0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan29 halaman

Laporan Pendahuluan Sectio Caesaria

Laporan pendahuluan ini membahas tentang sectio caesarea, termasuk definisi, anatomi dan fisiologi organ reproduksi wanita, etiologi, dan jenis-jenis sectio caesarea. Sectio caesarea adalah operasi untuk melahirkan melalui insisi perut dan rahim. Dilakukan jika persalinan normal beresiko bagi ibu atau bayi. Ada beberapa jenis sectio caesarea seperti insisi melintang atau membujur pada segmen bawah rahim.

Diunggah oleh

Rohman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan29 halaman

Laporan Pendahuluan Sectio Caesaria

Laporan pendahuluan ini membahas tentang sectio caesarea, termasuk definisi, anatomi dan fisiologi organ reproduksi wanita, etiologi, dan jenis-jenis sectio caesarea. Sectio caesarea adalah operasi untuk melahirkan melalui insisi perut dan rahim. Dilakukan jika persalinan normal beresiko bagi ibu atau bayi. Ada beberapa jenis sectio caesarea seperti insisi melintang atau membujur pada segmen bawah rahim.

Diunggah oleh

Rohman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN SECTIO CAESARIA DI RUANG OK

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA PONTIANAK

Disusun Oleh:

Putri Olivia Sahrani


NIM. 191121039

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PONTIANAK
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI SARJANA
TERAPAN KEPERAWATAN PONTIANAK
TAHUN 2023
VISI DAN MISI

PROGRAM STUDI NERS KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PONTIANAK

VISI
"Menjadi Institusi Pendidikan Ners yang Bermutu dan Unggul dalam Bidang
Keperawatan Gawat Darurat dan Keperawatan Perioperatif di Tingkat
Regional Tahun 2020"

MISI
1. Meningkatkan Program Pendidikan Ners yang Unggul dalam Bidang
Keperawatan Gawat Darurat dan Keperawatan Perioperatif yang Berbasis
Kompetensi.
2. Meningkatkan Program Pendidikan Ners yang Unggul dalam Bidang
Keperawatan Gawat Darurat dan Keperawatan Perioperatif yang Berbasis
Penelitian.
3. Mengembangkan Upaya Pengabdian Masyarakat yang Unggul dalam
Keperawatan Gawat Darurat dan Keperawatan Perioperatif yang Berbasis
IPTEK dan Teknologi Tepat Guna.
4. Mengembangkan Program Pendidikan Ners yang Unggul dalam Bidang
Keperawatan Gawat Darurat dan Keperawatan Perioperatif yang Mandiri,
Transparan dan Akuntabel.
5. Mengembangkan Kerjasama Baik Lokal maupun Regional.
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN MASALAH
SECTIO CAESARIA DI RUANG OK
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA PONTIANAK

Telah Mendapatkan Persetujuan dari Pembimbing Klinik dan Dosen Pembimbing


Praktek Klinik Keperawatan

Pontianak, Maret 2023


Mahasiswa,

Putri Olivia Sahrani


NIM. 191121039

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

______________
LAPORAN PENDAHULUAN
SECTIO CAESARIA

1. Teori Sectio caesarian


A. Definisi Sectio caesarian
Sectio caesarian adalah suatu tindakan pembedahan guna melahirkan anak
melalui insisi dinding perut abdomen dan uterus (Oxorn & Forte, 2010).
Sedangkan menurut Sarwono, (2011) Sectio Caesarian adalah suatu
persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada
dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam
keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram.
B. Anatomi dan Fisiologi
1) Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi
Anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian
yaitu: alat reproduksi wanita bagian dalam yang terletak di dalam rongga
pelvis, dan alat reproduksi wanita bagian luar yang terletak di perineum
(Bobak, 2010).
a. Struktur Eksterna

Gambar. 2.1 Sumber (Wijayanti, 2009)


b. Vulva adalah penutup atau pembungkus yang berbentuk lonjong,
berukuran panjang, mulai klitoris, kanan kiri dibatasi bibir kecil
sampai ke belakang dibatasi perineum.
c. Mons Pubis atau mons veneris merupakan jaringan lemak subkutan
berbentuk bulat yang lunak dan padat serta merupakan jaringan ikat
jarang di atas simfisis pubis.
d. Labia Mayora adalah dua lipatan kulit panjang melengkung yang
menutupi lemak dan jaringan kulit yang menyatu dengan mons pubis.
e. Labia Minora terletak diantara dua labia mayora merupakan lipatan
kulit yang panjang, sempit, tidak berambut yang memanjang ke arah
dari bawah klitoris dan menyatu dengan fourchett.
f. Klitoris adalah organ pendek berbentuk silinder dan yang terletak
tepat di bawah arkus pubis. Jumlah pembuluh darah dan persarafan
yang banyak membuat klitoris sangat sensitif terhadap suhu, sentuhan
dan sensasi tekanan.
g. Vestibulum suatu daerah yang berbentuk seperti perahu atau lojong,
terletak di antara labia minora, klitoris dan fourchette.
h. Perineum adalah daerah muskular yang ditutupi kulit antara introitus
vagina dan anus. Perineum membentuk dasar badan perineum.
i. Struktur Interna

