Terapi Posisi untuk RDS pada Bayi Prematur
Terapi Posisi untuk RDS pada Bayi Prematur
KELOMPOK NICU :
1. AMINATUS ZUHRIYAH (20221660109)
2. CICI LUTFIANTI (20221660049)
3. RIRIN WINARTI (20221660017)
BAB III
PENGKAJIAN DAN INTERVENSI
A. Pengkajian Keperawatan
1. Anamnesa
a. Data Demografi : Data demografi berisi identitas bayi, usia, jenis kelamin, agama,identitas
orangtua, suku, alamat, pekerjaan
b. Keluhan Utama : Bayi dengan RDN sering ditemui keluhan seperti sesak, ada pernapasan
cuping hidung, kondisi umum lemah, lesu, apneu, tidak responsif, penurunan bunyi napas
c. Riwayat Penyakit Sekarang : Pada bayi yang mengalami RDN, biasanya akan diawali dengan
tanda dan gejala seperti mudah letih, dispnea, sianosis, bradikardi, hipotensi, hipotermi, tonus
otot menurun, edema terutama di daerah dorsal tangan atau kaki, retraksi supersternal/
epigastrik/ intercosta, grunting expirasi. Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu
muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan
keluhan tersebut
d. Riwayat Penyakit Dahulu Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami prematuritas dengan
paru-paru yang imatur (gestasi dibawah 32 minggu), gangguan surfaktan, lahir prematur
dengan operasi caesar serta penurunan suplai oksigen saat janin saat kelahiran pada bayi matur
atau prematur, atelektasis, DM, hipoksia, asidosis
e. Riwayat Maternal Meliputi riwayat menderita penyakit seperti diabetes mellitus, kondisi
seperti perdarahan placenta, placenta previa, tipe dan lama persalinan, stress fetal atau
intrapartus, dan makrosomnia (bayi dengan ukuran besar akibat ibu yang memiliki riwayat
sebagai perokok, dan pengkonsumsi minuman keras serta tidak memperhatikan gizi yang baik
bagi janin)
f. Riwayat Penyakit Keluarga Perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit
yang disinyalir sebagai penyebab kelahiran prematur/ caesar sehinnga menimbulakan
membran hyialin disease
g. Riwayat Psikososial Meliputi perasaan keluarga terhadap penyakitnya, bagaimana cara
mengatasi masalahnya serta bagaimana perilaku keluarga terhadap tindakan yang dilakukan
terhadap bayinya
h. Status Infant Saat Lahir
1) Prematur, umur kehamilan
2) Apgar score, apakah terjadi aspiksia
3) Apgar score adalah : Suatu ukuran yang dipakai untuk mengevaluasi keadaan
umum bayi baru lahir
4) Bayi premature yang lahir melalui operasi Caesar
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu/ pernapasan > 60 kali / menit, pernafasan
mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping hidung, sianosis dan pucat,
hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya suara
nafas mungkin normal kemudian dengan menurunnya pertukaran udara, nafas menjadi parau dan
pernapasan dalam.
Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat dari penilaian
fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler. Penilaian fungsi respirasi meliputi :
a. Frekuensi nafas Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi. Takhipneu
tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha kompensasi terhadap terjadinya
asidosis metabolik seperti pada syok, diare, dehidrasi, ketoasidosis, diabetikum, keracunan
salisilat, daninsufisiensi ginjal kronik. Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering
terjadi pada hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang merupakan tanda memburuknya
keadaan klinik
b. Mekanika usaha pernafasan Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping
hidung, retraksi dinding dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan penyakit
alveolar. Anggukan kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi memanjang menandakan
terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan. Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal
c. Warna kulit/membran mukosa Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat
berbercak (mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin, sianosis (sentral
kemudian diikuti sirkumoral) berhubungan dengan persentase desaturasi hemoglobin
d. Kardiovaskuler
1) Frekuensi jantung dan tekanan darah Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum
adanya stress, ansietas, nyeri, demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsijantung
2) Kualitas nadi. Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume dan
aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada satu sisi menandakan
berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran darah pada daerah tersebut. Perfusi kulit
kulit yang memburuk dapat dilihat dengan adanya bercak, pucat dan sianosis.
e. Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara :
1) Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)
2) Blancing Skin Test
Caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas dibandingkan jantung kemudian
tekan telapak tangan atau kaki tersebut selama 5 detik, biasanya tampak kepucatan.
