0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan15 halaman

Pengawasan Intern dan Tujuannya

Dokumen tersebut membahas tentang pengawasan intern (internal control) yang terdiri atas 5 komponen utama yaitu lingkungan pengawasan, penilaian risiko, kegiatan pengawasan, informasi dan komunikasi, serta pemantauan. Pengawasan intern bertujuan untuk menyediakan laporan keuangan yang dapat dipercaya, meningkatkan efisiensi dan efektivitas, serta memastikan kepatuhan terhadap peraturan.

Diunggah oleh

calcio27
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan15 halaman

Pengawasan Intern dan Tujuannya

Dokumen tersebut membahas tentang pengawasan intern (internal control) yang terdiri atas 5 komponen utama yaitu lingkungan pengawasan, penilaian risiko, kegiatan pengawasan, informasi dan komunikasi, serta pemantauan. Pengawasan intern bertujuan untuk menyediakan laporan keuangan yang dapat dipercaya, meningkatkan efisiensi dan efektivitas, serta memastikan kepatuhan terhadap peraturan.

Diunggah oleh

calcio27
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGAWASAN INTERN (INTERNAL CONTROL)

1. Pengertian Internal Control

Sistem kontrol-intern terdiri dari kebijakan dan prosedur yang disusun


agar manajemen dapat memperoleh kepercayaan yang cukup bahwa perusahaan
dapat mencapai tujuannya. Kebijakan dan prosedur ini biasa disebut pengawasan
(control) dan secara keseluruhannya menjadi atau disebut pengawasan intern
perusahaan (company’s internal control)

Manajemen membentuk pengawasan intern ini agar tujuan kontrol tercapai,


yaitu laporan keuangan yang dapet dipercaya, tercapainya efisiensi dan efektifitas
usaha serta dipatuhinya berbagai undang-undang dan peraturan. Auditor
berkepentingan memusatkan usahanya pada kewajaran dan dapat dipercayanya
laporan keuangan dan dilaksanakannya pengawasan-intern agar diperoleh
kepercayaan atas laporan keuangan dan dipatuhinya berbagai undang-undang dan
peraturan oleh perusahaan.

2. Tujuan Internal Control

Arens, [Link], halaman 376 (diterjemahkan) mengikhtisarkan 3 (tiga) tujuan


internal control yang utama yaitu:
1. Menjadikan laporan keuangan dapat dipercaya. Dengan adanya control
intern dapat dipastikan berbagai aturan dan prosedur dipatuhi dan
dijalankan sehingga lapoaran keuangan yang dihasilkan perusahaan
sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.

2. Effesiensi dan effektivitas. Pengelolaan perusahaan menjadi tepat guna,


effesien (berarti penghasilan lebih besar dari biaya) dan efektif yang
berarti target dan tujuan perusahaan dapat direalisasikan.
3. Kepatuhan atas undang-undang dan peraturan. Dengan adanya
pengawasan intern maka dapat dipercaya bahwa segala prosedur,
aturan dan undang-undang dipatuhi oleh perusahaan.

3. Tanggung Jawab Manajemen dan Auditor

Adalah menjadi tanggung jawab manajemen untuk membangun,


menjalankan dan mengimplementasikkan pengawasan intern untuk tiap transaksi
yang terjadi dan pengelolaan perusahaan secara keseluruhan. Untuk itu, manajemen
harus memastikan bahwa terdapat jaminan yang cukup, kalau tidak absolut, bahwa
laporan keuangan sudah disajikan dengan wajar memenuhi standar akuntansi
keuangan. Namun demikian, penting diketahui juga, bahwa pengawasan intern
mempunyai juga beberapa keterbatasan. Misalnya dalam penghitungan persediaan
yang telah diatur sedimikian rupa bahwa penghitungan tiap barang dilakukan oleh
dua orang yang berbeda, dapat saja yang hitungan pegawai yang satu berbeda
dengan yang lainnya karena kurang teliti atau hal lainnya, sedangkan pegawai yang
satu tidak mempermasalahkannya atau dengan sengaja membiarkan untuk
menutup kekurangan barang yang ada, atau dengan kata lain mereka melakukan
kolusi atau persekongkolan.
Undang-undang Sarbanes & Oxley di Amerika Serikat (Arens, [Link], halaman
377, diterjemahkan) mengharapkan perusahaan publik untuk membuat laporan
internal control yang diaudit oleh KAP mengenai :
1. Bahwa manajemen bertanggung jawab atas pelaksanaan dan
implementasi pengawasan intern di perusahaannya.
2. Pendekatan dan penilaian bahwa internal control telah berjalan dengan
effektif.

