0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan74 halaman

Analisis Pailit Debitur Meninggal Dunia

Proposal skripsi ini membahas tentang analisis putusan pengadilan niaga Makassar terhadap perkara debitur pailit yang meninggal dunia. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana penyelesaian perkara tersebut secara hukum dan mengetahui kewajiban ahli waris terhadap utang debitur yang telah meninggal. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, sekunder dan t

Diunggah oleh

hasdiwanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan74 halaman

Analisis Pailit Debitur Meninggal Dunia

Proposal skripsi ini membahas tentang analisis putusan pengadilan niaga Makassar terhadap perkara debitur pailit yang meninggal dunia. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana penyelesaian perkara tersebut secara hukum dan mengetahui kewajiban ahli waris terhadap utang debitur yang telah meninggal. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan menggunakan bahan hukum primer, sekunder dan t

Diunggah oleh

hasdiwanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL SKRIPSI

ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NIAGA MAKASSAR


TERHADAP PERKARA DEBITUR PAILIT YANG
MENINGGAL DUNIA

HARIANTI HASYIM
NIM : 4519060039

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR
2022
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Usulan penelitian dan penulisan Hukum Mahasiswa:


Nama : Nirmala
NIM : 4519060045
Program Studi : Ilmu Hukum
Minat : Hukum Pidana
No. Pendaftaran Judul :
Tanggal Pendaftaran Judul :
Judul Proposal : Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Pencabulan
Terhadap Anak Dibawah Umur (Studi Kasus
Putusan Nomor 23/[Link]/2022/[Link])

Telah diperiksa dan diperbaiki untuk dimajukan dalam ujian Proposal mahasiswa
program strata satu (S1).

Disetujui :

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Basri Oner , S.H., M.H Dr. Almussawir, SH.,MH

Mengetahui :
Dekan Fakultas Hukum

Dr. Yulia A. Hasan, S.H.,M.H.

ii
PERSETUJUAN UJIAN PROPOSAL

Pimpinan Fakultas Hukum Universitas Bosowa menerangakn bahwa:


Nama : Nirmala
NIM : 4519060045
Program Studi : Ilmu Hukum
Minat : Hukum Pidana
No. Pendaftaran Judul :
Tanggal Pendaftaran Judul :
Judul Proposal : Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Pencabulan
Terhadap Anak Dibawah Umur (Studi Kasus
Putusan Nomor 23/[Link]/2022/[Link])

Makassar,
Dekan Fakultas Hukum

Dr. Yulia A. Hasan, S.H.,M.H.


NIDN. 0924056801

iii
DAFTAR ISI

SAMPUL ........................................................................................................i
LEMBAR PERSETUJUAN ..........................................................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL ...................................................iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................1
A. Latar Belakang .....................................................................................1
B. Rumusan Masalah ................................................................................
C. Tujuan Penelitian .................................................................................
D. Kegunaan Penelitian ............................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................
A. Tinjauan Umum Tentang Kepailitan ...................................................
B. Tinjauan Umum Tentang Ahli Waris ..................................................
C. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian Utang Piutang ............................
D. Tinjauan Umum Tentang Pembuktian .................................................
BAB III METODE PENELITIAN ...............................................................
A. Jenis Penelitian ....................................................................................
B. Pendekatan Penelitian ..........................................................................
C. Jenis dan Sumber Bahan Hukum .........................................................
D. Metode Pengumpulan Bahan Hukum ..................................................
E. Instrumen Penelitian ............................................................................
F. Analisis Bahan Hukum ........................................................................

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hukum merupakan pedoman dan patokan yang harus ditaati manusia

sebagai pilar utama dalam menciptakan ketenteraman dan kedamaian seiring

dengan perkembangan dunia yang sangat pesat saat ini. Hukum bukan hanya

mengatur hubungan antara masyarakat dengan negara, tetapi juga mengatur

hubungan antar sesama masyarakat. Salah satu hubungan timbal balik antar

masyarakat yang kerap kali menimbulkan permasalahan di bidang hukum yakni

mengenai perjanjian utang piutang. Tidak jarang seorang debitor tidak mampu

lagi membayar utangnya kepada kreditor. Dalam kondisi ini, putusan pailit dapat

dijatuhkan kepada debitor apabila tidak mampu membayar satu atau lebih

utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih.

Jika menilik pada sejarahnya, di tahun 1934 kepailitan hanya dapat

diperuntukkan bagi pedagang, namun seiring perubahan zaman dan

perkembangan di bidang ekonomi, kepailitan tidak hanya dialami oleh pedagang

tetapi juga oleh mereka yang memiliki utang dan dalam keadaan insolvensi.

Mekanisme hukum kepailitan, konsep utang sangat menentukan, karena tanpa

adanya utang, kepailitan kehilangan esensinya sebagai pranata hukum untuk

melikuidasi harta kekayaan debitor guna membayar utang-utangnya kepada para

kreditornya.1

1
M. Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan, Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan,
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), hal. 34.
2

Kepailitan merupakan suatu proses untuk mengatasi pihak debitor yang

mengalami kesulitan keuangan dalam membayar utangnya, sehingga dinyatakan

pailit oleh Pengadilan Niaga dikarenakan debitor tidak dapat membayar utangnya,

kemudian harta kekayaan yang dimiliki debitor akan dibagikan kepada para

kreditor sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku. 2 Debitor

yang telah terbukti memiliki dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas

sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih maka Pengadilan

Niaga menyatakan debitor pailit.3

Lebih jelasnya mengenai syarat-syarat pernyataan pailit, saat ini di

Indonesia masih mengikuti hukum acara yang berlaku di Pengadilan Niaga adalah

hukum acara perdata yang berdasarkan atas HIR/RBG, kecuali untuk hal yang

ditetapkan lain oleh Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan

dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disebut UUKPKPU).

Pengajuan permohonan pernyataan pailit harus memenuhi persyaratan yang telah

ditentukan, karena apabila syarat- syarat tersebut tidak dipenuhi, maka

permohonan pernyataan pailit tersebut tidak dikabulkan oleh Pengadilan Niaga. 4

Adapun syarat-syarat tersebut yakni Debitur yang diajukan harus memiliki lebih

dari satu kreditur;

a. Debitur yang diajukan harus memiliki lebih dari satu kreditur;

2
Rudy A. Lontoh, Denny Kailimang, dan Benny Ponto, Penyelesaian Utang Melalui
Pailit atau Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, (Bandung: PT. Alumni, 2001), hal. 23.
3
Yudha Pradana, Etty Susilowati, Hendro Saptono, “Kedudukan Ahli Waris Penanggung
Perseorangan Pada Perseroan Terbatas Yang Dipailitkan Secara Bersama-Sama”, Diponegoro
Law Journal, Volume 5, Nomor 3, 2016, hal. 3.
4
Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan: Memahami Undang-Undang No 37 Tahun
2004 tentang Kepailitan, (Jakarta: Pusataka Grafiti, 2010), hal. 52.
3

b. Debitur tidak membayar lunas sedikitnya satu utang kepada salah satu

krediturnya;

c. Utang yang tidak dibayar itu harus telah jatuh waktu dan telah dapat

ditagih (due and payable).

Jika syarat-syarat tersebut di atas sudah terpenuhi maka kreditur sudah

dapat mengajukan permohonan pailit ke Pengadilan Niaga jika sebelumnya telah

melakukan langkah-langkah di luar pengadilan yang tidak menemui penyelesaian.

Akan tetapi, hal yang kemudian akan menghambat kreditur untuk mendapatkan

haknya adalah jika pihak yang akan dimohonkan pailit telah meninggal dunia.

Namun, masalah tersebut tentunya bukan tanpa jalan keluar, dimana kita

ketahui sendiri dalam hukum perdata bahwa ketika seseorang meninggal dunia,

maka akan ada ahli waris yang mewarisi harta kekayaan dari pewaris atau dalam

hal ini yakni debitur. Konteksnya dengan hak dan kewajiban mengenai harta

warisan, mewaris sebagai penggantian hak dan kewajiban seseorang yang telah

meninggal dunia yang meliputi hak dan kewajiban di bidang hukum kekayaan,

secara spesifik hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. 5 Dapat

dikatakan bahwa bagi ahli waris yang menerima warisan baik menerima secara

murni maupun menerima dengan hak istimewa juga berkewajiban untuk melunasi

utang yang ditinggalkan oleh pewaris. Dengan demikian jelaslah bahwa menurut

KUHPerdata ahli waris memiliki kewajiban hukum untuk membayar utang

pewaris.

Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 207 UUKPKPU bahwa:

5
R. Subekti, Ringkasan Tentang Hukum Keluarga dan Hukum Waris, (Jakarta: Intermasa,
2004), hal. 21.
4

Harta kekayaan orang yang meninggal harus dinyatakan dalam keadaan


pailit, apabila dua atau lebih kreditor mengajukan permohonan untuk itu dan
secara singkat dapat membuktikan bahwa:
a. Utang orang yang meninggal, semasa hidupnya tidak dibayar lunas; atau
b. Pada saat meninggalnya orang tersebut, harta peninggalannya tidak
cukup untuk membayar utangnya.
Tentunya, kreditur sebagai pemohon pailit harus membuktikan banyak

hal dalam permohonannya, mulai dari perjanjian utang piutangnya dengan debitur

yang meninggal dunia, kedudukan debitur pengganti, hingga terpebuhi tidaknya

semua syarasyarat kepailitan. Pada proses tersebut, UUKPKPU hanya

menentukan dalam Pasal 8 ayat (4) bahwa permohonan dapat dibuktikan secara

sederhana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) telah terpenuhi.

Namun tidak memberikan penjelasan secara rinci mengenai bagaimana

pembuktikan sederhana dilakukan sehingga pelaksanaan dan penafsiran dilakukan

sepenuhnya oleh majelis hakim yang memeriksa dan memutus perkara kepailitan

yang bersangkutan.6 Hal ini sangat menarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai

pembuktian dalam perkara kepailitan. Dimana Pembuktian sederhana dalam

praktik di pengadilan niaga, menjadi tidak sesederhana sebagaimana yang

dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) UUKPKPU karena sering terjadi adanya

penafsiran berbeda-beda atau inkonsistensi penafsiran di kalangan majelis hakim

tentang ketidakjelasan pengertian pembuktian sederhana.7

Adapun perkara yang akan dibahas dalam penelitian ini yakni kepailitan

terkait debitur yang meninggal dunia dalam Putusan Nomor

1/[Link]-Pailit/2021/PN Niaga Mks. Permohonan pailit terhadap Alm. Ivan


6
Putriyanti & Wijayanta, “Kajian Hukum Tentang Penerapan Pembuktian Sederhana
Dalam Perkara Kepailitan Asuransi”, Jurnal Mimbar Hukum, Volume 22 Nomor 33, 2010, hal.
483.
7
R.V. Puang, Penerapan Asas Pembuktian Sederhana Dalam Penjatuhan Putusan Pailit,
(Bandung: PT Sarana Tutorial Nurani Sejahtera, 2011), hal. 3.
5

Limbunan sebagai Termohon I dengan penggantinya yakni Fransiska Ida yang

merupakan istri almarhum sebagai Termohon II. Adapun Para Pemohon yakni

Muhammad Saleh Dg. Sewang sebagai Pemohon Pailit I, Hudy Auw sebagai

Pemohon Pailit II, H. Muh Radi Rasdha sebagai Pemohon Pailit III, dan Marji

Rumpak sebagai Pemohon Pailit IV. Termohon I telah meminjam sejumlah uang

dari keempat Kreditor dengan total Rp.[Link],00. Somasi pertama

dilayangkan oleh Pemohon I dan Pemohon IV dalam surat somasi yang terpisah

pada Tanggal 27 September 2021 yang dibalas dengan Surat Jawaban Somasi

oleh isteri Termohon Pailit I pada Tanggal 28 September 2021 mengenai

pengakuan utang sebagaimana yang diajukan dalam somasi disertai pernyataan

mengenai meninggalnya Termohon Pailit I pada Tanggal 26 Juni 2020 serta

adanya sengketa mengenai warisan dari si Termohon. Adapun somasi pertama

yang dilayangkan oleh Pemohon II pada Tanggal 28 September 2021 dan dibalas

oleh isteri Termohon Pailit I pada Tanggal 1 Oktober 2021 dengan jawaban yang

sama sebagaimana yang diberikan untuk Pemohon I dan IV, sementara somasi

pertama oleh Pemohon III dilayangkan pada tanggal 30 September 2021 namun

tidak mendapatkan balasan.

Setelah somasi pertama tersebut dilayangkan, selanjutnya disusul dengan

surat somasi hingga total 38 surat untuk Termohon Pailit I dan para ahli warisnya.

Hingga setelah berbagai upaya yang dilakukan oleh Para Pemohon I hingga

Pemohon IV untuk mendapatkan haknya masing-masing, mereka pun melakukan

permohonan pailit ke Pengadilan Niaga pada Tanggal 12 Oktober 2021.

Permasalahannya kemudian dalam pembuktian untuk permohonan pailit yang


6

diajukan oleh para Pemohon adalah karena permohonan utang dilakukan oleh para

setelah lewat waktu 90 hari setelah Termohon I yakni Alm. Ivan Limbunan telah

meninggal dunia. Dimana dalam Pasal 210 UUKPKPU yang menyatakan bahwa

“Permohonan Pailit Terhadap Debitur yang sudah meninggal dunia harus diajukan

paling lambat 90 hari setelah si Debitur meninggal dunia” sementara para

Pemohon memang baru mengentahui bahwa Termohon I telah meninggal setelah

melayangkan somasi pertamanya masing-masing yang telah lewat selama 1 tahun

3 bulan.

Hakim Pengadilan Niaga dalam amar putusannya kemudian

mengabulkan Permohonan Para Pemohon Pailit tersebut untuk seluruhnya,

menyatakan Debitur Pailit 1 Alm Ivan Limbunan beralamat di Jin, Sungai

Saddang Baru No 18 Kel. Marcaya Baru, Kec. Makassar, Kota Makassar, Prop.