Selanjutnya tekanan dilepaskan pucat akan menghilang 2-3 detik
3) Perfusi pada otak dan respirasi
Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi agitasi dan letargi. Pada
iskemia otak mendadak selain terjadi penurunan kesadaran juga terjadi kelemahan otot,
kejang dan dilatasi pupil
3. Activity Daily Life (ADL)
a. Nutrisi Bayi dapat kekeurangan cairan sebagai akibat bayi belum minum atau menghisap
b. Istirahat tidur Kebutuhan istirahat terganggu karena adanya sesak nafas ataupun kebutulan
nyaman tergangu akibat tindakan medis
c. Eliminasi Penurunan pengeluaran urin
B. CONTOH KASUS
➢ Pengkajian
Keluhan utama : Sesak
Riwayat Kesehatan Sekarang : Bayi lahir dengan keluhan sesak+, retraksi+, cyanosis+, merintih,
suara nafas ronchi+, crt >2”, BB: 1240 gram, Suhu : 35.8⁰C, HR:
168x/menit, RR: 70x/menit, spo2: 88%, TD: 87/34, bayi muntah
coklat, terpasang ogt terbuka, bayi puasa.
Riwayat Penyakit Dahulu : Bayi lahir SC dengan indikasi PEB, KPP -, ketuban jernih, umur
kehamilan 35-36 minggu, BB: 1240, Pb: 47, LK/LD 31/31, Apgar
Score 5-6, laki-laki
Alergi : tidak ada
Status Kesehatan :
1. Persepsi kesehatan atau penanganan kesehatan
Orang tua bayi selalu berusaha menjaga kesehatan keluarga terutama bayinya
2. Nutrisi atau metabolik
Bayi sementara puasa karena retensi produksi lambung warna coklat keruh
3. Eliminasi
Bayi BAK kurang lebih 100-120 cc dalam sehari, BAB kurang lebih 30 cc per 24 jam
4. Aktivitas atau latihan
Bayi menangis jika merasa haus dan ketika popok terasa penuh atau saat bayi kurang nyaman
5. Tidur atau istirahat
Bayi tidur dengan baik
6. Kognitif atau perseptual
Bayi akan terbangun saat tidur jika mendengar sesuatu atau di pegang
7. Peran atau Hubungan
Hubungan keluarga dan bayi sangat baik. Orang tua bayi setiap hari selalu mengunjungi
bayinya untuk memastikan keadaannya
8. Koping atau intoleransi stress
Orang tua bayi berusaha dan selalu berdo’a untuk kesembuhan bayinya
9. Nilai atau kepercayaan
Orang tua bayi beragama islam. Orang tua bayi percaya bahwa semua sudah digariskan oleh
Allah
Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Pernafasan
Bayi sesak+, tangis merintih, pernafasan cuping hidung +, retraksi berat pada dada, frekuensi
nafas 70x/menit
2. Sistem Kardiovaskuler
Bayi Takikardi dengan Heart Rate: 168x/menit, cyanosis sekitar mulut dan hidung, crt >2”,
akral dingin, pucat+
3. Sistem Perkemihan
Bayi BAB 30cc/hari, BAK 100-120cc/hari
4. Sistem Muskuluskeletal
Tonus otot normal
5. Sistem pencernaan
Bayi puasa, retensi coklat keruh, bising usus normal 20x/menit
6. Sistem reproduksi
Jenis kelamin laki-laki, skrotum kosong, sedikit rugea
Pemeriksaan penunjang
Cek laborat darah lengkap, CRP, babygram, echocardiografi
C. Diagnosis Keperawatan
1. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi : Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasiadekuat
Penyebab :
o Depresi pusat pernapasan
o Hambatan upaya napas
o Deformitas dinding dada
o Deformitas tulang dada
o Gangguan neuro muskuler
o Gangguan neurologis
o Imaturitas neurologis
o Penurunan energi
o Obesitas
o Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru
o Sindrom hipoventilasi
o Kerusakan inervasi diagfragma
o Cedera medulla spinalis
o Efek agen farmakologis
o Kecemasan
Gejala dan tanda mayor
a. Subjek
Dispnea
b. Objektif
Penggunaan otot bantu pernapsan
Fase ekspirasi memanjang
Pola napas abnormal
o Objektif : Bising usus hiperaktif, Otot pengunyah melemah ,Otot menelan melemah
Membran mukosa pucat Sariawan, Serum albumin turun Rambut rontok berlebihan
Kondisi terkait :
a. Stroke
b. Parkinson
c. Mobius sindrom
d. Cerebral palsy
e. Cleftlip
f. Cleftpalate
g. Amvotropic lateral sclerosis
4. Resiko Perifer Tidak Efektif
Definisi : Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah pada levelkapiler
yang dapat mengganggu metabolisme tubuh
Faktor risiko :
a. Hiperglikemia
b. Gaya hidup kurang gerak
c. Hipertensi
d. Merokok
e. Prosedurendovaskuler
f. Trauma
g. Kurang terpapar informasi tentang faktor pemberat (mis. merokokgaya
hidup kurang gerak, obesitas, imobilitas)
