0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan23 halaman

Diagnostik Kesulitan Matematika SD

Dokumen ini membahas tentang pengembangan instrumen diagnosis kesulitan belajar matematika siswa. Dokumen ini juga membahas mengenai proses belajar mengajar matematika dan evaluasi pembelajaran matematika.

Diunggah oleh

monalisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan23 halaman

Diagnostik Kesulitan Matematika SD

Dokumen ini membahas tentang pengembangan instrumen diagnosis kesulitan belajar matematika siswa. Dokumen ini juga membahas mengenai proses belajar mengajar matematika dan evaluasi pembelajaran matematika.

Diunggah oleh

monalisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Kerangka Konseptual

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui langkah-langkah


mengembangkan instrumen diagnosis kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal
matematika. Instrumen yang digunakan dalam mendiagnosis kesulitan belajar
tersebut berupa tes diagnostik. Penggunaan tes diagnostik ini diharapkan dapat
mempermudah dalam penanganan siswa yang mengalami kesulitan sebelum
melanjutkan ke pembelajaran berikutnya. Keterkaitan ini dapat dirumuskan
dengan kerangka konseptual penelitian.

Gambar 1. Kerangka Konseptual

7
2.2. Tujuan Pembelajaran Matematika SD

Pembelajaran matematika pada tingkat Sekolah Dasar memiliki tujuan


agar siswa dapat memiliki kemampuan antara lain: (1) Memahami konsep
matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep
atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
(2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan
gagasan dan pernyataan matematika (3) Memecahkan masalah yang meliputi
kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan
model dan menafsirkan solusi yang diperoleh (4) Mengomunikasikan gagasan
dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau
masalah (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan,
yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari
matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Selain
tujuan umum tersebut pembelajaran matematika di Sekolah Dasar memiliki tujuan
yang khusus yaitu: (1) menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan
berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari, (2)
menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialihgunakan, melalui kegiatan
matematika, (3) mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal
belajar lebih lanjut di Sekolah Menengah Pertama, (4) membentuk sikap logis,
kritis, cermat, kreatif dan disiplin ([Link], 2011).
Matematika sangat berguna sekali pada siswa Sekolah Dasar untuk
mengembangkan proses berfikir mereka mulai dari hal-hal yang sederhana sampai
dengan hal-hal yang rumit. Membelajarkan matematika di sekolah dasar
hendaknya guru menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Belajar
matematika akan lebih bermakna apabila peserta didik mengalami sendiri apa
yang dipelajarinya. Sehingga tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar
dapat diartikan yaitu agar siswa terampil dalam menggunakan berbagai konsep
matematika dalam kehidupan sehari-hari.

8
2.3. Proses Belajar Mengajar

2.3.1. Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan berasal dari kata “rencana” yang dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia memiliki arti “rancangan; buram (rangka sesuatu yang akan
dikerjakan)”, sedangkan perencanaan memiliki arti “proses, cara, perbuatan
merencanakan (merancangkan)”. Sedangkan pengajaran dapat diartikan sebagai
suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu dan
mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar. Dengan kata lain
pengajaran adalah suatu cara bagaimana menyiapkan pengalaman belajar bagi
peserta didik. Menurut Ibrahim (dalam Saripah, 2012) perencanaan pengajaran
mencakup kegiatan merumuskan tujuan apa yang ingin dicapai oleh suatu
kegiatan pengajaran, cara apa yang akan dipakai untuk menilai pencapaian
tujuan tersebut, materi/bahan apa yang akan disampaikan, bagaimana cara
menyampaikannya, alat atau media apa yang diperlukan. Jadi, perencanaan
pembelajaran merupakan proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah-
langkah tertentu baik berupa penyusunan materi pengajaran, penggunaan media,
maupun model pembelajaran lainnya yang dimaksudkan agar pelaksanaannya
berjalan optimal.
Dalam merencanakan pembelajaran sudah pasti seorang pengajar
mempersiapkan perangkat-perangkat pembelajarannya, karena perangkat
pembelajaran tersebut salah satu wujud persiapan seorang pengajar sebelum
melaksanakan proses belajar-mengajar. Seperti yang diungkapkan oleh Subrata
(2009) perangkat pembelajaran adalah salah satu wujud persiapan yang dilakukan
oleh guru sebelum mereka melakukan proses pembelajaran. Perangkat
pembelajaran yang diperlukan dalam mengelola proses belajar mengajar dapat
berupa: buku siswa, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
instrument evaluasi atau Tes Hasil belajar (THB), serta media pembelajaran
(Trianto, 2007).

9
2.3.2. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran adalah proses yang diatur sedemikian rupa