Sulawesi Selatan dan Termohon Pailit II Fransiska Ida (Istri Alm. Ivan Limbunan)

beralamat di Jl. Lasandara No 14 Korumba, Kec. Mandonga, Kota Kendari

Sulawesi Tenggara dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya,

menunjuk Burhanuddin, SH. MH. Hakim Niaga di Pengadilan Niaga pada

Pengadilan Negeri Makassar sebagai Hakim Pengawas, mengangkat Kurator yaitu

Muhammad Arsyad, S.H. Kurator & Pengurus, yang terdaftar di Kementerian

Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana Surat Bukti

Pendaftaran Kurator dan Pengurus No. AHU 256AH.04.03-2020, tertanggal 13

Juli 2020, Muhammad Fadhil Putra Rusli, SH Kurator & Pengurus, yang terdaftar

di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana

Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus No. AHU-310AH 04.03-2020,


7

tertanggal 12 Agustus 2020, Nurhamli, SH, MH, Kurator & Pengurus, yang

terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

sebagaimana Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus No. AHU

270AH.04.03-2021, tertanggal 13 April 2021, Musdalifah, S.H. Kurator &

Pengurus, yang terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia sebagaimana Surat Bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus

No [Link] 04.03-2017, tertanggal 13 Desember 2017. Sebagai Tim

Kurator dalam proses Kepailitan, menetapkan biaya kepailitan dan imbalan jasa

Kurator akan ditetapkan kemudian setelah proses kepailitan berakhir, 6.

Menghukum Para Debitur untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp 2

495.000,- (dua juta empat ratus sembilan puluh lima ribu rupiah).

Perkara tersebut sangat menarik perhatian penulis, mulai dari

pembuktiannya yang cenderung berbeda dan tidak sesederhana pembuktian

biasanya terkait dengan permohonan kepailitan karena termohon pailit yang sudah

meninggal dunia dan para pemohon yang baru mengetahui bahwa Termohon telah

meninggal dunia setelah setahun lebih lamanya. Juga penerapan hukum perdata

materil dalam perkara ini dimana hakim mengabulkan permohonan para pemohon

untuk seluruhnya dengan berbagai fakta hukum yang telah dibuktikan di

persidangan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka rumusan masalah yang

akan diangkat dalam penelitian ini yakni:


8

1. Bagaimana analisis hukum perdata materil terhadap perkara kepailitan

terkait debitur yang meninggal dunia dalam Putusan Nomor 1/[Link]-

Pailit/2021/PN Niaga Mks?

2. Bagaimana pembuktian hukum perdata dalam perkara kepailitan terkait

debitur yang meninggal dunia dalam Putusan Nomor

1/[Link]-Pailit/2021/PN Niaga Mks?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui mengenai penyelesaian perkara kepailitan di

Pengadilan Niaga.

2. Penelitian

a. Untuk memperdalam pengetahuan mengenai analisis hukum perdata

materil terkait dengan perkara kepailitan dalam hal debitur meninggal

dunia.

b. Untuk mengetahui dengan lebih rinci terkait dengan pembuktian

hukum perdata dalam perkara kepailitan terkait debitur yang

meninggal dunia.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:

1) Mahasiswa
9

Penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat untuk kalangan

mahasiswa/mahasiswi, terkhusus untuk mahasiswa yang sedang

melakukan penelitian di semester akhir untuk dijadikan sebagai

refrensi dalam penyelesaian tugas akhir terutama untuk penelitian

mengenai kepailitan.

2) Praktisi Hukum

Penelitian ini bermanfaat untuk menjadi referensi dan bahan

pertimbangan untuk praktisi hukum dalam melakukan tugasnya, baik

itu hakim maupun advokat dalam menangani berbagai perkara

terkait dengan kepailitan jika debitur meninggal dunia.

3) Masyarakat

Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan bacaan untuk

masyarakat dan menambah wawasan serta memberikan gambaran

tentang penerapan hukum perdata materil dan bagaimana kemudian

pembuktian dalam perkara kepailitan jika debiturnya telah

meninggal dunia.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan mampu menjadi sumber

informasi dan menjadi bahan pertimbangan untuk para praktisi baik itu dalam

penyelesaian perkara melalui pengadilan maupun diluar pengadilan,

khususnya bagi advokat, pengadilan, pemerintah lembaga DPR, DPRD/DPRD

Kabupaten, Pemda, Pemprov di dalam melakukan upaya penegakan hukum

terkait dengan kepailitan.


10
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Kepailitan

1. Pengertian Kepailitan

Secara etimologi kepailitan berasal kari kata pailit, selanjutnya istilah

“pailit” berasal dari bahasa Belanda faillet yang mempunyai arti ganda yaitu

sebagai kata benda dan kata sifat. Istilah faillet sendiri berasal dari Perancis

yaitu faillite yang berarti pemogokan atau kemacetan pembayaran, sedangkan

dalam Bahasa Inggris dikenal dengan kata to fail dengan arti sama, dan dalam

bahasa latin disebut failure. Kemudian istilah kepailitan dalam pengertian

hukum istilah faillet mengandung unsur-unsur tersendiri yang dibatasi secara

tajam, namun definisi mengenai pengertian itu tidak ada dalam undang-

undang. Selanjutnya istilah pailit dalam Bahasa Belanda adalah faiyit, maka

ada pula sementara orang yang menerjemahkan sebagai paiyit dan

faillissement sebagai kepailitan. Kemudian pada negara-negara yang

berbahasa inggris untuk pengertian pailit dan kepailitan mempergunakan

istilah bankrupt dan bankruptcy.8

Secara terminologi kepailitan bukanlah sesuatu hal yang baru untuk

dunia pelaku usaha, hanya saja yang menjadi problematika sering kali

kepailitan dimaknai secara umum dan tidak tepat yakni bubarnya atau

dilikuidasinya suatu badan usaha oleh kalangan umum. Bambang Kesowo

8
Viktor M. Situmorang dan Hendri Soekarso, Pengantar Hukum Kepailitan Indonesia,
(Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hal. 18.
12

mengemukakan bahwa ada berbagai pihak salah memahami bahwa kepailitan

sama artinya dengan likuidasi dan pembubaran. Bahkan sebagian dari

masyarakat umum beranggapan kepailitan sebagai vonis yang berbau

tindakan kriminal yang merupakan suatu cacat hukum atas subjek

hukumnya.9

Menurut Munir Fuady yang dimaksud dengan pailit atau bangkrut

adalah suatu sitaan umum atas seluruh harta debitor agar dicapainya

perdamaian antara debitor dan para kreditor atau agar harta tersebut dapat

dibagi-bagi secara adil di antara para kreditor. 10 Selain itu, R. Subekti

berpendapat bahwa kepailitan adalah suatu usaha bersama untuk

mendapatkan pembayaran bagi semua orang yang berpiutang secara adil. 11

Sedangkan H. M. N. Puwosutjipto berpendapat bahwa kepailitan adalah

segala sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa pailit. Pailit adalah

keadaan berhenti membayar (utang-utangnya).12

Menurut Kartono sendiri, kepailitan diartikan sebagai suatu sitaan dan

eksekusi atas seluruh harta kekayaan semua kreditur-krediturnya bersama-

sama yang pada waktu si debitur dinyatakan pailit mempunyai piutang dan

untuk jumlah yang masing-masing kreditur dimiliki pada saat itu.13 Adapun E.

Suherman yang menyatakan bahwa pada hakikatnya kepailitan adalah sita

9
M. Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan (Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan),
(Jakarta: Penerbit Kencana Prenada media Group, 2008), hal. 2.
10
Munir Fuady, Hukum Pailit, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002), hal. 8.
11
[Link], Pokok-Pokok Hukum Dagang, (Jakarta: Intermasa, 1995, hal. 28.
12
H.M.N. Purwosutjipto, Pengertian Dan Pokok-Pokok Hukum Dagang Indonesia,
(Jakarta: Djambatan, 1978), hal. 28.
13
Kartono, Kepailitan dan Pengunduran Pembayaran, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2000),
hal. 7.
13

umum yang bersifat konservatoir dan pihak yang dinyatakan pailit hilang

penguasaannya atas harta bendanya.14

Negara yang Menganut berbahasa Inggris pailit dan kepailitan

menggunakan istilah bankruptcy dan bankrupt. Kepailitan adalah keadaan

dimana debitur gagal membayar kewajiban yang telah jatuh tempo dan dapat

ditagih. Martias gelar Iman Radjo Mulano memberikan pendapat tentang

keapilitan sebagaimana ditentukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata (KUH Perdata) yaitu semua aset debitur menjadi jaminan untuk

semua utang. Kepailitan adalah Penyitaan secara umum semua kekayaan

debitur pailit yang diawasi dan diselesaikan oleh petugas percobaan dibawah

pengawasan hakim pengawas. Pernyataan pailit harus didahului dengan

pernyataan Pengadilan niaga, atas permintaan debitur atau atas permintaan

satu atau lebih kreditur. Sedangkan pengertian menurut Black’s Law

Dictionary yang menyatakan bahwa pailit atau bankrupt yaitu:

“The state or condition of a person ( individual, partnership,

corporation, municipally) who is unable to pay its debt as they are or become

due The term includes a person against whom an inVolumeuntary petition

has been filled, or whohas filed a Volumeuntary petition, or who has been

adjudged a bankrupt”.15

Kepailitan merupakan suatu proses untuk mengatasi pihak debitor

yang mengalami kesulitan keuangan dalam membayar utangnya, sehingga

14
E. Suherman, Failissement, (Jakarta: Bina Cipta, 1997), hal. 5.
15
Brata Yoga Lumbanraja, Siti Malikhatun Badriyah, Irma Cahyaningtyas, “Analisis
Yuridis Kepailitan Harta Yang Ditinggalkan”, Jurnal Notarius, Volume 14 Nomor 1, 2021, hal.
150.
14

dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga dikarenakan debitor tidak dapat

membayar utangnya, kemudian harta kekayaan yang dimiliki debitor akan

dibagikan kepada para kreditor sesuai dengan peraturan perundang undangan

yang berlaku.16 Debitor yang telah terbukti memiliki dua atau lebih kreditor

dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan

dapat ditagih maka Pengadilan Niaga menyatakan debitor pailit.17

Berdasarkan Teori Hukum, Situasi Penyitaan umum untuk kegiatan

kepailitan lainnya bergantung pada sistem hukum. Jika masih dalam lingkup

perdata, penyitaan umum lebih tinggi dari kegiatan lex specialis lainnya.

Sedangkan posisi penyitaan umum dibandingkan dengan penyitaan pidana

fiskal didasarkan pada asas lex specialis derogate legi generalis dan teori

harmonisasi antar sistem hukum, sehingga setiap penyitaan bersifat lex

specialis. penyitaan umum tidak dapat membatalkan penyitaan pidana

maupun pajak. Penyitaan sanksi fiskal juga tidak boleh menganggu penyitaan

umum jika terjadi kebangkrutan. Berkaitan dengan kewajiban debitur untuk

melunasi utang-utangnya yang dijamin dengan harta kekayaan debitur dan

penyelesaian utang tersebut dapat dilakukan melalui lembaga kepailitan. 18

Kepailitan merupakan suatu jalan keluar yang bersifat komersial untuk

keluar dari persoalan utang piutang yang menghimpit seorang debitor, dimana

debitor tersebut sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk membayar

utang-utang tersebut kepada para kreditornya. Sehingga, bila keadaan

16
Rudy A. Lontoh, Denny Kailimang, dan Benny Ponto, [Link]., hal. 23.
17
Yudha Pradana, Etty Susilowati, Hendro Saptono, [Link]., hal. 3.
18
Brata Yoga Lumbanraja, Siti Malikhatun Badriyah, Irma Cahyaningtyas, [Link]., hal.
148.
15

ketidakmampuan untuk membayar kewajiban yang telah jatuh tempo tersebut

disadari debitor, maka langkah untuk mengajukan permohonan penetapan

status pailit terhadap dirinya (voluntary petition for self bankruptcy) menjadi

suatu langkah yang memungkinkan, atau penetapan status pailit oleh

pengadilan terhadap debitor tersebut bila kemudian ditemukan bukti bahwa

debitor tersebut memang telah tidak mampu lagi membayar utangnya yang

telah jatuh tempo dan dapat ditagih (involuntary petition for bankruptcy).19

Berdasarkan semua penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan

bahwa kepailitan adalah suatu proses untuk mengatasai debitor yang tidak

lagi mampu untuk membayarkan utangnya dimana status pailit terhadap

debitor tersebut ditetapkan oleh pengadilan niaga. Setelah pihak tersebut

dinyatakan pailit, maka seluruh harta kekayaannya akan diberikan kepada

kreditor untuk melunasi hutang-hutanya. Dalam hal ini, debitor akan

kehilangan ha katas harta bendanya karena akan diserahkan kepada kreditor.

Secara umum kita pun kerap mengenal kondisi pailit suatu perusahaan

sebagai kebangkrutan seseorang atau badan hukum.

2. Sumber Hukum Kepailitan di Indonesia

Pengaturan mengenai kepailitan di Indonesia telah ada sejak

berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van

Koophandel) Buku III tentang Ketidakmampuan Pedagang yang hanya

berlaku bagi pedagang dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata

(Reglement op de Rechtsvordering Staatblads 1847-52 jo. 1849-63) Buku III

19
M. Hadi Shubhan, [Link]., hal. 2.
16

Bab VII tentang Keadaan Nyata-Nyata Tidak Mampu yang berlaku bagi

orang-orang bukan pedagang.20

Dua aturan kepailitan tersebut kemudian dicabut dan diganti dengan

Undang-Undang tentang Kepailitan (Faillissements Verordening Staatblads

1905 Nomor 217 jo. Staatblads 1906 Nomor 348) yang berlaku bagi semua

orang, baik pedagang maupun bukan pedagang, baik perseorangan maupun

badan hukum.

Adapun dasar hukum bagi suatu kepailitan secara umum adalah

sebagai berikut:

a. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

PKPU;

b. KUH Perdata;

c. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;

d. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan;

e. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia;

f. Perundang-undangan di bidang Pasar Modal, Perbankan, BUMN;

g. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa

Keuangan.

