Diagnostik Kesulitan Matematika SD
Diagnostik Kesulitan Matematika SD
LANDASAN TEORI
7
2.2. Tujuan Pembelajaran Matematika SD
8
2.3. Proses Belajar Mengajar
Perencanaan berasal dari kata “rencana” yang dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia memiliki arti “rancangan; buram (rangka sesuatu yang akan
dikerjakan)”, sedangkan perencanaan memiliki arti “proses, cara, perbuatan
merencanakan (merancangkan)”. Sedangkan pengajaran dapat diartikan sebagai
suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu dan
mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar. Dengan kata lain
pengajaran adalah suatu cara bagaimana menyiapkan pengalaman belajar bagi
peserta didik. Menurut Ibrahim (dalam Saripah, 2012) perencanaan pengajaran
mencakup kegiatan merumuskan tujuan apa yang ingin dicapai oleh suatu
kegiatan pengajaran, cara apa yang akan dipakai untuk menilai pencapaian
tujuan tersebut, materi/bahan apa yang akan disampaikan, bagaimana cara
menyampaikannya, alat atau media apa yang diperlukan. Jadi, perencanaan
pembelajaran merupakan proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah-
langkah tertentu baik berupa penyusunan materi pengajaran, penggunaan media,
maupun model pembelajaran lainnya yang dimaksudkan agar pelaksanaannya
berjalan optimal.
Dalam merencanakan pembelajaran sudah pasti seorang pengajar
mempersiapkan perangkat-perangkat pembelajarannya, karena perangkat
pembelajaran tersebut salah satu wujud persiapan seorang pengajar sebelum
melaksanakan proses belajar-mengajar. Seperti yang diungkapkan oleh Subrata
(2009) perangkat pembelajaran adalah salah satu wujud persiapan yang dilakukan
oleh guru sebelum mereka melakukan proses pembelajaran. Perangkat
pembelajaran yang diperlukan dalam mengelola proses belajar mengajar dapat
berupa: buku siswa, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
instrument evaluasi atau Tes Hasil belajar (THB), serta media pembelajaran
(Trianto, 2007).
9
2.3.2. Pelaksanaan Pembelajaran
10
materi berurutan dari materi yang paling mudah terlebih dahulu, untuk
memaksimalakan penerimaan siswa terhadap materi yang disampaikan guru
maka guru menggunakan metode mengajar yang sesuai dengan materi dan
menggunakan media sebagai alat bantu penyampaian materi pembelajaran.
11
a. Penilaian berfungsi selektif
b. Penilaian berfungsi diagnostik
c. Penilaian berfungsi sebagai penempatan
d. Penilaian berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan.
Kedudukan evaluasi ditinjau dari segi waktu pelaksanaannya terdiri dari 3
jenis, yaitu sebelum, selama, dan sesudah kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Setelah kegiatan belajar mengajar berlangsung dapat dilaksanakan evaluasi
terhadap pencapaian hasil belajar, baik secara individu maupun kelompok.
12
atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam mengeja,
atau berhitung. Batasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan
perseptual, luka pada otak, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan
tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problema belajar yang
penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan,
pendengaran, atau cacat tubuh, hambatan karena retardasi mental, gangguan
emosional, atau kemiskinan lingkungan, budaya, atau ekonomi”.
(c) The Board of the Association for Children and Adult with Learning
Disabilities (ACALD) juga mengemukakan definisi kesulitan belajar sebagai
berikut: “Kesulitan belajar adalah suatu kondisi yang diduga bersumber
neurologis yang secara selektif mengganggu perkembangan, integrasi, dan
atau kemampuan verbal dan atau non verbal. Kesulitan belajar tampil sebagai
suatu kondisi ketidakmampuan yang nyata pada orang-orang yang memiliki
sistem sensoris yang cukup dan kesempatan untuk belajar yang cukup pula.
Berbagai kondisi tersebut bervariasi dalam perwujudan dan derajatnya.
Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap harga diri, pendidikan,
pekerjaan, sosialisasi, dan atau aktivitas kehidupan sehari-hari sepanjang
kehidupan”.
(d) Learning Disorder atau kekacauan belajar merupakan keadaan dimana proses
belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.
Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak
dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya
respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya
lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh: siswa yang sudah terbiasa
dengan olahraga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan
mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-
gemulai.
(e) Learning Disfunction merupakan gejala di mana proses belajar yang
dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa
tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat
indera, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh: siswa yang yang memiliki
13
postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley,
namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat
menguasai permainan volley dengan baik.
(f) Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat
potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya
tergolong rendah. Contoh: siswa yang telah dites kecerdasannya dan
menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140),
namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
(g) Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses
belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan
sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
(h) Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala
dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil
belajar di bawah potensi intelektualnya.
Dari berbagai pengertian yang tertuang di atas maka dapat diambil benang merah
bahwa kesulitan belajar ialah hambatan/ganguan yang dialami seseorang yang
dapat bersumber dari beberapa faktor biasanya tampak jelas dari menurunnya
kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Para guru umumnya memandang
semua siswa yang memperoleh prestasi belajar rendah disebut siswa berkesulitan
belajar (Abdurrahman, 2009). Menurut Abdurrahman, kesulitan belajar dapat
diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu (1) kesulitan belajar yang
berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities) dan (2)
kesulitan belajar akademik (academic learning disabilities).
Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan mencakup
gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan
kesulitan belajar dalam penyesuaian perilaku sosial. Kesulitan belajar yang
berhubungan dengan perkembangan umumnya sukar diketahui dikarenakan tidak
adanya pengukuran-pengukuran yang sistematik. Namun, kesulitan belajar yang
berhubungan dengan perkembangan sering tampak sebagai kesulitan belajar yang
disebabkan oleh tidak dikuasainya keterampilan prasyarat. Sedangkan kesulitan
belajar akademik menunjuk pada adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi
14
akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan
tersebut mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis, dan/atau
matematika. Berbeda dengan kesulitan belajar yang berhubungan dengan
perkembangan, kesulitan belajar akademik dapat diketahui ketika anak gagal
menampilkan salah satu atau beberapa kemampuan akademik.
Kesulitan belajar matematika disebut juga diskalkulia (dyscalculis).
Menurut Kirk (dalam Abdurrahman, 2009) kesulitan belajar yang berat disebut
akalkulia (acalculia). Ada beberapa karakteristik anak berkesulitan belajar
matematika menurut Lerner (dalam Abdurahman), yaitu: (1) adanya gangguan
dalam hubungan keruangan; (2) abnormalitas persepsi visual; (3) asosiasi visual-
motor; (4) perseverasi; (5) kesulitan mengenal dan memahami simbol; (6)
gangguan penghayatan tubuh; (7) kesulitan dalam bahasa dan membaca; dan (8)
performance IQ jauh lebih rendah daripada sekor Verbal IQ.
Kesulitan siswa juga dapat terlihat dari kesalahan-kesalahan siswa dalam
mengerjakan soal. Seperti yang telah di ungkapkan oleh M. Novan Fithrianto
(2013) pada penelitiannya, dan hasil penelitian yang dilakukannya antara lain:
a. Kesulitan siswa dikelompokkan sesuai kategori kesulitan, yaitu;
1) siswa cenderung kesulitan dalam konseptual dan prosedural pada semua
soal tes,
2) kesulitan prosedural yang sering terjadi adalah kesulitan dalam melakukan
operasi hitung, dan
3) siswa yang kesulitan konseptual tidak selalu melakukan kesulitan pada
prosedural.
b. Faktor penyebabnya, antara lain;
1) melakukan perkalian silang dengan diikuti melakukan penjumlahan,
2) kurang teliti dalam melakukan perkalian,
3) tidak mampu mengubah suatu konstanta menjadi sebuah pecahan,
4) siswa masih kurang diberikan latihan-latihan soal.