menurut langkah-langkah tertentu agar pelaksanaan mencapai hasil yang
diharapkan (Sudjana, 2010). Menurut Bahri dan Zain (2010) pelaksanaan
pembelajaran adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif, nilai edukatif
mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan siswa. Interaksi yang bernilai
edukatif dikarenakan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan diarahkan untuk
mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pelaksanaan
pembelajaran dimulai.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru melakukan beberapa tahap
pelaksanaan pembelajaran antara lain:
a. Membuka pelajaran
Kegiatan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh
guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan siswa
siap secara mental untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan ini
guru harus memperhatikan dan memenuhi kebutuhan siswa serta menunjukan
adanya kepedulian yang besar terhadap keberadaan siswa. Dalam membuka
pelajaran guru biasanya membuka dengan salam dan presensi siswa, dan
menanyakan tentang materi sebelumnya.
Tujuan membuka pelajaran adalah: 1) Menimbulkan perhatian dan
memotifasi siswa; 2) Menginformasikan cakupan materi yang akan dipelajari
dan batasan-batasan tugas yang akan dikerjakan siswa; 3) Memberikan
gambaran mengenai metode atau pendekatan-pendekatan yang akan
digunakan maupun kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan siswa; 4)
Melakukan apersepsi, yakni mengaitkan materi yang telah dipelajari dengan
materi yang akan dipelajari; 5) Mengaitkan peristiwa aktual dengan materi
baru.
b. Menyampaikan Materi Pembelajaran
Penyampaian materi pembelajaran merupakan inti dari suatu proses
pelaksanaan pembelajaran. Dalam penyampaian materi guru menyampaikan

10
materi berurutan dari materi yang paling mudah terlebih dahulu, untuk
memaksimalakan penerimaan siswa terhadap materi yang disampaikan guru
maka guru menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan materi dan
menggunakan media sebagai alat bantu penyampaian materi pembelajaran.

Tujuan penyampaian materi pembelajaran adalah: 1) Membantu siswa


memahami dengan jelas semua permasalahan dalam kegiatan pembelajaran;
2) Membantu siswa untuk memahami suatu konsep atau dalil; 3) Melibatkan
siswa untuk berpikir; 4) Memahami tingkat pemahaman siswa dalam
menerima pembelajaran.
c. Menutup Pembelajaran
Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru
untuk mengahiri kegiatan inti pembelajaran. Dalam kegiatan ini guru
melakukan evaluasi terhadap materi yang telah disampaikan. Tujuan kegiatan
menutup pelajaran adalah: 1) Mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam
mempelajari materi pembelajaran; 2) Mengetahui tingkat keberhasilan guru
dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran; 3) Membuat rantai kompetensi
antara materi sekarang dengan materi yang akandatang.
Bardasarkan beberapa pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pelaksanaan pembelajaran adalah berlangsungnya proses interaksi siswa dengan
guru pada suatu lingkungan belajar.

2.3.3. Evaluasi Pembelajaran

Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran, dan


pengukuran bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil suatu keputusan
terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk, dan penilaian bersifat kualitatif.
Sedangkan evaluasi meliputi kedua langkah tersebut, meskipun dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia evaluasi memiliki arti penilaian. Evaluasi pembelajaran
adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteria-judgment atau
tindakan dalam pembelajaran (Oktaviandy, 2012). Penilaian sendiri memiliki
fungsi antara lain (Arikonto, 2009):

11
a. Penilaian berfungsi selektif
b. Penilaian berfungsi diagnostik
c. Penilaian berfungsi sebagai penempatan
d. Penilaian berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan.
Kedudukan evaluasi ditinjau dari segi waktu pelaksanaannya terdiri dari 3
jenis, yaitu sebelum, selama, dan sesudah kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung dapat dilaksanakan evaluasi
terhadap pencapaian hasil belajar, baik secara individu maupun kelompok.

2.4. Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar merupakan sesuatu yang hampir sering dialami oleh


siswa dan tak hanya dialami oleh siswa yang berkemapuan di bawah rata-rata
melainkan semua tingkatan kemampuan. Ada berbagai definisi dan pengertian
kesulitan/gangguan belajar antara lain (GrowUp Clinic, 2012)
(a) National Joint Comitte on Learning Disabilities (NJCLD) mengeluarkan
definisi tentang kesulitan belajar adalah: “Kesulitan belajar adalah istilah
generik (umum atau lazim) yang merupakan kelompok kelainan yang
heterogen yang termanifestasi sebagai kesulitan yang bermakna dalam
memperoleh dan menggunakan kemampuan untuk mendengarkan, berbicara,
menulis, mengeluarkan pendapat dan matematika. Kelainan lain adalah
intrinsik dari individu dan disebabkan karena disfungsi sistem syaraf pusat.
Kesulitan belajar ini dapat menyertai kelainan lain seperti kelainan sensoris,
retardasi mental, kelainan sosial dan emosional atau pengaruh lingkungan
(seperti perbedaan budaya, atau intruksi yang salah dan fakor psikolinguistik),
tapi bukan akibat langsung dari kelainan atau pengaruh tersebut”.
(b) The United States Of Education (USOE) mengeluarkan definisi gangguan
belajar yang dikenal dengan Public Law (PL), yang hampir identik dengan
definisi yang dikemukakan oleh National Advisory Committee on
Handicapped Children. Definisi itu adalah sebagai berikut: “Kesulitann
belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses
psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran

12
atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam mengeja,
atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan
perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan
tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problema belajar yang
penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan,
pendengaran, atau cacat tubuh, hambatan karena retardasi mental, gangguan
emosional, atau kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi”.
(c) The Board of the Association for Children and Adult with Learning
Disabilities (ACALD) juga mengemukakan definisi kesulitan belajar sebagai
berikut: “Kesulitan belajar adalah suatu kondisi yang diduga bersumber
neurologis yang secara selektif mengganggu perkembangan, integrasi, dan
atau kemampuan verbal dan atau non verbal. Kesulitan belajar tampil sebagai
suatu kondisi ketidakmampuan yang nyata pada orang-orang yang memiliki
sistem sensoris yang cukup dan kesempatan untuk belajar yang cukup pula.
Berbagai kondisi tersebut bervariasi dalam perwujudan dan derajatnya.
Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap harga diri, pendidikan,
pekerjaan, sosialisasi, dan atau aktivitas kehidupan sehari-hari sepanjang
kehidupan”.
(d) Learning Disorder atau kekacauan belajar merupakan keadaan dimana proses
belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.
Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak
dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya
respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya
lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh: siswa yang sudah terbiasa
dengan olahraga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan
mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-
gemulai.
(e) Learning Disfunction merupakan gejala di mana proses belajar yang
dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa
tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat
indera, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh: siswa yang yang memiliki

13
postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley,
namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat
menguasai permainan volley dengan baik.
(f) Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat
potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya
tergolong rendah. Contoh: siswa yang telah dites kecerdasannya dan
menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140),
namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
(g) Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses
belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan
sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
(h) Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala
dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil
belajar di bawah potensi intelektualnya.
Dari berbagai pengertian yang tertuang di atas maka dapat diambil benang merah
bahwa kesulitan belajar ialah hambatan/ganguan yang dialami seseorang yang
dapat bersumber dari beberapa faktor biasanya tampak jelas dari menurunnya
kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Para guru umumnya memandang
semua siswa yang memperoleh prestasi belajar rendah disebut siswa berkesulitan
belajar (Abdurrahman, 2009). Menurut Abdurrahman, kesulitan belajar dapat
diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu (1) kesulitan belajar yang
berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities) dan (2)
kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities).
Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup
gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan
kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial. Kesulitan belajar yang
berhubungan dengan perkembangan umumnya sukar diketahui dikarenakan tidak
adanya pengukuran-pengukuran yang sistematik. Namun, kesulitan belajar yang
berhubungan dengan perkembangan sering tampak sebagai kesulitan belajar yang
disebabkan oleh tidak dikuasainya keterampilan prasyarat. Sedangkan kesulitan
belajar akademik menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi

14
akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan
tersebut mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis, dan/atau
matematika. Berbeda dengan kesulitan belajar yang berhubungan dengan
perkembangan, kesulitan belajar akademik dapat diketahui ketika anak gagal
menampilkan salah satu atau beberapa kemampuan akademik.
Kesulitan belajar matematika disebut juga diskalkulia (dyscalculis).
Menurut Kirk (dalam Abdurrahman, 2009) kesulitan belajar yang berat disebut
akalkulia (acalculia). Ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar
matematika menurut Lerner (dalam Abdurahman), yaitu: (1) adanya gangguan
dalam hubungan keruangan; (2) abnormalitas persepsi visual; (3) asosiasi visual-
motor; (4) perseverasi; (5) kesulitan mengenal dan memahami simbol; (6)
gangguan penghayatan tubuh; (7) kesulitan dalam bahasa dan membaca; dan (8)
performance IQ jauh lebih rendah daripada sekor Verbal IQ.
Kesulitan siswa juga dapat terlihat dari kesalahan-kesalahan siswa dalam
mengerjakan soal. Seperti yang telah di ungkapkan oleh M. Novan Fithrianto
(2013) pada penelitiannya, dan hasil penelitian yang dilakukannya antara lain:
a. Kesulitan siswa dikelompokkan sesuai kategori kesulitan, yaitu;
1) siswa cenderung kesulitan dalam konseptual dan prosedural pada semua
soal tes,
2) kesulitan prosedural yang sering terjadi adalah kesulitan dalam melakukan
operasi hitung, dan
3) siswa yang kesulitan konseptual tidak selalu melakukan kesulitan pada
prosedural.
b. Faktor penyebabnya, antara lain;
1) melakukan perkalian silang dengan diikuti melakukan penjumlahan,
2) kurang teliti dalam melakukan perkalian,
3) tidak mampu mengubah suatu konstanta menjadi sebuah pecahan,
4) siswa masih kurang diberikan latihan-latihan soal.
Nur Indah Ekasari (2012) pada penelitiannya juga menyimpulkan kesalahan-
kesalahan yang dilakukan siswa dan faktor penyebabnya. Berikut hasil dari
penelitiannya:

15
a. kesalahan yang dilakukan siswa, antara lain;
1) kesalahan membaca,
2) kesalahan memahami soal,
3) kesalahan transformasi,
4) kesalahan keterampilan proses,
5) kesalahan pada tahap penulisan jawaban.
b. Faktor penyebabnya, antara lain;
1) Siswa merasa soal perbandingan terlalu sulit,
2) Siswa tidak teliti dalam membaca soal,
3) Siswa masih sulit memahami kalimat pada soal cerita,
4) Siswa masih bingung dengan konsep perbandingan dan skala,
5) Siswa terbiasa menyingkat jawaban,
6) Siswa kurang teliti dalam melakukan perhitungan,
7) Siswa melakukan pada tahap-tahap sebelumnya, dan
8) Siswa tidak memeriksa kembali hasil pekerjaannya.
Dari kesulitan-kesulitan yang diungkapkan di atas, maka dapat dikatakan bahwa
siswa masih kesulitan dalam memahami konsep dari pecahan.
Sejalan dengan penelitian di atas, Lerner (dalam Abdurrahman, 2009) juga
mengungkapkan beberapa kekeliruan umum yang dilakukan oleh anak
berkesulitan belajar matematika. Beberapa kekeliruan tersebut menurut Lerner
adalah kekurangan pemahaman tentang simbol, nilai tempat, perhitungan,
penggunaan proses yang keliru, dan tulisan yang tidak terbaca.