4. Tanggung Jawab Auditor (KAP)

Untuk perusahaan publik di Amerika Serikat, ada kewajiban untuk


mengaudit juga pelaksanaan internal control di perusahaan, selain penilaian atas
kewajiban laporan keuangan. Dengan demikian, KAP harus juga memahami
pengawasan intern ini dengan:
1. Melakukan pengawsan dan penilaian atas tingkat kepercayaan pada
laporan keuangan bahwa laporan keuangan yang disajikan telah wajar.
2. Melakukan pengawasan dan penilaian atas kewajiban tiap transaksi
keuangan, penggolongannya, distribusi dan alokasinya, dan lain-lain.
Selanjutnya KAP harus memberikan penilaian atau opini atas pelaksanaan
internal control ini, yang dapat berupa opini wajarnya pengecualian, opini tidak
wajar, opini dengan pengecualian atau tanpa pemberian opini karena adanya
ketidakpastian.

5. Komponen Internal Control Menurut COSO (Committee of


Sponsoring Organizations of the Treadway Commission)

COSO Membagi Internal Control ini menjadi 5 (lima) komponen, yaitu


(Arens, [Link], halaman 380, diterjemahkan) :
1. Pengawasan lingkungan (control environment)
2. Pendekatan resiko (risk assersment)
3. Pengawasan aktivitas (control activities)
4. Informasi dan komunikasi (informational and communication)
5. Monitoring

Perbandingan komponen internal control dengan berbagai prinsip


akuntansi dan pengawasan, diuraikan sebagai berikut (Arens, [Link], halaman 388,
diterjemahkan) :

Komponen Pengertian Prinsip


Pengawasan Tindakan kebijakan dan f. Integritas dan nilai
Lingkungan. prosedur yang etika.
mencerminkan sikap g. Partisipasi direksi,
mendasar dan komisaris dan komite
menyeluruh dari audit.
pimpinan puncak h. Struktur organisasi.
termasuk direksi dan i. Kompetensi.
j. Pertanggung jawaban.
pemilik atas pentingnya
pengawasan intern.
Pendekatan risiko. Analisa risiko dan a. Punya tujuan yang
identifikasi manajemen jelas atas risiko tidak
atas pembuatan laporan terpenuhinya syarat-
keuangan yang memenuhi syarat dalam Standar
syarat-syarat dalam Akuntansi Keuangan.
Standar Akuntansi b. Tentukan bagaimana
Keuangan. penanganan atas
risiko diatas.
c. Pertimbangkan
potensi terjadinya
kecurangan
d. Pantau berbagai
perubahan.
Kontrol kegiatan Kebijakan dan prosedur a. Bangun pengawasan
yang telah ditetapkan untuk mencegah
manajemen untuk terjadinya berbagai
memenuhi tujuan laporan penyimpangan.
keuangan. b. Bangun pengawasan
atas pemakaian
teknologi.
c. Terapkan kebijakan
dan prosedur dan
target yang
diharapkan.
Informasi dan Metode yang digunakan a. Gunakan informasi
Komunikasi. untuk mencatat, yang relevan dan
memproses dan berkualitas dalam
melaporkan transaksi dan mendukung fungsi-
memelihara fungsi pengawasan
pertanggungjawaban aset intern.
perusahaan.
b. Komunikasikan
informasi secara
intern tentang

