0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan20 halaman

Terapi Posisi untuk RDS pada Bayi Prematur

Dokumen ini membahas tentang asuhan keperawatan pada bayi berat lahir rendah dengan respiratory distress syndrome. Dokumen ini menjelaskan tentang penyebab, ciri-ciri klinis, dan penatalaksanaan respiratory distress syndrome pada bayi berat lahir rendah.

Diunggah oleh

Ririn Riri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan20 halaman

Terapi Posisi untuk RDS pada Bayi Prematur

Dokumen ini membahas tentang asuhan keperawatan pada bayi berat lahir rendah dengan respiratory distress syndrome. Dokumen ini menjelaskan tentang penyebab, ciri-ciri klinis, dan penatalaksanaan respiratory distress syndrome pada bayi berat lahir rendah.

Diunggah oleh

Ririn Riri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN

RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (RDS)

KELOMPOK NICU :
1. AMINATUS ZUHRIYAH (20221660109)
2. CICI LUTFIANTI (20221660049)
3. RIRIN WINARTI (20221660017)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2023
BAB I
PENDAHULUAN
Permasalahan tentang kematian neonatus menjadi masalah global yang sangat penting.
Diperkirakan setiap tahunnya dalam usia 4 minggu pertama bayi meninggal sebanyak 4 juta bayi, dengan
85% kematian bayi terjadi dalam 7 hari pertama kehidupan. Terkait masalah ini, World Health
Organization (2016) menetapkan penurunan angka kematian bayi baru lahir dan anak di bawah usia 5
tahun (balita), sebagai salah satu sasaran Sustainable Development goals (SDGs). Upaya untuk
menurunkan angka kematian sebesar 12 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup, sedangkan kematian
dibawah umur 5 tahun diupayakan sebanyak 25/1000 kelahiran hidup, diharapkan akan tercapai pada
tahun 2030. Oleh karena itu untuk melindungi kesehatan neonatus,bayi dan anak-anak, WHO
menargetkan pengurangan 30% dari jumlah kasus BBLR di tahun 2025. (Syuib et al., 2022)
Pada tahun 2019 di Indonesia kematian neonatal terbanyak disebabkan oleh BBLR. Data dari
Riskesdas tahun 2018 menunjukkan 6,2% dari 56% bayi yang lahir dengan BBLR (Kementrian
Kesehatan RI, 2019). Kelahiran prematur didefinisikan sebagai kelahiran bayi yang kurang dari 37
minggu usia gestasi, yang merupakan penentu utama yang paling penting untuk menentukan kondisi bayi
dalam hal keselamatan dan kualitas hidup. Secara global, penyebab utama kematian dan kesakitan
neonatus pada bayi diseluruh dunia disebabkan oleh prematuritas. Bayi yang lahir prematur rentan
terhadap penyakit komplikasi, seperti gangguan pernapasan, kesulitan makan regulasi suhu tubuh yang
rendah, dan tingkat resiko infeksi yang tinggi.(Syuib et al., 2022)
Bayi yang mengalami gangguan pada sistem pernapasan harus segera dibantu bernafas dengan
menggunakan alat bantu nafas, bayi dengan gangguan sistem pernafasan memiliki resiko tinggi masalah kesehatan
bahkan kematian. Intervensi yang dapat diberikan pada bayi prematur dengan masalah pernapasan adalah
pemberian terapi oksigen. Akan tetapi, penggunaan alat bantu napas dalam jangka panjang akan berbahaya bagi
bayi. Sehingga memerlukan tindakan yang dapat mendukung penyapihan pada penggunaan alat bantu napas dan
mengurangi komplikasi pada bayi. Salah satu tindakan yang dapat diberikan adalah mengatur posisi tubuh bayi
(Oktiawati et al., 2023).
BAB II
PEMBAHASAN
I. RINGKASAN ARTIKEL 1
Prematuritas memiliki korelasi yang erat dengan bayi berat lahir rendah (BBLR), dimana
BBLR merupakan hasil dari kelahiran prematuritas atau usia gestasi <37 minggu. BBLR
didefinisikan pada berat badan bayi lahir absolut kurang dari <2500 gram tanpa melihat usia
gestasi. Neonatus dengan BBLR memiliki 20 kali resiko kematian lebih tinggi dibandingkan
dengan neonatus yang lahir dengan berat badan >2500 gram (Syuib et al., 2022).
Adapun risiko besar kelahiran prematur berakaitan dengan kurang matangnya organ tubuh
pada bayi lahir, seperti paru, otak, dan gastrointestinal. Menurut Kowalak, Welsh, & Mayer
(2017) kelahiran prematur merupakan salah satu penyebab sindrom gawat pernapasan pada
bayi baru lahir atau Respiratory Distress Syndrome (RDS). RDS merupakan salah satu
penyebab kematian neonatus yang paling ditemukan, penyakit ini membunuh sekitar 40.000
neonatus setiap tahun di Amerika Serikat. Sindrom ganggaun pernapasan Respiratory Distress
Syndrome/RDS diketahui disebabkan oleh defisiensi surfaktan primer dan tekanan saluran
napas positif (Syuib et al., 2022).
Konsekuensi umum yang terjadi pada bayi prematur di awal kelahiran yaitu gangguan
pernapasan disebut sindrom sindrom gawat nafas atau respiratory distress syndrome (RDS),
terjadi karena paru-paru belum matang secara struktural dan sistem pulmonar mengalami
defisiensi surfaktan. Karakteristik radiologi dada yang konsisten dan kebutuhan suplai
oksigen dalam 24 jam setelah kelahiran juga dibutuhkan untuk mempertahankan saturasi
diatas 85% pada neonatus dengan RDS (Syuib et al., 2022).
Bayi prematur dengan RDS membutuhkan terapi invasif dan non-invasif untuk bantuan
pernapasan, tambahan oksigen dan terapi penggantian surfaktan. Terapi ini harus dilakukan
agar gangguan pernapasan kronik akibat prematuritas tidak berkembang dan dapat
menganggu fungsi pernapasan serta menjadi sumber penyakit ketika dewasa. Sebagai
tambahan, seseorang yang pernah mengalami RDS dapat menjadi lebih rentan terhadap
infeksi saluran pernapasan. Faktor resiko potensial neonatus dapat terserang RDS antara lain
BBLR, usia gestasi kecil, diabetes (Syuib et al., 2022).