Gambar. 2.2 Sumber (Wijayanti, 2009)


a) Ovarium terletak di setiap sisi uterus, di bawah dan di belakang
tuba falopi. Dua ligamen mengikat ovarium pada tempatnya, yakni
bagian mesovarium ligamen lebar uterus, yang memisahkan
ovarium dari sisi dinding pelvis lateral kira-kira setinggi krista
iliaka anterosuperior, dan ligamentum ovarii proprium, yang
mengikat ovarium ke uterus.
b) Tuba Falopii , sepasang tuba fallopi melekat pada fundus uterus.
Tuba ini memanjang ke arah lateral, mencapai ujung bebas
legamen lebar dan berlekuk-lekuk mengelilingi setiap ovarium.
c) Uterus adalah organ berdinding tebal, muskular, pipih, cekung
yang tampak mirip buah pir yang terbalik. Uterus terdiri dari tiga
bagian, fundus, korpus dan istmus. Vagina adalah suatu tuba
berdinding tipis yang dapat melipat dan mampu meregang secara
luas. Mukosa vagina berespon dengan cepat terhadap stimulai
esterogen dan progesteron.
2) Anatomi Fisiologi Kulit & Abdomen
a. Lapisan Epidermis : Epidermis atau lapisan luar, terutama terdiri dari
epitel skuamosa bertingkat. Lapisan luar terdiri dari keratin, protein
bertanduk, Jaringan ini tidak memiliki pembuluh darah dan selselnya
sangat rapat.
b. Lapisan Dermis : Dermis adalah lapisan yang terdiri dari kolagen
jaringan fibrosa dan elastin. Lapisan yang lebih dalam terletak pada
jaringan subkutan dan fasia, lapisan ini mengandung pembuluh darah,
pembuluh limfe dan saraf.
c. Lapisan Subkutan : Lapisan ini mengandung sejumlah sel lemak,
berisi banyak pembuluh darah dan ujung syaraf. Dalam hubungannya
dengan tindakan Sectio Caesarian, lapisan ini adalah pengikat organ-
organ yang ada di abdomen, khususnya uterus. Organ-organ di
abdomen dilindungi oleh selaput tipis yang disebut peritonium. Dalam
tindakan Sectio Caesarian, sayatan dilakukan dari kulit lapisan terluar
(epidermis) sampai dinding uterus.
d. Fasia : Di bawah kulit fasia superfisialis dibagi menjadi lapisan lemak
yang dangkal, Camper's fasia, dan yang lebih dalam lapisan fibrosa.
Para fasia transversalis dipisahkan dari peritoneum parietalis oleh
variabel lapisan lemak. Fascias adalah lembar jaringan ikat atau
mengikat bersama-sama meliputi struktur tubuh.
e. Otot dinding perut anterior dan lateral : Rectus abdominis meluas dari
bagian depan margo costalis di atas dan pubis di bagian bawah. Otot
itu disilang oleh beberapa pita fibrosa dan berada didalam selubung.
Linea alba adalah pita jaringan yang membentang pada garis tengah
dari procecuss xiphodius sternum ke simpisis pubis, memisahkan
kedua musculus rectus abdominis.
f. Otot dinding perut posterior : Quadrates lumbolus adalah otot pendek
persegi pada bagian belakang abdomen, dari costa keduabelas diatas
ke crista iliaca
C. Etiologi Sectio Caesaria
Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan
menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan
hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan
proses persalinan normal ( Dystasia ).
a) Pada Ibu : disproporsi kepala panggul, disfungsi uterus, distosia
jaringan lunak, plasenta previa dan his lemah / melemah
b) Pada Anak : janin besar, gawat janin, letak lintang dan hydrocephalus
D. Tipe -tipe Sectio Caesaria
Menurut Oxorn & Forte, (2010) tipe – tipe Sectio Caesarian yaitu :
1) Segmen bawah : insisi melintang
Tipe Sectio Caesaria ini memungkinkan abdomen dibuka dan
uterus disingkapkan. Lipatan vesicouterina (bladder flap) yang terletak
dengan sambungan segmen atas dan bawah uterus ditentukan dan disayat
melintang, lipatan ini dilepaskan dari segmen bawah dan bersama-sama
kandung kemih di dorong ke bawah serta ditarik agar tidak menutupi
lapang pandang. Keunungan tipe ini adalah otot tidak dipotong tetatpi
dipisah kesamping sehingga dapat mengurangi perdarahan, kepala janin
biasanya dibawah insisi sehingga mudah di ektraksi. Kerugiannya adalah
apabila segmen bawah belum terbentuk dengan baik, pembedahan
melintang sukar dilakukan.
2) Segmen bawah : insisi membujur
Insisi membujur dibuat dengan skalpel den dilebarkan dengan gunting
tumpul untuk menghindari cedera pada bayi. Keuntungan tipe ini yaitu
dapat memperlebar insisi keatas apabila bayinya besar, pembentukan
segmen bawah jelek, ada malposisi janin seperti letak lintang atau adanya
anomali janin seperti kehamilan kembar yang menyatu. Kerugiannya
adalah perdarahan dari tepi sayatan yang lebih banyak karena
terpotongnya otot.
3) Sectio Caesaria secara klasik
Insisi longitudinal di garis tengah dibuat dengan skalpel ke dalam
dinding anterior uterus dan dilebarkan keatas serta kebawah dengan