Control environment atau pengawasan lingkungan maksudnya pengawasan


pada tingkat manajemen puncak bahkan pada tingkat komisaris dan pemegang
saham serta kondisi lingkungan yang juga harus mendukung, misalnya sikap
manajemen yang tegas, disiplin dan patuh aturan, manajemen yang jujur dan
berintegritas, partisipasi dewan komisaris dan komite audit. Struktur organisasi
dan aturan perusahaan yang jelas (aturan jam kerja, cuti, bonus, penghargaan,
kenaikan pangkat dan lain-lain), ada komitmen atas kompetensi seseorang serta
sistem pertanggungjawaban yang jelas.
Dengan risk assessment diartikan sebagai proses mengidentifikasi dan
menganalisa berbagai risiko yang mungkin terjadi, diantaranya:
- Organisasi harus punya tujuan yang jelas
- Ada aturan bagaimana mengelola risiko
- Harus dapat memprediksi akan adanya potensi sikap yang tidak
menguntungkan.
- Peka terhadap berbagai kemajuan dan perubahan yang dapat
berdampak pada internal control.
Control activities diartikan sebagai control atas kegiatan pencatatan
transaksi sehari-hari yang pada umumnya terdiri dari :
1. Ada pemisahan tugas yang jelas
2. Otorisasi atas tiap transaksi dan kegiatan
3. Kelengkapan dokumen dan pencatatan
4. Kontrol fisik atas aktiva tetap dan pencatatannya
5. Pemeriksaan independent atas kegiatan perusahaan.
Dengan pemisahan tugas (separation of duties) dimaksudkan bahwa tugas-
tugas yang dilakukan oleh karyawan harus dipisah-pisah sedemikian rupa sehingga
tercipta pengawasan masing-masing oleh karyawan. Satu transaksi sejak awal
sampai akhir harus dipisah-pisah untuk menghindari berbagai kemungkinan
penggelapan. Pemisahan tugas ini dibagi menjadi sebagai berikut :
1. Pemisahan antara tugas pengelola aset dengan tugas pencatatan
misalnya tugas kasir adalalh mengelola/menyimpan dana kas dan tidak
dibebankan pada tugas pencatatan akuntansi seperti membuat jurnal,
posting ke buku besar, dan lain-lain
2. Tugas otorisasi atas suatu transaksi dengan tugas pengelola asset.
Kembali pada tugas kasir, dia hanya menyimpan/mengelola uang kas,
tapi untuk pengeluaran dan penerimaan kas, harus ada petugas lain yang
menyetujuinya, misalnya tugas manajer keuangan.
3. Tugas operasi perusahaan harus dipisah dengan tugas pencatatan atas
akuntansi. Hal ini untuk membantu pelaporan yang objektif dan tidak
memihak.
4. Pemisahan tugas-tugas IT (Information technology) dengan pemakai
(user).

Setiap transaksi keuangan yang terjadi harus melalui otorisasi atau


pengesahan yang jelas dari orang yang diserahi tanggung jawab untuk itu. Dengan
demikian si pelaku pencatatan dan orang operasional tidak bisa semaunya
melakukan transaksi yang mungkin saja dapat merugikan perusahaan. Dengan
adanya keharusan otorisasi terlebih dahulu, tentu hal ini dapat dihindari.
Kelengkapan dokumentasi dan catatan sangat diperlukan bilamana
nantinya ada pertanyaan dari berbagai pihak, terutama auditor dan perlunya back-
up atau dukungan atas laporan keuangan yang dibuat. Beberapa kontrol penting
atas dokumen dan catatan ini adalah:
1. Penggunaan formulir yang diberi nomor urut terlebih dahulu akan
sangat membantu pertanggungjawaban dikemudian hari.
2. Pengisian formulir segera setelah transaksi terjadi untuk mengurangi
kemungkinan kesalahan dan kekeliruan.
3. Diusahakan agar formulir yang digunakan dapat multifungsi untuk
meminimalisir jenis dokumen misalnya formulir pengiriman barang,
dapat digunakan sebagai dasar untuk pengeluaran barang dari gudang.
4. Dalam formulir harus jelas tandatangan atau paraf siapa yang
membuat, yang memeriksa dan yang mengotorisasi transaksi tersebut.

Kontrol fisik atas aset dan pencatatan.


Agar tercapai kontrol yang jelas atas aktifitas yang dimiliki, tiap aset
perusahaan harus memiliki kartu tersendiri biasa disebut kartu aktiva. Dalam kartu
tersebut dicatat informasi yang diperlukan seperti: tanggal perolehan, biaya
perolehan beserta ongkos angkut, asuransi dan lain-lain. Secara berkala aset ini
akan diperiksa secara fisik oleh internal auditor untuk meyakinkan bahwa aset
tersebut masiih berfungsi, dan lain-lain.
Independent checks atas apa yang dilakukan adalah sangat penting
dilakukan oleh independent auditor untuk memastikan bahawa semua aturan,
prosedur dan tata cara yang benar telah dipatuhi.
Informasi dan komunikasi adalah penting agar semua transaksi dilaporkan
dengan benar pada waktunya dan tidak terlambat. Hal-hal yang tidak jelas dapat
langsung dikomunikasikan untuk menghindari kesalah pahaman, dan lain-lain.
Monitoring diperlukan agar semua transaksi dan pelaporannya berjalan
dengan seharusnya serta kwalitas dan prosedur internal kontrol berjalan dengan
seharusnya dan bilamana diperlukan perubahan karena berubahnya situasi, dapat
dilakukan segera.
Khusus untuk lingkungan IT, tentu perlu beberapa perubahan, khususnya
lingkungan IT akan membagi kontrol atas kontrol umum dan kontrol aplikasi.
Kontrol umum meliputi semua aspek IT seperti administrasi, pemisahan tugas
pengembangan sistem pengamanan fisik dan on line atas perangkat keras dan
perangkat lunak, back-up data dan lain-lain.
Sedangkan kontrol aplikasi meliputi mulai dari level proses bisnis,
transaksi misalnya kontrol atas penerimaan dan pengeluaran kas. Auditor harus
mengevaluasi aplikasi kontrol misalnya penjualan dan penerimaan kas. Singkatnya
kontrol aplikasi ini terdiri dari input control, processing control dan output control.

