupakan Saksi Fakta , yang melihat, mendengar
dan merasakan/mengalami sendiri ada/terjadinya tindak pidana yang didakwakan)
- Bahwa Saksi merupakan Waitress Lacamera Resto
- Bahwa Saksi kemudian melihat Satpam Lacamera Resto sedang berdebat dengan 2 orang
yang tidak dikenal yang Saksi ketahui sekarang merupakan Korban dan Firman Sudirman
- Bahwa Saksi kemudian memanggil rekannya, Saeful Turmidji untuk kemudian melihat apa
yang terjadi
- Bahwa ketika Saksi dan Saeful berjalan ke arah Satpam, terlihat bahwa Korban dan Firman
hendak mengamen
- Bahwa Saksi dan rekannya memperingati Korban dan rekannya bahwa merka tidak boleh
mengamen di daerah Lacamera Resto.
- Bahwa Saksi kemudian diancam oleh korban dan rekannya bahwa apabila tidak
diperbolehkan maka Korban akan menghancurkan barang diluar cafe. - Bahwa Saksi tidak
mengetahui lebih lanjut apa yang terjadi.
2.4. Saksi Saeful Turmidji, umur 31 tahun, alamat Jl. Anugrah 111, Dago, Kota
Bandung telah diperiksa dan memberikan keterangan di bawah sumpah, dalam persidangan
dihadapan Majelis Hakim, yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut :
(Saksi merupakan Saksi Fakta , yang melihat, mendengar
dan
merasakan/mengalami sendiri ada/terjadinya tindak pidana yang didakwakan)
- Bahwa Saksi merupakan Waiter Lacamera Resto
- Bahwa Saksi kemudian dipanggil Santi untuk melihat Satpam Lacamera Resto sedang
berdebat dengan 2 orang yang tidak dikenal yang Saksi ketahui sekarang merupakan Korban
dan Firman Sudirman
- Bahwa Saksi dan rekannya memperingati Korban dan rekannya bahwa merka tidak boleh
mengamen di daerah Lacamera Resto.
- Bahwa Saksi kemudian diancam oleh korban dan rekannya bahwa apabila tidak
diperbolehkan maka Korban akan menghancurkan barang diluar cafe. - Bahwa Saksi tidak
mengetahui lebih lanjut apa yang terjadi.
c. KETERANGAN TERDAKWA
Bahwa di dalam persidangan pada hari Kamis tanggal 1 Maret 2020 di hadapan Majelis Hakim,
pada pokoknya Terdakwa menerangkan sebagai berikut:
- Bahwa Terdakwa melakukan penusukan terhadap Korban
- Bahwa Terdakwa terpaksa melakukan hal tersebut untuk menghindari kekasihnya terluka
- Bahwa Korban memukul Kekasih Terdakwa sebanyak 2x di bagian wajah
- Bahwa Terdakwa mengambil pisau tersebut dikarenakan pisau tersebut merupakan satu-
satunya barang yang Terdakwa dapat raih
- Bahwa Terdakwa kemudian melakukan penyerangan kepaada rekan korban dikarenakan
terpaksa karena ditahan
d. BARANG BUKTI
Barang Bukti terdiri dari
i. Hasil Visum tanggal 4 Februari 2020 terhadap ISA RAIHAN
ii. Hasil Visum tanggal 5 Februari 2020 terhadap FIRMAN SUDIRMAN
iii. Gitar merk GIBSON ACOUSTIC model 123-GG
iv. Pisau Makan Lacamera Resto
v. Baju T-Shirt merk SUPREME milik ISA RAIHAN
vi. Rekaman CCTV Lacamera Resto
Pertama-tama, penting untuk mengkaji ketentuan Pasal 49 KUHP. Pasal ini menyatakan bahwa
seseorang tidak dapat dihukum atas tindakan yang dilakukan dalam pembelaan diri apabila tindakan
tersebut dilakukan dalam keadaan ancaman yang nyata, tidak terhindarkan, dan tidak melampaui
batas kewajaran. Prinsip bela diri ini merupakan prinsip yang diakui secara luas dalam sistem hukum
di banyak negara, termasuk Indonesia.