2.5 Diagnosis Kesulitan Belajar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diagnosis mempunyai arti (1)


penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya. (2)
pemeriksaan terhadap suatu hal. Sedang menurut Thorndike dan Hagen (dalam
Haryadi, 2014), diagnosis dapat diartikan sebagai:
1. Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness,disease)
apa yang dialam seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama
mengenai gejala-gejalanya (symtoms);

16
2. Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan
karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial;
3. Keputusan yang dicapai setelah dilakukuan suatu studi yang seksama atas
gejala-gejala atau fakta-fakta tentang suatu hal.
Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses diagnosis
bukan hanya sekadar mengidentifikasi jenis dan karakteristik, serta latar belakang
dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan
suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan
pemecahannya.

DOKTER GURU

Diagnosis Tes Diagnostik

Terapi Bantuan

Gambar 2. Analogi Dokter dan Guru

Dari gambar di atas guru dianalogikan seperti layaknya dokter yang


menangani pasien yang sakit dan memberi terapi pengobatannya. Dalam dunia
kedokteran, sebelum menentukan penyakit dan obat yang tepat untuk
menyembuhkannya, seorang dokter akan melakukan pemeriksaan dengan teliti,
misalnya: memeriksa denyut nadi, suara napas, refleks lutut, refleks pupil mata,
urine, darah, dan sebagainya. Pemeriksaan awal seperti ini disebut mendiagnosis,
sedangkan mengobati disebut terapi. Demikian juga seorang guru terhadap
siswanya. Sebelum dapat memberikan bantuan dengan tepat, guru harus
memberikan tes diagnostik. Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan
belajar sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan
jenis dan sifat kesulitan belajar. Juga mempelajari faktor-faktor yang
menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan kemungkinan
mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif
(pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang seobyektif mungkin.

17
Dengan demikian, semua kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk
menemukan kesulitan belajar termasuk kegiatan diagnosa. Perlunya diadakan
diagnosis belajar karena berbagai hal. Pertama, setiap siswa hendaknya mendapat
kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara maksimal, kedua; adanya
perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat, minat dan latar belakang lingkungan
masing-masing siswa. Ketiga, sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberi
kesempatan pada siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya. Dan, keempat,
untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh siswa, hendaknya guru
beserta BP lebih intensif dalam menangani siswa dengan menambah pengetahuan,
sikap yang terbuka dan mengasah keterampilan dalam mengidentifikasi kesulitan
belajar siswa.
Menurut Rosss dan Stanley (dalam Amiruddin, 2012), tahapan-tahapan
diagnosis kesulitan belajar adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan
sebagai berikut.
a. Who are the pupils having trouble? (Siapa siswa yang mengalami gangguan?)
b. Where are the errors located?(Di manakah kelemahan-kelemahan tersebut
dapat dilokalisasikan?)
c. Why are the errors occur?(Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi?)
d. What are remedies are suggested? (Penyembuhan apa saja yang disarankan?)
e. How can errors be prevented? (Bagaimana kelemahan-kelemahan itu dapat
dicegah?)
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menunjukkan langkah-langkah
diagnosis kesulitan belajar sebagai berikut:

1. Identifikasi Kasus: menentukan siswa yang diduga mengalami kesulitan


belajar

2. Identifikasi Masalah: menentukan atau melokalisasikan pada bidang studi apa


dan pada aspek mana siswa tersebut mengalami kesulitan
3. Identifikasi Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
4. Prognosis/Diagnosis
Pada langkah ini, dapat menyimpulkan tentang:

18
a. Apakah siswa masih dapat ditolong untuk dapat mengatasi kesulitan
belajarnya atau tidak?
b. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang
dialami siswa tersebut?
c. Kapan dan di mana pertolongan itu dapat diberikan?
d. Siapa yang dapat memberikan pertolongan?
e. Bagaimana caranya agar siswa dapat ditolong secara efektif?
f. Siapa sajakah yang perlu dilibatkan atau disertakan dalam membantu
siswa tersebut, dan apakah peranan atau sumbangan yang dapat
diberikan masing-masing pihak dalam menolong siswa tersebut?
5. Referal: menyusun suatu rencana atau alternatif bantuan yang akan
dilaksanakan.
Ada beberapa sumber atau faktor yang patut diduga sebagai penyebab
utama kesulitan belajar siswa. Sumber itu dapat berasal dari dalam diri siswa
sendiri maupun dari luar diri siswa. Dari dalam diri siswa dapat disebabkan oleh
faktor biologis maupun psikologis. Dari luar diri siswa, kesulitan belajar dapat
bersumber dari keluarga (pendidikan orang tua, hubungan dengan keluarga,
keteladanan keluarga dan sebagainya), keadaan lingkungan dan masyarakat secara
umum. Kesulitan belajar tidak dialami hanya oleh siswa yang berkemampuan
dibawah rata-rata atau yang dikenal sungguh memiliki learning difficulties, tetapi
dapat dialami oleh siswa dengan tingkat kemampuan manapun dari kalangan atau
kelompok manapun.
Menurut Widdiharto (2008) yang mengutip Brueckner dan Bond, Cooney,
Davis, dan Henderson mengelompokkan sumber kesulitan itu menjadi lima faktor,
yaitu:
a. Faktor Fisiologis
Kesulitan belajar siswa dapat ditimbulkan oleh faktor fisiologis. Hal ini
antara lain siswa yang mempunyai gangguan penglihatan, siswa yang mempunyai
gangguan pendengaran, siswa yang mempunyai gangguan neurologis (sistem
syaraf). Umumnya guru matematika tidak memiliki kemampuan atau kompetensi
yang memadai untuk mengatasi dalam hubungannya dengan faktor-faktor