gunting berujung tumpul. Indikasi pada tindakan ini bila bayi tercekam
pada letak lintang, kasus placenta previa anterior serta malformasi uterus
tertentu. Kerugiannya perdarahan lebih banyak karena myometrium harus
dipotong, bayi sering diekstraksi bokong dahulu sehingga kemungkinan
aspirasi cairan ketuban lebih besar serta insiden ruptur uteri pada
kehamilan berikutnya lebih tinggi.
4) Sectio Caesaria Extraperitoneal
Pembedahan ini dikerjakan untuk menghindari perlunya histerektomi
pada kasus-kasus yang mengalami infeksi luas dengan mencegah
peritonitis generalisata yang sering bersifat fatal. Tehnik pada prosedur
ini relatif sulit, sering tanpa sengaja masuk kedalam cavum peritoneal
dan insidensi cedera vesica urinaria meningkat.
5) Histerectomi Caesaria
Pembedahan ini merupakan Sectio Caesaria yang dilanjutkan dengan
pengeluaran uterus. Indikasinya adalah perdarahan akibat atonia uteri
setelah terapi konservatif gagal, perdarahan akibat placenta previa dan
abruption placenta, ruptur uteri yang tidak dapat diperbaiki serta kasus
kanker servik dan ovarium.
E. Indikasi Sectio Caesaria
Tindakan Sectio Caesaria dilakukan apabila tidak memungkinkan
dilakukan persalinan pervaginam disebabkan adanya resiko terhadap ibu
atau janin dengan pertimbangan proses persalinan normal yang lama atau
keagagalan dalam proses persalinan normal. Menurut Hartati &
Maryunani, (2015) indikasi persalinan Sectio Caesaria dibagi menjadi :
a. Persalinan atas indikasi gawat ibu :
1) Proses persalinan normal yang lama atau kegagalan dalam proses
persalinan.
2) Kondisi panggul sempit.
3) Plasenta menutupi jalan lahir.
4) Komplikasi preeklampsia.
5) Ketuban Pecah Dini.
6) Bayi besar.
7) Kelainan letak
b. Persalinan atas indikasi gawat janin :
1) Tali pusat menumbung.
2) Infeksi intra partum.
3) Kehamilan kembar.
4) Kehamilan dengan kelainan kongenital.
5) Anomaly janin mislanya hidrosefalus.
F. Patofisiologi
SC merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat diatas
500 gram dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi
dilakukan tindakan ini yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus,
distorsi jaringan lunak, placenta previa, dll untuk ibu. Sedangkan untuk
janin adalah gawat janin (fetal distress). Janin besar dan letak lintang
setelah dilakukan SC ibu akan mengalami adaptasi post partum baik dari
aspek kognitif berupa kurang pengetahuan. Akibat kurang ionformasi dan
dari aspek fisiologis yaitu produk oksitosin yang tidak adekuat akan
mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit, luka dari insisi akan
menjadi post de entris bagi kuman. Oleh karena itu perlu diberikan
antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril. Nyeri adalah salah
utama karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa nyaman.
Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anesthesi bisa
bersifat regional dan umum. Namun anesthesi umum lebih banyak
pengaruhnya terhadap janin maupun ibu anesthesi janin sehingga kadang –
kadang bayi lahir dalam keadaan apnea yang tidak dapat diatasi dengan
mudah. Akibatnya janin bisa mati, sedangkan pengaruhnya anesthesi bayi
ibu sendiri yaitu terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah
banyak yang keluar. Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang
tidak efektif akibat sekret yang berlebihan karena kerja otot nafas silia yang
,meutup. Anesthesi ini juga mempengaruhi saluran pencernaan dengan
menurunkan mobilitas usus.
Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung akan
terjadi proses penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Kemudian
diserap untuk metabolisme sehingga tubuh memperoleh energi. Akibat dari
mortilitas yang menurun maka peristaltik juga menurun. Makanan yang ada
di lambung akan menumpuk dan karena reflek untuk batuk juga menurun.
Maka pasien sangat beresiko terhadap aspirasi sehingga perlu dipasang
pipa endotracheal. Selain itu mortilitas yang menurun juga berakibat pada
perubahan pada eliminasi yaitu konstipasi (Saifuddin, Mansjoer &
Prawirohardjo, 2012).
G. Komplikasi
Komplikasi Sectio Caesaria menurut Oxorn & Forte, (2010) yaitu sebagai
berikut :
1. Perdarahan yang terjadi karena adanya atonia uteri, pelebaran insisi
uterus, kesulitan mengeluarkan plasenta dan hematoma ligamentum
latum.
2. Infeksi Sectio Caesaria bukan hanya terjadi di daerah insisi saja, tetapi
dapat terjadi di daerah lain seperti traktus genitalia, traktus urinaria,
paru-paru dan traktus respiratori atas.
3. Berkurangnya vaskuler bagian atas uterus sehingga dapat