3. Persyaratan Debitor Dinyatakan Pailit

Mengenai syarat-syarat pernyataan pailit, saat ini di Indonesia masih

mengikuti hukum acara yang berlaku di Pengadilan Niaga adalah hukum

acara perdata yang berdasarkan atas HIR/RBG, kecuali untuk hal yang

ditetapkan lain oleh UUKPKPU. Pengajuan permohonan pernyataan pailit


20
Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, (Malang; UMM Pers, 2012), hal. 8.
17

harus memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, karena apabila syarat-

syarat tersebut tidak dipenuhi, maka permohonan pernyataan pailit tersebut

tidak dikabulkan oleh Pengadilan Niaga. 21 Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat

(1) UUKPKPU, dapat disimpulkan syarat-syarat pengajuan permohonan

pernyataan pailit adalah sebagai berikut:

a. Debitur yang diajukan harus memiliki lebih dari satu kreditur;

b. Debitur tidak membayar lunas sedikitnya satu utang kepada salah satu

krediturnya;

c. Utang yang tidak dibayar itu harus telah jatuh waktu dan telah dapat

ditagih (due and payable).

Keberadaan dua kreditor merupakan syarat yang disebutkan dalam

Undang-Undang Kepailitan (UUKPKPU) ketentuan Pasal 1132 KUHPerdata

bahwa harta kekayaan debitor harus dibagi secara adil kepada setiap kreditor.

Adapun terkait dengan keadaan berhenti membayar utang-utang harus

diartikan sebagai suatu keadaan bahwa debitor tidak membayar utangnya yang

seharusnya dia bayar. Apabila dia baru satu kali tidak membayar, maka dia

belum dapat dikatakan suatu keadaan berhenti membayar. Keadaan berhenti

membayar adalah adanya lebih dari satu kali tidak membayar, keadaan ini

merupakan syarat mutlak untuk pernyataan pailit. Dan Utang jatuh waktu dan

dapat ditagih memiliki pengertian yang berbeda. Utang yang telah jatuh waktu

dengan sendirinya menjadi utang yang dapat ditagih, namun utang yang telah

dapat ditagih belum tentu utang yang telah jatuh waktu. Utang dikatakan jatuh

waktu apabila telah sampai jadwal waktunyan untuk dilunasi oleh debitor.
21
Sutan Remy Sjahdeini, [Link]., hal. 52.
18

Suatu utang sekalipun waktunya belum tiba, tetapi mungkin saja utang itu

dapat ditagih karena terjadi wanprestasi sebagaimana yang ditentukan dalam

perjanjian.

Kewenangan pengadilan untuk menjatuhkan putusan kepailitan itu

telah ditentukan secara tegas di dalam Undang-Undang Kepailitan. Apabila

syarat- syarat terpenuhi, sesuai ketentuan Pasal 8 ayat (4) UUKPKPU hakim

harus menyatakan pailit, bukan dapat menyatakan pailit. Ketentuan Pasal 8

ayat (4) UUKPKPU ini sering menjadi alasan bagi para Hakim di Pengadilan

Niaga dalam mengabulkan permohonan pernyataan Pailit.22

Pembuktian sederhana yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 8 ayat

(4) tersebut, adalah mengenai pembuktian sederhana terhadap eksistensi dari:23

a. Suatu utang debitur yang telah jatuh tempo;

b. Dua atau lebih kreditur dari debitur yang dimohonkan pailit.

Berdasarkan syarat-syarat pengajuan permohonan pernyataan pailit

tersebut, maka dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Memiliki Dua Kreditur

Syarat keharusan adanya minimal dua atau lebih kreditur yang

dikenal sebagai concursus creditorum, sesuai dengan ketentuan Pasal 2

ayat (1) UUKPKPU dan ketentuan Pasal 1132 KUHPerdata yang

menentukan pembagian harta pailit kepada para krediturnya secara teratur

berdasarkan prinsip pari passu pro rata parte.24 Dalam hal ini yang

22
Imran Nating, Peranan Dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan Dan
Pemberesan Harta Pailit, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 22.
23
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003, hal. 141.
24
Ibid, hal. 107.
19

dipersyaratkan bukan berapa besar Piutang yang harus ditagih oleh

seorang kreditur dari debitur yang bersangkutan, melainkan berapa

banyak orang yang menjadi kreditur dari debitur yang bersangkutan.25

Perihal syarat sekurangnya dua orang kreditur merupakan suatu

syarat mutlak sebab jika hanya ada satu kreditur tidak perlu kepailitan

karena tidak perlu pengaturan pembagian hasil eksekusi harta pailit

kepada beberapa kreditur.26 Apabila seorang debitur hanya memiliki satu

orang kreditur, maka eksistensi dari UUKPKPU kehilangan raison d’être-

nya, sebab apabila diperkenankan pengajuan permohonan pernyataan

pailit terhadap debitur yang hanya memiliki seorang kreditur, maka sesuai

ketentuan Pasal 1131 KUHPerdata, tidak perlu ada pengaturan mengenai

pembagian hasil penjualan seluruh harta kekayaan debitur yang

merupakan jaminan utangnya karena seluruh hasil penjualan tersebut

merupakan sumber pelunasan bagi kreditur satu-satunya itu, sehingga

tidak akan ada ketakutan terjadi perlombaan dan perebutan terhadap harta

kekayaan debitur karena hanya ada satu orang kreditur. 27 Berdasarkan

penjelasan ketentuan Pasal 2 ayat (1) UUKPKPU, maka yang dimaksud

dengan kreditur adalah baik kreditur konkuren, kreditur separatis dan

kreditur preferen.

b. Harus Ada Utang

25
Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Kepailitan di Indonesia, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2004), hal. 15.
26
Munir Fuady, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, (Bandung: Citra Aditya Bakti,
1999), hal. 65.
27
Rudhy A. Lontoh, Penyelesaian Utang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang, (Bandung: Alumni, 2001), hal. 122.
20

Syarat keadaan dimana seorang debitur berhenti membayar atau

tidak dapat membayar utang, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 1

angka (6) UUKPKPU mengenai pengertian utang. Menurut ketentuan

Pasal 1233 KUHPerdata, kewajiban atau utang dapat timbul dari

perjanjian atau dari undang-undang. Ada kewajiban untuk memberikan

sesuatu, untuk berbuat sesuatu dan tidak berbuat sesuatu.28

Beberapa contoh kewajiban yang timbul dari perjanjian:29

1) Kewajiban debitur untuk membayar bunga dan utang pokok kepada

pihak yang meminjamkan;

2) Kewajiban penjual untuk menyerahkan mobil kepada pembeli

mobil tersebut;

3) Kewajiban pembangun untuk membuat rumah dan

menyerahkannya kepada pembeli rumah;

4) Kewajiban penjamin (guarrantor) untuk menjamin pembayaran

kembali pinjaman debitur kepada kreditur.

Syarat ini dapat diartikan sebagai keadaan di mana debitur tidak

berprestasi lagi pada saat permohonan pernyataan pailit diajukan ke

Pengadilan Niaga, sehingga apabila debitur masih dapat berprestasi pada

saat permohonan pernyataan pailit diajukan ke pengadilan, maka debitur

yang bersangkutan belum berada dalam keadaan berhenti membayar.

Sidang pengadilan harus dapat membuktikan berdasarkan fakta atau

28
Imran Nating, [Link]., hal. 25
29
Rudhy A. Lontoh, [Link]., hal. 79.
21

keadaan bahwa debitur tidak berprestasi lagi, sehingga dirinya dikatakan

berada dalam keadaan tidak dapat membayar utang-utangnya.30

c. Jatuh Waktu dan Dapat Ditagih

Mengenai syarat jatuh waktu dan dapat ditagih berdasarkan

penjelasan ketentuan Pasal 2 ayat (1) UUKPKPU adalah kewajiban untuk

membayar utang yang telah jatuh waktu baik karena telah diperjanjikan

percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, pengenaan

sanksi atau denda oleh instansi berwenang, maupun karena putusan

pengadilan, arbiter atau majelis arbiter. 31 Dengan demikian, syarat ini

mengenai utang yang sudah waktunya untuk dibayar, berdasarkan

undang- undang maupun perjanjian.

Ketentuan ini menyatukan syarat utang yang telah jatuh waktu dan

utang yang telah dapat ditagih. Penyatuan tersebut ternyata dari kata

“dan” di antara kata “jatuh waktu” dan “dapat ditagih, walau sebenarnya

kedua istilah tersebut berbeda pengertian dan kejadiannya. Suatu utang

dapat mungkin telah dapat ditagih namun belum jatuh waktu. Perbedaan

ini terlihat pada perjanjian-perjanjian kredit perbankan, yaitu utang yang

telah jatuh waktu adalah utang yang dengan lampaunya waktu

penjadwalan yang ditentukan di dalam perjanjian kredit, menjadi jatuh

waktu sehingga kreditur berhak untuk menagihnya dan dalam dunia

perbankan disebut bahwa utang itu telah due atau expired. Suatu kredit

bank tidak harus menunggu sampai tanggal akhir perjanjian kredit untuk

30
Rachmadi Usman, [Link]., hal. 16.
31
Imran Nating, [Link]., hlm. 26.
22

dinyatakan due atau expired, namun cukup hingga tanggal-tanggal jadwal

angsuran kredit telah sampai. Akan tetapi, ada kemungkinan utang itu

telah dapat ditagih walaupun belum jatuh waktu, karena terjadi events of

default atau dalam perjanjian kredit perbankandisebut events of default

clause, yaitu klausul yang memberikan hak kepada bank untuk

menyatakan nasabah debitur in-default atau cidera janji apabila salah satu

peristiwa (event) yang tercantum dalam events of default itu terjadi.

Terjadinya peristiwa (event) itu bukan saja mengakibatkan nasabah

debitur cidera janji, tetapi juga memberikan hak kepada bank (kreditur)

untuk seketika menghentikan penggunaan kredit lebih lanjut (nasabah

debitur tidak berhak lagi menggunakan kredit yang belum digunakannya),

dan seketika itu pula memberikan hak kepada bank (kreditur) untuk

menagih kredit yang telah digunakan.32

Dengan demikian, ada perbedaan antara pengertian “utang yang

telah jatuh waktu” dan “utang yang telah dapat ditagih”. Utang disebut

jatuh waktu hanya apabila menurut perjanjian telah sampai jadwal

waktunya untuk dilunasi oleh debitur. Namun demikian, sekalipun jatuh

waktunya belum tiba tetapi mungkin saja utang itu telah dapat ditagih,

yaitu karena telah terjadi salah satu peristiwa yang disebut events of

default sebagaimana ditentukan di dalam perjanjian itu. Selanjutnya

dalam hal suatu perjanjian tidak mengatur tentang tanggal jatuh waktu,

maka berdasarkan ketentuan Pasal 1238 KUHPerdata, pihak debitur

32
Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2002), hal.
57.
23

dianggap lalai apabila debitur dengan surat teguran (surat somasi) telah

dinyatakan lalai dan di dalam surat tersebut debitur diberi waktu tertentu

untuk melunasi utangnya. Apabila setelah lewatnya jangka waktu yang

ditentukan dalam surat teguran itu ternyata debitur belum juga melunasi

utangnya, maka debitur dianggap lalai. Dengan terjadinya kelalaian

tersebut, maka berarti utang debitur telah dapat ditagih.33

Dengan demikian, kepailitan merupakan suatu proses, di mana

seorang debitur yang mempunyai kesulitan keuangan untuk membayar

utangnya, dinyatakan pailit oleh pengadilan, dalam hal ini pengadilan

niaga, dikarenakan debitur tersebut tidak dapat membayar utangnya. Harta

debitur dapat dibagikan kepada para kreditur, sesuai dengan peraturan

pemerintah.34

4. Prinsip-Prinsip Kepailitan

a. Dalam UU KPKPU menggunakan prinsip umum yang dikenal dengan

prinsip paritas creditorium yang berarti bahwa semua kreditor

konkuren mempunyai hak yang sama atas pembayaran dan bahwa

hasil kekayaan debitor akan dibagikan secara proporsional menurut

besarnya piutang para kreditor konkuren.35 Prinsip paritas creditorium

menentukan bahwa kreditor mempunyai hak yang sama terhadap

semua harta benda debitor. Apabila debitor tidak dapat membayar

utangnya, maka harta kekayaan debitor menjadi sasaran kreditor.

33
Ibid, hlm. 58-59.
34
Rudhy A. Lontoh, [Link]., hal. 23.
35
Arya Suyudi, Eryanto Nugroho dan Herni Sri Nurbayanti, Kepailitan di Negeri Pailit,
(Jakarta: Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia, 2004), hal. 81.
24

Tetapi prinsip ini tidak dapat diterapkan secara utuh karena hal ini

akan menimbulkan ketidakadilan bagi para kreditor. Letak

ketidakadilan tersebut adalah para kreditor berkedudukan sama antara

satu kreditor dengan kreditor lainnya. Prinsip ini tidak membedakan

perlakuan terhadap kondisi kreditor, baik kreditor dengan piutang

besar maupun kecil, pemegang jaminan, atau bukan pemegang

jaminan. Oleh karenanya, ketidakadilan prinsip paritas creditorium

harus digandengkan dengan prinsip pari passu pro rata parte. Terdapat

pengecualian dari prinsip paritas creditorium yaitu pada kalimat dalam

Pasal 1132 KUHPer yaitu:

“Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua

orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-

benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar-

kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila diantara para

berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan.”

b. Prinsip pari passu yaitu membagi secara proporsional harta kekayaan

debitor kepada para kreditor konkuren atau unsecured creditors

berdasarkan pertimbangan besarnya tagihan masing-masing. Di dalam

hukum Indonesia prinsip pari passu dijamin oleh Pasal 1132 KUHPer.

Pasal 1132 KUH Perdata yang menentukan pembagian secara teratur

terhadap seluruh harta pailit kepada para kreditornya, yang dilakukan

berdasarkan prinsip pari passu pro rata parte. Dalam hal ini yang

dipersyaratkan bukan berapa besar piutang yang harus ditagih oleh


25

seorang kreditor dari debitor yang bersangkutan, melainkan berapa

banyak orang yang menjadi kreditor dari debitor yang bersangkutan. 36

Kartini Muljadi berpendapat, apabila dikaitkan dengan prinsip pari

passu pro rata parte, maka keadilan yang dimaksud dalam proses

kepailitan adalah harta kekayaan harus dibagi secara:37

1) Pari passu, yaitu harta kekayaan debitor harus dibagikan secara

bersama-sama di antara para kreditornya;

2) Prorata artinya sesuai dengan besaran imbang masing-masing

piutang kreditor terhadap utang debitor secara keseluruhan.