Nur Indah Ekasari (2012) pada penelitiannya juga menyimpulkan kesalahan-
kesalahan yang dilakukan siswa dan faktor penyebabnya. Berikut hasil dari
penelitiannya:
15
a. kesalahan yang dilakukan siswa, antara lain;
1) kesalahan membaca,
2) kesalahan memahami soal,
3) kesalahan transformasi,
4) kesalahan keterampilan proses,
5) kesalahan pada tahap penulisan jawaban.
b. Faktor penyebabnya, antara lain;
1) Siswa merasa soal perbandingan terlalu sulit,
2) Siswa tidak teliti dalam membaca soal,
3) Siswa masih sulit memahami kalimat pada soal cerita,
4) Siswa masih bingung dengan konsep perbandingan dan skala,
5) Siswa terbiasa menyingkat jawaban,
6) Siswa kurang teliti dalam melakukan perhitungan,
7) Siswa melakukan pada tahap-tahap sebelumnya, dan
8) Siswa tidak memeriksa kembali hasil pekerjaannya.
Dari kesulitan-kesulitan yang diungkapkan di atas, maka dapat dikatakan bahwa
siswa masih kesulitan dalam memahami konsep dari pecahan.
Sejalan dengan penelitian di atas, Lerner (dalam Abdurrahman, 2009) juga
mengungkapkan beberapa kekeliruan umum yang dilakukan oleh anak
berkesulitan belajar matematika. Beberapa kekeliruan tersebut menurut Lerner
adalah kekurangan pemahaman tentang simbol, nilai tempat, perhitungan,
penggunaan proses yang keliru, dan tulisan yang tidak terbaca.
16
2. Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan
karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial;
3. Keputusan yang dicapai setelah dilakukuan suatu studi yang seksama atas
gejala-gejala atau fakta-fakta tentang suatu hal.
Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses diagnosis
bukan hanya sekadar mengidentifikasi jenis dan karakteristik, serta latar belakang
dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan
suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan
pemecahannya.
DOKTER GURU
Terapi Bantuan
17
Dengan demikian, semua kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk
menemukan kesulitan belajar termasuk kegiatan diagnosa. Perlunya diadakan
diagnosis belajar karena berbagai hal. Pertama, setiap siswa hendaknya mendapat
kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara maksimal, kedua; adanya
perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat, minat dan latar belakang lingkungan
masing-masing siswa. Ketiga, sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberi
kesempatan pada siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya. Dan, keempat,
untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh siswa, hendaknya guru
beserta BP lebih intensif dalam menangani siswa dengan menambah pengetahuan,
sikap yang terbuka dan mengasah keterampilan dalam mengidentifikasi kesulitan
belajar siswa.
Menurut Rosss dan Stanley (dalam Amiruddin, 2012), tahapan-tahapan
diagnosis kesulitan belajar adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan
sebagai berikut.
a. Who are the pupils having trouble? (Siapa siswa yang mengalami gangguan?)
b. Where are the errors located?(Di manakah kelemahan-kelemahan tersebut
dapat dilokalisasikan?)
c. Why are the errors occur?(Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi?)
d. What are remedies are suggested? (Penyembuhan apa saja yang disarankan?)
e. How can errors be prevented? (Bagaimana kelemahan-kelemahan itu dapat
dicegah?)
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menunjukkan langkah-langkah
diagnosis kesulitan belajar sebagai berikut:
18
a. Apakah siswa masih dapat ditolong untuk dapat mengatasi kesulitan
belajarnya atau tidak?
b. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang
dialami siswa tersebut?
c. Kapan dan di mana pertolongan itu dapat diberikan?
d. Siapa yang dapat memberikan pertolongan?
e. Bagaimana caranya agar siswa dapat ditolong secara efektif?
f. Siapa sajakah yang perlu dilibatkan atau disertakan dalam membantu
siswa tersebut, dan apakah peranan atau sumbangan yang dapat
diberikan masing-masing pihak dalam menolong siswa tersebut?
5. Referal: menyusun suatu rencana atau alternatif bantuan yang akan
dilaksanakan.
Ada beberapa sumber atau faktor yang patut diduga sebagai penyebab
utama kesulitan belajar siswa. Sumber itu dapat berasal dari dalam diri siswa
sendiri maupun dari luar diri siswa. Dari dalam diri siswa dapat disebabkan oleh
faktor biologis maupun psikologis. Dari luar diri siswa, kesulitan belajar dapat
bersumber dari keluarga (pendidikan orang tua, hubungan dengan keluarga,
keteladanan keluarga dan sebagainya), keadaan lingkungan dan masyarakat secara
umum. Kesulitan belajar tidak dialami hanya oleh siswa yang berkemampuan
dibawah rata-rata atau yang dikenal sungguh memiliki learning difficulties, tetapi
dapat dialami oleh siswa dengan tingkat kemampuan manapun dari kalangan atau
kelompok manapun.