19
fisiologis. Hambatan belajar tersebut hendaknya diatasi melalui kerjasama dengan
pihak yang memiliki kompetensi sehingga dapat menanganinya lebih baik.
b. Faktor Sosial
Hubungan orang tua dengan anak, dan tingkat kepedulian orang tua
tentang masalah belajarnya di sekolah, merupakan faktor yang dapat memberikan
kemudahan, atau sebaliknya menjadi faktor kendala bahkan penambah kesulitan
belajar siswa. Termasuk dapat memberikan kemudahan antara lain: kasih sayang,
pengertian, dan perhatian atau kepedulian. Di samping itu ekonomipun merupakan
faktor, baik positif maupun negatif. Faktor sosial di dalam dan di luar kelas dalam
lingkungan sekolah juga berpengaruh terhadap kelancaran atau kesulitan belajar
siswa. Siswa yang kurang dapat bergaul atau menyesuaikan dengan situasi kelas
oleh berbagai sebab yang menyebabkan ia merasa terpencil, terhina atau
senantiasa menjadi bahan ejekan atau olokan, merupakan faktor penghambat,
meskipun bagi sebagian siswa yang biasa mengatasi masalah hal itu dapat
digunakan sebagai pemacu untuk menunjukkan eksistensinya. Interaksi antar
siswa yang kurang dibiasakan dalam kegiatan di kelas dapat menyebabkan
masalah sosial. Anak yang merasa kurang semakin menyendiri, sebaliknya dengan
kebiasaan lainnya di rumah ia dapat mengalihkannya dengan minta perhatian
guru. Secara umum siswa yang terlalu tertutup atau terlalu terbuka mungkin
adalah siswa yang mengalami masalah sosial di rumah atau tekanan dari teman
atau mungkin orang tuanya. Jadi lingkungan belajar di sekolah juga merupakan
salah satu faktor sosial kesulitan belajar siswa. Masalahnya perlu dikaji dan
penyelesaiannya mungkin memerlukan bantuan wali kelas, guru bimbingan atau
pihak luar yang lebih memahami masalah siswa tersebut.
c. Faktor Emosional
Siswa yang sering gagal dalam matematika lebih mudah berpikir tidak
rasional, takut, cemas, benci pada matematika. Jika demikian maka hambatan itu
dapat “melekat” pada diri anak/siswa. Masalah siswa yang termasuk dalam faktor
emosional dapat disebabkan oleh:
1. Obat-obatan tertentu, seperti obat penenang, ekstasi, dan obat lain yang
sejenis.

20
2. Kurang tidur.
3. Diet yang tidak tepat.
4. Hubungan yang renggang dengan teman terdekat.
5. Masalah tekanan dari situasi keluarganya di rumah.
d. Faktor Intelektual
Siswa yang mengalami kesulitan belajar disebabkan oleh faktor
intelektual, umumnya kurang berhasil dalam menguasai konsep, prinsip, atau
algoritma, walaupun telah berusaha mempelajarinya. Siswa yang mengalami
kesulitan mengabstraksi, menggeneralisasi, berpikir deduktif dan mengingat
konsep-konsep maupun prinsip-prinsip biasanya akan selalu merasa bahwa
matematika itu sulit. Siswa demikian biasanya juga mengalami kesulitan dalam
memecahkan masalah terapan atau soal cerita. Ada juga siswa yang kesulitannya
terbatas dalam materi tertentu, tetapi merasa mudah dalam materi lain.
e. Faktor Pedagogis
Di antara penyebab kesulitan belajar siswa yang sering dijumpai adalah
faktor kurang tepatnya guru mengelola pembelajaran dan menerapkan metodologi.
Struktur pelajaran yang tertata secara baik akan memudahkan siswa, paling tidak
mengurangi kesulitan belajar siswa. Selain itu, kesulitan itu dapat terjadi karena
guru kurang memberikan latihan yang cukup di kelas dan memberikan bantuan
kepada yang memerlukan, meskipun ia sudah berusaha keras menjelaskan
materinya. Hal ini terjadi karena guru belum menerapkan hakekat belajar
matematika, yaitu bahwa belajar matematika hakekatnya berpikir dan
mengerjakan matematika. Berpikir ketika mendengarkan penjelasan guru,
mempunyai implikasi bahwa tanya jawab merupakan salah satu bagian penting
dalam belajar matematika. Dengan tanya jawab ini proses diagnosis telah diawali.
Ini berarti diagnostic teaching, pembelajaran dengan senantiasa sambil mengatasi
kesulitan siswa telah dilaksanakan dan hal ini yang dianjurkan. Secara umum, cara
guru memilih metode, pendekatan dan strategi dalam pembelajaran akan
berpengaruh terhadap kemudahan atau kesulitan siswa dalam belajar siswa.
Perasaan lega atau bahkan sorak sorai pada saat bel berbunyi pada akhir jam
pelajaran matematika adalah salah satu indikasi adanya beban atau kesulitan siswa

21
yang tak tertahankan. Jika demikian maka guru perlu introspeksi pada sistem
pembelajaran yang dijalankannya.