menyebabkan rupture uterus.
4. Ileus dan peritonitis.
H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksan penunjang yang dapat dilakukan untuk Sectio Caesaria yaitu:
1. Laboratorium
2) Hemoglobin atau hematokrit (HB/HT) untuk mengkaji perubahan dari
kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada
pembedahan.
3) Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi.
4) Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah.
5) Urinalisis/kultur urine.
6) Pemeriksaan elektrolit.
7) Pemeriksaan ECG.
8) Amniosentetis terhadap maturitas pari janin sesuai indikasi
G. Penatalaksanaan
1) Pre Op SC
a. Anamnesis : Nama, tanggal lahir, usia, alamat, jumlah anak dan
cara persalinan sebelumnya, hamil, riwayat operasi KPD atau APB
dan alergi obat
b. Pemeriksaan Fisik : KU (TTV), paru, jantung, abdomen (letak
janin, DJJ, plasenta) dan Statis lokilit (VT)
c. Laboratorium : GDA
d. Persiapan Umum : Kaji indikasi, informed consent, pasang infus,
anesthesi konsul dokter, pasang kateter, periksa DJJ pre op SC
2) Post Op SC
a. Perawatan awal
- Letakkan pasien dalam posisi pemulihan
- Periksa kondisi pasien, cek tanda – tanda vital tiap 15 meniit
sekali selama 1 jam pertama, kemudian tiap 30 menit sekali di
jam berikutnya
- Yakinkan jalan nafas bersih dan cukup ventilasi
- Transfusi darah jika diperlukan
- Jika tanda vital dan hematokrit turun walau diberikan transfusi
darah, segera kembalikan ke kamar bedah kemungkinan terjadi
perdarahan pasca bedah
b. Diet
Pemberian cairan infus biasanya dihentikan setelah penderita flatus
lalu di mulailah dengan pemberian minuman dan makanan peroral.
Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh
dilakukan pada 6 – 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air
teh
c. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
- Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 – 10 jam setelah
operasi
- Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur
terlentang sedini mungkin setelah sadar
- Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5
menit
- Kemudian posisi tidur terlentang dapat diubah menjadi posisi
semi fowler
d. Fungsi gastrointestinal
- Jika tindakan tidak berat beri pasien diit cair
- Jika ada tanda infeksi, tunggu bissing usus timbul
- Pemberian infus diteruskan sampai pasien bisa minum dengan
baik
e. Perawatan fungsi kandung kemih
- Jika urin jernih, kateter dilepas 8 jam setelah pembedahan atau
sesudah semalam
- Jika urin tidak jernih berikan kateter terpasang sampai urin jernih
- Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih biarkan kateter
terpasang sampai minimum 7 hari atau urin jernih
f. Pembalutan dan perawtan luka
- Jika pada pembalut luka terjadi perdarahan / keluar cairan tidak
terlalu banyak jangan mengganti pembalut
- Jika pembalut agak kendor, jangan ganti pembalut, tapi beri
plester untuk mengencangkan
- Ganti pembalut dengan cara steril
- Luka harus dijaga agar tetap kering dan bersih
g. Jika masih terdapat perdarahan : Lakukan masage uterus
h. Jika terdapat tanda infeksi, berikan antibiotik kombinasi sampai
pasien bebas demam selama 48 jam
i. Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
j. Obat – obatan lain : Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan
umum penderita dapat diberikan roborancia seperti neurobion vit C
KONSEP DASAR
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian adalah pengumpulan data secara lengkap dan sistematis untuk
dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang
dihadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan
(Purba, 2019).
1. Data Demografi
Mengkaji identitas klien dan pasangan klien yang meliputi : Nama, Umur,
Pendidikan, Pekerjaan, Status Perkawina, Pernikahan, Lama Pernikahan,
Agama, Suku, No. Rekam Medis, Sumber Informasi dan tanggal dilakukan
pengkajian.
2. Stimuli Umum
Pada tahap ini selain Alasan masuk rumah sakit, Riwayat penyakit ibu
sekarang dan Riwayat penyakit yang lalu perlu dikaji, apakah ibu ada
menderita penyakit akut dan kronis. Pada riwayat penyakit keluarga hal
yang perlu dikaji adalah jenis penyakit keturunan serta penyakit penyakit
menular lainnya yang pernah diderita keluarga. Selanjutnya Riwayat
Obsterti dan Gynecologi ibu yang perlu dikaji adalah segala hal yang
berhubungan dengan riwayat menstruasi ibu termasuk menarche.
Dilanjutkan dengan pengkajian terhadap Riwayat ANC, Status obstetric
ibu, Riwayat persalinan yang lalu, Riwayat perkawinan serta Riwayat
pemakaian alat kontrasepsi.
3. First Level Assessment
a. Pengkajian fungsi fisiologis