II. RINGKASAN ARTIKEL 2


Respiratory Distress syndrome merupakan penyakit yang berhubungan dengan
keterlambatan pematangan paru atau kurangnya kadar surfaktan di paru-paru. Posisi quarter
prone pada bayi merupakan posisi yang sangat direkomendasikan karena pada posisi ini dapat
meningkatkan fungsi paru-paru dan dapat menurunkan frekuensi pernapasan secara optimal.
Dinas Kesehatan Jawa Tengah menunjukkan angka kematian BBLR adalah 28,7% dan
sindrom gangguan pernapasan 33,1%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat
penurunan frekuensi pernafasan pada BBLR dengan RDS. Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif analisis dengan pendekatan studi kasus. Subyek penelitian adalah BBLR dengan
Respiratory Distress Syndrome yang frekuensi pernafasannya >60x/menit, berat lahir >1000
gram dan <2500 gram. Penelitian ini dilakukan di ruang NICU RSU Mitra Siaga Kabupaten
Tegal pada bulan Mei tahun 2023. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan
pemeriksaan fisik. Didapatkan hasil penurunan frekuensi pernafasan pada klien 1 [Link]. S
sebelum diberikan terapi posisi quarter prone 63x/menit, setelah diberikan implemetasi 2 hari
selama 1 jam menjadi 60x/menit, SPO2 95%. Dan pada klien [Link]. R sebelum diberikan
terapi 61x/menit, setelah diberikan terapi penerapan posisi quarter prone 1 jam selama 2 hari
frekuensi pernapasan menjadi 57x/menit dan SPO2 99%.BBLR dengan Respiratory Distress
Syndrome dapat melakukan penerapan terapi posisi quarter prone 2 kali sehari selama 1 jam
untuk menurunkan frekuensi pernapasan. (Oktiawati et al., 2023).
Pemberian posisi pada bayi prematur bukanlah suatu hal yang mudah, kesalahan dalam
pemilihan posisi bisa berakibat fatal pada status hemodinamik, kenyamanan dan kualitas tidur
pada bayi. Posisi yang tepat untuk diberikan pada bayi prematur adalah quarter prone
(Konstantelos et al., 2014). Posisi quarter prone direkomendasikan untuk BBLR dengan
Respiratory Distress Syndrome. Posisi quarter prone dapat menurunkan detak jantung dan
meningkatkan saturasi oksigen pada bayi karena mendesak paru oleh organ intra abdomen
(Ghorbani, Asadollahi dan Valizadeh, 2013). Posisi quarter prone pada bayi prematur terbukti
mampu menurunkan frekunsi pernapasan dan mampu meningkatkan oksigenasi. Posisi
quarter prone memiliki keuntungan yang sama dengan posisi pronasi karena dapat
memberikan gerakan yang sama dari dada dan otot perut pernapasan. Posisi quarter prone
merupakan posisi dimana kepala diletakkan ke arah sisi pinggir, tangan menggenggam, lutut
dan kaki disanggah dengan perangkat rol lunak selama 30 menit (Oktiawati et al., 2023).
Peran perawat sebagai Caregiver dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada
BBLR dengan memberikan pelayanan keperawatan secara langsung kepada klien
menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi melakukan pengkajian dalam
upaya mengumpulkan data dan informasi yang diperoleh dari keluarga, menegakan hasil
diagnosa keperawatan berdasarkan analisa data, merencanakan intervensi sebagai upaya
mengatasi masalah, melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan intervensi yang akan
dilakukan dan melakukan evaluasi hasil yang didapatkan setelah dilakukan tindakan, terutama
dalam pemberian posisi quarter prone pada klien.
Dari data yang didapatkan mengenai penerapan posisi quarter prone yang dapat
mempengaruhi saturasi oksigen dan menurunkan frekuensi pernapasan pada BBLR, maka
peneliti akan memberikan perawatan pada bayi BBLR dengan menerapkan posisi quarter
prone untuk mengetahui bagaimana perubahan frekuensi pernapasan pada BBLR dengan
masalah Respiratory Distress Syndrome sebelum dan sesudah di terapkan posisi quarter
prone.