Kondisi klinis terkait :
a. Arterosklerosis
b. Raynaud’s disease
c. Trombosis arteri
d. Atritis reumatoid
e. Leriche’s syndrome
f. Aneurisma
g. Buerger’s disease
h. Varises
i. DM
j. Hipotensi
k. Kanker
5. Resiko Infeksi
Definisi : Berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik
Faktor risiko :
a. Penyakit kronis
b. Efek prosedur invasif
c. Malnutrisi
d. Peningkatan paparan organisme patogenik lingkungan
e. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer
f. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder
a. AIDS
b. Luka bakar
c. Penyakit paru obstruktif kronis
d. DM
e. Tindakan invasif
f. Kondisi penggunaan terapi steroid
g. Penyalahgunaan obat
h. Ketuban pecah sebelum waktunya
i. Kanker
j. Gagal ginjal
k. Imunosupresi
l. Lymphedema
m. Leukositopenia
n. Gangguan fungsi hati
6. Ansietas
Definisi : Emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan
spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk
menghadapi ancaman.
Penyebab
a. Krisis situasional
b. Kebutuhan tidak terpenuhi
c. Krisis maturasional
d. Ancaman terhadap konsep diri
e. Ancaman terhadap kematian
f. Kekhawatiran mengalam kegagalan
g. Disfungsi sistem keluarga
h. Hubungan orangtua anak tidak memuaskan
i. Faktor keturunan
j. Penyalahgunaan zat
k. Terpapar bahaya lingkungan
l. Kurang terpapar informasi
Gejala dan tanda mayor
a. Subjektif
Merasa bingung
Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi
Sulit berkonsentrasi
b. Objektif
Tampak gelisah
Tamak tegang
Sulit tidur
Gejala dan tanda minor
a. subjektif
Mengeluh pusing
Anoreksia
Palpitasi
1) Dispnea menurun
2) Frekuensi napas membaik
3) Tidak ada penggunaan otot bantu napas
4) Tidak ada pernapasan cuping hidung
b. Intervensi keperawatan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2019)
Pemantauan Respirasi
Observasi
a. Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas
b. Monitor pola napas
c. Monitor kemampuan batuk efektif
d. Monitor adanya produksi sputum
e. Monitor adanya sumbatan jalan napas
f. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
g. Auskultasi bunyi napasMonitor saturasi oksigen
h. Monitor hasil x-ray thorax
Terapeutik
a. Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
b. Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
a. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
b. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Luaran Keperawatan :
a. Tujuan dan kriteria hasil
Jalan napas tetap paten dengan kriteria hasil :
1) Produksi sputum menurun
2) Tidak ada sianosis
3) Pola napas membaik
4) Frekuensi napas membaik
b. Intervensi keperawatan
Manajemen Jalan Napas
Observasi
a. Monitor pola napas
b. Monitor bunyi napas
c. Monitor sputum
Terapeutik
a. Pertahankan kepatenan jalan napas
b. Posisikan semi fowler atau fowler
c. Berikan minum hangat
d. Lakukan fisioterapi dada
e. Lakukan pengisapan lendir <15 detik
f. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill
g. Berikan oksigen
Edukasi
a. Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari
b. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi : Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
3. Defisit Nutrisi
Luaran Keperawatan :
a. Tujuan dan kriteria hasil
Kebutuhan nutrisi klien tercukupi dengan kriteria hasil :
1) Berat badan dalam batas normal
2) Indeks Masa Tubuh (IMT) dalam batas normal
3) Membran mukosa membaik
4) Nafsu makan membaik
b. Intervensi keperawatan
Manajemen Nutrisi
Observasi
a. Identifikasi status nutrisi
b. Identifikasi alergi dan intoleran makanan
c. Identifikasi makanan yang disukai
d. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien
e. Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
f. Monitor asupan makanan
g. Monitor BB
h. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
Terapeutik
a. Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
b. Fasilitasi menentukan program diet
c. Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
d. Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
e. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