6. Bagaimana Memahami Kontrol Intern

Untuk memahami kontrol intern yang berlaku di suatu unit usaha, dapat
dilakukan 3 (tiga) cara yaitu:
1. Narasi
Auditor membuat tulisan mengenai prosedur yang dilanjutkan oleh klien.
Misalnya prosedur mengenai penjualan, pembelian, proses produksi dan
lain-lain, untuk ini diperlukan:
a. Dokumen asli yang dipakai serta dimana dan bagaimana
pencatatannya
b. Semua proses yang terjadi harus dicatat oleh siapa, bagaimana dan
dimana
c. Pengesahan tiap dokumen yang dibuat, oleh siapa, siapa yang
memeriksa dan siapa yang mengotorisasi.
d. Indikasi atas telah berjalannya kontrol yang seharusnya ada, misalnya
ada paraf atau tandatangan persetujuan, tanggal dan lain-lain.

2. Flow chart adalah bagan yang menggambarkan arus perjalanan dokumen


yang dibuat atas satuan transaksi. Harus jelas dokumen tersebut berasal
dari mana, berapa duplikatnya, tiap-tiap duplikat diberikan pada bagian
apa, dan di bagian tersebut dokumen dicatat atau dasar untuk buat
dokumen lain, atau hanya di buat file.

3. Questionnaire yaitu daftar pertanyaan yang dibuat untuk dijawab yes atau
no untuk menggambarkan pelaksanaan kontrol intern yang berjalan.
Dengan melakukan salah satu dari ketiga cara diatas, maka auditor
akan mendapat gambaran yang jelas atas tahap berfungsinya kontrol atas
suatu transaksi atau masih terdapat beberapa kelemahan yang harus
diperbaiki.
Berikut adalah contoh sebagian questionnaire atas penjualan
(Arens, [Link], halaman 410, diterjemahkan) :
Tujuan Audit Jawaban
Ya Tidak Tak Perlu
a. Penjualan yang tercatat, barangnya telah
dikirim pada pembeli.
1. Apakah penjualan kredit telah disetujui
dan akses pada batas maksimum kredit
kepada komputer, terbatas dan telah
dilindungi? √
2. Apakah pencatatan penjualan telah
didukung oleh bukti pengiriman
barang dan order penjualan yang
disetujui? √
3. Apakah ada pembagian tugas yang jelas
antara pembuat faktur, pencatat
penjualan dan penerima pembayaran? √
4. Apakah faktur penjualan telah
bernomor urut yang dicetak terlebih
dahulu? √
b. Penjualan telah dicatat
1. Apakah ada catatan pengiriman barang? √
2. Apakah pengiriman barang terkontrol
sehingga dipastikan bahwa barang yang
dikirim telah dibuat fakturnya? √
3. Apakah bukti pengiriman barang tela
diberi nomor urut yang telah dicetak
terlebih dahulu? √
c. Penjualan yang dicatat adalah untuk barang
yang telah dikirim dan telah dibuat
fakturnya
1. Apakah dilakukan perbandingan secara
independent antara kuantitas barang
yang dikirim dengan kuantitas dalam
faktur? √
2. Apakah digunakan daftar harga dan
akses untuk merubah harga tersebut
terbatas? √
3. Apakah laporan bulanan dikirim pada
pelanggan? √
d. Transaksi penjualan telah tercatat semua
dan diklasifikasikan dengan benar
1. Apakah penjualan kredit secara
automatis juga tercatat dalam buku
piutang? √
2. Apakah catatan buku piutang ini
direkonsiliasi bulanan dengan buku
besar piutang? √
3. Apakah ada pengecualian secara
independen antara pencatatan
klasifikasi penjualan dengan began
perkiraan? √
e. Penjualan dicatat pada tanggal yang benar.
1. Apakah ada pengecekan secara
independent antara tanggal pengiriman
dan tanggal pencatatan penjualan? √

7. Hubungan kontrol intern dan prinsip-prinsip penting


COSO dalam Arens, [Link], halaman 388, diterjemahkan, mengikhtisarkan
berbagai komponen kontrol dan hubungannya dengan beberapa prinsip penting.