III. RINGKASAN MATERI 3


Respiratory distress syndrome (RDS)/ sindrom gawat nafas merupakan suatu sindrom
yang sering ditemukan pada neonatus. RDS disebut juga sebagai penyakit membran hialin
(hyalin membrane disease, (HMD)) atau penyakit paru akibat difisiensi surfaktan (surfactant
deficient lung disease (SDLD)), gangguan pernapasan paling umum yang mengenai bayi
preterm (kurang bulan), serta penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada bayi preterm
(Lissauer, 2008). RDS menimbulkan defisiensi oksigen (hipoksia) dalam tubuh bayi, sehingga
bayi mengaktifkan metabolisme anaerob (Agrina et al., 2016).
Metabolisme anaerob akan menghasilkan produk sampingan berupa asam laktat.
Metabolisme anaerob yang terjadi dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan otak dan
berbagai komplikasi pada organ tubuh. Komplikasi utama mencakup kebocoran udara
(emfisema interstisial pulmonal), perdarahan pulmonal , duktus arteriosus paten,
infeksi/kolaps paru, perdarahan intraventikular, yang berujung pada peningkatan morbiditas
dan mortalitas neonatus. RDS sering menjangkit bayi dengan berat lahir rendah dikarenakan
imaturitas fungsi organ tubuh (Agrina et al., 2016).
Hal ini ditegaskan pula dalam bahwa, berat bayi lahir ekstrem rendah memiliki paru
dengan struktur dan fungsi yang imatur, sehingga menyebabkan lebih mudah terserang RDS
akibat defisiensi surfaktan. Profil kesehatan provinsi Jawa Timur 2012 menyatakan bahwa
provinsi Jawa timur memiliki estimasi pemetaan AKB > 28,31/1000 kelahiran hidup, yaitu
sebanyak 30,46/1000 kelahiran hidup. Hal ini menandakan bahwa Jawa Timur tergolong
provinsi dengan AKB tinggi (Agrina et al., 2016).