Pengkajian berhubungan dengan struktur dan fungsi tubuh,

mengidentifikasi sembilan kebutuhan dasar fisiologis yang harus


dipenuhi untuk mempertahankan integritas, terdisir dari 5 kebutuhan

fisiologis dasar dan 4 kebutuhan fisiologis kompleks.

Kesembilan kebutuhan fisiologis tersebut adalah : Oksigenasi, Nutrisi,


Eliminasi, Aktifitas dan istirahat, Keamanan, Sensori, Cairan dan
elektrolit, Fungsi neurologis, Fungsi endokrin.
b. Pengkajian konsep diri

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi konsep diri pasien adalah

dampak penyakit, perubahan akan memberi dampak pada gambaran

diri, ideal diri, moral, etik dan spiritual pasien. Pengkajian difokuskan

pada bagaiman penerimaan pasien terhadap penyakit, terapi yang

dijalani, harapan pasien dan penatalaksanaan selanjutnya serta nilai

yang diyakini terkait dengan penyakit dan terapinya.

c. Pengkajian fungsi peran

Fungsi peran berkaitan dengan pola-pola interaksi seseorang dalam

hubungannya dengan orang lain, bagaimana peran klien dalam

keluarga, adakah energy dan waktu pasien melakukan aktifitas

dirumah, apakah pasien mempunyai pekerjaan tetap, bagaimanan

dampak penyakit saat ini terhadap peran klien, termasuk peran klien

dalam masyarakat.

d. Pengkajian interdependensi

Pengkajian menggambarkan tentang ketergantungan atau hubungan

klien dengan orang terdekat, siapakah orang yang paling bermakna

dalam kehidupannya, sikap memberi dan menerima terhadap

kebutuhan dan aktifitas kemasyarakatan. Kepuasan dan kasih sayang

untuk mencapai integritas suatu hubungan serta keseimbangan antara


ketergantungan dan kemandirian dalam menerima sesuatu untuk

dirinya. Perlu juga dikaji bagaimana pasien memenuhi kebutuhan

interdependensi dalam keterbatasan dan perubahan status kesehatan

yang dialami.

4. Second Level Assesment


Pada tahap ini termasuk pengkajan stimuli yang signifikan terhadap
perubahan perilaku seseorang.

B. Diagnosa Keperawatan
Masalah Keperawatan atau Diagnosa keperawatan merupakan suatu
penilaian klinis mengenai respon klien terhadap masalah kesehatan atau proses
kehidupan yang dialaminya baik yang berlangsung actual maupun potensial.
Diagnosa keperawatan bertujuan mengidentifikasi respon individu, keluarga,
dan komunitas.
Hidayati (2014). Sedangkan menurut Marliana & Hani (2018) dan Tim
Pokja SDKI DPP PPNI (2017) diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus
preeklampsi sebagai berikut:
1. Pre Operatif
1) Nyeri akut berhubungan dengan penekanan syaraf lumbal
2) Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses
pembedahan
2. Intra Operatif
1) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penikatan
secret dan hipersalivasi
2) Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama
jantung
3) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan
3. Post Operatif
1) Hipotermi berhubungan dengan proses perpindahan panas
2) Resiko jatuh berhubungan dengan penurunan fungsi syaraf
C. Intervensi Keperawatan
1. Pre Operatif
a. Nyeri Akut berhubungan dengan penekanan syaraf lumbal

Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan


Masalah Kolaborasi Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri akut NOC : NIC :
berhubungan dengan:  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri secara
- Agen injuri (biologi,  pain control, komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,
kimia, fisik, psikologis),  comfort level durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
kerusakan jaringan Setelah dilakukan tinfakan keperawatan presipitasi
DS: selama …. Pasien tidak mengalami nyeri,  Observasi reaksi nonverbal dari
- Laporan secara verbal dengan kriteria hasil: ketidaknyamanan
DO: - Mampu mengontrol nyeri (tahu  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari
- Posisi untuk menahan penyebab nyeri, mampu dan menemukan dukungan
nyeri menggunakan tehnik nonfarmakologi  Kontrol lingkungan yang dapat
- Tingkah laku berhati- untuk mengurangi nyeri, mencari mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
hati bantuan) pencahayaan dan kebisingan
- Gangguan tidur (mata - Melaporkan bahwa nyeri berkurang  Kurangi faktor presipitasi nyeri
sayu, tampak capek, sulit dengan menggunakan manajemen  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
atau gerakan kacau, nyeri menentukan intervensi
menyeringai) - Mampu mengenali nyeri (skala,  Ajarkan tentang teknik non farmakologi:
- Terfokus pada diri intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) napas dala, relaksasi, distraksi, kompres
sendiri - Menyatakan rasa nyaman setelah hangat/ dingin
- Fokus menyempit nyeri berkurang  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri:
(penurunan persepsi - Tanda vital dalam rentang normal ……...
waktu, kerusakan proses - Tidak mengalami gangguan tidur  Tingkatkan istirahat
berpikir, penurunan  Berikan informasi tentang nyeri seperti
interaksi dengan orang penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
dan lingkungan) berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan
- Tingkah laku distraksi, dari prosedur
contoh : jalan-jalan,  Monitor vital sign sebelum dan sesudah
menemui orang lain pemberian analgesik pertama kali
dan/atau aktivitas,
aktivitas berulang-ulang)
- Respon autonom (seperti
diaphoresis, perubahan
tekanan darah, perubahan
nafas, nadi dan dilatasi
pupil)
- Perubahan autonomic
dalam tonus otot
(mungkin dalam rentang
dari lemah ke kaku)
- Tingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum

b. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang pembedahan


Rencana Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan

NOC NIC
 Anxiety self-control Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
 Anxiety level
 Gunakan pendekatan yang menenangkan
 Coping
 Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien
 Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama
Kriteria Hasil : prosedur
 Pahami prespektif pasien terhadap situasi stres
 Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala
 Temani pasien untuk memberikan keamanan dan
cemas.
mengurangi takut
 Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan  Dorong keluarga untuk menemani anak
tehnik untuk mengontol cemas.  Lakukan back / neck rub
 Vital sign dalam batas normal.  Dengarkan dengan penuh perhatian
 Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat  Identifikasi tingkat kecemasan
aktivfitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.  Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan
kecemasan
 Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan,
persepsi
 Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
 Berikan obat untuk mengurangi kecemasan

2. Intra Operatif
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan secret dan hipersalivasi
Rencana Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan

NOC NIC
 Respiratory status : Ventilation Airway suction
 Respiratory status : Airway patency
 Pastikan kebutuhan oral/tracheal suctioning
 Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning.
Kriteria Hasil : Airway Management
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang  Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila
bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu perlu
mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah,  Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
tidak ada pursed lips)  Pasang mayo bila perlu
 Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam  Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)  Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
 Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang  Lakukan suction pada mayo
dapat menghambat jalan nafas  Berikan bronkodilator bila perlu
 Monitor respirasi dan status O2

b. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung


Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan
NOC NIC
 Cardiac Pump effectiveness Cardiac Care
 Circulation Status
 Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas, lokasi, durasi)
 Vital Sign Status
 Catat adanya disritmia jantung
 Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac output
Kriteria Hasil :  Monitor status kardiovaskuler
 Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung
 Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi,
 Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi
respirasi)
 Monitor balance cairan
 Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan
 Monitor adanya perubahan tekanan darah
 Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites
 Tidak ada penurunan kesadaran  Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu
 Anjurkan untuk menurunkan stress
Vital Sign Monitoring
 Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
 Catat adanya fluktuasi tekanan darah