2.6. Instrumen Diagnosis


2.6.1. Pengertian Tes Diagnostik

Seperti halnya dengan kata diagnostik, instrument/tes diagnostik


merupakan saduran dari bahasa kesehatan. Dalam kamus kesehatan, arti dari tes
diagnostik adalah sebuah prosedur untuk memberikan informasi tentang kondisi
seseorang yang membantu penyedia layanan kesehatan untuk membuat diagnosis.
Tes diagnostik menyediakan informasi tentang apakah seseorang memiliki atau
tidak memiliki penyakit tertentu. Sedangkan dalam dunia pendidikan tes
diagnostik juga memiliki arti yang hampir sama dengan tes diagnostik dalam
dunia kesehatan.
Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-
kelemahan siswa sehingga hasil tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk
memberikan tindak lanjut berupa perlakuan yang tepat dan sesuai dengan
kelemahan yang dimiliki siswa (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Pertama, 2007). Sejalan dengan pernyataan tersebut, menurut Patty (2009) tes
diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk mendiagnosis atau
mengidentifikasi kesukaran-kesukaran dalam belajar, mendeteksi faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya kesukaran belajar, dan menetapkan cara mengatasi
kesukaran atau kesulitan belajar tersebut.
Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat diambil benang merah bahwa tes
diagnostik merupakan sebuah prosedur/alat untuk mencari/menemukan
kesulitan/hambatan yang dialami oleh siswa serta sumber kesulitan tersebut dan
menemukan solusi atas kesulitan tersebut.

2.6.2. Fungsi Tes Diagnostik

Menurut Arikunto (2009) tes diagnostik tersebut memiliki beberapa fungsi


untuk: (a) menentukan apakah bahan prasyarat telah dikuasai atau belum; (b)
menentukan tingkat penguasaan siswa terhadap bahan yang dipelajari; (c)

22
menentukan kesulitan belajar yang dialami untuk menentukan cara yang khusus
untuk mengatasi atau memberikan bimbingan; (d) serta memisah-misahkan,
(mengelompokkan) siswa berdasarkan kemampuan dalam menerima pelajaran
yang akan dipelajari. Sejalan dengan pendapat Arikunto, Patty (2009) juga
memaparkan beberapan fungsi dari tes diagnostik, antara lain: (a)
mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya; (b) menentukan kesulitan
belajar yang dialami; (c) umpan balik bagi siswa, guru maupun program untuk
menilai pelaksanaan suatu unit program; (d) memilih tiap-tiap keterampilan
prasyarat; (e) memilih tujuan setiap program pembelajaran secara berimbang; (f)
memilih yang berhubungan dengan tingkah laku fisik, mental dan perasaan; (g)
Mengukur semua tujuan instruksional khusus; (h) mengukur tujuan instruksional
umum; (i) skoring (cara menyekor); (j) menggunakan standar mutlak dan relative;
k) menggunakan standar mutlak
Dari pemaparan di atas dapat dikatakan bahwa tes diagnostik memiliki
fungsi yang tak hanya untuk mengetahui kesulitan siswa, melainkan sebagai
fungsi selektif. Namun pada tes diagnostik memiliki dua fungsi utama (Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, 2007), yaitu:
(a) mengidentifikasi masalah atau kesulitan yang dialami siswa,
(b) merencanakan tindak lanjut berupa upaya-upaya pemecahan sesuai masalah
atau kesulitan yang telah teridentifikasi.

2.6.3. Karakateristik Tes Diagnostik

Menurut Mukhan (2011) tes diagnostik biasanya adalah sebuah tes yang
dibuat dengan jumlah item soal yang cukup banyak pada suatu materi
tertentu/spesifik. Item-item soal dibuat dengan sangat sedikit perbedaan variasi
dari satu item soal ke item soal lainnya sehingga penyebab kesulitan/hambatan
belajar dapat terdeteksi. Zeilik (dalam Suwarto, 2013) tes diagnostik digunakan
untuk menilai pemahaman konsep siswa terhadap konsep-konsep kunci (key
concepts) pada topik tertentu, secara khusus untuk konsep-konsep yang cenderung
dipahami secara salah.

23
Tes diagnostik memiliki karakteristik: (a) dirancang untuk mendeteksi
kesulitan belajar siswa, karena itu format dan respons yang dijaring harus didesain
memiliki fungsi diagnostik, (b) dikembangkan berdasar analisis terhadap sumber-
sumber kesalahan atau kesulitan yang mungkin menjadi penyebab munculnya
masalah (penyakit) siswa, (c) menggunakan soal-soal bentuk supply response
(bentuk uraian atau jawaban singkat), sehingga mampu menangkap informasi
secara lengkap. Bila ada alasan tertentu sehingga mengunakan bentuk selected
response (misalnya bentuk pilihan ganda), harus disertakan penjelasan mengapa
memilih jawaban tertentu sehingga dapat meminimalisir jawaban tebakan, dan
dapat ditentukan tipe kesalahan atau masalahnya, dan (d) disertai rancangan
tindak lanjut (pengobatan) sesuai dengan kesulitan (penyakit) yang teridentifikasi.
Berdasarkan pendapat diatas dapat didefinisikan ciri-ciri tes diagnostik,
yaitu topik terbatas dan spesifik, serta ditujukan untuk mengungkap kesulitan-
kesulitan, menyediakan alat untuk menemukan penyebab kesulitannya.