IV. RINGKASANG ARTIKEL 4


In this research, respondents’ body temperature ranged from 36.5 ᵒC to 36.9 ᵒC. The
tempereature which tend to be hypothermia is caused by a less heat production and a high heat
loss. A less heat production also may caused by imperfec circulation, weak respiration, and
lower nutrition intake. Heat loss is a result of higher body surface and less subcutaneous fat.
With hypothermia, babies may als develop acidosis, hypoglycemia, and respiratory distress.
On the contrary, hyperthermia results in an increasing body metabolism which enhances
oxygen needs thus hemoglobin releases more oxygen into tissue (Lestari et al., 2018).
FiO2 CPAP in this research ranged from 30% to 40%, with median was 40%. FiO2 is the
amount of oxygen transferred by CPAP to patients, which concentration varies between 21%-
100%. Oxygen therapy in neonates should be observed thoroughly and carefully since toxic
effects may occur. These effects are including retina disturbance or retinopathy of prematurity
(ROP), Chronic Lung Disease (CLD) when FiO2 reaches 60%, and periventricular
leukomalacia when PaCO2 is low. The amount of FiO2 which enter the lungs indirectly
increase lung diffusion capacity and oxygen partial pressure (PO2). Consequently, more
oxygen are binded with hemoglobin to be transported all over the tissue and this increases
oxygen saturation (Lestari et al., 2018).

BAB III
PENGKAJIAN DAN INTERVENSI

A. Pengkajian Keperawatan
1. Anamnesa
a. Data Demografi : Data demografi berisi identitas bayi, usia, jenis kelamin, agama,identitas
orangtua, suku, alamat, pekerjaan
b. Keluhan Utama : Bayi dengan RDN sering ditemui keluhan seperti sesak, ada pernapasan
cuping hidung, kondisi umum lemah, lesu, apneu, tidak responsif, penurunan bunyi napas
c. Riwayat Penyakit Sekarang : Pada bayi yang mengalami RDN, biasanya akan diawali dengan
tanda dan gejala seperti mudah letih, dispnea, sianosis, bradikardi, hipotensi, hipotermi, tonus
otot menurun, edema terutama di daerah dorsal tangan atau kaki, retraksi supersternal/
epigastrik/ intercosta, grunting expirasi. Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu
muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan
keluhan tersebut
d. Riwayat Penyakit Dahulu Perlu ditanyakan apakah pasien mengalami prematuritas dengan
paru-paru yang imatur (gestasi dibawah 32 minggu), gangguan surfaktan, lahir prematur
dengan operasi caesar serta penurunan suplai oksigen saat janin saat kelahiran pada bayi matur
atau prematur, atelektasis, DM, hipoksia, asidosis

e. Riwayat Maternal Meliputi riwayat menderita penyakit seperti diabetes mellitus, kondisi
seperti perdarahan placenta, placenta previa, tipe dan lama persalinan, stress fetal atau
intrapartus, dan makrosomnia (bayi dengan ukuran besar akibat ibu yang memiliki riwayat
sebagai perokok, dan pengkonsumsi minuman keras serta tidak memperhatikan gizi yang baik
bagi janin)
f. Riwayat Penyakit Keluarga Perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit
yang disinyalir sebagai penyebab kelahiran prematur/ caesar sehinnga menimbulakan
membran hyialin disease
g. Riwayat Psikososial Meliputi perasaan keluarga terhadap penyakitnya, bagaimana cara
mengatasi masalahnya serta bagaimana perilaku keluarga terhadap tindakan yang dilakukan
terhadap bayinya
h. Status Infant Saat Lahir
1) Prematur, umur kehamilan
2) Apgar score, apakah terjadi aspiksia
3) Apgar score adalah : Suatu ukuran yang dipakai untuk mengevaluasi keadaan
umum bayi baru lahir
4) Bayi premature yang lahir melalui operasi Caesar
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan takhipneu/ pernapasan > 60 kali / menit, pernafasan
mendengkur, retraksi subkostal/interkostal, pernafasan cuping hidung, sianosis dan pucat,
hipotonus, apneu, gerakan tubuh berirama, sulit bernafas dan sentakan dagu. Pada awalnya suara
nafas mungkin normal kemudian dengan menurunnya pertukaran udara, nafas menjadi parau dan
pernapasan dalam.
Pengkajian fisik pada bayi dan anak dengan kegawatan pernafasan dapat dilihat dari penilaian
fungsi respirasi dan penilaian fungsi kardiovaskuler. Penilaian fungsi respirasi meliputi :
a. Frekuensi nafas Takhipneu adalah manifestasi awal distress pernafasan pada bayi. Takhipneu
tanpa tanda lain berupa distress pernafasan merupakan usaha kompensasi terhadap terjadinya
asidosis metabolik seperti pada syok, diare, dehidrasi, ketoasidosis, diabetikum, keracunan
salisilat, daninsufisiensi ginjal kronik. Frekuensi nafas yang sangat lambat dan ireguler sering
terjadi pada hipotermi, kelelahan dan depresi SSP yang merupakan tanda memburuknya
keadaan klinik
b. Mekanika usaha pernafasan Meningkatnya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping
hidung, retraksi dinding dada, yang sering dijumpai pada obtruksi jalan nafas dan penyakit
alveolar. Anggukan kepala ke atas, merintih, stridor dan ekspansi memanjang menandakan
terjadi gangguan mekanik usaha pernafasan. Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal
c. Warna kulit/membran mukosa Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat
berbercak (mottled), tangan dan kaki terlihat kelabu, pucat dan teraba dingin, sianosis (sentral
kemudian diikuti sirkumoral) berhubungan dengan persentase desaturasi hemoglobin
d. Kardiovaskuler