Prinsip mengenai Pari Passu Prorata Parte menekankan pada

pembagian harta debitor untuk melunasi utang-utangnya terhadap

kreditor secara berkeadilan dengan cara sesuai dengan proporsinya

dan bukan dengan cara sama rata. Sehingga dengan adanya prinsip

Pari Passu Prorata Parte para kreditor dapat menerima pembayaran

piutangnya sesuai dengan besaran piutangnya. Prinsip ini terdiri dari

istilah pari passu yaitu bersama-sama memperoleh pelunasan tanpa

ada yang didahulukan, dan pro rata parte (proporsional) yaitu dihitung

berdasarkan pada besarnya piutang masing-masing dibandingkan

terhadap piutang mereka secara keseluruhan terhadap seluruh harta

kekayaan debitor.38

36
Rachmadi Usman, [Link]., hal. 15.
37
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis Pedoman Menangani
Perkara Kepailitan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 107-108.
38
[Link]
kepailitan (diakses pada tanggal 24 Oktober 2022, pukul 22.36 WITA)
26

c. Prinsip Structured Creditors merupakan salah satu prinsip di dalam

hukum kepailitan yang memberikan jalan keluar yang adil diantara

para kreditor. Prinsip ini merupakan prinsip yang mengkategorikan

dan mengklarifikasikan berbagai macam debitor sesuai dengan

kelasnya masing-masing.

d. Prinsip Debt Collection adalah suatu konsep pembalasan dari kreditor

terhadap debitor pailit dengan menagih klaimnya terhadap debitor

atau harta debitor. Dalam undang-undang kepailitan yang berlaku di

Indonesia, prinsip debt collection ini lebih mengarah kepada

kemudahan untuk melakukan permohonan kepailitan.

e. Prinsip Debt Pooling merupakan suatu prinsip yang mengatur

mengenai harta kekayaan pailit yang harus dibagi diantara para

kreditornya. Prinsip ini juga merupakan artikulasi dari kekhususan

sifat-sifat yang melekat di dalam proses kepailitan, baik itu yang

berkenan dengan karakteristik kepailitan sebagai penagihan yang tidak

lazim, pengadilan yang khusus menangani kepailitan dengan

kompetensi absolut yang berkaitan dengan kepailitan dan masalah

yang timbul dalam kepailitan, terdapatnya hakim pengawas dan

kurator, serta hukum acara secara spesifik.

f. Prinsip debt forgiveness, merupakan prinsip hukum yang merupakan

alat yang dapat digunakan untuk memperingan beban yang harus

ditanggung oleh debitor sebagai akibat kesulitan keuangan sehingga

tidak mampu lagi melakukan pembayaran terhadap utang-utangnya


27

sesuai agreement dan bahkan sampai pada pengampunan atas

utangutangnya sehingga utang-utangnya menjadi hapus sama sekali

(fresh starting).39

g. Prinsip Utang dalam kepailitan merupakan suatu hal yang sangat

penting, hal ini dikarenakan tanpa adanya utang maka tidak mungkin

suatu kepailitan dapat diperiksa. Fred B.B. Tumbuan mengatakan

bahwa dalam hal seseorang karena perbuatannya atau tidak

melakukan sesuatu yang mengakibatkan bahwa ia mempunyai

kewajiban membayar ganti rugi, memberikan suatu atau tidak

memberikan sesuatu, maka pada saat itu juga ia mempunyai utang,

mempunyai kewajiban melakukan prestasi. Maka dengan kata lain,

utang merupakan suatu prestasi yang harus dipenuhi.40

h. Pasal 19 UU KPKPU tidak secara tegas diatur sampai sejauh mana

wilayah keberlakuan dari status sita umum terhadap harta debitor

pailit tersebut berlaku, begitu juga dalam bagian penjelasannya. Akan

tetapi, prinsip universalitas dari putusan pailit yang diputuskan oleh

Pengadilan Niaga Indonesia tercermin dari Pasal 202 sampai dengan

Pasal 204 UU KPKPU. Pasal tersebut menunjukkan bahwa wilayah

keberlakuan sita umum terhadap harta pailit yang akan diurus dan

dibereskan oleh kurator untuk kepentingan kreditor konkuren debitor

pailit berdasarkan Pasal 1132 KUH perdata tidak terbatas hanya

39
Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan: Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan, (Jakarta:
Pranada Media Group, 2008), hal. 43.
40
Emmy Yuhassarie, Undang-undagn Kepailitan dan Perkembangannya, (Jakarta: Pusat
Pengkajian Hukum, 2005), hal. 7.
28

terhadap harta debitor yang berada dalam wilayah hukum Indonesia

saja akan tetapi juga termasuk terhadap harta debitor pailit yang

berada di luar negeri. UU KPKPU juga memberlakukan prinsip

teritorial terhadap putusan asing di Indonesia. Artinya, walaupun

putusan dari pengadilan asing memutuskan bahwa seorang debitor

asing yang mempunyai aset di wilayah hukum Indonesia telah pailit,

maka putusan pailit tersebut tidak berlaku di mata hukum Indonesia,

dan debitor tersebut tetap akan dianggap dan diperlakukan sebagai

debitor yang belum pailit. Pada umumnya, prinsip universal pada

putusan pengadilan negara tertentu terhadap skala wilayah

internasional (cross border), secara teori dianut dan diberlakukan

hampir oleh semua negara di dunia. Begitu juga prinsip teritorial dari

keberlakuan putusan negara asing di wilayah hukumnya. Kedua

prinsip yang saling bertentangan tersebut, pada dasarnya dipahami

tidak akan dapat diimplementasikan kecuali bila antar negara tersebut

terdapat kesepakatan dalam bentuk traktat baik yang bersifat bilateral

maupun multilateral untuk saling mengakui dan melaksanakannya di

wilayah negara masing-masing. Akan tetapi, paling tidak telah

terdapat semangat dari untuk saling membuka pintu penjaga yang

bernama prinsip teritorial negara masing-masing atas keinginan dasar

untuk memberlakukan putusan dari pengadilan masing-masing secara

tanpa batas negara (cross border).41

41
[Link]
insolvencyi-dalam-undangundang-kepailitan diakses pada tanggal 28 Oktober 2022
29

i. Prinsip Commercial Exit from Financial Distress merupakan prinsip

yang ditemukan dalam kepailitan perseroan [Link] teoritis,

kepailitan perseroan terbatas harus dibedakan dengan kebangkrutan

perseroan terbatas, pembubaran perseroan terbatas, dan likuidasi

perseroan terbatas.

5. Pihak yang Dapat Mengajukan Permohonan Pailit

Salah satu pihak yang terlibat dalam perkara kepailitan adalah pihak

pemohon pailit, yakni pihak yang mengambil inisiatif untuk mengajukan

permohonan pailit ke Pengadilan, yang dalam perkara biasa disebut sebagai

pihak penggugat. Menurut Pasal 2 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004

tentang Kepailitan dan PKPU maka yang dapat menjadi pemohon dalam

suatu perkara pailit adalah salah satu dari pihak berikut ini:

a. Pihak debitor itu sendiri;

b. Salah satu atau lebih dari pihak kreditor;

c. Pihak Kejaksaan jika menyangkut dengan kepentingan umum;

d. Pihak Bank Indonesia jika debitornya adalah suatu bank;

e. Pihak Badan Pengawas Pasar Modal jika debitornya adalahsuatu

perusahaan efek, bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, serta

lembaga penyimpanan dan penyelesaian;

f. Menteri Keuangan jika debitor perusahaan asuransi, reasuransi, dana

pensiun, atau BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik.

6. Akibat Hukum Kepailitan


30

Pada saat putusan pernyataan pailit diucapkan, maka akan terjadi hal-

hal sebagai berikut:42

a. Seluruh harta kekayaan si pailit jatuh dalam keadaan penyitaan umum

yang bersifat konservator;

b. Si pailit kehilangan hak untuk mengurus dan menguasai harta

kekayaannya sendiri;

c. Harta kekayaan si pailit diurus dan dikuasai oleh Balai Harta

Peninggalan atau kurator untuk kepentingan semua para Kreditor;

d. Dalam putusan hakim tersebut ditunjuk seorang hakim komisaris yang

bertugas untuk memimpin dan mengawasi pelaksanaan jalannya

kepailitan;

e. Kepailitan itu semata-mata hanya mengenai harta kekayaan si pailit

saja dan tidak mengenai diri si pailit.

Dengan diucapkannya putusan pernyataan pailit, demi hukum Debitor

kehilangan hak untuk menguasai dan mengurus harta kekayaannya, kekayaan

tersebut menjadi harta pailit dan beralih kepada kurator (penguasaan dan

pengurusannya). Akan tetapi, meskipun Debitor kehilangan haknya, Debitor

masih berwenang melakukan perbuatan hukum dalam bidang harta kekayaan

sepanjang perbuatannya membawa keuntungan bagi harta pailit.43

Sutan Remy Sjahdeini secara rinci memaparkan mengenai akibat

hukum kepailitan sebagai berikut:44


42
H.M.N Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia 8; Perwasitan,
Kepailitan dan Penundaan Pembayaran, (Jakarta: Djambatan, 2003), hal. 37- 38.
43
Ridwan Khairandy, Pokok-Pokok Hukum Dagang Indonesia, (Yogyakarta: FH UII
Press, 2013), hal. 480-481.
44
Sutan Remy Sjandeini, Hukum Kepailitan: Memahami Undang-Undang Nomor 37
Tahun 2004 Tentang Kepailitan, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2010), hal. 190-203.
31

a. Akibat terhadap Debitor

Demi hukum Debitor pailit kehilangan hak untuk mengurus dan

menguasai kekayaannya yang termasuk harta pailit sejak hari putusan

pailit diucapkan.

b. Akibat terhadap kekayaan Debitor Pailit

Kekayaan Debitor pailit yang masuk harta pailit berada di bawah

penyitaan umum (sita umum).

c. Akibat terhadap perikatan Debitor

Seluruh perikatan Debitor yang timbul setelah Debitor dinyatakan

pailit, tidak lagi dapat dipenuhi dari harta pailit, kecuali perikatan

tersebut menguntungkan harta pailit.

d. Akibat terhadap penetapan pelaksanaan pengadilan

Putusan pernyataan pailit mengakibatkan segala penetapan yang

berkaitan dengan pelaksanaan putusan pengadilan terhadap setiap

bagian dari kekayaan Debitor harus dihentikan seketika.

e. Akibat terhadap penyitaan

Dengan Debitor dinyatakan pailit, maka semua penyitaan yang telah

dilakukan menjadi hapus.

f. Akibat terhadap penahanan Debitor

Terhadap Debitor yang sedang dalam penahanan lembaga paksa badan

(gijzeling) harus dilepaskan seketika setelah putusan pernyataan pailit

diucapkan.

g. Akibat terhadap kewajiban pembayaran uang paksa


32

Apabila Debitor dikenakan uang paksa sebelum dinyatakan pailit,

maka setelah dinyatakan pailit dan selama berlangsungnya kepailitan,

Debitor tidak dikenakan uang paksa.

h. Akibat terhadap penjualan benda milik Debitor

Apabila penjualan benda milik Debitor (yang dilakukan pemohon

eksekusi dalam rangka eksekusi) sudah berjalan, maka untuk

selanjutnya akan diteruskan oleh kurator (dengan izin hakim

pengawas) ketika Debitor dinyatakan pailit.

i. Akibat terhadap perjanjian pemindahtanganan

Perjanjian yang bermaksud memindahtangankan hak atas tanah, balik

nama kapal, pembebanan hak tanggungan, hipotek, atau jaminan

fidusia yang telah diperjanjikan terlebih dahulu tidak dapat

dilaksanakan setelah putusan pernyataan pailit diucapkan.

j. Akibat terhadap perjanjian-perjanjian tertentu

1) Terhadap perjanjian timbal balik Dalam hal pada saat putusan

pernyataan pailit diucapkan, terdapat perjanjian timbal balik yang

belum atau sebagian dipenuhi, pihak yang mengadakan perjanjian

dengan Debitor dapat meminta kepada kurator untuk memberikan

kepastian tentang kelanjutan pelaksanaan perjanjian tersebut.

2) Terhadap perjanjian sewa Dalam hal Debitor telah menyewa suatu

benda, maka baik kurator maupun pihak yang menyewakan benda

dapat menghentikan perjanjian sewa.


33

3) Terhadap perjanjian kerja Pekerja yang bekerja pada Debitor pailit

dapat memutuskan hubungan kerjanya, dan sebaliknya, kurator

dapat memberhentikan pekerja tersebut.

4) Terhadap warisan Warisan yang selama kepailitan jatuh kepada

Debitor pailit, oleh kurator tidak boleh diterima, kecuali jika

menguntungkan harta pailit.

k. Akibat terhadap Kreditor pemegang Hak Jaminan

Terhadap Kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan,

hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya dapat mengeksekusi

haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan.

l. Akibat terhadap Hak Retensi Kreditor

Kreditor yang mempunyai hak untuk menahan benda milik Debitor

(hak retensi) tidak kehilangan haknya karena ada putusan pernyataan

pailit. Dan hak untuk menahan atas benda milik Debitor berlangsung

sampai utangnya dilunasi.

m. Akibat terhadap tuntutan hukum oleh pihak lain terhadap Debitor

Tuntutan hukum yang diajukan terhadap Debitor, sejauh bertujuan

untuk memperoleh pemenuhan kewajiban dari harta pailit, maka akan

gugur demi hukum ketika putusan pailit diucapkan.

n. Akibat terhadap transfer dana dan transaksi efek

Apabila sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan telah

dilaksanakan transfer dana melalui bank atau lembaga selain bank,

maka transfer tersebut wajib diteruskan. Kemudian, jika sebelum


34

putusan pernyataan pailit diucapkan telah dilaksanakan transaksi efek

di bursa efek maka transaksi wajib diselesaikan.

B. Tinjauan Umum Tentang Ahli Waris

1. Pewaris dan Ahli Waris

Pewaris dalam hukum waris barat menurut KUH Perdata adalah

seorang yang meninggal dunia, baik laki-laki atau perempuan yang juga

meninggalkan harta kekayaan maupun hak-hak yang didapatkan serta

kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan, baik dengan menggunakan surat

wasiat ataupun tidak. Dasar hukum ahli waris dapat mewarisi harta dari

pewaris menurut hukum waris barat terdapat dua cara, yaitu:

Dasar hukum ahli waris dapat mewarisi harta dari pewaris menurut

hukum waris barat terdapat dua cara, yaitu: 45

a. Berdasarkan ketentuan yang telah diatur di dalam undang-undang atau

biasa disebut dengan ab intestato; dan

b. Dilakukan penunjukkan oleh pewaris menggunakan surat wasiat.