Komponen Penjelasan atas Prinsip


komponen
Kontrol Lingkungan Tindakan, kebijakan dan 1. Integritas dan nilai
prosedur yang etika.
mencerminkan sikap top 2. Partisipasi direksi,
manajemen, direksi dan komisaris, dan komite
pemilik, tentang audit.
pentingnya pengawasan 3. Struktur organisasi.
intern. 4. Komitmen atas
kompetensi.
5. Pertanggungjawaban.
Pendekatan risiko Analisa dan identifikasi 1. Harus ada tujuan yang
manajemen atas risiko jelas agar dapat
penyusunan laporan memenuhi tujuan.
keuangan yang sesuai 2. Menentukan
dengan Standar Akuntansi bagaimana mengelola
Keuangan. risiko.
3. Mempertimbangkan
terjadinya fraud.
4. Memonitor
perubahan.
Pengawasan aktivitas Kebijakan dan prosedur 1. Bagian pengawasan
yang telah ditentukan kegiatan untuk
manajemen untuk mengatasa risiko.
mencapai tujuan 2. Bagian kontrol umum
pelaporan keuangan. atas teknologi.
3. Membuat kebijakan
dan prosedur yang
cukup.
Informasi dan komunikasi Metode yang digunakan 1. Gunakan informasi
untuk mencatat, yang berkaitan untuk
memproses dan mendukung
melaporkan transaksi pengawasan intern.
perusahaan dan 2. Mengkomunikasikan
memelihara pertanggung secara intern tujuan
jawaban aset perusahaan. dan tanggung jawab
kontrol intern.
3. Mengkomunikasikan
dengan pihak luar
berbagai informasi
internal kontrol yang
relevan.
Pengawasan / Monitoring pendekatan manajemen 1. Melakukan evaluasi
atas kualitas pengawasan berkala.
intern baik secara berkala 2. Mengkomunikasikan
atau terus menerus untu kelemahan yang
memastikan bahwa terjadi pada pihak
kontrol telah berjalan yang berkepentingan.
sesuai rencana dan
disempurnakan lagi bila
diperlukan.

8. Tes atas kontrol

Tes ini dilakukan untuk mengetahui bahwa kontrol atas suatu transaksi
memang sudah berjalan dengan efektif.
Beberapa prosedur penting untuk tes ini adalah:
1. Tentukan pegawai yang berhak dan kompeten untuk menjawab dan
memberi keterangan dan informasi yang diperlukan.
2. Teliti dokumen, catatan dan laporan yang dibuat. Misalnya mengenai
penjualan, maka transaksi ini harus tertera dalam faktur penjualan,
didampingi oleh bukti pengiriman barang, dan seterusnya.
3. Teliti apakah kontrol berjalan, misalnya apakah faktur disetujui oleh yang
berwenang, dan lain-lain.
4. Ulangi prosedur yang dijalankan klien untuk membuktikan kebenaran
transaksi yang terjadi, misalnya cek lagi perhitungan faktur, pajaknya,
potongannya, dan lain-lain.