f. Berikan suplemen makanan
g. Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastrik jika asupan
oral dapat ditoleransi
Edukasi
a. Anjurkan posisi susuk, jika mampu
b. Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi
a. Pemberian medikasi sebelum makan
b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu
4. Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
Luaran Keperawatan :
a. Tujuan dan kriteria hasil : Tidak terjadi tanda-tanda perfusi perifer tidak
efektif dengan kriteria hasil :
1) Warna kulit pucat menurun
2) Pengisian kapuler membaik
b. Intervensi keperawatan
Perawatan Sirkulasi
Observasi
a. Periksa sirkulasi perifer
b. Identifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi
c. Monitor panas, kemerahan, nyeri atau bengkak pada ekstermitas
Terapeutik
a. Hindari pemasangan infus dan pengambilan darah di area
keterbatasan perifer
b. Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstermitas dengan
keterbatasan perfusi
c. Lakukan pencegahan infeksi
Edukasi
a. Anjurkan berhenti merokok
b. Anjurkan berolahraga dengan rutin
c. Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan darah, antikoagulan
dan penurun kolesterol, jika perlu
d. Anjurkan melakukan perawatan kulit
e. Anjurkan program rehabilitasi vaskular
5. Risiko Infeksi
Luaran Keperawatan :
a. Tujuan dan kriteria hasil
Tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil :
1) Tidak ada tanda-tanda infeksi
2) Kebersihan badan baik
3) Kebersihan tangan baik
4) Kadar sel darah putih dalam batas normal
b. Intervensi keperawatan
Pencegahan Infeksi
Observasi
a. Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
Terapeutik
a. Batasi jumlah pengunjung
b. Berikan perawatan kulit pada area edema
c. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien
d. Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi
6. Ansietas
Luaran Keperawatan :
a. Tujuan dan kriteria hasil
Ansietas klien menurun dengan kriteria hasil :
1) Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun
2) Perilaku gelisah menurun
3) Verbalisasi kebingungan menurun
4) Perilaku tegang menurun
b. Intervensi
keperawatan
Reduksi
Ansietas
Observasi
a. Identifikasi tingkat ansietas berubah
b. Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
c. Monitor tanda-
tanda ansietas
Terapeutik
a. Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
b. Temani pasien untuk mengurangi kecemasan jika memungkinkan
c. Pahami situasi yang membuat ansietas
d. Dengarkan dengan penuh perhatian
e. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
f. Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan
g. Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
h. Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang
Edukasi
a. Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
b. Informasikan secara faktual mengenai diagnosis
pengobatan danprognosis
c. Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien
d. Anjurkan melakukan kegiatan yang tidakkompetitif
sesuai kebutuhan
e. Anjurkan menggunakan perasaan dan persepsi
f. Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan
g. Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
h. Latih teknik relaksasi
Kolaborasi : Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA
Agrina, M. F., Toyibah, A., & Jupriyono. (2016). Tingkat Kejadian Respiratory Distress
Syndrome (RDS) Antara BBLR Preterm Dan BBLR Dismatur. Jurnal Sain Veteriner,
3(2), 125–131.
Lestari, P., Susmarini, D., & Awaludin, S. (2018). Quarter turn from prone position increases
oxygen saturation in premature babies with respiratory distress syndrome. Jurnal
Keperawatan Soedirman, 13(1), 38–44.
Oktiawati, A., Aries, S., & Yudistira, S. (2023). Penerapan Posisi Quarter Prone untuk
Menurunkan Frekuensi Pernapasan pada BBLR dengan Masalah Respiratory Distress
Syndrome. 7, 21397–21403.
Syuib, C., Sufriani, & Mariana Harahap, I. (2022). Asuhan Keperawatan Berat Badan Lahir
Rendah dengan Respiratory Distress Syndrome (RDS). Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Fakultas Keperawatan, 1(1), 1–7.