Seorang pewaris dalam keadaan tertentu dapat melakukan pewarisan

sebagian atau seluruh harta kekayaannya dengan menggunakan surat

wasiat. Apabila seorang hanya menetapkan sebagian dari hartanya

melalui surat wasiat maka sisa dari harta kekayaannya menjadi hak

dari ahli waris ab intestato, sehingga pemberian harta kekayaan

menggunakan surat wasiat tidak akan dan tidak bermaksud guna

menghapuskan hak warisan dari ahli waris ab intestato.

45
Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia (Revisi), (Bandung: Refika Aditama, 2018),
hal. 29.
35

KUH Perdata telah menetapkan bagian siapa saja ahli waris yang sah

menurut undang-undang, dalam hal ini sebutan untuk ahli waris tersebut

adalah ab intestato dan digolongkan berdasarkan hubungan darah menjadi

sebagai berikut: 46

a. Golongan Pertama

Pada golongan pertama yang diatur di dalam Pasal 852 KUH Perdata

ini berisi keluarga yang memiliki hubungan darah dalam garis lurus ke

bawah, meliputi anak-anak serta keturunannya, lalu ada suami atau

istri yang ditinggalkan oleh pewaris.

b. Golongan Kedua

Pada golongan pertama ini berisi keluarga yang memiliki hubungan

darah dalam garis lurus ke atas mencakup orangtua dan saudara, baik

laki-laki ataupun perempuan, beserta keturunan mereka. Untuk

orangtua terdapat peraturan khusus yang menjamin bahwa bagiannya

tidak akan kurang dari 1/4 (seperempat) bagian dari harta kekayaan

yang ditinggalkan oleh pewaris walaupun mereka melakukan

pewarisan secara bersama dengan saudara pewaris. Golongan kedua

ini diatur di dalam Pasal 854 dan Pasal 855 KUH Perdata.

c. Golongan Ketiga

Golongan ketiga telah diatur di dalam Pasal 853 KUH Perdata yang

berisi kakek, nenek, dan terus lurus ke atas ditarik dari pewaris, baik

dari keluarga bapak maupun ibu. Dalam pewarisan di golongan ketiga

ini berlaku sistem kloving, yang berarti bahwa tiap-tiap bagian atau
46
Ibid., hal. 30.
36

garis, pewarisan dibagi seakanakan merupakan satu kesatuan yang

berdiri sendiri.

d. Golongan Keempat

Pada Pasal 848 ayat (1) KUH Perdata menyatakan bahwa dalam hal

tidak ada saudara (golongan kedua) dan sanak saudara dalam satu

garis lurus ke atas (golongan ketiga), maka 1/2 (setengah) bagian

warisan secara kloving menjadi bagian dari keluarga sedarah dalam

garis lurus ke atas yang masih hidup, sedang 1/2 bagian yang lain

kecuali dalam hal bahwa pewaris meninggal tidak meninggalkan

golongan pertama, kedua, dan ketiga menjadi bagian dari sanak

saudara dalam garis lain. Maksud dari sanak saudara dalam garis lain

adalah paman dan bibi serta keturunannya hingga derajat keenam.

Hukum waris barat menurut KUH Perdata tidak membedakan atau

memandang ahli waris laki-laki ataupun perempuan, serta tidak membedakan

mengenai urutan kelahirannya, di dalam pewarisan menurut KUH Perdata

hanya memiliki ketentuan bahwa apabila masih ada ahli waris di golongan

pertama, maka akan menutup hak golongan yang lainnya untuk mendapatkan

harta kekayaan yang ditinggalkan oleh pewaris. Demikian pula golongan

yang lebih tinggi derajatnya akan menutup hak yang derajatnya lebih rendah.

Adapun ahli waris yang muncul akibat adanya surat wasiat atau dapat

disebut dengan testamenter yang dibuat oleh pewaris dan sesuai dengan

kehendak pewaris. Sehingga dari kedua ahli waris tersebut di atas, muncul

suatu persoalah yang patut untuk dibahas yaitu ahli waris mana yang lebih
37

diutamakan. Berdasarkan aturan yang telah tercantum di dalam KUH Perdata,

bahwa ahli waris yang diutamakan adalah ahli waris ab intestato.

Ketentuan yang terdapat di dalam KUH Perdata terdapat substansi

yang menyatakan bahwa apabila seseorang ingin membuat surat wasiat maka

surat wasiat tersebut harus dibuat tidak merugikan ahli waris yang telah

ditentukan oleh undang-undang atau ab intestato. Hal ini dapat dilihat dapat

Pasal 881 ayat (2) yang menyatakan dengan sesuatu pengangkatan waris atau

pemberian hibah yang demikian, pihak yang melakukan pewarisan tidak

dapat merugikan para ahli warisnya yang barhak atas suatu hal bagian yang

mutlak.47

2. Hak dan Kewajiban Ahli Waris

Beralihnya harta kekayaan atau harta warisan pewaris kepada ahli

warisnya, dinamakan perwarisan yang baru akan terjadi karena kematian

pewaris. Secara umum berdasarkan tatanan hukum keperdataan yang ada

kewajiban ahli waris terhadap pewaris adalah sebagai berikut: 48

a. Memelihara keutuhan harta peninggalan sebelum harta peninggalan

dibagi.

b. Mencari cara pembagian yang sesuai dengan ketentuan dan lain-lain.

c. Melunasi utang pewaris jika pewaris meninggalkan utang.

d. Melaksanakan wasiat jika ada.

Dalam KUH Perdata kewajiban ahli waris antara lain memelihara

keutuhan harta peninggalan sebelum harta peninggalan itu dibagi, mencari


47
Ibid., hal. 31.
48
Suriani Ahlan Syarif, Hukum Kewarisan Perdata Barat, (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2006), hal. 26.
38

cara pembagian sesuai ketentuan, melunasi utang-utang pewaris jika pewaris

meninggalkan utang, dan melaksanakan wasiat jika pewaris meninggalkan

wasiat. Dan oleh karena itu ahli waris berhak:49

a. Menerima secara penuh warisan yang dapat dilakukan secara tegas

atau secara lain.

b. Menerima dengan hak untuk menukar, hak ini harus dinyatakan pada

Panitera Pengadilan Negeri di tempat warisan terbuka.

c. Menolak warisan.

Ahli waris yang menerima warisan dari pewaris mempunyai beberapa

kewajiban, yaitu:50

a. Melakukan pencatatan adanya harta peninggalan dalam waktu empat

bulan setelah ia menyatakan kehendaknya kepada panitera pengadilan

negeri.

b. Mengurus harta peninggalan sebaik-baiknya.

c. Membereskan urusan waris dengan segera.

d. Memberikan jaminan kepada kreditor, baik kreditor benda bergerak

maupun kreditor pemegang hipotek.

e. Memberikan pertanggungjawaban kepada sekalian penagih utang dan

orang-orang yang menerima pemberian secara legaat.

f. Memanggil orang-orang berpiutang yang tidak terkenal, dalam surat

kabar resmi.

49
Ibid., hal. 27.
50
H. Zaeni Asyhadie, Hukum Keperdataan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2018),
hal. 197.
39

Pasal 833 ayat 1 KUHPerdata menentukan bahwa ahli waris itu

menurut hukum memiliki segala barang, segala hak dan segala piutang dari si

peninggal warisan. Bahwa sebenarnya lebih tepat, apabila undang-undang di

sini mengatakan bahwa ahli waris itu menurut hukum memiliki hak-hak

tersebut termasuk pula hak-hak kebendaan atas barang itu dan piutang-

piutangnya, dan umumnya dianggap bahwa kewajiban itu langsung berpindah

dengan meninggalnya peninggal warisan tersebut.51

Ahli waris untuk tanpa berbuat suatu apa, otomatis atau demi hukum

menggantikan kedudukan pewaris dalam lapangan hukum kekayaan. Hak dan

kewajiban pewaris secara otomatis menjadi hak dan kewajiban ahli waris,

sekalipun ahli waris belum atau tidak mengetahui adanya pewarisan.

Terbukanya warisan baru memberikan hak kepada ahli waris untuk

menerima, mengoper hak dan kewajiban pewaris, karena ahli waris tidak

dengan otomatis (demi hukum) menggantikan hak dan kewajiban pewaris.

Kitab Undang-undang Hukum Perdata telah mengatur hak ahli waris ini pada

Pasal 833 yaitu sekalian ahli waris dengan sendirinya karena hukum

memperoleh hak milik atas segala barang, segala hak dan segala piutang yang

meninggal. Jika timbul suatu perselisihan sekitar soal siapakah ahli warisnya

dan siapakah yang berhak memperoleh hak milik seperti di atas, maka Hakim

memerintahkan, agar segala harta peninggalan yang meninggal ditaruh

terlebih dahulu dalam penyimpanan.52

51
R. Soetojo Prawirohamidjojo, Hukum Waris Kodifikasi, (Surabaya: Airlangga
University Press, 2000), hal. 7.
52
Chesya Maranatha Rantung, “Hilangnya Hak Seorang Ahli Waris Menurut Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata”, Jurnal Lex Privatum, Volume 6 Nomor 9, 2018, hal. 174.
40

Konteksnya dengan hak dan kewajiban mengenai harta warisan,

mewaris sebagai penggantian hak dan kewajiban seseorang yang telah

meninggal dunia yang meliputi hak dan kewajiban di bidang hukum

kekayaan, secara spesifik hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan

uang.53

Dapat dikatakan bahwa bagi ahli waris yang menerima warisan baik

menerima secara murni maupun menerima dengan hak istimewa juga

berkewajiban untuk melunasi utang yang ditinggalkan oleh pewaris. Dengan

demikian jelaslah bahwa menurut KUHPerdata ahli waris memiliki kewajiban

hukum untuk membayar utang pewaris. Kewajiban membayar utang pewaris

oleh ahli waris berbeda dengan tanggung jawab utang warisan. Kewajiban

memikul berkaitan dengan apa yang harus dikorbankan dari harta kekayaan

yang merupakan perhitungan intern antara sesama ahli waris mengenai

besarnya utang yang benar-benar harus dibayar dari kekayaan masing-masing

ahli waris. Adapun tanggung jawab berkaitan dengan sejauh mana ahli waris

dapat dituntut oleh kreditor yang berarti hubungan ekstern antara kreditor dan

ahli waris sebagai orang yang mengambil-alih utang-utang pewaris.

C. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian Utang-Piutang

1. Pengertian Perjanjian Utang-Piutang

Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau tidak dapat dinyatakan

dalam jumlah uang baik yang secara langsung maupun yang akan timbul di

kemudian hari, yang timbul karena perjanjian atau Undang-Undang dan wajib

53
R. Subekti, [Link]., hal. 21.
41

dipenuhi oleh debitur dan apabila tidak dipenuhi memberi hak kepada

kreditur untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan debitur.

Pengertian utang piutang sama dengan perjanjian pinjam meminjam

yang dijumpai dalam ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal

1754 di jelaskan bahwa “Perjanjian pinjam meminjam adalah suatu perjanjian

dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu

jumlah barang-barang tertentu dan habis karena pemakaian, dengan syarat

bahwa yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari

macam keadaan yang sama pula.”54

Objek perjanjian pinjam-meminjam dalam Pasal 1754 KUH Perdata

tersebut berupa barang-barang yang habis karena pemakaian. Buah-buahan,

minyak, pupuk, cat, kapur merupakan barang-barang yang habis karena

pemakaian. Uang dapat merupakan objek perjanjian utang piutang, karena

termasuk barang yang habis karena pemakaian. Uang yang fungsinya sebagai

alat tukar, akan habis karena dipakai berbelanja.55

Menurut pendapat para ahli hukum, perjanjian hutang piutang di

katakan merupakan sebuah perjanjian pokok. Perjanjian pokok adalah

perjanjian yang utama yang memang dikehendaki kedua belah pihak yang

berjanji untuk suatu tujuan tertentu yang disepakatinya. Perjanjian melahirkan

perikatan, dengan lahirnya perikatan maka lahirlah hak dan kewajiban bagi

para pihak yang membuatnya. Dalam perjanjian hutang piutang, antara pihak

kreditur dan debitur juga terdapat hak dan kewajiban, yaitu bahwa kreditur
54
Gatot Supramono, Perjanjian Utang Piutang, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2013), hal. 9.
55
Ibid., hal. 10
42

berhak menagih atas suatu piutangnya agar dilunasi dalam jangka waktu

tertentu, sementara debitur harus melunasi hutangnya ketika sudah jatuh

tempo kepada kreditur. 56

2. Pihak-pihak Dalam Perjanjian Utang-Piutang

Pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian utang-piutang yaitu sebagai

berikut:

a. Kreditur

Pihak kreditur atau yang sering juga disebut dengan pihak yang

memberi pinjaman utang (pihak yang berpiutang). Dalam Undang-

Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan

Kewajiban Pembayaran Utang, pada Pasal 1 angka 2 telah dijelaskan

bahwa yang dimaksud dengan Kreditur adalah orang yang mempunyai

piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih di

muka pengadilan.

b. Debitur

Pihak debitur atau yang sering disebut dengan pihak yang menerima

pinjaman utang (pihak yang berutang). Dalam Undang-Undang

Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban

Pembayaran Utang, pada Pasal 1 angka 3 telah dijelaskan bahwa yang

dimaksud dengan Debitur adalah orang yang mempunyai utang karena

perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih di muka

pengadilan.