3. Post operatif
a. Hipotermi berhubungan dengan proses perpindahan panas
Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan
NOC NIC
 Thermoregulation Temperature regulation
 Thermoregulation : neonate
 Monitor suhu minimal tiap 2 jam
 Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
Kriteria Hasil :  Monitor TD, nadi, dan RR
 Monitor warna dan suhu kulit
 Suhu tubuh dalam rentang normal
 Nadi dan RR dalam rentang normal  Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi
 Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
 Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan
tubuh

b. Resiko Jatuh berhubungan dengan penurunan fungsi syaraf

Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan
NOC NIC
 Trauma Risk For Fall Prevention
 Injury risk for
Kriteria Hasil :
 Mengidentifikasi defisit kognitif atau fisik pasien yang dapat
 Keseimbangan : kemampuan untuk mempertahankan meningkatkan potensi jatuh dalam lingkungan tertentu
ekuilibrium Mengidentifikasi perilaku dan faktor yang mempengaruhi
 Gerakan terkoordinasi : kemampuan otot untuk bekerja sama risiko jatuh
secara volunter untuk melakukan gerakan yang bertujuan  Mengidentifikasi karakteristik lingkungan yang dapat
 Perilaku pencegahan jatuh : tindakan individu atau pemberi meningkatkan potensi untuk jatuh (misalnya, lantai yang
asuhan untuk meminimalkan faktor resiko yang dapat licin dan tangga terbuka)
memicu jatuh dilingkungan individu  Sarankan perubahan dalam gaya berjalan kepada pasien
 Kejadian jatuh : tidak ada kejadian jatuh  Mendorong pasien untuk menggunakan tongkat atau alat
 Pengetahuan : pemahaman pencegahan jatuh pembantu berjalan
 Pengetahuan : keselamatan anak fisik  Kunci roda dari kursi roda, tempat tidur, atau brankar
 Pengetahuan : keamanan pribadi selama transfer pasien
 Pelanggaran perlindungan tingkat kebingungan Akut  Tempat artikel mudah dijangkau dari pasien
 Tingkat Agitas  Ajarkan pasien bagaimana jatuh untuk meminimalkan
 Komunitas pengendalian risiko : Kekerasan cedera
 Komunitas tingkat kekerasan  Memantau kemampuan untuk mentransfer dari tempat tidur
 Gerakan Terkoordinasi ke kursi dan demikian pula sebaliknya
 Kecenderungan risiko pelarian untuk kawin  Gunakan teknik yang tepat untuk mentransfer pasien ke dan
 Kejadian Terjun dari kursi roda, tempat tidur, toilet, dan Sebagainya
 Mengasuh keselamatan fisik remaja  Menyediakan kursi dari ketinggian yang tepat, dengan
 Mengasuh : bayi / balita keselamatan fisik sandaran dan sandaran tangan untuk memudahkan transfer
 Perilaku Keselamatan pribadi  Menyediakan tempat tidur kasur dengan tepi yang erat untuk
 Keparahan cedera fisik memudahkan transfer
 Pengendalian risiko
 Pengendalian risiko : penggunaan alkohol, narkoba
 Pengendahan risiko: pencahayaan sinar matahari
D. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang
dihadapi ke status kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria
hasil yang diharapkan (Potter & Perry, 2011). Kegiatan dalam pelaksanaan
juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon klien
selama dan sesudah pelaksaan tindakan, serta menilai data yang baru.
E. Evaluasi
Evaluasi, yaitu penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil menentukan
seberapa jauh keberhasilan yang dicapai sebagai keluaran dari tindakan.
Penilaian proses menentukan apakah ada kekeliruan dari setiap tahapan proses
mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, tindakan, dan evaluasi itu
sendiri (Purba, 2019) Pada tahap ini, hal yang dilakukan adalah
membandingkan tingkah laku klien sebelum dan sesudah implementasi. Hal ini
terkait kemampuan klien dengan preeklampsia primigravida dalam beradaptasi
dan mencegah timbulnya kembali masalah yang pernah dialami. Pada klien
preeklampsia multigravida dapat mengevaluasi kemampuan masalah adaptasi
yang pernah dialami, kemampuan adaptasi ini meliputi seluruh aspek baik
psiko maupun social (Hidayati, 2014).
DAFTAR PUSTAKA