9. Wawancara atas dugaan pelaku fraud

Dalam wawancara untuk mendalami apakah telah terjadi penggelapan atau


tindakan curang, Arens, [Link], pada halaman 361 (diterjemahkan), menguraikan
sikap orang yang diwawancarai beserta kemungkinan implikasinya atas sikap
tersebut.
Kata-kata atau ucapan Implikasi
Sering menggunakan kata-kata Auditor harus menelusuri lebih lanjut
“biasanya”, “umumnya”, “sering”, dan untuk menentukan apakah penggunaan
lain-lain. kata-kata tersebut merupakan
pengecualian atau tidak.
Sering mengulangi lagi pertanyaan Auditor yang terlatih dapat mengetahui
auditor bahwa pengulangan pertanyaannya
merupakan keraguan atau
ketidakpastian orang yang
diwawancarai.
Penggunaan istilah “mmm”, “apa ya”, Hal ini menunjukkan keragu-raguan,
“sebenarnya”, dan lain-lain. ketidakpastian dan sebenarnya tidak
bisa dijawab.
Mohon dibelas kasihani atau sangat Dengan jawaban ini, auditor harus
gugup, dengan mengatakan “aduh, berhati-hati dengan jawaban yang
lupa ya”, “aku bingung, gugup nih”, menipu.
‘gak ingat ya”
Sikap toleransi, seperti “tergantung Orang yang tidak jujur sering sangat
keadaan”, sepanjang yang saya ingat” toleran pada suatu kesalahan.
Tidak mau mengakhiri wawancara Seseorang yang jujur biasanya siap untuk
mengakhiri interview. Tapi orang yang
tidak jujur akan berusaha terus
meyakinkan auditor untuk menunjukkan
bahwa dia jujur dan mengatakan yang
sebenarnya

Sikap tubuh, tanpa kata-kata Implikasi


Sikap jaga jarak Bila orang yang diwawancara merasa
- Menutup mulut dengan tidak nyaman atas suatu pertanyaan, dia
tangan, penggaris, pulpen, akan menjauh dari si pewawancara
kertas, dan lain-lain. untuk menciptakan jarak yang aman
- Melipat kaki atau tangan. baginya.
- Menggunakan suara yang
mengganggu, seperti
mengetuk meja atau kursi.
- Sikap merebahkan badan
menjauhi si pewawancara
untuk membuat jarak yang
cukup.
Tanda-tanda stress Pada kebanyakan orang, berbohong
- Bibir dan mulutnya terlihat akan menimbulkan stress, yang
kering. dimanifestasikan pada berbagai organ
- Menjilat bibir dan menelan tubuh.
ludah berkali-kali.
- Menggoyang-goyangkan kaki,
tangan atau mengetukkan kaki
ke lantai.
- Berkeringat atau wajah
memerah.
- Menghindari tatapan mata.

10. Pelaporan Kontrol Intern

Pada akhir audit, auditor untuk perusahaan publik di Amerika harus


melaporkan dan memberi pendapat (opini) atas pelaksanaan dan implementasi
internal kontrol di perusahaan yang diauditnya. Sama seperti opini atas laporan
keuangan, opini auditor dapat berupa wajar tanpa pengecualian (unqualifield
opinion), opini tidak wajar (adverse opinion) opini dengan pengecualian (qualified
opinion) atau opini tanpa pemberian opini (disclamer of opinion).
Dalam proses penggunaan data elektronik (IT – Information Technology),
pembagian tugas penting yang harus dipisahkan adalah tugas-tugas sistem,
operasi dan pencatatan data, sebagaimana digambarkan Arens, [Link] pada halaman
391 (diterjemahkan) berikut ini :
Pemisahan Tugas dalam IT

Kepala atau IT Manager

Systems Operations Data Control


Development

System Programmers Input / Output Database


Analyst Control Administration

Operators Librarian Administrator

Indikasi penting atas risiko


Dalam pengelolaan perusahaan, dikenal indikasi penting atas hasil atau
disebut juga key performance indicator (KPI), yaitu berbagai indikasi penting atas
keberhasilan usaha, misalnya peningkatan penjualan, penghematan biaya, dan
lain-lain. Dalam hal risiko usaha, diperlukan juga indicator risiko atau dikenal
dengan key risk indicators (KRI).
Manajemen harus jeli melihat berbagai indikasi atas kemungkinan
terjadinya risiko yang akan terjadi. Bila KPI mengidentifikasi keberhasilan usaha,
peristiwanya telah terjadi, misalnya telah ada peningkatan penjualan, telah ada
penghematan biaya, dan seterusnya. Dalam hal risiko, peristiwanya belum terjadi.
Misalnya ada peningkatan pencadangan piutang. Peningkatan pencadangan ini
harus secara cermat dianalisa oleh manajemen, karena hal ini akan membawa
dampak akan terjadinya penghapusan piutang. Oleh karena itu, sebelum
penghapusan ini terjadi, maka berbagai upaya penyelamatan piutang harus
dilakukan manajemen, misalnya semakin sering menagih, mengunjungi langganan,
apa penyebab terlambat bayar, bila memungkinkan sejak awal dimusyawarahkan
jalan keluarnya, apakah harus mengambil (menyita) berbagai barang atau aset
agar bilamana memang nanti piutang kita tak bisa dibayar oleh langganan, sudah
ada aset yang dipegang.

Anda mungkin juga menyukai