3. Perjanjian Kreditur Dengan Debitur Dalam Uutang-Piutang


56
R. Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta: Intermasa, 2001), hal. 125.
43

Perjanjian utang piutang uang termasuk kedalam jenis perjanjian

pinjam-meminjam, hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1754 KUHPerdata

menyebutkan, “Pinjam-meminjam adalah perjanjian dengan mana pihak

yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah terntentu

barang-barang yang menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa

pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari

macam dan keadaan yang sama pula”.57

Perjanjian utang-piutang sebagai sebuah perjanjian menimbulkan hak

dan kewajiban kepada kreditur dan debitur yang bertimbal balik. Inti dari

perjanjian utang-piutang adalah kreditur memberikan pinjaman uang kepada

debitur, dan debitur wajib mengembalikannya dalam waktu yang telah

ditentukan disertai dengan bunganya. Pada umumnya, pengembalian utang

dilakukan dengan cara mengangsur setiap bulan. 58 Resiko-resiko yang

umumnya merugikan kreditur tersebut perlu diperhatikan secara seksama oleh

pihak kreditur, sehingga dalam proses pemberian kredit diperlukan keyakinan

kreditur atas kemampuan dan kesanggupan dari debitur untuk membayar

hutangnya sampai dengan lunas.

4. Hak Dan Kewajiban Pihak-Pihak Dalam Perjanjian Utang-Piutang

Dalam perjanjian yang bertimbal balik seperti perjanjian utang piutang

ini, hak dan kewajiban kreditur bertimbal balik dengan hak dan kewajiban

57
Gatot Supramono, Perjanjian Utang Piutang, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2013), hal. 9.
58
Ibid., hal. 146.
44

debitur. Hak kreditur di satu pihak, merupakan kewajiban debitur di lain

pihak. Begitu pula sebaliknya, kewajiban kreditur merupakan hak debitur.59

a. Hak dan Kewajiban Kreditur

1) Hak Kreditur

Kreditur adalah pihak yang berhak menuntut pemenuhan suatu

prestasi atau pihak yang memiliki piutang. Dalam hal ini kreditur yang

telah melaksanakan kewajibannya berhak mendapat pemenuhan

prestasi dari debitur sesuai dengan yang tercantum dalam perjanjian

dan telah disepakati oleh kedua belah pihak.

2) Kewajiban Kreditur

Perjanjian utang piutang sebagaimana diatur dalam Kitab

Undang Undang Hukum Perdata, kewajibankewajiban kreditur tidak

banyak diatur, pada pokoknya kreditur wajib menyerahkan uang yang

dipinjamkan kepada debitur setelah terjadinya perjanjian. Pasal 1759

hingga Pasal 1761 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

menentukan sebagai berikut:

a) Uang yang telah diserahkan kepada debitur sebagai pihak

pinjaman. Sebelum lewat waktu yang ditentukan dalam

perjanjian tidak dapat diminta kembali oleh kreditur.

b) Apabila dalam perjanjian utang piutang tidak ditentukan

jangka waktu, dan kreditur menuntut pengembalian utang,

caranya dengan mengajukan gugatan perdata ke pengadilan,

dan berdasarkan Pasal 1760 Kitab Undang-Undang Hukum


59
Gatot Supramono, [Link]., hal. 29.
45

Perdata, hakim diberi kewenangan untuk menetapkan jangka

waktu pengembalian utang dengan mempertimbangkan

keadaan debitur serta memberi kelonggaran kepadanya untuk

membayar utang.

c) Berdasarkan Pasal 1761 Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata, jika dalam perjanjian tersebut ditentukan pihak debitur

akan mengembalikan utang setelah ia mampu membayarnya,

krediturjuga harus menuntut pengembalian utang melalui

pengadilan, hakim setelah mempertimbangkan keadaan

debitur, akan menentukan pengembalian tersebut.

b. Hak dan Kewajiban Debitur

1) Hak Debitur

Hak debitur dalam perjanjian utang piutang adalah menerima

pinjaman sejumlah uang dari kreditur yang sebelumnya telah

disepakati besarnya antara kedua belah pihak.

2) Kewajiban Debitur

Kewajiban debitur dalam perjanjian utang piutang pada

pokoknya mengembalikan utang dalam jumlah yang sama disertai

dengan pembayaran bunga yang telah diperjanjikan, dalam jangka


46

waktu yang telah ditentukan. Dan kewajiban debitur dalam

pembayaran utang tergantung kepada perjanjiannya.

D. Tinjauan Umum Tentang Pembuktian

1. Pengertian Pembuktian

Hukum Acara Perdata juga dikenal sebagai Hukum Perdata formil,

ialah mengatur bagaimana hak dan kewajiban perdata sebagaimana diatur

dalam hukum perdata yang penting. Dalam acara perdata, hukum

pembuktian penting bagi proses peradilan. Intinya, UU Pembuktian secara

formil merupakan rencana bagaimana pelaksanaan Pembuktian, seperti RBg

dan HIR. Secara materil, hukum pembuktian mengatur apakah alat bukti

dapat diterima dan sejauh mana dapat dibuktikan.

Menurut Retnowulan dan Iskandar Oeripkartawinata dalam bukunya

Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek mengemukakan bahwa,

dalam sebuah mekanisme peradilan perdata di Indonesia salah satu dari tugas

hakim yakni guna penyelidikan apakah adanya sebuah hubungan hukum yang

sebagai dasar dari gugatan tersebut tidak benar ataupun benar adanya.

Sehingga bila pihak penggugat berkeinginan memenangkan dalam sebuah

kasus, sehingga dengan terdapatnya hubungan hukum itulah yang harus

dilakukan pembuktian oleh penggugat. Jika penggugat gagal dalam

melakukan pembuktian dalil-dalil yang sebagai dasar gugatannya sehingga

gugataannya itu harus tidak diterima oleh hakim. Dan bila kebalikannya, mka

gugatan itu akan terkabulkan. Pembuktian sendiri merupakan penyajian alat-


47

alat bukti yang sah menurut hukum, sedang dalam prosesnya dalil-dalil

tersebut dikemukakan dalam persidangan di muka hakim atau pengadilan.60

Menurut Supomo pembuktian memiliki arti luas serta terbatas. Pada

arti luas pembuktian artinya menguatkan simpulan dari hakim-hakim lewat

persyaratan pembuktian secara sah. Sedangkan dalam arti terbatas

pembuktian memiliki arti yakni membuktikan hanya diperlukan jika apa yang

diajukan oleh penggugat dibantah oleh pihak tergugat.61

Sudikno Mertokusumo menyebutkan bahwa membuktikan

mengandung beberapa pengertian yakni arti logis, konvensional, dan yuridis.

Membuktikan dalam arti logisnya yakni memberikan kepastian yang bersifat

mutlak. Dalam arti konvensional yakni memberikan kepastian akan tetapi

bukan kepastian mutlak atau bisa disebut dengan kepastian relatif, sebaliknya

dalam arti yuridis yakni memberikan dasar yang cukup pada hakim yang

bertugas pemeriksaan kasus yang terkait agar memberikan kepastian

mengenai pembenaran dari adanya kejadian. Subekti mengatakan bahwa

hukum pembuktian memberikan aturan tentang bagaimana berlangsungnya

perkara di muka hakim.

60
Efa Laela Fakhriah, “Perkembangan Alat Bukti dalam Penyelesaian Perkara Perdata
di Pengadilan Menuju Pembaruan Hukum Acara Perdata”, ADHAPER: Jurnal Hukum Acara
Perdata, Volume 1, Nomor 2, 2015, hal.138.
61
Supomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, (Jakarta, Bina Aksara: 1983), hal.
188.
48

Dengan demikian, dari beberapa pengertian mengenai pembuktian

diatas dapat dipahami bahwa pembuktian merupakan sebuah proses dalam

peradilan yang dimana gunanya untuk membuktikan bahwa benar adanya

sebuah peristiwa yang membuat kedua belah pihak terlibat dalam sebuah

hubungan hukum. Dalam melakukan pembuktian, para pihak yang

bersangkutan dalam perkara serta hakim yang bertugas memimpin jalannya

saat proses di persidangan harus mengindahkan ketetapan-ketetapan hukum

dalam hukum pembuktian yang mengatur terkait prosedur pembuktian, beban

pembuktian, macam-macam alat bukti serta juga kekuatan dari alat

pembuktian itu.

Secara yuridis, pembuktian yakni memberikan dasar-dasar yang cukup

kepada hakim dengan maksud untuk memberikan sebuah kepastian kebenaran bahwa
62
adanya suatu peristiwa yang diajukan. Dalam hukum pembuktian diadakannya

pembagian beban pembuktian, karena dalam hal ini dapat diketahui pihak manakah

yang dibebankan dengan beban pembuktian. Pembagian ini sendiri harus dilakukan

secara adil dan tidak berat sebelah. Asas pembagian beban pembuktian sendiri telah

tercantum dalam pasal 163 HIR, sehingga artinya kedua belah pihak baik dari pihak

tpenggugat maupun pihak tergugat masing-masing dapat dibebani dengan beban

pembuktian.63

62
Marilang, “Pembuktian Perjanjian Dalam Praktek Monopoli”, Jurnal Jurisprudentie
Volume 6, Nomor 1, 2019, hal. 115.
63
Maisara Sunge, “Beban Pembuktian dalam Perkara Perdata”, Jurnal INOVASI,
Volume 9, Nomor 2, 2012, hal. 5.
49

2. Asas-Asas Hukum Pembuktian

Dalam hukum pembuktian perdata, dikenal beberapa asas tersendiri

yang berbeda dengan apa yang dikenal dalam hukum pembuktian lainnya.

Asas-asas ini memiliki karakteristik yang sesuai dengan sifat hukum acara

perdata. Asas-asas itu yakni:64

a. Asas Audi Et Ateram Partem

Asas ini bisa juga disebut dengan asas kesamaan kedua pihak yang

dikasuskan di muka pengadilan. Yang artinya hakim tidak

memperbolehkan memberikan keputusan melalui tidak berkesempatan

untuk mendengarkan keterangan dari kedua pihak. Melalui adanya

asas demikian, hakim harus seadil-adilnya dalam memberi beban

pembuktian kepada pihak yang dikasuskan, supaya peluang

kemenangan atau kekalahan dari kedua pihak memiliki kesetaraan,

tidak berat sebelah ataupun tidak pincang.

b. Asas Ius Curia Novit

Asas ini merupakan asas yang memfiksikan bahwa setiap hakim harus

dianggap tahu akan hukumnya kasus yang akan dilakukan

pemeriksaan olehnya. Halim tidak memperbolehkan membuat

keputusan kasus lewat berdalih bahwa hakim itu tidak melihat

hukumnya. Berdasarkan asas ini para pihak dalam membuktikan

hanya wajib mengeluarkan bukti secara kebenaran yang

64
Achmad Ali dan Wiwie Heryani, Asas-Asas Hukum Pembuktian Perdata, (Jakarta,
Kencana: 2012), hal. 61-66.
50

dipersengketakan, sedang dalam bukti masalah hukumnya sudah

berkewajiban dari hakim.

c. Asas Nemo Testis Indoneus In Propria Causa

Asas ini berarti bahwa tidak seorangpun dapat sebagai saksi di

persidangannya sendiri. Dengan ini nampak jelas bagi penggugat

ataupun pihak tergugat tak bisa sekaligus menjadi saksi di dalam

pembuktian untuk kasus mereka sendiri. Kesaksian yang menjadi alat

pembuktian harus dihadirkan dari individu lain yang tidak pihak dari

konflik yang terkait.

d. Asas Ultra Ne Petita

Asas ini merupakan asas yang membatasi hakim sehingga hakim

hanya boleh mengabulkan sesuai apa yang dituntut. Hakim tidak

memiliki hak dan dilarang mengabulkan lebih dari pada apa yang

dituntut oleh penggugat. Hal ini berbeda dari pembuktian dalam

perkara pidana yang dimana hakim dapat menyelidiki perkar tersebut

lebih dari fakta yang terungkap oleh jaksa, bahkan saksi yang terlibat

dalam tindak pidana tersebut bisa berubah statusnya menjadi

terdakwa.

e. Asas De Gustibus Non Est Disputandum


51

Asas ini artinya bahwa mengenai selera tak bisa dipersengketakan,

asas ini didalam hukum pembuktian ialah “hak mutlak” pihak

tergugat.

f. Asas Nemo Plus Juris Transferre Potest Quam Ipse Habet

Asas ini menetapkan bahwa tak terdapat seorang pun yang bisa

mengubah banyak hak dari yang ia punyai.

3. Teori-Teori Sistem Pembuktian

Tujuan dari diadakannya pembuktian yakni untuk mengetahui

bagaimana cara menemukan hasil pembuktian terhadap perkara yang

diperiksa. Untuk dapat memahami bagaimana sistem dari pembuktian itu

sendiri maka dengan adanya beberapa teori yang berhubungan dengan sistem

pembuktian, guna menjadi perbandingan untuk memahami sistem

pembuktian yakni:

a. Teori pembuktian bebas. Dalam teori ini memerlukan adanya syarat-

syarat yang mengikat hakim, sehingga dalam menilai pembuktian

diserahkan kepada hakim yang memutus perkara.

b. Teori pembuktian negatif. Dalam teori ini terdapat syarat-syarat

mengikat yang bersifat negatif. Syarat ini embatasi larangan kepada

hakim untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan

pembuktian.

c. Teori pembuktian pasif. Dalam teori ini menuntut adanya perintah

kepada hakim untuk membuktikan fakta-fakta hukum.65

65
Hendri Jayadi Pandiangan, Perbedaan Hukum Pembuktian Dalam Prespektif Hukum
Acara Pidana Dan Perdata, Jurnal Hukum, Volume 3, Nomor 2, 2017, hal. 50.
52

4. Baban Pembuktian

Berdasarkan Pasal 1865 KUHPerdata, setiap orang yang menyatakan

bahwa ia memiliki hak atas sesuatu atau dengan maksud meneguhkan haknya

sendiri maupun membantah hak orang lain menunjuk pada suatu peristiwa,

diwajibkan kepanyanya untuk membuktikan adanya hak atau peristiwa

tersebut. Demikian menurut Pasal 163 H.I.R barangsiapa menyatakan ia

memiliki hak atau menyenutkan suatu kejadian/peristiwa untuk menguatkan

haknya tersebut ataupun untuk menyangkal hak orang laiin, maka orang

tersebut harus membuktikan bahwa adanya hak atau kejadian itu.