1) Frekuensi jantung dan tekanan darah Adanya sinus tachikardi merupakan respon umum
adanya stress, ansietas, nyeri, demam, hiperkapnia, dan atau kelainan fungsijantung
2) Kualitas nadi. Pemeriksaan kualitas nadi sangat penting untuk mengetahui volume dan
aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekwat dan tidak teraba pada satu sisi menandakan
berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran darah pada daerah tersebut. Perfusi kulit
kulit yang memburuk dapat dilihat dengan adanya bercak, pucat dan sianosis.
e. Pemeriksaan pada pengisian kapiler dapat dilakukan dengan cara :
1) Nail Bed Pressure ( tekan pada kuku)
2) Blancing Skin Test
Caranya yaitu dengan meninggikan sedikit ekstremitas dibandingkan jantung kemudian
tekan telapak tangan atau kaki tersebut selama 5 detik, biasanya tampak kepucatan.
Selanjutnya tekanan dilepaskan pucat akan menghilang 2-3 detik
3) Perfusi pada otak dan respirasi
Gangguan fungsi serebral awalnya adalah gaduh gelisah diselingi agitasi dan letargi. Pada
iskemia otak mendadak selain terjadi penurunan kesadaran juga terjadi kelemahan otot,
kejang dan dilatasi pupil
3. Activity Daily Life (ADL)
a. Nutrisi Bayi dapat kekeurangan cairan sebagai akibat bayi belum minum atau menghisap
b. Istirahat tidur Kebutuhan istirahat terganggu karena adanya sesak nafas ataupun kebutulan
nyaman tergangu akibat tindakan medis
c. Eliminasi Penurunan pengeluaran urin
B. CONTOH KASUS
➢ Pengkajian
Keluhan utama : Sesak
Riwayat Kesehatan Sekarang : Bayi lahir dengan keluhan sesak+, retraksi+, cyanosis+, merintih,
suara nafas ronchi+, crt >2”, BB: 1240 gram, Suhu : 35.8⁰C, HR:
168x/menit, RR: 70x/menit, spo2: 88%, TD: 87/34, bayi muntah
coklat, terpasang ogt terbuka, bayi puasa.
Riwayat Penyakit Dahulu : Bayi lahir SC dengan indikasi PEB, KPP -, ketuban jernih, umur
kehamilan 35-36 minggu, BB: 1240, Pb: 47, LK/LD 31/31, Apgar
Score 5-6, laki-laki
Alergi : tidak ada
Status Kesehatan :
1. Persepsi kesehatan atau penanganan kesehatan
Orang tua bayi selalu berusaha menjaga kesehatan keluarga terutama bayinya
2. Nutrisi atau metabolik
Bayi sementara puasa karena retensi produksi lambung warna coklat keruh
3. Eliminasi
Bayi BAK kurang lebih 100-120 cc dalam sehari, BAB kurang lebih 30 cc per 24 jam
4. Aktivitas atau latihan
Bayi menangis jika merasa haus dan ketika popok terasa penuh atau saat bayi kurang nyaman
5. Tidur atau istirahat
Bayi tidur dengan baik
6. Kognitif atau perseptual
Bayi akan terbangun saat tidur jika mendengar sesuatu atau di pegang
7. Peran atau Hubungan
Hubungan keluarga dan bayi sangat baik. Orang tua bayi setiap hari selalu mengunjungi
bayinya untuk memastikan keadaannya
8. Koping atau intoleransi stress
Orang tua bayi berusaha dan selalu berdo’a untuk kesembuhan bayinya
9. Nilai atau kepercayaan
Orang tua bayi beragama islam. Orang tua bayi percaya bahwa semua sudah digariskan oleh
Allah
Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Pernafasan
Bayi sesak+, tangis merintih, pernafasan cuping hidung +, retraksi berat pada dada, frekuensi
nafas 70x/menit
2. Sistem Kardiovaskuler
Bayi Takikardi dengan Heart Rate: 168x/menit, cyanosis sekitar mulut dan hidung, crt >2”,
akral dingin, pucat+
3. Sistem Perkemihan
Bayi BAB 30cc/hari, BAK 100-120cc/hari
4. Sistem Muskuluskeletal
Tonus otot normal
5. Sistem pencernaan
Bayi puasa, retensi coklat keruh, bising usus normal 20x/menit
6. Sistem reproduksi
Jenis kelamin laki-laki, skrotum kosong, sedikit rugea
Pemeriksaan penunjang
Cek laborat darah lengkap, CRP, babygram, echocardiografi
C. Diagnosis Keperawatan
1. Pola Napas Tidak Efektif
Definisi : Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasiadekuat
Penyebab :
o Depresi pusat pernapasan
o Hambatan upaya napas
o Deformitas dinding dada
o Deformitas tulang dada
o Gangguan neuro muskuler
o Gangguan neurologis
o Imaturitas neurologis
o Penurunan energi
o Obesitas
o Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru
o Sindrom hipoventilasi
o Kerusakan inervasi diagfragma
o Cedera medulla spinalis
o Efek agen farmakologis
o Kecemasan
Gejala dan tanda mayor
a. Subjek
Dispnea
b. Objektif
Penggunaan otot bantu pernapsan
Fase ekspirasi memanjang
Pola napas abnormal