Dalam kasus ini, terdakwa didakwa melakukan penganiayaan. Sebagai pengacara, analisis yuridis kami
akan berfokus pada apakah tindakan terdakwa dapat dikategorikan sebagai tindakan pembelaan diri
yang sah berdasarkan ketentuan Pasal 49 KUHP. Kami akan melakukan evaluasi terhadap elemen-
elemen yang terkandung dalam ketentuan tersebut.
Pertama, kita perlu menentukan apakah terdakwa berada dalam ancaman yang nyata. Ancaman yang
nyata dapat mencakup ancaman terhadap kehidupan, integritas fisik, atau hak-hak yang dilindungi
lainnya. Jika terdakwa dapat membuktikan bahwa ia menghadapi ancaman yang nyata, maka aspek
pertama dari pembelaan diri telah terpenuhi.
- Terdakwa melakukan pembelaan diri sebagai respons terhadap tindakan pemukulan yang
dilakukan oleh para saksi yang mendakwa.
- Tindakan tersebut telah sesuai dengan ketentuan Pasal 49 KUHP yang mengatur tentang
bela diri, di mana tindakan pembelaan diri diperbolehkan apabila terdapat ancaman yang
seketika dan nyata terhadap diri sendiri atau orang lain.
- Dalam kasus ini, tindakan terdakwa untuk melindungi calon istrinya dari pemukulan oleh
para saksi merupakan reaksi spontan terhadap ancaman fisik yang langsung dihadapinya.
- Terdakwa, sebagai seseorang yang menghadapi ancaman langsung terhadap orang yang
mereka cintai, memiliki hak dan kewajiban untuk melindungi dan membela diri sendiri serta
orang yang mereka cintai dari bahaya yang nyata.
- Oleh karena itu, tindakan pembelaan diri yang dilakukan oleh terdakwa dapat
dipersepsikan sebagai respon alami dan wajar dalam menghadapi ancaman fisik terhadap
keselamatan diri dan orang yang mereka cintai.
- Dalam konteks ini, terdakwa tidak memiliki alternatif lain yang rasional atau memadai
untuk menghentikan pemukulan yang sedang berlangsung kecuali dengan tindakan
pembelaan diri yang dilakukannya.
- Dengan demikian, terdakwa telah memenuhi syarat-syarat pembelaan diri yang diatur
dalam Pasal 49 KUHP, dan tindakan pembelaan diri tersebut harus diakui sebagai tindakan
yang sah dalam konteks kasus ini.
Selanjutnya, kita perlu memeriksa apakah tindakan terdakwa tidak terhindarkan. Ini berarti bahwa
terdakwa tidak memiliki pilihan lain yang layak selain menggunakan kekerasan untuk melindungi diri
sendiri. Dalam kasus ini, kita akan meneliti apakah terdakwa telah mencoba menghindari atau
menghindari ancaman secara wajar sebelum melakukan tindakan pembelaan diri.
- Dalam kasus ini, terdakwa telah berupaya melakukan deskalasi situasi yang terjadi, seperti
yang terbukti melalui rekaman CCTV yang ada sebagai bukti.
- Saksi A Charge melakukan tindakan provokasi dengan melemparkan uang sebesar Rp.
2000 ke wajah Manda, yang merupakan calon istri terdakwa.
- Terdakwa kemudian ditahan oleh saksi Firman Sudirman untuk mencegahnya melakukan
serangan balik, sementara saksi tersebut juga memungkinkan Isa Raihan untuk memukul
korban.
- Dalam kondisi tersebut, terdakwa terpaksa meraih pisau yang berada di dekat tangan
korban, sebagaimana terlihat dalam rekaman CCTV yang ada di restoran.
- Tindakan terdakwa dalam meraih pisau tersebut dapat dimaklumi sebagai respons
terhadap ancaman yang dihadapinya dan keinginannya untuk melindungi diri sendiri serta
calon istri dari serangan yang terus berlanjut.
- Dalam situasi yang tegang dan cemas seperti itu, terdakwa mengambil langkah-langkah
yang dianggap perlu untuk menghentikan serangan dan menjaga keselamatan diri sendiri
serta calon istri.
- Oleh karena itu, tindakan terdakwa untuk meraih pisau tidak dapat dianggap sebagai
tindakan yang melampaui batas dalam konteks pembelaan diri, mengingat kondisi dan
konteks yang sedang dihadapi.