5. Pengertian dan Macam-Macam Pembuktian

Berdasar hukum acara sendiri telah disebutkan bahwa hakim terikat

terhadap alat-alat bukti secara sah. Sehingga dalam pengambilan keputusan,

seorang hakim harus selalu terikat dari adanya alat pembuktian yang sudah

ditetapkan oleh UU. Macam-macam alat bukti sendiri telah disebutkan dalam

Pasal 1866 KUHPerdata. Alat bukti merupakan alat yang digunakan untuk

membuktikan suatu kebenaran hubungan hukum yang dinyatakan baik oleh

penggugat ataupun tergugat dalam sebuah perkara perdata. Bukti dalam

pengertiannya sendiri yakni segala hal yang dipergunakan untuk meyakinkan

pihak lain yang dapat dikatakan macamnya tidak terbatas dengan syarat bukti

tersebut dapat meyakinkan pihak lain tentang pendapat, peristiwa, dan

keadaan. Sedangkan menurut bukti menurut hukum telah ditentukan menurut

undang-undang.
53

Alat-alat bukti dalam hukum acara perdata menurut RBg/HIR dan

KUHPerdata meliputi: Alat bukti tertulis,bukti saksi, bukti persangkaan, bukti

pengakuan dan bukti sumpah.66

6. Pengertian dan Macam-Macam Pembuktian

Berdasar hukum acara sendiri telah disebutkan bahwa hakim terikat

terhadap alat-alat bukti secara sah. Sehingga dalam pengambilan keputusan,

seorang hakim harus selalu terikat dari adanya alat pembuktian yang sudah

ditetapkan oleh UU. Macam-macam alat bukti sendiri telah disebutkan dalam

Pasal 1866 KUHPerdata. Alat bukti merupakan alat yang digunakan untuk

membuktikan suatu kebenaran hubungan hukum yang dinyatakan baik oleh

penggugat ataupun tergugat dalam sebuah perkara perdata. Bukti dalam

pengertiannya sendiri yakni segala hal yang dipergunakan untuk meyakinkan

pihak lain yang dapat dikatakan macamnya tidak terbatas dengan syarat bukti

tersebut dapat meyakinkan pihak lain tentang pendapat, peristiwa, dan

keadaan. Sedangkan menurut bukti menurut hukum telah ditentukan menurut

undang-undang.

Alat-alat bukti dalam hukum acara perdata menurut RBg/HIR dan

KUHPerdata meliputi: Alat bukti tertulis,bukti saksi, bukti persangkaan, bukti

pengakuan dan bukti sumpah.67

a. Pembuktian dengan alat bukti tertulis atau surat


66
Indah Sucianti dan Kasjim Salenda, Implementasi Pemeriksaan Setempat Sebagai
Pendukung Pembuktian Terhadap Perkara Perdata Dalam Prespektif Hukum Acara Perdata Dan
Hukum Islam, Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab, Volume 1, Nomor 3,
2020, hal. 346.
67
Indah Sucianti dan Kasjim Salenda, Implementasi Pemeriksaan Setempat Sebagai
Pendukung Pembuktian Terhadap Perkara Perdata Dalam Prespektif Hukum Acara Perdata Dan
Hukum Islam, Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab, Volume 1, Nomor 3,
2020, hal. 346.
54

Sebuah bukti dapat dikategorikan menjadi alat bukti tertulis

apabila mencukupi 3 unsur berikut yakni:

1) Sengaja disusun untuk dipergunakan menjadi alat bukti

2) Harus mengandung tanda-tanda bacaan.

3) Bermaksudkan untuk mengutarakan isi hati ataupun guna

menyampaikan buah pikiran individu.

Alat bukti tertulis ataupun surat sendiri bisa diklasifikasikan

kedalam 3 jenis yakni: akta dibawah tangan, akta autentik, dan surat-

surat lainnya yang bukan akta. Alat bukti tertulis menurut ketentuan

Pasal 1867 KUHPerdata yakni dilakukan dengan akta autentik dan akta

dibawah [Link] autentik merupakan akta yang dibuat oleh atau

didepan seorang pejabat umum yang memiliki kekuasaan untuk membuat

surat itu, dengan tujuan untuk menjadikan surat tersebut menjadi bukti.

Akta autentik memiliki kekuatan yang sempurna dan mengikat apabila

terpenuhinya kekuatan pembuktian tersebut. Yakni dibuat oleh orang

yang berwenang dengan syarat-syarat formil atau materiil yang

ditentukan. Sedangkan akta dibawah tangan memiliki kekuatan dibawah

akta autentik, yakni berupa akta biasa yang umumnya dibuat dan

ditandatangani sendiri oleh masing-masing pihak yang mengadakan suatu

hubungan hukum.68 Namun apabila akta dibawah tangan ini diakui oleh

kedua belah pihak, maka akta tersebut sudah merupakan alat bukti yang

sempurna.

68
Mutiara Dunggio, “Perkembangan Alat Bukti Tulisan Dalam Pembuktian Perkara
Perdata”, Jurnal Lex Privatum, Volume 4, Nomor 3, 2016, hal. 22.
55

Surat-surat lain selain akta merupakan segala macam sura yang

tidak termasuk dalam pengertian akta autentik dan akta dibawah tangan.

Perlu diketahui surat akta sendiri yaitu surat yang dibumbui dengan tanda

tangan, berisi peristiwa yang menjadi dasar dari suatu peristiwa perikatan

yang sedari awal dibuat dengan tujuan pembuktian, seperti persetujuan

jual-beli, pemberian kuasa dan sebagainya. Surat-surat yang tidak

memiliki tandaa tangan tangan atau surat biasa biasanya tidak bertujuan

untuk dijadikan alat bukti. Selain itu surat tersebut dapat dikatakan

sebuah akta apabila memang sengaja untuk dijadikan sebagai alat bukti.

Oleh sebab itu, surat biasa tidak termasuk akta, karena walaupun

ditandatangani biasanya tidak dimaksudkan untuk dijadikan sebagai alat

bukti. Akan tetapi, jika surat-surat semacam ini dimaksudkan untuk

dijadikan sebagai alat bukti maka surat-surat ini bisa termasuk dalam

pengertian akta. Adapun kekuatan pembuktian dari surat-surat selain akta

ini terserah kepada pertimbangan hakim.

b. Pembuktian dengan alat bukti saksi

Kesaksian merupakan alat bukti yang diberitahukan secara lisan

dan pribadi oleh saksi, yang bukan bestatus sebagai pihak yang

bersengketa untuk memberikan kepastian kepada hakim di muka

persidangan tentang peristiwa yang dipersengketakan. Keterangan oleh

para saksi harus mengenai peristiwa atau kejadian yang dialaminya

sendiri. Dalam alat bukti kesaksian harus terdapat beberapa unsur

berikut, yakni:
56

1) Keterangan kesaksian itu diucapkan sendiri oleh saksi secara lisan

di muka persidangan.

2) Tujuannya untuk memberi kepastian kepada hakim tentang

peristiwa yang dipersengketakan.

3) Saksi itu bukan salah satu pihak yang bersengketa.

Pada prinsipnya, semua orang dapat dijadikan sebagai saksi,

setkecuali jika ditentukan lain oleh undang-undang. Orang-orang yang

sama sekali tidak boleh didengar kesaksiannya, yakni keluarga baik

karena keluarga kelahiran ataupun keluaarga karena perkawinan, suami

atau istri meski sudah cerai, anak yang berusia dibawah lima belas tahun

atau belum cakap hukum dan orang gila walaupun kadang ingatannya

terang. Larangan untuk memberikan kesaksian seperti yang telah

disebutkan sebelumnya dalam kondisi tertentu memungkinkan untuk

memberikan kesaksian sesuai dengan yang tertulis dalam Pasal 145 ayat

(2) HIR, yang berbunyi ‘ akan tetapi kaum keluarga sedarah dan keluarga

semenda tidak dapat ditolak sebagai saksi dalam perkara perselisihan

kedua belah pihak tentang keadaan menurut hukum atau tentang suatu

perjanjian pekerjaan”.

Meskipun saksi telah memberikan keterangan kesaksiannya di

persidangan di depan hakim, hakim tidak bisa dipaksa untuk memercayai

saksi, karena mungkin saja salah satu dari keterangan saksi tersebut

merupakan keterangan palsu. Sebab itu, hakim harus berhati-hati dalam

memperhatikan kesaksian tersebut serta memperhatikan kesesuaian


57

antara keterangan saksi dan keterangan isi perkara yang

dipersengketakan, dan juga apakah ada hubungan antara saksi dengan

apa yang disaksikan.

Dalam menilai keterangan saksi merupakan kebebasan hakim

dalam persidangan dengan pertimbangannya secara teliti. Kekuatan

pembuktian keterangan saksi dalam sebuah perkara perdata seluruhnya

ditumpahkan kepadaa hakim untuk menilai keterangan yang diberikan

para saksi. Selain menilai apakah adanya kecocokan dengan saksi lainnya

hakim juga harus menilai aspek-aspek lain yang berhubungan dengan

saksi yaitu dihubungkan dengan keterangan yang diberikan, misalnya

cara hidup dan kebiasaan saksi, kedudukan martabatnya dalam kehidupan

masyarakat sehingga hakim dapat melihat dapat dipercaya atau tidaknya

saksi tersebut.

c. Pembuktian dengan alat bukti persangkaan

Dalam pembuktian perdata terdapat alat bukti persangkaan yang

memiliki kemiripan dengan alat bukti petunjuk dalam perkara pidana,

yang dimana persangkaan bisa berasal dari kesimpulan hakim

berdasarkan kenyataan-kenyataan yang ada, yang dilihat oleh hakim

dalam persidangan, sehingga tersusunnya suatu kesimpulan persangkaan-

persangkaan. Persangkaan merupakan alat bukti yang tidak langsung,

karena dengan persangkaan-persangkaan kita menarik kesimpulan dari

peristiwa yang telah terbukti ke arah peristiwa yang belum terbukti.


58

Hukum acara perdata sebagai hukum formil telah memberikan

pengaturan tentang persangkaan atau praduga sebagai alat bukti dalam

persidangan sebagaimana telah diatur dalam Pasal 173 HIR. Yang

dimaksud dengan persangkaan sendiri telah diatur dalam Pasal 1915

KUHPerdata yakni, “ persangkaan ialah kesimpulan yang ditarik oleh

undang-undang atau oleh hakim dari suatu peristiwa yang diketahui

umum ke arah suatu peristiwa yang tidak diketahui umum. Dalam

praktek ini sendiri hakim tidak boleh sembarangan dalam menarik

kesimpulan atau persangkaan dari adanya suatu peristiwa. Berdasarkan

hukum positif di Indonesia, bisa digolongkan menjadi 2 jenis

persangkaan yakni:

1) persangkaan-persangkaan berdasarkan UU

2) persangkaan-persangkaan berdasarkan hakim

d. Pembuktian dengan alat bukti pengakuan suatu pihak

Pembuktian suatu pihak dapat dilihat dari segi acara

pelaksanaannya yakni pengakuan suatu pihak yang dilakukan di depan

hakim dan yang dilakukan diluar persidangan. Pengakuan di depan

hakim dalam sebuah persidangan yakni suatu pernyataan tegas oleh

seseorang di depan sidang pengadilan yang menyatakan dengan benar

seluruh dakwaan dari pihak lawan, meskipun hanya satu atau lebih dari

satu, hak-hak atau hubungan yang didakwakan.

Pengakuan diluar persidangan sendiri merupakan keterangan

yang diberikan oleh salah satu pihak dalam sebuah perkara perdata diluar
59

persidangan untuk membenarkan pernyataan-pernyataan yang dituturkan

pihak lawan. Kekuatan pembuktian pengakuan diluar sidang seluruhnya

diserahkan kepada kebijaksanaan hakim, berbeda dengan pengakuan di

depan hakim yang dimana hakim tersebut harus menerima pengakuan

tersebut harus menerima pengakuan tersebut sebagai alat bukti yang

[Link] sebagai alat bukti terdapat 3 macam yakni:

1) Pengakuan melalui klausuls (aveu complexe) yaitu suatu

pengakuan yang disertai dengan keterangan tambahan yang

sifatnya membebaskan.

2) Pengakuan murni (aveu pur et simple) yaitu pengakuan yang

sifatnya sederhana dan sepenuhnya dengan tuntutan pihak lawan.

3) Pengakuan melalui kualifikasi (aveu qualifie) yaitu pengakuan

yang disertai sangkalan terhadap sebagian isi tuntutan.

e. Pembuktian dengan alat bukti sumpah.

Sumpah umumnya merupakan suatu pernyataan yang khidmat

yang diucapkan pada saat memberi janji atau keterangan dengan

mengingat sifat Yang Maha Kuasa Tuhan, serta percaya bahwa siapa

yang memberikan pernyataan dan keterangan yang tidak benar akan di

hukum oleh-Nya. Sehingga sumpah pada umumnya merupakan tindakan

yang bersifat religius yang digunakan dalam peradilan. Dalam

pembagiannya sumpah terbagi menjadi dua macam, yakni:

1) Sumpah decisoir
60

Sumpah decisoir merupakan sumpah yang dibebankan kepada

salah satu pihak atas permintaan salah satu pihak lainnya.

2) Sumpah supletoir

Sumpah supletoir merupakan sumpah pelengkap yang sifatnya

melengkapi alat bukti yang sudah ada tetapi belum cukup.

Penggunaan alat bukti sumpah sendiri telah diatur dalam Pasal

155 ayat (1) HIR yang menyatakan bahwa jika kebenaran gugatan atau

kebenaran pembelaan dari salah satu pihak belum cukup terang, akan

tetapi memiliki sifat kebenaran dan tidak memiliki jalan lain untuk

menguatkan keterangan tersebut maka ketua pengadilan negeri karena

jabatannya dapat menyuruh salah satu pihak untuk melakukan sumpah

baik untuk memutuskan perkara itu maupun untuk menentukan jumlah

uang yang diperkenankan. Untuk kekuatannya sendiri sumpah

merupakan salah satu cara untuk menguatkan keterangan seseorang

sebagai satu pihak dalam suatu perkara perdata.

7. Kekuatan Pembuktian dari Alat-alat Bukti

Saat sesudah masing-masing pihak melakukan pengajuan alat

pembuktiannya, selanjutnya tugas dari hakim guna mengevaluasi dari alat

bukti tersebut. Terdapat 5 jenis kekuatan pembuktian dari alat bukti, yakni:69

a. Kekuatan pembuktian yang sempurna. Kekuatan pembuktian yang

sempurna merupakan kekuatan yang memberikan kepastian yang

cukup pada hakim.