Menurut Widdiharto (2008) yang mengutip Brueckner dan Bond, Cooney,
Davis, dan Henderson mengelompokkan sumber kesulitan itu menjadi lima faktor,
yaitu:
a. Faktor Fisiologis
Kesulitan belajar siswa dapat ditimbulkan oleh faktor fisiologis. Hal ini
antara lain siswa yang mempunyai gangguan penglihatan, siswa yang mempunyai
gangguan pendengaran, siswa yang mempunyai gangguan neurologis (sistem
syaraf). Umumnya guru matematika tidak memiliki kemampuan atau kompetensi
yang memadai untuk mengatasi dalam hubungannya dengan faktor-faktor
19
fisiologis. Hambatan belajar tersebut hendaknya diatasi melalui kerjasama dengan
pihak yang memiliki kompetensi sehingga dapat menanganinya lebih baik.
b. Faktor Sosial
Hubungan orang tua dengan anak, dan tingkat kepedulian orang tua
tentang masalah belajarnya di sekolah, merupakan faktor yang dapat memberikan
kemudahan, atau sebaliknya menjadi faktor kendala bahkan penambah kesulitan
belajar siswa. Termasuk dapat memberikan kemudahan antara lain: kasih sayang,
pengertian, dan perhatian atau kepedulian. Di samping itu ekonomipun merupakan
faktor, baik positif maupun negatif. Faktor sosial di dalam dan di luar kelas dalam
lingkungan sekolah juga berpengaruh terhadap kelancaran atau kesulitan belajar
siswa. Siswa yang kurang dapat bergaul atau menyesuaikan dengan situasi kelas
oleh berbagai sebab yang menyebabkan ia merasa terpencil, terhina atau
senantiasa menjadi bahan ejekan atau olokan, merupakan faktor penghambat,
meskipun bagi sebagian siswa yang biasa mengatasi masalah hal itu dapat
digunakan sebagai pemacu untuk menunjukkan eksistensinya. Interaksi antar
siswa yang kurang dibiasakan dalam kegiatan di kelas dapat menyebabkan
masalah sosial. Anak yang merasa kurang semakin menyendiri, sebaliknya dengan
kebiasaan lainnya di rumah ia dapat mengalihkannya dengan minta perhatian
guru. Secara umum siswa yang terlalu tertutup atau terlalu terbuka mungkin
adalah siswa yang mengalami masalah sosial di rumah atau tekanan dari teman
atau mungkin orang tuanya. Jadi lingkungan belajar di sekolah juga merupakan
salah satu faktor sosial kesulitan belajar siswa. Masalahnya perlu dikaji dan
penyelesaiannya mungkin memerlukan bantuan wali kelas, guru bimbingan atau
pihak luar yang lebih memahami masalah siswa tersebut.
c. Faktor Emosional
Siswa yang sering gagal dalam matematika lebih mudah berpikir tidak
rasional, takut, cemas, benci pada matematika. Jika demikian maka hambatan itu
dapat “melekat” pada diri anak/siswa. Masalah siswa yang termasuk dalam faktor
emosional dapat disebabkan oleh:
1. Obat-obatan tertentu, seperti obat penenang, ekstasi, dan obat lain yang
sejenis.
20
2. Kurang tidur.
3. Diet yang tidak tepat.
4. Hubungan yang renggang dengan teman terdekat.
5. Masalah tekanan dari situasi keluarganya di rumah.
d. Faktor Intelektual
Siswa yang mengalami kesulitan belajar disebabkan oleh faktor
intelektual, umumnya kurang berhasil dalam menguasai konsep, prinsip, atau
algoritma, walaupun telah berusaha mempelajarinya. Siswa yang mengalami
kesulitan mengabstraksi, menggeneralisasi, berpikir deduktif dan mengingat
konsep-konsep maupun prinsip-prinsip biasanya akan selalu merasa bahwa
matematika itu sulit. Siswa demikian biasanya juga mengalami kesulitan dalam
memecahkan masalah terapan atau soal cerita. Ada juga siswa yang kesulitannya
terbatas dalam materi tertentu, tetapi merasa mudah dalam materi lain.
e. Faktor Pedagogis
Di antara penyebab kesulitan belajar siswa yang sering dijumpai adalah
faktor kurang tepatnya guru mengelola pembelajaran dan menerapkan metodologi.