2.6.4. Posisi Tes Diagnostik

Posisi tes diagnostik pada pedoman pengembangan tes diagnostik mata


pelajaran IPA SMP/MTs (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama,
2007) dapat digambarkan seperti gambar 2 di bawah ini.

TES FORMATIF

Apakah siswa mencapai hasil


belajar yang diharapkan?

TIDAK YA

TES TES Memberikan umpan


DIAGNOSTIK DIAGNOSTIK balikuntuk
TIPE B TIPE A menguatkan belajar

Tindak lanjut Melanjutkan


Memberikan remedial pembelajaran ke
secara individu kompetensi dasar
maupun kelompok berikutnya

Gambar 3. Posisi Tes Diagnostik


24
Pada gambar di atas terdapat dua tipe tes diagnostik yaitu tes diagnostik
tipe A dan tes diagnostik tipe B. Pada tes diagnostik tipe A, terlebih dahulu guru
melaksanakan tes formatif sebelum melaksanakan tes diagnostik. Tes formatif ini
disusun untuk mengukur ketuntasan belajar atau ketuntasan kompetensi minimal
(KKM). Apabila dari hasil tes formatif tersebut diketahui ada siswa yang belum
tuntas, maka guru melakukan tes untuk mendiagnosis kemungkinan-kemungkinan
sumber masalahnya. Sedangkan pada tes diagnostik tipe B dilakukan tanpa
didahului oleh tes formatif. Dugaan atas kemungkinan-kemungkinan sumber
masalah muncul berdasarkan pengalaman guru.

2.6.5. Langkah-langkah Pengembangan

Berbagai cara atau pendekatan dapat digunakan untuk mengembangkan


tes diagnostik. Di bawah ini diuraikan secara garis besar langkah-langkah
pengembangan tes diagnostik berangkat dari kompetensi dasar yang bermasalah.

1. Mengidentifikasi kompetensi dasar yang belum tercapai ketuntasannya.


Telah diuraikan pada bagian sebelumnya bahwa tes diagnostik
dilakukan untuk mendiagnosis kesulitan atau masalah belajar yang dialami
oleh siswa. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi kesulitan belajar tersebut
mengacu pada kesulitan untuk mencapai kompetensi dasar, karena itu sebelum
menyusun tes diagnostik harus diidentifikasi terlebih dahulu kompetensi
dasar-kompetensi dasar manakah yang tidak tercapai tersebut. Guru yang
selalu mencermati kegiatan belajar mengajarnya tentu dapat melakukan
kegiatan ini dengan mudah.
Untuk mengetahui tercapainya suatu kompetensi dasar dapat dilihat dari
munculnya sejumlah indikator, karena itu bila suatu kompetensi dasar tidak
tercapai, perlu didiagnosis indikator-indikator mana saja yang tidak mampu
dimunculkan. Mungkin saja masalah hanya terjadi pada indikator-indikator
tertentu, maka cukup pada indikator-indikator itu saja disusun tes diagnostik
yang sesuai.

25
2. Menentukan kemungkinan sumber masalah
Setelah kompetensi dasar atau indikator yang bermasalah
teridentifikasi, mulai ditemukan (dilokalisasi) kemungkinan sumber
masalahnya. Dalam pembelajaran matematika terdapat dua sumber utama
yang sering menimbulkan masalah, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

3. Menentukan bentuk dan jumlah soal yang sesuai


Sebagaimana kegiatan seorang dokter dalam mendiagnosis suatu
penyakit, maka ketika seorang guru ingin menemukan “penyakit“ (baca:
masalah) yang dialami siswanya, maka perlu dipilih alat diagnosis yang tepat
berupa butir-butir tes diagnostik yang sesuai. Butir tes tersebut dapat berupa
tes pilihan, esai (uraian), maupun kinerja (performa) sesuai dengan sumber
masalah yang diduga dan pada dimensi mana masalah tersebut terjadi.

4. Menyusun kisi-kisi soal


Sebagaimana ketika mengembangkan jenis tes yang lain, maka sebelum
menulis butir soal dalam tes diagnostik harus disusun terlebih dahulu kisi-
kisinya. Kisi-kisi tersebut setidaknya memuat: a) kompetensi dasar beserta
indikator yang diduga bermasalah; b) materi pokok yang terkait; c) dugaan
sumber masalah; d) bentuk dan jumlah soal; dan e) indikator soal. Beberapa
bentuk tes yang ada antara lain: pilihan ganda, jawaban singkat, menjodohkan,
tes benar-salah, uraian obyektif, atau tes uraian non obyektif

5. Menulis soal
Sesuai kisi-kisi soal yang telah disusun kemudian ditulis butir-butir soal.
Soal tes diagnostik tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan butir
soal tes yang lain. Jawaban atau respons yang diberikan oleh siswa harus
memberikan informasi yang cukup untuk menduga masalah atau kesulitan
yang dialaminya (memiliki fungsi diagnosis). Pada soal uraian, logika berpikir
siswa dapat diketahui guru dari jawaban yang ia tulis, tetapi pada soal pilihan
ganda tidak. Karena itu siswa perlu menyertakan alasan atau penjelasan ketika
memilih option (alternatif jawaban) tertentu.