69
Achmad Ali dan Wiwie Heryani, Asas-Asas Hukum Pembuktian Perdata, (Jakarta,
Kencana: 2012), hal. 80-85.
61

b. Kekuatan pembuktian lemah. Kekuatan pembuktian lemah merupakan

kekuatan pembuktian yang tidak memberikan kepastian yang cukup,

sehingga hakim tidak memberikan akibat hukum hanya atas dasar alat

bukti yang lemah.

c. Kekuatan pembuktian sebagian. Kekuatan pembuktian sebagiannya

sepintas serupa dengan kekuatan pembuktian lemah, hanya saja dalam

menentukannya tergantung dari tanggapan tergugat.

d. Kekuatan pembuktian yang menentukan. Kekuatan pembuktian ini

merupakan pembuktian yang tidak memungkinkan pembuktian

perlawanan sama sekali.

e. Kekuatan pembuktian perlawanan. Kekuatan pembuktian perlawanan

merupakan kekuatan dari alat bukti yang melemahkan alat bukti dari

pihak lawan.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yakni penelitian

hukum doktrinal ataupun penelitian hukum normatif (normative legal research).

Penelitian hukum normatif merupakan penelitian yang dilaksanakan

menggunakan pendekatan pada aturan-aturan hukum atau substansi hukum, asas-

asas hukum, teori-teori hukum, dalil-dalil hukum, dan perbandingan hukum.

B. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam karya tulis ini yakni:

1. Pendekatan Perundang-Undangan (Statute Approach)

Pendekatan perundang-undangan biasa juga disebut sebagai

pendekatan yuridis-normatif. Dimana pendekatan ini pada hakikatnya

dilakukan dengan menelaah berbagai peraturan perundang-undangan yang

berkaitan dengan permasalahan yang dibahas. Pendekatan ini merupakan

penelitian yang mengutamakan bahan hukum berupa peraturan perundang-

undangan sebagai bahan acuan dasar dalam penelitian. 70 Pendekatan

perundang-undangan atau statute approach ini oleh sebagian ilmuan hukum

biasanya disebut sebagai pendekatan hukum, yakni penelitian mengenai

produk-produk hukum.

70
Irwansyah, Penelitian Hukum Pilihan Metode dan Praktik Penulisan Artikel,
(Yogyakarta: Mirra Buana Media, 2020), hal. 133.
63

2. Pendekatan Kasus (Case Approach)

Pendekatan ini dilakukan dengan menelaah suatu kasus yang berkaitan

dengan isu hukum yang dihadapi. Pendekatan kasus atau case approach

merupakan salah satu jenis pendekatan dalam penelitian hukum normatif,

dimana peneliti akan mencoba membangun sebuah argumentasi hukum dalam

perpektif kasus konkret yang terjadi di lapangan.

3. Pendekatan Konseptual (Conseptual Approach)

Pendekatan konseptual merupakan suatu pendekatan yang dilakukan

dengan mempelajari pendapat-pendapat maupun doktrindoktrin yang

berkembang dalam ilmu hukum. Dimana peneliti akan meneliti terkait dengan

pendapat-pendapat dan doktrin-doktrin untuk kemudian menciptakan suatu

pemikiran-pemikiran, baik itu berupa penjelasan-penjelasan hukum, konsep-

konsep hukum, maupun asas-asas hukum yang relevan dengan permasalahan

hukum yang sedang dihadapi. Selain itu, juga sebagai sandaran bagi peneliti

dalam menyusun argumentasi hukum untuk kemudian menjawab setiap

permasalahan yang diangkat dalam penelitian.71

4. Pendekatan Analitis (Analytical Approach)

Pendekatan ini dilakukan dengan menelaah makna suatu istilah hukum

dan dilihat dalam praktik dan putusan pengadilan. Penelitian ini menelaah

pengertian, asas kaidah, sistem, dan konsep yuridis. 72 Atau dalam hal ini,

pendekatan analitis akan menitikberatkan suatu penelitian dengan mencoba

menganalisis suatu sistem atau kaidah hukum.


71
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Prenada Media Grup, 2016), hal.
133.
72
Irwansyah, [Link]., hal. 152.
64

5. Pendekatan Teori (Theorytical Approach)

Terdapat asas dan teori hukum yang kuat dibalik rumusan norma

hukum atau kaidah hukum yang kokoh. Dimana cakupan teori hukum yang

lebih luas dari dogmatik hukum, membawa konsekuensi bahwa teori hukum

dapat menjadi sebuah pendekatan dalam penelitian hukum normatif.73

Adapun jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yakni

pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus.

C. Jenis dan Sumber Bahan Hukum

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data sekunder yang diperoleh

dari data hukum primer, sekunder dan tersier.

1. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer, adalah bahan hukum yang bersifat otoritatif karena

berasal dari hukum yang mengikat atau yang dirancang oleh pihak yang

berwenang. Dimana bahan hukum primer ini meliputi Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata (KUHPer), Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang

Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, dan

2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum sekunder, adalah bahan hukum yang merupakan bagian atau

yang menjelaskan bahan hukum primer. Dimana bahan hukum sekunder berisi

data primer yang kemudian dijelaskan dan menjadi bahan hukum utama dalam

penelitian ini berupa jurnal-jurnal, buku-buku yang berkaitan dengan judul

penelitian, artikel dan hasil penelitian yang berkaitan dengan kepailitan.

3. Bahan Hukum Tersier


73
Ibid., hal. 157-158.
65

Bahan hukum tersier, adalah bahan hukum yang menjadi penunjang dalam

memperoleh informasi terkait bahan hukum primer dan bahan hukum

sekunder. Seperti abstrak perundang-undangan, kamus hukum dan lain

sebagainya.

D. Metode Pengumpulan Bahan Hukum

Untuk melengkapi skripsi ini agar tujuannya bisa lebih terarah dan dapat

dipertanggungjawabkan, maka penulis menggunakan metode penelitian hukum

normatif, yakni menggunakan penelitian pustaka.

Penelitian kepustakaan ialah penelitian yang dilakukan dengan cara

meneliti bahan pustaka atau data sekunder sebagai bahan acuan untuk

memperoleh data yang disebut dengan bahan referensi.

Metode Iibrary research adalah mempelajari sumber-sumber atau bahan-

bahan tertulis yang dapat dijadikan bahan dalam penulisan skripsi ini. Berupa

rujukan beberapa buku, wacana yang dikemukakan oleh pendapat para sarjana

hukum yang sudah mempunyai nama besar dibidangnya, koran dan majalah.74

Studi pustaka merupakan suatu metode penelitian awal yang digunakan

oleh peneliti untuk memperoleh informasi melalui dokumen-dokumen, baik

tertulis, gambar maupun elektronik yang diharapkan mampu untuk mendukung

proses penelitian yang dilakukan.

E. Instrumen Penelitian

74
Bambang Sunggono, Metode PeneIitian Hukum, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1997),
hlm.41.
66

Instrumen penelitian merupakan sebuah alat yang dapat digunakan peneliti

untuk membantu mengumpulkan suatu data agar tersusun secara sistematik.

Maka dari itu dalam penelitian ini peneliti memakai beberapa instrumen

alat bantu yakni sebagai berikut:

a. Peneliti

b. Laptop/android

c. Jaringan internet

d. Alat tulis.

F. Analisis Bahan Hukum

Penulis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif.

Analisis data kualitatif merupakan suatu cara yang digunakan secara sistematis

dalam mencari, memilih, mengelolah, menemukan pola, menemukan hal-hal apa

yang penting untuk dipelajari dan memutuskan apa-apa yang kemudian dapat

dikaji kembali dalam sebuah penelitian. Sehingga dapat tercapai tujuan dari

peneliti dapat menguraikan dan menyimpulkan data serta memecahkan masalah

berdasarkan data yang telah diperoleh.


DAFTAR PUSTAKA

Buku

Achmad Alidan Wiwie Heryani. Asas-Asas Hukum Pembuktian [Link].


Kencana: 2012.
Arya Suyudi. Eryanto Nugroho dan Herni Sri Nurbayanti. Kepailitan di Negeri
[Link]: Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia. 2004.
Bambang Sunggono. Metode PeneIitian [Link]: PT Raja Grafindo. 1997.
E. Suherman. Failissement. Jakarta: Bina Cipta. 1997.
Eman Suparman. Hukum Waris IndonesiaRevisi. Bandung: Refika Aditama. 2018.
Emmy Yuhassarie. Undang-undagn Kepailitan dan Perkembangannya. Jakarta:
Pusat Pengkajian Hukum. 2005.
Gatot Supramono. Perjanjian Utang Piutang. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group. 2013.
H. Zaeni Asyhadie. Hukum Keperdataan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
2018.
H.M.N. Purwosutjipto. Pengertian Dan Pokok-Pokok Hukum Dagang Indonesia.
Jakarta: Djambatan. 1978.
Hadi Shubhan. Hukum Kepailitan: Prinsip. Norma. dan Praktik di Peradilan.
Jakarta: Pranada Media Group. 2008.
Imran Nating. Peranan Dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan Dan
Pemberesan Harta [Link]: Raja Grafindo Persada. 2004.
Irwansyah. Penelitian Hukum Pilihan Metode dan Praktik Penulisan Artikel.
Yogyakarta: Mirra Buana Media. 2020.
Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja. Pedoman Menangani Perkara Kepailitan.
Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2003.
Kartini Muljadi, Gunawan Widjaja. Seri Hukum Bisnis Pedoman Menangani
Perkara Kepailitan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2004.
Kartono. Kepailitan dan Pengunduran Pembayaran. Jakarta: Pradnya Paramita.
2000.
M. Hadi Shubhan. Hukum KepailitanPrinsip. Norma. dan Praktik di Peradilan.
Jakarta: Penerbit Kencana Prenada media Group. 2008.
Munir Fuady. Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek. Bandung: Citra Aditya
Bakti. 1999.
68

Peter Mahmud Marzuki. Penelitian Hukum. Jakarta: Prenada Media Grup. 2016.
R. Soetojo Prawirohamidjojo. Hukum Waris Kodifikasi. Surabaya: Airlangga
University Press. 2000.
R. Subekti. Hukum Perjanjian. Jakarta: Intermasa. 2001.
R. Subekti. Ringkasan Tentang Hukum Keluarga dan Hukum Waris. Jakarta:
Intermasa. 2004.
[Link]. Pokok-Pokok Hukum Dagang. Jakarta: Intermasa. 1995.
R.V. Puang. Penerapan Asas Pembuktian Sederhana Dalam Penjatuhan Putusan
Pailit. Bandung: PT Sarana Tutorial Nurani Sejahtera. 2011.
Rachmadi Usman. Dimensi Hukum Kepailitan di Indonesia. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama. 2004.
Rahayu Hartini. Hukum Kepailitan. Malang; UMM Pers. 2012.
Ridwan Khairandy. Pokok-Pokok Hukum Dagang Indonesia. Yogyakarta: FH UII
Press. 2013.
Rudhy A. Lontoh. Penyelesaian Utang Melalui Pailit atau Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang. Bandung: Alumni. 2001.
Supomo. Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri. Jakarta: Bina Aksara: 1983.
Suriani Ahlan Syarif. Hukum Kewarisan Perdata Barat. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group. 2006.
Sutan Remy Sjahdeini. Hukum Kepailitan: Memahami Undang-Undang No 37
Tahun 2004 tentang Kepailitan. Jakarta: Pusataka Grafiti. 2010.
Sutan Remy Sjandeini. Hukum Kepailitan: Memahami Undang-Undang Nomor
37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. 2010.
Viktor M. Situmorang dan Hendri Soekarso. Pengantar Hukum Kepailitan
Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. 1993.
Perundang-Undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata


Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang
Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR)
Reglement Voor De Buitengewesten (RBg)
69

Jurnal

Brata Yoga Lumbanraja, Siti Malikhatun Badriyah, Irma Cahyaningtyas,


“Analisis Yuridis Kepailitan Harta Yang Ditinggalkan”, Jurnal Notarius,
Volume 14 Nomor 1, 2021.
Chesya Maranatha Rantung, “Hilangnya Hak Seorang Ahli Waris Menurut Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata”, Jurnal Lex Privatum, Volume 6
Nomor 9, 2018.
Efa Laela Fakhriah, “Perkembangan Alat Bukti dalam Penyelesaian Perkara
Perdata di Pengadilan Menuju Pembaruan Hukum Acara Perdata”,
ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata, Vol. 1, No.2, Juli-Desember
2015.
Hendri Jayadi Pandiangan, Perbedaan Hukum Pembuktian Dalam Prespektif
Hukum Acara Pidana Dan Perdata, Jurnal Hukum, Volume 3, Nomor 2,
2017.
Indah Sucianti dan Kasjim Salenda, Implementasi Pemeriksaan Setempat Sebagai
Pendukung Pembuktian Terhadap Perkara Perdata Dalam Prespektif
Hukum Acara Perdata Dan Hukum Islam, Shautuna: Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Perbandingan Mazhab, Volume 1, Nomor 3, 2020.
Maisara Sunge, “Beban Pembuktian dalam Perkara Perdata”, Jurnal INOVASI,
Volume 9, Nomor 2, 2012.
Marilang, “Pembuktian Perjanjian Dalam Praktek Monopoli”, Jurnal
Jurisprudentie Volume 6, Nomor 1, 2019.
Mutiara Dunggio, “Perkembangan Alat Bukti Tulisan Dalam Pembuktian
Perkara Perdata”, Jurnal Lex Privatum, Volume 4, Nomor 3, 2016.
Putriyanti & Wijayanta, “Kajian Hukum Tentang Penerapan Pembuktian
Sederhana Dalam Perkara Kepailitan Asuransi”, Jurnal Mimbar Hukum,
Volume 22 Nomor 33, 2010.
Yudha Pradana, Etty Susilowati, Hendro Saptono, “Kedudukan Ahli Waris
Penanggung Perseorangan Pada Perseroan Terbatas Yang Dipailitkan
Secara Bersama-Sama”, Diponegoro Law Journal, Volume 5, Nomor 3,
2016.
Lain-lain
[Link]
insolvencyi-dalam-undangundang-kepailitan (diakses pada tanggal 28
Oktober 2022)
70

[Link]
dalam-kepailitan (diakses pada tanggal 24 Oktober 2022, pukul 22.36
WITA)

Anda mungkin juga menyukai