Struktur pelajaran yang tertata secara baik akan memudahkan siswa, paling tidak
mengurangi kesulitan belajar siswa. Selain itu, kesulitan itu dapat terjadi karena
guru kurang memberikan latihan yang cukup di kelas dan memberikan bantuan
kepada yang memerlukan, meskipun ia sudah berusaha keras menjelaskan
materinya. Hal ini terjadi karena guru belum menerapkan hakekat belajar
matematika, yaitu bahwa belajar matematika hakekatnya berpikir dan
mengerjakan matematika. Berpikir ketika mendengarkan penjelasan guru,
mempunyai implikasi bahwa tanya jawab merupakan salah satu bagian penting
dalam belajar matematika. Dengan tanya jawab ini proses diagnosis telah diawali.
Ini berarti diagnostic teaching, pembelajaran dengan senantiasa sambil mengatasi
kesulitan siswa telah dilaksanakan dan hal ini yang dianjurkan. Secara umum, cara
guru memilih metode, pendekatan dan strategi dalam pembelajaran akan
berpengaruh terhadap kemudahan atau kesulitan siswa dalam belajar siswa.
Perasaan lega atau bahkan sorak sorai pada saat bel berbunyi pada akhir jam
pelajaran matematika adalah salah satu indikasi adanya beban atau kesulitan siswa
21
yang tak tertahankan. Jika demikian maka guru perlu introspeksi pada sistem
pembelajaran yang dijalankannya.
22
menentukan kesulitan belajar yang dialami untuk menentukan cara yang khusus
untuk mengatasi atau memberikan bimbingan; (d) serta memisah-misahkan,
(mengelompokkan) siswa berdasarkan kemampuan dalam menerima pelajaran
yang akan dipelajari. Sejalan dengan pendapat Arikunto, Patty (2009) juga
memaparkan beberapan fungsi dari tes diagnostik, antara lain: (a)
mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya; (b) menentukan kesulitan
belajar yang dialami; (c) umpan balik bagi siswa, guru maupun program untuk
menilai pelaksanaan suatu unit program; (d) memilih tiap-tiap keterampilan
prasyarat; (e) memilih tujuan setiap program pembelajaran secara berimbang; (f)
memilih yang berhubungan dengan tingkah laku fisik, mental dan perasaan; (g)
Mengukur semua tujuan instruksional khusus; (h) mengukur tujuan instruksional
umum; (i) skoring (cara menyekor); (j) menggunakan standar mutlak dan relative;
k) menggunakan standar mutlak
Dari pemaparan di atas dapat dikatakan bahwa tes diagnostik memiliki
fungsi yang tak hanya untuk mengetahui kesulitan siswa, melainkan sebagai
fungsi selektif. Namun pada tes diagnostik memiliki dua fungsi utama (Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, 2007), yaitu:
(a) mengidentifikasi masalah atau kesulitan yang dialami siswa,
(b) merencanakan tindak lanjut berupa upaya-upaya pemecahan sesuai masalah
atau kesulitan yang telah teridentifikasi.
Menurut Mukhan (2011) tes diagnostik biasanya adalah sebuah tes yang
dibuat dengan jumlah item soal yang cukup banyak pada suatu materi
tertentu/spesifik. Item-item soal dibuat dengan sangat sedikit perbedaan variasi
dari satu item soal ke item soal lainnya sehingga penyebab kesulitan/hambatan
belajar dapat terdeteksi. Zeilik (dalam Suwarto, 2013) tes diagnostik digunakan
untuk menilai pemahaman konsep siswa terhadap konsep-konsep kunci (key
concepts) pada topik tertentu, secara khusus untuk konsep-konsep yang cenderung
dipahami secara salah.