26
6. Mereview soal
Butir soal yang baik tentu memenuhi validitas isi, untuk itu soal yang
telah ditulis harus divalidasi oleh seorang pakar di bidang [Link] soal
yang telah ditulis oleh guru tidak memungkinkan untuk divalidasi oleh
seorang pakar, soal tersebut dapat direview oleh guru-guru sejenis dalam
MGMPS atau setidaknya oleh guru-guru mapel serumpun dalam satu sekolah.

7. Menyusun kriteria penilaian


Jawaban atau respon yang diberikan oleh siswa terhadap soal tes
diagnostik tentu bervariasi, karena itu untuk memberikan penilaian yang adil
dan interpretasi diagnosis yang akurat harus disusun suatu kriteria penilaian,
apalagi bila tes yang sama dilakukan oleh guru yang berbeda atau dilakukan
oleh lebih dari satu orang guru.

Kriteria penilaian memuat rentang skor yang menggambarkan pada


rentang berapa saja siswa didiagnosis sebagai mastery (tuntas) yaitu sudah
menguasai kompetensi dasar atau belum mastery yaitu belum menguasai
kompetensi dasar tertentu, atau berupa rambu-rambu bahwa dengan jumlah
type error (jenis kesalahan) tertentu siswa yang bersangkutan dinyatakan
ber”penyakit” sehingga harus diberikan perlakuan yang sesuai.

2.6.6. Penyusunan Tes

Menurut Ekawati (2011) terdapat 7 langkah dalam mengembangkan


instrumen tes. Berikut langkah-langkah pengembangan instrumen tes.

1. Menetapkan tujuan tes

Langkah awal dalam mengembangkan instrumen tes adalah menetapkan


tujuannya. Tujuan ini penting ditetapkan sebelum tes dikembangkan karena
seperti apa dan bagaimana tes yang akan dikembangkan sangat bergantung untuk
tujuan apa tes tersebut digunakan. Menurut Arikunto (2009) berdasarkan
kegunaannya tes terbagi menjadi 3 yaitu: tes diagnostik, tes formatif, dan tes
sumatif.

27
2. Melakukan analisis kurikulum

Analisis kurikulum dilakukan dengan cara melihat dan menelaah kembali


kurikulum yang ada berkaitan dengan tujuan tes yang telah ditetapkan. Langkah
ini dimaksudkan agar dalam proses pengembangan instrumen tes selalu mengacu
pada kurikulum (KI-KD) yang sedang digunakan. Instrumen yang dikembangkan
seharusnya sesuai dengan indikator pencapaian suatu KD yang terdapat dalam
Standar Isi (SI).

3. Membuat kisi-kisi

Kisi-kisi merupakan matriks yang berisi spesifikasi soal-soal (meliputi


KI-KD, materi, indikator, dan bentuk soal) yang akan dibuat. Dalam membuat
kisi-kisi ini, kita juga harus menentukan bentuk tes yang akan kita berikan.
Beberapa bentuk tes yang ada antara lain: pilihan ganda, jawaban singkat,
menjodohkan, tes benar-salah, uraian obyektif, atau tes uraian non obyektif.

4. Menulis soal

Pada kegiatan menuliskan butir soal ini, setiap butir soal yang Anda tulis
harus berdasarkan pada indikator yang telah dituliskan pada kisi-kisi dan
dituangkan dalam spesifikasi butir soal. Bentuk butir soal mengacu pada deskripsi
umum dan deskripsi khusus yang sudah dirancang dalam spesifikasi butir soal.

5. Melakukan telaah instrumen secara teoritis

Telaah instrumen tes secara teoritis atau kualitatif dilakukan untuk melihat
kebenaran instrumen dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Telaah instrumen
secara teoritis dapat dilakukan dengan cara meminta bantuan ahli/pakar, teman
sejawat, maupun dapat dilakukan telaah sendiri. Setelah melakukan telaah ini
kemudian dapat diketahui apakah secara teoritis instrumen layak atau tidak.

6. Melakukan ujicoba dan analisis hasil ujicoba tes

Sebelum tes digunakan perlu dilakukan terlebih dahulu uji coba tes.
Langkah ini diperlukan untuk memperoleh data empiris terhadap kualitas tes yang

28
telah disusun. Ujicoba ini dapat dilakukan ke sebagian siswa, sehingga dari hasil
ujicoba ini diperoleh data yang digunakan sebagai dasar analisis tentang
reliabilitas, validitas, tingkat kesukaran, pola jawaban, efektivitas pengecoh, daya
beda, dan lain-lain. Jika perangkat tes yang disusun belum memenuhi kualitas
yang diharapkan, berdasarkan hasil ujicoba tersebut maka kemudian dilakukan
revisi instrumen tes.

7. Merevisi soal

Berdasarkan hasil analisis butir soal hasil ujicoba kemudian dilakukan


perbaikan. Berbagai bagian tes yang masih kurang memenuhi standar kualitas
yang diharapkan perlu diperbaiki sehingga diperoleh perangkat tes yang lebih
baik. Untuk soal yang sudah baik tidak perlu lagi dibenahi, tetapi soal yang
masuk kategori tidak bagus harus dibuang karena tidak memenuhi standar
kualitas.

29

Anda mungkin juga menyukai