Damayanti, Ika Putri, dkk. 2016. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Komprehensip
Pada Ibu Bersalin Dan Bayi Baru Lahir. Yogyakarta: Deepublish.
Depkes RI. 2015. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan
pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.
Diponegoro, A. M., & Hastuti, S. B. (2012). Pengaruh dukungan suami terhadap
lama persalinan kala II pada ibu primipara. HUMANITAS (Jurnal
Psikologi Indonesia), 6(2), 123- 135.
Ikke, N. S. (2018). Asuhan Kebidanan Contuinity Of Care Pada Ny M Pada Masa
Hamil Sampai Dengan Keluarga Berencana Di Pmb Ny Muryati [Link].
[Link]
Indriyani, Diyan & Asmuji. 2014. Buku Ajar Keperawatan Maternitas.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Talo, I. M. (2018). Asuhan keperawatan Intra Natal Care Pada Ny. S Di
Puskesmas Bakunase Kota Kupang. Poltekkes Kemenkes Kupang, 15(2).
[Link]
Abiee. (2012). Askep Maternitas. Retrieved from
[Link]
asuhankeperawatan-pada-pasien-dengan-preeklampsia/
Agustina, L. (2018). Asuhan Keperawatan Ny.M Post SC Indikasi PEB Di RSUD
Bangil Pasuruan. Retrieved from
[Link]
[Link].
Andriyani, R. (2012). Faktor Risiko Kejadian Pre-Eklampsia di RSUD Arifin
Achmad. Jurnal Kesehatan Komunitas.
[Link]
Anggraeni, D. (2011). Asuha Pada Bayi Baru Lahir. 7–33.
Bobak. (2010). Konsep Post Partum. Post Partum, 3(2), 9–16. Retrieved from
[Link]
[Link]
Faiqoh, E. (2014). Hubungan karakteristik ibu, anc dan kepatuhan perawatan ibu
hamil dengan terjadinya preeklampsia. Jurnal Berkala Epidemiologi.
Hartati & Maryunani. (2015). Konsep Asuhan Persalinan Sectio Caesarian.
Retrieved from [Link] 15 [Link]
Hidayati, R. (2014). Aplikasi Teori Adaptasi Dalam Asuhan Keperawatan.
Retrieved from [Link]
SPRahma [Link]
Indah, R. (2010). Konsep dasar asuhan Neonatus, bayi & balita.
Khairani, Y. (2020). Penatalaksanaan Pre eklampsia. Retrieved from
http/[Link] website:
[Link]
preeklampsia/penatalaksanaan
Kumalasari, I. (2014). Modul Bahan Ajar Asuhan Bayi Baru Lahir. (November),
1–116.
Kurniasari, D. (2015). Hubungan Usia , Paritas Dan Diabetes Mellitus Pada
Kehamilan Dengan Kejadian Preeklamsia Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja
Puskesmas Rumbia Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2014. Jurnal
Kesehatan Holistik. [Link]
9101(1996)19:1<23::AID-LSM4>[Link];2-S
Lisa Margareta. (2017). Konsep Dasar Post Partum. 163
Marianti. (2017). Alodokter - Preeclampsia. Retrieved from
[Link]
Marliana & Hani, T. (2018). WOC Preeklampsi. Retrieved from
[Link]
PathwayPreeklamsi-doc
Maryunani, A. (2016). Manajemen Kebidanan. Jakarta.
Nur Salam. (2013). Proses Keperawatan. Retrieved from
[Link]/images/Proses_kep.doc
Nuraini, A. (2011). Pre Eclampsia. Retrieved from
[Link] Nur Ariani BAB [Link]
Oxorn & Forte. (2010). Patologi & Fisiologi Persalinan. Retrieved from
[Link]
id=SsWCb5msUMC&printsec=frontcover&dq=oxorn+
%26+forte+2010&hl=id&sa=X&ve d=0
ahUKEwj20O2kqqPoAhU0huYKHVHsDq0Q6AEIQDAD#v=onepage&
q=oxorn %26 forte 2010&f=false
POGI. (2016). PNPK Pre Eklamsi. Retrieved from
[Link]
Pratiwi, W. (2017). Asuhan Keperawatan Pre Eklampsi. Retrieved from
[Link]
Purba, M. A. (2019). Konsep Dasar Asuhan Keperawatan.
[Link]
Putri, M. (2018). Asuhan Keperawatan Pada Ny. E Post SC Indikasi PEB.
Retrieved from [Link] MAYLISA
[Link]
Rakhman, S. (2014). Teori Keperawatan Menurut Calista Roy. Retrieved from
[Link]
SisterCalista-Roy-Fon3
Rusniati, H. (2017). Tindakan Keperawatan Post Partum Normal dan Adaptasi
Fisiologi Pada Ibu Postpartum Di Rumah Sakit Aceh. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Fakultas Keperawatan.
Sarwono. (2011). Konsep Dasar Sectio Caesarian. Retrieved from
[Link] LUPITA SARI BAB [Link]
Setyaningrum, W. (2015). Asuhan Keperawatan Post Partum. 9–58.
Suherni. (2009). Asuhan Post Partum. 7–37.
Sukarni, I. (2017). Patologi Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Neonatus Resiko

Anda mungkin juga menyukai