23
Tes diagnostik memiliki karakteristik: (a) dirancang untuk mendeteksi
kesulitan belajar siswa, karena itu format dan respons yang dijaring harus didesain
memiliki fungsi diagnostik, (b) dikembangkan berdasar analisis terhadap sumber-
sumber kesalahan atau kesulitan yang mungkin menjadi penyebab munculnya
masalah (penyakit) siswa, (c) menggunakan soal-soal bentuk supply response
(bentuk uraian atau jawaban singkat), sehingga mampu menangkap informasi
secara lengkap. Bila ada alasan tertentu sehingga mengunakan bentuk selected
response (misalnya bentuk pilihan ganda), harus disertakan penjelasan mengapa
memilih jawaban tertentu sehingga dapat meminimalisir jawaban tebakan, dan
dapat ditentukan tipe kesalahan atau masalahnya, dan (d) disertai rancangan
tindak lanjut (pengobatan) sesuai dengan kesulitan (penyakit) yang teridentifikasi.
Berdasarkan pendapat diatas dapat didefinisikan ciri-ciri tes diagnostik,
yaitu topik terbatas dan spesifik, serta ditujukan untuk mengungkap kesulitan-
kesulitan, menyediakan alat untuk menemukan penyebab kesulitannya.
TES FORMATIF
TIDAK YA
25
2. Menentukan kemungkinan sumber masalah
Setelah kompetensi dasar atau indikator yang bermasalah
teridentifikasi, mulai ditemukan (dilokalisasi) kemungkinan sumber
masalahnya. Dalam pembelajaran matematika terdapat dua sumber utama
yang sering menimbulkan masalah, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
5. Menulis soal
Sesuai kisi-kisi soal yang telah disusun kemudian ditulis butir-butir soal.
Soal tes diagnostik tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan butir
soal tes yang lain. Jawaban atau respons yang diberikan oleh siswa harus
memberikan informasi yang cukup untuk menduga masalah atau kesulitan
yang dialaminya (memiliki fungsi diagnosis). Pada soal uraian, logika berpikir
siswa dapat diketahui guru dari jawaban yang ia tulis, tetapi pada soal pilihan
ganda tidak. Karena itu siswa perlu menyertakan alasan atau penjelasan ketika
memilih option (alternatif jawaban) tertentu.
26
6. Mereview soal
Butir soal yang baik tentu memenuhi validitas isi, untuk itu soal yang
telah ditulis harus divalidasi oleh seorang pakar di bidang [Link] soal
yang telah ditulis oleh guru tidak memungkinkan untuk divalidasi oleh
seorang pakar, soal tersebut dapat direview oleh guru-guru sejenis dalam
MGMPS atau setidaknya oleh guru-guru mapel serumpun dalam satu sekolah.
27
2. Melakukan analisis kurikulum
3. Membuat kisi-kisi
4. Menulis soal
Pada kegiatan menuliskan butir soal ini, setiap butir soal yang Anda tulis
harus berdasarkan pada indikator yang telah dituliskan pada kisi-kisi dan
dituangkan dalam spesifikasi butir soal. Bentuk butir soal mengacu pada deskripsi
umum dan deskripsi khusus yang sudah dirancang dalam spesifikasi butir soal.
Telaah instrumen tes secara teoritis atau kualitatif dilakukan untuk melihat
kebenaran instrumen dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Telaah instrumen
secara teoritis dapat dilakukan dengan cara meminta bantuan ahli/pakar, teman
sejawat, maupun dapat dilakukan telaah sendiri. Setelah melakukan telaah ini
kemudian dapat diketahui apakah secara teoritis instrumen layak atau tidak.
Sebelum tes digunakan perlu dilakukan terlebih dahulu uji coba tes.
Langkah ini diperlukan untuk memperoleh data empiris terhadap kualitas tes yang
28
telah disusun. Ujicoba ini dapat dilakukan ke sebagian siswa, sehingga dari hasil
ujicoba ini diperoleh data yang digunakan sebagai dasar analisis tentang
reliabilitas, validitas, tingkat kesukaran, pola jawaban, efektivitas pengecoh, daya
beda, dan lain-lain. Jika perangkat tes yang disusun belum memenuhi kualitas
yang diharapkan, berdasarkan hasil ujicoba tersebut maka kemudian dilakukan
revisi instrumen tes.
7. Merevisi soal
29