2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif


Definisi : Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk
mempertahankan jalan napas tetap paten
Penyebab :
o Spasme jalan napas
o Hipersekresi jalan napas
o Disfungsi neuromuskular
o Benda asing dalam jalan napas
o Adanya jalan napas buatan
o Sekresi yang tertahan
o Hiperplasia dinding jalan napas
o Proses infeksi
o Respon alergi
o Efek agen farmakologis
Situasional :
o Merokok aktif
o Merokok pasif
o Terpajang polutan
Gejala dan tanda mayor
a. Subyek : Tidak tersedia
b. Obyektif : Batuk tidak efektif
Tidak mampu batuk
Sputum berlebih
Mengi, wheezing dan ronchi kering
Meconium dijalan napas
Gejala dan tanda minor
a. Subjektif
Dispnea
Sulit bicara
Ortopnea
b. Objektif
Gelisah
Sianosis
Bunyi napas menurun
Frekuensi napas berubah
Pola napas berubah
Kondisi klinis terkait
a. Gullian barre syndrome
b. Sklerosis multiple
c. Myasthenia gravis
d. Prosedur diagnostik
e. Depresi SSP
f. Cedera kepala
g. Stroke
h. Sindroma aspirasi meconium
i. Infeksi saluran nafas
3. Defisit Nutrisi
Definisi : asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolism
Penyebab :
o Ketidakmampuan menelan makanan
o Ketidakmampuan mencerna makanan
o Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien
o Peningkatan kemampuan metabolisme
o Faktor ekonomi
o Faktor psikologis
Gejala dan tanda mayor
o Subjektif : Tidak tersedia
o Objektif : BB menurun minimal 10% dibawah rentang ideal
Gejala dan tanda minor
o Subjektif : Cepat kenyang setelah makan Keram/nyeri abdomen, Napsu makan
menurun

o Objektif : Bising usus hiperaktif, Otot pengunyah melemah ,Otot menelan melemah
Membran mukosa pucat Sariawan, Serum albumin turun Rambut rontok berlebihan
Kondisi terkait :
a. Stroke
b. Parkinson
c. Mobius sindrom
d. Cerebral palsy
e. Cleftlip
f. Cleftpalate
g. Amvotropic lateral sclerosis
4. Resiko Perifer Tidak Efektif
Definisi : Berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah pada levelkapiler
yang dapat mengganggu metabolisme tubuh
Faktor risiko :
a. Hiperglikemia
b. Gaya hidup kurang gerak
c. Hipertensi
d. Merokok
e. Prosedurendovaskuler
f. Trauma
g. Kurang terpapar informasi tentang faktor pemberat (mis. merokokgaya
hidup kurang gerak, obesitas, imobilitas)
Kondisi klinis terkait :
a. Arterosklerosis
b. Raynaud’s disease
c. Trombosis arteri
d. Atritis reumatoid
e. Leriche’s syndrome
f. Aneurisma
g. Buerger’s disease
h. Varises
i. DM
j. Hipotensi
k. Kanker
5. Resiko Infeksi
Definisi : Berisiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik

Faktor risiko :
a. Penyakit kronis
b. Efek prosedur invasif
c. Malnutrisi
d. Peningkatan paparan organisme patogenik lingkungan
e. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer
f. Ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder

Kondisi klinis terkait

a. AIDS
b. Luka bakar
c. Penyakit paru obstruktif kronis
d. DM
e. Tindakan invasif
f. Kondisi penggunaan terapi steroid
g. Penyalahgunaan obat
h. Ketuban pecah sebelum waktunya
i. Kanker
j. Gagal ginjal
k. Imunosupresi
l. Lymphedema
m. Leukositopenia
n. Gangguan fungsi hati
6. Ansietas
Definisi : Emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan
spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk
menghadapi ancaman.
Penyebab
a. Krisis situasional
b. Kebutuhan tidak terpenuhi
c. Krisis maturasional
d. Ancaman terhadap konsep diri
e. Ancaman terhadap kematian
f. Kekhawatiran mengalam kegagalan
g. Disfungsi sistem keluarga
h. Hubungan orangtua anak tidak memuaskan
i. Faktor keturunan
j. Penyalahgunaan zat
k. Terpapar bahaya lingkungan
l. Kurang terpapar informasi
Gejala dan tanda mayor
a. Subjektif
Merasa bingung
Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi
Sulit berkonsentrasi
b. Objektif
Tampak gelisah
Tamak tegang
Sulit tidur
Gejala dan tanda minor
a. subjektif
Mengeluh pusing
Anoreksia
Palpitasi

Merasa tidak berdaya


b. Objektif
Frekuensi napas meningkat
Frekuensi nasi meningkat
Tekanan darah meningkat
Diaforesis
Tremor
Muka tampak pucat
Suara bergetar
Kontak mata buruk
Sering berkemih
Berorientasi pada masa lalu
Kondisi klinis terkait
a. Penyakit kronis progresif
b. Penyakit akut
c. Hospitalisasi
d. Rencana operasi
e. Kondisi diagnosis penyakit belum jelas
f. Penyakit neurologis
g. Tahap tumbuh kembang
D. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa Pola Napas Tidak Efektif

Luaran Keperawatan : (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019)


a. Tujuan dan kriteria hasil : Sesak yang dirasakan klien menurun dengan kriteria
hasil :

1) Dispnea menurun
2) Frekuensi napas membaik
3) Tidak ada penggunaan otot bantu napas
4) Tidak ada pernapasan cuping hidung
b. Intervensi keperawatan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2019)
Pemantauan Respirasi
Observasi
a. Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas
b. Monitor pola napas
c. Monitor kemampuan batuk efektif
d. Monitor adanya produksi sputum
e. Monitor adanya sumbatan jalan napas
f. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
g. Auskultasi bunyi napasMonitor saturasi oksigen
h. Monitor hasil x-ray thorax
Terapeutik
a. Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
b. Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
a. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
b. Informasikan hasil pemantauan, jika perlu
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif

Luaran Keperawatan :
a. Tujuan dan kriteria hasil
Jalan napas tetap paten dengan kriteria hasil :
1) Produksi sputum menurun
2) Tidak ada sianosis
3) Pola napas membaik
4) Frekuensi napas membaik
b. Intervensi keperawatan
Manajemen Jalan Napas
Observasi
a. Monitor pola napas
b. Monitor bunyi napas
c. Monitor sputum
Terapeutik
a. Pertahankan kepatenan jalan napas
b. Posisikan semi fowler atau fowler
c. Berikan minum hangat
d. Lakukan fisioterapi dada
e. Lakukan pengisapan lendir <15 detik
f. Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill
g. Berikan oksigen
Edukasi
a. Anjurkan asupan cairan 2000ml/hari
b. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi : Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
3. Defisit Nutrisi