- Faktor-faktor tersebut perlu dipertimbangkan dalam analisis yuridis kasus ini, untuk
memahami bahwa tindakan terdakwa tidak dapat dilihat secara terisolasi, tetapi dalam
konteks provokasi dan serangan yang terjadi.
Terakhir, kita perlu menilai apakah tindakan terdakwa melampaui batas kewajaran. Ini berarti bahwa
tindakan yang diambil oleh terdakwa harus proporsional dengan tingkat ancaman yang dihadapi.
Terdakwa tidak boleh menggunakan kekerasan yang berlebihan atau tidak sesuai dengan keadaan
yang sebenarnya.
- Tindakan yang dilakukan oleh terdakwa tidak melampaui batas yang wajar, mengingat
korban tidak mengalami luka berat akibat tindakan tersebut.
- Pisau yang digunakan oleh terdakwa merupakan pisau steak, sebagaimana terbukti dan
dibuktikan dalam persidangan.
- Pisau tersebut tidak secara memungkinkan dapat ditujukan untuk membunuh atau
melukai secara dalam, melainkan lebih umum digunakan untuk memotong makanan.
- Hal ini perlu diperhatikan dalam analisis yuridis, karena tindakan terdakwa tidak
melibatkan penggunaan senjata yang secara inheren mematikan atau berbahaya.
- Berdasarkan bukti visum yang disajikan, ISA RAIHAN hanya mengalami luka sayatan
dengan kedalaman sekitar 2 cm.
- Mengingat karakteristik pisau yang digunakan dan tingkat luka yang dialami oleh korban,
sangat tidak mungkin bahwa luka tersebut diakibatkan oleh tindakan terdakwa.
- Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tindakan terdakwa dengan menggunakan pisau
tersebut tidak secara signifikan melukai ISA RAIHAN, yang mendukung argumen pembelaan
bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya pembelaan diri terhadap ancaman
yang dihadapi oleh terdakwa dan calon istri.
Atas uraian tersebut diatas, kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa mohon kepada Majelis Hakim Yang
Mulia agar dapat memberikan rasa keadilan kepada Terdakwa, dan apabila Majelis Hakim Yang Mulia
berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya.
Berdasarkan semua alasan diatas kami Penasihat Hukum Terdakwa memohon dengan segala hormat
kepada Majelis Hakim Yang Mulia, yang memeriksa dan mengadili perkara a quo, kiranya berkenan
memutus yang amarnya sebagai berikut :
Primair:
1. Menerima Nota Pembelaan/Pledoi Penasihat Hukum Terdakwa FERDI SABI BIN SUMBA untuk
seluruhnya;
2. Menyatakan Terdakwa FERDI SABI BIN SUMBA tidak terbukti secara sah melakukan tindak pidana
sebagaimana yang didakwakan dan dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum berdasarkan Pasal 352
ayat (2) KUHP tentang Penganiayaan;
3. Membebaskan Terdakwa FERDI SABI BIN SUMBA dari dakwaan dan tuntutan hukum yang diajukan
Jaksa Penuntut Umum;
4. Memerintahkan agar Terdakwa FERDI SABI BIN SUMBA dibebaskan dari Tahanan;
5. Menyatakan membebankan biaya perkara ini kepada negara.
Subsidair:
Apabila Majelis Hakim Yang Mulia berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et
bono).
Untuk menutup Pledoi ini, izinkanlah kami mengutip katakata Nabi Muhammad SAW “Menghukum dalam
keraguan adalah dosa” dan di dunia hukum juga dikenal dalam keadaan “IN DUBIO PRO REO” adalah “jika
terjadi keragu-raguan apakah Terdakwa salah atau tidak maka sebaiknya diberikan hal yang
menguntungkan bagi Terdakwa”.
Demikianlah Nota Pembelaan atau Pledoi ini kami bacakan pada persidangan hari ini, atas perhatian dan
pertimbangan Majelis Hakim Yang Mulia kami ucapkan terima kasih.
Hormat Kami
Kuasa Hukum TERDAKWA
ANOM GILANG PAMUNGKAS, S.H., LL.M