Luaran Keperawatan :
a. Tujuan dan kriteria hasil
Kebutuhan nutrisi klien tercukupi dengan kriteria hasil :
1) Berat badan dalam batas normal
2) Indeks Masa Tubuh (IMT) dalam batas normal
3) Membran mukosa membaik
4) Nafsu makan membaik
b. Intervensi keperawatan
Manajemen Nutrisi
Observasi
a. Identifikasi status nutrisi
b. Identifikasi alergi dan intoleran makanan
c. Identifikasi makanan yang disukai
d. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien
e. Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogastrik
f. Monitor asupan makanan
g. Monitor BB
h. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
Terapeutik
a. Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
b. Fasilitasi menentukan program diet
c. Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
d. Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
e. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
f. Berikan suplemen makanan
g. Hentikan pemberian makan melalui selang nasogastrik jika asupan
oral dapat ditoleransi
Edukasi
a. Anjurkan posisi susuk, jika mampu
b. Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi
a. Pemberian medikasi sebelum makan
b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu
4. Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif

Luaran Keperawatan :
a. Tujuan dan kriteria hasil : Tidak terjadi tanda-tanda perfusi perifer tidak
efektif dengan kriteria hasil :
1) Warna kulit pucat menurun
2) Pengisian kapuler membaik
b. Intervensi keperawatan
Perawatan Sirkulasi

Observasi
a. Periksa sirkulasi perifer
b. Identifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi
c. Monitor panas, kemerahan, nyeri atau bengkak pada ekstermitas
Terapeutik
a. Hindari pemasangan infus dan pengambilan darah di area
keterbatasan perifer
b. Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstermitas dengan
keterbatasan perfusi
c. Lakukan pencegahan infeksi
Edukasi
a. Anjurkan berhenti merokok
b. Anjurkan berolahraga dengan rutin
c. Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan darah, antikoagulan
dan penurun kolesterol, jika perlu
d. Anjurkan melakukan perawatan kulit
e. Anjurkan program rehabilitasi vaskular
5. Risiko Infeksi

Luaran Keperawatan :
a. Tujuan dan kriteria hasil
Tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil :
1) Tidak ada tanda-tanda infeksi
2) Kebersihan badan baik
3) Kebersihan tangan baik
4) Kadar sel darah putih dalam batas normal
b. Intervensi keperawatan
Pencegahan Infeksi
Observasi
a. Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik
Terapeutik
a. Batasi jumlah pengunjung
b. Berikan perawatan kulit pada area edema
c. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien
d. Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi
6. Ansietas

Luaran Keperawatan :
a. Tujuan dan kriteria hasil
Ansietas klien menurun dengan kriteria hasil :
1) Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun
2) Perilaku gelisah menurun
3) Verbalisasi kebingungan menurun
4) Perilaku tegang menurun
b. Intervensi
keperawatan
Reduksi
Ansietas
Observasi
a. Identifikasi tingkat ansietas berubah
b. Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
c. Monitor tanda-
tanda ansietas

Terapeutik
a. Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
b. Temani pasien untuk mengurangi kecemasan jika memungkinkan
c. Pahami situasi yang membuat ansietas
d. Dengarkan dengan penuh perhatian
e. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
f. Tempatkan barang pribadi yang memberikan kenyamanan
g. Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
h. Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan datang

Edukasi
a. Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
b. Informasikan secara faktual mengenai diagnosis
pengobatan danprognosis
c. Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien
d. Anjurkan melakukan kegiatan yang tidakkompetitif
sesuai kebutuhan
e. Anjurkan menggunakan perasaan dan persepsi
f. Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan
g. Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
h. Latih teknik relaksasi
Kolaborasi : Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA
Agrina, M. F., Toyibah, A., & Jupriyono. (2016). Tingkat Kejadian Respiratory Distress
Syndrome (RDS) Antara BBLR Preterm Dan BBLR Dismatur. Jurnal Sain Veteriner,
3(2), 125–131.
Lestari, P., Susmarini, D., & Awaludin, S. (2018). Quarter turn from prone position increases
oxygen saturation in premature babies with respiratory distress syndrome. Jurnal
Keperawatan Soedirman, 13(1), 38–44.
Oktiawati, A., Aries, S., & Yudistira, S. (2023). Penerapan Posisi Quarter Prone untuk
Menurunkan Frekuensi Pernapasan pada BBLR dengan Masalah Respiratory Distress
Syndrome. 7, 21397–21403.
Syuib, C., Sufriani, & Mariana Harahap, I. (2022). Asuhan Keperawatan Berat Badan Lahir
Rendah dengan Respiratory Distress Syndrome (RDS). Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Fakultas Keperawatan, 1(1), 1–7.

Anda mungkin juga menyukai